Vous êtes sur la page 1sur 17

MAKALAH IBADAH AKHLAQ KELOMPOK 11

AKHLAK MUSLIM DI TENGAH KELUARGA













DISUSUN OLEH :

1. BOBBY PRATAMA
2. LUTFI HANIFAR
3. HISYAM MUNIR
4. NOVELIA DEWI SAFITRI
5. ANNISA IKA CENDANI
6. RIZKY RAHAYU


JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
2014




KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim
Assalammualaikum wr.wb

Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena
berkat rahmat dan karunia-Nya jualah kami dapat menyelesaikan sebuah
makalah yang berjudul AKHLAK MUSLIM DITENGAH KELUARGA tepat
pada waktunya. Shalawat dan salam selalu tercurah keharibaan junjungan kita,
Nabi Besar Muhammad SAW, beserta sahabat dan pengikutnya hingga akhir
zaman.

Dalam kesempatan ini, kami mengucapkan terimakasih yang sebesar
besarnya kepada semua pihak yang telah banyak membantu dalam proses
pembuatan makalah ini, baik moril maupun materiil. Kami menyadari makalah
ini masih jauh dari kesempurnaan, karena tak ada gading yang tak retak. Oleh
karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan makalah
ini. Semoga makalah ini berguna dan bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Wassalammualaikum wr.wb


YOGYAKARTA, MEI 2014


PENYUSUN







DAFTAR ISI
Halaman
Halaman Judul..
Kata Pengantar..
Daftar Isi...
Akhlak Dalam Keluarga
A. Memilih Pasangan Hidup..
B. Melakukan Pernikahan..
C. Hak dan Kewajiban Suami Isteri..
D. Birrul Walidain.
E. Silaturrahmi dengan Karib Kerabat.
Daftar Pustaka...

























PENDAHULUAN

Keluarga adalah jiwa masyarakat, sejahtera atau tidaknya suatu
bangsa, kemajuan atau keterbelakangannya, pintar atau bodohnya adalah
cerminan dari keadaan keluarga yang hidup pada masyarakat atau bangsa
tersebut. Hakikat tersebut adalah kesimpulan pandangan seluruh pakar
dari berbagai disiplin ilmu, termasuk pakar-pakar agama Islam. Oleh sebab
itu, Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap pembinaan
keluarga. Indikasinya bisa dilihat dari banyaknya ayat al-Quran dan hadits
Nabi yang berbicara tentang hakikat tersebut.

Allah SWT menganjurkan agar kehidupan keluarga menjadi bahan
pemikiran setiap manusia sehingga darinya bisa ditarik pelajaran yang
amat berharga. Menurut al-Quran, kehidupan keluarga, di samping
menjadi salah satu tanda dari sekian banyak tanda-tanda kebesaran Ilahi,
juga merupakan nikmat yang harus dapat dimanfaatkan serta disyukuri.

Allah SWT berfirman: Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-
Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya
kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya
diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (Q.S. Ar-Rum
30: 21)

Dalam ayat tersebut jelas sekali bahwa tujuan dari pembentukan
keluarga adalah terciptanya rasa aman, tentram, serta munculnya kasih
sayang. Untuk mewujudkannya tentu tidak semudah membalik telapak


tangan, diperlukan sebuah pengaturan yang bisa dipahami dan disepakati
oleh semua anggota keluarga serta dibutuhkan konsistensi dari semua
anggota keluarga untuk menjalankan aturan yang diberlakukan sehingga
lahirlah keluarga yang dibingkai dengan keteraturan dan keseimbangan
seperti yang diharapkan ajaran Islam.

