Vous êtes sur la page 1sur 41

Sosial-budaya

dalam Kesehatan
Masyarakat
Evi Sovia

Faktor yang mempengaruhi status


kesehatan

Lingkungan yang terdiri dari lingkungan:

fisik
sosial budaya
ekonomi
perilaku
keturunan

Pelayanan kesehatan
Lingkungan sosial budaya tidak saja mempengaruhi status
kesehatan, tetapi juga mempengaruhi perilaku kesehatan (Blum)

Manusia adalah makhluk sosial


Manusia harus hidup bermasyarakat
Manusia adalah makhluk berbudaya yang
dikaruniai akal
Manusia selalu menggunakan akalnya
untuk memecahkan masalah yang
dihadapinya, termasuk masalah
kesehatan

Masyarakat Indonesia terdiri atas banyak


suku budaya yang mempunyai latar
belakang beraneka ragam.
Lingkungan budaya tersebut sangat
mempengaruhi tingkah laku manusia yang
memiliki budaya tersebut, sehingga
dengan keanekaragaman budaya
menimbulkan variasi dalam perilaku
manusia dalam segala hal, termasuk
dalam perilaku kesehatan.

Dengan permasalahan tersebut, maka


petugas kesehatan yang memberikan
pelayanan kesehatan kepada masyarakat
dengan latar belakang budaya yang
beraneka ragam, perlu sekali mengetahui
budaya dan masyarakat yang dilayaninya,
agar pelayanan kesehatan yang diberikan
kepada masyarakat menjadi optimal, yaitu
meningkatkan kesehatan masyarakat.

Masyarakat

Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia


yang berinteraksi sesuai dengan sistem adat
istiadat tertentu yang sifatnya
berkesinambungan, dan terikat oleh rasa
identitas bersama. Koentjaraningrat (Pengantar Antropologi,
1996)

Kelompok manusia yang besar dan mempunyai


kebiasaan, sikap, tradisi, dan perasaan
persatuan yang sama. Gillin dan Gillin dalam bukunya
Culture Sociology (1954)

Unsur masyarakat dapat dikelompokkan


ke dalam 2 bagian, yaitu:
1) Kesatuan sosial
2) Pranata Sosial

Kesatuan sosial merupakan bentuk dan susunan


dari kesatuan-kesatuan individu yang
berinteraksi dalam kehidupan masyarakat yang
meliputi kerumunan, golongan, dan kelompok

Pranata sosial, adalah himpunan norma-norma


dari segala tingkatan yang berkisar pada suatu
kebutuhan pokok dalam kehidupan masyarakat.
Norma-norma tersebut memberikan petunjuk
bagi tingkah laku seseorang yang hidup dalam
masyarakat.

Kebudayaan

Kata budaya berasal dari bahasa


Sansekerta: budhaya, bentuk jamak dari
budhi, yang berarti budi atau akal.

Dengan demikian, kebudayaan diartikan


sebagai hal-hal yang bersangkutan
dengan akal

2 definisi kebudayaan (Koentjaraningrat, 1996:


Pengantar Antropologi), sebagai berikut:
1. Taylor, dalam buku: Primitive Culture: Kebudayaan
sebagai keseluruhan yang kompleks yang didalamnya
terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, dan
kemampuan kesenian, moral, hukum, adat-istiadat, dan
kemampuan lain serta kebiasaan-kebiasaan yang
didapat manusia sebagai anggota masyarakat.
2. Koentjaraningrat: Kebudayaan adalah seluruh
kelakuan dan hasil kelakuan manusia yang teratur oleh
tata kelakuan yang harus didapatkannya dengan belajar
dan yang semuanya tersusun dalam kehidupan
masyarakat.

Unsur budaya (Taylor) ada unsur-unsur


universal yang pasti didapatkan di semua
kebudayaan di dunia, yaitu:
1) sistem religi
2) sistem dan organisasi masyarakat
3) sistem pengetahuan
4) bahasa
5) kesenian
6) mata pencaharian
7) teknologi dan peralatan

Apa manfaat petugas kesehatan


mempelajari unsur kebudayaan dalam
upaya memperbaiki status kesehatan
masyarakat?

Petugas kesehatan perlu juga


mempelajari bahasa lokal dan istilah lokal
tentang penyakit.

