Vous êtes sur la page 1sur 16

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Jamur merupakan organisme uniseluler maupun multiseluler (umumnya berbentuk
benang disebut hifa, hifa bercabang-cabang membentuk bangunan seperti anyaman
disebut miselium, dinding sel mengandung kitin, eukariotik, tidak berklorofil. Jamur
hidup secara heterotrof dengan jalan saprofit (menguraikan sampah organik), parasit
(merugikan organisme lain), dan simbiosis. Berdasarkan kingdongnya, fungi (jamur)
dibedakan menjadi lima divisi yaitu, Zigomycotina (kelas Zygomycetes), Ascomycotina,
Basidiomycotina, dan Deuteromycotina. Sedangkan Obat antijamur adalah senyawa yang
digunakan untuk pengobatan penyakit yang disebabkan oleh jamur (Anonim, 2007).
Penyakit yang disebabkan oleh jamur biasanya akan tumbuh pada daerah-daerah
lembab pada bagian tubuh kita, diantaranya seperti pada bagian ketiak, lipatan daun
telinga, jari tangan dan kaki dan juga bagian lainnya. Penyakit kulit karena jamur bisa
menular karena kontak kulit secara langsung dengan penderitanya. Gejala dari penyakit
ini adalah warna kulit yang kemerahan, bersisik dan adanya penebalan kulit. Dan yang
jelas akan disertai dengan rasa gatal pada kulit yang sudah terifeksi jamur tersebut.
Infeksi karena jamur disebut mikosis, umumnya bersifat kronis. Mikosis ringan
menyerang permukaan kulit (mikosis kutan), tetapi dapat juga menembud kulit sehingga
menimbulkan mikosis subkutan. Secara klinik, infeksi jamur dapat digolongkan menurut
lokasi infeksinya, yaitu:
1. Mikosis sistemik.
2. Dermatofit.
3. Mikosis mukokutan (Munaf, 2004).
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa saja yang termasuk dalam infeksi jamur sistemik?
2. Apa yang dimaksud dengan obat antijamur?
3. Apa saja obat-obat yang termasuk dalam golongan antijamur untuk infeksi sistemik?
4. Apa saja obat-obat yang termasuk dalam golongan antijamur untuk infeksi dermatofit
dan mukokutan (topikal)?

2

C. TUJUAN PENULISAN
Paper ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Farmakologi Veteriner I
Fakultas Kedokteran Hewan Uiversita Udayana.

















3

BAB II
PEMBAHASAN
1. Infeksi Jamur Sistemik
Infeksi jamur sistemik berdasarkan penyebabnya serta obatnya antara lain
(Rosfanti, 2009) :
1.1. Arpergilosis
Aspergilosis paru sering terjadi pada penderita penyakit imunosepresi yang
berat dan tidak memberi respon memuaskan terhadap pengobatan dengan obat jamur.
Obat pilihan untuk penyakit ini adalah Amfoterisin B secara intravena dengan dosis
0,5-1,0 mg/kg BB setiap hari.
1.2. Blastomikosis
Obat jamur terpilih untuk Blastomikosis adalah Ketokonazol per oral 400 mg
sehari selama 6-12 bulan. Itrakonazol dengan dosis 200-400 mg sehari juga efektif
pada beberapa kasus. Amfoterisin B sebagai cadangan untuk penderita yang tidak
dapat menerima Ketokonazol.
1.3. Kandidiasis
Pengobatan menggunakan Amfoterisin B. Flusitosin diberikan bersama
Amfoterisin B untuk meningitis, endoftalmitis, arthritis, dan kandidia. Disamping
penyebarannya yang lebih baik ke jaringan sakit, Flusitosin diduga bekerja aditif
dengan Amfoterisin B sehingga dosis Amfoterisin B dapat dikurangi.
1.4. Koksidioidomikosis
Adanya kavitis (ruang berongga) tunggal di paru atau adanya infiltrasi
fibrokavvitis yang tidak responsif terhadap kemoterapi merupakan cirri khas penyakit
kronis Koksidioidomikosis. Penyakit ini dapat diobati dengan Amfoterisin B secara
intravena, Ketokonazol, dan Itrakonazol.
1.5. Kriptokokosis
Obat terpilih untuk penyakit ini adalah Amfoterisin B dengan dosis 0,4-0,5
mg/kg BB perhari secara intravena. Penambahan Flusitosin dapat mengurangi
pemakaian Amfoterisin B (0,3 mg/kg BB). Flukonazol bermanfaat untuk terapi
supresi pada penderita AIDS.


