Vous êtes sur la page 1sur 31

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Secara keseluruhan, Insidensi hidrosefalus antara 0,2-4 setiap 1000 kelahiran.
Insidensi hidrosefalus kongenital adalah 0,5-1,8 pada tiap 1000 kelahiran dan 11%43% disebabkan oleh stenosis aqueductus serebri. Tidak ada perbedaan bermakna
insidensi untuk kedua jenis kelamin, juga dalam hal perbedaan ras. Hidrosefalus dapat
terjadi pada semua umur. Pada remaja dan dewasa lebih sering disebabkan oleh
toksoplasmosis. Hidrosefalus infantil; 46% adalah akibat abnormalitas perkembangan
otak, 50% karena perdarahan subaraknoid dan meningitis, dan kurang dari 4% akibat
tumor fossa posterior. Secara internasional, insiden hidrosefalus yang didapat juga
tidak diketahui jumlahnya. Sekitar 100.000 shunt yang tertanam setiap tahun di negara
maju, tetapi informasi untuk negara-negara lain masih sedikit. Kematian pada
hidrosefalus yang tidak ditangani dapat terjadi oleh karena herniasi tonsil sekunder
yang dapat meningkatkan tekanan intracranial, kompresi batang otak dan sistem
pernapasan.
Pemasangan shunt telah dilakukan pada 75% dari semua kasus hidrosefalus
dan di 50% pada anak-anak dengan hidrosefalus komunikan. Pasien dirawat di rumah
sakit untuk merevisi shunt sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan, untuk
pengobatan komplikasi, atau kegagalan shunt. Kurangnya perkembangan fungsi
kognitif pada bayi dan anak-anak, atau hilangnya fungsi kognitif pada orang dewasa,
dapat mejadi komplikasi pada hidrosefalus yang tidak diobati. Hal ini dapat bertahan
setelah pengobatan. Kehilangan fungsi visual dapat menjadi komplikasi pada
hidrosefalus yang tidak diobati dan dapat menetap setelah pengobatan.

1.2 Tujuan Penulisan


1.2.1 Tujuan Umum
Memahami konsep dan memberikan asuhan keperwatan pada klien dengan
Hydrocephalus.
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang definisi Hydrocephalus
2. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang anatomi fisiologi hydrocepfalus
3. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang etiologi Hydrocephalus
4. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang klasifikasi Hydrocephalus
5. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang patofisiologi Hydrocephalus
6. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang manifestasi Klinis Hydrocephalus
7. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang pemeriksaan diagnostik hydrocephalus
8. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang penatalaksanaan Hydrocephalus
9. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang komplikasi hidrosefalus
10. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang asuhan keperawatan Hydrocephalus
1.3 Manfaat
Memahami konsep dan memberikan asuhan keperwatan pada klien dengan
Hydrocephalus.

BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Hydrocephalus
2.1.1 Definisi
Hidrosefalus (kepala-air, istilah yang berasal dari bahasa Yunani: "hydro" yang
berarti air dan "cephalus" yang berarti kepala; sehingga kondisi ini sering dikenal
dengan "kepala air") adalah penyakit yang terjadi akibat gangguan aliran cairan di
dalam otak (cairan serebro spinal atau CSS). Gangguan itu menyebabkan cairan
tersebut bertambah banyak yang selanjutnya akan menekan jaringan otak di
sekitarnya, khususnya pusat-pusat saraf yang vital.
Hidrosefalus adalah suatu keadaan patologis otak yang mengakibatkan
bertambahnya cairan serebrospinalis, disebabkan baik oleh produksi yang berlebihan
maupun gangguan absorpsi, dengan atau pernah disertai tekanan intrakanial yang
meninggi sehingga terjadi pelebaran ruangan-ruangan tempat aliran cairan
serebrospinalis (Darto Suharso,2009)
Hidrosefalus

adalah

kelainan

patologis

otak

yang

mengakibatkan

bertambahnya cairan serebrospinal dengan atau pernah dengan tekanan intrakranial


yang meninggi, sehingga terdapat pelebaran ventrikel (Darsono, 2005:209). Pelebaran
ventrikuler ini akibat ketidakseimbangan antara produksi dan absorbsi cairan
serebrospinal. Hidrosefalus selalu bersifat sekunder, sebagai akibat penyakit atau
kerusakan otak. Adanya kelainan-kelainan tersebut menyebabkan kepala menjadi besar
serta terjadi pelebaran sutura-sutura dan ubun-ubun (DeVito EE et al, 2007:328).

