Vous êtes sur la page 1sur 12

BAB I

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Abortus atau dalam bahasa awam biasa disebut keguguran atau aborsi merupakan
masalah medis yang sering terjadi pada pasangan pada umur reproduktif, kurang lebih
25% dari wanita-wanita yang mencoba untuk hamil mengalami minimal satu kali abortus
spontan.1
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat
hidup di luar kandungan. Sebagai batasan ialah kehamilan kurang dari 20 minggu atau
berat janin kurang dari 500 gram. Abortus secara umum dibagi menjadi dua yaitu abortus
spontan dan abortus provokatus. Abortus spontan merupakan abortus yang berlangsung
tanpa tindakan dan abortus provokatus adalah abortus yang terjadi dengan sengaja
dilakukan tindakan.2
Abortus merupakan suatu kejadian yang emosional bagi kebanyakan individu, dan
bagi seorang dokter memiliki tanggung jawab untuk memberikan penjelasan dan
konseling. Diperkirakan 0,5-1% pasang yang mencoba untuk hamil mengalami 3 atau
lebih kehilangan konsekutif, dan proporsi yang lebih besar lagi mengalami 2 atau lebih
kehilangan konsekutif. Kurang lebih 50% kehamilan mengalami aborsi sebelum cukup
waktu. Diperkirakan 10-12% dari semua kehamilan diketahui abortus secara klinis pada
trimester pertama dan awal trimester kedua. Angka kematian aborsi pada kehamilan lebih
dari 14 minggu lebih rendah daripada abortus pada masa pre-embrionik dan embrionik.1
Angka kejadian abortus sangat dipengaruhi oleh riwayat kehamilan pasien
sebelumnya. Baik abortus spontan dan kematian janin lebih sering terjadi pada wanita
dengan riwayat abortus sebelumnya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya
1

abortus, namun belum diketahui apakah hal-hal tersebut juga mempengaruhi abortus
yang secara klinis tidak bergejala. Frekuensi abortus meningkat dua kali lipat pada 12
persen wanita berusia kurang dari 20 tahun terhadap 26 persen pada usia lebih dari 40
tahun. Lebih dari 80 persen abortus spontan terjadi pada 12 minggu awal. Setelah
trimester ketiga, baik angka kejadian abortus dan insiden anomali kromosomal menurun.3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Abortus yang berlangsung tanpa tindak disebut abortus spontan, sedangkan abortus
yang terjadi dengan sengaja dilakukan tindakan disebut abortus provokatus. Abortus
provokatus dibagi menjadi 2 kelompok yaitu abortus provokatus medisinalis dan
abortus

provokatus

kriminalis.

Disebut

medisinalis

bila

didasarkan

pada

pertimbangan dokter untuk menyelamatkan ibu. Di sini pertimbangan dilakukan oleh


minimal 3 dokter spesialis yaitu spesialis kebidanan dan kandungan, spesialis
Penyakit Dalam, dan Spesialis Jiwa. Bila perlu dapat ditambah pertimbangan oleh
tokoh agama terkait. Setelah dilakukan terminasi kehamilan, harus diperhatikan agar
ibu dan suaminya tidak terkena trauma psikis di kemudian hari.
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat
hidup di luar kandungan. Sebagai batasan ialah kehamilan kurang dari 20 minggu
atau berat janin kurang dari 500 gram. Abortus secara umum dibagi menjadi dua yaitu
abortus spontan dan abortus provokatus. Abortus spontan merupakan abortus yang
berlangsung tanpa tindakan dan abortus provokatus adalah abortus yang terjadi
dengan sengaja dilakukan tindakan.2
B. Epidemiologi
Angka kejadian abortus sukar ditentukan karena abortus provakatus banyak yang
tidak dilaporkan, kecuali bila sudah terjadi komplikasi. Abortus spontan dan tidak
jelas umur kehamilannya, hanya sedikit memberikan gejala atau tanda sehingga
biasanya ibu tidak melapor atau berobat. Sementara itu, dari kejadian yang diketahui,
15-20% merupakan abortus spontan atau kehamilan ektopik. Sekitar 5% dari

