Vous êtes sur la page 1sur 20

Analisis Usaha Budidaya Tambak Udang Dengan

Pendekatan Tata Ruang Wilayah Pada Kawasan


Pengembangan Ekonomi Terpadu Batulicin
Sat, 05/01/2008 - 7:53pm yulius kisworo
I. PENDAHULUAN
Pemanfaatan dan pengembangan potensi sumberdaya perairan pantai dan laut menjadi paradigma
baru pembangunan di masa sekarang yang harus dilaksanakan secara rasional dan berkelanjutan.
Kebijakan ini sangat realistis karena didukung oleh fakta adanya potensi sumberdaya laut dan
pantai yang masih cukup besar peluang untuk pengembangan eksploitasi dibidang perikanan
baik penangkapan maupuan usaha budidaya ikan.
Sebagai kabupaten baru Tanah Bumbu yang dulunya termasuk dalam wilayah Kabupaten Kota
Baru telah ditetapkan sebagai suatu Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (Kapet),
berdasarkan Kepres Nomor 11 Tahun 1998 tanggal 19 Januari 1998 (Anonim 2004b), tetantang
penetapan Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu dan sesuai dengan peruntukannya
berdasarkan pada rencana tata ruang yang telah ditetapkan.
Untuk itu perlunya eevaluasi terhadap pembangunan yang telah dicapai khususnya sektor
perikanan budidaya tambak meliputi aspek kesesuaian lahan dan pemanfaatan lahan maupun
aspek ekonomis untuk budidaya berdasarkan lingkup Kapet Batulicin, dengan demikian maka
perlu dilakukan penelitian terhadap aspek usaha dan pola pemanfaatan ruang budidaya di
Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Batulicin ini, hal ini berguna untuk membantu
pemerintah daerah dalam menentukan arah dan kebijakan pembangunan perikanan budidaya di
Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (Kapet) Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu.
II. MATERI DAN METODE
3.1. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dimana menurut Moch. Nazir
(2003), metode survey adalah penyelidikan yang diadakan untuk memperoleh fakta-fakta dari
gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual.
3.2. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang Lingkup penelitian adalah Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Batulicin yang
berada pada Kabupaten Tanah Bumbu Kalimantan Selatan.
3.3. Wilayah Kajian dan Variabel Penelitian
Wilayah kajian penelitian adalah Kabuapaten Tanah Bumbu meliputi Kecamatan Batulicin,
Kusan Hilir, Sei Loban dan Kecamatan Satui,

3.4. Parameter dan Variabel Penelitian


Parameter penelitian yang diamati adalah kesesuaian lahan budidaya, pemanfaatan lahan, serta
aspek ekonomis dari usaha budidaya tambak.
3.4.1. Parameter Kesesuaian Lahan
Terbagi atas dua komponen yaitu berdasarkan aspek kesesuaian tata ruang berdasarkan RTRW
Kapet Batulicin dan kesesuan lahan berdasarkan aspek fisika dan kimia perairan tambak dengan
kriteria kesesuaian lahan budidaya tambak DKP (2002) meliputi :
a. Parameter topografi tanah : kelerengan, tekstur, drainase dan ketebalan gambut.
b. Parameter fisika : suhu air, kecerahan dan pola amplitudo pasang surut air laut.
c. Parameter kimia : oksigen terlarut, Amoniak, salinitas, pH dan H2S.
d. Parameter iklim : curah hujan dan hari hujan.
3.4.2. Parameter Pemanfaatan Lahan
Parameter pemanfaatan lahan meliputi variabel :
a. Luas lahan yang termanfaatkan untuk kegiatan budidaya udang windu dan luas lahan yang
diperuntukan untuk kawasan budidaya.
b. Tekanan penduduk, merupakan laju pertambahan tingkat pemanfaatan sumberdaya kawasan
yang dinilai dengan penduduk sekitarnya.
c. Persepsi masyarakat terhadap pemanfaatan lahan, merupakan tanggapan masyarakat terhadap
suatu kawasan.
3.4.3. Parameter Aspek Ekonomi
a. Tingkat produksi dan penerimaan dari budidaya udang windu.
b. Biaya produksi (biaya tetap dan biaya variabel)
c. Tingkat keuntungan
d. Kelayakan usaha
3.5. Jenis dan Sumber data
Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan sekunder.
3.6. Instrumen Penelitian
Instrumen Penelitian untuk variabel kesesuaian lahan dilakukan pengukuran langsung di
lapangan (insitu) dan pengumpulan data sekunder serta untuk variabel pengamatan pemanfaatan
lahan dan aspek ekonomis digunakan daftar pertanyaan (kuisioner).
3.7. Teknik Pengambilan Sampel
a. Pengambilan sampel untuk variabel pemanfaatan lahan dan aspek ekonomis dengan teknik
proporsional sampling (10% dari jumlah populasi RTP di masing-masing kecamatan) kecamatan
Batulicin jumlah populasi 169 RTP, Kecamatan Kusan Hilir 420 RTP, Kecamatan Sei Loban 247
RTP dan Kecamatan Satui 230 RTP.
b. Untuk variabel kesesuaian lahan berdasarkan aspek fisika dan kimia dilakukan pengukuran
pada stasiun pengamatan (insitu) berdasarkan desa yang telah ditentukan dan penentuan stasiun
pengamatan dilakukan dengan teknik acak sederhana (simple random sampling) yaitu dengan
melakukan pengundian pada setiap lokasi tambak (RTP) pada tiga desa dan dilakukan
pengulangan sampel sebanyak 3 kali setiap lokasi.

