Vous êtes sur la page 1sur 12

BLOK XIV: DIGESTIF

TUGAS JURNAL

INVAGINASI

NURFARHATI
H1A012043

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MATARAM
2014

Definisi
Invaginasi atau Intususepsi adalah suatu proses di mana segmen intestin masuk ke dalam
bagian lumen usus yang dapat menyebabkan obstruksi pada saluran cerna. Invaginasi artinya
prolapsus suatu bagian usus ke dalam lumen bagian yang tepat berdekatan. Bagian usus yang
masuk disebut intususeptum dan bagian yang menerima intususepturn dinamakan intususipiens.
Oleh karena itu, invaginasi disebut juga intususepsi. ( Blanco FC, 2010)

Gambar 1
Etiologi
Sebagian besar etiologi invaginasi pada anak tidak dapat ditentukan atau disebut juga
invaginasi primer. Faktor presipitasi invaginasi pada anak dapat berupa infeksi virus dan
pertumbuhan tumor intestinum. Dahulu, beberapa kasus invaginasi berhubungan dengan vaksin
rotavirus. Rotavirus adalah virus yang dapat menyebabkan infeksi yang dapat mengakibatkan
terjadinya diare, vomitus, demam, dan dehidrasi. Pada orang dewasa invaginasi dapat disebabkan
oleh tumor jinak maupun ganas saluran cerna, parut (adhesive) usus, luka operasi pada usus
halus dan kolon, IBS (Irritable Bowel Syndrome), dan Hirschsprung.
Hipertrofi Payers patch di ileum dapat merangsang peristaltik usus sebagai upaya
mengeluarkan massa tersebut sehingga menyebabkan invaginasi. Invaginasi sering terjadi setelah
infeksi saluran napas bagian atas dan serangan episodik gastroenteritis yang menyebabkan
pembesaran jaringan limfoid. Adenovirus ditemukan pada 50% kasus invaginasi. Invaginasi
idiopatik umumnya terjadi pada anak berusia 6 -36 bulan karena tingkat kerentanannya tinggi
terhadap virus.

Pada sekitar 5-10% penderita, dapat dikenali hal-hal pendorong untuk terjadinya intususepsi,
seperti appendiks terbalik, divertikulum Meckel, polip usus, duplikasi atau limfosarkoma.
Intususepsi juga dapat terjadi pada penderita kistik fibrosis yang mengalami dehidrasi. (Soni S,
et al, 2011)

Epidemiologi
insiden invaginasi adalah 1,5-4 kasus per 1000 kelahiran hidup. Invaginasi dilaporkan
sebagai suatu kejadian musiman dengan puncak pada musim semi, musim panas, dan
pertengahan musim dingin. Periode ini berhubungan dengan puncak munculnya gastroenteritis
musiman dan infeksi saluran napas atas. Invaginasi paling banyak terjadi pada Anak dan Bayi
disbanding orang dewasa (Irish MS, 2011)
Patofisiologi
Invaginasi sekunder biasanya terjadi karena adanya lesi patologis atau iritan pada dinding
usus yang dapat menghambat gerakan peristaltic normal serta menjadi lokus minoris untuk
terjadinya invaginasi. Invaginasi dideskripsikan sebagai prolaps internal usus proksimal dalam
lekukan mesenterika dalam lumen usus distal. Hal ini dapat mengakibatkan terjadinya obstruksi
pada pasase isi usus dan menurunkan aliran darah ke bagian usus yang mengalami invaginasi
tersebut. Akhirnya dapat mengakibatkan obstruksi usus dan peradangan mulai dari penebalan
dinding usus hingga iskemia dinding usus. (Marinis A, et al, 2009)
Mesenterium usus proksimal tertarik ke dalam usus distal, terjepit, dan menyebabkan
obstruksi aliran vena dan edema dinding usus yang akan menyebabkan keluarnya feses berwarna
kemerahan akibat darah bercampur mucus (red currant stool). Jika reduksi intususepsi tidak
dilakukan, terjadi insufisiensi arteri yang akan menyebabkan iskemik dan nekrosis dinding usus
yang akan menyebabkan pendarahan, perforasi, dan peritonitis. Perjalanan penyakit yang terus
berlanjut dapat semakin memburuk hingga menyebabkan sepsis. (Marinis A, et al, 2009)
Klasifikasi
Lokasi pada saluran cerna yang sering terjadi invaginasi merupakan lokasi segmen yang
bebas bergerak dalan retroperitoneal atau segemen yang mengalami adhesive. Invaginasi
diklasifikasikan menjadi 4 kategori berdasarkan lokasi terjadinya:

