Vous êtes sur la page 1sur 70

KKN-PPM UGM 2015

Mengenal
Tanaman
Obat
di Sekitar Kita
Penyusun: Muhammad Fikru Rizal, S.Ked

KKN-PPM UGM 2015- DUKUH KARANGBENDO, BANGUNTAPAN, BANTUL

Kata Pengantar
Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan hidayah
dan rahmat-Nya sehingga buku Mengenal Tanaman Obat di Sekitar Kita ini dapat
terselesaikan.
Keanekaragaman hayati Indonesia yang begitu luar biasa mengharuskan kita senantiasa
menggali manfaatnya. Tidak terkecuali tanaman-tanaman yang tumbuh dengan begitu
mudah di sekitar kita. Buku Mengenal Tanaman Obat di Sekitar Kita ini merupakan
salah satu usaha untuk mengenalkan tanaman-tanaman yang memiliki manfaat sebagai
obat.
Terdapat 13 tanaman yang penysusun sampaikan pada buku ini. Penyususn berusaha
menyampaikan informasi mengenai deskripsi tanaman, pembudidayaan, kandungan,
serta manfaat yang ada pada tanaman tersebut baik dari sisi kepercayaan masyarakat
maupun bukti-bukti ilmiah yang sudah ada.
Demikian semoga buku ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Yogyakarta, 2015

Penyusun-Muhammad Fikru Rizal

Daftar Isi
Kata Pengantar ................................................................................................................................................ iii
Daftar Isi............................................................................................................................................................. iv
Pendahuluan ..................................................................................................................................................... 5
Jahe ........................................................................................................................................................................ 9
Temu Lawak ................................................................................................................................................... 14
Tempuyung ..................................................................................................................................................... 17
Kumis Kucing ................................................................................................................................................. 20
Kunyit ................................................................................................................................................................ 25
Cabe ................................................................................................................................................................... 30
Cabe Jawa......................................................................................................................................................... 33
Bawang Merah ............................................................................................................................................... 37
Bawang putih ................................................................................................................................................. 44
Jambu Biji ........................................................................................................................................................ 52
Pepaya............................................................................................................................................................... 55
Kelor .................................................................................................................................................................. 58
Mentimun ........................................................................................................................................................ 62
Lada.................................................................................................................................................................... 64
Lengkuas .......................................................................................................................................................... 69

Pendahuluan
Penggunaan bahan alam sebagai obat sudah dipraktikkan sejak awal kehidupan
manusia, termasuk salah satunya tumbuhan. Masing-masing peradaban
sebelumnya memiliki tradisi-tradisi pengobatannya masing-masing, baik di China,
Romawi, India, juga Arab. Bahkan tradisi itu masih dijalankan dan berkembang
hingga saat ini.
Seiring dengan kemajuan ilmu kedokteran, semua yang berkaitan dengannya
harus dipandang secara skeptis. Tujuannya adalah untuk memastikan
kemujaraban dan ketidakberbahayaan terhadap pasien. Hal ini lah yang
memunculkan hirarki Kedokteran Berbasis Bukti (Evidence Based Medicine).
Termasuk didalamnya bagaimana kita memandang suatu pengobatan atau
treatment.

(Disadur dari Kuliah Regulasi Obat Herbal, Prof. dr. Iwan Dwiprahasto, Ph.D)

Selain itu, dikenal juga tahapan-tahapan yang ketat baik secara metodologis
maupun etis dalam pengembangan obat baru. Secara metodologis, obat baru harus
melalui serangkaian proses yang panjang. Dimulai dengan Pencarian zat aktif,
Uji in Vitro, Uji prekliinis, Uji klinis 1,2,3, hingga 4. Diperkirakan hal ini bisa
mencapai satu decade lebih.

Padahal, perkembangan ilmu kedokteran dan berlanjutnya tradisi pengobatan


berjalan secara parallel. Akibatnya, hegemoni ilmu kedokteran pada akhirnya
menempatkan pengobatan tradisional sebagai Pengobatan Komplemen Alternatif
atau Complementary Alternative Medicine (CAM).
Meskipun demikian, penggunaan CAM, termasuk didalamnya penggunaan
tanaman obat atau herbal, justru mengalami peningkatan. Berdasarkan penelitian
Sosial Ekonomi Nasional, dikatakan bahwa dari tahun 1980 sampai tahun 2007,
penggunaan jamu meningkat dari 20% menjadi 49%.

Pengelompokan
Menurut Peraturan Kepala badan pengawas obat dan makanan Republik
indonesia Nomor : HK.00.05.41.1384. Obat bahan alam dikelompokkan menjadi
Obat tradisional; Obat herbal terstandar; dan Fitofarmaka.
Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan,
bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan
tersebut, yang secara turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan
berdasarkan pengalaman. Contohnya adalah jamu.
Obat herbal terstandar adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan
keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan bahan bakunya
telah di standarisasi. Contohnya lelap, Irma.
Fitofarmaka adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan
khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan uji klinik, bahan baku dan
produk jadinya telah di standarisasi. Contohnya stimuno, tensigard.

Beberapa masalah
1. Penggunaan bahan kimia obat melebihi dosis.
Tindakan ini sangat berbahaya dan diancam sanksi sebagai berikut:
Kegiatan memproduksi dan atau mengedarkan Obat Tradisional dan
Suplemen Makanan yang mengandung Bahan Kimia Obat, melanggar Undang
Undang Nomor23 tahun 1992 tentang Kesehatan dengan pidana penjara paling
lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp.100.000.000,- (seratus juta
rupiah) dan Undang Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan
Konsumen yang dapat dikenakan sanksi dengan pidana penjara paling lama 5
(lima) tahun dan atau denda paling banyak 2 (dua) miliar rupiah.

2. Kurangnya pelaporan efek samping


Pelaporan efek samping dari penggunaan obat sangat penting, terutama untuk
meningkatkan kewaspadaan akan terjadinya hal serupa di kemudian hari.
Termasuk juga obat herbal. Akan tetapi, banyak sekali faktor yang
mengakibatkan kurangnya pelaporan tersebut.
Beberapa diantaranya adalah keyakinan yang membudaya bahwa obat
tradisional aman dikonsumsi, dan jika terjadi efek samping yang
membutuhkan perawatan medis, masyarakat enggan melaporkan dan petugas
juga tidak melakukan pelacakan secara teliti.
3. Sama spesies, berbeda efek
4. Ketepatan dosis
5. Ketepatan waktu minum
Sama seperti obat pada umumnya, penggunaan pada waktu yang tidak tepat
justru bisa membahayakan. Seperti penggunaan kunyit pada saat awal
kehamilan yang dapat memicu keguguran dan cacat lahir.
6. Ketepatan penggunaan
Masing-masing obat herbal memiliki cara pemakaiannya masing-masing untuk
tujuan masing-masing. Kesalahan penggunaan obat dapat berbahaya.
Contohnya, pemanfaatan daun kecubung untuk mengatasi asma seharusnya
dihisap seperti rokok bukan diseduh dengan air lalu diminum.
7. Mitos/informasi yang menyesatkan
Banyak sekali mitos yang berkembang di masyarakat tentang obat herbal.
Biasanya dikatakan bahwa obat herbal bisa mengobati semua penyakit, tanpa
efek samping, dan lain sebagainya. Sehingga, informasi yang benar mengenai
obat herbal sangat penting untuk diketahui oleh masyarakat, terlebih lagi
tenaga medis.
8. Risiko interaksi obat herbal dengan obat yang lain
Masing masing obat herbal memilik zat aktif maupun metabolit sekunder. Zatzat tersebut bisa memiliki potensi interaksi dengan obat lain. Interaksi tersebut
bisa berupa hilangnya efek obat, meningkatnya efek obat, bahkan reaksi
keracunan. Salah satu contohnya adalah penggunaan ginseng bersama dengan
pbat antikoagulan (pengencer darah) yang dapat meningkatkan efek
antikoagulannya.

Jadi, bagaimana?
Masalah-masalah yang sudah disampaikan di atas merupakan hal-hal yang
harus diperhatikan. Baik masyarakat awam maupun tenaga kesehatan harus
selektif dalam memanfaatkan obat herbal.
Beberapa informasi yang harus diketahui adalah :
1. Apakah sudah memiliki bukti ilmiah yang cukup? Bagaimana
keamanannya?
Masyarakat harus mencari informasi atau menanyakan ke tenaga kesehatan
(dokter/apoteker) mengenai masalah ini.
2. Herbal yang baik adalah yang memiliki indikasi spesifik.
3. Nomor register bukan jaminan produk aman dikonsumsi
4. Jangan digunakan dalam jangka panjang
5. Tidak untuk penyakit parah
6. Awasi dan hentikan jika muncul efek samping.

Jahe
Zingiber officinale

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Monokotil
Commelinids
Ordo:
Zingiberales
Famili:
Zingiberaceae
Genus:
Zingiber
Spesies:
Z. Officinale
Nama binomial
Zingiber officinale

Deskripsi
Habitus
: herba, semsim, tegak,
tinggi 40-40 cm
Batang : semu, beralur, membentuk
rimpang, hijau
Daun : tunggal bentuk lanset, tepi
rata, ujng runcing, pangkal tumpul,
hijau tua
Bunga : majemuk, bentuk bulur,
sempit, ujung runcing, panjang 3-5
cm, lebar 1,5-2 cm, tangkai panjang 2
cm, hijau merah, kelopak bentuk
tabung, bergigi tiga, mahkota bentuk
corong
Buah

: kotak, bulat panjang, cokelat

Biji

: bulat hitam

Akar

serabut,

putih

kotor

(Hutapea, 198

Jahe dibedakan menjadi 3 jenis berdasarkan ukuran, bentuk & warna


rimpangnya. Umumnya dikenal 3 varietas jahe, yaitu :
1. Jahe putih/kuning besar atau disebut juga jahe gajah atau jahe badak :
Rimpangnya lebih besar & gemuk, ruas rimpangnya lebih menggembung
dari kedua varietas lainnya. Jenis jahe ini bias dikonsumsi baik saat
berumur muda maupun berumur tua, baik sebagai jahe segar maupun jahe
olahan.
2. Jahe putih/kuning kecil atau disebut juga jahe sunti atau jahe emprit :
Ruasnya kecil, agak rata sampai agak sedikit menggembung. Jahe ini selalu
dipanen setelah berumur tua. Kandungan minyak atsirinya lebih besar dari
pada jahe gajah, sehingga rasanya lebih pedas, disamping seratnya tinggi.
Jahe ini cocok utk ramuan obat-obatan, atau utk diekstrak oleoresin &
minyak atsirinya.
3. Jahe merah : Rimpangnya berwarna merah & lebih kecil dari pada jahe
putih kecil. sama seperti jahe kecil, jahe merah selalu dipanen setelah tua,
& juga memiliki kandungan minyak atsiri yg sama dengan jahe kecil,
sehingga cocok utk ramuan obat-obatan.

10

Budidaya
Jahe pada umumnya ditanam di tanah ringan atau yang mudah diolah seperti
tanah lempung berdebu, lempung dan liat berpasir yang mengandung bahan
organik atau humus. Tumbuh pada ketinggian sampai 900 m d.p.l., tergantung
pada klon yang ditanam. Umumnya dikenal 3 klon jahe yaitu jahe putih besar,
jahe putih kecil dan jahe merah. Tanaman diperbanyak dengan stek rimpang
dari tanaman yang sudah berumur 10-12 bulan. Tanah yang mengandung air
berlebihan tidak cocok untuk tanaman jahe sehingga harus diusahakan agar
tata pengairan baik.1,11)

Pemanfaatan
Kandungan kimia

Rimpang mengandung 0,6-3% minyak atsiri yang terdiri -pinen, fellandren,


borneol, camfen, limonen, Linalool, citral, nonilaldehid, desilaldehid,
metilheptenon, sineol, bisabolen, 1--kurkumen, farnesen , humulen, 60%
Zingiberen dan zingiberole menguap (zat pedas gingerol yaitu: (6)-gingerol 6085%; (4)-Gingerol; [8]-gingerol 5-15%, [10]-gingerol 6-22% (12)-Gengerol; (6)metilgingerdiol; Zogaol, Zingeron; (6)-Gingerdiol; (8)-Gingerdiol; (10)-Gingerdiol;
Diarilheptanoida, Diaryl-3-hidroksi-5-heptanon, aril-kurkumen, -bisabolon, (E)-farnesen.
Minyak atsiri Jahe yang tumbuh di Australia mengandung monoterpen sebagai
komponen mayoritas seperti camfor, -fellandren, geranial, neral,
linalool. Minyak atsiri jahe yang tumbuh di Vietnam terdiri dari 2/3 bagian
monoterpen dan 1/3 bagian sesquiterpenen. Sebagian komponen minyak atsiri
rimpang jahe adalah Zingiberen dan suatu seskuiterpen hidrokarbon. Aroma
minyak atsiri jahe disebabkan karena Zingiberol (suatu campuran isomer cis dan
trans eudesmol) (Hegnauer, 1986, Wagner, 1993). Komponen minyak atsiri
lainnya adalah suatu monoterpen hidrokarbon dan monoterpen alcohol seperti
-pinen, limonen, bondol (Chang et al., 1987)

Manfaat
Menurut buku Inventaris tanaman obat Indonesia (Depkes, 1996), rimpang jahe
berkhasiat sebagai pelega perut, obat batuk, obat rematik, penawar racun.
Pemanfaatan tersebut sudah banyak diteliti. Beberapa penelitian diantaranya

