Vous êtes sur la page 1sur 8

A.

KRONOLOGIS KASUS BUDI GUNAWAN


Tahun 2010
Kasus Budi Gunawan (selanjutnya disebut BG) yang diawali dari Komisi
Pemberantasan Korupsi (selanjutnya disebut KPK) yang mendapati transaksi
mencurigakan dari masyarakat pada Juni-Agustus 2010. KPK melakukan kajian serta
pengumpulan bahan dan keterangan (Pulbaket) untuk mendalami laporan masyarakat
tersebut.
Tahun 2012
KPK kembali memeriksa hasil kajian yang telah dibuat pasca Pulbaket.
Tahun 2013
KPK dibawah kepemimpinan Abraham Samad melakukan ekpos pertamanya. KPK
memperkaya

ekspos

dengan

resume

pemeriksaan

Laporan

Harta

Kekayaan

Penyelenggara Negara (LHKPN) pada Juli 2013. Alhasil, KPK menyimpulkan telah
terjadi peristiwa pidana dan perkara BG ditingkatkan ke penyelidikan. KPK menduga
transaksi mencurigakan yang dilakukan BG terkait dengan dugaan penerimaan hadiah
atau janji.
10 Januari 2015
Presiden Joko Widodo memilih BG sebagai kandidat tunggal Kapolri menggantikan
Sutarman1. Dalam menentukan ini, Presiden hanya menerima rekomendasi Kompolnas,
seperti yang tercantum dalam Undang-Undang No.2 Tahun 200 tentang Kepolisian.2
13 Januari 2015
KPK mengumumkan BG sebagai tersangka korupsi saat ia menjabat Kepala Biro
Pembinaan Karier Deputi Sumber Daya Manusia Polri periode 2003-2006 dan jabatan
lainnya di kepolisian. Ketua KPK mengatakan Komjen BG sejak lama sudah
mendapatkan catatan merah dari KPK3.
1

Fidel Ali Permana, Presiden Joko Widodo Tunjuk Budi Gunawan sebagai Calon Kapolri,

http://nasional.kompas.com/read/2015/01/10/00082341/Presiden.Joko.Widodo.Tunjuk.Budi.Gunawan.seb
agai.Calon.Kapolri diunduh pada Selasa, 28 April 2015 pukul 10:15 WIB
2

Sabrina Arsil, Istana Benarkan Penunjukan Budi Gunawan sebagai Calon Tunggal Kapolri,

http://nasional.kompas.com/read/2015/01/10/09271501/Istana.Benarkan.Penunjukan.Budi.Gunawan.seba
gai.Calon.Tunggal.Kapolri, di unduh pada Selasa, 28 April 2015 pukul 11:12 WIB
3

BBC Indonesia, Kronologi Kasus Budi Gunawan dan Ketegangan KPK-Polri,


http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2015/02/150216_kronologi_bg_kpk, diunduh pada
Selasa, 28 April 2015 pukul 12.00 WIB

14 Januari 2015
BG dinyatakan lulus uji kelayakan dan kepatutan oleh Komisi III DPR.
15 Januari 2015
Rapat Paripurna DPR menetapkan Komjen BG sebagai calon Kapolri menggantikan
Jenderal Sutarman, pada Kamis (15/01) siang. Keputusan Sidang Paripurna itu
didukung oleh delapan fraksi yaitu PDI-P, Golkar, Gerindra, PKS, PKB, Nasdem,
Hanura, dan PPP. Sementara Fraksi Demokrat dan PAN meminta DPR menunda
persetujuan dengan sejumlah pertimbangan, antara lain adanya penetapan tersangka BG
oleh KPK.
19 Januari 2015
BG mendaftarkan gugatan pra peradilan terkait penetapan tersangka atas dirinya
oleh KPK ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
22 Januari 2015
Kuasa Hukum BG melaporkan para komisioner KPK ke Badan Reserse Kriminal
Mabes Polri dengan tuduhan membocorkan rahasia negara berupa laporan Pusat
Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK ) terhadap rekening BG dan
keluarganya. Pada hari yang sama, PLT Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto memberikan
pernyataan publik bahwa Abraham Samad pernah mengutarakan ambisi menjadi calon
Wakil Presiden dan menuduh BG menggagalkan ambisinya.
25 Januari 2015
Jokowi membentuk tim 9 untuk membantu mencarikan solusi ketegangan KPKPolri.
28 Januari 2015
Tim 9 mengusulkan kepada Presiden Joko Widodo untuk mencabut pencalonan
Komjen BG sebagai Kapolri, karena beliau sudah ditetapkan KPK sebagai tersangka
dalam kasus dugaan korupsi. Alasan karena dia telah berstatus tersangka sehingga
bukan hanya rule of law tetapi juga rule of ethics yang harus dijadikan pegangan. Tim
bentukan Presiden ini memberikan usulannya untuk mendesak Jokowi agar segera
bertindak agar keadaan negara tidak terombang-ambing.
2 Februari 2015
Sidang gugatan pra peradilan Budi Gunawan dimulai di Pengadilan Negeri Jakarta
Selatan.