3.8. Analisis Data


3.8.1. Analisis Kesesuaian Lahan
Analisis yang dilakukan adalah analisis keruangan yang dilakukan dengan cara mengkaji ruang
budidaya yang telah dimanfaatkan dengan rencana tata ruang Kapet Batulicin, sesuai dengan
kebijakan pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dan Kabupaten Tanah Bumbu yang
dituangkan dalam Rencana Umum Tata Ruang Kawasan Pengambangan Ekonomi Terpadu
Batulicin (RUTR Kapet Batulicin) dan Peraturan Daerah (Perda).
Selanjutnya untuk mendapatklan kesesuaian lahan berdasarkan parameter fisika dan kimia
perairan dilakukan pembobotan terhadap nilai parameter. Penyusunan matrik kesesuaian
merupakan dasar dari analisis keruangan. Matrik disusun melalui kajian pustaka dan diskusi
ekspert sehingga diketahui parameter syarat yang dijadikan acuan dalam penyusunan model ini.
Syarat yang dimaksud adalah parameter utama, parameter sekunder dan parameter pendukung.
Dalam penelitian ini setiap parameter di bagi dalam tiga kelas yaitu sesuai, kurang sesuai dan
tidak sesuai Kelas sesuai di beri nilai 3, kurang sesuai 2 dan tidak sesuai 1, selanjutnya setiap
parameter dilakukan pembobotan berdasarkan parameter yang memberikan pengaruh lebih kuat
diberi bobot lebih tinggi dari parameter yang lebih lemah. Total skor dari hasil perkalian nilai
parameter dengan bobotnya tersebut selanjutnya dipakai untuk menentukan klas kesesuaian
lahan budidaya tambak udang
Dengan pembagian syarat-syarat tersebut, maka disusun matrik dengan sistem penilaian pada
Tebel 3 berikut ini.
Tabel Kriteria Kesesuaian Lahan Budidaya Tambak Udang Windu
Parameter Kisaran Angka Penilaian Bobot Skor Sumber
DO
(mg/l) >6
36
<33
2
1
39
6
3 Anonim, 2007b
Salinitas (o/oo) 15 25
10 14 atau 25 30
< 10 atau 30 3
2
139
6
3 Anonim, 2007b
Suhu
(oC) 29 -30
26 29 atau 30 32

< 26 atau > 32 3


2
1
26
4
2 Anonim, 2007b
Kecerahan (cm) 30 40
25 30 atau 40 60
< 25 atau > 60 3
2
126
4
2 Anonim, 2007b
Ibnu Dwi Buono (1993)
H2S
(mg/l) <0,1
0,1 0,2
> 0,2 3
2
126
4
2 DKP, 2002
pH 7,5 - 8,5
6 7,5
<6 atau > 8,5 3
2
126
4
2 DKP, 2002
Ibnu Dwi Buwono (1993)
Amoniak (mg/l) < 0,3
0,3 0,5
>0,5 3
2
126
4
2 DKP, 2002
Ibnu Dwi Buwono (1993)
Kelerengan
(o) < 1 - 2o
2 3o
> 3o 3
2
113
2
1 DKP, 2002

Tekstur (cm) Halus


Sedang
Buruk 3
2
113
2
1 DKP, 2002
Amplitudo Pasut (m) 1,5 2,5
1-1,5 & 2,5- 3,0
< 0,5 atau > 3 3
2
113
2
1 DKP, 2002
Curah Hujan (mm/th) 2500 - 3000
1000-2000 / 3000-35000
< 1000 atau > 3500 3
2
113
2
1 DKP, 2002
Sumber : Adopsi dan modifikasi SK 34/Men/2002. Anonim, 2007b, Ibnu Dwi Buwono (1993)
dan DKP 2002.
Interval kelas kesesuaian lahan berdasarkan metode equal interval (Eddy Prahasta, 2007).
Perhitungannya adalah sebagai berikut :
( ai.Xn)-(ai.Xn)min
I=
k
Keterangan :
I : Interval klas kesesuaian lahan
K : Jumlah klas kesesuaian lahan yang dinginkan
Tabel Nilai skor minimum, skor maksimum dan bobot untuk Kesesuaian lahan Budidaya Tambak
Udang windu
No Kriteria Nilai
Min Nilai
Mak Bobot Total Skor
Min Mak
1 DO (mg/l) 1 3 3 3 9
2 Salinitas (o/oo) 1 3 3 3 9
3 Suhu (oC) 1 3 2 2 6
4 Kecerahan (cm) 1 3 2 2 6
5 H2S (mg/l) 1 3 2 2 6

