Vous êtes sur la page 1sur 20

LAPORAN PRAKTIKUM

PTK III

PEMBUATAN ASAM SULFONIL


DARI ANILIN

Septy Maulydia Rizal

Nim: 1512066

Teknologi Kimia Industri


Sekolah Tinggi Manajemen Industri
Jakarta
2014

Pembuatan Asam Sulfonil


I.

Judul percobaan : pembuatan asam sulfonil

II.

Prinsip percobaan
Reaksi sulfonasi, yaitu suatu reaksi substitusi dimana atom H yang terikat pada
cincinbenzene disuubstitusi oleh gugus sulfonat (-SO3H)

III.

Reaksi Percobaan

IV.

IV.

Maksud dan Tujuan


1. Memahami proses sulfonasi dengan bahan baku anilin.
2. Mengetahui sifat fisik dan kimia Asam Sulfonil.
3. Mengetahui reaksi yang terjadi dalam pembuatan asam sulfonil.
4. Mengetahui cara kristalisasi dan herkristalisasi.

V.

Landasan Teori
Bahan baku:
Aniline (C6H5NH2)

Aniline merupakan senyawa turunan benzene yang mempunyai gugus


amina, rumus molekul anilin : C6H5NH2
Rumus bangun / struktur :

Pembuatan Anilin (C5H5NH2)


Aniline dapat dibuat dengan caramereaksikan fenil halide dengan NH atau
dengan mereduksi Nitrobenzene dengan campuran Fe danHCl dinetralkan dengan
kapurdan disuling dengan uap lalu dimurnikan dengan penyulingan bertingkat dan
anilin merupakan basa lemah, menurut reaksi sebagai berikut :
C6H5NO2 + 6HCl + 3Fe C6H5NH2 + 3FeCl2 + 2H2O
Atau :
Pembentukan anilin dapat dilakukan sebagai berikut:

Atau dengan mereduksi nitrobenzene dengan campuran Fe dan HCl

Anilin memiliki sulfat berbeda dari pembentukannya, sifat anilin sebagai berikut:
a. Sifat Fisika Anilin

Anilin merupakan senyawa yang berbentuk zat cair seperti minyak


Beracun dan Sukar larut dalam air
Tidak berwarna, apabila terkena udara akan berwarna coklat
Dapat terbakar
Titik didih 1840C
Titik leleh -60C
Berat molekul 93
Berat jenis 1.02 gr/ml
Cairan kuning tidak larut dalam air tetapi larut dalam eter, chloroform dan
alcohol

Temperatur kritis 699 K

Tekanan kritis 53,09 bar

Volume kritis 270 cm3/mol

b. Sifat Kimia Anilin


Merupakan senyawa berbasa sangat lemah (mengandung gugus NH2)
Anilin dapat larut dalam asam membentuk garam garamnya
Anilin dapat direduksi dengan Nitrobenzene dengan katalis Fe
C6H5NO2 + 6HCl + 3Fe C6H5NH2 + 3FeCl2 +2H2O

Anilin dapat bereaksi dengan H2SO4 membentuk anilin monosulfat dan anilin
monosulfat jika dipanaskan berubah menjadi asam sulfonat

Anilin dapat bereaaksi dengan HNO3 (Asam Nitrat) dan HCl

Ket : pada suhu dibawah 5oc akan membentuk garam diazonium dan reaksi ini
disebut diazonium, gugus NH2 tidak diganti dengan gugus hidroksi seperti pasa
amina alifatik
-

