Vous êtes sur la page 1sur 19

MAKALAH METRORAGIA

(KEPERAWATAN MATERNITAS)

Di ajukan untuk memenuhi tugas keperawatan maternitas


yang di bimbing oleh :
Leni Agustin, S.Kep Ners
Di Susun Oleh :
Agung Siswoyo

(12.03714.0607)

Anis Mahdi

(12.03714.0611)

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN


UNIVERSITAS BONDOWOSO
2014

Page | 2

KATA PENGANTAR
Rasa syukur yang dalam kami sampaikan kehadiran Tuhan Yang Maha
Esa, karena berkat kemurahanNya makalah ini dapat kami selesaikan sesuai yang
diharapkan. Dalam makalah ini kami membahas METRORAGIA.Dalam
penyusunan Makalah ini, penulis memperoleh banyak dukungan dari berbagai
pihak dan bantuan moral serta bimbingan, petunjuk dan saran-saran yang berguna
dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini penulis ingin
menyampaikan rasa terima kasih yang tiada batas kepada yang terhormat :
1. Leni Agustin, S. Kep Ns, selaku wali kelas 2A serta dosen pengajar
mata kuliah keperawatan maternitas, yang telah memberi semangat
dan pengarahan dan bimbingan baik secara mental dan moral.
2. Serta semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan
Makalah ini
Yang mana berkat dukungan beliaulah Makalah ini dapat terselesaikan
meski banyak kesalahan, baik dari cara penulisan maupun format makalah ini.
Oleh karena itu kami mohon kritik dan saran yang dapat membangkitkan
semangat belajar kami. Sehingga kami tidak lagi melakukan kesalahan yang
kedua kalinya.

Bondowoso, Juli 2014

Penulis

Page | ii

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.....................................................................................

KATA PENGANTAR...................................................................................

ii

DAFTAR ISI.................................................................................................

iii

BAB I PENDAHULUAN.............................................................................

1.1. Latar Belakang........................................................................................

1.2. Rumusan Masalah...................................................................................

1.3. Tujuan Penulisan.....................................................................................

BAB II PEMBAHASAN..............................................................................

2.1 Definisi Metroragia..................................................................................

2.2 Etiologi Metroragia..................................................................................

2.3 Patologi Metroragia..................................................................................

2.4 Gambaran Klinik......................................................................................

2.5 Diagnosis Metroragia...............................................................................

2.6 Penanganan Metroragia............................................................................

2.7 Pemeriksaan Penunjang............................................................................

2.8 Asuhan Keperawatan................................................................................

10

2.9 WOC Metroragia......................................................................................

15

BAB III. PENUTUP.....................................................................................

16

3.1 Kesimpulan..............................................................................................

16

3.2 Saran........................................................................................................

16

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................

17

Page | iii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Metrorhagia juga dikenal sebagai perdarahan uterus disfungsional
adalah masalah yang biasanya di derita oleh seorang wanita. Metrorrhagia
adalah keadaan umum, terutama untuk beberapa tahun pertama menstruasi
(pubertas metrorrhagia). Hal ini juga diamati dengan pasien yang dekat
dengan fase menopause mereka. Pada dasarnya, kondisi ini ditandai dengan
episode perdarahan (terutama bercak namun dapat menyebabkan pendarahan
parah) di luar fase menstruasi.
Dengan demikian, episode perdarahan digambarkan sebagai tidak
teratur dalam jumlah dan pola. Mengingat siklus menstruasi normal wanita,
fase menstruasi yang \ (umumnya dikenal sebagai menstruasi) harus rata-rata
4 hari dan harus terjadi pada bulan depan nanti. Untuk mempermudah,
metrorrhagia adalah di antara bercak vagina dalam menstruasi bulanan,
ancaman kesehatan dianggap mungkin dan tidak boleh dianggap enteng. Ini
harus mendorong kita untuk mencari nasihat medis untuk sejumlah kondisi
yang mendasarinya mungkin untuk mencari penyebab kelainan tersebut.
Tetapi perhatikan, orang tidak boleh panik dan menganggapnya disebabkan
oleh penyakit yang ditakuti.
1.2 Rumusan Masalah
1. Jelaskan definisi dari Metroragia?
2. Sebutkan dan jelaskan Etiologi Metroragia?
3. Jelaskan Patologi Metroragia?
4. Bagaimanakan Gambaran Klinik?
5. Apa saja diagnosis metroragia?
6. Bagaimana penanganan metroragia?
7. Apa saja pemeriksaan penunjang metroragia?

