Vous êtes sur la page 1sur 6

ISOLASI BAKTERI ASAM LAKTAT (BAL) PENGHASIL ANTIBIOTIK

DARI SUSU KAMBING SEGAR


Musfira, Agnes Paradiba, Yoseva, Hutri, Ahmad Muarif, Rezky Aprhodita,
Chindy Amelia dan Rais Al-Qadry
Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin, Makassar
ABSTRAK
Saat ini antibiotika masih tetap merupakan obat produk mikroorganisme pilihan
dan memegang peranan yang penting dalam pengobatan penyakit infeksi. Tetapi,
munculnya resistensi antibiotik telah menjadi masalah global kesehatan masyarakat
dalam beberapa dekade terakhir. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan
membandingkan daya hambat metabolit sekunder bakteri asam laktat dari dua
medium berbeda yakni medium MRSB dan medium Produksi dari sampel susu
kambing segar. Caranya dengan meggores isolat murni di Medium MRSA untuk
melihat adanya zona bening di sekitar medium. Selanjutnya dilakukan fermentasi
dan uji aktivitas amtimikroba metabolit sekundernya pada bakteri Escherichia coli
dan Vibrio cholerae menggunakan metode difusi. Hasil pengujian zona hambat
bakteri yakni Medium Produksi terhadap bakteri Escherichia coli dan Vibrio cholerae
berturut-turut 5.57 mm dan 4.25 mm. mm sedangkan dari medium MRSB berturutturut yakni 5.66 mm dan 5.12 mm. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Isolat Bakteri
Asam Laktat dari medium MRSB mampu menghambat pertumbuhan mikroba
Escherichia coli dan Vibrio cholerae lebih besar dari medium Produksi.
Kata kunci: bakteri asam laktat, susu kambing, E.coli, V. cholerae, MRSB, medium
Produksi
ABSTRACT
Currently antibiotics remains the drug of choice microorganism products and
play an important role in the treatment of infectious diseases. However, the
emergence of antibiotic resistance has become a global public health problem in
recent decades. This study aimed to isolate and compare the inhibition of lactic acid
bacteria at MRSB medium and medium production of fresh goat's milk samples
continued with purification process in streak plate method on MRSA Medium to see a
clear zone around the medium. Further fermentation and secondary metabolites
amtimikroba test on Escherichia coli and Vibrio cholerae. The results of testing the
bacterial inhibition zone Medium Production against Escherichia coli and Vibrio
cholerae, diameter of inhibitory zone that is 5.57 mm and 4.25 mm. In MRSB is 5.66
mm and 5.12 mm. So it can be concluded that the Lactic Acid Bacteria Isolates from
fresh goat's milk can inhibit the growth of microbes Escherichia coli is greater than
Vibrio cholerae.
Keywords: lactic acid bacteria, goat milk, E. coli, V. cholerae, MRSB, medium
Production

PENDAHULUAN
Menurut data WHO diare akut
sampai saat ini masih merupakan
masalah kesehatan, tidak hanya di
negara berkembang tetapi juga di
negara maju. Penyakit diare sering
menimbulkan Kejadian Luar Biasa
(KLB) dengan angka kematian yang
masih tinggi. Angka kejadian Diare di
negara berkembang menyebabkan
kematian sekitar tiga juta penduduk
tiap tahunnya. Di Indonesia dari 2.812
pasien diare yang datang ke rumah
sakit di beberapa propinsi di Indonesia
yang dianalisis tahun 2001 penyebab
terbanyak adalah infeksi oleh bakteri
(1). Bakteri tersebut Diantaranya
adalah Eschericia coli dan Vibrio
cholera.
Banyak
antimikroba
yang
digunakan
untuk
menghambat
pertumbuhan E. coli dan V. cholerae.
Yang
menjadi
masalah
adalah
resistensi E. coli terhadap berbagai
antibiotika telah banyak di laporkan
(2). Seperti halnya Enterobacteriaceceae,
E. coli telah banyak yang
resisten terhadap golongan -laktam,
fosfomisin,dan golongan kuinolon (2).
Salah satu produk alami yang
dapat menghambat aktivitas mikroba
adalah susu kambing. Susu kambing
telah terbukti kaya manfaat, hal ini
sesuai dengan hasil penelitian yang
menyebutkan bahwa susu kambing
mengandung senyawa
antimikroba
dan
antioksidan
yang
sangat
dibutuhkan oleh tubuh (3). Tapi, tidak
mungkin
menggunakan
dan
memproduksi susu kambing secara
langsung
sebagai
senyawa
antimikroba dikarenakan sumbernya
sangat terbatas.
Senyawa-senyawa
yang
dihasilkan oleh BAL berupa asamasam organik, H2O2, diasetil dan
bakteriosin (4)

