Vous êtes sur la page 1sur 22

BAB I

PENDAHULUAN
Tugas dokter yang utama adalah mempertahankan hidup dan mengurangi
penderitaan pasiennya. Anestesi sebagai salah satu cabang ilmu kedokteran sangat
berperan dalam mewujudkan tugas profesi dokter tersebut karena dapat mengurangi
nyeri dan memberikan bantuan hidup. Anestesi adalah cabang ilmu kedokteran yang
mendasari berbagai tindakan yang meliputi pemberian anestesi, penjagaan
keselamatan penderita yang mengalami pembedahan, pemberian bantuan hidup
dasar, pengobatan intensif pasien gawat, terapi inhalasi, dan penanggulangan nyeri
menahun1
Pasien yang akan menjalani anestesi dan pembedahan (elektif atau darurat)
harus dipersiapkan dengan baik. Pada prinsipnya dalam penatalaksanaan anestesi
pada suatu operasi terdapat beberapa tahap yang herus dilaksanakan yaitu pra
anestesi yang terdiri dari persiapan mental dan fisik pasien, perencanaan anestesi,
menentukan prognosis dan persiapan pada pada hari operasi. Tahap penatalaksanaan
anestesi yang terdiri dari premedikasi, masa anestesi dan pemeliharaan. Serta tahap
pemulihan dan perawatan pasca anestesi.2
Urologi meliputi ginjal, ureter, uretra, buli-buli, prostat. Operasi pada lower
abdominalis termasuk bedah urologi sering menggunakan anestesi regional baik
spinal maupun epidural. Tidak menutup kemungkinan juga menggunakan anestesi
umum bila terdapat indikasi tertentu.3 Ureter merupakan struktur retroperitoneal dan
mempunyai inervasi simpatik dan nociceptive projection ke saraf spinal yang nyaris
sama dengan ginjal. Segmen spinal ini juga menyediakan inervasi somatic ke daerah
lumbal, flank, area ilioinguinal, dan scrotum atau labia. Nyeri dari ginjal dan ureter
berasal dari area itu. Saraf parasimpatik dari S2-4 saraf spinal mempersarafi ureter.4
Ureterolithiasis adalah di dalam ureter. Penyebab pembentukan batu meliputi
idiopatik, gangguan aliran kemih, gangguan metabolisme, infeksi saluran kemih oleh
mikroorganisme berdaya membuat urease, dehidrasi, benda asing, jaringan mati dan
multifaktor. Terapi yang diberikan dapat berupa terapi konservatif dan terapi
intervensi.4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. ANESTESI UMUM
Anestesi dapat dibagi dua macam, yaitu anestesi umum dan anestesi
regional. Anestesi umum masih dibagi lagi menurut cara pemberiannya yaitu
inhalasi inhalasi dan parenteral.
Pada kasus ini anestesi yang digunakan adalah anestesi umum, yaitu
meniadakan nyeri secara sentral disertai hilangnya kesadaran dan bersifat
reversible. Dalam memberikan obat-obat anestesi pada penderita yang akan
menjalani operasi maka perlu diperhatikan tujuannya yaitu sebagai premedikasi,
induksi, maintenance dan lain-lain.1
Anestesi umum meniadakan nyeri secara sentral disertai hilangnya kesadaran
dan bersifat pulih kembali (reversibel). Komponen anestesi yang ideal terdiri dari
: (1) hipnotik (2) analgesia (3) relaksasi otot. Obat anestesi yang masuk ke
pembuluh darah atau sirkulasi kemudian menyebar ke jaringan. Yang pertama
terpengaruh oleh obat anestesi ialah jaringan kaya akan pembuluh darah seperti
otak, sehingga kesadaran menurun atau hilang, hilangnya rasa sakit, dan
sebagainya. Seseorang yang memberikan anestesi perlu mengetahui stadium
anestesi untuk menentukan stadium terbaik pembedahan itu dan mencegah
terjadinya kelebihan dosis. Tanda-tanda klinis anestesia umum (menggunakan zat
anestesi yang mudah menguap, terutama diethyleter) :
Stadium I :
analgesia dari mulainya induksi anestesi hingga

hilangnya kesadaran.
Stadium II :
excitement, dari hilangnya kesadaran hingga mulainya

respirasi teratur, mungkin terdapat batuk, kegelisahan atau muntah.


Stadium III
:
dari mulai respirasi teratur hingga berhentinya
respirasi. Dibagi 4 plane:
Plane 1 :
dari timbulnya pernafasan teratur hingga berhentinya
pergerakan bola mata.
Plane 2 :
dari tidak adanya pergerakan bola mata hingga
mulainya paralisis interkostal.

