Vous êtes sur la page 1sur 19

KASUS UJIAN

Oleh:
Karina Dian Permatasari

1102010140

Penguji:
dr. Ni Wayan Ani Purnamawati, Sp.KJ

KEPANITERAAN BAGIAN ILMU KEDOKTERAN JIWA


RUMAH SAKIT JIWA ISLAM KLENDER
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
JAKARTA
2015
STATUS PSIKIATRI

I. Identitas Pasien
Nama

: Nn. DP.

Jenis Kelamin

: Perempuan.

Tempat Tanggal Lahir

: Jakarta, 30 Januari 1992.

Usia

: 23 Tahun.

Agama

: Islam.

Alamat

: Perumpung.

Suku Bangsa

: Betawi.

Pendidikan terakhir

: D3 Kebidanan.

Status pernikahan

: Belum Menikah.

Pekerjaan

: Karyawati Koprasi.

Tanggal masuk RSIJ

: 25 Juli 2015.

Tanggal pemeriksaan

: 25 Juli 2015.

Tempat wawancara

: Ruang perawatan RSIJ Klender.

II. Riwayat Psikiatrik


A. Keluhan Utama
a. Autoanamnesis :
Pasien mengamuk karena kesal dengan keluarganya.
Diambil pada tanggal : 25 Juli 2015 (pukul 16.00 WIB).
b. Alloanamnesis :
Pasien mengamuk karena dinasehati.
Diambil pada tanggal : 26 Juli 2015 (pukul 15.30 WIB).
Diperoleh data dari : Nenek pasien.
Nama (inisial)
: Ny. F.
Hubungan dengan pasien: Nenek Kandung.
B. Keluhan Tambahan
Pasien tidak mau minum obat, berbelanja berlebihan dan tidak bisa tidur.
C. Riwayat Gangguan Sekarang
Sekitar 1 bulan sebelum masuk rumah sakit, pasien memilih cuti dari
kantornya karena merasa lelah apabila harus bekerja bersamaan dengan
puasa. Saat cuti pasien merasa bosan karena tidak melakukan apa-apa dan
hanya tinggal di rumah. Hal tersebut membuat pasien stres. Pasien menjadi

pendiam, sering murung dan sering merasa sedih. Sekitar 2 minggu setelah
cuti akhirnya pasien memilih untuk masuk kerja kembali agar ada
kegiatan. Pasien juga kembali bekerja karena ingin mengobrol dengan
teman-temannya tentang masalahnya. Pasien lebih suka berbicara dengan
teman-temannya karena merasa temannya lebih mengerti dia dibandingkan
dengan keluarganya.
Kurang lebih 2 minggu sebelum masuk rumah sakit, pasien diberi uang
untuk lebaran dari om dan tantenya. Menurut pasien uang tersebut sangat
banyak sehingga muncul keinginan pasien untuk berbelanja. Hampir setiap
hari setelah pulang bekerja pasien ke mall untuk sekedar jalan-jalan dan
berbelanja. Pasien suka jalan-jalan dan berbelanja murni karena keinginan
pasien, tidak ada yang menyuruh dan pasien merasa tenang apabila
melakukan hal tersebut. Kadang juga pasien hanya nongkrong di restoran,
sehingga sering pulang malam ke rumah. Menurut pasien saat itu dia
sedang mengalami stres dengan pekerjaannya yang banyak dan masalah
keluarganya yang selalu ingin tahu dengan apa yang dia kerjakan tetapi
tidak mengerti dengan keadaan pasien.
Sekitar 5 hari sebelum masuk rumah sakit, menurut neneknya, pasien
semakin sering jalan-jalan dan berbelanja barang-barang yang tidak perlu.
Saat dinasehati oleh keluarganya jangan sering berbelanja karena itu
pemborosan, pasien mengatakan bahwa uang itu miliknya dan dia
mempunyai hak untuk membelanjakannya. Pasien juga sering pulang larut
malam. Saat ditanyapun pasien menjawabnya dengan marah-marah.
Menurut pasien, dia sering marah-marah dikarenakan keluarganya terlalu
cerewet dan terlalu ingin tahu tentang apa yang pasien lakukan. Hal
tersebut membuat pasien kesal. Pasien sering jalan-jalan karena tidak
nyaman di rumah. Menurut pasien di rumahnya banyak setan seperti
genderowo, kuntilanak dan pocong yang sering lewat di sekelilingnya.
Pasien mengatakan tidak melihat wujud setan tersebut tapi hanya
merasakan setan tersebut lewat. Pasien mengatakan dia memang bisa
melihat setan, tapi untuk saat ini mata batin pasien sedang ditutup sehingga

