Vous êtes sur la page 1sur 26

II-1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

MANAJEMEN MUTU
Definisi mutu adalah sifat dan karakteristik produk atau jasa yang

membuatnya memenuhi kebutuhan pelanggan atau pemakai. Mutu merupakan


sasaran pengelolaan proyek disamping biaya dan jadwal. Dalam hubungan ini,
suatu peralatan, material dan cara kerja dianggap memenuhi persyaratan mutu
apabila dipenuhi semua persyaratan yang ditentukan dalam kriteria dan
spesifikasi. Dengan demikian, instalasi yang dibangun atau produk yang
dihasilkan, yang terdiri dari komponen peralatan dan material yang memenuhi
persyaratan mutu, dapat diharapkan berfungsi secara memuaskan selama kurun
waktu tertentu atau dengan kata lain siap untuk dipakai (fitness for use). Istilah ini
di samping mempunyai arti seperti diuraikan diatas, juga memperhatikan masalah
tersedianya produk, keandalan dan masalah pemeliharaan (Soeharto, 2011:277).
Dalam arti yang luas, mutu atau kualitas bersifat subyektif. Suatu barang
yang amat bermutu bagi seseorang belum tentu bermutu bagi orang lain. Oleh
karena itu dunia usaha dan industry mencoba memberikan batasan yang dapat
diterima oleh kalangan yang berkepentingan. Langkah pertama untuk mengetahui
mutu suatu objek adalah mengidentifikasi objek, kemudian mengkaji sifat objek
tersebut agar memenuhi keinginan pelanggan. Jadi setelah diidentifikasi materi
produknya, selanjutnya dipertanyakan lebih jauh mengenai bentuk, ukuran, warna,
berat, ketahanan, kinerja dan lain-lain dari produk itu. Setelah jawaban dari

JURUSAN TEKNIK SIPIL

II-2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

pertanyaan tersebut memenuhi keinginan pelanggan, maka produk yang dimaksud


dianggap memenuhi mutu.
Pada proyek konstruksi ada tiga proses yang harus dilakukan untuk
mendapatkan mutu yang baik. Ini adalah syarat yang harus dilakukan dalam
memanajemen mutu dalam suatu proyek. Adapun ketiga proses mutu tersebut
adalah perencanaan mutu (Quality Planning), penjaminan mutu (Quality
Assurance) dan pengendalian mutu (Quality Control) Ketiga proses ini dilakukan
dalam suatu manajemen proyek agar proyek tersebut menghasilkan mutu yang
baik.

Gambar 2.1 Proses Mutu


Sumber: Asri Afriliany Surbakti, MK UNPAR 2013

2.1.1

Perencanaan Mutu (Quality Planning)


Perencanaan mutu merupakan proses mengidentifikasi standar

kualitas yang relevan, yang sesuai dengan kebutuhan pemilik dan


memenuhi standar peraturan yang berlaku untuk setiap bagian pekerjaan,

JURUSAN TEKNIK SIPIL

II-3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

penetapan standar spesifikasi yang diberlakukan dalam proyek dan


perencanaan strategi pencapaian standar yang direncanakan.
Perencanaan mutu biasanya berkaitan dengan pemilik (owner),
yaitu proses produksi, desain produk, atau pelayanan. Perencanaan mutu
ini biasanya dilakukan di tahap - tahap awal, sebelum tahap pelaksanaan.
Untuk proyek konstruksi, merencanakan mutu ini sangat perlu sebagai
acuan untuk melakukan proses selanjutnya seperti penjaminan mutu dan
pengendalian mutu di tahap selanjutnya. Secara garis besar, Perencanaan
mutu bertujuan untuk mengidentifikasi dan menetapkan standar mutu yang
relevan bagi proyek dan merumuskan strategi pencapaiannya untuk
memastikan proyek dan pekerjaan yang dihasilkan dapat memenuhi
standar mutu yang dapat diterima.
Perencanaan mutu diharapkan memenuhi aspek-aspek sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi standar kualitas yang relevan dengan proyek yang
sedang dikerjakan:
memahami kebutuhan owner/pemberi tugas
memahami peraturan yang berlaku untuk setiap bagian
pekerjaan
mengumpulkan data teknis yang diperlukan untuk desain dan
pelaksanaan konstruksi
2. Menganalisa dan menetapkan standar kualitas yang ingin dicapai
proyek:
penyusunan dan penetapan RKS/Spesifikasi Umum dan Teknis

JURUSAN TEKNIK SIPIL

II-4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

penetapan peraturan-peraturan yang dipakai dan harus ditaati


dalam pelaksanaan pekerjaan.
3. Merencanakan strategi pencapaian kualitas:
pemilihan jenis/tipe/merk material (Spesifikasi Material)
perencanaan metoda pelaksanaan: urutan kerja dan strategi kerja
analisa kebutuhan material, alat dan sumber daya manusia yang
diperlukan, baik dari sisi jumlah/volume, penjadwalan waktu,
jenis, kualifikasi dan kemampuan yang dibutuhkan
antisipasi permasalahan yang mungkin timbul dan strategi
penanganannya
sinkronisasi, evaluasi dan validasi keselarasan antara standar
kualitas (metoda, volume, kemampuan) dengan biaya dan waktu
penyelesaian pekerjaan

