Vous êtes sur la page 1sur 30

TUGAS MEDIKOLEGAL

KELOMPOK C1
ARZIA PRAMADI RAHMAN
I GDE ARIANA
IDA MADE HRISIKESA WJG
IVAN APRIAN AKBAR
LAILI KHAIRANI
L. MUH. NUH

Kasus 1
Seorang wanita berusia 20 tahun datang ke praktek dr.Lalu untuk meminta visum
atas
kejadian penganiayaan
yang dilakukanUNIVERSITAS
suaminya. Setelah melalui
FAKULTAS
KEDOKTERAN
pemeriksaan yang teliti, Dr.Lalu
yang baru lulus dan belum mempunyai STR,
MATARAM

berhasil menyimpulkan bahwa luka


pukulan ke mata kanan wanita tersebut
2010
menyebabkan perdarahan didalam bola mata. Keadaan yang demikian dapat
mengganggu fungsi penglihatan mata kanan sehingga dapat dikategorikan
sebagai luka berat sesuai Pasal 90 KUHP.Pertanyaan :
1. Apakah telah terpenuhi sarat formal?
2. Apakah telah terpenuhi sarat materiel?
3. Bagaimanakah prosedur permintaan visum et repertum korban KDRT
berdasarkan KUHAP dan UU Penghapusan KDRT?
4. Bagaimanakah sistematika visum et repertum pada korban hidup yang
mengalami cedera mata?

JAWAB
1. Sarat Formal
Dalam kasus ini sarat formal masih belum terpenuhi. Jadi korban disini meiliki
status tetap sebagai pasien, bukan sebagai barang bukti. Hal ini dapat kita
lihat pada KUHAP pasal 133 ayat 1 dan 2;
(1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban
baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan
tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli
kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.
(2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan
secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan
luka atau
pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.

Jadi dari KUHAP tersebut dapat kita lihat bahwa yang berhak meminta visum
et repertum adalah penyidik atau hakim (dijelaskan pada pasal 180). Oleh
karena ini permintaan pasien untuk dilakukan visum et repertum disini tentu
tidak memenuhi sarat formal.

Akan

tetapi

pada

praktik

sehari-hari

tidak

dapat

dihindari

pasien

yang

langsung datang ke dokter baru melaporkan kejadian tersebut ke penyidik,


yang artinya surat permintaan visum et repertum akan datang terlambat,hal ini
tidak mejadi masalah selama keterlambatan ini beralasan dan dapat diterima,
misalnya karena sarana komunikasi yang kurang. Untuk itu terdapat beberapa
kondisi yang perlu diperhatikan dalam penanganan di Rumah Sakit atau UGD;
1. Setiap pasien dengan trauma
2. Setiap pasien dengan keracunan/diduga keracunan
3. Pasien tidak sadar dengan riwayat trauma yang tidak jelas
4. Pasien dengan kejahatan kesusilaan/perkosaan
5. Pasien tanpa luka/cedera dengan membawa surat permintaan visum

Pada kondisi-kondisi ini dilakukan pengkhususan pada pembuatan rekam


medisnya, berdasarkan

temuan-temuan

yang

ada, kemudian

rekam

medis

tersebut diberikan sampul yang berbeda atau diberikan tanda serta dipisahkan
dengan pasien-pasien lainnya.

Kemudian kalau kita tinjau dari UU penghapusan KDRT, maka sarat formal ini
juga masih belum dapat terpenuhi, hal ini merujuk pada 21 ayat 2;
Pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan di sarana
kesehatan milik pemerintah, pemerintah daerah, atau masyarakat.

Dalam

pasal

21

disebutkan

bahwa

seorang

dokter

dalam

memberikan

pelayanan kesehatan kepada korban seperti pada kasus ini harus dilakukan di

sarana kesehatan milik pemerintah, pemerintah daerah atau masyarakat jadi


masih dalam suatu institusi atau lembaga, tidak dapat dilakukan dalam praktek
sehari-hari.

2. Sarat Materil
Yang

menjadi

kompetensi

masalah

dan

utama

profesionalitas

dalam
seorang

sarat

materil

dokter

ini

dalam

yaitu

bagaimana

profesinya. Sorotan

utama dalam kasus ini yaiitu dr. Lalu ini masih belum memiliki STR, dimana
STR ini diatur dalam UU praktek kedokteran dan KODEKI sebagai berikut;

UU praktik kedokteran Indonesia

Pasal 29
Setiap dokter dan dokter gigi yang melakukan praktik kedokteran di
Indonesia wajib memiliki surat tanda registrasi dokter dan surat tanda
registrasi dokter gigi.

Pasal 35
(1) Dokter atau dokter gigi yang telah memiliki surat tanda registrasi mempunyai
wewenang melakukan praktik kedokteran sesuai dengan pendidikan dan
kompetensi yang dimiliki, yang terdiri atas:
a. mewawancarai pasien;
b. memeriksa fisik dan mental pasien;
c. menentukan pemeriksaan penunjang;
d. menegakkan diagnosis;
e. menentukan penatalaksanaan dan pengobatan pasien;
f. melakukan tindakan kedokteran atau kedokteran gigi;

g. menulis resep obat dan alat kesehatan;


h. menerbitkan surat keterangan dokter atau dokter gigi;
i. menyimpan obat dalam jumlah dan jenis yang diizinkan; dan
j. meracik dan menyerahkan obat kepada pasien, bagi yang praktik di daerah
terpencil yang tidak ada apotek.
(2) Selain kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kewenangan
lainnya diatur dengan Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia.

