Vous êtes sur la page 1sur 15

ASMA

A. Pengertian
Asma merupakan sebuah penyakit kronik saluran napas yang terdapat di
seluruh dunia dengan kekerapan bervariasi yang berhubungan dengan dengan
peningkatan kepekaan saluran napas sehingga memicu episode mengi berulang
(wheezing), sesak napas (breathlessness), dada rasa tertekan (chest tightness),
dispnea, dan batuk (cough) terutama pada malam atau dini hari. (PDPI, 2006;
GINA, 2009).
Menurut National Heart, Lung and Blood Institute (NHLBI, 2007), pada
individu yang rentan, gejala asma berhubungan dengan inflamasi yang akan
menyebabkan obstruksi dan hiperesponsivitas dari saluran pernapasan yang
bervariasi derajatnya.
B. Epidemiologi
Asma merupakan penyakit kronik yang paling umum di dunia, dimana
terdapat 300 juta penduduk dunia yang menderita penyakit ini. Asma dapat
terjadi pada anak-anak maupun dewasa, dengan prevalensi yang lebih besar
terjadi pada anak-anak (GINA, 2003).
Menurut data studi Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) di berbagai
propinsi di Indonesia, pada tahun 1986 asma menduduki urutan kelima dari
sepuluh penyebab kesakitan (morbiditas) bersama-sama dengan bronkitis
kronik dan emfisema. Pada SKRT 1992, asma, bronkitis kronik, dan emfisema
sebagai penyebab kematian (mortalitas) keempat di Indonesia atau sebesar
5,6%. Lalu pada SKRT 1995, dilaporkan prevalensi asma di seluruh Indonesia
sebesar 13 per 1.000 penduduk (PDPI, 2006).
Dari hasil penelitian Riskesdas, prevalensi penderita asma di Indonesia
adalah sekitar 4%. Menurut Sastrawan, dkk (2008), angka ini konsisten dan
prevalensi asma bronkial sebesar 515%.

C. Faktor Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Asma


Adapun faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian asma adalah:
1. Imunitas dasar
Mekanisme imunitas terhadap kejadian inflamasi pada asma
kemungkinan terjadi ekspresi sel Th2 yang berlebihan (NHLBI, 2007).
Menurut Moffatt, dkk (2007), gen ORMDL3 mempunyai hubungan kuat
sebagai faktor predisposisi asma.
2. Umur
Insidensi tertinggi asma biasanya mengenai anak-anak (7-10%), yaitu
umur 5 14 tahun. Sedangkan pada orang dewasa, angka kejadian asma
lebih kecil yaitu sekitar 3-5% (Asthma and Allergy Foundation of America,
2010). Menurut studi yang dilakukan oleh Australian Institute of Health and
Welfare (2007), kejadian asma pada kelompok umur 18 34 tahun adalah
14% sedangkan >65 tahun menurun menjadi 8.8%. Di Jakarta, sebuah studi
pada RSUP Persahabatan menyimpulkan rerata angka kejadian asma adalah
umur 46 tahun (Pratama dkk, 2009).
3. Jenis Kelamin
Menurut GINA (2009) dan NHLBI (2007), jenis kelamin laki-laki
merupakan sebuah faktor resiko terjadinya asma pada anak-anak. Akan
tetapi, pada masa pubertas, rasio prevalensi bergeser dan menjadi lebih
sering terjadi pada perempuan (NHLBI, 2007). Pada manusia dewasa tidak
didapati perbedaan angka kejadian asma di antara kedua jenis kelamin
(Maryono, 2009).
4. Faktor pencetus
Paparan terhadap alergen merupakan faktor pencetus asma yang
paling penting. Alergen allergen ini dapat berupa kutu debu, kecoak,
binatang, dan

polen/tepung sari. Kutu debu umumnya ditemukan pada

lantai rumah, karpet dan tempat tidur yang kotor. Kecoak telah dibuktikan
menyebabkan sensitisasi alergi, terutama pada rumah di perkotaan (NHLBI,
2007). Menurut Ownby dkk (2002) dalam GINA (2009), paparan terhadap
binatang, khususnya bulu anjing dan kucing dapat meningkatkan sensitisasi