2.1.2

Penjaminan Mutu (Quality Assurance)


Penjaminan mutu merupakan suatu proses menjalankan apa yang

sudah ditetapkan dan direncanakan dalam perencanaan mutu, mengawal,


mengevaluasi dan verifikasi pelaksanaan terhadap rencana yang dibuat,
serta identifikasi dan antisipasi masalah yang mungkin timbul selama
pelaksanaan proyek. Tujuan utama kegiatan penjaminan mutu adalah
mengadakan tindakan-tindakan yang dibutuhkan untuk memberikan
kepercayaan kepada semua pihak yang berkepentingan bahwa semua

JURUSAN TEKNIK SIPIL

II-5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

tindakan yang diperlukan untuk mencapai tingkatan mutu proyek telah


dilaksanakan dengan berhasil.
Penjamin mutu diharapkan memenuhi aspek-aspek sebagai berikut:
1. Menjalankan apa yang sudah ditetapkan dan direncanakan.
2. Mengawal strategi pencapaian kualitas supaya berjalan sesuai
dengan apa yang telah ditetapkan, supaya memenuhi persyaratan
pengujian dan evaluasinya serta memenuhi metoda pelaksanaan
yang baik, dengan urutan kerja yang benar dan kelengkapan
material, alat dan sumber daya manusia yang sesuai dengan jenis
pekerjaan yang sedang dilaksanakan.
3. Mengevaluasi pelaksanaan apakah sesuai dengan rencana strategi
pencapaian kualitas dalam batas toleransi yang dapat diterima.
4. Mengidentifikasi

dan

pencegahan/antisipasi

masalah

yang

mungkin timbul dari kondisi lokasi kerja, material, alat dan sumber
daya manusia yang ada serta melakukan evaluasi dan antisipasi
masalah dengan mengacu pada strategi yang telah direncanakan
sebelumnya.
5. Memberikan verifikasi keselarasan pelaksanaan pekerjaan dari
pemenuhan kualitas, biaya dan waktu terhadap rencana.

2.1.3

Pengendalian Mutu (Quality Control)


Pengendalian mutu merupakan suatu proses pemeriksaan dan

pengujian terukur, mulai dari material (spesifikasi), pemasangan (sesuai

JURUSAN TEKNIK SIPIL

II-6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

gambar) dan hasil kerja (sesuai toleransi spesifikasi teknis hasil pekerjaan)
dan penilaian berdasarkan standar RKS/Spesifikasi Teknis dan peraturan
yang ditetapkan harus dipatuhi oleh proyek. Pengendalian mutu
melakukan

tindakan-tindakan

berupa

testing,

pengukuran,

dan

pemeriksaan untuk memantau apakah kegiatan konstruksi telah dilakukan


sesuai dengan rencana. Pengendalian mutu dilakukan pada tahap
pelaksanaan proyek, khususnya pada tahap pengawasan dan pengendalian,
agar mengetahui apakah tahap - tahap pelaksanaan proyek sudah dilakukan
sesuai dengan syarat dan rencana pada perencanaan mutu. Lalu jika tidak
dilakukan sesuai syarat, maka dilakukan penindak-lanjutan.
Pengendalian mutu diharapkan memenuhi aspek - aspek sebagai berikut:
1. Melaksanakan inspeksi (material, alat, pekerjaan).
2. Memeriksa dokumen sertifikasi (material, alat, tenaga kerja).
3. Menyaksikan pelaksanaan dan menganalisa hasil pengujian
(material, pekerjaan).

2.2

TAHAP PELAKSANAAN KONSTRUKSI


Sebelum membahas tentang tahap pelaksanaan konstruksi, maka terlebih

dahulu mengetahui apa saja tahapan dalam kegiatan konstruksi. Kegiatan


konstruksi merupakan suatu kegiatan yang berurutan dan saling berkaitan.
Biasanya dimulai dari lahirnya suatu kebutuhan (need), pemikiran kemungkinan
terlaksananya proyek tersebut (feasibility study), keputusan untuk membangun
dan membuat penjelasan yang lebih rinci (briefing), menuangkannya dalam

JURUSAN TEKNIK SIPIL

II-7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

bentuk rancangan awal (predesign), membuat rancangan yang lebih rinci dan pasti
(detail design), lalu memilih calon pelaksana (procurement), kemudian
melaksanakan pembangunan (construction), serta melakukan pemeliharaan
terhadap bangunan tersebut (maintenance).

