Vous êtes sur la page 1sur 27

DINAMIKA KELOMPOK

a. Definisi Dinamika Kelompok


Pengertian dinamika kelompok dapat diartikan melalui asal katanya, yaitu
dinamika dan kelompok.
Pengertian dinamika
Dinamika adalah sesuatu yang mengandung arti tenaga kekuatan, selalu
bergerak, berkembang dan dapat menyesuaikan diri secara memadai terhadap
keadaan. Dinamika juga berarti adanya interaksi dan interdependensi antara
anggota kelompok dengan kelompok secara keseluruhan. Keadaan ini dapat
terjadi karena selama ada kelompok, semangat kelompok (group spirit) terusmenerus ada dalam kelompok itu, oleh karena itu kelompok tersebut bersifat
dinamis, artinya setiap saat kelompok yang bersangkutan dapat berubah.
Pengertian kelompok
Kelompok adalah kumpulan orang-orang yang merupakan kesatuan sosial yang
mengadakan interaksi yang intensif dan mempunyai tujuan bersama. Menurut
W.H.Y. Sprott mendefinisikan kelompok sebagai beberapa orang yang bergaul
satu dengan yang lain. Kurt Lewin berpendapat the essence of a group is not

the similarity or dissimilarity of its members but their interdependence. H. Smith


menguraikan bahwa kelompok adalah suatu unit yang terdapat beberapa
individu, yang mempunyai kemampuan untuk berbuat dengan kesatuannya
dengan cara dan dasar kesatuan persepsi. Interaksi antar anggota kelompok
dapat menimbulkan kerja sama apabila masing-masing anggota kelompok:

Mengerti akan tujuan yang dibebankan di dalam kelompok tersebut

Adanya saling menghomati di antara anggota-anggotanya

Adanya saling menghargai pendapat anggota lain

Adanya saling keterbukaan, toleransi dan kejujuran di antara anggota


kelompok

Menurut Reitz (1977) kelompok mempunyai karakteristik sebagai berikut:

Terdiri dari dua orang atau lebih

Berinteraksi satu sama lain

Saling membagi beberapa tujuan yang sama

Melihat dirinya sebagai suatu kelompok


Kesimpulan dari berbagai pendapat ahli tentang pengertian kelompok adalah
kelompok tidak terlepas dari elemen keberadaan dua orang atau lebih yang
melakukan interaksi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama.

Pengertian dinamika kelompok


Dinamika kelompok

merupakan suatu kelompok yang terdiri dari dua atau

lebih individu yang memiliki hubungan psikologi secara jelas antara anggota
satu dengan yang lain yang dapat berlangsung dalam situasi yang dialami
secara bersama. Dinamika kelompok juga dapat didefinisikan sebagai konsep
yang menggambarkan proses kelompok yang selalu bergerak, berkembang dan
dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang selalu berubah-ubah. Dinamika
kelompok mempunyai beberapa tujuan, antara lain:
Membangkitkan kepekaan diri seorang anggota kelompok terhadap anggota
kelompok lain, sehingga dapat menimbulkan rasa saling menghargai

Menimbulkan rasa solidaritas anggota sehingga dapat saling menghormati


dan saling menghargai pendapat orang lain
Menciptakan komunikasi yang terbuka terhadap sesama anggota kelompok
Menimbulkan adanya itikad yang baik diantara sesama anggota kelompok.

Proses dinamika kelompok mulai dari individu sebagai pribadi yang masuk ke
dalam kelompok dengan latar belakang yang berbeda-beda, belum mengenal
antar individu yang ada dalam kelompok. Mereka membeku seperti es. Individu
yang bersangkutan akan berusaha untuk mengenal individu yang lain. Es yang
membeku lama-kelamaan mulai mencair, proses ini disebut sebagai ice
breaking. Setelah saling mengenal, dimulailah berbagai diskusi kelompok,
yang kadang diskusi bisa sampai memanas, proses ini disebut storming.
Storming akan membawa perubahan pada sikap dan perilaku individu, pada
proses ini individu mengalami forming. Dalam setiap kelompok harus ada
aturan main yang disepakati bersama oleh semua anggota kelompok dan
pengatur perilaku semua anggota kelompok, proses ini disebut norming.
Berdasarkan aturan inilah individu dan kelompok melakukan berbagai
kegiatan, proses ini disebut performing. Secara singkat proses dinamika
kelompok dapat dilihat pada gambar berikut:
Individu

Ice Breaking

Performing

Storming

Forming

Norming

Alasan pentingnya dinamika kelompok:

Individu tidak mungkin hidup sendiri di dalam masyarakat

Individu tidak dapat bekerja sendiri dalam memenuhi kehidupannya

Dalam masyarakat yang besar, perlu adanya pembagian kerja agar pekerjaan
dapat terlaksana dengan baik

Masyarakat yang demokratis dapat berjalan baik apabila lembaga sosial dapat
bekerja dengan efektif

b. Pendekatan-pendekatan Dinamika Kelompok


Dinamika kelompok seperti disebutkan di bagian awal, menjadi bahan
persaingan dari para ahli psikologi, ahli sosiologi, ahli psikologi sosial, maupun
ahli yang menganggap dinamika kelompok sebagai eksperimen. Hal tersebut
membawa

pengaruh

terhadap

pendekatan-pendekatan

yang

ada

dalam

dinamika kelompok.
1. Pendekatan oleh Bales dan Homans
Pendekatan ini mendasarkan pada konsep adanya aksi, interaksi, dan
situasi yang ada dalam kelompok. Homans menambahkan, dengan adanya
interaksi dalam kelompok, maka kelompok yang bersangkutan merupakan
sistem interdependensi, dengan sifat-sifat:

Adanya stratifikasi kedudukan warga

Adanya diferensiasi dalam hubungan dan pengaruh antara anggota


kelompok yang satu dengan yang lain

Adanya perkembangan pada sistem intern kelompok yang diakibatkan


adanya pengaruh faktor-faktor dari luar.

2. Pendekatan oleh Stogdill


Pendekatan ini lebih menekankan pada sifat-sifat kepemimpinan dalam
bentuk organisasi formal. Stogdill menambahkan bahwa yang dimaksud
kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktivitas kelompok
yang terorganisir

sebagai usaha

untuk mencapai

tujuan

kelompok.

