Vous êtes sur la page 1sur 10

ASAM URAT

Pengertian Gout arthritis


Penyakit Pirai (gout) atau Arthritis Gout adalah penyakit yang di sebabkan oleh
tumpukan asam/kristal urat pada jaringan, terutama pada jaringan sendi. Gout berhubungan
erat dengan gangguan metabolisme purin yang memicu peningkatan kadar asam urat dalam
darah (hiperurisemia), yaitu jika kadar asam urat dalam darah lebih dari 7,5 mg/dl. Catatan:
kadar normal asam urat dalam darah untuk pria adalah 8 mg/dl, sedangkan untuk wanita
adalah 7 mg/dl (Junaidi, 2013:80).
Secara tradisional, gout dibagi menjadi dua, yaitu: bentuk primer (90%) dan bentuk
sekunder (10%). Gout primer adalah gout yang penyebabnya tidak diketahui atau karena
gangguan/kelainan proses metabolisme tubuh. Sementara itu, gout sekunder adalah gout yang
penyebabnya dapat diketahui. Orang normal setiap hari membuang 700 mg asam urat melalui
urin, dan sisa yang tersimpan dalam cairan tubuh adalah sekitar 1.000 mg. Penderita gout
menghasilkan asam urat secara berlebihan, sehingga yang tersimpan dalam tubuh meningkat
menjadi 3-15 kali dari keadaan normal. Dan dilain pihak pengeluarannya melalui ginjal
terganggu atau menurun (Junaidi, 2013:81).
Faktor-faktor terjadinya gout arthritis
Berikut faktor-faktor terjadinya gout arthritis :
a)

Penyakit ginjal kronis


Ginjal merupakan filter berbagai benda asing untuk diekskresi keluar tubuh. Karena itu,
gangguan yang timbul pada organ ini akan memengaruhi metabolisme tubuh dan
menimbulkan berbagai jenis penyakit. Salah satunya penyakit yang bisa ditimbulkan adalah
hiperurisemia. Hiperurisemia dan penyakit ginjal memiliki hubungan sebab akibat. Gangguan
fungsi ginjal pada ginjal bisa mengganggu eskresi asam urat. Namun, kadar asam urat yang
terlalu tinggi juga bisa mengganggu kinerja dan fungsi ginjal (Lingga, 2012:41).

b) Faktor usia
Gout umumnya dialami oleh pria dan wanita dewasa yang berusia diatas 40 tahun. Setelah
memasuki masa pubertas, pria memiliki resiko gout lebih tinggi dibandingkan dengan wanita.

Jumlah total penderita gout pada pria lebih banyak dibandingkan dengan kaum wanita.
Ketika memasuki usia paruh baya, jumlahnya menjadi sebanding antara pria dan
wanita. Dalam sebuah kajian di Amerika, prevalensi berlipat ganda dalam populasi usia 40-75
tahun. Dalam kajian kedua, prevalensi gout pada populasi dewasa di Inggris diperkirakan
sebesar 1.4%, dengan puncaknya lebih dari 7% pada pria usia 40-75 (Beyond,
2013). Menurut survey yang diadakan oleh National Health and Nutrition Examinition
Survey (NHANES), rasio penderita hiperurisemia sebagai berikut:
a.

Usia diatas 20 tahun

: 24%

b.

Usia 50-60 tahun

: 30%

c.

Usia lebih tua dari 60 tahun : 40%

d. Rata-rata penduduk Asia

: 5-6%

Resiko serangan gout mencapai puncaknya pada saat seseorang berusia 75 tahun, setelah
berusia di atas 75 tahun, resiko gout semakin menurun, bahkan tidak ada resiko sama
sekali. Kecuali, jika penyakit tersebut merupakan perkembangan dari penyakit gout kronis
yang sebelumnya telah dialami (Lingga, 2012:24).
c)

Dehidrasi
Kekurangan cairan didalam tubuh akan menghambat ekskresi asam urat. Pada dasarnya
semua cairan itu adalah pelarut. Namun, daya larut setiap cairan berbeda-beda. Air yang
memiliki daya larut paling tinggi adalah air putih. Air putih dapat melarutkan semua zat yang
larut di dalam cairan, termasuk asam urat. Air diperlukan sebagai pelarut asam urat yang
dibuang atau diekskresi melalui ginjal bersama urine. Jika tubuh kekurangan air, maka akan
menghambat ekskresi asam urat sehingga memicu peningkatan asam urat. Saat volume cairan
tubuh kurang, maka sampah sisa metabolisme pun akan menumpuk. Penumpukan asam urat
dan sisa metabolisme itulah yang menimbulkan nyeri di persendian (Lingga, 2012:166).