2.1.2 Anatomi dan Fisiologi Serebrospinal


CSS dibentuk di dalam system ventrikel serebrum, terutama oleh pleksus
koroideus. Masing-masing dari keempat ventrikel mempunyai jaringan pleksus
koroideus, yang terdiri atas lipatan vilosa dilapisi oleh epitel dan bagian tengahnya
mengandung jaringan ikat dengan banyak pembuluh darah. Cairan dibentuk melalui
sekresi dan difusi aktif. Terdapat sumber CSS nonkonroid, tetapi aspek pembentukan
cairan ini masih belum diketahui sebelumnya. Sistem ventrikel terdiri atas sepasang
ventrikel lateral, masing-masing dihubungkan oleh akuaduktus Sylvii ke ventrikel
keempat tunggal yang terletak di garis tengah dan memiliki tiga lubang keluar,
sepasang foramen Luschka di sebelah lateral dan sebuah foramen magendie di tengah.
Lubang-lubang ini berjalan menuju ke sebuah system yang saling berhubungan dan
ruang subaraknoid yang mengalami pembesaran fokal dan disebut sisterna. Sisterna
pada fosa posterior berhubungan dengan ruang subaraknoid diatas konveksitas
serebrum melalui jalur yang melintasi tentorium. Ruang subaraknoid spinalis
berhubungan dengan ruang subaraknoid intrakranium melalui sisterna basalis.
Aliran CSS netto adalah dari ventrikel lateral menuju ventrikel ketiga
kemudian ke ventrikel keempat lalu ke sisterna basalis, tentorium, dan ruang
subaraknoid di atas konveksitas serebrum ke daerah sinus sagitalis, tempat terjadinya
penyerapan ke dalam sirkulasi sistemik. Aliran cairan ruang subaraknoid spinalis
adalah ke arah sefalad. Sebagian besar penyerapan CSS terjadi melalui vilus
araknoidalis dan masuk kedalam saluran vena sinus sagitalis, tetapi cairan juga diserap
melintasi lapisan ependim system ventrikel dan di ruang subaraknoid spinalis.
Pada orang dewasa normal, volume total CSS adalah sekitar 150 mL, yang 25
% nya terdapat di dalam system ventrikel. CSS terbentuk dengan kecepatan sekitar 20
mL/jam, yang mengisyaratkan bahwa perputaran CSS terjadi tiga sampai empat kali

sehari. Pembentukan CSS tetap berlangsung walaupun tekanan intrakranial meningkat,


kecuali apabila tekanan tersebut sangat tinggi. Dengan demikian, harus terjadi
penyerapan cairan untuk mengakomodasi volume CSS yang dibentuk setiap hari.

2.1.3 Etiologi
Cairan Serebrospinal merupakan cairan jernih yang diproduksi dalam
ventrikulus otak oleh pleksus koroideus, Cairan ini mengalir dalam ruang subaraknoid
yang membungkus otak dan medula spinalis untuk memberikan perlindungan serta
nutrisi(Cristine Brooker:The Nurses Pocket Dictionary). CSS yang dibentuk dalam
sistem ventrikel oleh pleksus khoroidalis kembali ke dalam peredaran darah melalui
kapiler dalam piamater dan arakhnoid yang meliputi seluruh susunan saraf pusat
(SSP). Cairan likuor serebrospinalis terdapat dalam suatu sistem, yakni sistem internal
dan sistem eksternal. Pada orang dewasa normal jumlah CSS 90-150 ml, anak umur 810 tahun 100-140 ml, bayi 40-60 ml, neonatus 20-30 ml dan prematur kecil 10-20 ml.
Cairan yang tertimbun dalam ventrikel 500-1500 ml (Darsono, 2005).
Aliran CSS normal ialah dari ventrikel lateralis melalui foramen monroe ke
ventrikel III, dari tempat ini melalui saluran yang sempit akuaduktus Sylvii ke
ventrikel IV dan melalui foramen Luschka dan Magendie ke dalam ruang
subarakhnoid melalui sisterna magna. Penutupan sisterna basalis menyebabkan
gangguan kecepatan resorbsi CSS oleh sistem kapiler. (DeVito EE et al, 2007:32)
Hidrosefalus terjadi bila terdapat penyumbatan aliran cairan serebrospinal
(CSS) pada salah satu tempat antara tempat pembentukan CSS dalam sistem ventrikel
dan tempat absorbsi dalam ruang subaraknoid. Akibat penyumbatan, terjadi dilatasi
ruangan CSS diatasnya (Allan H. Ropper, 2005). Teoritis pembentukan CSS yang
terlalu banyak dengan kecepatan absorbsi yang abnormal akan menyebabkan
terjadinya hidrosefalus, namun dalam klinik sangat jarang terjadi. Penyebab
penyumbatan aliran CSS yang sering terdapat pada bayi dan anak ialah :

1) Kelainan Bawaan (Kongenital)


Stenosis akuaduktus Sylvii merupakan penyebab terbayank pada hidrosefalus
bayi dan anak ( 60-90%). Aqueduktus dapat merupakan saluran yang buntu
sama sekali atau abnormal, yaitu lebih sempit dari biasa. Umumnya gejala
hidrosefalus terlihat sejak lahit atau progresif dengan cepat pada bulan-bulan
pertama setelah kelahiran.
Spina bifida dan kranium bifida
Hidrosefalus pada kelainan ini biasanya yang berhubungan dengan sindrom
Arnould-Jhiari akibat tertariknya medulla spinalis dengan medulla oblongata
dan cerebellum letaknya lebih rendah dan menutupi foramen magnum sehingga
terjadi penyumbatan sebagian atau total.
Sindrom Dandy-Walker
Merupakan atresia congenital Luscha dan Magendie yang menyebabkan
hidrosefalus obtruktif dengan pelebaran system ventrikel terutama ventrikel IV,
yang dapat sedemikian besarnya sehingga merupakan suatu kista yang besar di
daerah fosa pascaerior.
Kista araknoid dan anomali pembuluh darah
Dapat terjadi congenital tapi dapat juga timbul akibat trauma sekunder suatu
hematoma.
Anomali Pembuluh Darah
2) Infeksi
Akibat infeksi dapat timbul perlekatan meningen sehingga dapat terjadi
obliterasi ruangan subarahnoid. Pelebaran ventrikel pada fase akut meningitis
purulenta terjadi bila aliran CSS terganggu oleh obstruksi mekanik eksudat pirulen di
aqueduktus sylviin atau system basalis. Hidrosefalus banyak terjadi pada klien pasca
meningitis. Pembesaran kepala dapat terjadi beberapa minggu sampai beberapa bulan
sesudah sembuh dari meningitis. Secara patologis terlihat pelebaran jaringan piamater
7

dan arahnoid sekitar system basalis dan daerah lain. Pada meningitis serosa
tuberkulosa, perlekatan meningen terutama terdapat di daerah basal sekitar sistem
kiasmatika

dan

interpendunkularis,

sedangkan

pada

meningitis

purunlenta

lokasisasinya lebih tersebar.