Kelompok terorganisir yang dimaksud disini adalah kelompok yang tiap-tiap


anggotanya mendapat tanggungan dalam hubungannya dengan pembagian
tugas untuk mencapai kerja sama dalam kelompok.

3. Pendekatan dari ahli Psycho Analysis (Sigmund Freud dan Scheidlinger)


Scheidlinger

berpendapat

bahwa

aspek-aspek

motif

dan

emosional

memegang peranan penting dalam kehidupan kelompok. Kelompok akan


terbentuk

apabila

didasarkan

pada

kesamaan

motif

antar

anggota

kelompok, demikian pula emosional yang sama akan menjadi tenaga


pemersatu dala kelompok, sehingga kelompok tersebut semakin kokoh.
Freud berpendapat bahwa di dalam setiap kelompok perlu adanya kesatuan
kelompok, agar kelompok tersebut dapat berkembang dan bertahan lama.
Kesatua kelompok akan terbentuk apabila tiap-tiap anggota kelompok
melaksanakan identifikasi bersama antara anggota yang satu dengan yang
lain.
4. Pendekatan dari Yennings dan Moreno
Yennings mengungkapkan konsepsinya tentang pilihan bebas, spontan, dan
efektif dari anggota kelompok yang satu terhadap angota kelompok yang lain
dalam rangka pembentukan ikatan kelompok. Moreno membedakan antara
psikhe group dan sosio group sebagai berikut:
Psikhe group merupakan suatu kelompok yang terbentuk atas dasar
suka/tidak suka, simpati, atau antipati antar anggota
Sosio group merupakan kelompok yang terbentuk atas dasar tekanan dari
pihak luar.
Yennings menambahkan bahwa pelaksanaan tugas akan lebih lancar
apabila pembentukan Sosio group disesuaikan dengan Psikhe group, dengan
memperhatikan faktor-faktor efisiensi kerja dan kepemimpinan dalam
kelompok.

c. Fungsi dinamika kelompok


1. Individu satu dengan yang lain akan terjadi kerjasama saling membutuhkan
(individu tidak dapat hidup sendiri di dalam masyarakat)

2. Dinamika

kelompok

memudahkan

segala

pekerjaan

(dalam

dinamika

kelompok ada saling bantu antara anggota satu dengan anggota yang lain)
3. Melalui dinamika kelompok segala pekerjaan yang membutuhkan pemecahan
masalah dapat teratasi, mengurangi beban pekerjaan yang terlalu besar,
sehingga waktu untuk menyelesaikan pekerjaan dapat diatur secara tepat,
efektif dan efisien (dalam dinamika kelompok pekerjaan besar akan dibagibagi sesuai dengan bagian kelompoknya masing-masing)
4. Meningkatkan masyarakat yang demokratis, individu satu dengan yang lain
dapat memberikan masukan atau berinteraksi dengan lainnya dan memiliki
peran yang sama dalam masyarakat.
d. Games dinamika kelompok
Membuat Sebuah Bangunan dari Sedotan

Bahan : sedotan sebanyak 50 buah


Waktu : 30 menit

Instruksi :
Buatlah bangunan apa saja, bisa rumah, gedung, rumah ibadah, dan lain lain
dengan menggunakan sedotan ini. Bangunan yang kalian buat harus kokoh
dan tidak gampang roboh ketika ditiup angin. Bagunan tersebut kokoh atau
tidak akan dibuktikan dengan apakah bangunan tersebut roboh atau tidak
ketika ditiup oleh fasilitator.

Tujuan dari Games ini :


1. kerelaan untuk menerima dan mendengarkan pendapat dari teman
sekelompok
2. melatih kepekaan imaginer (kecerdasan spatial) dapat berimajinasi
bangunan apa yang bisa dibuat dari sedotan

3. melatih kecepatan berfikir


4. melatih mengambil keputusan dengan cepat dan tepat
5. mau menerima kegagalan untuk dijadikan pelajaran untuk yang akan
datang

Review :
1. apakah maksud dari permainan ini?
2. sudahkah setiap anggota kelompok menyumbangkan pemikirannya?
3. bagaimana cara berfikir dengan cepat, dan tepat?
4. bagaimana menahan emosi ketika sedang membuat bangunan?
5. ketika gagal apakah yang anda lakukan??

REMAJA DAN PERILAKU SEKSUAL

Perilaku seksual ialah perilaku yang melibatkan sentuhan secara fisik anggota badan
antara pria dan wanita yang telah mencapai pada tahap hubungan intim, yang
biasanya dilakukan oleh pasangan suami istri. Sedangkan perilaku seks pranikah
merupakan perilaku seks yang dilakukan tanpa melalui proses pernikahan yang
resmi menurut hukum maupun menurut agama dan kepercayaan masing-masing
individu. Perilaku seks pranikah ini memang kasat mata, namun ia tidak terjadi
dengan sendirinya melainkan didorong atau dimotivasi oleh faktor-faktor internal yang
tidak dapat diamati secara langsung (tidak kasat mata). Dengan demikian individu
tersebut

tergerak

untuk

melakukan

perilaku

seks

pranikah.

Motivasi merupakan penggerak perilaku. Hubungan antar kedua konstruk ini cukup
kompleks, antara lain dapat dilihat sebagai berikut : Motivasi yang sama dapat saja
menggerakkan perilaku yang berbeda, demikian pula perilaku yang sama dapat saja
diarahkan oleh motivasi yang berbeda. Motivasi tertentu akan mendorong seseorang
untuk melakukan perilaku tertentu pula. Pada seorang remaja, perilaku seks

pranikah tersebut dapat dimotivasi oleh rasa sayang dan cinta dengan didominasi
oleh perasaan kedekatan dan gairah yang tinggi terhadap pasangannya, tanpa disertai
komitmen yang jelas (menurut Sternberg hal ini dinamakan romantic love); atau
karena pengaruh kelompok (konformitas), dimana remaja tersebut ingin menjadi
bagian dari kelompoknya dengan mengikuti norma-norma yang telah dianut oleh
kelompoknya, dalam hal ini kelompoknya telah melakukan perilaku seks pranikah.

