Vous êtes sur la page 1sur 18

1

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan kepada allah SWT, karena atas rahmat dan hidayahnya kami
dapat menyelesaikan tugas kimia analitik yang berjudul Tekanan Uap. Tugas ini dibuat dalam
rangka memenuhi tugas kimia analitik selain itu juga kami ingin memberikan pengetahuan
kepada pembaca mengenai tekanan uap.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu, kami
mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca, khususnya dari teman-
teman mahasiswa dan dosen.












Cimahi, 17 september 2014


2

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ........................................................................................... 1
Dafar Isi ..................................................................................................... 2

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 3
1.2 Tujuan .................................................................................................. 4
1.3 Ruang lingkup Materi .......................................................................... 4

BAB II DASAR TEORI
2.1 Tekanan Uap ........................................................................................ 6
2.2 Diagram Fasa ....................................................................................... 8
2.3 Distilasi .............................................................................................. 12

BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ........................................................................................ 16

DAFTAR PUSTAKA








3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari hari tekanan uap sadalah sesuatu yang sangat penting, karena ini akan
sangat mempengaruhi temperature. Dalam atmosfer (lautan udara) senantiasa terdapat uap air.
Kadar uap air dalam udara disebut kelembaban (lengas udara). Kadar ini selalu berubah-ubah
tergantung pada temperatur udara setempat. Tekanan uap adalah persentase kandungan uap
air dalam udara. tekanan udara ditentukan oleh jumlah uap air yang terkandung di dalam
udara. Total massa uap air per satuan volume udara disebut sebagai tekanan absolut.
Perbandingan antara massa uap air dengan massa udara lembab dalam satuan volume udara
tertentu disebut sebagai kelembaban spesifik. Massa udara lembab adalah total massa dari
seluruh gas-gas atmosfer yang terkandung, termasuk uap air. jika massa uap air tidak diikutkan,
maka disebut sebagai massa udara kering.
Tekanan uap cairan adalah salah satu sifat penting larutan. Tekanan uap larutan juga penting dan
bermanfaat untuk mengidentifikasi larutan. Dalam hal sistem biner, bila komponennya mirip
ukuran molekul dan kepolarannya, misalnya benzen dan toluen, tekanan uap larutan dapat
diprediksi dari tekanan uap komponennya. Hal ini karena sifat tekanan uap yang aditif. Bila
larutan komponen A dan komponen B dengan fraksi mol masing-masing adalah xA dan xB
berada dala kesetimbangan dengan fasa gasnya tekanan uap masing-masing komponen
sebanding dengan fraksi molnya dalam larutan. Tekanan uap komponen.Besarnya tekanan uap
tergantung pada jenis zat dan suhu. Zat yang memiliki gaya tarik menarik antarpartikel relatif
besar berarti sukar menguap, mermpunyai tekanan uap yang relatif rendah, contohnya garam,
gula, glikol, dan gliserol. Sebaliknya yang memiliki gaya tarik menarik antarpartikel relatif
lemah berarti mudah menguap, mempunyai tekanan uap yang relatif tinggi. Zat seperti itu
dikatakan mudah menguap atau atsiri (volatile), contohnya etanol dan eter.


