Vous êtes sur la page 1sur 14

ANGIN

SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF


1. Pendahuluan

Dalam 10 tahun terakhir ini, kebutuhan dunia akan sumber energi alternatif (SEA)
dan terbarukan meningkat dengan laju hampir 25% per tahun. Peningkatan ini didorong
oleh: (i) naiknya kebutuhan energi listrik; (ii) naiknya keinginan untuk menggunakan
teknologi yang bersih; (iii) terus naiknya harga bahan bakar fossil; (iv) naiknya biaya
pembangunan saluran transmisi; dan (v) naiknya untuk meningkatkan jaminan pasokan
energi. Agar peran SEA bisa meningkat dengan cepat maka harga dan keandalan sistem
pembangkit listrik berbasis energy alternatif harus bisa bersaing dengan pembangkit
konvensional.
Gambar 1 memperlihatkan perkembangan harga energi yang dibangkitkan dengan
SEA selama 20 tahun terakhir ini. Gambar ini menunjukkan bahwa harga energi listrik
yang didapat dengan SEA terus menurun dan bahkan beberapa diantaranya telah lebih
rendah dari sumber energi konvensional. Perkembangan teknologi menunjukkan bahwa
harga energi listrik yang dibangkitkan dengan SEA akan terus menurun sehingga
kebutuhan akan peralatan yang digunakan dalam pembangkit semacam ini akan
meningkat dengan cepat.
Pasar pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) di dunia terus meningkat pesat
dalam 10 tahun terakhir ini. Pada tahun 2008 saja, diperkirakan akan dipasang lebih dari
20.000 MW pembangkit listrik tenaga bayu. Sampai tahun 2025, pemerintah Indonesia
berencana untuk memasang PLTB dengan kapasitas sampai 250 MW.

Dini Hariani | 10070211024

Gambar 1. Biaya produksi listrik

Elektronika daya merupakan teknologi kunci dalam pemanfaatan sumber energi


alternatif. Pembangkit listrik berbasis SEA menghasilkan tegangan listrik searah (DC)
atau bolak-balik (AC) yang frekuensinya berubah-ubah. Agar bisa dimanfaatkan oleh
banyak konsumen maka tegangan listrik ini harus diubah menjadi tegangan AC yang
frekuensinya tetap, yaitu 50 atau 60 Hz. Ini berbeda dengan pembangkit listrik
konvensional yang menggunakan generator sinkron putaran tetap dan menghasilkan
tegangan listrik pada frekuensi 50 atau 60 Hz. Perubahan bentuk tegangan listrik yang
dihasilkan dengan SEA hanya bisa dilakukan secara efisien dengan menggunakan
pengubah (konverter) berbasis elektronika daya. Jika kebutuhan akan pembangkit
semacam ini meningkat pesat maka kebutuhan akan peralatan elektronika daya juga
meningkat pesat. Kesempatan ini harus diambil oleh rakyat Indonesia jika tidak ingin
hanya

menjadi

konsumen

membahas pemanfaatan

sumber

seperti
energi

halnya

teknologi

alternatif

lain.

terbarukan

Artikel
dan

ini

beberapa

permasalahannya.

Dini Hariani | 10070211024

2. Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB)