Faktor lain yang dapat mempengaruhi seorang remaja melakukan seks pranikah
karena ia didorong oleh rasa ingin tahu yang besar untuk mencoba segala hal yang
belum diketahui. Hal tersebut merupakan ciri-ciri remaja pada umumnya, mereka
ingin mengetahui banyak hal yang hanya dapat dipuaskan serta diwujudkannya
melalui pengalaman mereka sendiri, "Learning by doing". Disinilah suatu masalah
acap kali muncul dalam kehidupan remaja karena mereka ingin mencoba-coba segala
hal, termasuk yang berhubungan dengan fungsi ketubuhannya yang juga melibatkan
pasangannya. Namun dibalik itu semua, faktor internal yang paling mempengaruhi
perilaku seksual remaja sehingga mengarah pada perilaku seksual pranikah pada
remaja adalah berkembangnya organ seksual. Dikatakan bahwa gonads (kelenjar
seks) yang tetap bekerja (seks primer) bukan saja berpengaruh pada penyempurnaan
tubuh (khususnya yang berhubungan dengan ciri-ciri seks sekunder), melainkan juga
berpengaruh

jauh

pada

kehidupan

psikis,

moral,

dan

sosial.

Pada kehidupan psikis remaja, perkembangan organ seksual mempunyai pengaruh


kuat dalam minat remaja terhadap lawan jenis kelamin. Ketertarikkan antar lawan
jenis ini kemudian berkembang ke pola kencan yang lebih serius serta memilih
pasangan kencan dan romans yang akan ditetapkan sebagai teman hidup. Sedangkan
pada kehidupan moral, seiringan dengan bekerjanya gonads, tak jarang timbul konflik
dalam diri remaja. Masalah yang timbul yaitu akibat adanya dorongan seks dan
pertimbangan

moral

sering

kali

bertentangan.

Bila dorongan seks terlalu besar sehingga menimbulkan konflik yang kuat, maka
dorongan seks tersebut cenderung untuk dimenangkan dengan berbagai dalih sebagai
pembenaran

diri.

Pengaruh perkembangan organ seksual pada kehidupan sosial ialah remaja dapat
memperoleh teman baru, mengadakan jalinan cinta dengan lawan jenisnya. Jalinan
cinta ini tidak lagi menampakkan pemujaan secara berlebihan terhadap lawan jenis
dan "cinta monyet" pun tidak tampak lagi. Mereka benar-benar terpaut hatinya pada
seorang

lawan

jenis,

sehingga

terikat

oleh

tali

cinta.

Perlu pula dijelaskan bahwa pertumbuhan kelenjar-kelenjar seks (gonads) remaja,


sesungguhnya merupakan bagian integral dari pertumbuhan dan perkembangan
jasmani secara menyeluruh. Selain itu, energi seksual atau libido/nafsu pun telah
mengalami perintisan yang cukup panjang; Sigmund Freud mengatakan bahwa
dorongan seksual yang diiringi oleh nafsu atau libido telah ada sejak terbentuknya Id.
Namun dorongan seksual ini mengalami kematangan pada usia usia remaja. Karena
itulah, dengan adanya pertumbuhan ini maka dibutuhkan penyaluran dalam bentuk
perilaku

seksual

tertentu.

Cukup naf bila kita tidak menyinggung faktor lingkungan, yang memiliki peran yang
tidak kalah penting dengan faktor pendorong perilaku seksual pranikah lainnya.
Faktor lingkungan ini bervariasi macamnya, ada teman sepermainan (peer-group),
pengaruh

media

dan

televisi,

bahkan

faktor

orang

tua

sendiri.

Pada masa remaja, kedekatannya dengan peer-groupnya sangat tinggi karena selain
ikatan peer-group menggantikan ikatan keluarga, mereka juga merupakan sumber
afeksi, simpati, dan pengertian, saling berbagi pengalaman dan sebagai tempat remaja
untuk

mencapai

otonomi

dan

independensi.

Maka tak heran bila remaja mempunyai kecenderungan untuk mengadopsi informasi
yang diterima oleh teman-temannya, tanpa memiliki dasar informasi yang signifikan
dari sumber yang lebih dapat dipercaya. Informasi dari teman-temannya tersebut,
dalam hal ini sehubungan dengan perilaku seks pranikah, tak jarang menimbulkan
rasa penasaran yang membentuk serangkaian pertanyaan dalam diri remaja. Untuk
menjawab pertanyaan itu sekaligus membuktikan kebenaran informasi yang diterima,
mereka cenderung melakukan dan mengalami perilaku seks pranikah itu sendiri.

Pengaruh media dan televisi pun sering kali diimitasi oleh remaja dalam perilakunya
sehari-hari. Misalnya saja remaja yang menonton film remaja yang berkebudayaan
barat,

melalui

observational

learning,

mereka

melihat

perilaku

seks

itu

menyenangkan dan dapat diterima lingkungan. Hal ini pun diimitasi oleh mereka,
terkadang tanpa memikirkan adanya perbedaan kebudayaan, nilai serta normanorma

dalam

lingkungan

masyakarat

yang

berbeda.

Perilaku yang tidak sesuai dengan tugas perkembangan remaja pada umumnya dapat
dipengaruhi orang tua. Bilamana orang tua mampu memberikan pemahaman
mengenai perilaku seks kepada anak-anaknya, maka anak-anaknya cenderung
mengontrol perilaku seksnya itu sesuai dengan pemahaman yang diberikan orang
tuanya.

Hal ini terjadi karena pada dasarnya pendidikan seks yang terbaik adalah yang
diberikan oleh orang tua sendiri, dan dapat pula diwujudkan melalui cara hidup
orang tua dalam keluarga sebagai suami-istri yang bersatu dalam perkawinan.

Kesulitan yang timbul kemudian adalah apabila pengetahuan orang tua kurang
memadai menyebabkan sikap kurang terbuka dan cenderung tidak memberikan
pemahaman tentang masalah-masalah seks anak. Akibatnya anak mendapatkan
informasi seks yang tidak sehat. Seorang peneliti menyimpulkan hasil penelitiannya

sebagai berikut: informasi seks yang tidak sehat atau tidak sesuai dengan
perkembangan usia remaja ini mengakibatkan remaja terlibat dalam kasus-kasus
berupa konflik-konflik dan gangguan mental, ide-ide yang salah dan ketakutanketakutan yang berhubungan dengan seks. Dalam hal ini, terciptanya konflik dan
gangguan mental serta ide-ide yang salah dapat memungkinkan seorang remaja
untuk melakukan perilaku seks pranikah.[rileks.com]

Perilaku seks pranikah ini memang kasat mata, namun ia tidak terjadi dengan
sendirinya melainkan didorong atau dimotivasi oleh faktor-faktor internal yang tidak
dapat diamati secara langsung (tidak kasat mata). Dengan demikian individu tersebut
tergerak

untuk

melakukan

perilaku

seks

pranikah.

