Vous êtes sur la page 1sur 7

Abstrak Dalam artikel ini, saya mencoba memberikan deskripsi tentang pentingnya suatu

penerapan prinsip spiritualitas religius di dalam pelaksanaan pendidikan akuntansi. Melanjutkan


apa yang telah dipaparkan Irianto dalam Orasi Ilmiah dalam rangka Wisuda Sarjana XI Sekolah
Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Satya Dharma, Singaraja, 2010, saya dalam makalah ini
menegaskan bahwa spiritualitas adalah kata kunci untuk membangun manusia yang berkarakter,
yang secara inklusif mengintegrasikan pengembangan kecerdasan intelektual (intellectual
intelligence), kecerdasan emosional (emotional intelligence), dan kecerdasan spiritual (spiritual
intelligence). Hal ini memberikan gambaran bahwa penerapan konsep spiritualitas sebagai
refleksi perpanjangan tangan Tuhan untuk mengembalikan seluruh umat kepada fitrahnya dalam
meraih citacita masyarakat yang madani, sekaligus secara khusus sebagai salah satu pilar yang
diyakini akan memperkokoh pengembangan pendidikan akuntansi di Indonesia. Kata Kunci:
Pendidikan Akuntansi, Spiritualitas, fitrah, dan citacita bangsa. Pendahuluan Perkembangan dan
kemajuan peradaban suatu bangsa baik pada bidang penguasaan IPTEK maupun dalam hal
lainnya yang erat hubungannya dengan pendidikan perlu adanya suatu perubahan dalam proses
belajar mengajar. Maka dengan adanya perubahan pendidikan yang bukan hanya sebagai sarana
untuk menyampaikan ilmu tetapi diharapkan adanya perubahan pola kehidupan yang lebih baik.
Keberhasilan pendidikan dapat dilihat dari peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).
Sumber daya manusia yang berkualitas akan mampu mengembangkan potensi yang dimiliki
untuk kemajuan bangsa dan negara. Salah satu upaya membina dan membangun SDM yang
tangguh dan dapat diandalkan diantaranya adalah melalui pendidikan, baik yang diberikan
melalui pendidikan formal di sekolah, maupun pendidikan di lingkungan masyarakat. Menurut
Dimyati dan Mujiono (2006: 7) pendidikan merupakan sesuatu tindakan yang memungkinkan
terjadinya belajar dan perkembangan. Pendidikan merupakan proses interaksi tenaga pendidik
dan anak didik yang mendorong terjadinya belajar. Sedangkan menurut Sardiman (2001 : 12)
pendidikan dan pengajaran adalah satu usaha yang bersifat sadar tujuan yang dengan sistematis
terarah pada perubahan tingkah laku menuju kedewasaan anak didik. Oleh karena itu, sekolah
sebagai lembaga pendidikan formal memiliki tanggung jawab yang besar dalam menyiapkan
kebutuhan SDM yang handal dan siap berbagai tantangan di masa depan.

Peningkatan kualitas SDM merupakan salah satu penekanan dari tujuan pendidikan, seperti yang
tertera dalam UndangUndang No. 20 Tahun 2003 tentang tujuan Pendidikan Nasional Bab II
Pasal 3 yang berbunyi: Pendidikan Nasional bertujuan mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berkhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dengan adanya
UndangUndang tersebut, maka dari waktu ke waktu bidang pendidikan yang didasarkan kepada
pengembangan moral serta etika yang mengedepankan keikutsertaan penerapan religiuitas yang
tidak hanya sebatas penyampaian ilmu, haruslah menjadi prioritas dan menjadi orientasi untuk

