Vous êtes sur la page 1sur 10

BAGIAN I

SPESIFIKASI TEKNIS UMUM


Pasal 1
JENIS PEKERJAAN
1. Pekerjaan yang akan dilaksanakan:
Proyek Pembangunan Rumah Type 36
Uraian pekerjaan terdiri dari :
1)

Pekerjaan Pendahuluan

2)

Pekerjaan Tanah Dan Pondasi

3)

Pekerjaan Beton Struktur

4) Pekerjaan Beton Non Struktur


5)

Pekerjaan Dinding Dan Plesteran

6) Pekerjaan Lantai
7) Pekerjaan Plafond
8)

Pekerjaan Kusen, Pintu Dan Jendela

9)

Pekerjaan Rangka Atap

10) Pekerjaan Atap dan Perabung


11) Pekerjaan Pengecatan
12) Pekerjaan Instalasi Air
13) Pekerjaan Instalasi Listrik
14) Pekerjaan Kunci & Penggantung
15) Pekerjaan Luar Bangunan
2. Untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan, pemborong harus menyediakan :
a. Tenaga kerja / tenaga ahli yang memadai dengan jenis pekerjaan yang dilaksanakan
b.

Alat-alat seperti mesin pengaduk beton, pompa air dan alat pengangkut dan peralatan
berat ( Heavy Equipment ) yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan seperti:
Dump Truck, dan lain-lain.
Pasal 2
STANDAR STANDAR PELAKSANAAN

Apabila tidak ditentukan lain dalam pelaksanaan pekerjaan ini berlaku dan mengikat
ketentuan-ketentuan yang tersebut di bawah ini dan dianggap pemborong telah mengetahui

dan memahaminya termasuk (apabila ada) segala perubahan dan tambahannnya sampai saat
ini, yaitu :
1. Peraturan Umum untuk Pemeriksaan Bahan Bangunan ( PUBB NI.3 )
2. Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia ( PKKI NI. 5 )
3. Peraturan Beton Bertulang Indonesia ( PBI 71 ) dan atau SNI Beton untuk Bangunan
Gedung 1992 ( SKSNI T-15-1991-02 ).
4. Peraturan Umum Instalasi Indonesia ( PTUL 1971 )
5. Peraturan Umum Instalasi Air ( AWI )
6. Peraturan Pembebanan Bangunan Indonesia ( PBBI )
Pasal 3
PERSYARATAN BAHAN-BAHAN BANGUNAN
1. A i r
a. Air yang di pergunakan tidak boleh mengandung minyak, asam alkali, garam-garam,
bahan organis atau lainnya yang dapat merusak beton.
b.

Air yang di pergunakan untuk adukan beton konstruksi harus menurut, sesuai
dengan PBI 1971 ( bab 3 ayat 4 ).

2. Tanah timbun / Tanah Urug


Tanah yang dipergunakan untuk pekerjaan timbunan harus bersih dari tanah humus
maupun akar kayu serta rumput, bebas sampah dan bebas dari bahan-bahan organis.
3. Pasir / Agregat Halus
a. Pasir yang dipergunakan dapat berupa pasir alam hasil dari desintegrasi alami batuan
atau dapat berupa hasil dari pemecahan batu dari alat mekanis.
b. Agregat halus harus terdiri dari butir-butir yang tajam dan keras. Butir-butir agregat
halus harus bersifat kekal, artinya tidak pecah atau hancur oleh pengaruh cuaca,
seperti terik matahari dan hujan.
c. Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur dari 5 % (ditentukan terhadap berat
kering) yang diartikan dengan lumpur adalah bagian-bagian yang dapat melalui
ayakan 0.063 mm. Apabila kadar lumpur melampaui 5%, maka agregat halus harus
dicuci.
d. Pasir laut tidak boleh dipakai sebagai agregat halus untuk semua mutu beton, kecuali
dengan petunjuk-petunjuk dari lembaga pemeriksaan bahan-bahan yang diakui.

4. Kerikil / Agregat kasar


a

Agregat kasar untuk beton berupa kerikil sebagai hasil desintegrasi alami dari
batuan-batuan atau berupa batu pecah yang diperoleh dari pemecahan batu. Pada
umumnya yang dimaksud dengan agregat kasar adalah agregat besar butir lebih dari
5 mm.

Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir yang keras dan tidak berpori. Agregat
yang mengandung butir-butir pipih hanya dapat dipakai, apabila jumlah butir-butir
pipih tersebut tidak melampaui 20% dari berat agregat seluruhnya.

Butir-butir Agregat kasar harus bersifat kekal artinya tidak pecah atau hancur oleh
pengaruh-pengaruh cuaca seperti terik matahari dan hujan.

Agregat kasar tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1% (ditentukan terhadap
berat kering yang diartikan dengan lumpur adalah bagian-bagian yang dapat melalui
ayakan 0.063 mm).
Apabila kadar lumpur melampaui 1 %, maka aregat kasar harus dicuci.

Agregat kasar tidak boleh mengadung zat-zat yang dapat merusak beton, seperti zatzat yang reaktif alkali.

Besar butir agregat maksimum tidak boleh lebih dari pada seperlima jarak terkecil
antara bidag-bidang samping dari cetakan, sepertiga dari tebal plat atau tiga perempat
dari jarak bersih minimum diantara batang-batang atau bekas-bekas tulangan.
Penyimpangan dari penbatasan ini diizinkan apabila menurut penilaian pengawas ahli
cara-cara pengecoran beton adalah sedemikian rupa sehingga menjamin tidak
terjadinya sarang-sarang kerikil.

5. Semen
a. Semen yang digunakan harus semen yang bermutu tinggi (Semen Type I), berat dan
volumenya tidak kurang dari ketentuan yang tercantum pada zak semen. Pada
umumnya tidak terjadi pembatuan atau bongkah-bongkah kecil.
b. Semen untuk konstruksi beton bertulang dipakai jenis-jenis semen yang memenuhi
ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat yang ditentukan dalam NI.8
c. Pemakaian semen untuk setiap campuran dapat ditentukan dengan ukuran isi atau
berat. Ukuran semen tidak boleh mempunyai kesalahan lebih dari 2,5%.
6. Baja Tulangan
a. Baja tulangan untuk penulangan beton yang digunakan harus bebas dari kotorankotoran, lemak, kulit giling, karat lepas dan bahan-bahan lain yang dapat mengurangi
daya lekat beton terhadap baja tulangan.

b. Diameter baja tulangan yang digunakan harus sesuai dengan diameter yang
ditentukan dalam gambar-gambar rencana atau gambar detail.
c. Jika ternyata dalam pemeriksaan pengawas, diameter hasil dimaksudkan tidak sesuai
dengan diameter besi yang akan dipakai, maka pemakaiannya harus dikonsultasikan
terlebih dahulu dengan Konsultan Pengawas.
d. Penyimpangan penggunaan baja tulangan dari ketentuan-ketentuan yang berlaku
dinyatakan tidak dapat diterima.
7. Kayu
a. Kayu yang digunakan harus kayu yang memenuhi persyaratan seperti yang
tercantum dalam Peraturan Konstruksi kayu Indonesia ( PKKI 1973 NI. 5 )
b. Kayu yang digunakan harus kayu yang berkualitas baik, tidak mempunyai cacatcacat seperti mata kayu, celah-celah susut pinggir dan cacat lainnya, tidak boleh
menggunakan hati kayu.
c. Jenis dan ukuran kayu yang di gunakan antara lain :

Untuk Bouwplank digunakan papan kelas III ukuran 2/2

Untuk patok digunakan balok kayu ukuran 5/7 cm.

Untuk mal beton digunakan papan ukuran 2,5/20 cm.

Untuk pengunci digunakan papan kayu 5/7 cm.

8. Bahan-bahan lain
a. Semua bahan-bahan bangunan yang akan dipakai dan belum disebutkan disini akan
ditentukan pada waktu penjelasan pekerjaan atau pada waktu pelaksanaan pekerjaan.
b. Semua bahan-bahan yang dimasukkan untuk dipakai harus ditunjukan terlebih dahulu
kepada Pengawas untuk diperiksa guna mendapatkan izin pemakaiannya.
c. Semua bahan-bahan bangunan yang tidak ditunjukkan kepada Pengawas atau ditolak
oleh Pengawas, tidak dibenarkan pemakainnya dan harus dibawa ke luar lokasi
segera mungkin.
d. Pemakaian bahan-bahan yang tidak sesuai dengan yang ditentukan harus dibongkar
dan kerugian yang ditimbulkannya sepenuhnya menjadi tanggung jawab Pemborong.
e. Tidak tersedianya bahan-bahan bangunan yang akan dipakai di pasaran dengan ini
dinyatakan tidak dapat sebagai alasan terhentinya / tertundanya pelaksanaan
pekerjaan.

