Vous êtes sur la page 1sur 18

ADAB BERMASYARAKAT

Nama :

No. Mahasiswa:

1. Lestari Saadah
14421134
2. Fatimah Fatmawati Tanjung 14421140

JURUSAN HUKUM ISLAM


FAKULTAS ILMU AGAMA ISLAM
Universitas Islam Indonesia Th. 2014/2015

BAB I
1

PENDAHULUAN
Latar belakang
Di antara kelaziman hidup bermasyarakat adalah budaya saling mengunjungi atau
bertamu, yang dikenal dengan isitilah silaturrahmi oleh kebanyakan masyarakat.
Walaupun sesungguhnya istilah silaturrahmi itu lebih tepat (dalam syariat) digunakan
khusus untuk berkunjung / bertamu kepada sanak famili dalam rangka mempererat
hubungan kekerabatan.
Namun bertamu, baik itu kepada sanak kerabat, tetangga, relasi, atau pihak lainnya,
bukanlah sekedar budaya semata melainkan termasuk perkara yang dianjurkan di dalam
agama Islam yang mulia ini. Karena berkunjung / bertamu merupakan salah satu sarana
untuk saling mengenal dan mempererat tali persaudaraan terhadap sesama muslim.
Allah berfirman: Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari
seorang laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa, dan
bersuku-suku, supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di
antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa.
(Al Hujurat: 13).
Rasulullah bersabda:
Bila seseorang mengunjungi saudaranya, maka Allah berkata kepadanya: Engkau dan
perjalananmu itu adalah baik, dan engkau telah menyiapkan suatu tempat tinggal di al
jannah (surga). (Shahih Al Adabul Mufrad no. 345, dari shahabat Abu Hurairah ).
Namun yang tidak boleh dilupakan bagi orang yang hendak bertamu adalah mengetahui
adab-adab dan tata krama dalam bertamu, dan bagaimana sepantasnya perangai (akhlaq)
seorang mukmin dalam bertamu. Karena memiliki dan menjaga perangai (akhlaq) yang
baik merupakan tujuan diutusnya Rasulullah , sebagaimana beliau bersabda:
Sesungguhnya aku diutus dalam rangka menyempurnakan akhlaq (manusia).
Oleh karena itu, pada kajian kali ini, akan kami sebutkan beberapa perkara yang
hendaknya diperhatikan dalam bertamu.
Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian adab bertamu ?
2. Bagaimana adab bertamu dan menerima tamu dalam islam ?
3. Bagaimana hikmah menerima tamu ?

BAB II

PEMBAHASAN
1. Pengertian Adab Bertamu
Adab merupakan cara dalam melakukan sesuatu yang sesuai dengan aturan yang berlaku
di masyarakat. Bertamu adalah berkunjung ke rumah orang lain dalam rangka
mempererat silahturrahim. Dengan demikian, adab bertamu dapat diartikan sebagai cara
berkunjung ke rumah orang lain dalam rangka mempererat silaturrahmi sesuai dengan
aturan yang berlaku di masyarakat.
Adab menerima tamu ialah tata cara seseorang memperlakukan tamu yang berkunjung ke
rumahnya sesuai aturan yang berlaku di masyarakat. Aturan tersebut lebih mengarah pada
nilai kesopanan, akhlak atau kebaikan budi pekerti. Dalam rangka berinteraksi sosial dan
bersilaturrahmi, setiap orang akan saling mengunjungi, bertamu dan menerima tamu.
Adab bertamu yang baik diantaranya yaitu :
1. Beritikad Yang Baik
Di dalam bertamu hendaknya yang paling penting untuk diperhatikan adalah
memilki itikad dan niat yang baik. Bermula dari itikad dan niat yang baik ini
akan mendorong kunjungan yang dilakukan itu senantiasa terwarnai dengan rasa
kesejukan dan kelembutan kepada pihak yang dikunjungi. Bahkan bila ia bertamu
kepada saudaranya karena semata-mata rasa cinta karena Allah dan bukan untuk
tujuan yang lainnya, niscaya Allah akan mencintainya sebagaimana ia mencintai
saudaranya.
Sebagaimana Rasulullah :
Ada seseorang yang berkunjung kepada saudaranya di dalam suatu kampung,
maka Allah mengirim malaikat untuk mengawasi arah perjalanannya. Ia
(malaikat) bertanya kepadanya:
Mau kemana anda pergi? Ia menjawab: Kepada saudaraku yang ada di
kampung ini. Malaikat berkata: Apakah dia memiliki nikmat (rizki) yang akan
diberikan kepada engkau. Dia menjawab: Tidak, semata-mata saya
mencintainya karena Allah. Malaikat berkata: Sesungguhnya saya diutus oleh
Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah mencintaimu sebagaimana kamu
mencintai saudaramu.
(Shahih Al Adabul Mufrad no. 350, Ash Shahihah no. 1044).
2. Tidak Memberatkan Bagi Tuan Rumah
Hendaknya bagi seorang tamu berusaha untuk tidak membuat repot atau
menyusahkan tuan rumah, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah :
Tidak halal bagi seorang muslim untuk tinggal di tempat saudaranya yang
kemudian saudaranya itu terjatuh ke dalam perbuatan dosa. Para shahabat
bertanya: Bagaimana bisa dia menyebabkan saudaranya terjatuh ke dalam
perbuatan dosa? Beliau menjawab: Dia tinggal di tempat saudaranya, padahal
saudaranya tersebut tidak memiliki sesuatu yang bisa disuguhkan kepadanya.
(HR. Muslim).