Motivasi merupakan penggerak perilaku. Hubungan antar kedua konstruk ini cukup
kompleks, antara lain dapat dilihat sebagai berikut : Motivasi yang sama dapat saja
menggerakkan perilaku yang berbeda, demikian pula perilaku yang sama dapat saja
diarahkan

oleh

motivasi

yang

berbeda.

<BR

Motivasi tertentu akan mendorong seseorang untuk melakukan perilaku tertentu


pula. Pada seorang remaja, perilaku seks pranikah tersebut dapat dimotivasi oleh
rasa sayang dan cinta dengan didominasi oleh perasaan kedekatan dan gairah yang
tinggi terhadap pasangannya, tanpa disertai komitmen yang jelas (menurut Sternberg
hal ini dinamakan romantic love); atau karena pengaruh kelompok (konformitas),
dimana remaja tersebut ingin menjadi bagian dari kelompoknya dengan mengikuti
norma-norma yang telah dianut oleh kelompoknya, dalam hal ini kelompoknya telah
melakukan

perilaku

seks

pranikah.

Faktor lain yang dapat mempengaruhi seorang remaja melakukan seks pranikah
karena ia didorong oleh rasa ingin tahu yang besar untuk mencoba segala hal yang
belum diketahui. Hal tersebut merupakan ciri-ciri remaja pada umumnya, mereka
ingin mengetahui banyak hal yang hanya dapat dipuaskan serta diwujudkannya

melalui

pengalaman

mereka

sendiri,

"Learning

by

doing".

Disinilah suatu masalah acap kali muncul dalam kehidupan remaja karena mereka
ingin mencoba-coba segala hal, termasuk yang berhubungan dengan fungsi
ketubuhannya yang juga melibatkan pasangannya. Namun dibalik itu semua, faktor
internal yang paling mempengaruhi perilaku seksual remaja sehingga mengarah pada
perilaku seksual pranikah pada remaja adalah berkembangnya organ seksual.
Dikatakan bahwa gonads (kelenjar seks) yang tetap bekerja (seks primer) bukan saja
berpengaruh pada penyempurnaan tubuh (khususnya yang berhubungan dengan ciriciri seks sekunder), melainkan juga berpengaruh jauh pada kehidupan psikis, moral,
dan

sosial.

Pada kehidupan psikis remaja, perkembangan organ seksual mempunyai pengaruh


kuat dalam minat remaja terhadap lawan jenis kelamin. Ketertarikkan antar lawan
jenis ini kemudian berkembang ke pola kencan yang lebih serius serta memilih
pasangan kencan dan romans yang akan ditetapkan sebagai teman hidup. Sedangkan
pada kehidupan moral, seiringan dengan bekerjanya gonads, tak jarang timbul konflik
dalam diri remaja. Masalah yang timbul yaitu akibat adanya dorongan seks dan
pertimbangan

moral

sering

kali

bertentangan.

Bila dorongan seks terlalu besar sehingga menimbulkan konflik yang kuat, maka
dorongan seks tersebut cenderung untuk dimenangkan dengan berbagai dalih sebagai
pembenaran

diri.

Pengaruh perkembangan organ seksual pada kehidupan sosial ialah remaja dapat
memperoleh teman baru, mengadakan jalinan cinta dengan lawan jenisnya. Jalinan
cinta ini tidak lagi menampakkan pemujaan secara berlebihan terhadap lawan jenis
dan "cinta monyet" pun tidak tampak lagi. Mereka benar-benar terpaut hatinya pada
seorang

lawan

jenis,

sehingga

terikat

oleh

tali

cinta.

Perlu pula dijelaskan bahwa pertumbuhan kelenjar-kelenjar seks (gonads) remaja,


sesungguhnya merupakan bagian integral dari pertumbuhan dan perkembangan
jasmani secara menyeluruh. Selain itu, energi seksual atau libido/nafsu pun telah
mengalami perintisan yang cukup panjang; Sigmund Freud mengatakan bahwa
dorongan seksual yang diiringi oleh nafsu atau libido telah ada sejak terbentuknya Id.
Namun dorongan seksual ini mengalami kematangan pada usia usia remaja. Karena
itulah, dengan adanya pertumbuhan ini maka dibutuhkan penyaluran dalam bentuk
perilaku

seksual

tertentu.

Cukup naf bila kita tidak menyinggung faktor lingkungan, yang memiliki peran yang
tidak kalah penting dengan faktor pendorong perilaku seksual pranikah lainnya.
Faktor lingkungan ini bervariasi macamnya, ada teman sepermainan (peer-group),
pengaruh

media

dan

televisi,

bahkan

faktor

orang

tua

sendiri.

Pada masa remaja, kedekatannya dengan peer-groupnya sangat tinggi karena selain
ikatan peer-group menggantikan ikatan keluarga, mereka juga merupakan sumber
afeksi, simpati, dan pengertian, saling berbagi pengalaman dan sebagai tempat remaja
untuk

mencapai

otonomi

dan

independensi.

Maka tak heran bila remaja mempunyai kecenderungan untuk mengadopsi informasi
yang diterima oleh teman-temannya, tanpa memiliki dasar informasi yang signifikan
dari sumber yang lebih dapat dipercaya. Informasi dari teman-temannya tersebut,
dalam hal ini sehubungan dengan perilaku seks pranikah, tak jarang menimbulkan
rasa penasaran yang membentuk serangkaian pertanyaan dalam diri remaja. Untuk
menjawab pertanyaan itu sekaligus membuktikan kebenaran informasi yang diterima,
mereka cenderung melakukan dan mengalami perilaku seks pranikah itu sendiri.

Pengaruh media dan televisi pun sering kali diimitasi oleh remaja dalam perilakunya
sehari-hari. Misalnya saja remaja yang menonton film remaja yang berkebudayaan

barat,

melalui

observational

learning,

mereka

melihat

perilaku

seks

itu

menyenangkan dan dapat diterima lingkungan. Hal ini pun diimitasi oleh mereka,
terkadang tanpa memikirkan adanya perbedaan kebudayaan, nilai serta normanorma

dalam

lingkungan

masyakarat

yang

berbeda.

