Vous êtes sur la page 1sur 8

PENGUKURAN GAIN, POLA RADIASI, DAN

ISOLASI SILANG PADA ANTENA


I.

Tujuan
:
Melakukan pengukuran penguatan (gain) antena.
Mengetahui pengaruh elemen-lemen antenna terhadap penguatan antenna.
Memahami karakteristik directional dan half-power beamwidth antenna.
Menggambarkan diagram polar pola radiasi horisontal dan vertikal untuk antena

dari hasil pengukuran yang didapat.


Dari diagram polar yang telah diplot, dapat menghitung sidelobe attenuation dan
front-to-back-ratio dari antenna.

II.

Peralatan yang digunakan :


1 Signal Generator
1 Measuring Receiver
2 Antena dipole
1 Antena under test (Antena TV UHF-Yagi Uda 9 elemen)
1 Matching Pad (75 50)
1 Konektor BNC-N
1 Konektor male-male BNC
1 Konektor female-female BNC
2 Kabel RF 50 (2.5 m)
2 Tiang Penyangga

III.

Set Perangkat :
Signal generator
Kalibrasi instrumen signal generator. Pemasangan kabel power, kemudian tekan

tombol On, lalu didiamkan selama 15 menit.


Menentukan jarak antenna Rx dengan antenna Tx
Ukur jarak antenna Tx dan Rx, kemudian samakan pada setiap kali melakukan

percobaan.
Menghitung panjang antenna dipole /2
Gunakan rumus

untuk menentukan panjang antenna. Kemudian, gunakan

penggaris atau alat bantu ukur lain untuk mengukur panjang antenna.
Measuring Receiver
Pasang power supply lalu set tegangan sebesar 12 V. Kemudian beri input measuring
receiver dari power supply dan nyalakan selama 15 menit. Pasang jumper ke antenam
lalu samakan frekuensi pada output dari sinyal generator.

IV.

Prosedur Percobaan :

Pada pengukuran gain antenna dalam percobaan ini, antenna dipole pertama
digunakan sebagai antenna pemancar, sedangkan antenna dipole kedua sebagai anteba
standar (referensi) yang berfungsi sebagai pembanding (dianggap sebagai antenna standar
dengan gain = 2,15 dB). Antena yang diukur (under test) adalah antenna TV VHF.
Antenna ini adalah antenna YAGI UDA ARRAY 9 elemen, yang bekerja pada rentangan
frekuensi 174 MHz sampa 230 MHz.
1. Mengukur level tegangan yang diterina oleh antenna dipole kedua.
Tentukan panjang dari kedua antenna dipole (/2) pada frekuensi 200 MHz dan
tentukan jarak antara dipole 1 (pemancar) dan antenna dipole 2 (penerima).
menyusun diagram pengukuran seperti gambar dibawah.

Signal Generator

Kontrol

Rotator

Measuring Receiver

Gambar 3. Diagram pengukuran gain antena


2. Menghubungkan terlebih dahulu output signal generator dengan memasang antena
dipole yang telah ditentukan panjang gelombangnya.
mengatur signal generator pada frekuensi 202 MHz dan level RF out pada 80 dBV.
Kemudian mematikan RF Output (Off).
3. Memeri catu daya pada Measuring Receiver sebesar 12V (perhatikan polaritas
positif dan negatif).
Mengatur measuring receiver sebagai berikut :
RF ATT
: ON
UNITS
: dBV
FREQ.
: 202 MHz
4. Menghidupkan RF output (On) pada signal generator.
5. Mengatur (dengan menggunakan rotator) arah antenna kedua (penerima) tepat
menghadap antenna pertama (antenna pemancar), sehingga input level Measuring
Receiver menunjukkan nilai maksimum dan atur frekuensi Signal Generator seperti
pada tabel. Mencatat nilai E1 pada Tabel 1.
6. Switch RF output pada pemancar (Signal Generator) OFF.
7. Mengganti antenna kedua dengan antenna under test (Yagi Uda). Mengulangi
langkah 5. Mencatat nilai ini sebagai E2 pada Tabel 1.
8. Menghitung Gain antenna yang diuji.
G(dB) = E2 E1 +2,15 Db
Tabel 1. Pengukuran Gain Antena
Frekuensi (MHz)

E1(dBV)

E2(dBV)

G (dB)

174
181
188

42.4
33.1
34.6

52.1
48.1
47.4

11.85
17.15
14.95

195
202
209
216
223
230

38.3
49.4
47.6
49.1
50.3
49.4

53.4
55.9
54.2
55.8
58.1
55.4

17.25
8.65
8.75
8.85
9.95
8.15

Pengukuran Pola Radiasi Antena


Prosedur percobaan :
A. Pola Radiasi Horizontal
1. Menyusun diagram pengukuran seperti gambar dibawah ini.