Plane 3 :

dari mulainya paralisis interkostal hingga total paralisis

interkostal.
Plane 4 :

dari

diafragma.
Stadium IV :

overdosis, dari timbulnya paralysis diafragma hingga

kelumpuhan

interkostal

hingga

paralisis

cardiac arrest.
Dalam memberikan obat-obatan pada penderita yang akan menjalani
operasi maka perlu diperhatikan tujuannya yaitu sebagai premedikasi,
induksi, maintenance, dan lain-lain.
A.1 Persiapan Pra Anestesi
Kunjungan pra anestesi pada pasien yang akan menjalani operasi dan
pembedahan baik elektif dan darurat mutlak harus dilakukan untuk
keberhasilan tindakan tersebut. Adapun tujuan pra anestesi adalah:1

Mengetahui status fisik pasien praoperatif.

Mengetahui dan menganalisis jenis operasi.

Merencanakan dan memilih teknik serta obat-obat anestesi yang


sesuai dengan fisik dan kehendak pasien.

Meramalkan penyulit yang mungkin terjadi selama operasi dan atau


pasca bedah.

Mempersiapkan

obat/alat

guna

menanggulangi

penyulityang

diramalkan.

Menentukan status fisik dengan klasifikasi ASA (American Society


Anesthesiology):1
i. ASA I

Pasien

normal

sehat,

kelainan

bedah

terlokalisir, tanpa kelainan faali, biokimiawi, dan psikiatris.


Angka mortalitas 2%.
ii. ASA II

Pasien dengan gangguan sistemik ringan

sampai dengan sedang sebagai akibat kelainan bedah atau


proses patofisiologis. Angka mortalitas 16%.

iii. ASA III

: Pasien dengan gangguan sistemik berat

sehingga aktivitas harian terbatas. Angka mortalitas 38%.


iv. ASA IV

: Pasien dengan gangguan sistemik berat yang

mengancam jiwa, tidak selalu sembuh dengan operasi. Misal :


insufisiensi fungsi organ, angina menetap. Angka mortalitas
68%.
v. ASA V

:Pasien dengan kemungkinan hidup kecil.

Tindakan operasi hampir tak ada harapan. Tidak diharapkan


hidup dalam 24 jam tanpa operasi / dengan operasi. Angka
mortalitas 98%.
Untuk operasi cito, ASA ditambah huruf E (Emergency) tanda
darurat1
Macam-macam teknik anestesi yang dapat digunakan :
a. Open drop method : cara ini dapat digunakan untuk anestetik yang menguap,
peralatan sangat sederhana dan tidak mahal. Zat anestetik diteteskan pada kapas
yang diletakkan di depan hidung penderita sehingga kadar yang dihisap tidak
diketahui, dan pemakaiannya boros karena zat anestetik menguap ke udara
terbuka.
b. Semi open drop method : hampir sama dengan open drop, hanya untuk
mengurangi terbuangnya zat anestetik, digunakan masker. Karbondioksida
yang dikeluarkan sering terhisap kembali sehingga dapat terjadi hipoksia.
Untuk menghindarinya dialirkan volume fresh gas flow yang tinggi minimal 3x
dari minimal volume udara semenit.
c. Semi closed method : udara yang dihisap diberikan bersama oksigen murni
yang dapat ditentukan kadarnya kemudian dilewatkan pada vaporizer sehingga
kadar zat anestetik dapat ditentukan. Udara panas yang dikeluarkan akan
dibuang ke udara luar. Keuntungannya dalamnya anestesi dapat diatur dengan
memberikan kadar tertentu dari zat anestetik, dan hipoksia dapat dihindari
dengan memberikan volume fresh gas flow kurang dari 100 % kebutuhan.

d. Closed method : cara ini hampir sama seperti semi closed hanya udara ekspirasi
dialirkan melalui soda lime yang dapat mengikat CO 2, sehingga udara yang
mengandung anestetik dapat digunakan lagi. 2
A.2 Premedikasi Anestesi
Premedikasi anestesi adalah pemberian obat sebelum anestesi. Adapun tujuan
dari premedikasi antara lain :5

Menimbulkan suasana nyaman bagi pasien.

Memudahkan dan memperlancar induksi.

Mengurangi dosis anestesia.

Menekan dan mengurangi sekresi kelenjar.

2. Obat-obatan Premedikasi
a.

Sulfas Atropin
Sulfas atropin termasuk golongan anti kolinergik. Berguna untuk
mengurangi sekresi lendir dan menurunkan efek bronchial dan kardial yang
berasal dari perangsangan parasimpatis akibat obat anestesi atau tindakan
operasi. Efek lainnya yaitu melemaskan otot polos, mendepresi vagal reflek,
menurunkan spasme gastrointestinal, dan mengurangi rasa mual serta
muntah. Obat ini juga menimbulkan rasa kering di mulut serta penglihatan
kabur, maka lebih baik tidak diberikan pra anestesi lokal maupun regional.
Dalam dosis toksik dapat menyebabkan gelisah, delirium, halusinasi, dan
kebingungan pada pasien. Tetapi hal ini dapat diatasi dengan pemberian
prostigmin 1 2 mg intravena.5
Sediaan

: dalam bentuk sulfat atropin dalam ampul 0,25 dan 0,5 mg.

Dosis

: 0,01 mg/ kgBB.