Perilaku yang tidak sesuai dengan tugas perkembangan remaja pada umumnya dapat
dipengaruhi orang tua. Bilamana orang tua mampu memberikan pemahaman
mengenai perilaku seks kepada anak-anaknya, maka anak-anaknya cenderung
mengontrol perilaku seksnya itu sesuai dengan pemahaman yang diberikan orang
tuanya.

Hal ini terjadi karena pada dasarnya pendidikan seks yang terbaik adalah yang
diberikan oleh orang tua sendiri, dan dapat pula diwujudkan melalui cara hidup
orang tua dalam keluarga sebagai suami-istri yang bersatu dalam perkawinan.

Kesulitan yang timbul kemudian adalah apabila pengetahuan orang tua kurang
memadai menyebabkan sikap kurang terbuka dan cenderung tidak memberikan
pemahaman tentang masalah-masalah seks anak. Akibatnya anak mendapatkan
informasi seks yang tidak sehat. Seorang peneliti menyimpulkan hasil penelitiannya
sebagai berikut: informasi seks yang tidak sehat atau tidak sesuai dengan
perkembangan usia remaja ini mengakibatkan remaja terlibat dalam kasus-kasus
berupa konflik-konflik dan gangguan mental, ide-ide yang salah dan ketakutanketakutan yang berhubungan dengan seks. Dalam hal ini, terciptanya konflik dan
gangguan mental serta ide-ide yang salah dapat memungkinkan seorang remaja
untuk melakukan perilaku seks pranikah.[rileks.com]

PENYAKIT MENULAR SEKSUAL

Penyakit menular seksual, atau PMS adalah berbagai infeksi yang dapat menular dari
satu orang ke orang yang lain melalui kontak seksual. Menurut the Centers for
Disease Control (CDC) terdapat lebih dari 15 juta kasus PMS dilaporkan per tahun.
Kelompok remaja dan dewasa muda (15-24 tahun) adalah kelompok umur yang
memiliki risiko paling tinggi untuk tertular PMS, 3 juta kasus baru tiap tahun adalah
dari kelompok ini.
Hampir seluruh PMS dapat diobati. Namun, bahkan PMS yang mudah diobati seperti
gonore telah menjadi resisten terhadap berbagai antibiotik generasi lama. PMS lain,
seperti herpes, AIDS, dan kutil kelamin, seluruhnya adalah PMS yang disebabkan
oleh virus, tidak dapat disembuhkan. Beberapa dari infeksi tersebut sangat tidak
mengenakkan, sementara yang lainnya bahkan dapat mematikan. Sifilis, AIDS, kutil
kelamin, herpes, hepatitis, dan bahkan gonore seluruhnya sudah pernah dikenal
sebagai penyebab kematian. Beberapa PMS dapat berlanjut pada berbagai kondisi
seperti Penyakit Radang Panggul (PRP), kanker serviks dan berbagai komplikasi
kehamilan.

Sehingga,

pendidikan

mengenai

penyakit

ini

dan

upaya-upaya

pencegahan penting untuk dilakukan.


Penting untuk diperhatikan bahwa kontak seksual tidak hanya hubungan seksual
melalui alat kelamin. Kontak seksual juga meliputi ciuman, kontak oral-genital, dan
pemakaian mainan seksual, seperti vibrator. Sebetulnya, tidak ada kontak seksual
yang dapat benar-benar disebut sebagai seks aman . Satu-satunya yang betul-betul
seks aman adalah

abstinensia.

Hubungan seks dalam konteks hubungan

monogamy di mana kedua individu bebas dari IMS juga dianggap aman.

Kebanyakan orang menganggap berciuman sebagai aktifitas yang aman. Sayangnya,


sifilis, herpes dan penyakit-penyakit lain dapat menular lewat aktifitas yang
nampaknya tidak berbahaya ini. Semua bentuk lain kontak seksual juga berisiko.
Kondom umumnya dianggap merupakan perlindungan terhadap IMS.

Kondom

sangat berguna dalam mencegah beberapa penyakit seperti HIV dan gonore. Namun
kondom kurang efektif dalam mencegah herpes, trikomoniasis dan klamidia. Kondom
memberi proteksi kecil terhadap penularan HPV, yang merupakan penyebab kutil
kelamin.

Beberapa penyakit menular seksual:

Klamidia klamidia adalah PMS yang sangat berbahaya dan biasanya


tidak menunjukkan gejala; 75% dari perempuan dan 25% dari pria yang
terinfeksi tidak menunjukkan gejala sama sekali.

Gonore gonore adalah salah satu PMS yang sering dialporkan. 40%
penderita akan mengalami Penyakit Radang Panggul (PRP) jika tidak
diobati, dan hal tersebut dapat menyebabkan kemandulan.

Hepatitis B vaksin pencegahan penyakit ini sudah ada, tapi sekali


terkena penyakit ini tidak dapat disembuhkan; dapat menyebabkan
kanker hati.

Herpes terasa nyeri dan dapat hilang timbul; dapat diobati untuk
mengurangi gejala tetapi tidak dapat disembuhkan.

HIV/AIDS dikenal pertama kali pada tahun 1984, AIDS adalah


penyebab kematian ke enam pada laki-laki dan perempuan muda. Virus
ini fatal dan menimbulkan rasa sakit yang cukup lama sebelum
kemudian meninggal.

Human Papilloma Virus (HPV) & Kutil kelamin PMS yang paling
sering, 33% dari perempuan memiliki virus ini, yang dapat menyebabkan
kanker serviks dan penis dan nyeri pada kelamin.

Sifilis jika tidak diobati dapat menyebabkan kerusakan otak dan hati
yang serius.

Trikomoniasis dapat menyebabkan keputihan yang berbusa atau tidak


ada gejala sama sekali. Pada perempuan hamil dapat menyebabkan
kelahiran premature.