kemudian diusahakan penyediaan sarana dan prasarananya sehingga akan meningkatkan potensi
spritual dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan
moral sebagai perwujudan dari suatu pendidikan akuntansi yang mengarah kepada basis
keseimbangan. Menumbuh Kembangkan Pendidikan Sekuler Tanpa Benih Spiritualitas
Pendidikan sekular memang bisa membikin orang pandai, tapi masalah integritas kepribadian
atau perilaku, tidak ada jaminan sama sekali. Sistem pendidikan sekular itu akan melahirkan
insan pandai, tapi buta atau lemah pemahaman agamanya. Lebih buruk lagi, yang dihasilkan
adalah orang pandai tapi korup. Profesional tapi bejat moral. Ini adalah out put umum dari sistem
pendidikan sekular. Sebagai contoh negara Amerika atau negara Barat lainnya. Ekonomi mereka
memang maju, kehidupan publiknya nyaman, sistim sosialnya nampak rapi. Kesadaran
masyarakat terhadap peraturan publik tinggi. Tapi, perlu ingat bahwa agama ditinggalkan, gerejagereja kosong. Agama dilindungi secara hukum tapi agama tidak boleh bersifat publik. Hari raya
Idul Adha tidak boleh dirayakan di lapangan, azan tidak boleh pakai mikrofon. Pelajaran agama
tidak saja absen di sekolah, tapi muridmurid khususnya Muslim tidak mudah melaksanakan
sholat 5 waktu di sekolah. Kegiatan seks di kalangan anak sekolah bebas, asal tidak melanggar
moral publik. Narkoba juga bebas asal untuk diri sendiri. Jadi dalam kehidupan publik kita tidak
boleh melihat wajah agama. Sistem pendidikan yang materialsekularistik tersebut sebenarnya
hanyalah merupakan bagian belaka dari sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang
juga sekular. Dalam sistem sekular, aturanaturan, pandangan, dan nilainilai agama memang tidak
pernah secara sengaja digunakan untuk menata berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan.
Karena itu, di tengahtengah sistem sekularistik ini lahirlah berbagai bentuk tatanan yang jauh
dari nilainilai agama. Masyarakat, bangsa dan Negara memiliki moral kejujuran dan jatidiri
bangsa nampaknya masih jauh dan akan sulit berkembang. Faham kebebasan atau liberalis dalam
masyarakat semakin kuat, dan kehidupan religius atau spiritualis bukan menjadi hal yang
penting. Manusia adalah mahluk individual yang tidak membutuhkan tatanan moral sebagai
koridor perlaku dalam masyarakat. Yang membutuhkan moral kejujuran dan jatidiri itu adalah
orang miskin dan bodoh, kalau telah kaya dan bebas maka tidak perlu moral kejujuran dan
jatidiri, kata para pendukung faham kapitalisme liberal. Pelaksanaan kurikulum dengan basis
KBK tidak ada artinya karena pelaksanaan kurikulum KBK haruslah berlandaskan filsafat
pendidikan konstruktivisme, bukan pada landasan filsafat subyektivisme atau liberalisme. Dalam
filsafat konstruktivisme, kedudukan pengembangan moral dan jatidiri dari peserta didik menjadi
sangat penting. Orang dapat saja menjadi cerdas dalam arti kemampuan IQ, namun belum tentu
akan memiliki kemampuan kepribadian EQ dan SQ. Kini memang banyak orang pandai, namun
mereka telah menjadi manusiamanusia yang serakah (greedy dalam adib, 2006) akan harta dan
kekuasaan. Sebagai salah satu bukti bahwa penyakit korupsi yang bermetamorfosis menjadi
kebudayaan di lingkungan para pejabat negara. Hal yang menarik pula telah dipaparkan oleh
Irianto mengenai praktikpraktik akuntansi yang berjalan selama ini tidak sedikit menimbulkan
permasalahan. Irianto (2003, 2006) memaparkan dengan seksama hal ini. Sebut saja skandal
kebangkrutan enron yang turut menjadi skandal terbesar dalam sejarah akuntansi. Dalam proses
pengusutan sebabsebab kebangkrutan itu Enron dicurigai telah melakukan praktek window

