Vous êtes sur la page 1sur 13

MAKALAH KLIMATOLOGI DASAR

DAMPAK PERUBAHAN IKLIM BAGI


BUDIDAYA PERIKANAN AIR TAWAR

OLEH:
MARIA HAMI
L. FIRMAN YAYANG A.
NURMAYANA

PROGRAM STUDI KLIMATOLOGI DASAR


JURUSAN BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN
UNIVERSITAS 45 MATARAM
MATARAM
2014

KATA PENGANTAR
Puji syukur terhadap tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya saya
dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Dampak Perubahan Iklim Bagi Budidaya
Perikanan Air Tawar yang membahas; Penyebab terjadinya perubahan iklim, sumber air
tawar, dampak perubahan iklim bagi budidaya perikanan air tawar dan upaya mengurangi
dampak perubahan iklim bagi budidaya perikanan air tawar.
Saya sadar makalah ini masih sangat jauh dari sempurna, saya berharap semoga
makalah ini dapat berguna semua pihak sesuai dengan tujuan pembuatan makalah ini yaitu
memberikan wawasan atau gambaran dari dampak perubahan iklim bagi budidaya perikanan
air tawar. Selain itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran untuk menyempurnakan
makalah saya yang akan datang .saya juga berterima kasih kepada semua pihak dan sumbersumber referensi yang telah mambantu penulisan makalah ini.

Mataram, 29 Januari 2015

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.....
HALAMAN PENGESAHAN ....
DAFTAR ISI.......
BAB I 1.1 Pendahuluan
Landasan Teori.........
Rumusan Masalah.........
Tujuan ......
BAB II 1.2 Pembahasan
Perubahan Iklim...................
Sumber Air Tawar ...................................................
Dampak Perubahan Iklim Bagi Budidaya Perikanan Air Tawar..............................
Upaya Mengurangi Dampak Perubahan Iklim Bagi Budidaya Perikanan Air Tawar
BAB III 1.3 PENUTUP.
Kesimpulan ...
DAFTAR PUSTAKA...

BAB I

1.1 PENDAHULUAN
Pemanasan global merupakan isu lingkungan hidup yang dapat menyebabkan
perubahan iklim global. Perubahan iklim global terjadi secara perlahan dalam jangka waktu
yang cukup panjang, antara 50 100 tahun. Walaupun terjadi secara perlahan, perubahan
iklim memberikan dampak yang sangat besar pada kehidupan mahluk hidup. Dampak yang
terjadi antara lain: mencairnya es dikutub selatan, pergeseran musim, dan peningkatan
permukaan air laut. Dampak tersebut memberikan pengaruh terhadap kelangsungan mahluk
hidup.
Perubahan iklim dapat memberikan efek yang signifikan terhadap sumber daya air di
seluruh dunia karena hubungan yang erat antara iklim dan daur hidrologi.
Peningkatan temperatur akan meningkatkan penguapan dan memicu peningkatan presipitasi.
Secara
keseluruhan
akan
terjadi
peningkatan
suplai
air
tawar
dunia.Banjir dan kekeringan akan terjadi lebih sering di beberapa wilayah dalam waktu yang
berbeda-beda, akan terjadi perubahan yang drastis pada hujan salju dan proses pelelehan salju
di pegunungan akan meningkat. Temperatur yang meningkat juga akan memengaruhi kualitas
air, namun belum dipahami dengan baik. Dampak yang paling mungkin adalah eutrofikasi,
yaitu peningkatan populasi tumbuhan air (alga, eceng gondok, dll) secara cepat. Perubahan
iklim juga akan meningkatkan permintaan suplai air untuk irigasi, dan mungkin air untuk
kolam renang.
Sedangkan sumber daya air adalah sumber daya berupa air yang berguna atau
potensial
bagi manusia.
Kegunaan air meliputi
penggunaan
di
bidang pertanian, industri, rumah tangga, rekreasi, dan aktivitas lingkungan. Sangat jelas
terlihat bahwa seluruh manusia membutuhkan air tawar. 97% air di bumi adalah air asin, dan
hanya 3% berupa air tawar yang lebih dari 2 per tiga bagiannya berada dalam bentuk es
di glasier dan es kutub. Air tawar yang tidak membeku dapat ditemukan terutama di
dalam tanah berupa air tanah, dan hanya sebagian kecil berada di atas permukaan tanah dan
di udara.
Air tawar adalah sumber daya terbarukan, meski suplai air bersih terus
berkurang. Permintaan air telah melebihi suplai di beberapa bagian di dunia dan populasi
duniaterus meningkat yang mengakibatkan peningkatan permintaan terhadap air bersih.
Perhatian terhadap kepentingan global dalam mempertahankan air untuk pelayanan
ekosistem telah bermunculan, terutama sejak dunia telah kehilangan lebih dari setengah lahan
basah bersama
dengan
nilai
pelayanan
ekosistemnya. Ekosistem
air
tawar yang tinggi biodiversitasnya saat ini terus berkurang lebih cepat dibandingkan
dengan ekosistem laut ataupun darat.
1.2 LANDASAN TEORI
Ciri-ciri terjadinya dan sekilas tentang perubahan iklim:
Meningkatnya pemanasan : Sebelas dari dua belas tahun terakhir merupakan tahun-tahun
terhangat dalam temperatur permukaan global sejak 1850. Tingkat pemanasan rata-rata
selama lima puluh tahun terakhir hampir dua kali lipat dari rata-rata seratus tahun
o
terakhir. Temperatur rata-rata global naik sebesar 0.74 C selama abad ke-20, dimana
pemanasan lebih dirasakan pada daerah daratan daripada lautan.

