Vous êtes sur la page 1sur 60

ISSN:1411-9455

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

INSPEKTORAT JENDERAL KEMENTERIAN KEUANGAN

Whistleblowing System
VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

Contens

Auditorial

Auditama

Liputan Khusus

15

Auditoase

18

Wawancara

27

Ex-Auditor

20

SpeakOut

24

Kang Jejen

26

Ragam Pengawasan

27

Alexander on Leadership

44

Kartun

45

Profil

46

Pojok Psikologi

48

Sudut Kantor

50

Resonasi

52

Hobby

54

Berita Keluarga

56

Gadget

58

Resensi Buku

59

18

27

36
42

Redaksi menerima sumbangan tulisan atau artikel yang sesuai dengan misi penerbitan. Redaksi berhak mengubah
isi tulisan tanpa mengubah maksud dan substansi. Artikel atau tulisan yang dimuat akan diberikan honor sesuai
Standar Biaya Umum (SBU).
Isi majalah tidak mencerminkan kebijakan Inspektorat Jenderal
Pelindung: Inspektur Jenderal, Penasihat: Sekretaris Inspektur Jenderal, Inspektur I, Inspektur II, Inspektur III,
Inspektur IV, Inspektur V, Inspektur VI, Inspektur VII, Inspektur Bidang Investigasi,
Penanggung jawab :Alexander Zulkarnaen, C.M. Susetya, Redaktur :M. Hisyam Haikal, Penyunting : Dedhi Suharto, Budi
Prayitno, Tito Juwono Pradekso, M.C. Kinanti Raras Ayu, Desain Grafis/ Fotografer :Putra Kusumo Bekti, Nyoman Andri
Juniawan, Sekretariat :Suryani, Istianah, Galih Teguh Gumilang, Ridzky Aditya Saputra, Ari Hapsari, Talitha Sya'banah
Fajrin Sudana, Johan Ridzky Aditya, Delima Frida P.,Agus Rismanto, Dianita Wahyuningtyas, Rahmawati Setyaningsih,
Mujaini, Taufik Danar P, Nur Imroatun Sholihat, Hermulia Hadie P., Pius Apriano G., Retno Wulan S., Irsyad Qomar
ISSN : 1411 - 9455
Alamat: Jl. Dr. Wahidin No. 1, Gedung Juanda II Lantai IV - XIII,
Telp. (021) 3865430 fax. (021) 3440907 Kode Pos : 10710
e-mail : Majalah.Auditoria@gmail.com

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

auditorial

enyambut pergantian tahun, Auditoria mendapat angin segar berupa tambahan beberapa personel
baru. Darah-darah muda ini hadir dengan semangat baru, inovasi baru, ide-ide baru. Adalah
harapan kita semua bahwa tambahan ini akan semakin meningkatkan kualitas Auditoria sebagai
media cetak yang mampu membangun (aparat) pengawas yang berkompeten. Oleh karena itu, mengusung
misi sebagai pembangun pengawas berkompeten, Auditoria mencoba membawakan materi-materi yang
berkontribusi, baik secara langsung maupun tidak langsung, pada peningkatan kompetensi pembacanya.

Pembahasan utama Auditoria kali adalah seputar Whistleblowing System atau dikenal dengan
panggilan akrab WiSe. Bukan tanpa alasan kami mengulas soal WiSe. Reformasi birokrasi yang telah 5 tahun
lebih dilaksanakan di Kementerian Keuangan rupanya masih menyisakan peluang untuk terus disempurnakan.
Celah-celah kecil yang berkelindan dengan kelemahan integritas yang (mungkin) masih menghinggapi sebagian
personel, di beberapa kesempatan meninggalkan noktah bagi Kementerian.
Dengan ekspektasi publik yang demikian besar, noktah - sekecil apapun itu - bukanlah sesuatu yang
diharapkan. Sebagaimana digagas Menteri Keuangan, kesempurnaan, excellence, itulah yang jadi dambaan
publik terhadap Kementerian Keuangan.
WiSe bukanlah sekadar aplikasi, melainkan solusi. Solusi yang ditawarkan Inspektorat Jenderal dalam
mengeliminasi celah-celah kecil dan kelemahan integritas yang mungkin masih tersisa. Peran serta dan
keterlibatan berbagai pihak, yang dengan mudahnya melaporkan dugaan pelanggaran kapanpun, dimanapun
-sepanjang tersedia koneksi internet- diharapkan meningkatkan awareness kita semua, bahwa pelanggaran
tidak lagi mendapat tempat di instansi kita.
Auditoria mengucapkan selamat bergabung kepada segenap pegawai yang baru ditempatkan di
Inspektorat Jenderal. Selamat bergabung dengan unit strategic business partner di Kementerian Keuangan dan
selamat berkontribusi!
Kami juga berupaya membangun kompetensi non-teknis pembaca sekalian. Melalui rubrik-rubrik
andalan seperti AuditOase, Resonansi, hingga kartun, kami coba selipkan hal-hal yang ringan namun menggugah
kesadaran, empati dan rasa kita semua.
Kepada pembaca, tak henti-hentinya kami harapkan kritik dan tegurannya agar Auditoria semakin
bermanfaat dan mampu memenuhi harapan pembaca sekalian. Selamat menikmati edisi kali, semoga
bermanfaat!

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

auditama

Pada Mulanya WiSe


para peniup peluit (whistleblowers) akan mengungkapkan
penyimpangan integritas mereka dalam menjalankan tugas
dan akan berakibat pada penjatuhan sanksi hukuman tanpa
pandang bulu

epanjang tahun 2010, Kementerian Keuangan


diuji dengan pemberitaan-pemberitaan
mengenai kasus korupsi yang melibatkan
beberapa pegawainya. Media-media nasional
menempatkan berita tersebut sebagai headline
selama beberapa waktu. Nama Kementerian
Keuangan seketika menjadi topik panas yang
dibicarakan masyarakat. Reformasi birokrasi yang
didengungkan di Kementerian Keuangan sontak
seakan-akan dipertanyakan.
Menyikapi hal tersebut, Menteri Keuangan
terus menginstruksikan kepada seluruh jajaran
di lingkungan Kementerian Keuangan untuk
membangun semangat reformasi birokrasi guna
menciptakan pemerintahan yang bersih, terbebas
dari praktek korupsi, kolusi dan nepotisme. Salah
satu langkah konkrit yang ditempuh adalah
pengembangan sistem penanganan pengaduan
yang mudah diakses, dipantau dan ditindaklanjuti.
Sistem tersebut diharapkan mampu menjadi alat
pemberantasan korupsi yang efektif.

Reformasi birokrasi yang didengungkan di


Kementerian Keuangan sontak seakan-akan
dipertanyakan

Lahirnya Aplikasi WiSe


Secara historis, sejarah berdirinya WiSE
ini diawali dari peran Inspektorat I yang menyusun
peraturan tentang tata cara pengelolaan dan
tindak lanjut pelaporan di Kementerian Keuangan.
Peraturan tersebut tertuang dalam Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 103/PMK.09/2010.
Seiring dengan maraknya pemberitaan
mengenai dugaan korupsi di lingkungan Kementerian
Keuangan, Inspektorat Bidang Investigasi (IBI)
diminta oleh Menkeu untuk membuat tata cara atau
petunjuk teknis pelaporan pelanggaran. Petunjuk

teknis yang dimaksudkan untuk melengkapi tata


cara pelaporan yang dikhususkan untuk penanganan
pelaporan pelanggaran.
IBI, bekerjasama dengan Inspektorat I, Biro
Bantuan Hukum dan Biro Komunikasi dan Layanan
Informasi Sekretariat Jenderal, menyusun peraturan
yang memuat tentang bagaimana agar penanganan
pengaduan dapat terintegrasi untuk seluruh
Kementerian Keuangan. Turut disusun pula aturan
yang memudahkan pelapor untuk melaporkan
adanya dugaan pelanggaran.
Sebagai muara dari proses penyusunan
petunjuk teknis pelaporan pelanggaran, pada tanggal
10 Mei 2011 diterbitkanlah Keputusan Menteri
Keuangan Nomor 149/KMK.09/2011 tentang Tata
Cara Pengelolaan dan Tindak Lanjut Pelaporan
Pelanggaran (Whistleblowing) serta Tata Cara
Pelaporan dan Publikasi Pelaksanaan Pengelolaan
Pelaporan
Pelanggaran
(Whistleblowing)
di
Lingkungan Kementerian Keuangan.
Menurut M. Dody Fachrudin, Auditor IBI,
KMK tersebut juga secara khusus mengamanatkan
pengembangan sistem pengelolaan dan tindak
lanjut pelaporan pelanggaran serta pelaporan hasil

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

auditama
pengelolaan pelaporan pelanggaran yang akan
digunakan oleh seluruh eselon I. Sekitar satu bulan
sejak diterbitkannya KMK No. 149/KMK.09/2011,
IBI, Bagian Sistem Informasi Pengawasan (SIP) dan
Pusintek mulai membangun aplikasi WiSe, lanjut
Dody.
Kriteria penting dari aplikasi yang hendak
dibangun adalah yang mudah diakses, mudah
dimengerti penggunaannya, dan dapat menjaga
kerahasiaan pelapor
Sebagai langkah awal, gambaran proses
bisnis WiSE disampaikan oleh IBI, kemudian SIP
menanggapi atau mengonfirmasi hal-hal yang kurang
jelas. Kami bahkan meminta flowchart dari proses
bisnis tersebut agar lebih jelas, demikian dijelaskan
oleh Tri Achmadi, Kasubbag Pengembangan Sistem
dan Aplikasi Bagian SIP.
Selain dari konsep yang diajukan oleh
IBI, konsep WiSE yang dibuat juga berdasarkan
perbandingan dengan sistem serupa yang dimiliki
oleh KPK, yaitu KPK Whistleblowers System (KWS).
Namun, konsep KWS tidak terlalu diikuti, karena
terlalu banyak yang harus diisi oleh pelapor. KWS
menekankan kepada si pelapor (whistleblowers),
sedangkan WiSE lebih menekankan kepada
pengaduannya (whisthleblowing).
Henrajaya, salah satu penggagas dibentuknya
aplikasi WiSE, menyatakan bahwa aplikasi WiSE
diciptakan tidak hanya melalui koordinasi internal di
lingkungan Kementerian Keuangan. IBI melakukan
benchmarking dengan pihak-pihak eksternal yang
telah lebih dulu mengoperasikan aplikasi WiSE, baik
di pihak swasta, KPK dan Kantor Akuntan Publik (KAP).
IBI juga seringkali melaksanakan diskusi bulanan
dengan CFE Indonesia. Biasanya hadir untuk diskusi
dan mengadakan sharing session mengenai masalah
penanganan pengaduan whistleblowing, pungkas
Henrajaya.
Kriteria penting dari aplikasi yang hendak
dibangun adalah yang mudah diakses, mudah
dimengerti penggunaannya, dan dapat menjaga
kerahasiaan pelapor. Untuk itu, menurut Tri Achmadi,
dalam proses pengembangannya, user requirement
yang digunakan mengikuti format baku Pusintek,
agar output yang dihasilkan benar-benar sesuai yang
diharapkan pemilik proses bisnis, dalam hal ini IBI.

Setelah melalui proses pengembangan


selama kurang lebih empat bulan, pada bulan
September 2011, aplikasi WiSe telah sepenuhnya
siap digunakan. Pada tanggal 5 September 2011,
aplikasi WiSe secara resmi diluncurkan oleh Menteri
Keuangan.
Dalam sambutannya, Menteri Keuangan
menegaskan bahwa pihaknya tengah berupaya
membangun budaya yang mengutamakan integritas,
profesionalitas, religiusitas, dan semangat reformasi
birokrasi. Harapannya, upaya membangun nilainilai tersebut berjalan benar. Kalau tidak, akan ada
peniup peluit dan berakibat pada sanksi, bahkan
sampai dibawa ke proses hukum, pungkasnya di
acara yang berlangsung di Aula Mezzanine Gedung
Djuanda I tersebut. Kini, aplikasi WiSe sudah dapat
diakses dan digunakan melalui www.wise.depkeu.
go.id.

WiSe: Kini dan Selanjutnya


Pembangunan aplikasi WiSE memperhatikan
empat prinsip, yaitu kerahasiaan, mudah dan cepat,
terintegrasi, dan pemantauan. Dalam peresmian
aplikasi WiSE lalu, Inspektur Jenderal Kementerian
Keuangan Sonny Loho menyampaikan bahwa WiSE
memiliki empat keunggulan, yaitu kerahasiaan sang
pelapor sangat dijaga dan dipastikan aman. Setiap
pelapor tak perlu menyebutkan identitasnya, Boleh
dengan nama samaran yang menarik, katanya.
Kemudian, lanjut beliau mengenai keunggulan WiSe,
aplikasi ini dapat diakses dengan mudah dan cepat
melalui situs www.wise.depkeu.go.id, sepanjang
tersedia koneksi internet.
Selain dari sisi eksternal, dari sisi internal
kelebihan aplikasi WiSe adalah adanya fitur dashboard
yang berguna bagi pimpinan dalam melakukan
pemantauan. Selain itu, integrasi dan pelaporan

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

auditama
dioperasikan seluruh unit eselon I Kementerian
Keuangan yang dipantau oleh Inspektorat Jenderal.
Peluncuran sistem baru ini telah sesuai dengan
komitmen Kementerian Keuangan memerangi tindak
korupsi, kolusi, dan nepotisme. Menurut Inspektur
Jenderal, harus diakui bahwa masih saja ada pegawai
belum meninggalkan tindakan KKN tersebut,
Jadi dengan WISE ini masyarakat dapat berperan
memantau kinerja pegawai Kemenkeu, demikian
lanjut mantan Direktur Akuntansi dan Pelaporan ini.

perbaikan dan penyempurnaan telah dan sedang


diimplementasikan.
Fokus pertama adalah perbaikan proses
bisnis melalui perubahan terhadap PMK 103 tahun
2010 dan KMK 149 tahun 2011. Perubahan tersebut
tentu saja akan berdampak pada aplikasi WiSe karena
akan ada perubahan alur penanganan pengaduan.
Selanjutnya, penyempurnaan aplikasi dilakukan
mengacu pada perubahan proses bisnis tersebut.
Selain itu, akan dilakukan pula integrasi antar sistem
penanganan pengaduan yang ada di Kementerian
Keuangan.
Penanganan whistleblowing yang baik
diharapkan akan menumbuhkan kesadaran bahwa
pegawai/pejabat di lingkungan Kementerian
Keuangan harus terus menjaga integritasnya

Epilog

Mengenai pengaduan masyarakat, Dody


dari IBI menyatakan saat ini terdapat beberapa
saluran yang dapat digunakan oleh masyarakat.
Selain WiSe, saat ini Direktorat Jenderal Pajak
(DJP) dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC)
sudah memiliki sistem penanganan pengaduan
serupa, yaitu Sistem Aplikasi Pengaduan Masyarakat
(SIPUMA) di DJBC dan Sistem Informasi Pengaduan
Pajak (SIPP) di DJP. Kedua aplikasi tersebut disiapkan
untuk menampung, mengelola dan menindaklanjuti
pengaduan masyarakat.
Selain SIPUMA dan SIPP, pengaduan juga
terkadang langsung ditangani oleh Inspektorat
sebagai pengawasan fungsional yang terkait. Unit
Kontrol Intern (UKI) tiap-tiap eselon I juga memiliki
saluran pengaduan yang dapat digunakan. Seringkali
ada tumpang tindih tindak lanjut karena IBI tidak
dapat memonitor pengaduan yg tidak direkam dalam
WiSe, demikian salah satu kendala yang dihadapi
dalam pengelolaan pengaduan WiSe menurut Dody.

Dalam
rangka
mewujudkan
clean
government dan good governance, reformasi
birokrasi telah diterapkan di lingkungan Kementerian
Keuangan sejak tahun 2007. Hal ini didorong oleh
adanya stigma mengenai kurang baiknya kinerja
pegawai pemerintah dari masyarakat. Inilah yang
mendorong diciptakannya suatu sarana untuk
meminimalisasi dan menghilangkan praktek-praktek
kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN) di lingkungan
Kementerian Keuangan.
Pengaturan
mengenai
whistleblowing
Keuangan merupakan perwujudan pembangunan
nilai integritas di lingkungan Kementerian Keuangan.
Dengan adanya mekanisme yang baik dalam
penanganan whistleblowing diharapkan akan
meningkatkan integritas para pegawai/pejabat
Kementerian Keuangan. Penanganan whistleblowing
yang baik diharapkan akan menumbuhkan kesadaran
bahwa pegawai/pejabat di lingkungan Kementerian
Keuangan harus terus menjaga integritasnya,
karena bila tidak, akan ada para peniup peluit
(whistleblowers) yang akan mengungkapkan
penyimpangan integritas mereka dalam menjalankan
tugas dan akan berakibat pada penjatuhan sanksi
hukuman tanpa pandang bulu. (GIL/KIN/ARH/RHM/)

Sebagai sebuah sistem, aplikasi WiSe


senantiasa berkembang, seiring perkembangan
kebutuhan proses bisnisnya. Untuk itu, beberapa

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

auditama

Ketemu Pegawai Kemenkeu Nakal? Laporkan


Melalui WiSE!

ernah mengalami ribetnya bikin KTP kalau


seandainya hilang? Ataupun betapa berbelitbelitnya proses mengurus Surat Keterangan
Kelakuan Baik? Baru membayangkan saja sudah
terbayang betapa malasnya harus berhadapan
dengan birokrasi. Kalau mau cepat jadi? Bisa!
Namun biasanya harus ada uang pelicin dulu.
Secara umum, paradigma masyarakat kita mengenai
birokrasi adalah masih jauh dari sosok ideal seorang
pelayan masyarakat. Lamban, berbelit-belit,
prosedural dan tidak efisien kerap diidentikkan
dengan birokrasi di Indonesia. Padahal yang menjadi
produk dari suatu organisasi pemerintahan adalah
pelayanan masyarakat (public service) yang diberikan
untuk memenuhi hak mereka, tidak heran tuntutan
masyarakat akan profesionalisme birokrasi pun
semakin tinggi.

Saat ini Kementerian Keuangan telah


memiliki fasilitas sarana pengaduan online atas
pelanggaran yang dilakukan oleh pegawainya,
sehingga baik masyarakat maupun pegawai
Kemenkeu sendiri dapat menjadi whistleblower
kapanpun dan dimanapun. Jadi bila kita menemukan
adanya indikasi pelanggaran, kemana harus
melaporkannya tanpa takut akan ditekan? Yaitu
cukup dengan mengakses laman www.wise.
depkeu.go.id, maka pengaduan secara langsung,
mudah, cepat dapat dilaporkan. Sang pelapor juga
tidak perlu khawatir identitasnya akan terungkap
karena akan dirahasiakan, Kementerian Keuangan
hanya fokus pada informasi yang dilaporkan. Agar

Kementerian Keuangan saat ini menerapkan


reformasi birokrasi karena dinilai dapat mendorong
institusi/lembaga pemerintahan menjadi lebih
transparan, sehingga akan mudah memantau
atas terjadinya pelanggaran. Kebijakan reformasi
birokrasi di Kementerian Keuangan yang dilengkapi
dengan Whistleblowing System (WiSe) adalah upaya
dari pemerintah untuk mengajak semua pihak ikut
memantau indikasi pelanggaran yang dilakukan oleh
pegawai Kemenkeu. Dengan diterapkannya WiSe,
diharapkan dapat menciptakan aparatur negara yang
bersih, profesional dan bertanggung jawab serta
birokrasi yang efektif dan efisien sehingga diharapkan
dapat memberikan layanan kepada publik secara
maksimal.
VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

auditama
kerahasiaan lebih terjaga harus diperhatikan antara
lain: jangan memberitahukan data-data pribadi,
seperti nama/hubungan Anda dengan
pelaku; jangan memberitahukan data/
informasi yang memungkinkan bagi orang
lain untuk melakukan pelacakan siapa Anda;
dan hindari orang lain mengetahui username,
password serta nomor registrasi Anda. Sang
pelapor dapat memonitor tindak lanjut dari
pengaduannya melalui website, pengaduan
Anda akan mudah ditindaklanjuti bila memenuhi
unsur-unsur antara lain: what (perbuatan
berindikasi pelanggaran yang diketahui); where
(dimana perbuatan tersebut dilakukan); when
(kapan perbuatan tersebut dilakukan); who (siapa
saja yang terlibat dalam perbuatan tersebut); dan
how (bagaimana modus/cara perbuatan tersebut
dilakukan). Hasil atas penanganan pengaduan
masyarakat ini kemudian akan dipublikasikan secara
transparan.

