Vous êtes sur la page 1sur 17

KELOMPOK 2

EPILEPSI
030.05.

ELTHIN LAWALATA

030.06.016

AGUS SURYADI WIJAYA (KETUA)

030.06.017

ALBERT SUDHARSONO

030.06.018

ALDILLA DINARESTI

030.06.019

ALDIZA RENA PRAMUDITA

030.06.020

ALSE KEPERMUNANDA

030.06.059

DESI NOVARIA

030.06.060

DESSYTA SUKMA

030.06.061

DESTYA NORA

030.06.062

DEVINA CAROLINA

030.06.063

DEWI ANNA HALIAH YASIN

030.06.136

KELLINA RIZKITANIA

030.06.137

KELLY CHRISTY (SEKRETARIS)

030.06.138

KENT CHANDRA

030.06.139

KHAIRUN NISA

030.06.297

AMIRUDIN BIN ABDUL W.

030.06.298

ANIS ZAFIRAH BINTI M.

030.06.299

EZAFADDILA BAHARUDIN

FAKULTAS KEDOKTARAN UNVERSITAS TRISAKTI


JAKARTA 2007

Aktivitas elektrik di otak disebabkan (1) oleh kegiatan listrik dendritdendrit sel otak. Voltase yang dihasilkan pada permukaan korteks cerebri
terjadi akibat sinkronisasi melepaskan muatan berjuta-juta neuron, sehingga
hal ini menyebabkan kegiatan listrik di dendrit sel korteks otak dan badan
sel paling luar substansi grissea koteks cerebri ( dendrite merupakan tempat
eksistasi dan inhibisi)
Seizure(2) (kejang) adalah serangan mendadak atau kekambuhan suatu
penyakit yang disebabkan(3) oleh pelepasan aktivitas elektrik nervus system
dalam otak secara berlebihan. Seizure terjadi karena penurunan potensial
membran sel saraf sehingga sel mudah mengalami pengaktifan yang
menyebabkan terlepasnya muatan listrik dari sel saraf tersebut. Gagalnya
kontak synaptic inhibitor antar neuron, ketidakseimbangan inhibitor
(GABA) dan penimbunan setempat dari Asetilkolin (Excitatory) hingga
terjadi kelainan polarisasi menyebabkan penurunan potensial membran sel
saraf tersebut. Setiap sel saraf tersebut menghasilkan impuls sebanyak 500
kali per detik sementara normalnya adalah 80 kali per detik.
Epilepsi(4) adalah suatu manifestasi gangguan otak dengan berbagai
etiologi namun dengan gejala tunggal yang khas seperti serangan berkala
yang disebabkan aktifitas muatan neuron-neuron listrik otak secara
berlebihan. Bila pelepasan muatan terjadi pada sel otak yang berhubungan
dengan sistem motorik akan terjadi kejang-kejang
Jika terjadi pelepasan muatan di daerah sistem sensoris akaan menimbulkan
kesemutan dan nyeri., di daerah lobus temporalis akan terjadi serangan
halusinasi dan ilusi, dan di daerah diencephalon menimbulkan epilepsi jenis
grand mal dan ptit mal

.Cara menegakan diagnosa Epilepsy meliputi :


1. Anamnesis: menanyakan bagaimana kejangnya. Karena orang
menderita Epilepsy tidak mengingat apa yang terjadi sewaktu ia
kejang, maka diperlukan keterangan dari orang yang bersama
penderita sewaktu kejang tersebut berlangsung.
2. Pemeriksaan fisik
3. Pemeriksaan neurologis: yaitu mengetes refleks, tonus dan kekuatan
otot, fungsi sensory, gaya berjalan, posture, koordinasi dan
keseimbangan, serta bertanya untuk mengetes pikiran, keputusan, dan
memory.
4. Pemeriksaan penunjang : EEG, CT Scan, MRI, PET, SPECT
5. Pemeriksaan lab : - Test darah lengkap (untuk mengetahui
ada/tidaknya infeksi, kecunan timah, anemia, dan diabetes)
- Tes elektrolit (epilepsi Na rendah)
- Pemeriksaan cerebrospinal (utuk mengetahui
ada/tidaknya nfeksi CNS)
EEG (Electro-Encephalo-Gram)