Pasal 4
PENYIMPANAN BAHAN-BAHAN
1. Semen
a. Semen harus ditempatkan / disimpan dalam gudang tertutup, di tempat yang kering
tidak menjadi lembab, tidak mudah rusak dan tidak mudah bercampur dengan bahanbahan lain.
b. Semen yang sudah tersimpan lama diragukan mutunya, maka sebelum dipakai harus
diperiksa dahulu kepada pengawas.
2.Agregat
Antara agregat halus dan agregat kasar penyimpanannya dilakukan terpisah. Jika tempat
dasar selalu basah pada musim hujan, maka sebaiknya penempatannya harus didasari
alas tepas / papan.
3. Baja tulangan
Baja tulangan tidak boleh disimpan / ditumpuk langsung diatas tanah, tetapi di beri alas /
ganjal berupa balok-balok. Penumpukan di tempat terbuka dalam waktu lama
dihindarkan.
4. Bahan-bahan lain
Untuk penyimpanan bahan-bahan lain berupa bahan-bahan yang tidak tahan cuaca
sebaiknya ditempatkan di gudang penyimpanan.
Pasal 5
PEKERJAAN PERSIAPAN
1. Sebelum melaksanakan pekerjaan Pemborong harus mempersiapkan jalur jalan ke lokasi
proyek untuk mempermudah pemasukan bahan bangunan ke lokasi proyek.
2. Sebelum memulai pelaksanaan pekerjaan, maka Pemborong harus terlebih dahulu
merundingkan pembagian halaman kerja untuk tempat mendirikan kantor, gudang, dan
los kerja, tempat penimbunan bahan-bahan dan lain sebagainya.
3.

Untuk keperluan pelaksanaan pekerjaan di lokasi, maka Pemborong dengan biaya


sendiri harus menyediakan gudang tempat penyimpanan bahan-bahan dan alat-alat
bekerja serta los kerja tempat mengerjakan bahan-bahan.

4.

Gudang dan los kerja baru dapat dibongkar setelah pekerjaan selesai 100% dan
pembongkarannya mendapat persetujuan dari Pengawas

Pasal 6
PEMASANGAN BOUWPLANK DAN PENGUKURAN
1.

Pemasangan papan bouwplank dilaksanakan pada jarak 1,00 meter dari Bangunan yang
paling pinggir, pemasangan papan bouwplank harus benar - benar kuat dan waterpass

2. Ketinggian permukaan papan bouwplank dibuat sesuai dengan tinggi patok BM yang
ada.
3. Papan bouwplank baru dapat di buka setelah selesai pekerjaan pemasangan lantai
bangunan.
Pasal 7
PEKERJAAN GALIAN TANAH
1. Lebar, dalam dan bentuk galian tanah harus dikerjakan sesuai menurut ukuran yang
tercantum dalam gambar rencana dan gambar detail pondasi.
2. Pekerjaan galian tanah dilakukan untuk lobang pondasi, lobang saluran

keliling

bangunan dan lain-lain sebagainya.


3. Tanah hasil galian tanah yang tidak dapat dipergunakan untuk menimbun lobang-lobang
harus dibuang pada tempat yang ditentukan pengawas lapangan.
4. Pemakaian bekas tanah galian untuk penimbunan kembali harus

mendapatkan

persetujuan tertulis terlebih dahulu dari Pengawas Lapangan.


Pasal 8
PEKERJAAN CAMPURAN
1.

Pekerjaan campuran semen, pasir dan air yang disebut "adukan" atau "mortar"
merupakan jumlah semen yang dipakai dalam setiap campuran ditentukan dengan
ukuran isi, seperti sebagai berikut :
a

Adukan 1:2 untuk adukan pas. dinding 1/2 batu/kedap air.


- Berarti menggunakan 1 zak semen : 2 zak pasir.

Adukan 1:3 untuk pondasi lajur/Afwerking beton.


- Berarti menggunakan 1 zak semen : 3 zak pasir.

Adukan 1:2 untuk pas. dinding 1/2 batu/adukan biasa.


- Berarti menggunakan 1 zak semen : 2 zak pasir.