Selayang pandang WiSe


Tampilan laman www.wise.depkeu.go.id
dan menu yang disediakan cukup user friendly serta
informatif, sehingga sang pelapor dapat dengan
mudah menggunakannya. Cara melapor pertamakali
adalah klik tombol Login, lalu isikan username dan
password. Jika nama Anda belum terdaftar maka klik
tombol Register dan isikan data diri Anda, lalu klik
kembali tombol Register. Username dan password
yang dibuat harus unik dan tidak menggambarkan
identitas Anda agar kerahasiannya dapat terjaga.
Klik menu Pengaduan untuk merekam pengaduan
baru dan klik tombol Tambah Pengaduan untuk
menambahkan pengaduan baru. Selanjutnya mengisi
form Tambah Pengaduan sesuai informasi yang anda
ketahui, lalu klik tombol Lanjut.
Beberapa hal yang harus diperhatikan
dalam pengisian antara lain: semua kotak yang diberi
tanda (*) wajib diisi dan pastikan informasi yang
diberikan sedapat mungkin memenuhi unsur 4W +
1H. Bukti dalam bentuk file foto atau dokumen lain
dapat dilengkapi di halaman pengaduan setelah
ada petunjuk untuk menyertakan lampiran, lalu klik
kotak kecil di bawah petunjuk tersebut dan lanjutkan
prosesnya. Setelah selesai mengisi, klik tombol
Kirim untuk melanjutkan atau klik tombol Hapus
untuk membatalkan proses pelaporan Anda. Jika ingin

m e n c eta k
nomor register pengaduan,
maka menu tersedia di halaman berikutnya. Apakah
nomor register itu? Nomor register adalah nomor
yang digunakan sebagai identitas pelapor dalam
melakukan komunikasi tidak langsung antara pihak
pelapor dengan penerima laporan, yang didapatkan
setelah pelapor menyampaikan laporan pelanggaran
melalui aplikasi WiSe ini.
Username dan password harus disimpan
baik-baik, begitupun dengan nomor register
yang diperoleh saat melakukan pengaduan untuk
mengetahui status/tindak lanjut pengaduan yang
disampaikan. Bila pengaduan yang disampaikan
belum memenuhi kriteria untuk ditindaklanjuti,
maka pihak Kemenkeu akan menghubungi sang
pelapor melalui saluran yang telah dicantumkan
dalam form pengaduan. Pengaduan yang Anda
berikan akan direspon dan tercantum dalam aplikasi
Wise ini serta akan ter-update secara otomatis sesuai
dengan respon yang telah diberikan oleh pihak
penerima pengaduan. Untuk dapat melihat respon
yang diberikan, sang pelapor harus login terlebih
dahulu dengan username yang telah diregistrasikan
di aplikasi ini dan baru dapat melihat status
pengaduan dalam histori pengaduan sesuai dengan
nomor register pengaduan yang didapatkan.

WiSe lebih Rinci


Pengelolaan aplikasi WiSe ternyata tidak
bisa begitu saja di share untuk masyarakat luar. Pihak
admin mengaku karena ada beberapa hal teknis

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

auditama
yang memang harus tetap dijaga kerahasiannya
sehingga tidak boleh sembarangan dipublikasikan
keluar. Seperti penuturan Diana M. Ginting sebagai
tim WiSe, mungkin kita tidak bisa menjelaskan
secara rinci ya prosedural internal di lingkup kita
tapi kita bisa men-share hal-hal yang umum. Pada
dasarnya semua pengaduan yang masuk selain dari
aplikasi baik melalui sms, fax, surat ataupun langsung
datang sendiri akan tetap di entry dalam aplikasi.
Hal ini membantu pihak internal dalam administrasi
database pengaduan agar lebih mudah dipantau dan
ditindaklanjuti.

kasus yang sudah ditangani bisa berupa hukuman


disiplin, pengembalian kerugian negara, penyampaian
kepada Kepolisian Negara RI atau bahkan KPK (Komisi
Pemberantasan Korupsi). Selama ini, pengaduan
yang masuk lebih banyak melalui surat ketimbang
melalui web. Oleh sebab itu, tim WiSe hingga kini
terus melakukan sosialisasi ke seluruh pegawaipegawai Kementerian Keuangan. Dengan harapan
aplikasi ini bisa lebih di kenal dan memudahkan para
calon pelapor.

Pengaduan yang masuk akan dipelajari dan


dipilah. Apakah layak untuk ditindaklanjuti atau harus
dilimpahkan ke unit eselon I lain yang bersangkutan.
Orang-orang yang berada dibalik verifikasi pengaduan
adalah mereka para auditor yang
ada di Inspektorat Bidang
Investigasi (IBI). Namun
bukan berarti semua auditor
di IBI bisa mengakses
secara bebas database
yang ada di aplikasi. Tetap
ada batasannya, hanya
beberapa orang saja yang
bisa
melihat
database
aplikasi WiSe. Verifikasi ini
akan menghasilkan dua jenis
kelompok yaitu aduan yang
akan ditangani IBI langsung dan
aduan yang akan dilimpahkan
kepada unit eselon I lain yang
terkait. Sebelum melakukan
audit investigasi/pemeriksaan
mendalam,
tim
harus
melakukan kajian terlebih
dahulu. Kajian yang berisi
tentang dugaan kasus, unit
kerja terkait, materi pelanggaran,aturan
yang dilanggar, kesimpulan dan rekomendasi untuk
menentukan langkah pemeriksaannya seperti apa.
Dalam prosesnya, pertimbangan pimpinan Itjen dan
unit eselon I lain juga sangat diperlukan.

Tim dalam pengelolaan WiSe sendiri terbagi


menjadi dua yaitu sebagai admin dan pemantaunya.
Setiap
orang
memiliki
tugasnya
masingmasing dan tidak ada
yang merangkap sehingga
tidak terjadi kerancuan
dalam
menyelesaikan
suatu
kasus.
Semua
sudah memiliki porsi
dan fungsinya masingmasing.
Terdapat
7
fungsi dalam tim WiSe :
Verifikator, Pejabat yang
berwenang,
analisis
pengkaji,
peng-entry,
helpdesk, administrasi,
dan pimpinan.

Audit investigasi setiap kasus memiliki


cara yang berbeda, sesuai dengan rekomendasi
dari hasil kajian sebelummya. Hasil investigasi
wajib didokumentasikan dalam Laporan Hasil Audit
Investigasi/Laporan Hasil Pemeriksaan. Dalam
laporan tersebut mengandung rekomendasi atas

Mereka dibalik WiSe

Verifikator
bertugas menyeleksi di
awal pengaduan untuk
menentukan
statusnya.
Terbagi menjadi 4 status
yaitu dilanjutkan ke analisis
kajian, tidak dapat dilanjuti,
belum
dapat
dilanjuti,
dan dilimpahkan ke unit
lain. Verifikator ini biasanya
adalah koordinator kelompok (korkel). Korkel ini
juga merupakan sebagai pejabat yang berwenang
karena tahap analisis kajian akan mendisposisikan
kajian ini ke pengaji. Anilisis pengkaji menerima
pengaduan lalu melakukan kajian tapi masih bersifat
umum dan hasilnya akan masuk ke inspektur. Hasil
kajian dari pengkaji dan setelah dari inspektur akan
di entry pada aplikasi WiSe. Jika hasil kajian berupa
rekomendasi untuk dilakukan audit investigasi, peng-

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

auditama
entry akan menginput hasil audit investugasi seperti
surat tugas kesimpulan.
Sedangkan untuk helpdesk adalah tempat
dimana orang bisa memberikan pengaduan secara
langsung. Petugas helpdesk ini akan meng-entry
pengaduan itu pada aplikasi WiSe. Selain itu juga
membantu menginput pengaduan diluar web
seperti surat atau media lainnya. Admin aplikasi
WiSe ini lebih kepada jika ada masalah pada aplikasi
misal, membuat akun baru untuk pengelolanya,
manajemen user. Sedangkan pimpinan disini adalah
Inspektur Bidang Investigasi, Inspektur Jenderal,
Menteri Keuangan, dan beberapa Pimpinan unit
eselon 1 lainnya.

Kelebihan WiSe:
WiSe merupakan aplikasi pengaduan untuk
Kementerian Keuangan yang berarti mencakup
seluruh unit eselon I Kementerian Keuangan. Dalam
WiSe semua bisa terintegrasi, oleh karenanya ada
yang langsung ditangani oleh Inspektorat Jenderal
dan ada yang dilimpahkan
ke unit eselon I lain seperti
Pajak, Bea Cukai ataupun
Sekjen. Tapi unit lain hanya bisa
melihat apa yang dilimpahkan
dan bukan data yang utuh. IBI
akan terus memonitor apa yang
sudah dilimpahkan. Jadi bukan
berarti lepas tangan karena sudah
ditangani oleh yang lain.

tentang Tata Cara Pengelolaan dan Tindak Lanjutb


Pelaporan
Pelanggaran
(Whistleblowing)
di
Lingkungan Kementerian Keuangan dan KMK Nomor
149/KMK.09/2011 tentang Tata Cara Pengelolaan
dan Tindak Lanjut Pelaporan Pelanggaran
(Whistleblowing) Serta Tata Cara Pelaporan dan
Publikasi Pelaksanaan Pengelolaan Pelaporan
Pelanggaran (Whistleblowing) di Lingkungan
Kementerian Keuangan. Secara garis besar PMK 103
mengenai pengaduan secara umum, sedangkan KMK
149 untuk aplikasi WiSe-nya. Dalam kedua peraturan
tersebut disebutkan bahwa pihak pengelola WiSe
wajib menjaga kerahasiaan pelapor.
Nanti memang kita lagi mengkaji hal-hal
apa saja yang bisa menjadi masukan kita ke depan
untuk aplikasi WiSe, apakah kita nanti harus mengacu
tentang peraturan-peraturan di luar wise tentang
perlindungan informan. Tapi itu pun harus kita lihat
menyesuaikan dengan keterbatasan yang kita miliki,
kata Diana M. Ginting. Mekanisme perlindungan
informan ini memang belum diatur secara rinci dalam
peraturan. Namun tim WiSe sudah memiliki ramburambu tersendiri untuk menjaga keamanan informasi
dan informan itu sendiri. Misalnya, pelapor meminta
bertemu langsung dengan tim IBI lalu tim memberi
pilihan kepada pelaor untuk bertemu dimana dia
merasa aman. Ketika bertemu pun tidak akan ada
dokumentasi apapun.
Penggalian informasi tidak selalu dilakukan
secara bertemu langsung. Tim IBI lebih menyesuaikan
dengan kenyamanan pihak pelapor. Jika mereka tidak
bersedia bertemu secara langsung,
bisa lewat telpon, hanya sms atau
lewat surat pos. Media apapun yang
membuat pelapor aman dan nyaman.
Tim akan menghubungi si pelapor,
mengkonfirmasi
laporan
lebih
lanjut. Lalu menentukan apakah
pengaduannya patut dilanjutkan
atau hanya mengarah ke fitnah/
pengaduan kosong.

Bagi para pelapor tidak


perlu khawatir akan keamanan
aduannya karena sudah ada
peraturan tentang WiSe. Peraturan
yang terkait dengan WiSe bisa dilihat
di PMK Nomor 103/PMK.09/2010

10

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

Kondisi aktual pengelolaan


WiSe
Sesuai dengan KMK
149 tahun 2011, jawaban/
respon atas pengaduan yang
disampaikan wajib diberikan

auditama
aplikasi ini disamakan kebutuhan pemeriksaan IBI
sehingga ketika ada kasus yang harus dilempar ke
unit esolon 1 lain, mereka sedikit kesulitan untuk
menyesuaikan. Akhirnya memakan lebih banyak
waktu dalam prosesnya. Jadi masih belum adanya
UKI untuk di eselon I lain. Selain itu masih sering
terjadi error pada aplikasi dan terus berkoordinasi
dengan Pusintek.

dalam kurun waktu paling lambat 30 (tiga puluh)


hari terhitung sejak pengaduan diterima. Untuk
respon yang disampaikan tertulis melalui surat dapat
diberikan bila sang pelapor mencantumkan identitas
secara jelas (nama dan alamat koresponden).
Untuk respon dari media pengaduan lainnya akan
disampaikan dan diberikan sesuai identitas pelapor
yang dicantumkan dalam media pengaduan tersebut.
Tentu saja segala sesuatu selalu ada lika
liku dan banyak pengalaman dibaliknya. Seperti
pengakuan beberapa sumber daya manusia dibalik
WiSe ini. Kondisi yang mereka hadapi di lapangan
maupun yang berhubungan dengan aplikasi itu
sendiri. Setiap aplikasi pasti ada kelemahannya,
dibutuhkan pengembangan terus. Konsep awal dari

Seperti yang sudah dikemukakan di atas


bahwa belum adanya peraturan khusus untuk
perlindungan pelapor yang sekarang ini masih
dalam proses. Sehingga masih banyak pelapor yang
merasa ragu akan keamanan mereka padahal dari
pihak tim WiSe sudah melakukan segala sesuatu
dengan menyesuaikan keinginan pelapor agar
merasa nyaman. Dari pihak pimpinan pun kadang
tim menemui beberapa hambatan misal mengenai
kebijakan-kebijakan baru yang berarti aplikasi
harus mengesuaikannya. Jika dengan informan juga
ketika mereka tidak mau dihubungi kembali untuk
konfirmasi atau bahkan nomor yang tercantum
ternyata tidak aktif.
Semoga aplikasi WiSe ini dapat digunakan
secara efektif untuk menjaga citra Kementerian
Keuangan. Masyarakat tidak takut lagi untuk melapor.
(GIL/KIN/JO)

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

11

auditama

WiSe Terkenal, WiSe Optimal!

WiSe
diharapkan memberi dampak
besar dan mampu meningkatkan
kepercayaan publik terhadap kinerja
Kementerian Keuangan

ak kenal maka tak


sayang. Suatu ungkapan
populer yang sering diucapkan orang,
terlebih ketika menemukan barang baru yang yang
belum dikenalnya. Kecenderungan untuk menggali
informasi atas barang baru tersebut adalah hal
yang lumrah dilakukan, bahkan merupakan suatu
keharusan yang bersifat mutlak. Sama dengan
halnya dalam organisasi pemerintahan, puluhan atau
bahkan ratusan program dapat disusun oleh suatu
instansi. Namun, tidak semua publik tahu semua
program-program tersebut.

Salah satu program unggulan yang dimiliki


Inspektorat Jenderal adalah Whistleblowing System,
atau dikenal juga dengan sebutan aplikasi WiSe.
Seperti diketahui, WiSe merupakan sistem berupa
aplikasi pengaduan (whistleblower) yang dapat
digunakan sebagai wadah untuk melaporkan
pelanggaran yang terjadi di lingkungan Kementerian
Keuangan.
Melalui Wise, cukup dengan via online,
masyarakat dan pegawai bisa menjadi peniup peluit
kapanpun dan dimanapun
Dikenalkan oleh Kementerian Keuangan di
akhir Tahun 2011, WiSe merupakan layanan unggulan
yang diusung Itjen. Seorang whistleblower dapat
menyampaikan laporannya melalui sebuah sistem
yang memang dirancang secara khusus untuk
menampung laporan dari masyarakat ataupun
pegawai internal Kementerian Keuangan.
Dengan adanya WiSe, masyarakat dan
pegawai dapat berperan aktif secara langsung untuk
ikut melaporkan tindak pelanggaran yang terjadi.
Cukup via online, masyarakat dan pegawai bisa
menjadi peniup peluit kapanpun dan dimanapun.
Aplikasi ini juga memiliki fitur follow up
dari laporan tersebut kepada stakeholders. Dapat
dikatakan, aplikasi WiSe memungkinkan interaksi
dua arah, dari pelapor kepada Itjen dan sebaliknya,

12

atau bersifat interaktif.


Kemampuan
interaksi
dua
arah ini diharapkan menjadi terobosan bagi
pemberantasan korupsi secara khusus, maupun
berbagai pelanggaran di lingkungan Kementerian
Keuangan secara umum.
Agar
mampu
menjawab
tuntutan
stakeholders dalam memberantas korupsi, WiSe
harus didukung oleh infrastruktur yang mumpuni.
Namun yang juga tidak kalah penting, atau justru
lebih penting, adalah dikenalnya WiSe oleh khalayak
luas. Pertanyaannya kemudian adalah, seberapa luas
masyarakat dan pegawai Kementerian Keuangan
telah mengenal whistleblowing system (WiSe)?

WiSe di Mata Pegawai Kemenkeu


Dari hasil on the spot interview yang
dilakukan terhadap para pegawai Kemenkeu di
beberapa Unit Eselon I, ternyata belum semua
pegawai Kemenkeu aware mengenai WiSe. Vidya dari
Setjen, Andre dari DJP dan Micky dari DJPb mengaku
belum pernah mendengar tentang WiSe sama sekali.
Kami belum pernah mendapat sosialisasi mengenai
ini di kantor masing-masing, tukas mereka.
Sementara Siti dari BPPK mengetahui
tentang WiSe dari situs www.depkeu.go.id.
Menurutnya, WiSe merupakan tempat pelaporan
atau pengaduan atas terjadinya pelanggaran
di lingkungan Kemenkeu. Kalau sifatnya untuk
mencegah adanya pelanggaran, keberadaan WiSe
ini saya nilai cukup efektif, tambahnya. Siti sendiri
secara pribadi belum memanfaatkan aplikasi tersebut
karena sejauh ini belum pernah menemukan indikasi
pelanggaran di lapangan.
Sementara Agung dari DJBC mengaku
mengetahui WiSe dari sosialisasi yang dilakukan oleh
Itjen di kantornya. WiSe adalah Whistleblowing
System, berupa aplikasi pengaduan masyarakat di

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

auditama
Kementerian Keuangan, ujar pegawai yang seharihari bekerja di kantor Pusat DJBC ini. Menurut
Agung, sejak adanya WiSe, maka pelanggaran disiplin
pegawai yang sebelumnya tidak diketahui dapat
terdeteksi. Namun hal ini juga tidak menutup adanya
ketidakefisienan terhadap proses penanganan
pengaduan, terkait adanya pengaduan melalui surat
kaleng, email yang tidak lengkap dan tidak jelas
materinya serta adanya pengaduan yang tidak ada
tindak lanjutnya.
Lia dari Bapepam LK mengungkapkan
bahwa sosialisasi atas WiSe telah dilaksanakan oleh
Bagian Kepatuhan IV yang juga ditunjuk sebagai
PIC WiSe, Aplikasi Whistleblowing System (WiSE)
merupakan media yang mengakomodasi adanya
bentuk penyimpangan kepada organisasi, sistem ini
menurut saya efektif karena tanpa harus bertemu
langsung dan menjadi media yang tepat tanpa ada
unsur tekanan oleh pihak lain. Secara umum, para
responden tersebut memberikan masukan agar
sosialisasi mengenai WiSe dapat lebih ditingkatkan
lagi, karena selama ini dinilai masih kurang.
sistem ini menurut saya efektif karena tanpa
harus bertemu langsung dan menjadi media yang
tepat tanpa ada unsur tekanan oleh pihak lain
Selain itu, juga perlu ada support
berupa sosialisasi sebagai ajang promosi untuk
memperkenalkan produk ini kepada masyarakat.
Melalui kegiatan ini, WiSe dikenalkan ke pengguna,
baik internal maupun eksternal, sebagai wadah
yang mampu mengakomodasi kepedulian pengguna
dalam hal pengaduan atas indikasi pelanggaran
disiplin yang dilakukan oknum pegawai Kemenkeu.
Dengan adanya Wise, masyarakat dan pegawai
dapat berperan aktif secara langsung untuk ikut
mengawasi tindak pelanggaran secara mudah
dan gampang.

terdiri dari pihak internal Kemenkeu yang meliputi


unit Direktorat Jenderal Pajak, Bea dan Cukai, serta
pihak eksternal yaitu masyarakat luas.

Untuk lingkungan internal, sosialisasi


dilakukan melalui kunjungan ke daerah dan melalui
media lainnya seperti penyebaran pamflet, stiker,
banner, dll. Sosialisasi terhadap pihak internal
dirasa kian penting karena sebagian besar laporan
pengaduan terhadap indikasi penyimpangan berasal
dari pihak internal. Terlebih kebanyakan laporan
pengaduan dari pihak internal, substansi dari isi
laporannya sudah merujuk pada hal teknis, akurat,
dan jelas menyebutkan tindak pelanggarannya.
Dengan informasi awal yang cukup akurat dan
jelas, kajian dan analisis masalah akan lebih mudah
dilakukan.
Disisi lain, sosialisasi Wise kepada pihak
eksternal, saat ini dirasa kurang optimal. Pemanfaatan
media yang belum maksimal, seperti media massa
dan elektronik, merupakan faktor utama yang
menjadi tantangan. Sosialisasi kepada pihak eksternal
diharapkan mampu mendorong peran serta aktif
masyarakat untuk ikut aktif mengawasi setiap
tindakan pegawai Kemenkeu.

Namun dalam perjalanannya agar Wise


bisa digunakan secara efektif dan dikenal secara
luas, dibutuhkan usaha yang tidak mudah.

Sosialisasi Wise
Sosialisasi dilakukan sebagai wujud promosi
dan publikasi WiSe. Sasaran kegiatan sosialisasi Wise
VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

13

auditama
Beberapa kelemahan dalam sosialisasi
eksternal yang dilakukan misalnya pemasangan
billboard WiSe di beberapa persimpangan jalan di
daerah tertentu, dirasa belum memberikan outcome
yang maksimal. Informasi yang belum up-to-date
yang ditampilkan pada billboard, seperti laporan
dalam bentuk sms pengaduan, juga menjadi masalah
dalam sosialisasi WiSe pada pihak eksternal. Hal
inilah yang masih perlu untuk dibenahi dan perlu
dikembangkan metode dan cara sosialisasi Wise yang
lebih tepat, menjangkau sebanyak mungkin lapisan
masyarakat, dan hasilnya maksimal.