4

1.6. Histoplasmosis
Penderita histoplasmosis paru kronis sebagian besar dapat diobati dengan
Ketokonazol 400 mg/hari selamaa 6-12 bulan. Itrakonazol 200-400 mg sekali sehari
juga cukup efektif. Amfoterisin B secara intravena juga dapat diberikan selama 10
minggu.
1.7. Mukomikosis
Amfoterisin B merupakan obat pilihan untuk mukornikosis paru kronis.
1.8. Parakoksidioimikosis
Ketokonazol 400 mg/hari merupakan obat pilihan yang diberikan selama 6-12
bulan. Pada keadaan yang berat diberikan terapi awal Amfoterisin B.
1.9. Sporotrikosis
Obat terpilih untuk keadaan ini adalah pemberian oral larutan jenuh Kalium
Iodida (1 g/ml) dengan dosis 3 sampai 40 tetes sehari yang dicapuur dengan sedikit
air. Obat Sporotrikosis yang menyerang paru, tulang.
2. Obat Antijamur
Obat-obat antijamur juga disebut obat-obat antimikotik, dipakai untuk mengobati
dua jenis infeksi jamur, yaitu infeksi jamur superficial pada kulit atau selaput lender dan
infeksi jamur sistemik pada paru-paru atau system saraf pusat. Infeksi jamur dapat ringan,
seperti pada tinea pedis (athletes foot), atau berat, seperti pada paru-paru atau meningitis.
Jamur, seperti Candidia spp. (ragi), merupakan bagian dari flora normal pada mulut,
kulit, usus halus, dan vagina (Kee and Hayes,1993).
Menurut indikasi klinik obat-obat anti jamur dibagi atas dua golongan, yaitu
(Munaf, 2004) :
2.1. Antijamur Untuk Infeksi Sistemik
Antijamur untuk infeksi sistemik dibedakan menjadi beberapa golongan,
antara lain amfoterisin B, flusitosin, golongan imidazol, dan kalium iodida.
2.1.1. Golongan Imidazol
Imidiazol merupakan obat antijamur spectrum luas dan resistensinya
jarang timbul. Imidiazol tidak diabsorpsi dengan baik secara oral, kecuali
ketokonazol (Neal, 2005). Yang termasuk dalam golongan ini adalah mikonazol,
klotrimazol, ketokonazol, flukonazol, itrakonazol, triazol, ekonazol, isokonazol,
tiokonazol, dan bifonazol. Sifat dan penggunaan golongan ini praktis tidak
berbeda (Munaf, 2004).

5

Mekanisme kerja obat dalam golongan ini belum semuanya diketahui.
Obat jenis ini bekerja dengan memblok biosintetis lipid yang dibutuhkan oleh
jamur, khususnya ergosterol dalam membrane sel jamur, dan mungkin juga
dengan mekanisme tambahan lain (mengganggu sistesis asam nukleat atau
penimbunan peroksida dalam sel jamur yang menimbulkan kerusakan) (Munaf,
2004).
Ketokonazol
Ketokonazol merupakan suatu antijamur sintetik yang memiliki rumus
bangun mirip dengan mikonazol dan kotrimazol. Mekanisme kerja obat ini
adalah dengan masuk ke dalam sel jamur dan menimbulkan kerusakan pada
dinding sel. Mungkin juga terjadi gangguan sintetis asam nukleat atau
penimbunan peroksida dalam sel yang merusak jamur (Munaf, 2004).

Gbr. 1 Ketokonazol

a. Farmakokinatik
Ketokonazol merupakan antijamur pertama yang diberikan
peroral. Ketokonazol diabsorpsi dengan baik melalui oral yang
menghasilkan kadar yang cukup untuk menekan pertumbuhan berbagai
jamur. Absorpsi obat ini akan menurun pada pH cairan lambung yang
tinggi. Setelah pemberian oral, obat ini akan ditemukan dalam urine,
kelenjar lemak, air ludah, kulit yang mengalami infeksi, tendon, dan
cairan synovial (Munaf, 2004).
b. Farakodinamik
Ketokonazol aktif sebagai antijamur baik sistemik maupun
nonsistemik yang efektif terhadap Candidia, Coccsidioides immitis,
Cryptococcus neoformans, H. capsulatum, B. dermatitidis, Aspergillus,
dan Sporotrix spp.
6

Flukonazol
Flukonazol merupakan derivate triazol, antijamur yang poten, yang
bekerja spesifik menghambat pembentukan sterol pada membrane sel jamur.
Flukonazol bekerja dengan spesifitas yang tinggi pada enzim-enzim
cytochrome P-450 dependent (Munaf, 2004).