Sikap hidup dan perilaku Nabi Muhammad SAW senantiasa hidup
dan terus menjadi panutan setiap muslim untuk membangun akhlak mulia.
Akhlak ataupun budi pekerti memegang peranan penting dalam kehidupan
manusia. Akhlak merupakan suatu perbuatan yang bertujuan jelas yaitu :
untuk memperbaiki pribadi muslim sehingga bisa melaksanakan Islam
dengan sebaik-baiknya, adapun perbaikan yang dimaksud di sini
adalah : segala sesuatu yang sesuai dengan apa yang diterangkan oleh Al
Quran dan Hadits Nabi SAW. Disamping itu akhlak merupakan corak batin
bagi rohaniah manusia.Bila corak yang dibina atau dibentuk dalam rohani
itu baik, maka tindakan tindakannya juga akan baik. Demikian sebaliknya.
Di dalam islam, terdapat tiga aspek yang menjadi ajaran dasar agama islam,
yaitu aqidah, ibadah, dan akhlaq. Akhlaq itu sendiri dibagi lagi menjadi
berbagai aspek diantaranya akhlaq pribadi, akhlaq dalam keluarga, akhlaq
dalam bermasyarakat dan akhlaq dalam bernegara.
Terkait dengan hal tersebut di atas, maka penulis akan mencoba
menguraikan sedikit tentang akhlaq dalam keluarga. Apa saja yang harus
dipahami dalam aspek akhlaq dalam keluarga itu. Berikut adalah uraian
lebih lanjut.


AKHLAQ MUSLIM DI TENGAH KELUARGA

A. Memilih Pasangan Hidup
Dalam ajaran agama Islam, terdapat 4 macam kriteria umum dalam
menentukan pasangan hidup seseorang, karena dalam menentukan
pasangan hidup tidak cukup hanya dengan modal cinta semata, melainkan
terdapat beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh seseorang bila
menginginkan pasangan hidup yang dapat membawa kebahagiaan di dunia
maupun di akhirat nanti. Dari beberapa uraian diatas maka kita harus
berhati-hati dalam menentukan pasangan hidup kita, karena jika kita
kurang tepat dalam menentukan pasangan hidup kita, maka akan
berdampak bagi kehidupan kita di dunia maupun di akhirat.



Maka, ikutilah bimbingan yang diberikan oleh Rasulullah saw tentang
beberapa kriteria yang dipakai oleh seorang laki-laki dalam menentukan
pasangan hidupnya, agar kita bisa memperoleh kebahagiaan hidup di dunia
dan di akhirat.

Dalam salah satu Hadist Rasulullah bersabda :
Seorang wanita dinikahi berdasrkan empat pertimbangan: karena harta,
keturunan, kecantikan dan agamanya. Peganglah yang memiliki agama
niscaya kedua tanganmu tidak akan terlepas (HR. Bukhari, Muslim, dan
Abu Daud) Dimulai oleh Rasulullah saw dengan menyebutkan tiga kriteria
yang mengikuti kecendrungan atau naluri setiap laki-laki yaitu kekayaan,
kecantikan dan keturunan kemudian diakhiri dengan satu kriteria pokok
yang tidak boleh ditawar-tawar yaitu agama.

Agama menjadi kriteria pokok dalam menetukan pasangan hidup
karena dengan agama (Islam) seseorang dapat mengerti bahwa pernikahan
adalah ibadah semata-mata mencari ridho Allah SWT. Meskipun dengan
adanya suatu pernikahan banyak hikmah yang bisa diambil, seperti :
1. Penyaluran kebutuhan biologis dan memelihara diri dari dosa,
2. Menjaga masyrakat dari kerusakan dan dekadensi moral,
3. Menjaga kelestarian keturunan umat manusia, dll
Dengan ajaran agama Islam seseorang dapat memahami hak dan
kewajibannya masing-masing dalam membina suatu rumah tangga.
Sehingga apabila sepasang suami isteri masing-masing saling memahami
apa tujuan dan hikmah suatu pernikahan serta mengerti dan mau
menjalankan hak dan kewajibannya masing-masing dengan penuh rasa
tanggung jawab, maka keluarga tersebut akan menjadi sebuah keluarga
yang harmonis, segala sesuatu berjalan dengan lancar, dan tentu saja pada
akhirnya akan membuahkan kebahagiaan dunia dan akhirat (insya Allah).




B. Melakukan Penikahan

Pernikahan adalah fitrah kemanusiaan, maka dari itu Islam
menganjurkan untuk nikah, karena nikah merupakan gharizah insaniyah
(naluri kemanusiaan). Bila gharizah ini tidak dipenuhi dengan jalan yang
sah yaitu pernikahan, maka ia akan mencari jalan-jalan syetan yang banyak
menjerumuskan ke lembah hitam. Firman Allah Taala:
Artinya : Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah);
(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah
itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus;
tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Ar-Ruum : 30).
A. Islam Menganjurkan Nikah
Islam telah menjadikan ikatan pernikahan yang sah berdasarkan Al-Quran
dan As-Sunnah sebagai satu-satunya sarana untuk memenuhi tuntutan
naluri
manusia yang sangat asasi dan sarana untuk membina keluarga yang
Islami.
Penghargaan Islam terhadap ikatan pernikahan besar sekali sampai-
sampai ikatan
itu ditetapkan sebanding dengan separuh agama. Anas bin Malik
radliyallahu anhu
berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam :Artinya
:Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya.
Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang
separuhnya lagi.
(Hadist Riwayat Thabrani dan Hakim).