(5)

adalah rekaman potensial pada

tengkorak yang dihasilkan oleh arus yang keluar secara spontan dari sel-sel
saraf di dalam otak. EEG memberikan gambaran fakta berupa gamabaran
normal dan abnormal aktivitas listrik otak dan petunjuk gagguan fungsi otak
yang bersifat difusi atau menyeluruh.
Persiapan pasien yang akan melakukan EEG:
Pasien disarankan sudah makan 8 jam yang lalu agar tidak
hipoglikemia, karena pada pemeriksaan akan timbul gelombang
abnormal

Tidak memakan makanan dan minuman yang berkafein selama 6


jam sebelum tes
Tidak boleh sembarangan meminum obat-obatan
Kulit kapala dan rambut harus dalam kondisi bersih serta tidak
menggunakan gel rambut
Disarankan agar pasien bergadang agar saat pemeriksaan pasien
tertidur sehingga diharapkan gelombang abnormal akan muncul
pada saat tertidur
Pasien dalam kondisi santai agar otot tidak berkontraksi
Prosedur pemeriksaan EEG :
1. Kepala diukur dahulu agar dapat merencanakan dimana elektrode
akan diletakan dan tentukan titik perletakan elektrode
2. Elektrode dioleskan kream konduktif kemudian pasang sebanyak 24
elektrode di tempat yang sudah ditentukan
3. Mesin EEG akan merekam aktivitas otak dan memberi informasi
tentang fungsi otak selama 20-45 menit
4. Tahap Resting Record: perekaman saat istirahat Pasien
melakukan aktivitas seperti tidur (berbaring), membuka dan menutup
mata
5. Tahap Activting Procedure utnuk membangkitkan gelombang
abnormal dengan melakukan hipervenlilasi (manrik nafas cepat dan
dalam), Stimulasi foto (menyinari mata dengan lampu yang nyala
padam), atau Deprivasi tidur.

Penyebab seizure (kejang) selain Epilepsi adalah


1. Trauma kepala
2. Intoksikasi obat-obatan
3. Infeksi, seperti encephalitis atau meningitis
4. Deman
5. Gangguan sistemik, seperti hipoglikemia, hiponatremia, hipoksia,
ketidakseimbangan elektrolit, gagal ginjal, hepatic failure, respiratory
failure.
6. Asupan obat-batan seperti antikonvulsan dan sedatif (alkohol,
barbiturates, dan benzodiapines)
7. Adanya ruang lesi pada otak seperti tumor dan abses
8. Hidrasi yang berlebihan
9. Tanda dari Eklampsia
EEG dapat memberi informasi berupa gambaran dari gelombang otak yang
normal maupun yang abnormal:
Normal EEG
- Aktifitas listrik pada kedua hemisphere otak simetris
- Tidak ada perlambatan gelombang dan pola patologis
-

Jenis gelombangnya:

1. Gelombang alfa
- ada pada orang dewasa pada bagian oksipital
- saat mata tertutup dan istirahat
- frekuensi 8-12 Hz
- amplitudo 50 Mv
2. Gelombang beta
- frekuensi 18-30 Hz

- tidak dipengaruhi oleh buka-tutup mata


- amplitudo nya lebih kecil dari alfa
Pada anak-anak terdapat gelombang delta dan teta
3. Gelombang teta : frekuensi 4-7 Hz, gelombang besar dan teratur
4. Gelombang delta : frekuensi lebih kecil dari 4 Hz
Gambaran Abnormal EEG
- Kedua bagian otak terdapat pola elektrik berbeda (asimetris)
- Gelombang terlampau tinggi atau rendah : pada epilepsi, tumor, infeksi
dan cedera (pada Focal Epilepsi : gelombang hanya pada satu bagian)
- Gelombang tajam, unilateral, bilateral atau multiple untuk kejang
- Terdapat penonjolan :
- Lambat : hipoksia
- Cepat : kadar CO meningkat, obat-obat anastesi
Prosedur pemeriksaan MRI :
a.