Gbr. 2 Flukonazol

a. Farmakokinetik
Flukonazol diserap baik melalui saluran cerna, dan kadarnya
dalam plasma, setelah pemberian IV, diperoleh dari 90% kadar plasma.
Absorpsi per oral tidak dipengaruhi oleh adanya makanan. Kadar puncak
dalam plasma diperoleh jam sampai 1 jam setelah pemberian dengan
waktu paruh 30 jam. Kadar menetap dalam plasma dengan dosis harian
diperoleh pada hari ke-4 sampai ke-5 yang kira-kira 80% dari kadar
plasma (Munaf, 2004).
b. Farmakodinamik
Obat ini menghambat sintesis ergosterol dengan bekerja pada
lanosteroldemetilase dan gangguan terhadap transport zat-zat karena
kumulasi pada membra sitoplasma. Flukonazol aktif terhadap mikosis
yang umumm disebabkan oleh Cryptococcus neoformans, infeksi jamur
intracranial, mikrosporum, dan trikhofiton (Schmitz dkk, 2009).
2.1.2. Amfoterisin B
Amfoterisin B dihasilkan oleh Sterptomyces nodosus. Untuk infeksi jamur
sistemik, amfoterisin B diberikan melalui infuse secara perlahan-lahan.
Amfoterisin B berikatan dengan Beta-lipoprotein plasma dan disimpan dalam
jaringan depot, serta sukar berpenetrasi ke dalam SSP. Untuk meningitis jamur
7

diperlukan pemberian secara intratekal. Pengembalian obat dari depot ke
sirkulasi berlangsung lambat. Sebagian kecil diekskresi melalui urine atau
empedu dalam waktu >1 minggu. Obat ini umumnya didegradasikan secara lokal
di jaringan depot (Munaf, 2004).

Gbr. 3 Amfoterisin B

Obat ini bekerja dengan berikatan dengan membran sel jamur atau ragi
yang sensitive. Integrasi dengan sterol-sterol membran sel jamur lebih permiabel
terhadap molekul-molekul yang kecil. Amfoterisin B mempunyai aktivitas
fungisid dan fungistatik terhadap sel-sel jamur yang sedang tumbuh dan yang
tidak (Munaf, 2004).
Amfoterisin B diberikan secara infus intravena secara perlahan selama 4-
6 jam. Pada meningitis jamur, obat ini diberikan secara suntikan intratekal 0,5
mg 3x seminggu untuk 10 minggu atau lebih. Obat ini juga sering
dikombinasikan dengan flusitosin untuk penghambatan meningitis oleh kandida,
kriptokokus, dan kandidiasis sistemik. Pemberian kombinasi ini akan
memperlambat timbulnya resistensi dan memungkinkan penggunaan dosis
amfoterisin B yang lebih kecil (Munaf, 2004).


2.1.3. Flusitosin
Flusitosin adalah 5-Fluorositosin yang merupaka antijamur sistemik yang
dapat diberikan per oral. Flusitosin menghambat pertumbuhan galur, seperti
kandida, kriptokokus, torulopsis, dan beberapa galur aspergilosis, serta jamur
lain (Munaf, 2004).
8