Yang Unik dan Menarik Dalam Sosialisasi


Setiap kegiatan sosialisasi di daerah, selalu
memberikan kesan tersendiri bagi tim Inspektorat
Jenderal. Banyak hal unik yang dialami tim selama
proses sosialisasi tersebut.
Hal unik yang terjadi diantaranya adanya
para pejabat/pegawai yang menyampaikan unekuneknya selama ia bekerja sehingga pelaksanaan
sosialisasi ini dijadikan ajang penyampaian curhat
para pegawai. Namun jika memang layak untuk
ditindaklanjuti, hal itu bisa menjadi perhatian tim
Inspektorat Jenderal dalam menanggulangi adanya
tindakan kecurangan di lingkungan Kemenkeu.
Selain itu, selama sosialisasi terdapat banyak
pertanyaan mengenai gratifikasi. Hal ini menjadi sulit
untuk dijawab ketika mencakup ukuran dan takaran
gratifikasi, terutama yang belum diatur secara rinci
di lingkup Kemenkeu, seperti gratifikasi berupa
pemberian pulsa. Meskipun umumnya gratifikasi ini
sudah jelas ada di Undang-Undang KPK.

adalah mewujudkan efisiensi dan efektivitas dalam


pengawasan untuk mendukung good governance.
Selain itu, sistem pengawasan yang paperless dapat
diwujudkan dengan adanya aplikasi ini. Pelaksanaan
kajian dan pelimpahan kasus, akan lebih mudah
dilaksanakan mengingat integrasi aplikasi sudah
pada Eselon-eselon I yang ada dalam Kemenkeu.
Seperti yang disampaikan Henrajaya, salah
satu Koordinator Kelompok di Inspektorat Bidang
Investigasi. Dalam wawancarannya, ia berharap ke
depannya konsolidasi dalam pengelolaan layanan
pengaduan dengan UKI atau Unit Tertentu Eslon lain,
terutama Eselon I yang cukup besar, semakin baik
sehingga upaya pemberantasan pelanggaran dan
tindak pidana korupsi lebih mudah dilakukan. Selain
itu, Aplikasi WiSe semakin baik secara teknis dan
sistem, dan secara substansi pengaduan yang masuk
ke WiSe semakin sedikit, dengan artian aplikasi ini
semakin efektif dalam fungsi preventif dan represif
sehingga terwujud tata kelola pemerintahan yang
semakin bersih.
Secara luas, Wise diharapkan mampu
menjadi sebuah program kebanggaan Kementerian
Keuangan dan mampu memberikan nilai tambah
bagi unit-unit eselon I yang ada di dalamnya. WiSe
diharapkan memberi dampak besar dan mampu
meningkatkan kepercayaan publik terhadap kinerja
Kementerian Keuangan. (KIN/VIN/NYM)
Narasumber : Tim Whistleblowing System Inspektorat
Bidang Investigasi (red).

Harapan Terhadap Wise


Sebagai fungsi pengawasan yang dilakukan
Inspektorat Jenderal, WiSe merupakan salah satu
alat dalam upaya pemberantasan korupsi dan
penindakan terhadap tindak kecurangan yang
dilakukan pegawai Kemenkeu. Peluncuran aplikasi
ini ke publik diharapkan memberikan dampak besar
pada tugas dan kinerja yang dilakukan Itjen dalam
rangka membantu Kemenkeu untuk menciptakan
tata kelola yang bersih dan akuntabel.
Secara khusus banyak harapan besar yang
digantungkan dalam aplikasi ini. Salah satunya

14

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

Liputan Khusus

ndang-Undang Nomor 21 Tahun 2011


tentang Otoritas Jasa Keuangan (UU OJK)
telah disahkan dan diundangkan pada
tanggal 22 November 2011, Undang-Undang
tersebut mengamanatkan bahwa fungsi, tugas
dan wewenang Bapepam-LK akan beralih ke OJK
mulai awal tahun 2013 ini. Adapun latar belakang
pembentukan UU OJK sendiri yaitu terkait oleh
faktor yuridis maupun kondisi sektor jasa keuangan.
Latar belakang yuridis pembentukan UU OJK adalah
Pasal 34 Undang-Undang Bank Indonesia yang
mengamanatkan dibentuknya lembaga pengawasan
sektor jasa keuangan independen yang mencakup
pengawasan, perbankan pasar modal, industri
keuangan non bank, serta badan-badan lain yang
menyelenggarakan pengelolaan dana masyarakat.
Sementara latar belakang pembentukan UU OJK
karena faktor kondisi jasa keuangan diantaranya
adalah perkembangan sistem keuangan yang
semakin kompleks, dinamis dan saling terkait antar
masing-masing subsektor keuangan, baik dalam hal
produk maupun kelembagaan serta kompleksitas
transaksi dan interaksi antarlembaga jasa keuangan.
Dengan mempertimbangkan berbagai
latar belakang tersebut maka dipandang perlu
untuk melakukan penataan kembali struktur

pengorganisasian dari lembaga-Iembaga yang


melaksanakan tugas pengaturan dan pengawasan
di sektor jasa keuangan agar kegiatan di dalam
sektor jasa keuangan dapat terselenggara secara
teratur, adil, transparan, akuntabel, dan mampu
mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara
berkelanjutan, stabil dan mampu melindungi
kepentingan konsumen dan masyarakat. Untuk dapat
melaksanakan tugas pengaturan dan pengawasan
di sektor jasa keuangan tersebut maka dibentuklah
suatu lembaga pengawasan yang mandiri yaitu
Otoritas Jasa Keuangan.
Otoritas Jasa Keuangan, yang selanjutnya
disingkat OJK, merupakan lembaga yang independen
dan bebas dari campur tangan pihak lain, yang
mempunyai tugas pengaturan dan pengawasan
terhadap kegiatan jasa keuangan di sektor Perbankan;
kegiatan jasa keuangan di sektor Pasar Modal; dan
kegiatan jasa keuangan di sektor Perasuransian,
Dana Pensiun, Lembaga Pembiayaan, dan Lembaga
Jasa Keuangan Lainnya. Setelah pengawasan beralih
ke OJK, BI hanya akan mengurusi kebijakan moneter
dan sistem pembayaran, sementara kewenangan
regulasi perbankan seperti pemberian izin pendirian
bank dan kesehatan bank, berpindah ke OJK.

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

15

Liputan Khusus
Kisah Kepindahan dari Bapepam-LK ke Itjen
Seiring dengan peralihan Bapepam-LK
menjadi OJK, maka terdapat transisi perpindahan
pegawai Bapepam-LK untuk ditarik ke OJK ataupun
masih menetap di Kemenkeu. Sebagai langkah
awal, pada bulan Desember 2012 para pejabat dan
pegawai Bapepam-LK diminta untuk memilih apakah
ingin melanjutkan ke OJK atau memilih tetap menjadi
pegawai Kemenkeu dan membuat permohonan
tertulis, dengan berdasarkan rekomendasi atasan
tentunya. Lalu pada bulan Maret 2013, mereka
kembali diberi opsi untuk memilih institusi
penempatan kerja. Terdapat 9 (sembilan) unit eselon
I yang mendapat pengalihan eks pegawai BapepamLK, yakni Setjen, DJP, DJBC, DJA, DJKN, DJPU, BPPK,
BKF dan Itjen. Itjen sendiri menerima sepuluh
pegawai baru berasal dari Bapepam-LK yang disebar
ke beberapa unit, nama-nama kesepuluh pegawai
tersebut antara lain Nur Iskandar, Hulman Panjaitan,
Haykal, Suryani Wardah, Yusi M, Winaryati, Fadyan,
Aroma Patria Perdana, Sulardi dan Dalvin E.F. Duha.
Menurut Aroma Patria Perdana yang
saat ini ditempatkan di Subbagian Tata Usaha
Inspektorat I, proses kepindahannya ke Itjen
Kemenkeu adalah melalui serangkaian seleksi
administratif dan seleksi kompetensi bagi pejabat
dan pegawai Bapepam-LK. Secara resmi namanama pejabat dan pegawai Bapepam-LK yang
dialihkan ke OJK diajukan oleh Kemenkeu kepada
OJK sesuai dengan tahapan dan batas waktu yang
diatur dalam undang-undang. Proses tersebut terus
berjalan melalui serangkaian kegiatan lainnya.

Tanggal 5 Desember 2012 bertempat di Dhanapala,


OJK mengadakan penyerahan SK pengangkatan
pejabat dan pegawai OJK. Pada saat-saat terakhir
beroperasinya Bapepam-LK, kami menerima surat
dari Setjen yang menyampaikan instruksi Menteri
Keuangan atas pembatalan pengajuan pelaksana
di Bapepam-LK bagi mereka yang berstatus masih
ikatan dinas maupun sedang dan akan tugas belajar,
untuk dialihkan menjadi pegawai OJK, tukas
alumni STAN tahun 2003 tersebut. Sebagai bentuk
pelaksanaan instruksi dimaksud, maka kurang lebih
140 orang pelaksana akhirnya batal menjadi pegawai
OJK dan ditempatkan sementara di Setjen. Jika
digabung dengan jumlah yang sedari awal memilih
tetap menjadi pegawai di Kementerian Keuangan
adalah total menjadi sekitar 220 orang. Mengenai
penempatan di Itjen sendiri, penentuan formasi eks
pegawai Bapepam-LK dilakukan oleh Setjen. Kami
menerima pengumuman SK penempatan dimaksud
dari Bapak Sekretaris Jenderal pada tanggal 2 Januari
2013, demikian ujarnya.
Kesan dan Gambaran Tentang Itjen
Ibu Suryani Wardah, eks pegawai BapepamLK yang saat ini ditempatkan di Inspektorat VII
untuk mengurus tupoksi terkait dengan kode etik,
menuturkan perasaannya senang saat mengetahui
mendapat penempatan di Itjen, karena masih di
lingkungan Lapangan Banteng dan banyak hal baru
yang saya temui, tukasnya. Kesan terhadap Itjen
saat pertama kali memasukinya adalah teratur dan
selalu berbenah, baik dalam hal lingkungan maupun
sistem kerjanya. Menurut beliau, lebih banyak suka
daripada dukanya selama penempatan di Itjen ini.
Sukanya antara lain dapat mempelajari hal-hal baru
sehingga saya dituntut untuk terus belajar dan juga
mendapat teman-teman baru. Kalau dukanya paling
ingat teman-teman lama, kangen dengan suasana
Bapepam-LK yang dinamis, tambahnya.
Bapak Nur Iskandar, eks pegawai BapepamLK lainnya yang juga ditempatkan di Itjen, mengaku
senang dengan penempatan dirinya di Itjen. Saat
ini beliau ditempatkan di Bagian Perencanaan dan
Keuangan untuk mengurus kearsipan. Sejauh ini saya
belum menemui kendala berarti dalam melaksanakan
pekerjaan. Gambaran mengenai pegawai-pegawai
Itjen di mata saya adalah cukup baik dan menyambut
dengan tangan terbuka, mereka bersedia membuka

16

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

Liputan Khusus
diri serta berbagi pengalaman dan pengetahuannya
terang Bapak Nur yang mengaku sudah banyak
kenal dengan para pegawai Itjen ini karena pernah
berkantor satu gedung dengan mereka.
Begitupun dengan Aroma yang mengaku
sangat bersyukur atas penempatannya di Itjen karena
masih memiliki relevansi dengan bidang tugasnya di
Bapepam-LK terdahulu, yaitu sebagai pemeriksa.
Satu hal lagi, Itjen juga hanya berkedudukan di
Jakarta, jadi cukup membuat saya tenang dengan
tidak memikirkan mutasi ke daerah sebagaimana
yang mungkin dialami rekan-rekan di unit eselon I

pendekatannya, dimana dulu lebih kepada fungsi


watchdog namun kemudian saat ini lebih berfungsi
sebagai partner konsultasi yang dapat memberikan
solusi atas permasalahan yang dihadapi oleh para
auditee. Semakin banyak belajar mengenai Itjen maka
semakin terlihat keunikan yang dimiliki Itjen, dimana
lingkup kerjanya meliputi seluruh lini organisasi dan
isu strategis Kemenkeu. Dengan luasnya cakupan
tersebut, mereka pribadi merasakan tantangan untuk
memahami lebih baik lagi mengenai business process
unit-unit eselon I di Kemenkeu dan mengikuti current
issues yang berkembang, selain tentunya memenuhi
tuntutan kemampuan teknis sebagai seorang auditor.

Harapan Pribadi dan Harapan Bagi Itjen


Harapan bagi Itjen kedepannya dari para
pegawai baru Itjen ini adalah semoga Itjen selalu
menjadi yang terdepan dalam hal penerapan kode
etik dan integrasi di lingkungan Kemenkeu, selain
itu juga menjadi panutan bagi unit APIP lainnya
di Indonesia, serta menjadi think-tank Kemenkeu
yang inovatif. Adapun harapan bagi mereka pribadi,
semoga pengetahuan, pengabdian dan pengalaman
yang didapat selama berkarir di Bapepam-LK tidak
sia-sia dan mereka diberikan kesempatan untuk
berkontribusi sebaik-baiknya di Itjen. Tentunya
kami yang merupakan pindahan dari Bapepam-LK
mengharapkan adanya program pengembangan yang
berkesinambungan, khususnya dari Sekretariat Itjen
untuk mengakselerasi kemampuan dan pengetahuan
kami agar tidak tertinggal dengan rekan-rekan lain
yang sudah terlebih dahulu berkarir di Itjen, tukas
Aroma menutup perbincangan. (DIT/GUS/ARH)

lainnya, paparnya.
Sewaktu masih bekerja di BapepamLK, para pegawai baru Itjen ini mengaku sempat
berinteraksi dengan para auditor dari Inspektorat VI.
Yang mereka rasakan adalah Itjen telah mengubah

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

17

Auditoase

Mengaudit
dengan

aya rasa tak ada seorang pun auditor


Inspektorat Jenderal (ITJEN) Kementerian
Keuangan, termasuk aku, yang pernah
bercita-cita menjadi seorang auditor. Hanya karena
takdirlah yang kemudian menjadikan kita semuanya
menjalani pekerjaan audit. Sebuah pekerjaan yang
sulit untuk dijelaskan kepada anak-anak kecil, yang
lebih mengenal pekerjaan polisi, tentara, guru, dan
sebagainya.
Namun demikian, tidak pantas tatkala
kita sudah menjadi seorang auditor lantas kita bisa
berargumentasi untuk mengerjakan aktivitas audit
dengan setengah hati. Sudah sepantasnya kita tetap
mengerjakan aktivitas audit dengan hati. Itu yang
diminta oleh nilai Profesionalisme, salah satu dari
lima nilai Kementerian Keuangan.
Mengaudit dengan hati menunjukkan
bahwa kita penuh kesungguhan dalam menjalani
aktivitas audit itu dan mengerahkan usaha yang
optimal. Setiap penugasan kita lakukan tanpa
meremehkan suatu penugasan tersebut, meski
penugasan tersebut tampak remeh. Misalnya, tatkala
kami mendapatkan penugasan untuk mengaudit
seorang PNS di salah satu unit eselon I yang tidak
masuk-masuk kerja. Ah, ini kelihatannya remeh. Tapi
kami tetap melakukannya sama seperti tatkala kami
mendapatkan penugasan untuk audit investigasi
terhadap kasus-kasus yang tampak lebih menantang.
Ketika kami melakukan entry meeting,
ternyata kami mulai menyadari bahwa seremeh
apa pun sebuah penugasan audit tetap memiliki
tantangan tersendiri. Pihak kepegawaian Kanwil
unit eselon I tersebut menyampaikan kendalanya
dalam menghubungi PNS yang tidak masuk-masuk
kerja tersebut. Padahal mengingat hukumannya
bisa dijatuhkan hukuman disiplin berat berupa
pemecatan, tentu alangkah baiknya bila kami
berhasil menghadirkan yang bersangkutan agar kami
bisa mengetahui kondisi yang sebenarnya. Dengan
demikian keputusan hukuman disiplin yang akan

18

Hati

dikeluarkan telah mendapatkan landasan yang kuat.


Boleh saja sih langsung kami putuskan saja nasib yang
bersangkutan tanpa kehadiran yang bersangkutan.
Toh pemanggilan sebagaimana yang disyaratkan
sesuai SOP telah dilakukan beberapa kali. Tapi tetap
saja kami khawatir bila kemudian ternyata ada kondisi
khusus yang semestinya pantas mendapatkan
perhatian sebelum menjatuhkan hukuman disiplin.
Bila itu terjadi, itu akan membuat kami menyesali
apa yang kami lakukan.
Usahakan kita bisa bertemu dengan
pegawai tersebut, begitu arahan Pengendali Teknis
kami saat itu. Arahan yang bijak tentu saja. Oleh karena
itu sejak entry meeting kami berusaha mencermati
sedikit apa pun informasi yang kami terima untuk
kami pertimbangkan. Misalnya, informasi bahwa
pegawai yang bersangkutan memiliki seorang kakak
yang seorang penyanyi. Dengan penuh kesungguhan
kami tanyakan,Siapa nama kakak yang bersangkutan
itu, Bu?
Pejabat kepegawaian Kanwil tersebut
memberitahukan sebuah nama. Kami mencatatnya
dengan sungguh-sungguh. Dari bincang-bincang
tersebut kami dapati bahwa para pejabat
kepegawaian Kanwil tersebut tidak memiliki alamat
sang kakak dari pegawai tersebut sehingga tidak
mampu menemuinya untuk bisa mendatangkan
sang adik, si pegawai tersebut. Mereka hanya telah
menghubungi si pegawai di rumahnya yang ternyata
telah dikosongkan. Surat telah diletakkan begitu
saja di rumah tersebut dengan harapan si pegawai
datang ke rumah itu dan kemudian membaca surat
panggilan lalu datang ke kantor untuk memberikan
penjelasan. Tetapi ternyata ... it doesnt work. Tidak
berhasil. Mungkin si pegawai memang tidak pernah
lagi datang ke rumahnya.
Dengan informasi yang sangat minim
tersebut kami berpikir, Bagaimana cara menemukan
sang pegawai? Bukankah kami tidak lebih tahu dari

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

Auditoase
para pejabat kepegawaian Kanwil tersebut? Terlebih
surat tugas kami hanyalah sebentar, tidak mencapai
hitungan bulan. Mereka saja yang menangani kasus
tersebut berbulan-bulan tidak mendapatkan hasil
yang diinginkan.
Karena kami mengerjakan audit tersebut
dengan hati, maka pertanyaan tersebut terngiangngiang dalam benak kami. Rasanya tak enak kalau
istirahat saja setelah pulang dari kantor auditan.
Keinginan untuk mengatasi tantangan pekerjaaan
membuat saat kami pulang dan masuk ke kamar
hotel kami tidak bisa rebahan begitu saja. Tapi kami
lanjutkan dengan membuka laptop dan searching di
google.
Kalau kakaknya seorang penyanyi tentulah
namanya pernah muncul di internet, pikirku. Apalagi
kami dengar bahwa sang kakak suka
diundang menyanyi di istana.
Tentulah ia seorang yang
cukup terkenal, meski aku
terus terang baru mengenal
nama
tersebut
setelah
mendapatkan informasi dalam
penugasan ini.
Benar ternyata. Saat
searching nama tersebut di google,
muncullah berita-berita terkait si
penyanyi. Tapi berita-berita itu tidak
relevan karena kami tidak menemukan
alamat dari sang penyanyi. Bagaimana kami bisa
menghubunginya?
Tentu saja kami tak mau menyerah begitu
saja. Kami mesti mengerjakan tugas kami dengan
penuh kesungguhan, dengan hati. Maka kami
pantengin berita tentang sang penyanyi tersebut
dan berharap ada informasi yang bisa membuka tirai
yang menutupi.
Satu-satu kami baca. Perlu kesabaran ekstra
untuk membuka halaman-halaman website yang
banyak, yang memuat berita-berita sang penyanyi
tersebut. Hingga akhirnya mataku terpaku kepada
sebuah berita yang kubaca di layar laptopku.
Aha ! Ternyata sang penyanyi bukanlah
sekedar penyanyi. Ia seorang dokter! Lalu apa yang
menarik?
Yang menarik adalah sebuah berita yang
mengabarkan bahwa sang dokter tersebut dilantik

dalam suatu jabatan pada rumah sakit umum suatu


daerah. Ini sebuah jejak ! Kini kami tahu kemana
langkah kaki kami harus kami arahkan untuk bisa
menemukan pegawai yang menghilang.
Keesokan paginya kami datangi rumah
sakit umum tersebut. Ternyata benar, kami bisa
menemukan sang penyanyi tersebut. Setelah itu,
tirai terbuka lebar karena sang kakak memiliki
kewibawaan di hadapan adiknya. Ia ikut membiayai
kuliah sang adik rupanya.
Kamu harus datang sekarang, kata sang
kakak melalui telepon di depan kami. Kamu dicari
bapak-bapak dari ITJEN, mereka di depan Kakak
sekarang. O, kamu gak bisa datang sekarang? Ok,
besok kamu harus datang ke kantormu untuk
menemui bapak-bapak ITJEN ini. Ingat, kamu harus
datang ya! Harus datang ! Awas
kalau tidak datang !
Kami
sangat
berterima
kasih
kepada
sang kakak. Akhirnya, kami
bisa menemukan pegawai
yang menghilang. Segera
kami mintakan penjelasan dari
yang bersangkutan apa saja yang
sebenarnya terjadi. Dan kami pun
mendengarkan penjelasannya dengan
hati, dengan penuh kesungguhan. Hingga
akhirnya kami dapat menuntaskan penugasan
itu dengan baik.
Kisah tersebut menunjukkan bahwa betapa
kesungguhan hati dalam menghadapi sebuah
penugasan audit sangat memainkan peranan penting
dalam menyelesaikan tugas audit. Ini sesuai dengan
konsep Professor Yohanes Surya: konsep mestakung.
Semesta mendukung. Yang maknanya, alam semesta
akan mendukung kesungguhan yang kita pancarkan.
Atau, seperti yang orang arab katakan man jadda
wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh dalam
melakukan sesuatu akan dapat mewujudkan
keinginannya.
Karena itu, tepatlah bila salah satu dari
lima nilai Kementerian Keuangan mencantumkan
Profesionalisme yang salah satu nilai perilaku
utamanya adalah bekerja dengan hati. Yuk, kita
lakukan audit dengan hati. Semoga itu mampu
membukakan rezeki kita dari arah yang tidak
disangka-sangka. (Dedhi Suharto)

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

19

Ex-auditor
Tetap mendukung Itjen
meskipun tak lagi bersama..