Anilin dapat bereaksi dengan alkil halogenida

c. Kegunaan anilin
Untuk bahan dasar pembuatan zat warna
Untuk bahan dasar pembuatan obat-obatan
Untuk pembuatan plastic
Untuk bahan cat
Untuk bahan bakar roket
Untuk bahan peledak
d. Turunan turunan anilin
1. Asetonilida
Pembuatan mereaksikan anilin dengan Anhidrida Asam Asetat
Sifat sifat : hablur putih, tidak larut dalam air, larut dalam ester dan
chloform
Peakaian : sebagai antiseptik
2. Parasetamol
Pembuatan : dengan mereaksikan p-hidroksi anilin dengan anhidrida asam asetat.
Sifat sifat : hablur putih, tidak larut dalam air, larut dalam eter, chloroform dan
etanol
Pemakaian : sebagai antiporetika ( penurun panas)
3. Feosetina
Pembuatan : dengan mereaksikan p-atoksi dengan anhidrida asam asetat
Sifat sifat : hablur putih, tidak berbau, berkilau, sukar larut dalam air tetapi larut
dalam eter, chloroform atau etanol.
Asam Sulfat (H2SO4)
H2SO4

adalah

asam

sulfat

yang

komponen

utamanya

adalah

belerang.Belerang adalah zat padat yang pada temperature kamar melebur pada
119oC, berwarna kuning dan rapuh.Kristal belerang berbentuk rombik dengan
rumus S. asam sulfat banyak diperlukan dalam berbagai industry penting.

Asam sulfat dapat diperoleh dengan 2 cara:


a. Proses timbal
Proses ini menggunakan ruang reactor yang komponen utamanya adalah Pb
yang dindingnya dilapisi oleh timbal (Pb), dalam ruangan itu akan dihasilkan
H2SO4. lapisanPb akan bereaksi dengan H2SO4membentuk endapan atau lapisan
tipis PbSO4yang menahan reaksi lebih lanjut dari H2SO4.
b. PembutanH2SO4dengan system kontak
Reaksi : S(s) + O2 SO2
2SO2(s) + O2(s) 2SO2(s)
SO3(s) + H2SO4(l) H2S2O3
H2S2O3 + H2O 2H2SO4
A.

B.

Sifat Fisis H2SO4


Bersifat cairan yang apabila dicampur dengan air bersifat eksoterm, kental,
tidak berwarna.
Memiliki aroma yang khas yaitu bau belerang.
Bersifat korosif.
Bersifat hygroskopis.
Berat jenis : 1.84gr/mol.
Titik didih : 240 C
Titik leleh : 10 C.
Kandungan air kecil.
Bahan pengoksidasi dan pendehidrasi.
o

Sifat Kimia H2SO4


Merupakan asam kuat.
Jika di campur dengan air akan menimbulkan proses ke lingkungan yaitu
reaksi eksoterm (panas) sampai 120 C dan kontraksi, jadi jumlah isi campuran
O

berkurang.
H2SO4 bersifat encer, tidak bereaksi dengan Bi, Hg, Cu dan logam mulia.
H2SO4(encer) + Fe FeSO4 + H2
H2SO4 bersifat pekat, dalam keadaan panas akan mengoksidasi logam-logam,
sedang
Asam sulfat direduksi menjadi SO3.
2H2SO4(pekat) + Cu CuSO4 + SO2 + 2H2O.
Merupakan oksidator dengan reduktor terkuat

(Oksidator

pendehidrasi) dalam keadaan pekat.


C.

Kegunaan H2SO4
Bahan pembuatan pupuk Amonium Sulfat dan Asam Sulfat.
Memurnikan minya tanah.
Industri alat.

dan

zat

Memberikan permukaan logam dalam elektroplating pada industri logam

ataumenghilangkan karat besi sebelum baja dilapisi seng.


Untuk air aki / accu.
Pada industri organik : insektisida, selofan, zat warna.

PRODUK
Asam Sulfonil
Asam sulfonil merupakan produk hasil sulfonasi yang merupakan asam
organik dari golongan asam sulfonat, atau sering disebut juga asam p-amino
benzene sulfonat atau asamsulfanilat yang diperoleh dari mereaksikan anilin dan
asam sulfat pekat.Asam sulfonildianggap sebagai ion amfoter (zat yang mampu
menunjukkan dua sifat saling berlawanan,bersifat asam atau basa).Zat ini terbentuk
dari pemanasan anilin sulfat pada suhu 200 C.
O

H2SO4 + C6H5NH2 C6H4 + H2O


Asam sulfonat bereaksi terurai sebelum mencair pada suhu 300oC.dan tidak
dapat larut dalam pelarut organic, maka asam sulfonil dapat dipandang sebagai
suatu ion amfoter. Pembuatan asam benzoate sulfat dengan cara mereaksikan
benzene dengan asam sulfat pekat.