3) Neoplasma
Hidrosefalus oleh obstruksi mekanik yang dapat terjadi di setiap tempat aliran
CSS. Pengobatannya dalam hal ini di tujukan kepada penyebabnya dan apabila tumor
tidak di angkat, maka dapat di lakukan tindakan paliatif dengan mengalihkan CSS
melalui saluran buatan atau pirau. Pada anak, penyumbatan ventrikel IV atau
akuaduktus Sylvii biasanya suatu glioma yang berasal dari serebelum, penyumbatan
bagian depan ventrikel III disebabkan kraniofaringioma.
4) Perdarahan
Perdarahan sebelum dan sesudah lahir dalam otak, dapat menyebabkan fibrosis
leptomeningen terutama pada daerah basal otak, selain penyumbatan yang terjadi
akibat organisasi dari darah itu sendiri (Allan H. Ropper, 2005:360).
2.1.4

Klasifikasi

Beberapa tife hydrocephalus yang berhubungan dengan peningkatan tekanan


intrakranial :
1. Hydrocephalus komunikan
Apabila obstruksinya terdapat pada rongga subaracnoid, sehingga terdapat
aliran bebas CSS dalam sistem ventrikel sampai ke tempat sumbatan. Jenis ini tidak
terdapat obstruksi pada aliran CSS tetapi villus arachnoid untuk mengabsorbsi CSS
terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit atau malfungsional. Umumnya terdapat

pada orang dewasa, biasanya disebabkan karena dipenuhinya villus arachnoid dengan
darah sesudah terjadinya hemmorhage subarachnoid (klien memperkembangkan tanda
dan gejala gejala peningkatan ICP). Jenis ini tidak terdapat obstruksi pada aliran
CSS tetapi villus arachnoid untuk mengabsorbsi CSS terdapat dalam jumlah yang
sangat sedikit atau malfungsional. Umumnya terdapat pada orang dewasa, biasanya
disebabkan karena dipenuhinya villus arachnoid dengan darah sesudah terjadinya
hemmorhage subarachnoid (klien memperkembangkan tanda dan gejala gejala
peningkatan ICP)
2. Hydrocephalus non komunikan
Apabila obstruksinya terdapat terdapat didalam sistem ventrikel sehingga
menghambat aliran bebas dari CSS. Biasanya gangguan yang terjadi pada hidrosefalus
kongenital adalah pada sistem vertikal sehingga terjadi bentuk hidrosefalus non
komunikan. Biasanya diakibatkan obstruksi dalam sistem ventrikuler yang mencegah
bersikulasinya CSS. Kondisi tersebut sering dijumpai pada orang lanjut usia yang
berhubungan dengan malformasi congenital pada system saraf pusat atau diperoleh
dari lesi (space occuping lesion) ataupun bekas luka. Pada klien dewasa dapat terjadi
sebagai akibat dari obstruksi lesi pada sistem ventricular atau bentukan jaringan adhesi
atau bekas luka didalam system di dalam system ventricular. Pada klien dengan garis
sutura yang berfungsi atau pada anakanak dibawah usia 1218 bulan dengan tekanan
intraranialnya tinggi mencapai ekstrim, tandatanda dan gejalagejala kenaikan ICP
dapat dikenali. Pada anak-anak yang garis suturanya tidak bergabung terdapat
pemisahan / separasi garis sutura dan pembesaran kepala.

3. Hidrocephalus Bertekan Normal ( Normal Pressure Hidrocephalus )

Di tandai pembesaran sister basilar dan fentrikel disertai dengan kompresi


jaringan serebral, dapat terjadi atrofi serebral. Tekanan intrakranial biasanya normal,
gejala gejala dan tanda tanda lainnya meliputi ; dimentia, ataxic gait, incontinentia
urine. Kelainan ini berhubungan dengan cedera kepala, hemmorhage serebral atau
thrombosis, mengitis; pada beberapa kasus (Kelompok umur 60 70 tahun) ada
kemingkinan ditemukan hubungan tersebut.
2.1.5 Patofisiologi
Hidrocephalus ini bisa terjadi karena konginetal (sejak lahir), infeksi
(meningitis,pneumonia,TBC), pendarahan di kepala dan faktor bawaan (stenosis
aquaductus sylvii) sehingga menyebabkan adanya obstruksi pada system ventrikuler
atau pada ruangan subarachnoid, ventrikel serebral melebar, menyebabkan permukaan
ventrikuler mengkerut dan merobek garis ependymal. White mater dibawahnya akan
mengalami atrofi dan tereduksi menjadi pita yang tipis. Pada gray matter terdapat
pemeliharaan yang bersifat selektif, sehingga walaupun ventrikel telah mengalami
pembesaran gray matter tidak mengalami gangguan. Proses dilatasi itu dapat
merupakan proses yang tiba tiba / akut dan dapat juga selektif tergantung pada
kedudukan penyumbatan. Proses akut itu merupakan kasus emergency.
Pada bayi dan anak kecil sutura kranialnya melipat dan melebar untuk
mengakomodasi peningkatan massa cranial. Jika fontanela anterior tidak tertutup dia
tidak akan mengembang dan terasa tegang pada perabaan.Stenosis aquaductal
(Penyakit keluarga / keturunan yang terpaut seks) menyebabkan titik pelebaran pada
ventrikel laterasl dan tengah, pelebaran ini menyebabkan kepala berbentuk khas yaitu
penampakan dahi yang menonjol secara dominan (dominan Frontal blow). Syndroma
dandy walkker akan terjadi jika terjadi obstruksi pada foramina di luar pada ventrikel
IV. Ventrikel ke IV melebar dan fossae posterior menonjol memenuhi sebagian besar
ruang dibawah tentorium. Klien dengan tipe hidrosephalus diatas akan mengalami

