Vous êtes sur la page 1sur 10

ANALISIS JURNAL

A. Judul
Pengaruh Kompres Hangat Rebusan Jahe Terhadap Tingkat Nyeri Subakut dan
Kronis pada Lanjut Usia dengan Osteoarthritis Lutut di Puskesmas Arjuna
Kecamatan Klojen Malang Jawa Timur
B. Latar Belakang Masalah
Prevalensi osteoarthritis pada lanjut usia setiap tahunnya selalu mengalami
peningkatan. Menurut organisasi kesehatan dunia WHO, (2004) prevalensi
penderita osteoarthritis di dunia pada tahun 2004 mencapai 151,4 juta jiwa dan
27,4 juta jiwa berada di Asia Tenggara. Angka osteoarthritis total di Indonesia
34,3 juta orang pada tahun 2002. Pada tahun 2007 mencapai 36,5 juta orang dan
40% dari populasi usia di atas 70 tahun menderita osteoarthritis dan 80%
mempunyai keterbatasan gerak dalam berbagai derajat dari ringan sampai berat
(Tangtrakulwanich, 2006). Di Indonesia, prevalensi osteoartritis mencapai 5%
pada usia <40 tahun, 30% pada usia 40-60 tahun, dan 65% pada usia >61 tahun
serta osteoarthritis lutut secara radiologi cukup tinggi yaitu mencapai 15,5% pada
pria dan 12,7% pada wanita (Dewi S.K, 2009).
Osteoarthtritis menimbulkan berbagai masalah kesehatan yaitu penurunan
kemampuan fisiologis, perubahan psikologis, keterbatasan interaksi social,
keterbatasan

dalam

melaksanakan

kebutuhan

spiritual

dan

menurunnya

produktivitas kerja (DEPSOS RI, 2006). Masalah ekonomi, psikologi dan sosial
dari osteoarthritis sangat besar, tidak hanya untuk penderita tetapi juga keluarga
dan lingkungan (Conaghan, 2008).
Masalah fisiologis pada lanjut usia dengan osteoarthtritis adalah nyeri
(Potter, 2005). Nyeri pada osteoarthritis disebabkan oleh synovial dan degradasi
kartilago berkaitan dengan degradasi kolagen dan proteoglikan oleh enzim
autolitik seluler. Secara makroskopis tampak iregularitas pada permukaan tulang
rawan

yang

dilanjutkan

dengan

ulserasi

dan

penurunan

kandungan

glikosaminoglikan yang terdiri dari kondroitin sulfat, keratin sulfat dan asam
hialuronat terjadi fibrilasi atau iregularitas oleh karena mikrofraktur pada
permukaan rawan sendi yang memiliki serabut saraf C berdiameter kecil tidak
1