Pasal 38
(1) Untuk mendapatkan surat izin praktik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36,
dokter atau dokter gigi harus :
a. memiliki surat tanda registrasi dokter atau surat tanda registrasi dokter
gigi yang masih berlaku sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29, Pasal 31,
dan Pasal 32;
b. mempunyai tempat praktik; dan
c. memiliki rekomendasi dari organisasi profesi.

(2) Surat izin praktik masih tetap berlaku sepanjang :


a. surat tanda registrasi dokter atau surat tanda registrasi dokter gigi masih
berlaku; dan
b. tempat praktik masih sesuai dengan yang tercantum dalam surat izin
praktik.

KODEKI

Pasal 7

Seorang dokter hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang telah diperiksa
sendiri kebenarannya
Pasal 7a
Seorang dokter harus, dalam setiap praktik medisnya, memberikan pelayanan medis
yang kompeten dengan kebebasan medis dan moral sepenuhnya, disertai rasa
kasih sayang (compassion) dan penghormatan atas martabat manusia
Pasal 7b
Seorang dokter harus bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dan
sejawatnya , dan berupaya mengingatkan sejawatnya yang dia ketahui memiliki
kekurangan dalam karakter atau kompetensi, atau melakukan penipuan atau
penggelapan dalam menangani pasien.
Pasal 7c
Seorang dokter harus menghormati hak-hak pasien , hak-hak sejawatnya, dan hak
tenaga kesehatan lainnya, dan harus menjaga kepercayaan pasien
Pasal 7d
Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup
makhluk insani

Dari pasal-pasal di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa sebenarnya dr.Lalu
ini masih belum boleh membuka praktek sendiri karna memang surat izin
praktik sendiri belum bisa dimiliki kalau belum memiliki STR. Selain itu, untuk
setiap tindakan seperti disebutkan dalam pasal 35 ayat 1 masih belum
mendapatkan suatu legalitas termasuk salah satunya yaitu membuat suatu
visum et repertum. Lebih jauh lagi pada KODEKI juga diatur beberapa hal
terkait

beberapa

kewajiban

dokter

dalam

bersikap

jujur, menghormati hak

pasien, sejawat, serta hak tenaga kesehatan lain serta harus tetap menjaga
kepercayaan pasien, yang artinya melakukan tindakan praktek atau pada kasus
ini

membuat

suatu

visum

et repartum

tanpa

adanya

kewajiban-kewajiban sepeti tersebut dalam KODEKI tersebut.

STR

melanggar

Dari penjelasan tersebut dapat kita simpulkan bahwa sarat materil pada kasus
ini juga masih belum terpenuhi.
3. Prosedur permintaan visum et repertum

Standar Pengajuan Visum et Repertum berdasarkan KUHAP


1. Ketentuan standar dalam penyusunan visum et repertum korban hidup
a. Pihak yang berwenang meminta keterangan ahli menurut KUHAP pasal 133
ayat (1) adalah penyidik yang menurut PP 27/1983 adalah Pejabat Polisi
Negara RI. Sedangkan untuk kalangan militer maka Polisi Militer (POM)
dikategorikan sebagai penyidik.
b. Pihak yang berwenang membuat keterangan ahli menurut KUHAP pasal 133
ayat (1) adalah dokter dan tidak dapat didelegasikan pada pihak lain.
c. Prosedur permintaan keterangan ahli kepada dokter telah ditentukan bahwa
permintaan oleh penyidik harus dilakukan secara tertulis yang secara tegas
telah diatur dalam KUHAP pasal 133 ayat (2).
d. Penyerahan surat keterangan ahli hanya boleh dilakukan pada Penyidik yang
memintanya sesuai dengan identitas pada surat permintaan keterangan ahli.
Pihak lain tidak dapat memintanya.

2. Pihak yang terlibat dalam kegiatan pelayanan forensik klinik


a. Dokter
b. Perawat
c. Petugas Administrasi

3. Tahapan-tahapan dalam pembuatan visum et repertum pada korban hidup


a. Penerimaan korban yang dikirim oleh Penyidik.
Yang berperan dalam kegiatan ini adalah dokter, mulai dokter umum sampai
dokter spesialis yang pengaturannya mengacu pada S.O.P. Rumah Sakit
tersebut.

Yang

diutamakan

pada

kegiatan

ini

adalah

penanganan

kesehatannya dulu, bila kondisi telah memungkinkan barulah ditangani aspek


medikolegalnya. Tidak tertutup kemungkinan bahwa terhadap korban dalam
penanganan medis melibatkan berbagai disiplin spesialis.
b. Penerimaan surat permintaan keterangan ahli/visum et revertum
Adanya surat permintaan keterangan ahli/visum et repertum merupakan hal
yang penting untuk dibuatnya visum et repertum tersebut. Dokter sebagai
penanggung jawab pemeriksaan medikolegal harus meneliti adanya surat
permintaan tersebut sesuai ketentuan yang berlaku. Hal ini merupakan aspek
yuridis yang sering menimbulkan masalah, yaitu pada saat korban akan
diperiksa surat permintaan dari penyidik belum ada atau korban datang
sendiri dengan membawa surat permintaan keterangan ahli/ visum et
repertum.
c. Pemeriksaan korban secara medis
Tahap ini dikerjakan oleh dokter dengan menggunakan ilmu forensik yang
telah dipelajarinya. Namun tidak tertutup kemungkinan dihadapi kesulitan
yang mengakibatkan beberapa data terlewat dari pemeriksaan. Ada
kemungkinan didapati benda bukti dari tubuh korban misalnya anak peluru,
dan sebagainya. Benda bukti berupa pakaian atau lainnya hanya diserahkan
pada pihak penyidik. Dalam hal pihak penyidik belum mengambilnya maka
pihak petugas sarana kesehatan harus menyimpannya sebaik mungkin agar
tidak banyak terjadi perubahan. Status benda bukti itu adalah milik negara,
dan secara yuridis tidak boleh diserahkan pada pihak keluarga/ahli warisnya
tanpa melalui penyidik.
d. Pengetikan surat keterangan ahli/visum et repertum
Pengetikan berkas keterangan ahli/visum et repertum oleh petugas
administrasi memerlukan perhatian dalam bentuk/formatnya karena ditujukan
untuk kepentingan peradilan. Misalnya penutupan setiap akhir alinea dengan
garis, untuk mencegah penambahan kata-kata tertentu oleh pihak yang tidak
bertanggung jawab.
e. Penandatanganan surat keterangan ahli / visum et repertum