d) Makan berlebihan
Asupan purin dari makanan akan menambah jumlah purin yang beredar di dalam tubuh.
secara teknis, penambahan purin yang beredar di dalam darah tergantung pada jumlah purin
yang berasal dari makanan. Artinya, semakin banyak mengkonsumsi purin, semakin tinggi
kadar asam urat (produk akhir metabolisme purin) dalam tubuh (Lingga, 2012:98).
e)

Konsumsi alkohol

Sejumlah studi mengatakan konsumsi alkohol memiliki pengaruh sangat besar dalam
meningkatkan prevalensi gout pada penggemar alkohol. Dampak buruk alkohol akan semakin
nyata pada individu yang mengalami obesitas. Sebuah studi yang dilakukan di Jepang oleh
Shirusi H. (2009) menemukan korelasi nyata antara konsumsi alkohol dan obesitas terhadap
hiperurisemia. Resiko konsumsi alkohol semakin tinggi jika dilakukan oleh penderita
obesitas. Dikatakan bahwa penderita obesitas yang gemar mengkonsumsi akohol dipastikan
mengalami gout(Lingga, 2012:47).
f)

Pasca-operasi
Seseorang yang telah menjalani operasi beresiko mengalami kenaikan kadar asam urat sesaat.
Karena penurunan jumlah air yang mereka konsumsi pasca-operasi menyebabkan ekskresi
asam urat terhambat untuk sementara waktu (Lingga, 2012:28).
Patofisiologi
Untuk menjadi gout arthritis, asam urat harus melalui tahapan-tahapan tertentu yang
menandai perjalanan penyakit ini. Gejala awal ditandai oleh hiperurisemia kemudian
berkembang menjadi gout dan komplikasi yang ditimbulkannya. Prosesnya berjalan cukup
lama tergantung kuat atau lemahnya faktor resiko yang dialami oleh seorang penderita
hiperurisemia.
Jika hiperurisemia tidak ditangani dengan baik, cepat atau lambat penderita akan
mengalami serangan gout akut. Jika kadar asam urat tetap tinggi selama beberapa tahun,
penderita tersebut akan mengalami stadium interkritikal. Setelah memasuki fase ini, tidak
butuh waktu lama untuk menuju fase akhir yang dinamakan dengan stadium gout kronis
(Lingga, 2012:19).
Manifestasi klinis
Biasanya, serangan gout arthritis pertama hanya menyerang satu sendi dan berlangsung
selama beberapa hari. Kemudian, gejalanya menghilang secara bertahap, dimana sendi
kembali berfungsi dan tidak muncul gejala sehingga terjadi serangan berikutnya. Namun,
gout cenderung akan semakin memburuk, dan serangan yang tidak diobati akan berlangsung