pasien hanya bisa merasakan setan tersebut lewat di sekelilingnya. Kadang


pasien juga merasa bahwa kakeknya yang sudah meninggal lewat di
sekelilingnya. Pasien menyangkal mendengar suara-suara. Pasien juga
sering membagikan barang-barang yang dibeli kepada teman-temannya.
Karena pasien ingin berbuat baik. Menurut neneknya pasien tidak teratur
minum obat. Saat disuruh minum obat, pasien menjawab sudah diminum
tetapi dengan nada marah-marah. Pasien juga tidak bisa tidur dan selalu
tampak gelisah di rumah.
Sekitar 1 hari sebelum masuk rumah sakit, pasien marah-marah,
mengamuk

dan

membanting

hp-nya.

Pasien

mengamuk

setelah

keluarganya memarahinya karena dia sering pulang malam, tidak bisa


diam dan berbelanja barang yang tidak perlu. Keluarga juga khawatir
dengan keadaan pasien karena dianggap bertambah parah dan keluarga
berpikir pasien harus dirawat kembali. Akan tetapi, pasien tidak mau
dirawat karena dia harus bekerja dan pasien merasa dirinya baik-baik saja.
Sekitar 2 jam sebelum masuk rumah sakit, keluarga pasien sepakat
untuk membawa pasien ke RSJI Klender karena menurut mereka, perilaku
pasien semakin parah setiap harinya. Pasien datang ke RSJI Klender
diantar oleh om dan tantenya.
D. Riwayat Gangguan Sebelumnya
a. Riwayat Psikiatri Sebelumnya
Menurut pasien, sejak duduk di bangku kelas XI SMA tahun 2009,
pasien tiba-tiba merasa sering lemas, lebih suka menyendiri dikamar dan
malas pergi ke sekolah. Selama SMA pasien mengaku kurang lebih pernah
1 bulan tidak masuk sekolah karena malas. Selain karena malas sekolah,
pasien juga merasa stres dengan Ujian Akhir Nasional (UAN). Pasien
kebetulan mengambil jurusan IPA saat SMA. Pasien merasa tidak kuat
mengambil jurusan IPA. Lalu oleh kakaknya pasien disarankan untuk
memeriksakan diri ke psikiater di rumah sakit Persahabatan tempat

kakaknya berobat. Sejak itu pasien pun rutin kontrol tiap bulan dan diberi
obat depakote 1 x 1 hingga tahun 2014.
Pada April tahun 2014 pasien kembali menunjukkan gejala dimulai
dari pasien suka marah tanpa sebab dan mengamuk dirumah. Pasien juga
mengatakan mendengar suara-suara yang menyuruhnya untuk bunuh diri.
Akhirnya, keluarga pasien memutuskan untuk membawa pasien ke Rumah
Sakit Jiwa Islam Klender dan dirawat di sana selama satu minggu, lalu
pasien dibolehkan pulang.
Pada November 2014 pasien kembali menunjukkan gejala seperti
tidak betah dirumah dan memilih untuk jalan-jalan tanpa tujuan yang jelas
serta menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak penting,
sehingga keluarga pasien kembali membawa pasien ke rumah sakit yang
sama untuk dirawat kurang lebih selama 2 minggu, lalu pasien dibolehkan
pulang.
Pada bulan Maret 2015, pasien kembali dirawat. Pasien sering marahmarah tanpa sebab, memilih untuk jalan-jalan tanpa tujuan dan
menghambur-hamburkan uang. Pasien juga sering malas minum obat
karena bosan dan merasa sedikit sekali ada perubahan. Pihak keluarga pun
tidak pernah memaksa pasien untuk minum obat.
Pada awal Mei 2015, pasien kembali dirawat di RSJI Klender. Pasien
dirawat karena menjadi murung, nafsu makan menurun, suka menyendiri
di kamar dan menangis tanpa sebab. Pasien hanya 1 minggu dirawat.
Setelah pulang rawat, keadaan pasien baik. Menurut keluarga pasien
menjadi ramah kembali, dapat bekerja dengan baik dan suka berhemat.
b. Riwayat Gangguan Medik
Pada usia 7 tahun pasien pernah dirawat di RS dengan demam tifoid.
Selama dirawat tidak terjadi masalah yang serius. Pasien sembuh total
setelah dipulangkan dari perawatan. Saat ini pasien sedang menjalani
pengobatan untuk hipertensi. Obat anti hipertensi yang diminum adalah
Nifedipin 1 x 10 mg. Pasien juga mengatakan bahwa ia memiliki kolestrol
dan asam urat yang tinggi.
c. Riwayat Penggunaan NAPZA
Pasien mengaku tidak merokok dan tidak pernah mengkonsumsi
alkohol maupun obat obatan terlarang.
4