Pasien menanggalkan semua bahan logam yang dipakai

a.

Pasien dibawa ke ruang MRI, lalu berbaring

b.

Diberi selimut dan alas lutut

c.

Mesin dihidupkan, karena bunyi terlalu bising maka diberi

earplug
d.

Kepala pasien masuk ke coil, scanner dihidupkan dan pasien


dimasukkan ke

terowongan MRI

e.

Pasien diberi emergency ball

f.

Gambar yang direkam dihubungkan ke komputer

g.

Pemeriksa melihat proses dan analisa hasil MRI pasien

h.

Pasien

mengganggu hasil

diberi tahu

agar

tidak bergerak

karena

dapat

gambar

Gambaran yang diberikan oleh MRI berupa pulse sequences yang


memperlihatkan perbedaan anatomi, dan membedakan struktur normal
dengan abnormal.
Type:

a. T1 relaxation time: T1-weighted pulse sequences + short


TR + short TE
- hiperintens : lemak, hemorrhagi akut, aliran darah yang
lambat
- Hipointens: LCS, kista simplekx, dan proses patologi yang
lain
b. T2 relaxation time: T2 weighted pulse sequences + long TR
+ long TE
- Hiperintens: LCS, Kista kompleks, edema, tumor dan
keadaan-keadaan patologis yang lain
- Hiperintens: lemak, otot
c. Proton (spin) density: Proton density weighted image + long
TR + short TE, densitas bayangan tergantung kepada
konsentrasi proton hydrogen dalam jaringan:
- Hiperintens: konsentrasi proton hidrogen tinggi.
- Hipointens: konsentrasi proton hydrogen sedikit.

Menurut gejala yang dialami Jarrod, ia menderita Seizure Generalisata tipe


absen yaitu:
a. Antara umur 4-14 tahun
b. Hilang kesadaran secara singkat dengan durasi 5-15 detik

c. Pandanagan kabur/kosong
d. Ada sedikit gerakan pada mulut dan Gerakan kepala ke depan dan ke
belakang
e. Tidak ada respon ketika diajak bicara (tidak sinkron antara rangsangan
dan respon)
f. Komponen atonik, otot melemah
g. Tidak sinkron antara tanggapan dan respon
h. Tidak mengingat apa yang terjadi ketika kejang berlangsung
Penanganan kejang tergantung dari tipe kejang yang terjadi. Hal yang harus
dilakukan yaitu:
1. Atur posisi agar orang tersebut tidak jatuh atau mengalami cedera
2. Jauhkan dari benda-benda tajam atau yang berbahaya
3. Periksa tanda vital: jalan nafas, penafasan, dan sirkulasi
4. Jika kejang berlangsung lebih dari 5 menit, maka diperlukan penanganan
darurat
seperti mamanggil ambulans atau dibawa ke rumah sakit
5. Setelah kejang, jika orang tersebut tidak sepenuhnya sadar, lakukan
recovery position.
Kejang parsial / vocal seizures
1. Sederhana
Berdasarkan:
- Kesadaran Motorik : perubahan aktifitas otot
- Kesadaran Sensoris : indra sensoris. Contoh: penciuman, mata
(halusinasi)

- Kesadaran Autonomik : menyerang nervus-nervus yg mengontrol


fungsi tubuh. Contoh : rasa tidak enak disekujur tubuh
- Kesadaran Fisik : perubahan pikir, rasa, pengalaman
2. Komplex
Tidak ada automatisme : gerakan-gerakan yg timbul dg sendiri nya.
Contoh : mengunyah-ngunyah
-