bermielin-nocireseptor. Nocireseptor ini mampu melepaskan substansi P dan


calcitonin gene related peptide (CGRP) menstimulasi respon nyeri dan inflamasi
(Brunner dan Suddart, 2010).
Terapi yang diberikan untuk mengatasi nyeri baik serangan subakut dan
kronis pada lanjut usia dengan osteoarthritis adalah terapi farmakologi dari
golongan analgesik dan antiinflamasi seperti Non Steroid Anti Inflamatory Drugs
(NSAIDs) dan Disease Modifying Antirheumatoid Drugs (DMARDs) (Brunner &
Suddarth, 2010). Efektifitas terapi farmakologi tersebut bertujuan mengatasi nyeri
sendi akibat inflamasi yang sering dijumpai, melindungi sendi dan tulang dari
proses destruksi (WHO, 2010).
Kekurangan terapi farmakologi dari golongan analgesik dan antiinflamasi
seperti NSAID dan DMARD dapat memperberat kondisi osteoarthritis karena
konsumsi dalam jangka waktu lama yang merupakan faktor penyebab morbiditas
dan mortalitas utama (Brunner & Suddarth, 2010). NSAID tidak memiliki khasiat
yang dapat melindungi rawan sendi dan tulang, efek analgesiknya lemah, tidak
menghentikan kerusakan musculoskeletal (WHO, 2010). Kekurangan terapi
NSAID pada sistem organ yang lain dapat menyebabkan erosi mukosa lambung,
ruam atau erupsi kulit, menimbulkan nekrosis papilar ginjal, gangguan fungsi
trombosit dan meningkatkan tekanan darah (Brunner & Suddarth, 2010).
Efektifitas kompres hangat meningkatkan aliran darah untuk mendapatkan
efek analgesik dan relaksasi otot sehingga proses inflamasi berkurang (Lemone &
Burke, 2001). Terapi kompres hangatdilakukan pada stadium subakut dan kronis
pada osteoarthritis untuk mengurangi nyeri, menambah kelenturan sendi,
mengurangi penekanan (kompresi) dan nyeri pada sendi, melemaskan otot dan
melenturkan jaringan ikat (tendon ligament extenbility) (Junaidi, 2006). Penelitian
tentang kompres hangat pada osteoarthritis telah dilakukan oleh Andrea, (2002)
meneliti pengaruh kompres hangat terhadap nyeri pada lanjut usia dengan
osteoarthritis di Rumah Sakit Rehabilitasi Medik Semarang untuk mendapatkan
efek analgetik dan relaksasi otot untuk mengontrol dan megatasi nyeri sehingga
keluarga mampu memberikan perawatan dasar lanjut usia di rumah. Kandungan
jahe bermanfaat untuk mengurangi nyeri osteoarthritis karena jahe memiliki sifat
pedas, pahit dan aromatic dari oleoresin seperti zingeron, gingerol dan shogaol.

Oleoresin memiliki potensi antiinflamasi dan antioksidan yang kuat. Kandungan


air dan minyak tidak menguap pada jahe berfungsi sebagai enhancer yang dapat
meningkatkan permeabilitas oleoresin menembus kulit tanpa menyebabkan iritasi
atau kerusakan hingga ke sirkulasi perifer(Swarbrick dan Boylan, 2002).
Penelitian tentang manfaat jahe adalah Jolad, (2004) meneliti kandungan
rizoma jahe segar dan Wohlmuth, (2005) meneliti kandungan zat aktifnya dari
oleoresin yang terdiri dari gingerol, songaol dan zingeberence yang merupakan
homolog dari fenol melalui proses pemanasan. Degradasi panas dari gingerol
menjadi gingerone, shogaol dan kandungan lain terbentuk dengan pemanasan
rimpang kering dan segar pada suhu pelarut air 100C (Badreldin, 2007).
Komponen jahe mampu menekan inflamasi dan mampu mengatur proses biokmia
yang mengaktifkan inflamasi akut dan kronis seperti osteoarthritis dengan
menekan pro-inflamasi sitokinin dan cemokin yang diproduksi oleh sinoviosit,
condrosite, leukosit dan jahe ditemukan secara efektif menghambat ekspresi
cemokin (Phan, 2005).
C. Metode
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kompres hangat
rebusan jahe terhadap tingkat nyeri subakut dan kronis pada lanjut usia dengan
Osteoarthritis lutut. Metode penelitian ini menggunakan Quasy Eksperiment
Design dengan rancangan one group pretest-posttest artinya responden di
observasi tingkat nyeri sendi lutut sebelum dan setelah diberikan kompres hangat
rebusan jahe. Populasi lanjut usia dengan osteoarthritis lutut di Posyandu Lanjut
usia RT.03 Kelurahan Penanggungan binaan Puskesmas Arjuna Kecamatan Klojen
Malang Jawa Timur terhitung pada bulan Desember berjumlah 31 orang. Peneliti
menggunakan teknik total sampling. Peneliti mengumpulkan data selama dua hari
yaitu data sekunder lanjut usia dengan osteoarthritis lutut dari Puskesmas Arjuna
dan peneliti melakukan anamnese kepada lanjut usia dengan osteoarthritis lutut
saat Posyandu untuk mengetahui keluhan nyeri yang di alami. Lanjut usia dengan
osteoarthritis lutut yang mengalami nyeri yang mengikuti kegiatan Posyandu
Lanjut Usia di RW. 03 Kelurahan Penanggungan pada Puskesmas Arjuna
Kecamatan Klojen Malang Jawa Timur berjumlah 31 orang. Responden yang
memenuhi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi sebanyak 27 orang. Responden