alergi asma. Konsentrasi polen di udara bervariasi pada setiap daerah dan
biasanya dibawa oleh angin dalam bentuk partikel partikel besar.
Iritan iritan berupa paparan terhadap rokok dan bahan kimia juga
telah dikaitkan dengan kejadian asma. Dimana rokok diasosiasikan dengan
penurunan fungsi paru pada penderita asma, meningkatkan derajat
keparahan asma, dan mengurangi responsivitas terhadap pengobatan asma
dan pengontrolan asma. Menurut Dezateux dkk (1999), balita dari ibu yang
merokok mempunyai resiko 4 kali lebih tinggi menderita kelainan seperti
mengi dalam tahun pertama kehidupannya.
Kegiatan fisik yang berat tanpa diselingi istirahat yang adekuat juga
dapat memicu terjadinya serangan asma (Nurafiatin dkk, 2007). Riwayat
penyakit infeksi saluran pernapasan juga telah dihubungkan dengan
kejadian asma. Menurut sebuat studi prospektif oleh Sigurs dkk (2000),
sekitar 40% anak penderita asma dengan riwayat infeksi saluran pernapasan
(Respiratory syncytial virus) akan terus menderita mengi atau menderita
asma dalam kehidupannya.
5. Status sosioekonomik
Mielck

dkk

(1996)

menemukan

hubungan

antara

status

sosioekonomik / pendapatan dengan prevalensi derajat asma berat. Dimana,


prevalensi derajat asma berat paling banyak terjadi pada penderita dengan
status sosioekonomi yang rendah, yaitu sekitar 40%.
D. Diagnosis
Seperti pada penyakit lain, diagnosis penyakit asma dapat ditegakkan
dengan anamnesis yang baik. Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan faal paru
akan lebih meningkatkan nilai diagnostik.
1. Anamnesis
Anamnesis yang baik meliputi riwayat tentang penyakit/gejala, yaitu:
a. Asma bersifat episodik, sering bersifat reversibel dengan atau tanpa
pengobatan

b. Asma biasanya muncul setelah adanya paparan terhadap alergen, gejala


musiman, riwayat alergi/atopi, dan riwayat keluarga pengidap asma
c. Gejala asma berupa batuk, mengi, sesak napas yang episodik, rasa berat
di dada dan berdahak yang berulang
d. Gejala timbul/memburuk terutama pada malam/dini hari
e. Mengi atau batuk setelah kegiatan fisik
f. Respon positif terhadap pemberian bronkodilator
2. Pemeriksaan Fisik
Gejala asma bervariasi sepanjang hari sehingga pemeriksaan fisik
dapat normal (GINA, 2009). Kelainan pemeriksaan fisik yang paling umum
ditemukan pada auskultasi adalah mengi. Pada sebagian penderita,
auskultasi dapat terdengar normal walaupun pada pengukuran objektif (faal
paru) telah terdapat penyempitan jalan napas. Oleh karena itu, pemeriksaan
fisik akan sangat membantu diagnosis jika pada saat pemeriksaan terdapat
gejala-gejala obstruksi saluran pernapasan (Chung, 2002).
Sewaktu mengalami serangan, jalan napas akan semakin mengecil
oleh karena kontraksi otot polos saluran napas, edema dan hipersekresi
mukus. Keadaan ini dapat menyumbat saluran napas; sebagai kompensasi
penderita akan bernapas pada volume paru yang lebih besar untuk
mengatasi jalan napas yang mengecil (hiperinflasi). Hal ini akan
menyebabkan timbulnya gejala klinis berupa batuk, sesak napas, dan mengi
(GINA, 2009).
3. Faal Paru
Pengukuran faal paru sangat berguna untuk meningkatkan nilai
diagnostik. Ini disebabkan karena penderita asma sering tidak mengenal
gejala dan kadar keparahannya, demikian pula diagnosa oleh dokter tidak
selalu akurat. Faal paru menilai derajat keparahan hambatan aliran udara,
reversibilitasnya, dan membantu kita menegakkan diagnosis asma. Akan
tetapi, faal paru tidak mempunyai hubungan kuat dengan gejala, hanya
sebagai informasi tambahan akan kadar kontrol terhadap asma (Pellegrino
dkk, 2005). Banyak metode untuk menilai faal paru, tetapi yang telah

