Vous êtes sur la page 1sur 28

TUBERKULOSIS

PARU

02/14/15

Definisi
Tuberkulosis merupakan penyakit
akibat infeksi kuman
Mycobacterium tuberculosis,
bersifat sistemik, dapat mengenai
hampir semua organ tubuh (lokasi
terbanyak di paru) yang biasanya
merupakan lokasi infeksi primer
02/14/15

TB droplet nuclei

02/14/15

droplet nuclei
inhalation

alveoli

ingestion by PAMS

intracellular replication
of bacilli

destruction
of bacilli

destruction of PAMS
Tubercle formation

Lymphogenic spread

Hilar lymph nodes

primary focus

lymphangitis

lymphadenitis

hematogenic spread
acute hematogenic
spread

occult hematogenic
spread

disseminated primary TB

multiple organs
remote foci

02/14/15

primary
complex

Figure. Pathogenesis of primary tuberculosis

CMI
4

Patogenesis
lymphadenitis

lymphangitis

primary focus

02/14/15

Reaksi tubuh terhadap Infeksi


primer
Keluhan tu pd anak-anak :

p ringan suhu tubuh


Anak tampak sakit
Nyeri sendi, malaise, anoreksia, lelah, nafsu makan
Uji tuberkulin (-)

Setelah 12 mgg kekebalan spesifik p>kgb

02/14/15

Uji tuberkulin (+)


Batuk
Panas tinggi + kejang
Foto torak : p>kgb di hilus, trakea, leher
infiltrat halus Tb milier
6

Penyebaran hematogen

02/14/15

TB milier

02/14/15

WHO (1991)
Kategori I
Kasus baru dg sputum +
Kasus baru dg TB berat

Kategori II
Kasus kambuh
Kasus gagal dg sputum +

Kategori III
BTA (-) dg kelainan paru yg tdk luas
TB ekstra paru selain yg disebut dlm kat I

Kategori IV: TB kronik

02/14/15

Manifestasi klinis
Gjl respiratorik

Batuk > 3 mgg, kering produktif


Hemoptisis
Dispneu
Nyeri dada

Gjl sistemik

02/14/15

Demam tdk tinggi dan > keringat tu malam hari


Malaise
Anoreksisa
Sakit kepala, mialgia
p BB
10

Tanda fisik :
Penarikan jaringan sekitar
gerakan daerah yg sakit
Bronkovesikuler / bronkial, bronkofoni,
ronki basah / kering, amforik

Komplikasi menyebar ke organ lain


atau kerusakan paru yg luas yg brp :

02/14/15

Batuk darah masif


Pneumotoraks
Empiema
bronkiektasis

11

Pemeriksaan penunjang
Radiologik
Bakteriologik alat diagnostik pasti
Hapusan, fluoresensi, biakan, inokulasi
Bahan yg diambil dari :

Dahak 3 x : sewaktu, pagi, sewaktu


Kerokan laring
Kumbah lambung
Kumbah sal pernafasan
Cairan pleura

Ziehl-Nielsen / Tam Thiam Hok


Gaffky / Bronchorst
02/14/15

12

Basil TB

02/14/15

13

Pemeriksaan serologik
PCR, BACTEC
Pemeriksaan darah LED / normal
Pemeriksaan test tuberkulin
Pemeriksaan patologi / aspirasi
jarum halus :

02/14/15

Biopsi
Biopsi
Biopsi
Biopsi

paru
pleura
kel getah bening yg membesar
organ lain diluar paru
14

Tuberkulin
Strength
first
intermediate
(standard dose)

second
02/14/15

PPD S
Seibert

PPD RT23

1 TU

1 TU

5-10 TU

2-5 TU

250 TU

100 TU
15

Tuberkulin
Mantoux 0.1 ml PPD intermediate strength
lokasi
: volar lengan bawah
Pembacaan : 48-72 jam stlh injeksi
Pengukuran
: palpasi indurasi
Pelaporan : dlm millimeter, walau 0 mm
Diameter indurasi :
0 - 5 mm : negatif
5 - 9 mm : meragukan, ulang 2 mg
> 10 mm : positif
> 15 mm : positif pd balita dg BCG (+)
02/14/15

