Vous êtes sur la page 1sur 142

ASPEK HUKUM PEMBERIAN KREDIT DENGAN

JAMINAN DEPOSITO (KREDIT BACK TO BACK)


DI PT. BANK DANAMON INDONESIA, TBK
KANTOR CABANG MANADO

Tesis
untuk memenuhi sebagaian persyaratan
mencapai derajat Sarjana S-2
Program Studi Magister Kenotariatan

diajukan oleh :

Raimond Flora Lamandasa


18884/PS/MK/06

kepada

PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2008
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis persembahkan ke hadirat Tuhan Yang Maha

Kuasa yang telah menganugerahkan berkat, kesehatan dan kekuatan sehingga penulis

dapat menyelesaikan tesis ini dengan judul : ASPEK HUKUM PEMBERIAN

KREDIT DENGAN JAMINAN DEPOSITO (KREDIT BACK TO BACK) DI PT.

BANK DANAMON INDONESIA, TBK KANTOR CABANG MANADO.

Tesis ini disusun guna memenuhi sebagian persyaratan dalam mencapai

derajat Sarjana S-2 pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum

Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Penulis menyadari bahwa masih terdapat

kekurangan-kekurangan dalam tesis ini, baik dalam substansi maupun sistematika

penyajiannya. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun

guna kesempurnaannya lebih lanjut.

Dalam proses perkuliahan hingga pada penyusunan tesis ini, penulis telah

banyak menerima dukungan moriil maupun materiil dari berbagai pihak, untuk itu

melalui kesempatan ini perkenankanlah penulis mengucapkan rasa terima kasih dan

penghargaan yang tidak terhingga kepada semua pihak yang telah mendukung penulis

dalam studi selama ini. Teristimewa, ucapan terima kasih dan penghargaan ini penulis

sampaikan secara khusus kepada, yang terhormat :

1. Bapak Taufiq El Rahman, S.H., M.H., selaku Dosen Pembimbing Akademik

sekaligus selaku Dosen Pembimbing Tesis, yang telah banyak membantu,

iv
memotivasi, dan memberikan waktunya dalam pembimbingan hingga

selesainya tesis ini.

2. Bapak Dr. Marsudi Triatmodjo, S.H., L.L.M., selaku Dekan Fakultas Hukum

Universitas Gadjah Mada.

3. Bapak Prof. Dr. Abdul Ghofur Anshori, S.H., M.H., selaku Ketua Pengelola

Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Gadjah Mada, Bapak Prof.

Dr. Sudjito, S.H., MSi., selaku Pengelola Bidang Akademik dan

Kemahasiswaan, serta Bapak Sularto, S.H., C.N., M.H., selaku Pengelolah

Bidang Administrasi Umum dan Keuangan.

4. Management PT. Bank Danamon Indonesia, TBk Kantor Cabang Manado,

beserta staffnya di Bagian Marketing, Bagian Administrasi Kredit, Bagian

Legal dan Bagian Collection, yang telah memberikan kesempatan kepada

penulis untuk berdiskusi dalam pelaksanaan penelitian lapangan di sela-sela

pekerjaannya masing-masing.

5. Ibu Anne Hommes dan Bapak Prof. Dr. Tj. Hommes di Maine - Amerika

Serikat, yang selalu memberikan motivasi kepada penulis untuk lebih berkarya

demi kemanusiaan.

6. Ibu Marie Claire Barth di Bassel - Swiss, yang juga banyak memberikan

motivasi untuk keberhasilan study penulis.

7. United Church of America yang telah membantu keuangan penulis dengan

beasiswa yang sangat berarti selama penulis mengikuti pendidikan Magister

Kenotariatan di UGM.

v
8. Para Guru Besar Pengasuh Mata Kuliah Program Studi Magister Kenotariatan

Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada.

9. Seluruh Dosen Pengasuh Mata Kuliah Program Magister Kenotariatan, bersama

staff karyawan/karyawati pada Program Studi Magister Kenotariatan.

10. Seluruh staff karyawan/karyawati Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas

Gadjah Mada.

11. Isteri penulis, yang tercinta Ir. Gladys Peuru, M.Si., yang dalam kesibukannya

sebagai mahasiswa S3 Institut Pertanian Bogor (IPB), bersama anak-anak kami,

yang tersayang : Canty Gracella Lamandasa, Cindy Daniella Lamandasa, Cinta

Immanuella Lamandasa dan Chanto Joshua Lamandasa, yang dengan setia dan

penuh pengertian atas keterpisahan selama studi, tekun berdoa dan selalu

memotivasi penulis untuk menyelesaikan studi.

12. Ibu bapak, kakak-kakak (Ir. Sulzofyan Lamandasa, Sherly Lamandasa, SE,

MSi, Ir. Nopelius Lamandasa) dan adik penulis (Ir. Lewingston Lamandasa),

serta ayah ibu mertua yang juga turut mendoakan dan memotivasi penulis agar

sukses selalu dalam studi.

13. Teman-teman MKN angkatan tahun 2006, yang tidak dapat penulis sebutkan

satu persatu.

14. Teman-teman kost di Jl. Jetisharjo No.560 Jetis II Yogyakarta.

Dengan kerendahan hari, penulis berharap kiranya tesis ini dapat menjadi

masukan yang bermanfaat bagi PT. Bank Danamon Indonesia, TBk dan atau kepada

siapa saja yang membutuhkan informasi sehubungan dengan materi tesis ini.

vi
Akhirnya, satu babak dalam perjalanan hidup ini tercapai sudah, telah terbuka

titik awal jalan baru untuk ditempuh dalam asa perjalanan hidup ini. Semoga harap

dan cita yang selalu menyemangati penulis selama ini bisa terealisasi hanya dalam

Pimpinan dan Anugerah dari Tuhan Yesus Kristus, amien.

Yogyakarta, Januari 2008

Raimond Flora Lamandasa

vii
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL …………………………………………………………. i


HALAMAN PENGESAHAN ………………………………………………. ii
HALAMAN PERNYATAAN ………………………………………………. iii
KATA PENGANTAR ………………………………………………………. iv
DAFTAR ISI ………………………………………………………………… viii
DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………………… xi
INTISARI …………………………………………………………………… xii
ABSTRACT ………………………………………………………………… xiii

I. PENDAHULUAN ………………………………………………………… 1
A. Latar Belakang.………………………………………………………… 1
B. Perumusan Masalah …………………………………………………… 8
C. Keaslian Penelitian …………………………………………………….. 9
D. Tujuan Penelitian ……………………………………………………… 9
E. Kegunaan Penelitian …………………………………………………… 10

II. TINJAUAN PUSTAKA …………………………………………………… 11


A. Tinjauan Umum Tentang Perjanjian …………………………………... 11
1. Pengertian Perjanjian dan Perikatan ………………………………. 11
2. Syarat Sahnya Suatu Perjanjian …………………………………… 14
3. Berakhirnya Perjanjian ……………………………………………. 19
4. Wanprestasi ……………………………………………………….. 21

viii
B. Tinjauan Tentang Kredit dan Perjanjian Kredit ………………………. 24
1. Pengertian Kredit …………………………………………………. 24
2. Jenis-Jenis Kredit …………………………………………………. 32
3. Perjanjian Kredit ………………………………………………….. 33
4. Kredit Bermasalah .............................…………………………….. 38
5. Penanganan Kredit Bermasalah .............................………………… 42

C. Tinjauan Tentang Jaminan ……………………………………………. 43


1. Pengertian Jaminan ……………………………………………….. 43
2. Klasifikasi Jaminan Kredit ……………………………………….. 45

D. Tinjauan Tentang Gadai Sebagai Salah Satu Lembaga Jaminan …….. 47


1. Pengertian Gadai …………………………………………………. 47
2. Sifat Perjanjian Gadai Sebagai Perjanjian Accesoir .……………. 49
3. Hak dan Kewajiban Kreditur Pemegang Gadai …………………. 50
4. Hak dan Kewajiban Debitur / Penjamin Pemberi Gadai ………… 51
5. Berakhirnya Perjanjian Gadai ……………………………………. 53

E. Tinjauan Tentang Deposito Sebagai Jaminan Kredit …………………. 53


1. Pengertian Deposito ………………………………………………. 53
2. Jenis-Jenis Deposito ………………………………………………. 55
3. Deposito Sebagai Jaminan Kredit ………………………………… 56
4. Tata Cara Pengikatan Deposito Sebagai Jaminan Kredit ………… 57

III. CARA PENELITIAN ……………………………………………………. 60


A. Sifat Penelitian ……………………………………………………….. 60
B. Jenis Penelitian ……………………………………………………….. 61
1. Penelitian Kepustakaan ……………………………………………. 61
2. Penelitian Lapangan ………………………………………………. 62

ix
C. Jalannya Penelitian …………………………………………………… 64
D. Analisa Data …………………………………………………………. 65
E. Hambatan-Hambatan Yang Dihadapi dan Cara Mengatasinya ……… 65

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN …………………………. 67


A. Gambaran Umum PT. Bank Danamon Indonesia ……………………. 67
1. Sejarah Singkat PT. Bank Danamon Cabang Manado ……………. 67
2. Bank Danamon Kantor Cabang Manado …………………………. 71
3. Pencapaian Bisnis PT. Bank Danamon Cabang Manado …………. 73

B. Pelaksanaan Kredit Dengan Jaminan Deposito ……………………… 74


1. Hasil Penelitian ……………………………………………………. 74
2. Pembahasan ……………………………………………………….. 88

C. Pencairan Depoito Jaminan Yang Tidak Turut Ditandatangani ……… 92


1. Hasil Penelitian ……………………………………………………. 92
2. Pembahasan ……………………………………………………….. 96

V. PENUTUP ……………………………………………………………….. 101


A. Kesimpulan …………………………………………………………... 101
B. Saran ………………………………………………………………….. 102

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………... 104

x
DAFTAR LAMPIRAN

I. Surat Perjanjian Kredit Bank Danamon Indonesia


II. Surat Perjanjian Gadai Deposito Bank Danamon
III. Surat Kuasa Mencairkan Deposito Jaminan Bank Danamon
IV. Surat Kuasa Debet Rekening Bank Danamon

xi
ASPEK HUKUM PEMBERIAN KREDIT DENGAN JAMINAN DEPOSITO
(KREDIT BACK TO BACK)
DI PT. BANK DANAMON INDONESIA, TBK KANTOR CABANG MANADO

Raimond Flora Lamandasa, 1 dan Taufiq El Rahman 2

INTISARI

Tujuan penelitian ini ialah : (1) untuk mengetahui bagaimana PT.Bank


Danamon Indonesia, TBk Kantor Cabang Manado melakukan pengikatan jaminan
deposito yang perjanjiannya tidak turut ditandatangani oleh isteri atau suami pemilik
deposito, dalam menjamin kredit back to back; (2) untuk mengetahui bagaimana
PT.Bank Danamon Indonesia, TBk Kantor Cabang Manado melakukan pencairan
deposito jaminan yang pengikatannya tidak turut ditanda tangani oleh istri atau suami
pemilik deposito jika debitur kredit back to back tersebut wanprestasi.
Penyusunan tesis ini dilakukan berdasarkan penelitian lapangan untuk
memperoleh data primer, dan penelitian kepustakaan untuk memperoleh data
sekunder, dengan masing-masing teknik pengumpulan data melalui wawancara dan
studi literatur. Seluruh data kemudian dianalisis dengan metode kualitatif.
Hasil penelitian ini ialah : (1) PT. Bank Danamon Indonesia, TBk, Kantor
Cabang Manado melakukan pengikatan kredit dengan jaminan deposito yang tidak
turut ditanda tangani oleh isteri atau suami debitur/penjamin berdasarkan
rekomendasi komite kredit kantor pusat atas penyimpangannya. PT.Bank Danamon
Indonesia, Tbk Kantor Cabang Manado tidak sepenuhnya terlindungi dengan
pemberian jaminan deposito yang perjanjian jaminannya tidak turut ditanda tangani
oleh isteri atau suami pemilik deposito. (2) PT.Bank Danamon Indonesia TBk
Kantor Cabang Manado mencairkan deposito jaminan untuk melunasi kredit back to
back yang bermasalah, jika kreditnya tertunggak selama 14 hari dan untuk pencairan
itu debitur telah diberikan Surat Peringatan 1 sampai dengan 3 untuk melunasi
tunggakannya.

Kata kunci : kredit back to back, deposito jaminan tidak ditanda tangani isteri atau
suami, wanprestasi

1
Jl. Jetisharjo No.560, Jetis II, Yogyakarta
2
Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogakarta
LEGAL ASPECT OF BACK TO BACK LOAN AT PT. BANK DANAMON
INDONESIA TBK, BRANCH OF MANADO

Raimond Flora Lamandasa, 1 and Taufiq El Rahman 2

ABSTRACT

The aim of this research is : (1) to know how PT. Bank Danamon
Indonesia Tbk, Branch of Manado engages deposit guarantee which is spouse of
owner are excluded from this agreement, in guarantying back to back loan; (2) to
know how PT. Bank Danamon Indonesia Tbk, Branch of Manado frees a deposit
guarantee in which the engagement excludes spouse of owner if back to back loan
that is guaranteed default.
It based upon field research to get primary data and literature research to
get secondary data, and used interview and literature study as data collecting
technique. All of data was analyze with qualitative method.
The results are : (1) PT. Bank Danamon Indonesia Tbk, Branch of Manado
engaged loan with deposit guarantee that excluded spouse of debtor/guarantor
based on recommendation of head office credit committee toward the deviation.
PT. Bank Danamon Indonesia Tbk, Branch of Manado is not fully protected by
giving the deposit guarantee that excluded spouse of owner. (2) PT. Bank
Danamon Indonesia Tbk, Branch of Manado liquefied deposit guarantee to settled
back to back loan which had problem, if the payment is delayed during 14 days
and therefore debtor has been warned by Warning Letter 1 until 3 to settle the
arrears.

Keywords: back to back loan, deposit guarantee with no initial of spouse,


default.

1
Jl. Jetisharjo No. 560, Jetis II, Yogyakarta
2
Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada umumnya semua negara yang sedang berkembang seperti halnya

Indonesia mempunyai program pembangunan ekonomi yang bertujuan untuk

mensejahterakan masyarakat secara keseluruhan. Dalam konteks ini peranan

perbankan menjadi sangat vital layaknya sebuah jantung dalam tubuh manusia.

Keduanya saling mempengaruhi dalam arti perbankan menjadi salah satu sumber

pembiayaan yang akan mengalirkan dana bagi kegiatan ekonomi, sehingga bank yang

sehat akan memperkuat kegiatan ekonomi suatu bangsa. Sebaliknya, kegiatan

ekonomi yang tidak sehat, lesu atau rapuh juga akan sangat mempengaruhi tingkat

kesehatan dunia perbankan.

Peranan lembaga perbankan yang sangat strategis ini terus ditata dan

diperbaiki dengan dikeluarkannya Undang-undang Nomor 7 tahun 1992 Tentang

Perbankan, yang kemudian direvisi dengan Undang-undang Nomor 10 tahun 1998

Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 7 tahun 1992 Tentang Perbankan

(untuk selanjutnya disebut UU Perbankan). Undang-undang ini memberikan landasan

yuridis yang lebih luas dan jelas serta mempertegas jangkauan pelayanan bank

terhadap segala lapisan masyarakat.

Bank, menurut UU Perbankan didefinisikan sebagai “badan usaha yang

menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya


2

kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka

meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.” Sebagai lembaga kepercayaan masyarakat,

bank mempunyai visi dan misi yang sangat mulia yaitu sebagai sebuah lembaga yang

diberi tugas untuk mengemban amanat pembangunan bangsa demi tercapainya

peningkatan taraf hidup rakyat.

Untuk melaksanakan visi dan misi tersebut, bank berperan sebagai agent of

intermediary, dengan menyelenggarakan fungsi-fungsi, sebagai berikut :

1. Fungsi menghimpun dana.

2. Fungsi pemberian kredit.

3. Fungsi memperlancar lalu lintas pembayaran.

4. Fungsi sebagai penyedia informasi, pemberian konsultasi dan bantuan

penyelenggaraan administrasi (PT. Persero Danareksa, 1987 : 238).

Dalam menjalankan kegiatan usahanya di bidang penyaluran kredit, bank

dihadapkan pada permasalahan resiko yaitu resiko pengembalian kredit sehubungan

dengan adanya jangka waktu antara pencairan kredit dengan pembayaran kembali. Ini

berarti bahwa semakin panjang jangka waktu kredit semakin tinggi pula resiko kredit

tersebut.

Menghadapi resiko tersebut, pasal 2 UU Perbankan mengamanatkan suatu

prinsip agar pihak perbankan dalam melakukan kegiatan usahanya harus bersasaskan

demokrasi ekonomi dengan menggunakan prinsip kehati-hatian (prudential banking

principle).
3

Lebih lanjut pasal 8 UU Perbankan mengarahkan bahwa ”dalam memberikan

kredit, bank wajib mempunyai keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan debitur

untuk melunasi hutangnya sesuai dengan yang diperjanjikan.” Dan untuk

memperoleh keyakinan tersebut, sebelum memberikan kredit, bank harus melakukan

penilaian yang seksama terhadap watak, kemampuan, modal, agunan dan prospek

usaha dari calon debitur.

Mengingat bahwa agunan atau jaminan merupakan salah satu unsur dalam

pemberian kredit dan sebagai sarana perlindungan bagi keamanan kreditur untuk

adanya kepastian atas pelunasan hutang debitur, atau untuk pelaksanaan suatu prestasi

oleh debitur atau oleh penjamin debitur, maka meskipun berdasarkan unsur-unsur lain

telah dapat diperoleh keyakinan atas kemampuan debitur mengembalikan hutangnya,

jaminan tambahan atau agunan masih tetap diminta oleh pihak bank (Hasan, 1996 :

233).

Untuk memberi landasan yuridis bagi kreditur dalam melaksanakan hak dan

kekuasaan atas barang jaminan yang diserahkan oleh debitur atau penjamin debitur,

maka atas barang jaminan tersebut lebih dahulu dilakukan pengikatan menurut

hukum yang berlaku, misalnya dengan pengikatan Hipotik, Hak Tanggungan,

Fidusia, Gadai atau dengan Jaminan Perorangan (Personal Guarantee) dan Jaminan

Perusahaan (Coorporate Guarantee).

Menurut sifatnya, lembaga jaminan dapat dibedakan dalam bentuk jaminan

perorangan (persoonlijke zekerheid) yang menimbulkan hak perseorangan; dan

jaminan kebendaan (zakelijke zekerheid) yang menimbulkan hak kebendaan.


4

Jaminan perorangan adalah jaminan yang menimbulkan hubungan langsung

pada perorangan tertentu, selalu berupa suatu perjanjian antara seorang berpiutang

(kreditur) dengan pihak ketiga yang menjamin dipenuhinya kewajiban dari si

berutang (debitur), bahkan jaminan perorangan ini dapat diadakan tanpa pengetahuan

dari si berutang (debitur) tersebut sehingga jaminan perorangan menimbulkan

hubungan langsung antara perorangan yang satu dengan yang lain. Termasuk dalam

jaminan perorangan adalah : personal guarantee, coorporate guarantee dan atau

perikatan tanggung-menanggung.

Sedang jaminan kebendaan ialah jaminan yang berupa hak mutlak atas sesuatu

benda dengan ciri-ciri mempunyai hubungan langsung dengan benda tertentu dari

debitur atau pihak ketiga sebagai penjamin, dapat dipertahankan terhadap siapapun,

selalu mengikuti bendanya dan dapat diperalihkan. Jaminan kebendaan ini selain

dapat diadakan antara kreditur dengan debiturnya juga dapat diadakan antara

kreditur dengan pihak ketiga yang menjamin dipenuhinya kewajiban si berutang

(debitur) sehingga hak kebendaan ini memberikan kekuasaan yang langsung terhadap

bendanya. Yang termasuk dalam jaminan kebendaan adalah : hak tanggungan,

hipotik, gadai dan jaminan fidusia.

Ada dua pertimbangan yang setidaknya menjadi prasyarat utama untuk sesuatu

benda dapat diterima sebagai jaminan, yaitu :

1. Secured, artinya benda jaminan kredit dapat diadakan pengikatan secara yuridis

formal, sesuai dengan ketentuan hukum dan perundang-undangan. Jika di


5

kemudian hari terjadi wanprestasi dari debitur, maka bank memiliki kekuatan

yuridis untuk melakukan tindakan eksekusi.

2. Marketable, artinya benda jaminan tersebut bila hendak dieksekusi dapat segera

dijual atau diuangkan untuk melunasi seluruh kewajiban debitur (Ibrahim, 2004 :

71).

Sebagai salah satu bank yang terus menggulirkan kredit kepada masyarakat

umum, PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk. Kantor Cabang Manado (untuk

selanjutnya disebut Bank Danamon), dalam setiap pemberian fasilitas kredit,

mensyaratkan calon debitur untuk memberikan jaminan.

Bank Danamon menggolongkan jaminan kredit ke dalam tiga kategori, yaitu

Jaminan Utama, Jaminan Penunjang dan Jaminan Tambahan. Penggolongan jaminan

tersebut didasarkan pada tingkat likuiditas dan marketabilitas jaminan itu sendiri.

Yang paling likuid dan marketabel digolongkan sebagai Jaminan Utama, yang

likuiditas dan marketabilitasnya sedang-sedang digolongkan sebagai Jaminan

Penunjang dan yang tingkat likuiditas dan marketabilitasnya rendah digolongkan

sebagai Jaminan Tambahan. Jaminan Utama terdiri dari dana cash dari debitur atau

pihak ketiga (penjamin) yang dikhususkan untuk itu (bisa berupa tabungan, giro atau

deposito), emas, bank garansi dari bank lain, tanah dan bangunan yang

aksesibilitasnya sangat lancar (terletak di daerah pusat bisnis dengan nilai

marketabilitas yang tinggi). Jaminan Penunjang terdiri dari tanah dan bangunan atau

tanah kosong yang aksesibilitasnya sedang-sedang, mesin-mesin yang dibiayai dan

kendaraan bermotor (mobil). Sedangkan Jaminan Tambahan terdiri dari piutang


6

dagang atau tagihan dagang (receivables) serta persediaan barang dagangan (stock

inventory) usaha debitur yang dibiayai.

Bank Danamon termasuk bank yang cukup ketat dengan ketentuan rasio

kecukupan jaminan atau total collateral coverage (TCC). Benda yang akan

dijaminkan terlebih dahulu dilakukan penilaian (taksasi) oleh appraiser interen Bank

Danamon dengan patokan harga pasar (market value), kemudian dari harga pasar

tersebut dinilai lagi dengan menggunakan nilai Maximum Reliance Bank Danamon

(Bank Danamon value), yang range prosentasenya berbeda-beda, sesuai jenis barang

jaminannya. Dari nilai Bank Danamon inilah yang kemudian dijadikan sebagai dasar

perhitungan rasio kecukupan jaminannya.

Untuk jaminan dalam bentuk dana tunai dalam currency yang sama, nilai Bank

Danamonnya 100 %, sedangkan jaminan berupa tanah dan bangunan, mesin-mesin

serta kendaraan bermotor (mobil) maksimum nilainya hanya sampai 80 % dari

market value. Total collateral coverage suatu kredit harus mengkover minimal 125

% dari plafond kredit yang diberikan, komposisinya bisa terdiri dari total ketiga

kriteria jaminan tersebut, tetapi dengan minimum nilai kecukupan Jaminan Utama 80

%. Namun kecukupan collateral coverage sebesar 125 % ini dapat dikecualikan jika

jaminan yang diberikan adalah seluruhnya dalam bentuk dana cash dalam currency

yang sama, yaitu sudah cukup dengan total collateral coverage-nya sebesar 100 %

saja.

Belakangan ini berkembang menjadi trend dalam pemberian jaminan dalam

bentuk deposito. Bank Danamon, mengklasifikasikan deposito sebagai Jaminan


7

Utama, karena memiliki tingkat kepastian nominal yang sudah pasti dan likuiditasnya

pun paling likuid dibanding dengan jaminan lainnya. Oleh karena itu, jika

memungkinkan, jaminan inilah yang dimintakan kepada calon debitur untuk

diserahkan. Selain faktor kepastian dan likuiditas tersebut, alasan lain sehingga Bank

Danamon, disatu sisi meminta, ataupun calon debitur, disisi lainnya, memberikan

jaminan deposito atas kreditnya adalah proses persetujuan kreditnya mudah, cepat,

tidak berbelit-belit serta biayanya kecil. Selebihnya adalah faktor psikologis

penggunaan kredit juga turut menjadi pertimbangan nasabah dimana dengan

menggunakan kredit bank, debitur merasa lebih bertanggung jawab dalam

pengelolaan keuangannya.

Tetapi kemudian, mudah dan cepatnya proses persetujuan dan pencairan

kredit dengan jaminan deposito itu, dalam banyak kasus justru menjadi salah satu

sumber permasalahan hukum tersendiri bagi bank, karena debitur yang memberikan

deposito sebagai jaminan, umumnya adalah debitur yang secara finansial kuat,

sehingga memiliki bargaining position di mata perbankan. Menyadari bargaining

position-nya lebih kuat dibanding dengan debitur pada umumnya, pemilik deposito

selalu meminta pengecualian-pengecualian dalam pengikatan kredit dan atau

jaminannya. Pengecualian yang umum diminta adalah pemilik deposito keberatan dan

tidak mau jika perjanjian kredit dan perjanjian jaminan gadai depositonya turut

ditanda tangani oleh isteri atau suaminya. Situasi ini menyebabkan bank berada

dalam posisi sulit, memilih antara pencapaian target atau pemenuhan aspek hukum

kreditnya. Dalam praktek, biasanya pertimbangan bisnis selalu mengalahkan aspek


8

hukum, sehingga sering kali aspek hukum ini khususnya dalam hal pengikatan kredit

dan jaminan gadai depositonya menjadi terabaikan. Adanya tarik-menarik

kepentingan, terlebih bagi bank yang tidak mau kehilangan bisnisnya, maka

terjadilah pengikatan kredit dan penjaminan deposito atas nama suami yang diikat

oleh bank tanpa persetujuan isteri, atau sebaliknya. Tidak ditanda tanganinya oleh

salah satu dari suami atau isteri atas perjanjian gadai deposito jaminan tersebut,

menjadi potensi masalah hukum ketika debitur kredit dengan jaminan deposito

tersebut wanprestasi.

Celah hukum tersebut, dapat menjadi dasar yuridis yang kuat bagi pihak

yang tidak memberikan persetujuan untuk melakukan intervensi hukum dengan cara

mengajukan keberatan (tuntutan) jika pencairan deposito jaminan tersebut akan

dilakukan oleh bank. Tuntutannya adalah pencairan deposito jaminan tidak dapat

dilakukan oleh bank karena pengikatan jaminannya tidak dilakukan dengan

sempurna dimata hukum.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan diatas, penulis tertarik

melakukan penelitian dengan fokus kepada permasalahan-permasalahan sebagai

berikut :

1. Bagaimana Bank Danamon melaksanakan pengikatan jaminan deposito yang

tidak turut ditanda tangani oleh isteri atau suami pemilik deposito ?
9

2. Bagaimana Bank Danamon melakukan pencairan deposito jaminan yang tidak

turut ditanda tangani oleh isteri atau suami pemilik deposito jika debitur kredit

yang dijamin dengan deposito tersebut wanprestasi ?

C. Keaslian Penelitian

Dari penelusuran bahan pustaka yang dilakukan oleh penulis, diketahui

bahwa penelitian tentang Aspek Hukum Pemberian Kredit Dengan Jaminan Deposito

(Kredit Back to Back) Di PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk Kantor Cabang

Manado, lebih khusus lagi penelitian yang fokusnya kepada pengikatan jaminan

deposito yang tidak turut ditanda tangani oleh isteri atau suami pemilik deposito

jaminan, belum pernah ada. Dengan demikian penelitian ini adalah penelitian yang

pertama dan asli adanya, namun demikian apabila ternyata pernah dilakukan

penelitian yang sama maka penelitian ini diharapkan dapat melengkapinya.

D. Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui bagaimana Bank Danamon melaksanakan pengikatan kredit

dengan jaminan deposito yang pengikatan kredit dan jaminannya tidak turut

ditanda tangani oleh isteri atau suami pemilik deposito.

2. Untuk mengetahui bagaimana proses pencairan deposito jaminan yang pengikatan

kredit dan jaminannya tidak turut ditanda tangani oleh isteri atau suami pemilik

deposito jika debitur kredit yang dijamin dengan deposito tersebut wanprestasi.
10

E. Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat membawa kegunaan dalam hal :

1. Untuk dapat menjadi bahan masukan dan informasi bagi Bank Danamon dan para

pihak tentang Aspek Hukum Pemberian Kredit Dengan Jaminan Deposito (Kredit

Back to Back) yang pengikatan deposito jaminannya tidak turut ditanda tangani

oleh isteri atau suami pemilik deposito.

2. Untuk melengkapi literatur dan bahan diskusi tentang kredit dengan jaminan

deposito (kredit back to back) dan sebagai bahan acuan bagi peneliti lain yang

tertarik pada tema yang sama.


11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Perjanjian

1. Pengertian Perjanjian dan Perikatan

Pengaturan tentang hukum perjanjian di Indonesia terdapat dalam Buku III

Bab Kedua, Bagian Kesatu sampai dengan Bagian Keempat Kitab Undang-

undang Hukum Perdata (untuk selanjutnya disebut KUH Perdata) dibawah titel

Tentang Perikatan, mulai dari pasal 1233 sampai dengan pasal 1864.

Kata “perjanjian” dan “perikatan” merupakan dua istilah yang dikenal dalam

KUH Perdata. Pasal 1313 KUH Perdata, memberikan definisi bahwa “perjanjian

adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya

terhadap satu orang lain atau lebih”.

Sedangkan tentang perikatan, sekalipun dalam KUH Perdata tidak secara

tegas mendefinisikannya, tetapi dalam pasal 1233 KUH Perdata dinyatakan

bahwa perikatan, selain lahir dari Undang-undang, juga karena perjanjian.

Dengan demikian suatu perikatan belum tentu merupakan perjanjian, sedangkan

suatu perjanjian sudah pasti merupakan suatu perikatan.

Definisi perjanjian sebagaimana pasal 1313 KUH Perdata tersebut

mendapatkan tanggapan beragam dari para sarjana hukum kita. Sofwan (1980 :

1), menyatakan bahwa definisi itu kurang lengkap lagipula terlalu luas. Kurang

lengkap karena yang dirumuskan dalam pasal itu hanya perjanjian sepihak saja,
12

dimana hanya menimbulkan kewajiban-kewajiban bagi salah satu pihak saja,

tetapi tidak meliputi perjanjian timbal balik dimana para pihak saling

mengikatkan diri untuk timbulnya hak dan kewajiban bagi para pihak. Terlalu

luas karena mencakup pula hal-hal mengenai pelangsungan perkawinan,

membuat janji kawin dan perbuatan-perbuatan semacam itu yang diatur dalam

lapangan hukum keluarga, sedangkan pengertian perjanjian yang dimaksud dalam

buku III ini adalah perjanjian di dalam lapangan hukum harta kekayaan antara dua

belah pihak yang menimbulkan hak dan kewajiban.

Berusaha melengkapi definisi perjanjian yang terdapat pada pasal 1313 KUH

Perdata, Setiawan (1999 : 49), mengemukakan pendapatnya bahwa :

a. Perbuatan harus diartikan sebagai perbuatan hukum, yaitu perbuatan yang

bertujuan untuk menimbulkan akibat hukum;

b. Perlu ditambahkan dengan kata-kata “atau saling mengikatkan dirinya” dalam

pasal 1313 KUH Perdata;

sehingga dengan saran tersebut ia memberi definisi perjanjian adalah “suatu

perbuatan hukum, dimana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya atau saling

mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih”.

Mertokusumo (2005 : 118) memberikan perumusan bahwa “perjanjian adalah

hubungan hukum antara dua orang yang bersepakat untuk menimbulkan akibat

hukum.”

Definisi yang lebih jelas dan tidak semata menekankan pada subjeknya adalah

yang dikemukakan oleh Subekti, dimana Ia memberikan perumusan bahwa,


13

“Perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seorang berjanji kepada seorang lain

atau dimana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal.”

(Subekti, 1990 : 1).

Senada dengan Subekti, lebih jauh beberapa sarjana memberikan penekanan

pada ruang lingkupnya yang berada di dalam lapangan hukum harta

benda/kekayaan.

Prodjodikoro (2000 : 4) merumuskan bahwa “perjanjian adalah suatu

perhubungan hukum mengenai harta benda antar dua pihak, dalam mana suatu

pihak berjanji atau dianggap berjanji untuk melakukan sesuatu hal atau untuk

tidak melakukan sesuatu hal, sedang pihak lain berhak menuntut pelaksanaan janji

itu.”

Harahap (1986 : 6) merumuskan bahwa “perjanjian adalah suatu hubungan

hukum kekayaan/harta benda antara dua orang atau lebih, yang memberi

kekuatan hak pada satu pihak untuk memperoleh prestasi dan sekaligus

mewajibkan pada pihak lain untuk menunaikan prestasi.