dianggap sebagai standard pemeriksaan adalah: pemeriksaan spirometri dan


Arus Puncak Ekspirasi meter (APE).
Pemeriksaan spirometri merupakan pemeriksaan hambatan jalan napas
dan reversibilitas yang direkomendasi oleh GINA (2009). Pengukuran
volume ekspirasi paksa detik pertama (VEP1) dan kapasiti vital paksa
(KVP) dilakukan dengan manuver ekspirasi paksa melalui spirometri. Untuk
mendapatkan hasil yang akurat, diambil nilai tertinggi dari 3 ekspirasi.
Banyak penyakit paru-paru menyebabkan turunnya angka VEP1. Maka dari
itu, obstruksi jalan napas diketahui dari nilai VEP1 prediksi (%) dan atau
rasio VEP1/KVP (%).
Pemeriksaan dengan APE meter walaupun kurang tepat, dapat dipakai
sebagai alternatif dengan memantau variabilitas harian pagi dan sore (tidak
lebih dari 20%). Untuk mendapatkan variabiliti APE yang akurat, diambil
nilai terendah pada pagi hari sebelum mengkonsumsi bronkodilator selama
satu minggu (Pada malam hari gunakan nilai APE tertinggi). Kemudian
dicari persentase dari nilai APE terbaik (PDPI, 2006).
E. Penatalaksanaan
Tujuan utama dari penatalaksanaan asma adalah dapat mengontrol
manifestasi klinis dari penyakit untuk waktu yang lama, meningkatkan dan
mempertahankan kualitas hidup agar penderita asma dapat hidup normal tanpa
hambatan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. GINA (2009) dan PDPI
(2006) menganjurkan untuk melakukan penatalaksanaan berdasarakan kontrol.
Untuk mencapai dan mempertahankan keadaan asma yang terkontrol
terdapat dua faktor yang perlu dipertimbangkan, yaitu:
1. Medikasi
Menurut PDPI (2006), medikasi asma dapat diberikan melalui
berbagai cara seperti inhalasi, oral dan parenteral. Dewasa ini yang lazim
digunakan adalah melalui inhalasi agar langsung sampai ke jalan napas
dengan efek sistemik yang minimal ataupun tidak ada. Macammacam

pemberian obat inhalasi dapat melalui inhalasi dosis terukur (IDT), IDT
dengan alat bantu (spacer), Dry powder inhaler (DPI), breathactuated IDT,
dan nebulizer. Medikasi asma terdiri atas pengontrol (controllers) dan
pelega (reliever).
Pengontrol adalah medikasi asma jangka panjang, terutama untuk
asma persisten, yang digunakan setiap hari untuk menjaga agar asma tetap
terkontrol (PDPI, 2006). Menurut PDPI (2006), pengontrol, yang sering
disebut sebagai pencegah terdiri dari:
a. Glukokortikosteroid inhalasi dan sistemik
b. Leukotriene modifiers
c. Agonis -2 kerja lama (inhalasi dan oral)
d. Metilsantin (teofilin)
e. Kromolin (Sodium Kromoglikat dan Nedokromil Sodium)
Pelega adalah medikasi yang hanya digunakan bila diperlukan untuk
cepat mengatasi bronkokonstriksi dan mengurangi gejala gejala asma.
Prinsip kerja obat ini adalah dengan mendilatasi jalan napas melalui
relaksasi otot polos, memperbaiki dan atau menghambat bronkokonstriksi
yang berkaitan dengan gejala akut seperti mengi, rasa berat di dada, dan
batuk. Akan tetapi golongan obat ini tidak memperbaiki inflamasi jalan
napas atau menurunkan hipersensitivitas jalan napas.
Pelega terdiri dari:
a. Agonis -2 kerja singkat
b. Kortikosteroid sistemik
c. Antikolinergik (Ipratropium bromide)
d. Metilsantin
2. Pengobatan berdasarkan derajat
Menurut GINA (2009), pengobatan berdasarkan derajat asma dibagi
menjadi:
a. Asma Intermiten (Lihat Gambar 2.5)
1) Umumnya tidak diperlukan pengontrol