4
1.2 Tujuan
Menambah pengetahuan dan mengidentifikasi tentang tekanan yang dipengaruhi oleh suhu
1.3 Ruang lingkup materi
Hukum Raoult
Hukum Raoult adalah hukum yang dicetuskan oleh Francois M Raoult (1830-1901) untuk
mempelajari sifat-sifat tekanan uap larutan yang mengandung zat pelarut yang bersifat
nonvolatil, serta membahas mengenai aktivitas air.
Bunyi dari hukum Raoult adalah: tekanan uap larutan ideal dipengaruhi oleh tekanan uap
pelarut dan fraksi mol zat terlarut yang terkandung dalam larutan tersebut.
Secara matematis ditulis sebagai:
Plarutan= Xterlarut . Ppelarut
Hukum Raoult sangat penting untuk mempelajari sifat karakteristik fisik dari larutan seperti
menghitung jumlah molekul dan memprediksi masa molar suatu zat (Mr).
Untuk larutan yang mengikuti hukum Raoult, interaksi antara molekul individual kedua
komponen sama dengan interaksi antara molekul dalam tiap komponen. Larutan semacam ini
disebut larutan ideal Tekanan total campuran gas adalah jumlah tekanan parsial masing-masing
komponen sesuai dengan hukum Raoult.
Hukum Dalton
Hukum Dalton Tentang Tekanan Parsial
Hukum Dalton membicarakan tentang tekanan akhir dari suatu campuran gas yang mempunyai
kondisi awal berbeda, baik temperatur maupun tekanannya. Dalam kaitan ini hukum Dalton
menyatakan bahwa tekanan akhir dari campuran gas tersebut adalah merupakan penjumlahan
dari tekanan masing-masing gas. Hukum ini didasarkan pada anggapan bahwa :
1.Gas-gas tersebut tidak akan mempunyai suatu aksi atau proses kimia, gas yang satu terhadap
gas lain, melainkan akan membentuk suatu campuran gas.

5
2.Temperatur gas akan konstant untuk seluruhnya.
Hukum Dalton tentang Tekanan Parsial yang menyatakan bahwa : Bila dua atau lebih gas atau
uap yang satu sama lain tidak bereaksi kimia dicampur pada suhu yang tetap, maka tiap gas
menimbulkan tekanan yang sama seolah-olah gas itu berada sendirian dan jumlah tekanan-
tekanan parsial gas-gas itu sama dengan tekanan total yang ditimbulkan oleh sistem campuran
gas-gas itu.
Hukum Dalton itu dapat dirumuskan dengan persamaan :
P = P1 + P2 + P3 + + Pn .......................................3.1
Dengan P : tekanan total; P1, P2 dst : tekanan parsial komponen
Bila suatu campuran cairan yang tidak saling campur didestilasikan, maka titik didihnya
adalah suhu ketika jumlah tekanan uapnya sama dengan tekanan atmosfir. Suhu ini akan lebih
rendah daripada titik didih komponen yang terendah. Karena salah satu cairan itu adalah air,
maka destilasi uap pada tekanan atmosfir akan menghasilkan pemisahan komponen yang lebih
tinggi titik didihnya pada suhu dibawah 100C; hal ini merupakan keuntungan yang besar,
terutama bila senyawa itu terurai pada atau mendekati titik didihnya. Proses ini juga berguna
untuk memisahkan komponen yang tidak mudah menguap atau yang tidak dikehendaki.
Bila Hukum Dalton berlaku, maka jumlah molekul masing-masing komponen dalam uap akan
berbanding lurus dengan tekanan parsialnya.
Hukum lambert-beer
Menyatakan hubungan linieritas antara absorban dengan konsentrasi larutan analit dan
berbanding terbalik dengan transmitan