yang memenuhi kriteria inklusi, kriterian eksklusi dan menandatangai lembar


inform counsent sebanyak 20 orang dan bersedia mengikuti penelitian.
Penelitian

dilakukan

dengan

mengobservasi

tingkat

nyeri

pada

osteoarthritis lutut sebelum dan setelah pemberian kompres hangat rebusan jahe
selama 4 hari berturut-turut selama 20 menit dengan mengunakan Visual Analog
Scale (VAS).
D. Hasil Penelitian
Penelitian pengaruh kompres hangat rebusan jahe terhadap tingkat nyeri
pada lanjut usia dengan osteoarthritis lutut di RT.03 Posyandu Penanggungan
Puskesmas Arjuna Kecamatan Klojen Malang Jawa Timur 6 telah dilaksanakan
pada tanggal 3-7 Desember 2012.
1. Karakteristik Responden
Usia responden paling banyak adalah lanjut usia 55-70 tahun sejumlah 16
responden atau sebesar 80%. Jenis kelamin responden paling banyak adalah
wanita sejumlah 17 orang atau sebesar 85%. Kebiasaan merokok responden
sebanyak 18 orang atau 90% responden tidak merokok. Indeks masa tubuh
responden terhadap tingkat penyakit rendah sejumlah 5 responden atau sebesar
25% dan sedang sejumlah 15 responden atau 75%. Responden yang mengalami
trauma sebanyak 15 responden atau sebesar 75% dan tidak mengalami trauma
sebanya 5 orang atau sebesar 25%. Aktivitas responden sebagai pedagang
sejumlah 8 responden (40%), sebagai IRT 6 (30%) responden, sebagai karyawan 4
responden (20%) dan swasta sebanyak 2 responden atau sebesar (10%).
Kebiasaan olah raga yang dilakukan responden adalah sebanyak 17 responden
yaitu sebesar 85%.
2. Kompres Hangat Rebusan Jahe
Responden yang mendapat kompres di lutut kanan sebanyak 13 responden
yaitu sebesar 65%, lutut kiri 4 responden atau sebesar 20%, lutut kanan dan kiri
sebanyak 3 responden sebesar 15%. Responden yang minum obat tidak teratur
sebanyak 15 responden atau sebesar 75% dan responden yang mengalami nyeri
lutut dengan osteoarthritis lebih dari 6 bulan sebanyak 12 responden yaitu sebesar
60%.
3. Tingkat Nyeri Sebelum dan Sesudah Kompress Hangat Rebusan Jahe

Skala

nyeri

sendi

yang

mengalami

penurunan

pada

responden

osteoarhtritis lutut post tindakan adalah 100%. Pada tabel hasil penelitian, skala
nyeri sendi pada data pre tertinggi adalah skala 8 sebanyak 2 responden
sedangkan pada post adalah skala 5.
4. Pengaruh Kompres Hangat Rebusan Jahe Terhadap Nyeri
Analisa bivariate digunakan untuk mengetahui apakah ada pengaruh
pemberian kompres hangat rebusan jahe terhadap tingkat nyeri subakut dan kronis
pada lanjut usia dengan Osteoarthritis dan menjelaskan karakteristik responden
yaitu usia, jenis kelamin dan tingkat penurunan nyeri dengan menggunakan Uji T
(T-Test) : Uji Beda Dua Mean Dependent (Paired Sample Test) dengan batas
kemaknaan (nilai alpha) sebesar 5%. Dari hasil uji statistic didapatkan p value ()
= 0,000, dengan tingkat kepercayaan 95 % atau = 0,05 berarti p Value < alpha
yang artinya Ho di tolak sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan
rerata skala nyeri sendi yang bermakna antara klien osteoarthritis lutut sebelum
pemberian kompres hangat rebusan jahe dengan setelah diberikan kompres hangat
rebusan jahe dan dapat disimpulkan bahwa hipotesisnya terdapat pengaruh
kompres hangat rebusan jahe terhadap perubahan nyeri sendi pada klien
osteoarthritis lutut.
E. Analisa Pembahasan
1. Kompres Hangat Rebusan Jahe
Kompres hangat rebusan jahe di berikan pada lutut sebelah kanan dan/atau
kiri yang mengalami nyeri, responden yang mendapat terapi obat dan lama nyeri
yang dirasakan lanjut usia sebanyak 20 responden. Pemberian tindakan kompres
hangat 7 rebusan jahe tersebut sesuai dengan prosedur pelaksanaan tindakan
kompres. Responden yang mendapat kompres di lutut kanan sebanyak 13
responden yaitu sebesar 65%, lutut kiri 4 responden atau sebesar 20%, lutut kanan
dan kiri sebanyak 3 responden sebesar 15%. Responden yang minum obat tidak
teratur sebanyak 15 responden atau sebesar 75% dan responden yang mengalami
nyeri lutut dengan osteoarthritis lebih dari 6 bulan sebanyak 12 responden yaitu
sebesar 60%.
Nyeri osteoarthritis tersembunyi pada saat onset tetapi muncul secara
progresif. Nyeri ini merupakan campuran berbagai macam nyeri/penyakit dari
beberapa struktur (tulang, synovial, ligament dan kapsul otot) pasien sering sulit
menjelaskan nyerinya terdapat pada saat istirahat dan nyeri bertambah dengan