2) Bila diperlukan pelega, agonis -2 kerja singkat inhalasi dapat


diberikan. Alternatif dengan agonis -2 kerja singkat oral, kombinasi
teofilin kerja singkat dan agonis -2 kerja singkat oral atau
antikolinergik inhalasi
3) Bila dibutuhkan bronkodilator lebih dari sekali seminggu selama tiga
bulan, maka sebaiknya penderita diperlakukan sebagai asma persisten
ringan
b. Asma Persisten Ringan (Lihat Gambar 2.5)
1) Pengontrol diberikan setiap hari agar dapat mengontrol dan mencegah
progresivitas asma, dengan pilihan:
(a) Glukokortikosteroid inhalasi dosis rendah (diberikan sekaligus
atau terbagi dua kali sehari) dan agonis -2 kerja lama inhalasi
(1).Budenoside : 200400 g/hari
(2).Fluticasone propionate : 100250 g/hari
(b) Teofilin lepas lambat
(c) Kromolin
(d) Leukotriene modifiers
2) Pelega bronkodilator (Agonis -2 kerja singkat inhalasi) dapat
diberikan bila perlu
c. Asma Persisten Sedang (Lihat Gambar 2.5)
1) Pengontrol diberikan setiap hari agar dapat mengontrol dan mencegah
progresivitas asma, dengan pilihan:
(a) Glukokortikosteroid inhalasi (terbagi dalam dua dosis) dan agonis
-2 kerja lama inhalasi
(b) Budenoside: 400800 g/hari
(c) Fluticasone propionate : 250500 g/hari
(d) Glukokortikosteroid inhalasi (400800 g/hari) ditambah teofilin
lepas lambat
(e) Glukokortikosteroid inhalasi (400800 g/hari) ditambah agonis
-2 kerja lama oral
(f) Glukokortikosteroid inhalasi dosis tinggi (>800 g/hari)

(g) Glukokortikosteroid

inhalasi

(400800

g/hari)

ditambah

leukotriene modifiers
2) Pelega bronkodilator dapat diberikan bila perlu
(a) Agonis -2 kerja singkat inhalasi: tidak lebih dari 34 kali sehari,
atau
(b) Agonis -2 kerja singkat oral, atau
(c) Kombinasi teofilin oral kerja singkat dan agonis -2 kerja singkat
(d) Teofilin kerja singkat sebaiknya tidak digunakan bila penderita
telah menggunakan teofilin lepas lambat sebagai pengontrol
3) Bila penderita hanya mendapatkan glukokortikosteroid inhalasi dosis
rendah dan belum terkontrol; maka harus ditambahkan agonis -2
kerja lama inhalasi
4) Dianjurkan menggunakan alat bantu / spacer pada inhalasi bentuk IDT
atau kombinasi dalam satu kemasan agar lebih mudah
d. Asma Persisten Berat (Lihat Gambar 2.5)
1) Tujuan terapi ini adalah untuk mencapai kondisi sebaik mungkin,
gejala seringan mungkin, kebutuhan obat pelega seminimal mungkin,
faal paru (APE) mencapai nilai terbaik, variabiliti APE seminimal
mungkin dan efek samping obat seminimal mungkin
2) Pengontrol kombinasi wajib diberikan setiap hari agar dapat
mengontrol asma, dengan pilihan:
(a) Glukokortikosteroid inhalasi dosis tinggi (terbagi dalam dua
dosis) dan agonis -2 kerja lama inhalasi
(b) Beclomethasone dipropionate: >800 g/hari
(c) Selain itu teofilin lepas lambat, agonis -2 kerja lama oral, dan
leukotriene modifiers dapat digunakan sebagai alternative agonis
-2 kerja lama inhalai ataupun sebagai tambahan terapi
(d) Pemberian budenoside sebaiknya menggunakan spacer, karena
dapat mencegar efek samping lokal seperti kandidiasis orofaring,
disfonia, dan batuk karena iritasi saluran napas atas
(e)