10

pembesaran cerebrum yang secara simetris dan wajahnya tampak kecil secara
disproporsional.
Pada orang yang lebih tua, sutura cranial telah menutup sehingga membatasi
ekspansi masa otak, sebagai akibatnya menujukkan gejala : Kenailkan ICP sebelum
ventrikjel cerebral menjadi sangat membesar. Kerusakan dalam absorbsi dan sirkulasi
CSF pada hidrosephalus tidak komplit. CSF melebihi kapasitas normal sistim ventrikel
tiap 6 8 jam dan ketiadaan absorbsi total akan menyebabkan kematian.
Pada pelebaran ventrikular menyebabkan robeknya garis ependyma normal yang pada
didning rongga memungkinkan kenaikan absorpsi. Jika route kolateral cukup untuk
mencegah dilatasi ventrikular lebih lanjut maka akan terjadi keadaan kompensasi.
2.1.6 Manifestasi Klinis
Tanda awal dan gejala hidrosefalus tergantung pada derajat ketidakseimbangan
kapasitas produksi dan resorbsi CSS (Darsono, 2005). Gejala-gejala yang menonjol
merupakan refleksi adanya hipertensi intrakranial. Manifestasi klinis dari hidrosefalus
pada anak dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu :
1.

Hidrosefalus terjadi pada masa neonatus

Meliputi pembesaran kepala abnormal, gambaran tetap hidrosefalus kongenital dan


pada masa bayi. Lingkaran kepala neonatus biasanya adalah 35-40 cm, dan
pertumbuhan ukuran lingkar kepala terbesar adalah selama tahun pertama kehidupan.
Kranium terdistensi dalam semua arah, tetapi terutama pada daerah frontal. Tampak
dorsum nasi lebih besar dari biasa. Fontanella terbuka dan tegang, sutura masih
terbuka bebas. Tulang-tulang kepala menjadi sangat tipis. Vena-vena di sisi samping
kepala tampak melebar dan berkelok. (Peter Paul Rickham, 2003).
2. Hidrosefalus terjadi pada akhir masa kanak-kanak

11

Pembesaran kepala tidak bermakna, tetapi nyeri kepala sebagai manifestasi hipertensi
intrakranial. Lokasi nyeri kepala tidak khas. Dapat disertai keluhan penglihatan ganda
(diplopia) dan jarang diikuti penurunan visus. Secara umum gejala yang paling umum
terjadi pada pasien-pasien hidrosefalus di bawah usia dua tahun adalah pembesaran
abnormal yang progresif dari ukuran kepala. Makrokrania mengesankan sebagai salah
satu tanda bila ukuran lingkar kepala lebih besar dari dua deviasi standar di atas
ukuran normal. Makrokrania biasanya disertai empat gejala hipertensi intrakranial
lainnya yaitu:
1. Fontanel anterior yang sangat tegang.
2. Sutura kranium tampak atau teraba melebar.
3. Kulit kepala licin mengkilap dan tampak vena-vena superfisial menonjol.
4. Fenomena matahari tenggelam (sunset phenomenon).
Gejala hipertensi intrakranial lebih menonjol pada anak yang lebih besar dibandingkan
dengan bayi. Gejalanya mencakup: nyeri kepala, muntah, gangguan kesadaran,
gangguan okulomotor, dan pada kasus yang telah lanjut ada gejala gangguan batang
otak akibat herniasi tonsiler (bradikardia, aritmia respirasi). (Darsono, 2005:213)
Kepala bisa berukuran normal dengan fontanela anterior menonjol, lama kelamaan
menjadi besar dan mengeras menjadi bentuk yang karakteristik oleh peningkatan
dimensi ventrikel lateral dan anterior posterior diatas proporsi ukuran wajah dan
bandan bayi. Puncak orbital tertekan ke bawah dan mata terletak agak kebawah dan
keluar dengan penonjolan putih mata yang tidak biasanya. Tampak adanya dsitensi
vena superfisialis dan kulit kepala menjadi tipis serta rapuh.Uji radiologis : terlihat
tengkorak mengalami penipisan dengan sutura yang terpisah pisah dan pelebaran
vontanela. Ventirkulogram menunjukkan pembesaran pada sistim ventrikel . CT scan
dapat menggambarkan sistim ventrikuler dengan penebalan jaringan dan adnya massa
pada ruangan Occuptional. Pada bayi terlihat lemah dan diam tanpa aktivitas normal.
12

Proses ini pada tipe communicating dapat tertahan secara spontan atau dapat terus
dengan menyebabkan atrofi optik, spasme ekstremitas, konvulsi, malnutrisi dan
kematian, jika anak hidup maka akan terjadi retardasi mental dan fisik.
A. Bayi :
1. Kepala menjadi makin besar dan akan terlihat pada umur 3 tahun.
2. Keterlambatan penutupan fontanela anterior, sehingga fontanela menjadi
tegang, keras, sedikit tinggi dari permukaan tengkorak.
3. Tanda tanda peningkatan tekanan intracranial antara lain :
4. Muntah
5. Gelisah
6. Menangis dengan suara ringgi
7. Peningkatan sistole pada tekanan darah, penurunan nadi, peningkatan
pernafasan dan tidak teratur, perubahan pupil, lethargi stupor.
8. Peningkatan tonus otot ekstrimitas
9. Dahi menonjol bersinar atau mengkilat dan pembuluh-pembuluh darah terlihat
jelas.
10. Alis mata dan bulu mata ke atas, sehingga sclera telihat seolah-olah di atas Iris
11. Bayi tidak dapat melihat ke atas, sunset eyes
12. Strabismus, nystagmus, atropi optic
13. Bayi sulit mengangkat dan menahan kepalanya ke atas.
B. Anak yang telah menutup suturanya :