Undang-undang menentukan bahwa yang berhak menandatanganinya adalah


dokter. Setiap lembar berkas keterangan ahli harus diberi paraf oleh dokter.
f. Penyerahan benda bukti yang telah selesai diperiksa
Benda bukti yang telah selesai diperiksa hanya boleh diserahkan pada
penyidik saja dengan menggunakan berita acara.
g. Penyerahan surat keterangan ahli/visum et repertum.
Surat keterangan ahli/visum et repertum juga hanya boleh diserahkan pada
pihak penyidik yang memintanya saja. Dapat terjadi dua instansi penyidikan
sekaligus meminta surat visum et repertum.

Standar Pengajuan Visum et Repertum Berdasrkan UU penghapusan


KDRT

Pasal 10
Korban berhak mendapatkan:
a. perlindungan dari pihak keluarga, kepolisian, kejaksaan, pengadilan, advokat,
lembaga sosial, atau pihak lainnya baik sementara maupun berdasarkan
penetapan perintah perlindungan dari pengadilan;
b. pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan medis;
c. penanganan secara khusus berkaitan dengan kerahasiaan korban;
d. pendampingan oleh pekerja sosia' dan bantuan hukum pada setiap tingkat
proses pemeriksaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
dan
e. pelayanan bimbingan rohani.

Pasal 26
1) Korban berhak melaporkan secara langsung kekerasan dalam rumah tangga
kepada kepolisian baik di tempat korban berada maupun di tempat kejadian
perkara.

2) Korban dapat memberikan kuasa kepada keluarga atau orang lain untuk
melaporkan kekerasan dalam rumah tangga kepada pihak kepolisian baik di
tempat korban berada maupun di tempat kejadian perkara.

Pasal 17
Dalam memberikan perlindungan sementara, kepolisian dapat bekerja sama dengan
tenaga kesehatan, pekerja sosial, relawan pendamping, dan/atau pembimbing
rohani untuk mendampingi korban.

Pasal 21
1) Dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada korban,tenaga kesehatan
harus:
a. memeriksa kesehatan korban sesuai dengan standar profesinya;
b. membuat laporan tertulis hasil pemeriksaan terhadap korban dan visum et
repertum atas permintaan penyidik kepolisian atau surat keterangan medis
yang memiliki kekuatan hukum yang sama sebagai alat bukti.
2) Pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan di sarana
kesehatan milik pemerintah, pemerintah daerah, atau masyarakat.

Keempat pasal di atas merupakan urutan dasar hukum pasien dalam melaporkan
kejadian KDRT yang dialaminya.
Setelah memenuhi hak-hak pada pasal 10, pasien melaporkan secara langsung
kepada kepolisian berdasarkan pasal 26. Kemudian kepolisian bekerjasama dengan
tenaga kesehatan berdasarkan dari pasal 17. Terakhir berdasarkan dari pasal 21,
tenaga kesehatan memeriksa kesehatan korban sesuai dengan standar profesinya
dan membuat laporan tertulis hasil pemeriksaan terhadap korban dan visum et
repertum atas permintaan penyidik kepolisian.

Jadi berdasarkan dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa korban harus
melaporkan terlebih dahulu kepada penyidik, kemudian penyidik tersebut yang dapat
meminta keterangan kepada ahli, yang mana disini merupakan seorang dokter yang
memiliki keahlian khusus pada bidangnya berdasarkan dari pasal 120 angka 1
KUHAP menyatakan :

Dalam hal dianggap perlu, penyidik dapat meminta pendapat ahli atau orang yang
memiliki keahlian khusus.

Menurut pasal 180 angka 1 KUHAP menyatakan :


Dalam hal ini diperlukan untuk menjernihkan duduknya persoalan yang timbul di
sidang pengadilan , hakim ketua sidang dapat diminta keterangan ahli dan dapat
pula minta diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan.

Dari kedua pasal diatas dapat disimpulkan bahwa yang berhak meminta bantuan
dokter sebagai ahli adalah:
1. Penyidik
2. Hakim

4. Sistematika Visum et Repertum pada Korban Hidup Cedera Mata


Setiap visum et repertum secara umum harus memenuhi ketentuan sebagai
berikut:
a) Diketik di atas kertas berkepala surat instansi pemeriksa
b) Bernomor dan bertanggal
c) Mencantumkan kata Pro Justitia di bagian atas kiri (kiri atau tengah)
d) Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
e) Tidak menggunakan singkatan, terutama pada waktu mendeskripsikan
temuan

Pemeriksaan
f) Tidak menggunakan istilah asing
g) Ditandatangani dan diberi nama jelas
h) Berstempel instansi pemeriksa tersebut
i) Diperlakukan sebagai surat yang harus dirahasiakan
j) Hanya diberikan kepada penyidik peminta visum et repertum. Apabila ada
lebih dari satu instansi peminta, misalnya penyidik POLRI dan penyidik POM,
dan keduanya berwenang untuk itu, maka kedua instansi tersebut dapat
diberi visum et repertum masing-masing asli
k) Salinannya diarsipkan dengan mengikuti ketentuan arsip pada umumnya, dan
disimpan sebaiknya hingga 20 tahun

Pada setiap visum et repertum baik itu untuk cedera mata ataupun untuk
cedera lainnya ummnya tidak memiliki perbedaan, dimana strukturnya sebagai
berikut:

1. Pro Justitia

Kata ini harus dicantumkan di kiri atas, dengan demikian visum et repertum tidak
perlu bermeterai.