Gbr. 4 Flusitosin

Obat ini bekerja karena adanya sel-sel jamur yang sensitif sehingga
mengubah flusitosin menjadi fluorourasil yang dapat menghambat timidilat dan
sintesis DNA. Mutan-mutan yang resisten akan berkembang secara teratur
dengan cepat dan obat-obat antijamur akan menyeleksi strai-strain yang resisten
ini. Hal inilah yang membatasi manfaat penggunaan obat ini. Oleh karena itu,
pemberian flusitosin dikombinasikan dengan amfoterisin B untuk menghasilkan
efek terapi yang lebih baik (Munaf, 2004).
Ekskresi obat ini sebagian besar melalui ginjal, dan kadar dalam urine
mencapai 10x kadar dalam serum. Bila terdapat kelemahan ginjal, flusitosin
dapat di akumulasi dalam serum sampai mencapai kadar toksik, tetapi bila
terdapat kelemahan hati tidak memberikan efek tersebut. Flusitosin dapat
dikeluarkan dengan hemodialisis (Munaf, 2004).
Flusitosin ternyata relatif tidak toksik untuk sel-sel mamalia. Namun,
kadar serum yang tinggi dalam jangka lama dapat menimbulkan depresi sum-
sum tulang belakang, rambut rontok, dan gangguan fungsi hepar. Pemberian
urasil dapat mengurangi toksisitas pada jaringan hemopoetik yang
bermanifestasi dengan depresi sum-sum tulang, tetapi tampaknya tidak
memberikan efek pada aktivitas antijamur ini (Munaf, 2004).
2.1.4. Kalium Iodida
Kalium iodida adalah bentuk umum dari garam. Dikenal juga sebagai
potassium iodide. Zat ini dapat melindungi kelenjar tiroid dari radiasi dan kanker
9

yang disebabkan oleh yodium radioaktif. Dikenal secara kimia sebagai KI, ia
memenuhi kelenjar itu dengan yodium non-radioaktif, mengurangi penyerapan
yodium radioaktif berbahaya (Jordan, 2011).

Gbr. 5 Kalium ilodida

Kalium iodida adalah obat non-resep yang dapat digunakan untuk
melindungi kelenjar tiroid dari paparan radiasi. Hal ini dapat berbahaya bagi
orang-orang dengan alergi terhadap yodium atau kerang dan untuk mereka yang
masalah tiroid, penyakit ginjal dan kelainan kulit tertentu dan penyakit kronis.
Ini bisa dapat memiliki efek samping yang serius termasuk irama jantung yang
tidak normal, mual, muntah, kelainan elektrolit dan perdarahan (Jordan, 2011).
Iodin, umumnya jumlah yang dianjurkan per hari 150 mcg
(mikrogram=0,001 mg) berguna untuk membantu kesehatan metabolisme tubuh
dan mencegah Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKI) serta
meningkatkan warna dan penyusunan rambut, meningkatkan metabolisme
lemak, merangsang reaksi metal (Jordan, 2011).
2.2. Antijamur Untuk Infeksi Dermatofit dan Mukokutan (Topikal)
2.2.1. Griseofulvin
Griseofulvin adalah antibiotika yang bersifat fungistatik. Secara in-vitro
griseofulvin dapat menghambat pertumbuhan berbagai spesies dari
Microsporum, Epidermophyton dan Trichophyton. Pada penggunaan per oral
griseofulvin diabsorpsi secara lambat, dengan memperkecil ukuran partikel,
absorpsi dapat ditingkatkan. Griseofulvin ditimbun di sel-sel terbawah dari
epidermis, sehingga keratin yang baru terbentuk akan tetap dilindungi terhadap
infeksi jamur (Santoso, 2009).
10


Gbr. 6 Griseofulvin

a. Farmakokinetik
Absorpsi griseofulvin sangat bergantung pada keadaan fisik obat ini
dan absorpsinya dibantu oleh makanan yang banyak mengandung lemak.
Senyawa dalam bentuk partikel yang lebih kecil diabsorpsi 2 kali lebih baik
daripada partikel yang lebih besar (Munaf, 2004).
Metabolismenya terjadi di hati. Metabolit utamanya adalah 6-
metilgriseofulvin dengan waktu paruh sekitar 24 jam. Jumlah yang
diekskresikan melalui urine adalah 50% dari dosis oral yang diberikan dalam
bentuk metabolit dan berlangsung selama 5 hari. Kulit yang sakit
mempunyai afinitas lebih besar terhadap obat ini, ditimbun dalam sel
pembentuk keratin, terikat kuat dengan keratin dan akan muncul bersama sel
yang baru berdiferensiasi sehingga sel baru ini akan resisten terhadap
serangan jamur. Keratin yang mengandung jamur akan terkelupas dan
digantikan oleh se baru yang normal. Griseofulvin ini dapat ditemukan
dalam sek tanduk 4-8 jam setelah pemberian oral (Munaf, 2004).
b. Farmakodinamik
Obat ini bekerja dengan menghambat skualenapoksidase dan obat ini
memberiakn efek fungistatik. Spectrum aktivitasnya hanya efektif terhadap
dermatofit, karena di sel-sel kandida tidak tercapai konsentrasi yang cukup
(Schmitz dkk, 2009).
2.2.2. Nistatin (Mikostatin)
Nistatin adalah antibiotika antifungal yang berasal dari streptomyces
noursei. Aktifitas antifungalnyadiperoleh dengan cara mengikatkan diri pada
11

sterol membrane sel jamur, sehingga permeabilitas membrane sel tersebut akan
terganggu dan komponen intraseluler dapat hilang (Anonim, 2012).

