Vous êtes sur la page 1sur 12

Refleksi Kasus

Dehisiensi Post Op Prostatektomi


BPH grade II

Fery Mardi
14712041

Identitas

Nama / Inisial : Bp. Warjo


Umur
: 82 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Pekerjaan
: Petani
Agama
: Islam
Alamat
: Ngadirojo
Diagnosis/kasus : Dehisiensi Post Op
Prostektomi BPH grade II

Resume Kasus

Bp.Warjo, 60 tahun, datang dengan mengeluhkan


bahwa air kencing keluar dari luka operasi. Keluhan
baru dirasakan tadi sore tanggal 2 Februari 2015,
air kencing keluar terus-menerus dan banyak yang
berasal dari luka operasi prostat.

Operasi dilakukan pada tanggal 19 Januari 2015,


karena pasien mengeluhkan sering buang air kecil
dan merasa tidak tuntas 3 bulan yang lalu,
buang air kecil nya sedikit, dan pada saat buang air
kecil sering terputus-putus, ada rasa nyeri dan
tanpa ada rasa panas.

Lanjutan

Pasien mengeluhkan bahwa dalam 1 bulan SMRS,


keluhan dirasakan semakin memberat, yang
mana untuk buang air kecil tidak bisa.
Sehingga pasien pergi memeriksa ke bidan di
dekat rumah dan dilakukan pemasangan selang
untuk buang air kecil. Pasien sudah 3 kali ke
rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan,
mengenai keluhan tidak bisa buang air kecil.

Segi Medicolegal

Sesuai dengan kaidah dasar bioetika yang


diajarkan dalam medikolegal. 4 macam prinsip
yaitu :
1. Autonomy
2. Justice
3. Beneficence
4. Non Maleficence

Autonomy
setiap pasien berhak menentukan tindakan atau
keputusan yg dipilihnya.

Justice
selalu berperilaku adil terhadap pasien tanpa
membedakannya.

Beneficence
Bertanggung jwb utk melakukan kebaikan
yg menguntungkan pasien dan menghindari
perbuatan
yg
merugikan
atau
membahayakan pasien.

Non Malaficence
Tidak berbuat hal-hal yg memperburuk
pasien terutama pd kasus gawat darurat.

Sosial ekonomi

Pasien dirawat dengan menggunakan BPJS untuk


meringankan ekonomi keluarga pasien. Hal ini
memang salah satu dari sekian permasalahan
pelayanan kesehatan di Indonesia. Banyak bantuan
kesehatan dari pemerintah tidak tepat sasaran.
Apabila dilihat dari kondisi pasien yang memiliki
permasalahan hidup dan kesulitan finansial
personal, bantuan kesehatan cukup layak diberikan.
Sebagai dokter, kita tidak boleh membeda-bedakan
pasien berdasarkan status sosial ekonominya, kita
harus memberikan pelayanan maksimal sesuai
prosedur yang ada.

Segi Keislaman

Bila dipandang dari segi agama islam, tentu yang


diperlukan dalam sebuah pengobatan suatu
penyakit adalah usaha, doa serta tawakal.
Diriwiyatkan oleh Imam Bukhari di dalam
shahihnya,
dari
sahabat
Abu
Hurairah
bahwasanya Nabi bersabda:


Allah SWT tidak menurunkan sakit, kecuali juga


menurunkan obatnya (HR Bukhari).

Dari riwayat Imam Muslim dari jabir bin Abdillah,


Rasulullah Saw bersabda:

Setiap penyakit pasti ada obatnya, apabila


obatnya itu digunakan untuk mengobatinya,
maka dapat memperoleh kesembuhan atas ijin
Allah SWT (HR. Muslim).
Dalam hadist lain Rasulullah SAW bersabda :
Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah,
kesusahan,
kesedihan,
penyakit,
gangguan
menumpuk pada dirinya kecuali Allah SWT
hapuskan akan dosa-dosanya (H.R. Bukhari dan
Muslim).

Allah SWT selalu memberikan yg terbaik utk umatNya dan kita pun sebagai umat-Nya harus selalu
bersyukur dan menjaga yang telah diberikan Allah
SWT, terutama kesehatan yang sering diabaikan
banyak orang.

Pada pasien dan keluarga juga perlu diingatkan bahwa apa


yang sedang dialami pasien semata-mata hanya ujian
dalam kehidupan yang diberikan oleh Allah SWT. Sehingga
wajib untuk terus berdoa dan melaksanakan sholat.
Namun berbeda aturannya dengan sholat yang dilakukan
ketika sehat. Allah SWT memberikan keringanan bagi yang
sakit dalam melaksanakan sholat.

SELESAI
Terima Kasih