Pembangkit listrik tenaga angin atau bayu (PLTB) mengalami perkembangan
yang sangat pesat dalam 20 tahun terakhir ini, terutama di belahan Eropa utara. Jerman
dan Denmark telah menggunakan tenaga angin untuk membangkitkan hampir 20%
kebutuhan energi listriknya. Pada akhir tahun 2010, diperkirakan PLTB terpasang di
dunia akan mencapi lebih dari 150 GW.
Sebagai negara yang berada di ekuator, potensi dari PLTB memang tidak terlalu
besar. Akan tetapi berdasarkan data yang ada, ada beberapa daerah di Indonesia, misal
NTB dan NTT, yang mempunyai potensi bagus. Sebagian besar daerah di Indonesia
mempunyai kecepatan angin rata-rata sekitar 4 m/s, kecuali di dua propinsi tersebut. Oleh
sebab itu, PLTB yang cocok dikembangkan di Indonesia adalah pembangkit dengan
kapasitas di bawah 100 kW. Tentu saja ini berbeda dengan Eropa yang berkonsentrasi
untuk mengembangkan PLTB dengan kapasitas di atas 1 MW atau lebih besar lagi untuk
dibangung di lepas pantai.
Masalah utama dari penggunaan PLTB adalah ketersediaannya yang rendah.
Untuk mengatasi masalah ini maka PLTB harus dioperasikan secara paralel dengan
pembangkit listrik lainnya. Pembangkit listrik lainnya bisa berbasis SEA atau pembangkit
konvensional. Walaupun sebuah PLTB hanya membangkit daya kurang dari 100 kW, kita
bisa membangun puluhan PLTB dalam satu daerah. Dengan memanfaatkan PLTB maka
kebutuhan akan bahan bakar fossil akan jauh berkurang. Selain mengurangi biaya
operasi, penggunaan PLTB akan meningkatkan jaminan pasokan energi suatu daerah. Di
daerah kepulauan seperti halnya NTB dan NTT, yang mana semua kebutuhan energinya
harus didatangkan dari daerah lain, keberadaan PLTB akan membantu meningkatkan
kemandiriannya. Di banding dengan diesel, PLTB mempunyai potensi mengurangi emisi
CO2 sebesar 700 gram untuk setiap kWh energi listrik yang dibangkitkan.
Gambar 2 memperlihatkan skema PLTB yang cocok untuk daya kurang dari 100
kW. Turbin angin memutar generator tegangan bolak-balik. Karena kecepatan angin
berubah-ubah maka tegangan AC yang dihasilkan generator mempunyai frekuensi yang
berubah-ubah. Tegangan AC yang frekuensinya berubah-ubah ini harus diubah menjadi
Dini Hariani | 10070211024

tegangan DC yang tetap dengan menggunakan penyearah. Tegangan DC ini selanjutnya


diubah menjadi tegangan AC frekuensi 50 Hz dengan menggunakan inverter. Keluaran
inverter diparalel dengan jaringan listrik yang ada. Dengan menggunakan konsep ini,
semua energi listrik yang dibangkitkan oleh PLTB bisa dikirim ke jaringan untuk
dimanfaatkan. Pembangkit semacam ini juga tidak memerlukan batere yang mahal dan
butuh pemeliharaan rutin.
Teknologi turbin atau kincir angin yang diperlukan dalam PLTB telah dikuasai
oleh orang Indonesia dan beberapa industri lokal telah mampu membuatnya dengan baik.
Generator yang digunakan bisa menggunakan generator induksi (yang murah dan kokoh)
atau generator magnet permanen yang efisien. Kedua teknologi generator ini telah
dikuasai oleh orang Indonesia dan beberapa industri telah mampu membuatnya. Yang
menjadi masalah adalah bahan baku yang sebagian besar harus didatangkan dari luar.
Teknologi penyearah dan inverter juga dikuasai oleh orang Indonesia walaupun industri
yang mampu membuatnya masih terbatas. Di Indonesia juga tidak tersedia orang yang
menguasai teknologi komponen elektronika daya, apalagi industrinya. Semua komponen
elektronika daya harus didatangkan dari luar. Di Indonesia, peneliti yang mendalami
teknologi elektronika daya juga sangat terbatas. Perkembangan kebutuhan akan
pembangkit listrik berbasis SEA ini sebaiknya diambil oleh pemerintah Indonesia untuk
mengembangkan industri elektronika daya berserta sumber daya manusianya.