Bakteriosin merupakan suatu


senyawa protein atau polipeptida yang
dapat menghambat bakteri Gram
positif dan negatif (5), dan dihasilkan
oleh berbagai spesies
BAL
(6).
Bakteriosin yang dihasilkan oleh BAL
berpotensi sebagai pengawet alami
bahan pangan karena tidak mengubah
rasa dan tekstur serta mudah
terdegradasi oleh enzim proteolitik
dalam pencernaan manusia dan
hewan (7).
Penelitian ini bertujuan untuk
mengiso- lasi bakteri asam laktat asal
susu kambing dan mengetahui
aktivitas antimikrobanya terhadap
bakteri patogen E. coli dan V.
cholerae.
METODOLOGI
Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan antara
lain beaker glass, erlenmeyer, ose
bulat, ose lurus, bunsen, otoklaf,
inkubator, oven, corong pisah, vial,
spoit, dan cawan petri.
Bahan-bahan yang digunakan
antara lain sampel susu kambing
segar, Media de Man Rogosa Sharpe
(MRS) Agar, MRS Broth, Nutrient Agar
(NA), Maltose Yeast Broth (MYB), dan
Medium Produksi, CaCO3, air steril,
alkohol, dan Dimetil Sulfa Oxyde
(DMSO), ethyl acetat dan paper disk.
Isolasi BAL
Sampel susu kambing diambil 9,5
ml dan diencerkan pada pengenceran
10-1, 10-2, 10-3, 10-4, 10-5, 10-6 dan 10-7.
Masing-masing vial berisi 5 ml air steril
kecuali pengenceran 10-1. Kemudian
diambil pengenceran 10-3, 10-5, 10-7
dan dipindahkan menggunakan spoit
ke dalam cawan petri berisi media
MRSA yang telah bercampur dengan
CaCO3 lalu diinkubasi selama 2x24
jam pada suhu 37C di inkubator.

Pemurnian
Koloni yang membentuk zona
bening digores pada media MRSA
yang telah bercampur dengan CaCO3,
lalu diinkubasi selama 2x24 jam pada
suhu 37C di inkubator. Kemudian
diamati zona bening yang terbentuk
dari hasil goresan penuh di medium.
Uji Antagonis
Disiapkan empat bakteri patogen
yaitu Escherichia coli, Vibrio cholerae,
Staphyococcus
aureus
dan
Pseudomonas
aeruginosa.
Lalu
dimasukkan kedalam cawan petri
berisi media NA dan dihomogenkan.
Setelah itu dicungkil BAL yang
membentuk zona bening pada tahap
pemurnian dan ditempelkan pada
posisi terbalik di atas medium NA.
Kemudian diinkubasi selama 1x24 jam
pada
suhu
37C
diinkubator.
Selanjutnya diamati zona hambat yang
terbentuk.
Fermentasi
Dibuat medium starter yakni MYB
10 ml sebanyak dua buah, masingmasing untuk medium produksi dan
medium MRSB. Suspensi BAL 1 ml
dimasukkan
ke
medium
MYB
menggunakan spoit dan diinkubasi
selama 1x24 jam pada suhu 37C.
Lalu dicukupkan hingga 100 ml oleh
medium produksi dan MRSB. Setelah
itu diinkubasi lagi selama 7x24 jam
pada suhu 37C sambil digojog selama
1 jam per hari.
Ekstraksi
Dicukupkan 200 ml medium
fermentasi (MRSB dan Medium
Produksi) menggunakan ethyl acetat
dan digojog selama 15 menit lalu

didiamkan hingga terbentuk dua


lapisan. Larutan mengandung etyhl
acetat diambil dan disimpan di wadah
sedangkan larutan yang mengandung
medium ditambahkan kembali ethyl
acetat dan dimasukkan ke dalam
corong pisah. Digojog lagi selama 20
menit lalu didiamkan. Diambil larutan
ethyl ecetat dan campur dengan
larutan pertama. Kemudian diuapkan
hingga ekstrak benar-benar kering.
Uji Aktivitas Antibakteri
Pengujian aktivitas antibakteri
menggunakan bakteri uji Escherichia
coli dan Vibrio cholerae. Dua ekstrak
dilarutkan
dengan
DMSO
yang
masing-masing dicelup dengan paper
disk lalu ditempelkan di cawan petri
berisi medium NA dan 1 ml suspensi
bakteri uji. Sebagai kontrol negatif
digunakan DMSO pada setiap cawan
petri.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Isolasi
mikroba
adalah
pemisahan mikroba satu dengan
mikroba lain yang berasal dari
campuran berbagai mikroba untuk
dapat mempelajari sifat biakan,
morfologi dan sifat mikroba lainnya.
Tahap pertama yang dilakukan dari
isolasi adalah pengenceran untuk
memperoleh
isolat.
Dari
hasil
pengenceran diperoleh isolat pada
Gambar 1.
Setelah itu menggoresnya lagi
pada medium MRSA+CaCO3 sehingga
diperoleh isolat murni dari hasil
goresan pada Gambar 2. Alasan
penambahan CaCO3 adalah untuk
mengindentifikasi Bakteri Asam Laktat
melalui zona bening di medium.