pasangan yang mencoba hamil akan mengalami 2 keguguran yang berurutan, dan
sekitar 1% dari pasangan mengalami 3 atau lebih keguguran yang berurutan.2
Rata-rata terjadi 114 kasus abortus per jam. Sebagian besar studi menyatakan
kejadian abortus spontan 15-20% dari semua kehamilan. Kalau dikaji lebih jauh
kejadian abortus sebenarnya bisa mendekati 50%. Hal ini dikarenakan tingginya
angka chemical pregnancy loss yang tidak bisa diketahui pada 2-4 minggu setelah
konsepsi. Sebagian besar kegagalan kehamilan ini dikarenakan kegagalan gamet
(misalnya sperma dan disfungsi oosit). Pada 1988 Wilcox dan kawan-kawan
melakukan studi terhadap 221 perempuan yang diikuti selama 707 siklus haid total.
Didapatkan total 198 kehamilan, dimana 43 (22%) mengalami abortus sebelum saat
haid berikutnya.2
Abortus habitualis adalah abortus yang terjadi berulang tiga kali secara berturutturut. Kejadiannya sekitar 3-5%. Data dari beberapa studi menunjukkan bahwa
setelah 1 kali abortus spontan, pasangan punya risiko 15% untuk mengalami
keguguran lagi, sedangkan bila pernah 2 kali, risikonya akan meningkat 25%.
Beberapa studi meramalkan bahwa risiko abortus setelah 3 abortus berurutan adalah
30-45%.
C. Etiologi
Penyebab abortus (early pregnancy loss) bervariasi dan sering diperdebatkan.
Umumnya lebih dari satu penyebab. Penyebab terbanyak di antaranya adalah sebagai
berikut.2
1. Faktor genetik. Translokasi parental keseimbangan genetik
a. Mendelian
b. Multifactor
c. Robertsonian
d. resiprokal
2. Kelainan kongenital uterus
a. Anomali duktus Mulleri
b. Septum uterus
4

3.

4.

5.
6.
7.

c. Uterus bikornis
d. Inkompetensi serviks uterus
e. Mioma uteri
f. Sindroma Asherman
Autoimun
a. Aloimun
b. Mediasi imunitas humoral
c. Mediasi imunitas seluler
Defek fase luteal
a. Faktor endokrin eksternal
b. Antibodi antitiroid hormon
c. Sintesis LH yang tinggi
Infeksi
Hematologik
Lingkungan
Usia kehamilan saat terjadinya abortus bisa memberi gambaran tentang

penyebabnya. Sebagai contoh, antiphospholipid (APS) dan inkompetensi serviks


sering terjadi setelah trimester pertama.

D. Klasifikasi Abortus
Dikenal berbagai macam abortus sesuai dengan gejala, tanda, dan proses patologi
yang terjadi.2
1. Abortus Iminens
Abortus tingkat permulaan dan merupakan ancaman terjadinya abortus, ditandai
perdarahan pervaginam, ostium uteri masih tertutup dan hasil konsepsi masih baik
dalam kandungan.
2. Abortus insipiens
Abortus yang sedang mengancam yang ditandai dengan serviks telah mendatar
dan ostium uteri telah membuka, akan tetapi hasil konsepsi masih dalam kavum
uteri dan dalam proses pengeluaran
3. Abortus Kompletus

Seluruh hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri pada kehamilan kurang dari
20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.
4. Abortus Inkompletus
Sebagian hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri dan masih ada yang
tertinggal.
5. Missed Abortion
Abortus yang ditandai dengan embrio atau fetus telah meninggal dalam
kandungan sebelum kehamilan 20 minggu dan hasil konsepsi seluruhnya masih
tertahan dalam kandungan.
6. Abortus Habitualis
Abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturut-turut.
7. Abortus Infeksiosus, Abortus Septik
Abortus yang disertai infeksi pada alat genitalia. Abortus septik ialah abortus yang
disertai penyebaran infeksi pada peredaran darah tubuh atau peritoneum
(septicemia atau peritonitis).
8. Kehamilan Anembriogenik (Blighted Ovum)
Kehamilan patologi dimana mudigah tidak terbentuk sejak awal walaupun
kantong gestasi tetap terbentuk.
E. Manifestasi Klinis
Pada abortus didapatkan manifestasi klinis berupa4:
1. Terlambat haid atau amenore kurang dari 20 minggu
2. Pada pemeriksaan fisik: keadaan umum tampak lemah atau cepat dan kecil, suhu
badan normal atau meningkat
3. Perdarahan pervaginam, mungkin disertai keluarnya jaringan hasil konsepsi.
4. Rasa mulas atau keram perut di daerah atas simfisis, sering disertai nyeri
pinggang akibat kontraksi uterus.
5. Pemeriksaan ginekologi:
a. Inspeksi vulva: perdarahan pervaginam, ada tidak jaringan hasil konsepsi,
tercium/tidak bau busuk dari vulva
b. Inspekulo: perdarahan dari kavum uteri, ostium uteri terbuka atau sudah
tertutup, ada/tidak jaringan keluar dari ostium, ada/tidak cairan atau
jaringan berbau busuk dari ostium