Pemberian : SC, IM, IV


b. Pethidin
Pethidin

merupakan

narkotik

yang

sering

digunakan

untuk

premedikasi. Keuntungan penggunaan obat ini adalah memudahkan


induksi, mengurangi kebutuhan obat anestesi, menghasilkan analgesia pra

dan pasca bedah, memudahkan melakukan pemberian pernafasan buatan ,


dan dapat diantagonis dengan naloxon.6
Pethidin dapat menyebabkan vasodilatasi perifer, sehingga dapat
menyebabkan hipotensi orthostatik. Hal ini akan lebih berat lagi bila
digunakan pada pasien dengan hipovolemia. Juga dapat menyebabkan
depresi pusat pernapasan di medula yang dapat ditunjukkan dengan respon
turunnya CO2. mual dan muntah menunjukkan adanya stimulasi narkotik
pada pusat muntah di medula. Posisi tidur dapat mengurangi efek
tersebut.6
Sediaan

: dalam ampul 100 mg/ 2cc.

Dosis

: 1 mg/ kgBB.

Pemberian

: IV, IM

c. Midazolam
Midazolam merupakan suatu golongan imidazo-benzodiazepin
dengan sifat yang sangat mirip dengan golongan benzodiazepine.
Merupakan benzodiapin kerja cepat yang bekerja menekan SSP.
Midazolam berikatan dengan reseptor benzodiazepin yang terdapat di
berbagai area di otak seperti di medulla spinalis, batang otak, serebelum
system limbic serta korteks serebri. Efek induksi terjadi sekitar 1,5 menit
setelah pemberian intra vena bila sebelumnya diberikan premedikasi obat
narkotika dan 2-2,5 menit tanpa premedikasi narkotika sebelumnya.6
Midazolam diindikasikan pada premedikasi sebelum induksi
anestesi, basal sedasion sebelum tindakan diagnostic atau pembedahan
yang dilakukan di bawah anestesi local serta induksi dan pemelharaan
selama anestesi. Obat ini dikontra indikasikan pada keadaan sensitive
terhadap golongan benzodiazepine, pasien dengan insufisiensi pernafasan,
acut narrow-angle claucoma.6
Dosis premedikasi sebelum operasi :

Pemberian intramuskular pada penderita yang mengalami nyeri


sebelum tindakan bedah, pemberian tunggal atau kombinasi dengan
antikolinergik atau analgesik.
Dewasa : 0,07- 0,1 mg/ kg BB secara IM sesuai dengan keadaan
umum pasien, lazimnya diberikan 5mg.
Dosis usia lanjut dan pasien lemah 0,025 0,05 mg/ kg BB (IM).
Untuk basal sedation pada dewasa tidak melebihi 2,5 mg IV 5-10 menit
sebelum permulaan operasi, pada orang tua dosis harus diturunkan 1- 1,5
mg dengan total dosis tidak melebihi 3,5 mg IV.
Midazolam mempunyai efek samping :
Efek yang berpotensi mengancam jiwa : midazolam dapat
mengakibatkan depresi pernafasan dan kardiovaskular, iritabilitas pada
ventrikel dan perubahan pada kontrol baroreflek dari denyut jantung.
Efek yang berat dan ireversibel : selain depresi SSP yang
berhubungan dengan dosis, tidak pernah dilaporkan efek samping yang
ireversibel
Efek samping simtomatik : agitasi, involuntary movement, bingung,
pandangan kabur, nyeri pada tempat suntikan, tromboflebitis dan
trombosis.
Midazolam dapat berinteraksi dengan obat alkohol, opioid, simetidin,
ketamin.4
3. Induksi
Pada kasus ini digunakan Propofol. Propofol adalah campuran 1% obat
dalam air dan emulsi yang berisi 10% soya bean oil, 1,2% phosphatide telur
dan 2,25% glyserol. Dosis yang dianjurkan 2,5mg/kgBB untuk induksi tanpa
premedikasi.6
Pemberian intravena propofol (2mg/kg) menginduksi anestesi secara
cepat. Rasa nyeri kadang-kadang terjadi di tempat suntikan, tetapi jarang
disertai plebitis atau trombosis. Anestesi dapat dipertahankan dengan infus

propofol yang berkesinambungan dengan opiat, N2O dan/atau anestetik


inhalasi lain.
Propofol menurunkan tekanan arteri sistemik kira-kira 80% tetapi
efek ini disebabkan karena vasodilatasi perifer daripada penurunan curah
jantung. Tekanan sistemik kembali normal dengan intubasi trakea.6
Propofol tidak merusak fungsi hati dan ginjal. Aliran darah ke otak,
metabolisme otak dan tekanan intrakranial akan menurun. Keuntungan
propofol karena bekerja lebih cepat dari tiopental dan konfusi pasca operasi
yang minimal.6
Efek samping propofol pada sistem pernapasan adanya depresi
pernapasan,

apnea,

brokospasme

dan

laringospasme.

Pada

sistem

kardiovaskuler berupa hipotensi, aritmia, takikardia, bradikardia, hipertensi.


