Vous êtes sur la page 1sur 5

Asal-usul Tuhan

Suatu hari saya ditanya oleh seorang kenalan. Seperti mahasiswa dari keluarga
baik-baik pada umumnya, dengan sopan dia bertanya: Mas ...sebenarnya antum
percaya pada adanya Tuhan nggak sih?. Dia bertanya demikian karena, katanya,
tersebar fitnah tentang saya di kalangan mahasiswa bahwa saya adalah sejenis ateis
atau orang yang percaya bahwa Tuhan tidak ada. Naudzubillah min dzalik. Berani betul
dia bertanya seperti itu pada senior. Sungguh terkutuk orang-orang yang memfitnah
sedemikian itu pada orang yang percaya Tuhan. Saya terhenyak sejenak. Tapi saya
mencoba menjadi seperti orang dari keluarga baik-baik pada umumnya yang tidak
mudah marah oleh pertanyaan menggugat seperti itu. Saya juga tidak balik bertanya
dengan angkuh seperti orang dari keluarga tidak baik-baik tentang apa sih percaya,
adanya, dan Tuhan menurut dia. Kalau ya, saya jamin dia pun akan kelabakan
menjawabnya. Pertanyaan ini sulit bukan pada jawabannya, tetapi pada arti kata-kata
pembentuk kalimatnya. Percaya, adanya, dan Tuhan adalah kata-kata yang sulit
dijawab sekali ucap tanpa pikir-pikir dulu. Apalagi bila mereka dirangkai menjadi
pertanyaan tunggal ke hadapan saya yang cuma manusia biasa dan tidak tahu-menahu
soal Tuhan. Seperti orang dari keluarga baik-baik pada umumnya, saya menjawab
bahwa saya percaya pada Tuhan dan semua cerita di kalangan mahasiswa itu
hanyalah isapan jempol belaka. Seperti mahasiswa dari keluarga baik-baik pada
umumnya, dia pun lega mendengarnya.
Sebagai manusia biasa yang bersyukur memperoleh pendidikan hingga ke jenjang
perguruan tinggi dan bisa membaca buku, saya tidak diberi pengetahuan-pengetahuan
bawaan atau wahyu tentang Tuhan. Satu-satunya sumber pengetahuan saya tentang
Tuhan adalah pengajaran agama dari semenjak kanak-kanak oleh ustad desa hingga
dewasa oleh dosen PAI. Rekan-rekan baik budi dan berpengetahuan agama yang jauh
lebih banyak dari saya yang cuma seorang anak petani dari kampung, juga sumber
pengetahuan saya tentang Tuhan.
Malamnya, saya pikir pertanyaan rekan dari keluarga baik-baik itu selesai sampai
di situ. Tetapi nyatanya belum. Tidak seperti orang dari keluarga baik-baik pada
umumnya, saya lalu bertanya pada diri sendiri dengan pertanyaan yang persis seperti
diajukan kawan mahasiswa dari keluarga baik-baik itu: Apakah aku percaya adanya
Tuhan?. Apa itu: Percaya..adanya.. dan...Tuhan?
Berdasarkan pengalaman, saya percaya pada sesuatu karena memiliki
pengetahuan tentangnya. Mustahil percaya pada sesuatu tanpa tahu pada sesuatu itu.
Saya tidak mungkin percaya bahwa api itu panas tanpa tahu apa itu api. Meskipun saya
tidak harus merasakan langsung panasnya api, tapi saya harus tahu apa itu api. Saya
benar-benar percaya bahwa api itu panas, seorang konyol menyatakan kepercayaan.
Oo begitu ya. Tapi api itu apa sih?, tanya yang lain. Nggak tahu. Ini konyol. Benarbenar suatu hil yang mustahal bila percaya bahwa es itu dingin tapi tidak tahu apa itu
es. Jadi, saya harus tahu dulu sebelum percaya. Nah, inilah yang paling sulit berkaitan
dengan pertanyaan kawan mahasiswa itu. Saya harus tahu dulu apa itu Tuhan; atau
apa itu bukan-Tuhan sebelum percaya bahwa Tuhan ada atau tidak. Daripada saya

dituduh ateis lagi, lebih baik dihindari saja dulu bagian ini. Lebih baik kita bahas saja
soal pengetahuan dan percaya.
Kalau tidak salah, David Hume (1711-1776), seorang filsuf Pencerahan kelahiran
Skotlandia, berpandangan bahwa sumber utama pengetahuan manusia adalah
pengalaman. Pandangan ini berseberangan dan merupakan tanggapan atas filsafat
pengetahuan Ren Descartes (1596-1650) yang berpandangan bahwa manusia
mempunyai pengetahuan-pengetahuan bawaan yang melekat pada substansinya.
