Vous êtes sur la page 1sur 13

Di susun oleh :

Kelompok 4
Ayu Rezki O.
Diana Fitria
Esti Aditya D.
Fajar Yulianto
Febian Aji W.
Ibnu Putra
Indah Puspita D.
Intan Ramli
Mezha Ramadani
Miftahul Fadhly

1102004039
1102004057
1102004077
1102004083
1102004087
1102004107
1102004110
1102004117
1102004144
1102004145

Fakultas Kedokteran Universitas YARSI


JAKARTA

ANATOMI
Parapharyngeal

atau ruang
faringomaksilaris adalah ruang yang
terletak didekat pharing, merupakan ruang
potensial yang berbentuk seperti corong
dengan dasarnya terletak pada dasar
tengkorak pada setiap sisi yang
berdekatan dengan foramen jugularis dan
apeksnya pada cornu mayor tulang hyoid.

Batas-Batas

Batas Superior : dasar tengkorak sepanjang os sphenoid


Batas Inferior : Os Hyoid
Batas Anterior : Raphe Pterigomandibula
Batas Posterior : Fascia prevertebrae
Batas Lateral : Lapisan luar fascia leher dalam yang melapisi
m. pterigoideus internus, bagian dalam glandula parotis dan
mandibula.
Batas Medial : Lapisan tengah fascia leher dalam yang
melapisi m. constrictor pharyngeus superior (fascia
bukofaring)
Batas bagian dalam : ramus ascenden mandibula dan
perlekatan otot pterigoideus media dan posterior kelenjar
parotis.
Sebelah mediaposterior berhubungan dengan rg retrofaring,
sedangkan sebelah lateral berhubungan dengan rg parotis.

Parapharingeal Space

ETIOLOGI
Ruang

parafaring dapat mengalami infeksi


dengan cara
1)

langsung, yaitu akibat tusukan jarum pada


saat melakukan tonsilektomi dengan analgesia.
2) Proses supurasi kelenjar limfa leher bagian
dalam, gigi, tonsil, faring, hidung, sinus
paranasal, mastoid, dan vertebrae servikal.
3) Penjalaran infeksi dari ruang peritonsil,
retrofaring atau submandibula.

Penyebab Infeksi
Infeksi
biasanya disebabkan oleh
campuran kuman aerob dan anaerob.
Diantaranya Streptococcus haemolitic
dan non haemolitic, Bacillus fusiformis,
Pneumoccoccus, dan Staphylococcus
aureus sebagai penyebab yang sering
dilaporkan.

Ruang parafaring
Dibagi

oleh Proc. Stiloideus menjadi 2


bagian yang tidak sama besar;
Kompartemen

anterior
tidak berisi alat-alat penting
Kompartemen Posterior
mengandung selubung carotis yang berisi V.
Jugularis Interna, A. Carotis Interna dan N.
Vagus

Manifestasi Klinis
Gejala

pada abses muncul 4-7 hari


setelah infeksi dimulai.
Terjadi peningkatan suhu tubuh terlebih
jika KGB ikut terinfeksi.
Demam berkisar antara 38,30C-390C
Gejala yang paling khas adalah trismus.
Gejala ini memburuk apabila penderita
membuka mulutnya.

kompartemen
internus

anterior, M. Pterigoideus

teriritasi : Trismus
indurasi pada sudut mandibula
dinding lateral faring dan tonsil terdorong ke
medial.

kompartemen

posterior.

Trismus hanya minimal saja, tonsil hanya


menonjol sedikit
Bila selubung carotis terkena dapat terjadi
sepsis, perdarahan karena erosi arteri carotis
interna, trombosis vena jugularis interna,
kelainan neurology nervus IX, X, XII, serabut
simpatis cervical
Pus juga mengalir sepanjang selubung carotis
medial tinitis

E. Pemeriksaan & Diagnosis

Diagnosis

ditegakkan berdasarkan riwayat


penyakit, gejala, dan tanda klinis.

Pemeriksaan

penunjang berupa foto


roentgen jaringan lunak AP dan CT scan

Terapi
Potongan sejajar
ramus horizontal
mandibula
kurang lebih 1
inchi dibawahnya

Carotid
sheath.

Sebelah anterior
m.sternocleidomastoide
us.