Page | 1

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi dari Metroragia.
2. Untuk mengetahui etiologi metroragia.
3. Untuk mengetahui patofisiologi metroragia.
4. Untuk mengetahui gambaran klinik metroragia.
5. Untuk mengetahui diagnosis metroragia.
6. Untuk mengetahui Penanganan metroragia.
7. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang.

Page | 2

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Metroragia
Metrorrhagia pendarahan yang terjadi di antara siklus mentruasi, atau
dengan kata lain timbul lebih sering dari biasa (yatim faisal,2001)
Metroragia adalah pendarahan uterus biasanya tidak banyak timbul
pada interfan partun mestruasi yang tidak biasanya (chandranita, 2004)
Metroragia adalah perdarahan dari vagina yang tidak berhubungan
dengan siklus haid. Perdarahan ovulatoir terjadi pada pertengahan siklus
sebagai suatu spotting dan dapat lebih diyakinkan dengan pengukuran suhu
basal tubuh. Penyebabnya adalah kelainan organik (polip endometrium,
karsinoma endometrium, karsinoma serviks), kelainan fungsional dan
penggunaan estrogen eksogen.(www.kumpulanaskep.com)
2.2 Etiologi Metroragia
Beberapa Penyebab Dari perdarahan diluar haid yaitu :
1. Metroragia di luar kehamilan:
a. Sebab sebab organik
Perdarahan dari uterus, tuba dan ovarium disebabkan olah kelainan
pada:
1) Serviks uteri; seperti
a) Polip servisis uteri
Polip adalah tumor bertangkai yang kecil dan tumbuh dari
permukaan mukosa. Servikal polip adalah polip yang terdapat
dalam kanalis servikalis (Tiran, 2005).
b) Erosio porsionis uteri.
Erosio porsiones (EP) adalah suatu proses peradangan atau
suatu luka yang terjadi pada daerah porsio serviks uteri (mulut
rahim). Penyebabnya bisa karena infeksi dengan kumankuman atau virus, bisa juga karena rangsangan zat kimia /alat
tertentu; umumnya disebabkan oleh infeksi.
c) Ulkus pada portio uteri, Ulkus portio.
Ulkus portio adalah suatu pendarahan dan luka pada portio
berwarna merah dengan batas tidak jelas pada ostium uteri
eksternum.

Page | 3

2) Korpus uteriseperti ;
Polip endometrium, abortus imminens, abortus insipiens, abortus
incompletus, mola hidatidosa, koriokarsinoma, subinvolusio uteri,
karsinoma korpus uteri, sarkoma uteri, mioma uteri.
3) Tuba fallopii ;
Kehamilan ekstopik terganggu, radang tuba, tumor tuba.
4) Ovarium ;
radang overium, tumor ovarium.
b. Sebab sebab fungsional
Perdarahan dari uterus yang tidak ada hubungannya dengan sebab
organik, dinamakan perdarahan disfungsional. Perdarahan disfungsional
dapat terjadi pada setiap umur antara menarche dan menopause. Tetapi
kelainan ini lebih sering dijumpai sewaktu masa permulaan dan masa akhir
fungs ovarium.
Dua pertiga wanita dari wanita-wanita yang dirawat di rumah sakit
untuk perdarahan disfungsional berumur diatas 40 tahun, dan 3 % dibawah
20 tahun.

