Vous êtes sur la page 1sur 14

Oleh:

Emi Sukiyah Dan Edi Tri H

Perkembangan geomorfologi
kuantitatif tidak dapat dipisahkan
dari perkembangan ilmu geologi,
khususnya geomorfologi.
Pengetahuan tentang geomorfologi,
sebagaimana juga dengan ilmu-ilmu
yang lain, dimulai dengan munculnya
ahli-ahli filsafat Yunani dan Italia.

Herodotus (485 425 SM) yang


dianggap sebagai bapak sejarah
dikenal pula mempunyai pikiranpikiran tentang geologi, termasuk
juga tentang perubahan muka air
laut, salah satu gejala geomorfologi
yang diperhatikan di Mesir.
Filsuf lainnya:
Aristoteles, Strabo dan Saneca yang
kesemuanya
pada
akhirnya
menerangkan
gejala-gejala
alam
sebagai suatu kutukan Tuhan atau
dikenal
dengan
nama
Teori

Berabad-abad kemudian, masyarakat


mulai mengenal filsafat katatrofisma.
Semua gejala alam itu sebagai akibat
pembentukan dan perusakan yang
relatif terjadi dengan tiba-tiba, sehingga
menyebabkan perubahan bentuk muka
bumi.

James Hutton (1726-1797), berlatar belakang pendidikan


kedokteran, namun meminati ilmu pengetahuan alam,
selain juga penemu proses kimia untuk pembuatan
amoniak dan jadi pengusaha, kemudian menjadi gentleman
farmer (tuan tanah) di tempat kelahirannya dekat Edinburg,
Scotlandia.
James Hutton melakukan penelitian lapangan sekitar
Edinburg dan menekankan pada pengamatan lapangan
hubungan antar batuan, mencetuskan konsep unconformity
yang ditafsirkan dengan adanya daur geologi, pengamatan
hubungan batuan kristalin dengan sekitarnya yang
menghasilkan
konsep
intrusi
serta
magmatisme,
pengamatan volkanisme serta pembentukan batuan efusif
khususnya basal.

James Hutton mengemukakan teori


uniformitarianisma, dan terkenal dengan
dalilnya yang menyatakan bahwa hari ini
adalah kunci dari kejadian pada masa
lampau atau istilah asingnya adalah the
present is the key to the past.

Lamarck
(1744-1829),
lebih
mengutamakan
peranan air sebagai agen utama perubahan muka
bumi, menekankan pentingnya erosi, denudasi
yang
membentuk
lembah-lembah
sehingga
terbentuk pegunungan, dan yang mengakibatkan
perpindahan cekungan lautan, sebagaimana
dinyatakan dalam buku berjudul Hydrogeologie.
Lamarck menganut proses evolusi muka bumi,
sebagai halnya disadari James Hutton. Namun
Lamarck menolak adanya proses-proses bawah
permukaan seperti tektonik. Sumbangan lain
terhadap ilmu geologi adalah mengenai proses
diagenesa atau litifikasi serta pelapukan sebagai
proses pembentukan material lempung.

Pada masa sekarang geomorfologi bukan saja


meliputi bidang yang statis, yang hanya
mempelajari bentuk-bentuk roman muka bumi,
akan tetapi juga merupakan ilmu yang dinamis
sehingga dapat meramalkan kejadian alam
sebagai hasil interpolasi.
Pemerian bentuk roman muka bumi dapat
dinyatakan dengan besaran-besaran matematika
seperti kita kenal dengan nama geomorfologi
kuantitatif.
Strahler dapat dianggap sebagai pemuka
geomorfologi kuantitatif yang membuat analisis
pengaliran sungai secara matematika.

Peran Geomorfologi Kuantitatif dalam


studi Geologi:
1. Penentuan arah dan posisi obyek geologi
2. Prediksi jenis batuan secara lebih detil
3. Eksplorasi bahan galian
4. Eksplorasi sumber daya air
5. Analisis sesar-sesar aktif
6. Perhitungan material yang terbawa oleh aliran
air dan sedimentasinya
7. Analisis paleogeomorfologi
8. Dll.

Materi:
-Analisis lereng
-Morfometri DAS
-Morfometri Waduk/danau
-Morfotektonik
-Analisis sesar-sesar aktif
-Energi alternatif
-Ekstraksi data dari media hasil penginderaan jauh
-Aplikasi GIS (modelling)

Pustaka:
Davis, John C. 1986. Statistics and Data Analysis in
Geology. Second Edition. John Wiley & Sons Inc. Canada.
Angevine, C.L., Heller, P.L. & Paola, C. 1990. Quantitative
Sedimentary Basin Modeling. Continuing. CourseNote Series #32. The American Association of
Petroleum Geologist. AAPG-Tulsa. 120p.
Bloom, A.L. 1969. The Surface of The Earth. The Open
University Press. Prentice Hall International Inc.
London.
Coates, D.R. 1976. Geomorphology and Engineering. The
Binghamton
Symposia
in
Geomorphology:
International Series, No. 7. George Allen & Unwin.
London. 350p.
Conant, F., Peter Rogers et al. 1983. Resource Inventory
and Baseline Study Methods for Developing Contries.
Washington DC.

Chowdhury, R.N. 1978. Slope Analysis. Developments in


Geotechnical Engineering, Vol.22. Elsevier Scientific
Publishing Company. Amsterdam. 422p.
Cooke, R.U., & Doornkamp. 1977. Geomorphology in
Environmental Management. Clarendom Press. Oxford.
244p.
El-Swaify, S. A., Dangler, E. W. & Armstrong, C. L. 1982.
Soil Erosion by Water in the Tropics. Honolulu:
Department of Agronomy and Soil Science, University of
Hawaii.
King, C.A.M. 1975. Technique in Geomorphology. Edward
Arnold, Bristol.
Komar, P.D. 1976. Beach Processes and Sedimentation.
Prentice Hall, Englewood Clifts, New Jersey.
Ollier, C.D. 1975. Weathering. Longman Group Ltd.
Edinburgh.

Chorley, J. (Ed). 1969. Introduction to Physical Hydrology.


Muthuen & Co. Ltd. 211p.

Pettijohn, F.J. 1975. Sedimentary Rocks. Third Edition.


Harper & Row Publishers. New York. 628p.
Selby, M.J., 1982. Hillslope Materials and Processes.
Oxford University Press. Oxford. 244p.
Sudjana. 1996. Metoda Statistik. Edisi ke-6. Tarsito.
Bandung.

Tugas Geomorfologi Kuantitatif


(dikumpulkan bersamaan pada waktu UAS):
1. Studi literatur tentang DAS (referensi: jurnal, internet, dll).
2. Interpretasi beragam pola pengaliran.
3. Analisis morfometri daerah pemetaan pendahuluan.
4. Studi literatur tentang waduk, danau, dan rawa.
5. Interpretasi kawasan pantai secara kuantitatif.
6. Buat makalah (format bebas) tentang penerapan geomorfologi kuantitatif
dalam studi geologi!