Al Imam An Nawawi berkata: Karena keberadaan si tamu yang lebih dari tiga
hari itu bisa mengakibatkan tuan rumah terjatuh dalam perbuatan ghibah, atau
berniat untuk menyakitinya atau berburuk prasangka (kecuali bila mendapat izin
dari tuan rumah). (Lihat Syarh Shahih Muslim 12/28).
3. Memilih Waktu Berkunjung
Islam telah memberi bimbingan dalam bertamu, yaitu jangan bertamu pada tiga
waktu aurat yaitu sehabis zuhur, sesudah isya, dan sebelum subuh.
Allah SWT berfirman :
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan
wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di anrata kamu,
meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu : sebelum
sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari
dan sesudah sembahyang isya. (itulah) tiga aurat bagi kamu. Tidak ada dosa
atasmu dan tidak (pula) atas mereka salain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani
kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kapada sebagian (yang lain).
Demikianlah Allah mejelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha
Mengetahui dan Maha Bijaksana. (QS An Nur : 58).
Ketiga waktu tersebut dikatakan sebagai waktu aurat karena waktu-waktu itu
biasanya digunakan untuk beristirahat. Lazimnya, orang yang beristirahat hanya
mengenakan pakaian yang sederhana (karena panas misalnya) sehingga sebagian
dari auratnya terbuka. Apabila anak-anak kecil saja diharuskan meminta izin bila
akan masuk ke kamar ayah dan ibunya, apa lagi orang lain yang bertamu.
Bertamu pada waktu-waktu tersebut tidak mustahil justru akan menyusahkan tuan
rumah yang hendak beristirahat, karena terpaksa harus berpakaian rapi lagi untuk
menerima kedatangan tamunya.
A. Tata Cara Berkunjung
a. Mengucapkan salam
Diperintahkan untuk mengucapkan salam terlebih dahulu, sebagaimana ayat
di atas (An Nur : 27).
Pernah salah seorang shahabat beliau dari Bani Amir meminta izin kepada
Rasulullah yang ketika itu beliau sedang berada di rumahnya. Orang tersebut
mengatakan: Bolehkah saya masuk?
Maka Rasulullah pun memerintahkan pembantunya dengan sabdanya:
Keluarlah, ajari orang ini tata cara meminta izin, katakan kepadanya:
Assalamu alaikum, bolehklah saya masuk?.
Sabda Rasulullah tersebut didengar oleh orang tadi, maka dia mengatakan:
Assalamualaikum.
Akhirnya Nabi pun mempersilahkannya untuk masuk rumah beliau.
(HR. Abu Dawud).

Bahkan mengucapkan salam ketika bertamu juga merupakan adab yang


pernah dicontohkan oleh para malaikat (yang menjelma sebagai tamu) yang
datang kepada Nabi Ibrahim u sebagaimana yang disebutkan oleh Allah di
dalam firman-Nya (artinya): Ketika mereka masuk ke tempatnya lalu
mengucapkan salam. (Adz Dzariyat: 25).
b. Meminta izin sebanyak tiga kali
Bila salam belum terdengar ulangi kembali hingga tiga kali. Tentunya,
dengan rentang waktu yang tidak terlalu rapat. Imam Muslim meriwayatkan
bahwa Abu Musa alAsyari menemui Umar bin Khathab, lalu ia berkata:
"Assalaamu alaikum, ini Abdullah bin Qais. Namun, Umar tidak
mengizinkannya masuk. Lalu Abu Musa alAsyari mengucapkan salam
kembali seraya mengatakan ini Abu Musa, lalu ia mengucapkan salam
(ketiga kalinya) sambil mengatakan ini Al Asyari kemudian ia pun pulang.
Abu Musa berkata: "Jawablah salamku, jawablah salamku." Tak lama setelah
itu, datanglah Umar bin Khathab: "Wahai Abu Musa, kami tidak menjawab
salammu karena kami sedang sibuk." Abu Musa berkata: "Saya mendengar
Rasulullah bersabda: "Minta idzin itu hanya tiga kali, bila diizinkan (silahkan
masuk) dan bila tidak diizinkan pulanglah kembali." (HR Muslim).
Rasulullah bersabda:
Meminta izin itu tiga kali, apabila diizinkan, maka masuklah, jika tidak,
maka kembalilah. (Muttafaqun Alaihi).
Hadits tersebut memberikan bimbingan kepada kita bahwa batasan akhir
meminta izin itu tiga kali. Jika penghuni rumah mempersilahkan masuk maka
masuklah, jika tidak maka kembalilah. Dan itu bukan merupakan suatu aib
bagi penghuni rumah tersebut atau celaan bagi orang yang hendak bertamu,
jika alasan penolakan itu dibenarkan oleh syariat. Bahkan hal itu merupakan
penerapan dari firman Allah (artinya): Jika kamu tidak menemui seorang
pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin.
Dan jika dikatakan kepadamu : Kembalilah, maka hendaklah kamu kembali.
Itu lebih bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan. (An Nur: 28).
c. Mengenalkan Identitas Diri
Ketika Rasulullah menceritakan tentang kisah Isra Miraj, beliau bersabda:
Kemudian Jibril naik ke langit dunia dan meminta izin untuk dibukakan
pintu langit. Jibril ditanya: Siapa anda? Jibril menjawab: Jibril.
Kemudian ditanya lagi: Siapa yang bersama anda? Jibril menjawab:
Muhammad. Kemudian Jibril naik ke langit kedua, ketiga, keempat, dan
seterusnya di setiap pintu langit, Jibril ditanya: Siapa anda? Jibril
menjawab: Jibril. (Muttafaqun Alaihi).
Sehingga Al Imam An Nawawi rahimahullah dalam kitabnya yang terkenal
Riyadhush Shalihin membuat bab khusus, Bab bahwasanya termasuk
sunnah jika seorang yang minta izin (bertamu) ditanya namanya: Siapa
anda? maka harus dijawab dengan nama atau kunyah (panggilan dengan abu
fulan/ ummu fulan) yang sudah dikenal, dan makruh jika hanya menjawab:
Saya atau yang semisalnya.
5