Sebetulnya

dalam praktek

dijumpai

pula perdarahan

disfungsional dalam masa pubertas, akan tetapi karena keadaan ini


biasanya dapat sembuh sendiri, jarana diperlukan perawatn di rumah
sakit.
2. Metroragia oleh karena adanya kehamilan : abortus, kehamilan ektopik.
2.3 Patologi Metroragia
Menurut schroder pada tahun 1915, setelah penelitian histopatologik pada
uterus dan ovario pada waktu yang sama, menarik kesimpulan bahwa gangguan
perdarahan yang dinamakan metropatia hemorrgica terjadi karena persistensi
folikel yang tidak pecah sehingga tidak terjadi ovulasi dan pembentukan corpus
luteum.Akibatnya terjadilah hiperplasia endometrium karena stimulasi estrogen
yang berlebihan dan terus menerus.
Penelitian menunjukan pula bahwa perdarahan disfungsional dapat
ditemukan bersamaan dengan berbagai jenis endometrium yaitu endometrium
atropik, hiperplastik, ploriferatif, dan sekretoris, dengan endometrium jenis non
sekresi merupakan bagian terbesar. Endometrium jenis nonsekresi dan jenis

Page | 4

sekresi penting artinya karena dengan demikian dapat dibedakan perdarahan


anovulatori dari perdarahan ovuloatoir.Klasifikasi ini mempunyai nilai klinik
karena kedua jenis perdarahan disfungsional ini mempunyai dasar etiologi yang
berlainan dan memerlukan penanganan yang berbeda.
Pada perdarahan disfungsional yang ovulatoir gangguan dianggap berasal
dari

factor-faktor

neuromuskular,

vasomotorik,

atau

hematologik,

yang

mekanismenya Belem seberapa dimengerti, sedang perdarahan anovulatoir


biasanya dianggap bersumber pada gangguan endokrin.
2.4 Gambaran Klinik
a. Perdarahan Ovulatori
Perdarahan ini merupakan kurang lebih 10 % dari perdarahan
disfungsional

dengan

siklus

pendek

(polimenore)

atau

panjang

(oligomenore). Untuk menegakan diagnosis perdarahan ovulatori perlu


dilakukan kerokan pada masa mendekati haid. Jika karena perdarhan yang
lama dan tidak teratur siklus haid tidak dikenali lagi, maka kadang-kadang
bentuk survei suhu badan basal dapat menolong.
Jika sudah dipastikan bahwa perdarahan berasal dari endometrium
tipe sekresi tanpa adanya sebab organik, maka harus dipikirkan sebagai
etiologinya:
1)

Korpus Luteum Persistens


Dalam

hal

ini

dijumpai

perdarahan

Madang-kadang

bersamaan dengan ovarium yang membesar. Sindrom ini harus


dibedakan dari kelainan ektopik karena riwayat penyakit dan hasil
pemeriksaan panggul sering menunjukan banyak persamaan antara
keduanya. Korpus luteum persistens dapat menimbulkan pelepasan
endometrium yagn tidak teratur (irregular shedding).
Diagnosis ini di buat dengan melakukan kerokan yang tepat
pada waktunya, yaitu menurut Mc. Lennon pada hari ke 4 mulainya

Page | 5

perdarahan. Pada waktu ini dijumpai endometrium dalam tipe sekresi


disamping nonsekresi.
2)

Insufisiensi Korpus Luteum


Hal ini dapat menyebabkan premenstrual spotting, menoragia
atau polimenore. Dasarnya ahla kurangntya produksi progesteron
disebabkan oleh gangguan LH realizing factor. Diagnosis dibuat,
apabila hasil biopsi endometrial dalam fase luteal tidak cocok dengan
gambaran endometrium yang seharusnya didapat pada hari siklus
yang bersangkutan.