lebih lama, lebih sering, dan menyerang beberapa sendi. Alhasil, sendi yang terserang bisa
mengalami kerusakan permanen (Junaidi, 2013:84).
Lazimnya serangan gout arthritis terjadi dikaki (monoarthritis). Namun, 3-14%
serangan juga bisa terjadi dibanyak sendi (poliarthritis). Biasanya, urutan sendi yang terkena
serangan gout (poliarthritis) berulang adalah: ibu jari kaki (podogra), sendi tarsal kaki,
pergelangan kaki, sendi kaki belakang, pergelangan tangan, lutut, dan bursa elekranon pada
siku (Junaidi, 2013:85).
Nyeri yang hebat dirasakan oleh penderita gout pada satu atau beberapa sendi. Umunya
serangan terjadi pada malam hari. Biasanya, hari sebelum serangan gout terjadi penderita
tampak sangat bugar tanpa gejala atau keluhan, tetapi tiba-tiba tepatnya pada tengah malam
menjelang pagi, ia terbangun karena merasakan sakit yang sangat hebat serta nyeri yang
semakin memburuk dan tak tertahankan (Junaidi, 2013:85).
Sendi yang terserang gout akan membengkak dan kulit diatasnya akan berwarna merah
atau keunguan, kencang dan licin, serta terasa hangat dan nyeri jika digerakkan, dan muncul
benjolan pada sendi (yang disebut tofus). Jika sudah agak lama (hari kelima), kulit diatasnya
akan berwarna merah kusam dan terkelupas (deskuamasi). Gejala lainya adalah muncul tofus
di helixs telinga/ pinggir sendi/tendon. Menyentuh kulit diatas sendi yang terserang gout bisa
memicu rasa nyeri yang luar biasa. Rasa nyeri ini akan berlangsung selama beberapa hari
hingga sekitar satu minggu, lalu menghilang (Junaidi, 2013:85).
Kristal dapat terbentuk disendi-sendi perifer karena persendian tersebut lebih dingin
dibandingkan persendian ditubuh lainya, karena asam urat cenderung membeku pada suhu
dingin. Kristal urat juga terbentuk ditelinga dan jaringan lainya yang relatif dingin. Gout
jarang terjadi pada tulang belakang, tulang panggul, atau bahu. Gejala lain dari arthritis gout
akut adalah demam, menggigil, tidak enak badan, dan denyut jantung berdetak dengan cepat.
Serangan gout akan cenderung lebih berat pada penderita yang berusia dibawah 30 tahun.
Biasanya, gout menyerang pria usia pertengahan dan wanita pasca-menopause (Junaidi,
2013:86).
Gout bisa menahun dan berat, yang menyebabkan kelainan bentuk sendi. Pengendapan
kristal urat didalam sendi dan tendon terus berlanjut dan menyebabkan kerusakan yang akan

membatasi pergerakan sendi. Benjolan keras dari kristal urat (tofi) diendapkan dibawah kulit
disekitar sendi. Tofi juga bisa terbentuk didalam ginjal dan organ tubuh lainya, dibawah kulit
telinga atau disekitar siku. Jika tidak diobati, tofi pada tangan dan kaki bisa pecah dan
mengeluarkan massa kristal yang menyerupai kapur (Junaidi, 2013:86).

Penatalaksanaan
a) Olahraga aerobik/senam
Manfaat kesehatan olahraga aerobik meliputi berkurangnya resiko penyakit jantung atau
penyakit kronis lainya, menormalkan tekanan darah, mengontrol berat badan, mengurangi
gula darah dan lemak, dan mengurangi kekakuan dan nyeri karena arthritis. Olahraga aerobik
berpengaruh rendah tidak memperburuk nyeri arthritis. Digabungkan dengan penguatan dan
peregangan, olahraga aerobik menambah kebugaran, mengurangi depresi dan nyeri dan
(dalam jangka panjang) memperbaiki fungsi (Millar, 2013:51). Durasi suatu kelas biasanya
45-60 menit. Kelas 60 menit yang baik meliputi kegiatan pemanasan minimum 10 menit, 1520 menit gerak inti, dan 10 menit pendinginan. Selama 2-4 minggu dalam jangka waktu 2-3
kali dalam seminggu. Penelitian telah membuktikan bahwa dengan mengikuti aerobik
seseorang dapat mengurangi nyeri dan meningkatkan fungsi tangan dan kaki, kekuatan,
kecepatan, atau jarak tempuh yang merupakan perkiraan ketahanan aerobik pada aktivitas
singkat (Millar, 2013:131).
b) Kompres panas atau dingin
Terapi es dapat menurunkan prostaglandin yang memperkuat sensitivitas reseptor nyeri dan
subkutan lain pada tempat cedera dengan menghambat proses inflamasi. Agar efektif, es
dapat diletakkan pada tempat cedera segera setelah cedera terjadi. Sementara terapi panas
mempunyai keuntungan meningkatkan aliran darah ke suatu area dan kemungkinan dapat
menurunkan nyeri dengan mempercepat penyembuhan (Andarmoyo, 2013:85).
1. Makanan Tinggi Asam Urat yang Wajib Dihindari
Berikut merupakan makanan-makanan dengan kandungan purin tinggi
beserta anjuran mengkonsumsinya:

Otak,

bouillon,

hati,

bebek,

jantung,

ikan sardin,

ginjal,

makarel,

jeroan,

remis,

ekstrak daging/kaldu

kerang.