Menurut Koentjaraningrat (1996) ada


beberapa konsep untuk mempelajari
kebudayaan suatu masyarakat, adalah:
Menghindari

sikap ethnocentrism, yaitu sikap


yang memberi penilaian tertentu kepada
kebudayaan yang dipelajari. Misal: adanya
sikap bahwa kebudayaan mereka sendiri
yang paling baik
Masyarakat yang hidup di dalam
kebudayaannya sendiri, biasanya tidak
menyadari memiliki kebudayaan, kecuali
apabila mereka memasuki masyarakat lain
dan bergaul dengan masyarakat tersebut

Terdapatnya

variabilitas di dalam perubahan


kebudayaan, atau unsur kebudayaan yang
satu akan lebih sukar berubah bila
dibandingkan dengan unsur kebudayaan lain
Unsur kebudayaan saling kait-mengait

Aspek Sosial budaya yang


mempengaruhi perilaku kesehatan

Ada beberapa aspek sosial yang


mempengaruhi status kesehatan, antara
lain adalah:
1) umur
2) jenis kelamin
3) pekerjaan
4) sosial ekonomi

Dilihat dari golongan umur, maka ada perbedaan


pola penyakit, misalnya: di kalangan balita
banyak yang menderita penyakit infeksi, pada
golongan usia lanjut lebih banyak menderita
penyakit degeneratif maupun kronis, misalnya
hipertensi, penyakit jantung koroner, kanker, dll.
Dalam aspek jenis kelamin, perbedaan penyakit
yang diderita, misalnya kalangan wanita, lebih
banyak menderita penyakit kanker payudara,
sedangkan pria lebih banyak menderita kanker
prostat.

Ada hubungan antara jenis pekerjaan


dengan penyakit, misalnya petani
mempunyai pola penyakit yang berbeda
dengan pola penyakit pekerja industri. Di
kalangan petani banyak yang menderita
penyakit cacing, akibat kerja yang banyak
dilakukan di sawah dengan lingkungan
banyak cacing. Buruh yang bekerja di
industri misalnya pabrik tekstil banyak
yang menderita penyakit saluran
pernapasan karena banyak terpapar debu
dari tekstil.

Keadaan sosial ekonomi berpengaruh pada pola


penyakit, bahkan berpengaruh pada kematian.
Misal: angka kematian lebih tinggi di kalangan
golongan yang status ekonominya rendah
dibandingkan dengan mereka dari golongan
status ekonomi tinggi, obesitas lebih banyak
ditemukan pada golongan masyarakat yang
berstatus ekonomi tinggi, dan sebaliknya
malnutrisi gizi kurang atau buruk banyak
ditemukan di kalangan masyarakat yang status
ekonominya rendah

Beberapa faktor sosial yang berpengaruh


pada perilaku kesehatan (H. Ray Elling (1970),
antara lain:
self

concept
image kelompok
identifikasi individu kepada kelompoknya juga
berpengaruh terhadap perilaku kesehatan
(G.M. Foster (1973))

Pengaruh Self Concept terhadap


perilaku kesehatan

Self concept ditentukan oleh tingkatan kepuasan atau ketidak puasan yang
dirasakan pada diri kita sendiri, terutama bagaimana kita ingin
memperlihatkan diri kepada orang lain.
Apabila orang lain melihat kita positif dan menerima apa yang kita lakukan,
kita akan meneruskan perilaku kita. Tetapi apabila orang lain berpandangan
negatif terhadap perilaku kita dalam jangka waktu lama, akan marasa suatu
keharusan untuk melakukan perubahan perilaku.
Oleh karena itu secara tidak langsung self concept kita cenderung
menentukan, misal: bila kita dipandang negatif karena tubuh kita terlalu
gemuk, kita merasa tidak bahagia, dan akan segera berkonsultasi kepada
ahli diet, atau mulai berolah raga untuk menurunkan berat badan,
Self concept adalah faktor yang penting dalam kesehatan, karena
mempengaruhi perilaku masyarakat dan juga perilaku petugas kesehatan.

Pengaruh image kelompok


terhadap perilaku kesehatan

Image seseorang individu sangat dipengaruhi oleh image kelompok,


misal: anak seorang dokter akan terpapar oleh organisasi
kedokteran dan orang-orang dengan pendidikan tinggi, sedangkan
anak buruh atau petani tidak terpapar dengan lingkungan medis,
dan mungkin juga tidak bercita-cita untuk menjadi dokter.