3)

Apopleksia Uteri
Pada wanita dengan hipertensi dapat terjadi pecahnya
pembuluh darah dalam uterus.

4)

Kelainan Darah
Seperti anemia, purpura trombositopenik, dan gangguan
dalam mekasnisme pembekuan darah.

b. PerdarahanAnovulatoar
Stimulasi dengan estrogen menyebabkan tumbuhnya endometrium.
Dengan menurunya Kadar estrogen dibawah tingkat tertentu timbul
perdarahan yang kadang-kadang bersifat siklik, Kadang-kadang tidak
teratur sama sekali.
Fluktuasi kadar estrogen ada sangkutpautnya dengan jumlah folikel
yang pada statu waktu fungsional aktif. Folikel folikel ini mengeluarkan
estrogen sebelum mengalami atresia, dan kemudian diganti oleh folikel
folikel baru. Endometrium dibawah pengaruh estrogen tumbuh terus dan
dari endometrium yang mula-mula ploriferasidapat terjadi endometrium
bersifat hiperplasia kistik.
Jika gambaran ini diperoleh pada kerokan maka dapat disimpulkan
adanya perdarahan anovulatoir.Perdarahan fungsional dapat terjadi pada

Page | 6

setiap waktu akan tetapi paling sering pada masa permulaan yaitu pubertas
dan masa pramenopause.
Pada masa pubertas perdarahan tidak normal disebabkan oleh
karena gangguan atau keterlambatan proses maturasi pada hipotalamus,
dengan akibat bahwa pembuatan realizing faktor tidak sempurna. Pada
masa pramenopause proses terhentinya fungsi ovarium tidak selalu
berjalan lancar.
Bila pada masa pubertas kemungkinan keganasan kecil sekali dan
ada harapan lambat laun keadaan menjadi normal dan siklus haid menjadi
ovulatoir, pada seorang dewasa dan terutama dalam masa pramenopause
dengan perdarahan tidak teratur mutlak diperlukan kerokan untuk
menentukan ada tidaknya tumor ganas.
Perdarahan disfungsional dapat dijumpai pada penderita-penderita
dengan penyakit metabolik, penyakit endokrin, penyakit darah, penyakit
umum yang menahun, tumor-tumor ovarium dan sebagainya. Akan tetapi
disamping itu terdapat banyak wanita dengan perdarahan disfungsional
tanpa adanya penyakit-penyakit tersebut. Selain itu faktor psikologik juga
berpengaruh antara lain stress kecelakaan, kematian, pemberian obat
penenang terlalu lama dan lain-lain dapat menyebabkan perdarahan
anovulatoir.

2.5 Diagnosis
a. Anamnesis
1) Perlu ditanyakan bagaimana mulainya perdarahan, apakah didahului
oleh siklus yang pendek atau oleh oligomenore/amenorhe, sifat perdarahan
( banyak atau sedikit-sedikit, sakit atau tidak), lama perdarahan, dan sebagainnya.

Page | 7

2) Pada pemeriksaan umum perlu diperhatikan tanda-tanda yang


menunjuk ke arah kemungkinaan penyakit metabolik, endokrin, penyakit
menahun. Kecurigaan terhadap salah satu penyait tersebut hendaknya menjadi
dorongan untuk melakukan pemeriksaan dengan teliti ke arah penyakit yang
bersangkutan.
3) Pada pemeriksaan gynecologik perlu dilihat apakah tidak ada kelainankelainan organik yang menyebabkan perdarahan abnormal (polip, ulkus, tumor,
kehamilan terganggu).
4)

Pada pubertas tidak perlu dilakukan kerokan untuk menegakan

diagnosis. Pada wanita umur 20-40 tahun kemungkinan besar adalah kehamilan
terganggu, polip, mioma submukosum,
5) Dilakukan kerokan apabila sudah dipastikan tidak mengganggu
kehamlan yang masih bisa diharapkan. Pada wanita pramenopause dorongan
untuk melakukan kerokan adalah untuk memastikan ada tidaknya tumor ganas.
2.6 Penanganan
a. Istirahat baring dan transfusi darah
b. Bila pemeriksaan gynecologik menunjukan perdarahan berasal dari uterus
dan tidak ada abortus inkompletus, perdarahan untuk sementara waktu
dapat dipengaruhi dengan hormon steroid. Dapat diberikan :
1)

Estrogen dalam dosis tinggi


Supaya kadarnya dalam darah meningkat dan perdarahan berhenti.