Siapa tidak kenal dengan Ibu dari 2 (dua) anak ini. Masa kerja yang cukup lama di Inspektorat
Jenderal selama kurang lebih 25 tahun membuatnya paham benar dengan hal-hal terkait audit.
Sosok ex-auditor yang akan diangkat pada edisi kali ini adalah Ane Serfiana, yang familiar dengan
sapaan Ane ini dikenal sebagai pribadi yang ramah dan juga cukup aktif dalam segala kegiatan
yang diselenggarakan Inspektorat Jenderal. Sambutan hangat dan senyum renyah beliau menjadi
bumbu yang tidak terlupakan bagi kami awak Auditoria dalam wawancara ini.

Bagaimana kabar Ibu?


Baik dan selalu semangat tentunya.
Bagaimana riwayat kerja Ibu selama bekerja di
Itjen?
Saya lulus dari STAN tahun 1988 jurusan Akuntansi.
Awal karir saya di Inspektorat Jenderal selama
kurang lebih 25 tahun. Selama masa kerja tersebut
saya mengalami mutasi 5 kali. Awalnya saya di
Sekretariat, namun itu tidak lama, hanya beberapa
bulan. Lalu pindah di Inspektur Keuangan selama
3 tahun, kemudian di Inspektur Bea Cukai selama

20

4 tahun. Pada tahun 2002 saya dipindahkan ke


Inspektorat Bidang IV selama 7 tahun, sebagai
Auditor Ahli Pertama selama kurang lebih 4 tahun
dan kemudian sebagai Auditor Ahli Muda selama 3
tahun. Dan sejak tahun 2009 hingga 2012 ini saya di
Inspektorat Bidang VII, sampai pada akhirnya saya
mutasi ke Sekretariat Jenderal Bidang Akuntansi dan
Pelaporan sejak bulan Februari lalu.
Apakah ada pengalaman paling berkesan selama
bertugas di Itjen? Boleh ga diceritakan ke kita..
Apa ya pengalaman berkesanYa, ada pengalaman

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

Ex-auditor

berkesan selama saya memeriksa dulu yaitu


ditangkap polisi ketika spotcheck. Waktu itu memang
baru rawan-rawannya pegawai Bea Cukai semua
ditangkap polisi. Ketika itu saya masih bertugas di
IR Bea cukai. Waktu itu, kita sedang ikut bongkar
muat dan kita diminta untuk ikut ke Polda. Ya kita
menunjukkan surat tugas kita dan merekapun juga
menunjukkan surat tugas mereka. Kita sempat
adu argument saat itu dan akhirnya membiarkan
kita menyelesaikan pemeriksaan dulu. Kalau untuk
pengalaman dinas luar kota yang jauh, saya sih pada
umumnya jarang mengalami.

sudah mulai sekolah, saya baru berani meninggalkan


anak.

Bagaimana dengan suka dan duka sepanjang


bekerja di Itjen?

Situasi kerja jelas berbeda 180 derajat, dari load


pekerjaannya, dari tugasnya, dari tanggung jawabnya
juga. Dulu saya hanya membawa sebuah tim yaitu
sekitar 3-4 orang. Dan sekarang saya membawahi
kurang lebih 30 orang dan 4 Kasubbag.

Wah..untuk suka dan duka sudah lupa, sudah silih


berganti dan saya menganggap sebagai rutinitas saja,
sudah tidak memikirkan suka dan duka nya lagi.
Paling ya ketika saya mendapat penugasan luar kota,
ketika anak masih kecil umur setahun, itu anak saya
bawa. Jadi dulu di Bea Cukai saya terkenal dengan
julukan ibu yang bawa anak. (tertawa). Jadi jaman
dulu, yang lain ada sisa uang dinas, kalau saya selalu
tekor, karena saya bawa anak dan pengasuh. Padahal
dulu tiket mahal, dan tidak ada tiket promo kayak
sekarang. Dulu kalau ga ada pengasuh yang dibawa,
saya harus menyewa suster disana. Agak sulit sih
karena saya tinggal di hotel. Ini karena suami saya
dulu kerja di luar kota. Jadi anak saya dari kecil
sudah hafal dengan tempat-tempat di daerah yang
saya datangi. Biasanya, saya selalu menelpon dulu
tempat penugasan, disitu ada penitipan anak atau
suster disewa harian, jadi ketika suster datang, saya
berangkat, saya datang suster pulang. Ketika anak

Selama di Itjen saya selalu upayakan untuk meminta


dinas di sekitar Jakarta. Tapi kan tidak bisa terus
menerus, saya sudah perjanjian kalau memang harus
dinas keluar daerah saya harus bawa anak. Semenjak
di Inspektorat 7 saya sudah tidak pernaha da masalah,
saya hampir tidak pernah dinas keluar kota.
Boleh diceritakan bagaimana situasi kerja di
lingkungan kerja baru Ibu sekarang? Apakah sama
dengan di Itjen dulu?

Dulu saya tidak pernah memikirkan administrasi dan


kegiatan rutin administrasi, seperti disposisi. Dan
kegiatan lainnya. Belum lagi terkait pegawai.
Dulu saya bisa bekerja untuk pekerjaan saya sendiri,
selama pekerjaan saya beres itu oke. Tapi sekarang
saya harus menilai kinerja pegawai saya.
Bedanya lagi, dulu di tjen saya bisa mengatur waktu
saya, karena hasil pemeriksaan berdasarkan pada
kertas kerja yang saya buat, selama itu lengkap,
maka penilaian saya bagus. Apabila saya semangat,
maka hasilnya pun akan lebih mendalam. Kalau disini
tidak bisa, tidak bisa memanage waktu semau saya.
Karena semuanya berbenturan dengan deadline dan
tanggung jawab yang lebih besar. Disini saya tidak
bisa menunda pekerjaan, dulu waktu ketika menjadi
auditor lebih fleksibel.

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

21

Ragam Pengawasan
bagus atau membuat permasalahan selesai?
Namun kita tahu Itjen sudah mulai berubah. Kita
sudah menyadari itu, jadi sejak saat itu. Untuk
penyusunan TPU sendiri, kita minta persetujuan
unit untuk penyusunannya. Tapi mungkin kurang
boomingnya, tapi mungkin karena ini masih berjalan
beberapa tahun. Tapi kalau terjun langsung, akan
lebih tahu lagi.

Kondisi dulu Ibu seorang Auditor dan sekarang


sebagai Auditee, Apakah bisa diceritakan kepada
kita pegalaman ketika Itjen datang ke Unit Ibu
sekarang?
Wah..sekarang saja ada 2 (dua) tim dari Inspektorat
VI yang mengaudit di kita. Mereka sedang memeriksa
di Biro Cankeu, namun bukan di Bagian Akuntansi
dan Pelaporan. Selama saya disini, sudah pernah
sih beberapa kali, tapi selama ini kan lebih terkesan
reviu, jadi terkesan kerjasama nya, bukan ngaudit.
Intinya kita punya tujuan yang sama yaitu membuat
Laporan Keuangan yang benar.
Bagaimana kesan dan tanggapan dari pegawai disini
ketika pertama kali Ibu menjabat di Bagian Aklap?
Dulu di Itjen kita bekerja tim dan cukup bebas, kalau
disini struktural. Jadi ketika pertama kali masuk
di sini berbeda situasi kerjanya, seperti ada jarak
saya dengan pelaksana disini. Dulu di Itjen atasan
dan bawahan itu biasa sering diskusi. Kalau di sini
awalnya tidak. Tapi sekarang mulai saya terapkan
untuk bisa saling diskusi. Apalagi disini personilnya
muda-muda, hampir semua anak muda. Dan Sumber
Daya Manusia (SDM) di sini menurut saya sudah baik,
dan merasa beruntung.. Pekerjaan juga sudah jalan.
Bagaimana pendapat Ibu mengenai peran auditor
secara umum dan khusus di Itjen?
Kalau saya bilang Itjen harusnya di rolling dulu ke
unit yang bukan Itjen, paling tidak selama 3 - 4 tahun.
Saya sangat setuju itu, tidak perlu pindah selamanya.
Saya setuju untuk itu diterapkan, jadi tahu apa sih
yang auditee butuhkan? Di Inspektorat VII dulu sering
kami diskusikan. Sebetulnya Unit butuh ga sih Itjen
itu? Sepertinya kan ga butuh padahal sebenarnya
butuh. Apakah ada dan tidaknya Itjen membuat lebih

22

Jadi selama disini , saya selalu bekerja sama dengan


Itjen untuk reviu keuangan. Dari laporan keuangan
sebetulnya sudah bisa dipetakan atas gambaran unit
eselon I di kemenkeu dan permasalahannya. Saya
biasanya menghubungi rekan-rekan Itjen dan saya
sampaikan juga dalam rapat terkait hal ini. Jadi
selama ini kerjasama nya cukup baik dan menerima
masukan kita. Seharusnya memang begitu, Itjen
sebagai penggerak. Itjen powernya besar, namun
belum dikeluarkan saja. Kalau dikeluarkan pas
dengan yang dibutuhkan sangat bagus menurut
saya. Jadi kalau mau ditingkatkan lagi, bisa dilihat
dari laporan keuangan dan audit BPK. Jadi untuk
membuat TPU, sebetulnya bisa melihat dan mengacu
pada laporan keuangan, jika itjen bisa memetakan
itu, sangat bagus. Jadi ketika BPK masuk, kita sudah
bisa mengantisipasi.
Sebetulnya kalau itjen mau difungsikan secara
maksimall, sangat bagus sekali menurut saya.
Jika sampai itjen bisa memetakan di titik ini
permasalahannya, ini sangat bagus.
Berarti peran itjen sebagai konsultan dan katalisator
sudah berjalan berarti karena auditi sudah minta
untuk di audit?
Yaa, kalau saya saya minta, karena menurut saya
mereka belum turun semua, belum bisa memetakan
sendiri, beberapa saya mintakan untuk mereka bisa
turun untuk memetakan. Cita-cita Inspektorat VII
adalah sebetulnya kita mau apa sih, apa unggulan
kita. TPU adalah untuk mendukung tujuan tertentu,
kerjaan yang lain boleh, tapi tetap unggulannya
mengarah pada pencapaian tujuan Itjen sendiri, yang
akan mengarah pada perbaikan.
Menurut Ibu, penyampaian survey kepuasan
kepada auditee apakah sudah efektif?
Itu kan sudah dicoba, tapi belum sempat saya
kompilasi, saya sudah mutasi di sini. Saya sih punya

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

Ragam Pengawasan
gambaran bahwa auditi itu sangat mau dibantu,
semua orang tidak suka kalau diperiksa. Tapi kalau
tujuannya membantu ya tidak apa-apa, toh nantinya
juga akan diperiksa juga oleh BPK, jadi sangat baik
kalau temuan itu ditemukan terlebih dahulu oleh
Itjen, jadi kita bisa dilakukan perbaikann sebelum
BPK datang memeriksa.

apalagi bekerja sama dengan bagian ini sangat bagus,


karena bisa memantau dan mendalami laporan
keuangan eselon I. Dan dari laporan keuangan itu kita
bisa memetakan permasalahan yang ada pada unit
tersebut. Apalagi dengan kualitas pegawai itjen yang
baik dan kuasa nya pun ada. (DIT/GUS/ARH)

Kalau memang kita sudah mengarah ke situ, menurut


saya compliance tetap ada, kalau memang ada yang
menyimpang ya harus ditindak. Tapi menurut saya
tujuannya sebaiknya jangan kesitu, harusnya tujuan
kita adalah lebih ke perbaikan. Jadi misalnya dia
salah, tapi siapa tau memang dari sistemnya, kalau
bisa jangan ditangkap-tangkapin orangnya tapi
perbaikan dulu sistemnya. Jadi kalau sistemnya
sudah betul, dan orangnya masi nakal ya itu lain lagi,
jadi lebih fokus perbaikan akarnya dulu.
Seperti penerapan audit kinerja, ini kan kita akan
menuju ke akar permasalahan, kalau kita bisa

BIODATA
Nama lengkap : Anne Serfiana, S.E.
Nama Panggilan : Anne
TTL

: Bandung, 27 Juni 1965

Agama

: Kristen

Status

: Menikah

Anak

: 2 (dua) anak

Alamat
: Jl. Dr. Sahardjo No. 20 A Kompleks
AKABRI, Jakarta Selatan
Awal Mula di Itjen (TMT) : 1 Maret 1987
Riwayat jabatan :
Rikban Keuangan Wil I. 1.1 (1995-1998)
Rikban Bea dan Cukai Wil II. 3.1 (1998-2002)
Auditor Ahli Pertama Inspektorat Bidang IV
(2002-2006)
Auditor Ahli Muda Inspektorat Bidang IV
(2006-2009)
Auditor Muda Inspektorat VII (2009-2012)
menjalankan dengan benar, pasti hasilnya akan
sangat baik.
Adakah masukan untuk Itjen agar lebih baik lagi?
Kalau itjen mau difungsikan maka akan sangat baik,

Bagian Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Biro


Cankeu Setjen (2012-sekarang)

Pendidikan terakhir : S1 (Sarjana) Universitas


Indonesia Jurusan Manajemen Tahun Lulus : 19
Agustus 1995

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

23

SpeakOut
Kata mereka yang Baru di Itjen..
Guindra Pramudi Nugraha Bag. PK
Aku baru paham Itjen ketika aku sudah diterima di KementerianKeuangan.
Yang aku pikirkan waktu daftar di KementerianKeuangan, aku melihat
struktur yang paling tinggi. Karena aku nggak bisa jadi menteri, jadi
yang dibawahnya dululah : Setjen atau Itjen. Hehehe... Karena Setjen
terdengar feminine dan Itjen terdengar maskulin, jadi aku masuknya di
Itjen. Hahaha... Tapi sebenernya sebelumnya sudah searching-searching
juga kok tentang Itjen, jadi sudah kebayang tugas Inspektorat Jenderal. Banyak
orang yang bilang kalau kamu kerja, yang pertama kali kita lihat tempat kerja yang
paling berprestasi di bidang yang sama. Misalnya di pemerintahan, mana nih yang
paling baik. Aku melihat Itjen seperti itu. Tempat favorit OJT aku di IR 3 karena
waktu itu pernah sempat sampai jam 3 pagi ikut kajian tentang utang luar negeri.

Widiastuti Bag. Umum


Sebelumnya, aku sudah ngerti Itjen itu semacam unit pemeriksaan
dari ibuku yang seorang PNS juga di Kemenkes. Sebelum rekrutmen,
aku buka web Kemenkeu dulu, aku lihat Itjen tugasnya apa saja.
Terus, dari jaman kuliah juga sudah suka dengan mata kuliah audit.
Kesanku tentang Itjen, dari cerita-cerita auditor nih, Itjen Kemenkeu
itu yang paling bagus. Kesan terhadap pegawai Itjen itu ganteng-ganteng
dan cantik-cantik dan sangat welcome. Aku ditempatin di bagian umum. Harapan
buat Itjen kedepan semoga Itjen semakin baik. Semoga Itjen lebih punya taring
nih dalam kasus-kasus yang terjadi. Harapan saya bekerja di Itjen bisa segera
menjadi auditor. Tempat OJT favorit saya adalah IR V karena ketika itu langsung
terjun ke lapangan.

Irma Suryaningtyas Bag Kepegawaian


Bayangan umum tentang tugas Inspektorat Jenderal adalah mengawasi dan
juga mengaudit di lingkup kementerian keuangan. Kesan saya selama ini
bergabung di itjen untuk pegawai sangat welcome dan tidak sulit untuk
share ilmu kepada junior-juniornya. Jadi kita sebagai junior juga dihargai
dan merasa sangat diterima oleh para senior. Kemudian, untuk tahap awal
ini, saya senang ditempatkan di sekretariat dahulu. Kalau untuk Itjennya,
sudah sangat baik menurut saya. Selain berperan menjadi watchdog, sekarang
sudah asistensi dan menjadi partner. Tidak hanya menyalah-nyalahkan auditee
tapi juga memberikan solusi. (IIM/HAD/TAU)

24

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

SpeakOut
WiSe adalah..
Diana M. Ginting (Auditor Madya Inspektorat Bidang Investigasi)
Implementasi WISE dilaksanakan sejak April 2012, Aplikasi WISE telah digunakan oleh
seluruh unit eselon I di lingkungan Kemenkeu. Dalam rangka penyempurnaan Aplikasi
WISE, kami menerima berbagai masukan dan dilakukan perbaikan dan pengembangan
secara rutin terhadap Aplikasi WISE. Disadari masih terdapat kekurangan dalam tindak
lanjut atas pengaduan WISE terutama yang dilakukan oleh unit eselon I terkait karena
pengelolaan WISE tidak dilaksanakan secara khusus (terdapat tusi diluar pengelolaan WISE).
Harapan saya adalah Aplikasi WISE menjadi alat komunikasi yang efektif dalam rangka melaporkan
berbagai dugaan penyimpangan yang terjadi di lingkungan Kemenkeu dan terdapat tindak lanjut yang
tepat dan cepat, sehingga citra Kemenkeu sebagai kementerian yang bebas KKN dapat terjaga. Terkait
proses bisnis, dapat saya sampaikan bahwa pengelolaan WISE tidak hanya dilaksanakan oleh Itjen
saja, tetapi oleh seluruh unit eselon I. Saya berharap bahwa seluruh unit eselon I dapat melaksanakan
pengelolaan Aplikasi WISE secara efektif dan penuh integritas. Disamping itu saya berharap Aplikasi
WISE (baik dari sisi aplikasi maupun proses bisnisnya) merupakan saluran pengaduan yang telah
mengikuti prinsip-prinsip best practice.

Jarvik Fuad R. (Auditor Pelaksana Inspektorat Bidang Investigasi)


Setiap Unit Eselon I diwajibkan menggunakan aplikasi WiSe sebagai sarana pengelolaan
pengaduan Kementerian Keuangan. Dalam perkembangannya banyak hal yang memang
harus dibenahi, misal terkait dengan SOP pengelolaan pengaduan setiap unit eselon I
dan dari segi aplikasi itu sendiri.
Harapan saya tentunya, (aplikasi WiSe red.) bisa menjadi benchmark bagi instansi
lain dan menjadi sebuah sistem yang sesuai dengan best practice dalam pengelolaan
pengaduan baik pengaduan yang bersifat complaint maupun whistleblower dan
sebagainya. Aplikasinya lebih user friendly, lebih interaktif, integrasi yang efektif/efisien/aman,
punya server database sendiri, paperless dan sebagainya. Adanya jaminan terhadap pengadu
sehingga pengadu dapat menyampaikan apa yang menjadi permasalahannya dengan transparan
dan detail.