B. Tujuan Pernikahan Dalam Islam
Untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang asasi
Untuk membentengi ahlak yang luhur
Untuk menegakkan rumah tangga yang islami
Untuk meningkatkan ibadah kepada Allah
Untuk mencari keturunan yang shalih

C. Tata Cara Pernikahan Dalam Islam
Islam telah memberikan konsep yang jelas tentang tata cara perkawinan
berlandaskan Al-Quran dan Sunnah.
Khitbah (Peminangan)
Aqad Nikah

Dalam aqad nikah ada beberapa syarat dan kewajiban yang harus dipenuhi:
a. Adanya suka sama suka dari kedua calon mempelai.
b. Adanya Ijab Qabul.
c. Adanya Mahar.
d. Adanya Wali.
e. Adanya Saksi-saksi.



Dan menurut sunnah sebelum aqad nikah diadakan khutbah terlebih
dahulu yang dinamakan Khutbatun Nikah atau Khutbatul Hajat.
Walimah

C. Hak dan Kewajiban suami isteri

1. Kewajiban suami kepada isteri
Kewajiban yang harus dipenuhi oleh seorang suami terhadap isteri
antara lain :

a. Mahar
Mahar adalah pemberian wajib dari suami untuk isteri, suami tidak
boleh menggunakanya tanpa seizin dan seikhlas isteri.
Rasulullah bersabda,
Diriwayatkan dari amir ibn Rabiah bahwa seorang wanita dari Bani
Fazarah kawin dengan mahar sepasang sandal. Lalu Rasulullah
bertanya:Apakah engkau rela dari diri dan hartamu dengan sepasang
sandal?Perempuan itu menjawab:Ya. Lalu Rasulullah saw
membolehkannya.(HR. Ahmad, Ibn Majah dan Tirmidzi)

b. Nafkah
Nafkah adalah menyediakan segala keperluan isteri berupa
makanan, minuman, pakaian, rumah, dan lain-lain.
Firman Allah :
Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut
kemampuannya. dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah
memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak
memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah
berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah
kesempitan.(QS. At-Thalaq 7)

c. Ihsan al-Asyarah
Ihsan al-Asyarah artinya bergaul dengan isteri dengan cara yang
sebaik-baiknya. Teknisnya dapat dilakukan menurut pribadi masing-
masing.
Misalnya : membuat isteri bahagia, selalu berprasangka baik
terhadap isteri, membantu isteri apabila ia memerlukan bantuan meskipun
dalam urusan rumah tangga, menghormati harta miliknya pribadi dan
lain-lain.
Allah berfirman :
dan bergaullah dengan isterimu secara patut(An-Nisaa 29).
Rasulullah saw sudah memberikan contoh teladan bagaimana
bergaul dengan isteri dengan sebaik-baiknya. Rasulullah bersabda :
Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah orang yang paling
baik akhlaqnya. Dan orang orang baik diantara mereka ialah yang paling
baik terhadap isterinya.(HR. Ahmad)

d. Membimbing dan Mendidik Keagamaan Isteri
Seorang suami memiliki tanggung jawab dihadapan Allah
terhadap isterinya karena suami merupakan pemimpin didalam rumah
tangga. Maka, suami berkewajiban mengajar dan mendidik isterinya agar
menjadi seorang wanita shalihah.
Jika seorang suami tidak mampu mengajarkannya sendiri, dia
harus memberikan izin kepada isterinya untuk belajar di luar atau
mendatangkan guru ke rumah, atau menyediakan buku-buku bacaan untuk
keluarga.

e. Hak Bersama Suami Istri
Suami istri, hendaknya saling menumbuhkan suasana mawaddah dan
rahmah. (Ar-Rum: 21)
Hendaknya saling mempercayai dan memahami sifat masing-masing
pasangannya. (An-Nisa: 19 & Al-Hujuraat: 10)
Hendaknya menghiasi dengan pergaulan yang harmonis. (An-Nisa: 19)
Hendaknya saling menasehati dalam kebaikan. (Muttafaqun Alaih)