Gambar 2.2 Tahap - Tahap Konstruksi


Sumber: Asri Afriliany Surbakti, MK UNPAR 2013

JURUSAN TEKNIK SIPIL

II-8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Tahap pelaksanaan dilakukan setelah melakukan ketiga tahap sebelumnya,


yaitu tahap studi kelayakan, perencanaan, dan pelelangan. Jika ketiga tahap
sebelumnya belum dilakukan, maka tidak akan bisa melakukan tahap pelaksanaan
konstruksi. Tahap pelaksanaan adalah tahap dimana perwujudan dari desain,
rencana anggaran biaya dan rencana waktu yang sudah direncanakan pada tahap
perencanaan.
Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap pelaksanaan konstruksi adalah
merencanakan, mengendalikan, dan mengkoordinasikan semua operasional di
lapangan.
Kegiatan perencanaan dan pengendalian dalam tahap pelaksanaan
meliputi:
-

Perencanaan dan pengendalian jadwal waktu pelaksanaan.

Perencanaan dan pengendalian organisasi lapangan.

Perencanaan dan pengendalian tenaga kerja.

Perencanaan dan pengendalian peralatan dan material.


Kegiatan koordinasi pada tahap pelaksanaan adalah:

2.3

Mengkoordinasikan seluruh kegiatan pembangunan.

Mengkoordinasikan para sub kontraktor.

PENGARUH

MANAJEMEN

MUTU

PADA

TAHAP

PELAKSANAAN KONSTRUKSI
Seperti yang sudah dibahas sebelumnya bahwa ada tiga proses manajemen
mutu, yaitu perencanaan mutu (Quality Planning), pengendalian mutu (Quality

JURUSAN TEKNIK SIPIL

II-9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Control) dan penjaminan mutu (Quality Assurance). Pengendalian dan


penjaminan mutu dilaksanakan pada tahap pelaksanaan, sedangkan perencanaan
mutu dilaksanakan pada tahap desain. Hal ini tidak berarti bahwa pada tahap
pelaksanaan, proses perencanaan mutu tidak mempengaruhi tahap pelaksanaan.
Jika proses perencanaan mutu pada tahap desain tidak dilakukan dengan baik,
maka akan ikut mempengaruhi mutu pada tahap pelaksanaan.
Pengaruh pelaksanaan manajemen mutu pada tahap pelaksanaan
konstruksi:
1. Perubahan desain pada tahap pelaksanaan jarang terjadi.
2. Adanya pengawasan dan pengendalian pada tahap pelaksanaan.
3. Koordinasi terjadi dengan baik antara pihak yang terlibat.

2.3.1

Perubahan Desain Pada Tahap Pelaksanaan Jarang Terjadi


Pada tahap pelaksanaan, perubahan desain sering kali terjadi dan

hal ini akan berpengaruh terhadap perubahan biaya dan waktu. Waktu
pelaksanaan akan semakin lama dari yang sudah direncanakan dan biaya
pelaksanaan juga meningkat seiring meningkatnya waktu pelaksanaan,
karena seperti yang kita ketahui biaya, waktu, dan mutu saling berkaitan
satu sama lain.
Perubahan desain pada tahap pelaksanaan dapat terjadi karena
tidak melakukan proses perencanaan mutu dengan baik. Kegiatan
perencanaan mutu yang dilakukan sehingga tidak terjadi perubahan desain
adalah:

JURUSAN TEKNIK SIPIL

II-10
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. Kontraktor terlebih dahulu memeriksa gambar kerja sebelum akan


dibangun.
Arsitek juga merupakan manusia biasa yang bisa saja melakukan
kesalahan dalam menggambar. Untuk itu kontraktor pelaksana
wajib

memeriksa

terlebih

dahulu

gambar

kerja

sebelum

melaksanakan proses pembangunan. Jika terjadi kesalahan, maka


gambar

kerja

dapat

diperbaiki

sebelum

memasuki

tahap

pembangunan. Jika kesalahan sudah diketahui pada tahap


pelaksanaan, maka otomatis desain akan berubah untuk menutupi
kesalahan pada gambar tersebut.
2. Konsultan sudah memahami secara detail keinginan pelanggan.
Sebagai seorang konsultan, maka keinginan pelanggan adalah hal
mutlak yang harus diketahui secara detail. Jika tidak sesuai dengan
keinginan pelanggan, maka pada pertengahan proses pelaksanaan
pelanggan akan meminta untuk mengubah desain. Karena
kepuasan pelanggan adalah bukti bahwa proyek tersebut disebut
bermutu.
3. Melakukan perjanjian dengan pelanggan agar tidak melakukan
perubahan desain pada tahap pelaksanaan.
Walaupun sudah mengetahui secara detail keinginan pelanggan,
pelanggan kadang-kadang secara tiba-tiba ingin mengubah desain.
Untuk itu maka sebelum proses pembangunan, dilakukan

JURUSAN TEKNIK SIPIL

II-11
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

perjanjian kontrak agar pelanggan tidak melakukan perubahan


desain di tengah proses pembangunan.