Pendapat yang justru menyamakan pengertian perjanjian dan perikatan adalah

Muljadi. Dengan menggunakan istilah perikatan, ia memberikan penjelasan,

bahwa perikatan sebagai peraturan yang mengatur mengenai hubungan hukum

antara subjek hukum dengan subjek hukum yang melahirkan kewajiban pada

salah satu subjek hukum dalam perikatan tersebut. Adanya kewajiban pada salah

satu pihak dalam hubungan hukum perikatan tersebut akan melahirkan hak pada

pihak lainnya dalam hubungan hukum perikatan tersebut (Muljadi, 2004 : 10).
14

Sedangkan Satrio (2001 : 1) mengatakan bahwa perikatan dalam arti luas

meliputi semua hubungan hukum antara dua pihak, dimana disatu pihak ada hak

dan dilain pihak ada kewajiban didalamnya termasuk semua hubungan hukum

yang muncul dari hubungan hukum dalam lapangan hukum keluarga dan hukum

acara.

Dari beberapa perumusan tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa hakekat

perjanjian dan perikatan pada dasarnya adalah sama yaitu keduanya merupakan

hubungan hukum antara pihak-pihak yang diikat didalamnya, namun pengertian

perikatan jauh lebih luas dari perjanjian sebab hubungan hukum yang ada dalam

perikatan munculnya tidak hanya dari perjanjian tetapi juga dari Undang-undang.

Perbedaan lain dari keduanya adalah bahwa perjanjian pada hakekatnya

mengikat para pihak berdasar pada kesepakatan (kata sepakat) diantara mereka,

sedangkan perikatan selain mengikat karena adanya kesepakatan juga mengikat

karena diwajibkan oleh Undang-undang.

Dengan demikian keduanya juga berbeda dari konsekuensi hukumnya. Pada

perjanjian, oleh karena dasar perjanjian adalah kesepakatan para pihak maka tidak

dipenuhinya prestasi dalam perjanjian akan menimbulkan ingkar janji

(wanprestasi), sedangkan tidak dipenuhinya suatu prestasi dalam perikatan

menimbulkan konsekuensi hukum sebagai perbuatan melawan hukum.

2. Syarat Sahnya Suatu Perjanjian

Pasal 1320 KUH Perdata merumuskan empat syarat untuk sahnya suatu

perjanjian. Keempat syarat tersebut adalah :


15

a. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya;

b. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan;

c. Sesuatu hal tertentu;

d. Suatu sebab yang halal.

Syarat pertama dan kedua dikualifisir sebagai syarat-syarat subjektif karena

berhubungan dengan subjek perjanjian, sedangkan syarat ketiga dan keempat

merupakan syarat objektif karena berhubungan dengan objek perjanjiannya. Jadi

sahnya suatu perjanjian haruslah memenuhi unsur-unsur subjektif dan objektif

seperti tersebut di atas.

a. Sepakat.

Sepakat diartikan sebagai pernyataan kehendak menyetujui, seia-sekata atau

persesuaian kehendak dari kedua subyek mengenai hal-hal yang pokok dari

perjanjian yang diadakan. Apa yang dikehendaki oleh pihak yang satu, juga

dikehendaki oleh pihak yang lain, mereka menghendaki sesuatu yang sama secara

timbal-balik.

Dalam kata sepakat ini, para pihak harus mempunyai kebebasan kehendak.

Artinya dalam mencapai atau menentukan kata sepakat tersebut para pihak tidak

boleh mendapatkan sesuatu tekanan, yang mengakibatkan adanya cacat bagi

perwujudan kehendak tersebut.

Menurut Pasal 1321 KUH Perdata, ada tiga hal yang menyebabkan cacat

kehendak dalam suatu perjanjian. Ketiga hal tersebut terlihat dalam rumusan
16

pasalnya sebagai berikut “tiada kata sepakat yang sah apabila sepakat itu

diberikan karena kekhilafan, atau diperolehnya dengan paksaan atau penipuan”.

Selain karena kekhilafan (dwaling), paksaan (dwang) ataupun penipuan

(bedrog), belakangan ini juga berkembang faham bahwa cacat kehendak juga bisa

terjadi dalam hal penyalahgunaan keadaan (misbruik van omstandigheden).

Penyalahgunaan keadaan berlatar belakang ketidak seimbangan keadaan

mengenai keunggulan pihak yang satu terhadap yang lain. Dalam

perkembangannya, penyalahgunaan keadaan ini bisa berwujud dalam hal

keunggulan ekonomi, ataupun keunggulan kejiwaan, sehingga dengan

keunggulan ini jika disalahgunakan oleh salah satu pihak akan melahirkan

penyalahgunaan keadaan (Widyadharma, 1995 : 17).

Menurut Nieuwenhuis dalam Panggabean (2001 : 40), penyalahgunaan

keadaan dapat terjadi jika memenuhi empat syarat, sebagai berikut :

1) Keadaan-keadaan istimewa (bijzondere omstandigheden), seperti keadaan

darurat, ketergantungan, ceroboh, jiwa yang kurang waras dan tidak

berpengalaman.

2) Suatu hal yang nyata (kenbaarheid), disyaratkan bahwa salah satu pihak

mengetahui atau semestinya mengetahui bahwa pihak lain karena keadaan

istimewa tergerak hatinya unuk menutup suatu perjanjian.

3) Penyalahgunaan (misbruik), salah satu pihak telah melaksanakan perjanjian

itu walaupun dia mengetahui atau seharusnya mengerti bahwa dia seharusnya

tidak melakukannya.
17

4) Hubungan kausal (causaal verband), adalah penting bahwa tanpa

menyalahgunakan keadaan itu maka perjanjian itu tidak akan ditutup.

Penyalahgunaan keadaan itu berhubungan dengan terjadinya perjanjian, yang

menyangkut keadaan-keadaan yang berperan untuk terjadinya suatu perjanjian

dimana memanfaatkan keadaan orang lain sedemikian rupa untuk membuat

perjanjian itu disepakati.

b. Cakap

Orang yang membuat perjanjian itu harus cakap menurut hukum. Pada

asasnya, setiap orang yang sudah dewasa atau akil-baliq dan sehat pikirannya

adalah cakap menurut hukum. Pasal 1330 KUH Perdata disebut sebagai orang-

orang yang tidak cakap untuk membuat suatu perjanjian adalah :

1). Orang-orang yang belum dewasa;


2). Mereka yang ditaruh dibawah pengampuan;
3). Orang-orang perempuan, dalam hal-hal yang ditetapkan oleh Undang-
undang, dan pada umumnya semua orang kepada siapa Undang-undang
telah melarang membuat perjanjian-perjanjian tertentu.

KUH Perdata menyatakan bahwa orang-orang yang belum dewasa adalah

orang-orang yang belum berumur 21 tahun dan / atau tidak telah menikah. Secara

a contrario, Satrio (1995 : 5) menyimpulkan bahwa dewasa adalah mereka yang :

1) telah berumur 21 tahun; dan

2) telah menikah, termasuk mereka yang belum berusia 21 tahun tetapi telah

menikah.

Orang didalam pengampuan juga termasuk tidak cakap. Tetapi tentang

pengampuan atau curatele ini harus diingat bahwa curatele tidak pernah terjadi
18

demi hukum, tetapi selalu harus didasarkan atas permohonan (sesuai Pasal 434

sampai dengan Pasal 445 KUH Perdata) dan ia baru mulai berlaku sejak ada

ketetapan pengadilan atas permohonan itu (Pasal 446 KUH Perdata). Satrio

menegaskan bahwa orang yang dapat ditaruh dibawah pengampuan, disebabkan

karena :

1) Gila (sakit otak), dungu (onnoozelheid), mata gelap (rezernij);

2) Lemah akal (zwakheid van vermogens); dan

3) Pemborosan (Satrio, 1995 : 5).

Sedangkan ketidak-cakapan perempuan yang telah bersuami, sejak

diundangkannya Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, harus

dilihat dulu apakah ada perjanjian kawin atau tidak. Jika terdapat perjanjian kawin

yang isinya tidak ada percampuran harta sama sekali, maka ketentuan bahwa

isteri tidak cakap melakukan perbuatan hukum tidak berlaku lagi. Lain halnya jika

tidak ada perjanjian kawin maka demi hukum telah terjadi percampuran harta

bulat, sehingga dengan ini, segala perbuatan hukum apapun sepanjang

berkonsekuensi terhadap harta dalam perkawinan, isteri harus mendapatkan

persetujuan dari suaminya, atau demikian sebaliknya.

c. Suatu hal tertentu

Hal tertentu artinya adalah objek perjanjian itu sendiri, yaitu apa yang

diperjanjikan. Hak-hak dan kewajiban yang timbul dari perjanjian itu harus jelas

disebutkan di dalamnya. Pasal 1333 KUH Perdata menyebutkan bahwa :


19

“Suatu perjanjian harus mempunyai sebagai pokok suatu barang yang paling
sedikit ditentukan jenisnya.
Tidaklah menjadi halangan bahwa jumlah barang tidak tentu, asal saja
jumlah itu terkemudian dapat ditentukan atau dihitung”.

d. Sebab yang halal

Sebab yang halal bukan berarti sesuatu hal yang menyebakan perjanjian itu

dibuat, tetapi menunjuk kepada pokok atau substansi dari apa yang diperjanjikan

itu harus halal adanya. Hukum perjanjian tidak mempermasalahkan motivasi apa

yang mencetuskan pembuatan perjanjian, tetapi kepada substansi atau isi daripada

perjanjian itu.

Konsekuensi dari tidak terpenuhinya salah satu atau kedua syarat subjektif

maka perjanjian dapat dibatalkan (vernietigbaar atau voidable). Dalam hal ini

salah satu pihak dapat memohonkan pembatalan perjanjian kepada hakim di

pengadilan negeri. Sepanjang perjanjian itu tidak dibatalkan oleh hakim, maka

menurut Subekti, perjanjian itu tetap mengikat para pihak, sepanjang ada

kesediaan para pihak (Subekti, 1990 : 20). Sedangkan jika salah satu atau kedua

syarat ojektif tidak terpenuhi maka perjanjian itu batal demi hukum (nietig atau

null and void). Artinya bahwa demi hukum, perjanjian itu tidak pernah lahir dan

tidak pernah ada suatu perikatan apapun.

3. Berakhirnya Perjanjian

Hapusnya perjanjian harus benar-benar dibedakan dengan hapusnya perikatan,

karena suatu perikatan dapat saja hapus sedangkan perjanjiannya yang merupakan

salah satu sumbernya masih tetap ada.


20

Perikatan jual beli misalnya, dimana didalamnya terkandung dua prestasi

perikatan yaitu perikatan untuk membayar dan perikatan untuk menyerahkan

barang (levering). Dengan dibayarnya harga jual beli, maka perikatan untuk

membayar menjadi hapus. Tetapi hal tersebut belum menghapuskan perjanjian

karena masih ada satu perikatan lagi yang belum dilakukan yaitu perikatan untuk

menyerahkan barang. Jadi perjanjian akan berakhir jika bermacam-macam

perikatan yang terdapat dalam perjanjian itu telah dilaksanakan.

Pasal 1381 KUH Perdata menyebutkan sepuluh macam alasan yang

menyebabkan perikatan-perikatan dalam suatu perjanjian berakhir. Ke-sepuluh

hal tersebut adalah :

a. karena pembayaran

b. karena penawaran pembayaran tunai disertai penitipan

c. karena pembaharuan hutang

d. karena perjumpaan hutang atau konpensasi

e. karena percampuran hutang

f. karena pembebasan hutang

g. karena musnahnya barang yang terhutang

h. karena kebatalan atau pembatalan

i. karena berlakunya syarat-syarat batal

j. karena kedaluwarsa (verjaring)

Sedangkan menurut Setiawan (1999 : 69), suatu perjanjian dapat berakhir

disebabkan karena hal-hal sebagai berikut :


21

a. Ditentukan dalam perjanjian yang dilakukan oleh para pihak.

b. Undang-undang menentukan batas berlakunya suatu perjanjian, contohnya

ketentuan pasal 1066 ayat 3 jo ayat 4 KUH Perdata dimana perjanjian untuk

tidak mengadakan pemecahan harta oleh ahli waris hanya dapat dilakukan

untuk jangka waktu 5 tahun.

c. Para pihak atau Undang-undang dapat menentukan bahwa dengan terjadinya

peristiwa tertentu maka perjanjian akan hapus, contoh perjanjian pemberian

kuasa, akan hapus dengan meninggalnya salah satu pihak (pasal 1813 KUH

Perdata).

d. Pernyataan menghentikan perjanjian. Hal ini hanya dapat dilakukan oleh

kedua belah pihak untuk perjanjian-perjanjian bersifat sementara, seperti

perjanjian kerja dan atau perjanjian sewa-menyewa.

e. Perjanjian hapus karena putusan hakim.

f. Karena tujuan dari perjanjian itu telah tercapai.

g. Dengan persetujuan para pihak.

4. Wanprestasi

Secara sederhana, wanprestasi dirumuskan selain sebagai pelaksanaan

kewajiban yang tidak tepat pada waktunya atau dilakukan tidak menurut yang

diperjanjikan, juga menunjuk kepada ketiadaan pelaksanaan prestasi oleh salah

satu pihak dalam perjanjian. Ketiadaan prestasi ini bisa terwujud dalam beberapa

bentuk, seperti berikut :

a. Tidak memenuhi prestasi sama sekali;


22

b. Terlambat dalam memenuhi prestasi;

c. Berprestasi tetapi tidak sebagaimana mestinya.

Dari bentuk-bentuk wanprestasi tersebut kadang-kadang menimbulkan

keraguan pada waktu mana debitur tidak memenuhi prestasi, apakah termasuk

tidak memenuhi prestasi sama sekali atau terlambat dalam memenuhi prestasi.

Apakah debitur sudah tidak mampu memenuhi prestasinya maka hal ini termasuk

pada yang pertama, tetapi apabila debitur masih mampu memenuhi prestasi, ia

dianggap sebagai terlambat dalam memenuhi prestasi. Bentuk ketiga adalah jika

debitur memenuhi prestasinya tetapi tidak sebagaimana mestinya atau keliru

dalam memenuhi prestasinya, apabila prestasinya masih dapat diharapkan untuk

diperbaiki maka ia dianggap terlambat tetapi jika tidak dapat diperbaiki lagi maka

ia sudah dianggap sama sekali tidak memenuhi prestasi.

Pertanyaan yang sering kali timbul dalam praktek adalah sejak kapan debitur

dianggap telah melakukan wanprestasi? Ini penting dipersoalkan karena

wanprestasi mempunyai akibat hukum yang penting bagi debitur.

Untuk mengetahui sejak kapan debitur itu wanprestasi, perlu diperhatikan

apakah dalam perjanjian itu ditentukan tenggang waktu pelaksanaan pemenuhan

prestasi atau tidak.

Dalam hal tenggang waktu yang tidak ditentukan maka diperlukan suatu

tindakan hukum dari bank berupa teguran atau somasi kepada debitur. Somasi ini

dimaksudkan untuk teguran bahwa debitur telah lalai memenuhi prestasi dan

karenanya ia diingatkan agar dalam tenggang waktu tertentu (disebutkan dalam


23

somasi), debitur harus segera melaksanakan prestasinya. Ketidak taatan debitur

dalam memenuhi prestasinya sesuai tanggal yang ditentukan dalam somasi, maka

dalam hal ini debitur telah dinyatakan wanprestasi (Muhammad, 1992 : 22).

Sebaliknya jika dalam perjanjian ditentukan dengan jelas tenggang waktu

pemenuhan prestasi, maka menurut Pasal 1238 KUH Perdata, debitur dianggap

telah wanprestasi dengan lewatnya waktu yang ditentukan.

Praktek baik perbankan yang ada saat ini, walaupun umumnya masalah

wanprestasi telah diatur tenggang waktunya dalam perjanjian kredit, tetapi bank

tetap membuat somasi kepada debitur untuk menegaskan bahwa ia telah benar-

benar wanprestasi.

Lalu apa akibat hukumnya jika debitur wanprestasi? Akibat hukum bagi

debitur dalam hal ia wanprestasi adalah hukuman atau sanksi-sanksi, yang oleh

hukum telah mengatur hal ini. Sanksi-sanksi hukumnya, antara lain adalah :

a. Debitur diharuskan membayar ganti rugi yang telah diderita oleh kreditur

(Pasal 1243 KUH Perdata).

b. Debitur diwajibkan membayar biaya perkara di pengadilan, apabila karena

wanprestasinya itu sampai kepada pengadilan (Pasal 181 ayat 1 HIR).

c. Debitur wajib memenuhi perjanjian disertai pembayaran ganti rugi (Pasal

1267 KUH Perdata).


24

B. Tinjauan Tentang Kredit dan Perjanjian Kredit

1. Pengertian Kredit

Kata kredit berasal dari bahasa Romawi “credere” yang artinya “percaya”.

Dalam bahasa Belanda istilahnya “vertrouwen”, dalam bahasa Inggeris “believe”

atau “trust” atau “confidence”, yang kesemuanya berarti percaya (Badrulzaman,

1991 : 23).

Jika dihubungkan dengan bank, maka terkandung pengertian bahwa bank

selaku pemberi kredit percaya untuk meminjamkan sejumlah uang kepada

nasabah karena debitur dapat dipercaya kemampuannya untuk membayar lunas

pinjamannya setelah jangka waktu tertentu.

Dalam masyarakat umum, istilah kredit sudah tidak asing lagi dan bahkan

dapat dikatakan populer dan merakyat, sehingga dalam bahasa sehari-hari sudah

dicampur-adukan begitu saja dengan istilah hutang. Tetapi, sungguhpun kata

kredit sudah berkembang kemana-mana, dalam tahap apapun dan kemanapun

arah perkembangannya, dalam setiap kata kredit tetap mengandung unsur

“kepercayaan”, walaupun sebenarnya kredit itu bukan hanya sekedar

kepercayaan.

Simorangkir (1988 : 91) merumuskan bahwa “kredit adalah pemberian prestasi

(misalnya uang dan barang) dengan balas prestasi (kontra prestasi), akan terjadi

pada waktu mendatang.”

UU Perbankan menggunakan dua istilah yang berbeda yaitu “kredit” dan

“pembiayaan berdasarkan prinsip syariah”. Penggunaan kedua istilah itu


25

disesuaikan dengan dinamika perkembangan perbankan saat ini dimana selain

bank-bank yang menjalankan usaha secara konvensional berkembang juga bank-

bank berdasarkan prinsip syariah. Bank yang menjalankan usahanya secara

konvensional menyebutnya sebagai “kredit”, sedangkan bank yang menjalankan

kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah menggunakan istilah “pembiayaan

berdasarkan prinsip syariah”.

Pasal 1 angka (11) UU Perbankan memberikan definisi tentang kredit :

“Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan


dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam
antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk
melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga”.

Sedangkan tentang pembiayaan berdasarkan prinsip syariah, dirumuskan

dalam Pasal 1 angka (12) UU Perbankan, sebagai berikut :

“Pembiayaan berdasarkan prinsip syariah adalah penyediaan uang atau


tagihan yang dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau
kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang
dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka
waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil.”

Berdasarkan rumusan pengertian kedua istilah tersebut, perbedaannya terletak

pada bentuk kontra prestasi yang akan diberikan oleh nasabah peminjam (debitur)

kepada pihak bank selaku kreditur atas pemberian kredit atau pembiayaan

dimaksud. Pada bank dengan prinsip konvensional kontra prestasi yang diberikan

debitur adalah berupa “bunga”, sedangkan pada bank dengan prinsip syariah

kontra prestasinya berupa imbalan atau bagi hasil sesuai dengan kesepakatan

bersama.
26

Dengan demikian, kredit dan atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah

merupakan perjanjian pinjam-meminjam (uang) yang dilakukan antara bank

dengan pihak lain dalam hal ini nasabah peminjam dana. Perjanjian mana dibuat

atas dasar kepercayaan bahwa peminjam dalam tenggang waktu tertentu akan

melunasi atau mengembalikan uang atau tagihan tersebut kepada bank disertai

bunga, imbalan atau pembagian hasil keuntungan.

Dari pengertian-pengertian di atas terlihat dengan jelas adanya beberapa unsur

kredit. Tentang hal ini, Suyatno (2003 : 14) mengemukakan bahwa unsur-unsur

kredit adalah sebagai berikut :

a. Kepercayaan, yaitu keyakinan dari si pemberi kredit bahwa prestasi yang

diberikannya baik dalam bentuk uang, barang atau jasa akan benar-benar

diterimanya kembali dalam jangka waktu tertentu dimasa yang akan datang.

b. Tenggang waktu, yaitu suatu masa yang memisahkan antara pemberian

prestasi dengan kontra prestasi yang akan diterimanya pada masa yang akan

datang.

c. Degree of risk, yaitu tingkat resiko yang akan dihadapi sebagai akibat dari

adanya jangka waktu yang memisahkan antara pemberian prestasi dengan

kontra prestasi yang akan diterima dikemudian hari. Semakin lama kredit

diberikan berarti semakin tinggi pula tingkat resikonya.

d. Prestasi atau objek kredit tidak saja diberikan dalam bentuk uang tetapi juga

dalam bentuk barang atau jasa. Namun karena kehidupan ekonomi modern
27

sekarang ini didasarkan kepada uang, maka transaksi-transaksi kredit dalam

bentuk uanglah yang lazim dalam praktek perkreditan.

Tanpa mengenyampingkan unsur-unsur yang lain, unsur terpenting dalam

suatu pemberian kredit adalah kepercayaan. Untuk memperoleh kepercayaan

tersebut haruslah sampai pada suatu keyakinan sejauh mana konsep penilaian

kredit dapat terpenuhi dengan baik.

Menurut Halle (1983 : 54), jika seorang bankir memberikan pinjaman kepada

perorangan atau perusahaan, bankir tersebut membutuhkan penilaian kredit dalam

bentuk analisis kredit untuk membantu menentukan resiko yang ada atau yang

mungkin terjadi dari pinjaman yang diberikan. Untuk itu analisis kredit amat

penting, karena berguna untuk :

a. Menentukan berbagai resiko yang akan dihadapi oleh bank dalam memberikan

kredit kepada seseorang atau badan usaha.

b. Mengantisipasi kemungkinan pelunasan kredit tersebut karena bank telah

mengetahui kemampuan pelunasan melalui analisis cashflow usaha debitur.

c. Mengetahui jenis kredit, jumlah kredit dan jangka waktu kredit yang

dibutuhkan oleh usaha debitur, sehingga bank dapat melakukan penyesuaian

dengan struktur dana yang dipersiapkan untuk digunakan.

d. Mengetahui kemampuan dan kemauan debitur untuk melunasi kreditnya, baik

dari sumber pelunasan primer maupun sekunder.


28

Untuk memperoleh kepercayaan kepada calon debitur, umumnya perbankan

menggunakan instrument analisa kredit yang terkenal dengan nama azas “the five

of credit” , yaitu :

a. Character (karakter).

b. Capacity (kemampuan).

c. Capital (modal).

d. Collateral (jaminan).

e. Condition of Economy (kondisi ekonomi).

Oleh Henderson dan Maness (1989 : 67) menjelaskan secara singkat konsep

“5 C” tersebut adalah :

a. Character (watak).

Adalah adanya keyakinan dari pihak bank bahwa calon debitur mempunyai

moral, watak ataupun sifat yang dapat dipercaya, hal ini tercermin dari latar

belakang debitur, baik yang bersifat latar belakang pekerjaan maupun yang

bersifat pribadi seperti cara hidup atau gaya hidup yang dianut dalam

keluarga. Oleh karena itu petugas bank mengadakan penyelidikan secara

mendalam dengan jalan mencari informasi dari orang-orang yang berada

dalam lingkungan pergaulannya dan hal tersebut akan sangat berpengaruh

pada pelunasan kreditnya.

b. Capacity (kemampuan)

Merupakan gambaran mengenai kemampuan calon debitur untuk memenuhi

kewajiban-kewajibannya, kemampuan debitur untuk mencari dan


29

mengkombinasikan resources yang terkait dengan bidang usaha, kemampuan

memproduksi barang dan jasa yang dapat memenuhi tuntutan kebutuhan

konsumen/pasar. Disamping itu juga kemampuan untuk mengantisipasi

variabel dari cashflow usaha, sehingga cashflow tersebut dapat menjadi

sumber pelunasan kredit yang utama sesuai dengan jadwal yang sudah

disetujui bersama.

c. Capital (modal)

Penilaian pada aspek ini diarahkan pada kondisi keuangan nasabah, yang

terdiri dari aktiva lancar (current assets) yang tertanam dalam bisnis dikurangi

dengan kewajiban lancar (current liabilities) yang disebut dengan modal kerja

(working capital); dan modal yang tertanam pada aktiva jangka panjang dan

aktiva lain-lain. Analisis capital itu dimaksudkan untuk menggambarkan

struktur modal (capital structure) debitur, sehingga bank dapat melihat modal

debitur sendiri yang tertanam pada bisnisnya dan berapa jumlah yang berasal

dari pihak lain (kreditur dan supplier). Bank harus mengetahui “debt to equity

ratio”, yaitu berapa besarnya seluruh hutang debitur dibandingkan dengan

seluruh modal dan cadangan perusahaan serta likuiditas perusahaan.

d. Collateral (jaminan)

Collateral adalah jaminan kredit yang mempertinggi tingkat keyakinan bank

bahwa debitur dengan bisnisnya mampu melunasi kredit, dimana agunan ini

berupa jaminan pokok maupun jaminan tambahan yang berfungsi untuk

menjamin pelunasan utang jika ternyata dikemudian hari debitur tidak


30

melunasi utangnya. Debitur menjanjikan akan menyerahkan sejumlah

hartanya untuk pelunasan utang menurut ketentuan perundang-undangan yang

berlaku, apabila dalam waktu yang ditentukan terjadi kemacetan pembayaran

utangnya. Jaminan tambahan ini dapat berupa kekayaan milik debitur atau

pihak ketiga.

e. Condition of Economy (kondisi ekonomi)

Kondisi yang mempersyaratkan bahwa kegiatan usaha debitur mampu

mengikuti fluktuasi ekonomi, baik dalam negeri maupun luar negeri, dan

usaha masih mempunyai prospek kedepan selama kredit masih dinikmati

debitur. Termasuk juga analisis terhadap kemampuan usaha debitur dalam

menghadapi situasi perekonomian yang mungkin tiba-tiba berubah diluar

dugaan semula.

Untuk mempertajam analisa, terutama terhadap permohonan kredit dalam

jumlah besar, menurut Henderson dan Maness (1989 : 79) perlu ditambahkan

dengan kriteria “5 P Principles”, sebagai berikut :

a. Purpose

Ini merupakan penilaian terhadap maksud permohonan kredit dari calon

debitur agar penggunaan jumlah atau jenis kredit tersebut terarah, aman dan

produktif serta membawa manfaat bagi pengusaha, masyarakat, bank dan

otorita moneter.
31

b. People

Adalah penilaian yang dilakukan terhadap calon debitur tentang siapa mitra

usahanya, orang atau lembaga yang mem-backup debitur, customer dan

supplier, yang kesemuanya sangat penting dalam menunjang kegiatan usaha

calon debitur.

c. Protection

Bilamana usaha debitur mengalami kegagalan, bank sudah harus terlindungi

dengan baik dari kesulitan penyelesaian kreditnya, dan bank harus

mempunyai alternatif penyelesaian dengan agunan yang dikuasai dan

pengikatan yuridis sesuai ketentuan yang berlaku.

d. Payment

Penilaian juga harus dilakukan terhadap sumber-sumber pelunasan primer dan

sekunder, sehingga peta pelunasan (roadmap repayment) dan kemungkinan

penyelesaian kredit dapat dilaksanakan tanpa kesulitan. Ini berkaitan dengan

casflow perusahaan dan variabel yang mempengaruhinya, sehingga akan lebih

jelas bagaimana posisi cash in dan cash out, yang menggambarkan apakah

perusahaan mengalami likuiditas usaha yang baik atau tidak.

e. Perspective

Posisi usaha debitur pada waktu yang akan datang apakah mampu mengikuti

kondisi ekonomi, keuangan dan fiskal. Ini berarti merupakan proyeksi

perbandingan resiko dan cashflow perusahaan. Perspektif ini dinilai dengan

menggunakan kriteria :
32

1) Return, yaitu hasil usaha yang akan dicapai dari kegiatan yang

mendapatkan pembiayaan tersebut;

2) Repayment, yaitu perhitungan pengembalian dana dari kegiatan yang

mendapatkan pembiayaan kredit;

3) Risk Bearing Ability, yaitu perhitungan besarnya kemampuan debitur dalam

menghadapi resiko yang tidak terduga.

2. Jenis-Jenis Kredit

Praktek perbankan yang ada, umumnya bank-bank menggolongkan kredit ke

dalam dua jenis kredit, yaitu berdasarkan jangka waktu (term) dan berdasarkan

tujuan atau penggunaan kredit (utility of loan).

Berdasarkan jangka waktu (term of loan), kredit dibagi dalam :

a. Kredit jangka waktu pendek (short-term loan), yaitu kredit dengan jangka

waktu tidak lebih dari 1 tahun.

b. Kredit jangka menengah (middle-term loan), yaitu kredit dengan jangka

waktu 1-3 tahun.

c. Kredit jangka panjang (long-term loan), yaitu kredit dengan jangka waktu

lebih dari 3 tahun.

Sedangkan berdasarkan tujuan penggunaan kredit (utility of loan), dibedakan

menjadi :

a. Kredit konsumtif, yaitu kredit kepada orang perorangan dengan tujuan untuk

memenuhi kebutuhan konsumtif. Contohnya Kredit Pemilikan Rumah (KPR),


33

Kredit Pemilikan Mobil (KPM), Kredit Pemilikan Sepeda Motor (KPSM) dan

lain sebagainya.

b. Kredit Produktif, yaitu kredit yang diberikan untuk pembiayaan usaha-usaha

produktif. Kredit produktif ini umumnya dibedakan lagi menjadi :

1) Kredit investasi, yaitu kredit untuk pengadaan barang modal atau jasa bagi

usaha debitur;

2) Kredit modal kerja, yaitu kredit untuk pembiayaan modal kerja usaha-

usaha debitur, termasuk untuk pembiayaan biaya produksi atau

penjualannya;

3) Kredit likuiditas, yaitu kredit dari Bank Indonesia yang diperuntukan bagi

bank-bank pemerintah maupun swasta guna disalurkan kembali ke

berbagai sektor.

3. Perjanjian Kredit

Pengertian ataupun rumusan perjanjian kredit tidak diatur secara khusus

dalam Undang-undang Perbankan No.10 tahun 1998, maupun dalam KUH

Perdata. Oleh karena itu untuk memahami pengertian perjanjian kredit perlu

dikemukakan pendapat para sarjana.

Beberapa sarjana hukum, seperti Subekti (1991 : 3) berpendapat bahwa

“dalam bentuk apapun juga pemberian kredit itu diadakan, dalam semuanya itu

pada hakekatnya yang terjadi adalah suatu perjanjian pinjam-meminjam

sebagaimana diatur dalam Pasal 1754 sampai dengan Pasal 1769 KUH Perdata.”
34

Pendapat senada juga dikemukakan oleh Hay (1975 : 67) bahwa “perjanjian

kredit adalah identik dengan perjanjian pinjam-meminjam dan tunduk kepada

ketentuan Bab XIII dari Buku III KUH Perdata.”

Hal yang sama dikemukakan pula oleh Badrulzaman (1994 : 110), bahwa

“dari rumusan yang terdapat di dalam Undang-undang perbankan mengenai

perjanjian kredit, dapat disimpulkan bahwa dasar perjanjian kredit adalah

perjanjian pinjam-meminjam di dalam KUH Perdata Pasal 1754.”

Rumusan perjanjian pinjam-meminjam menurut pasal 1754 KUH Perdata,

adalah :

“Perjanjian pinjam meminjam adalah perjanjian dengan mana pihak yang satu
memberikan kepada pihak yang lain suatu jumlah tertentu barang-barang yang
menghabis karena pemakaian, dengan syarat bahwa pihak yang belakangan
ini akan mengembalikan sejumlah uang yang sama dari macam dan keadaan
yang sama pula.”

Sarjana lainnya, seperti Hasan berpendapat lain, bahwa perjanjian kredit tidak

tepat dikuasai oleh ketentuan Bab XIII Buku III KUH Perdata, sebab antara

perjanjian pinjam-meminjam dengan perjanjian kredit terdapat beberapa

perbedaan. Perbedaannya, menurut Hasan (1996 : 174) terdapat pada hal-hal :

a. Perjanjian kredit selalu bertujuan dan tujuan tersebut biasanya berkaitan

dengan program pembangunan; biasanya dalam perjanjian kredit sudah

ditentukan tujuan penggunaan uang yang akan diterima, sedangkan dalam

perjanjian pinjam-meminjam tidak ada ketentuan tersebut dan debitur dapat

menggunakan uang secara bebas.


