Vous êtes sur la page 1sur 19

CARA KERJA ILMU-ILMU EMPIRIS INDUKSI

1. Cara Kerja Ilmu-ilmu Alam


Tiga contoh proses cara kerja ilmu:
1. Pengamatan (observation).
2. Percobaan (experiment).
3. Penemuan (discovery).
Dalam rangka studi ketiga contoh ini kita periksa dalam
konteks penemuan (context of discovery), dan dalam upaya
pembenarannya (context of justification). Selanjutnya tentang
Cara Kerja Ilmu Empiris/STIK/SM

peranan dan terjadinya hukum-hukum alam (physical laws),


dan teori-teori ilmiah (scientific theories).
a. Beberapa Peristiwa dari Sejarah Ilmu Pengetahuan
1)

Tekanan udara dan Pengukurannya

Suatu ketika seorang pangeran kerajaan Toskana di Italia


Tengah memerintahkan penggalian sebuah sumur sedalam 15
meter. Dipasang sebuah pompa untuk menaikkan air dengan
cara disedot dari atas. Air ternyata hanya dapat dipompa
sejauh 10 meter dari permukaan dan 5 meter sisanya tak dapat
dilampaui. Secara teoretis para ahli ilmu alam tidak mampu
menjelaskannya. Ini bertentangan dengan hukum alam yang
Cara Kerja Ilmu Empiris/STIK/SM

sudah dinggap sah sejak jaman Aristoteles bahwa tidak


pernah ada sesuatu yang kosong dalam alam (horror vacui:
alam merasa ngeri terhadap yang kosong). Galileo Galilei
(1564-1642), seorang ahli ilmu alam tidak mampu
menerangkan mengapa air tidak naik lebih tinggi. Seorang
murid Galileo, Evangelista Torricelli (1608-1647) dapat
memecahkan masalah ini. Ia menjelaskan bahwa itu karena
tekanan udara atmosfir bumi. Ia merancang sebuah alat
pengukur tekanan udara (barometer) yang berisi air raksa.
Dengan mengetahui bahwa berat jenis air raksa adalah 14 kali
dari berat jenis air, maka ia berpendapat dan meramalkan
bahwa kolom air raksa akan mencapai 1/14 tinggi kolom air
Cara Kerja Ilmu Empiris/STIK/SM

yang berhasil disedot (sekitar 10 m), artinya sekitar 74


sentimeter. Air raksa dipilih untuk percobaan itu karena tidak
menguap dan juga kerena bobotnya, sehingga perbedaan
dengan air biasa makin menyolok.
Namun ilmuwan yang lain tidak merasa puas, kemudian
memperluas hipotesa mereka, bahwa ruang yang kosong itu
berisikan zat yang tak dapat diamati. Blaise Pascal (16231662) dan Florin Perier kemudian melalui percobaannya
membuktikan bahwa pendapat Torricelli ternyata benar.
Mereka mengadakan percobaan di atas puncak gunung Puyde-Dome (1465 m) di daerah Auvergne, Perancis Tengah,
dengan memakai 2 barometer, yang satu di atas dan yang lain
Cara Kerja Ilmu Empiris/STIK/SM

di kaki gunung. Pendapat mereka jika seandainya barometer


diangkat ke tempat yang lebih tinggi di mana tekanan udara
kiranya kurang, kolom air raksa itu pun harus berkurang
tingginya. Jadi pada waktu yang sama perbedaannya memang
menjadi beberapa sentimeter. Ketika barometer dipindahkan
dari atas ke bawah lagi, terlihat lama kelamaan terlihatlah
angka yang lebih tinggi lagi, dan sesampainya pada barometer
bawah kolom air raksa keduanya sama tingginya.

2) Ilmu Falak dan Sistem Matahari


Cara Kerja Ilmu Empiris/STIK/SM

Pandangan tentang hal ini mengalami perkembangan dan


penyempurnaan dari waktu ke waktu. Mulai dari sistem
Ptolemaios (sekitar 130 M). Pandangan dari Aristarkhos dari
Samos (sekitar 310-230 SM) bahwa bumi mengitari
matahari telah lama ditinggalkan dalam sistim ciptaan
Ptolemaios, kalau dilihat dari sudut matematika mendekati
kesempurnaan. Ciri geosentris (Yunani: ge = bumi), yaitu
menganggap bumi sebagai pusat semesta, dan semua benda
angkasa mengitarinya. Lebih dari seribu tahun ilmu tak
tergoyahkan, meskipun melalui ahli-ahli dunia Islam seperti
al-Battani (850-929) karyanya diperkaya dengan hasil ilmu
falak India. Kendati demikian dalam sistem itu agak
Cara Kerja Ilmu Empiris/STIK/SM