6 pH 1 3 2 2 6
7 Amoniak (mg/l) 1 3 2 2 6
8 Kelerengan (o) 1 3 1 1 3
9 Tekstur (cm) 1 3 1 1 3
10 Amplitudo Pasut (m) 1 3 1 1 3
11 CH (mm/th) 1 3 1 1 3
Total 20 63
Berdasarkan rumus dan perhitungan di atas diperoleh interval klas kesesuaian lahan sebagai
berikut :
60 20
I = = 13,33
3
Maka diperoleh penilaian (Skor) kelas kesesuaian lahan untuk budidaya tambak udang windu
adalah seperti Tabel berikut :
Skor Tingkat Kesesuaian Keterangan
48 61
Sangat Sesuai Daerah ini tidak mempunyai pembatasan yang serius untuk menerapkan perlakuan
yang diberikan atau hanya mempunyai pembatasan yang tidak berarti atau tidak berpengaruh
secara nyata terhadap penggunannya dan tidak akan menaikan masukan atau tingkat perlakuan
yang diberikan.
34 47
Sesuai Daerah ini mempunyai pembatas-pembatas yang agak serius untuk mempertahankan
tingkat perlakuan yang diterapkan, pembatas ini akan meningkatkan masukan atau tingkat
perlakuan/penggunaan yang diberikan.
20 33
Tidak sesuai Daerah ini mempunyai pembatas permanen, sehingga mencegah segala
kemungkinan perlakuan/penggunaan pada daerah tersebut.
3.8.2. Analisis Pemanfaatan Lahan
Untuk menentukan luas lahan yang termanfaatkan untuk kegiatan budidaya tambak dilakukan
dengan membandingkan luasan lahan yang termanfaatkan untuk kegiatan budidaya tambak
dengan luasan lahan yang diperuntukan untuk kawasan budidaya tambak.
Untuk mengetahui tekanan penduduk (population pressure) terhadap suatu kawasan, rumus yang
digunakan adalah : (Suryanto, 2004)
(Si/Pi) (So/Po)
PP = X 100%

(So/Po)
Dimana :
PP : Laju pertumbuhan tekanan penduduk So
So : Jumlah sumberdaya yang dimanfaatkan pada tahun ke 0
Si : Jumlah sumberdaya yang dimanfaatkan pada tahun ke I
Po : Jumlah penduduk/pemanfaatan pada tahun ke 0
Pi : Jumlah penduduk/pemanfaatan pada tahun ke I
Dengan kriteria sebagai berikut
Skor : > 80 100%, Sangat serius
Skor : 60 79%, Lebih dari serius
Skor : 40 59%, Serius
Skor : 20 39%, Kurang serius
Skor : < 20%,Tidak Serius
Selanjutnya hasil persepsi masyarakat dilakukan analisis regresi dan korelasi untuk mengatahui
model regresi dan keeratan hubungan fungsional yang terbentuk dari umur, tingkat pendidikan
dan lama usaha tambak terhadap persepsi masyarakat tentang tatarung kawasan budididaya.
3.8.3. Analisis Ekonomis
Biaya (Soekartawi, 1995) :
TC : FC + VC
Dimana :
TC : Total Cost/Biaya total
FC : Fixed cost/Biaya tetap
VC : Variabel cost/ Biaya variable
Penerimaan (Soekartawi, 1995) :
TR : Yi . Pyi
Dimana :
TR : Total Revenue/Penerimaan total
Y : produksi yang diperoleh dalam suatu usaha i
Py : Harga Y
Pendapatan bersih/Keuntungan (Soekartawi, 1995) :
Pd : TR TC
Dimana :
Pd : Pendapatan bersih (keuntungan)
TR : Total revenue / penerimaan total
TC : Total cost/Biaya total
Kelayakan :
Untuk mengetahui tingkat kelayakan suatu usaha dapat dilakukan analisis perbandingan
penerimaan total dengan biaya total (Hernanto, 1989), dengan persamaan :
RCR : TR/TC
Dimana :
RCR : Revenu Cost Ratio

TR : Total revenue / penerimaan total


TC : Total cost/biaya total
Dengan kriteria :
RCR : > 1, usaha layak
RCR : = 1, usaha impas
RCR : < 1, usaha rugi
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Letak dan Keadaan Alam lokasi Penelitian Secara Umum
Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Batulicin secara administratif termasuk pula di
dalamnya Kabupaten Tanah Bumbu dengan luas wilayah 5.066,96 Km2 dan secara geografis
terletak pada 2o52 3o47 LS dan 115o15 116o14 BT dengan batas wilayah : sebelah Utara
Kabupaten Kotabaru, sebelah Timur Kabupaten Kotabaru, sebelah Selatan Laut Jawa, sebelah
Barat Kabupaten Banjar dan Kabupaten Tanah Laut .
Gambar Peta Wilayah Kabuapaten tanah Bumbu dan sebaran kapet Batulicin
4.1.1. Keadaan Tanah dan Penggunaan Lahan
Ketinggian Tempat
Wilayah ini dapat dibagi mejadi 4 kelas ketinggian yaitu : Kelas ketinggian 25 100 m dpl, 25
100 m dpl, 100 -5 00 m dpl dan 500 1000 m dpl. (Bappeda Tanah Bumbu, 2003).
Gambar Peta Sebaran Ketinggian Lahan
Kemiringan Tanah
Wilayah dengan lereng > 40% dimanfaatkan untuk hidro orologis dengan penanaman tanaman
keras, 0 8% dimanfaatkan untuk pemukiman dan perkantoran, 8 15% dimanfaatkan untuk
lahan pertanian dan pemukiman/pedesaan, 15 40% dimanfaatkan untuk perkbunan. (Bappeda
Tanah Bumbu, 2003.
Gambar Peta Sebaran Kemiringan Tanah
Jenis Tanah
Secara umum jenis tanah di Kabupaten Tanah Bumbu terdiri dari jenis tanah podsolik, komplek
PMK, Laterit lithosol, lathosol, Podsol, Renzina, Lathosol dan Lithosol (Bappeda Tanah Bumbu,
2003).
Gambar Peta Sebaran Jenis Tanah
Tekstur Tanah
Tekstur halus (lempung liat, lempung llia tberpasir, liat dan gambut) meliputi wilayah kecamatan
Satui, Kusan Hilir, Sebagian Kusan Hulu dan Sebagian Kecamatan Batulicin.
Tekstur sedang (lempung, lempung berdebu dan debu) Sebagiab Kecamatan Kusan Hulu dan
sebagian besar Kecamatan Batulicin
Gambar Peta Sebaran Tekstur Tanah