11

yang dilakukan oleh Marx et al. (2015) mengatakan bahwa jahe bermanfaat dalam
mengatasi mual dan muntah pada kondisi klinis yang bervariasi, termasuk saat
mual muntah yang diinduksi oleh kehamilan (Viljoen, 2014). Sedangkan untuk
obat rematik (Rheumatoif Arthritis) secara umum, jahe memiliki efek
antiperadangan. Hal itu sudah dibuktikan secara ilmiah pertama kali oleh Kuchi
dkk pada tahun 1982.
Kemanan penggunaan rimpang jahe juga sudah banyak diteliti. Secara umum,
rimpang jahe memiliki toksisitas rendah dan tidak memiliki efek samping. Akan
tetapi, diakatan bahwa memiliki efek antikoagulan karena mempengaruhi
trombosit (Tiran, 2012), selain itu, peggungaan pada kehamilan masih belum
disepakati. Beberapa penelitian mengatakan tidak merekomendasikan
penggunaan jahe, akan tetapi penelitian yang lain mengatakan bahwa tidak ada
efek buruk untuk kehamilan (Viljoen, 2014).
Akan tetapi, masih banyak hal yang belum diketahui seperti dosis maksimal, lama
pemberian, dan konsekuensi akibat over dosis, serta interaksi dengan obat.
Sehingga masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Berdasarkan buku inventaris tanaman obat Indonesia, Untuk pelega perut dipakai
15gr rimpang segar, dicuci, dibakar selama 15 menit, dimemarkan, diseduhn
dengan 1 gelas air panas, ditambah 1 sendok makan madu, diaduk, diminum
sekaligus.
Cara pemakaian di masyarakat
Mengobati masuk angin
Rimpang jahe jari, rimpang lempuyang wangi jari, rimpang bengle 1/3 jari,
rimpang cekur jari, adas sendok the, pulosari jari, gula-enau 3 jari, dicuci
dan dipotong-potong seperlunya, direbus dengan air bersih 4 gelas sehingga
hanya tinggal kira-kira nya. Sesudah dingin disaring lalu diminum 3 x sehari
gelas (Mardisiswojo et al., 1987).
Mengobati muntah-muntah
Rimpang jahe jari dicuci lalu diiris tipis-tipis, diseduh dengan air panas
cangkir dan madu 1 sendok makan suam-suam kuku diminum 2 x sehari
(Mardisiswojo et al., 1987).
Mengobati migran/pusing sebelah
Rimpang jahe jari, rimpang lempuyang pahit jari, rimpang cekur jari, adas
sendok teh, pulosari jari, dicuci lalu ditumbuk halus-halus, diramas dengan
air masak 4 sendok makan dan madu murni 2 sendok makan, diperas dan disaring
lalu diminum 3 x sehari masing-masing 2 sendok makan (Mardisiswojo et al.,
1987).

12

Pustaka
Chang H.M; But, P.P.H; 1987, Pharmacology and Application of Chinese Materia
Medica Vol. I The Chinese Medicinal Material Research Centre, The Chinese
University of Hongkong.
Hegnauer, R., 1986, Chemotaxonomie der Planzen., Band 7., Birkhauser Verlag,
Stuttgart
Hutapea, Johny Ria dkk. 2000. Inventaris Tanaman Obat Indonesia Jilid 1. Jakarta
: Balitbangkes Depkes RI.
Mardisiswojo, S. & Rajakmangunsu-darso, H., 1987. Cabe Puyang Warisan Nenek
Moyang, Balai Pusataka, Jakarta.
Wagner H; 1993, Pharmazeutische Biologie Drogen and Inhattsstoffe. 5 Aufl.
Gustav Fischer Verlag-Stuttgart, p.102.

13

Temu Lawak
Curcuma xanthorrhiza
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Upadivisi: Angiospermae
Kelas: Monocotyledonae
Ordo:
Zingiberales
Famili: Zingiberaceae
Genus: Curcuma
Spesies: Curcuma xanthorrhiza

14

Deskripsi
Terna berbatang semu dengan tinggi
hingga lebih dari 1 m tetapi kurang
dari 2 m. Batang semu merupakan
bagian dari pelepah daunyang tegak
dan saling bertumpang tindih[4],
warnanya
hijau
atau
coklat
gelap. Rimpang terbentuk dengan
sempurna dan bercabang kuat,
berukuran besar, bercabang-cabang,
dan berwarna cokelat kemerahan,
kuning tua atau berwarna hijau
gelap. Tiap tunas dari rimpang
membentuk daun 2 9 helai dengan
bentuk bundar memanjang sampai
bangun lanset, warna daun hijau
atau coklat keunguan terang sampai
gelap, panjang daun 31 cm 84 cm
dan lebar 10 cm 18 cm, panjang
tangkai daun termasuk helaian 43 cm 80 cm, pada setiap helaian dihubungkan
dengan pelepah dan tangkai daun agak panjang. Bunganya berwarna kuning tua,
berbentuk unik dan bergerombol yakni perbungaan lateral, tangkai ramping dan
sisik berbentuk garis, panjang tangkai 9cm 23cm dan lebar 4cm 6cm, berdaun
pelindung banyak yang panjangnya melebihi atau sebanding dengan mahkota
bunga. Kelopak bunga berwarna putih berbulu, panjang 8mm 13mm, mahkota
bunga berbentuk tabung dengan panjang keseluruhan 4.5cm, helaian bunga
berbentuk bundar memanjang berwarna putih dengan ujung yang berwarna
merah dadu atau merah, panjang 1.25cm 2cm dan lebar 1cm, sedangkan daging
rimpangnya berwarna jingga tua atau kecokelatan, beraroma tajam yang
menyengat dan rasanya pahit.

Budidaya
Bibit diperoleh dari perbanyakan secara vegetatif yaitu anakan yang tumbuh dari
rimpang tua yang berumur 9 bulan atau lebih, kemudian bibit tersebut ditunaskan
terlebih dahulu di tempat yang lembap dan gelap selama 2-3 minggu sebelum
ditanam[1]. Cara lain untuk mendapatkan bibit adalah dengan memotong rimpang
tua yang baru dipanen dan sudah memiliki tunas (setiap potongan terdiri dari 2-3
mata tunas), kemudian dikeringkan dengan cara dijemur selama 4-6

15

harTemulawak sebaiknya ditanam pada awal musim hujan agar rimpang yang
dihasilkan besar, sebaiknya tanaman juga diberi naungan[1].

Pemanfaatan
Kandungan Kimia
Rimpang ini mengandung 48-59,64 % zat tepung, 1,6-2,2 % kurkumin dan 1,481,63 % minyak asiri.
Manfaat
Di Indonesia satu-satunya bagian yang dimanfaatkan adalah rimpang temu lawak
untuk dibuat jamu godog. Dipercaya dapat meningkatkan kerja ginjal serta anti
inflamasi. Manfaat lain dari rimpang tanaman ini adalah sebagai obat jerawat,
meningkatkan nafsu makan, anti kolesterol, antiinflamasi, anemia, antioksidan,
pencegah kanker, dan antimikroba.
Menurut buku inventaris tanaman obat Indonesia, rimpang temu lawak berkhaisat
untuk pelancar ASI, penyebar badan, pelega perut, dan obat kejang. Kandungan
curcuminoid pada temu lawak secara ilmiah terbukti memiliki efek
antiperadangan (Joe et a., 2004), antioksidan (Jang et al., 2004), osteoarthritis
(Keris et al., 2005), pencegahan tukak lambung (Santosa et al.,, 1991), pelindung
sel liver (Santosa et al., 1995) dan antitumor (Huang et al., 1995).
Menurut buku Inventaris tanaman obat, untuk pelancar asi dipakai 20gr rimpang
segar, dicuci lalu diparut, diremas-remas, diperas dan disaring. Hasil saringan
ditambah 2 sendok makan madu, diaduk lalu diminum sehari dua kali sama
banyak pagi dan sore. Akan tetapi, belum ditemukan penelitian yang
membuktikan kegunaan tersebut. Penelitian yang ada hanya menyebutkan
penggunaan secara topikal/salep kulit untuk mengatasi gejala-gejala mastitis
(peradangan payudara) seperti nyeri, tegang dan kemerahan saat menyusui
(Asfhariani, 2014)

Pustaka
Hutapea, Johny Ria et al. 2000. Inventaris Tanaman Obat Indonesi. Jakarta :
Balitbangkes Depkes RI.
Afshariani, R, Farhadi, P, Ghaffarpasand, F, Roozbeh J. 2014. Effectiveness of
Topical Curcumin for Treatment of Mastitis in Breastfeeding Women: A
Randomized, Double-Blind, Placebo-Controlled Clinical Trial. Oman Med J.
2014 Sep; 29(5): 330334.

16

Tempuyung
Sonchus arvensis
Klasifikasi Ilmiah
Kingdom: Plantae
(unranked): Angiosperms
(unranked): Eudicots
(unranked): Asterids
Order:
Asterales
Family:
Asteraceae
Tribe:
Cichorieae
Genus:
Sonchus
Species:
S. arvensis
Binomial name
Sonchus arvensis L.

17

Deskripsi
Habitus
: herba, semusim, tinggi 1-2 m
Batang
: bersegi, berlobang, bergetah putih,
percabangan monopodial, hijau keputih-putihan.
Daun
: tunggal, bagian bawah membentuk roset
akar, bentuk lonjong dan lanset, tepi rata, ujung
merunving, pangkal bertoreh, panjang 5-50 cm, lber 510 cm, hijau
Bunga
: majemuk, bentuk malai, kelopak bunga
berbentuk lonceng, berbulu, tangkai panjang 8cm,
ihijau keputih-putihan, mahkota berbentuk jarum,
putih, kuning keputih-putihan
Buah
: kotak, berusuk lima, pnjang 4-4,5 mm,
berambut, hitam.
Biji
: kecil, bentuk jarum, hitam
Akar
: tunggang, putih kotor (Hutapea et al.,
2000)
Asal-usul
: Eropa dan Asia Barat Daya
Waktu berbunga : Januari Desember (Backer et al., 1968)

Distribusi
Di Jawa pada elevasi 50 - 2400 m dpl, daerah pertanian, lereng pengairan,
dinding teras bukit, aliran sungai, kebun the dan kina.
Keanekaragaman
Terdapat tipe-tipe tanah kapur, non kapur.
Sifat khas
Duduk daun roset, perbungaan komposit yang kuning, biji terbang angin (Backer
et al., 1968).

Pemanfaatan
Kandungan kimia
Daun Sonchus arvensis L. mengandung senyawa lipida (diasil galaktosilgliserol;
monoasilgalaktosil gliserol dan diasil digalaktosil gliserol); golongan flavonoid;
flavon (Apigenin-7-glikosida; Luteolin-7-glikosida; Luteolin-7-glukuronida;

18

Luteolin-7-rutinosida (sedikit); Aesculetin suatu golongan senyawa kumarin. Pada


jenis yang lain yaitu Sonchus macrocarpus ditemukan golongan sesqui-terpen
lakton, dengan tipe eudesmanolida dan guaianolida yang terdapat pada akar,
yakni Sonchucarpolide, 15-hidroksi-4b, 15-dihidroreinosin dan 15-hidroksi4b,15,11b,13-tetrahidroreinosin. Disamping itu pada daun Sonchus macrocarpus
ditemukan; Lupeil asetat, b-amirin, lupeol, sitosterol dalam bentuk aglikon,
glikosida, dan pinoresinol (Barua et al., 1983).
Efek biologi
Diuretik, litotriptik (Heyne, 1987)

Kegunaan di masyarakat
Umumnya digunakan untuk merangsang keluarnya air seni (diuretikum), juga
digunakan untuk melarutkan batu ginjal (litotriptik) (Heyne, 1987).
Untuk peluruh air seni/diuresis dipakai 25gt daun segar, direbus dengan 2 gelas
air selama 15 menit, setelah dingin disaring, airnya diminum sekaligus (Hutapea
et al.,, 2000).

Pustaka
Backer, C.A., And Bakhuizen, R.C.B., 1968, Flora of Java, Vol II & III, P.Noordhoff,
Groningen.
Baruah, P., Baruah, N., C., Sharma, R;P; Baruah JN; Kulanthaivel P, Herz. W., 1983,
"Monoacyl galactoglycerol from Sonchus arvensis", Phytochemistry, Vol 22, No.8,
p.1741-1744.
Heyne, K., 1987, Tumbuhan Berguna Indonesia, Jilid III (terjemahan), Yayasan
Sarana Wanjaya, Jakarta, p.1850.
Hutapea, Johny Ria et al. 2000. Inventaris Tanaman Obat Indonesi. Jakarta :
Balitbangkes Depkes RI

19

Kumis Kucing
Orhosiphon spicatus

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan
: Plantae
Divisi
: Spermatophyta
Upadivisi
: Angiospermae
(tidak termasuk)Eudikotil
Kelas
: Dicotyledon
(tidak termasuk) Asterids
Ordo
: Lamiales
Famili
: Lamiaceae
Genus
: Orthosiphon
Spesies:
O. aristatus
Nama binomial
Orthosiphon aristatus (Blume) Miq.