2.3.2

Adanya

Pengawasan

dan

Pengendalian

Pada

Tahap

Pelaksanaan
Sebaik apapun rencana yang dilakukan, pasti akan terjadi suatu
kesalahan pada tahap pelaksanaan. Salah satu manajemen mutu yang
dilakukan adalah penjaminan mutu, yaitu dengan melakukan pengawasan
dan pengendalian. Pengawasan dan pengendalian dilakukan untuk
mengurangi kesalahan pada proyek konstruksi khususnya pada tahap
pelaksanaan.
Pengawasan dan pengendalian adalah dua dari tiga kegiatan yang
dilakukan pada tahap pelaksanaan. Kegiatan-kegiatan tersebut harus
dilakukan oleh kontraktor pengawas dan kontraktor pengendali. Tugas
pengawas dan pengendali tidak sama. Pengawas hanya memperhatikan
setiap kegiatan lapangan dan melaporkannya, sedangkan pengendali
melakukan tindakan jika terjadi perbedaan pekerjaan dari yang
direncanakan.
Hal yang diawasi dan dikendalikan pada tahap pelaksanaan adalah:
1. Mengawasi dan mengendalikan waktu pelaksanaan proyek.
Waktu pelaksanaan dapat diawasi dan dikendalikan dengan
berpedoman pada Kurva S dan Time Schedule yang sudah
direncanakan sebelumnya. Jika kontraktor pengawas memeriksa

JURUSAN TEKNIK SIPIL

II-12
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

proses pembangunan pada masing-masing tahap dan tidak sesuai


dengan rencana, maka kontraktor pengendali harus mengambil
tindakan.
2. Mengawasi dan mengendalikan biaya yang masuk dan keluar.
Biaya yang masuk dan keluar dapat diawasi dan dikendalikan dari
manajemen biaya yang sudah direncanakan sebelumnya. Maka
untuk itu terlebih dahulu merencanakan ACWP, BCWP, dan
BCWS

agar

dapat

menjadi

pedoman

pengawasan

dan

pengendalian.
3. Mengawasi dan mengendalikan tenaga kerja.
Jumlah tenaga kerja terlalu banyak juga mempengaruhi mutu
pelaksanaan. Jika jumlah tenaga kerja terlalu banyak dalam satu
hari, tentu ini akan menjadi pemborosan biaya. Dan jika
kekurangan tenaga kerja, tentu akan menjadi pemborosan waktu.
Maka dari itu, terlebih dahulu merencanakan jumlah tenaga kerja
agar tidak terjadi pemborosan.
Produktivitas tenaga kerja juga harus diawasi dan dikendalikan jika
terjadi penurunan. Bukan hanya itu, keselamatan pekerja juga
harus diperhatikan agar tidak terjadi kecelakaan.
4. Mengawasi dan mengendalikan material dan peralatan
Material dan peralatan yang masuk dapat diawasi dan dikendalikan
dengan berpedoman pada rencana kedatangan material dan
peralatan yang sudah dilakukan sebelumnya. Efektifitas peralatan

JURUSAN TEKNIK SIPIL

II-13
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

juga

menjadi

perhatian

khusus

kontraktor

pengawas

dan

pengendali.
5. Mengawasi dan mengendalikan progres pekerjaan.
Proses pekerjaan juga harus diawasi dan dikendalikan agar sesuai
dengan standar yang ada.

2.3.3

Koordinasi yang Baik Antara Pihak yang Terlibat


Koordinasi yang dimaksud adalah komunikasi yang baik antar

pihak yang terlibat di lapangan. Koordinasi ini dimaksudkan agar apa yang
diinginkan pemilik dapat dimengerti oleh konsultan dan kontraktor, lalu
apa yang kontraktor pengawas perintahkan dapat dimengerti sepenuhnya
oleh pekerja lain sampai ke tingkat yang paling bawah sekalipun.
Adapun orang-oran yang terlibat dalam tahap pelaksanaan adalah:
1. Owner
2. Konsultan perencana
3. Konsultan pengawas
4. Sub kontraktor
5. Mandor dan tukang
Agar komunikasi yang baik dapat dilakukan maka harus
mengurangi gap (kesalahan komunikasi) antara berbagai pihak. Gap yang
dimaksud adalah:
1. Gap antara pemilik dengan konsultan, yaitu perbedaan apa yang
diinginkan oleh pemilik dengan apa yang digambar oleh konsultan.

JURUSAN TEKNIK SIPIL

II-14
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2. Gap antara konsultan dengan kontraktor, yaitu perbedaan antara


apa yang di gambar konsultan (arsitek) dengan apa yang dipikirkan
oleh kontraktor.
3. Gap antara kontraktor dengan sub kontraktor, yaitu perbedaan
antara apa yang dipikirkan kontraktor berbeda dengan yang
dipikirkan sub kontraktor.
4. Gap antara sub kontraktor dengan pekerja lapangan (mandor dan
tukang), yaitu perbedaan apa yang dipikirkan sub kontraktor
dengan yang dilaksanakan di lapangan.