Dengan demikian, perilaku dari masing-masing anak cenderung


merefleksikan kelompoknya. Contoh lain: keluarga di pedesaan
yang mempunyai kebiasaan untuk menggunakan dukun, akan
berpengaruh terhadap perilaku anaknya dalam mencari pertolongan
pengobatan pada saat mereka sudah berkeluarga.

Pengaruh identifikasi individu kepada


kelompok sosial dan perilaku kesehatan

Pengaruh identifikasi individu kepada kelompok kecilnya sangat


penting untuk memberikan keamanan psikologis dan kepuasan
dalam pekerjaan mereka. Identifikasi tersebut dinyatakan dalam
keluarga besar, kelompok teman, kelompok desa dan lain-lain.
Misal: di sebagian besar desa Amerika Latin, wanita biasanya
mencuci pakaian di tepi sungai, bekerja sama dengan temantemannya sambil mengobrol. Keadaan tersebut sangat
membahagiakan mereka, dan pekerjaan yang dilakukan dirasakan
menjadikan ringan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa faktor sosial dan bukan faktor
keindahan sungai, yang mendorong ibu-ibu mencuci pakaian di
sungai. Timbul masalah, yaitu banyak ibu yang menderita cacingan.
Mereka membangun tempat cuci yang jauh dari sungai. Tempat cuci
tersebut disekat-sekat, dilengkapi dengan tempat penampungan air.

Beberapa bulan pertama, banyak wanita yang mencuci


di tempat cuci yang baru tersebut, tetapi lama kelamaan
tempat cuci yang baru itu tidak digunakan lagi. Ternyata
masalahnya adalah karena dengan ruangan yang
disekat-sekat mereka tidak bisa lagi bekerjasama sambil
mengobrol, sehingga pekerjaan mencuci dirasakan
sebagai pekerjaan yang berat.
Petugas tanggap terhadap masalah tersebut, kemudian
merombak bangunan tempat cuci dengan
menghilangkan sekat-sekat sehingga ibu-ibu dapat
melakukan pekerjaannya dengan teman-temannya
sambil mengobrol (Foster, 1973).
Dengan kasus tersebut, dapat disimpulkan bahwa
inovasi akan berhasil jika kebutuhan sosial masyarakat
diperhatikan. 3:70-79

Aspek budaya yang dapat mempengaruhi


kesehatan seseorang antara lain sbb
(G.M.Foster (1973) :
1) tradisi
2) sikap fatalism
3) nilai
4) ethnocentrism
5) unsur budaya yang dipelajari pada tingkat
awal dari proses sosialisasi terhadap perilaku
kesehatan

Pengaruh tradisi terhadap perilaku


kesehatan dan status kesehatan

terjadi wabah kuru

Pengaruh sikap fatalistis terhadap


perilaku dan status kesehatan

Sikap fatalistis juga mempengaruhi perilaku kesehatan.


Beberapa anggota masyarakat di kalangan kelompok yang
beragama Islam, percaya bahwa anak adalah titipan Tuhan, dan
sakit atau mati itu adalah takdir, sehingga masyarakat kurang
berusaha untuk segera mencari pertolongan pengobatan bagi
anaknya yang sakit atau menyelamatkan seseorang dari kematian.
Contoh: Penelitian Proyek ASUH (Awal Sehat Untuk Hidup Sehat) di
kabupaten Cianjur, ditemukan bahwa di kalangan ibu-ibu yang
beragama Islam percaya bahwa bayi yang mati akan menarik
ibunya ke surga, sehingga ibu-ibu pasrah dan tidak mendorong
mereka untuk segera mencari pertolongan pengobatan bagi bayinya
yang sakit (Hadi Pratomo, dkk., 2003).

Di samping itu ditemukan pula, di kalangan


masyarakat yang beragama Islam di Kalimantan
Selatan
Sikap fatalistik tersebut diketemukan pada
masyarakat Islam di pedesaan Mesir. Menurut
Dr. Fawzy Gandala dari Mesir, yang dikutip oleh
Foster dalam buku Tradisional Societies and
Technological Change (1973), menyatakan
bahwa masyarakat Mesir di pedesaan percaya
bahwa kematian adalah kehendak Allah, dan tak
ada seorang pun yang dapat memperpanjang
kehidupan.