16 Februari 2015
Majelis Hakim PN Jakarta Selatan mengabulkan gugatan BG dan menyatakan
penetapannya sebagai Tersangka tidak sah dan tidak bersifat mengikat secara hukum.
Adapun alasan Hakim mengabulkan gugatan BG, yakni :
a) Penetapan Tersangkan merupakan salah satu upaya paksa;
b) BG ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK berdasarkan Sprindik nomor
03/01/01/2015 pada 12 Januari 2015 dalam kapasitasnya sebagai Kepala Biro
Pengembangan Karir Deputi SSDM Polri, yang peristiwa pidana itu dilakukan
dalam rentang tahun 2003-2006.
c)

Penetapan Tersangka BG tidak termasuk ke dalam perkara yang meresahkan


masyarakat sebagaimana Pasal 11 UU KPK.

B. HUBUNGAN POLRI DAN KPK DALAM HAL PEMBERANTASAN


KORUPSI
Menurut Pasal 29 ayat (1) UU No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara
Republik Indonesia, anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia tunduk pada
kekuasaan peradilan umum. Hal ini menunjukkan bahwa anggota POLRI merupakan
warga sipil dan bukan termasuk subjek hukum militer. Walaupun anggota kepolisian
termasuk warga sipil, namun terhadap mereka juga berlaku ketentuan Peraturan Disiplin
dan Kode Etik Profesi. Peraturan Disiplin Polri diatur dalam PP No. 2 Tahun 2003
tentang Peraturan Disiplin Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia. Sedangkan,
kode etik kepolisian diatur dalam Perkapolri No. 14 Tahun 2011 tentang Kode Etik
Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Pelanggaran terhadap aturan disiplin dan kode etik akan diperiksa dan bila terbukti
akan dijatuhi sanksi. Penjatuhan sanksi disiplin serta sanksi atas pelanggaran kode etik
tidak menghapus tuntutan pidana terhadap anggota polisi yang bersangkutan (Pasal 12
ayat (1) PP 2/2003 jo. Pasal 28 ayat (2) Perkapolri 14/2011).
Apabila putusan pidana terhadap oknum polisi tersebut telah berkekuatan hukum
tetap, ia terancam diberhentikan tidak dengan hormat berdasarkan Pasal 12 ayat (1)
huruf a PP No. 1 Tahun 2003 tentang Pemberhentian Anggota Kepolisian Negara
Republik Indonesia:
Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia diberhentikan tidak
dengan hormat dari dinas Kepolisian Negara Republik Indonesia