CONTOH :
Mataram, 13 Oktober 2010

PRO JUSTITIA
VISUM ET REPERTUM
No. /TUM/VER/VIII/2008

2. Pendahuluan

Pendahuluan memuat : identitas pemohon visum et repertum, tanggal dan pukul


diterimanya permohonan visum et repertum, dentitas dokter yang melakukan
pemeriksaan, identitas objek yang diperiksa : nama, jenis kelamin, umur, bangsa,
alamat, pekerjaan, kapan dilakukan pemeriksaan, dimana dilakukan pemeriksaan,
alasan dimintakannya visum et repertum, rumah sakit tempat korban dirawat
sebelumnya, pukul korban meninggal dunia, keterangan mengenai orang yang
mengantar korban ke rumah sakit.

CONTOH :

Yang bertandatangan di bawah ini, Dedi Afandi, dokter spesialis forensik pada
RSUD Arifin
Achmad,

atas

permintaan

dari

kepolisian

sektor.........dengan

suratnya

nomor..........................tertanggal....................maka dengan ini menerangkan bahwa


pada tanggal..........pukul...........bertempat di RSUD Arifin Achmad, telah melakukan
pemeriksaan
korban dengan nomor registrasi..................yang menurut surat tersebut adalah :

Nama :
Umur :
Jenis Kelamin :
Warga negara :
Pekerjaan :

Agama :
Alamat :

3.Pemberitaan (Hasil Pemeriksaan)

Memuat hasil pemeriksaan yang objektif sesuai dengan apa yang diamati terutama
dilihat dan ditemukan pada korban atau benda yang diperiksa. Pemeriksaan
dilakukan dengan sistematis dari atas ke bawah sehingga tidak ada yang tertinggal.
Deskripsinya juga tertentu yaitu mulai dari letak anatomisnya, koordinatnya (absis
adalah jarak antara luka dengan garis tengah badan, ordinat adalah jarak antara
luka dengan titik anatomis permanen yang Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan II
FK UR, September 2008 terdekat), jenis luka atau cedera, karakteristiknya serta
ukurannya. Rincian ini terutama penting pada pemeriksaan korban mati yang pada
saat persidangan tidak dapat dihadirkan kembali.

Pada pemeriksaan korban hidup, bagian ini terdiri dari :


a) Hasil

pemeriksaan

yang

memuat

seluruh

hasil

pemeriksaan,

baik

pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan


penunjang lainnya. Uraian hasil pemeriksaan korban hidup berbeda dengan
pada korban mati, yaitu hanya uraian tentang keadaan umum dan perlukaan
serta hal-hal lain yang berkaitan dengan tindak pidananya (status lokalis).
b) Tindakan dan perawatan berikut indikasinya, atau pada keadaan sebaliknya,
alasan tidak dilakukannya suatu tindakan yang seharusnya dilakukan. Uraian
meliputi juga semua temuan pada saat dilakukannya tindakan dan perawatan
tersebut. Hal ini perlu diuraikan untuk menghindari kesalahpahaman tentangtepat tidaknya penanganan dokter dan tepat-tidaknya kesimpulan yang
diambil.
c) Keadaan akhir korban, terutama tentang gejala sisa dan cacat badan
merupakan hal penting guna pembuatan kesimpulan sehingga harus
diuraikan dengan jelas.

Pada bagian pemberitaan memuat 6 unsur yaitu anamnesis, tanda vital, lokasi luka
pada tubuh, karakteristik luka, ukuran luka, dan tindakan pengobatan atau
perawatan yang
diberikan.

CONTOH :

HASIL PEMERIKSAAN :
1. Korban datang dalam keadaan sadar dengan keadaan umum sakit berat
mngeluh sakit kepala dan mata yang berat serta sempat pingsan setelah
pemukulan
2. Pada

korban

ditemukan

-------------------------------------------------------------------------a. Pada belakang kepala kiri, dua sentimeter dan garis pertengahan
belakang, empat senti meter diatas batas dasar tulang, dinding luka kotor,
sudut luka tumpul, berukuran tiga senti meter kali satu senti meter,
disekitarnya dikelilingi benjolan berukuran empat sentimeter kali empat
senti meter -----------------------------------b. Pada

mata

kiri, ditemukan

adanya

pembengkakan

pada

kelopak

mata,lebam disekitar mata, ditemukan luka terbuka dipelipis mata kiri


dengan dinding luka kotor, sudut luka tajam berukuran tiga sentimeter
kali satu meter-----------------------------------------------c. Korban dirujuk ke dokter syaraf dan pada pemeriksaan didapatkan adanya
cedera

kepala

ringan.

--------------------------------------------------------------------------------d. Korban dirujuk ke dokter

mata

dan

pada

pemeriksaan

ditemukan

adanya ablasio retina dan robekan bola mata----------3. Pemeriksaan foto Rontgen kepala posisi depan dan samping tidak
menunjukkan adanya patah tulang. Pemeriksaan foto rontgen lengan atas kiri

menunjukkan

adanya

patah

tulang

lengan

atas

pada

pertengahan.