Kegunaan Asam Sulfonil

Sebagai zat warna dalam industri batik.


Bahan baku obat dalam industri farmasi seperti : Kloromin (antiseptik ekstern),
tiokol(ekspektoran), sakarin( pemanis buatan).
Proses Reaksi Asam Sulfonil
Pada pembuatan asam sulfonil ini menggunakan reaksi sulfonasi, sulfonasi
yaitu reaksi yangterjadi dimana atom H yang terikat pada cincin benzene diganti
dengan gugus sulfonat (SO3H).Istilah sulfonasi terutama digunakan untuk

menyatakan reaksi-reaksi yang menggunakan pereaksi sulfonasi yang umum


seperti asam sulfat pekat, oleum, dan pereaksi lainnya yang mengandung sulfur
trioksida.
Sulfonasi senyawa aromatik merupakan salah satu tipe jenis sulfonasi yang paling
penting.Sulfonasi tersebut dapat dilakukan dengan mereaksikan senyawa aromatik
dengan asam sulfat.
Dalam percobaan sulfonasi ini, senyawa aromatik yang digunakan adalah anilin,
dan percobaan dilakukan dengan mereaksikan anilin dengan asam sulfat pekat
(oleum) pada suhu 1800C-1950C, dan menghasilkan produk utama berupa asam
sulfanilat dan air (sebagai produk sampingannya)

Anilin dengan katalis sulfat mengalami perubahan menjadi anilin sulfat, kemudian
anilin sulfat mengalami perubahan enjadi ohenil asam sulfanil (C6H5NH2SO3)
gugus SO3- berpindah menjadi ortho kemudian metha setelah itu para, pada suhu
180oc-190oc menjadi p-amina benzene sulfonat.
Sifat Fisik Asam Sulfonil

Berbentuk kristal berwarna putih (dalam keadaan murni)


Tidak dapat larut dalam pelarut organik, larut dalam pelarut anorganik.
Larut dalam air dingin -5 C.
Terurai dalam (sebelum) mencair pada suhu 300oC, terbentuk pada 180oC - 190oC.
o

Sifat Kimia Asam Sulfonil

Merupajan turunan dari benzene.


Bersifat amfoter (memiliki gugus SO3H dengan gugus basa NH3).
Cenderung bersifat asam.
Dihasilkan dari anilin dengan asam sulfat.
Asam kuat berbasa I dapat membentuk garam, jika natrium benzene sulfonat
dipanaskan dengan NaOH padat hingga mencair berbentuk fenol. Jika NaOHnya
berlebihan fenol yang terbentuk itu masih dapat bereaksi sehingga didapat natrium
fenolat
Metode proses

Sulfonasi
Reaksi substitusi ialah reaksi pertukaran atau pergantian gugus atom atau suatu
atom yang terdapat dapat senyawa karbon yang diganti atau ditukar dengan gugus
atom lain, atau atom yang lain. Sulfonasi sendiri merupakan bagian dari reaksi
substitusi. Sulfonasi adalah reaksi kimia yang melibatkan penggabungan gugus
asam sulfonat, -SO3H, ke dalam suatu molekul ataupun ion.

Kristalisasi
Kristalisasi adalah proses pemisahan zat dari campurannya berdasarkan
pembentukan bahan padat (Kristal). Kristal adalah bahan padat dengan susunan
molekuul tersebut.
a. Mekanisme pembentukan Kristal:
1. Pembentukan inti
Inti Kristal adalah partkel-partikel kecil bahkan sangat kecil yang dapat
terbentuk dengan cara memperkecil Kristal-kristal yang ada dalam alat
kristalisasi atau dengan menambahkan benih Kristal ke larutan lewat jenuh.
2. Pertumbuhan Kristal
Pertumbuhan Kristal merupakan gabungan dari dua proses yaitu:
- Transportasi molekul-molekul atau ion-ion dari bahan-bahan yang
akan dikristalkan dalam larutan kepermukaan Kristal dengan cara
difusi. Proses berlangsung semakin cepat jika derajat lewat jenuh
-

dalam larutan semakin besar.