Klamidia
Tipe: Bakterial
Cara Penularan: Hubungan seks vaginal dan anal.
Gejala: Sampai 75% kasus pada perempuan dan 25% kasus pada laki-laki tidak
menunjukkan gejala. Gejala yang ada meliputi keputihan yang abnormal, dan rasa
nyeri saat kencing baik pada laki-laki maupun perempuan. Perempuan juga dapat
mengalami rasa nyeri pada perut bagian bawah atau nyeri saat hubungan seksual,
pada laki-laki mungkin akan mengalami pembengkakan atau nyeri pada testis.
Pengobatan: Infeksi dapat diobati dengan antibiotik. Namun pengobatan tersebut
tidak dapat menghilangkan kerusakan yang timbul sebelum pengobatan dilakukan.
Konsekuensi yang mungkin terjadi pada orang yang terinfeksi: Pada perempuan,
jika tidak diobati, sampai 30% akan mengalami Penyakit Radang Panggul (PRP) yang
pada gilirannya dapat menyebabkan kehamilan ektopik, kemandulan dan nyeri
panggul kronis.

Pada laki-laki, jika tidak diobati, klamidia akan menyebabkan

epididymitis, yaitu sebuah peradangan pada testis (tempat di mana sperma disimpan),
yang mungkin dapat menyebabkan kemandulan.

Individu yang terinfeksi akan

berisiko lebih tinggi untuk terinfeksi HIV jika terpapar virus tersebut.

Konsekuensi yang mungkin terjadi pada janin dan bayi baru lahir: lahir
premature, pneumonia pada bayi dan infeksi mata pada bayi baru lahir yang dapat
terjadi karena penularan penyakit ini saat proses persalinan.
Pencegahan: Tidak melakukan hubungan seksual secara vaginal maupun anal
dengan orang yang terinfeksi adalah satu-satunya cara pencegahan yang 100%
efektif. Kondom dapat mengurangi tetapi tidak dapat menghilangkan sama sekali
risiko tertular penyakit ini.
Gonore
Tipe: Bakterial
Cara penularan: Hubungan seks vaginal, anal dan oral.
Gejala: Walaupun beberapa kasus tidak menunjukkan gejala, jika gejala muncul,
sering hanya ringan dan muncul dalam 2-10 hari setelah terpapar. Gejala-gejala
meliputi discharge dari penis, vagina, atau rektum dan rasa panas atau gatal saat
buang air kecil.
Pengobatan: Infeksi dapat disembuhkan dengan antibiotik.

Namun tidak dapat

menghilangkan kerusakan yang timbul sebelum pengobatan dilakukan.


Konsekuensi yang mungkin timbul pada orang yang terinfeksi: Pada perempuan
jika tidak diobati, penyakit ini merupakan penyebab utama Penyakit Radang Panggul,
yang kemudian dapat menyebabkan kehamilan ektopik, kemandulan dan nyeri
panggul kronis. Dapat menyebabkan kemandulan pada pria. Gonore yang tidak
diobati dapat menginfeksi sendi, katup jantung dan/atau otak.
Konsekuensi yang mungkin timbul pada janin dan bayi baru lahir: Gonore dapat
menyebabkan kebutaan dan penyakit sistemik seperti meningitis dan arthritis sepsis
pada bayi yang terinfkesi pada proses persalinan. Untuk mencegah kebutaan, semua

bayi yang lahir di rumah sakit biasanya diberi tetesan mata untuk pengobatan
gonore.
Pencegahan: Tidak melakukan hubungan seksual baik vaginal, anal dan oral dengan
orang yang terinfeksi adalah satu-satunya cara yang 100% efektif untuk pencegahan.
Kondom dapat mengurangi tetapi tidak dapat menghilangkan sama sekali risiko
penularan penyakit ini.
Hepatitis B (HBV)
Tipe: Viral
Cara Penularan: Hubungan seks vaginal, oral dan khususnya anal; memakai jarum
suntik bergantian; perlukaan kulit karena alat-alat medis dan kedokteran gigi;
melalui transfusi darah.
Gejala: Sekitar sepertiga penderita HBV tidak menunjukkan gejala.

Gejala yang

muncul meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, lemah, kehilangan nafsu makan,
muntah dan diare. Gejala-gejala yang ditimbulkan karena gangguan di hati meliputi
air kencing berwarna gelap, nyeri perut, kulit menguning dan mata pucat.
Pengobatan: Belum ada pengobatan. Kebanyakan infeksi bersih dengan sendirinya
dalam 4-8 minggu. Beberapa orang menjadi terinfeksi secara kronis.
Konsekuensi yang mungkin timbul pada orang yang terinfeksi: Untuk orang-orang
yang terinfeksi secara kronis, penyakit ini dapat berkembang menjadi cirrhosis,
kanker hati dan kerusakan sistem kekebalan.
Konsekuensi yang mungkin timbul pada janin dan bayi baru lahir: Perempuan
hamil dapat menularkan penyakit ini pada janin yang dikandungnya. 90% bayi yang
terinfeksi pada saat lahir menjadi karier kronik dan berisiko untuk tejadinya penyakit
hati dan kanker hati. Mereka juga dapat menularkan virus tersebut. Bayi dari

seorang ibu yang terinfeksi dapat diberi immunoglobulin dan divaksinasi pada saat
lahir, ini berpotensi untuk menghilangkan risiko infeksi kronis.
Pencegahan: Tidak melakukan hubungan seks dengan orang yang terinfeksi
khususnya seks anal, di mana cairan tubuh, darah, air mani dan secret vagina paling
mungkin dipertukarkan adalah satu-satunya cara pencegahan yang 100% efektif
mencegah penularan virus hepatitis B melalui hubungan seks.

Kondom dapat

menurunkan risiko tetapi tidak dapat sama sekali menghilangkan risiko untuk
tertular penyakit ini melalui hubungan seks. Hindari pemakaian narkoba suntik dan
memakai

jarum

suntik

bergantian.

Bicarakan

dengan

petugas

kesehatan

kewaspadaan yang harus diambil untuk mencegah penularan Hepatitis B, khususnya


ketika akan menerima tranfusi produk darah atau darah. Vaksin sudah tersedia dan
disarankan untuk orang-orang yang berisiko terkena infeksi Hepatitis B. Sebagai
tambahan, vaksinasi Hepatitis B sudah dilakukan secara rutin pada imunisasi anakanak sebagaimana direkomendasikan oleh the American Academy of Pediatrics.
Herpes Genital (HSV-2)
Tipe: Viral
Cara Penularan: Herpes menyebar melalui kontak seksual antar kulit dengan bagianbagian tubuh yang terinfeksi saat melakukan hubungan seks vaginal, anal atau oral.
Virus sejenis dengan strain lain yaitu Herpes Simplex Tipe 1 (HSV-1) umumnya
menular lewat kontak non-seksual dan umumnya menyebabkan luka di bibir.
Namun,

HSV-1

dapat

juga

menular

lewat

hubungan

seks

oral

dan

dapat

menyebabkan infeksi alat kelamin.