20

Deskripsi
Kumis kucing termasuk terna tegak, pada bagian
bawah berakar di bagian buku-bukunya dan
tingginya
mencapai
2
meter. Batang
bersegi empat agak beralur berbulu pendek
atau gundul.
Helai daunberbentuk bundar atau lojong, lanset,
bundar telur atau belah ketupatyang dimulai
dari pangkalnya, ukuran daun panjang 1 10 cm
dan lebarnya 7.5mm 1.5 cm. urat daun
sepanjang pinggir berbulu tipis atau gundul,
dimana kedua permukaan berbintik-bintik
karena adanya kelenjar yang jumlahnya sangat
banyak, panjang tangkai daun 7 29 cm. Ciri
khas tanaman ada pada bagian kelopak bunga
berkelenjar, urat dan pangkal berbulu pendek
dan jarang sedangkan di bagian yang paling atas
gundul. Bunga bibir, mahkota yang bersifat terminal yakni berupa tandan yang
keluar dari ujung cabang dengan panjang 729 cm, dengan ukuran panjang 13
27mm, di bagian atas ditutupi oleh bulu pendek berwarna ungu dan kemudian
menjadi putih, panjang tabung 10 18mm, panjang bibir 4.5 10mm, helai bunga
tumpul, bundar. Benang sari ukurannya lebih panjang dari tabung bunga dan
melebihi bibir bunga bagian atas. Buah geluk berwarna coklat gelap, panjang 1.75
2mm. 2.3. gagang berbulu pendek dan jarang, panjang 1 mm sampai 6 mm
(Hutapea, 2000).

Budidaya
Tumbuhan ini mudah diperbanyak dengan biji. Dalam 1 g biji berserat
mengandung 2.500 biji, sedang yang tanpa serat mengandung 3000 biji. Daya
kecambah biji cepat menurun, oleh karena itu akan lebih baik bila digunakan bijibiji yang baru (paling lama disimpan 1 bulan). Perbenihan perlu penyemaian agar
tidak terlalu banyak yang mati karena kekeringan, rusak oleh terik matahari,
terlalu basah atau lembab. Permukaan tanah persemaian dihaluskan dan
sebaiknya dilapisi pasir setebal 2-3 cm, kemudian ditutup dengan lembaran
plastik dan diberi atap pelindung. Jumlah benih yang diperlukan adalah 10 g tiap
m persegi. 4-5 hari setelah benih disebar merata akan tumbuh. Setelah benih
berumur 1 minggu, mulai diperjarang dan dicabut untuk dipindahkan ke lubang
sebesar pensil yang dibuat di permukaan bumbungan-bumbungan (tinggi 5 cm
dan berdiameter 3 cm) tanah yang telah dicampur dengan pupuk kandang yang
dibungkus dengan daun. Tiap bumbungan diisi 1 bibit. Pemeliharaan dilakukan
dengan penyiraman pagi dan sore, memperjarang bibit dan memusnahkan bagian

21

bibit yang mulai terserang penyakit. Setelah berumur 2 bulan, bibit dalam
bumbungan sudah cukup besar dan kuat untuk ditanam di kebun; dua minggu
sebelum ditanam bibit dalam bumbungan dipindahkan ke tempat yang lebih
terang untuk melatih tanaman terhadap terik sinar matahari. Ukuran bibit pada
waktu dipindahkan di kebun mencapai tinggi 3-5 cm, berdaun 4-5 helai, panjang
daun 5-10 cm, lebar 2-3 cm. Ditanam pada tanah yang kering atau tegalan pada
musim hujan. Penanaman pada musim kemarau akan berhasil bila dilakukan pada
tanah yang memungkinkan untuk diairi (sawah). Pengolahan tanah dilakukan
dengan mencangkul 2 kali atau menggarpu 1 kali, meratakan tanah dan membuat
saluran air di sekeliling petakan. Pda keadaan tanah yang kurang baik tata airnya
dicangkul lebih dalam, lalu dibuat bedengan atau guludan dibuat lubang-lubang
dengan jarak tanam 40-60 cm untuk ditanam bibit. Penanaman sebaiknya
dilakukan setelah lewat tengah hari, agar tidak cepat layu (dianjurkan diberi
naungan berupa daun atau batang pelepah pisang, terutama bagi bibt yang kurang
terlatih terhadap terik sinar matahari selama di bumbungan; naungan sementara
ini dilakukan selama 1-2 minggu). Pemeliharaan terdiri dari penyiraman atau
pengairan bila 2 hari tidak turun hujan, penyiangan dilakukan 3-5 kali,
pemupukan dilakukan pada umur 3 minggu dan bila perlu pada umur 8 minggu
setelah tanam (34 kg nitrogen tiap hektar, peningkatan hasil 14%), dan dilakukan
pemangkasan batang bunga agar daun dapat tumbuh lebih banyak. Pemanenan
pertama dilakukan pada umur 2 bulan setelah tanam, selanjutnya dilakukan setiap
0,5 bulan sampai 1 bulan sekali, sampai tanaman berumur 3-5 bulan setelah tanam
(Backer, 1968)

Pemanfaatan
Daun mengandung minyak atsiri 0,02-0,06% terdiri dari 60 macam sesquiterpens
dan senyawa fenolik. 0,2% flavonoid lipofil dengan kandungan utama sinensetin,
eupatorin, skutellarein, tetrametil eter, salvigenin, rhamnazin; glikosida flavonol,
turunan asam kafeat (terutama asam rosmarinat dan asam 2,3-dikaffeoil tartarat
), metilripariokromen A 6-(7,8-dimetoksi-2,2-dimetil [2H,1-benzopiran]-il),
saponin serta garam kalsium (3%) dan myoinositol.4,9,13) Hasil ekstraksi daun
dan bunga Orthosiphon stamineus ditemukan metilripariokromen A atau 6-(7,8dimetoksietanon) (Fujimoto et al., 1972).
Juga ditemukan senyawa golongan flavonoid.
- Sinensetin ( 5,6,7,3',4'- pentametoksi flavon )
-Tetrametilskutellarein (5,6,7,4'-tetra metoksi flavon)
-5-hidroks i 6,7,3',4' tetrametoksi flavone.
-Salvigenin (5-hidroksi-6,7,4'-trimetoksi flavon)
-Kirsimaritin (5,6-dihidroksi-7,4'-dimetoksi flavon)
-Pilloin (5,3-dihidroksi-7,4-dimetoksi flavon)
-Rhamnazin (3,5,4'-trihidroksi-7,3'-dimetoksi flavon) (Geurin et al., 1989)

22

Juga ditemukan 9 macam golongan senyawa flavon dalam bentuk aglikon, 2


macam glikosida flavonol, 1 macam senyawa kumarin, asam kafeat dan 7 macam
senyawa depsida turunan asam kafeat, skutellarein, 6-hidroksiluteolin, sinensetin
(Steenis, 1975)
Efek biologik
Efek diuretik telah dibuktikan dengan percobaan farmakologi dan uji klinis.
Diduga efek ini disebabkan oleh flavonoid, mesoinositol, minyak menguap, kalium
atau efek sinergis dari senyawa-senyawa tersebut. Kumis kucing juga dilaporkan
dapat menaikkan pengeluaran asam urat sehingga sering digunakan untuk obat
rematik dan gangguan ginjal karena asam urat.3,8,14) Dosis yang lazim digunakan
adalah 1 laki sehari 2,5 g daun yang direbus sehingga diperoleh cairan 1 cangkir.
Dilaporkan bahwa akar (kandungan g-piron) dapat digunakan pada diabetes.13)
Hasil penelitian lain terhadap Orthosiphon spicatus menyitir bahwa tidak
menutup kemungkinan golongan senyawa yang mempunyai efek antiradang
adalah flavonoid lipofil (Geurin et al., 1989)
Kegunaan di masyarakat
Secara tradisional daun kumis kucing digunakan untuk memperlancar keluarnya
air seni pada gangguan tanpa penyebab yang jelas, obat batu ginjal, tekanan darah
tinggi, encok dan kencing manis (Hutapea, 2000)
Cara pemakaian di masyarakat
Mengobati amandel
Daun kumis kucing genggam, dicuci dan direbus dengan air bersih 3 gelas
minum sehingga hanya tinggal kira-kira nya, sesudah dingin disaring lalu
diminum ( 3 x sehari gelas minum) (Mardisiswojo et al., 1965)
Mengobati encok
Daun kumis kucing genggam, dicuci lalu direbus dengan air bersih 4 gelas
sehingga hanya tinggal kira-kira nya, sesudah dingin disaring lalu diminum (3 x
sehari gelas) (Mardisiswojo et al., 1965)
Untuk diuretkum
25 gram daun segar atau yang sudah dikeringkan, direbus dengan 2 gelas air
selama 15 menit, terhitung setelah air mendidih. Hasil rebusan diminum sehari
dua kali 1/2 gelas pagi dan siang (Schneider, 1985)

23

Pustaka
Backer, C.A., & Bakhuizen, R.C.B., 1968, Flora of Java, Vol II & III, P.Noordhoff,
Groningen.
Fujimoto, Takunori, Tsuda, Yoshisuke, 1972,"Isolation of myo-inositol from
Kumis Kucing"., Yakugaku Zasshi, Vol. 92, N.8, p.1060-1061
Geurin J.C., Reveillere H.P., 1989, "Orthosiphone stamineus as a potent source of
methylripario chromene A"., J.Nat.Prod., Vol 52, No. 1, p.171-173
Mardisiswojo. S, Mangunsudarso R.H., 1965, Tjabe Pujang Warisan Nenek
Mojang, cetakan I, penerbit Prapantja., Jakarta., P.45
Schneider, G; 1985, Parmazeutische Biologie 2. Aufl. BI-Wissenschafts-verlag
Mannheim.
Hutapea. J.R, Sugati. S,., 1991, Inventaris Tanaman Obat Indonesia., Balitbang
Kesehatan., Departemen Kesehatan RI. Jakarta,
Van Steenis, C.G.G.J., 1975, Flora untuk anak sekolah Indonesia, P.T. Pradnya
Paramita, Jakarta.
Wahono, Sumaryanto, Peter Proksch, Victor Wray, Ludger Witte, Thomas
Hartmann, 1991, "Qualitative and Quantitative Analysis of the Phenolic
Constituents from Orthosiphone aristatus"., Planta Med., Vol 57, p.176-180.

24

Kunyit
Curcuma domestica
Sinonim : Curcuma domestica Rumph.;
Curcuma longasensu Val non L.
Klasifiasi
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Bangsa : Zingiberales
Suku : Zingiberaceae
Marga : Curcuma
Jenis : Curcuma domestica Val.

25

Deskripsi
Habitus berupa semak dengan tinggi 70
cm. Batang semu, tegak, bulat,
membentuk rimpang. Berwarna hijau
kekuningan. Daun tunggal, berbentuk
lanset memanjang. Helai daun tiga
sampai delapan. Ujung dan pangkal
daun runcing, tepi rata, panjang 20-40
cm, lebar 8-12 cm. Pertulangan daun
menyirip. Daun berwarna hijau pucat.
Bunga majemuk, berambut, bersisik.
Panjang tangkai 16-40 cm. Panjang
mahkota 3 cm, lebar 1cm, berwarna
kuning. Kelopak silindris, bercangap
tiga, tipis dan berwarna ungu. Pangkal
daun pelindung putih. Akar berupa akar
serabut dan berwarna coklat muda.
(Hutapea, 2000)

Budidaya
Kunyit tumbuh ditempat yang terbuka pada tanah ringan seperti lempung
berpasir, beriklim panas dan lembab, dengan curah hujan cukup sekitar 20004000 mm. Tanah diolah dengan membuat bedengan atau gundukan. Bibit yang
berupa rimpang tua ditanam sedalam 7,5 - 10 cm pada lubang yang dibuat dengan
cangkul, dengan jarak tanam 40 - 60 cm. Pemupukan dengan kalium oksida pada
umur 4 bulan. Pemeliharaan lain berupa menyulam, menyiang dan memperbaiki
tata air. Hama yang dikenal merusak adalah ulat Kerana diacles dan Udas
pesfolus. Jika rimpang kunyit disimpan di gudang, harus dijaga terhadap kumbang
Lasiodesma serricorne (Hutapea, 2000)

Pemanfaatan
Kandungan
Kunyit mengandung senyawa yang berkhasiat obat, yang disebut kurkuminoid
yang terdiri dari kurkumin , desmetoksikumin sebanyak 10% dan
bisdesmetoksikurkumin sebanyak 1-5% dan zat- zat bermanfaat lainnya seperti
minyak atsiri yang terdiri dari Keton sesquit-erpen, turmeron, tumeon 60%,
Zingiberen 25%, felandren , sabinen , borneol dan sineil. Kunyit juga mengandung

26

Lemak sebanyak 1 -3%, Karbohidrat sebanyak 3%, Protein 30%, Pati 8%, Vitamin
C 45-55%, dan garam-garam mineral, yaitu zat besi, fosfor, dan kalsium.
Efek biologik
Minyak atsiri mempunyai efek koleretik dan bakteriostatika, sedangkan
kurkuminoid bersifat kolekinetik (Tjitrosoepomo, 1994). Penelitian terhadap
ekstrak kunyit dalam etanol 50% yang diberikan pada kultur sel hepar yang telah
diberi karbon tetraklorida atau galaktosamin sebagai senyawa hepatotoksik
menunjukkan adanya perbaikan yang nyata (Liang, 1986). Kunyit diketahui pula
mempunyai efek sebagai anti radang, baik lokal maupun sistemik yang
ditimbulkan oleh curcuminoid Minyak atsiri kunyit mempunyai aktivitas anti
bakteri terhadap Eschericia coli dan anti jamur terhadap Candida albicans
(Schneider, 1990). Rimpang kunyit mempunyai efek antifertilitas pada tikus
karena adanya minyak atsiri dan kurkuminoid, sedangkan efek anti koagulan
disebabkan oleh kurkuminoid. Disamping itu kurkuminoid berefek sebagai anti
oksidan dan anti koagulan, sedangkan kandungan minyak atsiri turmeron dan arturmeron mempunyai aktivitas antiserangga (insect repellant). Rimpang kunyit
sendiri diketahui mempunyai efek anti botulinus (Zwaving, 1987).