2. Pekerjaan campuran semen, pasir, kerikil dan air yang disebut "beton" jumlah semen
yang dipakai dalam setiap campuran untuk beton mutu B0, BI dan K-125 ditentukan
dengan ukuran isi. Sedangkan jumlah semen yang dipakai dalam setiap campuran untuk

beton mutu K-125 dan mutu yang lebih tinggi ditentukan dengan ukuran berat atau
direncanakan, seperti sebagai berikut:
a

Untuk beton mutu B0 dengan beton 1 : 3 : 5.


- Berarti menggunakan 1 zak semen : 3 zak pasir : 5 zak kerikil.

Untuk beton mutu BI dan K-125 dengan beton 1 : 2 : 3.


- Berarti menggunakan 1 zak semen : 2 zak pasir : 3 zak kerikil.

Untuk beton mutu K-175 dan mutu yang lebih tinggi dengan beton 1 : 2 : 3 dipakai
perbandingan ukuran berat

3. Pengadukan mutu adukan mutu K-175 dan beton mutu B0 sedapatnya

diadukkan

dengan mesin pengaduk, sedangkan untuk beton mutu BI hingga mutu yang lebih tinggi
harus menggunakan mesin pengaduk.
4. Penyimpangan terhadap ketentuan ini tidak dapat diterima dan pekerjaan dinyatakan
ditolak, sedangkan pekerjaan yang dihasilkannya harus dibongkar dan kerugian yang
diakibatkannya sepenuhnya menjadi resiko pemborong.
Pasal 9
PEKERJAAN BETON
Lingkup Pekerjaan :
1. Pekerjaan ini melingkupi pekerjaan beton dan penulangan terdiri dari pekerjaan
pondasi, kolom, balok dan balok sloop dimana bentuk dimensi dan ukuran seperti
tercantum dalam gambar rencana yang diawasi oleh Pengawas Lapangan atau Direksi
Teknis Lapangan.
2. Beton terdiri dari campuran semen, pasir, kerikil dan air. Material tidak diperbolehkan
bahan-bahan lain kecuali atas izin Direksi.
3. Klas dan mutu beton
a.

Beton Klas I mutu BO.


- Beton untuk pekerjaan-pekerjaan non strukturil.
- Pelaksanaannya tidak memerlukan keahlian khusus.
- Pengawasan ringan terhadap mutu bahan-bahan.
- Tanpa pengawasan terhadap kekuatan tekan.
- Beton untuk pekerjaan-pekerjaan strukturil.
- Pelaksanaannya memerlukan keahlian yang cukup.
- Pengawasan sedang terhadap mutu bahan-bahan.
- Tanpa pengawasan terhadap kekuatan tekan.

b.

Beton Klas II mutu BI

c.

Beton Klas II Mutu K-125, K-175, K-250, K-300 & K-400


- Beton untuk pekerjaan-pekerjaan strukturil.
- Pelaksanaannya memerlukan keahlian khusus.
- Pengawasan ketat terhadap mutu bahan-bahan.
- Pengawasan yang kontinyu terhadap kekuatan tekan.

4. Campuran beton
a. Untuk beton mutu BO dipakai campuran yang biasa dipakai untuk pekerjaanpekerjaan non strukturil dengan perbandingan 1 : 3 : 5 dalam perbandingan ini.
b. Untuk beton mutu BI dan K125 dipakai campuran nominal semen, pasir dan kerikil
dalam perbandingan isi 1 : 2 : 3 atau 1 : 1,5 : 2,5.
c. Untuk beton mutu K175 dan K250 dan mutu yang lebih tinggi dari K-250 dipakai
campuran beton dengan ukuran berat atau campuran beton yang direncanakan agar
kekuatan karakteristik yang direncanakan dapat tercapai.
d. Pengukuran semen tidak boleh mempunyai kesalahan lebih kurang 2,5 %.
e. Dan atau memakai perencanaan campuran berdasarkan SK SNI T-15-1991-03
5. Kekentalan adukan beton
a.

Kekentalan (konsistensi) adukan harus disesuaikan dengan cara transport, cara


pemadatan, jenis konstruksi yang bersangkutan dan kerapatan tulangan.

b. Jumlah semen minimum dan nilai faktor air semen maximum harus memperhatikan
syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan dari Peraturan Beton Bertulang Indonesia
(PBI-1971) dan atau SK SNI T-15-1991-03.
c. Untuk mencegah penggunaan adukan terlalu kental atau terlalu encer, maka
campuran beton harus memperhatikan nilai-nilai slump yang

tercantum dalam

Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI-1971) dan atau SK SNI T-15-1991-03.