..

Signal Generator

Kontrol

Rotator

Measuring Receiver

Gambar 4. Diagram pengukuran


2. Memasang antenna dipole pertama pada pemancar, sedangkan antenna kedua
adalah antenna yagi sebagai antenna yang diukur pada bagian penerima. Kedua
antenna dipasang pada posisi horizontal.
3. mengatur signal generator (berfungsi sebagai pemancar) RF Output 80
dBVdan frekuensi 200 MHz. nilai frekuensi ini adalah frekuensi kerja
4.
5.

6.
7.

antenna yang sudah diset.


Mematikan RF output dari signal generator.
Menghidupkan measuring receiver (berfungsi sebagai penerima), atur
RF ATT : ON
UNITS : dBV
Frekuensi 200 MHz.
Mengatur RF Output Signal Generator ON.
Pada bagian penerima, mengarahkan dengan tepat antenna penerima ke
antenna pemancar sampai level measuring receiver menunjukkan harga
maksimum. Mengatur posisi ini rotator control berada pada posisi 0 (nol)
derajat. Catatlah nilai maksimum ini pada tabel A.

8. Memutarlah antenna penerima (antenna rotator) searah dengan jarum jam


setiap 10 samai 360. Mencatat harga level pada meter pada tabel A.
Tabel 2. Pengukuran Pola Radiasi Horisontal Antena Yagi
Sudut

Level

65.7

Norm
alisasi
0

10

65.4

20

Norm
Sudut
alisasi

Level

Norm
Norma
Sudut Level
lisasi
lisasi
4.1
4
280
53.4

Sudut

Level

100

50.4

1.8

190

54.1

-0.3

110

49.1

-1.3

200

53.2

-0.9

290

54.3

0.9

64.1

-1.3

120

52.8

3.7

210

51.2

-2

300

56.6

2.3

30

63.2

-0.9

130

51.3

-1.5

220

49.9

-1.3

310

59.0

-7.6

40

59.9

-3.3

140

53.5

2.2

230

48.2

-0.7

320

61.3

2.3

50

55.9

-4

150

50.5

-3

240

46.8

-1.4

330

63.6

2.3

60

54.3

-1.6

160

52.1

1.6

250

47.3

0.5

340

64.8

1.2

70

50.9

-3.4

170

51.2

-0.9

260

48.4

1.1

350

65.2

1.4

80

47.5

-3.4

180

50.1

-1.1

270

49.3

0.9

360

65.6

0.4

90

48.6

1.1

Gambar Diagram Polar Pola Radiasi Horizontal Antena Yagi


B. Pola Radiasi Vertikal
9. Mengubah posisi kedua antenna (pemancar dan penerima) pada posisi vertical.
10. Mengulangi langkah 3 sampai 8. Mencatat hasilnya pada tabel B.
Tabel 3. Pengukuran Pola Radiasi Vertikal Antena yagi
Sudut

Level

63.6

Norm
alisasi
0

Sudut

Level

100

58.4

Norm
Sudut
alisasi
2
190

Level
45.8

Norm
Norma
Sudut Level
lisasi
lisasi
0.4
280
60.2
3.8

10

62.8

-0.8

110

56.5

-1.9

200

46.7

0.9

290

61.5

1.3

20

62.2

-0.6

120

55.6

-0.9

210

47.4

0.7

300

61.9

0.4

30

62.6

0.4

130

53.0

-2.6

220

50.6

3.2

310

62.2

0.3

40

62.3

-0.3

140

50.6

-2.4

230

53.0

2.4

320

62.3

0.1

50

62.2

-0.1

150

47.4

-3.2

240

55.6

2.6

330

62.6

0.3

60

61.9

-0.3

160

46.7

-0.7

250

56.3

1.3

340

62.2

-0.4

70

61.5

-0.4

170

45.8

-0.9

260

58.4

2.1

350

62.8

-0.6

80

60.2

-1.3

180

45.4

-0.4

270

56.2

-2

360

63.6

0.8

90

56.4

-3.8

Gambar Diagram Polar Pola Radiasi Vertikal Antena Yagi


Pengaruh Elemen-Elemen Pada Antenna Array (Yagi-Uda)
Prosedur Percobaan
11. Menetapkan pengukuran seperti pengukuran sebelumnya dengan frekuensi 202
MHz dan menyusun diagram pengukuran seperti langkah 7. Mengulangi
langkah 7.
12. Pada langkah berikut, melepas elemen satu persatu sesuai dengan nomor
elemen.