Penempatan molekul-molekul atau ion-ion pada kisi Kristal.
Semakin luas total permukaan Kristal, semakin banyak bahan yang

ditempatkan pada kisi Kristal persatuan waktu.


b. Syarat syarat kristalisasi
1. Larutan harus jenuh
Larutan yang mengandung jumlah zat berlarut berlebihan pada suhu
tertentu, sehingga kelebihan itu tidak larut lagi.Jenuh berarti pelarut telah

seimbang zat terlarut atau jika larutn tidak dapat lagi melarutkan zat
terlarut, artinya konsentrasinya telah maksimal kalau larutan jenuh suatu zat
padat didinginkan perlahan lahan.
2. Larutan harus homogeny
Partikel partikel yang sangat kecil tetap tersebar merata biarpun
didiamkan dalam waktu yang lama.
3. Adanya perubahan suhu
Perubahan suhu secara dratis atau kenaikan suhu secara drastic tergantung
dari bentuk Kristal yang didinginkan.
c. Metode metode kristalisasi
1. Pendinginan
2. Pemanasan
3. Pemanasan dan pendinginan
4. Penambahan zat lain
d. Ukuran Kristal
Ukuran Kristal tergantung dari kecepatan pembentukan inti Kristal (partikel
Kristal yang amat kecil, yang terbentuk secara spontan akibat dari keadaan
larutan yang lewat jenuh) dan pertumbuhan Kristal, artinya tergantung pada

kondisi kristalisasi.
Herkristalisasi
Merupakaan salah satu cara pemurnian zat padat dengan cara melarutkan zat padat
tersebut ke dalam suatu pelarut, kemudian di kristalkan kembali

Kelebihan dan Kekurangan Metode Proses :


Kelebihan cara rekristalisasi dapat memberikan perbedaan daya larut yang cukup
besar antara zat yang diasumsikan dengan pengotornya, tidak meniggalkan zat
pengotor pada Kristal dan mudah dipisahkan dari Kristal. Sedangkan kelemahannya
adalah bersifat inert (tidak mudah bereaksi dengan Kristal).

Diagram Alir Proses


50 gr asam sulfat + 11 gr
anilin

Pencampuran dilakukan
secara perlahan lahan dan
selalu dikocok.
Selama pencampuran terjadi
perubahan warna menjadi

Campuran dipanaskan dalam


labu dasar bulat pada suhu
180oc-190oc

Pemansan dilakukan selama


2 jam, dihitung setelah
suhunya mencapai 180oc
Setelah pemanasan
campuran dimasukan
kedalam beaker glass yang
berisi 350 cc batu es

Ditambahkan norit untuk


menghilangkan kotorannya

Didapat asam sulfonil


berbentuk kristal

VI.

Bahan & Alat


Alat-Alat Yang Digunakan
1. Beaker glass
2. Labu destlasi
3. Statip
4. Bunzen
5. Termometer
6. Corong glass

Dicampurkan kedalam es
agar terjadi proses
kristalisasi, setelah di
masukan kedalam es,
dilakukan pemisahan antara
campuran es dan airnya

Setelah ditambahkan norit,


dilakukan pemanasan yang
bertujuan agar Kristal asam
sulfonil yang telah didapat
menjadi larut dan tidak
tersaring bersama kotoran
yang akan dibuang

7. Kaki tiga
8. Saringan pemanas
9. Oil bath
Bahan-Bahan Yang Digunakan
1. Anilin
2. NaOH
3. Asam sulfat pekat
4. Es batu

VII.