BAB II

6
DASAR TEORI
2.1 Tekanan Uap
Tekanan uap adalah tekanan suatu uap pada kesetimbangan dengan fase bukan uap-nya. Semua
zat padat dan cair memiliki kecenderungan untuk menguap menjadi suatu bentuk gas, dan semua
gas memiliki suatu kecenderungan untuk mengembun kembali. Pada suatu suatu suhu tertentu,
suatu zat tertentu memiliki suatu tekanan parsial yang merupakan titik kesetimbangan dinamis
gas zat tersebut dengan bentuk cair atau padat. Tekanan uap suatu cairan bergantung pada
banyaknya molekul di permukaan yang memiliki cukup energi kinetik untuk lolos dari tarikan
molekul-molekul tetangganya. Jika dalam cairan itu dilarutkan suatu zat, maka kini yang
menempati permukaan bukan hanya molekul pelarut, tetapi juga molekul zat terlarut. Karena
molekul pelarut di permukaan makin sedikit, maka laju penguapan akan berkurang. Dengan
pekataan lain, tekanan uap cairan itu turun. Makin banyak zat terlarut, makin besar pula
penurunan tekanan uap.Tekanan uap suatu zat akan bertambah jika suhu dinaikan. Hubungan ini
dapat dipahami sebagai berikut. Kenaikan suhu menyebabkan energi kinetik molekul-molekul
cairan bertambah besar, sehingga lebih banyak molekul yang dapat meninggalkan permukaan
cairan memasuki fase gas. Akibatnya, konsentrasi uap semakin besar dan dengan demikian
tekanan uap semakin besar.
Selain jenis zat, tekanan uap jenuh juga dipengaruhi oleh suhu. Kenaikan suhu menyebabkan
energi kinetik molekul molekul cairan bertambah besar sehingga lebih banyak molekul yang
dapat meninggalkan permukaan memasuki fase gas. Hal ini mengakibatkan molaritas cairan
makin besar yang artinya tekanan uap jenuhnya juga semakin besar. Jika suhu dinaikan, maka
tekanan uap jenuh akan bertambah besar.
Penurunan Tekanan Uap Jenuh
Pada setiap suhu, zat cair selalu mempunyai tekanan tertentu. Tekanan ini adalah tekanan
uap jenuhnya pada suhu tertentu. Penambahan suatu zat ke dalam zat cair menyebabkan
penurunan tekanan uapnya. Hal ini disebabkan karena zat terlarut itu mengurangi bagian atau
fraksi dari pelarut, sehingga kecepatan penguapan berkurang.

7

Gambaran penurunan tekanan uap
Menurut Roult :
p = p
o
. X
B

keterangan:
p : tekanan uap jenuh larutan
po : tekanan uap jenuh pelarut murni
XB : fraksi mol pelarut
Karena X
A
+ X
B
= 1, maka persamaan di atas dapat diperluas menjadi :
P = P
o
(1 X
A
)
P = P
o
P
o
. X
A

P
o
P = P
o
. X
A

Sehingga :
P = p
o
. XA


8
keterangan:
P : penuruman tekanan uap jenuh pelarut
po : tekanan uap pelarut murni
XA : fraksi mol zat terlarut
Contoh :
Hitunglah penurunan tekanan uap jenuh air, bila 45 gram glukosa (Mr = 180) dilarutkan dalam
90 gram air ! Diketahui tekanan uap jenuh air murni pada 20
o
C adalah 18 mmHg.

2.2 Diagram Fasa
DIAGRAM FASA CAIR-UAP SISTEM DUA KOMPONEN
Penggunaaan diagram fase sangat luas, dalam beberapa cabang ilmu. Dalam kimia fisik,
mineralogi, dan teknik material, diagram fase adalah sejenis grafik yang digunakan untuk
menunjukkan kondisi kesetimbangan antara fase-fase yang berbeda dari suatu zat yang sama.
Dalam matematika dan fisika, diagram fase juga mempunyai arti sinonim dengan ruang fase.
Komponen-komponen umum diagram fase adalah garis kesetimbangan atau sempadan fase, yang
merujuk pada garis yang menandakan terjadinya transisi fase. Titik tripel adalah titik potong dari
garis-garis kesetimbangan antara tiga fase benda, biasanya padat, cair, dan gas. Solidus adalah
temperatur di mana zat tersebut stabil dalam keadaan padat. Likuidus adalah temperatur di mana

9
zat tersebut stabil dalam keadaan cair. Adalah mungkin terdapat celah di antara solidus dan
likuidus; di antara celah tersebut, zat tersebut terdiri dari campuran kristal dan cairan. Diagram
fase yang paling sederhana adalah diagram tekanan-temperatur dari zat tunggal, seperti air.
Sumbu-sumbu diagram berkoresponden dengan tekanan dan temperatur. Diagram fase pada
ruang tekanan-temperatur menunjukkan garis kesetimbangan atau sempadan fase antara
tiga fase padat, cair, dan gas.