27

Kegunaan di masyarakat
Rimpang kunyit digunakan secara tradisional untuk penambah nafsu makan
(misalnya pada ramuan kunir asem), peluruh empedu, obat luka dan gatal, anti
radang, sesak nafas, anti diare dan merangsang keluarnya angin perut, sebagai
obat luar digunakan sebagai lulur kecantikan dan kosmetika (Backer et al., 1965).
Rimpang berkhasiat sebagai obat demam, obat mencret, obat radang hidung dan
penurun panas (Hutapea, 2000). Secara umum rimpang kunyit digunakan untuk
stimulansia, pemberi warna masakan, dan minuman serta digunakan sebagai
bumbu dapur (Kiso et al., 1985)
Cara pemakaian di masyarakat
Mengobati sariawan
Rimpang kunyit jari dicuci bersih lalu dikunyah-kunyah dengan garam
seperlunya, sesudah halus lalu ditelan (3 x sehari) (Mardisiswojo, 1987).
Mengobati tekanan darah tinggi
Rimpang kunyit jari, dicuci bersih lalu diparut, diramas dengan madu 1 sendok
makan, diperas dan disaring lalu diminum (2-3 x sehari) (Mardisiswojo, 1987).
Pengobatan gabag/campak
Rimpang kunyit 2 jari, kaolin (tanah liat) putih sebesar buah duku, dicuci lalu
diparut, diramas dengan air hangat cangkir dan madu 3 sendok makan, diperas
dan disaring lalu diminum (3 x sehari masing-masing 2 sendok makan)
(Mardisiswojo, 1987).
Pengobatan demam
20gr rimpang segar, dicuci lalu diparut, ditambah gelas air matang kemudian
diperas. Hasil perasan diminum sehari dua kali sama banyak pagi dan sore
(Hutapea, 2000).

Pustaka
Backer G.A., and RCB. Bakhuizen, 1965, Flora of Java., Vol 2., P. Noordhoff,
Groningen., The Netherland.
Hutapea, Johny Ria et al. 2000. Inventaris Tanaman Obat Indonesi. Jakarta :
Balitbangkes Depkes RI

28

Kiso Y. Y. Suzuki, N. Watanabe, Y. Oshima, and H. Hikino, 1985,"Antihepatotoxic


principles of Curcuma longa Rhizomes"., dalam Proceeding Nasional
Temulawak., UNPAD., Bandung.
Mardisiswojo, S., & Rajakmangunsu-darso, H., 1987, Cabe Puyang Warisan Nenek
Moyang, Balai Pustaka, Jakarta.
Oei Ban Liang, 1986, "Efek Koleretik dan Antikapang Komponen Curcuma
xanthorrhiza Roxb, Curcuma domestica Val."., Kongres Ilmiah VI ISFI.,
Yogyakarta.
Schneider, G., 1990 Arzneidrogen (Ein Kompendium fur Pharmazeuten Biologen
und Chemiker)., B.I., -Wissenschaftsverlag., Manheim., P. 205
Tjitrosoepomo G; 1994, Taksonomi Tumbuhan Obat-obatan., Gadjah Mada
University Press. P.426-427.
Zwaving, J., 1987, Mid Career Training in Pharmacochemistry., Fakultas Farmasi
UGM, Yogyakarta.

29

Cabe
Capsicum annum
Scientific classification
Kingdom:
Plantae
(unranked):
Eudicots
(unranked):
Asterids
Order:
Solanales
Family:
Solanaceae
Genus:
Capsicum
Species:
C. annuum
Binomial name
Capsicum annuum

30

Deskripsi
Habitus

: perdu, tinggi 1m

Batang : berkayu, berbuku-buku


penampang persegu, bercabang,
batang mda berambut halus, hijau
Daun : tunggal, bulat telur sampai
elips, ujung dan pangkal meruncing,
tepi rata, panjang 5-10cm, kebar 25cm, pertulangan menyirip, tangkai
2,5 -4cm, hijau.
Bunga : tunggal, berbentuk bintang,
di ketiak daun, putih, kelopak bentuk
bintang, berbagi enam, panjang +1cm, bagian pangkal berlekatan,
hijau, benang sari enam, tangkai sari
2mm, putih, lepala sari bentuk
sendok, panjang 9mm, ungu, putik panjang +/- 5mm, putih kekuningan, mahkota
bentuk lingkaran, berbagi lima, putih.
Buah : buni, kerucut memanjang, lurus atau bengkok, menggantung, permukaan
licin mengkilat, diameter 1-2cm, panjang 4-17cm, bertangkai pendek, hijau atau
abu-abu, masih muda hijau tu setelah tua merah
Biji

: Pipih, diameter 4mm, masih muda kuning, setelah tua cokelat

Akar : tunggang, bulat, bercabang, putih (Hutapea, 2000)

Budidaya
Cabe merah merupakan salah satu komoditas pertanian paling atraktif. Pada saatsaat tertentu,
Kondisi iklim di Indonesia cocok untuk budidaya cabe dimana matahari bersinar
penuh. Tanaman ini bisa tumbuh dengan baik di dataran rendah hingga ketinggian
1400 meter dpl. Di dataran tinggi, cabe masih bisa tumbuh namun produksinya
tidak maksimal.
Suhu yang optimal untuk pertumbuhan cabe merah, antara 24-28 derajat Celcius.
Pada suhu yang terlalu dingin dibawah 15 atau panas diatas 32 pertumbuhan akan

31

terganggu. Cabe bisa tumbuh pada musim kemarau asal mendapatkan pengairan
yang cukup. Curah hujan yang dikehendaki berkisar 800-2000 mm per tahun
dengan kelembaban 80%.

Pemanfaatan
Buah berkhasiat sebagai obat rematik, obat sariawan dan obat pilek, juga sebagai
penambah nafsu makan dan bumbu masak.
Untuk obat rematik dipakai 10gr serbuk buah, diseduh dengan gelas air panas,
diaduk sampai rata lalu diamkan beberapa menit. Hasi seduhannya dibalurkan
pada bagian yang sakit

32

Cabe Jawa
Piper retrofractum
Suku : Piperaceae
Sinonim : Chavica labilardierei Miq.
Chavica maritima Miq.
Piper officinarum (Miq.) DC.
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan
: Plantae
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida
Ordo
: Piperales
Famili
: Piperaceae
Genus
: Piper
Spesies
: P. retrofractum
Nama binomial
Piper retrofractum Vahl.

33

Deskripsi
Perawakan:
semak
memanjat,
ujung
menggantung, 2 - 10 m. Batang: bulat, berakar
pelekat di setiap buku yang membenjol, jarang
merayap, tajuk di atas pohon lain atau dinding
tua. Daun: tunggal, bertangkai, duduk berseling,
bentuk bulat telur - bulat memanjang, pangkal
jantung - tumpul - pasak, meruncing, gundul,
permukaan bawah dengan kelenjar bening rapat,
0,5 - 20 x 3.5 - 13 cm, tangkai 0,5 - 3 cm. Bunga:
bulir, tegak atau patent, tangkai 0,75 - 2 cm, daun
pelindung oval - bulat telur, 1,5 - 2 cm,
menguning. Bulir jantan: 2,5 - 8,5 cm, kepala putik
2 - 3, pendek, tumpul, tetap. Buah: berlekatan
dengan tangkai atau daun pelindung, membulat
lebar, merah terang. Biji: diameter 2 - 2,5 mm
(Hutapea, 2000)
Waktu berbunga : Januari - Desember
Distribusi : Di Jawa pada elevasi 1 - 600 m.dpl, di tanam di tanah kering berpasir.
Sifat khas : Warna buah. (Backer, 1968)

Budidaya
Untuk memperbanyak digunakan biji atau stek batang. Sama halnya dengan Piper
yang lain, maka untuk pengadaan stek bibit diambil dari batang yang tidak terlalu
tua dan tidak terlalu muda. Metode pengambilan stek bisa menggunakan 7 ruas
atau stek 1 ruas berdaun satu. Tumbuhan ini memerlukan rambatan, dan pohon
rambatan yang sering digunakan oleh masyarakat adalah pohon turi (Sesbania
grandiflora) atau juga pohon gamal (Glyricidia sp.). Media stek yang dipakai adalah
tanah yang gembur dan tidak berlempung, lingkungan stek harus lembab, namun
tidak becek, pembuangan kelebihan air perlu di perhatikan. Usahakan stek daun
tidak terkena sengatan panas matahari langsung, perlu diberi naungan atap atau
sejenisnya. Penyakit yang sering dijumpai ialah Cephaleuros virescens, suatu
ganggang yang dapat menimbulkan bercak-bercak pada daun dan ranting dan
dapat menggugur-kannya (Rismunandar, 1983)

Pemanfaatan
Kandungan kimia
Buahnya mengandung minyak atsiri 0,6-0,7%. Di samping itu, terdapat pula
alkaloid (piperin) dan suatu senyawa amida yang mirip dengan senyawa yang
terkandung dalam Piper longumin yaitu piplartin, piplasterin dan sesamin. Pada
bagian batang dapat ditemukan pula harsa, piperin, piplartin, triakontan dan

34

22,23-dihidro-stigmasterin. Rimpang mengandung piperin, 0,2-0,25%


piperlongumin dan lebih kurang 0,002% piperlonguminin (Hegnauer, 1966)
Senyawa yang memberikan rasa pedas adalah Piperin, 5-(3,4-dioksimetlene
fenil)-2-trans, 4-trans; dan bentuk asam pentadienoik yakni Piperidida. Senyawasenyawa homolognya, seperti Piperittin (trienoik), Piperanin (monoenoid) dan
Piroperine (analog dengan pirolidin) dilaporkan hanya memberikan rasa pedas
yang amat lemah atau bahkan tidak memberi rasa pedas (Atal dan Kapur, 1982).
Di bidang industri makanan digunakan sebagai bahan penambah rasa pedas pada
minuman keras. Di bidang industri pestisida digunakan sebagai insektisida,
karena piperin diketahui lebih poten terhadap lalat dibanding piretrum, dalam hal
ini 0,05% piperin dan 0,01% piretrum diketahui lebih poten dibanding 0,10%
piretrum tunggal (Stecher Ed., 1985)
Efek biologik
Piplartin mempunyai efek sebagai pereda batuk. Sifat estrogen yang menginduksi
aktivitas alkalin fosfatase pada proses pematangan endometrium kelinci dihambat
dengan pemberian sari buah dan akar Piper retrofractum Vahl.
Daun dan atau akar tidak menunjukkan aktivitas sebagai antifertilitas pada tikus
putih dan mencit.
Buahnya menghambat perkembangan janin pada tikus betina yang hamil, juga
memperpanjang fase estrus siklus vaginal pada tikus dan babi. Sari buah / biji
memiliki aktivitas antifertilitas pada tikus (Atal dan Kapur, 1982).
Kegunaan di masyarakat
Sebagai bahan obat pada penyakit de-mam, persalinan kurang lancar, mulas,
kejang perut, kolik, beri-beri, keringat tidak keluar, lemah syahwat, daunnya untuk
obat kumur (radang mulut), akarnya untuk mengurangi rasa sakit pada radang
gusi (Sastrapradja, 1978).

Pustaka
Atal CK., & BM. Kapur, 1982, Cultivation and Utilization of Medicinal Plants.,
Regional Research Laboratory., Council of Scientific & Industrial Research.,
Jammu-Tawi., India., P.576
Backer, C.A., And Bakhuizen, R.C.B., 1968, Flora of Java, Vol II & III, P.Noordhoff,
Groningen.
Hegnauer, R., 1966, Chemotaxonomic der Pflanzen, Band V, Birkhauser Verlag,
Stuttgart, p.314-316
Hutapea, Johny Ria et al. 2000. Inventaris Tanaman Obat Indonesi. Jakarta :
Balitbangkes Depkes RI

35

Mardisiswojo. S, Mangunsudarso R.H., 1965, Tjabe Pujang Warisan Nenek Mojang,


cetakan I, penerbit Prapantja., Jakarta., p.65
Rismunandar, 1993, Lada: Budidaya dan Tata Niaganya., Panebar Swadaya.,
Jakarta
Sastrapradja S., M. Asy'ari, E. Djajasukma, E. Kasim, I. Lunis, S.H. Aminah L., 1978,
Tumbuhan Obat., Lembaga Biologi Nasional., LIPI., Bogor., p.77.
Stecher P.G. (Editor), 1968, The Merck Index : an Encyclopedia of Chemicals and
Drugs., Merck & Co, Inc, USA., P.822-823.