Gambar 2. Pembangkit listrik tenaga bayu


4

Dini Hariani | 10070211024

Turbin Angin sebagai Alternatif Pembangkit Listrik

Menurunnya tinggi permukaan air di berbagai bendungan-terutama yang


dimanfaatkan sebagai sumber pembangkit listrik tenaga air (PLTA)-telah menurunkan
pasokan listrik di Jawa hingga 500 megawatt. Sebagai salah satu sumber pemasok listrik,
PLTA bersama pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan pembangkit listrik tenaga gas
(PLTG) memang memegang peran penting terhadap ketersediaan listrik terutama di
Jawa, Madura, dan Bali. Energi angin yang sebenarnya berlimpah di Indonesia ternyata
belum dimanfaatkan sebagai alternatif penghasil listrik.
Padahal, di berbagai negara, pemanfaatan energi angin sebagai sumber energi
alternatif nonkonvensional sudah semakin mendapatkan perhatian. Hal ini tentu saja
didorong oleh kesadaran terhadap timbulnya krisis energi dengan kenyataan bahwa
kebutuhan energi terus meningkat sedemikian besarnya. Di samping itu, angin
merupakan sumber energi yang tak ada habisnya sehingga pemanfaatan sistem konversi
energi angin akan berdampak positif terhadap lingkungan.
5

Dini Hariani | 10070211024

Asal energi angin


Semua energi yang dapat diperbaharui dan bahkan energi pada bahan bakar fosilkecuali energi pasang surut dan panas bumi-berasal dari Matahari. Matahari meradiasi
1,74 x 1.014 kilowatt jam energi ke Bumi setiap jam. Dengan kata lain, Bumi menerima
1,74 x 1.017 watt daya. Sekitar 1-2 persen dari energi tersebut diubah menjadi energi
angin. Jadi, energi angin berjumlah 50-100 kali lebih banyak daripada energi yang diubah
menjadi biomassa oleh seluruh tumbuhan yang ada di muka Bumi.
Sebagaimana diketahui, pada dasarnya angin terjadi karena ada perbedaan
temperatur antara udara panas dan udara dingin. Daerah sekitar khatulistiwa, yaitu pada
busur 0, adalah daerah yang mengalami pemanasan lebih banyak dari Matahari
dibanding daerah lainnya di Bumi. Daerah panas ditunjukkan dengan warna merah,
oranye, dan kuning pada gambar inframerah dari temperatur permukaan laut yang
diambil dari satelit NOAA-7 pada Juli 1984. Udara panas lebih ringan daripada udara
dingin dan akan naik ke atas sampai mencapai ketinggian sekitar 10 kilometer dan akan
tersebar ke arah utara dan selatan. Jika Bumi tidak berotasi pada sumbunya, maka udara
akan tiba di kutub utara dan kutub selatan, turun ke permukaan lalu kembali ke
khatulistiwa. Udara yang bergerak inilah yang merupakan energi yang dapat
diperbaharui, yang dapat digunakan untuk memutar turbin dan akhirnya dapat
menghasilkan listrik.
Mekanisme turbin angin
Sebuah pembangkit listrik tenaga angin dapat dibuat dengan menggabungkan
beberapa turbin angin sehingga menghasilkan listrik ke unit penyalur listrik. Listrik
dialirkan melalui kabel transmisi dan didistribusikan ke rumah-rumah, kantor, sekolah,
dan sebagainya. Turbin angin dapat memiliki tiga buah bilah turbin. Jenis lain yang
umum adalah jenis turbin dua bilah.
Jadi, bagaimana turbin angin menghasilkan listrik? Turbin angin bekerja sebagai
kebalikan dari kipas angin. Bukannya menggunakan listrik untuk membuat angin, seperti
pada kipas angin, turbin angin menggunakan angin untuk membuat listrik.
Dini Hariani | 10070211024