Hal itu dituliskan dalam Al Quran yang


menyatakan bahwa kemana saja kamu pergi,
kematian akan mencari kamu, meskipun kamu
berada dalam rumah yang bangunannya kuat.
Zeinab Shahin dan dikutip oleh Foster (1973),
terdapat pepatah yang mengungkapkan sbb:
Meskipun anda lari, secepat binatang buas
tetapi tetap anda tidak akan terhindar dari apa
yang telah ditakdirkan Tuhan.

Pengaruh sikap ethnocentris


terhadap perilaku kesehatan

Sikap ethnocentris adalah sikap yang memandang kebudayaan


sendiri, yang paling baik jika dibandingkan dengan kebudayaan
pihak lain. Misal: Orang barat merasa bangga terhadap kemajuan
ilmu dan teknologi yang dimilikinya, dan selalu beranggapan bahwa
kebudayaannya yang paling maju, sehingga merasa superior
terhadap budaya dari masyarakat yang sedang berkembang.:
Tetapi di sana di sisi lain, semua anggota dari budaya lainnya,
menganggap bahwa apa yang dilakukan secara alamiah adalah
yang terbaik. Contoh: orang Eskimo beranggapan bahwa orang
Eropa datang ke negaranya untuk memperlajari sesuatu yang baik
bagi bangsa Eskimo.

Menurut pandangan kaum relativistis tidak benar


menilai budaya lain dari kacamata budaya
sendiri, karena kedua budaya tersebut berbeda.
Oleh karena itu, sebagai petugas kesehatan
harus menghindari sikap menganggap bahwa
petugas adalah orang yang paling pandai, paling
mengetahui tentang masalah kesehatan karena
pendidikan petugas lebih tinggi dari masyarakat
setempat, sehingga tidak perlu
mengikutsertakan masyarakat tersebut dalam
mengatasi masalah kesehatan masyarakat.
Dalam hal ini, memang lebih mengetahui dan
menguasai tentang masalah kesehatan, tetapi
masyarakat dimana mereka berada lebih
mengetahui keadaan di masyarakatnya sendiri.

Pengaruh perasaan bangga pada


statusnya, terhadap perilaku kesehatan

Perasaan bangga terhadap budayanya berlaku pada


semua orang.
Merle S. Farland menyampaikan pengalaman kerjanya
di Taiwan dalam program kesehatan ibu dan anak. Di
Taiwan, extended family atau keluarga luas masih
berpengaruh kuat terhadap perilaku anggota
keluarganya. Ia menemukan kasus seorang ibu muda
dicegah oleh wanita dari generasi yang lebih tua untuk
memeriksakan kehamilannya kepada bidan, meskipun
ibu muda tersebut sudah termotivasi untuk
menggunakan pelayanan bidan (Foster, 1973).

Dalam melakukan upaya perbaikan gizi di kecamatan


Pasar Minggu (Kresno, Sudarti, 1976) masalah yang
diketemukan adalah masyarakat petani di daerah
tersebut menolak makan daun singkong (ketela pohon)
meskipun mereka mengetahui dari petugas kesehatan
bahwa kandungan vitaminnya tinggi. Setelah dilakukan
pertemuan dengan masyarakat beranggapan daun
singkong hanya pantas untuk makanan kambing dan
mereka menolaknya karena status mereka tidak dapat
disamakan dengan kambing

Pengaruh norma terhadap perilaku


kesehatan

Norma yang berpengaruh dan berlaku di masyarakat sangat


mempengaruhi perilaku kesehatan dari anggota masyarakat yang
mendukung norma tersebut.
Sebagai contoh: di beberapa negara di Amerika Latin dan negara
lainnya yang masyarakatnya beragama Islam berlaku norma untuk
tidak diperbolehkan seorang wanita berhubungan dengan laki-laki
yang bukan muhrimnya. Norma tersebut berdampak pada perilaku
wanita, dimana yang bersangkutan tidak mau memeriksakan
kandungannya kepada dokter laki-laki karena bukan muhrimnya.
Untuk memecahkan masalah tersebut, pemeriksaan kehamilan bisa
dilakukan oleh dokter wanita.