13

Tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial :


1. Nyeri kepala
2. Muntah
3. Lethargi, lelah, apatis, perubahan personalitas
4. Ketegangan dari sutura cranial dapat terlihat pada anak berumur 10 tahun
5. Penglihatan ganda, kontruksi penglihatan perifer
6. Strabismus
7. Perubahan pupil
2.1.7 Pemeriksaan Diagnosis
Selain dari gejala-gejala klinik, keluhan pasien maupun dari hasil pemeriksaan
fisik dan psikis, untuk keperluan diagnostik hidrosefalus dilakukan pemeriksaanpemeriksaan penunjang, yaitu :
1. Rontgen foto kepala
Dengan prosedur ini dapat diketahui:
a. Hidrosefalus tipe kongenital/infantile, yaitu: ukuran kepala, adanya pelebaran
sutura, tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial kronik berupa imopressio
digitate dan erosi prosessus klionidalis posterior.
b. Hidrosefalus tipe juvenile/adult oleh karena sutura telah menutup maka dari foto
rontgen kepala diharapkan adanya gambaran kenaikan tekanan intrakranial.
2. Transiluminasi
Syarat untuk transiluminasi adalah fontanela masih terbuka, pemeriksaan ini
dilakukan dalam ruangan yang gelap setelah pemeriksa beradaptasi selama 3 menit.
Alat yang dipakai lampu senter yang dilengkapi dengan rubber adaptor. Pada
hidrosefalus, lebar halo dari tepi sinar akan terlihat lebih lebar 1-2 cm.
3. Lingkaran kepala
14

Diagnosis hidrosefalus pada bayi dapat dicurigai, jika penambahan lingkar


kepala melampaui satu atau lebih garis-garis kisi pada chart (jarak antara dua garis kisi
1 cm) dalam kurun waktu 2-4 minggu. Pada anak yang besar lingkaran kepala dapat
normal hal ini disebabkan oleh karena hidrosefalus terjadi setelah penutupan suturan
secara fungsional.
Tetapi jika hidrosefalus telah ada sebelum penutupan suturan kranialis maka
penutupan sutura tidak akan terjadi secara menyeluruh.
4. Ventrikulografi
Yaitu dengan memasukkan konras berupa O2 murni atau kontras lainnya
dengan alat tertentu menembus melalui fontanela anterior langsung masuk ke dalam
ventrikel. Setelah kontras masuk langsung difoto, maka akan terlihat kontras mengisi
ruang ventrikel yang melebar. Pada anak yang besar karena fontanela telah menutup
untuk memasukkan kontras dibuatkan lubang dengan bor pada kranium bagian frontal
atau oksipitalis. Ventrikulografi ini sangat sulit, dan mempunyai risiko yang tinggi. Di
rumah sakit yang telah memiliki fasilitas CT Scan, prosedur ini telah ditinggalkan.
5. Ultrasonografi
Dilakukan melalui fontanela anterior yang masih terbuka. Dengan USG
diharapkan dapat menunjukkan system ventrikel yang melebar. Pendapat lain
mengatakan pemeriksaan USG pada penderita hidrosefalus ternyata tidak mempunyai
nilai di dalam menentukan keadaan sistem ventrikel hal ini disebabkan oleh karena
USG tidak dapat menggambarkan anatomi sistem ventrikel secara jelas, seperti halnya
pada pemeriksaan CT Scan.
6. CT Scan kepala
Pada hidrosefalus obstruktif CT Scan sering menunjukkan adanya pelebaran
dari ventrikel lateralis dan ventrikel III. Dapat terjadi di atas ventrikel lebih besar dari
occipital horns pada anak yang besar. Ventrikel IV sering ukurannya normal dan
adanya penurunan densitas oleh karena terjadi reabsorpsi transependimal dari CSS.

15

Pada hidrosefalus komunikans gambaran CT Scan menunjukkan dilatasi ringan dari


semua sistem ventrikel termasuk ruang subarakhnoid di proksimal dari daerah
sumbatan.

Gambar 2 . CT Scan hidrosefalus


7. MRI kepala
MRI kepala dapat menunjukkan gambaran anatomi kepala secara mendetail dan
bermanfaat untuk mengidentifikasi tempat obstruksi

Gambar . MRI kepala dengan hidrosefalus

16

2.1.8 Penatalaksanaan
Penanganan hidrocefalus masuk pada katagori live saving and live sustaining
yang berarti penyakit ini memerlukan diagnosis dini yang dilanjutkan dengan tindakan
bedah secepatnya. Keterlambatan akan menyebabkan kecacatan dan kematian
sehingga prinsip pengobatan hidrocefalus harus dipenuhi yakni:
1. Tirah baring total :
Jegah resiko /gejala peningkatan tekanan intrakranial
Cegah resiko cedera
Cegah gangguan neurologis
2. Observasi tanda-tanda vital (GCS tingkat kesadaraan).
3. Pemberian obat-obatan

Deksamethason/kalmetason sebagai pengobatan anti-edema serebri,

dosis sesuai dengan berat ringannya trauma.


Pengobatan anti-edema dengan larutan hipertonis, yaitu manitol 20%,

atau Glukosa 40% atau Gliserol 10%.


Antibiotik yang memiliki efek barier darah otak (penisilin) atau untuk

infeksi anaerob diberikan Mentronidazol.


Makanan atau cairan, bila muntah dapat diberikan cairan infus

Dekstrosa 5%, 2-3 hari kemudian diberikan makanan lunak.