Jumlah karbondioksida yang lebih banyak di atmosfer : Karbondioksida adalah


penyebab paling dominan terhadap adanya perubahan iklim saat ini dan konsentrasinya di
atmosfer telah naik dari masa pra-industri yaitu 278 ppm (parts-permillion) menjadi 379
ppm pada tahun 2005.
Lebih

banyak air, tetapi penyebarannya tidak merata : Adanya peningkatan presipitasi


pada beberapa dekade terakhir telah diamati di bagian Timur dari Amerika Utara dan
Amerika Selatan, Eropa Utara, Asia Utara serta Asia Tengah. Tetapi pada daerah Sahel,
Mediteranian, Afrika Selatan dan sebagian Asia Selatan mengalami pengurangan
presipitasi. Sejak tahun 1970 telah terjadi kekeringan yang lebih kuat dan lebih lama.
Kenaikan permukaan Laut : Saat ini dilaporkan tengah terjadi kenaikan muka laut dari
abad ke-19 hingga abad ke-20, dan kenaikannya pada abad 20 adalah sebesar 0.17 meter.
Pengamatan geologi mengindikasikan bahwa kenaikan muka laut pada 2000 tahun
sebelumnya jauh lebih sedikit daripada kenaikan muka laut pada abad 20. Temperatur ratarata laut global telah meningkat pada kedalaman paling sedikit 3000 meter.
Pengurangan tutupan salju : Tutupan salju semakin sedikit di beberapa daerah, terutama
pada saat musim semi. Sejak 1900, luasan maksimum daerah yang tertutup salju pada
musim dingin/semi telah berkurang sekitar 7% pada Belahan Bumi Utara dan sungaisungai akan lebih lambat membeku (5.8 hari lebih lambat daripada satu abad yang lalu)
dan mencair lebih cepat 6.5 hari.
Gletser