6. Cetakan dan acuan
a

Cetakan dan acuan harus kokoh dan cukup rapat sehingga tidak terjadi kebocorankebocoran yang dituangkan kedalam cetakan.

Cetakan harus diberi ikatan-ikatan secukupnya, sehingga dapat terjamin kedudukan


dan bentuk yang kuat serta tetap.

Cetakan harus dibuat dari bahan-bahan yang baik dan tidak mudah meresap air dan
dipasang sedemikian rupa, sehingga pada waktu pembongkaran cetakan tidak terjadi
kerusakan pada beton.

Pada pelaksanaan beton Klas III, air beton tidak boleh benar-benar teresap air
oleh cetakan, oleh sebab itu cetakan harus dilapisi dengan plastik atau bahan sejenis.

7. Pemasangan tulangan
a

Tulangan harus dipasang sedemikian rupa hingga sebelum dan selama pengecoran
tidak berubah tempatnya.

Untuk ketepatan tebal penutup beton, tulangan harus dipasang dengan penahan jarak
yang terbuat dari beton (deking segi empat) dengan mutu beton yang sama dengan
mutu yang akan di cor.

8. Pengadukan beton
a

Pengadukan beton pada semua mutu beton kecuali beton Klas I mutu BO harus
dilakukan dengan mesin pengaduk (Concrete Mixer)

Selama pengadukan berlangsung, kekentalan adukan beton harus selalu diawasi.

Apabila karena sesuatu hal pengadukan beton tidak memenuhi syarat


seperti terlalu encer karena kesalahan pemberian jumlah air

minimal

pencampur, sudah

mengeras sebagian atau tercampur dengan bahan-bahan asing, maka adukan ini tidak
boleh dipakai dan harus disingkirkan dari tempat pelaksanaannya.
9. Pengecoran dan pemadatan
Untuk mencegah timbulnya rongga-rongga kosong dan sarang kerikil, adukan beton
harus dipadatkan selama pengecoran. Pemadatan dapat dilakukan dengan menumbuknumbuk atau dengan memukul-mukul cetakan atau dengan menggunakan alat / vibrator
harus mengikuti ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam Peraturan Beton Bertulang
Indonesia ( PBI 1971 )
10. Penutup Beton
Tebal penutup beton minimum (tidak termasuk plasteran) sesuai dengan penggunaanya
adalah sebagai berikut :
a.

Untuk kolom dan balok adalah 2,5 cm.

b.

Untuk pondasi atau pekerjaan lainnya berhubungan langsung dengan tanah


adalah 3 cm.

11. Perawatan beton


Untuk mencegah pengeringan beton terlalu cepat, paling sedikit selama dua minggu
beton disiram terus-menerus dengan menggunakan goni yang disiram dengan air.
12. Pembongkaran cetakan beton
a. Cetakan tidak boleh dibongkar sebelum beton mencapai kekuatan yang cukup untuk
memikul berat dan beban-beban pelaksanaan lain yang bekerja padanya.

b. Pada bagian-bagian konstruksi dimana akibat pembongkaran cetakan akan bekerja


beban yang lebih tinggi dari pada beban rencana dan akan terjadi keadaan yang lebih
berbahaya dari keadaan yang diperhitungkan, maka cetakan tidak boleh dibongkar
selama keadaan tersebut tetap berlangsung.
13. Pelaksanaan pekerjaan beton
a. Pekerjaan beton untuk pondasi tiang dan balok sloop.

Ukuran harus sesuai dengan yang tercantum pada gambar detail pondasi.

Diameter besi dan bentuk penulangan harus sesuai dengan gambar detail dan
pondasi
Pasal 10
PEKERJAAN LAIN-LAIN

Pemborong harus membersihkan lokasi pekerjaan yang telah selesai dikerjakan seluas yang
ditentukan pada waktu pekerjaan di lapangan.
1. Pemborong harus memperbaiki kerusakan-kerusakan pada daerahdaerah yang dilalui
dimana kerusakan yang diakibatkan saat pelaksanaan pekerjaan.
2. Pekerjaan yang belum tercantum pada spesifikasi umum ini secara terperinci dan khusus
akan dibuat dalam spesifikasi khusus yang merupakan bagian II dari spesifikasi ini.