Ummu Hani, salah seorang shahabiyah Rasulullah mengatakan:Aku


mendatangi Nabi ketika beliau sedang mandi dan Fathimah menutupi beliau.
Beliau bersabda: Siapa ini? Aku katakan: Saya Ummu Hani.
(Muttafaqun Alaihi).
Demikianlah bimbingan Nabi yang langsung dipraktekkan oleh para
shahabatnya, bahkan beliau pernah marah kepada salah seorang shahabatnya
ketika kurang memperhatikan adab dan tata cara yang telah beliau
bimbingkan ini. Sebagaimana dikatakan oleh Jabir :Aku mendatangi Nabi
kemudian aku mengetuk pintunya, beliau bersabda: Siapa ini? Aku
menjawab: Saya. Maka beliau pun bersabda: Saya, saya..!!. Seolah-olah
beliau tidak menyukainya. (Muttafaqun Alaihi).
d. Menyebutkan Keperluannya
Di antara adab seorang tamu adalah menyebutkan urusan atau keperluan dia
kepada tuan rumah. Supaya tuan rumah lebih perhatian dan menyiapkan diri
ke arah tujuan kujungan tersebut, serta dapat mempertimbangkan dengan
waktu/ keperluannya sendiri. Hal ini sebagaimana Allah mengisahkan para
malaikat yang bertamu kepada Ibrahim u di dalam Al Quran (artinya):
Ibrahim bertanya: Apakah urusanmu wahai para utusan? Mereka
menjawab: Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa.
(Adz Dzariyat: 32).
e. Segera Kembali Setelah selesai Urusannya.
Termasuk pula adab dalam bertamu adalah segera kembali bila keperluannya
telah selesai, supaya tidak mengganggu tua rumah. Sebagaimana penerapan
dari kandungan firman Allah :
tetapi jika kalian diundang maka masuklah, dan bila telah selesai makan
kembalilah tanpa memperbanyak percakapan, (Al Ahzab: 53).
f.

Mendoakan Tuan Rumah.


Hendaknya seorang tamu mendoakan atas jamuan yang diberikan oleh tuan
rumah, lebih baik lagi berdoa sesuai dengan doa yang telah dituntunkan
Nabi , yaitu:
Ya Allah, berikanlah barakah untuk mereka pada apa yang telah Engkau
berikan rizki kepada mereka, ampunilah mereka, dan rahmatilah mereka.
(HR. Muslim).
Demikianlah tata cara bertamu, mudah-mudahan pembahasan ini menjadi
bekal bagi kita (kaum muslimin) untuk lebih bersikap sesuai dengan
bimbingan Nabi dalam bertamu.

g. Tidak Memandang Sekeliling Ruangan Penuh Selidik.


Bila telah diizinkan masuk, jagalah mata dan hal-hal yang tidak boleh dilihat.
Jangan biarkan mengikuti nafsu penasaran yang serba ingin tahu dan
menyelidiki sekitan. lnilah alasan mengapa disyariatkan minta izin.
Rasulullah bersabda, Sesungguhnya disyanatkan minta izin tidak lain untuk
menjaga pandangan. (HR Turmudzi).

Seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir akan mengimani
wajibnya memuliakan tamu sehingga ia akan menempatkannya sesuai dengan
kedudukannya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi
wa sallam :
Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah
dia memuliakan tamunya. (HR. Bukhari).
Berikut ini adalah adab-adab yang berkaitan dengan tamu dan bertamu. Kami
membagi pembahasan ini dalam dua bagian, yaitu adab bagi tuan rumah dan
adab bagi tamu.
Adab Bagi Tuan Rumah
1. Ketika mengundang seseorang, hendaknya mengundang orang-orang
yang bertakwa, bukan orang yang fajir (bermudah-mudahan dalam dosa),
sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam :
Janganlah engkau berteman melainkan dengan seorang mukmin, dan
janganlah memakan makananmu melainkan orang yang bertakwa!
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
2. Tidak mengkhususkan mengundang orang-orang kaya saja, tanpa
mengundang orang miskin, berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi
wa sallam :
Sejelek-jelek makanan adalah makanan walimah di mana orang-orang
kayanya diundang dan orang-orang miskinnya ditinggalkan. (HR.
Bukhari Muslim).
3. Disunahkan mengucapkan selamat datang kepada para tamu sebagaimana
hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhu,
bahwasanya tatkala utusan Abi Qais datang kepada Nabi shallallahu
alaihi wa sallam, Beliau bersabda :
Selamat datang kepada para utusan yang datang tanpa merasa
terhina dan menyesal. (HR. Bukhari).
4. Menghormati tamu dan menyediakan hidangan untuk tamu makanan
semampunya saja. Akan tetapi, tetap berusaha sebaik mungkin untuk
menyediakan makanan yang terbaik. Allah taala telah berfirman yang
mengisahkan Nabi Ibrahim alaihis salam bersama tamu-tamunya:
Dan Ibrahim datang pada keluarganya dengan membawa daging anak
sapi gemuk kemudian ia mendekatkan makanan tersebut pada mereka
(tamu-tamu Ibrahim-ed) sambil berkata: Tidakkah kalian makan?' (Qs.
Adz-Dzariyat: 26-27).
5. Dalam penyajiannya tidak bermaksud untuk bermegah-megah dan
berbangga-bangga, tetapi bermaksud untuk mencontoh Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam dan para Nabi sebelum beliau, seperti Nabi
Ibrahim alaihis salam. Beliau diberi gelar Abu Dhifan (Bapak para
tamu) karena betapa mulianya beliau dalam menjamu tamu.
7