2.4

PROSES PRODUKSI
Dalam pelaksanaan proyek konstruksi, kontraktor melakukan proses

produksi secara umum dapat diartikan sebagai suatu proses perubahan input
menjadi output sehingga bias dimanfaatkan oleh konsumen atau pelanggan. Input
dari proses produksi tersebut berupa sumber daya fisik, modal dan informasi.
Sedangkan output dari proses produksi berupa hasil konstruksi yang diminta oleh
klien (owner). Sumber daya fisik dalah sumber daya yang memiliki wujud.
Sumber daya fisik terdiri dari :
1. Tenaga kerja atau manusia
2. Peralatan
3. Material
4. Uang atau modal

JURUSAN TEKNIK SIPIL

II-15
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Tahapan-tahapan kegiatan dalam pelaksanaan proyek konstruksi meliputi


(Asiyanto, 2005):
1. Perencanaan pelaksanaan
2. Perencanaan sumber daya
3. Pelaksanaan dan pengendalian

2.4.1

Tahap Perencanaan Pelaksanaan


Perencanaan adalah proses pemilihan informasi dan pembuatan

asumsi-asumsi mengenai keadaan di masa yang akan datang dalam rangka


mencapai tujua yang telah ditetapkan sebelumnya, sehingga perencanaan
merupakan bagian terpenting untuk mencapai keberhasilan suatu proyek.
Hal-hal yang mendasar dari perencanaan adalah pencarian informasi dan
data, pengembangan dari berbagai alternatif yang mungkin. Melakukan
analisis dan evaluasi dari berbagai alternatif. Pemilihan alternatif,
pelaksanaan, dan memberi masukan.
Perencanaan pelaksanaan disusun berdasarkan kontrak konstruksi
yang telah disepakati beserta dokumen lainnya seperti gambar dan
spesifikasi teknis. Tujuannya supaya sasaran yang ingin dicapai dapat
direalisasikan dengan baik. Praktek pada umumnya perkiraan biaya dan
spesifikasinya masih belum akurat pada waktu penawaran proyek karena
keterbatasan waktu, sehingga untuk pedoman pelaksanaan perlu disusun
kembali secara detail, lebih akurat dan spesifik.
Perencanaan pelaksanaan merupakan perencanaan terpadu, yang

JURUSAN TEKNIK SIPIL

II-16
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

terdiri dari :
1. Time schedule pekerjaan, jadwal waktu pelaksanaan pekerjaan
proyek.
2. Construction method, metode pelaksanaan yang memberikan
gambaran bagaimana cara melaksanakan suatu pekerjaan, baik
global maupun tiap pekerjaan. Cara memilih construction method
dipengaruhi oleh :

Desain/bentuk bangunan

Kondisi lingkungan

Waktu pelaksanaan yang tersedia

Peralatan yang dapat diadakan

Keterampilan pekerja

Pengalaman di masa lalu

3. Anggaran biaya pelaksanaan pekerjaan : biaya langsung serta tidak


langsung untuk melaksanakan proyek dan cadangan laba proyek.
4. Cash flow : aliran uang masuk dan uang keluar untuk menjaga
stabilitas keuangan.

2.5

SUMBER DAYA
Pengelolaan proyek yang cukup besar, masalah sumber daya merupakan

objek sekaligus subyek. Karena itu pengambilan keputusan mengenai kuantitas


dan kualitasnya harus diperhatikan dengan cermat. Macam-macam sumber daya
itu adalah tenaga kerja/manusia, peralatan, material serta modal.

JURUSAN TEKNIK SIPIL

II-17
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Menurut Abrar Husen (2010), perencanaan sumber daya dengan metode


yang benar dan evaluasi yang kontiniu akan memberikan tingkat efektivitas dan
efisiensi tinggi, sehingga hasil yang dicapai memuaskan pemilik proyek serta
stakeholder proyek. Dalam menentukan alokasi sumber daya untuk proyek,
beberapa aspek yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan adalah sebagai
berikut:

Jumlah sumber daya yang tersedia sesuai kebutuhan proyek.

Kondisi keuangan membayar sumber daya yang akan digunakan.

Produktivitas sumber daya.

Kemampuan dan kapasitas sumber daya yang akan digunakan.

Efektivitas dan efisiensi sumber daya yang akan digunakan.