35

b. Dalam perjanjian kredit sudah ditentukan bahwa pemberi kredit adalah bank

atau lembaga pembiayaan, dan tidak dimungkinkan diberikan oleh individu,

sedangkan dalam perjanjian pinjam-meminjam, pemberi pinjaman dapat

dilakukan oleh individu.

c. Pengaturan yang berlaku bagi perjanjian kredit berbeda dengan perjanjian

pinjam-meminjam. Pada perjanjian kredit berlaku ketentuan UUD 1945,

ketentuan bidang ekonomi dalam GBHN, ketentuan-ketentuan umum KUH

Perdata, UU Perbankan, Paket Kebijakan Pemerintah dalam Bidang Ekonomi

terutama bidang perbankan, Surat-Surat Edaran Bank Indonesia (SEBI) dan

sebagaimnya, sedangkan pada perjanjian pinjam-meminjam tunduk semata-

mata pada KUH Perdata Bab XIII Buku III.

d. Pada perjanjian kredit dan atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah telah

ditentukan bahwa pengembalian uang pinjaman itu harus disertai bunga,

imbalan, atau pembagian hasil, sedangkan dalam perjanjian pinjam-meminjam

hanya berupa bunga saja, dan bunga inipun baru ada apabila diperjanjikan.

e. Pada perjanjian kredit, bank harus mempunyai keyakinan akan kemampuan

debitur akan pengembalian kredit yang diformulasikan dalam bentuk jaminan

baik materiil maupun immateriil, sedangkan pada perjanjian pinjam-

meminjam, jaminan merupakan pengaman bagi kepastian pelunasan hutang

dan inipun baru ada apabila diperjanjikan, dan jaminan itu hanya merupakan

jaminan secara fisik atau materiil saja.


36

Senada dengan pendapat dari Hasan diatas, Ibrahim (2004 : 28) juga

berpendapat bahwa “perjanjian kredit berbeda dengan penjanjian pinjam-

meminjam yang diatur dalam Bab XIII Buku III KUH Perdata, baik dari

pengertian, subjek pemberi kredit, pengaturan, tujuan dan jaminannya.” Akan

tetapi dengan perbedaan tersebut tidaklah berarti dapat dilepaskan sama sekali

dari akarnya yaitu perjanjian pinjam-meminjam, karena perjanjian kredit

merupakan modifikasi sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan

dunia bisnis saat ini.

Perjanjian kredit bank dilaksanakan berdasarkan atas kesepakatan diantara

kedua belah pihak yaitu pihak bank sebagai kreditur dan pihak nasabah sebagai

debitur, yang dilandasi dengan kepercayaan, terutama kepercayaan dari pihak

bank sebagai pemberi kredit kepada debiturnya.

Menurut Halle (1983 : 53), terjadinya perjanjian kredit harus memenuhi

kriteria sebagai berikut :

1) Terdapat kedua belah pihak serta ada persetujuan pinjam meminjam


antar kreditur dan debitur.
2) Mempunyai jangka waktu tertentu.
3) Hak kreditur untuk menuntut dan memperoleh pembayaran serta
kewajiban debitur untuk membayar prestasi yang diterima.

Perjanjian kredit adalah suatu perjanjian pokok yang bersifat riil artinya

terjadinya perjanjian kredit ditentukan oleh penyerahan uang oleh bank kepada

nasabah debitur. Perjanjian kredit harus diikuti dengan penyerahan uang secara

riil kepada debitur. Dalam praktek, ada kemungkinan pinjaman yang

diperjanjikan dalam perjanjian kredit tidak jadi dicairkan. Ini terjadi jika bank
37

mendapat informasi baru yang tidak menguntungkan tentang debitur. Ada juga

kemungkinan bahwa besarnya jumlah yang diserahkan berlainan dengan jumlah

yang semula disetujui di dalam perjanjian kredit.

Penyerahan uang kepada penerima kredit bergantung pula pada sifat atau jenis

kredit yang diperjanjikan. Jika kredit itu dalam bentuk investasi, maka

pencairannya dilakukan berdasarkn progress fisik proyek yang dibiayai. Jika

pinjaman dalam bentuk rekening koran, maka pencairannya dilakukan dalam

bentuk plafond ke dalam rekening koran, penarikan oleh debitur tergantung

kebutuhannya tetapi dalam limit plafond yang disediakan.

Dilihat dari bentuknya, perjanjian kredit perbankan pada umumnya

menggunakan bentuk perjanjian baku (standard contract). Artinya, perjanjiannya

telah disediakan oleh bank dalam bentuk blanko, sedangkan debiturnya tinggal

mempelajari dan memahaminya dengan baik. Kelemahan dari perjanjian ini, jika

dilihat dari sudut debitur, adalah debitur tinggal memiliki salah satu pilihan dari

dua pilihan yakni menerima atau menolak, tanpa adanya kemungkinan melakukan

negosiasi atau tawar menawar dengan bank. Dalam hal ini debitur tidak dapat

berbuat banyak dalam menghadapi kreditur karena perjanjian baku telah

ditentukan oleh bank.

Keberadaan perjanjian kredit sangat penting karena berfungsi sebagai dasar

hubungan kontraktual antara para pihak. Dalam perjanjian kredit dapat ditelusuri

berbagai hal tentang pemberian, pengelolaan ataupun penatalaksanaan kredit itu

sendiri. Untuk itu sangat perlu untuk diperhatikan bersama.


38

Wardoyo dalam Hermansyah (2006 : 72), mengemukakan bahwa perjanjian

kredit itu memiliki tiga fungsi, yaitu :

a. Berfungsi sebagai perjanjian pokok, artinya perjanjian kredit merupakan

sesuatu yang menentukan batal atau tidak batalnya perjanjian lain yang

mengikutinya, misalnya perjanjian pengikatan jaminan;

b. Berfungsi sebagai alat bukti mengenai batasan-batasan hak dan kewajiban di

antara kreditur dan debitur;

c. Berfungsi sebagai alat untuk melakukan monitoring kredit.

4. Kredit Bermasalah

Membahas masalah kredit, tidak lepas dari pembicaraan mengenai kredit

bermasalah (non performing loan). Kredit bermasalah selalu ada dalam kegiatan

perkreditan bank, karena bank tidak mungkin menghindarkan adanya kredit

bermasalah. Sepandai apapun para analis kredit dalam menganalisis permohonan

kredit, tetap saja ada kemungkinan kredit tersebut bermasalah. Itulah sebabnya

adalah hal yang wajar jika setiap bank memiliki kredit bermasalah. Tetapi

sungguhpun demikian, tidak semua kredit bermasalah itu adalah kredit macet.

Suatu kedit bermasalah yang tidak dikelolah dengan baik akan mengakibatkan

kemacetan kredit atau umum disebut sebagai kredit macet.

Terjadinya kemacetan dalam pengembalian kredit mungkin saja disebabkan

oleh kesalahan atau kelalaian dari pihak bank sendiri atau dari pihak nasabah,

ataupun oleh karena keadaan memaksa (force majeur). Bank hanya berusaha
39

menekan seminimal mungkin besarnya kredit bermasalah agar tidak melebihi

ketentuan Bank Indonesia sebagai pengawas perbankan.

Bank Indonesia melalui Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 7/2/PBI/2005

tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum, membedakan kualitas kredit ke

dalam 5 (lima) kolektibilitas, yaitu :

a. Lancar (L)

b. Dalam Perhatian Khusus (DPK)

c. Kurang Lancar (KL)

d. Diragukan (D)

e. Macet (M)

Kredit yang termasuk dalam golongan kolektibilitas lancar dan dalam

perhatian khusus dinilai sebagai kredit yang tidak bermasalah (adalah performing

loan), sedangkan kredit yang termasuk dalam golongan kurang lancar, diragukan

dan macet dinilai sebagai kredit bermasalah (non performing loan). Beberapa

indikator untuk penggolongan kelima kualitas kredit tersebut, adalah sebagai

berikut :

a. Kredit digolongkan Lancar (L), yaitu jika memenuhi kriteria :

1) pembayaran angsuran pokok dan/atau bunga tepat waktu;

2) memiliki mutasi rekening yang aktif; atau

3) bagian kredit yang dijamin dengan agunan tunai.

b. Kredit digolongkan Dalam Perhatian Khusus (DPK), yaitu jika memenuhi

kriteria :
40

1) terdapat tunggakan angsuran pembayaran pokok dan/atau bunga yang

belum melampaui 90 hari; atau

2) kadang-kadang terjadi cerukan; atau

3) mutasi rekening relatif rendah; atau

4) jarang terjadi pelanggaran terhadap kontrak yang diperjanjikan; atau

5) didukung oleh pinjaman baru.

c. Kredit digolongkan Kurang Lancar (KL), yaitu jika memenuhi kriteria :

1) terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga yang telah melampaui

90 hari; atau

2) sering terjadi cerukan; atau

3) frekuensi mutasi relatif rendah; atau

4) terjadi pelanggaran kontrak yang diperjanjikan lebih dari 90 hari; atau

5) terdapat indikasi masalah keuangan yang dihadapi debitur; atau

6) dokumentasi pinjaman yang lemah.

d. Kredit yang digolongkan Diragukan (D), yaitu jika memenuhi kriteria :

1) terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga yang telah melampaui

180 hari; atau

2) sering terjadi cerukan yang bersifat permanen; atau

3) terjadi wanprestasi lebih dari 180 hari; atau

4) terjadi kapitalisasi bunga; atau

5) dokumentasi hukum yang lemah baik untuk perjanjian kredit maupun

pengikatan jaminan.
41

e. Kredit yang digolongkan Macet (M), yaitu jika memenuhi kriteria :

1) terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga yang telah melampaui

270 hari; atau

2) kerugian operasional ditutup dengan pinjaman baru; atau

3) dari segi hukum maupun kondisi pasar, jaminan tidak dapat dicairkan

pada nilai wajar.

Penting untuk diperhatikan bahwa sebelum menurunkan kolektibilitas kredit,

bank akan melakukan evaluasi yang mendalam terhadap debitur-debitur yang

termasuk dalam kolektibilitas non performing loan. Ini penting karena penurunan

kolektibilitas kredit akan mempengaruhi kinerja bank yang bersangkutan, karena

penilaian sehat tidaknya suatu bank salah satunya ditentukan dari berapa besar

non performing loan bank itu. Untuk itu setiap bank secara periodik selalu

melakukan evaluasi debiturnya dengan menganalisa aspek-aspek :

a. Prospek usaha

b. Kondisi keungan dengan penekanan cash flow.

c. Kemampuan membayar.

Ketiga aspek tersebut merupakan satu kesatuan untuk menilai kualitas kredit, dan

tidak dapat dinilai terpisah satu sama lainnya.

Kredit bermasalah akan menjadi beban bank karena ia menjadi salah satu

tolok ukur bagi Bank Indonesia untuk menilai kinerja bank itu sendiri. Untuk itu

adanya kredit bermasalah, perlu penyelesaian yang cepat, tepat dan akurat, perlu
42

dilakukan penilaian ulang secara periodik guna penentuan langkah-langkah

penyelamatan dan atau penyelesaian bagi bank.

5. Penanganan Kredit Bermasalah

Dalam hal terjadinya kredit bermasalah, bank akan melakukan tindakan-

tindakan penyelamatan kredit. Tindakan penyelamatan kredit ini umumnya

dilaksanakan dengan tiga treatment, yaitu : Rescheduling, Reconditioning dan

Restructuring.

Recheduling adalah tindakan penyelamatan terhadap kredit bermasalah

dengan jalan merubah jangka waktu kredit, misalnya dengan jalan

memperpanjang jangka waktu kredit dan atau memperpanjang jangka waktu

angsuran kredit. Reconditioning adalah tindakan penyelamatan kredit dengan

jalan memberikan keringanan atas persyaratan-persyaratan kredit, misalnya

dengan merekapitalisasi bunga tertunggak, penundaan pembayaran bunga sampai

pada waktu tertentu (grace period), penurunan suku bunga, pembebasan bunga

ataupun pengkonversian kredit dengan jangka waktu pendek menjadi jangka

waktu panjang. Sedangkan restructuring adalah tindakan penyelamatan kredit

dengan melakukan perubahan struktur kredit setelah lebih dahulu melakukan

analisa atas keadaan permodalan debitur. Tindakan-tindakannya dapat berupa

penambahan jumlah kredit (injection) dan atau merubah struktur kredit misalnya

dari kredit modal kerja menjadi kredit angsuran.

Apabila upaya-upaya penyelamatan kredit seperti telah dikemukakan diatas

tidak berhasil, maka penanganan atau upaya penagihan kredit yang terakhir
43

adalah dengan melihat jaminan sebagai second way-out (second source of

repayment). Dalam hal ini akan dilakukan upaya hukum eksekusi atas jaminan,

yang tindakan hukumnya tergantung daripada jenis dan macam jaminan yang

diserahkan oleh debitur atau penjaminnya. Prakteknya, eksekusi atas jaminan

dijadikan upaya bank yang paling akhir dilakukan, hanya apabila upaya-upaya

penyelamatan kredit tidak berhasil.

C. Tinjauan Tentang Jaminan

1. Pengertian Jaminan

Telah dikemukakan sebelumnya bahwa dalam setiap penyaluran kredit, bank

selalu mensyaratkan adanya jaminan kredit. Hal ini dilakuan untuk

mengantisipasi resiko pengembalian kredit sehubungan dengan adanya jangka

waktu pengembaliannya. Dalam hal ini, jaminan berfungsi untuk memberikan

hak dan kekuasaan kepada kreditur untuk mendapatkan pelunasan dari hasil

penjualan barang-barang jaminan tersebut bila debitur tidak melunasi hutangnya

pada waktu yang telah ditentukan. Normalnya, setiap bank berusaha agar kredit

yang disalurkan merupakan secured loans, karena didukung dengan jaminan dan

berusaha menghindari terjadinya unsecured loans karena tidak didukung dengan

jaminan. Jadi jika kredit tidak dapat lagi dilunasi dari usaha sebagai first source of

repayment, maka bank akan menempuh jalan pelunasan terakhir dari jaminan

sebagai second source of repayment.


44

Penulis memakai kata “jaminan” dalam tesis ini sebagai pengertian daripada

“agunan” sebagaimana dirumuskan oleh UU Perbankan dalam Pasal 1 ayat (23)

bahwa “agunan adalah jaminan tambahan yang diserahkan nasabah debitur

kepada bank dalam rangka pemberian fasilitas kredit atau pembiayaan

berdasarkan Prinsip Syariah.” Jaminan tambahan ini dapat berupa jaminan

materiil (berwujud) berupa benda-benda bergerak dan benda tetap atau jaminan

immaterial (tak berwujud).

Sutarno (2005 : 142) merumuskan pengertian jaminan kredit adalah “segala

sesuatu yang mempunyai nilai mudah untuk diuangkan yang diikat dengan janji

sebagai jaminan untuk pembayaran dari hutang debitur berdasarkan perjanjian

kredit yang dibuat oleh kreditur dan debitur.”

Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Hadisoeprapto (1984 : 50) yang

mengemukakan bahwa “jaminan kredit ialah segala sesuatu yang diberikan

kepada kreditur untuk menimbulkan keyakinan bahwa debitur akan memenuhi

kewajiban, yang dapat dinilai dengan uang yang timbul dari suatu perikatan.”

Bahwa jaminan yang baik atau ideal, menurut Subekti dalam bukunya

Jaminan-Jaminan Untuk Pemberian Kredit Menurut Hukum Indonesia (1991 :

19), adalah jaminan yang memenuhi syarat :

a. Yang dapat secara mudah membantu perolehan kredit itu oleh pihak yang

memerlukannya;

b. Yang tidak melemahkan potensi (kekuatan) si pencari kredit untuk melakukan

(meneruskan) usahanya;
45

c. Yang memberikan kepastian kepada si pemberi kredit dalam arti bahwa

barang jaminan setiap waktu tersedia untuk dieksekusi, yaitu, bila perlu dapat

mudah diuangkan untuk melunasi hutangnya si penerima (pengambil) kredit.

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa jaminan kredit

adalah seluruh harta kekayaan seseorang, baik barang bergerak, tidak bergerak,

barang berwujud maupun tidak berwujud, baik yang diserahkan secara tegas

(berdasarkan perjanjian) maupun secara otomatis (berdasarkan Undang-undang)

oleh debitur kepada kreditur, dengan maksud untuk menjamin pembayaran

kembali kreditnya berdasarkan suatu perikatan.

Dalam praktek, jaminan yang sering diterima oleh kreditur bank bukan hanya

milik debitur itu sendiri tetapi juga milik pihak ketiga yang atas kemauannya

sendiri menyerahkan secara tegas harta kekayaannya untuk menjamin kredit dari

debitur.

2. Klasifikasi Jaminan Kredit

a. Jaminan Umum dan Jaminan Khusus

Pasal 1131 KUH Perdata menetapkan bahwa “segala kebendaan si berutang

baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, baik yang sudah ada maupun

yang baru akan ada dikemudian hari, menjadi tanggungan untuk segala

perikatannya perseorangan.”

Dari rumusan pasal tersebut menunjuk kepada sifat jaminan yang umum,

artinya benda jaminan tidak ditunjuk secara khusus dan juga tidak diperuntukan

kepada kreditur tertentu. Sehingga jika terdapat beberapa kreditur, maka


46

kedudukan para kreditur itu konkuren satu sama lainnya, dan atas harta kekayaan

debitur yang dijual guna pelunasan hutangnya, akan dibagi-bagi secara

proporsional. Jadi jaminan umum ini lahir secara otomatis karena ditentukan oleh

Undang-undang.

Walaupun Undang-undang telah menentukan bahwa semua harta debitur

menjadi jaminan bagi hutangnya, praktek perbankan tetap menghendaki adanya

jaminan yang dikhususkan untuk penjaminan kepada kreditur tertentu. Artinya,

jaminan khusus ini harus dibuat dengan perjanjian antara kreditur disatu pihak

dan debitur atau penjamin di pihak lain.

b. Jaminan Perorangan dan Jaminan Kebendaan

Penggolongan jaminan yang lain, yang sangat umum dilakukan oleh para

sarjana adalah jaminan perorangan dan jaminan kebendaan. Jaminan perorangan

atau persoonlijke zekerheid adalah jaminan yang menimbulkan hubungan

langsung pada perorangan tertentu, selalu berupa suatu perjanjian antara seorang

berpiutang (kreditur) dengan pihak ketiga yang menjamin dipenuhinya kewajiban

dari si berutang (debitur), bahkan jaminan perorangan ini dapat diadakan tanpa

pengetahuan dari si berutang (debitur) tersebut, sehingga jaminan perorangan

menimbulkan hubungan langsung antara perorangan yang satu dengan yang lain.

Bentuk jaminan perorangan adalah personal guarantee, coorporate guarantee

dan atau perikatan tanggung-menanggung.

Sedang jaminan kebendaan atau zakelijke zekerheid ialah jaminan yang

berupa hak mutlak atas sesuatu benda dengan ciri-ciri mempunyai hubungan
47

langsung dengan benda tertentu dari debitur atau pihak ketiga sebagai penjamin,

dapat dipertahankan terhadap siapapun, selalu mengikuti bendanya dan dapat

diperalihkan. Jaminan kebendaan dapat diadakan antara kreditur dengan

debiturnya tetapi dapat juga diadakan antara kreditur dengan pihak ketiga yang

menjamin dipenuhinya kewajiban si berutang (debitur) sehingga hak kebendaan

ini memberikan kekuasaan yang langsung terhadap bendanya. Bentuk jaminan

kebendaan adalah hak tanggungan, hipotik, gadai dan jaminan fidusia.

Subekti mengemukakan bahwa “pemberian jaminan kebendaan ini selalu

berupa menyendirikan suatu bagian dari harta kekayaan seseorang, si pemberi

jaminan, dan menyediakannya guna pemenuhan (pembaharuan) kewajiban

(hutang) seorang debitur” (Subekti, 1991 : 17). Dengan demikian maka

pemberian jaminan kebendaan kepada kreditur tertentu, memberikan “privelege”

atau kedudukan istimewa bagi kreditur penerima jaminan itu terhadap kreditur

lainnya.

D. Tinjauan Tentang Gadai Sebagai Salah Satu Lembaga Jaminan

1. Pengertian Gadai

Ketentuan Gadai diatur dalam Buku II Bab XX KUH Perdata mulai pasal

1150 sampai dengan 1160. Menurut ketentuan Pasal 1150 bahwa pihak yang

menggadaikan disebut “pemberi gadai” dan pihak yang menerima gadai disebut

“penerima atau pemegang gadai”.


48

Lembaga jaminan Gadai hingga saat ini banyak ditemukan dalam praktek.

Kedudukan pemegang gadai jika dibandingkan dengan fidusia, lebih kuat karena

benda jaminan berada dalam penguasaan kreditur. Dalam hal ini kreditur selaku

pemegang gadai terhindar dari itikad buruk (the kwader trouw) dari pemberi

gadai, sebab dalam gadai benda jaminan sama sekali tidak boleh dipegang oleh

atau dibawah penguasaan pemberi gadai (inbezitstelling).

Pasal 1150 KUH Perdata mendefinisikan gadai sebagai berikut :

“Gadai adalah suatu hak yang diperoleh seorang berpiutang atas suatu barang
bergerak, yang diserahkan kepadanya oleh seorang berhutang atau oleh
seorang lain atas namanya, dan yang memberikan kekuasaan kepada
siberpiutang itu untuk mengambil pelunasan dari barang tersebut secara
didahulukan daripada orang-orang berpiutang lainnya; dengan kekecualian
biaya untuk melelang barang tersebut dan biaya yang telah dikeluarkan untu
menyelamatkannya setelah barang itu digadaikan, biaya-biaya mana harus
didahulukan”

Selanjutnya, Volmar (1994 : 310), dengan bahasanya sendiri, ia memberikan

pengertian gadai adalah :

“Sebuah hak atas benda bergerak milik orang lain yang dimaksud tujuannya
bukan memberikan kepada orang yang berhak terhadap gadai itu (penerima
gadai) nikmat benda tersebut, tetapi hanyalah untuk memberikan kepadanya
jaminan tertentu bagi pelunasan suatu hutang”.

Dari perumusan di atas dapat disimpulkan bahwa gadai adalah suatu hak

kebendaan yang mempunyai objek berupa benda bergerak yang berwujud dan

tidak berwujud yang penyerahannya dilakukan oleh debitur atau orang lain atas

nama debitur/pihak ketiga dengan fungsi untuk menjamin pemenuhan piutang

kreditur, dimana pemegang gadai mempunyai hak untuk didahulukan (hak


49

preferen) dari kreditur-kreditur lainnya, kecuali ditentukan lain dalam Undang-

undang.

2. Sifat Perjanjian Gadai Sebagai Perjanjain Accessoir

Perjanjian gadai sifatnya accesoir, artinya ia merupakan perjanjian tambahan

dari suatu perjanjian pokok pinjam-meminjam uang dimana ia dimaksudkan

untuk menjaga agar jangan sampai siberhutang lalai dalam pembayaran uang

pinjamannya.

Perjanjian accesoir mempunyai ciri-ciri antara lain : tidak dapat berdiri

sendiri, ada maupun hapusnya bergantung pada perjanjian pokoknya dan apabila

perjanjian pokoknya dialihkan maka secara otomatis pun ia ikut teralih.

Dengan diadakan perjanjian accessoir ini akan membawa konsekuensi

sebagai berikut :

1) Sekalipun perjanjian gadainya sendiri mungkin dibatalkan karena melanggar

ketentuan gadai yang bersifat memaksa, tetapi perjanjian pokok itu sendiri

yang biasanya perjanjian kredit, tetap berlaku, kalau ia dibuat secara sah.

Hanya saja tagihan tersebut kalau tidak ada dasar preferensinya sekarang

berkedudukan sebagai tagihan konkuren.

2) Hak gadainya sendiri tidak dapat dipindah tangankan tanpa turut

berpindahnya perikatan pokoknya, tetapi sebaliknya pengoperan perikatan

pokok meliputi pula semua accessoir, dalam mana termasuk kalau ada hak

gadainya, yang demikian sesuai dengan ketentuan pasal 1533 KUH Perdata.
50

Menurut Hoey Tiong (1985 : 17), unsur-unsur yang harus dipenuhi dalam

suatu perjanjian gadai adalah :

a. Gadai lahir karena penyerahan kekuasaan atas barang gadai kepada kreditur

pemegang gadai.

b. Penyerahan barang itu dapat dilakukan oleh debitur pemberi gadai atau orang

lain atas nama debitur.

c. Barang yang menjadi objek gadai atau barang atau barang gadai hanyalah

benda/barang bergerak.

d. Kreditur pemegang gadai berhak mengambil pelunasan piutang dari barang

gadai lebih dahulu daripada kreditur lainnya.

3. Hak dan Kewajiban Kreditur Pemegang Gadai

a. Hak-hak kreditur pemegang gadai

1) Parate eksekusi, kreditur berhak menjual atas kekuasan sendiri, setelah

lewat jangka waktu yang telah diperjanjikan. Parate eksekusi sendiri

adalah kewenangan kreditur untuk mengambil pelunasan piutang dari

kekayaan debitur dengan tanpa melalui proses pengadilan, dan untuk

melaksanakan parate eksekusi ini kreditur harus telah melakukan somasi

kepada pemberi gadai supaya hutangnya dibayar, sesuai dengan pasal

1155 KUH Perdata.

2) Hak menjual barang gadai dengan perantaraan hakim, ini sesuai dengan

pasal 1156 KUH Perdata.


51

3) Hak menahan benda sampai segala macam hutang debitur dibayar lunas

(hak retensi), sesuai dengan pasal 1159 KUH Perdata.

4) Berhak untuk didahulukan dari pembayaran-pembayaran debitur terhadap

kreditur lainnya (hak preferen), sesuai dengan pasal 1150 KUH Perdata.

5) Berhak meminta penggantian biaya yang telah dikeluarkannya dalam

rangka menjaga agar nilai barang gadai tidak merosot, sesuai dengan pasal

1157 KUH Perdata.

b. Kewajiban kreditur pemegang gadai

1) Tidak dapat atau tidak wenang untuk memiliki benda jaminan secara

otomatis, sesuai dengan pasal 1154 KUH Perdata.

2) Bertanggung jawab atas hilangnya atau merosotnya nilai barang objek

gadai jika hilang atau merosotnya barang gadai tersebut atas kelalaiannya,

sesuai dengan pasal 1157 KUH Perdata

3) Kreditur tidak dapat memakai, menggunakan, mengeksploitasi barang

jaminan untuk kepentingan diri sendiri kecuali ada perjanjian secara tegas

yang memungkinkan untuk itu, sesuai dengan pasal 1159 KUH Perdata.

4) Kreditur wajib memberitahukan kepada pemberi gadai jika barang gadai

itu dijual atas kekuasan sendiri, sesuai pasal 1155 dan 1156 KUH Perdata.

5) Bertanggung jawab atas hasil penjualan barang gadai, yaitu digunakan

untuk pelunasan jumlah piutangnya, sesuai pasal 1155 KUH Perdata.

4. Hak dan Kewajiban debitur / penjamin selaku pemberi gadai

a. Hak-hak debitur / penjamin sebagai pemberi gadai


52

1) Berhak meminta agar pemegang gadai memperhitungkan hasil bunga yang

didapatkan dari barang gadai (jika barang gadai berupa piutang atau

tagihan yang menghasilkan bunga) dengan kewajiban bunga kredit yang

harus dibayarkannya, sesuai dengan pasal 1158 KUH Perdata.

2) Berhak menuntut pemegang gadai jika atas penjualan barang gadai telah

tidak digunakan oleh penerima gadai guna pelunasan hutang pemberi

gadai, sesuai dengan pasal 1155 KUH Perdata.

3) Berhak menuntut penerima gadai sehubungan dengan hilang atau

merosotnya nilai barang gadai yang disebabkan karena kelalaian penerima

gadai, sesuai dengan pasal 1157 KUH Perdata.

4) Berhak menuntut penerima gadai untuk mengembalikan barang gadai jika

penerima gadai menyalahgunakan barang gadai tersebut, sesuai dengan

pasal 1159 KUH Perdata.

b. Kewajiban debitur / penjamin sebagai pemberi gadai

1) Wajib mengganti segala biaya yang telah dikeluarkan oleh pemegang

gadai ketika pemegang gadai berupaya mempertahankan keselamatan

barang gadai, sesuai dengan pasal 1157 KUH Perdata.

2) Wajib menyerahkan barang gadai ke dalam penguasaan penerima gadai,

sesuai dengan pasal 1152 KUH Perdata.

3) Wajib menerima pemberitahuan atas penjualan barang gadai guna

pelunasan hutang yang tidak dapat diselesaikan, sesuai pasal 1155 KUH

Perdata.
53

4) Wajib menyetujui perhitungan pelunasan atas hutang yang dijamin dengan

gadai, pelunasan mana berasal dari hasil penjualan barang gadai, sesuai

dengan pasal 1155 KUH Perdata.

5. Berakhirnya Perjanjian Gadai

Ada enam alasan yang dikemukakan oleh Satrio (2002 : 132) dimana

perjanjian gadai berakhir. Alasan-alasan itu adalah jika :

a. Hapusnya perikatan pokok yang dijamin dengan gadai.

b. Terlepasnya benda jaminan dari kekuasaan pemegang gadai.

c. Musnahnya benda jaminan gadai.

d. Dilepasnya benda jaminan gadai dengan sukarela.

e. Adanya percampuran dimana pemegang gadai menjadi pemilik barang gadai.

f. Jika terjadi penyalah gunaan benda gadai oleh pemegang gadai.

E. Tinjauan Tentang Deposito Sebagai Jaminan Kredit

1. Pengertian Deposito

Pengertian deposito disebut dalam pasal 1 angka (7) UU Perbankan. Pasal

tersebut menyatakan bahwa “Deposito adalah simpanan yang penarikannya hanya

dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian nasabah penyimpan

dengan bank”

Berdasarkan pasal tersebut, deposito dikategorikan sebagai bentuk simpanan

dana oleh nasabah penyimpan (deposan) kepada pihak bank, dimana berdasarkan
54

perjanjian antara keduanya, dana itu dapat ditarik kembali oleh nasabah setelah

jangka waktu tertentu.

Kata perjanjian yang terdapat pada pasal 1 angka (7) UU Perbankan tersebut

menunjukan bahwa simpanan deposito yang lahir dari perjanjian yang dibuat

antara pihak bank dengan nasabah, tidak terikat bentuknya, tetapi diberikan

kesempatan kepada para pihak untuk menentukan syarat-syaratnya. Asas ini

sengaja demikian untuk memberikan ruang gerak kepada bank dan nasabah dalam

menentukan syarat-syarat deposito yang akan dibuat diantara mereka.

Anwari (1979 : 12) memberikan pengertian bahwa “deposito adalah nama

yang diberikan pada simpanan deposan di bank yang lasim diletakkan pada

persyaratan jangka waktu penyimpanan”.

Referensi dari sarjana lain, seperti Karim (2004 : 411), juga mengemukakan

pendapat bahwa : “uang yang dititipkan pada bank oleh pribadi maupun lembaga

usaha tertentu untuk disimpan dan kemudian ditarik kembali saat dibutuhkan atau

berdasarkan syarat yang telah disepakati bersama, yang dapat dimintai atau

dibutuhkan disebut deposito”.

Berdasarkan uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa deposito adalah

simpanan uang ke bank yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu

tertentu menurut perjanjian yang telah disepakati yang dibuat secara tertulis oleh

dan antara pihak bank dengan nasabah penyimpan dana (deposan).


55

2. Jenis-jenis Deposito

Simorangkir dalam bukunya “Seluk Beluk Bank Komersial”, membagi

deposito menjadi empat jenis, yaitu :

a. Deposito berjangka (time deposit), yaitu simpanan dalam rupiah milik pihak

ketiga yang penarikannya dilakukan setelah jangka waktu tertentu menurut

perjanjian antara bank dan si penyimpan (deposan). Bila jangka waktunya

telah habis maka kemungkinannya deposan dapat mencairkan atau

memperpanjang jangka waktunya. Jangka waktu deposito ini biasanya

bervariasi mulai dari 1, 2, 3, 6 ataupun 12 bulan, tergantung kesepakatan

kedua belah pihak. Dalam praktek sehari-hari jenis ini lasim disebut deposito

biasa.

b. Deposito on call, yaitu simpanan deposan dalam jumlah tertentu artinya

penempatannya ada syarat jumlah minimal tertentu, biasanya lebih besar dari

deposito berjangka biasa, dan jangka waktu penempatannya minimal 7 hari,

tergantung bank yang bersangkutan.

c. Deposito Automatic Roll-over, perbedaannya dengan deposito berjangka biasa

ialah ketika jatuh tempo maka pihak bank harus melakukan perpanjangan

jangka waktu secara otomatis, tanpa menunggu konfirmasi lagi ke deposan.

Artinya pada saat penempatannya sudah ditentukan syarat perpanjangan

otomatis tersebut.

d. Sertifikat Deposito, adalah surat berharga yang pada hakikatnya sama dengan

surat tanda bukti menyimpan uang. Perbedaan dengan deposito biasa adalah
56

pembayaran bunganya adalah diawal penempatan, diterbitkan oleh bank

sebagai surat berharga atas unjuk yang dapat diperjual-belikan atau dipindah

tangankan, sedangkan deposito biasa diterbitkan atas nama dan tidak dapat

diperjual-belikan (Simorangkir, 1988 : 79-88).