6. Mendahulukan tamu yang lebih tua daripada tamu yang lebih muda,
sebagaimana sabda beliau shallallahu alaihi wa sallam:
Barang siapa yang tidak mengasihi yang lebih kecil dari kami serta
tidak menghormati yang lebih tua dari kami bukanlah golongan kami.
(HR Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad). Hadits ini menunjukkan
perintah untuk menghormati orang yang lebih tua.
7. Di antara adab orang yang memberikan hidangan ialah mengajak
mereka berbincang-bincang dengan pembicaraan yang menyenangkan,
tidak tidur sebelum mereka tidur, tidak mengeluhkan kehadiran mereka,
bermuka manis ketika mereka datang, dan merasa kehilangan tatkala
pamitan pulang.
8. Mempercepat untuk menghidangkan makanan bagi tamu sebab hal
tersebut merupakan penghormatan bagi mereka.
9. Merupakan adab dari orang yang memberikan hidangan ialah
melayani para tamunya dan menampakkan kepada mereka kebahagiaan
serta menghadapi mereka dengan wajah yang ceria dan berseri-seri.
10. Adapun masa penjamuan tamu adalah sebagaimana dalam sabda
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,
Menjamu tamu adalah tiga hari, adapun memuliakannya sehari semalam
dan tidak halal bagi seorang muslim tinggal pada tempat saudaranya
sehingga ia menyakitinya. Para sahabat berkata: Ya Rasulullah,
bagaimana menyakitinya? Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
berkata: Sang tamu tinggal bersamanya sedangkan ia tidak mempunyai
apa-apa untuk menjamu tamunya.
11. Hendaknya mengantarkan tamu yang mau pulang sampai ke depan
rumah.
HIKMAH MENERIMA TAMU
Sesungguhnya tamu itu ketika datang membawa rezekinya sendiri dan
sewaktu pulang membawa pergi dosa tuan rumah. Dalam hadits-hadits
yang shahih pun dijelaskan bahwa Rasulullah Shallallaahualaihi
Wasallam memerintahkan kepada kita yang beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya dan beriman akan adanya hari akhir untuk memuliakan tamu.
Dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu, Nabi Shallallaahualaihi Wasallam
bersabda: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka
hendaklah memuliakan tamunya" (Muttafaq 'alaih).
Dan sesungguhnya tamu itu tidak sedikitpun makan milikmu, semua
yang ia makan telah termaktub untuknya. Apa yang telah ditentukan
untuknya akan ia makan. Karena sesungguhnya sekecil apapun makanan
itu telah tertulis nama orang yang akan memakannya. Dan apabila
makanan yang tidak ada nama orang yang berhak memakannya walaupun
sudah didalam perut maka akan keluar kembali.

B. Adab bertamu dalam masyarakat jepang


a. Mengucapkan salam
Bagi masyarakat Jepang memberi kabar dan mengucapkan salam merupakan hal
yang wajib sebelum memasuki rumah seseorang yang dituju untuk
ditamu.Pertama dan yang paling wajib adalah membungkukkan badan.
Membungkuk (ojigi) adalah sebuah keharusan. Tradisi yang sudah harus
diajarkan kepada anak-anak sejak balita. Setelah memasuki rumah, biasanya tamu
mengucapkan salam (Ojamashimasu) yang berarti permintaan maaf kepada tuan
rumah karena telah merepotkan atas kunjungannya.
b. Melepas Sepatu dan Sandal
Ini sepertinya banyak dilakukan diberbagai Negara termasuk Indonesia, hanya
saja etika ini banyak sekali dilakukan oleh orang Jepang. Karena banyak rumah
di Jepang yang menggunakan tikar rumput (Tatami). Hal itu secara tidak
langsung memaksa tamu untuk melepas alas kaki mereka. Tapi biasanya tuan
rumah sudah menyediakan sandal khusus untuk memasuki rumah mereka.
c. Cara duduk
Rumah orang jepang memang ada kursi tamu, namun orang jepang lebih suka
duduk di lantai yang telah dilapisi tatami atau tikar.
Orang jepang duduk dengan cara kakinya dilipat belakang, persis seperti posisi
duduk attahiyat awal dalam sholat. Jangan duduk secara sembarangan seperti
kaki diselongsorkan atau kaki ditopang didagu, tidak sopan katanya, apalagi tidak
pakai kaos kaki, akan dianggap kita orang yang jorok.
Kalau tidak biasa cara duduk seperti mereka, bisa juga dengan cara duduk bersila,
orang jepang banyak juga yang tak tahan duduk seperti itu apalagi kaum lelaki,
mereka yang tak tahan memilih duduk bersila.
d. Pakai kaos kaki
Orang jepang selalu pakai kaos kaki. Kalau mau masuk rumah, mereka akan
melepaskan sepatunya sedangkan kaos kaki tetap terpakai, nanti di depan pintu
tersedia sendal untuk berganti ketika mau masuk rumah. Sandal itu wajib dipakai,
dan jangan lepas kaos kakimu.
C. Budaya bertamu orang Arab saudi
a. Mengucapkan Salam Assalamualaikum
Bagi kebanyakan Negara muslim di dunia etika dalam bertamunya memang
hampir sama, hanya ada sedikit perbedaan dari segi budaya dan tradisinya saja.
Bagi Negara muslim salam Assalamualaikum adalah doa untuk yang
mengucapkan dan yang diberi ucapan. Lalu mereka yang mendengar
menjawabnya dengan kalimat Waalaikumsalam, dengan arti yang tidak jauh beda
yaitu balik mendoakan kebaikan untuk sang pengucap.
b. Berpelukan sambil menempelkan kedua pipi
Etika ini dilakukan dengan sesama jenis seperti laki-laki dengan laki-laki dan
perempuan dengan perempuan. Ini juga tidak dilakukan ketika kita sedang
9