Diagram fase yang umum. Garis titik-titik merupakan sifat anomali air. Garis berwarna hijau
menandakan titik beku dan garis biru menandakan titik didih yang berubah-ubah sesuai dengan
tekanan.
Penandaan diagram fase menunjukkan titik-titik di mana energi bebas bersifat non-analitis. Fase-
fase dipisahkan dengan sebuah garis non-analisitas, di mana transisi fase terjadi, dan disebut
sebagai sempadan fase.
Pada diagaram sebelah kiri, sempadan fase antara cair dan gas tidak berlanjut sampai tak
terhingga. Ia akan berhenti pada sebuah titik pada diagaram fase yang disebut sebagai titik kritis.
Ini menunjukkan bahwa pada temperatur dan tekanan yang sangat tinggi, fase cair dan gas

10
menjadi tidak dapat dibedakan, yang dikenal sebagai fluida superkritis. Pada air, titik kritis ada
pada sekitar 647 K dan 22,064 MPa (3.200,1 psi)
Keberadaan titik kritis cair-gas menunjukkan ambiguitas pada definisi di atas. Ketika dari cair
menjadi gas, biasanya akan melewati sebuah sempadan fase, namun adalah mungkin untuk
memilih lajur yang tidak melewati sempadan dengan berjalan menuju fase superkritis. Oleh
karena itu, fase cair dan gas dapat dicampur terus menerus.
Sempadan padat-cair pada diagram fase kebanyakan zat memiliki gradien yang positif. Hal ini
dikarenakan fase padat memiliki densitas yang lebih tinggi daripada fase cair, sehingga
peningkatan tekanan akan meningkatkan titik leleh. Pada beberapa bagian diagram fase air,
sempadan fase padat-cair air memiliki gradien yang negatif, menunjukkan bahwa es mempunyai
densitas yang lebih kecil daripada air. Diagram fasa merupakan cara mudah untuk menampilkan
wujud zat sebagai fungsi suhu dan tekanan. Dalam diagram fasa, diasumsikan bahwa zat tersebut
diisolasi dengan baik dan tidak ada zat lain yang masuk atau keluar sistem. Gambar dibawah
adalah diagram fasa zat tertentu. Fasa zat yang ada di daerah A, B, C dan H dan fasa yang ada di
titik D, E, F dan G dan tunjukkan titik mana yang menyatakan titik tripel, titik didih normal, titik
beku normal, dan titik kritis.

Gambar. Diagram fasa suatu senyawa.


11
A : padat
B : cair
C : uap (gas)
D : padat + uap
E : padat + cair + uap
F : cair + uap
G : cair + uap
H : uap, titik tripel
G : titik beku normal
Diagram fasa cair-uap system dua komponen merupakan diagram yang menunjukkan titik didih
dari campuran dua komponen sebagai fungsi dari kesetimbangan uap-cair dari campuran pada
tekanan tetap. Diagram tersebut terdiri dari dua kurva, kurva titik didih dan kurva kondensasi.
Kurva titik didih menunjukkan komposisi campuran yang mulai menguap pada temperatur
tertentu, sedangkan kurva kondensasi menunjukkan komposisi uap yang berada dalam
kesetimbangan dengan campuran cair pada temperatur yang sama.
Fasa cair yang berupa sistem dua atau multi komponen, yakni larutan juga sangat penting.
Larutan terdiri atas cairan yang melarutkan zat (pelarut) dan zat yang larut di dalamnya (zat
terlarut). Pelarut tidak harus cairan, tetapi dapat berupa padatan atau gas asal dapat melarutkan
zat lain. Sistem semacam ini disebut sistem dispersi. Untuk sistem dispersi, zat yang berfungsi
seperti pelarut disebut medium pendispersi, sementara zat yang berperan seperti zat terlarut
disebut dengan zat terdispersi (dispersoid).
Baik pada larutan ataupun sistem dispersi, zat terlarut dapat berupa padatan, cairan atau gas.
Bahkan bila zat terlarut adalah cairan, tidak ada kesulitan dalam membedakan peran pelarut dan
zat terlarut bila kuantitas zat terlarut lebih kecul dari pelarut. Namun, bila kuantitas zat terlarut
dan pelarut, sukar untuk memutuskan manakah pelarut mana zat terlarut.