Pengalaman hanya mengingatkan kembali apa yang sudah ada dalam rasio. David
Hume bilang Tidak. Tidak ada pengetahuan apa pun tentang sesuatu sebelum kita
mengalaminya. Menurut Hume ada dua jenis pengetahuan yang dibedakan
berdasarkan proses perolehannya. Pertama adalah kesan atau pengetahuan yang
diperoleh secara langsung dari pengalaman, baik pengalaman lahiriah maupun
pengalaman batiniah. Pengetahuan yang diperoleh dari kesan ini bersifat jelas, hidup,
dan kuat. Misalnya, pengetahuan bahwa api itu panas yang diperoleh dari menyentuh
api secara langsung akan lebih jelas dan kuat ketimbang pengetahuan bahwa api itu
panas dari buku pelajaran fisika atau cerita orang. Begitu pula pengetahuan tentang
sakitnya ditinggal kawin oleh pacar yang dialami langsung, akan lebih jelas dan kuat
daripada pengetahuan yang diperoleh dari sinetron atau roman.
Jenis pengetahuan kedua adalah gagasan atau pengetahuan yang diperoleh dari
hasil mengkaitkan atau menyambung-nyambungkan berbagai kesan dan pengetahuan
lain yang telah didapat sebelumnya. Dibandingkan dengan kesan pertama yang begitu
menggoda, pengetahuan yang diperoleh tidak secara langsung dari pengalaman ini
tidak sejelas, sehidup, atau sekuat kesan. Gagasan merupakan hasil proses berpikir,
mengingat, membandingkan, menghubungkan, atau mengkhayalkan. Sebagian besar
pengetahuan manusia adalah gagasan. Oleh karena itu pengetahuan kita tentang
sesuatu seringkali kabur atau sekadar remang-remang saja.
Pengetahuan yang kita miliki, entah berupa kesan maupun gagasan, merupakan
dasar kepercayaan kita pada sesuatu dalam hidup kita. Benar-benar tidak masuk akal
bila kita percaya pada Tuhan tanpa tahu apa (atau siapa) Tuhan. Jadi, pengetahuanlah
yang membuat kita percaya. Termasuk percaya pada diri kita. Apakah diri kita sudah
ada sebelum kita hidup di dunia? Apakah substansi saya sebagai makhluk berpikir
sudah ada masternya sebelum saya lahir di dunia dan mengalami hidup ini? Saya
percaya bahwa ada suatu saya yang mendasari kesayaan saya saat ini. Suatu
kesayaan ini sudah ada, paling tidak ketika kita berada di rahim ibu. Atau seperti teori
gagasan Plato, kesayaan saya sudah ada di dunia gagasan sebagai asal-usul
kesayaan saya yang fana di dunia. Kesayaan saya itu, entah sebagai kesadaran atau
ruh, akan tetap ada bahkan setelah saya mati. Saya punya substansi ke-saya-an atau
dasar kegue-bangetan saya (substansi) sebagai landasan yang di situ berbagai atribut
kesayaan (esensi) melekat. Bersebrangan dengan Descartes yang percaya bahwa
hakikat saya ada dan ia adalah kesadaran yang berpikir (cogito), Hume bilang bahwa
tidak ada yang namanya hakikat kesayaan yang menopang semua atribut atau esensi
saya sebagai subjek. Tidak ada hakikat Saya; yang ada cuma serangkaian atau
sekumpulan kesan-kesan yang datang silih-berganti dan terus-menerus. Yang ada
hanyalah kesan-kesan Saya yang marah, Saya yang sedih, Saya yang sakit, Saya

yang kepanasan, Saya yang seberat 55 kg, Saya yang kedinginan, Saya yang
lapar, dst, yang sambung-menyambung menjadi satu. Itulah saya. Semua kesan
tentang saya tersebut kemudian menjadi sebuah gagasan atau pengetahuan yang
mendasari kepercayaan terhadap hakikat saya sebagai manusia individual. Kesankesan yang terkumpul sepanjang hidup melalui jutaan pengalaman itulah, baik
langsung maupun tidak, yang membuat kita percaya bahwa ada hakikat atas kesayaan
saya. Kita seringkali mengira bahwa di balik (di bawah, di atas, di samping terserah
anda mau menempatkan) semua gejala tersebut ada suatu dasar atau landasan yang
tetap yang disebut substansi, tapi, menurut Hume, sebenarnya itu hanya
kepercayaan saja bukan kenyataan. Sejalan dengan pengalamannya, manusia
berubah. Hanya manusia yang tidak mengalami sesuatu saja yang tidak akan berubah;
dan ini mustahil. Kita selalu berubah. Hal ini terjadi karena bertambahnya pengalaman
berarti bertambah pula kesan-kesan yang merupakan bahan dasar pembuatan
kesayaan manusia. Karena perubahan itu tidak serta-merta dan terjadi sepanjang
waktu, maka seolah-olah ada suatu keajegan yang kemudian dipercaya sebagai
substansi.