3. Deposito Sebagai Jaminan Kredit

Sebagaimana telah diuraikan dalam bagian terdahulu bahwa jaminan

diperlukan sebagai salah salah satu sumber pembayaran kredit jika kredit yang

diberikan bermasalah maka deposito belakangan ini juga berkembang menjadi

trend yang berlaku/diterima sebagai jaminan kredit. Diterimanya deposito sebagai

jaminan kredit tidak terlepas dari sifat kepastian jumlahnya yang memang sangat

pasti dan sangat likuid dibanding dengan jaminan-jaminan kredit lainnya.

Sehingga dapat dikatakan bahwa pemberian kredit dengan jaminan deposito

memberikan tingkat keamanan yang sangat tinggi dan pasti bagi kreditur. Apalagi

jika deposito tersebut keberadaannya (penempatannya) berada di bank pemberi

kredit.

Selain karena sifatnya yang sangat likuid tersebut, dari sudut debitur, faktor

pendorong deposito diserahkan sebagai jaminan kredit, adalah pertimbangan

proses permohonan dan approval kredit serta biaya. Dibandingkan dengan kredit

dengan jaminan selain deposito, proses permohonan dan approval kreditnya

sangat cepat dan tidak berbelit-belit. Demikian juga dengan biaya, dalam kredit

dengan jaminan deposito (back to back loan), biaya kredit yang dikeluarkan oleh

debitur dapat ditekan sedemikian rupa sehingga bisa jauh lebih murah
57

dibandingkan dengan kredit umum dengan jaminan lainnya. Hal ini disebabkan

karena dua hal :

a. seluruh pengikatan kredit dan jaminannya cukup dilakukan secara dibawah

tangan;

b. karena kepentingan kreditur yang tidak mau kehilangan bisnis dari sisi

pendanaan, yaitu dengan penempatan depositonya di bank yang sama dengan

kreditur, maka bagi kreditur, deposito jaminan ini juga membawa keuntungan

tersendiri sebagai bagian dari pemenuhan target pengumpulan dana-dana

pihak ketiga. Sehingga karenanya, terdapat bargaining position yang relatif

lebih kuat dibanding dengan jenis-jenis kredit dengan jaminan selain deposito.

4. Tata Cara Pengikatan Deposito Sebagai Jaminan Kredit

Deposito termasuk dalam kategori benda bergerak yang tidak berwujud,

sehingga atasnya, dapat dibebani dengan hak gadai. Terhadap gadai atas benda

bergerak tersebut maka hukum yang berlaku adalah ketentuan dalam KUH

Perdata pasal 1150 sampai dengan pasal 1160.

Hak gadai terjadi dengan penyerahan benda gadai secara nyata sehingga

benda tersebut berada di bawah kekuasaan kreditur. Hak kebendaan (jaminan)

atas benda bergerak itu ada pada pemegang gadai. Hal tersebut tercantum dalam

pasal 1152 ayat 1 KUH Perdata :

“Hak gadai atas benda-benda bergerak dan atas piutang-piutang bawa diletakkan

dengan membawa barang gadainya dibawah kekuasaan si berpiutang atau seorang

pihak ketiga, tentang siapa telah disetujui oleh kedua belah pihak.”
58

Gadai merupakan perjanjian accesoir, maksudnya adalah bahwa sebelum

diadakan perjanjian gadai, terlebih dahulu harus ada perjanjian kredit sebagai

perjanjian pokoknya.

Maka untuk mengikat deposito sebagai jaminan kredit, akan dilakukan

tahap-tahap pengikatan sebagai berikut :

a. Tahap pertama. Pengikatan kredit sebagai perjanjian pokok dimana

didalamnya disebutkan jaminan kredit ini adalah deposito.

b. Tahap kedua. Pengikatan deposito dilakukan dengan pembuatan akta

perjanjian gadai antara pemilik deposito dengan pihak bank. Menurut hukum,

akta perjanjian gadai dapat dibuat secara sah dengan dilakukan secara notaril

maupun dibawah tangan, dibuat untuk menjamin perjanjian pokoknya yang

berupa perjanjian kredit.

c. Tahap ketiga. Untuk membebankan hak gadai maka setelah pembuatan akta

perjanjian gadai antara pemilik deposito dengan pihak bank, selanjutnya

diikuti dengan penyerahan bilyet deposito yang dijaminkan kepada pemegang

gadai, dalam hal ini pihak bank. Penyerahan tersebut merupakan penyerahan

yang nyata, artinya bilyet deposito itu harus benar-benar diserahkan dibawah

kekuasaan bank, tidak boleh hanya berdasarkan pada pernyataan dari pemberi

gadai saja, tetapi benda itu masih berada didalam kekuasaannya. Penyerahan

nyata ini dilakukan bersamaan dengan penyerahan yuridis, sehingga

penyerahan tersebut merupakan unsur sahnya gadai.


59

d. Tahap keempat. Bersamaan dengan tahap ketiga, pemilik deposito/penjamin

harus memberikan kuasa kepada pemegang gadai/pihak bank untuk

melakukan pencairan deposito dalam hal pemilik deposito/debitur

wanprestasi. Kuasa mencairkan deposito ini adalah juga bentuk nyata

penyerahan yuridis deposito kepada bank untuk memudahkan pihak kreditur

dalam melakukan pelunasan kredit yang dijamin dengan deposito tersebut.

e. Tahap kelima. Kreditur selaku penerima gadai deposito akan melakukan

pemblokiran atas deposito jaminan tersebut sesuai dengan jangka waktu

perjanjian kreditnya. Artinya sepanjang kredit sebagai perjanjian pokok belum

dilunasi maka sepanjang itu pula deposito jaminan diblokir.

Untuk efektifnya pengikatan jaminan deposito, perlu diperhatikan bagaimana

status keberadaan deposito tersebut, apakah merupakan harta bersama dalam

perkawinan atau tidak. Untuk itu perlu diperhatikan status perkawinan daripada

debitur atau penjaminnya. Jika di dalam perkawinan tersebut ada perjanjian kawin

yang menyebabkan tidak ada percampuran harta, maka dalam hal pengikatannya,

pemilik deposito dapat bertindak sendiri tanpa adanya persetujuan dari isteri atau

suaminya. Tetapi jika di dalam perkawinannya tidak ada perjanjian kawin,

sehingga demi hukum harus dipandang bahwa telah terjadi persatuan harta secara

bulat, maka diperlukan persetujuan penjaminan dari isteri atau suami pemilik

deposito. Ini penting guna memenuhi ketentuan hukum dalam penjaminan harta

bersama di dalam perkawinan, sehingga dengan terpenuhinya pengikatan yang

dibuat benar-benar mengamankan pihak bank selaku penerima jaminan.


60

BAB III

CARA PENELITIAN

Sebagai suatu hasil karya ilmiah yang memenuhi nilai-nilai ilmiah, maka

penelitian ini dilakukan dengan pendekatan-pendekatan sistematis dan metodologis

seperti terurai berikut :

A. Sifat Penelitian

Penelitian mengenai Aspek Hukum Pemberian Kredit Dengan Jaminan

Deposito (Kredit Back to Back) khususnya terhadap pengikatan jaminan deposito

yang tidak turut ditanda tangani oleh isteri atau suami pemilik deposito di PT.

Bank Danamon Indonesia, Tbk Kantor Cabang Manado merupakan suatu

penelitian hukum empiris (yuridis-empiris), yang menitik beratkan pada

penelitian lapangan (studi lapangan) guna mendapatkan data primer. Dan untuk

menunjangnya dilakukan penelitian kepustakaan (studi literatur) untuk

memperoleh data sekunder.

Laporan hasil penelitian ini bersifat deskriptif analitis, artinya laporannya

menggambarkan (mendeskripsikan) fakta-fakta empiris di lapangan dengan

menggunakan analisa normatif sehingga fakta-fakta tersebut mempunyai makna

dan kaitan dengan permasalahan yang diteliti. Dari penelitian ini diharapkan dapat

memberikan gambaran secara rinci dan sistematis tentang permasalahan empiris


61

di lapangan dan akhirnya didapatkan solusi hukum berdasarkan data yang

diperoleh.

B. Jenis Penelitian

Kegiatan penelitian ini dilakukan dengan 2 (dua) jenis penelitian berupa :

1. Penelitian Kepustakaan (studi literatur)

Penelitian kepustakaan dilakukan dalam rangka memperoleh data sekunder,

yaitu data yang sudah tersedia yang berasal dari :

a. Bahan hukum primer yaitu bahan hukum yang mengikat yang diurut

berdasarkan hirarki perundang-undangan yang meliputi :

1) Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUH Perdata).

2) Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan Atas

Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan.

3) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.

4) Akta Perjanjian Kredit dan Akta Gadai Deposito yang berlaku di PT.

Bank Danamon Indonesia, TBk.

5) Memorandum-memorandum tentang jaminan kredit yang berlaku di

PT. Bank Danamon Indonesia, TBk.

b. Bahan hukum sekunder yaitu bahan yang memberikan penjelasan

mengenai bahan hukum primer yang meliputi :

1) Literatur yang membahas mengenai masalah perbankan.

2) Literatur yang membahas mengenai hukum perjanjian.


62

3) Literatur yang membahas mengenai hukum jaminan.

c. Bahan hukum tersier yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk atau

penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder seperti kamus

hukum, ensiklopedia dan lain-lain.

d. Alat Pengumpulan Data

Alat pengumpulan data dalam penelitian kepustakaan ini adalah studi

dokumen atas bahan-bahan hukum tersebut.

2. Penelitian Lapangan (studi lapangan)

Penelitian lapangan dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh data

primer, yaitu data yang langsung diperoleh dari sumbernya.

a. Lokasi penelitian

Penelitian ini dilakukan di PT.Bank Danamon Indonesia, Tbk Kantor

Cabang Manado, Jl. Toar No.17 Manado, Propinsi Sulawesi Utara.

Pemilihan lokasi penelitian ini dilakukan dengan pertimbangan untuk

kemudahan akses penelitian karena sebelum mengambil studi notariat,

penulis adalah mantan karyawan PT. Bank Danamon Indonesia, TBk

selama 13 tahun dan terakhir berkantor di Kantor Cabang Manado.

b. Subyek penelitian

Subyek penelitian adalah PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk Kantor

Cabang Manado sebagai kreditur pemberi kredit dan nasabah debiturnya

yang memperoleh fasilitas kredit dengan jaminan deposito (kredit back to

back).
63

c. Teknik Pengambilan Sampel

Penentuan sampel terhadap nasabah dilakukan dengan teknik random

sampling (acak) diantara nasabah debitur yang memperoleh fasilitas kredit

back to back. Jumlah debitur back to back yang ada di PT. Bank

Danamon Indonesia, Tbk Kantor Cabang Manado adalah 10 (sepuluh)

debitur. Dari jumlah tersebut peneliti mengambil acak sejumlah 4 (empat)

debitur untuk dijadikan responden.

Dengan demikian yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah :

1) Business Manager (BM), Account Officer atau Marketing Officer (AO

atau MO), Credit Support Administration (CSA), Apraisal Officer,

Legal Officer dan Remedial (Collection) Officer dari PT. Bank

Danamon Indonesia, Tbk Kantor Cabang Manado.

2) Nasabah debitur PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk Kantor Cabang

Manado yang memiliki fasilitas pinjaman dengan jaminan deposito

(kredit back to back), yang telah ditentukan secara random. Dari

random yang dilakukan terpilih 4 (empat) debitur back to back sebagai

responden.

d. Alat dan Cara Pengumpulan Data

Alat pengumpulan data dalam penelitian lapangan ini adalah pedoman

wawancara, dalam hal ini pedoman wawancara tidak terstruktur, yang

hanya memuat garis besar tentang hal yang akan ditanyakan, selanjutnya

dikembangkan sendiri oleh peneliti dengan teknik wawancara bebas guna


64

mendapatkan data yang dibutuhkan. Cara pengumpulan datanya dilakukan

dengan wawancara. Wawancara dilakukan dengan wawancara langsung

ke tempat para responden berada.

C. Jalannya Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan mengikuti alur atau langkah-langkah sebagai

berikut :

1. Tahap persiapan, yaitu tahap pra penelitian dengan terlebih dahulu melakukan

perumusan masalah yang akan diteliti, selanjutnya dibuatkan dalam bentuk

proposal penelitian untuk mendapatkan persetujuan dari dosen pembimbing.

Setelah proposal disetujui peneliti menyusun pedoman wawancara dan penentuan

/ pengambilan responden.

2. Tahap pelaksanaan, yaitu tahap pengerjaan penelitian itu sendiri. Tahap ini

dilaksanakan dengan dua langkah yaitu penelitian kepustakaan (studi literatur)

yang ditujukan untuk menelusuri bahan-bahan pustaka yang relevan untuk

diangkat dalam kerangka teoritis; dan pelaksanaan penelitian di lapangan untuk

melakukan pengumpulan data primer dari responden maupun nara sumber.

3. Tahap penyelesaian, yaitu tahap pengolahan (analisis) data yang dilanjutkan

dengan penyusunan draft tesis untuk dikonsultasikan dan mendapatkan

persetujuan dari dosen pembimbing. Setelah mendapatkan persetujuan

pembimbing, finalisasinya adalah pelaksanaan presentasi dihadapan komisi

dosen penguji untuk dipertanggung jawabkan secara ilmiah.


65

D. Analisis Data

Seluruh data primer dan sekunder yang diperoleh dari penelitian lapangan

dan pustaka diklasifikasikan dan disusun secara sistematis, sehingga dapat dijadikan

acuan dalam melakukan analisis.

Langkah selanjutnya, dari data primer dan data sekunder yang telah disusun

dan ditetapkan sebagai sumber dalam penyusunan tesis ini kemudian dianalisa secara

kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif.

Analisa kualitatif yaitu metode analisis data yang mengelompokkan dan

menyeleksi data yang diperoleh dari penelitian lapangan menurut kualitas dan

kebenarannya kemudian dihubungan dengan teori-teori yang diperoleh dari studi

kepustakaan sehingga diperoleh jawaban atas permasalahan. Sedang metode

deskriptif yaitu metode analisis dengan memilih data yang menggambarkan keadaan

sebenarnya di lapangan.

E. Hambatan-hambatan yang dihadapi dan cara mengatasinya

Peneliti tidak mengalami kesulitan yang berarti dalam melaksanan penelitian

ini, karena sebelum mengikuti program studi Magister Kenotariatan Universitas

Gadjah Mada ini, peneliti adalah karyawan PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk yang

bekerja selama 13 tahun dalam berbagai jabatan di beberapa kota, mulai dari Legal

and Appraisal Officer di Cabang Palu, Account Officer di Cabang Palu , Vice Branch

Manager di Cabang Palu, Branch Manager di Cabang Toli-toli, kemudian sewaktu

Bank Danamon Change Management pada saat Bank Danamon diambil alih oleh
66

Konsorsium Asia Finance Indonesia (Asia Financial Indonesia, Pte. Ltd.), menjadi

Business Manager di Cabang Amurang, Cabang Kotamobagu, dan terakhir berkantor

di Kantor Cabang Manado sebagai Senior Account Officer. Sehingga dengan

demikian para responden (nara sumber) baik yang berasal dari pejabat bank yang

berkompeten ataupun nasabahnya sudah saling kenal sebelumnya. Satu-satunya

hambatan yang ditemui hanyalah pada penentuan waktu untuk wawancara dengan

responden debitur yang sekaligus pemilik jaminan deposito disebabkan karena

kesibukan dalam usahanya masing-masing. Hambatan ini diatasi dengan lebih dahulu

menghubungi nasabah debitur dengan melakukan telepon untuk meminta kesepakatan

waktu bertemu dan peneliti tinggal menyesuaikan dengan kesediaan waktu mereka.

Dengan cara ini, hambatan tadi teratasi dengan baik.


67

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk dan Kantor Cabang

Manado

1. Sejarah Singkat PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk.

PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk didirikan pada tahun 1956 dengan nama

PT. Bank Kopra Indonesia. Pada tahun 1976 dilakukan penggantian nama

menjadi PT. Bank Danamon Indonesia, nama itu terus dipertahankan hingga

kini. Bank Danamon mencatatkan diri sebagai bank devisa swasta pertama di

Indonesia pada tahun 1976 dan menjadi Perseroan Terbuka pada tahun 1989.

Pada tahun 1997, sebagai akibat krisis moneter di Asia, Bank Danamon

mengalami kesulitan likuiditas dan diambil alih oleh Badan Penyehatan

Perbankan Nasional (BPPN) sebagai salah satu Bank Take Over (BTO). Pada

tahun 1999, Pemerintah Indonesia melalui BPPN merekapitalisasi Bank

Danamon dengan obligasi pemerintah senilai Rp 32 triliun. Saat itu juga, Bank

Danamon sebagai sebuah bank BTO dilebur ke Perseroan sebagai bagian dari

program pembenahan BPPN.

Pada tahun 2000, delapan bank BTO lainnya dilebur ke dalam Bank

Danamon. Bank-bank tersebut adalah : Bank Rama, Bank Duta, Bank Tiara,

Bank Nusa Nasional (BNN), Bank Tamara, Bank Risjad Salim Internasional
68

(Bank RSI), Bank Jaya, dan Bank Pos. Sejak saat itu, sebagai surviving entity,

Bank Danamon bangkit menjadi salah satu pilar perbankan nasional.

Dalam kurun waktu tiga tahun berikutnya, Bank Danamon melakukan

restrukturisasi luas mencakup manajemen, sumber daya manusia, organisasi,

sistem, nilai, perilaku serta identitas perusahaan. Upaya ini berhasil meletakkan

fondasi maupun prasarana baru bagi Perseroan guna meraih pertumbuhan

berdasarkan nilai-nilai “Transparansi”, “Responsibilitas”, “Integritas” dan

“Profesionalisme” (TRIP).

Pada tahun 2003, melalui dealing dengan BPPN, Bank Danamon diambil

alih oleh Konsorsium Asia Finance Indonesia (Asia Financial Indonesia, Pte.

Ltd.) sebagai pemegang saham pengendali. Kepemilikan terbesar dari

Konsorsium Asia Finance ini adalah Temasek, Pte. Ltd., yaitu salah satu

BUMN-nya Singapura. Dengan kendali manajemen baru, serta modal 180-hari

pemetaan model bisnis dan strategi baru, Bank Danamon terus menjalani

perubahan transformasional yang dirancang untuk dijadikannya sebagai bank

nasional terkemuka dan pelaku regional unggulan. Menurut data publikasi Bank

Danamon per tanggal 30 September 2007, kepemilikan saham Bank Danamon

adalah 68,2 % oleh Asia Financial (Indonesia) Pte. Ltd., dan sisanya 31,8 %

oleh publik.

Dalam menjalankan operasionalnya, Bank Danamon mempunyai Visi :

“Kita peduli dan membantu jutaan orang mencapai kesejahteraan (We care and

Enable Millions to Prospers).” Visi tersebut berjalan beriringan dengan misinya


69

“Danamon bertekad untuk menjadi Lembaga Keuangan Terkemuka di

Indonesia yang keberadaannya diperhitungkan”. Sebagai suatu organisasi yang

terpusat pada nasabah, Bank Danamon yang melayani semua segmen dengan

menawarkan nilai yang unik untuk masing-masing segmen, berdasarkan

keunggulan penjualan dan pelayanan, dan didukung oleh teknologi kelas dunia.

Aspirasinya adalah menjadi perusahaan pilihan untuk berkarya dan yang

dihormati oleh nasabah, karyawan, pemegangan saham, regulator dan

komunitas dimana Bank Danamon berada.

Guna merealisasikan Visi dan Misi tersebut, Bank Danamon memiliki nilai-

nilai yang harus dipegang teguh oleh seluruh karyawan dalam melaksanakan

pekerjaannya. Nilai-nilai tersebut adalah “Peduli (caring), Jujur (honesty),

Mengupayakan yang terbaik (passion to excel), Kerjasama (teamwork) dan

Profesionalisme yang disiplin (disciplined professionalism).

Berdasarkan data publikasi Bank Danamon per tanggal 30 September 2007,

kinerja keuangan Bank Danamon dari bulan Januari hingga bulan September

2007 dinilai sangat baik, terjadi peningkatan yang signifikan dibanding

periode yang sama pada tahun 2006. Dengan Total Aktiva Rp.87.987 Milyar,

Bank Danamon berhasil mengumpulkan Laba Bersih Sebelum Pajak sebesar

Rp.2.542 Milyar, Laba Bersih Setelah Pajak Rp.1.600 Milyar (ROAA 2,5 %),

dengan cost to income ratio sebesar 46,8 %. Total kredit yang disalurkan adalah

Rp.50.153 Milyar dan berhasil membukukan dana pihak ketiga sebesar

Rp.58.853 Milyar. Rasio kecukupan modalnya (CAR) adalah 19,2 %, diatas


70

ketentuan CAR nasional. Rasio penyaluran kredit dibandingkan total dana

pihak ketiga (loan to deposit ratio) termasuk salah satu yang tertingi di

perbankan yang ada saat ini, yaitu dengan ratio 85 %. Bank Danamon juga

berhasil menekan non performing loan-nya dengan ratio gross 2,8 %, angka ini

masih berada dalam angka yang terkendali dan dibawah angka rata-rata

perbankan nasional.

Hingga saat ini Bank Danamon di dukung oleh 1.400 cabang, tersebar di

seluruh wilayah 33 Propinsi di Indonesia, 7 Kantor Wilayah, dengan jumlah

karyawan 33.000 orang. Selain unit konvensional, Bank Danamon juga telah

memiliki unit usaha syariah, yang dirintis sejak tahun 2002, hingga saat ini telah

dibuka 7 Kantor Cabang Syariah, tersebar di kota-kota besar di Indonesia,

dengan 3 unit Kantor Cabang Pembantu dan 12 Cabang Office Channeling.

Berkat dukungan dari berbagai stake-holder, di tahun 2007 ini Bank

Danamon telah meraih beberapa penghargaan yang cukup prestisius dan

membanggakan yakni, Indonesian Bank Loyalty Award (IBLA 2007) pada

Januari 2007, Worlds Best Trade Finance Awards 2007 pada bulan Januari

2007 dan Service Quality Award 2007 pada bulan Maret 2007. Demikian juga

dengan unit usaha syariahnya, telah mendapatkan penghargaan antara lain The

Best Phone Handling dan The Best Overall Service Quality dari Islamic

Banking Quality Award pada tahun 2005, pemenang kedua Loyalty Index

Syariah Banking pada tahun 2005, pemenang ketiga Best Syariah Banking pada

tahun 2006 dan The Most Innovative Syariah Bank pada bulan September 2007.
71

2. Bank Danamon Kantor Cabang Manado

Sebagai Ibukota Propinsi Sulawesi Utara, Kota Manado, dinilai memiliki

nilai strategis, karena selain sebagai kota yang sedang berkembang di Indonesia

Timur, juga merupakan salah satu kota yang menjadi pusat perdagangan di

perbatasan Indonesia dan Philipina, sehingga memiliki potensi bisnis yang baik

di masa yang akan datang. Untuk itulah Bank Danamon membuka kantor

cabangnya di Kota Manado.

Kantor Cabang Manado didirikan pada Bulan Mei tahun 1989,

berkedudukan di Jl. Toar No.17 Manado. Seiring perkembangan bisnis yang

dicapai, saat ini Bank Danamon Manado memiliki 3 kantor cabang pembantu,

masing-masing Kantor Cabang Pembantu (KCP) Manado Sutomo, KCP

Ranotana dan KCP Bahu Malalayang. Operasionalisasi ketiga KCP ini di

remote oleh Kantor Cabang Induknya yaitu Kantor Cabang Manado Toar.

Organisasi kerja Bank Danamon Kantor Cabang Manado didukung oleh

empat unit kerja, yakni : Unit Bisnis, yang terdiri dari Small Medium Enterpize

(SME) dan Consumer atau Primagold Banking (PB); Unit Operasional; dan

Supporting Business Unit. Keempat unit kerja ini masing-masing dipimpin oleh

seorang Manager yang kedudukan jabatannya selevel satu dengan lainnya.

Setiap unit kerja bertanggung jawab atas pencapaian kinerja di unitnya

masing-masing. Unit bisnis yang terbagi dalam dua sub unit, diberi tanggung

jawab pada pencapaian target baik dari sisi penyaluran kredit (loan) maupun

pengumpulan dana pihak ketiga (funding). Target market unit SME adalah
72

nasabah-nasabah yang memiliki skala usaha kecil-menengah (UKM), dengan

kriteria total asset produktif nasabah tidak boleh lebih dari Rp.5 milyar, atau

indikator lainnya dari sisi kredit, total kredit perbankan yang dinikmatinya

maksimum Rp.5 milyar. Dari sisi funding, SME ditargetkan untuk pencapaian

funding yang berasal dari dana-dana hasil usaha produktif nasabah.

Target market unit konsumer adalah pemberian kredit atas kebutuhan-

kebutuhan konsumtif nasabah, misalnya untuk pembelian rumah, pembelian

mobil, pembelian sepeda motor dan / atau kebutuhan-kebutuhan konsumtif

lainnya. Dari sisi funding, target market unit consumer adalah nasabah-nasabah

perorangan yang memiliki variabel fixed income, seperti karyawan swasta,

pegawai negeri, anggota Kepolisian Republik Indonesia dan atau anggota

Tentara Nasional Indonesia beserta pensiunannya.

Unit operasional bertanggung jawab atas seluruh pelayanan transaksi-

transaksi tunai maupun non-tunai di teller serta pelayanan jasa-jasa bank lainnya

berupa jasa transfer, inkaso, kliring, anjungan tunai mandiri (ATM), save

deposit box dan sebagainya.

Sedangkan unit supporting bisnis bertanggung jawab atas penata-usahaan,

pengikatan dan dokumentasi kredit, yang pekerjaannya meliputi administrasi,

pembukuan, dan pembuatan laporan-laporan perkreditan ke Bank Indonesia.

Secara struktural, masing-masing unit kerja ini bertanggung jawab secara

vertikal ke Kantor Wilayah sesuai garis bidangnya masing-masing, seterusnya


73

Kantor Wilayah bertanggung jawab kepada Divisinya masing-masing di Kantor

Pusat dan terakhir Divisi bertanggung jawab kepada Dewan Direksi.

3. Pencapaian Bisnis Bank Danamon Cabang Manado

Keberadaan Bank Danamon Kantor Cabang Manado, cukup diperhitungkan

oleh bank-bank kompetitor yang ada di Manado. Dari data Statistik Bank

Indonesia Manado, per tanggal 31 Agustus 2007, mengindikasikan angka-angka

kinerja yang cukup baik. Dari sisi kredit, Bank Danamon berhasil menguasai

market share sebesar 12,9 % dari total penyaluran kredit perbankan yang ada di

wilayah Kota Manado sebesar Rp.1.972 milyar. Di sisi funding juga demikian,

berhasil menguasai market share sebesar 9,5 % dari total funding perbankan

sebesar Rp.3.836 milyar. Penyaluran kredit terkontrol dengan baik, hal itu

nampak pada angka gross kredit bermasalah yang hanya sebesar Rp.6,0 milyar.

Dari segi profitabilitas, sesuai data per tanggal 30 September 2007, Bank

Danamon Cabang Manado berhasil memperoleh laba sebesar Rp.16,6 milyar,

dengan total asset Rp.389,7 milyar.

Angka-angka ini membuktikan bahwa kinerja bisnis Kantor Cabang

Manado cukup berperan dalam kerangka pembangunan ekonomi masyarakat

guna peningkatan taraf hidup seluruh rakyat Indonesia. Peran serta ini akan

terus bergulir seiring dengan tuntutan kinerja cabang yang ditentukan oleh

Kantor Pusat Bank Danamon. Dengan dukungan karyawan yang berjumlah 145

orang, Bank Danamon Cabang Manado bertekad untuk terus berkarya dan
74

memberi warna dalam upaya peningkatan taraf hidup seluruh masyarakat

Indonesia.

B. Pelaksanaan Kredit dengan pengikatan Jaminan Deposito Yang Tidak

Turut Ditanda-tangani oleh Isteri atau Suami Pemilik Deposito Jaminan

1. Hasil Penelitian

a. Penelitian Terhadap Responden Bank

Telah dikemukakan diatas bahwa Bank Danamon Manado terus

menunjukan eksistensinya dalam upaya peningkatan taraf hidup

masyarakat pada umumnya. Dalam kerangka itu, Bank Danamon terus

berupaya meningkatkan angka penyaluran kredit kepada masyarakat,

selain tentunya berusaha untuk memperoleh tingkat keuntungan tertentu

sebagaimana ditargetkan oleh Kantor Pusat. Dari tahun ke tahun, akses

masyarakat untuk memperoleh fasilitas kredit terus dibuka, sehingga

seluruh masyarakat mempunyai kesempatan yang sama untuk

memperoleh fasilitas kredit di Bank Danamon. Tetapi sungguhpun

demikian, tidak semua masyarakat tentunya dapat menikmati fasilitas

yang ditawarkan itu, karena harus melalui proses tahap-tahapan analisa

kelayakan terlebih dahulu, sehingga hanya nasabah yang benar-benar

bankable-lah nantinya yang akan menikmati fasilitas kredit.

Untuk menunjang upaya penetrasi pasar, Bank Danamon menawarkan

berbagai jenis kredit yang dikemas sedemikian rupa mengikuti tuntutan


75

kebutuhan pasar yang ada. Terdapat berbagai pilihan variasi produk yang

masing-masing memiliki karakter dan keuntungan sendiri-sendiri. Untuk

kebutuhan modal kerja, terdapat Kredit Rekening Koran (KRK) dan

Kredit Berjangka (KB). Untuk kebutuhan investasi berupa pembelian atau

pembiayaan barang modal usaha seperti mesin-mesin, pembukaan out-let

baru usaha, renovasi tempat usaha, ataupun ekspansi usaha lainnya,

terdapat Kredit Angsuran Berjangka (KAB) yang jangka waktu

pengembaliannya dapat disesuaikan dengan cash flow usaha nasabah.

Untuk fasilitas penunjang usaha lainnya dalam bentuk non-cash loan

terdapat produk-produk trade-finance seperti L/C, Guarantee Bank, Trust

Receipt, Pre Export Financing, Post Export Financing dan Rediscontro.

Sedangkan untuk kebutuhan konsumtif terdapat fasilitas Kredit Pemilikan

Rumah (KPR), Kredit Pemilikan Mobil (KPM), Kredit Sepeda Motor

(KPSM), dan Kredit Multi Guna (KMG), yang tergantung kepada

kebutuhan konsumtif nasabah.

Kebijakan dan prosedur penyaluran kredit, dari waktu ke waktu terus

dievaluasi dan dilakukan penyesuaian dengan tuntutan kebutuhan pasar

yang semakin hari juga semakin kompetitif. Langkah ini mau tak mau

harus dilakukan agar Bank Danamon tetap dapat bersaing di tengah

semakin ketatnya persaingan pasar, karena disaat yang sama bank-bank

kompetitor juga semakin ekspansif dalam penyaluran kredit. Salah satu

perubahan mendasar yang dilakukan adalah pola marketing, dari pola


76

yang lama marketing pasif “menunggu di tempat” dirubah menjadi

marketing aktif “turun ke pasar”. Marketing Officer (MO) atau biasa

dikenal juga Account Officer (AO) sebagai ujung tombak di lapangan di

haruskan untuk aktif melakukan approach untuk mendapatkan prospek

nasabah. Dari prospek nasabah ini MO akan melakukan analisa-analisa

awal, apakah memungkinkan untuk diproses lebih lanjut atau tidak. Jika

hasil penilaian awal baik, maka MO akan melakukan collecting data yang

diperlukan, mulai dari data legal aspect usaha berupa ijin-ijin usaha; aspek

keuangan nasabah berupa laporan keuangan, mutasi rekening bank yang

dimiliki; serta aspek collateral, berupa bukti kepemilikan atas barang

jaminan yang akan diserahkan guna menjamin kredit. Setelah melakukan

taksasi jaminan, marketing officer mengolah data yang ada untuk

selanjutnya dibuatkan memo analisa kredit dalam bentuk proposal kredit

dan diajukan kepada komite kredit yaitu pejabat pemegang wewenang

memutus kredit, untuk disetujui sesuai limitnya. Memo analisa kredit ini

berisikan analisa-analisa yang berkaitan dengan pemenuhan prinsip-

prinsip perkreditan yang dikenal dengan “the 5 principles of credit”. Dari

sini nantinya Komite Kredit akan me-review dan selanjutnya dikeluarkan

Memo Keputusan Kredit (MKK atau Credit Approval).

Dari aspek pemberian jaminan, satu perkembangan yang cukup positif

dalam praktek belakangan ini adalah pemberian jaminan berupa deposito.

Untuk mengakomodir demand pemberian jaminan dalam bentuk deposito


77

tersebut, Bank Danamon menciptakan suatu produk kredit yang cukup

ekslusif dengan nama Kredit dengan Jaminan Deposito atau di internal

Bank Danamon lasimnya disebut Pinjaman dengan Jaminan Deposito

(PJD atau kredit back to back).