yang mencair : Pegunungan gletser dan tutupan salju rata-rata berkurang pada
kedua belahan bumi dan memiliki kontribusi terhadap kenaikan muka laut sebesar 0.77
milimeter per tahun sejak 1993 2003. Berkurangnya lapisan es di Greenland dan
Antartika berkontribusi sebesar 0.4 mm pertahun untuk kenaikan muka laut (antara 1993
2003).
Benua Arktik menghangat : Temperatur rata-rata Benua Arktik mengalami peningkatan
hingga mencapai dua kali lipat dari temperatur rata-rata seratus tahun terakhir. Data satelit
yang diambil sejak 1978 menunjukkan bahwa luasan laut es rata-rata di Arktik telah
berkurang sebesar 2.7% per dekade.
Perubahan iklim ini berpengaruh terhadap budidaya perairan air tawar,
yang dimana ikan air tawar merupakan komoditas perikanan air tawar yang
saat ini banyak menghasilkan devisa. Seiring dengan meningkatnya jumlah
penduduk dunia dan kebutuhan akan bahan pangan dan gizi yang lebih baik,
permintaan ikan terus meningkat dari tahun ke tahun. Asia, selain sebagai
produsen ikan terbesar, diperkirakan juga menjadi konsumen terbesar dari
hasil perikanan dunia. Permintaan ikan di Asia meningkat mencapai 69 juta
ton pada tahun 2010 atau setara dengan 60% dari total permintaan ikan
dunia. Permintaan ikan yang meningkat tentunya memiliki makna positif bagi
pengembangan perikanan, terlebih bagi Negara kepulauan seperti Indonesia
yang memiliki potensial perairan yang cukup luas dan potensial untuk
pengembangan perikanan baik penangkapan maupun akuakultur. (Widodo, J.,
2006).
Ikan hidup dalam lingkungan air dan melakukan interaksi aktif antara
keduanya. Ikan-air
boleh dikatakan sebagai suatu sistem terbuka di mana terjadi pertukaran
materi dan energi, seperti oksigen (O 2), karbondioksida (CO2), garamgaraman, dan bahan buangan. Berdasarkan hasil penelitian, ternyata daging
ikan mempunyai komposisi kimia, yaitu air 60,0-84,0%; protein 18,0-30,0%;

lemak 0,1-2,2%; karbohidrat 0-1,0%; vitamin dan mineral sisanya. (Afrianto,


E., 1989).
Secara alami, kandungan mineral tawar sangat beragam, tergantung pada
sumber dan lokasinya. Garam-garam utama yang terdapat dalam air laut
adalah klorida (55%), natrium (31%), sulfat (8%), magnesium (4%), kalsium
(1%), dan sisanya (kurang dari 1%) terdiri dari bikarbonat, bromida, dan
fluorida. Dalam ekosistem air tawar, kadar garam yang terlarut dalam air
tawar <0,05 %, di mana natrium mempunyai konsentrasi tinggi dibandingkan
dengan kalium dan magnesium. (Kordi, K., 2007).
Unsur-unsur mineral mempunyai arti yang sangat penting bagi
berbagai macam aspek
metabolisme dalam kehidupan ikan. Mineral berfungsi untuk memperkuat
tulang dan eksoskleton (kerangka luar). Di samping itu, mineral juga
berfungsi untuk menjaga keseimbangan tekanan osmotik antara cairan tubuh
dan dalam syaraf, serta kelenjar endokrin air di sekitarnya. (Irianto, A., 2005).

1.3 RUMUSAN MASALAH


1. Apa itu perubahan iklim?
2. Darimana sumber air tawar?
3. Apa dampak perubahan iklim bagi budidaya perairan air tawar?
4. Bagaimana upaya mengurangi dampak perubahan iklim bagi budidaya perikanan air
tawar?
1.4 TUJUAN
1. Untuk mengetahui maksud dari perubahan iklim.
2. Untuk mengetahui sumber air tawar.
3. Untuk mengetahui dampak perubahan iklim bagi budidaya perikanan air tawar.
4. Untuk mengetahui upaya mengurangi dampak perubahan iklim bagi budidaya
perairan air tawar.