36

Bawang Merah
Allium cepa
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Liliopsida
Ordo: Asparagales
Famili: Amaryllidaceae
Genus: Allium
Spesies: A.cepa
Nama binomial Allium cepa

37

Deskripsi
Perawakan: herba annual (2-3 bulan),
tinggi 0,2 - 0,5 m. Batang: kecil, 0,5 - 1 cm.
Daun: Tunggal lebih pendek dari tangkai
karangan bunga, roset akar, pelepah
pangkalnya membentuk umbi lapis, di
bawah tanah, helaian daun bentuk
silindris-berongga (tistular) 0,3 - 0,4 m,
berlilin, putih, urat daun sejajar, 14 - 19
buah, pelepah diatas umbi membentuk
batang semu. Umbi lapis bulat telur,
bulat, bulat pipih, putih, coklat
kekuningan,
merah
atau
ungu
kemerahan.
Bunga: susunan majemuk payung,
sederhana, 1-3 daun pelindung (spathe),
seperti selaput. Tangkai bunga: rata-rata
3 kali panjang perhiasan, sering lebih.
Tenda bunga (perhiasan): 6 daun tenda
bunga , bebas, bentuk bulat telur - bulat
memanjang, tumpul, dengan garis
median hijau - putih kehijauan atau ungu, 0.4 - 0.6 cm.
Benang sari: 6, tertancap di pangkal perhiasan, tangkai sari berbentuk paku
dengan pangkal melebar, 3 lingkaran dalam pangkal sangat melebar, kepala sari
agak
tergoyang.
Putik: bakal buah menumpang, duduk, 3 ruang, per-ruang 2 biji, tangkai putik
seperti rambut, kepala putik 3 bagian. Buah: tiga bagian (lobus), 3 sekat.
Biji : hitam .
Asal -usul : Asia bagian barat
Waktu berbunga : Januari, April, Agustus, Oktober (Backer, 1968)

Budidaya
Daerah distribusi, Habitat dan Budidaya
Di Jawa di tanam pada elevasi 1000 - 1800 m dpl. Tetapi banyak budidaya di
dataran rendah (5 - 100 m dpl.) Bawang merah termasuk jenis tanaman yang tidak

38

menyukai air hujan, tidak suka tempat-tempat yang airnya menggenang dan
becek, tetapi pada pertumbuhannya, tumbuhan ini membutuhkan banyak air,
terutama pada masa pembentukan umbi dan perlu lingkungan yang beriklim
kering, suhu yang hangat. Karenanya tanaman ini paling cocok ditanam di musim
kemarau dengan sistem pengairan yang memadai.
Bibit yang lazim dipakai adalah dari umbi. Dipilih umbi yang berasal dari tanaman
yang sehat, subur dan cukup tua (umur 2,5-3 bulan). Umbi yang terpilih tidak
boleh langsung ditanam, perlu disimpan beberapa waktu (minimal 2 bulan dengan
penyimpanan yang baik). Untuk menandai bahwa umbi bibit sudah siap tanam,
maka di ujung-ujungnya sudah mulai terlihat warna hijau dari bakal pertumbuhan
tunas. Sebelum ditanam, hilangkan dulu bagian kulit terluar dari umbi bibit, juga
sisa-sisa akarnya yang masih ada, kemudian kira-kira seperempat bagian ujung
dari umbi disayat dengan pisau (tetapi bila tunasnya sudah menyembul keluar,
tidak perlu dilakukan penyayatan umbi). Lalu ditunggu beberapa saat hingga
bekas sayatan mengering, baru ditanam. Bibit ditanam di tanah gembur yang
sudah dipersiapkan (dalam bentuk bedeng-bedeng berparit) dalam jarak 15x20
cm.
Budidaya
Bawang merah termasuk jenis tanaman yang tidak menyukai air hujan, tidak suka
tempat-tempat yang airnya menggenang dan becek, tetapi pada pertumbuhannya,
ia membutuhkan banyak air, terutama pada masa pembentukan umbi dan perlu
lingkungan yang beriklim kering, suhu yang hangat. Karenanya tanaman ini paling
cocok ditanam dimusim kemarau dengan sistem pengairan yang memadai. Bibit
yang lazim dipakai adalah dari umbi. Dipilih umbi yang berasal dari tanaman yang
sehat, subur dan cukup tua (umur 2,5-3 bulan). Umbi yang terpilih tidak boleh
langsung ditanam, perlu disimpan beberapa waktu (minimal 2 bulan dengan
penyimpanan yang baik). Untuk menandai bahwa umbi bibit sudah siap tanam,
maka di ujung -ujungnya sudah mulai terlihat warna hijau dari bakal pertumbuhan
tunas. Sebelum ditanam, hilangkan dulu bagian kulit terluar dari umbi bibit, juga
sisa-sisa akarnya yang masih ada, kemudian kira-kira 1/4 bagian ujung dari umbi
disyat dengan pisau (tetapi bila tunasnya sudah menyembul keluar, tidak perlu
dilakukan penyayatan umbi). Lalu ditunggu beberapa saat hingga bekas sayatan
mengering, baru ditanam. Bibit ditanam di tanah gembur yang sudah dipersiapkan
(dalam bentuk bedeng-bedeng berparit) dalam jarak 15 X 20 cm. Yang perlu
dilakukan secara periodik selama pemeliharaan tanaman adalah:
1. pengapuran tanah: Ini untuk menjaga keasaman tanah (pH tanah dijaga
sekitar 6,0 - 7,0).
2. penyiangan dan penggemburan tanah.
3. pemupukan: paling baik digunakan kombinasi pupuk organik dan pupuk
kandang, kompos.
4. pemberantasan gulma, hama dan penyakit.
5. Pemberian stimulan (misalnya Atonik, Metalik atau Gandasil, Vitabloom
dan sebagainya) (Singgih, 1994).

39

Pemanfaatan
Kandungan kimia
Bawang merah mengandung minyak atsiri yang terdiri atas dialilsulfida,
propantiol-S-oksida, S-Alil-L-Sistein-sulfoksida atau Aliin, prostaglandin A-1,
difenilamina dan sikloaliin, metilaliin, dihidroaliin, kaemferol dan foroglusinol.
(Paris, 1981).
Umbi bawang merah mengandung senyawa turunan asam amino yang
mengandung sulfur yaitu Sikloalliin 2%, propilalliin dan propenilalliin. Bila sel-sel
umbi pecah senyawa tersebut akan berubah menjadi bentuk ester ( ester asam
tiosulfinat), sulfinil disulfida (Kepaen), disulfida dan polisulfida, begitu juga tiofen.
Di samping itu terbentuk pula propantial-S-oksida (suatu senyawa yang dapat
menyebabkan keluarnya air mata). Disamping turunan asam amino, ditemukan
pula adenosine dan prostaglandin (Schneider, 1985)
Aliin (S-Allil-L-sistein sulfoksida), C6H11NO2S selain terkandung dalam Bawang
Merah juga terkandung dalam Bawang putih (Allium sativum L.) dan jenis-jenis
Allium lainnya. Senyawa ini berupa hemihidrat yang tidak berwarna
C6H11NO2S.H2O bentuk jarum tumpul yang diperoleh dari hasil rekristalisasi
menggunakan pelarut aseton. Jarak leburnya 164-1660C (dengan mengeluarkan
gas), praktis larut dalam air. Tidak larut dalam etanol mutlak, kloroform, aseton,
eter dan benzena. Senyawa ini memiliki potensi sebagai antibakteri dan segera
akan terurai oleh pengaruh enzim Allinase dengan mengeluarkan bau bawang
yang khas (Schneider, 1985).
Analisis Kandungan Gizi
Dari 100 gram umbi Allium cepa L.
dilaporkan mengandung (Selveron, 1989):
Efek biologi Dari penelitian yang sudah
banyak dilakukan diketahui bahwa bawang
merah mempunyai efek antidiabetik dan
anti aterosklerotik yaitu menurunkan
kadar gula dan lemak darah, menghambat
aggregasi
trombosit,
meningkatkan
aktivitas fibrinolitik serta memobilisir
kolesterol dari depositnya pada lesi
aterosklerosis hewan uji. Efek hipoglikemik
dan hipolipidemik bawang merah telah
dibuktikan pula pada pasien dengan

40

diabetes melitus yang terawat baik dengan kombinasi obat anti diabetik oral dan
bawang merah 3 kali 20 gram setiap hari selama 7 hari dibandingkan dengan
tanpa kombinasi dengan bawang merah selama 7 hari. Penurunan kadar gula
darah penderita yang mendapat bawang merah sebesar 10,72 mg% (Pikir, 1981).

Komponen yang diduga mempunyai efek hipoglikemik ialah senyawa amino


(difenilamin) dan senyawa yang berupa sulfida (allilpropil-disulfida). Umbi
bawang merah memiliki efek ekbolik (memacu kelahiran janin) pada tikus putih
dan mencit dan pada dosis besar cenderung bersifat sebagai abortivum pada
binatang percobaan tersebut. Ekstrak Bawang dapur (bawang bombay) berefek
seperti ekstrak bawang putih, yaitu sebagai fibrinolitik, menurunkan kholesterol
dan trigliserida. Disamping itu dapat pula berefek sebagai antiasma. Potensi
antiasma tersebut disebabkan dari ester asam tisulfiniat yaitu dengan
menghambat proses timbulnya asma (menekan pengaruh alergen), sedangkan
pada penurunan timbulnya trombus disebabkan karena menghambat terjadinya
penggumpalan trombosit spontan. Pada penggunaan per-oral perasan Allium
cepa dapat menurunkan kadar gula darah binatang percobaan maupun
sukarelawan (Karawya et al., 1984)
Pada pengenceran allisin 1:100.000 masih mempunyai aktivitas menghambat
pertumbuhan mikroba Gram(+) dan Gram(-) (1 mg allicin setara dengan 10 g
penisillin) (Wagner, 1993).
Kegunaan di masyarakat
Secara tradisional umbi lapis bawang merah digunakan untuk peluruh dahak
(obat batuk), obat kencing manis, memacu enzim pencernaan, peluruh haid,
peluruh air seni dan penurun Ana (Hutapea, 2000). Seperti halnya bawang putih,
digunakan dalam upa-ya penyembuhan gangguan pencernaan, demam, dan
aterosklerosis.11)
Cara pemakaian di masyarakat
Untuk mengobati influenza :
Bawang merah 2 butir, daun kaki-kuda 9 lembar, daun meniran 10 lembar,
rimpang caekur 2 jari, temu lawak 1 jari, gula-enau 3 jari, dicuci dan dipotongpotong seperlunya, direbus dengan air bersih 3 gelas sehingga hanya tinggal kirakira 3/4nya, sesudah dingin disaring lalu diminum (3 x sehari sebanyak yang
diperlukan)

41

Untuk mengobati sariawan :


Bawang merah 3 butir, belimbing buluh 3 buah, buah pala yang masih muda 1
buah, daun sariawan 10 lembar adas 3/4 sendok the, pulosari 3/4 jari, dicuci lalu
ditumbuk halus-halus, diramas dengan minyak ..3 sendok makan, diperas dan
disaring, untuk melumas luka-luka yang disebabkan oleh penyakit sariawan (3-6
x sehari).
Untuk mengobati batuk :
Bawang merah 8 butir, buah kapulogo 3 buah, kelengkeng 3 buah, daun kaki kuda
1/3 genggam, daun jintan 1/4 genggam, rimpang cekur 2 jari, rimpang halia 1 jari,
dicuci dan dipotong-potong seperlunya, direbus dengan air bersih 3 gelas
sehingga hanya tinggal kira-kira 1/2nya, sesudah disaring lalu diberi madu murni
4 sendok makan dan diminum (3 x sehari 1/2 gelas).
Untuk mengobati masuk angin:
Bawang merah 8 butir, dicuci dan ditumbuk halus-halus, diramas dengan air kapur
sirih seperlunya untuk menggosok tulang punggung, tengkuk, perut dan kaki (1-2
x sehari masing-masing sebanyak yang diperlukan).

Pustaka
Atal, CK., & BM, Kapur., 1982, Cultivation and Utilization of Medicinal Plants,
Regiolan Research Laboratory., Council of Scientific & Industrial Research,
Jammu-Tawi, India, p.561.
Backer, C.A. and Bakhuizen, R.C.B., 1968, Flora of Java, Vol II & III, P.Noordhoff,
Groningen.
Karawya, M.S., and Wahab, S.M., 1984, "Diphenylamine, an antihyperglycemic
agent from onion an tea", J.Na. prod, p. 775
Paris, R.R., Moyse M.H., 1981, Matiere Medicale Tome II, Masson, Paris, p. 61-63
Pikir, B.S., 1981, "Pengaruh brambang terhadap kadar gula dan lemak darah pada
penderita diabetes melitus"., Laporan Penelitian, Universitas Airlangga,
Surabaya.
Salveron, M. J., Cantoria, M.C., 1989, "Studies on the Extracts of two Phillippine Grown Cultivars of Allium cepa", Planta Med, 55, p. 662

42

Schneider, G., 1985, Pharmazeutische Biologie 2. Aufl. BI-Wissenschaftsverlag


Mannheim, p.383-385.
Singgih, W., 1994, Budidaya Bawang : Bawang Putih, Bawang Merah, Bawang
Bombay, Panebar Swadaya, Jakarta, p. 85-135.
Stecher P.G., (Editor), 1968, The Merck Index: an Encyclopedia of Chemicals and
Drugs, Merck & Co. Inc. USA., p. 31-32.
Wagner. H., 1993. Plant Drugs Analisys, Springer Verlag, Berlin, p. 110-111.