Angin akan memutar sudut turbin, kemudian memutar sebuah poros yang dihubungkan
dengan generator, lalu menghasilkan listrik. Turbin untuk pemakaian umum berukuran
50-750 kilowatt. Sebuah turbin kecil, kapasitas 50 kilowatt, digunakan untuk perumahan,
piringan parabola, atau pemompaan air.
Jenis turbin angin
Dalam perkembangannya, turbin angin dibagi menjadi jenis turbin angin propeler
dan turbin angin Darrieus. Kedua jenis turbin inilah yang kini memperoleh perhatian
besar untuk dikembangkan. Pemanfaatannya yang umum sekarang sudah digunakan
adalah untuk memompa air dan pembangkit tenaga listrik. Turbin angin propeler adalah
jenis turbin angin dengan poros horizontal seperti baling- baling pesawat terbang pada
umumnya. Turbin angin ini harus diarahkan sesuai dengan arah angin yang paling tinggi
kecepatannya.
Kecepatan angin diukur dengan alat yang disebut anemometer. Anemometer jenis
mangkok adalah yang paling banyak digunakan. Anemometer mangkok mempunyai
sumbu vertikal dan tiga buah mangkok yang berfungsi menangkap angin.
Jumlah putaran per menit dari poros anemometer dihitung secara elektronik. Biasanya,
anemometer

dilengkapi

dengan

sudut

angin

untuk

mendeteksi

arah

angin.

Jenis anemometer lain adalah anemometer ultrasonik atau jenis laser yang mendeteksi
perbedaan fase dari suara atau cahaya koheren yang dipantulkan dari molekul-molekul
udara.
Turbin angin Darrieus merupakan suatu sistem konversi energi angin yang
digolongkan dalam jenis turbin angin berporos tegak. Turbin angin ini pertama kali
ditemukan oleh GJM Darrieus tahun 1920. Keuntungan dari turbin angin jenis Darrieus
adalah tidak memerlukan mekanisme orientasi pada arah angin (tidak perlu mendeteksi
arah angin yang paling tinggi kecepatannya) seperti pada turbin angin propeler.
Di Indonesia telah mulai dikembangkan proyek percontohan baik oleh lembaga
penelitian maupun oleh pusat studi beberapa perguruan tinggi. Proyek ini perlu
memperoleh perhatian dari pihak yang terkait untuk dikembangkan karena membutuhkan
Dini Hariani | 10070211024

riset yang cukup intensif mengenai kecepatan angin, lokasi penempatan turbin angin,
serta cara untuk mengatur pembebanan turbin yang tidak merata. Misalnya pada malam
hari angin cukup kencang, sedangkan pada pagi dan siang hari kecepatan angin turun
sehingga harus ada mekanisme penyimpanan energi serta mekanisme untuk menstabilkan
fluktuasi tegangan listrik yang dihasilkan. Dalam situasi yang serba kekurangan pasokan
listrik seperti sekarang, tampaknya alternatif energi angin perlu dikaji ulang. Selain
hasilnya selalu berkelanjutan, harganya pun kompetitif dibanding pembangkit listrik
lainnya.
3. Manfaat penggunaaan Pembbangkit Listrik Tenaga Angin
Keuntungan utama dari penggunaan pembangkit listrik tenaga angin secara prinsipnya
adalah disebabkan karena sifatnya yang terbarukan. Hal ini berarti eksploitasi sumber
energi ini tidak akan membuat sumber daya angin yang berkurang seperti halnya
penggunaan bahan bakar fosil. Oleh karenanya tenaga angin dapat berkontribusi dalam
ketahanan energi dunia di masa depan. Tenaga angin juga merupakan sumber energi yang
ramah lingkungan, dimana penggunaannya tidak mengakibatkan emisi gas buang
atau polusi yang berarti ke lingkungan.
Penetapan sumber daya angin dan persetujuan untuk pengadaan ladang angin merupakan
proses yang paling lama untuk pengembangan proyek energi angin. Hal ini dapat
memakan waktu hingga 4 tahun dalam kasus ladang angin yang besar yang
membutuhkan studi dampak lingkungan yang luas.