bertamu saja, saat bertemu teman dijalan pun sering kali orang muslim
melakukan hal ini.
c. Mengusap Kepala Tuan Rumah.
Etika ini juga tidak jauh beda dengan tata cara di atas, dilakukan dengan
sesama jenis dan tidak hanya dilakukan saat bertamu.
2. AKHLAK dalam PERGAULAN REMAJA DALAM ISLAM
a. Pengertian
Kata akhlak berasal dari bahasa Arab akhlaq yang berarti tabiat, perangai
atau kebiasaan. Akhlak secara terminologi berarti tingkah laku seseorang
yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu
perbuatan yang baik.
Kata tersebut banyak ditemukan dalam hadits Nabi Saw. Dalam salah
satu haditsnya Rasulullah Saw. bersabda, Sesungguhnya aku hanya
diutus untuk menyempurnakanakhlak yang mulia. (HR. Ahmad).
Sedangkan dalam al-Quran hanya ditemukan bentuk tunggal dari akhlaq
yaitu khuluq. Allah menegaskan, Dan sesungguhnya kamu benar-benar
berbudi pekerti yang agung. (QS. al-Qalam (68): 4). Khuluq adalah
ibarat dari kelakuan manusia yang membedakan baik dan buruk, lalu
dipilih yang baik untuk dipraktikkan dalam perbuatan, sedang yang
buruk dibenci dan dihilangkan .
Sehingga akhlak juga dibagi menjadi dua,yaitu akhlak baik (AlHamidah) dan akhlak buruk (Adz-Dzamimah).
Kata yang setara maknanya dengan akhlak adalah moral dan etika. Katakata ini sering disejajarkan dengan budi pekerti, tata susila, tata krama
atau sopan . Sedangkan pergaulan sendiri memiliki makna interaksi
antara sesama manusia,baik individu dengan individu,tau individu
dengan kelompok,contoh disekitar kita bisa jadi masyarakat, teman
sekolah, teman bermain dan lain sebagainya.
Islam telah mengatur etika pergaulan. Perilaku tersebut merupakan
batasan-batasan yang dilandasi nilai-nilai agama. Oleh karena itu
perilaku tersebut harus diperhatikan, dipelihara, dan dilaksanakan oleh
para pelakunya. Perilaku yang menjadi batasan dalam pergaulan adalah :
1. Perintah kepada wanita mengenakan jilbab dan kerudung.
Menurut An-Nabhani, busana wanita ada dua: jilbab (QS al-Ahzab
[33]: 59) dan kerudung (khimar)(QS an-Nur [24]: 31). Jilbab bukan
kerudung, sebagaimana yang disalahpahami kebanyakan orang,
tetapi baju terusan yang longgar yang terulur sampai ke bawah, yang
dipakai di atas baju rumah (h. 44, 61). Kerudung (khimar) adalah apa
saja yang digunakan untuk menutupi kepala (h. 44). Penjelasan AnNabhani mengenai arti jilbab ini sejalan dengan beberapa kamus,
antara lain dalam kitab Mujam Lughah al-Fuqah:

10

[Jilbab adalah] baju longgar yang dipakai wanita di atas baju


(rumah)-nya (Qalah Jie & Qunaibi,Mujam Lughah al-Fuqah, hlm.
124; Ibrahim Anis dkk, Al-Mujam al-Wsith, 1/128).
2. Larangan atas wanita bepergian selama sehari-semalam, kecuali
disertai dengan mahram-nya.
Larangan ini berdasarkan hadis Nabi saw.:


Tidak halal bagi seorang wanita yang mengimani Allah dan Hari
Akhir untuk melakukan perjalanan selama sehari-semalam, kecuali
disertai dengan mahram-nya (HR Muslim, Ibnu Khuzaimah, Ibnu
Hibban).
3. Perintah menundukkan pandangan (ghadhdh al-bashar).
Pria dan wanita diperintahkan Allah Swt. untuk ghadhdh al-bashar
(QS an-Nur [24]: 30-31). Yang dimaksud ghadhdh al-bashar menurut
An-Nabhani adalah menundukkan pandangan dari apa saja yang
haram dilihat dan membatasi pada apa saja yang dihalalkan untuk
dilihat. Pandangan mata adalah jalan masuknya syahwat dan
bangkitnya hasrat seksual, sesuai sabda Nabi saw. dalam satu hadis
Qudsi:


Pandangan mata [pada yang haram] adalah satu anak panah di antara
berbagai anak panah Iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena
takut kepada-Ku, Aku akan menggantikan pandangan itu dengan
keimanan yang akan dia rasakan manisnya dalam hatinya. (HR AlHakim, Al-Mustadrak, 4/349; Al-Baihaqi, Majma az-Zawid, 8/63).
(Abdul Ghani, 2004).
4. Larangan atas wanita untuk keluar rumah, kecuali dengan seizin
suaminya.
Wanita (istri) haram keluar rumah tanpa izin suaminya, karena
suaminya mempunyai hak-hak atas istrinya itu. An-Nabhani
menukilkan riwayat Ibnu Baththah dari kitab Ahkm an-Nis.
Disebutkan bahwa ada seorang wanita yang suaminya bepergian.
Ketika ayah wanita itu sakit, wanita itu meminta izin kepada Nabi
saw. untuk menjenguknya. Nabi saw. tidak mengizinkan. Ketika ayah
wanita itu meninggal,wanita itu meminta lagi izin kepada Nabi saw.
untuk menghadiri penguburan jenazahnya. Nabi saw. tetap tidak
mengizinkan. Lalu Allah Swt. mewahyukan kepada Nabi saw.:

Sesungguhnya Aku telah mengampuni wanita itu karena ketaatannya
kepada suaminya (An-Nabhani, An-Nizhm al-Ijtimi f al-Islm, h.
29).
11