Dibandingkan dengan jenis-jenis kredit umum yang telah disebutkan

diatas, terdapat beberapa perbedaan penanganan terhadap produk kredit

ini. Perbedaannya terletak pada proses pengajuan dan approval kreditnya,

pengikatan kredit dan jaminannya, maintenance debitur dan penentuan

plafond kredit yang dapat diberikan.

Dalam proses pengajuan kredit back to back, analisa mendalam tidak

perlu dilakukan selayaknya kredit umum lainnya, karena kredit jenis ini

benar-benar atas pertimbangan jaminan (based on collateral). Dengan

demikian, Bank Danamon memberikan target service level yang lebih

singkat dibandingkan dengan kedit umum lainnya. Service level yang

diukur sejak dari pengajuan kredit oleh MO hingga pengikatan dan

pencairan kreditnya, untuk kredit back to back hanya satu hari kerja.

Dari segi pengikatan kredit dan jaminannya, pada kredit umum

dengan jaminan sertifikat tanah dan bangunan ataupun berupa jaminan

lainnya, pengikatannya harus dilakukan secara notaril, berbeda halnya

dengan kredit back to back. Pengikatan kredit dan jaminan pada kredit

back to back cukup dilakukan dengan akta dibawah tangan.

Pertimbangannya adalah karena barang jaminan tersebut ada dalam


78

penguasaan Bank Danamon, sehingga dipandang sudah sangat aman bagi

bank. Tetapi hal penting yang diperhatikan oleh bank dalam hal ini adalah

pemenuhan aspek hukum dalam pelaksanaan pengikatannya, apakah

terpenuhi dengan baik atau tidak.

Dalam pengikatan kredit dan jaminannya, digunakan format standar

yang telah dibakukan oleh Kantor Pusat Bank Danamon. Baik perjanjian

pokoknya yang berupa Perjanjian Kredit maupun perjanjian accesoir-nya

berupa Perjanjian Gadai Deposito, standar bakunya telah disiapkan.

Untuk lebih memberikan alas hak kepada bank, maka perjanjian gadai

deposito tersebut diikuti dengan Surat Kuasa Mencairkan Deposito yang

diberikan oleh debitur atau pemilik jaminan deposito. Semua format

pengikatan ini telah distandarisir oleh kantor pusat, cabang selaku

pelaksana di lapangan tinggal mengisi blanko yang sudah ada, selanjutnya

memintakan penanda tanganan debitur/penjamin.

Ketentuan standar yang berlaku dalam hal pengikatan perjanjian kredit

dan jaminan, perjanjian itu selain ditanda tangani oleh debitur/pemilik

jaminan, juga harus turut ditanda tangani oleh isteri atau suami debitur

atau oleh isteri atau suami pemilik jaminan deposito. Ketentuan ini

dikecualikan jika terdapat bukti-bukti yang kuat yang menyatakan bahwa

dalam perkawinan debitur/penjamin terdapat perjanjian kawin.

Akan tetapi karena umumnya latar belakang munculnya kredit back to

back adalah atas inisiatif bank yang menawarkan faslitas itu kepada
79

debitur, maka dokumen menyangkut perjanjian kawin jarang dimintakan

konfirmasinya kepada debitur/penjamin. Untuk itu bank memberi

perlakuan (jalan pintas) dengan menggeneralisir bahwa tidak ada

perjanjian kawin, sehingga beranggapan bahwa seluruh harta dalam

perkawinan adalah harta bersama suami-isteri dari debitur/penjamin secara

bulat (terjadi persatuan harta secara bulat). Untuk itu setiap perjanjian

yang dibuat harus turut ditanda tangani atau mendapatkan persetujuan

daripada isteri atau suami debitur/penjamin. Maka dalam pelaksanaan

perjanjian jaminannya, isteri atau suami debitur/pemilik jaminan deposito

wajib hadir dan turut membubuhkan tanda tangan pada formulir

perjanjiannya.

Normatif ketentuan dalam pelaksanaan pengikatan tersebut memang

sangat ideal, tetapi sebagus-bagusnya aturan itu dirumuskan untuk

dilaksanakan, tidak selamanya seratus persen mulus terlaksana dalam

praktek seperti yang diharapkan.

Dalam praktek, khususnya terhadap kredit back to back, terdapat

berbagai macam argumentasi yang menyebabkan aturan tertulis tersebut

diterobos bahkan disimpangi. Ini dilatarbelakangi oleh karena pada

umumnya yang memiliki deposito itu adalah nasabah yang secara

ekonomi cukup kuat (kalangan berkecukupan atau the have), dan inisiasi

kredit itu berasal dari pihak bank untuk tujuan pencapaian bisnis,

sehingga golongan ini memiliki bargaining position tersendiri di mata


80

bank. Menyadari bargaining position-nya, debitur yang sekaligus juga

pemilik deposito mengajukan syarat dispensasi-dispensasi dalam hal

pengikatan kredit dan atau jaminan depositonya. Alasan-alasan yang

umum dikemukakan oleh debitur adalah tidak mau repot, deposito atas

nama debitur sendiri, dalam urusan penempatan deposito isteri atau suami

tidak pernah dilibatkan, sibuk, dan sebagainya. Berdasar alasan-alasan

tersebut, debitur mensyaratkan agar perjanjian kredit dan atau jaminan

depositonya tidak ditanda tangani oleh isteri atau suaminya. Hal ini tentu

membuat bank dalam posisi sulit, jika tidak memenuhi permintaan

debitur/pemilik deposito jaminan berarti kemungkinan bank akan

kehilangan bisnis dari dua sisi sekaligus : dari sisi funding, karena

depositonya bisa dicairkan atau dipindahkan ke bank lain; dari sisi kredit,

tidak ada incremental kredit karena kredit tidak jadi realisasi. Disisi lain,

jika memenuhi permintaan debitur/pemilik deposito sama artinya dengan

mengabaikan aspek hukum, sehingga membuka celah hukum yang dapat

melemahkan bank. Diperhadapkan dengan adanya tarik menarik

kepentingan ini, pada akhirnya bank memilih mengikuti kemauan

nasabah, setelah menempuh prosedur standar internal bank. Maka

terjadilah pengikatan kredit dan atau jaminan depositonya tanpa turut

ditanda tangani oleh isteri/suami pemilik deposito.

Pelaksana dan management cabang bukannya tidak menyadari resiko

hukum yang dihadapi, tetapi pertimbangan bisnis selalu menjadi pilihan


81

“terpaksa” jika diperhadapkan dengan masalah di atas. Maka dengan

motivasi bisnis, cabang melakukan terobosan dengan cara berupaya

mengalihkan resiko kepada pemutus kredit di kantor pusat. Untuk itu,

pelaksana di cabang menempuh jalan dengan mengajukan permohonan

one up level approval (OLA) yaitu mengajukan permohonan persetujuan

atas penyimpangan atau deviasi kepada komite kredit kantor pusat di

Jakarta.

Pengalaman yang ada bahwa komite kredit kantor pusat dalam

menanggapi dan merekomendasikan permohonan cabang tidak lepas dari

pertimbangan business orientation, sehingga cenderung menyetujui

realisasi kredit dengan pelaksanaan pengikatan sesuai permintaan nasabah.

Dalam menanggapi permohonan cabang, komite kredit kantor pusat akan

memberikan rekomendasi (solusi) dengan syarat agar cabang memenuhi

salah satu alternatif solusi, sebagai berikut :

1) disyaratkan agar dibuat persetujuan umum, yang dilakukan secara

terpisah dari pengikatan kredit dan gadai deposito oleh isteri atau

suami debitur/penjamin, yang isinya menyetujui tindakan hukum

apapun yang dilakukan oleh suaminya, termasuk mengajukan kredit

dan menjaminkan seluruh harta bersama kepada bank.

2) jika surat persetujuan yang sifatnya umum tersebut tidak dapat

diberikan, maka debitur diwajibkan membuat pernyataan bahwa atas


82

segala resiko yang timbul dari kredit dan deposito jaminan ini adalah

dalam tanggung jawab debitur sepenuhnya seorang diri.

Solusi ini sebetulnya juga merupakan bentuk upaya dari komite kredit

untuk bebas dari tanggung jawab hukum atas pemberian persetujuan yang

menyimpang akan tetapi pada prakteknya tidak selalu disetujui oleh

debitur/penjamin. Maka untuk mengatasi hal itu, pelaksana di cabang

akan terus melakukan permohonan dengan mengajukan argumentasi dan

perbandingan bisnis yang nyata (akan terjadi) bahwa jika syarat nasabah

tidak diikuti maka kredit terancam batal realisasi, sehingga dengan

batalnya realisasi, cabang akan kehilangan bisnis dari dua sisi : kredit dan

funding (deposito). Dengan kegigihan cabang berargumentasi, pada

akhirnya (selalu terjadi demikian), komite kredit kantor pusat

merekomendasikan deviasinya. Berdasar rekomendasi komite kredit

kantor pusat maka dilaksanakanlah pengikatan kredit back to back tanpa

turut ditanda tangani oleh isteri atau suami debitur/penjamin (pemilik

deposito). Sebaliknya, jika tanpa rekomendasi dari pemutus kredit, cabang

tidak akan melakukan pengikatan.

Perbedaan lainnya adalah dalam hal account maintenance. Untuk

kredit back to back, account maintenance setelah kredit dicairkan cukup

dilakukan oleh Marketing Officer sekali sebulan. Itupun tidak diwajibkan

harus melakukan on the spot kepada nasabah, melainkan cukup dengan

media telepon saja. Pada kredit umum, account maintenance dilakukan


83

lebih intensif, minimal dalam sebulan, MO harus on the spot kepada

debitur.

Hal lainnya yang berbeda adalah tentang penentuan plafond kredit.

Dalam kredit dengan jaminan deposito, plafond kredit ditentukan semata-

mata dari jumlah deposito yang dijaminkan, komite kredit dapat

menyetujui hingga maksimum sama besarnya dengan jumlah deposito

jaminan yang diserahkan, sedangkan pada kredit umum, penentuan

plafond kredit tidak semata-mata berdasarkan pada jaminan yang

diberikan, tetapi gabungan dari seluruh aspek penilaian kredit. Ketentuan

yang berlaku jika plafond kredit back to back diberikan sama dengan

jumlah deposito yang diserahkan, adalah penempatan deposito harus

secara automatic roll over (ARO) dan bunga dikapitalisasi ke pokok.

Tingkat suku bunga deposito jaminan hanya dapat diberikan counter-rate

artinya deposito jaminan tidak diperkenankan menggunakan special rate.

Sedangkan untuk suku bunga kreditnya adalah suku bunga deposito + 2

%, artinya suku bunga kredit dengan jaminan deposito bunganya lebih

mahal 2 % dibandingkan dengan bunga depositonya sendiri. Selisih bunga

ini diharapkan oleh bank akan menutupi overhead cost atas maintenance

debitur back to back, artinya selisih bunga ini membiayai diri sendiri.

Dari hal-hal yang telah diuraikan di atas, pertimbangan yang cukup

mendasar sehingga dibuatkan produk kredit dengan jaminan deposito ini

dilatar belakangi oleh karena faktor keamanan bagi bank, bahwa dengan
84

sifat deposito yang pasti jumlahnya dan sangat likuid dibandingkan

jaminan lainnya, keamanan bank atas resiko kredit ini sudah pasti teratasi

dengan penguasaan barang jaminan secara fisik oleh bank. Selain itu, dari

sisi debitur, memang menghendaki agar depositonya dijaminkan guna

mendapatkan kredit bank. Dan dengan penjaminan deposito ini, aspek

birokrasi dalam pengajuan dan pencairan kredit diperpendek, selain itu

juga biaya dapat ditekan sedemikian rupa.

b. Penelitian Dengan Responden Pihak Debitur Sekaligus Pemilik

Deposito Jaminan

Dari penelitian lapangan yang dilakukan kepada para debitur kredit

dengan jaminan deposito diketahui bahwa latar belakang mereka

mengajukan kredit back to back umumnya disebabkan karena probalilitas

persetujuan kreditnya yang sudah pasti, proses persetujuannya cepat,

tidak bertele-tele dan biaya murah. Berbeda dengan kredit umum dengan

jaminan sertifikat tanah dan bangunan, setelah mengajukan permohonan

peluang diterimanya hanya 50 %. Dari lama proses, pada kredit umum

dengan jaminan selain deposito, waktu prosesnya paling cepat dalam 14

hari kerja, sedangkan kredit back to back sudah bisa cair hanya dalam

waktu paling lama 2 hari kerja. Dari segi biaya, kalau kredit umum dengan

jaminan bukan deposito, selain biaya provisi dan administrasi, juga yang

paling besar biayanya adalah biaya pengikatan jaminan di notaris serta

biaya asuransi atas objek jaminan. Pada kredit back to back biaya
85

pengikatan di notaris dan asuransi jaminan tidak ada, yang ada hanya

dikenai biaya provisi dan administrasi, itupun masih dapat ditekan 50 – 75

% dari provisi administrasi pada kredit umum.

Faktor lain yang juga melatar belakangi diberikannya deposito sebagai

jaminan kredit adalah faktor psikologis penggunaan kredit bank. Jika

deposito yang dicairkan dan dipakai sebagai penambah modal dalam

kebutuhan usaha, karena memang bawaannya adalah milik sendiri maka

pemakaiannya biasanya kurang ketat perhitungannya, artinya bisa saja

debitur menggunakannya kepada hal-hal lain yang tidak ada hubungannya

dengan pembiayaan usaha. Sedangkan jika menggunakan kredit bank,

debitur merasa ada beban tersendiri yang harus dipikul, dan karena itulah

maka penggunaannya benar-benar difokuskan kepada pembiayaan usaha

yang produktif, sehingga dari usaha itu menghasilkan uang guna

pembayaran kewajiban ke bank.

Dalam pengikatan kredit dan jaminan deposito, karena pada dasarnya

yang dibutuhkan oleh nasabah adalah kecepatan pencairan kreditnya,

maka para nasabah umumnya tidak secara detail memperhatikan isi dari

perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh bank. Umumnya mereka

berpendapat bahwa perjanjian itu hanya memenuhi formalitas saja, yang

penting sudah ditanda tangani supaya kreditnya cepat cair. Debitur atau

pemilik deposito jaminan tidak sampai berpikir jauh tentang konsekuensi

hukum dari apa yang mereka tanda tangani dalam perjanjian kredit dan
86

gadai jaminan deposito. Yang ada dalam pikiran mereka hanyalah jika

kreditnya bermasalah maka deposito itulah yang dicairkan guna

pelunasannya.

Berangkat dari latar belakang pengikatan yang hanya memenuhi

formalitas saja, para debitur penerima kredit back to back tidak mau tahu

jika pengikatan-pengikatan yang dibuat oleh bank terlalu menyulitkannya

misalnya dengan mengharuskan isteri atau suaminya turut ikut menanda

tangani perjanjian. Logika yang dipegang oleh debitur adalah bilyet

deposito tertulis atas namanya, maka yang berhubungan dengan bank

hanyalah siapa yang tertulis di dalam bilyet deposito tersebut. Bahwa

selama penerbitan bilyet deposito, isteri atau suami tidak pernah dilibatkan

oleh bank, karenanya adalah hal yang wajar juga jika mereka tak mau tahu

dan tak mau mengerti jika isteri atau suaminya turut dibawa-bawa dalam

perurusan tersebut.

Ketika ditanyakan dengan pertanyaan bagaimana jika pihak bank

memaksakan agar isteri atau suaminya turut bertanda tangan dalam

perjanjian kredit dan jaminannya? Tentang hal ini ada dua pendapat yang

sedikit berbeda satu dengan lainnya, yang pertama, adalah golongan yang

keras dengan pandangannya bahwa bagaimanapun isteri atau suami tidak

perlu untuk turut ikut menanda tangani perjanjian-perjanjian yang dibuat

oleh bank. Kalau dipaksakan oleh bank, konsekuensinya kredit back to

back yang telah disetujui tidak akan direalisasikannya, dan debitur


87

memilih depositonya yang dicairkan atau dipindahkan sebagai jaminan ke

bank lain yang lebih mudah ketentuannya untuk tambahan modal usaha.

Pandangan kedua, adalah mereka yang cukup moderat dengan sedikit

mengalah, jika memang bank memaksa untuk itu, ada sedikit kompromi

yaitu dengan jalan membuat surat persetujuan dalam dokumen tersendiri,

tetapi intinya hanya persetujuan umum bahwa isteri atau suaminya

menyetujui suami atau istrinya memperoleh pinjaman di bank dan

kemudian menjaminkan barang-barang yang merupakan harta bersama

dalam perkawinan.

Jika jalan kompromi telah didapatkan, maka perjanjian dapat segera

direalisasikan. Dalam pelaksanaan penandatanganan perjanjian kredit dan

gadai jaminan deposito, debitur tidak membaca detail isi perjanjiannya.

Ketika ditanyakan tentang hal ini mengapa, umumnya selain

berargumentasi bahwa hanya melakukan formalitas bank, juga karena

semuanya telah dibuat dalam bentuk format baku, maka mereka mengikuti

saja. Membaca dan menanyakan detail isi perjanjian adalah hal yang tidak

berguna, hanya membuang-buang waktu kerja saja. Yang inti dipegang

oleh debitur adalah jika kreditnya bermasalah maka depositolah yang

dicairkan, maka persoalan selesai.

Penggunaan kredit back to back bagi debitur tidak ada bedanya dengan

penggunaan kredit umum lainnya. Debitur tidak secara khusus

memperuntukkan dana kredit ini hanya untuk kebutuhan tertentu, tetapi


88

semuanya dipakai untuk usaha. Jadi keuntungan menggunakan kredit ini

adalah dalam hal waktu proses kredit cepat dan biayanya murah. Inilah

yang umum menjadikan deposito menjadi salah satu alternatif pengajuan

kredit kepada bank.

2. Pembahasan

Pemberlakuan bentuk perjanjian tertulis dibidang perkreditan bank

merupakan salah satu pelaksanaan asas kehati-hatian dalam hubungan

hukum antara bank dengan debitur. Dengan lain perkataan bahwa dibuat

tertulisnya perjanjian kredit dan atau perjanjian-perjanjian lainnya yang

timbul dalam hubungan hukum antara bank dan debitur mempunyai

tujuan :

1) Untuk menjamin kepercayaan secara timbal-balik antara bank dan

debitur;

2) Untuk dokumentasi hukum jika terjadi kredit bermasalah yang dapat

merugikan bank.

Praktek umumnya bank, termasuk Bank Danamon, perjanjian-

perjanjian tersebut telah distandarisir sedemikian rupa oleh Kantor Pusat,

bahkan dalam pelaksanaannya telah dibuatkan dalam bentuk formulir atau

blanko perjanjian, sehingga pelaksana di cabang tinggal menyesuaikan

dengan debiturnya, artinya pelaksana bank tinggal mengisi kolom-kolom

yang kosong sesuai dengan data debitur dan fasilitasnya. Dalam teori
89

perjanjian, perjanjian semacam ini disebut sebagai perjanjian standar atau

perjanjian baku.

Pemberlakuaan bentuk perjanjian kredit berikut perjanjian jaminannya

yang bersifat standard dan baku dalam hubungan hukum antara bank

dengan debitur/penjamin, dimaksudkan untuk :

a. Untuk penyeragaman isi dari klausul-klausul perjanjian kredit di

seluruh cabang Bank Danamon;

b. Untuk kepraktisan bagi pelaksana di cabang, dalam hal ini bagian

legal Bank Danamon di dalam melakukan pengikatan kredit. Dari sisi

ini diharapkan oleh managemen akan melahirkan efisiensi waktu

sehingga pekerjaan dapat lebih terukur efektifitasnya.

c. Untuk memudahkn monitoring atau supervisi atas legal

documentation, sehingga memudahkan dalam pelaksanaan evaluasi

dan dapat segera diidentifikasi adanya penyimpangan-penyimpangan

dalam pelaksanaan pengikatannya.

Untuk memperoleh kesempurnaan dan daya ikat yang efektif dari

suatu pengikatan kredit dan jaminan deposito bagi kredit back to back,

disyaratkan adanya tiga dokumen yang harus dibuat. Ketiga dokumen

hukum tersebut adalah sebagai berikut :

a. Perjanjian Kredit, sebagai perjanjian pokok.

b. Perjanjian gadai deposito, sebagai perjanjian jaminannya.

c. Surat kuasa mencairkan deposito


90

Pada tahap ini tidak ada pilihan bagi debitur/penjamin karena formulir-

formulir itu telah disiapkan oleh bank. Hanya ada dua kemungkinan bagi

debitur/penjamin, menyetujui atau menolak, jika menyetujuinya maka

perjanjian dilaksanakan, sebaliknya jika tidak maka kredit tersebut

terancam tidak terealisasi. Disinilah letak kelemahan perjanjian standar,

tidak adanya kesempatan lagi bagi debitur/penjamin untuk menegosiasi

klausul-klausul yang ada di dalamnya. Tetapi sungguhpun demikian,

praktek perbankan yang terjadi seperti itulah adanya.

Ketentuan dasar Bank Danamon yang mengharuskan isteri atau suami

dari debitur/pemilik jaminan ikut turut menandatangani perjanjian kredit

dan perjanjian gadai deposito jaminan adalah hal yang normatif dilakukan.

Adanya penyimpangan-penyimpangan dalam praktek bahwa pengikatan

kredit dan gadai jaminan tetap dilaksanakan tanpa turut ikut ditanda

tangani oleh isteri atau suami debitur/penjamin, secara hukum merupakan

suatu kelemahan tersendiri bagi bank. Hal yang pertama dilakukan

menurut hukum adalah mengetahui status perkawinan daripada

debitur/penjamin, apakah didalam perkawinan mereka terdapat perjanjian

kawin atau tidak. Apabila terdapat perjanjian kawin dengan mana

menyatakan terdapat pemisahan atas harta, maka perlakuan hukumnya

berbeda. Dengan tindakan menggeneralisir seluruh debitur kredit back to

back bahwa tidak ada perjanjian kawin, maka hukumnya adalah seluruh

harta yang diperoleh sepanjang perkawinan adalah harta bersama secara


91

bulat. Dengan demikian perlakuan hukum terhadap harta bersama satu

sama lainnya harus saling memberikan persetujuan. Demikian juga

terhadap perbuatan penjaminan deposito ke bank, harus dilakukan atas

dasar persetujuan suami isteri secara bersama-sama. Jadi kelemahan bank

disini jelas berkaitan dengan jumlah resiko yang ter-cover. Karena

deposito merupakan harta bersama, maka nilai deposito yang diikat

sebagai jaminan itu menjadi berkurang separoh, karena masing-masing

dari suami ataupun isteri atas deposito tersebut berhak atas separohnya.

Dengan dermikian, secara hukum, bank telah di cover dengan separuh

nominal kredit saja, artinya bank telah tidak dicover penuh sebesar nilai

kredit yang dicairkan. Jadi dalam hal ini terdapat potensi kerugian bagi

bank jika kreditnya bermasalah.

Tentang adanya alternatif jalan keluar yang ditempuh bank dalam

merealisasikan kredit ini yaitu dengan memintakan persetujuan umum

kepada isteri atau suami debitur penjamin, dari sudut pandang hukum,

khususnya hukum perjanjian, juga tetap mengandung unsur kelemahan

bagi bank. Terjadi kelemahan hukum karena dalam surat persetujuan

tersebut tidak menyebutkan secara spesifik perbuatan hukum yang

menjadi objek perjanjian. Artinya, surat persetujuan seharusnya berisi

tentang perbuatan hukum yang sudah spesifik, dalam hal ini menyetujui

suami atau isteri untuk meminjam kredit ke bank dengan jumlah, jangka

waktu dan jenis kredit yang spesifik. Dengan hanya menerima persetujuan
92

yang bersifat umum, ini merupakan satu kelemahan tersendiri bagi bank.

Celah hukum ini bisa saja dimanfaatkan oleh isteri atau suami yang

memberi persetujuan untuk mengajukan klaim ke bank atas kekaburan

persetujuan yang diberikannya.

Jalan terakhir dengan adanya persetujuan atas penyimpangan yang

diajukan oleh pelaksana di cabang hanyalah persetujuan yang bersifat

administratif, karena tidak menyangkut substansi hukum dan perbuatan

hukumnya. Secara administratif memang membebaskan pelaksana cabang

atas penyimpangan pengikatan jaminan, tetapi dari aspek hukum

penyimpangan ini tetap merupakan kelemahan bagi bank.

Pelaksanaan pemberian jaminan deposito dengan tidak turut ditanda

tangani oleh isteri atau suami pemilik deposito pada satu sisi merupakan

kelemahan hukum bagi bank atas perjanjian yang dibuat, tetapi pada sisi

lainnya merupakan kekuatan hukum tersendiri bagi pihak penjamin

karena dengan isteri atau suaminya tidak ikut turut menanda tangani

perjanjian, menjadi dasar hukum yang kuat untuk melakukan penuntutan

haknya terhadap deposito yang dijaminkan ke bank.

C. Pencairan Deposito Jaminan Yang Tidak Ditanda Tangani Suami atau

Isteri Pemilik Deposito Jika kredit macet

1. Hasil Penelitian

1) Penelitian Dengan Responden Pihak Bank


93

Dari hasil penelitian lapangan diketahui bahwa prosedur/penanganan

kredit back to back yang bermasalah dilakukan secara lebih simpel

dibandingkan hal yang sama terhadap kredit lainnya yang dijamin dengan

jaminan selain deposito.

Tanggung jawab penanganan kredit bermasalah untuk kredit back to

back tetap menjadi tanggung jawab Marketing Officer (MO) sebagai yang

bertanggung jawab dalam account maintenance. Bentuk-bentuk

maintenance terhadap debitur ini dilakukan dengan jalan kunjungan

kepada debitur secara periodik, paling tidak sekali dalam setiap bulan.

Hasil pertemuan dengan debitur dituangkan dalam bentuk call memo (call

visit atau call report). Dalam formulir call memo atau call visit atau call

report tersebut dituangkan informasi-informasi terbaru debitur dalam hal

kemajuan usaha, kondisi keuangan dan atau permasalahan-permasalahan

yang ada dalam pengelolaan usahanya. Informasi-informasi ini menjadi

sangat perlu dalam rangka pemeliharaan debitur, karena dari sini dapat

dengan mudah diidentifikasi potensi masalah kredit yang mungkin terjadi

di kemudian hari. Dengan cara ini, sejak dini MO akan mengetahui

potensi masalah ini sehingga di kemudian hari akan mudah pula

penanganannya.

Fungsi maintenance account dari debitur ini adalah salah satu tugas

dan tanggung jawab pokok MO selain mencari debitur baru untuk

pencapaian target. Keberhasilan dalam melaksanakan fungsi maintenance


94

ini sangat erat hubungannya dengan terjadinya kredit bermasalah.

Hubungan yang terjadi bisa sebagai hubungan sebab akibat, jika berhasil

menjaga, maka resiko kredit bermasalah bisa ditekan, sebaliknya jika tidak

berhasil maka risiko kredit bermasalah menjadi semakin besar.

Jika ternyata setelah dilakukan maintain tetap saja timbul masalah

dalam pemenuhan kewajiban kepada bank, maka pola penangananya telah

jelas diatur dalam Standard Operating Prosedure (SOP) perkreditan back

to back. SOP penanganan masalah ini adalah, setelah menunggak bunga

dan atau angsuran pokok dalam 3 hari, MO wajib membuat surat Surat

Peringatan (SP), berturut-turut SP 1 – SP 3 yang mengingatkan tentang

pemenuhan kewajiban debitur untuk masa tertentu diwajibkan harus

melunasi tunggakannya. Dalam surat tersebut selain memberikan

peringatan akan tunggakan debitur, ditegaskan juga bahwa jika tetap

menunggak maka dalam 14 hari sejak tunggakannya, deposito jaminan

akan dicairkan guna melunasi total outstanding (O/S) kredit. Pencairan

jaminan ini tidak saja akan melunasi terhadap total tertunggak tetapi

terhadap seluruh outstanding (O/S) pinjaman yang masih tersisa, akan

dibayar secara sekaligus dengan dana dari deposito jaminan.

Surat-surat peringatan ini kemudian dilakukan filing oleh bagian

administasi kredit guna melengkapi dokumendasi hukum yang ada bagi

setiap debitur.
95

Jika dalam jangka waktu 14 hari debitur tidak juga melakukan

pembayaran maka dengan dasar SP 1-3 tersebut telah merupakan dasar

hukum yang kuat bagi bank untuk menyatakan bahwa debitur wanprestasi.

Dan berdasarkan adanya wanprestasi ini pencairan deposito jaminan

dilakukan.

Pencairan deposito ini dilakukan atas dasar perjanjian gadai dan surat

kuasa pencairan deposito dari debitur/penjamin yang telah ditanda tangani

pada tahap awal pencairan kredit.

Dana hasil pencairan deposito tersebut dimasukkan ke rekening

debitur, selanjutnya dengan tersedianya dana ini maka pendebetan/

pelunasan kredit segera dilakukan. Pelunasan kredit dilakukan terhadap

seluruh O/S pinjaman tersisa, tunggakan bunga, dan denda berjalan

sampai dengan hari dilakukan pelunasan atas kreditnya.

2) Penelitian Dengan Responden Pihak Debitur Sekaligus Pemilik

Deposito Jaminan

Dari penelitian lapangan kepada debitur/penjamin (pemilik deposito

jaminan) diketahui bahwa pelaksanaan maintenance account kredit back

to back dirasakan tidak dilakukan sepenuhnya dengan baik oleh bank.

Menurut debitur, kemungkinan ini terjadi karena bank di satu sisi merasa

sudah sangat aman dengan menguasai deposito jaminan yang diikat

secara “ketat” oleh bank. Sehingga dengan alasan itu bank tidak mau
96

membuang waktu untuk melakukan monitoring kredit dengan langkah-

langkah maintain yang benar kepada debitur.

Terinformasi dari debitur back to back bahwa ketika kewajiban

tertunggak, tiba-tiba saja debitur mendapatkan surat peringatan 1 – 3

dengan ancaman bahwa jika terjadi tunggakan yang terus-menerus untuk

jangka waktu 14 hari, maka bank akan melakukan pencairan deposito

jaminan. Yang lebih memprihatinkan adalah dengan tanpa adanya

langkah-langkah persuasif, misalnya menggalang komunikasi dengan

mencari tahu sumber masalah mengapa kredit tertunggak, hingga

pemberian surat-surat peringatan sebelumnya, tiba-tiba debitur

mendapatkan surat pemberitahuan dari bank bahwa seluruh O/S kredit dari

debitur telah dilakukan pelunasan dengan pencairan deposito. Menghadapi

kenyataan ini, debitur tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain berusaha

mengerti kondisi dan kenyataan yang dihadapinya.

2. Pembahasan

Bank Indonesia adalah pemegang otoritas dalam hal mengeluarkan

regulasi, kebijakan dan pengawasan perbankan yang ada di Indonesia. Di

bidang kredit, Bank Indonesia berupaya selalu meng up-date peraturan-

peraturan perkreditan yang berlaku bagi seluruh bank dengan mengeluarkan

Surat Keputusan Direktur Bank Indonesia (SK Dir BI), Peraturan Bank

Indonesia (PBI) ataupun Surat Edaran Bank Indonesia (SEBI). Tetapi

sungguhpun Bank Indonesia selalu melakukan up-dating peraturan yang


97

berlaku, bank-bank yang ada tetap diberi kewenangan khusus untuk

membuat regulasinya sendiri-sendiri dengan berpedoman pada ketentuan-

ketentuan Bank Indonesia, termasuk kebijakan perkreditan. Dengan

demikian ketentuan perkreditan internal berlaku sebagai ketentuan yang

harus ditaati oleh bank dan debitur dalam hubungannya dengan kredit yang

ada.

Bahwa dalam ketentuan penanganan kredit back to back, Bank

Danamon mengeluarkan ketentuan Standard Operating Prosedure (SOP)

tersendiri mulai dari tatacara handling sampai pada penanganan kredit

bermasalahnya, maka dalam hal menangani kredit back to back bermasalah,

ketentuan itulah yang berlaku.

Permasalahannya adalah apakah ketentuan tersebut benar-benar telah

dilaksanakan oleh para user di lapangan atau tidak.

Untuk efektifitas pelaksanaannya, perlu dilakukan supervisi dari para

atasan (supervisor). Secara periodik harus dilakukan penilaian dan evaluasi

atas kinerja pelaksana cabang (user) agar tidak terjadi penyimpangan-

penyimpangan yang dapat merugikan para pihak.

Satu kajian hukum yang sangat penting dalam penanganan kredit back

to back bermasalah adalah penentuan kapan debitur wanprestasi. Menurut

Pasal 1238 KUH Perdata, tentang wanprestasi sebaiknya diatur secara jelas

dan spesifik dalam perjanjian. Tetapi jika tidak dirumuskan secara spesifik

tentang kapan terjadinya wanprestasi dalam perjanjian, maka lewatnya


98

waktu dalam melaksanakan prestasi sudah merupakan titik dimana salah

satu pihak telah wanprestasi terhadap perjanjian.