4.1.2. Keadaan Iklim


Tercatat curah hujan tertinggi pada bulan Januari yaitu 324,10 mm dan terendah pada bulan
September yaitu 3,40 mm, sedangkan rata-rata hari hujan tertinggi pada bulan Januari 28,20 hari
dan terendah pada bulan September 1,50 hari, dengan tipe iklim C (agak basah) (nilai Q =
0,5781) Schmitd dan Ferguson dalam Handoko (1995).
4.1.3. Keadaan Penduduk
Sebaran penduduk di setiap kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
No Kecamatan Jenis Kelamin Jumlah
Pria Wanita
1
2
3
4
5 Kusan Hilir
Satui
Kusan Hulu
Batulicin
Sei Loban 19.679
23.160
10.350
44.062
9.202 19.583
20.626
9.553
40.183
8.327 39.262
43.786
19.903
84.245
17.529
Total 106.453 98.272 204.725
Sumber : BPS Statistik Kab Tanah Bumbu (2004)
4.2. Aspek Tata ruang dan Kesesuaian Lahan
Berdasarkan laporan Rencana Tataruang Bappeda Tanah Bumbu (2003) Kabupaten Tanah
Bumbu, maka komposisi pemanfaatan ruang lahan (tanah) meliputi : a) Kampung atau
pemukiman, b) Industri, c) Pertambangan, d) Persawahan Irigasi teknis, e) Pertanian tanah kering
semusim, f) Kebun campuran sejenis, g) Perkebunan besar, h) Padang (semak, ilalang dan
rumput), i) Hutan, j) Perairan Darat (Rawa, Kolam), k) lahan untuk penggunaan lain-lain. Sedang
ruang kelautan wilayah kapet Batulicin yang terintegrasi dalam Kabupaten Tanah Bumbu
memiliki panjang pantai 200 km yang merupakan potensi perikanan darat maupun laut,
agribisnis dan wisata.

Gambar Peta Sebaran Penggunaan


Merujuk pada Laporan Dinas Perikanan Kabupaten Tanah Bumbu (2003) sebaran potensi
budidaya tambak meliputi Kecamatan Batulicin, Kusan Hilir, Sungai Loban dan Satui dengan
potensi tambak 11.140 Ha, dengan pola pemanfaatan lahan pada tahun 2014 secara umum
Kabupaten Tanah Bumbu merupakan daerah pengembangan industri, pertanian, perkebunan,
kehutanan, perikanan dan pertambangan.
Gambar Peta Zonasi Potensi Tambak
Selanjutnya Rencana Pola Pemanfaatan Lahan tahun 2014 (Laporan RTRW Kabupaten Tanah
Bumbu 2003) maka secara umum Kabupaten Tanah Bumbu merupakan daerah pengembangan
industri, pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan dan pertambangan. Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada Gambar Rencana Pola Pemanfaatan Lahan tahun 2014.
Gambar Peta Rencana Pola Pemanfaatan Lahan Tahun 2014
Kemudian hasil analisis kesesuaian lahan untuk budidaya tambak udang windu menunjukkan
kecamatan Batulicin dan Kusan Hilar dengan kriteria sesuai (skor 47) kemudian untuk
kecamatan Sei Loban dan Satui masuk katagori sangat sesuai (skor 49).
Kecamatan Batulicin dan Kusan Hilir memiliki kriteria kesesuaian lahan sesuai untuk usaha
budidaya udang windu, maka dapat dikatakan bahwa daerah ini mempunyai pembatas-pembatas
yang agak serius untuk mempertahankan tingkat perlakuan yang diterapkan, pembatas ini akan
meningkatkan masukan atau tingkat perlakuan/penggunaan yang diberikan. Dengan demikian
dari hasil sampel kualitas air menunjukan bahwa DO, Salinitas, Suhu dan tingkat kecerahan air
tambak memiliki kriteria sesuai dan ini perlu mendapat perhatian serta penanganan yang lebih
intensif untuk mengoptimalkan kondisi parameter kualitas air tersebut. Alternatif yang dapat
dilakukan untuk optimalisasi DO adalah dengan mengoperasikan kincir air pada unit tambak
sehingga konsentrasi DO dapat ditingkatkan pada batas optimal. Kemudian untuk Salinitas air
perlu pengelolaan dengan menurunkan kadar salinitas pada batas optimum, hal ini dapat
dilakuakan dengan pencampuran air tawar dengan adanya stok air tawar yang memadai atau
dengan penempatan kolam tandon air tawar di setiap unit tambak sehingga memudahkan
pengontrolan kondisi Salinitas. Sedangkan untuk suhu air dapat dilakukan pengoptimalan dengan
sistem sirkulasi air secara kontinyu dari kolam-kolam penampungan air atau dengan
meningkatkan kedalaman air sampai batas maksimum sehingga penetrasi sinar matahari ke
dalam perairan tambak dapat diperlambat dengan demikian suhu dapat lebih dipertahankan pada
kondisi optimum.
Pada Kecamatan Sei Loban dan Satui hasil evaluasi kesesuaian lahan menunjuukan kriteria
sangat sesuai, dengan demikian daerah ini tidak mempunyai pembatasan yang serius untuk
menerapkan perlakuan yang diberikan atau hanya mempunyai hambataan yang tidak berarti atau
tidak berpengaruh secara nyata terhadap penggunannya dan tidak akan menaikan masukan atau
tingkat perlakuan yang diberikan. Namun yang perlu diperhatikan adalah kondisi DO, salinitas
dan suhu yang masih belum optimal untuk itu perlu dilakukan pengelolaan terhadap kualitas air
tersebut dengan memberikan sistem airasi pada petakan tambak, pergantian dan penambahan air
tawar pada unit-unit tambak udang windu.
Gambar Peta Tingkat Kesesuaian Lahan Budidaya Tambak Udang Windu