------------------------------------------------4. Terhadap korban dilakukan penjahitan dan perawatan luka, dan pengobatan.
---------5.

Korban

dipulangkan

dengan

anjuran

kontrol

seminggu

lagi.--------------------------------

4. Kesimpulan

Memuat hasil interpretasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dari


fakta yang ditemukan sendiri oleh dokter pembuat visum et repertum, dikaitkan
dengan maksud dan tujuan dimintakannya visum et repertum tersebut. Pada bagian
ini harus memuat minimal 2 unsur yaitu jenis luka dan kekerasan dan derajat
kualifikasi luka.

CONTOH :
KESIMPULAN

-------------------------------------------------------------------------------------------

Pada pemeriksaan korban laki-laki berusia tiga puluh empat tahun ini ditemukan
cedera kepala ringan, ditemukan ablasio retina atau retina yang terlepas serta
adanya robekan bola mata. Penyakit ini telah menyebabkan halangan dalam
menjalankan pekerjaan jabatan/pencaharian untuk sementara waktu.----------

5. Penutup

Memuat pernyataan bahwa keterangan tertulis dokter tersebut dibuat dengan


mengingat sumpah atau janji ketika menerima jabatan atau dibuat dengan
mengucapkan
pemeriksaan

sumpah

atau

janji

lebih

dahulu

sebelum

melakukan

Dibubuhi tanda tangan dokter pembuat visum et repertum

CONTOH :

Demikianlah visum et repetum ini dibuat dengan sebenarnya dengan menggunakan


keilmuan yang sebaik-baiknya, mengingat sumpah sesuai dengan Kitab UndangUndang Hukum Acara Pidana.
Dokter Pemeriksa

Kasus 2
Sekelompok pria dewasa sedang berpesta buah durian. Salah satu diantara pria
terseut tersedak oleh biji durian, kemudian dibawa ke UGD RSU A. Dokter umum
tidak mau melakukan tindakan ekstraksi biji durian karena merasa tidak mampu dan
tidak berwenang. Pasien dirujuk ke RSU B. Meskipun telah dilakukan tindakan
ekstraksi oleh dokter THT, pasien mengalami kondisi yang tidak bisa pulih seperti
semula.

Apakah dokter jaga di RSU A telah menyalahi doktrin Good


Samaritan Law??
Good samaritan law merupakan suatu hukum yang melindungi seseorang dalam
melakukan yang secara sadar dengan niat yang tulus dan baik memberikan
pertolongan kepada orang lain yang dalam kondisi gawat darurat (emergency) dan.
Apabila orang yang ditolong tersebut kemudian mengalami kerugian akibat tidakan
yang dilakukan oleh penolong maka penolong tidak dapat dipersalahkan secara
hukum. Jadi, jika seorang dokter atau petugas kesehatan tidak dapat dipersalahkan
jika menolong orang lain yang dalam keadaan darurat atau bahaya, sepanjang
pertolongan yang diberikan pantas atau layak.Hukum ini tidak berlaku bila :

Penolong memiliiki motif lain selain keinginan untuk menolong, misalnya


penolong mengharapkan imbalan.

Penolong merupakan petugas kesehatan yang memiliki kompetensi dan


pertolongan dilakukan di fasilitas kesehatan yang memadai.

Dalam kasus ini, dokter A tidak melakukan pelanggaran terhadap good samaritan
law karena dokter A tidak melakukan tindakan apapun yang menimbulkan kerugian
pada pasien. Disamping itu, dokter A juga tidak memiliki kompetensi yang sesuai
dengan keadaan pasien.
Tindakan dokter A yang langsung merujuk pasien kepada dokter spesialis yang lebih
memiliki kompetensi untuk melakukan tindakan pada pasien sesuai dengan keadaan
yang dialaminya. Tindakan yang dilakukan oleh dokter A sudah sesuai dengan kode
etik kedokteran Indonesia pasal 10 & 13, dan UU no. 29 tahun 2004 tentang praktik
kedokteran pasal 51 yang berbunyi :

Pasal 10 kode etik kedokteran Indonesia


Setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan segala ilmu
dan keterampilannya untuk kepetingan pasien. Dalam hal ini ia tidak mampu
melakukan

suatu

pemeriksaan

atau

pengobatan,

maka

atas

dasar

persetujuan pasien, ia wajib merujuk kepada dokter yang memiliki keahlian


dalam penyakit tersebut

Pasal 13 kode etik kedokteran Indonesia


setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu tugas
perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin bila ada orang lain yang bersedia dan
mampu memberikannya

Pasal 51 UU no. 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran terutama


untuk poin b dan d :
Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai
kewajiban :
a. memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan
standar prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien;
b. merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai
keahlian atau kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu
melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan;
c. merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien,
bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia;
d. melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali
bila ia yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya;
dan
e. menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu
kedokteran atau kedokteran gigi.

Dalam kasus ini, pasien mengalami sumbatan jalan napas oleh karena benda asing.
Tindakan ekstraksi benda asing pada saluran napas termasuk level kompetensi 2

bagi dokter umum yang berarti dokter tesebut pernah melihat atau didemonstrasikan
mengenai keterampilan tersebut. Jadi dokter umum tidak berwenang untuk
melakukan tindakan ekstraksi benda asing pada pasien. Jadi keputusan dokter A
untuk merujuk pasien ke dokter yang lebih kompeten sudah benar. Namun dokter A
juga dapat dikatan melakukan kelalaian jika dalam proses perujukan pasien dokter A
tidak memenuhi standar perujukan yang telah ditentukan, misalnya meminta
persetujuan pasien dan menstabilisasi pasien, serta menyertakan informasi
mengenai penyakit pasien.