apabila: dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah


mempunyai kekuatan hukum tetap dan menurut pertimbangan pejabat
yang berwenang tidak dapat dipertahankan untuk tetap berada dalam
dinas Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Dengan demikian, walaupun oknum Polisi sudah dipidana berdasarkan putusan
pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap, oknum Polisi tersebut baru dapat
diberhentikan dengan tidak hormat apabila menurut pertimbangan pejabat yang
berwenang dia tidak dapat dipertahankan untuk tetap berada dalam dinas kepolisian .
Pemberhentian anggota kepolisian dilakukan setelah melalui sidang Komisi Kode Etik
Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Pasal 12 ayat (2) PP 1/2003). Jadi,
walaupun anggota polisi juga merupakan warga sipil, tetapi terdapat perbedaan proses
penyidikan perkaranya dengan warga negara lain karena selain tunduk pada peraturan
perundang-undangan, anggota polri juga terikat pada aturan disiplin dan kode etik yang
juga harus dipatuhi.
Kewengan dalam pemberantasan tindak pidana korupsi bagi POLRI diatur dalam
Instruksi Presiden RI 24 No. 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi,
hurur kesebelas butir 10 diinstruksikan kepada Kepala Kepolisian Negara RI, sebagai
berikut :
a) Mengoptimalkan upaya-upaya penyelidikan terhadap tindak pidana korupsi untuk
menghukum pelaku dengan menyelamatkan uang Negara.
b) Mencegah dan memberikan sanksi tegas terhadap penyalahgunaan wewenang
yang dilakukan oleh anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam
rangka penegakan hukum.
c) Meningkatkan kerja sama dengan Kejaksaan Republik Indonesia, Badan
Pengawas Keuangan dan Pembangunan, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi
Keuangan, dan Institusi Negara yang terkait dengan upaya penegakan hukum dan
pengembalian kerugian keuangan Negara kibat tindak pidana korupsi.
Menurut, Pasal 7 Keputusan Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi Republik
Indonesia Nomor : KEP-06/P.KPK/02/2004 mengatakan bahwa :
Pimpinan KPK yang melakukan pelanggaran atau penyimpangan terhadap
kode etik dikenakan sanski sesuai tingkat kesalahannya. Penjatuhan sanksi
ditentukan oleh Komite Etik yang terdiri dari gabungan Pimpinan dan

Penasehat KPK, serta seorang atau lebih nara sumber yang berasal dari luar
KPK. Nara sumber tersebut ditentukan oleh gabungan Pimpinan dan Penasehat
KPK.
KPK sebagai lembaga yang berwenang memberantas korupsi di Indonesia diatur
dalam beberapa aturan hukum positif, yaitu :
a) Ketetapan MPR RI No.VIII/MPR/2001 tentang Rekomendasi Arah
Kebijakan Pemberantasan dan Pencegahan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.
Pasal 2 angka 6 huruf a Tap MPR RI No.VIII/MPR/2001, yaitu: Arah
kebijakan pemberantasan korupsi, kolusi dan npotisme adalah membentuk
undang-undang

beserta

peraturan

pelaksanaannya

untuk

membantu

percepatan dan efektivitas pelaksanaan pemberantasan dan pencegahan


korupsi yang muatannya meliputi Komisi Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi.
b) UU No.31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Pasal
43 ayat (1) UU No.31 Tahun 1999: Dalam waktu pangling lambat 2 (dua)
tahun sejak berlakunya UU No.31 Tahun 1999 segera dibentuk Komisi
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
c) UU No.30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi. Pasal 2 UU No.30 Tahun 2002: Dengan Undang-Undang No. 30
tahun 2002 dibentuk Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang
selanjutnya disebut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
KPK dan POLRI merupakan dua lembaga yang langsung berada dibawah
Presiden. Sehingga, jika berbicara mengenai konflik kewenangan antara KPK dan
POLRI sebenarnya tidak harus terjadi dan tidak akan terjadi jika kedua lembaga ini
sama-sama berkomitmen untuk menyelamatkan negeri dan tidak mengedepankan
kepentingan pribadi atau golongan daripada kepentingan nasional. Selain itu, telah
terdapat pula dua buah ketentuan hukum yang berbentuk undang-undang yang jelas
yang memberikan kewenangan dan fungsi serta tanggung jawab masing-masing
lembaga dalam peran sertanya memberantas tindak pidana korupsi di Indonesia.
C. TANGGAPAN ATAS KASUS BUDI GUNAWAN
Penetapan tersangka yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi
terhadap calon Kapolri Komisaris Jenderal (Komjen) Budi Gunawan menurut penulis
tidak etis ditinjau dari etika birokrasi dan pemerintahan. Komisi Pemberantasan Korupsi