2.5.1

Sumber Daya Manusia


Sumber daya manusia yang ada pada suatu proyek dapat

dikategorikan sebagai tenaga kerja tetap dan tenaga kerja tidak tetap.
Pembagian kategori ini dimaksudkan agar efisiensi perusahaan dalam
mengelola sumber daya dapat maksimal dengan beban ekonomis yang
memadai. Tenaga kerja/karyawan yang berstatus tetap biasanya dikelola
perusahaan dengan pembayaran gaji tetap setiap bulannya dan diberi
beberapa fasilitas lain dalam rangka memelihara produktivitas kerja
karyawan serta rasa kebersamaan dan rasa memiliki perusahaan. Hal ini
dilakukan agar karyawan tetap sebagai aset perusahaan dapat memberikan
karya terbaiknya serta memberikan keuntungan bagi perusahaan dengan

JURUSAN TEKNIK SIPIL

II-18
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

keahlian yang dimilikinya. Adanya tenaga kerja tidak tetap dimaksudkan


agar perusahaan tidak terbebani oleh pembayaran gaji tiap bulan bila
proyek tidak ada atau jumlah kebutuhan tenaga kerja pada saat tertentu
dalam suatu proyek dapat disesuaikan dengan jumlah yang seharusnya.
Biasanya tenaga kerja tidak tetap ini dibutuhkan dalam jumlah yang cukup
besar dibandingkan jumlah tenaga kerja tetap dengan tingkat keahlian
sedang. Informasi tentang jenis serta deskripsi pekerjaan pada proyek
perlu diidentifikasi sedemikian hingga tugas, tanggung jawab dan
wewenang masing-masing pihak dapat dijalankan sesuai rencana dan
aturan-aturan perusahaan.
Tugas dikaitkan dengan kedudukan pekerjaan, berdasarkan tugas
pokok, tugas tidak pokok, serta tugas tambahan yang dibebankan pada
sekelompok personel sedemikian hingga pekerjaan itu dapat dilaksanakan
dengan pencapaian maksimal.
Tanggung jawab dikaitkan dengan memegang kendali pekerjaan
yang diberikan berdasarkan kemampuan yang dimiliki personel dengan
segala risiko pekerjaan yang dihadapi. Wewenang dikaitkan dengan
otoritas seseorang dalam memikul suatu tugas dan kewajiban dengan
melakukan pengambilan keputusan atas pekerjaan yang dihadapinya.
Deskripsi suatu pekerjaan merupakan dokumen tertulis yang lengkap, yang
menunjukkan pekerjaan yang dilakukan beserta tanggung jawab dan
wewenangnya,

hubungan

dengan

pihak-pihak

lain,

persyaratan

pelaksanaan serta ruang lingkup pekerjaan. Informasi jenis pekerjaan

JURUSAN TEKNIK SIPIL

II-19
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

digunakan untuk mengenali jenis-jenis pekerjaan beserta jabatan yang


akan diemban, sebagai acuan input dan output dari jabatan yang
bersangkutan, serta metode pelaksanaan yang akan dilakukan, juga sebagai
informasi kondisi pekerjaan serta hubungan antarjabatan dan lain
sebagainya.

2.5.2

Sumber Daya Peralatan


Dalam penentuan alokasi sumber daya peralatan yang akan

digunakan dalam suatu proyek, kondisi kerja serta kondisi peralatan perlu
diidentifikasi dahulu. Tujuannya agar tingkat kebutuhan pemakaian dapat
direncanakan secara efektif dan efisien. Beberapa yang perlu diidentifikasi
adalah:
1. Medan Kerja, identifikasi ini untuk menentukan kondisi medan
kerja dari tingkat mudah, sedang, atau berat. Kapasitas peralatan
yang digunakan dapat disesuaikan dengan kondisi-kondisi tersebut.
2. Cuaca, identifikasi ini perlu dilakukan khususnya pada proyek
dengan keadaan lahan terbuka. Cuaca basah/hujan cenderung
menyulitkan pengendalian peralatan, baik mobilisasinya maupun
manuver-manuver yang akan dilakukan di lokasi setempat.
3. Mobilisasi peralatan ke lokasi proyek perlu direncanakan dengan
detail, khususnya untuk peralatan-peralatan berat. Akan ada
kesulitan bila rute perjalanan menuju proyek tidak didukung oleh
keadaan jalan atau jembatan kecil atau tidak memadai.

JURUSAN TEKNIK SIPIL

II-20
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

4. Komunikasi yang memadai antar-operator peralatan dengan


pengendali pekerjaan harus terjalin baik, dengan peralatan
komunikasi yang cukup dan harus tersedia agar langkah-langkah
pekerjaan yang dilakukan sesuai rencana.
5. Fungsi peralatan harus sesuai dengan pekerjaan yang akan
dilakukan untuk menghindari tingkat pemakaian yang tidak efektif
dan efisien.
6. Kondisi peralatan harus layak pakai agar pekerjaan tidak tertunda
karena peralatan rusak. Bila perlu tenaga mekanikal peralatan harus
disiapkan guna mengatasi kerusakan-kerusakan alat.