Dapat diberikan secar IM dipropionasestradiol 2,5 mg, atau benzoas


estradiol 1,5 mg, atau valeras estradiol 20 mg. Tetapi apabila suntikan
dihentikan perdarahan dapat terjadi lagi.
2) Progesteron
Pemberian progesteron mengimbangi pengaruh estrogen terhadap
endometrium, dapat diberikan kaproas hidroksi progesteron 125 mg,
secara IM, atau dapat diberikan per os sehari nirethindrone 15 mg atau
Page | 8

asetas medroksi progesteron (provera) 10 mg, yang dapat diulangi


berguna dalam masa pubertas.

2.7 Pemeriksaan Penunjang


1.

Pemeriksaan darah : Hemoglobin, uji fungsi thiroid , dan kadar HCG,


FSH, LH, Prolaktin dan androgen serum jika ada indikasi atau skrining

gangguan perdarahan jika ada tampilan yang mengarah kesana.


2. Deteksi patologi endometrium melalui (a) dilatasi dan kuretase dan (b)
histeroskopi. Wanita tua dengan gangguan menstruasi, wanita muda
dengan perdarahan tidak teratur atau wanita muda ( < 40 tahun ) yang
gagal

berespon

terhadap

pengobatan

harus

menjalani

sejumlah

pemeriksaan endometrium. Penyakit organik traktus genitalia mungkin


terlewatkan bahkan saat kuretase. Maka penting untuk melakukan kuretase
ulang dan investigasi lain yang sesuai pada seluruh kasus perdarahan
uterus abnormal berulang atau berat. Pada wanita yang memerlukan
investigasi, histeroskopi lebih sensitif dibandingkan dilatasi dan kuretase
dalam mendeteksi abnormalitas endometrium.
3. Laparoskopi : Laparoskopi bermanfaat pada wanita yang tidak berhasil
dalam uji coba terapeutik.
4. Uji kehamilan: untuk melihat ada tanda-tanda kehamilan
5. Pemeriksaan koagulasi : untuk memantau faktor pembekuan darah

2.8 Asuhan Keperawatan


A. Pengkajian
1. Identitas klien
Umur : biasanya terjadi pada usia tua (30 tahun ke atas)
2. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama : Nyeri
b. Riwayat penyakit sekarang
1) Nyeri disertai keluarnya darah dari rahim yang tidak teratur.
2) Aktifitas istirahat Tekanan darah sistol menurun, denyut nadi
meningkat (> 100 kali per menit).
3) Eliminasi Pcrubahan pada konsistensi; defekasi, peningkatan
frekuensi berkemih Urinalisis : peningkatan konsentrasi urine.
c. Riwayat penyakit dahulu

Page | 9

Pasien-pasien dengan metroragia mungkin menceritakan riwayat


nyeri serupa yang timbul pada setiap siklus haid serta punya
riwayat abortus,
3. Pemeriksaan fisik
Pengkajian juga dapat dilakukan pemeriksaan fisik mulai B1-B6
a. B1 (Breathing)
1) Pernapasan tidak teratur
2) Frekuensi mengalami peningkatan
b. B2 (Blood)
1) Denyut jantung mengalami peningkatan.
2) Tekanan darah Rendah (90/60 mmHg)
c. B3 (Brain)
1) Penurunan Konsentrasi
2) Pusing
3) Konjungtiva Anemia
d. B4 (Bladder)
Warna kuning dan Volume 1,5 L/Hari
e. B4 (Bowel)
Nyeripadaadomen
Nafsu makan Menurun
f. B6 (Bone)
Badan mudah capek
Nyeri pada punggung
4. Analisis Data
No
1