Berdasarkan kriteria kesesuaian lahan budidaya tambak tersebut dapat dijadikan sebagai dasar
penyusunan rencana tata ruang yang lebih detail lagi terutama kawasan yang mempunyai sifat
khusus seperti budidaya tambak, dimana dalam rencana tata ruang yang telah disusun tahun 2003
-2007 dan proyeksi pola pemanfaatan lahan ditahun 2014 tidak mencantumkan pemanfaatan
lahan untuk kegiatan budidaya tambak, hal ini bertolak belakang dengan potensi perikanan
tambak yang ada di kabupaten Tanah Bumbu sebagai pendukung Kawasan Pengembangan
Ekonomi Terpadu yang memiliki potensi pengembangan kawasan budidaya sebesar 11.140 ha,
dimana potensi yang terealisasi sampai sekarang baru mencapai 2.288,3 Ha atau baru 20,54%
dari total potensi yang ada.
Penataan ruang di Kapet Batulicin yang berada di Kabupaten Tanah Bumbu dapat dilakukan
melalui proses perencanaan secara matang antara lain melalui persiapan penyusunan rencana
tataruang, merumuskan kebijakan pengaturan tata ruang, menyelaraskan antara program
pembangunan dengan rencana tata ruang kawasan, pengawasan atas pemanfaatan tata ruang serta
penertiban atas pelanggaran pemanfaatan ruang.
Aspek Pemanfaatan Lahan
Luas lahan yang termanfaatkan untuk kegiatan budidaya dapat dilihat pada pada Tabel berikut
Tabel Luas Lahan Termanfaatkan untuk Kegiatan Budidaya Tambak Rakyat pada Kapet
Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu
No Kecamatan Luas Potensi Lahan (Rawa)
(Ha) Eksistensi
Tambak (Ha) Luas lahan Termanfaatkan per Kecamatan
(%)
1
2
3
4 Batulicin
Kusan Hilir
Sei Loban
Satui 981
3.242
4.200
2.717 350,6
778,7
616
543 35.74
24.02
14.67
19.98
Total 11.140 2.288,3
Tergambar bahwa luas lahan yang termanfaatkan masih jauh dari luas potensi lahan yang tersedia
untuk budidaya tambak, dimana semua kecamatan masih di bawah 50% dan secara keseluruhan
hanya 20,54%
Selanjutnya untuk laju tekanan penduduk terhadap kawasan budidaya tambak udang windu dapat

di lihat pada tabel berikut.


Tabel Laju Tekanan Penduduk Terhadap Kawasan Budidaya Udang Windu
No Kecamatan Luas Lahan Di Manfaatkan Pada Tahun (ha) Jumlah penduduk Pada Tahun
(Jiwa) Laju Tekanan
(%)
Klasifikasi
Tekanan
Penduduk
1999 2004 1999 2004
1 Batulicin
265,4
350,6
69.650
84.245
9,22
Tdk serius
2 Kusan Hilir
657,5
778,7
35.446
39.262
6,92
Tdk serius
3 Sei Loban
420,0
616,0
12.500
17.529
4,59
Tdk serius
4 Satui 442,0 543,0 38.550 43.786 8,16 Tdk serius
Gambar Laju Tekanan Penduduk Terhadap Kawasan Budidaya Udang Windu
4.3. Aspek Persepsi Masyarakat dan Ekonomi
4.4.1. Persepsi Masyarakat
Hasil jawaban responden memiliki kecenderungan yang beragam selengkapnya ditabelkan
sebagai sebagai berikut.
Tebel Kecenderungan Responden Dalam Menjawab Kuesioner
No Pernyataan Jumlah Responden
SS S R TS STS