dressing. Manajemen Enron telah menggelembungkan (mark up) pendapatannya US$ 600 juta,
dan menyembunyikan utangnya sejumlah US$ 1,2 miliar. Hal ini tentunya hanya bisa dilakukan
oleh orangorang yang memiliki keahlian dengan triktrik manipulasi yang tinggi dan tentu saja
orangorang ini merupakan orang bayaran dari mulai analis keuangan, para penasihat hukum, dan
auditornya. Ini disebabkan karena adanya unsur kebohongan yang dilakukan pada sebuah sistem
terbuka, terjadi pelanggaran terhadap kode etik berbagai profesi seperti akuntan, pengacara dan
lain sebagainya, dimana segelintir profesional tersebut serakah dengan memanfaatkan
ketidaktahuan dan keawaman banyak orang, serta praktek persekongkolan tingkat tinggi. Ini
tentu menunjukkan bahwa manusiasebagai pelaku sudah tidak lagi berada dalam koridor akhlak
serta moralitas sebagai kehendak Tuhan sehingga hidup berdasarkan takut akan tuhan mulai
memudar sejalan dengan masa modernisme yang kian menjulang. Diakui atau tidak, selama
bertahuntahun dunia akuntansi sebagai salah satu aspek pendidikan, seakan terpasung di
persimpangan jalan, tersisih di antara hirukpikuk dan ingarbingar ambisi penguasa yang ingin
mengejar pertumbuhan ekonomi dan daya saing bangsa. Pendidikan akuntansi seolah tidak
diarahkan untuk memanusiakan manusia secara utuh dan paripurna, tetapi lebih
diorientasikan pada halhal yang bersifat materialistis, ekonomis, dan teknokratis, kering dari
sentuhan nilainilai moral, kemanusiaan, dan budi pekerti. Pendidikan akuntansi lebih
mementingkan kecerdasan intelektual, akal, dan penalaran, tanpa diimbangi dengan intensifnya
pengembangan kecerdasan hati, perasaan, emosi, dan spiritual. Akibatnya, apresiasi output
pendidikan terhadap keagungan nilai humanistik, keluhuran budi, dan budi nurani, menjadi nihil.
Menanam Benih Spiritualitas Rohaniah dalam Pendidikan Akuntansi Agama memiliki peran
yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya untuk
mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat. Menyadari peran agama
amat penting bagi kehidupan umat manusia maka internalisasi agama dalam kehidupan setiap
pribadi menjadi sebuah keniscayaan, yang ditempuh melalui pendidikan baik pendidikan di
lingkungan akuntansi sekalipun. Ludigdo (2010) seorang dosen di Fak. Ekonomi Universitas
Brawijaya, dalam diskusinya menjelaskan bahwa mata kuliah Etika dalam ranah pendidikan
akuntansi lebih menekankan pengasahan kemampuan intelektual mahasiswa dengan
mengabaikan kemampuan emosi dan kemampuan spiritual. Padahal keberhasilan hidup
seseorang ditentukan ketiga kecerdasan tersebut secara bersamaan. Dengan kesadaran demikian
kelak sebagai profesional akuntan, mahasiswa akan selalu bekerja dengan baik dan benar atas
dasar rasa tanggungjawabnya tidak saja kepada sesama manusia tetapi lebih dari itu adalah
kepada Tuhan. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan akuntansi yang menurut Mulawarman
(2008b, 2008c) adalah untuk memberikan nilainilai cinta yang melampaui pada mahasiswa
dalam bentuk sinergi akuntabilitasmoralitas. Bagi semua orang yang percaya akan keberadaan
Tuhan sebagai sumber spiritualitasnya, salah satu hal yang secara paling mendasar
mempengaruhi bagaimana seseorang memandang dunia ini, adalah konsepnya tentang Allah.
Beritahukan pada saya, apa yang seseorang percayai tentang Allah, maka saya dapat
memprediksikan apa pendapat orang tersebut dalam berbagai hal, dan bahkan bagaimana orang
tersebut akan bertindak dalam berbagai situasi. Tentu ada ruang yang lebar untuk variasi
individu, tetapi pandangan seseorang tentang Allah berada pada poros inti moralitas dan