BAB II
2.1. PEMBAHASAN
a). Penyebab Terjadinya Perubahan Iklim
Perubahan iklim menunjuk pada adanya perubahan pada iklim yang disebabkan
secara langsung maupun tidak langsung oleh kegiatan manusia yang mengubah komposisi
atmosfer global dan juga terhadap variabilitas iklim alami yang diamati selama periode waktu
tertentu. Pertama yang harus jelas lebih dulu adalah bahwa perubahan iklim bukanlah hal
baru. Iklim global sudah selalu berubah-ubah. Jutaan tahun yang lalu, sebagian wilayah dunia
yang kini lebih hangat, dahulunya merupakan wilayah yang tertutupi oleh es, dan beberapa
abad terakhir ini, suhu rata-rata telah naik turun secara musiman, sebagai akibat fluktuasi
radiasi matahari, misalnya, atau akibat letusan gunung berapi secara berkala. Namun, yang
baru adalah bahwa perubahan iklim yang ada saat ini dan yang akan datang dapat disebabkan
bukan hanya oleh peristiwa alam melainkan lebih karena berbagai aktivitas manusia.
Kemajuan pesat pembangunan ekonomi kita memberikan dampak yang serius terhadap iklim
dunia, antara lain lewat pembakaran secara besar-besaran batu bara, minyak, dan kayu,
misalnya, serta pembabatan hutan. Kerusakannya terutama terjadi melalui produksi gas
rumah kaca, dinamakan demikian karena gas-gas itu memiliki efek yang sama dengan atap
sebuah rumah kaca. Gas-gas itu memungkinkan sinar matahari menembus atmosfer bumi
sehingga menghangatkan bumi, tetapi gas-gas ini mencegah pemantulan kembali sebagian
udara panas ke ruang angkasa. Akibatnya, bumi dan atmosfer, perlahan-lahan memanas.
b). Sumber Air Tawar
Berikut merupakan sumber-sumber perairan air tawar:
1. Air Permukaan
Air permukaan adalah air yang terdapat di sungai, danau, atau rawa air tawar. Air
permukaan secara alami dapat tergantikan dengan presipitasi dan secara alami menghilang
akibat aliran menuju lautan, penguapan, dan penyerapan menuju ke bawah permukaan.
Meski satu-satunya sumber alami bagi perairan permukaan hanya presipitasi
dalam area tangkapan air, total kuantitas air dalam sistem dalam suatu waktu bergantung pada
banyak faktor. Faktor-faktor tersebut termasuk kapasitas danau, rawa, dan reservoir buatan,
permeabilitas tanah di bawah reservoir, karakteristik aliran pada area tangkapan air, ketepatan
waktu presipitasi dan rata-rata evaporasi setempat. Semua faktor tersebut juga memengaruhi
besarnya air yang menghilang dari aliran permukaan.
Aktivitas manusia memiliki dampak yang besar dan kadang-kadang menghancurkan
faktor-faktor tersebut. Manusia seringkali meningkatkan kapasitas reservoir total dengan
melakukan pembangunan reservoir buatan, dan menguranginya dengan mengeringkan lahan
basah. Manusia juga sering meningkakan kuantitas dan kecepatan aliran permukaan dengan
pembuatan sauran-saluran untuk berbagai keperluan, misalnya irigasi.

Kuantitas total dari air yang tersedia pada suatu waktu adalah hal yang penting.
Sebagian
manusia
membutuhkan
air
pada
saat-saat
tertentu
saja.
Misalnya petanimembutuhkan banyak air ketika akan menanam padi dan membutuhkan lebih
sedikit air ketika menanam palawija. Untuk mensuplai petani dengan air, sistem air
permukaan membutuhkan kapasitas penyimpanan yang besar untuk mengumpulkan air
sepanjang tahun dan melepaskannya pada suatu waktu tertentu. Sedangkan penggunaan air
lainnya membutuhkan air sepanjang waktu, misalnya pembangkit listrik yang membutuhkan
air untuk pendinginan, atau pembangkit listrik tenaga air. Untuk mensuplainya, sistem
perairan permukaan harus terisi ketika aliran arus rata-rata lebih rendah dari kebutuhan
pembangkit listrik.
Perairan permukaan alami dapat ditambahkan dengan mengambil air permukaan dari
area tangkapan hujan lainnya dengan kanal atau sistem perpipaan. Dapat juga ditambahkan
secara buatan dengan cara lainnya, namun biasanya jumlahnya diabaikan karena terlalu kecil.
Manusia dapat menyebabkan hilangnya sumber air permukaan dengan menjadikannya
tidak lagi berguna, misalnya dengan cara polusi. Brazil adalah negara yang diperkirakan
memiliki suplai air tawar terbesar di dunia, diikuti oleh Rusia, Kanada, dan Indonesia.