Gambar 1. Isolat Awal dari pengenceran 10-5


Zona bening merupakan Kalsium
Laktat dari reaksi CaCO3 dan Asam
Laktat. Asam Laktat larut dalam
medium,
sehingga
untuk
mengidentifikasinya
ditambahkan
CaCO3 tidak larut dalam medium. Dari
hasil pemurnian, isolat diuji
hasil

Gambar 3. Uji Antagonis


Escherichia coli

Gambar 5. Uji Antagonis


Bacillus subtilis
Setelah uji antagonis dan terbukti
bahwa BAL dapat menghambat bakteri
patogen. Dilakukan fermentasi selama
7 hari untuk mempercepat difusi

Gambar 2. Isolat Murni


pemurnianEscherichia
coli,
Vibrio
cholera, Pseudomonas aeruginosa,
dan Bacillus subtilis di Medium NA.
Hasill pengujian ini terlihat pada
Gambar 3, 4, 5 dan 6.

Gambar 4. Uji Antagonis


Vibrio cholera

Gambar 6. Uji Antagonis


Pseudomonas aeruginosa
oksigen ke dalam medium. Jika
oksigen meningkat dalam medium,
maka pertumbuhan bakteri meningkat
dan hasil metabolit sekunder yang

dihasilkan juga meningkat. Selanjutnya


dilakukan ekstraksi dan uji aktivitas
antimikroba. Metode yang digunakan
untuk menguji aktivitas antimikroba ini
adalah
metode
difusi
dengan
menempelkan paper disk yang telah di
celup pada ekstrak dan kontrol DMSO.

Penggunaan DMSO sebagai pelarut


karena DMSO merupakan bahan inert
yang tidak bereaksi dalam larutan.
Hasilnya dapat dilihat pada Gambar 7
dan 8.

Gambar 7. Hasil Uji Aktivitas Antimikroba


medium NA terhadap bakteri Vibrio cholerae

Gambar 8. Hasil Uji Aktivitas


Antimikroba medium NA terhadap
bakteri Escherichia coli

KESIMPULAN DAN SARAN

DAFTAR PUSTAKA

Kesimpulan
1.
Isolat BAL dari medium MRSB
dan medium produksi keduanya
memiliki daya hambat yang lebih
besar pada bakteri Escherichia
coli dibanding Vibrio cholerae.
2.
Aktivitas antimikroba isolat dari
Medium MRSB lebih besar
dibanding medium Produksi yahni
Medium MRSB terhadap bakteri
Escherichia coli dan Vibrio
cholerae berturut-turut 5.66 mm
dan 5.12 mm. Sedangkan dari
medium Produksi berturut-turut
5.57 mm dan 4.25 mm.
Saran
Sebaiknya dilakukan uji lebih
mendalam sehingga dapat ditemukan
senyawa
spesifik
yang
dapat
menghambat Escherichia coli dan
Vibrio cholerae

1.

World
Health
Organization
(WHO), Guidelines for DrinkingWater Quality: First Addendum to
Third Edition, Geneva, vol. 1,
2006

2.

Lindgren P K, Karlsson A,
Hughes D 2003. Mutationrate and
evolution
of
fluoroquinolone
resistancein
Escherichia coli
isolates from patients with urinary
tract
infections. Antimicrob
Agent s Chemother. 47: 3222-32.

3.

Darkuni, N. 2001. Mikrobiologi.


Malang: JICA
Amezquita,
A.
and
M.M.
Brashears. 2002. Competitive
inhibition
of
Listeria
monocytogenes in ready-to-eat
meat products by lactic acid
bacteria. Food Protection Journal
65 (2): 316-325
Jimenez-Diaz,
R.,
1993,
Plantaricin S and two
new
bacteriocins
produced
by
Lactobacillus plantarum LPC010

4.

5.

6.

isolated from a green olive


fermentation,
Appl. Environ.
Microbiologi, 59: 1416-1429.
Todorov, S.D., C.A. van Reenen
and
L.M.T.
Dicks.,
2004,
Optimization
of
bacteriocin
production by
Lactobacillus
plantarum T13BR, a strain

7.

isolated from barley beer, J. Gen.


Appl. Microbiol, 50: 149-157
Suarsana,
N.I.,
2011,
Karakterisais
FIsiokimiaBakteriosin yang di
Ekstrak dari Yoghurt, Buletin
veteran udayana, 3 (1): 1-8.