DISMINORE

F. Definisi Dismenore
Dismenore berasal dari bahasa Yunani yaitu dys yang berarti sulit atau
menyakitkan atau tidak normal. Meno berarti bulan dan rrhea yang berarti
aliran. Sehingga dismenore didefinisikan sebagai aliran menstruasi yang sulit
atau nyeri haid (Calis, 2011). Dismenore adalah rasa nyeri selama menstruasi
yang ditandai dengan rasa kram di perut bawah (Simanjuntak, 2008).
Dismenore adalah sakit saat menstruasi sampai dapat mengganggu aktivitas
sehari-hari (Manuaba, 2001). Dismenorea didefinisikan sebagai nyeri haid
yang sedemikian hebatnya sehingga memaksa penderita untuk istirahat dan
meninggalkan pekerjaan atau cara hidupnya sehari-hari, untuk beberapa jam
atau beberapa hari (Okparasta, 2003).
G. Epidemiologi Dismenore
Dismenorea dapat dialami lebih dari setengah wanita yang sedang
menstruasi, dan prevalensinya sangat bervariasi. Berdasarkan data dari
berbagai negara, angka kejadian dismenorea di dunia cukup tinggi.
Diperkirakan 50% dari seluruh wanita di dunia menderita dismenorea dalam
sebuah siklus menstruasi (Calis, 2011). Pasien melaporkan nyeri saat haid,
dimana sebanyak 12% nyeri haid sudah parah, 37% nyeri haid sedang, dan
49% nyeri haid masih ringan (Calis, 2011).
Di Amerika Serikat diperkirakan hampir 90% wanita mengalami
dismenorea dan 10-15% diantaranya mengalami dismenorea berat,yang
menyebabkan mereka tidak mampu melakukan kegiatan apapun dan ini akan
menurunkan kualitas hidup pada individu masing-masing. Bahkan di
perkirakan para perempuan di Amerika kehilangan 1,7 juta hari kerja setiap
bulan akibat dismenorea(Calis, 2011). Di Pakistan diperkirakan 57% pelajar

yang mengalami dismenore mempunyai efek terhadap pekerjaan mereka


(Tariq, 2009).
Di Indonesia angka kejadian dismenorea primer sebesar 54,89%
sedangkan sisanya adalah penderita tipe sekunder. Dismenorea menyebabkan
14% dari pasien remaja sering tidak hadir di sekolah dan tidak menjalani
kegiatan sehari-hari (Calis, 2011).
H. Klasifikasi Dismenore
Dismenore diklasifikasikan menjadi 2 yaitu :
1. Dismenore primer
Dismenore primer adalah nyeri haid yang dijumpai tanpa kelainan alat-alat
genital yang nyata (Simanjuntak, 2008). Dismenore primer ini tidak
berhubungan dengan penyebab fisik yang nyata (Morgan, 2009). Dismenore
primer biasanya terjadi 6 bulan sampai 12 bulan setelah menars (Holder,
2011). Oleh karena itu, siklus haid pada bulan pertama setelah menars
umumnya berjenis anovulatoar (tidak disertai dengan pengeluaran ovum)
yang tidak disertai dengan rasa nyeri. Rasa nyeri timbul tidak lama
sebelumnya atau bersama-sama dengan permulaan haid dan berlangsung
untuk beberapa jam (Simanjuntak, 2008). Biasanya 8-72 jam (Holder,
2011). Sifat rasa nyeri ialah kejang berjangkit-jangkit, biasanya terbatas
pada perut bawah, tetapi dapat menyebar ke daerah pinggang dan paha
Simanjuntak, 2008). Bersamaan dengan rasa nyeri dapat dijumpai rasa
mual, muntah, sakit kepala, diare, iritabilitas, dan sebagainya (Polat, 2009).
2. Dismenore sekunder
Dismenore sekunder adalah nyeri haid yang dijumpai dengan adanya
kelainan pada alat-alat genital yang nyata (Simanjuntak, 2008). Dismenore
sekunder terjadi akibat berbagai kondisi patologis seperti endometriosis,
salfingitis, adenomiosis uteri, dan lain-lain (Schwart, 2005). Dismenore
sekunder sering terjadi pada usia>30 tahun, dimana rasa nyeri semakin
bertambah seiring bertambahnya umur dan memburuk seiring dengan waktu