43

Bawang putih
Allium sativum
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas:
Liliopsida
Ordo:
Asparagales
Famili: Alliaceae
Upafamili: Allioideae
Bangsa: Allieae
Genus: Allium
Spesies: A. sativum
Nama binomial Allium sativum

44

Deskripsi
Suku : Liliaceae
Perawakan: herba annual (2-4 bulan), tegak, 30 - 60
cm.
Batang : kecil (corpus), 0.5 - 1 cm.
Daun : bangun garis, kompak, datar, lebar 0.4 - 1.2 cm,
pangkal pelepah membentuk umbi, bulat telur
melebar, anak umbi Bersudut, di bungkus oleh selaput
putih, pelepah bagian atas membentuk batang semu.
Bunga : susunan majemuk payung sederhana, muncul
di setiap anak umbi, 1-3 daun pelindung, seperti
selaput.
Tenda bunga (perhiasan) : 6 daun, bebas atau berlekatan di pangkal, bentuk
memanjang, meruncing, putih-putih kehijauan-ungu (Hutapea, 2000).
Asal - usul : Asia daratan
Daerah distribusi
Di Jawa di budidaya di dataran tinggi 1000 - 200 m dpl.
Keanekaragaman
Variasi morfologi kecil (sempit), hanya terjadi pada ukuran organ.
Ada beberapa varietas bawang putih yang tumbuh di Indonesia, antara lain
varietas unggul Lumbu Hijau, Lumbu Kuning, Ilocos, Gombloh, Layur dan lain-lain.
Sifat khas
Daun 8 - 10 helai, pelepah membungkus membentuk batang semu, pangkal membungkus anak-anak umbi lapis, di setiap anak umbi memiliki tunas vegetatif
(Backer, 1968)

Budidaya
Yang digunakan sebagai bibit bukan seluruh umbinya, namun hanya siungnya saja.
Menjelang ditanam, sekitar 1-2 hari, umbi dijemur beberapa jam, lalu dipecahpecah menjadi siung, usahakan agar kulit siung tidak ikut terkelupas, kemudian
dipilah-pilah berdasar atas keseragaman ukuran siung. Bagian ujung kulit siung
umumnya mengering dan menutupi lubang tempat lewatnya tunas pertama, maka

45

untuk mempercepat dan mempermudah keluarnya tunas pertama perlu daerah


tersebut disayat sekitar 1/8 - 1/5 bagian.
Tanah yang dipersiapkan adalah dalam ben-tuk bedeng berparit yang telah
digemburkan, serta telah diolah dengan pemberian pupuk dasar dan pengapuran
(bagi lahan yang terlalu asam). Jarak tanam bisa 10 x 10 cm sampai 15 x 10 cm
tergantung luas lahan, semakin jarang semakin baik, tetapi menurut pengalaman,
dengan jarak tanam 15 x 15 cm ternyata tidak menghasilkan panen yang lebih baik
dibanding 15 x 10 cm.
Bibit-bibit yang pertama kali ditanam perlu ditaburkan tanah halus di atasnya dan
lalu bedeng dinaungi dengan jerami kira-kira setebal 3 cm. Jagalah kelembaban
jerami dengan cara menyiram air sekedarnya (jangan terlalu basah, asal lembab
sudah cukup). Pemeliharaan selanjutnya sama dengan yang dilakukan pada
bawang merah, meliputi pengairan, penyiangan, penggemburan tanah,
pemupukan, pencegahan dan pemberantasan hama-penyakit. Juga kadang-kadang
(apabila dianggap perlu) perlu dilakukan penjarangan tanaman (Singgih, 1994)

Pemanfaatan
Kandungan kimia
Untuk kepentingan pengobatan, tanaman Allium sativum L. telah banyak
dibudidayakan di berbagai negara. Senyawa karakteristik yang terkandung di
dalamnya adalah turunan sicstein yang berkaitan erat dengan senyawa g-glutamil
dipeptida.
Bawang putih mengandung 0,2% minyak atsiri yang berwarna kuning kecoklatan,
dengan komposisi utama adalah turunan asam amino yang mengandung sulfur
(aliin, 0,2-1%, dihitung terhadap bobot segar). Pada proses destilasi atau
pengirisan umbi, aliin berubah menjadi alisin. (Eckner, 1993)
Kandungan yang lain adalah alil sulfida dan alil propil disulfida, sejumlah kecil
polisulfida, alil divinil sulfida, alil vinil sulfoksida, trans-Ajoen-2-vinil-[4H]-1,3ditiin, metil-aliltrisulfida, cis-Ajoen, 3-vinil-[4H]-1,2-ditiin, Dialiltrisulfida,
adenosin. Kadar Alliin sangat tergantung dari penyiapan simplisia (pada cara
penyiapan simplisia yang kurang baik, maka 1/4 bagian aliin akan mengalami
perubahan).5) Bobot jenis minyak atsiri bawang putih berkisar antara 1,0461,057. alisin adalah senyawa yang memberikan bau khas bawang putih. Bawang
putih juga mengandung saponin, tuberholosida, dan senyawa fosforus (0,41%)
(Atal dan Kapur, 1982),

46

Senyawa lain yang terkandung di dalam bawang putih adalah alistatin I, alistatin
II, garlisin, alil-2-propen-1-tisulfinat dan alkil-tisulfinat.
Aliin atau S-Alil-L-sistein sulfoksida C6H11NO2S, selain terkandung dalam
bawang putih juga terkandung dalam bawang merah (Allium cepa L.) dan jenisjenis Allium lainnya. Senyawa ini berupa hemihidrat yang tidak berwarna
C6H11NO2S. H2O bentuk jarum tumpul yang diperoleh dari hasil rekristalisasi
mengguna-kan pelarut aseton. Jarak leburnya 164-1660C (dengan mengeluarkan
gas), praktis larut dalam air. Tidak larut dalam etanol mutlak, kloroform, aseton,
eter dan benzena. Aliin memiliki dua pusat asimetrik, hingga secara teoritis
memiliki empat isomer, dua diantaranya diturunkan dari L-Sistein dan D-Sistein
alami. Keempat isomer tersebut seluruhnya telah dapat disintesis, dan salah satu
yang identik dengan aliin alami adalah (-)-S-alil-L-sistein sulfoksidaSenyawa ini
memiliki potensi sebagai antibakteri. Pemberian perlakuan enzim alinase atau
juga disebut aliinase (yaitu enzim yang sangat spesifik terhadap aliin), akan segera
memecah aliin menjadi alisin, asam piruvat dan amonia. Sebenarnya alisin bebas
inilah yang berdaya sebagai anti bakteri.
Alisin C6H10OS2 memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Alisin ini juga terkandung
dalam bawang merah. Berbentuk cairan dengan bau yang khas bawang putih.
Bersifat mengiritasi kulit, bila direbus atau disuling akan mengalami dekomposisi.
Indeks biasnya 1,561 (20oC), bobot jenis 1,113 (20oC). Kelarutan dalam air 2,5%
w/w (10oC). pH sekitar 6,5. Dapat campur dengan alkohol, eter, dan benzena.
Alisin merupakan senyawa yang tidak stabil, adanya pengaruh panas air, oksigen
udara dan lingkungan basa, Alisin akan berubah menjadi senyawa polisulfida,
dialildisulfida (yang menimbulkan bau tidak enak). Alisin stabil dalam lingkungan
asam.

Analisis Kandungan Gizi


Dari 100 gram umbi Allium sativum L. mengandung:
Kandungan
Air
Kalori
Protein
Lemak
Karbohidrat
Serat
-Carotene
Tiamin (Vit B1)

Jumlah
61-68 %
122 kal
3,5-7 %
0,3 %
24-28 %
0,7 %
Sangat sedikit
Sedikit
Sedikit

Riboflavin (Vit
B2)
Niasin
Asam
askorbat (Vit C)
Kalsium
Kalium
Natrium
Zat besi
Fosfor (sbg P2O5)

Sedikit
Sedikit
28,00 mg
377,00 mg
16,00 mg
1,50 mg
109,00 mg

47

Efek biologi
Air perasan bawang putih bersifat meningkatkan methemoglobin dalam darah,
dapat menurunkan tekanan darah tinggi dan dapat menurunkan kadar kolesterol
dalam darah. Sari etil eter dari serbuk bawang putih yang telah dikeringkan
memiliki aktivitas mengendalikan kadar gula darah pada kelinci puasa yang diberi
perlakuan glukosa. Bawang putih segar juga memiliki aktivitas penurunan kadar
gula darah pada kelinci yang dibuat diabetes dengan aloksan. Penelitian tersebut
juga dilakukan terhadap Alisin (kandungan aktif bawang putih), ternyata juga
memberikan hasil yang sama (Atal dan Kapur, 1982).
Jus bawang putih juga dilaporkan dapat berpengaruh dalam pengendalian kadar
gula darah pada kelinci yang diberi glukosa berlebihan dan memacu mobilitas
kolesterol. Alisin dilaporkan terbukti memiliki potensi sebagai anti bakteri
terhadap bakteri Gram positif dan Gram negatif, Mycobacterium tuberculosis serta
terhadap Staphylococcus aureus dan Brucella abortus. Terhadap S.aureus
potensinya adalah satu miligram alisin setara dengan 15 Oxford penicillin units.
Pertumbuhan bakteri-bakteri lain yang juga terhambat oleh alisin maupun aliin
adalah Staphylococci, Streptococci, Eberthella typhosa, Bacillus paratyphoid A,
Bacterium dysenteriae, Bacterium enteridis, Vibrio cholerae dan beberapa bakteri
tahan asam (Wagner, 1984).
Alisin dilaporkan memiliki aktivitas menghambat enzim sulfidril (-SH), suatu
reaksi yang diketahui berperan dalam penghambatan pertumbuhan sel-sel ganas.
Perubahan bentuk produk (+)-S-alil-L-sistein sulfoksida, alisin, ajoene, dan Dialil
disulfida menunjukkan aktivitas in vitro dalam hal penghambatan secara
bermakna terjadinya penggumpalan trombosit (IC50 terhitung = 60 M).4) Dan
dalam berbagai percobaan klinis telah dibuktikan, bahwa serbuk bawang putih
mampu menurunkan secara bermakna kadar trigliserida, kolesterol dan fosfolipid
dalam plasma, serta mampu pula menurunkan secara bermakna terbentuknya
penggumpalan trombosit spontan dan juga kekentalan plasma (Eckner, 1993).
Bawang putih terbukti memiliki efek ekbolik (mempercepat kelahiran) pada tikus
putih dan mencit dan memiliki aktivitas estrogenik pada tikus putih betina.
Setelah 4 hari dilakukan penyuntikan sari alkohol secara intramuskuler terhadap
binatang percobaan, akan dikeluarkan metabolitnya yang berupa 17-ketosteroid,
hal ini menunjukkan adanya efek kortikotropik pada korteks adrenal binatang
tersebut. Selain itu juga dilaporkan memiliki aksi sebagai antelmintik, antiseptik
dan anti asma (Atal dan Kapur, 1982).
Aksi Anthelmintic terutama terhadap cacing Ascaris dan Oxyuris. Terhadap cacing
Ascaris lumbricoides menyebabkan terjadinya paralisis (Stecher, 1982).
Ekstrak bawang putih dilaporkan memiliki efek fibronolitik, meningkatkan
mobilitas kholesterol dan trigliserida. Disamping itu dapat pula berefek sebagai
anti asma. Potensi anti asma tersebut adalah karena adanya ester asam tiosulfinat
48

yaitu dengan menghambat proses timbulnya asma (menekan pengaruh alergen)


(Watt, 1962).
Alil-2-propen-1-tiosulfinat dan Alkil-tiosulfinat juga memiliki aktivitas terhadap
infeksi dermatophytic, baik terhadap infeksi jamur maupun infeksi bakteri Gram
positif dan negatif pada kulit. Sedang kandungan yang lain Garlisin, Alistatin I dan
Alistati II memiliki aktivitas antibiotik dengan potensi 1:50.000 (Wagner, 1982).
Tablet Alisatin (Sandoz) yang berisi sari bawang putih diindikasikan untuk anti
kejang pada perut, sementara sediaan tablet yang lain Alimin (van Patten & Co)
yang berisi konsentrat bawang putih yang tidak mengandung air, diindikasikan
untuk vasodilator bagi penderita tekanan darah tinggi (Lucas, 1987)
Di Indonesia telah dipasarkan beberapa kapsul lunak yang berisi minyak bawang
putih, untuk menurunkan kolesterol dan obat tekanan darah tinggi.
Efek yang tidak diinginkan
Tidak semua orang memiliki toleransi terha-dap penggunaan bawang segar dosis
besar, karena sifat iritasinya pada mulut, oesophagus dan lambung.
Penggunaan bentuk serbuk dengan dosis relatif besar dapat menimbulkan rasa
mual, disamping itu keringat dan nafasnya akan berbau tak sedap (bau badan atau
bau mulut campur dengan bau bawang, dikarenakan adanya metabolit aliin,
dialildi-sulfida, dialiltrisulfida dan oligosulfida) (Hansel, 1987, Lucas, 1987)
Toksisitas
Bawang putih yang sudah bertunas tidak baik untuk dikonsumsi, karena pada
tunasnya tersebut mengandung racun HCN (Stecher, 1968)
Dosis
Dalam bentuk minyak 0,12 - 0,2 ml.
Dalam bentuk juice yang dicampur dengan sirup 4- 8 ml.
Kegunaan di masyarakat
Umbi bawang putih berkhasiat sebagai obat tekanan darah tinggi, meredakan
rasa pening di kepala, menurunkan kolesterol, dan obat maag.12) Di samping itu
digunakan pula sebagai ekspektoransia (pada bronkhitis kronis), karminativa
(pada keadaan dispepsia dan meteorismus (Hansel, 1987)

49

Cara pemakaian di masyarakat


Mengobati tekanan darah tinggi
Bawang putih 2 butir dikupas kulitnya, dikunyah halus lalu ditelan, disusul
minum air masak yang hangat (3 x sehari).
Mengobati batuk
Bawang putih 2 butir, kulit dibuang, dikunyah halus-halus lalu ditelan dan
disusul minum air hangat (2 x sehari).
Mengobati asma
Bawang putih 10 butir, dicuci dan dipotong-potong seperlunya, direbus
dengan air bersih 2 gelas minum hingga hanya tinggal kira-kira nya,
sesudah dingin disaring lalu diminum dengan madu 1 sendok makan (3 x
sehari gelas) (Mardisiswojo, 1987)

Pustaka
Atal CK., dan BM. Kapur, 1982, Cultivation and Utilization of Medicinal Plants.,
Regiolan Research Laboratory., Council of Scientific & Industrial
Research., Jammu-Tawi., India., P.561.
Backer, C.A., and Bakhuizen, R.C.B., 1968 Flora of Java, vol. II & III,
P.Noordhoff, Groningen.