c. Colok vagina: porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau tidak
jaringan dalam kavum uteri, besar litems sesuai atau lebih kecil dari usia
kehamilan, tidak nyeri saat porsio digoyang, tidak nyeri pada perabaan
adneksa, kavum douglasi tidak menonjol dan tidak nyeri.
F. Penatalaksanaan
Manajemen tatalaksana abortus disesuaikan dengan jenis abortusnya, yaitu2:
1. Abortus Iminens
Pengelolaan penderita dengan abortus iminens sangat bergantung pada informed
consent yang diberikan. Bila ibu ini masih menghendaki kehamilan tersebut,
maka pengelolaan harus maksimal untuk mempertahankan kehamilan ini.
Pemeriksaan USG diperlukan untuk mengetahui pertumbuhan janin yang ada dan
mengetahui keadaan plasenta apakah sudah terjadi pelepasan atau belum.
Diperhatikan ukuran biometri janin/kantong gestasi apakah sesuai dengan umur
kehamilan berdasarkan HPHT. Denyut jantung janin dan gerakan janin
diperhatikan di samping ada tidaknya hematoma retroplasenta atau pembukaan
kanalis servikalis. Pemeriksaan USG dapat dilakukan baik secara transabdominal
maupun transvaginal. Penderita diminta melakukan tirah baring sampai
perdarahan berhenti. Bisa diberi spasmolitik agar uterus tidak berkontraksi atau
diberi tambahan hormon progesteron atau derivatnya untuk mencegah terjadinya
abortus. Obat-obatan ini walaupun secara statistik kegunaannya tidak bermakna,
tetapi efek psikologis kepada penderita sangat menguntungkan. Penderita boleh
dipulangkan setelah tidak terjadi perdarahan dengan pesan khusus tidak boleh
berhubungan seksual dulu sampai kurang lebih 2 minggu.
2. Abortus Insipiens
Pengelolaan penderita ini harus memperhatikan keadaan umum dan perubahan
keadaan

hemodinamik

yang
7

terjadi

dan

segera

lakukan

tindakan

evakuasi/pengeluaran hasil konsepsi disusul dengan kuretase bila perdarahan


banyak. Pada umur kehamilan di atas 12 minggu, uterus biasanya sudah melebihi
telur angsa tindakan evakuasi dan kuretase harus hati-hati, kalau perlu dilakukan
evakuasi dengan cara digital yang kemudian disusul dengan tindakan kuretase
sambil diberikan uterotonika. Hal ini diperlukan untuk mencegah terjadinya
perforasi pada dinding uterus. Pasca tindakan perlu perbaikan keadaan umum,
pemberian uterotonika, dan antibiotika profilaksis.
3. Abortus Kompletus
Pengelolaan penderita tidak memerlukan tindakan khusus ataupun pengobatan.
Biasanya hanya diberi roboransia atau hematenik bila keadaan pasien
memerlukan. Uterotonika tidak perlu diberikan.
4. Abortus Inkompletus
Pengelolaan pasien harus diawali dengan perhatian terhadap keadaan umum dan
mengatasi gangguan hemodinamik yang terjadi untuk kemudian disiapkan
tindakan kuretase. Bila terjadi perdarahan hebat dianjurkan segera melakukan
pengeluaran sisa hasil konsepsi secara manual agar jaringan yang mengganjal
terjadinya kontraksi uterus segera dikeluarkan, kontraksi uterus dapat berlangsung
baik dan perdarahan bisa berhenti. Tindakan kuretase harus dilakukan secara hatihati sesuai dengan keadaan umum ibu dan besarnya uterus. Tindakan yang
dianjurkan ialah dengan karet vakum menggunakan kanula dari plastic.
Pascatindakan perlu diberikan uterotonika parenteral ataupun per oral dan
antibiotika.
5. Missed Abortion
Pengelolaan missed abortion perlu diutarakan kepada pasien dan keluarganya
secara baik karena risiko tindakan operasi dan kuretase ini dapat menimbulkan
komplikasi perdarahan atau tidak bersihnya evakuasi/kuretase dalam sekali