Wah, sepertinya Pak Hume memang pantas dilarang menjadi dosen di Inggris.
Kalo begitu teorinya, berarti kehidupan setelah kematian dengan segala ganjaran dan
hukuman yang diterapkan kepada jiwa individual menjadi omong kosong tukang
ngarang. Kalau kita sekadar sekumpulan kesan-kesan, maka pada dasarnya diri kita
tidak ada sehingga konsep teologis pengadilan atas jiwa-jiwa individual di akhirat
menjadi kosong tak berarti. (bagi pembaca dari keluarga baik-baik, lebih baik
pembacaannya cukup sampai paragraf ini saja-pen.)
Lalu bagaimana dengan Tuhan? Adakah Dia Yang Mahakuasa itu? Hampir semua
orang yang saya kenal keberatan menjawab tidak bila ditanya tentang keberadaan
Tuhan. Kita percaya pada adanya Tuhan (seperti halnya saya percaya Tuhan). Kita
tinggal dan mengalami hidup dalam masyarakat yang percaya Tuhan. Semenjak kecil
kita dididik untuk percaya pada Tuhan. Pengetahuan tentang Tuhan sudah ditanamkan
sedari kita bisa bicara. Sekolah-sekolah juga dengan giat menyebarkan pengetahuan
itu. Dengan semangat pengabdian yang luar biasa para pendidik berbudi luhur
mendirikan sekolah-sekolah agama bagi kanak-kanak. Dengan semangat religius yang
luar biasa pula, para orangtua kadang rela membayar mahal untuk sekolah-sekolah ini.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa calon menantu yang baik adalah dia yang
percaya pada Tuhan. Terkutuklah mereka yang tidak mempercayai-Nya. Terkutuk pula
dia yang coba-coba untuk tidak mempercayai adaNya.
Benarkah kita percaya pada keberadaan-Nya? Apakah yang selama ini telah kita
perbuat merupakan cermin bahwa kita percaya pada adanya Tuhan? Bila kepercayaan
merupakan hasil rumit dari olah pikiran atas berbagai pengetahuan, apakah percaya
adanya Tuhan juga hanya hasil olahan pengetahuan yang kita peroleh selama ini?
Untuk apa kita harus percaya pada sesosok Tuhan? Dari manakah kebutuhan akan
kepercayaan pada Tuhan itu berasal?
Dua minggu lalu kita sudah mengenal dua jenis pengetahuan, yaitu pengetahuan
teoritis dan pengetahuan eksistensial. Kepercayaan yang diperoleh dari pengetahuan
langsung bersifat kuat, jernih, dan mendalam. Saya percaya bahwa api itu panas

karena saya pernah menyentuh api dan ternyata memang panas. Saya percaya bahwa
salju itu dingin karena saya pernah membaca bahwa salju itu dingin. Kedua jenis
percaya ini berbeda rasanya bagi saya. Yang pertama (api) saya percayai panasnya
secara eksistensial; seluruh diri saya ikut merasakannya. Sedangkan yang kedua
(salju) saya percayai dinginnya secara teoritis; hanya akal saya saja yang
merasakannya lewat kemampuannya melakukan asosiasi dan analogi. Dalam benak
terpikir mungkin dinginnya salju sama dengan es krim atau batu es; tetapi tidak pernah
saya percaya seratus persen karena tidak pernah mengalami salju secara langsung.
Karena seumur hidup belum pernah melihat salju dan menyentuhnya secara langsung,
maka kepercayaan saya pada salju yang dingin tidak sekuat kepercayaan saya bahwa
api itu panas.
Sebagian besar pengetahuan kita tentang Tuhan adalah pengetahuan tak
langsung. Tuhan hadir dalam bentuk konsep yang diajarkan guru agama dan bukubuku. Seperti komentar teman saya yang ateis: Tuhan cuma akal-akalannya akal.
Katanya, dengan kemampuan analogi, asosiasi, dan imajinasinya, akal menjalinjalinkan berbagai pengetahuan dari kesan dan gagasan yang kita peroleh sepanjang
hidup. Atribut Tuhan yang selama ini kita pelajari sebagai Mahakasih, Mahabaik,
Mahakuasa, Yang Di Atas, dan sebagainya tiada lain hanyalah pengetahuan teoritis
saja atau gagasan. Wah, rupanya teman saya itu terlalu banyak membaca David Hume.
