Vous êtes sur la page 1sur 3

Nama

: Dwyan Nuryana

NIM

: 1138010078

Jur/Kel/Smt

: AN/B/IV

Peraturan yang Bertentangan dengan Undang-undang

Teori Hirarki Hans Kelsen


Dalam tataran pembentukan peraturan perundang-undangan dikenal teori
jenjang hukum (Stufentheorie) yang dikemukakan oleh Hans Kelsen. Dalam teori
tersebut Hans Kelsen berpendapat bahwa norma-norma hukum itu berjenjang-jenjang
dan berlapis-lapis dalam suatu hierarki (tata susunan) dalam arti suatu norma yang
lebih tinggi berlaku, bersumber dan berdasar pada norma yang lebih tinggi lagi,
demikian seterusnya sampai pada suatu norma yang tidak dapat ditelusuri lebih lanjut
dan bersifat hipotetis dan fiktif, yaitu Norma Dasar (Grundnorm).
Norma Dasar merupakan norma tertinggi dalam suatu sistem norma tersebut
tidak lagi dibentuk oleh suatu norma yang lebih tinggi lagi, tetapi Norma Dasar itu
ditetapkan terlebih dahulu oleh masyarakat sebagai Norma Dasar yang merupakan
gantungan bagi norma-norma yang berada di bawahnya, sehingga suatu Norma Dasar
itu dikatakan pre-supposed.1
Menurut Hans Kelsen suatu norma hukum itu selalu bersumber dan berdasar
pada norma yang di atasnya, tetapi ke bawah norma hukum itu juga menjadi sumber
dan menjadi dasar bagi norma yang lebih rendah daripadanya. Dalam hal tata
susunan/hierarki sistem norma, norma yang tertinggi (Norma Dasar) itu menjadi

1 Farida Indrati Soeprapto, Ilmu Perundang-Undangan : Jenis, Fungsi, dan Materi


Muatan, Kanisius, Yogyakarta, 2010, halaman 41.

tempat bergantungnya norma-norma di bawahnya, sehingga apabila Norma Dasar itu


berubah akan menjadi rusaklah sistem norma yang ada di bawahnya.2
Hans Nawiasky, salah seorang murid Hans Kelsen mengembangkan teori
gurunya tentang jenjang norma dalam kaitannya dengan suatu negara. Hans
Nawiasky mengatakan suatu norma hukum dari negara manapun selalu berlapis-lapis
dan berjenjang-jenjang.
Norma yang di bawah berlaku, bersumber dan berdasar pada norma yang
lebih tinggi, norma yang lebih tinggi berlaku, bersumber dan berdasar pada suatu
norma yang tertinggi yang disebut Norma Dasar. Hans Nawiasky juga berpendapat
bahwa selain norma itu berlapis-lapis dan berjenjang-jenjang, norma hukum dari
suatu negara itu juga berkelompok-kelompok, dan pengelompokan norma hukum
dalam suatu negara itu terdiri atas empat kelompok besar antara lain:
1.
2.
3.
4.

Kelompok I :Staatsfundamentalnorm(Norma Fundamental Negara);


Kelompok II :Staatsgrundgesetz (Aturan Dasar/Aturan Pokok Negara);
Kelompok III :Formell Gesetz (Undang-Undang Formal);
Kelompok IV:Verordnung & Autonome Satzung (Aturan pelaksana/Aturan
otonom).3

STUDI KASUS
Sumedang, 9/11 - Dalam tata cara pencalonan dan pemilihan kepala desa, antara UU
(Undang-undang) Nomor 32 tahun 2004, dengan PP (Peraturan Pemerintah) dan
Perda (Peraturan Daerah) Kabupaten Sumedang terdapat pertentangan.
Dalam UU.RI 32, Pasal 2004 dijelaskan, masa jabatan kepala desa adalah enam tahun
dan dapat dipilih kembali hanya untuk sekali masa jabatan berikutnya. Sedangkan
pada Pasal 44, PP 72/2005 dan Perda 11/2006 Pasal 7 huruf k menjelaskan, syarat
calon kepala desa, yang bersangkutan belum pernah menjabat sebagai kepala desa
paling lama sepuluh tahun atau dua kali masa jabatan.
2 Ibid, halaman 42.
3 Ibid, halaman 44-45.

Akibat dari pertentangan antara UU nomor 32 tahun 2004, dengan PP Nomor 72


tahun 2005 dan Perda Kabupaten Sumedang Nomor 11 tahun 2006, dikhawatirkan
akan menimbulkan konflik horizontal di kalangan masyarakat.
"Sampai saat ini belum ada kejelasan, mana yang bisa dijadikan landasan dalam tata
cara pencalonan dan pemilihan kepala desa. Apakah UU atau PP dan Perda" kata
Bagian Humas dan Kabag Hukum Kabupaten Sumedang pun, ketika dikonfirmasi
tidak bisa menjelaskan permasalahan ini," tanda Sitam.
Dalam PP dan perda tidak ada penjelasan mengenai bunyi pasal tersebut. Kita juga
tidak mengerti, mengapa antara UU dengan PP dan Perda tidak sesuai. Apakah pada
saat penyusunan PP dan Perda, mereka tidak membaca UU. Contoh kecil saja, di UU
masa jabatan Kades 6 tahun, sedangkan di PP dan Perda 5 tahun, jelas Sitam Rasyid.
Analisis Saya:
Menurut saya jika melihat Hierarki Peraturan Indonesia, dimana UU lebih tinggi
tingkatannya dibandingkan PP dan Perda. Maka Pasal 44, PP 72/2005 dan Perda
11/2006 Pasal 7 tidak boleh dijadikan sebagai rujukan karena bertentangan dengan
UU. Adapun PP dan Perda tersebut seharusnya menyesuaikan UU agar tidak terjadi
pertentangan tersebut. Maka menurut pendapat saya, PP dan Perda tersebut harus di
uji Materilkan ke Mahkamah Agung untuk dirubah dan mengikuti UU Nomor 32
tahun 2004.
DAFTAR PUSTAKA
1. Soeprapto, Farida Indrati. 2010. Ilmu Perundang-Undangan : Jenis, Fungsi, dan
Materi Muatan. Yogyakarta; Kanisius.
2. http://www.antarajawabarat.com/lihat/cetak/28490