merupakan lembaga yang independen dibentuk oleh pemerintah untuk memberantas


korupsi yang marak terjadi negara Indonesia ini. Lembaga tersebut dibuat karena timbul
kepercayaan terhadap lembaga kepolisian dan kejaksaan, oleh karena itu dibentuk
lembaga independen yang dinamai Komis Pemberantasan Korupsi.
Terdapat tiga prinsip yang dapat dipergunakan untuk menjelaskan soal eksistensi
KPK. Pertama, dalil yang berbunyi salus populi supreme lex, yang berarti keselamatan
rakyat (bangsa dan negara) adalah hukum yang tertinggi. Jika keselamatan rakyat,
bangsa, dan negara sudah terancam karena keadaan yang luar biasa maka tindakan
apapun yang sifatnya darurat atau khusus dapat dilakukan untuk menyelamatkan. Dalam
hal ini, kehadiran KPK dipandang sebagai keadaan darurat untuk menyelesaikan
korupsi yang sudah luar biasa.4 Kedua, didalam hukum dikenal adanya hukum yang
bersifat umum (lex generalis) dan yang bersifat khusus (lex specialis). Dalam hukum
dikenal asas lex specialis derogate legi generali, yang artinya undang undang
istimewa/khusus didahulukan berlakunya daripada undang undang yang umum.5
Dalam hal ini walaupun KPK bersifat independen dan bebas dari kekuasaan
manapun, namun KPK tetap bergantung kepada kekuasaan eksekutif yaitu Presiden
dalam kaitan dengan masalah keorganisasian dan memiliki hubungan khusus dengan
kekuasaan yudikatif dalam hal penuntutan dan persidangan perkara tindak pidana
korupsi.6. Pada dasarnya baik KPK maupun POLRI telah memiliki serangkaian
landasan hukum dalam konteks ini, sudah terdapat kode etika untuk dijadikan
pedoman dalam bersikap tindak. Kode etik dari KPK sendiri tertuang di dalam
Keptusan Pimpinan KPK RI No. KEP-06/P.KPK/02/2004 tentang Kode Etika Pimpinan
Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia (Kode Etik KPK). Namun
demikian, KPK haruslah tetap rasional dalam bertindak dan disaat bersamaan juga tetap
menjaga harkat dan martabat, baik secara internal kelembagaan maupun dalam konteks
hubungan antarlembaga negara lainnya. Selanjtnya, dalam Pasal 20 UU KPK dikatakan
bahwa KPK dalam pelaksanaan tugasnya bertanggung jawab pada publik dan
menyampaikan laporan terbuka dan berkala kepada Presiden, Dewan Perwakilan
Rakyat, dan Badan Pemeriksa Keuangan.
4

Moh. Mahfud MD, Perdebatan Hukum Tata Negara Pasca Amandemen Konstitusi, Jakarta :
Rajawali Press, 2001,hlm. 97.
5
Adiwinata, Istilah Hukum Latin Indonesia, PT. Intermesa, Jakarta, Cet. 1, 1997, hlm.63.
6
Arif Wicaksono,
Kedudukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam Sistem
Ketatangearaan Republik Indonesia. http://fh.undip.ac.id.perpus , diakses pada tanggal 23 April 2015.

Dalam kasus ini, KPK seharusnya menyurati Presiden terlebih dahulu yang
menyatakan bahwa BG terlibat dalam kasus tindak pidana korupsi sehingga ditetapkan
jadi tersangka meski tim penulis tidak menemukan ketentuan positif yang secara
eksplisit melarang penetapan tersangka seseorang diumumkan kepada khalayak umum
(media massa)7. Selain itu, KPK juga seharusnya meminta usulan Presiden terkait hal
itu. Usulan yang merupakan rekomendasi tersebut dapat dijadikan pertimbangan KPK
terhadap proses penetapan tersangka BG. Selain memperhatikan dan menghormati
usulan Presiden, KPK juga harus mempertimbangkan gejolak di masyarakat Indonesia
sebagai dampak dari penetapan tersangka BG yang notabene merupakan calon Kapolri
yang diusulkan oleh Presiden. KPK juga tidak menerbitkan surat penetapan tersangka
kepada Budi Gunawan sebelum mengumumkannya di media massa. Hal ini jelas KPK
telah melanggar pertanggungjawaban jabatan yang seharusnya melaporkan terlebih
dahulu kepada Presiden tapi KPK tidak melakukannya. Oleh karena itu, tindakan KPK
tersebut menimbulkan perdebatan di masyarakat karena ketidak-etisan KPK dalam
mengumumkan penetapan tersangka Budi Gunawan di media massa. Menurut ahli
hukum I Gede Panca Astawa menyatakan bahwa tidak etis dalam menetapkan orang
yang telah dinyatakan bersih oleh suatu lembaga hukum, kemudian dijadikan tersangka
oleh penegak hukum lainnya.8 Dengan demikian, diharapkan preseden buruk terhadap
lembaga-lembaga dan pihak-pihak bersangkutan akan jauh tereduksi, dan martabat
masing-masing lembaga akan jauh lebih terjaga. Di sisi lain, bilamana ditinjau secara
teoritis, dengan landasan normative ethics yang menghendaki adanya suatu landasan
mengenai apa yang benar dan yang salah, sebenarnya sudah dapat disimpulkan bahwa
KPK sudah melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dijadikan
acuan dalam bertindak sebagaimana diangkat dalam kode etiknya sendiri.