Angga Junaimi (Auditor Pertama Inspektorat Bidang Investigasi)


WiSe adalah Aplikasi yang dibuatoleh ITJEN Kemenkeu (IBI+SIP) bekerjasama dengan
PUSINTEK untuk mengakomodir pengaduan yang disampaikan baik dari internal maupun
eksternal Kemenkeu terkait dengan Tupoksi yang dikerjakan oleh pegawai Kemenkeu dengan
menjamin kerahasiaan pelapor untuk mendukung upaya mewujudkan reformasi birokrasi (good
and clean governance) di Kemenkeu. Impelementasinya sejauh ini sudah memenuhi harapan pimpinan.
Meskipun proses bisnisnya terus dikembangkan untuk mencapai kondisi ideal.
Harapan saya, secara Aplikasi, dibuatkan notifikasi (alert) kepada pemberi disposisi maupun pengkaji
pengaduan yang masuk. Misalnya dikirimkan ke email yang bersangkutan sehingga mereka bisa mengetahui
secara cepat pengaduan yang harus mereka tindak lanjuti. (IIM/HAD/TAU)

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

25

Kang Jejen

26

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

RAGAM PENGAWASAN

UNIT
KONTROL
INTERN
Antara Dinamika, Harapan, dan Tantangan
(Muhaimin Zikri, Ak. Auditor Muda pada Inspektorat V)

A. Overview
Diterbitkannya
Keputusan
Menteri
Keuangan (KMK) Nomor 152/KMK.09/2011 tentang
Peningkatan Penerapan Pengendalian Intern di
lingkungan Kementerian Keuangan menunjukkan
komitmen yang tinggi dan sungguh-sungguh
dari pimpinan Kementerian Keuangan untuk
menyelenggarakan dan membentuk suatu Sistem
Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) yang kuat,
handal, dan efektif di lingkungan Kementerian
Keuangan. Selain merupakan tindak lanjut dari
amanat Pasal 58 UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara dan Peraturan Pemerintah
Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian
Intern Pemerintah, kehadiran KMK tersebut seolah
laksana gayung bersambut dengan keinginan
Presiden RI untuk mempercepat penyelenggaraan
SPIP demi terwujudnya pelaksanaan kegiatan
instansi pemerintah yang efisien dan efektif,
pelaporan keuangan yang dapat diandalkan,
pengelolaan aset Negara yang tertib dan akuntabel,
serta ketaatan terhadap peraturan perundangundangan sebagaimana tertuang dalam Instruksi

Presiden Nomor 4 Tahun 2011 tentang Percepatan


Peningkatan Kualitas Akuntabilitas Keuangan Negara.
Di samping itu, selain menjadi milestone
peningkatan implementasi SPIP di lingkungan
Kementerian Keuangan, KMK dimaksud juga menjadi
suatu road-map yang memuat rencana dan tindakan
strategis dalam penyelenggaraan dan peningkatan
penerapan pengendalian intern di lingkungan
Kementerian Keuangan untuk periode 2011 s.d.
2015. Salah satu poin penting dalam KMK tersebut
dan menjadi target yang harus terealisasi pada tahun
2012 adalah terbentuknya struktur Unit Kontrol
Intern (UKI) yang permanen pada setiap unit eselon
I secara berjenjang, yang bertanggung jawab sebagai
motor penggerak penerapan pengendalian intern
yang efektif pada unit kerja bersangkutan.
B. Dinamika Faktual
Sejalan dengan merebaknya berbagai
kejadian risiko terkait adanya dugaan penyalahgunaan
wewenang dan KKN (fraud) serta isu-isu penting yang
terjadi akhir-akhir ini pada beberapa unit eselon

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

27

RAGAM PENGAWASAN
I yang mempunyai peran dan stakeholders cukup
besar di lingkungan Kementerian Keuangan (seperti
isu mafia perpajakan di DJP, isu pencairan dana untuk
proyek fiktif di DJPBN, dan isu-isu penganggaran
proyek Kementerian/Lembaga yang bermasalah di
DJA), pembentukan UKI menjadi suatu kebutuhan
prioritas dan harus segera difungsikan. Fungsi
pengendalian intern yang menjadi tanggung jawab
mutlak manajemen pada berbagai tingkatan dan
seharusnya dapat menjadi filter dalam pencegahan
dan pendeteksian dini terhadap penyimpangan yang
terjadi, sepertinya tidak berjalan secara efektif. Hal
ini dapat dimaklumi karena ternyata sampai dengan
tahun 2011 belum ada unit atau personil baik secara
struktural maupun fungsional yang ditugaskan untuk
melakukan pemantauan secara terus menerus
terhadap implementasi dan kinerja pengendalian
intern pada masing-masing unit eselon I. Meskipun
beberapa eselon I seperti DJA, DJP, DJBC, DJKN, DJPU,
Bapepam-LK, dan BPPK telah membentuk suatu
unit kepatuhan internal (compliance unit), namun
ternyata struktur, tugas, dan fungsi unit-unit tersebut
tidak sama (terstandardisasi) dan belum sepenuhnya
merefleksikan fungsi kepatuhan sebagaimana

28

lazimnya praktik-praktik terbaik yang ada (best


practices). Bahkan beberapa di antaranya cenderung
hanya menduplikasi dan atau mengambil alih tugas
dan fungsi Inspektorat Jenderal dalam melaksanakan
pengawasan intern di lingkungan Kementerian
Keuangan.
C. UKI sebagai 2nd line pada Three Lines of Defense
Model
Dengan
memperhatikan
dinamika
perubahan dalam proses bisnis dan meningkatnya
risiko yang dihadapi organisasi serta eksistensi unit
kepatuhan internal yang dirasakan belum mampu
memberikan kontribusi optimal tersebut, maka
sudah saatnya Kementerian Keuangan menerapkan
penanganan risiko dalam kerangka pengendalian
intern dengan model Pertahanan Tiga Lini (Three
Lines of Defense 3LoD), sebagaimana gambar
berikut:
Pada model ini, peran, tanggung jawab,
dan koordinasi setiap lini pertahanan pada lingkup
Kementerian Keuangan dapat dijelaskan sebagai
berikut:

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

RAGAM PENGAWASAN
1. Lini Pertama Pertahanan, diperankan
Manajemen Operasional dengan perangkat
Pengendalian Intern
Sebagaimana dinyatakan INTOSAI
dalam Guidelines for Internal Control Standards
for Public Sector (2004), pengendalian intern
merupakan suatu proses integral yang
dipengaruhi oleh manajemen dan personil
suatu entitas, dan dirancang untuk mengatasi
risiko dan memberikan jaminan yang memadai
(reasonable assurance) dalam mengejar misi
entitas dan agar tujuan umum entitas berikut
dapat tercapai, yaitu:

v melaksanakan operasi secara tertib,


beretika, ekonomis, efisien, dan efektif;
v memenuhi kewajiban akuntabilitas;
v mematuhi hukum dan peraturan yang
berlaku; dan
v pengamanan
kehilangan,
kerusakan.

sumber daya terhadap


penyalahgunaan,
dan

Pengendalian intern pada dasarnya


merupakan proses yang terintegrasi dengan
proses dasar manajemen (perencanaan,
pengorganisasian,
pelaksanaan,
dan
pengendalian) atau bersifat built-in pada
infrastruktur entitas/organisasi, yang berbeda
dari perspektif dari beberapa pengamat yang
kadangkala melihatnya sebagai sesuatu yang
harus ditambahkan pada kegiatan entitas/
organisasi (built-on).
Sebagai lini pertama pertahanan,
manajemen memiliki peran, tanggung jawab,
dan akuntabilitas untuk menilai, mengendalikan,
dan memitigasi risiko dalam menjalankan fungsi
operasional
entitas/organisasi
sehari-hari.
Dalam hal ini mereka diharapkan mampu:

memastikan
adanya
lingkungan
pengendalian (control environment) yang
kondusif di unit organisasi mereka misalnya
dengan adanya keteladanan (tone at the
top), panduan kode etik, pakta/piagam
integritas, komitmen pada kompetensi,
kebijakan dan praktik SDM, agent of
change, dan sebagainya.
menerapkan

kebijakan

manajemen

risiko dalam menjalankan tugas dan


fungsi, dan secara penuh kesadaran
mempertimbangkan faktor risiko dalam
setiap pengambilan keputusan dan
tindakan yang dilakukan.
menunjukkan adanya pengendalian intern
yang efektif pada unit mereka dengan
adanya pemantauan berkelanjutan (ongoing monitoring) melalui supervisi rutin
dan berjenjang, control self assesment,
reviu kinerja, dan transparansi terhadap
efektivitas pengendalian intern tersebut.
2. Lini Kedua Pertahanan, diperankan oleh
Unit Kontrol Intern (eksisting di Kementerian
Keuangan: Unit Kepatuhan Internal dan
Manajemen Risiko)
Dalam permainan sepakbola modern,
untuk memperkuat banteng pertahanan
dari serangan lawan yang datang secara
bergelombang (tsunami attack) diperlukan
pelapis pertahanan yang dikenal dengan
sebutan libero (sweeper). Posisi ini merupakan
peran vital pada sistem Grendel (Catenaccio).
Namun pada saat serangan lawan mereda, sang
libero dapat beralih fungsi menjadi seorang
gelandang serang (attacking midfielder). Konsep
inilah sepertinya yang diadopsi dalam model
pertahanan tiga lini. Pada saat kejadian risiko
sangat tinggi, maka peran lini kedua pertahanan
ini menjadi vital untuk meminimalisasi dampak
(impact) dan frekuensi kejadian (likelihood).
Namun pada saat kejadian risiko rendah, maka
peran lini kedua pertahanan ini dapat digeser
menjadi lini pendukung pencapaian target
kinerja entitas/organisasi. Tentunya jika dalam
sepakbola peran libero menjadi gelandang serang
ditentukan oleh keputusan pelatih/manajer,
maka sama halnya dengan pergeseran fungsi lini
kedua pertahanan ini menjadi lini pendukung
pencapaian kinerja, tentunya juga membutuhkan
keputusan dari senior management, yang dalam
lingkungan Kementerian Keuangan direfleksikan
oleh Menteri Keuangan.
Sebagai lini kedua pertahanan,
fungsi manajemen risiko dan kepatuhan yang
nantinya mungkin akan dilaksanakan oleh
UKI, berperan memfasilitasi dan memantau
implementasi praktik manajemen risiko (risk

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

29

RAGAM PENGAWASAN
management) yang efektif oleh manajemen
operasional (termasuk di dalamnya penerapan
pengendalian intern) dan membantu pemilik
risiko dalam pelaporan risiko yang memadai
terkait dengan informasi ke atas dan ke bawah
organisasi, menguji kepatuhan terhadap
ketentuan perundang-undangan (compliance),
dan penjaminan mutu hasil suatu proses/
kegiatan (quality assurance). Struktur UKI dapat
dibangun pada tingkat kementerian, unit eselon
I, maupun instansi vertikal (sesuai kebutuhan)
dengan alur pertanggungjawaban sesuai dengan
kondisi yang dihadapi. Kelemahan implementasi
risk management & internal control yang tidak
signifikan, cukup disampaikan dan menjadi
masukan bagi manajemen operasional. Tetapi
pada saat kelemahan membawa dampak yang
signifikan dan atau mengindikasikan terjadinya
fraud, maka pertanggungjawabannya langsung
kepada senior management (Menteri Keuangan).
Sebagian fungsi lini kedua pertahanan ini, pada
saat ini masih dilakukan oleh Inspektorat Jenderal
dalam bentuk asistensi penyusunan profil/peta
risiko unit eselon I dan penilaian kepatuhan
penerapan manajemen risiko (compliance office
for risk management) sebagaimana diamanatkan
dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 191/
PMK.09/2008.

3. Lini Ketiga Pertahanan, diperankan oleh


Internal Auditor (c.q. Inspektorat Jenderal)
Inspektorat
Jenderal,
melalui
pendekatan audit berbasis risiko (riskbase audit), memberikan penjaminan yang
independen (independence assurance) kepada
Menteri Keuangan (senior management) tentang
seberapa efektif manajemen pada unit eselon
I menilai dan mengelola risikonya termasuk
menilai efektivitas operasional Unit Kontrol
Intern pada berbagai tingkatan. Terkait dengan
kelemahan yang berdampak signifikan dan atau
fraud, Inspektorat Jenderal dapat melakukan
audit dan atau investigasi yang lebih mendalam
sebagai bentuk corrective control dan dalam
kerangka law enforcement. Inspektorat Jenderal
dapat menjadi katalisator (consulting) dalam
pelaksanaan tugas dan fungsi lini pertama dan
kedua serta membantu menghilangkan irisan
dan tumpang tindih yang tidak perlu antar lini

30

pertahanan.
Agar 3LoD model ini dapat berjalan
dengan baik dan efektif, tentunya diperlukan
koordinasi dan komunikasi yang efektif pula
antar lini pertahanan serta pemahaman yang
memadai terhadap peran dan tanggung jawab
masing-masing lini.
Di luar pertahanan tiga lini, masih
terdapat fungsi pengawasan lain yang bersifat
eksternal organisasi yang diperankan oleh
eksternal auditor (c.q. BPK-RI), komisi-komisi
independen, dan masyarakat, yang sifatnya lebih
kepada corrective control, dibandingkan dengan
peran UKI yang lebih bersifat preventive dan
detective control.

D. Harapan dan Tantangan


Sejatinya, dengan eksistensi UKI diharapkan
dapat meningkatkan ketahanan (resilience) organisasi
terhadap ancaman dan tantangan yang datang
silih berganti. Namun harapan untuk menjadikan
UKI sebagai bagian dari early warning systems dan
filter kedua dalam mencegah dan atau mendeteksi
kegagalan pengendalian yang akan mengakibatkan
terjadinya risiko dan atau menghambat pencapaian
tujuan, tentunya tidak akan berjalan dengan
mudah. Faktor karakteristik dan kapasitas sumber
daya manusia dengan berbagai persepsi dan
kompetensinya merupakan tantangan utama. Tidak
sedikit pelaksana kegiatan yang masih beranggapan
bahwa pembentukan UKI hanya akan menambah
beban administrasi dan tumpang tindih dalam
pengawasan. Manajemen secara berjenjang (atasan
langsung) melakukan supervisi rutin (pengawasan
melekat), UKI melakukan pemantauan pengendalian
intern, Inspektorat Jenderal/BPKP dan BPK-RI
melakukan reviu/audit, bahkan masyarakatpun
turut serta dengan pesan pengaduan dan aktivitasaktivitas LSM, sehingga para pelaksana kegiatan
merasa hanya akan menjadi obyek penyedia data
dan administrasi secara berulang-ulang. Tidak
sedikit pula para pelaksana kegiatan bahkan sampai
tingkat pejabat terutama pada instansi vertikal di
daerah yang sampai saat ini masih belum dapat
membedakan dan memahami secara jelas mengenai
pengendalian intern, pengawasan fungsional,
penjaminan kualitas, dan manajemen risiko. Hal ini
terbukti dari masih banyaknya pertanyaan mendasar

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

RAGAM PENGAWASAN
yang mengemuka pada saat sosialisasi dan focus
group discussion tentang penerapan manajemen
risiko dan pengendalian intern, seperti apa
sebenarnya substansi dan manfaat dari manajemen
risiko dan pemantauan pengendalian intern,
mengapa tabel-tabel yang digunakan terkesan rumit
dan tidak informatif, apakah setelah semua tabeltabel tersebut terisi dan ditandatangani pimpinan
permasalahan menjadi selesai, dan masih banyak
lainnya. Kondisi terakhir menunjukkan bahwa masih
banyak pelaksana pemantauan pengendalian intern
yang belum melakukan pemantauan pengendalian
intern sesuai dengan jadwal dan mekanisme yang
telah ditetapkan.
Tantangan lain yang tak kalah pentingnya
adalah pembangunan budaya sadar/peduli risiko
dan pengendalian (risk & control awareness). Banyak
pelaksana kegiatan yang sampai saat ini bekerja
hanya berdasarkan dengan kebiasaan dan instruksi,
tanpa pernah memahami risiko potensial yang
terkandung di dalam pekerjaannya dan pengendalian
yang harus dilaksanakannya untuk meminimalisasi
terjadinya risiko tersebut maupun dampak yang akan
ditimbulkannya. Di sisi lain, banyak pula manajemen

yang hanya berorientasi pada hasil (target) dan


permisif terhadap penyimpangan. Sepanjang target
tercapai, penyimpangan-penyimpangan yang terjadi
dalam proses pencapaian tersebut menjadi sesuatu
yang dapat ditoleransi. Bahkan sebuah janji layanan
pun dapat menjadi tantangan, manakala percepatan
waktu layanan dilakukan dengan memangkas
beberapa alur proses yang didalamnya terintegrasi
suatu pengendalian utama (key control) yang
ditujukan untuk meminimalisasi terjadinya risiko
potensial. Faktor cost & benefit (skala prioritas) dapat
pula menjadi tantangan pada saat dana dan SDM
tidak cukup tersedia untuk membangun struktur UKI
yang kuat. Tentunya tantangan-tantangan ini harus
dapat dikonversi nantinya menjadi peluang dalam
rangka terlaksananya model Pertahanan Tiga Lini
yang efektif di lingkungan Kementerian Keuangan.
*******mhz*******

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

31

RAGAM PENGAWASAN
Model Penilaian Mandiri

Pelaksanaan Reformasi Birokrasi Secara Online

Suatu Adopsi Model


Common Assesment Framework dari Eropa
(Bagian dua dari dua tulisan)
Disusun oleh Antonius Susilo
Auditor Madya Inspektorat Jenderal Kemenkeu
Sistem Penilaian pada Komponen Pengungkit di atas, berdasarkan siklus quality management atau siklus Plan,
Do, Check, Act (PDCA) dengan skor dari 0 sampai dengan 100, seperti berikut:
FASE

PANEL PENILAIAN PENGUNGKIT (ENABLERS)

SKOR
0-10

Plan
Do
Check
Act
PDCA

Kami belum melakukan hal ini/tidak memiliki informasi mengenai hal


ini
Kami telah merencanakan hal ini
Kami telah melaksanakan hal ini
Kami telah memantau pelaksanaan hal ini
Kami melakukan langkah penyesuaian/perbaikan
Kami telah melakukan semua FASE dan telah belajar dari pengalaman
organisasi lain. Saat ini kami sedang berada dalam siklus perbaikan
terus-menerus atau berkelanjutan terhadap hal ini

Skor Sub
Kriteria
4.3

11-30
31-50
51-70
71-90
91-100

a. Penilaian oleh Responden secara Online - bobot 40%


Responden akan dipilih secara random dan stratified dan akan mengisi survei PDCA pada 5 kriteria
Komponen Pengungkit untuk 115 pernyataan/pertanyaan (guiding questions), dengan skala jawaban antara
0 - 5.
Contoh Komponen Pengungkit Kriteria 4 - Kemitraan dan Sumberdaya - Sub Kriteria 4.3
Pengelolaan Keuangan
No

Pernyataan

Para pemimpin menerapkan


akuntabilitas dan transparansi
keuangan dan penganggaran (mulai
tahap formulasi, eksekusi dan
akuntabilitas anggaran)
Instansi meningkatkan efisiensi dan
efektivitas penggunaan anggaran
sehingga lebih optimal
Instansi menerapkan anggaran berbasis
kinerja
Instansi memiliki upaya
berkesinambungan dalam menerapkan
SAP guna mendapatkan opini WTP dr
BPK

2
3
4

32

Sangat
Tidak
Setuju
(0)

Tidak
Setuju

Kurang
Setuju

Setuju

Sangat
Setuju

(1)

(2)

(3)

(4)

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

Sangat
Setuju
Sekali
(5)

RAGAM PENGAWASAN
No

Pernyataan

Instansi konsisten dlm melakukan TL


thd seluruh rekomendasi pengawasan
baik dari APIP maupun BPK
Instansi mengaplikasikan
e-procurement dalam pengadaan
barang dan jasa
Instansi memerintahkan pejabatnya
untuk
menandatangani
dan
melaksanakan Pakta Integritas bagi
para pimpinan
Instansi mendorong secara aktif para
pejabatnya untuk menyerahkan LHKPN

6
7

Sangat
Tidak
Setuju
(0)

Tidak
Setuju

Kurang
Setuju

Setuju

Sangat
Setuju

(1)

(2)

(3)

(4)

A. Komponen (Results) meliputi 4 kriteria yaitu:

2) Indikator
kinerja
dalam
bidang
kemasyarakatan yang dicapai oleh
institusi

a. Kriteria 6 Hasil pada Masyarakat /Pengguna


Layanan:
1) Hasil pengukuran kepuasan masyarakat/
pengguna layanan

Sangat
Setuju
Sekali
(5)

d. Kriteria 9 Hasil Kinerja Utama:


1) Pemenuhan Target Indikator Internal (IKU
9 Program Mikro RB)

2) Indikator pengukuran yang berorientasi


pada masyarakat/pengguna layanan

2) Pemenuhan Target Indikator Eksternal


(IKU K/L pada RPJMN):

b. Kriteria 7 Hasil pada SDM Aparatur:


1) Hasil pengukuran motivasi dan kepuasan
pegawai

Actionable Indicator:

2) Indikator dalam hal Sumber Daya Manusia


(SDM) Aparatur

(2) Integritas pelayanan publik dari KPK

(1) Opini WTP dari BPK


(3) Peringkat kemudahan berusaha

c. Kriteria 8 Hasil pada Komunitas Lokal,


Nasional, Internasional:
1) Hasil yang dirasakan oleh para pemangku
kepentingan,
berdasarkan
hasil
pengukuran sosial

(4) Instansi pemerintah yang akuntabel dari


Menpan RB

Non Actionable Indicator:


(1) Indeks persepsi korupsi
(2) Efektivitas pemerintahan

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

33

RAGAM PENGAWASAN
Sistem penilaian pada Komponen Hasil berdasarkan pada kecenderungan dan pencapaian target,
seperti berikut:

Panel Penilaian Hasil

Skor

Tidak ada hasil dan/atau tidak tersedia informasi terkait hal ini

0 - 10

Hasil menunjukkan kecenderungan negatif dan/atau hasil yang dicapal tidak relevan 11 - 30
dengan target yang ingin dicapai
Hasil Menunjukkan kecenderungan mendatar dan/atau beberapa target yang relevan 31 - 51
terpenuhi
Hasil menunjukkan kecenderungan perbaikan dan/atau sebagian besar target yang 51 - 71
relevan belum terpenuhi
Hasil menunjukkan perkembangan dan/atau sebagian besar target yang relevan 71 - 90
terpenuhi
Hasil yang sangat baik dan berkesinambungan telah dicapai dan/atau semua target 91 - 100
yang relevan telah terpenuhi. Perbandingan dengan instansi lain untuk semua hasil
yang dicapai bersifat positif
Hasil akhir penilaian PMPRB adalah penjumlahan antara nilai pada Komponen Pengungkit dan
Komponen Hasil dengan rentang nilai sebagai berikut:
No

Level

1.

Rentang Nilai Akhir


PMPRB
0 10

2.
3.
4.
5.
6.