2. Aliran Sungai Bawah Tanah


Total volum air yang dialirkan dari daratan menuju lautan dapat berupa kombinasi
aliran air yang dapat terlihat dan aliran yang cukup besar di bawah permukaan
melalui bebatuan dan lapisan bawah tanah yang disebut dengan zona hiporeik (hyporheic
zone). Untuk beberapa sungai di lembah-lembah yang besar, komponen aliran yang "tidak
terlihat" mungkin cukup besar dan melebihi aliran permukaan. Zona hiporeik seringkali
membentuk hubungan dinamis antara perairan permukaan dengan perairan subpermukaan
dengan saling memberi ketika salah satu bagian kekurangan air. Hal ini terutama terjadi di
area karst di mana lubang tempat terbentuknya hubungan antara sungai bawah tanah dan
sungai permukaan cukup banyak.
3. Air Tanah
Air tanah adalah air tawar yang terletak di ruang pori-pori antara tanah dan bebatuan
dalam. Air tanah juga berarti air yang mengalir di lapisan aquifer di bawah water table.
Terkadang berguna untuk membuat perbedaan antara perairan di bawah permukaan yang
berhubungan erat dengan perairan permukaan dan perairan bawah tanah dalam di aquifer
(yang kadang-kadang disebut dengan "air fosil").
Sistem perairan di bawah permukaan dapat disamakan dengan sistem perairan
permukaan dalam hal adanya input, output, dan penyimpanan. Perbedaan yang paling
mendasar adalah kecepatan dan kapasitasnya; air tanah mengalir dengan kecepatan
bervariasi, antara beberapa hari hingga ribuan tahun untuk muncul kembali ke perairan
permukaan dari wilayah tangkapan hujan, dan air tanah memiliki kapasitas penyimpanan
yang jauh lebih besar dari perairan permukaan.
Input alami dari air tanah adalah serapan dari perairan permukaan, terutama wilayah
tangkapan air hujan. Sedangkan output alaminya adalah mata air dan serapan menuju lautan.
Air tanah mengalami ancaman berarti menghadapi penggunaan berlebihan, misalnya
untuk mengairi lahan pertanian. Penggunaan secara belebihan di area pantai dapat
menyebabkan mengalirnya air laut menuju sistem air tanah, menyebabkan air tanah dan tanah
di atasnya menjadi asin (intrusi air laut. Selain itu, manusia juga dapat menyebabkan air tanah
terpolusi, sama halnya dengan air permukaan yang menyebabkan air tanah tidak dapat
digunakan.

4. Desalinasi
Desalinasi adalah proses buatan untuk mengubah air asin (umumnya air laut) menjadi
air tawar. Proses desalinasi yang paling umum adalah destilasi dan osmosis terbalik.
Desalinasi saat ini cukup mahal jika dibandingkan dengan mengambil langsung dari sumber
air tawar, hanya sebagian kecil kebutuhan manusia terpenuhi melalui desalinasi. Proses ini
terjadi secara ekstensif di Teluk Persia untuk mensuplai air bagi beberapa wilayah di Timur
Tengah dan fasilitas wisata dan perhotelan di wilayah tersebut.