aktivitas terutama pada penumpu berat badan. Malam harus nyeri bertambah
(berkaitan dengan suhu tubuh) sehingga terjadi peningkatan aliran darah dan
stimulasi pada reseptor nyeri (Thomas, 2005).
Pemberian kompres hangat rebusan jahe di lakukan oleh peneliti
berdasarkan prosedur pada stadium subakut dan kronis untuk mengurangi nyeri,
menambah kelenturan sendi, melemaskan otot dan melenturkan jaringan ikat
(tendon ligament extenbility).
2. Tingkat Nyeri
Skala nyeri sendi pada data pre tertinggi adalah skala 8 sebanyak 2
responden yaitu skala nyeri yang sangat mengganggu aktivitas responden. Pada
data post tertinggi adalah skala nyeri 5. Nyeri pada Osteoarthritis Lutut
merupakan campuran berbagai macam nyeri/penyakit dari beberapa struktur
(tulang, synovial, ligament dan kapsul otot) pasien sering sulit menjelaskan
nyerinya terdapat pada saat istirahat dan nyeri bertambah dengan aktivitas
terutama pada penumpu berat badan. Malam hari nyeri bertambah (berkaitan
dengan suhu tubuh) sehingga terjadi peningkatan aliran darah dan stimulasi pada
reseptor nyeri (Thomas, 2005).
Hasil penelitian ini mendukung penjelasan teori-teori yang sudah ada.
Penderita osteoarthritis lutut mengalami nyeri sendi pada tingkat skala nyeri 8
yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari penderita tetapi masih bisa dikontrol.
3. Pengaruh Kompres Hangat Rebusan Jahe Terhadap Tingkat Nyeri
Dari hasil analisa data dengan program SPSS for windows versi 17.0
menggunakan Hasil pengukuran tingkat nyeri dilakukan Uji T (t-test) : Uji Beda
Dua Mean Dependent (Paired Sample Test) dengan batas kemaknaan (nilai alpha)
sebesar 5% untuk mengetahui kekuatan pengaruh kompres hangat rebusan jahe
terhadap penurunan tingkat nyeri pada lanjut usia dengan osteoarthritis
menghasilkan rata-rata (mean) skala nyeri sendi sebelum diberikan kompres
hangat sebesar 2,20 dengan standar deviasi 0,523. Rata-rata skala nyeri sendi
setelah diberikan kompres hangat sebesar 1,25 dengan standar deviasi 0,444. Dari
hasil uji statistic didapatkan p Value (\) = 0,000, dengan tingkat kepercayaan 95
% atau = 0,05 berarti p Value < alpha yang artinya Ho di tolak sehingga dapat
disimpulkan bahwa terdapat perbedaan rerata skala nyeri sendi yang bermakna
antara klien dengan 8 osteoarthritis lutut sebelum pemberian kompres hangat