11 30
31 50
51 70
71 90
91 100

1
2
3
4
5

Bagi Instansi yang baru mengajukan dokumen usulan RB, minimum nilai akhir PMPRB berada pada
rentang 31 sampai dengan 50 atau Level 2, sedangkan untuk Instansi yang sudah melaksanakan RB, peninjauan
Tunjangan Kinerja dilakukan setelah Instansi minimal berada pada Level 4 atau rentang nilai mulai 71.

KESIMPULAN
1. Dalam mengimplementasikan program RB, setiap K/L dan pemda tetap mengacu pada Peraturan Presiden
No. 81 tahun 2010 tentang Grand Design RB tahun 20102025 dan Permenpan RB No 20 tahun 2010 tentang Road
Map RB.
2. Model PMPRB ini mengadopsi Model Common Assesment
Framework (CAF) dari Eropa dengan beberapa proses
modifikasi. Model ini lebih luas dari Model Penilaian
QA (73 parameter) sehingga otomatis parameternya
menjadi lebih banyak.
3. Tujuan dilaksanakannya PMPRB adalah a) sebagai
informasi perkembangan pelaksanaan reformasi
birokrasi dan upaya-upaya perbaikan, b) untuk
menyusun profil nasional pelaksanaan reformasi

34

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

RAGAM PENGAWASAN
SARAN
1. Kementerian Keuangan --sebagaimana K/L dan
pemda lainnyasegera melaksanakan PMPRB
dan menyampaikan hasilnya kepada Kemenpan
RB secara Online;
2. Kementerian Keuangan
c.q. Inspektorat
Jenderal segera menyusun rencana aksi untuk
mengimplementasikan PMPRB sesuai jadwal
yang ditetapkan;

birokrasi bagi Kementerian PAN dan RB. Selain


itu, untuk memfasilitasi benchlearning, c) untuk
melakukan penilaian mandiri (self-assessment)
atas pelaksanaan reformasi birokrasi di Instansi
masing-masing.
4. Koordinator Penilaian Mandiri di setiap K/L dan
Pemda adalah:

a. Pimpinan Instansi Pemerintah (Menteri/


Pimpinan
Lembaga/Gubernur/Bupati)
menugaskan
Inspektorat
Jenderal/
Inspektorat Utama/Inspektorat sebagai
penanggungjawab pelaksanaan PMPRB
b. Inspektorat Jenderal/Inspektorat Utama/
Inspektorat memberikan sosialisasi kepada
para pejabat dan staf masing-2 instansi;
c. Inspektorat
Jenderal/Inspektorat
Utama/Inspektorat
memimpin
dan
mengkoordinasikan
persiapan
dan
pelaksanaan survey untuk instansinya.
5. Fokus penilaian model PMPRB pada langkahlangkah reformasi birokrasi yang dilakukan oleh
setiap instansi pemerintah dikaitkan dengan
Hasil yang Diharapkan pada Roadmap RB
2010-2014 dan dikaitkan dengan Indikator
Utama instansi pemerintah dalam pencapaian
sasaran dan indikator keberhasilan pelaksanaan
reformasi birokrasi secara nasional sebagaimana
ditetapkan dalam GDRB 2010-2025 (Perpres No
81 tahun 2010).

3. Inspektorat Jenderal segera mensosialisasikan


substansi PMPRB kepada para Asesor di
lingkungan Kemenkeu agar mereka memahami
dan mempunyai persepsi yang sama mengenai
parameter yang akan dinilai pada Komponen
Pengungkit dan Komponen Hasil.
4. Inspektorat Jenderal segera berkoordinasi dengan
para Asesor di lingkungan Kemenkeu untuk
menyiapkan dokumentasi di setiap level PDCA
pada Komponen Pengungkit dan menentukan
jumlah dan distribusi responden yang akan
menjawab survey online pada Komponen
Pengungkit;
5. Inspektorat Jenderal bekerjasama dengan pihak
terkait segera mengkoordinasikan proses survey
baik pada Komponen Pengungkit (internal) dan
Komponen Hasil (internal dan eksternal).
6. Inspektorat Jenderal berkoordinasi dengan
pihak Kemenpan RB agar pelaksanaan PMPRB
di lingkungan Kemenkeu dapat berjalan dengan
baik dari aspek substansi dan jadwal.
---oo0oo---

6. Penilaian Mandiri dilaksanakan oleh K/L & Pemda


dan data/informasi hasil Penilaian Mandiri PRB
tersebut disampaikan kepada Kemenpan RB
secara Online dan Kemenpan RB dapat melakukan
pendalaman terhadap hasil penilaian tersebut.

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

35

RAGAM PENGAWASAN

Ahmad Adil

1. Latar Belakang
Undang-Undang Nomor 8 tahun 2010 pasal 17
tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak
Pidana Pencucian Uang menyatakan antara
lain pihak pelapor yang mempunyai kewajiban
menyampaikan laporan kepada Pusat Pelaporan
Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) atas
transaksi yang dilakukan pengguna jasa kepada
penyedia barang dan/atau jasa lain, salah satunya
adalah balai lelang. Balai lelang adalah badan
hukum Indonesia berbentuk perseroan terbatas
yang khusus didirikan untuk melakukan kegiatan
usaha di bidang lelang. Namun demikian kegiatan
di bidang lelang tidak hanya dilakukan oleh balai
lelang, tapi juga dilakukan oleh Kantor Pelayanan
Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL).
KPKNL merupakan kantor vertikal pada
Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN)
yang mempunyai fungsi antara lain pelaksanaan
pelayanan lelang.
Berdasarkan Laporan Akuntabilitas dan Kinerja
Instansi Pemerintah (LAKIP) DJKN diketahui
dalam tahun 2010 jumlah frekuensi lelang adalah
26.304 dengan nilai pokok lelang Rp4,2 trilyun
sedangkan dalam tahun 2011 jumlah frekuensi
lelang adalah 35.463 dengan nilai pokok lelang
Rp7,2 trilyun, namun demikian DJKN dalam hal
ini KPKNL tidak mempunyai kewajiban untuk
melaporkan transaksi lelang kepada PPATK.

36

Adanya kewajiban tersebut menggambarkan


kegiatan di bidang lelang merupakan kegiatan
yang rawan digunakan untuk money laundering
(pencucian uang).

2. Pengertian
1) Money Laundering
Secara umum pencucian uang(money laundering)
adalah perbuatan menempatkan, mentransfer,
membayarkan, membelanjakan, menghibahkan,
menyumbangkan, menitipkan, membawa ke
luar negeri, menukarkan, atau perbuatan lainnya
atas harta kekayaan yang diketahuinya atau
patut diduga merupakan hasil tindak pidana
dengan maksud untuk menyembunyikan atau
menyamarkan asal usul harta kekayaan sehingga
seolah-olah menjadi harta kekayaan yang sah.

2) Tahapan Money Laundering


Pada dasarnya proses pencucian uang dapat
dikelompokkan ke dalam 3 (tiga) tahap kegiatan
yang meliputi :

a. Penempatan (Placement), adalah upaya


menempatkan uang tunai yang berasal
dari tindak pidana ke dalam sistem
keuangan (financial system), atau upaya
menempatkan uang giral (cheque, wesel
bank, sertifikat deposito, dan lain-lain)
kembali ke dalam sistem keuangan,

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

RAGAM PENGAWASAN

terutama sistem perbankan.


b. Transfer (Layering), adalah upaya untuk
mentransfer harta kekayaan yang berasal
dari tindak pidana (dirty money) yang
telah berhasil ditempatkan pada Penyedia
Jasa Keuangan (terutama bank) sebagai
hasil upaya penempatan (placement) ke
Penyedia Jasa keuangan yang lain. Sebagai
contoh adalah dengan melakukan beberapa
kali transaksi atau transfer dana.
c. Penggunaan harta kekayaan (Integration),
adalah upaya menggunakan harta kekayaan
yang berasal dari tindak pidana yang telah
berhasil masuk ke dalam sistem keuangan
melalui penempatan atau transfer sehingga
seolah-olah menjadi harta kekayaan halal
(clean money), untuk kegiatan bisnis
yang halal atau untuk membiayai kembali
kegiatan kejahatan. Sebagai contoh adalah
dengan pembelian aset dan membuka/
melakukan kegiatan usaha.
3) Modus Money Laundering
Beberapa modus pencucian uang yang banyak
digunakan oleh pelaku pencucian uang adalah:
a. Smurfing, yaitu upaya untuk menghindari
pelaporan dengan memecah-mecah
transaksi yang dilakukan oleh banyak
pelaku.

b. Structuring,
yaitu
upaya
untuk
menghindari
pelaporan
dengan
memecah-mecah transaksi sehingga
jumlah transaksi menjadi lebih kecil.
c. U Turn, yaitu upaya untuk mengaburkan
asal usul hasil kejahatan dengan
memutarbalikkan
transaksi
untuk
kemudian dikembalikan ke rekening
asalnya.
d. Cuckoo
Smurfing,
yaitu
upaya
mengaburkan asal usul sumber dana
dengan mengirimkan dana-dana dari
hasil kejahatannya melalui rekening pihak
ketiga yang menunggu kiriman dana
dari luar negeri dan tidak menyadari
bahwa dana yang diterimanya tersebut
merupakan proceed of crime.
e. Pembelian aset/barang-barang mewah,
yaitu menyembunyikan status kepemilikan
dari aset/ barang mewah termasuk
pengalihan aset tanpa terdeteksi oleh
sistem keuangan.
f. Pertukaran barang (barter), yaitu
menghindari penggunaan dana tunai atau
instrumen keuangan sehingga tidak dapat
terdeteksi oleh system keuangan.
g. Underground
Banking/Alternative
Remittance Services, yaitu kegiatan

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

37

RAGAM PENGAWASAN
pengiriman uang melalui mekanisme
jalur informal yang dilakukan atas dasar
kepercayaan.
h. Penggunaan pihak ketiga, yaitu transaksi
yang dilakukan dengan menggunakan
identitas pihak ketiga dengan tujuan
menghindari terdeteksinya identitas
dari pihak yang sebenarnya merupakan
pemilik dana hasil tindak pidana.
i. Mingling, yaitu mencampurkan dana
hasil tindak pidana dengan dana dari
hasil kegiatan usaha yang legal dengan
tujuan untuk mengaburkan sumber asal
dananya.
j. Penggunaan identitas palsu, yaitu
transaksi yang dilakukan dengan
menggunakan identitas palsu sebagai
upaya untuk mempersulit terlacaknya
identitas dan pendeteksian keberadaan
pelaku pencucian uang.

atau transfer sehingga seolah-olah menjadi


harta kekayaan halal (clean money), untuk
kegiatan bisnis yang halal atau untuk membiayai
kembali kegiatan kejahatan. Sebagai contoh
adalah dengan melakukan pembelian aset dan
membuka/melakukan kegiatan usaha. Modus
yang digunakan yaitu dengan menyembunyikan
status kepemilikan dari aset termasuk pengalihan
aset tanpa terdeteksi oleh sistem keuangan.
Salah satu cara pembelian asset adalah melalui
kegiatan lelang.
Sedikitnya terdapat 2 (dua) hal yang dapat
menyuburkan money laundering pada kegiatan
lelang, yaitu:

1) Belum Dilakukan
kepada PPATK

4) Lelang
Lelang adalah penjualan barang yang terbuka
untuk umum dengan penawaran harga
secara tertulis dan/atau lisan yang
semakin meningkat atau menurun
untuk mencapai harga tertinggi yang
didahului dengan pengumuman
lelang.
Jenis barang yang dilelang antara lain:
Barang Bergerak, seperti kendaraan
(mobil, motor, kapal bobot kurang dari 20
ton, dsb), barang inventaris (stok bahan baku,
perabot kantor, perabot rumah tangga, barang
antik, perhiasan, hasil seni, dsb), Elektronik (TV,
Kulkas, Komputer, Peralatan Audio-Video,dsb);
Barang Tidak Bergerak seperti Tanah (Tanah
Perumahan, Pabrik, Hotel Apartemen, dsb) Kapal
Terbang, Kapal dengan bobot di atas 20 ton
(Kapal Penumpang, Kapal Pesiar, Kapal Tanker,
Kapal Keruk, dsb).

3. Pembahasan
Salah satu tahapan dari money laundering adalah
penggunaan harta kekayaan(Integration), yaitu
upaya menggunakan harta kekayaan yang berasal
dari tindak pidana yang telah berhasil masuk ke
dalam sistem keuangan melalui penempatan

38

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

Pelaporan

Transaksi

Berdasarkan Undang-Undang No. 8 tahun


2010, pihak pelapor yang wajib menyampaikan
laporan kepada PPATK meliputi:
a) Penyedia jasa keuangan, yaitu: bank,
perusahaan pembiayaan, perusahaan
asuransi dan perusahaan pialang
asuransi,
dana
pensiun
lembaga
keuangan, perusahaan efek, manajer
investasi, kustodian, wali amanat,
perposan sebagai penyedia jasa giro,
pedagang valuta asing, penyelenggara
alat
pembayaran
menggunakan
kartu, penyelenggara e-money dan/
atau e-wallet, koperasi yang melakukan
kegiatan simpan pinjam, pegadaian,
perusahaan yang bergerak di bidang
perdagangan berjangka komoditi, dan
penyelenggara kegiatan usaha pengiriman
uang.
Penyedia jasa keuangan wajib menyampaikan
laporan kepada PPATK yang meliputi:
(a) Transaksi keuangan mencurigakan
(b) Transaksi keuangan tunai dalam jumlah
paling sedikit Rp500.000.000,00 (lima
ratus juta rupiah) atau dengan mata uang
asing yang nilainya setara, yang dilakukan
baik dalam satu kali transaksi maupun
beberapa kali transaksi dalam 1 (satu) hari
kerja; dan/atau
(c) Transaksi keuangan transfer dana dari dan
ke luar negeri.

RAGAM PENGAWASAN

Kewajiban pelaporan atas transaksi keuangan


tunai dikecualikan terhadap:
a. Transaksi yang dilakukan oleh penyedia
jasa keuangan dengan pemerintah dan
bank sentral;
b. Transaksi untuk pembayaran gaji atau
pensiun; dan
c. Transaksi lain yang ditetapkan oleh Kepala
PPATK atau atas permintaan penyedia jasa
keuangan yang disetujui oleh PPATK.
b) Penyedia barang dan/atau jasa lain, yaitu:
perusahaan properti/agen properti,
pedagang kendaraan bermotor, pedagang
permata dan perhiasan/logam mulia,
pedagang barang seni dan antik, dan
balai lelang.

di salah satu KPKNL di Jakarta, dalam bulan


Januari s.d Juli 2012 terdapat 48 transaksi
lelang dengan nilai Rp500.000.000,00 ke atas.
Sementara untuk periode yang sama, balai lelang
di Jakarta belum ada transaksi lelang dengan
nilai Rp500.000.000,00 ke atas. Mengingat tidak
adanya transaksi dengan nilai Rp500.000.000,00
ke atas yang dilaksanakan di balai lelang dan
sebaliknya transaksi dengan nilai yang sama cukup
banyak dilaksanakan di KPKNL, mengindikasikan
pembeli lelang di KPKNL memanfaatkan celah
hukum transaksi yang tidak perlu dilaporkan oleh
KPKNL.

Penyedia barang dan/atau jasa lain wajib


menyampaikan laporan transaksi yang dilakukan
pengguna jasa dengan mata uang rupiah dan/
atau mata uang asing yang nilainya paling sedikit
atau setara dengan Rp500.000.000,00 (lima ratus
juta rupiah) kepada PPATK paling lama 14 (empat
belas) hari kerja terhitung sejak tanggal transaksi
dilakukan.
Untuk penyedia barang dan/atau jasa lain tidak
ada pengecualian dalam kewajiban pelaporan
kepada PPATK sebagaimana untuk penyedia jasa
keuangan.
Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang
(KPKNL) tidak termasuk dalam pihak pelapor
yang disebutkan dalam undang undang tersebut,
padahal KPKNL sebagai penyedia jasa di bidang
lelang mempunyai kegiatan yang sama dengan
balai lelang sebagai penyedia barang dan/atau
jasa lain. Sebagai contoh pelaksanaan lelang

2) Persyaratan Peserta Lelang


Dalam mengikuti pelaksanaan lelang, peserta
lelang harus memenuhi persyaratan dalam
pengumuman lelang yang dibuat oleh
penjual.
Dalam pengumuman lelang biasanya hanya
menyebutkan kewajiban untuk menyetor
uang jaminan lelang, memenuhi persyaratan
administrasi seperti KTP, NPWP, Surat Setoran
Pajak (SSP) SIUP, TDP dan lain-lain.

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

39

RAGAM PENGAWASAN
KPKNL sebagai penyedia jasa lelang tidak
melakukan analisis terhadap profile peserta
lelang menyangkut sumber dana peserta
lelang sebagai pengguna jasa.
Pemenang lelang yang tidak mempunyai dana
untuk melunasi nilai lelang dapat dilunasi
oleh pihak lain atas nama pemenang lelang.
Seharusnya KPKNL dapat menambahkan
persyaratan mengenai kemampuan finansial
peserta lelang untuk mengikuti lelang dengan
melakukan analisis laporan keuangan peserta
lelang yang dilampirkan dalam SPT, atau
menyampaikan rekening koran peserta lelang
pada bulan dilaksanakan lelang, sehingga
pelaksanaan lelang diikuti oleh peserta lelang
yang serius dan mempunyai kemampuan
finansial.
Hal ini disebabkan tidak adanya mekanisme
atau SOP yang mengatur untuk menerapkan
prinsip mengenali pengguna jasa dalam hal
ini peserta lelang mengenai sumber dana
peserta lelang.
Akibatnya dapat dimanfaatkan oleh pihak
lain dengan memakai nama pemenang lelang
sebagai kendaraan untuk melakukan money
laundering .
Sebagai contoh adalah pelaksanan lelang atas
salah satu dari scrap Barang Milik Negara
(BMN) Eks Kontraktor Kontrak Kerja Sama
(KKKS) pada Kantor Pelayanan Kekayaan
Negara dan Lelang di Jakarta. Dalam salah
satu risalah lelang tahun 2010 diketahui hasil
lelang scrap tersebut kurang lebih sebesar
Rp13 milyar, pemenang lelang dalam risalah
lelang adalah CV X.
Dari hasil penelitian terhadap rekening koran
KPKNL diketahui pelunasan lelang tersebut
dibayar oleh Y yang merupakan salah satu
peserta lelang atas nama pemenang
lelang (CV X). Dari hasil penelitian lebih
lanjut terhadap berkas SPT Tahunan
CV X termasuk laporan keuangannya
tidak menggambarkan kemampuan
CV X dalam membayar hasil lelang
tersebut.

40

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

Hal ini dapat diketahui dari nilai kas/bank


yang dimiliki CV X, di sisi lain CV X juga
tidak mempunyai utang dalam laporan
keuangannya. Walaupun apabila uang
tersebut benar milik CV X berarti CV X tidak
melaporkan seluruh penghasilannya dalam
SPT Tahunan.
Dengan demikian terdapat indikasi adanya
pengalihan aset dari pemenang lelang (CV
X) tersebut kepada pihak lain (Y) yang tidak
terdeteksi sistem keuangan.
Di sisi lain hal ini merupakan upaya
penghindaran pajak (tax evasion) dari CV X
untuk tidak melaporkan penghasilan dari
pengalihan aset kepada Y dalam SPT Tahunan
yang merupakan salah satu tindak pidana
di bidang perpajakan. Hal ini dimungkinkan
karena Undang-Undang No. 8 tahun 2010
belum memasukkan KPKNL sebagai pihak
pelapor yang harus membuat laporan kepada
PPATK atas transaksi Rp500.000.000,00 ke
atas.

RAGAM PENGAWASAN
dalam SPT Tahunan atas pengalihan aset dari
pemenang lelang kepada pihak yang memiliki
modal dapat mengindikasikan adanya tindak
pidana perpajakan.

4. Penutup
Kegiatan
lelang
memungkinkan
adanya
pengalihan aset dari pemenang lelang kepada
pihak lain yang memiliki modal untuk melakukan
money laundering, karena pengalihan aset
tersebut tidak dapat dideteksi oleh sistem
keuangan dan pemenang lelang hanya dipakai
sebagai kendaraan untuk memperoleh aset
tersebut.
Selain itu adanya upaya penghindaran pajak atas
penghasilan yang tidak seluruhnya dilaporkan

Inspektorat Jenderal sebagai mitra dari


Eselon I Kementerian Keuangan dapat
memberikan masukan kepada Direktorat
Jenderal Kekayaan Negara untuk mengatur
tentang kewajiban pelaporan transaksi
lelang kepada PPATK dan mekanisme prinsip
mengenali pengguna jasa (peserta lelang)
dalam pelaksanaan lelang terkait dengan
sumber dana peserta lelang. Selain itu
perlunya sinergi dengan Direktorat Jenderal
Pajak untuk menangani tindak pidana perpajakan
dari kegiatan lelang dalam rangka meningkatkan
penerimaan negara.