Dini Hariani | 10070211024

Emisi karbon ke lingkungan dalam sumber listrik tenaga angin diperoleh dari proses
manufaktur komponen serta proses pengerjaannya di tempat yang akan didirikan
pembangkit listrik tenaga angin. Namun dalam operasinya membangkitkan listrik, secara
praktis pembangkit listrik tenaga angin ini tidak menghasilkan emisi yang berarti. Jika
dibandingkan dengan pembangkit listrik dengan batubara, emisi karbon dioksida
pembangkit listrik tenaga angin ini hanya seperseratusnya saja. Disamping karbon
dioksida, pembangkit listrik tenaga angin menghasilkan sulfur dioksida, nitrogen oksida,
polutan atmosfir yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan pembangkit listrik dengan
menggunakan batubara ataupun gas. Namun begitu, pembangkit listrik tenaga angin ini
tidak sepenuhnya ramah lingkungan, terdapat beberapa masalah yang terjadi akibat
penggunaan sumber energi angin sebagai pembangkit listrik, diantaranya adalah dampak
visual , derau suara, beberapa masalah ekologi, dan keindahan.
Dampak visual biasanya merupakan hal yang paling serius dikritik. Penggunaan ladang
angin sebagai pembangkit listrik membutuhkan luas lahan yang tidak sedikit dan tidak
mungkin untuk disembunyikan. Penempatan ladang angin pada lahan yang masih dapat
digunakan untuk keperluan yang lain dapat menjadi persoalan tersendiri bagi penduduk
setempat. Selain mengganggu pandangan akibat pemasangan barisan pembangkit angin,
penggunaan lahan untuk pembangkit angin dapat mengurangi lahan pertanian serta
pemukiman. Hal ini yang membuat pembangkitan tenaga angin di daratan menjadi
terbatas. Beberapa aturan mengenai tinggi bangunan juga telah membuat pembangunan
pembangkit listrik tenaga angin dapat terhambat. Penggunaan tiang yang tinggi untuk
turbin angin juga dapat menyebabkan terganggunya cahaya matahari yang masuk ke
rumah-rumah penduduk. Perputaran sudu-sudu menyebabkan cahaya matahari yang
berkelap-kelip dan dapat mengganggu pandangan penduduk setempat.
Efek lain akibat penggunaan turbin angin adalah terjadinya derau frekuensi rendah.
Putaran dari sudu-sudu turbin angin dengan frekuensi konstan lebih mengganggu
daripada suara angin pada ranting pohon. Selain derau dari sudu-sudu turbin,
penggunaan gearbox serta generator dapat menyebabkan derau suara mekanis dan juga
derau suara listrik. Derau mekanik yang terjadi disebabkan oleh operasi mekanis elemenelemen yang berada dalam nacelle atau rumah pembangkit listrik tenaga angin. Dalam
Dini Hariani | 10070211024

keadaan tertentu turbin angin dapat juga menyebabkan interferensi elektromagnetik,


mengganggu penerimaan sinyal televisi atau transmisi gelombang mikro untuk
perkomunikasian.
Penentuan ketinggian dari turbin angin dilakukan dengan menganalisa data turbulensi
angin dan kekuatan angin. Derau aerodinamis merupakan fungsi dari banyak faktor
seperti desain sudu, kecepatan perputaran, kecepatan angin, turbulensi aliran masuk.
Derau aerodinamis merupakan masalah lingkungan, oleh karena itu kecepatan perputaran
rotor perlu dibatasi di bawah 70m/s. Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa penggunaan
skala besar dari pembangkit listrik tenaga angin dapat merubah iklim lokal maupun
global karena menggunakan energi kinetik angin dan mengubah turbulensi udara pada
daerah atmosfir.