Apakah dokter di RSU B telah melakukan kelalaian?? Jelaskan


alasan anda??
Kelalaian medik merupakan salah satu bentuk dari malpraktek medik. Pengertian
kelalaian medik tersirat dalam pengertian malpraktek medik oleh World Medical
Assosiation (WMA) yaitu :
medical malpractice involve the physicians failure to conform to the standar of care
for treatment of patients condition, or lack of skill, or negligence in care providing to
the patient, which is the direct cause of the injury to the patient.
Jadi menurut pengertian tersebut, seorang dokter dikatakan melakukan malpraktek
medik jika dokter tersebut melakukan tindakan yang menyebabkan kerugian pada
pasien yang dikarenakan :

Melakukan terapi yang tidak sesuai dengan kondisi yang dialami pasien

Kurangnya kemampuan (skill) dokter tersebut

Melakukan kelalaian dalam melakukan pelayanan pada pasien.

Tidak semua kegagalan medik diakibatkan oleh malpraktek medik. Menurut WMA
kegagalan medik yang terjadi karena sesuatu yang tidak dapat di duga sebelumnya
(unforseeable) dan tidak disebabkan oleh kurangnya kemampuan dan pengetahuan
dokter dalam terapi tidak termasuk dalam malpraktek medik dan dokter tersbut tidak
harus mempertanggung jawabkannya. Hal ini tersirat dalam pernyataan WMA
sebagai berikut :

An injury occuring in the course of medical treatment which could not be foreseen
and was not the result of the lack of skill or knowledge on the part of the treating
physician is untoward result, for which the physician should not bear any liability
Pada dasarnya kelalaian terjadi apabila seseorang melakukan sesuatu yang tidak
seharusnya dilakukan atau tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan
oleh orang lain yang memiliki kualifikasi yang sama pada suatu keadaan atau situasi
yang sama. Bentuk kelalaian yang dapat dihukum adalah kelalaian yang dilakukan
oleh seseorang yang seharusnya (berdasarkan sifat profesinya) bertindak hati-hati
dan telah mengakibatkan kerugian bagi orang lain. Jadi jika seorang dokter
melakukan suatu tindakan yang sesuai dengan tingkat kompetensinya kepada
seorang pasien, namun selanjutnya menyebabkan kerugian pada pasien maka
dokter tersebut dapat dikatakan melakukan kelalaian medik .
Dalam suatu perbuatan atau tindakan medik dikatakan sebagai kelalaian medis
apabila memenuhi 4 unsur kelalaian yaitu :

Adanya hubungan dokter-pasien. Dalam hal ini dokter memiliki kewajiban untuk
melakukan tindakan atau tidak melakukan tindakan sesuai dengan kondisi
pasien.

Dokter melakukan penyimpangan kewajiban karena pelayanan yang ia berikan


tidak sesuai dengan standar pemberian pelayanan. Dalam hal ini harus
diperhatikan siapa dokter pemberi pelayanan, pada situasi seperti apa, dan pada
kondisi yang bagaimana pelayanan tersebut diberikan.

Pelanggaran tersebut telah menyebabkan kerugian kepada pasien yang


seharusnya dapat diperkirakan dan secara wajar dapat dicegah.

Adanya hubungan kausa langsung

antara penyimpangan kewajiban dengan

kerugian yang dialami pasien.


Jadi dalam skenario ini belum dapat ditentukan apakah dokter B melakukan
kelalaian atau tidak karena tidak ada data mengenai apakah dokter tersebut
melakukan penyimpangan kewajiban yang atau tidak dan belum ada pembuktian
adanya hubungan sebab-akibat langsung antara tindakan yang dilakukan oleh
dokter B dengan kerugian yang dialami pasien.

Dokter B dapat dikatakan melakukan kelalaian jika keadaan yang dialami


pasien disebabkan oleh tindakan yang dilakukan dokter B yang diakibatkan
oleh kurangnya kemampuan (skill) yang dimilki oleh dokter B dalam
melakukan ekstraksi biji durian pada saluran napas pasien atau oleh
kesalahan dokter B dalam memilih terapi yang tepat sesuai dengan kondisi
pasien.

Dokter B dikatakan tidak melakukan kelalaian jika keadaan yang dialami


pasien merupakan komplikasi dari keadaan pasien yang tidak dapat diduga
sebelumnya atau keadaan tersebut merupakan bagian dari perjalanan
alamiah dari penyakit yang dialami pasien dan bukan disebabkan oleh
kurangnya kemampuan (skill) dokter B dalam melakukan tindakan medik
yang sesuai dengan keadaan pasien.

Kasus 3
Seorang anak berusia 5 tahun mengalami katarak. 2 tahun yang lalu, anak tersebut
dibawa kontrol ke dokter puskesmas. Oleh dokter disarankan untuk menunda
operasi hingga usia anak dewasa dan katarak sudah matang. Namun sebulan
terakhir, anak tersebut sering kali terjatuh karena tidak bisa melihat. Dokter mata
yang melakukan pemeriksaan mengatakan bahwa retina mata si anak telah
mengalami atropi. Dengan demikian pasien telah mengalami kebutaan.

Apakah dokter puskesmas telah melakukan kelalaian?


Ya, dokter puskesmas tersebut dapat disebut melakukan kelalaian dalam penanganan
penyakit pasien. Katarak Juvenile masuk dalam kategori SKDI 3A. Hal ini berarti dokter
mampu mendiagnosis dan memberikan tatalaksana awal serta dapat merujuknya ke dokter
spesialis yang sesuai dengan penyakitnya. Namun, dalam kenyataannya dokter puskesmas
tersebut tidak merujuk pasien ke dokter spesialis mata. Sehingga akibat kelalaian ini pasien
tidak tahu akan kondisi penyakitnya dengan jelas dan bagaimana perjalanannya.