1. Entero-enterika : usus halus masuk ke dalam usus halus


2. Colo-kolika: kolon masuk ke dalam kolon
3. Ileo-colica: ileum terminal yang masuk ke dalam kolon asendens
4. Ileosekal: ileum terminal masuk ke dalam sekum di mana lokus minorisnya
adalah katup ileosekal.
Invaginasi umumnya berupa intususepsi ileosekal yang masuk naik ke kolon asendens dan
mungkin terus sampai keluar dari rektum. (Marinis A, et al, 2009)
Manifestasi Klinik
Gejala yang timbul cenderung bersifat tiba-tiba, karena anak biasanya dalam keadaan gizi
yang baik, lalu secara tiba-tiba menangis kesakitan sehingga bayi akan cenderung menarik lutut
ke arah perut yang berlangsung beberapa menit. Serangan nyeri tersebut kemudian berulang
dengan jarak 10 sampai 20 menit. Serangan juga diikuti dengan muntah, lalu diluar serangan
penderita akan terlihat lemas dan tertidur, namun terbangun kembali saat serangan datang.
Pada awalnya saat belum terjadi gangguan pasase usus secara total feses yang terlihat
masih dalam batas normal, namunsaat terjadi gangguan total feses mulai bercampur darah segar
dan lendir, yang lama kelamaan tinggal darah segar dan lendir.
Pada pemeriksaan abdomen yang biasa ditemukan adalah adanya suatu massa berbentuk seperti
sosis yang membentang dari daerah hipokondrium kanan dan membentang sepanjang colon
transversum yang dapat teraba saat pasien dalam keadaan tenang. Pada kuadran kanan bawah
biasanya terdapat daerah yang kosong dan cekung yang biasa disebut dances sign, dan jika
invaginasi terus berjalan sampai melewati colon desendens dan sigmoid dapat teraba massa yang
prolaps pada daerah anus.
Pembuluh darah mesenterium yang terjepit mengakibatkan gangguan vonous return dan
mengakibatkan terjadinya kongesti. Akibat dari kongesti vena yang dapat terlihat jelas adalah
adanya peradarahan rektum. Jika cedera pada pembuluh darah sudah besar perdarahan biasanya
berwarna merah kehitaman dan disertai dengan lendir yang biasa disebut sebagai red currant

