Vous êtes sur la page 1sur 33

MATA KULIAH : PENGANTAR ILMU HUKUM

DOSEN : DR. H. MARTIN ROESTAMY, SH., MH.


AAL LUKMANUL HAKIM, SH.
PROGRAM STUDI ILMU HUKUM
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS DJUANDA
BOGOR
PENEMUAN HUKUM &
ASPEK PENGUBAH HUKUM
PENEMUAN HUKUM
Penemuan hukum ini dilakukan oleh Hakim,
dalam penemuan hukum ini ada perbedaan
pandangan antara Eropa Kontinental dengan
Anglo Saxon
Eropa Kontinental tidak memisahkan secara
tegas antara metode interpretasi dengan
metode konstruksi, sedangkan Anglo Saxon
memisahkannya secara tegas.
Kapan Penemuan Hukum diperlukan ?
Untuk menjawab ini ada dua aliran pemikiran:
1. Penganut Doktrin Sen-clair
Aliran ini berpendapat penemuan hukum
dibutuhkan apabila:
a. Peraturannya belum ada untuk suatu
kasus in konkreto, atau
b. Perturan sudah ada tetapi belum jelas
Diluar keadaan ini penemuan hukum tidak ada.
2. Penemuan Hukum harus selalu dilakukan.
Hakim selalu dan tidak pernah tidak
melakukan penemuan hukum
2 Jenis Metode Penemuan
Hukum
Interpretasi
Konstruksi
penemuan
Hukum
Perbedaannya;
I nterpretasi:
Penafsiran terhadap teks Undang-undang, dengan masih
tetap berpegang pada bunyi teks itu.
Konstruksi:
Hakim menggunakan penalaran logisnya untuk
mengembangkan lebih lanjut suatu teks UU, dimana
hakim tidak lagi berpegang kepada bunyi teks, tetapi tidak
mengabaikan hukum sebagai suatu sistem
INTERPRETASI HUKUM
Interpretasi = Tafsir
Tafsir : Keterangan penjelasan; pengertian;

Mentafsirkan : Menerangkan maksud;
Menangkap maksud perkataan (kalimat dan
sebagainya) tidak menurut apa adanya saja
melainkan diterangkan juga apa yang tersirat.
1. Interpretasi atau penafsiran gramatikal,
2. Interpretasi sejarah ,
3. Interpretasi sistematis,
4. Interpretasi sosiologis,
5. Interpretasi teleologis,
6. Interpretasi otentik.
7. freis ermessen.
INTERPRETASI HUKUM
interpretasi atau penafsiran
gramatikal
ketentuan atau kaedah diartikan oleh
masyarakat sebagai bahasa sehari-
hari. (misalnya arti kendaraan)
interpretasi Gramatikal adalah
menafsirkan kata kata dalam
undang undang sesuai dengan
kaidah bahasa.




Interpretasi sejarah
diartikan dengan menafsirkan
suatu ketentuan hukum dengan
melihat alasan-alasan
terbentuknya suatu undang-
undang itu.

Interpretasi sistematis
yaitu menafsirkan beberapa ketentuan
hukum yang mengatur tentang hal
yang sama. Misalnya dalam
menafsirkan cakap hukum, harus
dilakukan penafsiran sitematis antara
ketentuan BW, UU Kewarganegaraan,
dan lainnya.
Interpretasi sosiologis
yaitu suatu interpretasi yang
menghubungkan dengan sebab-sebab
atau faktor apa dalam masyarakat
atau perkembangan masyarakat yang
dapat memberikan penjelasan
mengapa pembuat undang- undang
membuat rancangan undang-undang
Interpretasi teleologis
yaitu suatu interpretasi dengan
memperhatikan tujuan dibuatnya suatu
ketentuan hukum. Misalnya tujuan
dibuatnya UU No. 1 Tahun 1974 adalah
untuk usaha mensukseskan program
pembangunan nasional di bidang keluarga
berencana.
Interpretasi otentik
yaitu suatu interpretasi yang
diberikan oleh undang-undang
itu sendiri. Biasanya
ditempatkan dalam ketentuan
Pasal 1
Freis ermessen

Keleluasaan interpretasi oleh hakim. Apabila
tafsiran otentik dirasa kurang memberikan
keyakinan pada hakim, maka hakim dengan
keyakinan sendiri dapat menafsirkan ketentuan
hukum dengan memperhatikan pendapat dari
saksi ahli dan perkembangan masyarakat.
Kebebasan hakim untuk menerapkan undang-
undang sesuai dengan pandangan dan
keyakinannya disebut freis ermessen.

Metode kontsruksi

Apabila ketentuan hukum belum ada,
berdasarkan asas non liquet hakim tidak boleh
menolak perkara yang ada turannya, maka
dapat dilakukan metode konstruksi.

Contoh kontruksi adalah :
1. Analogi
2. Argumentum a contrario.

Analogi
Analogi hukum adalah suatu penerapan
ketentuan hukum bagi keadaan yang
pada dasarnya sama dengan keadaan
yang secara eksplisit diatur dengan
ketentuan hukum tersebut tadi, tapi
penampian atu bentuk perwujudannya
(bentuk hukum) lain.
Analogi
Contoh adalah apabila jual beli tidak
memutus perjanjian sewa menyewa ,
maka dapat dianalogikan bahwa jual
beli tidak dapat memutuskan hibah.
Sesuatu barang yang telah dihibahkan
tidak dapat dibatalkan dengan alasan
barang itu akan dijual.