rebusan jahe dengan setelah diberikan kompres hangat rebusan jahe dan dapat
disimpulkan bahwa hipotesisnya terdapat pengaruh kompres hangat rebusan jahe
terhadap perubahan nyeri sendi pada klien lanjut usia dengan osteoarthritis lutut.
F. Kelebihan Dan Kekurangan
Kelebihan
1. Jurnal ini menggunakan rancangan one group pretest-posttest sehingga
observasi penurunan nyeri dapat dibuktikan karena penggunaan kompres
hangat.
2. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini cukup mewakili untuk
dilakukan Quasy Eksperiment Design.
3. Jurnal ini memberikan modifikasi mengenai kompres untuk menangani
masalah nyeri sendi.
Kekurangan
1. Jurnal ini tidak menjelaskan bagaimana cara menggunakan kompres
dengan jahe.
2. Jurnal ini membutuhkan penelitian lanjutan untuk memperoleh informasi
lebih lanjut mengenai kompres untuk nyeri sendi.
G. Kesimpulan
Skala nyeri sebelum kompres hangat rebusan jahe pada lanjut usia dengan
osteoarthritis lutut dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti usia, jenis kelamin,
merokok, Basal Metabolic Index (BMI), aktivitas, lama penyakit, mendapatkan
terapi dan riwayat trauma lutut.
Skala nyeri sendi pada data pre tertinggi adalah skala 8 sebanyak 2
responden yaitu skala nyeri yang sangat mengganggu aktivitas responden
sedangkan skala nyeri pada data post tertinggi adalah skala 5 sehingga secara
keseluruhan penurunan skala nyeri di dapatkan data rata-rata penurunan skala
nyeri yaitu sebesar 2,75. Pengukuran skala nyeri, didapatkan skala nyeri rendah
yaitu sejumlah 1 respoden (5%). Nyeri sedang menjadi nyeri rendah sejumlah 12
responden (10%) dan tetap sebanyak 2 responden (10%). Nyeri berat menjadi
nyeri rendah sebanyak 2 responden (10%), nyeri sedang sebanyak 3 responden
(15%).
Dari hasil uji statistic didapatkan p Value (\) = 0,000 dengan tingkat
kepercayaan 95 % atau = 0,05 berarti p Value < alpha yang artinya Ho di tolak
sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh kompres hangat rebusan
7

jahe terhadap penurunan tingkat nyeri sendi pada klien lanjut usia dengan
osteoarthritis lutut.
H. Implikasi Keperawatan
1. Implikasi bagi Tenaga Kesehatan/Perawat
Menjadi bahan acuan untuk intervensi memberikan kompres hangat pada
nyeri sendi.
Perawat dapat mengetahui perawatan yang tepat bagi pasien dengan
nyeri sendi.
2. Implikasi bagi Pendidikan
Jurnal ini memberikan acuan pendidikan mengenai perawatan pada pasien
nyeri sendi akibat asam urat.

DAFTAR PUSTAKA
Abbate Lauren M., Stevens June, Schwartz Todd A., et al. (2006). Anthropometric
Measures, Body Composition, Body Fat Distribution, and Knee
Osteoarthritis in Women. The North American Association for the Study
of Obesity, 14 : 1274-1281.
Amin, Niu Jingbo, Hunter David, et al. Smoking Worsens Knee Osteoarthritis.
News Center Oklahoma City, Oklahoma USA, 2006 : 1-4.
Anonim, (2004), Penyusunan Pedoman Penelitian Obat Bahan Alam. Pusat Riset
Obat dan Makanan, Badan POM. Jakarta.
Badreldin. (2007). Some Phytochemical, Pharmacological, and Toxikological
Properties of Ginger (Zingiberaceae Officinaleae Roscoe) : A Review Of
Recent Research. Sience Direct, Elsevier.

Brunner & Suddarth. (2010). Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC.