Meskipun demikian, terdapat perdebatan tersendiri apakah perbuatan ini dapat


dikategorikan sebagai suatu pencemaran nama baik sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 27 ayat (3) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan
Transaksi Elektronik, atau dapat dikategorikan sebagai informasi tertutup. Karena
dengan dikemukakannya informasi ini dapat menghambat proses penegakan hukum
sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 17 huruf a Undang-Undang Nomor 14 Tahun
2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.
8

Ambaranie Nadia, Kaligis : KPK Sewenang Wenang Tetapkan BG sebagai Tersangka, dari
media
online
Kompas
News
diakses
pada
hari
Selasa,
28
April
2015
di
http://nasional.kompas.com/read/2015/02/15/1629092/Kaligis.KPK.Sewenangwenang.Tetapkan.BG.sebagai.Tersangka.

Tiap tindakan yang dilakukan oleh para penegak hukum atau pejabat
administrasi negara, sebelum menjalankan tugasnya harus terlebih dahulu dilekatkan
dengan suatu kewenangan yang sah berdasarkan peraturan perundang undangan.
Wade dalam hal ini mengatakan bahwa pada dasarnya untuk menghindari abuse of
power , maka semua kekuasaan dibatasi oleh hukum atau peraturan perundang
undangan.9 Oleh karena itu, dasar kewenangan KPK dalam menjalankan kewajibannya
yakni tugas yang diamanatkannya terdapat pada Undang Undang Nomor 32 Tahun
2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Dalam Undang Undang
tersebut diatur mengenai pembatasaan kekuasaan dalam kewenangan KPK di setiap
tindakan hukum yang dilakukannya. Berdasarkan uraian di atas, tim penulis
berpendapat bahwa pernyataan KPK terhadap penetapan tersangka BG akan menjadi
etis apabila didahului dengan memperhatikan dan menghormati usulan atau
pertimbangan dari Presiden, di mana dalam hal ini penggunaan wewenang KPK
dilakukan untuk tujuan lain di luar kewajiban dan tujuan diberikannya wewenang KPK,
merupakan suatu bentuk tindakan penyalahgunaan wewenang atau abuse of power10.
Seharusnya dalam hal ini KPK sebagai lembaga yang independen yang
tanggungjawab atas segala tindakan kepada presiden tidak bertindak sendiri dalam
melakukan tindakan hukum, harus ada pertimbangan dari Presiden terhadap tindakan
yang dilakukan KPK karena dalam hal ini kedudukan KPK berada dibawah presiden
secara langsung. KPK telah gegabah dalam Dengan demikian, seharusnya KPK lebih
berhati hati dalam melakukan penetapan tersangka sebagai status hukum kepada
siapapun itu.
D. KESIMPULAN
E. SARAN

H.W.R Wade & C.F. Forsyth, Administrative Law, 7th ed, New York : Oxford University Press,
1994), hlm. 379.
10
http://www.beritasatu.com/hukum/249310-oc-kaligis-kpk-melakukan-penyalahgunaanwewenang-dalam-penetapan-bg-jadi-tersangka.html diakses pada Rabu, 29 April 2015 pukul 21.55 WIB.