Aspek Tata Ruang dan Kesesuaian Lahan


1 Kesesuaian lahan budidaya dengan tata ruang. 0,93 2,80 22,43 42,06 31,78
2 Lahan memenuhi syarat untuk tambak - 1,87 11,21 47,66 39,25
3 Lokasi Tepat digunakan sebagai area tambak - 2,80 11,21 46,73 39,25
4 Areal tambak membuat perubahan daya dukung alam 5,61 6,54 7,48 31,78 48,60
5 Areal tambak menyebabkan perubahan kondisi pantai/muara 14,95 16,82 18,69 22,43 27,10
Aspek Sosial
6 Keterlibatan/peranan masyarakat dalam penyusunan RTRW. 37,38 8,41 15,89 37,38 0,93
7 Perlu tidaknya masyarakat terlibat dalam penyusunan RTRW - - 13,08 72,90 14,02
8 Adanya Sosialisasi RTRW - 24,30 10,28 39,25 26,17
Aspek Lingkungan
9 Adanya dampak negatif dari area tambak terhadap lingkungan sekitar 4,67 23,36 11,21 42,06
18,69
10 Adanya aspek yang harus diperhatikan dalam pembukaan lahan tambak - 2,15 6,82 26,17
44,86
11 Adanya pencemaran lingkungan dari luar area tambak 0,93 31,78 8,41 8,97 29,91
12 Adanya pencemaran lingkungan yang mengkhawatirkan area tambak 6,54 26,17 0,93 26,17
40,19
13 Tanggung jawab terhadap perubahan lingkungan akibat dari budidaya tambak 3,74 34,58 23,36 38,32
Hasil uji F menunjukan nilai F hitung (6,437) > F tabel 5% (2,693) atau probabilitas (0,000) <
0,05, maka dapat diputuskan bahwa variabel independen (umur, tingkat pendidikan dan lama
usaha) secara simultan memberikan pengaruh yang signifikan pada persepsi masyarakat. Hasil
uji t menunjukkan hanya variabel umur yang menunjukkan tidak signifikan dan variable tingkat
Tabel Rerata Biaya Produksi yang Dikeluarkan Dalam Usaha Budidaya Tambak Pada Kapet
Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu
No Kecamatan Biaya
Tetap
(Rp) (%) Tidak Tetap (Rp) (%) Total
(Rp) Persentase
(%)
1
2
3
4 Batulicin
Kusan Hilir
Sei Loban
Satui 7.373.250,00 6.967.098,25 7.176.295,03
8.176.097,87 24,83
23,46
24,17
27,54 4.959.117,65
5.496.473,21
4.627.412,51

6.689.003,62 22,78
25,25
21,25
30,72 12.332.367,65
12.463.571,47
11.803.707,54
14.865.101,49 23,96
24,22
22,94
28,88
Total 29.692.741,15 100,00 21.772.006,99 100,00 51.464.748,15 100,00
Rerata 7.423.185,29 5.443.001,75 12.866.187,04
Selanjutnya hasil analisis regresi menunjukkan model : Y = 11,508 + 0,1741 X1 + 3,327X2 +
5,004X3
pendidikan serta lama usaha menunjukkan keberartian yang nyata.
4.4.2. Aspek Ekonomi
Biaya produksi
Komponen biaya produksi merupakan total biaya yang dikeluarkan dalam satu kali proses
produksi meliputi biaya tetap dan biaya tidak tetap.
Rerata biaya produksi di empat kecamatan adalah sebesar Rp. 12.866.187,04/kecamatan, dengan
komponen biaya tertinggi yang dikeluarkan adalah pada komponen biaya tetap sebesar Rp.
7.423.185,29/kecamatan dan terendah pada biaya tetap sebesar Rp. 5.443.001,75/ kecamatan
Tabel Tingkat Produksi (kg) dan Penerimaan (Rp) Petambak Rakyat di Kabupaten Tanah Bumbu
No Kecamatan Rerata Produksi
(kg) Persentase
Produksi
(%) Rerata Penerimaan
(Rp) Persentase
(%)
1
2
3
4 Batulicin
Kusan Hilir
Sei Loban
Satui 337,06
391,04
314,76
419,57 23,05
26,74
21,52
28,69 20.738.235,29
21.507.095,24
17.311.800,00

23.076.086,96 25,10
26,03
20,95
27,93
Total 1.462,43 100 82.633.217,49 100
Rereta 365,61 20.658.304,37
Diketahui bahwa rerata produksi diempat kecamatan adalah sebesar 365,61 Kg/Kecamatan,
dengan produksi tertinggi pada kecamatan Satui 419,57 kg (28,69%) dan terendah pada
Kecamatan Sei Loban 314,76 kg (21,52%) dari total produksi.
Rerata penerimaan di empat kecamatan adalah sebesar Rp 20.658.304,37/kecamatan dengan
penerimaan terbesar di Kecamatan Kusan Hilir sebesar Rp. 21.507.095,24 atau 26,03% dari
penerimaan total, dan penerimaan terendah di
Melihat gambaran di atas, maka rata-rata produksi udang windu yang dihasilkan dalam satu kali
produksi adalah sebesar 188,34 kg/ha. Dengan produksi tertinggi dihasilkan kecamatan Kusan
Hilir sebesar
Tabel Rerata Produksi Tambak Udang Windu pada Kapet Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu
No Kecamatan Rerata Luas Tambak (Ha) Rerata Produksi (Kg) Produksi/Ha Persentase
(%)
1
2
3
4 Batulicin
Kusan Hilir
Sei Loban
Satui 2,29
1,83
1,51
2,28 337,06
391,04
314,76
419,57 147,19
213,68
208,45
184,02 19,54
28,36
27,67
24,43
Total 7,91 1.462,43 753,34 100
Rerata 1,98 365,61 188,34
Produksi dan penerimaan
Hasil analisis produksi dan penerimaan menunjukkan bahwa tingkat produksi dan penerimaan
petani tambak diempat kecamatan bervariasi untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tebel
berikut.