Seperti yang tercantum dalam pasal 45 tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran


atau Kedokteran Gigi dalam UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR
29 TAHUN 2004 TENTANG PRAKTIK KEDOKTERAN menyatakan bahwa setiap
tindakan yang dilakukan oleh dokter wajib mendapat persetujuan pasien dan pasien
juga berhak mendapatkan penjelasan atas tindakan tersebut.
Pasal 45
(1) Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan oleh dokter atau dokter gigi
terhadap pasien harus mendapat persetujuan.
(2) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah pasien mendapat penjelasan
secara lengkap.
(3) Penjelasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-kurangnya mencakup :
a. diagnosis dan tata cara tindakan medis;
b. tujuan tindakan medis yang dilakukan;
c. alternatif tindakan lain dan risikonya;
d. risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi; dan
e. prognosis terhadap tindakan yang dilakukan.
(4) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan baik secara tertulis maupun
lisan.
(5) Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang mengandung risiko tinggi harus diberikan
dengan persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan.
(6)
Ketentuan mengenai tata cara persetujuan
tindakan kedokteran atau kedokteran gigi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan ayat (5) diatur dengan
Peraturan Menteri.

Begitu pula pasal tentang Perlindungan Pasien dalam UNDANG-UNDANG


REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2009 TENTANG KESEHATAN

Pasal 56
(1) Setiap orang berhak menerima atau menolak sebagian atau seluruh tindakan
pertolongan yang akan diberikan kepadanya setelah menerima dan memahami
informasi mengenai tindakan tersebut secara lengkap.
(2) Hak menerima atau menolak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak
berlaku pada:
a. penderita penyakit yang penyakitnya dapat secara
cepat menular ke dalam masyarakat yang lebih luas;
b. keadaan seseorang yang tidak sadarkan diri; atau
c. gangguan mental berat.
(3) Ketentuan mengenai hak menerima atau menolak sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 58
(1)

Setiap orang berhak menuntut ganti rugi terhadap seseorang, tenaga

kesehatan, dan/atau penyelenggara kesehatan yang menimbulkan kerugian akibat


kesalahan atau kelalaian dalam pelayanan kesehatan yang diterimanya.
(2) Tuntutan ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi
tenaga

kesehatan

yang

melakukan

tindakan

penyelamatan

nyawa

atau

pencegahan kecacatan seseorang dalam keadaan darurat.


(3) Ketentuan mengenai tata cara pengajuan tuntutan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Apakah kesalahan dalam membuat diagnosa penyakit dapat


dikategorikan sebagai bentuk kelalaian?
Tidak. Dalam kasus ini, dokter puskesmas tidak dapat dikatakan melakukan
malpraktik karena kesalahan diagnosis. Diagnosis yang ditegakan adalah diagnosis
kerja sementara, karena dilihat dari kondisinya untuk menegakan diagnosis kerja
tetap diperlukan pemeriksaan penunjang. Namun, dokter puskesmas sepertinya
tidak melakukan pemeriksaan penunjang tetapi hanya melakukan anamnesis dan
pemeriksaan fisik sehingga diagnosis yang muncul adalah diagnosis kerja
sementara pada tahapan awal.
Berbeda kondisinya bila dokter tersebut telah menegakan diagnosis kerja sebagai
diagnosis tetap. Hal tersebut mungkin bisa dikategorikan sebagai malpraktek,
karena dokter seharusnya melakukan pemeriksaan penunjang yang tepat untuk
menegakan diagnosis yang tepat.

Kasus 4
Seorang anak menderita penyakit batuk, pilek, panas. Setelah diberi obat yang
berwarna merah, kuning, hijau di puskesmas, sekujur tubuh anak tersebut melepuh.
Kemudian pasien dirujuk ke RSU.

Apakah dokter puskesmas telah melakukan kelalaian?


KODEKI
Pasal 10
Setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan segala ilmu dan
ketrampilannya untuk kepentingan pasien. Dalam hal ini ia tidak mampu melakukan
suatu pemeriksaan atau pengobatan, maka atas persetujuan pasien, ia wajib
merujuk pasien kepada dokter yang mempunyai keahlian dalam penyakit tersebut.
UU PRAKTEK KEDOKTERAN
Pasal 45
(1) Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan oleh
dokter atau dokter gigi terhadap pasien harus mendapat persetujuan.
(2) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah pasien
mendapat penjelasan secara lengkap.
(3) Penjelasan

sebagaimana

dimaksud

pada

ayat

(2)

sekurang-kurangnya

mencakup :
a. diagnosis dan tata cara tindakan medis;
b. tujuan tindakan medis yang dilakukan;
c. alternatif tindakan lain dan risikonya;
d. risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi; dan
e. prognosis terhadap tindakan yang dilakukan.
(4) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan baik secara
tertulis maupun lisan.

(5) Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang mengandung risiko tinggi
harus diberikan dengan persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang
berhak memberikan persetujuan.
(6) Ketentuan mengenai tata cara persetujuan tindakan kedokteran atau kedokteran
gigi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan ayat
(5) diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 52
dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran, mempunyai hak:
a. mendapatkan

penjelasan

secara

lengkap

tentang

tindakan

medis

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (3);


b. meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain;
c. mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis;
d. menolak tindakan medis; dan
e. mendapatkan isi rekam medis.

UU KESEHATAN no 36 th 2009
Pasal 8
Setiap orang berhak memperoleh informasi tentang data kesehatan dirinya termasuk
tindakan dan pengobatan yang telah maupun yang akan diterimanya dari tenaga
kesehatan.