Kita harus hati-hati dengan pemikiran David Hume yang rada ateis itu. Karena bila
tidak, kita akan terjebak dan bisa-bisa kita meragukan bahwa Tuhan itu ada. Hume
pernah bilang bahwa gagasan mengenai Tuhan sebagai Ada yang Mahatahu,
Mahabijaksana, dan Mahabaik muncul dari permenungan atas kegiatan jiwa kita sendiri
dan atas gradasi tak terhingga dari sifat-sifat kebaikan dan kebijaksanaan. Jadi kitalah
yang menciptakan Tuhan dengan memenyambung-nyambungkan kesan-kesan empiris
baik, bijaksana, kasih, dan sebagainya. Jika kita tidak mengenal baik, bijaksana,
kasih, dan sebagainya itu, maka kita tidak akan mempunyai gagasan tentang Tuhan
yang kepadaNya kita lekatkan berbagai atribut tersebut. Pandangan Hume ini dengan
fasih diungkap kembali oleh Ludwig Feuerbach bahwa bukan Tuhanlah yang
menciptakan manusia, tetapi manusia yang menciptakan Tuhan sesuai citranya.
Tapi untuk apa kita percaya pada Tuhan? Apakah percaya pada Tuhan Mahabaik
membuat manusia lebih baik dan tidak lagi membantai manusia lainnya? Apakah
dengan percaya pada Tuhan Mahakasih membuat manusia tidak lagi menjadi
penghisap jahat dan tidak lagi menghisap manusia demi keuntungannya sendiri?
Sebuah kepercayaan muncul sebagai pemenuhan kebutuhan akan sandaran;
sebagai sumber jawaban yang bisa dicopy-paste untuk menjawab persoalan hidup
yang kita alami dan harus dijawab. Kepercayaan pada Tuhan, kata Friedrich Nietzsche
(1844-1900), muncul dari kehendak-untuk-percaya. Manusia butuh sesuatu yang
stabil, yang tak tergoyahkan, agar ia bisa menyandarkan diri. Seperti sudah kita
bicarakan minggu lalu, ketika saya mengalami penderitaan, percaya pada Tuhan
menyediakan banyak penjelasan atas penderitaan yang saya alami. Dengan adanya
sosok Tuhan, kita bisa bicara soal semua yang terjadi selalu ada hikmahnya, orang
sabar disayang Tuhan, mengapa Engkau timpakan kesengsaraan ini padaku?,
suratan takdir, atau semuanya hanyalah cobaan. Bayangkan bila kita tidak percaya

pada Tuhan. Apa artinya hikmah, disayang Tuhan, suratan takdir, dan sebagainya
itu. Ke mana kata atau frase-frase itu akan kita sandarkan? Itulah mengapa orang
paling sengsara di dunia ini adalah teman saya yang ateis. Karena ketika dia
mengalami penderitaan dan tidak ada teman yang bisa diajak curhat, maka tidak ada
siapa-siapa lagi.
Bila George Berkeley (1685-1753) bilang tentang esse est percipi; atau sesuatu
ada karena dipersepsi, maka teman saya yang ateis bilang tentang sesuatu ada
karena dibutuhkan. Tuhan diciptakan manusia sebagai tiang sandaran di kala susah.
Ketika kita tidak mampu memerintah diri sendiri, karena untuk itu kita harus
menanggung semua resiko atas pilihan sendirian, atau merasa terserak-serak dan
bingung: di situlah ada sesuatu dalam diri yang butuh untuk bersandar. Kita akan
mencari apa pun di luar diri kita untuk bisa dipegangi. Tuhanlah satu-satunya sesuatu
di luar diri kita yang paling kokoh berada. Agama menyediakan Tuhan sebagai
pegangan dan tempat berteduh. Kita akan merasa kuat berkat pegangan yang kita
miliki. Kita tidak akan menggigil kedinginan oleh penderitaan karena Tuhan adalah
tempat berteduh yang paling hangat. Kita tidak akan khawatir pada masa depan karena
di sana ada Tuhan dengan seperangkat suratan takdir dan hikmahnya.
Seperti biasa, di akhir permenungan, malam mulai larut. Tanpa sengaja dan
mungkin ini adalah godaan setan yang terkutuk, saya membaca beberapa potong kata
sebagai berikut:
Tuhan tidak ada
Tuhan telah mati!
Surga kosong
Menangislah wahai anak-anak,
Kalian tidak memiliki Bapak!
(Jean-Paul Frdric Richter)
Apakah kalian mendengar suara lonceng?
Berlututlah,
Sakramen untuk Tuhan yang sekarat sedang dibawa!
(Henri Heine)
Orang sinting itu masuk ke dalam gereja yang berbeda-beda
Dia mulai menyanyi-nyanyikan lagu Requiem aeternam Deo
(Friedrich Nietzsche)