jelly. Perdarahan yang masih relatif sedikit biasanya dapat ditemukan pada saat melakukan
rectal touche.
Setelah terjadi sumbatan total terdapat tanda-tanda obstruksi seperti perut kembung
dengan gambaran peristaltik yang jelas, serta muntah yang berwarna kehijauan. Dari
pemeriksaan rectal touche didapatkan tonus sphincter yang melemah, dan saat jari ditarik keluar
terdapat darah yang bercampur dengan lendir. (Soni S, et al 2011)
Diagnosis
Anamnesis
Anamnesis memberikan gambaran yang cukup mencurigakan bila bayi yang sehat
mendapat serangan nyeri perut. Anak tampak gelisah dan tidak dapat ditenangkan sedangkan di
antara serangan biasanya anak tidur tenang karena sudah capai sekali. Serangan klasik terdiri atas
nyeri perut, gelisah sewaktu serangan kolik, biasanya keluar lendir campur darah (red current
jelly stool) per anal, yang berasal dari intususepsi yang tertekan, terbendung atau mungkin sudah
mengalami strangulasi. Anak biasanya muntah sewaktu serangan dan pada pemeriksaan perut
dapat diraba massa yang biasanya memanjang dengan batas yang jelas seperti sosis. Massa
teraba di kuadran kanan atas dengan tidak ditemukannya sensasi kekosongan di kuadran kanan
bawah karena masuknya sekum pada kolon ascenden (dances sign). (Irish MD, 2011)
Pemeriksaan Fisik
Bila invaginasi disebut strangulasi harus diingat kemungkinan terjadinya peritonitis
setelah perforasi. Invaginasi yang masuk jauh dapat ditemukan pada pemeriksaan colok dubur.
Ujung invaginatum teraba seperti portio uterus pada pemeriksaan vagina sehingga disebut
sebagai pseudoportio atau porsio semu.
Invaginatum yang keluar lewat rectum jarang ditemukan; keadaan tersebut harus
dibedakan dengan prolapsus mukosa rectum. Pada invaginasi didapatkan invaginatum bebas dari
dinding anus, sedangkan prolapsus berhubungan secara sirkuler dengan dinding anus.
Pada inspeksi sukar sekali membedakan prolapsus rectum dari invaginasi. Diagnosis
dapat ditegakkan dengan pemeriksaan jari sekitar penonjolan untuk menentukan ada tidaknya
celah terbuka. Diagnosis invaginasi dapat diduga atas pemeriksaan fisik, dan dipastikan dengan
pemeriksaan rontgen dengan pemberian enema barium. (Irish MS, 2011)

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan foto polos abdomen, dijumpai tanda obstruksi (lihat Gambar 2) dan massa
di kuadran tertentu dari abdomen menunjukkan dugaan kuat suatu invaginasi. USG membantu
menegakkan diagnosis invaginasi dengan gambaran target sign pada potongan melintang
invaginasi dan pseudo kidney sign pada potongan longitudinal invaginasi. Foto dengan
pemberian barium enema dilakukan jika pasien ditemukan dalam kondisi stabil, digunakan
sebagai diagnostik ataupun terapeutik. Sumbatan oleh invaginatum biasanya tampak jelas pada
foto.
Invaginasi pada orang muda atau orang dewasa jarang sekali idiopatik. Umumnya ujung
invaginatum pada orang dewasa merupakan polip atau tumor lain di usus halus. Invaginasi juga
disebabkan oleh pencetus seperti divertikulum Meckel yang terbalik masuk lumen usus,
duplikasi usus, kelainan vaskuler, atau limfoma. Gejalanya berupa gejala dan tanda obstruksi
usus, tetapi tergantung dari letak ujung invaginasi. (Irish MS, 2011)
Kriteria diagnosis invaginasi akut:
1. Invaginasi definitif (pasti invaginasi)
a. Kriteria bedah: ditemukannya invaginasi pada pembedahan
b. Kriteria radiologi: adanya baik gas maupun cairan kontras pada enema pada
usus halus yang berinvaginasi, adanya massa intraabdominal yang dideteksi
dengan USG
c. Kriteria autopsi: ditemukan invaginasi pada otopsi
2. Mungkin invaginasi (probable)
Memenuhi 2 kriteria mayor atau 1 kriteria mayor dan 3 kriteria minor
3. Possible invaginasi
Memenuhi paling sedikit 4 kriteria minor
Kriteria mayor pada invaginasi yakni:
1. Bukti adanya obstruksi saluran cerna
a. Riwayat muntah kehijauan