Candra, Syafei. (2010). Permasalahan Penyakit Rematik Dalam Sistem Pelayanan
Kesehatan. (Bone and Joint Decade). http://health.detik.com.
Carpenito, Lynda Juall. (2000). Diagnosa
Keperawatan. Jakarta : EGC.

dan

Perencanaan

Tindakan

Carter MA. (2006). Osteoartritis. In : Price SA, Wilson LM. Patofisiologi :


Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. 6th ed. Jakarta : EGC. p. 1380-4.
Conaghan, P.G., Dickson, J., dan Grant, R.L., (2008). Care And Management Of
Osteoarthritis In Adults: Summary of NICE guidance. British Medical
Journal.http://muse.jhu.edu/journals/journal_of_democracy/related/v019/
19.2conaghan.html. [diakses pada tanggal 13 Maret 2010].
Corwin, E. (2009). Buku Saku Patofisiologi. EGC : Jakarta.
Departemen Sosial RI. (2006). Pedoman Pendampingan dan Perawatan Lanjut
Usia di Lingkungan Keluarga (Home Care). Jakarta : ECG.
Departemen Sosial RI. (2006). Standarisasi Perlindungan Sosial dan Aksebilitas
Lanjut Usia. Jakarta : DEPSOS RI.
Dewi SK. (2009). Osteoarthritis : Diagnosis, Penanganan dan Perawatan Di
Rumah. Fitramaya : Yogyakarta.
Dieppe Paul A., Lohmander L. Stefan. (2005). Pathogenesis and Management of
Pain in Osteoarthritis. The Lancet, 365 : 965-973.
Felson D.T, Zhang Y., Hannan M.T., et al. (1995). The Incidence and Natural
History of Knee Osteoarthritis in the Elderly : The Framingham
Osteoarthritis Study. Arthritis Rheumatology ; 38 : 1500 1505.
Felson D.T., Osteoarthritis New Insights. (2000). The Disease and Its Risk
Factors. Part 1. Ann Intern Med, 133 : 637-639.
Felson D.T., Osteoarthritis New Insights. Part 1 : The Disease and Its Risk
Factors. Ann Intern Med, 2000; 133 : 637 639.
Lemone & Burke, (2001). Medical Surgical Nursing; Critical Thinking in Client
Care, Third Edition, California : Addison Wesley Nursing.
Maetzel A., Makela M., Hawker G., et al. (1997). Osteoarthritis of the Hip and
Knee and Mechanical Occupational Exposure : A Systematic Overview
of the Evidence,; 24 : 599 607.

Muchlisah, F., (2005), Tanaman Obat Keluarga, 1-3, Cetakan ke-4, Penerbit.
Swadaya, Jakarta. Oliveria S.A., Felson D.T., Reed J.L., et al. (1995).
Incidence of Symptomatic Hand, Hip and Knee Osteoarthritis among
Patients in a Health Maintenance Organization. Arthritis Rheum ; 38 :
1134 1141.
Paimin, Farry B. dan Murhananto. (2008). Budidaya, Pengolahan dan
Perdagangan Jahe. PT Penebar Swadaya, Anggota IKAPI, Jakarta.
Parjoto, S. (2000). Assesment Fisioterapi pada OA Sendi Lutut, TITAFI XV,
Semarang.
Robbins SL. (2007). Sistem Muskuloskeletal Dalam Buku Ajar Patofisiologi.. Alih
bahasa, Brahm U. Ed 7. Vol 2. Jakarta. ECG;.h.862-8. Rukmana R,
(2000). Usaha Tani Jahe. Kanisius. Yogyakarta.
Santoso, Hieronymus Budi, (2009). Jahe. Kanisius, Yogyakarta.
Setiabudi, Toni. (2010). Panduan Gerontologi Tinjauan Dari Berbagai Aspek
Menjaga Keseimbangan Kualitas Hidup Para Lanjut Usia. Jakarta :
Gramedia.
]Thomas, R., Gunter, L., Joachim, S., Michael, W., dan Richard, G., (2005). Pain
and Osteoarthritis in Primary Care : Factors Associated with Pain
Perception in a sampleof 1021Patients. Dalam : Anonymous, ed. Pain
Medicine Volume 9 Number 7 2005.American Academy of Pain Medicine
: Blackwell Publishing Limited, 905- 910.
World Health Organization, (2004). Global Burden Of Disease Report 2004
Update. Direktorat World Health Organization. World Health
Organization.
WHO. (2010). A Tabulation Of Available Data On The Frequency and Mortality
Of Rheumatology (Bone and Joint Decade). Geneva.

10