Prosedur Praktikum
50 gram asam sulfat dimasukkan ke dalam 11 gram anilin
Pemberian Asam Sulfat sedikit demi sedikit dan selalu dikocok
Campuran lalu dipanaskan didalam labu alas bulat pada suhu 180 C - 190 C
o

denganmenggunakan oil bath.


Pemanasan dilakukan selama 2 jam atau bila diambil sedikit dari campuran
itudiencerkan dengan air dan dibuat alkalis dengan NaOH tidak lagi

menimbulkan bauanilin.
Setelah pemanasan campuran dituangkan dalam beaker glass yang telah di isi

350cc es batu.
Kristal yang

untukmenghilangkan kotoran-kotoran yang ada.


Setelah herkristalisasi akan didapatkan kristal berupa jarum berwarna putih

didapat

diherkristalisasi

mengkilapdengan 2 mol air kristal.


Hitung rendemen yang didapat.
VIII. Gambar Rangkaian Alat dan Keterangan

dengan

menggunakan

norit

Gambar : Pemanasan campuran diatas oil bath

IX.
Data Pengamatan
Perhitungan
Massa anilin = 11 gram
Massa H2SO4 = 50 gram

MR Anilin
= 93 gr/mol
MR H2SO4 = 98 gr/mol
anilin
= 1,02 gr/ml
H2SO4
= 1,84 gr/ml
Berat cawan + Berat kertas saring = 107,4 gr
m
Mol H2SO4
= MR

Mol C6H5NH2 =
=

50 gr
98 = 0,5102 mol
m
MR
11 gr
93

= 0,1182 mol

Mula mula: 0,1182


Bereaksi : 0,1182
Sisa
: 0

0,5102
0,1182
0,392

0,1182 0,1182

Massa asam sulfonil teoritis


Massa asam sulfonil : mol x MR
: 0,1182 x 173
: 20,4486 gr

Massa asam sulfonil praktis


Praktis = (berat cawan + berat kertas saring + berat Kristal asam sulfonil) (berat
cawan + berat kertas saring)
Praktis = 118 107,4
= 10,6 gr
Rendemen

Rendemen

asam sulfonil praktis


asam sulfonil teoritis

10,6
20,4486

x 100%

= 51,8372 %

KESIMPULAN
anilin setealh ditambahkan asam sulfat pekat menimbulkan asap putih dan dinding

labu menjadi panas (reaksi eksoterm)


membentuk padatan berwarna putih kecoklatan yang dipanaskan pada suhu 180-

190C selama 2 jam lebih


setelah dipanaskan dituang dalam beaker glass dan membentuk kristal yang

terlihat jelas setelah es mencair.


Diherkristalisasi dengan karbon aktif sehingga campuran berwarnna kehitaman.
Disaring menggunakan penyaring panas agar tidak ada asam sulfonil yang

tertahan dikertas saring (asam sulfonil larut dalam air panas)


Hasil saringan ditampung dalam es batu kemudian disaring lagi dengan kertas

saring
Di keringkan dalam oven suhu 105C didapat kristal berwarna putih mengkilap.

TUGAS
1. analisa kesalahan minimal 5 !
2. Metode-metode kristalisasi, Jelaskan !
3. Gambarkan jenis-jenis kristal !

Jawab
1. Analisa kesalahan :
- Pada proses pemanasan untuk menjaga suhu di antara 180-190C tidak mudah,
beberapa kali suhu terlewatkan maka kemungkinan berpengaruh pada hasil yang
-

didapat.
Pada saat pendinginan menggunakan es gelas beker yang dipakai seharusnya
gelas kaca bukan plastik sehingga kemungkinan adanya pengaruh pada saat

penggantian gelas karna proses selanjutnya harus menggunakan gelas kaca.


Pada proses pemisahan air yang menggunakan pipet di atas waterbath

kemungkinan terambil Kristal yang sudah tebentuk dari proses pendinginan.


Pada proses penyaringan kemungkinan mengurangi dari hasil Kristal asam

sulfonilnya.
Dalam proses herkristalisasi norit yang digunakan kurang maka kualitas asam
sulfonil yang didapat menjadi rendah dengan hasil warna yang keruh/gelap.