Tetapi masyarakat Micronesia di Pulau Yap,


seorang wanita menolak dokter laki-laki untuk
memeriksa genitalnya, tetapi lebih menolak
untuk diperiksa oleh dokter wanita, karena
potensial dalam menarik perhatian laki-laki,
wanita lain dipandang sebagai saingan. Mereka
percaya bahwa hal tersebut akan mengancam
hilangnya perhatian laki-laki terhadap mereka
(G.M.Foster, 1973).

Masalah terjadi pada masyarakat beragama


Islam di Indonesia pada awal KB diperkenalkan,
di daerah Serpong sekitar tahun 1976, akseptor
KB menurun pada puskesmas yang pelayan
KB-nya dipegang oleh dokter laki-laki (Kresno,
Sudarti, 1976).

Pengaruh nilai terhadap perilaku


kesehatan

Nilai yang berpengaruh di dalam masyarakat,


berpengaruh terhadap perilaku kesehatan.
Nilai-nilai tersebut, ada yang menunjang dan ada yang
merugikan kesehatan.
Nilai yang merugikan kesehatan misalnya adanya
penilaian yang tinggi terhadap beras putih, meskipun
masyarakat mengetahui bahwa beras merah lebih
banyak mengandung Vitamin B1 jika dibandingkan
dengan beras putih. Masyarakat lebih memberikan nilai
yang tinggi bagi beras putih, karena mereka menilai
beras putih lebih enak dan lebih bersih.

Contoh lain: masih banyak petugas


kesehatan yang merokok meskipun
mereka mengetahui bagaimana
bahayanya merokok terhadap kesehatan.
Memberikan nilai tinggi untuk perilaku
merokok, karena rokok memberikan
kenikmatan, sedangkan bahaya merokok
tidak dapat segera dirasakan

Pengaruh konsekuensi diri inovasi


terhadap perilaku kesehatan

Apabila pendidik kesehatan ingin melakukan perubahan


perilaku kesehatan masyarakat, maka yang harus
dipikirkan, adalah konsekuensi apa yang akan terjadi jika
melakukan perubahan, menganalisis faktor-faktor yang
terlibat (berpengaruh) pada perubahan, dari berusaha
untuk memprediksi tentang apa yang akan terjadi
dengan perubahan tersebut.
Apabila mengetahui budaya masyarakat setempat, dan
mengetahui proses perubahan kebudayaan, maka harus
mengantisipasi reaksi yang akan muncul, yang
mempengaruhi outcome dari perubahan yang telah
direncanakan.

Misal: masyarakat India di pedesaan,


menggunakan kayu untuk memasak, dan di
dapur tidak ada cerobong asap, dapur penuh
dengan asap yang mengakibatkan banyaknya
yang sakit pernapasan dan mata. Petugas
menjual cerobong asap kepada masyarakat
dengan harga murah, tetapi mengalami
kegagalan di rumah penduduk banyak semut
putih (rayap) yang merusak kayu, karena tidak
ada asap yang dapat mematikan semut putih.
Semut tersebut akan mati kalau kena asap.
Akibatnya biaya yang dikeluarkan untuk
perbaikan rumah makin banyak. Pemasangan
cerobong asap tidak bisa diterima, kerugiannya
dianggap lebih tinggi dari pada keuntungannya.

Pengaruh unsur budaya yang dipelajari


pada tingkat awal dari proses sosialisasi
terhadap perilaku kesehatan

Pada tingkat awal proses sosialisasi, seorang


anak diajarkan antara lain bagaimana cara
makan, bahan makanan apa yang dimakan,
cara buang air kecil dan besar, dll. Kebiasaan
tersebut terus dilakukan sampai anak tersebut
dewasa, dan bahkan menjadi tua. Kebiasaan
tersebut sangat mempengaruhi perilaku
kesehatan dan sulit untuk diubah.

Misal: manusia yang biasa makan nasi


sejak kecil akan sulit untuk diubah
kebiasaan makannya setelah dewasa
dengan makanan pokok lainnya. Oleh
karena itu, upaya untuk menganjurkan
kepada masyarakat untuk makan
makanan yang beraneka ragam harus
dimulai sejak kecil.

TERIMA KASIH