b. Distensi abdomen dan tidak adanya bising usus atau bising usus abnormal
c. Foto polos abdomen menunjukkan adanya level cairan dan dilatasi usus halus
2. Inspeksi
a. Massa di abdomen
b. Massa di rectal
c. Prolapsus intestinal
d. Foto polos abdomen, USG, CT menunjukkan invaginasi atau massa dari
jaringan lunak
3. Gangguan vaskuler intestinal dan kongesti vena
a. Keluarnya darah per rectal
b. Keluarnya feses yang berwarna red currant jelly
c. Adanya darah ketika pemeriksaan rectum
Adapun kriteria minor untuk invaginasi adalah: usia < 1 tahun, laki-laki, nyeri perut,
muntah, letargi, hangat, syok hipovolemik, foto polos abdomen menunjukkan pola gas usus yang
abnormal. (MS, 2011)

Gambar 2 (Irish MS, 2011)

Tatalaksana
Tatalaksana invaginasi secara umum mencakup beberapa hal penting sebagai berikut:
1. Resusitasi cairan dan elektrolit
2. Dekompresi maksudnya menghilangkan peregangan usus dan muntah dengan selang
nasogastrik, pemberian antibiotik
3. Reposisi bisa dilakukan dengan konservatif / non operatif dan operatif.
Pengelolaan reposisi hidrostatik dapat sekaligus dikerjakan sewaktu diagnosis rontgen
tersebut ditegakkan. Metode ini dengan cara memasukkan barium melalui anus menggunakan
kateter dengan tekanan tertentu. Syaratnya ialah keadaan umum mengizinkan, tidak ada gejala
dan tanda rangsangan peritoneum, anak tidak toksik, dan tidak terdapat okbtruktif tinggi.
Tekanan hidrostatik tidak boleh melewati satu meter air dan tidak boleh dilakukan
pengurutan atau penekanan manual di perut sewaktu dilakukan reposisi hidrostatik. Pengelolaan
berhasil jika barium kelihatan masuk ileum. Reposisi pneumostatik dengan tekanan udara
semakin sering digunakan karena lebih aman dan hasilnya lebih baik daripada reposisi dengan
enema barium.
Jika reposisi konservatif ini tidak berhasil, terpaksa diadakan reposisi operatif. Pasien
dengan keadaan tidak stabil, didapatkan peningkatan suhu, angka leukosit, mengalami gejala
berkepanjangan atau ditemukan sudah lanjut yang ditandai dengan distensi abdomen, feses
berdarah, gangguan sisterna usus yang berat sampai timbul syok atau peritonitis, pasien segera
dipersiapkan untuk suatu operasi. Tindakan selama operasi tergantung dari penemuan keadaan
usus, reposisi manual harus dilakukan dengan halus dan sabar, juga bergantung kepada
keterampilan operator dan pengalaman operator.
Sewaktu operasi akan dicoba reposisi manual dengan mendorong invaginasi dari oral kearah
sudut ileosekal:dorongan dilakukan dengan hati-hati tanpa tarikan dari bagian proksimal.
Reseksi usus dilakukan pada kasus yang tidak berhasil direduksi dengan cara manual, bila
viabilitas usus diragukan atau ditemukan kelainan patologis sebagai penyebab invaginasi.
Terapi intususepsi pada orang dewasa adalah pembedahan. Pada intususepsi yang
mengenai kolon sangat besar kemungkinan penyebabnya adalah suatu keganasan. Oleh karena

itu, ahli bedah dianjurkan untuk segera melakukan reseksi, dengan tidak melakukan usaha
reduksi. Pada intususepsi dari usus halus harus dilakukan usaha reduksi dengan hati-hati, tetapi
jika ditemukan nekrosis, perforasi, dan edema, reduksi tidak perlu dilakukan dan reseksi segera
dikerjakan. Pada kasus-kasus yang idiopatik, tidak ada yang perlu dilakukan selain reduksi.
(Blanco FC, 2010)
Prognosis

Intususepsi pada bayi yang tidak ditangani akan selalu berakibat fatal.