filosofinya. Seorang atheis, misalnya, bahkan tidak percaya ada Allah. Oleh karena itu, atheis
yang konsisten, tidak akan memiliki moralitas yang absolut. Ada atheis yang tidak memiliki
moralitas sama sekali dan menunjukkan kepada dunia apa yang terjadi jika atheisme diimani
secara konsekuen sampai pada kesimpulan akhirnya. Jika tidak ada Allah, maka manusia
hanyalah binatang lainnya, dan tidak ada konsep benar atau salah. Oleh karena itu, mereka
berlaku tidak lebih dari binatang yang pintar, melakukan apapun juga yang diingini tanpa ada
rasa tanggung jawab sedikitpun. Dalam hal ini, tindakan mereka bahkan bisa lebih kejam dari
binatang, karena binatang cukup puas dengan mempertahankan hidup dan eksistensi mereka,
sedangkan manusia yang tidak bermoral dikuasai oleh nafsu yang tidak pernah mengenal cukup.
Kejayaan dalam mendidik manusia ialah bilamana seseorang itu mampu memperkenalkan Tuhan
kepada manusia lain sehingga takut dan cinta kepadaNya. Cinta dan takut itu menjadikan
manusia itu suka untuk beribadah kepada Tuhannya. Buah dari pada ibadahnya melahirkan
manusia yang baik yang boleh memberi manfaat kepada orang lain. Maka bagi orang yang ada
citacita untuk membaiki diri atau guruguru yang hendak mendidik manusia, mereka mestilah
mengetahui ilmu rohaniah ini. Sekaligus mempraktikkan ke dalam diri mereka terlebih dahulu
sehingga mereka menjadi baik. Contoh dan suri teladan yang baik daripada mereka itulah jadi
ikutan pula kepada muridmurid dan pengikutpengikutnya. Dengan katakata lain, mereka menjadi
model hamba Allah yang baik yang mampu memberi faedah kepada manusia sejagat. Jadi saya
berfikir, kalau pendidikpendidik atau guruguru bahkan anggota didik tidak ada ilmu rohaniah,
hanya faham fisikal manusia sematamata, bagaimana dia hendak mendidik muridmurid dan
pengikutpengikutnya. Tentu sekali pendidikpendidik atau guruguru serta murid-murid tadi akan
gagal.
Saat ini terkait pendidikan akuntansi berbasis spiritualitas, Fakultas Ekonomi
Universitas Brawijaya telah telah menerapakan internalisasi karakter dalam
pendidikan akuntansi. Sebut saja mata kuliah Sosio Spiritual Akuntansi sebagai
salah satu contoh Internalisasi tersebut. Melalui mata kuliah ini mahasiswa
diarahkan untuk mampu memahami akuntansi dalam konteks yang lebih luas dan
teori sosiologi dari berbagai aliran, akuntansi dalam konteks yang lebih luas
menghantarkan mahasiswa pada pola berfikir terbuka dan memahami akuntansi
sebagai disiplin dan praktik yang inksklusif, sarat nilai, dan selalu berubah sesuai
dengan perubahan sosial masyarakat melalui aspek spiritualitas. Pendidikan
akuntansi berbasis spiritualitas dimaksudkan untuk peningkatan potensi spritual
dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika,
budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari suatu pendidikan akuntansi yang
mengarah kepada basis keseimbangan. Peningkatan potensi spritual mencakup
pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilainilai religiuitas, serta pengamalan
nilainilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan.
Peningkatan potensi spritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi
berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat
dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan. Perlunya penerapan Standar Kompetensi