Dalam perjanjian kredit Bank Danamon, ketentuan tentang

wanprestasi sudah secara jelas dirumuskan. Menurut Pasal 12 Formulir

Surat Perjanjian Kredit Bank Danamon menyatakan bahwa dengan

mengenyampingkan jangka waktu kredit dalam pasal 1, bank dapat dengan

seketika dan sekaligus memintakan pelunasan segala kewajiban debitur,

apabila :

a) Angsuran pokok atau bunga atau jumlah yang terhutang lainnya tidak

dibayar lunas pada waktunya, dimana dengan lewatnya waktu saja

sudah merupakan bukti yang cukup dan sah bahwa debitur telah

wanprestasi;

b) Debitur tidak memenuhi, terlambat memenuhi atau memenuhi namun

hanya sebagian kewajiban yang diperjanjikan;

c) Jika suatu pernyataan, surat keterangan atau dokumen yang diberikan

oleh debitur kepada bank tidak sesuai dengan yang sebenarnya;

d) Bila menurut bank, keadaan keuangan, bonafiditas dan solvabilitas

debitur mundur sedemikian rupa sehingga debitur tidak dapat

melakukan kewajibannya;

e) Bila debitur dan atau penjamin mengajukan permohonan dinyatakan

pailit;
99

f) Bila debitur dan atau penjamin mengambil keputusan bubar atau

membubarkan diri (jika debitur adalah perusahaan);

g) Bila harta kekayaan debitur dan atau penjamin disita oleh instansi

berwenang sehingga membahayakan pelaksanaan kewajiban ke bank;

h) Bila barang-barang jaminan disita oleh instansi berwenang;

i) Bila debitur dan atau penjamin lalai atau melanggar ketentuan dalam

perjanjian kredit;

j) Bila perpanjangan kredit tidak dapat lagi dilakukan;

k) Bila asset debitur dan penjamin menurut penilaian bank menurun;

l) Bila debitur masuk dalam daftar hitam Bank Indonesia.

Dengan perumusan yang terdapat pada pasal 12 perjanjian kredit Bank

Danamon tersebut telah jelas saat mana seorang debitur dikategorikan telah

wanprestasi. Jika salah satu dari hal-hal tersebut diatas dilanggar oleh

debitur maka untuk seketika dan sekaligus tanpa perlu adanya surat teguran

dari juru sita atau surat lainnya yang serupa dengan itu dan tanpa

perantaraan Pengadilan, Bank dapat langsung menjual harta benda yang

dijaminkan oleh debitur dan atau penjamin. Dengan ditandatanganinya

perjanjian kredit maka berdasarkan pasal 12 tersebut bank diberi kekuasan

untuk melakukan tindakan hukum terhadap jaminan deposito guna

pelunasan kewajiban debitur. Praktek dan itikad baik yang dilakukan oleh

Bank Danamon saat ini adalah tetap memberikan SP 1-3 kepada debitur

dengan memberi waktu 14 hari guna menyelesaikan tunggakannya.


100

Pencairan deposito jaminan baru benar-benar akan dilakukan Bank

Danamon setelah tenggang waktu ini tidak juga ditaati oleh debitur

Sebagaimana telah dikemukakan diatas bahwa dasar fundamental dari

perjanjian kredit dan jaminan adalah persetujuan, yang dilakukan berupa

menanda tanagani seluruh dokumen perjanjian kredit dan jaminan, maka

dengan adanya hal ini telah meletakan dasar hukum yang kuat bagi para

pihak untuk mengikatkan diri dan taat pada perjanjian itu.

Dalam hal telah ditanda-tanganinya seluruh dokumen perjanjian dalam

pemberian kredit back to back maka dimata hukum, apapun tindakan

hukum yang dilakukan bank dalam rangka pelunasan kredit yang

bermasalah tersebut dipandang sebagai ketentuan yang berdasar hukum dan

mengikat bagi para pihak termasuk debitur atau penjaminnya.

Sebaliknya dengan tidak adanya persetujuan dari isteri atau suami

pemilik deposito jaminan, pihak yang tidak turut bertanda tangan tersebut

memiliki dasar hukum yang kuat guna melakukan tuntutan hukum kepada

bank atas pencairan deposito yang separohnya adalah hak yang

bersangkutan. Pemberian persetujuan atas pemberian jaminan deposito yang

merupakan harta bersama menjadi sangat perlu diperhatikan oleh bank

dalam pelaksanaan pemberian kredit back to back jika bank tidak ingin

terjadi kerugian dalam pengembalian kredit.


101

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan yang telah dikemukankan di atas maka dapatlah

ditarik kesimpulan atas pokok masalah yang diteliti, sebagai berikut :

1. Bahwa untuk melaksanakan perjanjian gadai atas deposito yang

perjanjiannya tidak turut ditanda tangani oleh isteri atau suami pemilik

deposito, maka dilakukan langkah-langkah yang telah terpola, sebagai

berikut :

a) pelaksana di Cabang mengajukan permohonan persetujuan atas

penyimpangan atau deviasi kepada komite kredit kantor pusat;

b) pengikatan kredit dan jaminan deposito tanpa turut ditanda tangani oleh

isteri atau suami debitur/penjamin dilakukan berdasarkan rekomendasi

komite kredit kantor pusat.

Pengikatan kredit dan jaminan deposito tanpa turut ditanda tangani oleh

isteri atau suami debitur/penjamin tidak dapat dilakukan oleh cabang jika

tidak ada rekomendasi dari komite kredit kantor pusat.

Pengikatan jaminan deposito dengan tidak turut ditanda tangani oleh isteri

atau suami pemilik deposito guna menjamin kredit back to back tidak

sepenuhnya melindungi Bank Danamon dari resiko kredit.

2. Dalam hal terjadinya wanprestasi atas kredit back to back yang pengikatan

jaminan gadainya tidak turut ditandatangani oleh isteri atau suami pemilik
102

deposito, bank melakukan langkah-langkah yang telah terpola (prosedur

standar), sebagai berikut :

a) Memberikan Surat Peringatan 1 sampai 3 (SP 1-3), yang isinya debitur

telah lalai dalam memenuhi kewajibannya, dan untuk itu diberi waktu

selama 14 hari agar debitur segera menyelesaikan/melunasi kewajiban

tertunggaknya kepada bank.

b) Jika debitur tidak memenuhi prestasi yang dituangkan dalam SP 1-3

tersebut dalam jangka waktu 14 hari, maka bank melakukan pencairan

deposito, dana hasil pencairan tersebut dikreditkan (dimasukkan) ke

rekening debitur.

c) Langkah selanjutnya adalah melakukan pelunasan atas seluruh

outstanding (O/S) kredit, berikut bunga tertunggak dan denda

keterlambatan debitur dengan cara mendebet rekening debitur.

d) Langkah terakhir yang dilakukan bank adalah memberikan

pemberitahuan tertulis kepada debitur bahwa seluruh O/S kredit berikut

dengan tunggakan bunga dan denda, telah dilakukan pelunasan dengan

pencairan deposito jaminan.

B. Saran

Untuk mencegah terjadinya pengikatan jaminan kredit yang tidak sempurna

yang pada akhirnya menyebabkan bank tidak sepenuhnya terlindungi dalam

pemberian kredit back to back, maka bersama ini disarankan :


103

1. Bank perlu merubah kebijakan kredit back to back-nya, tidak semata

mendasarkan diri pada orientasi bisnis gna pencapaian target tetapi juga

selektif menerima debitur kredit back to back, dengan memperhatikan

pemenuhan aspek hukumnya. Orientasi bisnis perlu dijalankan secara

beriringan dengan aspek hukumnya. Selanjutnya kebijakan itu agar

dilakukan secara konsisten dalam pelaksanaannya.

2. Pemberian kredit dengan jaminan dengan deposito yang tidak turut ditanda

tangani oleh isteri atau suami dari pemilik deposito jaminan hendaknya

dihindari, karena bagaimanapun bank menyiasati pengikatannya, dimata

hukum tetap merupakan pengikatan yang tidak aman bagi pihak bank,

karena didalamnya terdapat celah hukum yang dapat digunakan oleh pihak

yang tidak turut menanda tangani perjanjian jaminan untuk melakukan

tuntutan hukum.
104

DAFTAR PUSTAKA

A. BUKU

Anwari, Ahmad, 1979, Praktek Perbankan (Deposito Berjangka), PT. Balai Aksara,
Jakarta.

Badrulzaman, Mariam Darus, 1991, Perjanjian Kredit Bank, PT. Citra Aditya Bakti,
Bandung.

-----------------------------------, 1994, Aneka Hukum Bisnis, Alumni, Bandung.

Danareksa, PT. (Persero), 1987, Pasar Modal Indonesia Pengalaman dan Tantangan,
Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI, Jakarta.

Hadisoeprapto, Hartono, 1984, Pokok-Pokok Hukum Perikatan dan Hukum Jaminan,


Liberty, Yogyakarta.

Halle, R. H., 1983, Credit Analisys A Complete Guide, Jhon Wiley and Sons Inc,
New York.

Hasan, Djuhaendah, 1996, Lembaga Jaminan Kebendaan Bagi Tanah Dan Benda
Lain Yang Melekat Pada Tanah Dalam Konsepsi Penerapan Asas Pemisahan
Horisontal (Suatu Konsep Dalam Menyongsong Lahirnya Lembaga Hak
Tanggungan), PT.Citra Aditya Bakti, Bandung.

Hay, Marhainis Abdul, 1975, Hukum Perbankan Indonesia, Pradnya Paramita,


Bandung.

Henderson, J.W dan Maness, T.S., 1989, The Financial Analisys Desk Book : A Cash
Flow Approach to Liquidity, Van Nostrand Reinhold, New York.

Hermansyah, 2006, Hukum Perbankan Nasional Indonesia, PT. Kencana Prenada


Media Group, Jakarta.

Hoey Tiong, Oey, 1985, Fidusia sebagai jaminan unsur-unsur perikatan, Ghalia
Indonesia, Jakarta.

Ibrahim, Johannes, 2004, Cross Default Dan Cross Collateral Sebagai Upaya
Penyelesaian Kredit Bermasalah, PT.Refika Aditama, Bandung.
105

Karim Adwarman, 2004, Bank Islam, Analisa Fiqih dan Keuangan, Raja Grafindo
Persada, Bandung.

Mertokusumo, Sudikno, 2005, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Liberty,


Yogyakarta.

Muhammad, Abdulkadir, 1992, Hukum Perikatan, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.

Muljadi, Kartini dan Gunawan Widjaja, 2004, Perikatan Pada Umumnya, PT. Raja
Grafindo Persada, Jakarta.

-----------------------------------------------, 2005, Hak Istimewa, Gadai dan Hipotik,


PT. Kencana Prenada Media Group, Jakarta.

Panggabean, Hendry P., 2001, Penyalahgunaan Keadaan Sebagai Alasan (Baru)


Untuk Pembatalan Perjanjian, Liberty, Yogyakarta.

Patrik, Purwahid, 1994, Dasar-Dasar Hukum Perikatan, CV. Mandar Maju,


Bandung.

Prodjodikoro, Wirjono, 2000, Azaz-azaz Hukum Perjanjian, Mandar Maju, Bandung.

Ross, Stephen A. Westerfield, Radolph W. Jafe, Jeffrey, 1999, Corporate Finance,


Irwin Mc Graw-Hill, 5th edition.

Satrio, J., 2001, Hukum Perikatan, Perikatan Yang Lahir dari Undang-Undang, PT.
Citra Aditya Bakti, Bandung.

----------, 2002, Hukum Jaminan Hak Jaminan Kebendaan, PT. Citra Aditya Bakti,
Bandung.

Setiawan, R., 1999, Pokok-Pokok Hukum Perikatan, Putra A. Bardin, Bandung.

Simorangkir, O.P., 1988, Seluk Beluk Bank Komersial, Aksara Persada Indonesia,
Jakarta.

Sowfan, Sri Soedewi Masjchoen, 1980, Hukum Perdata Hukum Perutangan Bagian
B, Liberty, Yogyakarta.

-----------------------------------------, 1980, Hukum Jaminan Di Indonesia Pokok-


Pokok Hukum Jaminan dan Jaminan Perorangan, Liberty, Yogyakarta.
106

Subekti, R., 1990, Hukum Perjanjian, PT. Intermasa, Jakarta.

--------------, 1991, Jaminan-Jaminan Untuk Pemberian Kredit Menurut Hukum


Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.

Subekti, R., Tjitrosudibio, R., 2006, Kitab Undang-undang Hukum Perdata, Pradnya
Paramita, Jakarta.

Sudargo, 2005, Kamus Hukum Edisi Baru, Rineka Cipta, Jakarta.

Sutarno, 2005, Aspek-Aspek Hukum Perkreditan pada Bank, Alfabeta, Bandung.

Suyatno, Thomas, H.A. Chalik, M. Sukada, C.T.Y. Ananda dan D.T. Marala, 2003,
Dasar-dasar Perkreditan, edisi keempat, PT. Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta.

Volmar (diterjemahkan oleh I.S.Adiwirmata), 1994, Pengantar Studi Hukum Perdata


Jilid I, Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Widyadharma, Ignatius Ridwan, 1995, Hukum Perbankan, Ananta, Semarang.

B. PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan,


Lembaran Negara Nomor 1 tahun 1974

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 7 tahun 1992 Tentang Perbankan,


Lembaran Negara Nomor 31 tahun 1992

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 10 tahun 1998 Tentang Perubahan atas


Undang-undang Nomor 7 tahun 1992 Tentang Perbankan, Lembaran Negara
Nomor 182 tahun 1998

C. REFERENSI LAINNYA

Buku Statistik Bank Indonesia Manado, edisi September 2007

Buku Kebijakan Kredit Bank Danamon Indonesia


107

Buku Legal Manual Bank Danamon Indonesia

Surat-Surat Edaran Bank Danamon Indonesia tentang Perkreditan

Memo-memo Intern Bank Danamon Indonesia tentang Jaminan Kredit Bank


Danamon
Lampiran 1

PERJANJIAN KREDIT
Nomor : ………………..
Perjanjian Kredit ini (selanjutnya disebut Perjanjian) dibuat dan ditandatangani pada hari …………………. , tanggal
………………………….. oleh dan antara :

1. PT. BANK DANAMON INDONESIA Tbk, berkedudukan di Jakarta, dalam hal ini melalui cabangnya di
………………………………………………………………………….………………………………. dalam hal ini diwakili
oleh …………………………….………………………………………………….………….. , dalam kedudukannya
selaku ……………………………………………………………… (untuk selanjutnya disebut "BANK").

2. ……………………………………… , swasta, bertempat tinggal di


……………..…………………………………………. dalam hal ini bertindak : *)
a. untuk diri sendiri dan untuk melakukan tindakan hukum tersebut dalam Perjanjian ini telah mendapat
persetujuan dari suaminya / istrinya, yaitu : ………………………………………... yang turut menandatangani
perjanjian ini / sebagaimana ternyata dari Surat Persetujuan yang dibuat dibawah tangan bermeterai cukup
tertanggal ……………………………. *)

b. selaku …………………………………………………………………….. dari dan oleh karenanya sah bertindak


untuk dan atas nama PT. …….…………………………………….. berkedudukan di ……………………..…….
dan untuk melakukan tindakan hukum tersebut dalam perjanjian ini telah memperoleh persetujuan dari
……………………………………… yang turut menandatangani perjanjian ini / sebagaimana ternyata dalam
suratnya tertanggal …………………… *) (selanjutnya disebut "DEBITUR").

Bahwa BANK dan DEBITUR telah saling setuju untuk membuat, menetapkan, melaksanakan dan mematuhi Perjanjian
ini dengan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :

PASAL1
FASILITAS KREDIT

1.1. Jenis, Jumlah, Jangka Waktu dan Tujuan Penggunaan


a. Fasilitas Kredit yang diberikan BANK kepada DEBITUR (selanjutnya disebut Fasilitas Kredit) adalah : *)

(i) Jenis Fasilitas : ( Non revolving / revolving ) *)


Jumlah :
Jangka Waktu :
Tujuan Penggunaan :
(selanjutnya disebut Fasilitas ………………………………………………)

(ii) Jenis Fasilitas : ( Non revolving / revolving ) *)


Jumlah :
Jangka Waktu :
Tujuan Penggunaan :
(selanjutnya disebut Fasilitas ………………………………………………)

(iii) Jenis Fasilitas : ( Non revolving / revolving ) *)


Jumlah :
Jangka Waktu :
Tujuan Penggunaan :
(selanjutnya disebut Fasilitas ………………………………………………)

(selanjutnya fasilitas tersebut diatas secara bersama-sama disebut “Fasilitas Kredit”).

sehingga seluruh jumlah Fasilitas Kredit yang diberikan BANK kepada DEBITUR adalah
…………………………………
(……………………………………………………………………………………….).

b. Yang dimaksud dengan fasilitas kredit revolving dan non revolving adalah :

Divisi Hukum – Kantor Pusat 1/14


Lampiran 1

♦ "Non revolving" dimana DEBITUR tidak dapat melakukan penarikan kembali atas pembayaran
Fasilitas Kredit yang telah dibayar dari waktu ke waktu selama jangka waktu Perjanjian ini.
♦ “Revolving”dimana DEBITUR dapat melakukan penarikan dan/atau pembayaran kembali atas
Fasilitas Kredit dari waktu ke waktu selama jangka waktu Perjanjian ini .
c. Khusus untuk Fasilitas Kredit Rekening Koran, maka pemberian Fasilitas Kredit oleh Bank kepada
DEBITUR akan dilaksanakan melalui Rekening Koran dan setiap pembayaran kembali sampai lunas
terhadap penarikan atas Fasilitas Kredit dan/atau menimbulkan rekening bersaldo kredit atau nihil, tidak
mengakibatkan berakhirnya/gugurnya Perjanjian ini.

1.2. Perubahan Mata Uang Pinjaman


Apabila dilarang oleh ketentuan-ketentuan yang berlaku atau apabila dana dalam mata uang Dollar Amerika
Serikat tidak tersedia pada BANK atau dalam hal disyaratkan oleh ketentuan dan/atau kebijaksanaan yang
berlaku atau oleh karena sebab apapun juga, BANK menurut pertimbangannnya sendiri tidak dapat/tidak
bersedia memberikan Fasilitas Kredit dalam mata uang Dollar Amerika Serikat, maka DEBITUR menyetujui dan
memberi wewenang kepada BANK untuk sewaktu-waktu mengkonversikan seluruh atau sebagian Fasilitas
Kredit ke dalam mata uang Rupiah dan setiap konversi tersebut mengikat DEBITUR cukup dengan
pemberitahuan tertulis dari BANK kepada DEBITUR .

DEBITUR setuju bahwa perubahan mata uang pinjaman dilakukan berdasarkan kurs yang berlaku dan/atau
ditetapkan oleh BANK pada hari dimana perubahan tersebut dilakukan. Fluktuasi kurs mata uang pinjaman
yang timbul sehubungan dengan dilakukannya perubahan berdasarkan ketentuan ini adalah menjadi resiko dan
tanggung-jawab DEBITUR.

Untuk itu DEBITUR juga menyatakan setuju untuk menandatangani perubahan Perjanjian sehubungan dengan
konversi tersebut apabila diminta oleh BANK, dan apabila setelah diminta oleh BANK, DEBITUR belum juga
menandatangani perubahan Perjanjian tersebut maka dengan ini DEBITUR memberi kuasa yang tidak dapat
dicabut kembali kepada BANK untuk dan atas nama DEBITUR menandatangani akta atau perjanjian
perubahan atas Perjanjian sehubungan dengan konversi tersebut.

Apabila karena perubahan yang dimaksud pada ketentuan 1.2. ini jumlah Fasilitas Kredit menjadi lebih besar
dari jumlah yang disebut dalam ketentuan 1.1. di atas, maka DEBITUR wajib mengembalikan kelebihan jumlah
fasilitas tersebut dalam jangka waktu dan cara yang ditentukan oleh BANK.

1.3. Penarikan Fasilitas Kredit


a. Jangka Waktu Penarikan
(i) Untuk Fasilitas Kredit Angsuran Berjangka ; Jangka waktu penarikan adalah sejak
…………………………………….. dan akan berakhir pada tanggal yang jatuhnya
……………………………………... Jangka waktu mana dapat diperpanjang dengan persetujuan
tertulis dari BANK setelah mempertimbangkan permohonan tertulis dari DEBITUR, yang merupakan
kesatuan dari Perjanjian.
(ii) Untuk Fasilitas Kredit Berjangka, Fasilitas Kredit Rekening Koran dan Fasilitas Kredit Modal Kerja ;
Jangka waktu penarikan adalah sejak penandatanganan Perjanjian.
b. Cara Penarikan
(1) Bila DEBITUR hendak melakukan penarikan dana atas Fasilitas Kredit, DEBITUR wajib mengirimkan
pemberitahuan tertulis atau menyerahkan bukti penarikan kepada BANK yang memberitahukan
jumlah pinjaman dan tanggal penarikan yang dikehendaki, tanggal mana tidak boleh kurang dari 3
(tiga) hari kerja setelah BANK menerima pemberitahuan tersebut.
(2) (Tiap) Penarikan Fasilitas Kredit hanya dapat dilakukan dalam jangka waktu penarikan Fasilitas
Kredit, pada hari kerja dan jam kerja BANK yang disetujui bersama oleh BANK dan DEBITUR.

(3) Menyimpang dari ketentuan-ketentuan tersebut di atas, BANK tetap mempunyai hak untuk menunda
atau mengatur kembali (Rescheduling) penarikan Fasilitas Kredit. Penundaan atau pengaturan
kembali tersebut tidak memberikan hak kepada DEBITUR untuk mengajukan tuntutan/gugatan

Divisi Hukum – Kantor Pusat 2/14


Lampiran 1

hukum berupa apapun terhadap BANK, antara lain (namun tidak terbatas) tuntutan/gugatan
membayar ganti rugi kepada DEBITUR atas kerugian-kerugian yang mungkin diderita DEBITUR
sebagai akibat penundaan atau pengaturan kembali penarikan Fasilitas Kredit tersebut.
(4) DEBITUR setuju bahwa BANK juga mempunyai hak untuk sewaktu-waktu membatalkan ataupun
mengurangi jumlah Fasilitas Kredit (dalam hal DEBITUR tidak dapat memenuhi Syarat Penarikan
Pinjaman sebagaimana tersebut dalam Pasal 3 Perjanjian atau dalam hal DEBITUR melakukan salah
satu Peristiwa Kelalaian dalam Pasal 12 Perjanjian)
(5) Khusus untuk Fasilitas Kredit Rekening Koran, DEBITUR tidak dapat melakukan penarikan pinjaman
apabila saldo di rekening DEBITUR menjadi negatif.

c. Bukti Penarikan
Untuk (tiap) penarikan, DEBITUR wajib dan akan menyerahkan pada BANK media penarikan berupa : *)
(1) Promissory Note;
(2) Cek, Bilyet Giro;
(3) Tanda Terima Uang atau media lainnya yang ditentukan oleh BANK dalam bentuk dan isi yang
disetujui dan diterima oleh BANK.

media-media penarikan mana akan menjadi bukti bagi BANK mengenai telah diterimanya uang oleh
DEBITUR dari BANK. Dalam hal tidak ditandatanganinya media-media penarikan seperti tersebut di atas
maka Perjanjian ini dianggap sebagai Tanda Terima Uang untuk suatu jumlah uang berdasarkan
Perjanjian ini dan Perjanjian-perjanjian lainnya yang merupakan perubahan dan/atau penambahan dari
Perjanjian ini.

d. Kewajiban BANK untuk memberikan Fasilitas Kredit adalah sebesar sebagaimana tercantum dalam pasal
1 ayat 1.1 Perjanjian ini.

e. Khusus untuk kredit rekening koran, berlaku ketentuan bahwa penggunaan kredit yang diberikan kepada
DEBITUR harus menunjukkan perputaran yang aktif dari waktu ke waktu dalam setiap bulannya, atau jika
rekening itu tidak diselesaikan sekurang-kurangnya sekali setahun, maka Kredit ini dapat dihentikan.

1.4. Pembuktian Hutang


Sebagai akibat dari penarikan Fasilitas Kredit, maka DEBITUR dengan ini menyatakan menerima Fasilitas
Kredit dari BANK dengan jumlah setinggi-tingginya sebagaimana disebutkan dalam ketentuan 1.1. di atas,
jumlah mana belum termasuk bunga, provisi, komisi dan ongkos-ongkos serta biaya-biaya lainnya yang timbul
sebagai akibat penarikan Fasilitas Kredit sehubungan dengan Perjanjian ini. DEBITUR dan BANK setuju bahwa
media-media penarikan dan/atau pembukuan-pembukuan dan/atau catatan-catatan serta surat-surat dan
dokumen-dokumen lain yang dipegang dan dipelihara oleh BANK juga merupakan bukti yang lengkap dari
semua jumlah hutang DEBITUR kepada BANK berdasarkan Perjanjian ini dan mengikat terhadap DEBITUR.

1.5. Pembayaran Kembali


a. Pembayaran kembali akan dilakukan oleh DEBITUR kepada BANK dengan ketentuan sebagai berikut :

(i) Untuk Fasilitas Kredit Angsuran Berjangka ; sesuai dengan jadwal pembayaran kembali sebagaimana
terlampir dalam Perjanjian.

(ii) Untuk Fasilitas Kredit Berjangka dan Modal Kerja ; pada tanggal jatuh tempo Perjanjian dan/atau pada
tanggal jatuh tempo Surat Promes.

(iii) Untuk Fasilitas Kredit Rekening Koran ; pada tanggal jatuh tempo Perjanjian.

(iv)
…………….………………………………………………………………………………………………………….
.
………….…………………………………………………………………………………………………………….
.
………………………………………………………………………………………………………………………..
(jika tidak mencukupi, dipergunakan lembar tambahan yang merupakan lampiran Perjanjian ini)

b. Setiap pembayaran dari DEBITUR, pertama-tama akan diperuntukkan bagi pembayaran :

Divisi Hukum – Kantor Pusat 3/14


Lampiran 1

(1) Biaya terhutang kepada negara, termasuk tetapi tidak terbatas pada pajak;
(2) ongkos-ongkos, misal ongkos perkara (jika ada);
(3) bunga dan pembayaran lainnya selain denda dan pinjaman pokok;
(4) denda yang belum dibayarkan dan;
(5) pokok pinjaman yang terhutang.

1.6. Pembayaran Kembali Lebih Cepat/Awal (berlaku untuk Fasilitas Kredit Angsuran Berjangka)
a. DEBITUR diperkenankan membayar kembali pinjaman yang terhutang kepada BANK berdasarkan
Fasilitas Kredit (baik seluruhnya maupun sebagian) lebih cepat/awal dari tanggal pembayaran yang telah
ditetapkan dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut :
1. DEBITUR wajib mengirim surat pemberitahuan mengenai keinginan membayar kembali lebih
cepat/awal tersebut kepada dan diterima oleh BANK sedikitnya 5 (lima) hari kerja sebelum tanggal
pembayaran yang lebih cepat/awal dilakukan, dengan menyebutkan jumlah uang yang akan dibayar
kembali lebih cepat/awal dan tanggal dimana pembayaran kembali yang lebih cepat/awal tersebut
akan dilakukan (tanggal tersebut harus merupakan suatu Tanggal Pembayaran Bunga, sebagaimana
diatur dalam Perjanjian ini);
2. Suatu Surat Pemberitahuan Membayar Lebih Cepat seketika diterima oleh BANK dalam jangka waktu
yang ditetapkan dalam ayat (a) di atas ini mengikat kepada dan mewajibkan DEBITUR melaksanakan
pembayaran lebih cepat/awal kepada BANK pada tanggal dan dalam jumlah uang yang disebutkan
dalam surat pemberitahuan tersebut;
3. Pembayaran kembali yang lebih cepat/awal atas pinjaman yang terhutang berdasarkan Perjanjian ini
wajib dilakukan dalam jumlah pokok tidak kurang dari ……………… (………..………… ) kali
angsuran.
4. Jumlah uang yang dibayar oleh DEBITUR untuk membayar kembali lebih cepat/awal tidak dapat
dipinjam kembali oleh DEBITUR dari BANK berdasarkan Perjanjian ini;
5. Jumlah uang yang diterima oleh BANK untuk pembayaran kembali lebih cepat/awal pinjaman yang
terhutang berdasarkan Fasilitas Kredit akan digunakan oleh BANK untuk membayar kembali atau
mengurangi angsuran pembayaran kembali pinjaman tersebut mulai dari angsuran yang harus
dibayar pada tanggal pembayaran angsuran yang paling akhir (inverse order of maturity).

b. DEBITUR wajib membayar uang denda/penalti kepada BANK sebesar ……… % flat dari jumlah uang
yang dibayar kembali lebih cepat/awal, dan uang denda/penalti tersebut wajib dibayar oleh DEBITUR pada
waktu melaksanakan pembayaran kembali lebih cepat/awal tersebut.

1.7. Bunga, Provisi/Fee Dan Bunga Denda


a. Bunga
Atas tiap jumlah uang yang terhutang atau sisanya yang belum dibayar lunas atas pemberian Fasilitas
Kredit, DEBITUR wajib membayar bunga kepada BANK sebagai berikut :

Jenis Fasilitas Jumlah Fasilitas Bunga


(i)
(ii)
(iii)

Setiap penarikan Fasilitas Kredit dikenakan bunga sebagaimana disebut diatas yang dikenakan pertahun
yang dihitung berdasarkan : *)
(i) saldo harian dan untuk maksud tersebut BANK akan membebankan bunga pada jumlah Fasilitas
Kredit yang terhutang dan DEBITUR harus membayar pada tanggal yang ditetapkan oleh BANK,
dengan ketentuan bilamana tanggal tersebut jatuh pada bukan hari kerja BANK, maka bunga akan
dibebankan pada hari kerja sebelum tanggal tersebut.
(ii) Khusus untuk Fasilitas Kredit Rekening Koran, bunga dihitung berdasarkan saldo harian dan untuk
maksud tersebut BANK akan membebankan bunga pada rekening DEBITUR atau DEBITUR harus
membayar pada tanggal yang ditetapkan oleh BANK, dengan ketentuan bilamana tanggal tersebut
bukan hari kerja BANK, maka bunga akan dibebankan pada hari kerja sebelum tanggal tersebut.

DEBITUR setuju dan dengan ini memberi kuasa kepada BANK untuk sewaktu-waktu merubah ketentuan
besarnya suku bunga tersebut diatas sesuai perkembangan keadaan pasar, dan BANK akan
memberitahukan perubahan suku bunga tersebut kepada DEBITUR, pemberitahuan mana akan mengikat
DEBITUR.

Divisi Hukum – Kantor Pusat 4/14


Lampiran 1

Tanggal Pembayaran Bunga adalah pada setiap tanggal 22 (dua puluh dua) setiap bulannya (dan/atau
hari kerja berikutnya bila tanggal 22 tersebut jatuh pada hari libur), kecuali ditentukan lain oleh BANK.

Bunga tersebut di atas terhutang oleh DEBITUR sejak tanggal penarikan pinjaman sampai dengan hari
dan tanggal hutang tersebut dibayar kembali dengan lunas, penuh dan dengan sebagaimana mestinya
oleh DEBITUR kepada BANK sesuai dengan jumlah hari yang telah berlalu, dihitung atas dasar bahwa 1
(satu) tahun adalah 360 (tiga ratus enampuluh) hari, dan wajib dibayar lunas, penuh dan dengan
sebagaimana mestinya oleh DEBITUR kepada BANK pada setiap tanggal pembebanan bunga.

b. Provisi Dan Fee


DEBITUR setuju untuk membayar provisi dan fee sebagai berikut :

Jenis Fasilitas Jumlah Fasilitas Provisi/Fee


(i)
(ii)
(iii)

c. Bunga Denda
Bilamana DEBITUR tidak atau gagal membayar lunas suatu pinjaman, bunga atau lain-lain jumlah uang
yang wajib dibayar berdasarkan Perjanjian ini atau bukti penerimaan uang, maka (dengan tidak
mengurangi kewajiban DEBITUR untuk tetap membayar jumlah uang yang telah wajib dibayarnya itu
berikut bunga yang berlaku pada saat itu) DEBITUR wajib membayar bunga denda atas jumlah yang tidak
atau lalai dibayar tersebut kepada BANK.

Besarnya bunga denda adalah ……….. % (……………….) pertahun di atas bunga yang berlaku pada saat
itu dihitung dari jumlah bunga tertunggak dan/atau jumlah uang yang tidak atau lalai dibayar tersebut.

Perhitungan bunga denda terhutang dihitung secara harian mulai dari hari dan tanggal jatuh tempo jumlah
uang yang wajib dibayar tersebut tidak atau lalai dibayar sampai dengan hari dan tanggal jumlah uang
yang wajib dibayar tersebut dibayar lunas sesuai dengan jumlah hari yang lewat, dengan ketentuan jumlah
hari dalam satu tahun adalah 360 (tiga ratus enam puluh) hari sebagai faktor pembagi tetap dan bunga
denda tersebut wajib dibayar dengan sekaligus (lunas) oleh DEBITUR seketika ditagih secara tertulis oleh
BANK.

1.10. Pembukuan.
Fasilitas Kredit yang dimaksud dalam Perjanjian ini akan dibukukan oleh BANK pada kantor/cabang yang
tercantum dalam Perjanjian ini. Akan tetapi DEBITUR setuju dan bersama ini memberikan kuasa pada BANK
untuk bilamana BANK menganggap perlu berdasarkan pertimbangan BANK sendiri, untuk mengalihkan
pembukuan Fasilitas Kredit dimaksud pada kantor/cabang BANK yang lain, baik yang berada di Indonesia
maupun di luar Indonesia.