Selain daftar makanan yang wajib dihindari diatas, ada beberapa


makanan yang dianjurkan untuk dibatasi.
2. Makanan Kandungan Purin Sedang (9-100 mg purin/ 100 gr
bahan makanan), Sebaiknya Dibatasi;

maksimal 50-75 gr (1-1


ptg) daging, unggas,

1 mangkok (100 gr) sayuran


sehari.

Daging sapi

Ayam,

Udang,

Kacang kering

Kacang hasil olah, seperti


tahu dan tempe

Asparagus

Bayam

Daun singkong

Kangkung

Daun

Biji melinjo.

maksimal 50-75 gr (1-1 ptg) ikan, kecuali ikanikanan yang ada dalam kategori purin tinggi

Selain itu makanan-makanan diatas, berikut ini ada beberapa makanan


yang dapat dikonsumsi setiap harinya oleh penderita asam urat.
3. Kandungan Purin Rendah (Dapat Diabaikan) atau Dapat
Dimakan Setiap Hari:

Nasi

Puding

Ubi

Susu,

Singkong

Keju,

Jagung

Telur;

Roti

Mie

Bihun

Tepung beras

Cake , kue tart

Minyak;

Gula;

Keju kering,

Sayuran dan buah-buahan (kecuali sayuran yanda ada dalam


kategori purin sedang)

Jika sudah mengetahui jenis-jenis makanan apa saja yang harus dihindari,
tentunya akan lebih mudah untuk mencegah timbulnya penyakit asam
urat tersebut.

HIPERKOLESTEROL

Kolesterol merupakan bentuk lemak yang berwarna kekuningan dan


berbentuk menyerupai lilin. Kolesterol diproduksi oleh tubuh kita,
terutama di dalam hati. Kolesterol memiliki fungsi bagi tubuh manusia,
yakni bermanfaat dalam produksi hormon seks. Dimana hormon seks
sangat penting untuk perkembangan dan fungsi organ seksual.

Selain itu kolesterol juga bermanfaat dalam pembentukan hormon korteks


adrenal. Hormon ini penting terhadap porses metabolisme serta
keseimbangan garam dalam tubuh. Tidak hanya itu, hormon ini juga
memiliki andil dalam pengaturan kandungan vitamin D yang berfungsi
menyerap kalsium dalam tubuh, serta garam empedu dalam membantu
usus menyerap lemak.

Secara umum, total bentuk kolesterol terdiri dari 3 komponen lipoprotein,


yakni HDL (high density lipoprotein), LDL (low density lipoprotein), dan
trigliserid. Dalam urusan aspek kesehatan, kadar ketiga komponen ini
mengambil peran penting dalam keadaan status kesehatan seseorang.

LDL memiliki sifat yang mudah sekali melekat pada dinding pembuluh
darah, sementara HDL memiliki sifat yang mengikat LDL agar dapat
kembali dibawa dalam proses peredaran darah untuk dieliminasi. Oleh
karena itu akrab sekali di telinga kita kolesterol LDL diistilahkan dengan
kolesterol jahat dan kemudian kolseterol HDL disebutkan sebagai
kolesterol yang baik.

Sayangnya, dengan meninjau pola makan dan menu keseharian manusia


dewasa ini, terlalu banyak makanan yang memicu peningkatan kadar LDL.
Jika kadar LDL di dalam darah terlampau tinggi, maka yang rentan terjadi
adalah tingginya intensitas melekatnya kolesterol LDL di dinding
pembuluh darah yang dapat mengundang peluang timbunan plak hingga
terjadi penyumbatan aliran darah dalam pembuluh darah yang berakibat
fatal. Sebut beberapa diantaranya, penyakit jantung, stroke bahkan
kematian.

Mekanismenya, kolesterol LDL yang terlalu tinggi di dalam darah dapat


mengakibatkan terbentuknya sumbatan pada pembuluh darah yang
mendarahi jantung dan otak. Bersama dengan substansi lainnya,
kolesterol dapat membentuk plak atau sumbatan yang dapat

menyempitkan pembuluh darah arteri dan membuat arteri tidak fleksibel.


Kondisi ini dikenal dengan aterosklerosis. Apabila sumbatan ini memblok
arteri yang menyempit tersebut, maka serangan jantung atau stroke
dapat terjadi.