50

Eckner MM., CAJ. Erdelmeier O. Sticher, and H.D. Reuter, 1993, " A Nover Amino
Acid Glycoside and Three Amino Acids from Allium sativum L."., J. Nat.
prod., Vol. 56., No. 6., p. 864-869.
Hnsel R; 1991Phytopharmaka (Grundlagen und. Praxis); 2.Aufl; Spinger Verlag,
Berlin p.192-198.
Lucas R., 1987, Secret of the Chinese Herbalist., Revised Edition., Parker
Publishing Company Inc., New York., P.216-218.
Mardisiswojo, S., Rajakmangunsudarso, H., 1987., Cabe Puyang Warisan Nenek
Moyang., Balai Pustaka, Jakarta.8.
Singgih Wibowo, 1994, Budidaya Bawang : Bawang Putih, Bawang Merah,
Bawang Bombay., Panebar Swadaya., Jakarta., p. 1-84
Schneider, G; 1985, Pharmazeutische Biologie 2. Aufl. BI-Wissenschaftsverlag
Mannheim, p.383-385.
Sri Sugati, 1991 Sugati S., Johny Ria Hutapea, 1991, Inventaris Tanaman Obat
Indonesia., Jilid I., Balitbang Kesehatan., DepKes RI. Jakarta, p.26-27.
Stecher P.G. (Editor), 1968, The Merck Index: an Encyclopedia of Chemicals and
Drugs., Merck & Co. Inc. USA., p. 31-32,472
Wagner. H.S. Bladt, EM. Zgainski, 1984. Plant Drugs Analysis,:A Thin Layer
Chromatography Atlas., Springer-Verlag.,Berlin., P.255-256.
Watt J.M. M.G. Breyer-BrandWijk, 1962, The Medicinal and Poisonous Plants of
Southern and Eastern Africa., 2nd Ed., E.S. Livingstone Ltd. London., P.674679.

51

Jambu Biji
Psidium guajava L.
Klasifiasi
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Bangsa : Myrtales
Suku : Myrtaceae
Marga : Psidium
Jenis : Psidium guajava L.

52

Deskripsi
Habitus berupa perdu setinggi 5-10 m. Batang
berkayu berbentuk bulat. Kulit batang licin dan
mengelupas. Batang bercabang dan berwarna
coklat kehijauan. Daun berupa daun tunggal
berbentuk bulat telur dengan pertulangan
menyirip. Ujung daun tumpul dan pangkalnya
membulat. Tepi daun rata. Daun tumbuh saling
berhadapan. Panjang daun 6-14 cm dan lebarnya
3-6 cm. Daun berwarna hijau kekuningan atau
hijau. Bunga tunggal, bertangkai dan berada di
ketiak daun. Kelopak bunga berbentuk corong
dengan panjang 7-10 mm. Mahkota berbentuk
bulat telur dengan panjang 1,5 cm. Benang sari
berbentuk pipih dan berwarna putih. Putik
berbentuk bulat kecil, berwarna putih atau putih
kekuningan. Buah buni, berbentuk bulat telur, berwarna putih kekuningan. Bijinya
keras, kecil, berwarna kuning kecoklatan. Akarnya merupakan akar tunggang yang
berwarna kuning kecoklatan.

Pemanfaatan
Guava (Psidium guajava), fresh,
Nutritive Value per 100 g.
(Source: USDA National Nutrient data
base)
Principle
Energy

Nutrient Percentage
Value
of RDA
68 Kcal

3.5%

Pantothenic
acid

0.451
mg

9%

Pyridoxine

0.110
mg

8.5%

Riboflavin

0.040
mg

3%

Thiamin

0.067
mg

5.5%

Carbohydrates 14.3 g

11.5%

Protein

2.55 g

5%

Vitamin A

624 IU

21%

Total Fat

0.95 g

3%

Vitamin C

228 mg

396%

Cholesterol

0 mg

0%

Vitamin E

0.73 mg 5%

14%

Vitamin K

2.6 g

2%

Sodium

2 mg

0%

Potassium

417 mg

9%

Dietary Fiber 5.4 g


Vitamins

Electrolytes

Folates

49 g

12.5%

Niacin

1.084
mg

7%

53

Minerals

Selenium

0.6 mcg 1%

Zinc

0.23 mg 2%

Calcium

18 mg

2%

Copper

0.230
mg

2.5%

Iron

0.26 mg 3%

Carotene-

374 g

--

Magnesium

22 mg

5.5%

0 g

--

Manganese

0.150
mg

6.5%

Cryptoxanthin-
Lycopene

5204 g --

Phosphorus

11 mg

2%

Phytonutrients

Daun psidium guajava berkhasiat sebagai obat mencret dan peluruh haid. Banyak
penelitian-penelitian farmakologis yang mennjukkan manfaat P guajava sebagai
antioksidan, antiplasmodium/malaria, antialergi, hepatoproteksi, sitotoksik,
antispasmodic, antidiabetic, antiinflamasi, antinosiseptif dan lain sebagainya
(Guiterrez, 2008)
Menurut Buku Inventaris tanaman obat Indonesia, untuk obat mencret dipakai
10gr daun segar, dicuci, ditumbuk sampai lumat, ditambah gr garam dan
gelas air matang panas, setelah dingin diperas dan disaring. Hasil saringan
diminum sekaligus.

54

Pepaya
Carica papaya
Klasifiasi
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Bangsa : Violales
Suku : Caricaceae
Marga : Carica
Jenis : Carica papaya L.
Nama umum : Pepaya
Nama daerah : Pente (Aeeh); Pertek (Gayo); Botik (Batak Toba); Bala (Nias);
Sikailo (Mentawai); Kates (Palembang); Kalikih (Minangkabau); Gedang
(Lampung); Gedang (Sunda); Kates (Jawa Tengah); Kates (Madura); Gedang
Kustela
(Banjar); Bua mendung (Dayak Busang); Buah dong (Dayak Kenya); Kates
(Sasak); Kampaya (Bima); Kala jawa (Sumbawa); Padu (Flores); Papaya
(Gorontalo); Papaya (Buol); Kaliki (Baree); Papaya (Manado); Unti
Jawa (Makasar); Kaliki riaure (Bugis); Papai (Buru); Papaya (Halmahera); Papae
(Ambon); Palaki (Seram); Kapaya
(Tidore); Tapaya (Ternate); Ihwarwerah (Sarmi); Siberiani (Windesi).

55

Deskripsi
Habitus berupa perdu dengan tinggi
10 m. Batang tidak berkayu, silindris,
berongga berwarna putih kotor. Daun
tunggal, bentuknya bulat, ujungnya
runcing, pangkalnya bertoreh dan
tepinya bergerigi dengan diameter 2527 cm, pertulangan menjari dengan
panjang tangkai 25-100 cm berwarna
hijau. Bunga tunggal, bentuknya
bintang, terdapat di ketiak daun,
berkelamin satu atau berumah dua.
Bunga jantan terletak pada tandan
yang serupa malai, kelopak kecil
dengan kepala sari bertangkai pendek
atau duduk dan warnanya kuning,
bentuk mahkotanya terompet, tepinya
bertajuk lima dan bertabung panjang
dengan warna putih kekuningan.
Bunga
betina
berdiri
sendiri,
mahkotanya lepas, kepala putiknya
lima, duduk, bakal buahnya beruang
satu dan warnanya putih kekuningan.
Buah
buni,
bentuknya
bulat
memanjang, bergading, warna hijau
muda bila masih muda dan jingga bila sudah tua. Bentuk biji bulat panjang, kecil
dan bagian luarnya dibungkus selaput yang berisi cairan dengan warna putih bila
masih muda dan hitam bila sudah tua. Akar tunggang, bercabang dan berwarna
putih kekuningan.
Pemanfaatan
Kandungan kimia
Daun, akan dan kulit batang mengandung alkaloida saponin dan flavonoida, di
samping itu daun dan akar juga mengandung polifenol dan bijinya mengandung
saponin.

56

Daun pepaya memiliki kandungan gizi yang cukup beragam diantaranya vitamin
A 18250 SI, vitamin B1 0,15 miligram per 100 gram, vitamin C 140 miligram per
100 gram daun pepaya, kalori 79 kal per 100 gram, protein 8,0 gram per 100 gram,
lemak 2,0 gram per 100 gram, hidrat arang/karbohidrat 11,9 gram per 100 gram,
kalsium 353 miligram per 100 gram, dan air 75,4 gram per 100 gram.[2]

Penggunaan di masyarakat
Daun berkhasiat sebagai obat malaria dan menambah nafsu makan. Akar dan
bijinuya berkhasiat sebagai obat cacing, getah buahnya berkhasiat sebagai obat
memperbaiki pencernaan. Untuk obat malaria dipakai 100gr daun segar, dicuci
lalu ditumbuk, sampai lumat, ditambahkan 1 gelas air matang, diperas dan
disaring. Hasil saringan diminum sekaligus.
Penelitian terakhir menunjukkan bahwa ekstrak daun papaya dapat
meningkatkan kadar trombosit pada pasien dengan kondisi trombositopenia,
salah satunya pada penderita demam berdarah dengue (Sarala dkk, 2014)

57

Kelor
Moringa oleifera
Sinonim : Moringa pterygosperma Gaertn. N.W.
Klasifiasi
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Bangsa : Capparales
Suku : Moringaceae
Marga : Moringa
Jenis : Moringa oleifera Lam.

58

Deskripsi

Habitus berupa pohon dengan tinggi 3-10 m. Batang berkayu, bulat, bercabang,
berbintik hitam dan berwarna putih kotorabu-abu. Daun majemuk dan berwarna
hijau. Panjang daun 20-60 cm. Anak daun berbentuk bulat telur. Tepi daun rata
dengan ujung berlekuk. Pertulangan daun menyirip. Bunga majemuk, berbentuk
malai. Bunga terletak di ketiak daun. Panjang bunga 10-30 cm. Benang sari dan
putik kecil. Mahkota bunga berwarna putih-krem. Buah berupa buah kapsul
berwarna coklat kehitaman dengan panjang 20-45 cm, setiap buah berisi 15-25
biji. Biji berbentuk bulat, bersayap tiga dan berwarna hitam. Akar tunggang
berwarna putih kotor.

Pemanfaatan
Akar berkhasiat sebagai obat kejang, obat gusi berdarah, obat haid tidak teratur
dan obat pusing. Daunnya berkhasiat sebgai obat sesak nafas, encok dan biri-biri,
bijinya sebagai obat mual.
Untuk obat kejang dipakai 25gr akar segar dicuci, ditambah gr garam dan
gelas air, ditumbuk lalu diperas. Hasil perasan digosokkan pada bagian yang
kejang.
Kandungan kimia
Akar, daun dan kulit batang mengandung saponin dan polifenol. Di samping itu
kulit batangnya mengandung alkaloida dan daunnya mengandung minyak atsiri.

59

Mengkudu
Morinda citrifolia
Klasifiasi
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Bangsa : Rubiales
Suku : Rubiaceae
Marga : Morinda
Jenis : Morinda citrifolia L.

60

Deskripsi

Habitus berupa pohon, tinggi 4-8 m. Batang berkayu, bulat, kulit kasar,
percabangan monopodial, penampang cabang muda segi empat, coklat
kekuningan. Daun tunggal, bulat telur, ujung dan pangkal runcing, tepi rata,
panjang 10-40 cm, lebar 5-17 cm, pertulangan menyirip, tangkai pendek, daun
penumpu bulat telur, panjang 1 cm, berwarna hijau. Bunga majemuk, bentuk
bongkol, bertangkai, di ketiak daun, benang sari lima, melekat pada tabung
mahkota, tangkai sari berambut, tangkai bakal buah panjang 3-5 cm, hijau
kekuningan, mahkota bentuk terompet, leher berambut, panjang 1 cm, putih.
Buah bongkol, permukaan tidak teratur, berdaging, panjang 5-10 cm, hijau
kekuningan. Biji keras, segi tiga, coklat kemerahan. Akar tunggang, coklat muda.