F . Adab Suami Kepada Istri
Suami hendaknya menyadari bahwa istri adalah suatu ujian dalam
menjalankan agama. (Q.S At-Taubah: 24)
Seorang istri bisa menjadi musuh bagi suami dalam mentaati Allah dan
Rasul-Nya. (QS. At-Taghabun: 14)
Hendaknya senantiasa berdoa kepada Allah meminta istri yang
sholehah(QS.AI-Furqan: 74)
Diantara kewajiban suami terhadap istri, ialah: Membayar mahar,
Memberi
nafkah (makan, pakaian, tempat tinggal), Menggaulinya dengan baik,
Berlaku adil jika beristri lebih dari satu. (AI-Ghazali)
Jika istri berbuat Nusyuz, maka dianjurkan melakukan tindakan berikut
ini
secara berurutan: (a) Memberi nasehat, (b) Pisah kamar, (c) Memukul
dengan pukulan yang tidak menyakitkan. (QS. An-Nisa: 34) Nusyuz
adalah: Kedurhakaan istri kepada suami dalam hal ketaatan kepada Allah.
Suami tidak boleh kikir dalam menafkahkan hartanya untuk istri dan
anaknya.(QS. Ath-Thalaq: 7)
Suami dilarang berlaku kasar terhadap istrinya. (Tirmidzi)
Suami wajib menggauli istrinya dengan cara yang baik. Dengan penuh
kasih
sayang, tanpa kasar dan zhalim. (QS. An-Nisa: 19)
Suami wajib memberi makan istrinya apa yang ia makan, memberinya
pakaian, tidak memukul wajahnya, tidak menghinanya, dan tidak berpisah
ranjang kecuali dalam rumah sendiri. (Abu Dawud).
Suami wajib selalu memberikan pengertian, bimbingan agama kepada
istrinya, dan menyuruhnya untuk selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
(QS. AI-Ahzab: 34, QS. At-Tahrim : 6, Muttafaqun Alaih)


Suami wajib mengajarkan istrinya ilmu-ilmu yang berkaitan dengan
wanita
(hukum-hukum haidh, istihadhah, dll.). (AI-Ghazali)
Suami wajib berlaku adil dan bijaksana terhadap istri. (QS. An-Nisa: 3)
Suami tidak boleh membuka aib istri kepada siapapun. (Nasai)
Apabila istri tidak mentaati suami (durhaka kepada suami), maka suami
wajib mendidiknya dan membawanya kepada ketaatan, walaupun secara
paksa. (AIGhazali)
Jika suami hendak meninggal dunia, maka dianjurkan berwasiat terlebih
dahulu kepada istrinya. (QS. AI-Baqarah: 40)

g . Adab Istri Kepada Suami
Hendaknya istri menyadari dan menerima dengan ikhlas bahwa kaum
laki-Iaki adalah pemimpin kaum wanita. (QS. An-Nisa: 34)
Hendaknya istri menyadari bahwa hak (kedudukan) suami setingkat
lebih tinggi daripada istri. (QS. Al-Baqarah: 228)
Istri wajib mentaati suaminya selama bukan kemaksiatan. (QS. An-Nisa:
39)