Kecamatan Sei Loban sebesar Rp. 17.311.800,00 atau 20,95% dari total penerimaan. Untuk
produksi per hektar yang dihasilkan oleh masing-masing petambak dapat dilihat pada tabel
berikut.
213,68 kg/ha. Bila dibandingkan dengan data produksi udang windu Propinsi Kalimantan
Selatan pada tahun 2004 rerata sebesar 475,50 kg/ha dan tahun 2005 rerata 546,41 kg/ha (Dinas
perikanan dan Kelautan Propinsi Kalimantan Selatan, 2004 dan 2005), maka produksi udang
windu di Kabupaten Tanah Bumbu lebih rendah bila dibandingkan dengan rerata produksi di
tingkat propinsi, hal ini diduga masih belum optimalnya input teknologi budidaya yang
diterapkan para petambak di Kabupaten Tanah Bumbu.
Tingkat keuntungan
Tabel Tingkat Keuntungan Usaha Budidaya Tambak Udang Rakyat pada Kapet Batulicin
No Kecamatan Total Tingkat Keuntungan (Rp) Persentase
(%)
Penerimaan (Rp) Biaya (Rp)
1
2
3
4 Batulicin
Kusan Hilir
Sei Loban
Satui 20.738.235,29
21.507.095,24
17.311.800,00
23.076.086,96 12.332.367,65
12.463.571,47
11.803.707,54
14.865.101,49 8.405.867,65
9.043.523,77
5.508.092,46
8.210.985,46 26,97
29,01
17,67
26,34
Total 82.633.217,49 51.464.748,15 31.168.469,34 100,00
Rerata 20.658.304,37 12.866.187,04 7.792.117,34
Dari tabel diatas dijelaskan bahwa rerata keuntungan sebesar Rp. 7.792.117,34/kecamatan,
dengan keuntungan tertinggi di Kecamatan Kusan Hilir sebesar Rp. 9.043.523,77 atau 29,01%,
dan terendah pada Kecamatan Sei Loban sebesar Rp. 5.508.092,46 atau sebesar 17,67% dari total
keuntungan.
Kelayakan ekonomis usaha budidaya tambak rakyat

Tabel Tingkat Kelayakan Usaha Budidaya Tambak Udang Windu


No Kecamatan Total Nilai RCR
Penerimaan (Rp) Biaya (Rp)
1
2
3
4 Batulicin
Kusan Hilir
Sei Loban
Satui 20.738.235,29
21.507.095,24
17.311.800,00
23.076.086,96 12.332.367,65
12.463.571,47
11.803.707,54
14.865.101,49 1,67
1,70
1,46
1,56
Total 82.633.217,49 51.464.748,15
Tabel di atas menunjukkan Kecamatan Kusan Hilir memiliki tingkat kelayakan usaha budidaya
terbaik denga nilai RCR 1,70 dan terendah pada Kecamatan Sei Loban sebesar 1,46. Di semua
kecamatan menunjukkan kriteria layak untuk di usahakan (RCR > 1).
4.4. Pengelolaan Usaha Budidaya Tambak Udang Windu
Untuk mengetahui ketepatan pengelolaan usaha budidaya tambak pada Kapet Batulicin di
Kabupaten Tanah Bumbu dapat diketahui dengan menggabungkan aspek kesesuaian lahan, aspek
pemanfaatan lahan, aspek tekanan penduduk dan aspek ekonomis usaha budidaya tambak, yang
hasilnya adalah sebagai berikut.
Tabel Matrik Hubungan Aspek Kesesuaian Lahan, Aspek Pemanfaatan Lahan, Aspek Tekanan
Penduduk dan Aspek Ekonomis Usaha Budidaya Tambak Udang WIndu
Kesesuaian lahan Tingkat Pemanfaatan Lahan Budidaya Tingkat Tekanan Penduduk Terhadap
Lahan budidaya Tingkat Kelayakan Ekonomis
Sangat Sesuai Sesuai Tidak sesuai Tinggi Sedang Kurang sangat serius Lebih dari Serius Serius
Kurang serius Tdk serius Layak Impas Tdk layak
Kecamatan Batulicin