Pengaruh ekologi yang terjadi dari penggunaan pembangkit tenaga angin adalah
terhadap populasi burung dan kelelawar. Burung dan kelelawar dapat terluka atau
bahkan mati akibat terbang melewati sudu-sudu yang sedang berputar. Namun dampak
ini masih lebih kecil jika dibandingkan dengan kematian burung-burung akibat
kendaraan, saluran transmisi listrik dan aktivitas manusia lainnya yang melibatkan
pembakaran bahan bakar fosil. Dalam beberapa studi yang telah dilakukan, adanya
pembangkit listrik tenaga angin ini dapat mengganggu migrasi populasi burung dan
kelelawar. Pembangunan pembangkit angin pada lahan yang bertanah kurang bagus juga
dapat menyebabkan rusaknya lahan di daerah tersebut.
Dini Hariani | 10070211024

10

Ladang angin lepas pantai memiliki masalah tersendiri yang dapat mengganggu pelaut
dan kapal-kapal yang berlayar. Konstruksi tiang pembangkit listrik tenaga angin dapat
mengganggu permukaan dasar laut. Hal lain yang terjadi dengan konstruksi di lepas
pantai adalah terganggunya kehidupan bawah laut. Efek negatifnya dapat terjadi seperti
di Irlandia, dimana terjadinya polusi yang bertanggung jawab atas berkurangnya stok
ikan di daerah pemasangan turbin angin. Studi baru-baru ini menemukan bahwa
ladang pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai menambah 80 110 dB kepada
noise frekuensi rendah yang dapat mengganggu komunikasi ikan paus dan kemungkinan
distribusi predator laut. Namun begitu, ladang angin lepas pantai diharapkan dapat
menjadi tempat pertumbuhan bibit-bibit ikan yang baru. Karena memancing dan
berlayar di daerah sekitar ladang angin dilarang, maka spesies ikan dapat terjaga akibat
adanya pemancingan berlebih di laut.
Dalam operasinya, pembangkit listrik tenaga angin bukan tanpa kegagalan dan
kecelakaan. Kegagalan operasi sudu-sudu dan juga jatuhnya es akibat perputaran telah
menyebabkan beberapa kecalakaan dan kematian. Kematian juga terjadi kepada
beberapa penerjun dan pesawat terbang kecil yang melewati turbin angin. Reruntuhan
puing-puing berat yang dapat terjadi merupakan bahaya yang perlu diwaspadai, terutama
di daerah padat penduduk dan jalan raya. Kebakaran pada turbin angin dapat terjadi
dan akan sangat sulit untuk dipadamkan akibat tingginya posisi api sehingga dibiarkan
begitu saja hingga terbakar habis. Hal ini dapat menyebarkan asap beracun dan juga
dapat

menyebabkan

kebakaran

berantai

yang

membakar

habis

ratusan acre lahan pertanian. Hal ini pernah terjadi pada Taman Nasional Australia
dimana 800 km2 tanah terbakar. Kebocoran minyak pelumas juga dapat teradi dan dapat
menyebabkan terjadinya polusi daerah setempat, dalam beberapa kasus dapat
mengkontaminasi air minum.
Meskipun dampak-dampak lingkungan ini menjadi ancaman dalam pembangunan
pembangkit listrik tenaga angin, namun jika dibandingkan dengan penggunaan energi
fosil, dampaknya masih jauh lebih kecil. Selain itu penggunaan energi angin dalam
kelistrikan telah turut serta dalam mengurangi emisi gas buang.

Dini Hariani | 10070211024

11

Penggunaan inovasi dalam teknologi, bagaimanapun selalu memunculkan permasalahan


baru yang memerlukan pemecahan dengan terknologi baru lagi. Oleh karena itu kita
sebagai orang-orang yang bergerak di bidang science dan teknologi haruslah dapat terus
mengembangkan teknologi yang lebih ramah lingkungan yang memiliki efek negatif
sekecil mungkin.
Berikut ini adalah 5 negara yang paling banyak memproduksi energi angin:

1. China
China memproduksi energi angin paling banyak di seluruh dunia. Energi angin
menyumbang sekitar 45 GW energi dari 80 ladang angin. Cina memiliki tujuan untuk
mencapai 100 GW pada tahun 2015 dan memenuhi seluruh kebutuhan energi mereka
dengan energi angin saja pada tahun 2030. China memiliki banyak rencana untuk
meningkatkan produksi energi anginnya. Mereka telah meningkatkan produksi turbin
angin untuk menginstal lebih banyak pembangkit listrik tenaga angin. Salah satu alasan
utama China berinvestasi pada ladang angin adalah karena struktur geografis,
ketersediaan tenaga kerja, dan juga kebutuhan energi China yang sangat besar. Garis
pantai China sangat panjang, karenanya China menghasilkan banyak energi dari angin.
China juga berinvestasi pada turbin kecil, yang dipasang di gedung-gedung tinggi dan
tiang lampu.