(Benson, 2009). Karakteristik nyeri berbeda- beda pada setiap siklus haid
dimana nyeri haid terjadi dengan kelainan patologis panggul (Simanjuntak,
2008).
Dismenore diklasifikasikan juda secara klinis,yaitu :
a. Ringan
Berlangsung beberapa saat dan dapat melanjutkan kerja sehari-hari
b. Sedang
Diperlukan obat penghilang rasa nyeri, tanpa perlu meninggalkan
kerjanya
c. Berat
Perlu istirahat beberapa hari dan dapat disertai sakit kepala, diare, dan
rasa tertekan (Manuaba, 2001).
I. Etiologi dismenore
Banyak teori telah dikemukakan untuk menerangkan penyebab
dismenore primer, tetapi patofisiologinya belum jelas dimengerti. Rupanya
beberapa faktor memegang peranan sebagai penyebab dismenore primer, antara
lain:
1. Faktor kejiwaan : pada gadis-gadis yang secara emosional tidak stabil,
apalagi jika mereka tidak mendapat penerangan yang baik tentang proses
haid, mudah timbul dismenore (Abedian, 2011).
2. Faktor konstitusi : faktor ini, yang erat hubungannya dengan faktor tersebut
di atas, dapat juga menurunkan ketahanan terhadap rasa nyeri. Faktor-faktor
seperti anemia, penyakit menahun, dan sebagainya dapat mempengaruhi
timbulnya dismenore.
3. Faktor obstruksi kanalis servikalis : salah satu teori yang paling tua untuk
menerangkan terjadinya dismenore primer ialah stenosis kanalis servikalis.
Pada wanita dengan uterus dalam hiperantefleksi mungkin dapat terjadi
stenosis kanalis servikalis, akan tetapi hal ini sekarang tidak dianggap
sebagai sebagai faktor yang penting sebagai penyebab dismenore. Banyak
wanita menderita dismenore tanpa stenosis servikalis dan tanpa uterus
dalam hiperantefleksi. Sebaliknya terdapat banyak wanita tanpa keluhan

dismenore, walaupun ada stenosis servikalis da uterus terletak dalam


hiperantefleksi atau hiperretrofleksi. Mioma submukosum bertangkai atau
polip endometrium dapat menyebabkan dismenore karena otot-otot uterus
berkontraksi keras dalam usaha untuk mengeluarkan kelainan tersebut.
4. Faktor endokrin, pada umumnya ada anggapan bahwa kejang yang terjadi
pada dismenore primer disebabkan oleh kontraksi uterus yang berlebihan.
Faktor endokrin mempunyai hubungan dengan soal tonus dan kontraktilitas
otot usus. Novak dan Reynolds yang melakukan penelitian pada uterus
kelinci berkesimpulan bahwa hormon estrogen merangsang kontraktilitas
uterus, sedangkan hormon progesteron menghambat atau mencegahnya.
Tetapi, teori ini tidak dapat menerangkan fakta mengapa tidak timbul rasa
nyeri pada perdarahan disfungsional anovulatoar, yang biasanya bersamaan
dengan kadar estrogen yang berlebihan tanpa adanya progesteron.
5. Faktor alergi, teori ini dikemukakan setelah memperhatikan adanya asosiasi
antara dismenore dengan urtikaria, migraine atau asma bronkhiale. Smith
menduga bahwa sebab alergi ialah toksin haid (Simanjuntak, 2008).
Penyebab dari dismenore sekunder biasanya disebabkan oleh kelainankelainan organik, misalnya :
1. Rahim kurang sempurna karena ukurannya terlalu kecil
2. Posisi rahim yang tidak normal
3. Adanya tumor dalam rongga rahim , misalnya myoma uteri
4. Adanya tumor dalam rongga panggul, terutama tumor fibroid, yang letaknya
dekat permukaan selaput lendir rahim, adanya selaput lendir rahim di tempat
lain (Endometriosis), bisa ditemukan di dalam selaput usus, di jaringan
payudara atau di tempat lain. Pada waktu haid, jaringan selaput lendir yang
di luar rahim juga seperti ikut terlepas dan berdarah seperti jaringan aslinya
di dalam rahim.
5. Penyakit-penyakit tubuh lain seperti tuberkulosa, kurang darah (anemia),
buang air besar kurang lancar (constipation), postur tubuh yang terlalu kurus
(Yatim, 2001).