Khasiat
Buah dan daun berkhasiat sebagai obat batuk dan obat radang usus, daunnya
berkhasiat sebagai obat masuk angina, obat amandel, obat mulas dan obat
kencing manis.
Untuk obat batuk dipaiak 100gr buah segar yang sudah masak, dicuci, ditumbuk
sampai halus, ditambah gelas air matang. 1 sendok the cuka dan 1 gr garam,
diaduk sampai rata, diperas dan disaring. Hasil saringan diminum sehari tiga kali
sama banyak pagi, siang dan sore.

Kandungan kimia
Daun dan buah mengandung alkaloida, saponin, flavonoida, dan antrakinon, di
saamping itu daunya mengandung polifenol.

61

Mentimun
Cucumis sativus
Klasifikasi
Divisi : spermatophyte
Sub divisi : angiospermae
Kelas : dicotyledonae
Bangsa
: cucurbitales
Suku : cucurbitaceae
Marga : cucumis
Jenis : Cucumis sativus L.

62

Deskripsi
Habitus

: herba. 1 tahun, merambat

Batang

: bentuk segitiga, berbulu halus, hijau

Daun : tunggal, bulat telur, ujung runcing, pangkal bentuk jantung, bertajuk tifa
sampai tujuh, hijau
Bunga : tunggal, kelopak berbentuk lonceng, benang sari 3, kepala sari panjang
7mm, kepala putik tiga, kuning.
Buah : bulat memanjang, panjang 10-30 cm, banyak mengandung cairan, masih
muda hijau berlilin putih setelah tua kuning kotor.
Biji

: bulat putih

Akar : tunggang, putih kotor

Pemanfaatan
Buah berkhasiat sebagai obat tekanan darah tinggi, penyegar badan dan bahan
kosmetika. Bijinya sebagai obat cacing.
Untuk obat tekanan darah tinggi dipakai 300gr buah segar, dicuci lalu diparut,
diperas dan disaring. Hasil saringan diminum sekaligus.
Kandungan kimia
Daun dan buah mengandung saponin, flavonoida dan polifenol.

63

Lada
Piper nigrum

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Piperales
Famili: Piperaceae
Genus: Piper
Spesies: P. nigrum
Nama binomial Piper nigrum L.

64

Deskripsi
Perawakan : semak, memanjat, 5 - 15 m.
Batang: bulat, beralur, berakar melekat,
gundul.
Daun: tunggal, bertangkai, duduk berseling,
bentuk bulat terbalik, melebar - bulat
memanjang, pangkal membulat - tumpul pasak, ujung meruncing, gundul, permukaan
atas hijau tua mengkilat, bawah berlilin dengan
bintik kelenjar rapat, 8 - 20 cm x 5 - 15 cm,
tangkai 0,7 - 8 cm.
Bunga: majemuk bulir (untai), bunga banci,
bulir menggantung, tangkai 1 - 3,5 cm, ruas 3,5
- 22 cm, ada rambut di pangkal bakal buah,
kadang gundul.
Daun Pelindung: bulat memanjang, gundul,
adnate melebar, 4-5 mm x 1 mm, benangsari 2, tangkai tebal, tua 1 mm, kepala
putik 2-5 umumnya 3 - 4.
Buah: bebas, bentuk bola atau elip langsing, hijau - merah - hitam.
Biji: panjang kurang lebih 4 mm (Hutapea, 2000)
Asal-usul : India
Waktu berbunga : Januari - Desember
Distribusi : Di Jawa pada elevasi 1 - 1500 m dpl, di tanam.
Sifat khas : Warna buah. (Backer, 1968)

Budidaya
Tanaman ini ditanam melalui stek. Cara menyediakan stek ada dua jenis, yaitu stek
yang berukuran 7 ruas (tanpa daun) atau menggunakan stek satu ruas (berdaun
satu) dari batang yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda, sementara pohon
panjatan yang baik adalah pohon turi (Sesbania grandiflora) atau tanaman gamal
(Glyricidia sp.). Media stek yang dipakai adalah tanah yang gembur dan miskin
pasir, lingkungan stek harus lembab, namun tidak becek, pembuangan kelebihan
air perlu diperhati-kan. Stek daun tidak tahan terhadap sengatan panas matahari,
maka perlu naungan atap atau sejenisnya . Penyakit yang sering dijumpai ialah
Cephaleuros virescens, suatu ganggang yang dapat menimbulkan bercak-bercak
pada daun dan ranting dan dapat menggugurkannya. Sedangkan gangguan yang
berupa hama antara lain diakibatkan oleh jenis-jenis kumbang Lophobaris piperis,
L. serratipes dan Diplogomphus hewitii Dist (Rismunandar, 1993)

65

Pemanfaatan
Kandungan Kimia
Minyak atsiri 1-2,5% yang komposisinya antara lain: Kelompok Monoterpene
hydrocarbon, kelompok Sesquiterpene, kelompok Monoterpen yang
teroksigenasi, kelompok Fenil ester, kelompok Sesquiterpen teroksigenasi, dan
senyawa-senyawa lain. Dan alkaloid 2-5%, yang terutama terdiri dari transPiperin 90-95% (beras pedas), dan kandungan lainnya.
Kavisin merupakan kandungan yang bertanggung jawab terhadap rasa pedas, dia
merupakan isomer basa dari piperin, C17H19NO3, berupa kristal kuning dengan
jarak lebur antara 129-130OC. Sementara piperin sedikit larut dalam air, larut
dalam 15 bagian alkohol atau 36 eter. Bila dikecap mula-mula tidak berasa, lamalama terasa tajam menggigit. Apabila Piperin dihidrolisis akan terurai menjadi
Piperidin dan asam piperat. Piperidin adalah cairan mudah menguap, larut dalam
alkohol atau air, ia merupakan Heksahidropiridin, C5H11N.
Dalam 100 gram buah Piper nigrum dilaporkan mengandung (Purseglove, 1981) :

Efek biologi
Sama halnya dengan Piper cubeba, tana-man ini memiliki aksi mengiritasi
membrana mukosa, dan digunakan sebagai stimulansia (misalnya sebagai
perangsang keluarnya air seni, air liur, keringat angin perut dan semacamnya).
Senyawa aktif seluruhnya juga dikeluarkan dari tubuh lewat ginjal, pada organ
inipun, lewat sepanjang saluran kencing akan mengiritasi membrana mukosa yang
bersangkutan, hingga merangsang keluarnya air seni, dan karena Piperine juga
mempunyai sifat antiseptik, maka digunakan untuk memperlambat

66

berkembangnya penyakit-penyakit infeksi kelamin pada orang yang bersangkutan


(Osol, 1955).
Piperine juga mempunyai potensi terha-dap infeksi malaria dan bersifat sebagai
insektisida.2,10) Disamping itu juga berefek memperlama waktu tidur binatang
percobaan yang disebabkan karena Hexobarbital (Chang, 1985)
Efek yang tidak diinginkan
Di Rusia, banyak terjadi kasus penyakit kanker esophagus, dan setelah diamati,
masyarakat di sana banyak mengkonsumsi Piper nigrum, terutama di musim
dingin. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, senyawa Piperine strukturnya
mirip
sekali
dengan
hasil
metabolit
safrol
3-piperidyl-1-(3'-4'metilenedioksifenil)-1-propanon dalam air seni, yang diyakini bersifat mutagenik
dan karsinogenik. Sama halnya safrol, piperine terbukti bersifat merangsang
regenerasi sel-sel hepar secara agresif (percobaan pada tikus) (Duke, 1985)
Dosis
- Sebagai oleoresin sebesar 0,015 g hingga 0,06g
- Sebagai serbuk sebesar 0,3 hingga 1,3 gram (Osol, 1955).
Bentuk Sediaan
Oleoresin Piperis : Serbuk Piper nigrum (di bawah ayakan no. 40) sebanyak 500
gram direndam dengan eter dalam sebuah perkolator tertutup (untuk mencegah
hilangnya minyak menguap), lalu teteskan pelan-pelan. Apabila cadangan eter
yang merendam serbuk berkurang, maka tambahkan lagi eter sampai semua
tetesan menjadi jernih tidak berwarna. Hasil tetesan (perkolat) diuapkan hingga
diperoleh sari yang pekat (hati-hati, karena yang diuapkan adalah eter yang
mudah terbakar, maka jangan menggunakan api, cukup dengan diangin-anginkan
di bawah kipas angin pada wadah yang bermulut lebar). Residu yang berupa
bahan-bahan yang mengkristal seperti Piperin dipisahkan dengan jalan disaring
dengan kain kasa. Dalam hal ini yang digunakan sebagai oleoresin adalah hasil
saringannya. Simpan oleoresin dalam botol yang tertutup kedap. Dosis 0,03 gram
(Anonim,
1936)
Kegunaan di Masyarakat
Selain digunakan sebagai pelengkap bum-bu dapur, juga sering dipakai untuk obat
tradisional, penguat lambung (stomachicum), dan merangsang keluarnya angin
perut (carminativa), tekanan darah tinggi, sesak nafas dan merangsang keluarnya
keringat (Hutapea, 2000)

67

Pustaka
Anonim, 1936, The Pharmacopoeia of the United States of America., 9th Ed., P.
Blakiston's Son & Co., Philadelphia P.284,327.
Anonim, 1993, Standard of ASEAN Herbal Medicine., Vol I., Published by ASEAN
Countries., Jakarta, Indonesia., P.353-364.
Backer, C.A., And Bakhuizen, R.C.B., 1968, Flora of Java, Vol II & III, P.Noordhoff,
Groningen.
Chang H.M., HW. Yeung, W.W. Tso, A. Koo, 1985, Advanced in Chinese Medicinal
Materials Research : Crude Drugs Acting on Drug Metabolizing Enzyme
Activity., World Scientific., Singapore., P.125-146.
Duke, J.A., 1985, CRC-Handbook of Medicinal Herbs., CRC-Press Inc., Boca Raton.,
P.382-383.
Mardisiswojo. S, Mangunsudarso R.H., 1965, Tjabe Pujang Warisan Nenek Mojang,
cetakan I, penerbit Prapantja., Jakarta., P.46
Osol A., GE. Farrar, 1955, The Dispensatory of the United States of America., 25th
Ed. J.B. Lippincott Company., Philadelphia., P.1799-1800
Purseglove J.W., E.G. Brown, CL. Green & SRJ. Robbins, 1981, Spices., Vol.I.,
Longman Group Ltd., New York., P.1-99
Rismunandar, 1993, Lada: Budidaya dan Tata Niaganya., Panebar Swadaya.,
Jakarta
Schneider, G; 1985. Pharmazeutische Biologie. 2.Aufl; B.I-Wissenschafts-verlag,
Mannheim p.393.
Sri Sugati, 1991 Sugati S., Johny Ria Hutapea, 1991, Inventaris Tanaman Obat
Indonesia., Jilid I., Balitbang Kesehatan., DepKes RI. Jakarta, p. 456-457.
Wagner, H; 1993, Pharmazeutische Biologie, 5.Aufl; Gustav Fisher Verlag; Stuttgart
p.106.

68

Lengkuas
Alpina galangal

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Liliopsida
Ordo: Zingiberales
Famili: Zingiberaceae
Upafamili: Alpinioideae
Bangsa: Alpinieae
Genus: Alpinia
Spesies: A. galanga
Nama binomial Alpinia
galanga
(L.) Willd.
Sinonim
A. galanga (L.) Swartz
A. pyramidata Bl.
Amomum medium Lour.
Languas galanga (L.) Merr.
L. galanga (L.) Stuntz.
Maranta galanga L.

69

Deskripsi
Lengkuas adalah terna tegak yang tingginya
2 m atau lebih.
Batangnya yang muda keluar sebagai tunas
dari pangkal batang tua. Seluruh batangnya
ditutupi pelepah daun. Batangnya ini
bertipe batang semu.
Daunnya tunggal, bertangkai pendek,
berbentuk daun lanset memanjang,
ujungnya runcing, pangkalnya tumpul, dan
tepinya rata. Ukurannya daunnya adalah:
25-50 cm 7-15 cm. Pelepah daunnya
berukuran 15-30 cm, beralur, dan
berwarna hijau. Perbungaannya majemuk
dalam tandan yang bertangkai panjang,
tegak, dan berkumpul di ujung tangkai.
Jumlah bunga di bagian bawah lebih banyak
daripada di atas tangkai, dan berbentuk
piramida memanjang. Kelopak bunganya
berbentuk lonceng, berwarna putih
kehijauan.
Mahkota bunganya yang masih kuncup pada bagian ujung warnanya putih, dan
bawahnya berwarna hijau. Buahnya termasuk buah buni, bulat, keras, dan hijau
sewaktu muda, dan coklat, apabila sudah tua. Umbinya berbau harum, ada yang
putih, juga ada yang merah. Menurut ukurannya, ada yang besar juga ada yang
kecil. Karenanya, dikenal 3 kultivar yang dibedakan berdasarkan warna dan
ukuran rimpangnya. Rimpangnya ini merayap, berdaging, kulitnya mengkilap,
beraroma khas, ia berserat kasar, dan pedas jika tua. Untuk mendapatkan rimpang
muda yang belum banyak seratnya, panen dilakukan pada saat tanaman berusia
2,5-4 bulan.

Pemanfaatan
Rimpang berkhasiat sebagai obat panu dan pelancar haid. Untuk obat panu dipakai
1 jari rimpang segar dipotong miring, ujungnya dipukul-pukul sehingga seperti
kuas, digosokkan pada panu.
Kandungan kimia
Rimpang mengandung saponin, flavonoida, polifenol dan minyak atsiri

70