Pada susunan saraf pusat adanya sakit kepala, pusing, euforia, kebingungan,
kejang, mual dan muntah.3
4. Pemeliharaan
a. Nitrous Oksida /Gas Gelak (N2O)
Merupakan gas yang tidak berwarna, berbau manis dan tidak iritatif,
tidak berasa, lebih berat dari udara, tidak mudah terbakar/meledak, dan
tidak bereaksi dengan soda lime absorber (pengikat CO2). Mempunyai
sifat anestesi yang kurang kuat, tetapi dapat melalui stadium induksi
dengan cepat, karena gas ini tidak larut dalam darah. Gas ini tidak
mempunyai sifat merelaksasi otot, oleh karena itu pada operasi abdomen
dan ortopedi perlu tambahan dengan zat relaksasi otot. Terhadap SSP
menimbulkan analgesi yang berarti. Depresi nafas terjadi pada masa
pemulihan, hal ini terjadi karena Nitrous Oksida mendesak oksigen dalam
ruangan-ruangan tubuh. Hipoksia difusi dapat dicegah dengan pemberian
oksigen konsentrasi tinggi beberapa menit sebelum anestesi selesai.
Penggunaan biasanya dipakai perbandingan atau kombinasi dengan
oksigen. Penggunaan dalam anestesi umumnya dipakai dalam kombinasi
N2O : O2 adalah sebagai berikut 60% : 40% ; 70% : 30% atau 50% : 50%.6

b. Ethrane ( Enflurane)
Merupakan anestesi yang poten. Dapat mendepresi SSP menimbulkan
efek hipnotik. Pada kontrasepsi inspirasi 3 3,5 % dapat menimbulkan
perubahan EEG yaitu epileptiform, karena itu sebaiknya tidak digunakan
pada pasien epilepsi. Dan dapat meningkatkan aliran darah ke otak. Pada
anestesi yang dalam dapat menurunkan tekanan darah disebabkan depresi
pada myokardium. Aritmia jarang terjadi dan penggunaan adrenalin untuk
infiltrasi relatif aman. Pada sistem pernafasan, mendepresi ventilasi
pulmoner dengan menurunkan volume tidal dan mungkin pula
meningkatkan laju nafas. Tidak menyebabkan hipersekresi dari bronkus.
Pada otot, Ethrane menimbulkan efek relaksasi yang moderat.
Menyebabkan peningkatan aktivitas obat pelumpuh otot non depolarisasi.
Penggunaan Ethrane pada operasi sectio cesaria cukup aman pada
konsentrasi rendah (0,5 - 0,8 vol %) tanpa menimbulkan depresi pada
fetus. Berhati-hati pada penggunaan konsentrasi tinggi karena dapat
menimbulkan relaksasi otot uterus.1
Untuk induksi, Ethrane 2 4 vol % dikombinasikan O2 atau campuran
N2O-O2, sedangkan untuk mempertahankan anestesi diperlukan 0,5 3 %.
Keuntungan dari Ethrane adalah harum, induksi dan pemulihan yang
cepat, tidak ada iritasi, sebagai bronkodilator, relaksasi otot baik, dapat
mempertahankan stabilitas dari sistem kardiovaskuler serta bersifat non
emetik. Sedangkan kerugiannya bersifat myocardial depresan, iritasi pada
CNS,

ada

kemungkinan

kerusakan

hati.

Sebaiknya

dihindari

pemberiannya pada pasien dengan keparahan ginjal.1


c. Halothane (Fluothane)
Berbentuk cairan jernih, sangat mudah menguap dan berbau manis,
tidak tajam dan mempunyai titik didih 50 C. Konsentrasi yang digunakan
untuk anestesi beragam dari 0,2 3%. Merupakan zat yang poten sehingga
membutuhkan vaporizer yang dikalibrasi untuk mencegah dosis yang
berlebihan. Karena kurang larut dalam darah dibandingkan dengan eter,

maka saturasi dalam darah lebih cepat, sehingga induksi inhalasi relatif
lebih cepat dan menyenangkan untuk pasien. Jika persediaan terbatas
maka sebaiknya Halothane digunakan untuk menstabilkan setelah indeuksi
intravena. Pada kondisi klinis halothane tidak mudah terbakar dan
meledak.
Halothane