Referensi
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak PidanaPencucian Uang.
2. Peraturan Menteri Keuangan No. 93/
PMK.06/2010 tanggal 23 April 2010 tentang
Petunjuk Pelaksanaan Lelang
3. Pengertian, Tahapan dan Modus
Laundering @Bankirnews.com

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

Money

41

Alexander on Leadership

PEMIMPIN YANG BERANI

It takes a great deal of bravery to stand up to our enemies,


but just as much to stand up to our friends

etika Clive Warrilow mengambil alih


Volkswagon AG divisi Amerika, divisi
tersebut sedang bermasalah, dengan
penjualan yang mengalami perlambatan dan tenaga
kerja yang mengalami penurunan semangat. Bagi
banyak eksekutif di Kantor pusat Volkswagen,
situasi tersebut harus membutuhkan pemimpin
yang kuat dan tangan besi. Sebagai sebuah
perusahaan, Volkswagen sudah sejak lama lebih
memilih model hierarki dan pengendalian yang ketat
dalam mengelola organisasi. Akan tetapi, Warrilow
berpendapat bahwa gaya kepemimpinan tersebut
tidak lagi memadai.
Setelah sekian tahun mendaki hierarki
perusahaan, Warrilow memiliki keberanian untuk
mempertaruhkan kariernya dengan menantang
status quo. Sebelumnya, manajer cabang harus minta
ijin kepada kantor pusat bahkan keputusan yang tidak
material. Warrilow, sebaliknya, mengijinkan manajer
cabang untuk menjalankan cabangnya dengan cara
mereka sendiri. Jika
manajer
cabang
akan memotong
biaya iklan dan
membayar bonus,
sebagai contoh,
mereka dapat
melakukan
hal tersebut,

42

mereka tidak akan dipertanyakan kebijakannya.


Warrilow juga mengubah hubungan dengan dealerdealer mobil. Warrilow tidak memperingatkan,
mengejek, atau menghentikan kontrak dealer
yang gagal memenuhi target penjualan, melainkan
menanyakan apa yang dapat dipelajari dari situasi
tersebut untuk perbaikan di masa mendatang.
Warrilow menekankan kepercayaan (trust)
sebagai dasar kepemimpinannya dan mendorong
manajer lain untuk membina hubungan yang baik
dengan bawahannya. Dia bahkan mengajak jajaran
eksekutifnya sebanyak tiga bis ke lahan pertanian di
Solvang, California, dan mereka menyaksikan Monty
Roberts, sang pelatih kuda (Horse Whisperer),
menciptakan lingkungan bagi kuda liar untuk belajar
dan bukannya menghancurkan semanagat hewan
tersebut. Model pelatihan kuda tersebut merupakan
metofora yang diinginkan oleh Warrilow agar jajaran
eksekutifnya mempraktekannya dalam memimpin
organisasi. Sebuah model kepemimpinan yang
memenangkan hati manusia dan bukan berkeliling
bertolak pinggang laksana boss.
Volkswagen Amerika membuat pembalikan
keadaan yang dramatis, karena keberanian Warrilow
menerapkan gaya kepemimpinan yang tidak status
quo. Meskipun demikian, eksekutif VW di Jerman
masih tidak percaya dan ragu akan pendekatannya
yang lebih lunak. Setelah empat tahun memimpin,
Warrilow diganti dan memutuskan untuk pensiun,
meninggalkan perusahaan dalam keadaan yang jauh
lebih baik dibandingkan waktu ia menanganinya
pertama kali. Sampai saat ini masih belum jelas
apakah penggantiannya berkaitan dengan
gaya kepemimpinan yang dipraktekannya.
Warrilow memiliki keberanian untuk
menentang kebiasaan lama dan melakukan
apa yang diyakininya baik bagi organisasi
meskipun mungkin berakibat kurang baik bagi
kariernya. Tapi Warrilow telah pergi dengan
sepenuh kehormatan

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

Alexander on Leadership
Jadi apakah keberanian itu?
Jenderal Carl Von Clausewitz (17801831) membagi keberanian (courage) menjadi dua
yaitu keberanian fisik ddalam bentuk keberanian
menantang bahaya yang mengancam seseorang dan
keberanian moral atau keberanian untuk bertanggung
jawab baik terhadap kekuasaan eksternal maupun
kekuatan internal/ kesadaran pribadi.
Pemimpin seringkali dilenakan dengan
kondisi yang ada saat ini (status quo). Seringkali
pemimpin nyaman dengan kedudukannya saat ini
dan tidak menyukai perubahan. Pilot angkatan laut
konon lebih sering mengalami kefatalan karena
tidak mau menyelamatkan diri dengan parasut
atau perahu karena merasa nyaman dengan kokpit
pesawatnya yang rusak. Melakukan perubahan
memang akan menghadapi kemungkinan kegagalan
yang menyedihkan, ejekan, bahkan kehilangan karier,
dan kenyamanan yang selama ini dinikmati.

lain, apalagi oleh bos, sehingga cenderung untuk


mengatakan hanya yang ingin bos dengar. Pemimpin
yang berani akan mengatakan apa yang ada dalam
pikirannya meskipun mengetahui bahwa orang kain
akan menolak atau bahkan menyingkirkannya.
Pemimpin yang berani berarti pemimpin
yang berjuang demi keyakinannya. Keberanian
adalah ketika kita memperjuangkan apa yang terbaik
bagi keseluruhan organisasi. Kadang hal tersbeut
menjadi sulit. Kita kadang lebih mudah menjadi
berani melawan musuh kita tetapi seringkali gagal
menjadi berani mempertahankan keyakinan kita
kepada teman kita atau sekutu kita sebagaimana
kutipan di awal tulisan ini ( Kutipan tersebut
bukan dari ahli filsafat atau agamawan kondang.
Albus Dumbledore, Kepala Sekolah Hogwart yang
mengatakannya.). Pemimpin yang berani memang
mengambil risiko tetapi semua dilakukan untuk
kebiakan yang lebih besar. Mengambil risiko tanpa
ada nilai yang lebih besar yang diperjuangkan adalah
kekonyolan yang tidak masuk akal.

Lalu apakah artinya menjadi pemimpin yang


berani itu?
Menjadi
pemimpin
yang
berani
adalah menjadi pemimpin yang mendobrak
zona kenyamanannya sendiri. Ketika seseorang
mendobrak zona kenyamanannya sendiri, sebenarnya
ia sedang mendobrak tembok ketakutan nya. Anda
ingin mengetahui apa rasanya mendobrak tembok
ketakutan itu? Cobalah dalam kereta Jabotabek
yang sedang penuh sesak anda meminta tempat
duduk kepada seseorang. Nah, perasaaan ketakutan
semacam itulah yang dihadapi. Tembok ketakutan
akan muncul pula jika kita mencoba mengajak kencan
lawan jenis, melawan bos kita, memulai proyek yang
mahal dan rumit, atau mengganti karier. Menghadapi
dan mendobrak tembok ketakutan diri sendiri
tersebut membutuhkan keberanian yang besar.
Pemimpin yang berani harus mampu melakukan hal
itu.

Pada hakekatnya setiap orang dapat


memiliki keberaniannya jika telah dapat melampauai
ketakutannya terhadap sesuatu. Tapi bagaimana
mengatasi rasa takut itu?

Menjadi
pemimpin
yang
berani
berarti menjadi pemimpin yang meminta apa
yang dibutuhkan dan mengatakan apa yang
dipikirkannya. Pemimpin memang harus berbicara
untuk mempengaruhi orang lain. Akan tetapi,
keinginan untuk menyenangkan orang lain sering
menghambat kebutuhan untuk berbicara benar.
Setiap orang ingin dirinya diterima oleh orang

Yakin akan tujuan yang lebih tinggi.


Keberanian akan muncul dengan mudah apabila
kita memperjuangkan apa yang kita yakini.
Pemimpin yang memiliki komitmen pada tujuan
yang lebih besar akan memiliki keberanian untuk
menghadapi ketakutannya. Ini yang tidak mudah.
Keyakinan kadang mudah goyah. Hanya pemimpin
yang memiliki keteguhan hati dan amat yakin akan

Lalu, bagaimana cara pemimpin menemukan


keberaniannya?

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

43

Alexander on Leadership
tujuan hidupnya yang berani mempertaruhkan apa
pun untuk mencapai tujuannya tersebut. Pemimpin
yang gagal meyakini tujuannya sendiri akan menjadi
pemimpin yang ketakutan. Pemimpin yang ketakutan
akan mudah mengorbankan bawahannya untuk
membuat dirinya diterima oleh bos yang lebih besar.
Dapatkan kekuatan dari orang lain.
Memperhatikan orang lain khususnya bawahan akan
menghasilkan timbal balik berupa dukungan yang
tulus. Mencintai merupakan sumber kekuatan utama
keberanian karena membuat
kita rela berkorban untuk
yang kita cintai. Pemipin yang
dengan tulus memperhatikan
bawahannya akan mengambil
risiko
untuk
membantu
bawahannya tersebut sukses
dan berkembang. Dukungan
dari bawahan juga merupakan
sumber keberanian, pemimpin
yang baik tidak segan untuk bergantung pada
bawahannya sekalipun jika memang dibutuhkan.
Bukankah orang yang penyendiri lebih sering
ketakutan?
Keyakinan bahwa pemijmpinnya
memperhatikannya juga akan membuat bawahan
menjadi semakin berani mengambil risiko dalam
menyelesaikan pekerjaan dan mencapai tujuan.
Prinsipnya adalah keberanian akan menghasilkan
keberanian yang lain. Pemimpin yang berani
menghasilkan bawahan yang pemberani. Pemimpin
yang pengecut akan menghasilkan bawahan yang
pengecut pula.
Terima kesalahan. Walt Disney pernah
mengalami kebangkrutan waktu memulai usahanya.
Meskipun demikain, dia tidak putus asa dan
bahkan berkata, Hal yang penting adalah memiliki
pengalaman kegagalan yang buruk pada waktu
muda. Dewasa ini beberapa orang menginginkan
keberhasilan tanpa adanya kesulitan, masalah,
atau bahkan perjuangan. Penerimaan terhadap

kegagalan, atau kesalahan akan meningkatkan


keberanian. Pemimpin yang dapat menerima
kesalahan bawahannya dan menyemangatinya untuk
bangkit dan berjuang kembali akan meningkatkan
keberanian seluruh organisasi. Kegagalan akan
membuat orang kreatif karena semua dapat belajar
dari kegagalan tersebut. Pemimpin yang berani, alihalih menyalahkan anak buahnya, dia akan mendorong
bawahannya untuk meningkatkan kreatifitasnya.
Pemimpin yang penakut, sebaliknya, bahkan akan
menggunakan kesalahan bawahan
bagi keuntungan pribadinya.
Pemimpin yang dapat menerima
kesalahan
atau
kegagalan
dirinya dan anak buahnya akan
bertumbuh menjadi pemimpin
yang lebih berani.

Akrabi frustasi
dan kemarahan. Orang yang
marah akan hilang rasa takutnya.
Kemarahan dan rasa frustasi yang muncul akan
membuat pemimpin berani melakukan hal-hal yang
tidak berani dilakukannya pada saat tidak marah.
Rasa marah dan frustasi yang diarahkan secara
positif yaitu meningkatnya keberanian untu kbangkit
dan berjuang tanpa kenal takut dan malu, akan
meningkatkan keberanian pemimpin.
Jadi, sebagai pemimpin, beranikah anda?
Jika tidak, bangkitkan keberanian dengan cara- cara
di atas. Pemimpin yang pengecut akan membuat
organisasi terpuruk dan menjadi pria dilingkungannya.
Organisasi internal audit yang menjadi paria diantara
divisi lain tidak akan bisa berkontribusi bagi organiasi
secara keseluruhan. Kalau sekian lama keberanian
anda tidak muncul juga, segeralah menyingkir. Berarti
anda tidak layak memimpin. Hidup tanpa keberanian
adalah hidup yang tidak layak dijalani. Pemimpin
yang berani mati satu kali. Pemimpin yang pengecut
mati berkali-kali.
Setuju.?

44

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

kartun

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

45

Profil
PROFIL Bung Darwan Fabianto
Bendahara Pengeluaran Belanja Pegawai Inspektorat Jenderal

Tanggal muda... Gajian... Sesuatu hal yang dinanti oleh banyak orang. Muda tua,
pegawai lama pegawai baru banyak yang menantikannya. Kebanyakan orang pasti
menginginkan penghasilan yang banyak tetapi juga halal dan membawa berkah.

y the way.... bicara soal gaji, pernahkah


kita berpikir siapa sih orang yang selama ini
mengurusi hal ikhwal gaji kita sehingga bisa
masuk ke account atau rekening kita? Sudahkah kita
kenal siapa Bendahara Pengeluaran Belanja Pegawai
Inspektorat Jenderal?

Nah, kali ini kita akan berkenalan dengan


Bendahara Pengeluaran Belanja Pegawai Inspektorat
Jenderal atau Bendahara Gaji kita. Namanya Darwan
Fabianto. Suami dari Fitri Rovitasari inilah yang
selama ini membantu agar arus kas di rekening kita
tetap lancar. Mas Darwan dan Mbak Fitri menikah
pada 7 November 2009. Mereka sudah dikaruniai
seorang princess yang bernama Sheva Nabita
Ramadhani.

berjumlah 20 orang ke Departemen Dalam Negeri.


20 orang tersebut dipesan oleh Dirjen Bina
Administrasi Keuangan Daerah (BAKD) Pak Daeng M.
Nazier yang statusnya adalah pegawai Departemen
Keuangan yang dipekerjakan pada Departemen Dalam
Negeri. Alih-alih diterima disana, ternyata birokrasi
yang berbeda dengan departemen keuangan tenaga
muda dari STAN seperti dianaktirikan dan harus
melalui berbagai macam proses yang berbelit-belit.
Terjadi miscommunication antar elit pejabat disana.

Bung Darwan dilahirkan tanggal 16 Februari


1984 di Jakarta. Setelah cukup umur kemudian ia
sekolah di SD Muhammadiyah 24 Rawamangun,
kemudian setelah lulus melanjutkan ke SMP Negeri
74. SMA pun tak jauh dari Rawamangun, bung Darwan
sekolah di SMA Negeri 21, di daerah sekitar Pulomas.
Baru setelah lulus SMA, kuliah D III-nya agak jauh
sedikit yaitu di STAN, di daerah Bintaro. Untuk Strata
satunya, mas Darwan kuliah di Mercubuana, yang
baru saja lulus pada bulan November 2011.
Ternyata, perjalanan Bang Darwan dari
STAN menuju Inspektorat Jenderal tidak semulus
yang diduga dan memang tidak terduga. Lulus dari
kampus plat merah milik Departemen Keuangan
kala itu pada tahun 2005. Menjelang kelulusan ada
pengumuman pilihan penempatan di Departemen
Dalam Negeri. Sehingga mas Darwan beserta kawankawan, sebanyak 20 orang, memenuhi lowongan
tersebut. Alasannya adalah biar bisa penempatan
di Jakarta terus. Sambil menunggu penempatan
bung Darwan pernah juga bekerja sebagai sopir dan
magang di KAP.
Setelah
pengumuman
penempatan,
berangkatlah anak-anak muda lulusan STAN yang

46

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

Profil
Akhirnya dikembalikanlah mereka berdua puluh
ke Departemen Keuangan. Empat bulan lamanya
mereka terlunta-lunta menunggu hiruk pikuk pejabat
di Depdagri.
Pada akhirnya, diperintahlah mereka
untuk menemui Pak Hekinus di Direktorat Jenderal
Perbendaharaan Negara, Departemen Keuangan.
Nah, dicarilah Pak Hekinus di Lapangan Banteng. Saat
itu gak tau mereka siapa Pak Hekinus
itu.
Entah Kabag atau Kasubag
gak ngerti saya. E... setelah ketemu
ternyata Direktur kaget juga saya kan,
papar mas Darwan.
Alhasil, setelah menemui
Pak Hekinus diperoleh keterangan
bahwa DJPB bersedia menampung
sementara. Kurang lebih setahun
disana, banyak juga tawaran, mau
tetap di Perbendaharaan atau
ke Bapepam, Direktorat Jenderal
Anggaran,
Kementerian
BUMN.
Namun, pada akhirnya malah
berlabuh ke Itjen.
Setelah diterima dengan baik di Itjen,
berpisahlah mereka berdua puluh ada yang ke
Inspektorat, Bagian Perencanaan dan Tatalaksana
(BPT), Bagian Analisis Hasil Pengawasan, dan lainlain. Dan mas Darwan kala itu ditempatkan di
Bagian Analisis Hasil Pengawasan I (AHP I). Bagian
ini bisa dibilang auditornya sekretariat karena bisa
merasakan aura pekerjaan auditor, yaitu monitoring
tindak lanjut hasil pengawasan.
Dua tahun di AHP I, kemudian ada
reorganisasi sesuai PMK nomor 100 tahun 2008.
Dipindahlah Bang Darwan ke Bagian Perencanaan
dan Keuangan (BaPeKa), dan langsung menjadi
bendahara.
Kira-kira kesulitan gak sih dari pegawai
AHP kok langsung jadi bendahara? Cara belajarnya
gimana ya?
Menurut penuturan mas Darwan, kalau
belajarnya kan dulu didiklatin dulu. Setelah diklat ya
dilaksanakan di pekerjaan. Memang banyak orang
bilang sih tantangannya luar biasa, tapi setelah

dijalani bisa juga kok. Gak terlalu ribet, malah sisi


humanismenya banyak, kita bisa belajar bagaimana
berhadapan dengan orang, menghadapi masalah gitu
kan, itu justru menariknya disini. Ya pekerjaannya sih
gak susah-susah amat lah cuma tanggung jawabnya
aja yang besar.
Bagaimana pesan dan kesan Bung Darwan
untuk Itjen?
BaPeKa sampai saat ini
merupakan bagian terbaik yang
pernah saya singgahi. Usahanya luar
biasa temen-temen disini. Semuanya
saling support baik dalam pekerjaan
maupun bukan pekerjaan. Semuanya
kompak. Mungkin karena dari dulu
atasannya sudah membentuk untuk
jadi bagian yang solid.
Dengan fungsi yang ada
sekarang, kalau bisa Itjen itu bukan
hanya
sekedar
tangan
kanan
Menteri. Tangan kanan dalam artian
memberikan masukan/rekomendasi
atas
hasil
pemeriksaan.
Itjen
Kemenkeu kalau bisa juga mempunyai
kekuatan lebih yang menjadi pembeda dari
Inspektorat Jenderal kementerian lain. Karena sifat
Itjen Kementerian Keuangan berbeda dengan Itjen
kementerian lain.
Tiap pagi di BaPeKa ada acara semacam
sharing morning, hal ini adalah ide yang luar dari
BaPeka. Kalau bisa diwajibkan kepada yang lain,
tetapi pengemasannya dibuat sekreatif mungkin.
Pada pagi hari kita bisa mengetahui siapa aja rekan
kita di ruangan dan ada saling komunikasi sehingga
kita tidak terkotak-kotak. Sharing-sharing motivasi
di pagi hari ini juga sangat bermanfaat menambah
semangat, ditambah juga update informasi terkini
yang sangat bermanfaat sehingga tidak ketinggalan
berita di lingkungan Itjen.
Saya berharap penguatan kelembagaan
Itjen Kemenkeu ini bisa lebih. Kalau direktorat lain
punya Undang-Undang, saya harap Itjen juga punya.
Saya harapkan kita bisa menemukan jalan untuk
menjadikan Itjen supaya lebih bertaring dan
strongggg. (DIT/GUS/ARH)

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

47

Pojok psikologi

Ditempat Kerja
Selamat Pagi, Semangat Pagi..
Apakah anda merasakan stress dikantor? Kepala pusing, ingin teriak, marah and then flip the table? :D
Dont worry, a lot of working people feel the same way.. J Apa sih itu stress? Apakah semua stress itu jelek dan
bikin kita uring-uringan? Apakah stress menghambat kinerja anda dikantor?
Stres merupakan suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi
seseorang. Jika seseorang / karyawan mengalami stres yang terlalu besar maka akan dapat menganggu
kemampuan seseorang / karyawan tersebut untuk menghadapi lingkungannya dan pekerjaan yang akan
dilakukannya (Handoko 1997:200). Dari pendapat diatas, secara tersirat dapat dikatakan ada stress yang tidak
terlalu besar, alias stress ringan. Stress ringan justru bisa membantu kita dalam menyelesaikan pekerjaan, stress
ringan memberikan dorongan kepada kita untuk menyelesaikannya. Ada sebuah cerita untuk menggambarkan
hal itu.
Suatu hari, ada seorang nelayan yang sedang menjual ikan tangkapannya ditepi laut, datanglah seorang
pembeli lalu terjadilah percakapan diantara mereka :
Penjual

: Ayooo bu paakkk, beli ikan saya, masih segar looohhh, baru tadi subuh ditangkap.

Pembeli : Pak, saya beli ikannya setengah kilo, coba habis ditangkap pakai es ya pak, mungkin jadi tambah
segar, dan saya akan beli lebih banyak.
Lalu sang nelayan melaut kembali dengan membawa tong besar + es untuk menampung ikan
tangkapannya. Kemudian diapun menjual ditempat biasanya.
Penjual

: Ayooo buu paakkk, ikannya segar dan dingin..

Pembeli : pak, ikannya bagus-bagus yaa, segar dan terjaga kualitasnya karena pakai es, saya beli satu kilo,
tapi sayang ya pak, sudah pada mati, mungkin kalau masih hidup saya akan beli lebih banyak lagi.
Penjual

: Baiklah bu, esok saya bawakan yang masih hidup.