5. Perintah pemisahan (infishl) antara pria dan wanita.


Perintah ini berlaku untuk kehidupan umum seperti di masjid dan
sekolah, juga dalam kehidupan khusus seperti rumah. Islam telah
memerintahkan wanita tidak berdesak-desakan dengan pria di jalan
atau di pasar (h. 29). (Al-Jauziyah, 1996).
6. Interaksi pria wanita hendaknya merupakan interaksi umum, bukan
interaksi khusus.
Interaksi khusus yang tidak dibolehkan ini misalnya saling
mengunjungi antara pria dan wanita yang bukan mahram-nya
(semisal apel dalam kegiatan pacaran), atau pria dan wanita pergi
bertamasya bersama.
3. AKHLAK BERTETANGGA.
Siapakah yang tergolong tetangga? Apa batasannya? Karena besarnya hak
tetangga bagi seorang muslim dan adanya hukum-hukum yang terkait
dengannya, para ulama pun membahas mengenai batasan tetangga. Para
ulama khilaf dalam banyak pendapat mengenai hal ini. Sebagian mereka
mengatakan tetangga adalah orang-orang yang shalat subuh bersamamu,
sebagian lagi mengatakan 40 rumah dari setiap sisi, sebagian lagi
mengatakan 40 rumah disekitarmu, 10 rumah dari tiap sisi dan beberapa
pendapat lainnya (lihat Fathul Baari, 10 / 367).
Namun pendapat-pendapat tersebut dibangun atas riwayat-riwayat yang
lemah. Oleh karena itu Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani berkata:
Semua riwayat dari Nabi Shallallahualaihi Wasallam yang berbicara
mengenai batasan tetangga adalah lemah tidak ada yang shahih. Maka
zhahirnya, pembatasan yang benar adalah sesuai urf (Silsilah Ahadits
Dhaifah, 1/446). Sebagaimana kaidah fiqhiyyah yang berbunyi al urfu
haddu maa lam yuhaddidu bihi asy syaru (adat kebiasaan adalah pembatas
bagi hal-hal yang tidak dibatasi oleh syariat). Sehingga, yang tergolong
tetangga bagi kita adalah setiap orang yang menurut adat kebiasaan setempat
dianggap sebagai tetangga kita.
Kedudukan Tetangga Bagi Seorang Muslim
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan: Bukan berarti
dalam hadits ini Jibril mensyariatkan bagian harta waris untuk tetangga
karena Jibril tidak memiliki hak dalam hal ini. Namun maknanya adalah
beliau sampai mengira bahwa akan turun wahyu yang mensyariatkan
tetangga mendapat bagian waris. Ini menunjukkan betapa ditekankannya
wasiat Jibril tersebut kepada Nabi Shallallahualaihi Wasallam (Syarh
Riyadhis Shalihin, 3/177).
Anjuran berbuat baik pada tetangga.
Karena demikian penting dan besarnya kedudukan tetangga bagi seorang
muslim, Islam pun memerintahkan ummatnya untuk berbuat baik terhadap
tetangga. Allah Taala berfirman (yang artinya) :

12




Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan
sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat,
anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang memiliki hubungan
kerabat dan tetangga yang bukan kerabat, teman sejawat, ibnu sabil dan
hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
sombong dan membangga-banggakan diri (QS. An Nisa: 36)
Syaikh Abdurrahman As Sadi menjelaskan ayat ini: Tetangga yang lebih
dekat tempatnya, lebih besar haknya. Maka sudah semestinya seseorang
mempererat hubungannya terhadap tetangganya, dengan memberinya sebabsebab hidayah, dengan sedekah, dakwah, lemah-lembut dalam perkataan dan
perbuatan serta tidak memberikan gangguan baik berupa perkataan dan
perbuatan (Tafsir As Sadi, 1/177)
Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam juga bersabda:


Sahabat yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik sikapnya
terhadap sahabatnya. Tetangga yang paling baik di sisi Allah adalah yang
paling baik sikapnya terhadap tetangganya (HR. At Tirmidzi 1944, Abu
Daud 9/156, dinilai shahih oleh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 103)
Maka jelas sekali bahwa berbuat baik terhadap tetangga adalah akhlak yang
sangat mulia dan sangat ditekankan penerapannya, karena diperintahkan oleh
Allah dan Rasul-Nya.
Bentuk bentuk perbuatan baik kepada tetangga.
Semua bentuk akhlak yang baik adalah sikap yang selayaknya diberikan
kepada tetangga kita. Diantaranya adalah bersedekah kepada tetangga jika
memang membutuhkan. Bahkan anjuran bersedekah kepada tetangga ini
sangat ditekankan oleh Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam :

Bukan mukmin, orang yang kenyang perutnya sedang tetangga sebelahnya
kelaparan (HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra 18108, dishahihkan Al
Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 149)
Beliau juga bersabda:


Jika engkau memasak sayur, perbanyaklah kuahnya. Lalu lihatlah keluarga
tetanggamu, berikanlah sebagiannya kepada mereka dengan cara yang baik
(HR. Muslim 4766)

13

Dan juga segala bentuk akhlak yang baik lainnya, seperti memberi salam,
menjenguknya ketika sakit, membantu kesulitannya, berkata lemah-lembut,
bermuka cerah di depannya, menasehatinya dalam kebenaran, dan
sebagainya.
Adab bertetangga dengan non muslim
Dalam firman Allah Taala pada surat An Nisa ayat 36 di atas, tentang
anjuran berbuat baik pada tetangga, disebutkan dua jenis tetangga. Yaitu al
jaar dzul qurbaa (tetangga dekat) dan al jaar al junub (tetangga jauh). Ibnu
Katsir menjelaskan tafsir dua jenis tetangga ini: Ali bin Abi Thalhah
meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa al jaar dzul qurbaa adalah tetangga
yang masih ada hubungan kekerabatan dan al jaar al junub adalah tetangga
yang tidak memiliki hubungan kekerabatan. Beliau juga menjelaskan: Dan
Abu Ishaq meriwayatkan dari Nauf Al Bikali bahwa al jaar dzul qurbaa
adalah muslim dan al jaar al junub adalah Yahudi dan Nasrani (Tafsir Ibnu
Katsir, 2/298).
Anjuran berbuat baik kepada tetangga berlaku secara umum kepada setiap
orang yang disebut tetangga, bagaimana pun keadaannya. Ketika
menjelaskan hadits