Kecamatan Kusan Hilir

Kecamatan Sei Loban

Kecamatan Satui

Dengan demikian maka diketahui secara keseluruhan bahwa usaha budidaya Tambak pada Kapet
Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu didukung oleh potensi lahan yang sangat sesuai untuk
Kecamatan Satui dan Sei Loban dan tingkat sesuai untuk Kecamatan Batulicin dan Kusan Hilir
dan dari aspek ekonomis layak untuk diusahakan serta didukung oleh tingkat tekanan penduduk
terhadap lahan budidaya masih rendah. Namun pemanfaatan lahan untuk usaha budidaya masih
belum optimal. Maka selanjutnya perlu dilakukan langkah-langkah pengelolaan dengan
mempertahankan dan mengoptimalkan daya dukung lingkungan untuk usaha budidaya tambak
udang serta mengoptimalisasikan pemanfaatan lahan sesuai dengan potensi lahan dan perlu
adanya peraturan daerah untuk mempertahankan kawasan budidaya tambak terhadap tekanan
pemanfaatan lahan dari fungsi pemanfaatan lahan yang lainnya.
IV.KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasakan hasil dan pembahasan maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut.
1. Kesesuaian lahan yang ada di kapet Batulicin pada Kabupaten Tanah Bumbu termasuk
kategori sesuai untuk Kecamatan Batulicin dan Kusan Hilir kemudian untuk Kecamatan Sei
Loban dan Satui dengan kriteria sangat sesuai untuk kegiatan budidaya tambak udang windu.
2. Pemanfaatan lahan yang ada di kapet Batulicin pada Kabupaten Tanah Bumbu untuk usaha
budidaya tambak masih belum optimal
3. Laju tekanan penduduk terhadap lahan budidaya tambak yang ada di Kapet Batulicin pada
Kabupaten Tanah Bumbu masih dalam kriteria tidak serius.
4. Kelayakan ekonomis usaha budidaya tambak udang windu yang ada di kapet Batulicin pada
Kabupaten Tanah Bumbu menunjukkan kriteria layak untuk diusahakan
Saran
Hendaknya masyarakat lebih mengoptimalkan pemanfaatan lahan untuk kegiatan usaha budidaya
tambak sesuai dengan potensi yang dimiliki sehinggga dapat meningkatkan pendapatan
masyarakat, hal ini tentunya memerlukan dukungan dari pemerintah daerah baik berupa
dukungan teknis maupun non teknis. Selain itu pula perlunya peraturan daerah yang mengatur
tentang pemanfaatan lahan sehingga tidak terjadi tumpang tindih pemanfatan lahan dikemudian
hari.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2004b. Pekerjaan Rencana Pengembanagn Usaha (Bisnis Plan) Kapet dan Evaluasi
Kelayakan Peluang Investasi. Laporan Akhir. PT. Santika Consultindo-BP.Kapet Batulicin
______, 2007b. Metodologi Penelitian dan Pengkajian Perikanan. . Accessed 29 September
2007.
Bappeda Kabupaten Tanah Bumbu, 2003. Lapporan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten
Tanah Bumbu. Bappeda Tanah Bumbu Kalimantan Selatan.

BPS Kabupaten Tanah Bumbu, 2004.. Kabupaten Tanah Bumbu Dalam Angka. Pemerintah
Kabupaten Tanah Bumbu. Kalimantan Selatan
Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), 2002. Pedoman Umum Penataan Ruang Pesisir dan
Pulau-pulau Kecil. Depertemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.
Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), 2002. Kriteria Kesesuaian Lahan. Dirjen Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.
Dinas Perikanan dan Kelautan propinsi Kalimatan Selatan, 2004. Laporan Tahunan Dinas
Perikanan dan Kelautan Propinsi Kalimantan Tahun 2003/2004 Selatan. Kalimantan Selatan.
_________, 2005. Laporan Tahunan Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Kalimantan Tahun
2004/2005 Selatan. Kalimantan Selatan.
Eddy Prahasta, 2007. Sistem Informasi Geografis Tutorial ArcView. Informatika. Bandung.
Hernanto., F, 1989. Ilmu Usahatani. Penebar Swadaya. Jakarta Bappeda Tanah Bumbu, 2003.
Handoko, 1995. Klimatologi Dasar. PT. Dunia Pustaka. Jakarta.
Ibnu Dwi Purnomo, 1993. Tambak Udang Windu Sistem Pengelolaan Berpola Intensif. Kanisius.
Yogyakarta.
Muchammad Nazir, 2003. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta.
Soekartawi, 1995. Analisis Usahatani. Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Suryanto.,A, 2004. Pedoman Zonasi. Pendekatan Daya Dukung Lingkungan Dalam Pemanfaatan
Potensi Wilayah Pesisir dan lautan. Bahan Bacaan Matakuliah Tata Ruang dan Pulau-Pulau
Kecil. Universitas Diponegoro. Semarang.

lain lain

Add new comment

Comments
Tue, 01/04/2008 - 9:49pm Tamu

k_ris_69@yahoo.com
pada pendekatan masalah anda potensi penduduk sekitar apakah simpatik terhadap lahan tambak
tersebut?

reply

Tue, 17/06/2008 - 11:47am Tamu

Tanggapan penduduk
Pemanfaatan lahan untuk hal positif yang meletakan dasar pemikiran untuk rakyat dan
kesejahteraan di daerahnya dalah merupah hal yang saeharusnya. namu melihat batulicin sebagai
kabupaten yang memiliki PAD cukup besar saat ini, sangatlah potensial pula betuk KKN yang
terjadi di daerah ini oleh penguasa daerah beserta jajaran dibelakangnya. KAPET memang
merupakan lahan yang startegis walaupun secara teknis struktur daya dukung tanah kurang serta
sumber air tawar baku yang sulit. pada daerah ini disinyalir akan dilakukan praktik penguasaan
lahan oleh penguasa memalui pengalihan status dan Fungsi peruntukan KAPET menjadi
kepentingan bisnis secara kelompok/individu.
Kondisi masyarakat Batulicin saat ini tengah menikmati HEPORIA dibalik kesengsaraan dimasa
mendatang.

http://organisasi.org/analisis-usaha-budidaya-tambak-udang-dengan-pendekatantata-ruang-wilayah-pada-kawasan-pengembangan-ekonomi-terpadu-batulicin