Lalu sang nelayan melaut kembali dengan membawa tong besar + air untuk menampung ikan
tangkapannya. Ketika menjelang pagi, sang nelayanpun menggelar ikan dagangannya, pembeli
mulai berdatangan.
Penjual

48

: Ayooo bu, dipilih-dipilih ikannya masih hidup, fresh from the ocean..
VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

Pojok psikologi
Pembeli : waaah, bapak menepati janji, ikannya masih hidup.. saya beli satu setengah kilo, tapi pak ikannya
qo lemes ya, seandainya ikan ini masih lincah saya akan beli lebih banyak lagi.
Nelayan pun bingung, gimana ya caranya supaya ikannya tetap lincah sampai kedaratan,
setelah seharian berpikir sang nelayan kembali melaut dengan membawa tong besar + air untuk
menampung ikan, yang pertama dia cari adalah si hiu kecil, hap dia dapat dan memasukannya ke
dalam tong air, baru setelah itu sang nelayan menangkap ikan yang lain dan memasukkannya ke
dalam tong. Pagi harinya saat berjualan ikan tangkapannya sang pembelipun kembali.
Pembeli : waaahhh, ikannya lincah sekali, pak, saya beli 5 kilooo, usaha sushi saya butuh ikan yang seperti
ini, konsumen saya pasti senang karena ikan yang mereka makan rasanya akan manis dan gurih
lebih dari biasanya.. rahasianya apa pak?
Penjual

: si ibu ini, permintaannya macam-macam tapi setiap saya ikuti penjualan saya makin bertambah
dan pembelipun makin banyak. Permintaan terakhir cukup sulit bu, butuh renungan seharian tapi
akhirnya saya menemukan jawaban, yaitu hiu kecil.. hiu kecil akan berusaha memakan mereka
jadi mereka lincah karena punya semangat bertahan hidup. Walaupun saya dapat lebih sedikit
daripada yang biasanya tetapi kualitas mereka sangat bagus, segar, hidup dan lincah.

Dari cerita diatas, kita semua diibaratkan ikan tangkapan si pak nelayan, ikan tangkapan awal jelas
mati karena begitu saja dikumpulkan dengan tidak punya kerjaan apa-apa. Potensi dan gairah hidup begitu saja
meredup dan mati. Ikan tangkapan kedua bagaikan pegawai yang sudah mati potensi dan gairah hidupnya tapi
masih saja dilestarikan, seperti beberapa pegawai kuadran dead wood diinstansi kita. Ikan tangkapan ketiga
bagai pegawai yang bekerja dengan air yang tenang lama-lama bosan dan jadi tidak semangat, alias lesu.
Ikan tangkapan terakhirlah yang paling bagus, ini adalah pegawai dengan stress ringan yang terus
punya gairah kerja dan mengejar deadline karena ada si hiu kecil sebagai faktor pembangun stress ringannya.
Tentu saja kalau yang dipilih pak nelayan adalah hiu besar, lain cerita, ikannya akan habis tak tersisa, begitu juga
pegawai dengan stress kerja yang tinggi, karena kembali lagi ke awal, stress yang terlalu besar akan menganggu
kemampuan pegawai menghadapi lingkungan pekerjaan dan mengganggu kinerjanya.
So, kalau stressnya masih ringan dan bisa dihandle, kita harus berterimakasih pada Pak Bos karena
sudah memberikan kita dorongan dan gairah bekerja dikantor. Kalau stressnya sudah terlalu besar maka segera
hubungi dokter terdekat.. :P

Dont worry, be happy.

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

49

Sudut kantor

eorang teman datang memasuki ruang kerja sambil menggerutu.


Tanpa diminta, teman tersebut menceritakan bagaimana dia
hampir saja terlambat melakukan finger print (absensi) karena
sistem pengamanan yang baru. Dalam hati, saya mengiyakan cerita
teman saya berdasarkan apa yang saya lihat pagi ini. Antrian di gerbang
utama yang lebih panjang dari biasanya, jumlah pegawai yang berlari ke
ruang absen pun lebih banyak dari biasanya.
Biasanya pakai manual juga lancar, ujar teman saya yang sepertinya
enggan menyudahi topik sistem pengamanan yang baru ini. Saya pikir
ini bukan tentang lancar atau tidak lancar. Tapi lebih kepada masalah
keamanan. Sesuatu yang mungkin teman saya dan beberapa rekanrekan lain menempatkan keamanan di posisi ke sekian. Hanya mungkin
manfaat dari sistem pengamanan baru ini belum dapat dirasakan
sekarang.
Belum lagi, kartu ini ga boleh sampai hilang. Ah, ribet! Ujar teman
saya sambil menunjukkan kartu berwarna biru, kartu yang sama dengan
yang saya simpan secara hati-hati di dalam tas kerja saya.
Sepanjang hari, saya perhatikan status bbm teman-temanpun bertopik
sama. Ternyata masalah ini telah menjadi topik hangat di gedung
Djuanda selama beberapa waktu. Sistem pengamanan di pintu gerbang
dan pintu masuk gedung.
Sebenarnya sayapun ikut merasakan. Mengantri di gerbang utama
menjadi lebih lama dari biasanya, dan menyebabkan langkah saya
menuju ke ruang absen pun lebih cepat dari biasanya. Tidak nyaman
awalnya, memang. Namun, apapun kebijakan yang ditetapkan,

50

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

Sudut kantor

meskipun dengan mengorbankan kenyamanan yang ada, pasti ada tujuannya. Dan tentu saja untuk sesuatu
yang lebih baik.
Keluhan atas ketidaknyamanan ini mungkin sudah didengar oleh si pembuat kebijakan. Atau mungkin juga si
pembuat kebijakan merasakan ketidaknyamanan serupa. Hingga akhirnya kebijakan tersebut sedikit kembali
seperti semula. Tidak seluruhnya. Tapi kurang lebih sama. Saya yakin semua pegawai di gedung Djuanda
termasuk rekan saya itu akan senang.
Hingga suatu hari ketika hendak pulang kantor, teman saya terlihat panik sambil mencari-cari karcis parkir sambil
membongkar2 isi tasnya. Dimana ya kertas parkirnya, mending kartu biru yang kemarin. Ga bakal ketekuk dan
langsung kelihatan kalau dicari. Begitu ujarnya. Dan saya hanya bisa tersenyum mendengarnya.
Nyaman atau tidak nyaman, semua itu hanya masalah terbiasa, bukan?? (RHM/NYM)

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

51

resonasi

Cukup

Mampu
Untuk

Mau
07.18. Waktu berjalan begitu cepatnya. Oh

no! telat niiii

Kutarik pengait tasku, kukencangkan supaya


pas melekat di punggung. Kupercepat langkah
melewati jembatan sebrangi jalan. Bung bung bung,
debuman sepatuku makin nyaring oleh lari-lari kecil.
Keringat di dahi, ngos-ngosan aku mengejar waktu
(waktu kok di kejar).

kasihan, tapi uangku ada di dalam. Nanti sajalah, aku


sedekahnya ke masjid (iya kalau ke masjid).

Tak ada sebenarnya yang memenuhi


pikiranku, selain rekaman jalan yang penuh, makin
macet dan ancaman flexi time. Hari ini aku flexi
lagi. Padahal sudah dari kemaren kemaren aku
berkomitmen untuk ndak flexi lagi. Dasar komitmen
gombal.

Kicauan pikiranku riang sekali. Dari kiri,


jembatan sambungan dari halte Transjakarta,
sesosok mbak-mbak berjalan menggendong anaknya.
Langkahnya pelan. Pasti berat yang di gendongnya.
Meski takkan mungkin si anak jatuh, tangan kirinya
menelingkupi gendongan. Tambah pulas saja si anak
tidur di pelukan ibunya. Tangan kanan menopang
dorongan troli bayi yang dilipat. Kasian amat ni si
mbak, sendirian. Terbersit pikiran, mana suaminya?
Teganya dibiarkan pulang sendiri. Eh, emang mau
pulang? Sok tau.

Bisingnya pagi sudah tak kupeduli lagi.


Meski tak peduli, pikiran tetap saja mengomentari.
Beberapa orang yang berpapasan denganku tak
luput dari candaan dan kicauan pikiran sendiri.
Bajunya ndak pas, warnanya nabrak. Eh sepatunya
sama dengan yang kupunya. Batiknya bagus eui,
beli dimana ya? Jadi pengen belanja. Bapaknya

Tiba secepatnya aku dibelakang mbaknya


itu. Langkahku yang buru-buru agak terhenti
di belokan turunan jembatan. Terhenti sejenak
menunggu si mbak yang dengan dirinya, di kiri badan
menggendong anaknya, di tangan kanan berusaha
membetulkan letak troli yang tadi di dorongnya.
Mungkin kurang nyaman kali ya. Kelebaran ini cukup

52

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

resonasi
memenuhi lorong turunan jembatan. Menjaga
perasaan, tak timbul rasa dongkol meski aku jadi
makin telat. Aku, menunggu di belakang si mbak,
antri jalan.
Tapi sebentar, si mbak ndak bermaksud
membetulkan letak troli yang dari tadi didorongnya.
Dengan lemotnya aku berpikir si mbak mau
membetulkan troli. Bukan. Dia tolehkan sedikit
kepalanya ke belakang, lalu ke troli. Si mbak agak
kepayahan mangangkat lipatan troli itu dengan
satu tangan kanannya. Oh my God, ndak ngehnya
aku. Ini kan turunan undakan, mana mungkin
si mbak mendorong troli. Otomatislah si mbak
mengangkatnya. Dengan satu tangan. Wahkuat ya
Komentar bodoh! Tanganku nganggur duaduanya. Lenggang kangkung. Dan masih dengan
sopannya memuji. Tapi emang iya lho kuat nian
si mbak ini. Coba bayangkan. Menggendong bayi
aja udah sempoyongan. Jalan dengan tubuh agak
doyong sebelah. Jadi seimbang sekarang bawa beban
troli kanan. Tambah kepayahan. Wanita kuat. Salut.

Tapi. Tidaaak. Ada apa dengan diriku.


Tanganku nganggur dua-duanya. Seperti tak melihat,
tetap kalem membuntut di belakang. Menunggu
jalannya si mbak karena merasa ndak enak mau
mendului. Sebentar. Ada yang salah. Ndak enak?
Karena ndak enak itu harusnya bantu dia. Bantu
bawakan trolinya. Cukup bantu bawa troli turuni
tangga saja. Just it. Dan ajaibnya aku masih tetap
sabar menunduk jalan di belakang. Berkutat dengan
pikiran sendiri.
Satu tangga tersisa. Pikirku, ndak apaapalah. Sudah terlanjur juga sampai bawah. Hello
Jengknapa ndak dari tadi nawarin waktu masih di
tangga atas? Apa yang kulakukan? Nothing. Sudah,
sudah terlanjur. Waktu habis tersita hanya untuk
mempertimbangkan antara iya atau tidak. Habit.
Selalu dan lagi-lagi terulang seperti ini. Teruslah.
Teruslah berdebat dengan pikiran sendiri. Maka yang
tersisa adalah..TIDAK ADA.
Malu. Seorang aku. Mampu. Mampu bantu.
Tapi tak cukup mampu untuk mau. (ENO)

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

53

HOBBY
Mendaki Gunung, Mencintai Negeri..

erbagi waktu dengan alam, kau akan tahu siapa dirimu


yang sebenarnya.. Itulah sebait lagu yang menjadi
soundtrack film GIE. Film yang menceritakan seorang
tokoh muda Indonesia yang sangat mencintai negaranya.
Mencintai negaranya dengan terus menyuarakan kebenaran dan
mencintai alam.
Pecinta alam merupakan salah satu hobi yang
menyenangkan. Salah satu kegiatan pencinta alam adalah kegiatan
pendakian gunung. Mendaki gunung dengan rombongan rekanrekan sekantor merupakan pengalaman yang tak terlupakan.
Saat kita mendaki gunung, rasa percaya dan solidaritas
kepada teman adalah hal yang utama. Dalam satu tim pendakian,
biasanya ada yang bertugas menjadi penentu arah dan kepada
dialah kita harus percaya kemana kita akan melangkah. Apabila dalam
perjalanan pendakian ada teman kita yang tertinggal karena kelelahan,
dengan kesadaran kita akan beristirahat bersama sampai teman kita
itu sanggup melanjutkan pendakian. Mendaki gunung mengajarkan
kita bahwa sebagai manusia kita tak bisa hidup sendiri melainkan
membutuhkan bantuan orang lain.
Tujuan orang mendaki gunung antara lain untuk mencapai puncak
dan menikmati pemandangan yang tidak biasa. Pemandangan yang hanya
bisa kita lihat dari ketinggian yang tidak biasa juga tentunya. Di tempat
tertinggi untuk menyentuh langit kita akan menikmati pemandangan yang

54

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

HOBBY
selama ini disembunyikan Tuhan Sang Maha Pencipta. Pemandangan yang hanya diberikan kepada orang-orang
yang bersungguh-sungguh karena mendaki gunung adalah bukan perkara mudah. Dengan mencapai puncak
tertinggi kita akan melihat kebesaran Tuhan dan mendekatkan diri kita dengan-Nya.
Di Indonesia banyak gunung yang menjadi favorit pendakian. Gunung Gede di Bogor, Gunung Rinjani
di Lombok, Gunung Kerinci di Jambi, Gunung Semeru di Lumajang, Gunung Papandayan di Garut dan masih
banyak lagi. Masing-masing gunung memiliki cerita masing-masing bagi para pendaki. Cerita-cerita mistis pun
kadang menjadi bumbu bagi pengalaman-pengalaman tidak terlupakan yang dialami oleh para pendaki.
Ada pelajaran berharga dari proses pendakian gunung. Saat mendaki gunung biasanya kita akan
melengkapi diri kita dengan kantong plastik besar yang nantinya akan kita gunakan untuk menyimpan sampah
yang kita hasilkan selama proses pendakian karena sampah tidak boleh dibuang sembarangan. Misi penting
pendakian gunung adalah menjaga kelestarian alam. Dengan mendaki gunung kita telah belajar bagaimana
cara untuk mencintai alam. Mencintai negeri ini yang telah dilengkapi Tuhan dengan keindahan-keindahan
alam. Rasa cinta yang merupakan awal dari rasa cinta kita yang lain yang harus kita berikan kepada negara ini.
Mendaki gunung bikin kita menjelajah sambil menumbuhkan kecintaan pada negeri., ujar Bernat I. Purba,
salah seorang pegawai Inspektorat Jenderal yang hobby mendaki gunung.
Seperti kata Presiden John F. Kennedy, Jangan tanyakan apa yang dapat negara berikan kepadamu,
tetapi tanyakan apa yang dapat kamu berikan kepada negaramu. Mulailah memberikan rasa cintamu kepada
negara ini dengan mendaki gunung. (BPG)

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

55

BERITA KELUARGA

PENSIUN

elamat memasuki masa purnabhakti, umur adalah hanya sejumlah,


sebuah sandi untuk catatan. Seorang pria tidak bisa pensiun dari
pengalamannya, dia harus menggunakannya.. (Bernard Baruch)
Terimakasih banyak atas kontribusi Bapak selama ini untuk Inspektorat
Jenderal Kementerian Keuangan.. J

Januari 2013

Saleh
Pelaksana Bagian Umum

Ruslan S.Sos
Auditor Muda Inspektorat III

Februari 2013

Usman Ompusunggu, S.E.


Auditor Muda Inspektorat I

Suanwar
Pelaksana Bagian Umum

56

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

BERITA KELUARGA

Menikah
Tidak ada hubungan, persekutuan atau persahabatan yang lebih
indah, lebih mesra dan mempesona daripada pernikahan yang
baik. (anonymous). Happy Wedding..

Dianita Wahyuningtyas
(Pelaksana Bagian Umum)
&

Dony Perdana
20 Desember 2012

Dede Yunianto, S.E.


(Auditor Inspektorat II)
&

Desi Susanti, S.IP


21 Desember 2012

Irham Zuhri Muhammad


(Pelaksana Bagian Kepegawaian)
&

Maulinawati Laila, S.E.


29 Desember 2012

Muhammad Fachrudin, S.Kom


(Pelaksana Bagian SIP)
&

Ly Fairuzah Aisyah, S.Ei


30 Desember 2012

Danu Winata, S.Si, MM


(Pelaksana TU Inspektorat II)
&

Selvia Wellyanti, S.E.


25 Januari 2013
VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

57

GADGET
Smartphone Centil dari SHARP

agi para perempuan, ini mungkin bisa dijadikan pilihan untuk kamu yang tidak ingin memiliki smartphone
yang sama dengan para pria. Ya, Sharp telah membuat satu ponsel dengan warna centil yang ditujukan
untuk para kaum hawa yang tetap ingin bergayastylish.

Bernama Sharp Aquos EX SH-04E, smartphone ini


memiliki layar berukuran 4,5inci HD 720p. Dapur
pacu pada smartphone ini juga cukup bagus, dengan
prosesor quad-core 1,5GHz Snapdragon S4 Pro
dengan RAM sebesar 2 GB sehingga tidak kalah
dengan ponsel-ponsel para pria.
Didukung dengan kamera sebesar 13 MP dan
memory 16 GB akan mampu menampung hasrat
foto-foto narsis kamu. Dengan sistem operasi Android
4.1 Jelly Bean, smartphone ini tentu sajar bertambah
kesanhigh-end-nya. Selain itu, umur baterainya juga
tergolong panjang karena menggunakan kapasitas
2000 mAh. So, sudah siap bercentil ria dengan
smartphone ini. (Referensi:GAL)

Memotret Layaknya
Kamera Profesional dengan Menggunakan
iPhone

Phone 5 memang salah satu smartphone yang


mengasyikan jika digunakan untuk fotografi.
Kamera 8 MP yang dimilikinya tergolong memiliki
tangkapan gambar yang baik. Dan, bagi mereka yang
merindukan sensasi kamera profesional DSLR di
perangkat iPhone-nya,ini lah jawabannya..
Sekarang, membidik gambar lewat viewfinder
seperti kamera DSLR adalah hal yang pasti dengan
perangkat yang diusung Photojojo ini. Ya, view
finder khusus iPhone ini memungkinkan pengguna
iPhone memotret layaknya menggunakan kamera profesional. Pemasangannya pun mudah sekali tinggal plug
and play. Tapi agar lebih maksimal, kamu
harus menggunakan aplikasi daylight view
finderyang bisa kalian unduh gratis di Apple
App Store. (Referensi:GAL)

58

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

RESENSI BUKU
Judul
Pengarang
Penerbit
Tahun Terbit

:
:
:
:

Jangan Anggap Sepele Soft Skills


Peggy Klaus
Libri
2012

rang memang perlu memenuhi syarat untuk melakukan pekerjaan,


namun sayangnya ada beberapa keterampilan yang kadang justru
diremehkan. Keterampilan ini dikenal sebagai soft skills, yang
meliputi sikap, perilaku, dan keterampilan interpersonal. Di era konstan
seperti sekarang, bisnis dijalankan dengan mengedepankan sikap-sikap
sosial, sehingga pemahaman dan nilai soft skills untuk sebuah organisasi
berkembang setiap saat.
Buku ini menyingkap pentingnya soft skills dalam dunia kerja serta
menguraikan berbagai teknik dan tips dalam mengembangkan soft skills
anda. Soft skills menyangkut banyak aspek dalam keperibadian, yang
meliputi atribut positif serta kompetensi dalam meningkatkan harmonisasi
relasi, prestasi kerja, dan nilai pasar. Ini mencakup kemampuan untuk
mendengarkan dengan baik, berkomunikasi secara efektif, menjadi menyenangkan dan positif, menerima
tanggung jawab, menangani konflik, menerima kritik, menunjukkan rasa hormat, membangun kepercayaan,
mengelola waktu secara efektif, bekerja di bawah tekanan, serta menunjukkan perilaku yang baik.

Judul
Pengarang
Penerbit
Tahun Terbit

:
:
:
:

Kompas Menjadi Perkasa Karena Kata


Mamak Sutamat
Galang Press
2012

arian Kompas adalah contoh, bagaimana sebuah usaha yang


tidak didesain sebagai perusahaan besar, namun akhirnya
menjadi perusahaan multimedia yang meraksasa di Indonesia.
Para perintisnya meyakini bahwa semua itu kersaning Gusti , kehendakNya jua. Berbagai peristiwa kebetulan membuat mereka yakin bahwa
campur tangan Yang Mahakuasa membuat mereka bernasib baik.
Harian Kompas adalah hasil sebuah kerja keras sekelompok anak muda
yang punya jiwa, dan semangat yang sama. Apa yang mereka kerjakan
dilandasi dengan sikap dan niat baik sehingga penerbitan yang dirintis
dari tidak punya apa-apa itu menjadi apa-apa punya. Dua perintisnya PK
Ojong dan Jakob Oetama, dua sosok satu jiwa, pendidik dan humanis,
membada anak-anak mudanya hidup dengan filosofi serta tujuan yang
jelas.
Buku ini disusun dari catatan-catatan yang tidak bisa dilupakan penulisnya
karena begitu membekas. Para perintisnya menyampaikan nilai-nilai itu kepadanya bukan seperti menulis di
pasir pantai yang lenyap dalam sekejap terhapus ombak. Mereka menuliskannya di batu karang yang keras,
menyakitkan namun tak terhapuskan. Membaca buku ini membuat kira merenung, berefleksi, dan berkarya
dengan hati. (Referensi:MUJ)

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013

59

60

VOL V No. 33 | Edisi Januari - Maret 2013