Jibril senantiasa menasehatiku tentang tetangga, hingga aku mengira
bahwa tetangga itu akan mendapat bagian harta waris
Al Aini menuturkan: Kata al jaar (tetangga) di sini mencakup muslim,
kafir, ahli ibadah, orang fasiq, orang jujur, orang jahat, orang pendatang,
orang asli pribumi, orang yang memberi manfaaat, orang yang suka
mengganggu, karib kerabat, ajnabi, baik yang dekat rumahnya atau agak
jauh (Umdatul Qaari, 22/108)
Demikianlah yang dilakukan para salafus shalih. Dikisahkan dari Abdullah
bin Amr Al Ash:
:

:

Beliau menyembelih seekor kambing. Beliau lalu berkata kepada seorang
pemuda: akan aku hadiahkan sebagian untuk tetangga kita yang orang
Yahudi. Pemuda tadi berkata: Hah? Engkau hadiahkan kepada tetangga kita
orang Yahudi?. Aku mendengar Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam
bersabda Jibril senantiasa menasehatiku tentang tetangga, hingga aku
mengira bahwa tetangga itu akan mendapat bagian harta waris (HR. Al
Bukhari dalam Al Adabul Mufrad 78/105, dishahihkan oleh Al Albani dalam
Shahih Adabil Mufrad)
Oleh karena itu para ulama menjelaskan bahwa tetangga itu ada tiga macam:
Tetangga muslim yang memiliki hubungan kerabat. Maka ia memiliki 3 hak,
yaitu: hak tetangga, hak kekerabatan, dan hak sesama muslim.

14

Tetangga muslim yang tidak memiliki hubungan kekerabatan. Maka ia


memiliki 2 hak, yaitu: hak tetangga, dan hak sesama muslim.
Tetangga non-muslim. Maka ia hanya memiliki satu hak, yaitu hak tetangga.
Dengan demikian berbuat baik kepada tetangga ada tingkatannya. Semakin
besar haknya, semakin besar tuntutan agama terhadap kita untuk berbuat baik
kepadanya. Di sisi lain, walaupun tetangga kita non-muslim, ia tetap
memiliki satu hak yaitu hak tetangga. Jika hak tersebut dilanggar, maka
terjatuh pada perbuatan zhalim dan dosa. Sehingga sebagai muslim kita
dituntut juga untuk berbuat baik pada tetangga non-muslim sebatas
memenuhi haknya sebagai tetangga tanpa menunjukkan loyalitas kepadanya,
agamanya dan kekufuran yang ia anut. Semoga dengan akhlak mulia yang
kita tunjukkan tersebut menjadi jalan hidayah baginya untuk memeluk Islam.
4. UKHUWAH ISLAMIYYAH
Kata ukhuwah dan semua derivasinya disebut 90 kali dalam al-Quran. Dari
pemakaian kata ukhuwah dalam al-Quran dan melihat substansi ayat yang
berkenaan dengan hubungan antara manusia, ukhuwah atau persaudaraan
antar umat manusia terbagi menjadi empat macam yaitu, ukhuwah insaniyah,
ukhuwah wathaniyah, ukhuwah diniyah, dan ukhuwah islamiyah.
Ukhuwah insaniyah, sebagian kalangan menyebutnya ukhuwah basyariyah,
adalah persaudaraan berdasarkan kesamaan sebagai manusia. Persaudaraan
sesama manusia sebenarnya tidak disebutkan dalam Al-Quran secara
tersurat, tapi secara tersirat. Antara lain pada surah al-Hujurat ayat 13 yang
menegaskan bahwa Allah menciptakan manusia terdiri dari lelaki dan
perempuan, menjadikan beragam bangsa dan suku dengan tujuan agar
mereka saling mengenal (ta`aruf).
Kata ta`aruf, menurut Ibn Faris dalam kitab Mujam Maqayis al-Lughah
(4/281), mengandung arti dasar beriringan, ketenangan, dan pengetahuan.
Dari sini muncul kata `urf yang artinya adat atau kebiasaan yang dilakukan
seseorang atau sekelompok masyarakat. Sesuatu yang sudah menjadi biasa
akan membawa ketenangan kepada mereka.
Berdasarkan arti bahasa tersebut, dapat dikatakan bahwa manusia, tanpa
membedakan ras, agama, atau apa pun, adalah sama-sama manusia yang
perlu saling mengenal (taaruf), karena punya hajat bersama yang saling
terkait. Perkenalan ini sampai pada tahap mengerti adat istiadat masingmasing yang akan berdampak pada kondisi saling memahami (tafahum).
Setelah saling memahami maka manusia akan mudah untuk saling tolong
menolong (ta`awun) dalam segala bentuk kebaikan.
Saling tolong menolong dalam kebaikan (al-birr) dan ketakwaan kepada
Allah merupakan salah satu inti ajaran Islam (al-Maidah: 3). Kebaikan dalam
menata masyarakat, lingkungan, pemberdayaan manusia, dan lain sebagainya
tidak akan bisa tercipta kecuali jika manusia hidup secara harmonis.
Nabi SAW bersabda pada saat haji Wada, Wahai sekalian manusia, kalian
semua berasal dari Adam. Adam berasal dari tanah. Tidak ada keutamaan
diantara orang Arab terhadap orang Ajam (non arab) kecuali ketakwaan
kepada Allah.

