Vous êtes sur la page 1sur 1

1.

Anti jamur
Meskipun pendekatan pengobatan difokuskan pada agen anti inflamasi tapi
saat ini telah diterima bahwa terapi awal dermatitis seboroik berdasarkan
terapi anti jamur topical. Anti jamur golongan azole (lanosterol 14 inhibitor demethylase) terbukti paling efektif dalam menghambat pertumbuhan
Malassezia spp. Diantara golngan azole yang lain, ketokonazole lebih
menunjukkan efek yang lebih baik. Ketokonazole tersedia dalam sediaan
shampoo, krim dan gel. Ketokonazole shampoo 2% efektif digunakan pada
kulit kepala, digunakan dua kali seminggu dan penggunaan yang intermiten
sekali seminggu tebukti memiliki efek profilaksis yang signifikan.
Ketokonazole krim digunakan pada wajah dan dada digunakan dua kali
sehari. Selain sebagai anti jamur ketokonazole juga memiliki sifat anti
inflamasi ringan. Selain ketokonazole, mikonazole juga adapat efektif sebgai
mono terapi atau dikombinasikan dengan hidrokortison.
2. Kortikosteroid
Dalam Kasus dermatitis seboroik yang berat, topical potensi ringan dengan
dosis rendah efektif dalam menangani tanda dan gejala secara cepat.
Kortikosteroid dapat digunakan sendri atau kombinasi dengan anti jamur.
Penggunaan jangka panjang kortikosteroid tidak dianjurkan karena dapat
menyebabkan atrofi, telangektasis, hipertrikosis dan dermatitis perioral. Anti
jamur masih menjadi pilihan pertama dalam pengobatan dermatitis seboroik
karena telah dibuktikan bahwa ketokonazole lebih unggul dari pada
betametason diproprionat 0,05% dalam mengurangi gejala dan jumlah
malassezia spp. Ada konsesus yang mengatakan bahwa kortikosteroid jangka
pendek berguna untuk mengontrol edema dan gatal.
3. Inhibitor kalsineurin
Inhibitor kalsineurin topikal, pimekrolimus 1%,krim dan tacrolimus 0,03% dan
0,1% salep mengurangi peradangan kulit dengan menghambat produksi
sitokin Limfosit T.
4. Zinc pyrithione
Yaitu bahan aktif yang umum sebagai shampoo anti ketombe dan memiliki 2
efek yaitu sebagai anti jamur dan efek anti mikroba. Sedian zinc pyritione 1%
dan 2% pada shampoo serta 1% pada sediaan krim. Sebenarnya zinc
pyrithione telah menunjukan efektivitas rendah dari ketokonazole dalam
beberapa uji coba, tapi mungkin masih efektik untuk menangani gejala
penyakit bila digunakan sendiri tau dikombinasikan dengan ketokonazol.