Gbr. 7 Nistatin

Nistatin merupakan obat yang termasuk kelompok obat yang disebut
antijamur (antifungal). Bubuk kering, tablet hisap, dan bentuk cair dari obat ini
digunakan untuk mengobati infeksi jamur pada mulut (Ratnadita, 2011).
a. Farmakokinetik
Setelah pemberian oral, nistatin hanya sedikit diabsorpsi dari
saluran cerna. Pada dosis yang dianjurkan, tidak akan terdeteksi dalam
darah. Hampir seluruhnya diekskresi melalui feses dalam bentuk tidak
diubah (Anonim, 2012).
b. Farmakodinamik
Nistatin tidak memberikan efek terhadap bakteri atau protozoa,
tetapi secara in vitro menghambat banyak jamur termasuk kandida,
dermatofit, dan organism yang dihasilkan oleh mikosis dalam badan
manusia. Secara in vivo, kerjanya terbatas pada permukaan dengann obat
yang tidak diserap dan dapat kontak langsung dengan ragi atau jamur.
Secara in vivo, tidak ditemukan resistensi terhadap nistatin, tetapi dapat
ditemukan galur kandida yang resisten terhadap nistatin (Munaf, 2004).
Mekanisme kerjanya ialah dengan jalan berikatan dengan sterol
membrane sel jamur, terutama ergosterol. Oleh karena itu, terjadi gangguan
pada permeabilitas membrane se jamur dan mekanisme transpornya.
Akibatnya, sel jamur kehilangan banyak kation dan makromolekul.
Resistensi dapat timbul karena menurunnya jumlah sterol pada membrane
sel jamaur atau terjadi perubahan sifat struktur atau sifat ikatannya (Munaf,
2004).

12

2.2.3. Haloprogin
Haloprogin berkhasiat fungisid terhadap berbagai jenis Epidermofiton,
Pityrosporum, Trichophyton dan Candida. Kadang-kadang terjadi sensitasi
dengan timbulnya gatal-gatal, perasaan terbakar, dan iritasi kulit. Zat ini
digunakan sebagai krem atau larutan 1% terhadap panu dan kutu air (Tinea
pedis) dengan persentase penyembuhan lebih kurang 80%, sama dengan tolnafat
(Tjan dan Rahardja, 2007).

Gbr. 8 Haloprogin

2.2.4. Kandisidin
Kandisidin merupakan suatu antibiotik polien yang diperoleh dari
golongan aktinomisetes. Kandisidin hanya digunakan untuk pemakain topical
pada kandidiasis vaginalis 0,06% yang dilengkapi dengan aplikatornya.
Dosisnya adalah 2x sehari 1 tablet atau 2x sehari dioleskan di vagina. Efek
sampingnya dapat berupa iritasi vulva atau vagina, dan jarang timbul efek
samping yang serius (Munaf, 2004).

Gbr. 9 Kandisidin



13

2.2.5. Salep Whitfield
Salep Whitfield adalah campuran asam salisilat dengan asam benzoate
dengan perbandingan 1:2 (biasanya 6% dan 12%). Asam salisilat bersifat
keratolitik dan asam benzoate bersifat fungistatik. Karena asam benzoate hanya
bersifat fungistatik, penyembuhan dapat tercapai setelah lapisan kulit terkelupas
seluruhnya sehingga penggunaan obat ini memerlukan waktu beberapa minggu
sampai bulanan. Salep ini banyak digunakan untuk Tinea pedis dan kadang-
kadang juga untuk tinea kapitis. Efek sampingnya dapat berupa iritasi ringa lokal
pada tempat pemakaian (Munaf, 2004).
2.2.6. Natamisin
Natasimin merupakan antijamur antibiotic polien yang aktif terhadap
banyak jamur. Pemakaian pada mata jarang menimbulkan iritasi maka
digunakan untuk keratitis jamur. Natasimin merupakan obat terpilih untuk
infeksi Fusarium solani, tetapi daya oenetrasinya ke ornea kurang memadai.
Natasimin juga efektif untuk kandidiasis oral dan vagina. Sediaan tersedia dalam
suspensei 5% dan salep 1% untuk pemakaian pada mata (Munaf, 2004).