memberikan

induksi

anestesi

yang

mulus,

tetapi

mempunyai sifat analgesi yang buruk. Penggunaan zat ini untuk anestesi
secara tunggal akan menyebabkan depresi kardiopulmoneryang ditandai
dengan sianosis, kecuali bila gas inspirasi mengandung oksigen dengan
konsentrasi tinggi. Halothane mempunyai efek relaksasi otot yang lebih
kecil daripada eter, merupakan suatu bronkodilator. Depresi pusat
pernafasan oleh halothane ditandai dengan pernafasan yang cepat dan
dangkal, peningkatan frekuensi pernafasan ini lebih kecil bila diberikan
premedikasi dengan opium. Efek pada kardiovaskuler adalah depresi
langsung pada miokardium dengan penurunan curah jantung dan tekanan
darah, tetapi terjadi vasodilatasi kulit sehingga mungkin perfusi jaringan
lebih baik. Kerugian dari halothane dapat diatasi dengan dikombinasikan
dengan N2O (50 70%) atau trikloroetilen (0,5-1%).7
5. Obat Pelumpuh Otot
a. Suksametonium (Succynil choline).
Terutama digunakan untuk mempermudah/ fasilitas intubasi trakea
karena mula kerja cepat (1-2 menit) dan lama kerja yang singkat (3 5
menit). Juga dapat dipakai untuk memelihara relaksasi otot dengan cara
pemberian kontinyu per infus atau suntikan intermitten. Dosis untuk
intubasi 1-2 mg/kgBB/I.V.
Komplikasi dan efek samping dari obat ini adalah (1) bradikardi,
bradiaritma dan asistole pada pemberian berulang atau terlalu cepat serta
pada anak-anak; (2) takikardi dan takiaritmia; (3) lama kerja memanjang
terutama bila kadar kolinesterase plasma berkurang; (4)

peningkatan

tekanan intra okuler; (5) hiperkalemi; (6) dan nyeri otot fasikulasi.

Obat ini tersedia dalam flacon berisi bubuk 100 mg dan 500 mg.
Pengenceran dengan garam fisiologis / aquabidest steril 5 atau 25 ml
sehingga membentuk larutan 2 %. Cara pemberian I.V/I.M/ intra lingual/
intra bukal.1
b. Atrakurium besylate (tracrium)
Sebagai pelumpuh otot dengan struktur benzilisoquinolin yang
memiliki beberapa keuntungan antara lain bahwa metabolisme di dalam
darah (plasma) melalui suatu reaksi yang disebut eliminasi hoffman yang
tidak tergantung fungsi hati dan fungsi ginjal, tidak mempunyai efek
kumulasi pada pemberian berulang, tidak menyebabkan perubahan fungsi
kardiovaskuler yang bermakna.
Menurut Chapple DJ dkk (1987) dan Tateishi (1989) bahwa pada
binatang atracurium tidak mempunyai efek yang nyata pada CBF, CMR
O2 atau ICP. Metabolitnya yang disebut laudanosin, menembus blood
brain barrier dan dapat menimbulkan kejang EEG, tetapi kadar laudanosin
pada dosis klinis atracurium tidak menimbulkan efek ini. Lanier dkk
mengatakan bahwa tidak ada perbedaan ambang kejang dengan lidokain
pada kucing yang diberikan atracurium. pancuronium, atau vecuronium.
Obat ini menurunkan MAP tetapi tidak menyebabkan perubahan ICP.
Dosis atracurium untuk intubasi adalah 0,5 mg/kg dan dosis pemeliharaan
adalah 5-10 ug/kg/menit. Kemasan : 2,5 ml dan 5 ml yang berisi 25 mg
dan 50 mg atrakurium besylate. Mula kerja pada dosis intubasi 2-3 menit
sedangkan lama kerjanya pada dosis relaksasi 15-35 menit.1
6. Intubasi Endotrakeal
Suatu tindakan memasukkan pipa khusus ke dalam trakea, sehingga
jalan nafas bebas hambatan dan nafas mudah dikendalikan. Intubasi trakea
bertujuan untuk :1

Mempermudah pemberian anestesi.

Mempertahankan jalan nafas agar tetap bebas.

Mencegah kemungkinan aspirasi lambung.

Mempermudah penghisapan sekret trakheobronkial.

Pemakaian ventilasi yang lama.

Mengatasi obstruksi laring akut.

7. Terapi Cairan
Prinsip dasar terapi cairan adalah cairan yang diberikan harus
mendekati jumlah dan komposisi cairan yang hilang. Terapi cairan
perioperatif bertujuan untuk :

Memenuhi kebutuhan cairan, elektrolit dan darah yang hilang selama


operasi.

Mengatasi syok dan kelainan yang ditimbulkan karena terapi yang


diberikan.
Pemberian cairan operasi dibagi :

a. Pra operasi
Dapat terjadi defisit cairan karena kurang makan, puasa, muntah,
penghisapan isi lambung, penumpukan cairan pada ruang ketiga seperti
pada ileus obstriktif, perdarahan, luka bakar dan lain-lain. Kebutuhan
cairan untuk dewasa dalam 24 jam adalah 2 ml / kg BB / jam. Setiap
kenaikan suhu 10 Celcius kebutuhan cairan bertambah 10-15 %.
b. Selama operasi
Dapat terjadi kehilangan cairan karena proses operasi. Kebutuhan
cairan pada dewasa untuk operasi :

Ringan = 4 ml/kgBB/jam.