Diantara kewajiban istri terhadap suaminya, ialah:
Menyerahkan dirinya,Mentaati suami, Tidak keluar rumah, kecuali
dengan ijinnya,Tinggal di tempat kediaman yang disediakan suami,
Menggauli suami dengan baik. (Al-Ghazali)
Istri hendaknya selalu memenuhi hajat biologis suaminya, walaupun
sedang dalam kesibukan. (Nasa i, Muttafaqun Alaih)
Apabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur untuk
menggaulinya, lalu sang istri menolaknya, maka penduduk langit akan
melaknatnya sehingga suami meridhainya. (Muslim)
Istri hendaknya mendahulukan hak suami atas orang tuanya. Allah swt.
mengampuni dosa-dosa seorang Istri yang mendahulukan hak suaminya
daripada hak orang tuanya. (Tirmidzi)
Yang sangat penting bagi istri adalah ridha suami. Istri yang meninggal
dunia dalam keridhaan suaminya akan masuk surga. (Ibnu Majah,
Tirmidzi)
Kepentingan istri mentaati suaminya, telah disabdakan oleh Nabi saw.:
Seandainya dibolehkan sujud sesama manusia, maka aku akan
perintahkan istri bersujud kepada suaminya. .. (Tirmidzi)
Istri wajib menjaga harta suaminya dengan sebaik-baiknya. (Thabrani)
Istri hendaknya senantiasa membuat dirinya selalu menarik di hadapan
suami(Thabrani)
Istri wajib menjaga kehormatan suaminya baik di hadapannya atau di
belakangnya (saat suami tidak di rumah). (QS. An-Nisa: 34)
Ada empat cobaan berat dalam pernikahan, yaitu: (1) Banyak anak (2)
Sedikit harta (3) Tetangga yang buruk (4) lstri yang berkhianat. (Hasan
Al-Bashri)
Wanita Mukmin hanya dibolehkan berkabung atas kematian suaminya
selama empat bulan sepuluh hari. (Muttafaqun Alaih)
Wanita dan laki-laki mukmin, wajib menundukkan pandangan mereka
dan menjaga kemaluannya. (QS. An-Nur: 30-31).

D. Birrul Walidain
Birrul Wlidain terdiri dari kata birru dan al-walidain. Birru artinya
kebajikan. Al-walidain artinya dua orang tua atau ibu dan bapak.
Birrul Walidain merupakan suatu istilah yang berasal langsung dari
Nabi Muhammad saw, yang berarti berbuat kebajikan kepada kedua orang
tua. Semakna dengan birrul walidain, Al-Quran Al-Karim menggunakan
istilah ihsan (wa bi al-walidaini ihsana), seperti yang terdapat dalam
firman
Allah SWT berikut ini:

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah
selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan
sebaikbaiknya...(QS. Al-Isra 23)

Allah SWT mewasiatkan kepada umat manusia untuk berbuat ihsan
kepada kedua orang tua kita, Allah SWT berfirman:

Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang
ibubapaknya(QS. Al-Ankabut 8)
Allah SWT juga meletakan perintah berterima kasih kepada kedua
orang tua langsung sesudah perintah berterima kasih kepada Allah SWT.
Allah berfirman:

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang
ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang
bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah
kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah
kembalimu.(QS. Luqman 14)







Rasulullah juga mengaitkan bahwa keridhaan dan kemarahan Allah
SWT berhubungan dengan keridhaan dan kemarahan kedua orang tua.
Rasulullah bersabda:

Keridhaan Rabb (Allah) ada pada keridhaan orang tua, dan kemarahan
Rabb (Allah) ada pada kemarahan orang tua.(HR. Tirmidzi)

Bentuk-bentuk Birrul Waldain

1. Mengikuti keinginan dan saran orang tua.
Seorang anak wajib mengikuti segala keinginan kedua orang tua,
dengan catatan keinginan tersebut tidak bertentangan dengan ajaran
Agama
Islam.
Allah berfirman :

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku
sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu
mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik(QS.
Luqman 15)

Juga sesuai dengan sabda dari Rasulullah,
Tidak ada ketaatan dalam maksiat kepada Allah SWT, ketaatan hanyalah
semata dalam hal yang maruf.(HR. Muslim)

2. Menghormati dan Memuliakan kedua orang tua
Banyak cara yang bisa dilakukan seorang anak untuk menunjukkan
rasa hormat kepada kedua orang tua, antara lain memanggilnya dengan
panggilan yang menunjukan rasa hormat, berbicara kepadanya lemah
lembut, tidak mengucapkan kata-kata yang kasar, pamit jika ingin keluar
rumah(bila tinggal serumah), dan lain sebagainya.
Allah berfirman :

Jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai
berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu
mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu
membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang
mulia(QS. Al-Isra 23)




3. Membantu kedua orang tua secara fisik dan materiil.
Seseorang dapat membantu kedua orang tua baik sebelum berkeluarga
dan belum berpenghasilan maupun apabila anak tersebut sudah
berkeluarga dan berpenghasilan. Misalnya, jika seorang anak belum
berpenghasilan dapat membantu dengan cara fisik atau tenaga dan atau
yang lain. Sedangkan bila anak sudah berpenghasilan dapat membantu
secara materi dan atau yang lainnya.
Rasulullah bersabda :