Data
DS:
1. Penyebab timbulnya nyeri: haid
tidak teratur.
2. Nyeri dirasakan meningkat saat
aktivitas
3. klien mengeluh nyeri pada daerah
simpisis, punggung dan
payudara.kalanyeri 4-6
4. Nyeri sering danterus menerus

Etiologi

Masalah
keperawatan

Kontraksi & disritmia


uterus

peningkatan kontraksi
uterus

Aliran darah ke uterus

Iskemia

Nyeri

Nyeri akut

Pendarahan

Anemia

Intoleranaktiv
itas

DO:
1. Wajah tampak menahan nyeri

DS:
1. Pasien menyatakan mudah lelah

Page | 10

DO:
1. Nadi lemah (TD 90/60 mmHg)
2. Px. Terlihat pucat Sclera/
konjungtiva anemi
3. Px Lemas
3

DS:
1. Px. Menyatakan merasa gelisah
DO:
1. Pucat
2. Memperlihatkan kurang inisiatif

Kelemahan

Intoleran aktivitas

Gangguan Haid

Kurang pengetahuan

Ansietas

Ansietas

5. Diagnosa keperawatan
a. Defisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan.
b. Nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus.
c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan.
6. Intervensi keperawatan
a. Defisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan.
Tujuan :
1) Memiliki Hb dalam batas normal.
Kriteria hasil :
1) Memiliki asupan cairan yang adekuat.
INTERVENSI
1. Manajemen

elektrolit

dengan

RASIONAL
meningkatkan

keseimbangan elektrolit dan mencegah komplikasi.


2. Pemantauan cairan dengan mengumpulkan dan
menganalisis data px untuk mengatur keseimbangan
elektrolit.
3. Manajemen

terjadinya syock.
2. Agar terjadi
keseimbangan
cairan dan

nutrisi

dengan

membantu

dan

menyediakan asupan makanan dancairan dalam diet


seimbang.

1. Mencegah

elektrolit.
3. Agar input dan
output seimbang.

b. Nyeri berhubungan dengan peningkatan kontraksi uterus.


Tujuan:
1) Nyeri dapat diadaptasi oleh pasien
Kriteria hasil:
2) Skala nyeri 0-1 dan Pasien tampak rileks

Page | 11

INTERVENSI

RASIONAL

1. Beri lingkungan tenang

1. Meningkatkan istirahat dan

dan kurangi rangsangan

meningkatkan kemampuan

penuh stress

koping

2. Kolaborasi dengan dokter


dalam pemberian

2. Analgesik dapat menurunkan


nyeri.

analgesic
3. Memudahkan relaksasi,
3. Ajarkan strategi relaksasi
(misalnya nafas berirama

terapi non farmakologi


tambahan

lambat, nafas dalam,


4. Penggunaan persepsi sendiri

bimbingan imajinasi

atau prilaku untuk


4. Evaluasi dan dukung

menghilangkan nyeri dapat

mekanisme koping px

membantu mengatasinya
lebih efektif

5. Kompres hangat

5. Mengurangi rasa nyeri dan


memperlancar aliran darah

c. Intoleran aktifitas berhubungan dengan anemia.


Tujuan:
1) Pasien dapat beraktivitas seperti semula.
Kriteria hasil:
2) Pasien dapat mengidentifikasi faktor faktor yang memperberat
dan

memperingan

intoleran

aktivitas

dan

Pasien

mampu

beraktivitas.