dan Kompetensi Dasar di bidang Pendidikan akuntansi berbasis keseimbangan,


sangat tepat dalam rangka mewujudkan model pendidikan akuntansi yang
bertujuan mencapai transformasi nilainilai spiritualitas dalam kehidupan peserta
didik pada segala jenjang pendidikan. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Pendidikan akuntansi berbasis spiritual bukanlah standar moral yang ditetapkan
untuk mengikat peserta didik, melainkan dampingan dan bimbingan bagi peserta
didik dalam melakukan perjumpaan dengan Tuhan Allah untuk mengekspresikan
hasil perjumpaan itu dalam kehidupan seharihari. Peserta didik belajar memahami,
mengenal dan bergaul dengan Tuhan Allah secara akrab karena seungguhnya Tuhan
Allah itu ada dan selalu ada dan berkarya dalam hidup mereka. Mulawarman (2010)
mengungkapkan: ...........bila pendekatan paradigmatik Barat berbeda dengan
pandangan religius seperti Islam di atas misalnya, maka apakah dimungkinkan
adanya perbedaan yang signifikan pula akan pendekatan paradigmatik dari agama
lain ? Saya kira hal itu sahsah saja. Artinya ketika pendekatan paradigmatik Barat
dirasa sesak karena adanya "ideologisasi" yang melekat pada dirinya, atau dirasa
"terlalu longgar" karena adanya "deideologisasi" paradigmatik, maka dapat
dipastikan serta perlunya ruang lain yang memberikan kebebasan atas kreativitas
atas nama ilmu untuk mengkreasi, katakanlah, Paradigma Religius Contohnya
Pelaksanaan Spiritualitas dalam pendidikan akuntansi hendaknya merupakan
pencapaian pendidikan yang budi pekerti. Dalam konteks Agama Islam, budi pekerti
digunakan untuk menyatakan akhlak, tabiat, perangai, tingkah laku seseorang.
Pengertian yang telah dikemukakan tersebut, mengindikasikan bahwa budi pekerti
mengacu pada sikap dan perilaku seseorang maupun masyarakat yang
mengedepankan norma dan etika. Pendidikan akuntansi yang ber budi pekerti
adalah usaha sadar penanaman/internalisasi nilainilai akhlak/moral dalam sikap dan
prilaku manusia peserta didik agar memiliki sikap dan prilaku yang luhur (akhlakul
karimah) dalam keseharian baik dalam berinteraksi dengan Tuhan, dengan sesama
manusia dan dengan alam lingkungan. Secara konsepsional Pendidikan Budi Pekerti
merupakan usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik menjadi manusia
seutuhnya yang berbudi pekerti luhur dalam segenap peranannya di masa yang
akan datang atau pembentukan, pengembangan, peningkatan, pemeliharaan dan
perbaikan perilaku peserta didik agar mampu melaksanakan tugastugas hidupnya
secara selaras, serasi, seimbang lahir batin, jasmanirohani, materialspiritual,
individusosial dan duniaakhirat. Dalam tataran operasional menurut Pusat
Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan (Pusbangkurandik), pendidikan
budi pekerti adalah upaya untuk membentuk peserta didik yang tercermin dalam
kata, perbuatan, sikap, pikiran, perasaan, dan hasil karya berdasarkan nilai, norma
dan moral luhur bangsa Indonesia melalui kegiatan bimbingan, pelatihan dan
pengajaran. Menurut Pusbangkurandik, Balitbang dikbud pendidikan budi pekerti
dikategorikan menjadi tiga komponen yaitu: 1)Keberagamaan, terdiri dari nilainilai
(a) kekhusukan hubungan dengan Tuhan, (b) kepatuhan kepada Agama, (c) niat baik
dan keikhlasan, (d) perbuatan baik, (e) pembalasan atas perbuatan baik dan buruk.
2)Kemandirian, terdiri dari nilainilai (a) harga diri, (b) disiplin, (c) etos kerja
(kemauan untuk berubah, hasrat mengejar kemajuan, cinta ilmu, teknologi dan

seni), (d) rasa tanggung jawab, (e) keberanian dan semangat, (f) keterbukaan, (g)
pengendalian diri. 3)Kesusilaan, terdiri dari nilainilai (a) cinta dan kasih sayang, (b)
kebersamaan, (c) kesetiakawanan, (d) tolongmenolong, (e) tenggang rasa, (f)
hormat menghormati, (g) kelayakan (kapatuhan), (h) rasa malu, (i) kejujuran dan (j)
pernyataan terima kasih, permintaan maaf (rasa tahu diri). Pada dasarnya ada tiga
ranah yang populer dikalangan dunia pendidikan yang menjadilapangan garapan
pembentukkan kepribadian peserta didik. Pertama, kognitif, mengisi otak,
mengajarinya dari tidak tahu menjadi tahu, dan pada tahaptahap berikutnya dapat
membudayakan akal pikiran, sehingga dia dapat memfungsi akalnya menjadi
kecerdasan intelegensia. Kedua, afektif, yang berkenaan dengan perasaan,
emosional, pembentukan sikap di dalam diri pribadi seseorang dengan
terbentuknya sikap, simpati, antipati, mencintai, membenci, dan lain sebagainya.
Sikap ini semua dapat digolongkan sebagai kecerdasan emosional. Ketiga,
psikomotorik, adalah berkenaan dengan aktion, perbuatan, prilaku, dan seterusnya.
Apabila disinkronkan ketiga ranah tersebut dapat disimpulkan bahwa dari memiliki
pengetahuan tentang sesuatu, kemudian memiliki sikap tentang hal tersebut dan
selanjutnya berprilaku sesuai dengan apa yang diketahuinya dan apa yang
disikapinya. Pendidikan budi pekerti, adalah meliputi ketiga aspek tersebut.
Seseorang mesti mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk. Selanjutnya
bagaimana seseorang memiliki sikap terhadap baik dan buruk, dimana seseorang
sampai ketingkat mencintai kebaikan dan membenci keburukan. pada tingkat
berikutnya bertindak, berprilaku sesuai dengan nilainilai kebaikan, sehingga
muncullah akhlak dan budi pekerti mulia. Love the Lord, your God, with all your
heart, all your soul and all your mind Dengan melihat pendidikan akuntansi
sebagai pendidikan akhlak dan pendidikan Budi pekerti di atas, dapat disimpulkan
bahwa pendidikan akuntansi berdasarkan akhlak dan budi pekerti adalah
pendidikan yang menitik beratkan pada ranah afeksi dan psikomotor siswa, yang
dalam proses pembelajaran sering terabaikan. Kedua jenis pendidikan ini
merupakan jenis pendidikan yang harapan akhirnya adalah terwujudnya peserta
didik yang memiliki integritas moral yang mampu direfleksikan dalam kehidupan
seharihari, baik dalam berinteraksi denganTuhan, dengan sesama manusia dan
dengan alam lingkungan.
Catatan Akhir Saya pun ingin mengungkapkan melalui tulisan ini bahwasannya
takut akan Tuhan adalah permulaan dari segala ilmu. Sebagai orang yang percaya
atas keberadaan Tuhan yang nyata dalam kehidupan manusia, saya ingin
mengatakan bahwa segala akhlak, segala moral, segala etika, segala kebaikan,
segala cinta kasih, adalah suatu bentuk kehendak yang sumbernya dari Tuhan demi
terwujudnya sebuah keseimbangan bagi segala apek kehidupan di muka bumi ini.
Seiring dengan perubahan dan dinamika masyarakat yang terus bergerak menuju
arus globalisasi, problem dan tantangan yang harus dihadapi oleh dunia pendidikan
akuntansi makin rumit dan kompleks. Pendidikan akuntansi tidak hanya dituntut
untuk mampu melahirkan generasigenerasi yang cerdas secara intelektual, tetapi
juga diharapkan dapat menciptakan generasi bangsa yang cerdas secara emosional