5. Air Beku
Es yang membeku di kutub dan glasier berpotensi untuk dijadikan sumber air tawar
karena dua per tiga air tawar dunia berada dalam bentuk es. Beberapa skema telah diajukan
untuk menjadikan gunung es di kutub sebagai sumber air, namun hingga saat ini hal itu hanya
sekedar rencana. Aliran glasier saat ini dikatakan sebagai salah satu perairan permukaan.
Himalaya, "Atap Dunia" mengandung glasier dan es dalam jumlah besar di luar
wilayah kutub, dan menjadi sumber dari sepuluh sungai besar di Asia yang menghidupi
miliaran manusia. Masalah yang terjadi saat ini adalah peningkatan temperatur dunia yang
cukup cepat, Nepal saat ini mengalami peningkatan rata-rata sebesar 0,6 derajat Celcius sejak
sepuluh tahun lalu, sementara dunia mengalami peningkatan sebesar 0,7 sejak ratusan tahun
yang lalu.
c). Dampak Perubahan Iklim Bagi Budidaya Perairan Air Tawar
Dampak pada budidaya perairan bisa jadilah hal positif atau hal negatif, timbul dari
langsung atau pun tidak berdampak pada sumber alam budidaya perairan yang diperlukan,
yakni air, tanah, benih, makanan dan energi. Perikanan menyediakan makanan penting dan
masukan benih, dampak perubahan akan juga, pada gilirannya, mempengaruhi profitabilitas
dan produktivitas aquaculture sistem budidaya perairan.
Perubahan iklim bisa meningkatkan tekanan fisiologis pada stock ikan. Ini tidak akan
hanya mempengaruhi produktivitas tetapi juga meningkat/an sifat mudah terkena penyakit
dan, pada gilirannya, memaksakan resiko lebih tinggi dan mengurangi keuntungan petani.
Interaksi perikanan dan subsektor aquaculture bisa menciptakan dampak lain. Sebagai
contoh, peristiwa cuaca ekstrim bisa mengakibatkan keluarnya stock dan berperan untuk
pengurangan di dalam keaneka ragaman stock liar, yang mempengaruhi biodiversity secara
lebih luas.
Perubahan Iklim berdampak pada pada temperatur dan curah hujan. Hal ini
mengakibatkan beberapa spesies tidak dapat menyesuaikan diri, terutama spesies yang
mempunyai kisaran toleransi yang rendah terhadap fluktuasi suhu. Selain itu Perubahan iklim
akan menyebabkan pergeseran dalam siklus yang reproduksi dan pertumbuhan dari jenisjenis organisme, Perubahan iklim juga dapat mengubah siklus hidup beberapa hama dan
penyakit, sehingga akan terjadi wabah penyakit. Dan dampak perubahan iklim akan berakibat
pada interaksi antar spesies semakin kompleks (predation, kompetisi, penyerbukan dan
penyakit). Hal itu membuat ekosistem dan budidaya tidak berfungsi secara ideal.
Dampak ini akan dikombinasikan dengan aspek lain yang mempengaruhi kemampuan
adaptip, seperti kenaikan tekanan manusia pada sumberdaya pantai; politis, kelembagaan dan
kekakuan manajemen yang secara negatif berdampak pada strategi adaptip komunitas';