berbelit-belit dan dibuat-buat. Dan dalam keseluruhannya itu


ada sejumlah bola hablur yang lebih dekat dengan bumi.
Masing-masing bola hablur itu merupakan tempat peredaran
matahari, bulan (keduanya dengan peredaran tetap dan
teratur) dan planet-planet. Hal yang menjadi tantangan bagi
Ptolemaios adalah dalam pandangan geosentris, peredaran
itu kurang teratur: kadang-kadang maju, maju lebih cepat
daripada benda angkasa lainnya, mengurangi kecepatan,
berhenti bahkan juga mundur. Pandangan geosentris berhasil
menerangkan kejadian-kejadian secara matematis dengan
mengandaikan adanya epicycli. Epicycli adalah lingkaran
peredaran untuk setiap planet yang mengitari salah satu titik
Cara Kerja Ilmu Empiris/STIK/SM

bola hablurnya masing-masing, yang secara teratur


berpindaah tempat menurut lingkaran, umpamanya matahari
atau bulan, tetapi titik pusat peredaran epicyclus planetnya
tidak dapat diamati, yang dapat diamati hanyalah planet
bersangkutan saja.
Dengan demikian dipandang perlu mengadakan
perubahan dalam sistem Ptolemaios. Perubahan itu dirintis
oleh Nikolaus Kopernikus (Kopernigk, 1473-1543). Ia
berpendapat bahwa matahari merupakan suatu sistim
tersendiri dengan planet-planetnya, dan bahwa salah satu
planet itu adalah bumi, sedangkan bintang-bintang tetap
mengikuti sistem yang lama. Keuntungannya bahwa
Cara Kerja Ilmu Empiris/STIK/SM

peredaran planet-plenet lebih mudah diterangkan dan


diperhitungkan menurut matematika. Dan kesulitannya ialah
bahwa bidang ilmu falak tak mungkin diadakan percobaan.
Sementara itu pengamatan tidak membenarkan bahwa
peredaran planet-planet dan bumi itu terjadi dalam bentuk
lingkaran seperti dikemukakan Kopernikus. Kemudian karya
Tycho
Brahe
(1546-1601)
diperlukan
melalui
pengamatannya yang amat teliti, Johannes Kepler (15711630) yang mengubah hipotesa Kopernikus mengenai
peredaran dalam bentuk lingkaran menjadi peredaran dalam
bentuk elipsa, dan Galileo Galilei dengan temuan teropong
bintangnya (teleskop) yang memungkinkan pengamatan
Cara Kerja Ilmu Empiris/STIK/SM

terhadap bulan dan terutama planet-planet dengan bulannya


masing-masing, yang belum pernah dilihat mata manusia.
Pandangan-pandangan mereka ini mendapat perlawanan
yang cukup lama dari pihak Gereja karena dianggap
bertentangan dengan ajaran Kitab Suci dan ajaran iman.
Selanjutnya dalam perkembangan ilmu falak, Isaac Newton
(1642-1727), dengan anggapan-anggapannya tentang
gravitasi, ukuran kecil maupun besar, sistem matahari,
menjadikan
sistim
Kopernikus,
Kepler,
Galilei
disempurnakan lagi dan ditempatkan dalam keseluruhan
yang lebih luas. Akhirnya yang paling mutakhir adalah
tentang ciri khas cahaya, teori relativitas, matematika
Cara Kerja Ilmu Empiris/STIK/SM

10

moderen, fisika mikro dan makro turut berperan dalam


kemajuan ilmu ini.

3) Ilmu Kedokteran
Tahun 1847 Ignaz Philipp Semmelweis (1818-1865), ahli
bedah dan kebidanan di rumah sakit Universitas Kota Wina di
Austria, menjadi cemas menyaksikan bahwa sampai 10 %
dari wanita dan bayi meninggal akibat demam bersalin
(puerperal fever) menurut ilmu kedokteran saat itu. Pada
waktu itu belum diketahui apa penyebabnya. Maka
Cara Kerja Ilmu Empiris/STIK/SM

11

Semmelweis mulai mengadakan penelitian apa yang menjadi


penyebabnya. Ia bersama pembantu-pembantunya berusaha
menemukan akar persoalannya. Ia mulai mengumpulkan
data-data. Ada 2 bangsal, tetapi nasib tragis itu hanya dialami
oleh salah satu bangsal saja, yaitu yang dilayani tidak hanya
oleh perawat-perawat namun juga oleh sejumlah mahasiswa.
Fakta-fakta:
Ibu yang telah melahirkan anaknya selama dalam perjalan
menuju rumah sakit, ia dan
anaknya selalu sehat tidak terkena demam bersalin.
Cara Kerja Ilmu Empiris/STIK/SM