2. Amerika Serikat
Amerika Serikat menempati posisi kedua dalam produksi energi angin dengan jumlah 43
GW dari 101 ladang angin. Karena Amerika Serikat mengkonsumsi lebih banyak energi
daripada bagian dunia lainnya, investasi di energi hijau adalah suatu keharusan. Amerika
Serikat belum berinvestasi di ladang angin lepas pantai tetapi mereka telah merencanakan
untuk berinvestasi di sana dalam waktu dekat. Amerika Serikat dianggap sebagai pelopor
energi angin. GE Energy merupakan produsen turbin terbesar di Amerika Serikat.
Dengan 627 turbin angin, Roscoe Wind Farm di Texas menjadi ladang angin terbesar di
dunia. Total kapasitasnya mencapai 781 MW. Setiap turbin di lahan ini memiliki
kapasitas 1 MW dan memasok listrik ke 260.000 rumah di Texas.

Dini Hariani | 10070211024

12

3. Jerman
Jerman menempati peringkat ketiga dalam produksi energi angin dengan kapasitas 28
GW, jumlah ini sekitar 9% dari jumlah energi total yang dihasilkan di Jerman. Jerman
memiliki 21.607 turbin angin dan mereka fokus untuk meningkatkan produksi lepas
pantai. Enercon E-126 adalah turbin angin terbesar di dunia yang diproduksi dan diinstal
di Jerman dengan diameter rotor 126m. Turbin ini memiliki kapasitas 7 MW. Jerman
adalah eksportir turbin angin terkemuka di dunia.

4. Spanyol
Ladang angin memenuhi 16% kebutuhan listrik di Spanyol dan merupakan peringkat
keempat dalam produksi energi angin di seluruh dunia. Total produksinya mencapai 21
GW dan berada di peringkat ketiga di antara sumber-sumber energi lain di Spanyol.
Spanyol telah berupanya keras untuk meningkatkan produksi energi dan mencoba untuk
menjadikan energi angin sebagai sumber energi utama. Sebagian besar ladang angin
terletak di daerah pegunungan dan tidak banyak ladang angin yang dibangun di lepas
pantai. Spanyol merupakan salah satu eksportir terkemuka di bidang peralatan ladang
angin.

5. India
India menempati peringkat kelima terbesar dalam hal instalasi energi angin terpasang di
dunia. Total kapasitasnya 14 GW dan menyumbang 1,6% daya listrik di negara itu.
Ladang angin Muppandal di Tamil Nadu adalah ladang angin terbesar di India dan
sebagian besar pembangkit ini dimiliki oleh perusahaan swasta. Di India sebagian besar
ladang angin terletak di lahan pertanian dan di daerah pegunungan. Meskipun sebagian
besar wilayah India tidak cocok untuk produksi energi angin, India masih menempati
urutan kelima dalam produksi energi angin di dunia. Suzlon adalah produsen terkemuka
turbin angin di India dan juga installer ladang angin yang utama.

13

Dini Hariani | 10070211024

DAFTAR PUSTAKA

http://www.alpensteel.com/article/47-103-energi-angin--wind-turbine--wind-mill/3527-tenaga-angin-sebagai-sumber-energi-yang-ramah-lingkungan.html
http://www.alpensteel.com/article/47-103-energi-angin--wind-turbine--wind-mill/3587--kincirangin-sebagai-energi.html
http://www.wikimu.com/News/Print.aspx?id=8603

14

Dini Hariani | 10070211024