Sedang= 6 ml / kgBB/jam

Berat = 8 ml / kgBB/jam.
Bila terjadi perdarahan selama operasi, di mana perdarahan kurang

dari 10 % EBV maka cukup digantikan dengan cairan kristaloid sebanyak


3 kali volume darah yang hilang. Apabila perdarahan lebih dari 10 %
maka dapat dipertimbangkan pemberian plasma / koloid / dekstran dengan
dosis 1-2 kali darah yang hilang.

c. Setelah operasi
Pemberian cairan pasca operasi ditentukan berdasarkan defisit cairan
selama operasi ditambah kebutuhan sehari-hari pasien1.
8. Pemulihan
Pasca anestesi dilakukan pemulihan dan perawatan pasca operasi dan
anestesi yang biasanya dilakukan di ruang pulih sadar atau recovery room
yaitu ruangan untuk observasi pasien pasca atau anestesi. Ruang pulih sadar
merupakan batu loncatan sebelum pasien dipindahkan ke bangsal atau masih
memerlukan perawatan intensif di ICU. Dengan demikian pasien pasca
operasi atau anestesi dapat terhindar dari komplikasi yang disebabkan karena
operasi atau pengaruh anestesinya.1,2

BAB III
PENYAJIAN KASUS
A. IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. B

Umur

: 27 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Alamat

: jl. Katulistiwa Gg. Usaha Keluarga no. 08

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Swasta

Tanggal Operasi

: 16 Januari 2015

B. PEMERIKSAAN PRA ANESTESI


1. Anamnesa
a. Keluhan utama : patah pada tangan kanan
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan nyeri pada lengan atas kanan dan
pergelangan tangan kanan. Tiga hari yang lalu pasien kecelakaan, pasien
mengendarai sepeda motor dengan kecepatan rata-rata 80 km/jam dan
diserempet truk dari arah sebelah kiri ketika pasien hendak menyusul.
Bagian tangan tersentuh oleh truk, lalu pasien jatuh ke arah kanan. Bagian
yang terdahulu menyentuh aspal adalah tangan kanan. Saat kejadian
pasien menggunakan helm dan tidak ada benturan di kepala. Saat jatuh
pasien tidak sadarkan diri, tidak ada keluar darah dari telinga, mulut,
hidung. Tidak ada mual dan muntah. Hanya terasa bengkak dan nyeri
pada lengan atas kanan. Kemudian pasien di bawa ke UGD RSUD dr.
Soedarso dan di sana tidak dilakukan operasi, hanya di pasang spalk.
Karena tidak dilakukan operasi di sana, pasien di rujuk ke RS TNI AU
Lanud Supadio.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat trauma sebelumnya tidak ditemukan
Pasien tidak pernah mengalami sakit yang sama sebelumnya

Pasien tidak pernah menjalani operasi sebelumnya


Riwayat hipertensi disangkal, DM disangkal, asma dan penyakit jantung
disangkal.
d. Riwayat penyakit keluarga
Riwayat trauma dalam keluarga (-)
Riwayat operasi dalam keluarga (-)
Riwayat DM dan hipertensi (-)
e. Alergic

: pernah mengalami gatal-gatal setelah mengonsumsi

paramex.
Medication

: tidak ada mengomsumsi obat apapun dalam beberapa

waktu terakhir.

2.

Past illness

: gastritis

Last meal

: pasien makan terakhir 6 jam sebelum operasi

Environment

: tidak ada keluhan

Pemeriksaan Fisik:
a. Breath
Jalan napas baik, napas spontan, RR : 20 x/menit, suara napas dasar
vesikuler, tidak ada suara napas tambahan, pembukaan mulut 3 jari,
kriteria mallampati I, jarak tiromental > 7 cm, tidak ada gigi palsu.
b. Blood
Nadi : 80 x/menit, TD : 140/80 mmHg, perfusi : kering-merah-hangat,
CRT < 2 detik, pemeriksaan fisik jantung dalam batas normal.
c. Brain
GCS: E4V5M6, tidak ada kelainan neurologis.
d. Bladder
Buang air kecil lancar, tidak terpasang kateter.
e. Bowel
Timpani pada seluruh kuadran abdomen, bising usus positif normal,
abdomen soefl, distensi (-), hepar dan lien tidak teraba.
f. Bone

Tidak ada kelainan tulang belakang.


Status lokalis:
Look : terdapat deformitas berupa pembengkakan pada regio brachii
dextra dan regio antebrachii dextra.
Feel

: didapatkan adanya nyeri tekan, suhu sama dengan bagian


yang normal, teraba hangat, sensibilitas (+).

Move : ROM shoulder joint, elbow joint, dan wrist joint terbatas,
karena sakit bila digerakkan.
3. Pemeriksaan penunjang :
a. Laboratorium
Hemoglobin

: 12,7 gr %

Ht

35 vol %

Eritrosit

: 3,69/juta

Leukosit

: 8000/mm3

BT

: 3

CT

: 430

Trombosit

: 172.000/mm

:
b. Foto x-ray
Foto x-ray humerus
Kesan : Tampak soft tissue swelling. Tampak fraktur humerus 1/3 medial

Foto x-ray radius-ulna dextra


Kesan : tampak fraktur pada distal radius

4. Diagnosis Pra Bedah : closed fracture complete 1/3 medial humerus dextra
dan closed fracture colles dextra
5. Status fisik

ASA : 1 (Pasien tidak memiliki kelainan organik maupun

sistemik selain penyakit yang akan dioperasi).