KESIMPULAN
Jadi menurut saya, jika seorang dokter sebelumnya tidak memenuhi hak-hak pasien
seperti mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis, resiko
pengobatan,dan prognosis dari penyakit tersebut, maka dokter tersebut telah
melanggar hak-hak pasien dan dokter tersebut melakukan kesalahan.
Pasien berhak untuk mengetahui tindakan apa saja yang akan dilakukan oleh dokter
terhadapnya dan dokter berkewajiban untuk memenuhi hak-hak pasien.
Sebaliknya jika dokter sebelumnya sudah menjelaskan mengenai tentang tindakan
medis, resiko pengobatan,dan prognosis dari penyakit tersebut, maka dokter

tersebut tidak melakukan pelanggaran hak-hak pasien dan dokter tersebut


melakukan tidak melakukan kesalahan.

Kasus 5
Seorang istri dokter mengalami kanker

nasofaring. Setelah dilakukan operasi,

kondisi pasien semakin memburuk sehingga harus dirawat di ICU dengan ventilator.
Sementara itu, dua buah ventilator yang dimiliki oleh RSU sedang dipakai oleh
pasien lainnya. Satu diantara pasien adalah seorang penderita AIDS yang telah
mengalami kondisi vegetative, sementara yang lain adalah seorang wanita hamil
G1P0A0 yang mengalami eklamsi.

Siapakah

diantara

ketiga

pasien

yang

patut

menggunakan

ventilator?jelaskan alasan Anda!


Dalam kasus ini terdapat 3 pasien yang masing-masing membutuhkan ventilator
untuk membantu pernafasannya dan mempertahankan kehidupannya.
Pasien pertama adalah seorang penderita AIDS yang telah mengalami kondisi
vegetative, dimana pada kondisi ini dapat diartikan pasien telah dalam keadaan
kondisi yang sangat berat, dengan berbagai macam komplikasi yang telah dialami
pasien, sampai membawa pasien dalam keadaan vegetative. Kondisi vegetative
adalah kondisi pasien dimana terjadi telah terjadi penurunan kesadaran, dan pasien
tidak dapat melakukan aktivitas seperti biasanya, atau secara mudah dapat diartikan
sebagai dalam keadaan koma. Dan pada kasus AIDS pasien yang telah dalam
keadaan vegetative state adalah pasien dengan berbagai macam komplikasi yang
semakin memperburuk keadaan pasien. Ditinjau dari keadaan ini prognosis yang
dialami pasien adalah prognosis buruk.
Pasien yang kedua adalah seorang ibu hamil G1P0A0 yang mengalami eklamsi.
Pada pasien ini dibutuhkan ventilator ketika pasien kejang dengan jumlah 4-6
liter/menit. Namun, dalam keadaan eklamsi ini dibutuhkan tindakan induksi
persalinan segera untuk memperbaiki keadaan pasien, berapapun usia kehamilan
pasien tersebut. Maka dilakukan tindakan Secsio Cecarea untuk mengakhiri
kehamilan ibu tersebut. Jika dalam proses persalinan pasien masih tidak sadar,
maka masih dibutuhkan ventilator untuk menunjang pernafasan pasien.
Pasien yang ketiga adalah seorang istri dokter yang mengalami kanker nasofaring
dan telah dioperasi. Berdasarkan tatalaksana sesuai procedural pada kanker

nasofaring untuk tatalaksana awal dilakukan fisioterapi dan radioterai. Kedua hal
tersbut

merupakan

tatalaksana

yang

efektif

dilakukan

untuk

menurunkan

progresifitas perkembangan sel-sel kanker. Untuk operasi pada kanker nasofaring


biasanya dilakukan untuk lesi yang tersisa pasca kemoterapi atau radioterapi.
Dalam kasus ini ketiga pasien membutuhkan ventilator untuk tetap mempertahankan
patensi jalan nafas pasien dan dapat tetap bernafas. Berdasarkan Kode etik
kedokteran Pasal 10 dimana Kewajiban Dokter terhadap Pasien adalah Setiap
dokter

wajib

bersikap

keterampilannya

tulus

ikhlas

dan

menggunakan

segala

ilmu

dan

untuk kepentingan pasien. Dalam hal ini ia tidak mampu

melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan, maka atas persetujuan pasien, ia


wajib merujuk pasien kepada dokter yang mempunyai keahlian dalam penyakit
tersebut.
Selain itu berdasarkan Kode Etik Kedokteran Pasal 13 yang menyebutkan Setiap
dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu tugas prikemanusiaan,
kecuali bila ia yakin ada orang lain yang bersedia dan lebih mampu memberikannya.
Berdasarkan dua pasal Kodeki tersebut, ketiga pasien memiliki kesempatan yang
sama untuk dapat menggunakan ventilator, sedangkan ventilator yang terdapat pada
Rumah Sakit tersebut hanya 2 buah. Dengan memiliki kesempatan yang sama untuk
menggunakan ventilator, maka tindakan yang dilakukan adalah pasien dengan
kanker Nasofaring dilakukan perujukan ke Rumah Sakit terdekat yang memiliki alat
ventilator.
Karena pasien dengan kanker Nasofaring membutuhkan alat ventilator segera,
maka selama perjalanan menuju rumah sakit yang akan dituju pernafasan pasien
dibantuk dengan pemompaan sungkup ventilator, yang dipompa oleh perawat yang
mendampingi menuju rumah sakit yang dituju. Dengan begitu, semua pasien dapat
menggunakan ventilator yang dibutuhkan untuk memperpanjang masa kehidupan
pasien.