13. Mencatat data pengukuran pada tabel.

Table 4. Pengukuran Pengaruh Elemen-Elemen Pada Antena Yagi


No elemen yang dilepas
1
1
1
1
1
1
1
1

2
2
2
2
2
2
2

3
3
3
3
3
3

4
4
4
4
4

5
5
5
5

6
6
6

8
8

Level (dBV)
54.5
53.9
53.4
53.2
52.9
52.4
52.1
51.9

C. Pola Radiasi Horisontal Antena Folded Dipole


14. Mengganti antenna dipole kedua dengan antenna folded dipole dan mengatur
kedua antenna pada posisi horizontal.
15. Mengulangi langkah 3 sampai 8. Mencatat hasilnya pada tabel C.
Tabel 5. Pengukuran Pola Horisontal Antena Folded Dipole
Sudut

Level

Norm
alisasi

Sudut

Level

Norm
Sudut
alisasi

61.6

100

47.4

0.8

190

58.6

0.1

280

46.7

0.1

10

60.8

-0.8

110

48.9

1.5

200

59.1

-0.5

290

54.7

20

59.5

-1.3

120

49.6

0.7

210

56.3

-2.8

300

56.3

1.6

30

58.5

-1

130

49.9

0.3

220

53.2

-3.1

310

57.9

1.6

40

58.1

-0.4

140

53.2

3.3

230

49.9

-3.3

320

58.1

0.2

50

57.9

-0.2

150

56.3

3.1

240

49.6

-0.3

330

58.5

0.4

60

56.3

-1.6

160

59.1

2.8

250

48.9

-0.7

340

59.5

70

54.7

-1.6

170

58.6

-0.5

260

47.4

-1.5

350

60.8

1.3

80

46.7

-8

180

58.5

-0.1

270

46.6

-0.8

360

61.6

0.8

90

46.6

-0.1

Level

Norm
Norma
Sudut Level
alisasi
lisasi

Gambar Diagram Polar Pola Radiasi Horisontal Antena Folded Dipole


D. Pola Radiasi Horisontal Antena Folded Dipole dan Reflektor
16. Memasang kedua elemen reflector antenna penerima seperti pada gambar
berikut.

17. Mengulangi langkah 3 sampai 8. Mencatat hasilnya pada tabel D.

Tabel 6. Pengukuran Pola Radiasi Horosontal Antena Folded Dipole dan Reflektor
Sudut

Level

62.4

Norm
alisasi
0

10

61.7

20
30

Norm
Sudut
alisasi
-1.1
190

Level

Norm
Norma
Sudut Level
lisasi
lisasi
0.9
5.5
280
52.9

Sudut

Level

100

46.3

-0.7

110

47.6

1.3

200

56.3

0.9

290

56.4

3.5

60.6

-1.1

120

49.3

1.7

210

57.6

1.3

300

57.3

0.9

59.5

-1.1

130

53.8

4.2

220

55.3

-2.3

310

57.8

0.5

55.4

40

58.2

-1.3

140

55.3

1.5

230

53.8

-1.5

320

58.2

0.4

50

57.8

-0.4

150

57.6

2.3

240

49.3

-4.5

330

59.5

1.3

60

57.3

-0.5

160

56.3

-1.1

250

47.6

-1.7

340

60.6

1.1

70

56.4

-0.9

170

55.7

-0.7

260

46.3

-1.3

350

61.7

1.1

80

52.9

-3.5

180

54.5

-1.2

270

47.4

1.1

360

62.4

0.7

90

47.4

-5.5

Gambar Diagram Polar Pola Radiasi Horisontal Antena Folded Dipole dan Reflektor
Dari hasil yang telah diperoleh pada Tabel A sampai Tabel D, plot nilai- nilai tersebut
pada koordinat polar yang tersedia. Kemudian mentukan nilai half-power beamwidth,
attenuation sidelobe dan front-to-back ratio. Terakhir membandingkan hasil data tersebut satu
sama lain.

Apa yang dimaksud dengan isolasi silang? (Cross Isolation)


Palang polarisasi isolasi atau Cross Polarisasi Discrinimation (XPD) adalah perbedaan
dalam dB tingkat sinyal yang diterima (RSL) pada penerima ketika pada gilirannya, pemancar
memiliki polarisasi yang sama dan berbeda dengan penerima. Sebuah antena dengan nilai
yang lebih besar lebih disukai.