Tonik klonik kebangkitan umum


Komplex generalisata
Sederhana generalisata

Terjadi pada sebagian otak, tidak seluruh nya pengaktifan


sekelompok neuron pada satu bagian di satu hemisphere

Menyerang lobus temporalis dan frontal percakapan

Sehabis kejang biasanya tertidur

Hilangnya gejala secara total dalam beberapa menit sampai jam

Hemisphere kiri
menggangu percakapan
mempengaruhi tubuh bagian kanan
- Bagian temporal : dari aktif diam
- Tangan kanan twitch lobus frontalis
- Disorientasi dalam beberapa detik
- Otot melemah
- Pandangan kosong lobus temporal
- Gerakan kepala kedepan dan kebelakanag
- Tidak ingat yg telah terjadi

- Kejang parsial berasal dari lobus frontalis inferior dan temporalis


media
1. Temporal
- Pandangan kosong
- Gerakan berulang-ulang
- Tidak bisa bicara
- Twitching
2. Frontal
- Otot-otot twitch
Penanggulangan terhadap pasien kejang :
Medical
1. Obat-obat anti kejang intravena
- Jangka panjang
- Teratur
- Sebelumnya terdapat pemeriksaan rutin
.2 Pembedahan. Dilakukan jika pengobatan dengan obat tidak bisa
dilakukan dan tidak cocok untuk kejang parsial.
Non-Medical
1. Pengobatan psiko-sosial
2. Fisika menejemen : kontrol dan follow-up
3. Diet rendah karbohidrat (ketogenik diet) lemak tinggi keton

asidosis efek anti kejang

+ Lidah buaya dioleskan dikepala untuk memperbaiki sistem saraf


+ Tidak boleh diberikan kopi karena akan menyumbat pernafasan saat
kejang
Pengobatan terhadap kejang :
1. Idiopatik : difokuskan kepada kejang nya.
2. Simptomatik : diobati dahulu penyebabnya.
Pemberian obat terhadap kejang :
1. Profilaksis Intermiten: campuran antara antikonvulsan antipiretik
2. Profilaksis Jangka panjang : phenytoin, carbamazepine, valproic

acid, primidone, and phenobarbital


Normal EEG
- Aktifitas listrik pada kedua hemisphere otak simetris
- Tidak ada perlambatan gelombang dan pola patologis
1. Gelombang alfa
- ada pada orang dewasa pada bagian oksipital
- saat mata tertutup dan istirahat
- frekuensi 8-12 Hz
- amplitudo 50 Mv
2. Gelombang beta
- frekuensi 18-30 Hz
- tidak dipengaruhi oleh buka-tutup mata
- amplitudo nya lebih kecil dari alfa

Pada anak-anak terdapat gelombang delta dan teta


3. Gelombang teta : frekuensi 4-7 Hz, gelombang besar dan teratur
4. Gelombang delta : frekuensi lebih kecil dari 4 Hz
Abnormal EEG
- Kedua bagian otak terdapat pola elektrik berbeda (asimetris)
- Gelombang terlampau tinggi atau rendah : pada epilepsi, tumor, infeksi
dan cedera (pada Focal Epilepsi : gelombang hanya pada satu bagian)
- Gelombang tajam, unilateral, bilateral atau multiple untuk kejang
- Terdapat tonjolan :
- Lambat : hipoksia
- Cepat : kadar CO meningkat, obat-obat anastesi

GAMBAR CT SCAN/ MRI


Tumor Otak

Infeksi Intrakranial

Luka pada kepala

Gelombang Teta:

Gelombang Delta:

Gelombang Alfa:

Gelombang Beta:

REFERENSI
1. Ganong, William, F. Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC; 1998.
2. Dorland, Newman. Kamus Kedokteran. 29th ed. Jakarta: EGC;2002
3. http://www.epilepsy.com.
4. http://www.mayoclinic/epilepsy/treatment.htm 2007
5. http://www.wikipedia/seizure/SeizureWithoutEpilepsy.htm
6. http://www.emedicine/PartialEpilepsy.htm Editor: Wasterlain CG.
2007
7. Sherwood, Lauralee. Fisiologi Manusia. 6nd ed. Jakarta : EGC;2007.
8. Kapita Selekta Kedoteran Jilid 2. 3Th ed. Editor: Mansjoer A, dkk.
Jakarta: Media Aeculapius FKUI 2000. P23-7.