16

Uji tuberkulin
(Mantoux tes)

02/14/15

17

Gambaran radiologis sugestif TB


(AP Lateral)
Pembesaran kelenjar hilus atau
paratrakeal dengan/tanpa infiltrat
Milier
Atelektasis
Kavitas
Tuberkuloma
Pneumonia
Air trapping - hyperinflasi
Efusi pleura
Honeycombs bronkiektasis
Kalsifikasi , fibrosis
02/14/15

18

Prinsip terapi
Kombinasi obat

Risiko terjadi fall and rise phenomenon


Masing-masing obat punya efek yang
berbeda terhadap kuman

Dua fase :

Fase intensif (2 bl pertama)efek


bakterisidal
Fase lanjutan (4 bulan / lebih) sterilizing
effect, mengurangi kemungkinan relaps

02/14/15

19

Kombinasi obat , fixed dose combination


(150 mg R, 75 mg H, 275 mg E, 400 mg
Z 1 tab/15 kgbb)
Obat primer :

Isoniazid (H)
Rifampisisn (R)
Pirazinamid (Z)
Streptomisin (S)
Etambutol (E)

Obat sekunder : kanamisin, PAS,


siprofloksasin, dll
02/14/15

20

Pemberian OAT tgt kategori pdrt

Kategori
Kategori
Kategori
Kategori

I : 2RHZE / 4RH/4R3H3/6HE
II : 2RHZSE/1RHZE / 5R3H3E3/5RHE
III: 2RHZ / 4R3H3/4RH/6HE
IV TB kronik obat tk 2

Lama pemerian minimal 6 bulan


Fase intensif dan fase lanjutan
Dosis obat :

02/14/15

Streptomisin : 750 1000 mg


Isoniazid : 300 400 mg
Rifampisin : 450 600 mg
Pirazinamid : 1500 2000 mg
Etambutol : 500 750 mg
21

REGIMEN PENGOBATAN TB PARU


Kategori I
BB INTENSIF
LANJUTAN
33 50 Kg
2RHZE
4RH (450/300)
(450/300/1500/800)
4R3H3(450/600)

50 Kg
2RHZE
4RH (600/300)

(600/300/2000/1200)
4R3H3(600/700)

02/14/15

22

Kategori II
BBINTENSIF
LANJUTAN
33 50 Kg
2RHZES (450/300/1500/800/750) 5RHE (450/300/800)
+
5R3H3E3(450/600/1200)
1RHZE (450/300/1500/800)
> 50 Kg
2RHZES (600/300/2000/1200/750) 5RHE
(600/300/1200)
+
5R3H3E3(600/700/1600)
1RHZE (600/300/2000/1200)

02/14/15

23

Paduan obat TB
2 bl

6 bl

9 bl

12bl

INH
RIF
PZA
EMB
SM
PRED
DOT.S !
02/14/15

24

Kortikosteroid
Anti inflamasi
prednison : oral, 1-2mg/kgBW/hr, 3 dosis
2-4 mg, tap off
Indikasi :
TB milier
Meningitis TB
Pleuritis TB dengan efusi

02/14/15

25

Evaluasi hasil pengobatan


Evaluasi klinis :

Panambahan BB
Perbaikan nafsu makan
Hilang/membaiknya gejala klinis (demam,
batuk, dll)

Pemeriksaan penunjang :

Foto toraks : 2 / 6 bl
Darah : LED
Tuberculin test : once positive, do not
needed to repeat !

02/14/15

26

Problem terapi
Utama : compliance / kepatuhan
Faktor yg berperan :
Waktu yg lama
Efek samping obat
Sosek, kultur budaya

Akibat: resistensi obat

02/14/15

27

Terima
kasih
02/14/15

28