Gejala-gejala: Gejala-gejala biasanya sangat ringan dan mungkin meliputi rasa gatal
atau terbakar; rasa nyeri di kaki, pantat atau daerah kelamin; atau keputihan. Bintilbintil berair atau luka terbuka yang terasa nyeri juga mungkin terjadi, biasanya di
daerah kelamin, pantat, anus dan paha, walaupun dapat juga terjadi di bagian tubuh

yang lain. Luka-luka tersebut akan sembuh dalam beberapa minggu tetapi dapat
muncul kembali.
Pengobatan: Belum ada pengobatan untuk penyakit ini. Obat anti virus biasanya
efektif dalam mengurangi frekuensi dan durasi (lamanya) timbul gejala karena infeksi
HSV-2.
Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Orang yang Terinfeksi: Orang yang
terinfeksi dan memiliki luka akan meningkat risikonya untuk terinfeksi HIV jika
terpapar sebab luka tersebut menjadi jalan masuk virus HIV.
Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Janin dan Bayi: Perempuan yang
mengalami episode pertama dari herpes genital pada saat hamil akan memiliki risiko
yang lebih tinggi untuk terjadinya kelahiran prematur. Kejadian akut pada masa
persalinan merupakan indikasi untuk dilakukannya persalinan dengan operasi cesar
sebab infeksi yang mengenai bayi yang baru lahir akan dapat menyebabkan kematian
atau kerusakan otak yang serius.
Pencegahan: Tidak melakukan hubungan seks secara vaginal, anal dan oral dengan
orang yang terinfeksi adalah satu-satunya cara pencegahan yang 100% efektif
mencegah penularan virus herpes genital melalui hubungan seks. Kondom dapat
mengurangi risiko tetapi tidak dapat samasekali menghilangkan risiko tertular
penyakit ini melalui hubungan seks. Walaupun memakai kondom saat melakukan
hubungan seks, masih ada kemungkinan untuk tertular penyakit ini yaitu melalui
adanya luka di daerah kelamin.
HIV/AIDS
Tipe: Viral

Cara Penularan: Hubungan seks vaginal, oral dan khususnya anal; darah atau
produk darah yang terinfeksi; memakai jarum suntik bergantian pada pengguna
narkoba; dan dari ibu yang terinfeksi kepada janin dalam kandungannya, saat
persalinan, atau saat menyusui.
Gejala-gejala: Beberapa orang tidak mengalami gejala saat terinfeksi pertama kali.
Sementara yang lainnya mengalami gejala-gejala seperti flu, termasuk demam,
kehilangan nafsu makan, berat badan turun, lemah dan pembengkakan saluran
getah bening. Gejala-gejala tersebut biasanya menghilang dalam seminggu sampai
sebulan, dan virus tetap ada dalam kondisi tidak aktif (dormant) selama beberapa
tahun. Namun, virus tersebut secara terus menerus melemahkan sistem kekebalan,
menyebabkan orang yang terinfeksi semakin tidak dapat bertahan terhadap infeksiinfeksi oportunistik.
Pengobatan: Belum ada pengobatan untuk infeksi ini.

Obat-obat anti retroviral

digunakan untuk memperpanjang hidup dan kesehatan orang yang terinfeksi. Obatobat lain digunakan untuk melawan infeksi oportunistik yang juga diderita.
Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Orang yang Terinfeksi: Hampir semua
orang yang terinfeksi HIV akhirnya akan menjadi AIDS dan meninggal karena
komplikasi-komplikasi yang berhubungan dengan AIDS.
Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Janin dan Bayi: 20-30% dari bayi yang
lahir dari ibu yang terinfeksi HIV akan terinfeksi HIV juga dan gejala-gejala dari AIDS
akan muncul dalam satu tahun pertama kelahiran.

20% dari bayi-bayi yang

terinfeksi tersebut akan meninggal pada saat berusia 18 bulan. Obat antiretroviral
yang diberikan pada saat hamil dapat menurunkan risiko janin untuk terinfeksi HIV
dalam proporsi yang cukup besar. Lihat Prenatal Risk Assessment: AIDS untuk
infomasi lebih lanjut tentang AIDS dan kehamilan.

Pencegahan: Tidak melakukan hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi,


khususnya hubungan seks anal, di mana cairan tubuh, darah, air mani atau secret
vagina paling mungkin dipertukarkan, adalah satu-satunya cara yang 100% efektif
untuk mencegah penularan HIV melalui hubungan seks. Kondom dapat menurunkan
risiko penularan tetapi tidak menghilangkan sama sekali kemungkinan penularan.
Hindari pemakaian narkoba suntik dan saling berbagi jarum suntik. Diskusikan
dengan petugas kesehatan tindakan kewaspadaan yang harus dilakukan untuk
mencegah penularan HIV, terutama saat harus menerima transfusi darah maupun
produk darah.

Sebuah ciuman, apakah sekedar sebuah ciuman?


Bahkan ciuman dapat merupakan sumber infeksi.

Menurut Centers for

Disease Control Amerika Serikat, "Ciuman dengan mulut terbuka dianggap


sebagai aktifitas seksual yang sangat kecil risikonya untuk terjadinya
penularan HIV. Namun, ciuman dengan mulut terbuka dalam waktu yang lama
dapat merusak mulut atau bibir sehingga memungkinkan HIV berpindah dari
orang yang terinfeksi ke pasangannya dan memasuki tubuh pasangan tersebut
melalui luka yang ada di mulut. Karena adanya kemungkinan risiko penularan
ini, CDC merekomendasikan pelarangan untuk berciuman dengan mulut
terbuka dengan pasangan yang terinfeksi.

Sebuah kasus mengindikasikan

adanya seorang perempuan yang terinfeksi HIV dari pasangannya karena


terpapar darah yang terkontaminasi saat melakukan ciuman dengan mulut
terbuka.

Morbidity and Mortality Weekly Report tanggal 11 Juli 11, 1997,

berisi artikel tentang hal ini".


Sumber: Centers for Disease Control (info lebih lanjut.)