2.5.3

Sumber Daya Material


Material harus dikelola dengan sebaik-baiknya agar kebutuhannya

mencukupi pada waktu dan tempat yang diinginkan. Pemakaian material


merupakan bagian terpenting yang mempunyai presentase cukup besar
dari total biaya proyek. Dari beberapa penelitian menyatakan bahwa biaya
material menyerap 50-70% dari total biaya proyek (Ervianto, 2004).
Untuk proyek manufaktur, ketepatan waktu ataupun kesesuaian
jumlah yang diinginkan sangat memengaruhi jadwal lainnya. Oleh karena
itu, dikenal pula istilah Just in Time di mana pemesanan, pengiriman serta
ketersediaan material saat di lokasi sesuai dengan jadwal yang
direncanakan. Pada proyek konstruksi, istilah ini mungkin lebih tepat
digunakan pada pekerjaan beton di mana pengiriman material dari

JURUSAN TEKNIK SIPIL

II-21
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

batching plant ke proyek sering menemui kendala waktu. Mutu material


juga menurun dikarenakan kemacetan ialu lintas di sepanjang jalan menuju
proyek. Kebutuhan material biasanya disediakan oleh pemasok yang
hubungan kontraknya berlangsung dengan kontraktor pelaksana dan telah
disetujui oleh pemilik proyek melalui wakilnya. Untuk pekerjaanpekerjaan khusus yang membutuhkan kemampuan teknis dan spesifikasi
material yang khusus, biasanya kontraktor pelaksana menyerahkan
pekerjaan kepada subkontraktor yang spesialis dalam menangani pekerjaan
khusus tersebut.

2.5.4

Sumber Daya Modal/Keuangan


Keuangan proyek perlu dikelola dengan hati-hati agar pada akhir

proyek, proyeksi keuntungan yang telah direncanakan dapat dicapai sesuai


dengan yang diharapkan. Aliran kas masuk dan kas keluar harus terlapor
dengan benar dan teliti sehingga setiap laporan berkalanya dapat
memberikan informasi yang akurat dan dapat diaudit dengan tingkat
kewajaran yang baik, serta menjadi bahan pertimbangan dalam mengambil
keputusan berikutnya.
Dalam mengelola suatu proyek, dibutuhkan perencanaan matang
dalam hal aliran kas masuk dan kas keluar, yang disebut Aliran Kas
(Cashflow). Aliran kas memuat penggunaan dana selama proyek
berlangsung, berupa:

JURUSAN TEKNIK SIPIL

II-22
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. Kas keluar, seperti: penggunaan modal, pembayaran tenaga kerja


dan staf kantor, pembelian material, sewa/beli peralatan,
pembayaran subkontraktor dan pemasok pembayaran pajak,
pembayaran asuransi, retensi, pembayaran pinjaman serta bunga
bank serta biaya overhead.
2. Kas masuk, seperti: modal awal, pinjaman dari bank, uang muka
proyek, peneriman termin pembayaran.
2.6

BIAYA
Menurut Hansen dan Mowen (2004), biaya didefinisikan sebagai kas atau

nilai kuivalen kas yang dikorbankan untuk mendapatkan barang atau jasa yang
diharapkan memberikan manfaat saat ini atau di masa yang akan datang bagi
organisasi. Sedangkan menurut Supriyono (2000), biaya adalah pengorbanan
ekonomis yang dibuat untuk memperoleh barang atau jasa.
Pengertian biaya menurut Harnanto dan Zulkifli (2003:14) adalah sesuatu
yang berkonotasi sebagai pengurang yang harus dikorbankan untuk memperoleh
tujuan akhir yaitu mendatangkan laba. Jadi menurut beberapa pengertian di atas,
dapat disimpulkan bahwa biaya merupakan kas atau nilai ekuivalen kas yang
dikeluarkan oleh perusahaan untuk mendapatkan barang atau jasa yang
diharapkan guna untuk memberikan suatu manfaat yaitu peningkatan laba di masa
mendatang.
Obyek Pengeluaran, dimana prinsip dari penggolongan biaya ini berkaitan
dengan pengeluaran. Misalnya: biaya untuk membayar gaji karyawan tersebut
disebut biaya gaji

JURUSAN TEKNIK SIPIL

II-23
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Fungsi

Pokok

Perusahaan,

dalam

perusahaan

manufaktur

biaya

diklasifikasikan menjadi:
a) Biaya produksi yaitu biaya yang dikeluarkan untuk mengolah bahan baku
menjadi produk jadi, terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja
langsung, dan biaya overhead pabrik.
b) Biaya pemasaran, yaitu biaya yang dikeluarkan untuk menjual produk atau
jasa biasanya dalam rangka mendapatkan dan memenuhi pesanan.
c) Biaya administrasi dan umum, yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan untuk
mengarahkan, mengendalikan dan untuk mengoperasikan perusahaan.

2.7

WAKTU
Waktu adalah seluruh rangkaian saat ketika proses perbuatan atau keadaan

berlangsung atau berada. Dari definisi tersebut, tentu kita pahami bahwa, apabila
membahas tentang waktu sebagai suatu rangkaian saat ketika proses berlangsung,
maka berarti yang dibahas adalah suatu peristiwa atau kejadian yang lalu atau
yang akan datang.
Seperti yang kita ketahui, waktu dalam pelaksanaan proyek kostruksi
sangatlah penting, karena dalam proyek konstruksi merupakan kegiatan yang
bersifat sementara (waktu terbatas), tidak berulang dan bersifat rutin, mempunyai
waktu awal ( awal proyek ) dan waktu akhir ( akhir proyek ). Oleh sebab itu waktu
dalam pelaksanaan proyek konstruksi merupakan salah satu faktor yang sangat
perlu diperhatikan dan dijaga ketepatan waktunya.