Pengobatan dengan Azetazolamid (Diamoks) untuk inhibisi LCS.

17

4. Mengurangi produksi cairan serebrospinal dengan merusak pleksus koroidalis


dengan tindakan reseksi atau pembedahan, atau dengan obat azetasolamid
(diamox) yang menghambat pembentukan cairan serebrospinal.
5. Memperbaiki hubungan antara tempat produksi caira serebrospinal dengan
tempat absorbsi, yaitu menghubungkan ventrikel dengan subarachnoid
6. Pengeluaran cairan serebrospinal ke dalam organ ekstrakranial, yakni:

Drainase ventrikule-peritoneal
Drainase Lombo-Peritoneal
Drainase ventrikulo-Pleural
Drainase ventrikule-Uretrostomi
Drainase ke dalam anterium mastoid
Mengalirkan cairan serebrospinal ke dalam vena jugularis dan jantung
melalui

kateter

yang

berventil

(Holter

Valve/katup

Holter)

yang

memungkinkan pengaliran cairan serebrospinal ke satu arah. Cara ini


merupakan cara yang dianggap terbaik namun, kateter harus diganti sesuai
dengan pertumbuhan anak dan harus diwaspadai terjadinya infeksi sekunder

dan sepsis.
Tindakan bedah pemasangan selang pintasan atau drainase dilakukan setelah
diagnosis lengkap dan pasien telah di bius total. Dibuat sayatan kecil di
daerah kepala dan dilakukan pembukaan tulang tengkorak dan selaput otak,
lalu selang pintasan dipasang. Disusul kemudian dibuat sayatan kecil di
daerah perut, dibuka rongga perut lalu ditanam selang pintasan, antara ujung
selang di kepala dan perut dihubiungakan dengan selang yang ditanam di

bawah kulit hingga tidak terlihat dari luar.


Pengobatan modern atau canggih dilakukan dengan bahan shunt atau pintasan
jenis silicon yang awet, lentur, tidak mudah putus.

18

2.1.9 Komplikasi
a. Infeksi
Berupa peritonitis, meningitis atau peradangan sepanjang saluran subkutan. Pada
pasien-pasien dengan VA Shunt. Bakteri aleni dapat mengawali terjadinya Shunt
Nephritis yang biasanya disebabkan Staphylococcus epidermis ataupun aureus, dengan
risiko terutama pada bayi. Profilaksis antibiotik dapat mengurangi risiko infeksi.
b. Hematoma Subdural
Ventrikel yang kolaps akan menarik permukaan korteks serebri dari duramater. Pasien
post operatif diletakkan dalam posisi terlentang mengurangi risiko sedini mungkin.
c. Obstruksi
Dapat ditimbulkan oleh:
- Ujung proksimal tertutup pleksus khoroideus.
- Adanya serpihan-serpihan (debris).
- Gumpalan darah.
- Ujung distal tertutup omentum.
- Pada anak-anak yang sedang tumbuh dengan VA Shunt, ujung distal kateter dapat
tertarik keluar dari ruang atrium kanan, dan mengakibatkan terbentuknya trombus dan
timbul oklusi.
d. Keadaan CSS yang rendah
Beberapa pasien Post shunting mengeluh sakit kepala dan vomiting pada posisi duduk
dan berdiri, hal ini ternyata disebabkan karena tekanan CSS yang rendah, keadaan ini
dapat diperbaiki dengan jalan:
- Intake cairan yang banyak.
- Katup diganti dengan yang terbuka pada tekanan yang tinggi.

19

e. Asites oleh karena CSS


Asites CSS ataupun pseudokista pertama kali dilaporkan oleh Ames, kejadian ini
diperkirakan 1% dari penderita dengan VP shunt. Adapun patogenesisnya masih
bersifat kontroversial. Diduga sebagai penyebab kelainan ini adalah pembedahan
abdominal sebelumnya, peritonitis, protein yang tinggi dalam CSS. Asites CSS
biasanya terjadi pada anak dengan tekanan intrakranial di mana gejala yang timbul
dapat berupa distensi perut, nyeri perut, mual dan muntah-muntah.
f. Kraniosinostosis
Keadaan ini terjadi sebagai akibat dari pembuatan shunt pada hidrosefalus yang berat,
sehingga terjadi penututupan dini dari sutura kranialis.

20

PATOFLOW
Kelainan
kongenital
Obstruksi aliran
CSS di sistem
ventrikel
Hidrosefalus
nonkomunikans

Pendarahan

Infeksi

Neoplasma

Meningitis
purulen

Pembesaran
jaringan di ruang
subaraknoid

Aliran CSS
terganggu

Sumbatan pd
absorpsi Aliran
CSS

Obtruksi oleh pendarahan


Meningkatan jumlah
cairan dalam ruang
subaranoid

Hidrosefalus
komunikans

Peningkatan jumlah cairan


serebrospinal (CSS)

penurunan
neurologi
kejang
penurunan tingkat
kesadaran
4. Resiko cedera

1. Peningkatan TIK
Pembesaran
kepala
Asupan nutrisi
tidak adekuat
2. Gangguan nutrisi
kurang dari
kebutuhan tubuh

21

Kelemahan fisik
umum
3. Gangguan
mobilitas fisik

2.2 ASUHAN KEPERAWATAN


2.2.1 Pengkajian
1. Pengumpulan Data

Data demografi
1) Nama
2) Usia : Kebanyakan terjadi pada anak-anak pada usia infant
3) Jenis Kelamin : Hidrocephalus sebagian besar mengenai anak laki laki
4) Suku/ bangsa
5) Agama
6) Pendidikan
7) Pekerjaan
8) Alamat