Human Papilloma Virus (HPV)

Tipe: Viral
Cara Penularan: Hubungan seksual vaginal, anal atau oral.
Gejala-gejala: Tonjolan yang tidak sakit, kutil yang menyerupai bunga kol tumbuh di
dalam atau pada kelamin, anus dan tenggorokan.
Pengobatan: Tidak ada pengobatan untuk penyakit ini. Kutil dapat dihilangkan
dengan cara-cara kimia, pembekuan, terapi laser atau bedah.
Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Orang yang Terinfeksi: HPV adalah virus
yang menyebabkan kutil kelamin. Beberapa strains dari virus ini berhubungan kuat
dengan kanker serviks sebagaimana halnya juga dengan kanker vulva, vagina, penis
dan anus. Pada kenyataannya 90% penyebab kanker serviks adalah virus HPV.
Kanker serviks ini menyebabkan kematian 5.000 perempuan Amerika setiap
tahunnya.
Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Janin dan Bayi: Pada bayi-bayi yang
terinfeksi virus ini pada proses persalinan dapat tumbuh kutil pada tenggorokannya
yang dapat menyumbat jalan nafas sehingga kutil tersebut harus dikeluarkan.
Pencegahan: Tidak melakukan hubungan seks secara vaginal, anal dan oral dengan
orang yang terinfeksi adalah satu-satunya cara pencegahan yang 100% efektif
mencegah penularan. Kondom hampir tidak berfungsi sama sekali dalam mencegah
penularan virus ini melalui hubungan seks.
Sifilis
Tipe: Bakterial
Cara Penularan: Cara penularan yang paling umum adalah hubungan seks vaginal,
anal atau oral. Namun, penyakit ini juga dapat ditularkan melalui hubungan non-

seksual jika ulkus atau lapisan mukosa yang disebabkan oleh sifilis kontak dengan
lapisan kulit yang tidak utuh dengan orang yang tidak terinfeksi.
Gejala-gejala: Pada fase awal, penyakit ini menimbulkan luka yang tidak terasa sakit
atau "chancres" yang biasanya muncul di daerah kelamin tetapi dapat juga muncul di
bagian tubuh yang lain, jika tidak diobati penyakit akan berkembang ke fase
berikutnya yang dapat meliputi adanya gejala ruam kulit, demam, luka pada
tenggorokan, rambut rontok dan pembengkakan kelenjar di seluruh tubuh.
Pengobatan: Penyakit ini dapat diobati dengan penisilin; namun, kerusakan pada
organ tubuh yang telah terjadi tidak dapat diperbaiki.
Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Orang yang Terinfeksi: Jika tidak diobati,
sifilis dapat menyebabkan kerusakan serius pada hati, otak, mata, sistem saraf,
tulang dan sendi dan dapat menyebabkan kematian. Seorang yang sedang menderita
sifilis aktif risikonya untuk terinfeksi HIV jika terpapar virus tersebut akan meningkat
karena luka (chancres) merupakan pintu masuk bagi virus HIV.
Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Janin dan Bayi: Jika tidak diobati,
seorang ibu hamil yang terinfeksi sifilis akan menularkan penyakit tersebut pada
janin yang dikandungnya. Janin meninggal di dalam dan meninggal pada periode
neonatus terjadi pada sekitar 25% dari kasus-kasus ini. 40-70% melahirkan bayi
dengan sifilis aktif. Jika tidak terdeteksi, kerusakan dapat terjadi pada jantung, otak
dan mata bayi.
Pencegahan: Tidak melakukan hubungan seks secara vaginal, anal dan oral dengan
orang yang terinfeksi adalah satu-satunya cara pencegahan yang 100% efektif
mencegah penularan sifilis melalui hubungan seksual. Kondom dapat mengurangi
tetapi tidak menghilangkan risiko tertular penyakit ini melalui hubungan seks. Masih
ada kemungkinan tertular sifilis walaupun memakai kondom yaitu melalui luka yang

ada di daerah kelamin. Usaha untuk mencegah kontak non-seksual dengan luka,
ruam atau lapisan bermukosa karena adanya sifilis juga perlu dilakukan.
Trikomoniasis
Tipe: Disebabkan oleh protozoa Trichomonas vaginalis.
Prevalensi: Trikomoniasis adalah PMS yang dapat diobati yang paling banyak terjadi
pada perempuan muda dan aktif seksual. Diperkirakan, 5 juta kasus baru terjadi
pada perempuan dan laki-laki.
Cara Penularan: Trikomoniasis menular melalui kontak seksual. Trichomonas
vaginalis dapat bertahan hidup pada benda-benda seperti baju-baju yang dicuci, dan
dapat menular dengan pinjam meminjam pakaian tersebut.
Gejala-gejala: Pada perempuan biasa terjadi keputihan yang banyak, berbusa, dan
berwarna kuning-hijau. Kesulitan atau rasa sakit pada saat buang air kecil dan atau
saat berhubungan seksual juga sering terjadi. Mungkin terdapat juga nyeri vagina
dan gatal atau mungkin tidak ada gejala sama sekali. Pada laki-laki mungkin akan
terjadi radang pada saluran kencing, kelenjar, atau kulup dan/atau luka pada penis,
namun pada laki-laki umumnya tidak ada gejala.
Pengobatan: Penyakit ini dapat disembuhkan. Pasangan seks juga harus diobati.
Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Orang yang Terinfeksi: Radang pada alat
kelamin

pada

perempuan

yang

terinfeksi

trikomoniasis

mungkin

juga

akan

meningkatkan risiko untuk terinfeksi HIV jika terpapar dengan virus tersebut.
Adanya trikomoniasis pada perempuan yang juga terinfeksi HIV akan meningkatkan
risiko penularan HIV pada pasangan seksualnya.
Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Janin dan Bayi: Trikomoniasis pada
perempuan hamil dapat menyebabkan ketuban pecah dini dan kelahiran prematur.

Pencegahan: Tidak melakukan hubungan seks secara vaginal dengan orang yang
terinfeksi adalah satu-satu cara pencegahan yang 100% efektif mencegah penularan
trikomoniasis melalui hubungan seksual. Kondon dan berbagai metode penghalang
sejenis yang lain dapat mengurangi tetapi tidak menghilangkan risiko untuk tertular
penyakit ini melalui hubungan seks. Hindari untuk saling pinjam meminjam handuk
atau pakaian dengan orang lain untuk mencegah penularan non-seksual dari
penyakit ini.