JURUSAN TEKNIK SIPIL

II-24
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.8

TELAAH HASIL PENELITIAN


Pada penelitian mengenai Penerapan Manajemen Mutu Dipandang Dari

Aspek Biaya (Parhadi, 2014), dijelaskan bahwa proyek konstruksi adalah suatu
rangkaian kegiatan untuk membangun atau mendirikan suatu bangunan pada
lokasi tertentu dengan waktu dan biaya yang terbatas, dan hasilnya dapat
dipertanggungjawabkan. Untuk itu diperlukan suatu manajemen mutu dalam
mengelola kegiatan proyek supaya efektif dan efisien, sehingga proyek yang
dilaksanakan sesuai dengan sasaran dan tujuan. Dari hasil penelitian tersebut
disimpulkan bahwa penerapan sistem manajemen mutu pada suatu proyek dapat
memberikan keuntungan dari sisi penyimpangan proyek, pengadaan material,
pekerjaan ulang, dan biaya proyek. Aspek-aspek biaya yang mempengaruhi
manajemen mutu terdiri dari empat komponen, antara lain: Biaya pencegahan,
Biaya penaksiran, Kegagalan internal dan Biaya kegagalan eksternal.
Pada penelitian mengenai Pengaruh Penerapan Sistem Manajemen Mutu
Terhadap Biaya Mutu Pada Proyek Konstruksi (Stephani Budihardja, Retno
Indryani, 2010) juga menjelaskan mengenai hubungan antara sistem manajemen
mutu dengan biaya. Penelitian ini mencari faktor yang dapat mengurangi biaya
mutu dalam hal penerapan manajemen mutu. Dari hasil penelitian menggunakan
analisis regresi stepwise dapat di ambil kesimpulan yaitu variable-variabel sistem
manajemen mutu yang berpengaruh baik secara parsial maupun secara simultan
terhadap biaya mutu adalah ketersediaan dokumen sistem manajemen mutu yang
memadai, adanya pengendalian dokumen dan record yang memadai, serta
ketersediaan fasilitas dan peralatan yang memadai. Dari ketiga variable tersebut,

JURUSAN TEKNIK SIPIL

II-25
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ketersediaan dokumen sistem manajemen mutu yang memadai merupakan elemen


sistem manajemen mutu yang paling dominan pengaruhnya terhadap biaya mutu.
Pada penelitian Hubungan Antara Manajemen Mutu dan Peningkatan
Produktivitas Pada Proyek Pembangunan Gedung (Suparno, 2013), dijelaskan
bahwa dalam setiap organisasi selalu ada saling ketergantungan antara proyek
konstruksi dengan faktor biaya, waktu, dan kualitas. Situasi ini selalu digunakan
untuk memproduksi gedung yang berkualitas dari segi biaya dan waktu. Kualitas
konstruksi dapat dicapai dengan memenuhi keinginan owner dengan cara yang
terbaik. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa manajemen mutu
sangat berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas proyek konstruksi, dimana
semakin mengalami peningkatan maka produk dari konstruksi yang dihasilkanpun
akan mempunyai mutu sesuai yang direncanakan baik dari segi biaya, waktu dan
tentu saja mutu.
Kemudian pada penelitian Pengaruh Manajemen Mutu Pada Tahap
Pelaksanaan Konstruksi (Asri Afriliany Surbakti, 2013), dijelaskan bahwa tahap
pelaksanaan adalah tahap yang harus diperhatikan karena merupakan tahap yang
paling penting dalam proyek konstruksi. Tahap dimana desain diwujud nyatakan
dalam bentuk bangunan yang diinginkan konsumen. Untuk itu, mutu harus
ditingkatkan pada tahap tersebut. Dengan menerapkan manajemen mutu akan
memberikan manfaat dalam tahap pelaksanaan yaitu, perubahan desain jarang
terjadi, adanya pengawasan dan pengendalian pada tahap pelaksanaan dan
koordinasi terjadi dengan baik antara pihak yang terlibat. Untuk meningkatkan

JURUSAN TEKNIK SIPIL

II-26
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

kualitas pada tahap pelaksanaan, maka manajemen mutu yang berupa perencanaan
mutu, penjaminan mutu dan pengendalian mutu harus makin ditingkatkan.
Penelitian yang terdahulu lebih banyak membahas mengenai manajemen
mutu dari segi biaya dan produktivitas. Penelitian ini akan membahas manajemen
mutu pada tahap pelaksanaan konstruksi agar pengendalian mutu dapat
dilaksanakan secara optimal.

JURUSAN TEKNIK SIPIL