dan spiritual. Dengan kata lain, pendidikan akuntansi dituntut untuk mampu
melahirkan generasi yang utuh dan paripurna. Namun, melahirkan generasi
yang utuh dan paripurna semacam itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Tidak
sedikit orang yang tidak puas terhadap keberadaan akuntansi saat ini. Akuntansi
dianggap hanya ilmu alat sebagai peninggalan penjajahan (Belanda) di Indonesia
masa lalu. Ditambah lagi, begitu banyaknya skandal yang dilatar belakangi
akuntansi yang mencuat dipermukaan publik saat ini, sebut saja pernah ada kasus
Enron, dan ada lagi skandal Gayus Tambunan dalam kasus mafia pajak terbesar
saat ini di Indonesia dan lain sebagainya. Pada dasarnya, pendidikan akuntansi
adalah pendidikan yang terkait dengan tanggung jawab atau
mempertanggungjawabkan sesuatu. Diakui atau tidak, selama bertahuntahun dunia
akuntansi sebagai salah satu aspek pendidikan, seakan terpasung di persimpangan
jalan, tersisih di antara hirukpikuk dan ingarbingar ambisi penguasa yang ingin
mengejar pertumbuhan ekonomi dan daya saing bangsa. Pendidikan akuntansi
seolah tidak diarahkan untuk memanusiakan manusia secara utuh dan
paripurna, tetapi lebih diorientasikan pada halhal yang bersifat materialistis,
ekonomis, dan teknokratis, kering dari sentuhan nilainilai moral, kemanusiaan, dan
budi pekerti. Pendidikan akuntansi lebih mementingkan kecerdasan intelektual,
akal, dan penalaran, tanpa diimbangi dengan intensifnya pengembangan
kecerdasan hati, perasaan, emosi, dan spiritual. Akibatnya, apresiasi output
pendidikan terhadap keagungan nilai humanistik, keluhuran budi, dan budi nurani,
menjadi nihil. Akhir kata, menanam benih yang baik, tentu akan menuai hasil yang
baik pula. Apapun yang sifatnya demi kebaikan berdasarkan the power of love
adalah apa yang diwajibkan Tuhan sebagai jalan yang benar. Keberadaan Tuhan
dalam dunia pendidikan akuntansi adalah mutlak. Membangun sebuah kecerdasan
spiritual yang berlandaskan kecerdasan hati, perasaan, emosi, dan spiritual yang
rohaniah dalam akuntansi adalah jembatan menuju pencapaian kehendak Tuhan
bagi segala aspek kehidupan, termasuk pendidikan akuntansi menuju
keseimbangan segala aspek. Semoga.