Siapakah yang paling berhak aku Bantu dengan sebaik-baiknya?jawab
Nabi;ibumu. Kemudian siapa; jawab Nabi; ibumu. Lalu siapa
lagi?jawab Nabi;bapakmu.(HR. Bukhari dan Muslim)

4. Mendoakan kedua orang tua
Seorang anak yang berbakti adalah anak yang selalu mendoakan
kedua orang tua baik selama mereka masih hidup walaupun mereka telah
menghadap sang Khaliq.
Allah berfirman :

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh
kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya,
sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".(QS. Al-Isra
24)

Demikianlah Allah SWT dan Rasul-Nya menempatkan orang tua pada
posisi yang sangat istimewa sehingga berbuat baik kepada keduanya
menempati posisi yang sangat mulia, dan sebaliknya durhaka kepada salah
satu atau keduanya juga menempati posisi yang sangat hina. Secara khusus
Allah mengingatkan betapa besar jasa dan perjuangan seorang ibu dalam
mengandung, menyusui, merawat, dan mendidik anaknya. Kemudian bapak
walaupun tidak ikut mengandung, tetapi dia berperan besar dalam mencari
nafkah, membimbing, melindungi, membesarkan, dan mendidik anaknya
hingga mampu berdiri sendiri, bahkan sampai waktu yang tidak terbatas.
Berdasarkan hal tersebut maka sangatlah wajar apabila seorang anak
menghormati dan menyanyangi kedua orang tua setelah cintanya kepada
Allah SWT.






E. Silaturrahmi Dengan Karib Kerabat
Istilah silaturrahmi terdiri dari dua kata: Shillah (hubungan atau
sambungan) dan rahim (peranakan). Istilah ini merupakan sebuah istilah
dari hubungan baik penuh kasih sayang antar sesame karib kerabat yang
salusulnya berasl dari satu rahim(keluarga).
Keluarga dalam kosep Islam bukanlah keluarga kecil yang hanya
terdiri dari bapak, ibu dan anak. Tetapi adalah keluarga besar yang bisa
terdiri dari seluruh aspek dalam suatu keluarga yang sambung-
menyambung, seperti kakek, nenek, paman, bibi, dan lain seterusnya.
Allah berfirman :

Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya
kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan
silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi
kamu.(An-Nisa 1)

1. Bentuk-bentuk Silaturrahmi
Silaturrahmi secara kongkrit dapat ditunjukkan dalam bentuk antara lain :

a. Berbuat Baik (ihsan)
Berbuat baik atau saling tolong-menolong antar sanak keluarga
dapat mempererat tali sillaturrahmi antar sanak keluarga. Allah SWT
meletakkan ihsan kepada dzawi al-qurba nomor dua setelah ihsan kepada
ibu bapak.
Allah berfirman :

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan
sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karibkerabat,
anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan
tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan
membangga-banggakan diri. (QS. An-Nisaa 36).

Karib kerabat harus diprioritaskan untuk dibantu, dibanding
dengan pihak-pihak lain, lebih-lebih lagi bila karib kerabat adalah miskin
atau yatim.
Rasulullah bersabda :
Sedekah kepada orang miskin bernilai satu yaitu sedekah. Sedangkan
sedekah kepada karib kerabat bernilai dua yaitu sedekah dan
silaturrahim.(HR. Tirmidzi).



b. Membagi sebagian dari harta warisan
Kita dapat membagi sebagian dari harta warisan kepada karib
kerabat yang hadir pada waktu pembagian, tetapi tidak mendapat bagian
jika terhalang oleh ahli waris yang lebih berhak.
Allah berfirman :

Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan
orang miskin, Maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan
ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang baik.(QS. An-Nisaa 8).

c. Memelihara dan meningkatkan rasa kasih sayang sesama kerabat.
Untuk memelihara dan meningkatkan rasa kasih sayang antar
kerabat dapat dilakukan dengan cara antara lain :
_ Saling hormat-menghormati, bertukar salam
_ Saling kunjung-mengunjungi
_ Menyelenggarakan walimahan, dll