C. RENCANA ANESTESI
1. Persiapan Operasi
-

Informed consent
Persetujuan operasi tertulis (+)
Puasa 6 jam

2. Jenis pembedahan : open reduction and internal fixation + reposisi tertutup


3. Jenis Anestesi

: Anestesi umum

4. Teknik Anestesi

: GA intubasi, ET no. 7
5.Obat-obatan

: sulfas atropine 0,25 mg, midazolam 5

mg, fentanyl 100 g, propofol 150 mg, atracurium


besilat 30 mg, asam traneksamat, tramadol 50 mg,
ketorolac 30 mg, ondansetron 8 mg

6. Maintenance

: O2 2 lpm, N20 2 lpm, isoflurance 1,5 vol %


7.Monitoring

: tanda-tanda vital, kedalaman anestesi

dan perdarahan
8. Perawatan pasca anestesi di ruang pemulihan
D. TATALAKSANA ANESTESI
1. Di ruang persiapan
- Pasien masuk ke ruang persiapan operasi
- Pemeriksaan kembali : identitas pasien, persetujuan operasi, lama puasa 6
jam.
- Pastikan pasien telah terpasang infus dan lancar.
- Persiapkan peralatan dan obat-obatan anestesi.
2. Di ruang operasi
- Pasien masuk ke ruang operasi, manset dan indikator saturasi oksigen
-

dipasang serta monitor menyala.


Dilakukan premedikasi dengan midazolam 5 mg dan fentanyl 100 g

secara IV.
Dilakukan induksi dengan propofol 150 mg IV, segera kepala
diekstensikan, facemask didekatkan pada hidung dengan O2 4 lpm.
Setelah refleks bulu mata menghilang, atracurium besilat 30 mg
diinjeksikan secara IV. Dilakukan pemompaan ambu hingga saturasi
100%. Setelah otot-otot pasien relaksasi, dilakukan intubasi dengan
endotrakeal tube no. 7. Setelah terpasang dengan baik dihubungkan
dengan mesin anestesi untuk mengalirkan O2 2 lpm, N2O 2 lpm dan

isoflurance 1,5 vol %. Nafas dikendalikan dengan pemompaan manual.


Setelah anestesi berjalan dengan baik, operasi dimulai.
Tanda-tanda vital terus dimonitor sampai operasi selesai dan pasien
dipindahkan ke ruang pemulihan sebelum dibawa kembali ke bangsal.

Monitoring Selama Anestesi


Jam
15.10
15.15
15.20
15.25
15.30
15.35
15.40

Tensi
120/78
135/68
130/75
130/75
145/78
150/80
160/80

Nadi
90
95
96
96
96
96
96

Sa02
100%
100%
100%
100%
100%
100%
100%

15.45
15.50
15.55
16.00
16.05
16.10
16.15
16.20
16.25
16.30
16.35
16.40
16.45
16.50
16.55
17.00
17.05
17.10
17.15
17.20
17.25
17.30
17.35
17.40
17.45
17.50
17.55
18.00

165/75
170/68
168/64
158/64
145/64
150/65
145/65
120/55
130/55
148/55
150/59
130/58
135/64
135/65
130/65
135/65
135/68
135/69
135/70
135/70
135/68
145/65
145/70
125/64
136/69
132/69
118/60
130/70

96
96
96
96
96
96
96
96
96
85
85
84
85
85
85
96
96
96
96
96
96
96
96
96
96
96
96
96

100%
100%
100%
100%
100%
100%
100%
100%
100%
100%
100%
100%
100%
100%
100%
100%
100%
100%
100%

3. Instruksi Pasca Anestesi


a. Diet oral
b. Infus RL + (ketorolac 30 mg, ondansetron 8 mg, tramadol 50 mg)
c. Obat injeksi : cefoperazone 2x1 gram, kalnex 2x500 mg, ranitidine
3x50 mg
d. Obat oral : hibone forte 2x1
e. Foto control

BAB IV
PEMBAHASAN
Operasi dilakukan pada pasien Tn. B yang berusia 27 tahun. Sebelum
pembedahan, dilakukan anestesi untuk menghilangkan rasa sakit pasien selama
proses operasi. Anestesi dilakukan mulai dari pemeriksaan pre

anestesi hingga

penatalaksanaan pasien pasca operasi.