15

Ukhuwah wathaniyah adalah persaudaraan antar sesama manusia


berdasarkan kesamaan tempat tinggal atau negeri yang mereka huni. Dengan
kesamaan tempat ini, manusia membutuhkan seperangkat aturan yang
mengatur hak dan kewajiban masing-masing penduduk. Al-Quran
menjelaskan model ukhuwah wathaniyyah ini dalam beberapa ayat. Misalnya
ayat yang menyebutkan bahwa Allah mengutus Nuh kepada kaumnya yang
merupakan akh (saudara) mereka sendiri (asy-Syu`ara: 106). Begitu juga
Nabi Hud yang diutus kepada kaum Ad, Nabi Shalih kepada kaum Tsamud,
dan Nabi Syuaib kepada kaum Madyan. Kaum-kaum tersebut merupakan
akh dari para Nabi tersebut.
Pada masa Nabi Muhammad SAW persaudaraan sesama warga negara sudah
terjadi. Nabi memprakarsai sebuah kesepakatan bersama yang dikenal
dengan Piagam Madinah. Piagam ini berisi prinsip-prinsip dan aturan
bermasyarakat di antara penduduk Madinah yang majemuk.
Ukhuwah diniyah bisa diartikan sebagai persaudaraan atau kerukunan antar
umat beragama. Berdasarkan fitrahnya, manusia adalah makhluk yang
percaya kepada adanya Zat yang menciptakan alam semesta (al-`Ankabut:
61). Mulanya semua manusia bertauhid (ummah wahidah), tapi pada
perkembangannya mereka berselisih dan menyalahi ajaran tauhid. Maka
Allah pun mengutus para nabi dan rasul untuk mengembalikan mereka ke
jalan yang benar. (al-Baqarah: 213 ).
Al-Quran menegaskan keniscayaan adanya keragaman dalam berbagai
macam hal, seperti agama, bahasa, ras, dan lain sebagainya (ar-Rum: 22). Di
sisi lain, Al-Quran juga tidak membolehkan pemaksaan dalam beragama,
karena yang haq dan yang batil sudah jelas. Dengan melihat kenyataan
semacam itu, Islam memandang bahwa hubungan yang harmonis diantara
para penganut agama di dunia harus diciptakan dan dibina, agar kehidupan
bisa berjalan dengan baik.
Urgensi ukhuwah islamiyyah
Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW adalah agama yang mempunyai
seperangkat ajaran yang mencakup seluruh aspek kehidupan dan mempunyai
nilai-nilai universal yang agung, sebagai rahmat bagi semesta alam. Inilah
ajaran yang ingin Allah lestarikan di bumi ini, agar kehidupan menjadi
damai, tenteram, dan mendapatkan kebahagiaan di dunia sampai akhirat
nanti. Kesamaan dalam akidah, syariah, dan akhlak inilah yang harus
menjadi landasan yang kuat dalam kehidupan kaum mukmin.
Seperangkat nilai-nilai islam ini perlu di sosialisasikan kepada seluruh umat
manusia. Karenanya kaum Muslim harus bahu membahu dalam
mensosialisasikannya. Dan sosialisasi ini mutlak memerlukan kesatuan dan
persatuan umat. Untuk itu dalam beberapa hadis Nabi menghimbau agar
kaum mukmin bersatu. Di antaranya beliau menyebut kaum mukminin dalam
kondisi saling mencintai, menghargai, dan mengasihani, hendaknya seperti
satu jasad. Jika ada anggota yang sakit, maka semua akan merasakannya.
Nabi SAW juga menggambarkan kaum mukmin seperti satu bangunan yang
antara satu bagian dengan bagian yang lainnya saling menguatkan. Dan
masih banyak lagi hadis yang serupa.
16

Pada masa nabi rasa persatuan diantara kaum mukmin telah terjadi, sehingga
mereka bisa dengan mudah mengalahkan musuh-musuh mereka yang lebih
banyak, lebih kuat. Islam masuk ke Indonesia dan seantero dunia adalah
karena rasa persatuan mereka yang demikian kuat.
Persoalannya adalah bahwa jika terjadi pertikaian sesama kaum mukmin.
Maka sesuai arahan ayat di atas, hendaknya semua unsur berusaha melerai
pertikaian itu dengan sekuat tenaga, agar persatuan tidak terganggu. Jika
terganggu, maka akan lemahlah kedudukan umat Islam. Mereka akan dengan
sangat mudah diadu domba oleh mereka yang tidak senang umat Islam
bersatu.
Usaha untuk menciptakan ukhuwah di antara kaum Muslim harus terus
dilakukan, meski pada akhirnya Allah juga yang akan mempertemukan hati
mereka. Sejarah telah membuktikan bahwa ukhuwah Islamiyah telah terjadi
pada masa Nabi. Saat itu mereka bisa Berjaya hingga mampu membangun
peradaban yang membanggakan. Inilah yang harus menjadi cermin kita
bersama.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari uraian yang telah dipaparkan pada halaman sebelumnya dapatdiambil beberapa
kesimpulan, di antaranya adalah, senantiasa memperhatikantatacara dan sopan santun kita
di dalam bertamu ke rumah tetangga, baik yang jauhmaupun yang dekat, begitu juga
ketika ada tetangga yang bertamu ke tempat kita,kita harus menyambutnya dengan suka
cita, terlebih tamu itu dating dari tempat yang jauh, kemudian kita harus menjaga
hubungan baik dengan mereka. Selain menjagfa hubungan baik dengan tetangga kita juga
harus menjaga hubungan baik kita di dalam bermasyarakat dengan memperhatikan
etika/tatacara kita bergaul dilingkungan masyarakat, seperti adab bergaul dengan yang
lebih tua, adab bergaul dengan yang sebaya, adab bergaul dengan yang lebih muda, adab
bergaul dengan yang beda agama dan sebagainya. Memperhatikan kewajiban kita
terhadap muslimlainnya, dan selalu menjaga ukhuwa islamiyah dengan selalu memacu
dan memupuk tali silaturrahim antar sesama muslim.

DAFTAR PUSTAKA
1. pengumpulhikmah.blogspot.com/2013/03/memuliakan-tamu-wajibhukumnya.html
2. https://aburamiza.wordpress.com/2010/12/28/adab-adab-bertamu-dalam-islam/
3. http://www.masuk-islam.com/pembahasan-lengkap-tentang-memuliakan-tamudalam-islam-dan-adab-bertamu.html
4. http://ismanku.blogspot.com/2012/02/adab-dalam-bertamu-dan-menerimatamu.html
5. http://majalahgontor.net/menjalin-ukhuwah-islamiyah-dalam-perspektif-al-quran/
17

6. http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/akhlak-islami-dalam-bertetangga.html.
7. Kitab An-Nizhm al-Ijtimi f al-Islm.

18