tindakan. Faktor mental penderita juga perlu diperhatikan. Pada umur kehamilan
kurang dari 12 minggu tindakan evakuasi dapat dilakukan secara langsung dengan
melakukan dilatasi dan kuretase bila serviks uterus memungkinkan. Bila umur
kehamilan di atas 12 minggu atau kurang dari 20 minggu dengan keadaan serviks
uterus yang masih kaku dinajurkan untuk melakukan induksi terlebih dahulu
untuk mengeluarkan janin atau mematangkan kanalis servikalis. Beberapa cara
dapat dilakukan antara lain dengan pemberian infus intravena cairan oksitosin
dimulai dari dosis 10 unit dalam 500cc dekstrose 5% tetesan 20 tetes per menit
dan dapat diulangi sampai total oksitosin 50 unit dengan tetesan dipertahankan
untuk mencegah terjadinya retensi cairan tubuh. Jika tidak berhasil penderita
diistirahatkan satu hari dan kemudian induksi diulangi biasanya maksimal 3 kali.
Setelah janin atau jaringan konsepsi berhasil keluar dengan induksi ini dilanjutkan
dengan tindakan kuretase sebersih mungkin.
6. Abortus Habitualis
Pengelolaan penderita inkompetensia serviks dianjurkan untuk periksa hamil
seawal mungkin dan bila dicurigai adanya inkompetensia serviks harus dilakukan
tindakan untuk memberikan fiksasi pada serviks agar dapat menerima beban
dengan berkembangnya umur kehamilan. Operasi dilakukan pada umur
kehamilan 12-14 minggu dengan cara SHRODKAR atau McDONALD dengan
melingkari kanalis servikalis dengan benang sutera/MERSILENE yang tebal dan
simpul baru dibuka setelah umur kehamilan aterm dan bayi siap dilahirkan.
7. Abortus Infeksiosus, Abortus Septik
Pengelolaan pasien ini harus mempertimbangkan keseimbangan cairan tubuh dan
perlunya pemberian antibiotika yang adekuat sesuai dengan hasil kultur dan
sensitivitas kuman yang diambil dari darah dan cairan fluksus/fluor yang

keluarnya pervaginam. Untuk tahap pertama dapat diberikan Penisilin 4x1,2 juta
unit atau Ampisilin 4x1 gram ditambah Gentamisin 2x80 mg dan Metronidazole
2x1 gram. Selanjutnya antibiotik disesuaikan dengan hasil kultur. Tindakan
kuretase dilaksanakan bila keadaan tubuh sudah membaik minimal 6 jam setelah
antibiotika adekuat diberikan. Jangan lupa pada saat tindakan uterus dilindungi
dengan uterotonika. Antibiotik dilanjutkan sampai 2 hari bebas demam dan bila
dalam waktu 2 hari pemberian tidak memberikan respons harus diganti dengan
antibiotik fyang lebih sesuai. Apabila ditakutkan terjadi tetanus, perlu ditambah
dengan injeksi ATS dan irigasi kanalis vagina/uterus dengan larutan peroksida
(H2O2) kalau perlu histerektomi total secepatnya.
8. Kehamilan Anembriogenik (Blighted Ovum)
Pengelolaan kehamilan anembrionik dilakukan terminasi kehamilan dengan
dilatasi dan kuretase secara elektif.

10

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Abortus merupakan suatu kejadian yang emosional bagi kebanyakan individu, dan bagi
seorang dokter memiliki tanggung jawab untuk memberikan penjelasan dan konseling.
Angka kejadian abortus sukar ditentukan karena abortus provakatus banyak yang tidak
dilaporkan, kecuali bila sudah terjadi komplikasi. Abortus spontan dan tidak jelas umur
kehamilannya, hanya sedikit memberikan gejala atau tanda sehingga biasanya ibu tidak
melapor atau berobat.
Saran
Perlunya sosialisasi tentang abortus kepada masyarakat sehingga angka morbiditas dan
mortalitas akibat abortus dapat ditekan.

11

DAFTAR PUSTAKA

1. Reece EA, Hobbins JC, editors. Clinical Obstetrics The Fetus & Mother. 3rd ed.
Massachusetts: Blackwell Publishing Ltd.; 2007.
2. Saifuddin AB, Rachimhadhi T, Wiknjosastro GH, editors. Ilmu Kebidanan Sarwono
Prawirohardjo. 4th ed. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2008.
3. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Hauth JC, Rouse DJ, Spong CY, editors.
Williams Obstetrics. 23rd ed. USA: McGraw-Hill; 2010.
4. Mansjoer Arif, dkk. Kapita Selekta Kedokteran Edisi III Jilid 1. Jakarta: Media

Aesculapius; 2001.

12