Pada kasus ini, pasien datang karena mengalami patah tulang pada tangan
kanan karena kecelakaan lalu lintas 3 hari yang lalu sebelum masuk rumah sakit.
Setelah dilakukan pemerksaan radiologi, pasien didiagnosis mengalami fraktur
humerus tertutup pada bagian 1/3 medial (closed fracture 1/3 medial humerus
dextra) dan fraktur tertutup pada radius bagian distal (closed fracture colles dextra).
Prosedur anestesi memerlukan persiapan yang baik, terutama persiapan pasien,
karena itu harus dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
yang diperlukan.
Berdasarkan anamnesis, pasien menyangkal adanya riwayat penyakit sistemik
seperti diabetes mellitus, hipertensi, asma atau sesak napas serta penyakit jantung.
Penilaian riwayat penyakit penting untuk mengetahui pemilihan obat apa yang tepat
serta mempertimbangkan pemilihan teknik anestesi untuk mengurangi kemungkinan
terburuk, baik selama operasi maupun pasca operasi.
Pada pemeriksaan fisik, didapatkan hasil dalam batas normal pada breath,
blood, brain, bladder, dan bowel, sedangkan pada bone didapakan adanya fraktur
sesuai yang dikeluhkan pasien saat ini. Penilaian ini dilakukan sebelum operasi dan
dikenal dengan pra anestesi. Klasifikasi status fisik menuru ASA (American Sociey
Anesthesiology) adalah sebagai berikut:

a.

ASA I

: Pasien normal sehat, kelainan bedah terlokalisir, tanpa

kelainan faal, biokimiawi, dan psikiatris. Angka mortalitas 2%.


b.

ASA II

: Pasien dengan gangguan sistemik ringan sampai dengan

sedang sebagai akibat kelainan bedah atau proses patofisiologis. Angka


mortalitas 16%.
c.

ASA III

: Pasien dengan gangguan sistemik berat sehingga aktivitas

harian terbatas. Angka mortalitas 38%.


d.

ASA IV

: Pasien dengan gangguan sistemik berat yang mengancam

jiwa, tidak selalu sembuh dengan operasi. Misal : insufisiensi fungsi organ,
angina menetap. Angka mortalitas 68%.
e.

ASA V

: Pasien dengan kemungkinan hidup kecil. Tindakan operasi

hampir tak ada harapan. Tidak diharapkan hidup dalam 24 jam tanpa operasi /
dengan operasi. Angka mortalitas 98%.
Berdasarkan klasifikasi tersebut, status fisik pasien ini adalah ASA I, artinya
pasien tidak memiliki kelainan organik maupun sistemik selain penyakit yang akan
dioperasi.
Pada pasien ini dilakukan tindakan anestesi umum dengan intubasi
endotrakeal napas kendali. Keuntungan tindakan ini antara lain: jalan napas yang
aman dan dapat dikendalikan karena terpasang ETT.
Untuk mencapai trias anestesi yaitu analgesia, hypnosis dan relaksasi otot
maka setelah dipasang jalur intravena dengan cairan RL (ringer Laktat) sebagai
loading mulai dimasukkanlah obat-obat premedikasi, midazolam 5 mg bertujuan
untuk memberikan efek sedasi dan amnesia retrograde, fentanyl 100 mcg sebagai
analgetik opioid, sulfas atropine 0,25 mg untuk mengurangi sekresi saliva, propofol
150 mg sebagai obat induksi anestesia, muscle relaksan dengan golongan nondepolarisasi jenis intermediete acting yaitu atrakurium besilat dosis 30 mg. Sebagai
obat anestesi inhalasi diberikan isofluran 1,5 vol % dengan tambahan O2 2 lpm dan
N2O 2 lpm. Selama operasi juga diberikan obat-obatan seperti asam traneksamat 1
ampul untuk mengurangi pendarahan.

Setelah operasi selesai, pasien dipindahkan ke ruang perawatan. Tatalaksana


pasien post operasi meliputi pemberian obat-obatan analgesik, antiemetik, antibiotik,
obat oral hi-bone sebagai suplemen untuk memelihara kesehatan tulang, dan terapi
cairan.
a.
b.

Defisit cairan karena puasa 6 jam adalah = 2 x 75 x 6 = 900 cc


Kebutuhan cairan selama operasi sedang selama 2,6 jam =
(kebutuhan dasar selama operasi/maintenan + kebutuhan stress operasi

sedang) =
(2 ml x 75 x 2,6) + (6 ml x 58 x 2,6) = 390 + 904,8 = 1.294,81.295 ml
c.
Perdarahan yang terjadi kira-kira 300 ml
EBV = 70 ml x 75 = 5.250 ml
Darah yang hilang = 300/5.250 x 100% = 5,7 % EBV (< 10%)
Bila perdarahan 10% dari EBV maka dapat diberikan kristaloid subsitusi
dengan perbandingan 1 : 2-4 ml cairan kristaloid. Jadi pada pasien ini :
= 1 : 2-4 ml
= 300 : 600 ml 1200 ml kristaloid.
Jadi perdarahan saat operasi yang keluar sekitar 300 ml dapat diganti dengan
kristaloid sebesar 600 ml 1200 ml.
d.
Kebutuhan cairan total = 900 + 1.295 + (600-1200) = 2.795 ml
3.395 ml.
e.
Cairan yang sudah diberikan
- Pra anestesi = 500 ml
- Saat operasi = 1000 ml
f.

Total cairan yang masuk = 1500 ml

Jadi kekurangan cairan sebesar 1.295 ml sampai 1.895 ml (kebutuhan cairan total
dikurangi total cairan yang masuk) maka penambahan cairan masih diperlukan
saat pasien dibangsal ditambah kebutuhan cairan per hari selama 24 jam.