2. Metode-metode pada proses kristalisasi :


- Pendinginan
Untuk bahan-bahan yang kelarutannya berkurang dratis dengan menurunnya
temperatur, kondisi lewat jenuh dapat dicapai dengan pendinginan larutan panas
-

yang jenuh.
Pemanasan
Untuk bahan-bahan yang kelarutannya berkurang sedikit dengan menurunnya

suhu. Kondisi lewat jenuh dapat dicapai dengan penguapan sebagian pelarut.
Pemanasan dan Pendinginan
Metode ini merupakan gabunga dari dua metode diatas. Larutan panas yang
Jenuh dialirkan kedalam sebuah ruangan yang divakumkan. Sebagian pelarut
menguap, panas penguapan diambil dari larutan itu sendiri, sehingga larutan

menjadi dingin dan lewat jenuh. Metode ini disebut kristalisasi vakum.
Penambahan bahan (zat) lain
Untuk pemisahan bahan organik dari larutan seringkali ditambahkan suatu
garam. Garam ini larut lebih baik daripada bahan padat yang dinginkan sehinga

terjadi desakan dan membuat baha padat menjadi terkristalisasi.


3. Gambar jenis-jenis dari Kristal :
a. kristal logam
Kisi kristal logam terdiri atas atom logam yang terikat dengan ikatan logam.
Elektron valensi dalam atom logam mudah dikeluarkan (karena energi
ionisasinya yang kecil) menghasilkan kation. Bila dua atom logam saling
mendekat, orbital atom terluarnya akan tumpang tindih membentuk orbital
molekul. Bila atom ketiga mendekati kedua atom tersebut, interaksi antar
orbitalnya terjadi dan orbital molekul baru terbentuk. Jadi, sejumlah besar
orbital molekul akan terbentuk oleh sejumlah besar atom logam, dan orbital
molekul yang dihasilkan akan tersebar di tiga dimensi.
Karena orbital atom bertumpangtindih berulang-ulang, elektron-elektron di
kulit terluar setiap atom akan dipengaruhi oleh banyak atom lain. Elektron
semacam ini tidak harus dimiliki oleh atom tertentu, tetapi akan bergerak bebas
dalam kisi yang dibentuk oleh atom-atom ini. Jadi, elektron-elektron ini disebut
dengan elektron bebas.
Sifat-sifat logam yang bemanfaat seperti kedapat-tempa-annya, hantaran listrik
dan panas serta kilap logam dapat dihubungkan dengan sifat ikatan logam.
Misalnya, logam dapat mempertahankan strukturnya bahkan bila ada
deformasi. Hal ini karena ada interaksi yang kuat di berbagai arah antara atom
(ion) dan elektron bebas di sekitarnya (Gambar 1).

b. Kristal ionik
Kristal ionik semacam natrium khlorida (NaCl) dibentuk oleh gaya tarik antara
ion bermuatan positif dan negatif. Kristal ionik biasanya memiliki titik leleh
tinggo dan hantaran listrik yang rendah. Namun, dalam larutan atau dalam
lelehannya, kristal ionik terdisosiasi menjadi ion-ion yang memiliki hantaran
listrik.
Biasanya diasumsikan bahwa terbentuk ikatan antara kation dan anion. Dalam
kristal ion natrium khlorida, ion natrium dan khlorida diikat oleh ikatan ion.
Berlawanan dengan ikatan kovalen, ikatan ion tidak memiliki arah khusus, dan
akibatnya, ion natrium akan berinteraksi dengan semua ion khlorida dalam
kristal, walaupun intensitas interaksi beragam. Demikian juga, ion khlorida
akan

berinteraksi

dengan

semua

ion

natrium

dalam

kristal.