defisiensi dimonitoring dan sistem peringatan dini atau di dalam keadaan darurat dan
mengambil resiko perencanaan; seperti halnya faktor lain yang tidak hanya faktor iklim saja
seperti kemiskinan, ketidaksamaan, rawan pangan, konflik dan penyakit.
Bagaimanapun, peluang baru dan dampak positif yang muncul dari seperti perubahan
jenis daerah dan pasar baru juga bisa menjadi bagian dari perubahan masa depan. Sejauh ini,
peluang ini dipahami kurang baik tetapi, meskipun demikian, adalah mungkin. Suatu
kemampuan masyarakat untuk memperoleh manfaat juga akan tergantung pada kemampuan
adaptipnya.
Pemanfaatan bahan gizi dan nilai produk perikanan yang bergizi akan terpengaruh
dengan perubahan mutu persediaan dan gangguan rantai pasar. Dalam beberapa hal, suatu
periode penyesuaian akan diperlukan untuk bergerak ke jenis makanan yang tidak biasa
dikonsumsi. Isu ini adalah yang kritis untuk negara-negara dengan suatu konsumsi protein
per kapita yang tinggi yang berhub dengan perairan.
Ketersediaan ikan sebagai makanan dapat ditingkatkan oleh penggunaan produksi
yang lebih baik. Alat ini mengurangi kerugian pasca panen dan meningkatkan
persentase dari penggunaan untuk konsumsi manusia secara langsung. Kerugian disebabkan
oleh produksi cacat berjumlah sekitar 10 sampai 12 juta ton per tahun dan diperkirakan 20
juta ton ikan satu tahun dibuang di laut. Perubahan iklim akan menambah kompleksitas Isu
perubahan iklim ini mungkin mempunyai suatu dampak negatif langsung pada
pengenendalian produksi cacat dan barang sisa
Selain itu Dampak dari perubahan iklim bagi budidaya adalah sumber air menjadi
berkurang, Perubahan pola curah hujan juga menurunkan ketersediaan air untuk irigasi dan
sumber air bersih. Di pulau Lombok dan Sumbawa antara tahun 1985 dan 2006, jumlah titik
air menurun dari 580 menjadi hanya 180 titik.11 Sementara itu, kepulauan ini juga
mengalami jeda musim- kekeringan panjang selama musim penghujan yang kini menjadi
makin sering,menimbulkan gagal panen. Di seluruh negeri, kini makin banyak saja sungai
yang makin dangkal seperti Sungai Ular (Sumatra Utara), Tondano (Sulawesi Utara), Citarum
(Jawa Barat), Brantas (Jawa Timur), Ciliwung-Katulampa (Jawa Barat), Barito-Muara Teweh
(Kalimantan Tengah), serta Larona-Warau (Sulawesi Selatan).12 Di wilayah pesisir,
berkurangnya air tanah disertai kenaikan muka air laut juga telah memicu intrusi air laut ke
daratan mencemari sumber-sumber air untuk keperluan air bersih dan irigasi, serta
budidaya.
d). Upaya Mengurangi Dampak Perubahan Iklim Bagi Budidaya Perikanan Air tawar.
Karena pola curah hujan yang berubah-ubah juga mengurangi ketersediaan air untuk
irigasi dan sumber air bersih, kita akan perlu menerapkan pengelolaan sumber air yang lebih
terpadu dengan melestarikan ekosistem disertai perbaikan waduk-waduk dan infrastruktur
lainnya. Perubahan iklim kemungkinan memberikan dampak berat pada pelayanan
penyediaan air baik terhadap pasokan maupun permintaan. Dalam hal pasokan, sudah ada
kecenderungan perubahan pola curah hujan dengan implikasi terhadap produksi pangan,
transportasi air, dan berbagai sumber mata pencarian yang mengandalkan air. Dalam soal
permintaan, pemanasan global akan meningkatkan kebutuhan air masyarakat dan

mempercepat penguapan dari permukaan tanaman dan dari sumber-sumber air seperti kolam
dan danau.
Suatu pendekatan yang paling menyeluruh adalah dengan memelihara berbagai sarana
pemasok air yang disebut dengan istilah pengelolaan air secara terpadu yang menekankan
pentingnya memelihara kelestarian ekosistem. Pendekatan ini perlu mempertimbangkan
berbagai persoalan seperti penggundulan hutan, pengelolaan air untuk irigasi dan hubungan
keduanya, serta pengurasan air tanah untuk keperluan rumah tangga, bisnis, dan pertanian.
Beberapa pilihan untuk menjamin pasokan air antara lain adalah dengan meningkatkan
pasokan memperbaiki waduk, misalnya, menambal saluran, atau menampung air hujan.
Pilihan lain adalah dengan mengurangi kebutuhan antara lain dengan mengurangi
kebocoran dari pipa-pipa atau melakukan lebih banyak upaya untuk memproses air limbah
menggunakan infrastruktur ramah lingkungan seperti saringan pasir dan pengelolaan air
limbah dengan tanaman rawa (wetlands).
Di Indonesia banyak waduk menampung air lebih banyak daripada yang dibutuhkan untuk
kebutuhan manusia,sementara di tempat lain mengalami kekurangan yang parah, terutama
waduk-waduk di Jawa dan Nusa Tenggara. Dalam kasus kasus seperti ini,pengalihan air
antar waduk akan dapat menyeimbangkan distribusi air dari wilayah yang berkelebihan ke
daerah yang mengalami defisit.