PASAL 2
KUASA MENDEBET REKENING

Tanpa mengurangi kewajiban DEBITUR untuk melaksanakan sendiri pembayaran kepada BANK sebagaimana
ditetapkan di atas, pada hari dimana suatu pembayaran berdasarkan Perjanjian ini wajib dilakukan, DEBITUR setuju
dan dengan ini memberi kuasa dan wewenang penuh pada BANK setiap waktu dan dari waktu ke waktu yang
ditetapkan oleh BANK khusus untuk mendebet rekening DEBITUR pada BANK, baik rekening/account giro,
rekening/account deposito (hal mana bersama ini DEBITUR memberi kuasa pula pada BANK khusus untuk
mencairkan terlebih dahulu deposito atas nama DEBITUR tersebut), baik dalam mata uang Rupiah maupun dalam
mata uang lain, jumlah yang besarnya setiap kali akan ditetapkan oleh BANK dan menggunakan/memakai jumlah
uang tersebut untuk membayar dan membayar kembali semua dan setiap jumlah uang yang sekarang telah dan/atau
dikemudian hari akan terhutang dan dibayar oleh DEBITUR kepada BANK berdasarkan Perjanjian ini beserta segala
perubahan dan tambahannya, media-media penarikan, perjanjian lain dan perjanjian-perjanjian jaminan, baik untuk
jumlah pokok, bunga, denda atau lain-lain jumlah uang yang wajib dibayar oleh DEBITUR pada BANK.

Divisi Hukum – Kantor Pusat 5/14


Lampiran 1

Selama hutang DEBITUR kepada BANK belum dibayar lunas, maka segala kuasa yang diberikan oleh DEBITUR
kepada BANK dalam Perjanjian ini atau dokumen-dokumen lain sehubungan dengan pemberian Fasilitas Kredit
kepada DEBITUR merupakan bagian yang terpenting dan tidak terpisahkan dari Perjanjian ini, yang dengan tidak
adanya kuasa-kuasa tersebut Perjanjian ini tidak akan dibuat dan dengan demikian kuasa-kuasa tersebut tidak akan
berakhir karena sebab apapun juga termasuk tetapi tidak terbatas oleh sebab-sebab yang tercantum dalam pasal 1813
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

PASAL 3
SYARAT PENARIKAN PINJAMAN

Dengan tidak mengurangi ketentuan-ketentuan lain dalam PERJANJIAN ini, BANK baru wajib mencairkan pinjaman
kepada DEBITUR berdasarkan Perjanjian ini bila DEBITUR paling tidak telah memenuhi, seperti namun tidak terbatas
pada, syarat-syarat :
3.1. BANK telah menerima dokumen-dokumen (semua dengan bentuk dan isi yang disetujui BANK dan dalam hal
yang diserahkan adalah salinan maka aslinya wajib ditunjukkan pada BANK saat penyerahan dokumen-
dokumen tersebut) sebagai berikut :
a. Dokumen yang disyaratkan dalam Perjanjian ini, yaitu termasuk akta pendirian dan/atau anggaran dasar
yang dibuat sampai dengan tanggal dan hari ini, berikut pengesahan-pengesahan yang telah diberikan
oleh instansi yang berwajib terhadap anggaran dasar tersebut dan perubahan-perubahannya, berikut pula
salinan Berita Acara Rapat Para Pemegang Saham dimana diangkat Direksi atau Komisaris DEBITUR
yang sekarang menjabat jabatan-jabatan tersebut dan/atau persetujuan komisaris dan/atau persetujuan
rapat umum para pemegang saham bila disyaratkan dalam anggaran dasar dan/atau peraturan yang
berlaku.
b. Asli surat kuasa dan/atau persetujuan yang disyaratkan oleh anggaran dasar DEBITUR yang dibuat dan
diberikan oleh DEBITUR kepada orang-orang tertentu (jika ada) yang ditunjuk untuk dan atas nama
DEBITUR melaksanakan Perjanjian ini dan Perjanjian (-perjanjian) Jaminan serta semua dokumen yang
disyaratkan oleh atau berkaitan dengan Perjanjian ini atau Perjanjian-perjanjian jaminan, berikut contoh
tandatangan orang-orang tersebut.
c. Salinan surat izin usaha perdagangan dan/atau surat-surat izin lainnya yang dikeluarkan oleh instansi yang
berwenang yang diperlukan oleh DEBITUR dalam menjalankan usahanya.
d. Asli bukti-bukti hak kepemilikan atas barang-barang yang dijadikan Jaminan dan/atau Perjanjian (-
perjanjian) Jaminan yang disebut dalam Pasal 9 Perjanjian ini.

3.2. Semua Perjanjian-(perjanjian) Jaminan telah ditanda tangani dan dalam bentuk dan isi yang disetujui BANK.

3.3. DEBITUR tidak sedang dalam keadaan lalai berdasarkan ketentuan-ketentuan yang termaktub dalam Pasal 13
Perjanjian ini atau berdasarkan sebab lain sesuai pertimbangan BANK.

3.4. Pernyataan dan Jaminan yang diberikan DEBITUR sebagaimana tersebut dalam Pasal 4 Perjanjian adalah
benar dan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

PASAL 4
PERNYATAAN DAN JAMINAN

DEBITUR bersama ini menyatakan dan menjamin bahwa :


4.1. Kewenangan Bertindak.
DEBITUR mempunyai kekuasaan dan wewenang serta berhak untuk membuat, menandatangani dan
melaksanakan segala ketentuan dalam Perjanjian ini dan Perjanjian Jaminan.

Pihak yang menandatangani Perjanjian ini dan Perjanjian Jaminan adalah pihak yang mempunyai wewenang
dan sah untuk mewakili DEBITUR dalam melakukan hal tersebut.

DEBITUR telah mengambil segala tindakan yang disyaratkan oleh anggaran dasarnya dan ketentuan hukum
yang berlaku untuk sahnya Perjanjian dan untuk melaksanakan Perjanjian Jaminan, dan Anggaran Dasar
DEBITUR telah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman dengan Surat Keputusan tertanggal
………………………………. Nomor ………………………………………….. dan telah dimuat dalam Berita
Negara Nomor ………. tertanggal ……………………………, dan Tambahan Berita Negara Nomor
………………., dokumen-dokumen mana merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Perjanjian ini.

4.2. Kekuatan Perjanjian.

Divisi Hukum – Kantor Pusat 6/14


Lampiran 1

Perjanjian ini dan segala dokumen serta instrument yang timbul sehubungan dan berkaitan dan sebagai
akibatnya, adalah sah dan mengikat DEBITUR serta berlaku sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang
tercantum di dalamnya. Pembuatan, penyerahan dan pelaksanaan Penandatangan Perjanjian dan dokumen-
dokumen terkait lainnya tidak melanggar atau bertentangan dengan ketentuan hukum yang berlaku atau
kebijakan pemerintah atau keputusan pengadilan atau badan arbitrase atau anggaran dasar DEBITUR sendiri
dan tidak mengakibatkan pelanggaran (atau dinyatakan sebagai pelanggaran) atas kewajiban DEBITUR
berdasarkan atau memerlukan suatu persetujuan yang disyaratkan oleh setiap perjanjian atau dokumen yang
telah ada, terhadap mana DEBITUR merupakan pihak didalamnya atau harta kekayaan DEBITUR terikat atau
terlibat, kecuali atas hal-hal yang telah diberitahukan terlebih dahulu secara tertulis oleh DEBITUR kepada
BANK sebelum penandatanganan tersebut.

4.3. Tidak Ada Tuntutan/Sengketa.


Tidak ada dan tidak akan pernah ada sengketa maupun tuntutan terhadap DEBITUR maupun barang-barang
yang dijadikan Jaminan, baik di luar maupun di dalam pengadilan atau peradilan manapun juga yang
dapat berakibat buruk/menambah resiko terhadap usaha DEBITUR pada umumnya dan keadaan keuangan
DEBITUR pada khususnya yang dapat membahayakan BANK atas pemberian Fasilitas Kredit ini.

Debitur tidak akan mengajukan tuntutan/gugatan hukum berupa apapun terhadap BANK, antara lain (namun
tidak terbatas) tuntutan/gugatan membayar ganti rugi kepada DEBITUR atas kerugian-kerugian yang mungkin
diderita DEBITUR sebagai akibat dari Perjanjian ini.

Dalam hal debitur karena suatu perkara di pengadilan atau karena suatu sitaan sebelum diputuskan perkaranya
oleh pengadilan atau karena suatu putusan pengadilan atau karena proses hukum lainnya memperoleh hak
kekebalan, DEBITUR dengan ini memberikan pernyataan yang tidak dapat dicabut kembali melepaskan hak
kekebalan tersebut yang berkenaan dengan kewajibannya berdasarkan Perjanjian ini

4.4. Laporan Keuangan


Laporan Keuangan yang telah di audit oleh akuntan publik atau dibuat oleh DEBITUR sendiri (yang telah
dinyatakan "sah" oleh DEBITUR) adalah benar, tepat dan tidak ada kesalahan apapun, dan menunjukkan
secara jelas keadaan keuangan DEBITUR yang sebenarnya.

4.5. Perijinan.
Setiap ijin, persetujuan atau wewenang yang dikeluarkan oleh instansi yang berwajib dan yang disyaratkan
untuk dan dalam rangka pembuatan, penyerahan dan pelaksanaan Perjanjian ini dan dokumen-dokumen lain
yang berhubungan dengan pemberian Fasilitas Kredit ini telah diperoleh DEBITUR. Ijin-ijin, persetujuan-
persetujuan dan wewenang mana sekarang ini masih berlaku, dan akan diperpanjang oleh DEBITUR apabila
jangka waktu ijin, persetujuan dan/atau wewenang-wewenang tersebut telah habis namun seluruh pinjaman
dibayar lunas oleh DEBITUR.

4.6. Tidak Dalam Keadaaan Lalai/Wanprestasi


DEBITUR tidak sedang dalam keadaan lalai dan/atau melakukan pelanggaran dan/atau dinyatakan dalan
keadaan wanprestasi, berdasarkan perjanjian kredit lain dengan BANK.

4.7. Pajak
DEBITUR tidak memiliki tunggakan atas kewajiban pada pihak ketiga atau kepada Pemerintah dalam hal
perpajakan.

4.8. Kepailitan.
DEBITUR, PENJAMIN dan/atau PEMBERI JAMINAN tidak sedang dan tidak akan mengajukan
permohonan penundaan pembayaran (surseance van betaling) terhadap Fasilitas Kredit yang diberikan
berdasarkan Perjanjian ini dan tidak menjadi insolvent atau dinyatakan pailit dan tidak kehilangan haknya untuk
mengurus atau menguasai harta bendanya.

PASAL 5
HAL-HAL YANG DIWAJIBKAN

Divisi Hukum – Kantor Pusat 7/14


Lampiran 1

Kecuali ditentukan lain oleh BANK, terhitung sejak tanggal Perjanjian ini sampai dengan dilunasinya seluruh kewajiban
yang terhutang oleh DEBITUR kepada BANK berdasarkan Perjanjian ini, maka DEBITUR wajib
melakukan/melaksanakan hal-hal sebagai berikut :

5.1. Menjalankan usahanya secara layak dan efisien.

5.2. Menggunakan Fasilitas Kredit semata-mata untuk keperluan sebagaimana ditetapkan dalam Perjanjian ini.

5.3. Senantiasa memberikan ijin kepada BANK atau petugas-petugas yang diberi kuasa oleh BANK untuk :
a. melakukan pemeriksaan (audit) terhadap buku-buku, catatan-catatan dan administrasi DEBITUR serta
memeriksa keadaan barang-barang jaminan;
b. melakukan peninjauan ke dalam proyek, bangunan-bangunan lain dan kantor-kantor yang digunakan
DEBITUR dan
c. mengizinkan BANK untuk menempatkan karyawan-karyawannya dan/atau kuasanya dalam perusahaan
DEBITUR guna ikut mengawasi pengelolaan perusahaan tersebut, apabila dianggap perlu oleh BANK.

5.4. Mengizinkan karyawan-karyawan BANK atau kuasanya atau perusahaan penilai sebagaimana akan ditetapkan
oleh BANK dan akan diberitahukan kepada DEBITUR untuk melakukan collateral inspection minimal satu kali
dalam satu tahun dan dengan biaya ditanggung oleh DEBITUR.

5.5. Melakukan pembukuan mengenai keuangan perusahaan dan membuat catatan-catatan yang mencerminkan
keadaan keuangan perusahaan DEBITUR yang sesungguhnya serta hasil pengoperasian perusahaan
DEBITUR yang sesuai dengan prinsip-prinsip pembukuan yang diterima secara umum atau sesuai dengan
prinsip-prinsip Akuntansi Indonesia yang mencerminkan kewajaran dan dilaksanakan secara konsisiten.

5.6. Memberikan pada BANK segala informasi/keterangan/data-data (seperti, namun tidak terbatas pada laporan
keuangan DEBITUR), yaitu :
a. segala sesuatu sehubungan dengan keuangan dan usaha DEBITUR,
b. bilamana terjadi perubahan dalam sifat atau luas lingkup usaha DEBITUR bilamana terjadi suatu peristiwa
atau keadaan yang dapat mempengaruhi keadaan usaha atau keuangan DEBITUR, setiap waktu, baik
diminta maupun tidak diminta oleh BANK.

5.7. Mempertahankan, memperpanjang atau memperbaharui apabila sudah habis jangka waktunya semua izin
usaha dan izin-izin lainnya yang dipunyai oleh DEBITUR dalam rangka menjalankan usahanya dan
menyerahkan fotocopy dari izin-izin tersebut kepada BANK serta menyimpan sebaik-baiknya surat-surat izin
dan persetujuan-persetujuan yang telah diperolehnya dari pihak yang berwenang dan apabila ternyata
dikemudian hari diperlukan surat-surat izin dan persetujuan-persetujuan yang baru, DEBITUR wajib segera
mengurusnya.

5.8. Membayar pajak-pajak dan beban-beban lainnya yang ditetapkan oleh Pemerintah, bea meterai, biaya-biaya
dan semua tagihan-tagihan yang wajib dibayar oleh DEBITUR sehubungan dengan usahanya dengan
sebagaimana mestinya.

5.9. Menyerahkan pada BANK :


a. Laporan Keuangan Tahunan (Audited) segera setelah diminta oleh BANK, selambat-lambatnya 90
(sembilan puluh) hari kalender sejak tanggal laporan.
b. Laporan Keuangan Triwulanan (House Figures), termasuk neraca dan perhitungan laba-rugi, segera
setelah diminta oleh BANK, selambat-lambatnya 60 (enam puluh) hari sejak tanggal laporan, yang
ditandatangani oleh pengurus DEBITUR.
c. Laporan Keuangan Tahunan yang merupakan lampiran Surat Pemberitahuan Tahunan Atas Pajak
Penghasilan (SPT-PPh) yang bertanda terima dari kantor Pelayanan Pajak setempat, selambat-lambatnya
120 (seratus dua puluh) hari sejak tanggal laporan.
d. Daftar Tagihan-tagihan (Piutang) DEBITUR dengan disertai aging schedule setiap triwulan, selambat-
lambatnya 30 (tiga puluh lima) hari kalender setelah tanggal periode laporan tersebut dan ditandatangani
oleh pengurus perusahaan DEBITUR.
e. Daftar Barang Dagangan (Inventory) DEBITUR setiap triwulan, selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari
kalender setelah tanggal periode laporan dan ditandatangani oleh pengurus perusahaan DEBITUR.

PASAL 6
HAL-HAL YANG DILARANG

Divisi Hukum – Kantor Pusat 8/14


Lampiran 1

Kecuali ditentukan lain oleh BANK, terhitung sejak tanggal Perjanjian ini sampai dengan dilunasinya seluruh kewajiban
yang terhutang oleh DEBITUR kepada BANK berdasarkan Perjanjian ini, maka DEBITUR dilarang melakukan hal-hal
sebagai berikut :
6.1. Menjual atau dengan cara lain mengalihkan hak atau menyewakan/menyerahkan pemakaian seluruh atau
sebagian kekayaan/asset DEBITUR, baik barang-barang bergerak maupun tidak bergerak milik DEBITUR,
kecuali dalam rangka menjalankan usaha DEBITUR sehari-hari.

6.2. Menjaminkan/mengagunkan dengan cara bagaimanapun kekayaan DEBITUR kepada orang/pihak lain,
kecuali menjaminkan/mengagunkan kekayaan kepada BANK sebagaimana termaktub dalam Perjanjian (-
perjanjian) Jaminan.

6.3. Mengadakan perjanjian yang dapat menimbulkan kewajiban DEBITUR untuk membayar kepada pihak ketiga,
kecuali dalam rangka menjalankan usaha DEBITUR sehari-hari.

6.4. Menjamin langsung maupun tidak langsung pihak ketiga lainnya, kecuali melakukan endorsemen atas surat-
surat yang dapat diperdagangkan untuk keperluan pembayaran atau penagihan transaksi-transaksi lain yang
lazim dilakukan dalam menjalankan usaha.

6.5. Memberikan pinjaman kepada atau menerima pinjaman dari pihak lain kecuali dalam rangka menjalankan
usaha DEBITUR sehari-hari.

6.6. Mengadakan perubahan dari sifat dan kegiatan usaha DEBITUR seperti yang sedang dijalankan dewasa ini.

6.7. Merubah susunan pengurus, susunan Para Pemegang Saham dan nilai saham DEBITUR.

6.8. Mengumumkan dan membagikan deviden saham DEBITUR.

6.9. Melakukan merger atau akuisisi.

6.10. Membayar atau membayar kembali tagihan-tagihan atau piutang-piutang berupa apapun juga yang sekarang
dan/atau dikemudian hari akan diberikan oleh para Pemegang Saham DEBITUR baik berupa jumlah pokok,
bunga dan lain-lain jumlah uang yang wajib dibayar.

PASAL 7
PERLINDUNGAN TERHADAP PENGHASILAN BANK

7.1. Semua biaya yang dapat ditagih dan harus dibayar dan yang timbul berdasarkan Perjanjian ini dan
segala akibat dari pada Perjanjian ini, termasuk tapi tidak terbatas kepada, biaya-biaya yang bertalian
dengan penyimpanan dan pemilikan jaminan, upah serta beban-beban dan setiap pembayaran yang harus
dibayar BANK kepada pengacara dan/atau penasehat hukum yang diberi tugas oleh BANK untuk menagih
kredit tersebut, segala ongkos-ongkos yang bersangkutan dengan realisasi jaminan itu, termasuk komisi dan
pembayaran-pembayaran lainnya kepada pihak ketiga, demikian pula pajak (seperti, namun tidak terbatas
pada bea materai) daripada Perjanjian ini (termasuk segala perubahan dan/atau penambahannya) menjadi
tanggungan DEBITUR.

7.2. Juga apabila terjadi perubahan pada Undang-undang, peraturan perundang-undangan, petunjuk
pelaksanaannya atau penafsirannya atau hal-hal lain yang mengakibatkan bertambahnya biaya (seperti, namun
tidak terbatas pada pengenaan pajak, bea, pungutan atau biaya lain) pada BANK sehubungan dengan
pemberian Fasilitas Kredit dalam Perjanjian ini merupakan tanggungan DEBITUR.

7.3. Maka sejak tanggal permintaan BANK, DEBITUR wajib dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari membayar tambahan
biaya-biaya tersebut kepada BANK.

PASAL 8
JAMINAN ATAS PEMBERIAN KREDIT

Divisi Hukum – Kantor Pusat 9/14


Lampiran 1

8.1. Untuk menjamin pembayaran lunas, penuh, tertib dan dengan sebagaimana mestinya semua jumlah uang
yang terhutang dan wajib dibayar oleh DEBITUR kepada BANK berdasarkan Perjanjian ini dan perubahan
dan/atau perpanjangannya, baik jumlah pokok pinjaman(-pinjaman), bunga, biaya-biaya dan lain-lain jumlah
uang yang wajib, maka DEBITUR menyerahkan pada BANK Jaminan(-jaminan), yang pengalihan hak
kepemilikannya dibuktikan dengan dokumen atau perjanjian-perjanjian yang dibuat dalam bentuk, jumlah dan
isi yang memuaskan BANK, termasuk namun tidak terbatas pada hal-hal sebagai berikut, berikut segala
tambahan dan/atau penggantinya yang diuraikan dalam perjanjian terpisah namun merupakan kesatuan dari
Perjanjian ini, yaitu :
……...………………………………………………………………………………………………………………………….
……...………………………………………………………………………………………………………………………….
……...………………………………………………………………………………………………………………………….
……...………………………………………………………………………………………………………………………….
……...………………………………………………………………………………………………………………………….
……...………………………………………………………………………………………………………………………….
……...………………………………………………………………………………………………………………………….

Seluruh Perjanjian Jaminan (-Perjanjian Jaminan) tersebut (selanjutnya disebut Perjanjian (-perjanjian)
Jaminan) juga terikat secara “Cross Collateralized” terhadap fasilitas(-fasilitas) kredit lainnya yang diberikan
oleh BANK kepada DEBITUR, yang diuraikan dalam perjanjian(-perjanjian) terpisah antara BANK dan
DEBITUR.

8.2. BANK berhak dan berwenang menjalankan hak dan wewenangnya atas jaminan yang disebut pada ketentuan-
ketentuan diatas.

PASAL 9
ASURANSI BARANG JAMINAN

9.1. DEBITUR atas tanggungan sendiri harus selalu mengasuransikan harta benda yang dijaminkan oleh DEBITUR
dan/atau PENJAMIN kepada BANK pada perusahaan asuransi dan sampai jumlah pertanggungan yang
ditetapkan oleh BANK, terhadap kerugian karena kebakaran dan bahaya-bahaya lain yang menurut
pertimbangan BANK dapat menimpa harta benda tersebut. Setiap polis asuransi harus memuat "Banker's
Clause", yakni bahwa selama harta benda yang diasuransikan masih merupakan jaminan hutang kepada
BANK, maka uang pertanggungan yang dibayar oleh perusahaan asuransi akan diserahkan langsung oleh
perusahaan asuransi tersebut kepada BANK dan selanjutnya untuk diperhitungkan dengan hutang DEBITUR
kepada BANK dan jika masih ada sisa, menyerahkan sisa tersebut kepada DEBITUR atau PENJAMIN sebagai
pemilik harta benda yang dijaminkan kepada BANK. Dalam hal hasil uang pertanggungan tidak cukup untuk
melunasi seluruh hutang, sisa hutang tersebut tetap menjadi hutang DEBITUR kepada BANK dan harus
dibayar dengan seketika dan sekaligus oleh DEBITUR pada saat ditagih oleh BANK. Asli kwitansi atau bukti
pembayaran premi asuransi dan asli polis asuransi beserta "Banker's Clause" harus diserahkan kepada BANK.

9.2. Jika menurut pertimbangan BANK, DEBITUR lalai memenuhi kewajiban sebagaimana yang dimaksud dalam
ayat (1) Pasal ini, maka tanpa mengurangi kewajiban DEBITUR tersebut BANK berhak dan dengan ini diberi
kuasa oleh DEBITUR untuk dan atas tanggungan DEBITUR mengasuransikan harta benda yang dijaminkan
dan mendebet rekening DEBITUR pada BANK sejumlah premi asuransi serta biaya-biaya lain yang harus
dibayar, tetapi hal tersebut bukan merupakan kewajiban BANK.

9.3. Apabila DEBITUR karena satu dan lain hal lalai atau tidak melaksanakan haknya pada saat hak tersebut timbul
untuk mengajukan klaim kepada perusahaan asuransi sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 Pasal ini, maka
BANK atas tanggungan DEBITUR dengan ini diberi kuasa oleh DEBITUR untuk melakukan klaim kepada
perusahaan asuransi untuk dan atas nama DEBITUR dan melaksanakan segala sesuatu yang diperlukan untuk
itu termasuk tetapi tidak terbatas pada pengurusan surat-surat/ dokumen-dokumen yang berhubungan dengan
pengajuan klaim tersebut kepada perusahaan asuransi serta DEBITUR wajib menyerahkan segala dokumen
yang diperlukan oleh BANK untuk melaksanakan pengajuan klaim asuransi tersebut; tetapi pengajuan klaim
dimaksud di atas bukan kewajiban BANK.

PASAL 10
KOMPENSASI

Divisi Hukum – Kantor Pusat 10/14


Lampiran 1

10.1. Kewajiban DEBITUR untuk membayar kembali hutangnya pada BANK berdasarkan Perjanjian ini atau setiap
perjanjian lain yang berhubungan, wajib dipenuhi oleh DEBITUR tanpa DEBITUR berhak untuk
memperhitungkan (mengkompensir) dengan tagihan/piutang dagang DEBITUR terhadap BANK (bila ada) dan
tanpa hak untuk menuntut terlebih dahulu suatu pembayaran lain (counter claim).

10.2. DEBITUR menyetujui bahwa tagihan/piutang dagang DEBITUR pada BANK (bila ada) tidak dapat dijadikan
alasan untuk tidak membayar atau menuntut kembali BANK berdasarkan Perjanjian ini atau berdasarkan
perjanjian-perjanjian lain yang disebut dalam Perjanjian ini. DEBITUR dengan ini melepaskan semua
haknya seperti disebut dalam pasal 1425 sampai dengan 1429 Kitab Undang-undang Hukum Perdata.

PASAL 11
PENGALIHAN HAK

11.1. DEBITUR setuju bahwa apabila dianggap perlu oleh BANK, berdasarkan pertimbangannya sendiri BANK
mempunyai hak untuk mengalihkan, baik seluruh atau sebagian hak-hak yang timbul sehubungan dengan
pemberian Fasilitas Kredit yang diberikan kepada DEBITUR berdasarkan Perjanjian (berikut setiap perubahan,
penambahan atau perpanjangannya) kepada pihak ketiga lainnya. Dan DEBITUR dengan ini setuju bahwa
penerima pengalihan hak yang bersangkutan akan mendapat manfaat yang sama dengan yang diberikan
kepada BANK berdasarkan Perjanjian ini.
11.2. Menyimpang dari hal dimuka, DEBITUR setuju untuk tidak mengalihkan sebagian atau seluruh hak dan
kewajibannya berdasarkan Perjanjian ini pada pihak ketiga lainnya tanpa persetujuan tertulis terlebih dahulu
dari BANK.

11.3. Dalam hal BANK mengalihkan Fasilitas Kredit ini, baik sebagian maupun seluruhnya, DEBITUR tetap terikat
dan tunduk pada syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan dalam Perjanjian (berikut setiap perubahan dan/atau
perpanjangannya) serta perjanjian-perjanjian lainnya yang berhubungan dengan pemberian Fasilitas Kredit
oleh BANK kepada DEBITUR.

PASAL 12
PERISTIWA KELALAIAN

Menyimpang dari jangka waktu pemberian kredit yang disebut dalam ketentuan 1.1. diatas, berikut segala
perubahannya, seluruh jumlah pinjaman dari DEBITUR terhadap BANK, baik karena hutang pokok, bunga, komisi,
fee dan biaya-biaya lainnya yang terhutang berdasarkan Perjanjian ini, dapat ditagih dan wajib dibayarkan kembali
dengan seketika dan sekaligus seluruhnya, tanpa perlu adanya surat teguran juru sita atau surat lainnya yang serupa
dengan itu, dan tanpa perantaraan Pengadilan, BANK dapat langsung menjual harta benda yang dijaminkan oleh
DEBITUR dan/atau PENJAMIN kepada BANK baik dibawah-tangan maupun dimuka umum (secara lelang) dengan
harga dan syarat-syarat yang ditetapkan oleh BANK, dengan ketentuan pendapatan bersih dari penjualan
dipergunakan untuk pembayaran seluruh kewajiban/hutang DEBITUR kepada BANK dan jika ada sisa, maka sisa
tersebut akan dikembalikan kepada DEBITUR dan/atau PENJAMIN sebagai pemilik harta benda yang dijaminkan
kepada BANK. Sebaliknya, apabila hasil penjualan tersebut tidak cukup untuk melunasi seluruh kewajiban/hutang
DEBITUR kepada BANK, maka kekurangan tersebut tetap menjadi kewajiban/hutang DEBITUR kepada BANK dan
wajib dibayar oleh DEBITUR dengan seketika dan sekaligus pada saat ditagih oleh BANK, yaitu dalam hal terjadinya,
paling tidak, salah satu dari kejadian di bawah ini :
12.1. Bilamana angsuran hutang pokok dan/atau bunga dan/atau jumlah yang terhutang lain yang timbul
berdasarkan Perjanjian ini tidak dibayar lunas pada waktu dan dengan cara sebagaimana yang ditentukan
dalam Perjanjian ini dan/atau perubahan dan/atau perpanjangannya, dimana lewatnya waktu saja sudah
merupakan bukti yang cukup dan sah bahwa DEBITUR telah melalaikan kewajibannya;

12.2. Bilamana menurut BANK, DEBITUR tidak memenuhi, terlambat memenuhi atau memenuhi namun hanya
sebagian, paling tidak salah satu dari syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan lain dalam Perjanjian ini dan/atau
terjadi kelalaian atau pelanggaran yang termaktub dalam perjanjian-perjanjian jaminan yang dibuat berkenaan
dengan Perjanjian ini.

12.3. Jika suatu pernyataan, surat keterangan atau dokumen yang diberikan sehubungan dengan Perjanjian ini
dan/atau perubahan dan/atau penambahan dan/atau sehubungan dengan Perjanjian ini ternyata tidak benar
atau tidak sesuai dengan pernyataan sebenarnya dalam atau mengenai hal-hal yang oleh BANK dianggap
penting.

Divisi Hukum – Kantor Pusat 11/14


Lampiran 1

12.4. Apabila semata-mata menurut pertimbangan BANK, keadaan keuangan, bonafiditas dan solvabilitas DEBITUR
mundur sedemikian rupa yang dapat mengakibatkan DEBITUR tidak dapat membayar hutangnya lagi.

12.5. Bilamana DEBITUR atau orang/pihak lain yang menanggung atau menjamin pembayaran hutang-hutang
DEBITUR (untuk selanjutnya disebut juga PENJAMIN) berdasarkan perjanjian ini mengajukan permohonan
untuk dinyatakan dalam keadaan pailit atau penundaan pembayaran hutang-hutang ("surseance van
betaling") kepada instansi yang berwenang atau tidak membayar hutangnya kepada pihak ketiga yang telah
dapat ditagih (jatuh waktu) atau karena sebab apapun tidak berhak lagi mengurus dan menguasai
kekayaannya atau dinyatakan pailit atau suatu permohonan atau tuntutan untuk kepailitan telah diajukan
terhadap DEBITUR dan/atau terhadap PENJAMIN kepada instansi yang berwenang.

12.6. Bilamana DEBITUR atau PENJAMIN dibubarkan atau mengambil keputusan untuk bubar (bilamana DEBITUR
atau PENJAMIN adalah suatu perusahaan) meninggal dunia atau menangguhkan untuk sementara usahanya
atau dinyatakaan berada dibawah pengampuan ("Onder Curatele Gesteld").

12.7. Bilamana kekayaan DEBITUR atau PENJAMIN seluruhnya atau sebagian disita oleh instansi yang berwajib;
atau apabila menurut penilaian BANK kekayaan DEBITUR atau PENJAMIN dianggap menjadi berkurang
sehingga dapat membahayakan Fasilitas Kredit yang dimaksud dalam Perjanjian ini.

12.8. Bilamana barang(-barang) yang dijadikan jaminan untuk pembayaran hutang DEBITUR kepada BANK
berdasarkan Perjanjian ini disita oleh instansi yang berwenang, atau bilamana barang(-barang) jaminan
tersebut hilang, rusak atau musnah karena sebab apapun juga.

12.9. Apabila DEBITUR atau PENJAMIN telah lalai atau melanggar sesuatu ketentuan dalam suatu perjanjian-
perjanjian lain, termasuk namun tidak terbatas pada perjanjian yang mengenai atau berhubungan dengan
pinjaman uang atau pemberian kredit dimana DEBITUR atau PENJAMIN adalah sebagai pihak yang
meminjam dan bilamana kelalaian/atau pelanggaran tersebut mengakibatkan atau memberikan hak kepada
pihak lain dalam perjanjian tersebut untuk menyatakan bahwa hutang atau kredit yang diberikan dalam
perjanjian tersebut menjadi harus dibayar atau dibayar kembali dengan seketika dan sekaligus pada tanggal
jatuh waktu pembayaran yang telah ditentukan.

12.10. Bilamana tidak dapat diperoleh salah satu atau beberapa atau seluruh ijin, persetujuan atau wewenang,
baru maupun perpanjangannya, yang dikeluarkan oleh instansi yang berwajib dan yang disyaratkan untuk dan
dalam rangka pembuatan, penyerahan dan pelaksanaan Perjanjian ini dan dokumen-dokumen lain yang
berhubungan dengan pemberian Fasilitas Kredit ini.