SKEMA PERJALANAN PENYAKIT

Pendiam,
menarik
diri, murung

Marah-marah,
mendengar
suara-suara
Banyak jalan-jalan , berbelanja berlebihan,
Berobat di
tidak minum obat
RS
Persahabatan

2009

Banyak jalan-jalan ,
berbelanja berlebihan,
tidak minum obat
Murung,
menyendiri,

E. Riwayat Premorbid
a. Masa prenatal dan perinatal
Pasien lahir cukup bulan dengan riwayat persalinan normal,
2012009 spontan.
Mar-15
Apr-14
Nov-14
Pasien ditolong
oleh paraji. Pasien
anak ke 2 dari 3Mei-15
bersaudara,
beda usia pasien dengan kakak pasien 7 tahun dan beda usia pasien
dengan adik pasien 6 tahun. Pasien lahir dari pernikahan yang sah dan
merupakan anak yang diharapkan.
b. Masa kanak - kanak ( 0 3 tahun)
Pasien diasuh oleh kakek dan neneknya karena kedua orang tua
pasien tuna rungu. Pasien tinggal di rumah nenek dan kakeknya
bersama dengan om dan tantenya. Saat usia ini pasien seperti anak
seusianya. Pasien tidak pernah kejang, sakit sampai dirawat, serta
makan teratur. Pasien diberikan ASI sampai usia 1 tahun. Usia 1,5
tahun pasien sudah dapat bicara lancar dan tidak cadel. Pasien suka
bermain. Interaksi dengan orang sekitarnya baik.
c. Masa kanak-kanak pertengahan ( 3 11 tahun)
Pada masa kanak-kanak pertengahan, dilalui pasien dengan baik,
pasien tumbuh seperti anak-anak seusianya. Sehari-hari pasien selama
di taman kanak-kanak pergaulannya baik dan memiliki banyak teman.
Pasien mengatakan selama masa kanak-kanak pasien tidak mengalami
kesulitan dalam bermain dan bergaul. Pasien mulai masuk sekolah
dasar usia 7 tahun. Dalam pergaulan sehari-hari disekolah pasien

Jul-15

memiliki banyak teman, tidak pernah membuat masalah. Pasien


mampu bekerja sama dengan teman-temannya. Tidak ada gangguan
konsentrasi saat belajar.
d. Masa remaja
I. Hubungan Sosial
Hubungan pasien dengan lingkungan sekitar baik.. Pasien juga
mengikuti beberapa komunitas sosial seperti Bipolar Care
Indonesia (BCI), Komunitas Peduli Pendidikan Anak Jalanan
(KOPPAJA) dan Charity Children Education (CCE) untuk mengisi
waktu luang. Menurut penilaian teman-temannya pasien adalah
sosok yang mudah bergaul. Pasien mempunyai banyak teman dan
sering berpergian dengan teman-temannya. Pasien juga cukup royal
dengan teman-temannya.
II. Riwayat pendidikan
Pasien bersekolah mulai dari SD hingga kuliah di jakarta.
Pasien menyelesaikan SD selama 6 tahun dengan baik. Begitu pula
di SMP dan SMA, pasien tidak pernah tinggal kelas dan
menyelesaikan sekolahnya dengan baik. Pendidikan terakhir pasien
D3 Kebidanan di AKBID Mitra Persahabatan. Pasien mengatakan
ia memiliki hubungan yang baik dengan guru/dosen dan temantemannya, tidak pernah berkelahi. Pasien tidak memiliki kesulitan
dalam mengerti pelajaran. Pasien juga pernah mengikuti khursus
bahasa Inggris saat SMA.
III. Perkembangan Motorik dan Kognitif
Pasien tidak memiliki gangguan belajar, prestasi belajar dinilai
baik. Pasien dapat beasiswa berprestasi saat kuliah semester 1 dan
2, IPK pasien 3,32. Selama ini pasien mampu melakukan aktivitas
dan kegiatan sehari-hari dengan baik seperti makan, minum, toilet
dan kesehatan diri.
IV. Perkembangan Emosi dan Fisik