BAB III
3.1. KESIMPULAN
Pada tahun 2025, kelangkaan air akan lebih terlihat di negara miskin termasuk
beberapa bagian di Asia. Hal ini diperkirakan akan menimbulkan paceklik air di perairan air
tawar yang dapat mengubah ekosistem air tawar, seperti sedikitnya nutrisi untuk fitoplankton
air tawar, bertambahnya hama sehingga biota yang dibudidaya tidak dapat berkembang
dengan optimal.
Maka dari itu, penting bagi kita untuk melakukan upaya pengurangan dampak
perubahan iklim seperti menjamin pasokan air antara lain adalah dengan meningkatkan
pasokan memperbaiki waduk, misalnya, menambal saluran, atau menampung air hujan.
Pilihan lain adalah dengan mengurangi kebutuhan antara lain dengan mengurangi
kebocoran dari pipa-pipa atau melakukan lebih banyak upaya untuk memproses air limbah
menggunakan infrastruktur ramah lingkungan seperti saringan pasir dan pengelolaan air
limbah dengan tanaman rawa (wetlands).
3.2. PERTANYAAN DISKUSI
Penanya: 1) Rangga Yudhono
Pertanyaan: Apa saja jenis penyakit pada ikan sebagai akibat dari perubahan iklim?
Jawaban
: Perubahan iklim dapat meningkatkan pertumbuhan
parasit, virus, bakteri, dll. Penyakit cacar ikan
Cacar ikan merupakan penyakit yan disebabkan oleh virus Epithelioma papulasum. Jenis
penyakit ini lebih sering menyerang ikan mas (Cyprinus carpio L). Prussian carp (Carrasium
auratus), dan beberapa jenis ikan hias lainnya. Cacar ikan termasuk jenis penyakit menular.
Bila ada salah satu ikan yang menunjukkan gejala tersebut, harus segera diobati agar tidak
menimbulkan wabah pada seluruh ikan yang ada di kolam.
Vibriosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Vibrio Sp. Dua spesies bakteri
vibrio yang sering menyerang ikan (ikan air asin maupun air tawar) adalah V.alginoluticus
dan V.parahaemolyticus.
Penanya: 2) Abdollah
Pertanyaan: Apa dampak perubahan iklim bagi manusia?
Jawaban: Banyak dampak yang di hasilkan, seperti kerugian dalam pembudidayaan,
meningkatnya virus dan bakteri penyakit akibat perubahan suhu, kekringan, banjir, longsor
dan bencana alam lainnya. Namun dampak yang paling menakutkan adalah berkurangnya
kualitas air tawar dan bersih. Kekurangan air bersih sulit untuk kita menjaga kesehatan dan
sulit pula untuk menjaga kelangsungan hidup biota yang kita budidaya.

DAFTAR PUSTAKA
Surakusumah, Wahyu (2013), Perubahan Iklim dan Pengaruhnya Terhadap
Keanekaragaman Hayati. Jakarta
Anonym, (2009) Sekilas Tentang Perubahan Iklim.
Wikipedia, (2012) Sumber Daya Air: [online]. Tersedia di:
http://id.wikipedia.org/wiki/sumberdaya-air
Anonym, (2014) Dampak Perubahan Iklim bagi Budidaya Perairan: [online]. Tersedia di:
http://penyluhperikanan.blogspot.com