12
Untuk campuran ideal, kurva titik didih dan kondensasi menurun bila jumlah komponen yang
lebih volatil meningkat. Kedua kurva untuk komponen murni berimpit. Campuran tidak
mempunyai titik didih yang konstan melainkan berada pada interval tertentu. Konversi dari
campuran total ke fase uap dikatakan lengkap/selesai bila uap mempunyai komposisi yang sama
dengan fase cairnya. Sebelum ini, uap selalu kaya dengan cairan yang lebih volatil.
Pada saat tekanan uap campuran berada dikeadaan maksimum maka titik didihnya minimum,
inilah yang disebut titik azeotrop yang terjadi pada titik didih minimum, begitupun sebaliknya
pada saat tekanan uapnya minimum maka titik didihnya maksimum sehingga disebut titik
azeotrop yang terjadi pada titik didih maksimum. Kurva titik didih dan kondensasi berimpit pada
keadaan maksimum dan minimum tersebut. Ini berarti bahwa pada keadaan tersebut, fase uap
dan cairan memiliki komposisi yang sama.Campuran semacam itu, yang memiliki titik didih
konstan dan komposisinya tidak berubah selama mendidih, disebut campuran azeotrop.
Penguapan cairan terjadi karena molekul-molekul cairan di permukaan cairan meninggalkan
cairan. Molekul-molekul ini mempunyai tenaga lebih besar daripada tenaga rata-rata dalam
cairan. Penguapan tidak teradi terus menerus, sebab sebagian dari uap kembali ke dalam cairan.
Bila kecepatan penguapan dan pengembunan sama, terjadi kesetimbangan dan tekanan uap yang
terjadi disebut tekanan uap jenuh pada tempratur tersebut atau tekanan uap.
Banyaknya panas yang diperlukan untuk menguapkan cairan tergantung dari beberapa faktor,
yaitu:
1. Jenis cairan
2. Banyaknya cairan
3. Tempratur


2.3 Distilasi

13
Distilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan perbedaan
kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan.

Dalam penyulingan, campuran zat dididihkan sehingga menguap, dan uap ini kemudian
didinginkan kembali ke dalam bentuk cairan. Zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan
menguap lebih dulu.
Metode ini termasuk sebagai unit operasi kimia jenis perpindahan massa. Penerapan proses ini
didasarkan pada teori bahwa pada suatu larutan, masing-masing komponen akan menguap pada
titik didihnya. Model ideal distilasi didasarkan pada Hukum Raoult dan Hukum Dalton.


Berikut adalah susunan rangkaian alat ditilasi sederhana:
1. wadah air
2. labu distilasi
3. sambungan

14
4. termometer
5. kondensor
6. aliran masuk air dingin
7. aliran keluar air dingin
8. labu distilat
9. lubang udara
10. tempat keluarnya distilat
13. penangas
14. air penangas
15. larutan
16. wadah labu distilat
Ada 5 jenis distilasi yang akan dibahas disini, yaitu distilasi sederhana, distilasi fraksionasi,
distilasi uap, distilasi vakum dan distilasi destruktif. Selain itu ada pula distilasi ekstraktif dan
distilasi azeotropic homogenous, distilasi dengan menggunakan garam berion, distilasi pressure-
swing, serta distilasi reaktif.
Distilasi Sederhana
Pada distilasi sederhana, dasar pemisahannya adalah perbedaan titik didih yang jauh atau dengan
salah satu komponen bersifat volatil. Jika campuran dipanaskan maka komponen yang titik
didihnya lebih rendah akan menguap lebih dulu. Selain perbedaan titik didih, juga perbedaan
kevolatilan, yaitu kecenderungan sebuah substansi untuk menjadi gas. Distilasi ini dilakukan
pada tekanan atmosfer. Aplikasi distilasi sederhana digunakan untuk memisahkan campuran air
dan alkohol.