Riwayat Penyakit Sekarang : Pendarahan otak yang berhubungan dengan


kelahiran prematur

Riwayat Penyakit Dahulu


Antrenatal : Perdarahan ketika hamil
Natal : Perdarahan pada saat melahirkan, trauma sewaktu lahir
Postnatal : Infeksi, meningitis, TBC, diare, neoplasma

Riwayat penyakit keluarga

2. Pengkajian persistem

B1 (Breath) : Dispnea, ronchi, peningkatan frekuensi napas

B2 (Blood) : Pucat, peningkatan sistole tekanan darah, penurunan nadi


B3 (Brain) : Sakit kepala, gangguan kesadaran, dahi menonjol dan mengkilat
pembesarankepala, perubahan pupil, penglihatan ganda, kontruksi penglihatan
perifer, strabismus, tidak dapat melihat ke atas, sunset eyes, kejang

B4 (Bladder) : Oliguria

22

B5 (Bowel) : Mual, muntah, malas makan

B6 (Bone) : Kelemahan, lelah, Peningkatan tonus otot ekstrimitas

No
Bayi Normal
1. Mengangkat kepala setinggi 45 0

Bayi Hidrosefalus
sulit mengangkat dan menahan
kepalanya ke atas bahkan kesulitan

2.

menggerakkan kepala
Menggerakkan kepala dari kiri/kanan ke tidak dapat menatap
tengah

ke

atas,

memiliki penglihatan ganda, alis


mata

dan

bulu

mata

ke

atas

sehingga sclera telihat seolah olah


3.

di atas Iris
Tidak mampu

Melihat dan menatap wajah anda.

menatap

dengan

pandangan yang jelas,tidak dapat


4.

menatap ke atas
Mengoceh spontan atau bereaksi dengan Tidak ada tanda-tanda untuk bicara

5.
6.

mengoceh.
Suka tertawa keras
Bereaksi terkejut terhadap suara keras

7.

Membalas

8.

bicara/tersenyum.
Mengenal ibu dengan

tersenyum

ketika

Diam,muram
Tidak ada respon terhadap stimulus

apapun
diajak Tidak menunjukkan reaksi

penglihatan, Kurang

penciuman, pendengaran, kontak

terdekat.

23

bisa

mengenali

orang

2.2.2 Diagnosa Keperawatan


1. Peningkatan TIK yang berhubungan dengan peningkatan jumlah cairan
serebrospinal
2. Gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan
perubahan kemampuan mencerna makanan, peningkatan kebutuhan metabolisme
3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kesadaran, kelemahan
fisik umum, pembesaran kepala
4. Resiko cedera yang beerhubungan dengan adanya kejang, perubahan status
mental, dan penurunan tingkat kesadaran.
2.2.3 Intervensi dan Rasional
DX 1 : Peningkatan TIK yang berhubungan dengan peningkatan jumlah cairan
serebrospinal
Tujuan : Dalam wqaktu 2x24 jam tidak terjadi peningkatan TIK pada klien
Kriteria Hasil : Klien tidak gelisah, tidak mengeluh nyeri kepala, mual muntah, GCS :
4,5,6, tidak terdapat papiledema. TTV dalam batas normal.
INTERVENSI

RASIONAL
Deteksi diri untuk mempriortitaskan

Mandiri
Kaji faktor penyebab dari situasi /

intervensi,

keadaan individu / penyebab koma /

neurologis / tanda-tanda kegagalan

penurunan

untuk

perfusi

jaringan

dan

mengkaji

menentukan

kemungkinan penyebab peningkatan

kegawatan

TIK

pembelajaran

atau

status
perawatan
tindakan

Reaksi pupil dan pergerakan kembali

Evaluasi pupil

dari bola mata merupakan tanda dari


gangguan nervus/saraf jika batang
otak terkoyak. Keseimbanagan saraf
24

antara simpatis dan parasimpatis


merupakan respons refleks saraf
cranial
Monitor temperature dan pengaturan Panas

merupakan

refleks

dari

hipotalamus. Peningkatan kebutuhan

suhu lingkungan

metabolisme dan O2 akan menunjang


peningkatan

TIK

(Intracranial

Pressure)
DX 2 : Gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan
perubahan kemampuan mencerna makanan, peningkatan kebutuhan metabolisme
Tujuan : Dalam waktu 2x24 jam kebutuhan nutrisi klien terpenuhi
Kritreria Hasil : Turgor baik, asupan dapat masuk sesuai kebutuhan, terdapat
kemampuan menelan, sonde dilepas, BB meningkat 1kg, Hb dan Albumin dalm batas
normal
INTERVENSI
Observasi tekstur, turgor kulit

RASIONAL
Mengetahui status nutrisi klien

Lakukan oral higine

Kebersihan

mulut

merasngsang

nafsu makan

Observasi asupan keluar

Mengetahui keseimbanagan nutrisi


klien

DX 3 : Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kesadaran,


kelemahan fisik umum, pembesaran kepala
Tujuan : Dalam waktu 2x24 jam mobilitas klien meningkat sesuai kondisi klien

25

Kriteria Hasil : Skala ketergantungan klien meningkat menjadi bantuan minimal, tidak
terjadi kontraktur, fooddrop, gangguan integritas kulit, fungsi bowell dan bladder
optimal, serta peningkatan kemmapuan fisik.