J. Patofisiologi
Dismenore biasanya terjadi akibat pelepasan berlebihan prostaglandin
tertentu, prostaglandin-F2 , dari sel-sel endomerium uterus. Prostaglandin-F2
adalahsuatu perangsang kuat kontraksi otot polos miometrium dan konstriksi
pembuluh darah uterus. Hal ini memperparah hipoksia uterus yang secara
normal terjadi pada haid, sehingga timbul rasa nyeri hebat (Corwin, 2009).
K. Diagnosis dismenore
1. Diagnosis Dismenore primer
Pada gadis perawan yang mengalami nyeri kram ringan cukup
dilakukan pemeriksaan menyeluruh serta pemeriksaan genitalia untuk
menyingkirkan kelainan duktus Mlleri obstruktif. Pada pasien yang lebih
tua,terutama yang mengalami dismenore berat, sebaliknya dilakukan
pemeriksaan pelvis menyeluruh (Schwartz, 2005).
2. Diagnosis Dismenore sekunder
a. Ultrasonografi : untuk mencari tahu apakah terdapat kelainan dalam
anatomi rahim, misalnya posisi, ukuran, dan luas ruangan dalam rahim
b. Histerosalphingografi : untuk mencari tahu apakah terdapat kelainan
dalam rongga rahim, seperti polypendometrium, myoma submukcosa,
atau adenomyosis
c. Histerokopi : untuk membuat gambar dalam rongga rahim, seperti polyp
atau tumor lain.
d. Laparoskopi : untuk melihat kemungkinan adanya endometriosis, dan
penyakit-penyakit laindalam rongga panggul (Yatim, 2001).
e.
L. Tatalaksana dismenore
1. Farmakologi
a. Pemberian obat analgesik
Dewasa ini banyak beredar obat-obat analgesik yang dapat diberikan
sebagai terapi simtomatik. Jika rasa nyerinya berat, diperlukan istirahat di

tempat tidur dan kompres panas pada perut bawah untuk mengurangi
penderitaan. Obat analgesik yang sering diberikan adalah preparat
kombinasi aspirin, fenasetin, dan kafein. Obat-obat paten yang beredar di
pasaran adalah novalgin, ponstan, acetaminopen, dan sebagainya
(Simanjuntak, 2008).
b. Obat anti inflamasi nonsteroid (NSAID)
NSAID menghambat sintesis prostaglandin dan memperbaiki gejala pada
80% kasus (Kabirian, 2011). Nasihatkan wanita untuk mengonsumsinya
pada saat atau sesaat sebelum awitan nyeri 3 kali/hari pada hari pertama
hingga ketiga (Sinclair, 2009).
c. Terapi hormonal
Tujuan terapi hormonal adalah menekan ovulasi. Tindakan ini bersifat
sementara dengan maksud untuk membuktikan bahwa gangguan benarbenar

dismenore

primer,

atau

untuk

memungkinkan

penderita

melaksanakan pekerjaan penting pada waktu haid tanpa gangguan. Tujuan


ini dapat dicapai dengan pemberian salah satu jenis pil kombinasi
kontrasepsi (Simanjuntak, 2008). Hal ini bertujuan untuk mencegah
terjadinya ovulasi dan menurunkan produksi prostaglandin karena atrofi
endometrium desidual (Martinus, 2010)
2. Nonfarmakologi
Penerangan dan nasihat
Perlu dijelaskan kepada penderita bahwa dismenore adalah gangguan
yang tidak berbahaya bagi kesehatan. Hendaknya diadakan penjelasan
dan diskusi mengenai cara hidup, pekerjaan, kegiatan, dan lingkungan
penderita. Kemungkinan salah informasi mengenai haid atau adanya tabu
atau takhyul mengenai haid perlu dibicarakan . nasihat-nasihat mengenai
makanan sehat, istirahat yang cukup, dan olahraga mungkin berguna.
Kadang-kadang diperlukan psikoterapi (Simanjuntak, 2008). Olahraga

dapat mengurangi rasa nyeri oleh karena terkontrolnya emosional seperi


suasana hati dan tekanan (Lafebvre, 2005)