INTERVENSI

RASIONAL

Page | 12

1. Beri lingkungan tenang dan

1. Menghemat energi untuk

perode istirahat tanpa

aktivitas dan regenerasi seluler/

gangguan, dorong istirahat

penyembuhan jaringan

sebelum makan

2. Tirah baring lama dapat

2. Tingkatkan aktivitas secara

menurunkan kemampuan

bertahap
3. Menurunkan penggunaan
3. Berikan bantuan sesuai

energi dan membantu

kebutuhan

keseimbangan supply dan


kebutuhan oksigen

7. Implementasi keperawatan
Pelaksanaan keperawatan merupakan kegiatan yang dilakukan sesuai
dengan rencana yang telah ditetapkan. Selama pelaksanaan kegiatan dapat
bersifat mandiri dan kolaboratif. Selama melaksanakan kegiatan perlu
diawasi dan dimonitor kemajuan kesehatan klien.
8. Evaluasi keperawatan
Tahap penilaian atau evaluasi adalah perbandingan yang sistematik dan
terencana tentang kesehatan klien dengan tujuan yang telah ditetapkan
dilakukan dengan cara berkesinambungan dengan melibatkan klien dan
tenaga kesehatan lainnya. Penilaian dalam keperawatan merupakan
kegiatan dalam melaksanakan rencana kegiatan klien secara optimal dan
mengukur hasil dari proses keperawatan.
Penilaian keperawatan adalah mengukur keberhasilan dari rencana
dan pelaksanaan tindakan perawatan yang dilakukan dalam memenuhi
kebutuhan klien. Evaluasi dapat berupa : masalah teratasi dan masalah
teratasi sebagian.
2.9 WOC
Etiologi
-

Metroragia di luar kehamilan ;


- Sebab sebab organik ;
Serviks uteri, Korpus uteri seperti,
Tuba fallopii, Ovarium
- Sebab sebabfungsional
terjadi
pada
setiapumur
antara
menarche dan menopause

Etiologi
-

Metroragia oleh karena adanya


kehamilan : abortus, kehamilan
ektopik.
Page | 13

Terjadi perdarahan dari uterus, tuba


dan ovarium

Metroragia /
Perdarahan di luar
haid
Tanpa

Siklus
Ovulasi

Ovulasi
Tidak terjadi
Ovulasi

Rendahnya
Hormon
esterogen
Perdarahan
rahim

HB menurun

Anemia

MK : INTOLERANSI
AKTIFITAS

Kontraksi
uterus
MK :
NYERI

esterogen berlebihan
dan progesteron
menurun
Endometrium
mengalami penebalan

Dinding rahim
rapuh
Perdarahan
MK : DEFISIT VOLUME
CAIRAN

Page | 14

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Metroragia adalah perdarahan dari vagina yang tidak berhubungan dengan
siklus haid. Perdarahan ovulatoir terjadi pada pertengahan siklus sebagai suatu
spotting dan dapat lebih diyakinkan dengan pengukuran suhu basal tubuh.
Penyebabnya adalah kelainan organik (polip endometrium, karsinoma
endometrium, karsinoma serviks), kelainan fungsional dan penggunaan
estrogen eksogen.
3.2 Sara n
Sebagai seorang tenaga kesehatan yang dijadikan role model harusnya kita
menunjukkan perilaku hidup bersih dan sehat. Dan jika dilapangan
menemukan kasus pasien dengan metrohargiaharuslah dirawatdengan baik
sesuai prosedur.
Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu
kritik dan saran dari pembaca sangatlah penulis harapkan demi kesempurnaan
makalah ini untuk ke depannya.

DAFTAR PUSTAKA

Page | 16

http://ml.scribd.com/doc/228274498/Lp-n-Askep-Metrohargia
Prof dr. Hanifa wiknjosastro, DSOG. 1999. Ilmu Kandungan. Yayasan bina
pustaka sarwono prawirohardjo; Jakarta
http://id.scribd.com/doc/141243147/METRORAGIA-PENYEBAB

Page | 17