12.11. Apabila nilai asset/kekayaan milik DEBITUR menurut penilaian BANK menurun.

12.12. Jika DEBITUR masuk dalam Daftar Kredit Macet dan/atau Daftar Hitam (blacklist) yang dikeluerkan oleh Bank
Indonesia.

PASAL 13
KETENTUAN TAMBAHAN

Atas Fasilitas Kredit ini berlaku pula ketentuan sebagai berikut :


………....….……………………………………………………..……………………………………………………………………

………....….…………………………………………………………………………………………………………………………….
.
………....….…………………………………………………………………………………………………………………………….
.
………....….……………………………………………………………………………………………………………………………
………....….……………………………………………………………………………………………………………………………
………....….……………………………………………………………………………………………………………………………
………....….……………………………………………………………………………………………………………………………
………....….……………………………………………………………………………………………………………………………
………....….……………………………………………………………………………………………………………………………
………....….……………………………………………………………………………………………………………………………
………....….……………………………………………………………………………………………………………………………

PASAL 14
PEMBERITAHUAN

Divisi Hukum – Kantor Pusat 12/14


Lampiran 1

14.1. Semua surat menyurat atau pemberitahuan yang harus dikirim oleh masing-masing pihak kepada pihak lain
dalam Perjanjian ini mengenai atau sehubungan dengan Perjanjian ini dilakukan dengan secara langsung,
surat tercatat, facsimile, telex atau melalui perusahaan ekspedisi (kurir) ke alamat-alamat yang tersebut
dibawah ini :
a. BANK
Nama :
Alamat :
Telp/Fax :
Telex :
Contact Person :

b. DEBITUR
Nama :
Alamat :
Telp/Fax :
Telex :
Contact Person :

14.2. Surat menyurat atau pemberitahuan-pemberitahuan dianggap telah diterima oleh pihak yang dituju (i) pada
tanggal tanda terima ditandatangani apabila disampaikan secara langsung atau melalui jasa kurir (ii) pada
tanggal setelah 5 (lima) hari kerja sejak diposkannya apabila dikirim dengan surat tercatat atau sejak
diserahkan kepada perusahaan ekspedisi (kurir) dan cukup bila ditandatangani oleh pihak-pihak yang berhak
mewakili BANK atau DEBITUR (iii) pada hari dikirimkannya apabila dikirim melalui telex yang dikonfirmasi
dengan kode jawab; dan (iv) pada hari dikirimkannya apabila dikirim melalui facsimile yang dikonfirmasi dengan
tanda telah dikirim.

14.3. Dalam hal terjadi perubahan alamat dari alamat tersebut diatas atau alamat terakhir yang tercatat pada masing-
masing pihak, maka perubahan tersebut harus diberitahukan secara tertulis kepada pihak lain dalam Perjanjian
ini selambat-lambatnya 5 (lima) hari kerja sebelum terjadinya perubahan alamat yang dimaksud. Jika
perubahan alamat tidak diberitahukan, maka surat menyurat atau pemberitahuan-pemberitahuan berdasarkan
Perjanjian ini dianggap telah diberikan sebagaimana mestinya dengan dikirimnya surat atau pemberitahuan itu
dengan secara langsung, surat tercatat, facsimile atau telex atau sejak diserahkan kepada perusahaan
ekspedisi (kurir) yang ditujukan kealamat tersebut diatas atau alamat terakhir yang diketahui/tercatat pada
masing-masing pihak.

PASAL15
KETENTUAN PENUTUP

15.1. DEBITUR dengan ini menyatakan bahwa DEBITUR tunduk kepada semua peraturan-peraturan dan
kebijaksanaan-kebijaksanaan mengenai kredit yang ada pada BANK sekarang sebagaimana terlampir dan/atau
diperlihatkan kepada DEBITUR.

15.2. Semua dan setiap kuasa yang diberikan oleh DEBITUR kepada BANK berdasarkan Perjanjian ini
merupakan bagian-bagian yang terpenting dan tidak dapat dipisahkan dari Perjanjian ini, yang tanpa
adanya kuasa-kuasa tersebut Perjanjian ini tidak akan dibuat dan dengan demikian maka kuasa-kuasa
tersebut tidak dapat ditarik kembali maupun dibatalkan oleh sebab-sebab yang tercantum dalam pasal 1813,
1814 dan 1816 Kitab Undang-undang Hukum Perdata Indonesia.

15.3. Perjanjian ini tidak dapat diubah atau ditambah kecuali dengan suatu perjanjian perubahan atau tambahan yang
ditandatangani para pihak dalam Perjanjian ini.

15.4. Mengenai Perjanjian ini DEBITUR dan BANK dengan ini melepaskan ketentuan pasal 1266 dan pasal 1267
Kitab Undang-undang Hukum Perdata Indonesia.

15.5. Jika ada salah satu ketentuan dalam Perjanjian ini yang oleh karena suatu ketetapan pemerintah atau
pengadilan dilarang atau tidak dapat dilaksanakan atau menjadi tidak berlaku atau dinyatakan batal demi
hukum, hal tersebut tidak mempengaruhi keabsahan ketentuan lainnya dalam Perjanjian ini, dan ketentuan-
ketentuan lainnya tersebut tetap berlaku dan mengikat serta dapat dilaksanakan sebagaimana ditentukan
dalam Perjanjian ini, DEBITUR wajib membuat dan menandatangani dokumen yang berisikan ketentuan yang

Divisi Hukum – Kantor Pusat 13/14


Lampiran 1

memenuhi persyaratan BANK sebagai pengganti ketentuan yang dilarang atau tidak dapat dilaksanakan
tersebut, sebagaimana diminta oleh BANK.

15.6. Tidak digunakannya atau ditundanya penggunaan sesuatu hak, kuasa atau hak istimewa oleh BANK bukan
berarti bahwa BANK melepaskan hak atau kuasa atau hak istimewanya itu kecuali hak tersebut dilepas oleh
BANK secara tertulis. Dan digunakannya sebagian hak, kuasa atau hak istimewa tadi tidak menghalangi BANK
untukmeneruskan atau mengulangi digunakannya hak atau kuasa atau hak istimewa tersebut. Hak-hak dan
upaya-upaya yang diberikan kepada BANK dalam Perjanjian ini bersifat kumulatif dan tidak mengurangi hak-
hak-hak dan upaya-upaya lain yang diberikan kepadanya menurut hukum.

15.7. Dalam hal terjadi atau timbul suatu Kelalaian/Pelanggaran, maka suatu tindakan yang dilakukan atau tidak
dilakukan oleh BANK atau kelambatan dalam melaksanakan suatu hak, wewenang atau tuntutan tidak
melemahkan hak, wewenang atau tuntutan tersebut dan juga tidak dapat diartikan bahwa BANK
melepaskan hak, wewenang atau tuntutan tersebut atau membenarkan terjadinya kelalaian pada atau
dilakukannya pelanggaran oleh DEBITUR.

15.8. Terhadap Perjanjian ini dan segala dokumen yang berhubungan dan yang timbul akibat Perjanjian ini, seperti
namun tidak terbatas pada perjanjian-perjanjian jaminan, tunduk pada hukum negara Republik Indonesia.
15.9. Mengenai Perjanjian ini dan segala akibatnya kedua belah pihak memilih tempat kedudukan hukum yang
tetap dan seumumnya di Kantor Kepaniteraan Pengadilan Negeri …………………… di
……………………………… . Namun, tidak mengurangi hak dan wewenang BANK untuk memohon
pelaksanaan (eksekusi) atau mengajukan tuntutan/gugatan hukum terhadap DEBITUR berdasarkan Perjanjian
ini dimuka pengadilan lain dalam wilayah Republik Indonesia.

Demikian PERJANJIAN ini dibuat dan ditandatangani di …………………………. , pada tanggal dan tahun sebagaimana
tersebut diatas, dan mulai berlaku sejak tanggal ……………………………. .

BANK DEBITUR
PT. BANK DANAMON INDONESIA Tbk
Materai

_________________________________ _______________________________
Nama : Nama :
Jabatan : Jabatan :

Mengetahui dan Menyetujui,

________________________________
Nama :
Jabatan :

*) Coret yang tidak perlu

Divisi Hukum – Kantor Pusat 14/14


Lampiran 2

PERJANJIAN GADAI DEPOSITO


No. .............................

Perjanjian Gadai Deposito ini (selanjutnya disebut “Perjanjian”) dibuat pada hari ini, ....................., tanggal
..............……....................... oleh dan antara :

1. PT. BANK DANAMON INDONESIA Tbk, berkedudukan di Jakarta, dalam hal ini melalui kantornya di Jalan
…………………………………………….. , dan diwakili oleh …………………………………………………......
dalam kedudukannya selaku ……………………………………….. (selanjutnya disebut “BANK”);
2. ……………………………………………………………….………………………………… , swasta, bertempat
tinggal di …………………………………………………………………. dalam hal ini bertindak : *)
a. untuk diri sendiri dan untuk melakukan tindakan hukum tersebut dalam Perjanjian ini telah mendapat
persetujuan dari suaminya / istrinya, yaitu : ………………………………………... yang turut menandatangani
Perjanjian ini / sebagaimana ternyata dari Surat Persetujuan yang dibuat dibawah tangan bermeterai cukup
tertanggal ……………………………………. *)
b. selaku ……………………………………………………………………….. dari dan oleh karenanya bertindak
untuk dan atas nama PT. …………………………………….. berkedudukan di ……………………..……. dan
untuk melakukan tindakan hukum tersebut dalam Perjanjian ini telah memperoleh persetujuan dari
……………………………………… yang turut menandatangani Perjanjian ini / sebagaimana ternyata dalam
suratnya tertanggal …………………… *) (selanjutnya disebut “PEMBERI GADAI”).

Para pihak dengan ini menerangkan terlebih dahulu hal-hal sebagai berikut :

a. Bahwa oleh dan antara …………….………………………...…. (selanjutnya disebut “DEBITUR”) dan BANK
telah dibuat dan ditandatangani Perjanjian Kredit nomor ………….., tanggal ……………... (selanjutnya
perjanjian kredit tersebut berikut seluruh perubahannya, perpanjangannya dan atau pembaharuannya yang akan
dibuat dikemudian hari disebut “Perjanjian Kredit”).
b. Bahwa untuk menjamin pembayaran kembali dengan tertib dan secara sebagaimana mestinya seluruh hutang
DEBITUR kepada BANK yang telah dan akan ada berikut bunga, denda, provisi serta biaya-biaya lain yang
mungkin timbul karena fasilitas kredit yang telah dan atau akan diberikan berdasarkan Perjanjian Kredit,
PEMBERI GADAI menggadaikan kepada BANK, semua hak atas Rekening Deposito sebagaimana akan
disebut dibawah ini.
c. Bahwa untuk menggadaikan Hak atas Rekening Deposito tersebut, PEMBERI GADAI telah : *)
(i) mendapatkan persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa, sebagaimana ternyata dari
Berita Acara Rapat Umum Para Pemegang Saham Luar Biasa tertanggal …………………………… /
menyerahkan Surat Pernyataan Direksi PEMBERI GADAI tertanggal ……………………..., yang
menyatakan bahwa jumlah saham yang digadaikan oleh PEMBERI GADAI kepada BANK ini tidak
merupakan sebagaian besar (hanya merupakan sebagian kecil) dari seluruh kekayaan/asset yang dimiliki
PEMBERI GADAI dan oleh karenanya oleh karenanya persetujuan dari Rapat Umum Luar Biasa Para
Pemegang Saham PEMBERI GADAI sebagaimana disyaratkan oleh Pasal 88 ayat 1 Undang-undang no.1
tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas tidaklah diperlukan. *)
(ii) dan/atau telah memenuhi ketentuan-ketentuan yang termaktub dalam anggaran dasar Perseroan serta
PEMBERI GADAI dan peraturan-peraturan yang berlaku, termasuk tetapi tidak terbatas pada persetujuan
pengalihan hak atas Rekening Deposito sesuai dengan ketentuan Perjanjian ini dan peraturan yang berlaku.

Maka sehubungan dengan segala sesuatu yang diuraikan di atas, BANK dan PEMBERI GADAI telah saling setuju dan
sepakat untuk dan dengan ini membuat serta menetapkan Perjanjian untuk dipatuhi dan dilaksanakan oleh para pihak,
dengan memakai syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :

Divisi Hukum – Kantor Pusat hal.1/5


Lampiran 2

PASAL 1
PEMBERIAN GADAI

1. Guna menjamin setiap dan seluruh jumlah uang yang terhutang oleh DEBITUR kepada BANK berdasarkan
Perjanjian Kredit, PEMBERI GADAI menyatakan dengan ini menggadaikan dan/atau memberikan kepada
BANK, semua Hak atas Rekening Deposito yang dibuktikan dengan :
Bilyet Deposito Berjangka :
Nomor Deposito :
Tanggal Deposito :
Atas Nama :
Jumlah :
berikut setiap jumlah penambahan bunga ke dalam jumlah nominal yang setiap perubahan tersebut telah ternyata
dari perubahan kontrak dan Bilyet Depositonya (Selanjutnya disebut “Deposito”).

2. PEMBERI GADAI dapat mengajukan permohonan kepada BANK untuk merubah jenis mata uang atas Deposito
berjangka yang digadaikan tersebut diatas sesuai kurs yang berlaku sekurang-kurangnya 3 (tiga) hari sebelum
tanggal perubahan mata uang yang diminta oleh PEMBERI GADAI tersebut, dengan ketentuan bahwa BANK atas
pertimbangan sendiri berhak untuk menolak permintaan tersebut.

PASAL 2
EKSEKUSI DAN HASILNYA

1. Dalam hal terjadi kejadian kelalaian sebagaimana diatur dalam Perjanjian Kredit, maka tanpa harus mendapatkan
suatu keputusan, perintah atau wewenang dari Pengadilan terlebih dahulu yang PEMBERI GADAI dengan ini
secara tegas mengenyampingkannya dan dengan memberitahukan secara tertulis kepada PEMBERI GADAI,
PEMBERI GADAI setuju dan dengan ini memberikan kuasanya kepada BANK yang tidak dapat ditarik kembali
dan tidak akan berakhir oleh sebab apapun termasuk tapi tidak terbatas pada sebab-sebab yang tercantum dalam
pasal 1813, 1814 dan 1816 Kitab Undang-undang Hukum Perdata Indonesia untuk mencairkan Deposito tersebut
dan PEMBERI GADAI menyetujui BANK dapat memperhitungkan hasil pencairan Deposito serta mengambil
pelunasan atas hutang pokok, bunga, provisi dan/atau biaya lain yang timbul berdasarkan Perjanjian Kredit
termasuk tetapi tidak terbatas pada biaya perkara dimuka Pengadilan, honor Pengacara Hutang tersebut diatas.
2. Kuasa tersebut di atas dan kuasa lain yang diberikan di dalam Perjanjian ini bersifat tidak dapat ditarik kembali
dan merupakan satu kesatuan serta bagian yang tidak terpisahkan dari Perjanjian ini, tanpa kuasa mana Perjanjian
Kredit tidak akan dibuat dan karenanya kuasa-kuasa tersebut tidak akan berakhir karena sebab-sebab yang
termaktub dalam pasal 1813, pasal 1814 dan pasal 1816 Kitab Undang-undang Hukum Perdata Indonesia atau
sebab apapun.
3. Dalam melaksanakan setiap hak untuk melakukan pencairan Deposito berdasarkan Perjanjian ini, BANK tidak
perlu membuktikan jumlah yang terhutang dan wajib dibayar oleh DEBITUR berdasarkan Perjanjian Kredit, dan
untuk keperluan tersebut BANK berhak menentukan jumlah yang terhutang dan wajib dibayar oleh DEBITUR
berdasarkan pembukuan dan catatan BANK, demikian dengan tidak mengenyampingkan hak DEBITUR atau
PENJAMIN untuk kemudian membuktikan bahwa jumlah yang terhutang.
4. Setiap jumlah yang diperoleh BANK dari hasil eksekusi berdasarkan Perjanjian ini, akan dipergunakan untuk
membayar :
a. seluruh ongkos, biaya dan pengeluaran yang timbul akibat pelaksanaan Perjanjian ini; dan
b. seluruh jumlah yang jatuh tempo dan atau dibayar berdasarkan ketentuan sebagaimana diatur dalam Perjanjian
Kredit.
5. Apabila hasil pencairan Deposito tersebut kurang untuk membayar hutang DEBITUR berdasarkan Perjanjian
Kredit maka DEBITUR tetap berkewajiban membayar sisa hutang DEBITUR kepada BANK. Demikian
sebaliknya apabila dari hasil pencairan Deposito tersebut masih terdapat sisa, maka BANK akan mengembalikan
sisanya kepada PEMBERI GADAI, tanpa mewajibkan BANK untuk membayar bunga atas sisa pencairan
Deposito tersebut.

Divisi Hukum – Kantor Pusat hal.2/5


Lampiran 2

PASAL 3
PERNYATAAN DAN JAMINAN

1. PEMBERI GADAI menyatakan bahwa apa yang digadaikan tersebut diatas adalah miliknya, tidak digadaikan
kepada pihak lain, serta bebas dari sitaan dan mengenai hal ini BANK tidak akan mendapat tuntutan dari pihak
lain yang menyatakan mempunyai hak terlebih dahulu atau turut mempunyai hak terlebih dahulu atau turut
mempunyai hak atas apa yang dijaminkan tersebut diatas.
2. PEMBERI GADAI memiliki hak dan kewenangan penuh untuk mengalihkan dan menyerahkan Deposito kepada
BANK dan persetujuan (-persetujuan) yang diperlukan sesuai anggaran dasar PEMBERI GADAI maupun
peraturan yang berlaku telah diperoleh PEMBERI GADAI secara cukup dan lengkap.
3. PEMBERI GADAI akan atas biayanya sendiri dan setiap waktu atas permintaan tertulis dari BANK, tepat pada
waktunya dan sebagaimana seharusnya, menandatangani dan menyerahkan kepada BANK setiap instrumen dan
dokumen sebagaimana BANK secara beralasan menganggap perlu dalam mendapatkan manfaat penuh dan atas
hak dan kekuasaan yang diberikan dalam Perjanjian ini;
4. BANK berhak untuk menyimpan asli bilyet Deposito sebaik-baiknya pada tempat yang aman, satu dan lain hal
atas biaya DEBITUR atau PEMBERI GADAI.
5. Dalam hal PEMBERI GADAI karena suatu perkara di pengadilan atau karena suatu sitaan sebelum diputuskan
perkaranya oleh pengadilan atau karena suatu putusan pengadilan atau karena proses hukum lainnya memperoleh
hak kekebalan, PEMBERI GADAI dengan ini memberikan pernyataan yang tidak dapat dicabut kembali
melepaskan hak kekebalan tersebut yang berkenaan dengan kewajibannya berdasarkan Perjanjian Kredit dan atau
Perjanjian ini.
6. DEBITUR dan atau PEMBERI GADAI wajib membela, mengganti rugi dan membebaskan BANK dari dan
terhadap setiap tindakan, tuntutan, gugatan, perkara, kerugian, kewajiban, pungutan dan biaya dalam bentuk
apapun, sah atau tidak, yang BANK alami atau derita dengan cara apapun juga atas atau sehubungan dengan
Deposito atau Perjanjian ini, termasuk namun tidak terbatas pada biaya yang dikeluarkan oleh BANK sehubungan
dengan eksekusi Perjanjian ini.

PASAL 4
KETENTUAN LAIN-LAIN

1. Perjanjian ini bukan merupakan pembayaran atas jumlah yang terhutang dan wajib dibayar oleh DEBITUR kepada
BANK berdasarkan Perjanjian Kredit kecuali dan sampai BANK benar-benar menerima dana hasil pencairan
Deposito untuk membayar setiap jumlah yang terhutang dan wajib dibayar oleh DEBITUR.
2. Perjanjian ini oleh para pihak dimaksudkan sebagai jaminan terhadap jumlah yang terhutang dan wajib dibayar
oleh DEBITUR kepada BANK berdasarkan Perjanjian Kredit dan tidak boleh ditafsirkan sebagai membatasi atau
menghalangi dengan cara apapun juga eksekusi oleh BANK atas setiap hak yang dimiliki oleh BANK untuk
memperoleh pelunasan atas setiap jumlah yang terhutang dan wajib dibayar oleh DEBITUR.
3. Hak jaminan yang diberikan berdasarkan Perjanjian ini merupakan tambahan terhadap dan tidak bergantung
kepada hak atau benda jaminan lainnya yang mungkin dipegang atau diperoleh BANK sehubungan dengan
Hutang yang dijamin berdasarkan Perjanjian ini. BANK berhak untuk menerima hak atau benda jaminan
tambahan lainnya dari pihak ketiga dan/atau untuk melepaskan hak atau benda jaminan itu dengan atau tanpa
pemberitahuan terlebih dahulu kepada PEMBERI GADAI dan tanpa mempengaruhi kewajiban-kewajiban
PEMBERI GADAI berdasarkan Perjanjian ini.
4. Jaminan dalam Perjanjian ini sekali-kali tidak dan tidak dapat mengurangi atau mempengaruhi hak dan wewenang
BANK untuk menjalankan/melaksanakan atau mengajukan tuntutan atau gugatan berdasarkan agunan atau
perjanjian lain berupa apapun yang sekarang telah dan di kemudian hari akan dipegang oleh atau diberikan kepada
BANK untuk memberikan jaminan atau kepastian pembayaran hutang yang wajib dibayar oleh DEBITUR kepada
BANK berdasarkan Perjanjian Kredit.

PASAL 5
PEMBERITAHUAN

1. Semua surat menyurat atau pemberitahuan-pembertahuan yang harus dikirim oleh masing-masing pihak kepada
pihak lainnya dalam Perjanjian ini mengenai atau sehubungan dengan Perjanjian ini dilakukan secara langsung,
surat tercatat, faksimile, telex atau melalui perusahaan ekspedisi (kurir) ke alamat-alamat tersebut di bawah ini :
Divisi Hukum – Kantor Pusat

Divisi Hukum – Kantor Pusat hal.3/5


Lampiran 2

a. BANK
Nama : PT Bank Danamon Indonesia, Tbk
Alamat :
Telpon :
Fax :
Telex :
Contact Person :

b. PEMBERI GADAI
Nama :
Alamat :
Telpon :
Fax :
Telex :
Contact Person :

2. Surat menyurat atau pemberitahuan-pemberitahuan dianggap telah diterima oleh pihak yang dituju (i) pada tanggal
tanda terima ditandatangani apabila disampaikan secara langsung atau melalui jasa kurir (ii) pada tanggal setelah 5
(lima) hari kerja sejak diposkannya apabila dikirim dengan surat tercatat atau sejak diserahkan kepada perusahaan
ekspedisi (kurir) dan cukup bila ditandatangani oleh pihak-pihak yang berhak mewakili BANK atau PEMBERI
GADAI (iii) pada hari dikirimkannya apabila dikirim melalui telex yang dikonfirmasi dengan kode jawab; dan (iv)
pada hari dikirimkannya apabila dikirim melalui facsimile yang dikonfirmasi dengan tanda telah dikirim.
3. Dalam hal terjadi perubahan alamat dari alamat tersebut di atas atau alamat terakhir yang tercatat pada
masingmasing pihak, maka perubahan tersebut harus diberitahukan secara tertulis kepada pihak lain dalam
Perjanjian ini selambat-lambatnya 5 (lima) hari kerja sebelum terjadinya perubahan alamat dimaksud. Jika
perubahan alamat tersebut tidak diberitahukan, maka surat-menyurat atau pemberitahuan-pemberitahuan
berdasarkan Perjanjian ini dianggap telah diberikan sebagaimana mestinya dengan dikirimnya surat atau
pemberitahuan itu dengan secara langsung, surat tercatat, facsimile, telex atau sejak diserahkan kepada perusahaan
ekspedisi (kurir) yang ditujukan ke alamat tersebut di atas atau alamat terakhir yang diketahui atau tercatat pada
masing-masing pihak.

PASAL 6
KETENTUAN PENUTUP

1. Perjanjian ini dibuat berdasarkan dan hanya dapat ditafsirkan menurut hukum Republik Indonesia.
2. PEMBERI GADAI menyetujui bahwa Deposito yang digadaikan berdasarkan Perjanjian ini tunduk kepada
"Ketentuan-ketentuan Operasi Bank" termasuk setiap alat bukti yang diajukan/dipergunakan oleh BANK yang
berlaku untuk setiap perubahan, perpanjangan dan/atau setiap penambahan jumlah nominal deposito tersebut, yang
berasal dari jumlah bunga yang diterima maupun valuta tersebut diatas sehingga penggadaian yang dilakukan
sejak pertama kalinya akan tetap berlaku untuk seterusnya selama hutang belum dibayar lunas.
3. PEMBERI GADAI dengan ini menyatakan secara tegas melepaskan hak dan hak istimewa yang diberikan oleh
Undang-undang seperti tercantum pada pasal 1831, 1833, 1837 dan 1848 Kitab Undang-undang Hukum Perdata
Indonesia.
4. Bila suatu ketentuan dalam Perjanjian yang oleh karena suatu ketetapan pemerintah atau pengadilan dilarang atau
tidak dapat dilaksanakan atau menjadi tidak berlaku, selama adanya larangan tersebut tanpa mengakibatkan
batalnya ketentuan hukum lain dari Perjanjian, dan tanpa menghilangkan kemungkinan diberlakukannya kembali
ketentuan yang dilarang tersebut di kemudian hari, PEMBERI GADAI wajib membuat dan menandatangani
dokumen yang berisikan ketentuan yang memenuhi persyaratan BANK sebagai pengganti ketentuan yang dilarang
atau tidak dapat dilaksanakan tersebut, sebagaimana diminta oleh BANK.
5. Jika ada salah satu ketentuan dalam Perjanjan ini yang dinyatakan batal demi hukum, hal tersebut tidak
mempengaruhi keabsahan ketentuan lainnya dalam Perjanjian ini, dan ketentuan-ketentuan lainnya tersebut tetap
berlaku dan mengikat dan dapat dilaksanakan sebagaimana ditentukan dalam Perjanjian ini, PEMBERI GADAI
wajib membuat dan menandatangani dokumen yang berisikan ketentuan yang memenuhi persyaratan BANK
sebagai pengganti ketentuan yang dilarang atau tidak dapat dilaksanakan tersebut, sebagaimana diminta oleh
BANK.

Divisi Hukum – Kantor Pusat hal.4/5


Lampiran 2

6. Tidak digunakannya atau ditundanya penggunaan sesuatu hak, kuasa atau hak istimewa oleh BANK bukan berarti
bahwa BANK melepaskan hak atau kuasa atau hak istimewanya itu kecuali hak tersebut dilepas oleh BANK
secara tertulis. Dan digunakannya sebagian dari hak, kuasa atau hak istimewa tadi tidak menghalangi BANK
untuk meneruskan atau mengulangi digunakannya hak atau kuasa atau hak istimewa tersebut. Hak-hak dan upaya-
upaya yang diberikan kepada BANK dalam Perjanjian ini bersifat kumulatif dan tidak mengurangi hak-hak dan
upaya-upaya lain yang diberikan kepadanya menurut hukum.
7. Kegagalan atau kelalaian BANK untuk menuntut PEMBERI GADAI melaksanakan suatu ketentuan dalam
Perjanjian ini tidak akan melepaskan hak BANK untuk menuntut PEMBERI GADAI untuk melaksanakan
ketentuan tersebut dikemudian hari, kecuali hak tersebut dilepas oleh BANK secara tertulis.
8. Mengenai Perjanjian ini dan segala akibatnya para pihak memilih domisili hukum yang tetap dan tidak berubah di
Kantor Panitera Pengadilan Negeri ……..…………………….. di ……………….., demikian dengan tidak
mengurangi hak BANK untuk melakukan penuntutan atau gugatan terhadap DEBITUR dan atau PEMBERI
GADAI berdasarkan Perjanjian ini di pengadilan-pengadilan lain dalam wilayah Republik Indonesia.

Demikian Perjanjian ini dibuat di ……………………….., pada hari dan tanggal tersebut di atas dan mulai berlaku
sejak tanggal ………………………………...

BANK
PT BANK DANAMON INDONESIA, Tbk PEMBERI GADAI

Materai

________________________________ _________________________
Nama : Nama :
Jabatan : Jabatan :

Mengetahui dan Menyetujui,

________________________
Nama :
Jabatan :

*) Coret yang tidak perlu

Divisi Hukum – Kantor Pusat hal.5/5


Lampiran 3

SURAT KUASA PENCAIRAN DEPOSITO

Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : …………………………………

Alamat : …………………………………

KTP No. : …………………………………

Dengan ini menerangkan terlebih dahulu :

Bahwa sehubungan dengan pemberian fasilitas kredit oleh PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk,
berkedudukan di Jakarta (selanjutnya disebut “Bank”) kepada Pemberi Kuasa sebagaimana ternyata dalam
Perjanjian Kredit No………………………………. tanggal ………………………. (berikut dengan
segenap perubahan, penambahan, perpanjangan dan pembaharuan daripadanya, disebut “Perjanjian
Kredit”) yang ditanda tangani oleh dan antara Pemberi Kuasa dengan Bank, dengan ini Pemberi Kuasa
memberi kuasa dengan hak subtitusi kepada Bank (selanjutnya disebut juga “Penerima Kuasa”), untuk dan
atas nama Pemberi Kuasa :

--------------------------------------------------------- K H U S U S-------------------------------------------------------

1. mencairkan deposito berjangka milik Pemberi Kuasa yang terdapat pada Bank baik yang ada pada
saat ini maupun yang akan diserahkan dikemudian hari, termasuk tetapi tidak terbatas pada bilyet
deposito dengan nomor ……………………….. nominal Rp.………………………
(………………………………………………..) (selanjutnya disebut “Deposito”) dan selanjutnya
memperhitungkan serta mengambil pelunasan atas hutang pokok, bunga, provisi dan/atau biaya lain
yang timbul dan dipandang perlu oleh Bank termasuk tetapi tidak terbatas pada biaya perkara di
muka Pengadilan, honor Pengacara yang timbul akibat hutang berdasarkan Perjanjian Kredit, yaitu
dalam hal Pemberi Kuasa lalai (wanprestasi) berdasarkan Perjanjian Kredit, dengan ketentuan bahwa
Pemberi Kuasa tetap berkewajiban untuk memenuhi kewajibannya sekalipun pencairan Deposito
tersebut telah dilakukan.
2. menandatangani surat-surat/tanda terima, serta dokumen-dokumen lainnya sehubungan dengan
pencairan Deposito tersebut menurut syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan/prosedur yang diatur dan
berlaku pada Bank tidak ada yang dikecualikan, sehingga walaupun untuk sesuatu tindakan itu
diperlukan surat kuasa khusus, kuasa tersebut supaya dianggap telah diberikan dengan kuasa ini.

Segala kuasa yang diberikan sehubungan dengan surat kuasa ini bersifat tidak dapat ditarik kembali dan
merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan Perjanjian Kredit, dan tidak akan berakhir karena
sebab-sebab yang termaktub dalam Pasal 1813 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Indonesia.

Divisi Hukum – Kantor Pusat 1/2


Lampiran 3

Pemberi Kuasa dengan ini menyatakan menjamin dan membebaskan Bank dari segala kewajiban, tuntutan,
gugatan dan klaim apapun juga serta dari pihak manapun juga, termasuk dari Pemberi Kuasa sendiri serta
dari semua kerugian dan resiko yang timbul dikemudian hari sehubungan dengan Surat Kuasa ini.

Demikian Surat Kuasa ini dibuat dengan sebenarnya untuk dapat dipergunakan dengan semestinya.

……………………….., ……………

PENERIMA KUASA, PEMBERI KUASA,

……………………………………. ………………………………………

Divisi Hukum – Kantor Pusat 2/2


Lampiran 4

SURAT KUASA

Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : …………………………………

Alamat : …………………………………

KTP No. : …………………………………

Pemegang Rekening A/C : …………………………………, Bank Danamon


dan/atau Tabungan No. : …………………………………, Bank Danamon
Selanjutnya disebut PEMBERI KUASA,

Dengan ini memberi kuasa dengan hak Subtitusi kepada :

PT. BANK DANAMON INDONESIA, Tbk berkedudukan di Jakarta, melalui Cabangnya di


………………………………………………………………………………………………….., selanjutnya
disebut PENERIMA KUASA.

------------------------------------------------------- K H U S U S ---------------------------------------------------------

Untuk mendebet Rekening/Tabungan tersebut di atas dan/atau rekening lain atas nama PEMBERI KUASA
pada PENERIMA KUASA guna membayar biaya administrasi, provisi, hutang pokok, bunga, denda, notaris,
asuransi dan biaya-biaya lain yang mungkin timbul sehubungan dengan pemberian kredit oleh PENERIMA
KUASA kepada PEMBERI KUASA.

Selama hutang dari PEMBERI KUASA belum dibayar lunas kepada PENERIMA KUASA, kuasa ini tidak
akan berakhir oleh karena sebab apapun juga termasuk tetapi tidak terbatas oleh sebab-sebab yang
tercantum dalam Pasal 1813 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

Demikian Surat Kuasa ini dibuat untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.

……………………., ………….

PENERIMA KUASA, PEMBERI KUASA,

………………………………… ……………………………........

Divisi Hukum – Kantor Pusat 1/1