Review

INTERVENSI
kemampuan
fisik

RASIONAL
dan Mengidentifikasikam

kerusakan yang terjadi

fungsi

dan

kerusakan

menentukan

pilihan

intervensi
Berikan perubahan posisi yang teratur Perubahan
pada klien

posisi

teratur

dapat

mendistribusikan berat badan secara


menyeluruh

dan

memfasilitasi

peredaran darah serta mencegah


dekubitus
Kaji adanya nyeri, kemerahan, bengkak
pada area kulit

Indikasi adanya kerusakan kulit dan


deteksi awal adanya dekubitus pada
area local yang tertekan

Dx 4 : Resiko cedera yang beerhubungan dengan adanya kejang, perubahan status


mental, dan penurunan tingkat kesadaran.
Tujuan : Dalam waktu 3x24 jam perawatan klien bebas dari cedera yang disebabkan
oleh kejang dan penurunan kesadaran
Kriteria Hasil : Klien tidak mengalami cedera apabila kejang berulang ada

INTERVENSI
RASIONAL
Monitor kejang pada tangan, kaki, Gambaran tribalitassistem
mulut, dan oto-otot muka lainnya
Persiapkan

lingkungan

yang

saraf

pusat memerlukan evaluasi yang


aman

26

sesuai dengan intervensi yang tepat

seperti

batasan

ranjang,

papan

pengaman, dan alat suction selalu

untuk

mencegah

terjadinya

komplikasi
Melindungi klien bila kejang terjadi

berada dekat klien


Pertahankan bedrest total selama fase
akut
Kolaborasi

pemberian

terapi

;
Mengurangi resiko jatuh/terluka jika

Diazepam, Phenobarbital

vertigo, sincope, dan ataksia terjadi


Untuk mencegah atau mengurangi
kejang.
Catatan

Phenobarbital

dapat

menyebabkan respiratorus depresi


dan sedasi

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

27

Hidrosefalus (kepala-air, istilah yang berasal dari bahasa Yunani: "hydro" yang
berarti air dan "cephalus" yang berarti kepala; sehingga kondisi ini sering dikenal
dengan "kepala air") adalah penyakit yang terjadi akibat gangguan aliran cairan di
dalam otak (cairan serebro spinal atau CSS). Gangguan itu menyebabkan cairan
tersebut bertambah banyak yang selanjutnya akan menekan jaringan otak di
sekitarnya, khususnya pusat-pusat saraf yang vital. Penyebab dari hidrosefalus adalah
penyakit bawaan( kongenital), infeksi, neoplasma, dan pendarahan. Terdapat dua
hidrosefalus : nonkomunikans dan komunikans. Masalah keperawatan yang timbul
dari pasien hidrosefalus :
1.
2.
3.
4.

Pengkatan tekanan intrakranial(TIK)


Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Gangguan mobilitas fisik
Risiko cedera

Yang harus di lakukan pada pasien hidrosefalus berikan obat-obatan (deksamethason,


antibiotik) dan ajurankan pasien untuk tirah baring total untuk mencegah risiko
peningktan tekanan intrakranial dan risiko cedera.
3.2 Saran
Agar mutu dan kualitas pelayanan kesehatan dapat lebih baik lagi, maka
sebaiknya setiap tenaga medis terutama seorang perawat harus mengetahui dan
memahami tentang suatu penyakit salah satunya dibahas pada makalah ini adalah
penyakit hydrocephalus matakuliah neurobehavior 1 berhubungan dengan praktik
keperawatan.
DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Linda Juall.2000. Nursing Diagnosis (application to clinical practice) edisi
8 .New York: Lippincott.
J.corwin elizaberth.2009.buku saku patofisiologi.jakarta:EGC

28

Muttaqin

arif.2008.asuhan

keperawatan

klien

dengan

gangguan

sistem

persarafan.jakarta:selemba medika
Mc Closky & Bulechek. (2002). Nursing Intervention Classification (NIC). United
States of America:Mosby.
Meidian, JM. (2002). Nursing Outcomes Classification (NOC).United States of
America:Mosby.
Suriadi & Rita Yuliani. 2001.Asuhan Keperawatan Pada Anak, Edisi I. Jakarta:CV
Sagung Seto

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang mana telah memberika
kita taufig dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyusun makalah ini. Sholawat
29

serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga
dan para sahabatnya yang telah membimbing kita dari jalan kegelapan menuju jalan
yang terang benderang.
Didalam penyusunan makalah ini kami mengucapkan banyak terima kasih
kepada ibu hj.Ns. Nonok karlina.S.kep.,M.kep.Sp.Kep.MB selaku dosen pembimbing
kami beserta semua pihak yang telah membantu di dalam proses penyusunan makalah
ini.
Kami menyadari didalam makalah ini masih ada kekurangan. Oleh karena itu
dengan rendah hati kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun. Dan kami
mengharapkan makalah ini dapat bermanfaat umumnya bagi para pembaca dan
khususnya bagi penulis sendiri.

Cirebon, 30 mei 2015

pen
yusun

DAFTAR ISI
i

KATA PENGANTAR..................................................................................................

DAFTAR ISI ...............................................................................................................

ii

BAB I PENDAHULUAN
30

1.1 Latar Belakang...................................................................................


1.2 Tujuan................................................................................................
1.3 Manfaat .............................................................................................

1
2
2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Hydrocepahalus ................................................................................
2.1.1 definisi .....................................................................................
2.1.2 anatomi fisiologi ......................................................................
2.1.3 etiologi .....................................................................................
2.1.4 klasifikasi.................................................................................
2.1.5 patofisiologi .............................................................................
2.1.6 manisfestasi klinik ...................................................................
2.1.7 pemeriksaan diagnosis.............................................................
2.1.8 penatalaksanaan .......................................................................
2.1.9 komplikasi ...............................................................................
2.2 Asuhan keperawatan .........................................................................
2.2.1 Pengkajian................................................................................
2.2.2 Diangnosa ................................................................................
2.2.3 Intervensi dan rasional ............................................................

3
3
4
6
8
10
11
14
17
18
22
22
23
24

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan........................................................................................
3.2 Saran .................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA

ii

31

28
28

Vous aimerez peut-être aussi