Mortalitas sangat rendah jika penanganan dilakukan dalam 24 jam pertama dan
meningkat dengan cepat setelah waktu tersebut, terutama setelah hari kedua. (Chayla PL,
et al 2014)

Komplikasi

Surgical site infection


Pneumonia
Peritonitis/abdominal abscess
Wound dehiscence
Anastomitic breakdown
Urinary tract infection
Septicemia
Recurrent intussusceptions
Paralytic ileus
(Chayla PL, et al 2014)

Pencegahan
Vaksin rotavirus generasi lama diketahui dapat menimbulkan intususepsi pada bayi/anak
yang mendapatkannya. Akibatnya pemakaian vaksin ini kemudian dilarang. Vaksin rotavirus
generasi yang baru telah diantisipasi untuk tidak menyebabkan hal yang sama sebelum dipakai
secara massal pada bayi/anak. Tidak ada obat atau cara untuk mencegah terjadinya intususepsi
yang diketahui sampai saat ini. (Chayla PL, et al 2014)
Edukasi

Berikan nutrisi sesuai dengan umur atau kebutuhan dan keadaan pasien

Jelaskan kepada orang tua ttg penyakitnya ini sejelas-jelasnya dan bagaimana

penanganannya nanti
Hati-hati dalam melakukan vaksinansi . (Chayla PL, et al 2014)

Kesimpulan

Invaginasi ialah suatu keadaan dimana segmen proksimal dari usus masuk ke dalam
segmen usus berikutnya dengan membawa serta mesenterium yang berhubungan. Invaginasi atau
intususepsi merupakan salah satu penyebab terbanyak obstruksi usus pada bayi dan anak kecil.
Penyebab invaginasi sebagian besar tidak diketahui.
Invaginasi paling sering mengenai daerah ileosaekal dan jarang terjadi pada orang dewasa
dibandingkan anak-anak. Lokasi terjadinya invaginasi dapat pada entero-enterika, kolo-kolika,
ileokolika, ileosekal. Invaginasi dapat menyebabkan obstruksi usus sehingga jika tidak ditangani
dengan segera dan tepat akan menimbulkan komplikasi lebih lanjut berupa perforasi sehingga
terjadi peritonitis.
Penatalaksanaan dapat berupa perbaikan kondisi umum berupa resusitasi cairan dan
elektrolit serta dekompresi, kemudian dilakukan reposisi. Reposisi hidrostatik yang dapat
dikerjakan sekaligus sewaktu diagnosis ditegakkan ataupun reposisi pneumostatik. Jika reposisi
konservatif gagal, reposisi operatif dapat dilakukan. Intususepsi pada bayi yang tidak ditangani
akan selalu berakibat fatal. Angka mortalitas semakin meningkat jika penanganannya semakin
lambat.

DAFTAR PUSTAKA

1. Blanco FC. (2010). Pediatric intussusceptions. Medscape. Available from:


http://emedicine.medscape.com/article/930708-overview [accessed 15 November
2014]
2. Chayla PL, et al. (2014). Childhood intussusceptions at a tertiary care hospital in
northwestern Tanzania: a diagnostic and therapeutic challenge in resource-limited
setting.

ITALIAN

JOURNAL

OF

PEDIATRICS.

Available

from:

http://www.ijponline.net/content/40/1/28 [accessed 15 November 2014]


3. Marinis A, Yiallourou A, Samanides L, Dafnios N, Anastasopoulos G, Vassiliou S, et
al. (2009). Intussusception of the bowel in adults: A review. World J Gastroenterol.
Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2653360/ [accessed
15 November 2014]
4. Irish MS. (2011). Pediatric Intussusception Surgery. Medscape. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/937730-overview#a0101

[accessed

15

November 2014]
5. Soni S, Philip Moss, Thiagarajan Jaiganesh. (2011). Idiopathic adult intussusceptions.
International

Journal

of

Emergency

Medicine.

Available

from:

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3065404/ [accessed 15 November


2014]