Argumentum a contrario
Contoh, adalah masa iddah hanya untuk istri
yang telah putus perkawinannya, karena suami
meninggal dunia, cerai atau putusan
pengadilan. Ketentuan iddah ditujuakan untuk
memberi kepastian bahwa rahim istri itu adalah
suci, tidak ada janin di dalam rahim itu.
Ketentuan iddah ini secara argumentum a
contrario tidak berlaku bagi suami, karena
suami tidak mempunyai rahim.

Penghalusan hukum
Apabila penerapan hukum tertulis sebagaimana adanya akan
mengakibatkan ketidak adilan yang sangat, sehingga ketentuan
hukum tertulis itu sebaiknya tidak diterapkan atau di
diterapkan secara lain apabila hendak dicapai keadilan.
Dalam penghalusan hukum ini, hakim dihadapkan kepada
masalah yuridis dan keadilan di sisis lainnya.
Contoh penghalusan hukum adalah adanya kewajiban
pembayaran alimentasi (misalnya pajak bumi bangunan)
kepada seorang laki-laki yang menganggur karena cacat
kepada istrinya yang menjadi wiraswasta yang berhasil.
Di dalam menerapkan dan mengembangkan hukum perlu
dilakukan penafsiran, atau bahkan terhadap suatu perkara
belum ada aturan Ketentuan hukum dibuat untuk
mengatur kehidupan masyarakat.

Terdapat asas hukum bahwa suatu peraturan apabila
sudah disahkan dan telah di tuangkan ke dalam lembaran
negara, maka setiap orang dianggap wajib untuk
mentaatinya. Semua orang dianggap sudah tahu (meskipun
dalam kenyataannya ia mungkin belum pernah tahu atau
belum pernah membaca). Demikian ini dinamakan fictie
hukum.
PERAN HAKIM
DALAM PEMBENTUKAN HUKUM
Di dalam praktek yang terjadi di masyarakat, kadang
kala peraturan itu tidak jelas maknanya. Untuk itu peran
hakim sangat penting dalam rangka menemukan dan
membentuk hukum.

Asas non liquet, diterapkan dalam sistem hukum
Indonesia. Yang artinya hakim atau pengadilan dilarang
untuk menolak suatu perkara yang diajukan kepadanya
apabila perkara itu belum ada peraturan hukumnya. Asas
ini diterapkan dan terdapat dalam ketentuan pasal 16
ayat (1) Undang-Undang no. 4 tahun 2004 tentang
kekuasaan kehakiman ( LN tahun 2004 no. 8) , yaitu :

PERAN HAKIM
DALAM PEMBENTUKAN HUKUM
Pengadilan tidak boleh menolak
untuk memeriksa, mengadili dan
memutus sesuatu perkara yang
diajukan dengan dalih bahwa hukum
tidak ada atau kurang jelas,
melainkan wajib untuk memeriksa
dan mengadilinya.
PERAN HAKIM
DALAM PEMBENTUKAN HUKUM
Kedudukan hakim di pengadilan adalah
melengkapi ketentuan ketentuan hukum tertulis
melalui pembentukan hukum ( rechtsvorming) dan
penemuan hukum (rechtsvinding ).
Dengan kata lain hakim atau pengadilan dalam
sistem hukum kita yang pada dasarnya tertulis
mempunyai fungsi membuat hukum baru ( creation
of new law).
Sehingga sistem hukum kita meskipun menganut
sistem hukum tertulis, tetapi merupakan sistem
yang terbuka ( open system).
PERAN HAKIM
DALAM PEMBENTUKAN HUKUM
PERAN HAKIM
DALAM PEMBENTUKAN HUKUM
Fungsi menemukan dan mengembangkan hukum oleh hakim
dilakukan dalam rangka mengisi kekosongan hukum dan
mencegah untuk tidak segera ditanganinya suatu perkara
yang belum ada atau belum jelas peraturannya.

Pembentukan hukum dilakukan oleh hakim apabila belum
ada aturan hukumnya. Dengan kata lain hakim membuat
sendiri hukumnya. melalui metode konstruksi dan
penghalusan hukum. Sedangkan dalam penemuan hukum,
hakim hanya melakukan suatu usaha interpretasi. Disini,
aturan hukum sudah ada tetapi belum jelas untuk dapat
diterapkan ke dalam perkara yang sedang ditanganinya.
Pembentukan hukum dilakukan oleh hakim
apabila belum ada aturan hukumnya.
Dengan kata lain hakim membuat sendiri
hukumnya. melalui metode konstruksi dan
penghalusan hukum.
Sedangkan dalam penemuan hukum, hakim
hanya melakukan suatu usaha interpretasi.
Disini, aturan hukum sudah ada tetapi belum
jelas untuk dapat diterapkan ke dalam perkara
yang sedang ditanganinya.

PERAN HAKIM
DALAM PEMBENTUKAN HUKUM
FAKTOR-FAKTOR
PENGUBAH HUKUM
FAKTOR-FAKTOR PENGUBAH HUKUM
ASPEK POLITIK
1. Penguasa

2. Orsospol

3. Ormas

4. LSM/NGO

5. Kelompok penekan

Aspek Budaya
1. Perubahan Nilai

2. Euporia Reformasi

BUDAYA 3. Anti kemapanan

4. Kontak Budaya

5. Stratifikasi
Aspek Ekonomi

-Pengelompokan Negara
-Perdagangan bebas
ASPEK -Perjanjian
EKONOMI -Traktat
-ADR
-Arbitrase
Tren Global
-Tidak ada batas negara
-Informasi yang cepat
-Komunikasi
TREN GLOBAL -Komplek Industri militer
-Lawyer asing
-ADR
-Arbirase
IPTEK
Perobahan gaya hidup


IPTEK Utiliti


Kejahatan tingkat tinggi
Pendidikan
SDM



PENDIDIKAN Pengacara



Pengangguran tkt tinggi