12

Ibu yang jatuh sakit sesudah melahirkan meninggal,


anaknya tetap sehat.
Ibu yang tidak jatuh sakit tetap sehat dan juga anaknya.
Hipotesa bahwa ada epidemi, pengaruh sinar matahari,
sikap mahasiswa yang terlalu kasar ternyata tidak benar.
Perlakuan khusus:
Bangsal tempat banyak ibu jatuh sakit lalu meninggal
kerapkali dikunjungi oleh pastor untuk menghibur mereka.
Ada dugaan kedatang pastor itu malah mengurangi daya
Cara Kerja Ilmu Empiris/STIK/SM

13

tahan mereka yang masih sehat akibat pengaruh kejiwaan.


Lalu kedatangan pastor diatur sedemikian rupa agar tidak
diketahui dan dilihat oleh pasien lain. Ini juga dibantah.
Di bangsal di mana ada ibu-ibu meninggal mereka terbaring
dalam posisi terlentang,
maka mereka diminta tidur miring sperti di bangsal lain.
Tidak terbukti.
Seorang rekan dokter Semmelweis ketika melakukan otopsi
di kamar mayat, tangannya terkena pisau periksa. Lukanya
hanya kecil, tetapi dalam beberapa jam saja ia jatuh sakit
keras dan kemudian meninggal dengan gejala-gejala yang
sama dengan ibu-ibu yang meninggal.
Cara Kerja Ilmu Empiris/STIK/SM

14

Hipotesa baru bahwa demam bersalin itu sebenarnya suatu


penyakit yang lebih luas yang dinamakan demam racun
mayat, karena mahasiswa yang bertugas di bagian bersalin
juga bertugas di kamar mayat.
Kemudian para mahasiswa disuruh mencuci tangan mereka
sesudah bertugas di kamar mayat dengan larutan CaCl2.
Hasilnya mencengangkan, ibu-ibu yang meninggal
berkurang sampai di bawah 2 %. Hipotesa ini benar.
b. Refleksi Atas Peristiwa-peristiwa: dari Pengamatan menuju
Hipotesa
Cara Kerja Ilmu Empiris/STIK/SM

15

Pada contoh 1 nampaklah bahwa deduksi dan


pengamatan empiris diterapkan secara berganti-ganti.
Pada contoh 2 situasinya lebih sulit karena tidak
mungkin diadakan percobaan. Hanya ada pengamatan saja.
Di sini nampak irama yang kurang lebih sama: pengamatan
pembentukan hipotesa penalaran deduktif dari hipotesa itu
pengamatan lagi.
Pada contoh 3 terdapat banyak data dan untuk waktu yang
lama belum ada hipotesa yang menunjukkan jalan keluar.
Hipotesa yang menentukan muncul secara mendadak dan tak
terduga-duga. Irama yang tampak: pengamatan
pembentukan hipotesa pemeriksaan apakah implikasi dari
Cara Kerja Ilmu Empiris/STIK/SM

16

hipotesa tersebut dapat diamati atau tidak. Jika tidak maka


terjadi lagi hipotesa.
Dengan singkat dapat dijelaskan cara kerja ilmu-ilmu
alam yaitu berdasarkan pengamatan, penelitian dan
percobaan-percobaan. Upaya ilmu ialah mengemukakan
hipotesa-hipotesa yang implikasi-implikasinya cocok dengan
data-data empiris. Data-data empiris itu dapat mengalahkan
suatu hipotesa, dapat juga menjadi alasan untuk
menyempurnakan hipotesa, namun tidak pernah dapat
dipakai untuk membuktikan secara tuntas berlakunya suatu
hipotesa.
Cara Kerja Ilmu Empiris/STIK/SM

17

c. Ciri-ciri Hukum Alam


Ada 3 ciri khas utama:
1. Hukum itu lebih pasti.
2. Hukum itu lebih berlaku umum, universal.
3. Hukum itu memiliki daya terang yang lebih kuat.
Hukum-hukum alam merupakan lanjutan dari hipotesa
ilmiah sembari membawa sesuatu yang baru, yaitu kepastian,
keberlakuan umum, dan daya terang yang melebihi apa yang
ada dalam hipotesa. Ciri khasnya ialah bahwa hukum dapat
merupakan titik pangkal bagi penjelasan-penjelasan deduktifCara Kerja Ilmu Empiris/STIK/SM

18

monologis, yang berbeda dari sekadar generalisasi. Hukumhukum dan perhitungan yang bersifat barangkali merupakan
dasar dari penyimpulan yang bersifat barangkali.

Cara Kerja Ilmu Empiris/STIK/SM

19