Susunan ion dalam kristal ion yang paling stabil adalah susunan dengan jumlah
kontak antara partikel bermuatan berlawanan terbesar, atau dengan kata lain,
bilangan koordinasinya terbesar. Namun, ukuran kation berbeda dengan ukuran
anion, dan akibatnya, ada kecenderungan anion yang lebih besar akan tersusun
terjejal, dan kation yang lebih kecil akan berada di celah antar anion.
Dalam kasus natrium khlorida, anion khlorida (jari-jari 0,181 nm) akan
membentuk susunan kisi berpusat muka dengan jarak antar atom yang agak
panjang sehingga kation natrium yang lebih kecil (0,098 nm) dapat dengan
mudah diakomodasi dalam ruangannya (Gambar 8.9(a)). Setiap ion natrium
dikelilingi oleh enam ion khlorida (bilangan koordinasi = 6). Demikian juga,
setiap ion khlorida dikelilingi oleh enam ion natrium (bilangan koordinasi = 6)
(Gambar 8.9(b)). Jadi, dicapai koordinasi 6:6.

c. Kristal molekular
Kristal dengan molekul terikat oleh gaya antarmolekul semacam gaya van der
Waals disebut dengan kristal molekul. Kristal yang didiskusikan selama ini
tersusun atas suatu jenis ikatan kimia antara atom atau ion. Namun, kristal
dapat terbentuk, tanpa bantuan ikatan, tetapi dengan interaksi lemah antar
molekulnya. Bahkan gas mulia mengkristal pada temperatur sangat rendah.
Argon mengkristal dengan gaya van der Waaks, dan titik lelehnya -189,2C.
Padatan

argon

berstruktur

kubus

terjejal.

Molekul diatomik semacam iodin tidak dapat dianggap berbentuk bola.


Walaupun tersusun teratur di kristal, arah molekulnya bergantian (Gambar 4).
Namun, karena strukturnya yang sederhana, permukaan kristalnya teratur. Ini
alasannya mengapa kristal iodin memiliki kilap.

Gambar 4 Struktur kristal iodin.


Strukturnya berupa kisi ortorombik berpusat muka.
Molekul di pusat setiap muka ditandai dengan warna lebih gelap.
Pola penyusunan kristal senyawa organik dengan struktur yang lebih rumit
telah diselidiki dengan analisis kristalografi sinar-X. Bentuk setiap molekulnya
dalam banyak kasus mirip atau secara esensi identik dengan bentuknya dalam
fasa gas atau dalam larutan.

d. Kristal kovalen
Banyak kristal memiliki struktur mirip molekul-raksasa atau mirip polimer.
Dalam kristal seperti ini semua atom penyusunnya (tidak harus satu jenis)
secara berulang saling terikat dengan ikatan kovelen sedemikian sehingga
gugusan yang dihasilkan nampak dengan mata telanjang. Intan adalah contoh
khas jenis kristal seperti ini, dan kekerasannya berasal dari jaringan kuat yang
terbentuk oleh ikatan kovalen orbital atom karbon hibrida sp3 (Gambar 5). Intan
stabil sampai 3500C, dan pada temperatur ini atau di atasnya intan akan
menyublim.
Kristal semacam silikon karbida (SiC)n atau boron nitrida (BN)n memiliki
struktur yang mirip dengan intan. Contoh yang sangat terkenal juga adalah
silikon dioksida (kuarsa; SiO2) (Gambar 8.13). Silikon adalah tetravalen,
seperti karbon, dan mengikat empat atom oksigen membentuk tetrahedron.
Setiap atom oksigen terikat pada atom silikon lain. Titik leleh kuarsa adalah
1700 C.

Gambar 5 Struktur kristal intan


Sudut C-C-C adalah sudut tetrahedral, dan setiap
atom karbon dikelilingi oleh empat atom karbon lain.

Gambar 6 Struktur kristal silikon dioksida


Bila atom oksigen diabaikan, atom silikon akan membentuk struktur mirip
intan. Atom oksigen berada di antara atom-atom silikon.

Daftar Pustaka
1. Fessenden. 1995. Kimia otganik. Jilid 2. Erlangga Jakarta
2. Achyar sunjaya. 1983. Ilmu kimia. Jilid 1. M25 Bandung
3. Modul praktikum III kimia organic UMJ