2. Manfaat Silaturrahmi
Selain meningkatkan hubungan persaudaraan antar kerabat,
silaturrahmi juga memberi manfaat lain yang lebih besar baik di dunia
maupun di akhirat. Antara lain :

a. Mendapatkan Rahmat, Nikmat dan Ihsan dari Allh SWT
Dalam sebuah hadits riwayat Abu Hurairah ra, Rasulullah saw
menggambarkan secara metaforis dialog Allah SWT dengan rahim.
Sabda beliau :

Sesungguhnya setelah Allah Taala selesai menciptakan makhluk-Nya
rahim bangkit berkata: Inilah tempat orang yang meminta perlindungan
kepada-Mu dari memutuskan silaturrahim. Allah berfirman: Ya,
apakah engkau sudah puas kalau aku menghubungkan orang yang
menghubungkanmu dan memutuskan orang yang memutuskanmu. Rahim
menjawab: Tentu. Lalu Allah berfirman lagi: Demikianlah bagimu.
Kemudian Rasulullah bersabda: bacalah jika kalian menghendaki:







b. Masuk Surga dan Jauh Dari Neraka
Secara khusus disebut oleh Rasulullah saw bahwa sesudah
beberapa amalan pokok, silaturahmi dapat mengantarkan seseorang ke
surga dan menjauhkannya dari neraka.
Rasulullah bersabda :
Diriwayatkan oleh Abu Ayyub Khalid ibn Zaid al-Anshari ra, bahwa
seseorang bertanya kepada Rasulullah saw: Ya Rasulullah, tunjukkan
kepadaku amalan yang dapat memasukkan aku ke sorga dan menjauhkan
aku dari api neraka. Nabi menjawab: (yaitu apabila)engkau
menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun,
mendirikan sholat, membayar zakat dan melakukan silaturrahmi.(H.
Muttafaqun Alaihi)

c. Lapang Rezeki dan Panjang Umur
Secara lebih konkret Rasulullah saw menjanjikan rezeki yang
lapang dan umur yang panjang bagi orang-orang yang melakukan
silaturahmi.
Rasulullah bersabda :
Siapa yang ingin di lapangkan rezekinya, dipanjangkan umurnya,
hendaklah ia melakukan silaturrahmi. (H. Muttafaqun Alaihi)
Demikianlah beberapa manfaat silaturrahmi yang akan didapatkan baik di
dunia maupun di akhirat nanti.










PENUTUP


Kesimpulan
Islam adalah agama yang syumul (universal). Agama yang mencakup
semua sisi kehidupan. Tidak ada suatu masalah pun, dalam kehidupan ini
yang tidak dijelaskan.
Dan tidak ada satu pun masalah yang tidak disentuh dengan nilai Islam,
walau masalah tersebut nampak kecil dan sepele. Itulah Islam, agama yang
memberi rahmat bagi sekalian alam. Islam telah memberikan solusi atas
kehidupan di dunia ini. Salah satunya yaitu Akhlaq dalam keluarga yang
begitu luas penjabarannya. Demikianlah ajaran Islam dalam memilih calon
pasangan hidup, melakukan pernikahan, kewajiban dan hak suami istri,
tanggung jawab orangtua terhadap anak, birrul walidain, dan silaturahmi
karib kerabat.
Betapa sempurnanya Islam dalam menuntun umat disetiap langkah
amalannya dengan tuntunan yang baik agar selamat dalam kehidupan
dunia dan akhiratnya.

Saran
Dengan adanya uraian tentang akhlaq dalam keluarga ini, diharapkan
seorang muslim / muslimah dapat bertambah iman dan taqwanya kepada
Allah. Dengan mengikuti Al Quran dan Al Hadist sebagai pedoman
hidup, insya Allah akan mendapat kebaikan dunia dan akhirat. Semoga hal
ini dapat meningkatkan kualitas hidup manusia.


DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Nashih Ulwan, Pendidikan Anak dalam Islam Jilid 1, Pustaka Amani.
Jakarta. 2007.
Departemen Agama, Al-Quran dan terjemah. Jakarta
M. Quraish Shihab, Membumikan al-Quran. Mizan, Bandung, 1994.
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah Volume 13. Lentera hati, Jakarta, 2002.
Maulana Muhammad Ali, Islamologi (Dinul Islam), terj. R. Kaelan dan H.M.
Bachrun, PT. Ikhtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 1977.
Murtadha Mutahari, Keadilan Ilahi, Asas Pandangan Dunia Islam. Mizan,
Bandung,2009 .