Gbr. 10 Natamisin











14

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Obat-obat antijamur juga disebut obat-obat antimikotik, dipakai untuk mengobati
dua jenis infeksi jamur, yaitu infeksi jamur superficial pada kulit atau selaput lender dan
infeksi jamur sistemik pada paru-paru atau system saraf pusat. Menurut indikasi klinik
obat-obat anti jamur dibagi atas dua golongan, yaitu golongan antijamur untuk infeksi
sistemik dan golongan antijamur untuk infeksi dermatofit dan mukokutan (topikal).
Yang termasuk dalam golongan golongan antijamur untuk infeksi sistemik
antaralain amfoterisin B, flusitosin, golongan imidazol, dan kalium iodida. Sedangkan
yang termasuk dalam golongan antijamur untuk infeksi dermatofit dan mukokutan
(topikal) adalah griseofulvin, nistatin (mikostatin), haloprogin, kandisidin, salep
whitfield, natamisin, dll.
B. SARAN
Semoga paper ini dapat menjadi bahan acuan dan referensi bagi para pembaca,
khususnya mahasiswa Kedokteran Hewan Universitas Udayana. Semoga kedepannya
dapat dibuat lebih banyak informasi mengenai obat-obat antijamur yang diperlukan oleh
mahasiswa kedokteran hewan dan seorang dokter hewan ataupum masyarakat secara
umum.










15

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. Candistin. http://katalog.apotekpratama.com/candistin/. 02 Juni 2013.
Anonim. 2007. Jamur. http://materi-pelajaran.blogspot.com/2007/11/jamur.html. 01 Juni
2013
Anonim. 2011. Ketokonazol Untuk Jamur. http://rumahsehatmisspharmacist.blogspot.com
/2011/01/ketokonazol-untuk-jamur.html. 01 Juni 2013.
Anonim. 2013. Penyakit Kulit Karena Jamur. http://www.fakultaskedokteran.com/2013/02/
penyakit-kulit-karena-jamur/. 01 Juni 2013.
Husada, Dian. 2009. Pengertian Obat Anti Jamur. http://dianhusadaikesutyaningsih.blogspot.
com/p/pengertian-obat-anti-jamur.html. 01 Juni 2013.
Hidayat, Rahmat. 2010. Download Presentasi Farmakologi Tentang Obat Anti Jamur. http://
downloadpresentasi.blogspot.com/2010/09/download-presentasi-farmakologi-
tentang.html. 02 Juni 2013.
Jordan, Tama. 2009. Pil Potassium Iodida atau Kalium Iodida (KI) Hanya Cegah Kanker
Tiroid.http://logku.blogspot.com/2011/03/pil-potassium-iodida-atau-kalium-iodida.
html.02 Juni 2013.
Kee, Joyce L., & Evelyn R. Hayes (1993). Farmakologi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC. Obat-Obat Antijamur, Antivirus, dan Antimalaria hlm. 357-360.
Neal, M. J (2006). Farmakologi Medis Ed. 5. Penerbit Erlangga. Obat Antijamur dan
Antivirus hlm. 86-87.
Ratnadita, Adelia. 2011. Nystatin. http://health.detik.com/read/2011/10/17/093230/1745369
/769/. 02 Juni 2013.
Rosfanty. 2009. Obat Jamur Sistemik. http://dokterrosfanty.blogspot.com/2009/07/obat-
jamur-sistemik.html. 02 Juni 2013.
Santoso, T. Budi. 2009. Griseofulvin 125 mg. http://health.detik.com /read/2009/08/06
/143746/1178607/769/griseofulvin-125-mg. 02 Juni 2013.
Schmitz, Gery., Hans Lepper., & Michael Heidrich (2009). Farmakologi dan Toksikologi Ed.
3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Flukonazol hlm. 568.

16

Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (2004).
Kumpulan Kuliah Farmakologi Ed. 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Obat-Obat Anti Jamur hlm. 221-231.
Tjay, Tan Hoan., & Kirana Rahardja (2007). Obat-Obat Penting Ed. 6. Haloprogin hlm.
106-107.