Distilasi Fraksionisasi

15
Fungsi distilasi fraksionasi adalah memisahkan komponen-komponen cair, dua atau lebih, dari
suatu larutan berdasarkan perbedaan titik didihnya. Distilasi ini juga dapat digunakan untuk
campuran dengan perbedaan titik didih kurang dari 20 C dan bekerja pada tekanan atmosfer
atau dengan tekanan rendah. Aplikasi dari distilasi jenis ini digunakan pada industri minyak
mentah, untuk memisahkan komponen-komponen dalam minyak mentah
Perbedaan distilasi fraksionasi dan distilasi sederhana adalah adanya kolom fraksionasi. Di
kolom ini terjadi pemanasan secara bertahap dengan suhu yang berbeda-beda pada setiap
platnya. Pemanasan yang berbeda-beda ini bertujuan untuk pemurnian distilat yang lebih dari
plat-plat di bawahnya. Semakin ke atas, semakin tidak volatil cairannya.
Distilasi Uap
Distilasi uap digunakan pada campuran senyawa-senyawa yang memiliki titik didih mencapai
200 C atau lebih. Distilasi uap dapat menguapkan senyawa-senyawa ini dengan suhu mendekati
100 C dalam tekanan atmosfer dengan menggunakan uap atau air mendidih. Sifat yang
fundamental dari distilasi uap adalah dapat mendistilasi campuran senyawa di bawah titik didih
dari masing-masing senyawa campurannya. Selain itu distilasi uap dapat digunakan untuk
campuran yang tidak larut dalam air di semua temperatur, tapi dapat didistilasi dengan air.
Aplikasi dari distilasi uap adalah untuk mengekstrak beberapa produk alam seperti minyak
eucalyptus dari eucalyptus, minyak sitrus dari lemon atau jeruk, dan untuk ekstraksi minyak
parfum dari tumbuhan.
Campuran dipanaskan melalui uap air yang dialirkan ke dalam campuran dan mungkin ditambah
juga dengan pemanasan. Uap dari campuran akan naik ke atas menuju ke kondensor dan
akhirnya masuk ke labu distilat.
Distilasi Vakum
Distilasi vakum biasanya digunakan jika senyawa yang ingin didistilasi tidak stabil, dengan
pengertian dapat terdekomposisi sebelum atau mendekati titik didihnya atau campuran yang
memiliki titik didih di atas 150 C. Metode distilasi ini tidak dapat digunakan pada pelarut
dengan titik didih yang rendah jika kondensornya menggunakan air dingin, karena komponen

16
yang menguap tidak dapat dikondensasi oleh air. Untuk mengurangi tekanan digunakan pompa
vakum atau aspirator. Aspirator berfungsi sebagai penurun tekanan pada sistem distilasi ini.




















17
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Semua zat padat dan cair memiliki kecenderungan untuk menguap menjadi suatu bentuk
gas, dan semua gas memiliki suatu kecenderungan untuk mengembun kembali. Pada suatu suhu
tertentu, suatu zat tertentu memiliki suatu tekanan parsial yang merupakan titik kesetimbangan
dinamis gas zat tersebut dengan bentuk cair atau padatnya. Titik ini adalah tekanan uap zat
tersebut pada suhu tersebut.

















18
DAFTAR PUSTAKA

http://yakusa-hamdiansyah.blogspot.com/2012/12/praktikum-kimia-fisika-tekanan-uap.html
http://yaminanggri.blogspot.com/2013/04/diagram-fasa-cair-uap-sistem-dua.html
http://kpyulirahmawati.blogspot.com/2012_03_01_archive.html
http://rumushitung.com/2014/02/16/sifat-koligatif-laruran-penurunan-tekanan-uap/advertisement
http://id.wikipedia.org/wiki/hukum_Raoult