Pasien kadang mudah tersinggung dan emosi dengan kata-kata


orang disekitarnya, namun apabila pasien marah tidak sampai
berlebihan dan masih bisa mengontrolnya dengan baik. Pasein
mulai sulit mengontrol emosinya saat SMA sehingga pasien
berobat ke poli jiwa RS Persahabatan. Pasien sering kambuh
biasanya dibarengi dengan masa haidnya.
e. Masa dewasa
I.
Riwayat pekerjaan
Tahun 2014 sampai sekarang pasien kerja di koperasi sebagai
financial advisor sebagai karyawan serta membantu paman nya di
asuransi Warna Artalife.
II.

Riwayat perkawinan
Pasien belum menikah

III.

Riwayat beragama
Pasien adalah seorang yang beragama Islam. Pasien terkadang
rajin melaksanakan solat 5 waktu dan mengaji.

IV.

Riwayat pelanggaran hukum


Pasien tidak pernah terlibat kasus hukum, pasien juga tidak pernah
ditahan atau dipenjara.

F. Riwayat Keluarga (Family Tree)

Pasien
7

Keterangan :
Laki-laki

Perempuan

Laki-laki Meninggal

Perempuan Meninggal

Sakit
Pasien merupakan anak ke-2 dari 3 bersaudara. Pasien tinggal
bersama kedua orang tuanya, nenek, tante, seorang sepupu yang berusia 2
tahun dan adiknya yang duduk di bangku SMK. Hubungan pasien dengan
orang tuanya baik, namun kurang begitu dekat karena orang tua nya tuna
rungu. Begitu pun hubungannya dengan anggota keluarga yang lainnya
baik. Pasien sangat dekat dengan kakak perempuannya, walaupun kakak
perempuannya sudah menikah dan tinggal bersama suaminya mereka
masih suka jalan bersama. Menurut pasien karakter keluarganya keras.
Namun, keluarganya tidak sampai memukul apabila sedang memarahinya.

III. Status Mental


A. Deskripsi Umum
1. Penampilan
Pasien seorang perempuan, 23 tahun, dengan berat badan 80 kg, dan
tinggi badan 160 cm, penampilan lebih tua dari usianya, badan berisi
dan berkulit sawo matang. Memakai pakaian kaos, jaket, celana jins

dan memakai alas kaki dan memakai jilbab. Pasien terlihat memakai
baju yang berlapis-lapis. Pasien memakai cat kuku berwarna hijau.
Penampilan pasien rapi dan bersih.
2.

Perilaku dan Aktivitas Psikomotor


Saat wawancara pasien sedang duduk di bangku, lalu mengajak
pemeriksa untuk ke kamarnya karena pasien merasa lebih nyaman
berbicara di kamarnya. Pasien langsung menjawab pertanyaan yang
diajukan, akan tetapi terkadang pasien memotong pembicaraan dan
menceritakan tentang diriya dan menunjukkan barang-barang yang ia
punya. Pasien juga sering mengatakan dia merupakan orang yang
pintar, dia memiliki IQ 123 dan dia orang yang serba bisa. Pasien
menunjukkan bahwa ia memiliki banyak kartu atm, menunjukkan buku
tabungannya dan membagikan kartu nama milik ayahnya. Pasien suka
mengajak

pemeriksa

untuk

berpindah-pindah

tempat

saat

diwawancara. Kontak mata dengan pemeriksa baik tidak tampak


tegang dan tidak ada perlambatan psikomotor dan gerakan tubuh.
3. Pembicaraan
Cara berbicara
Volume berbicara
Irama
Kelancaran berbicara
Kecepatan berbicara

: Spontan
: Tinggi
: Teratur
: Lancar
: Sedang

4. Sikap Terhadap Pemeriksa


Pasien bersikap kooperatif terhadap pemeriksa. Pasien bersikap ramah
pada saat wawancara. Pasien menjawab sesuai pertanyaan. Kadang
pasien juga memulai percakapan terlebih dahulu. Pasien juga
menawarkan makanan yang dia punya saat diwawancara.
B. Aspek dan Ekspresi Afektif
1. Mood
2. Afek
3. Kesesuaian

: Manik
: Luas
: Serasi

C. Gangguan Persepsi (persepsi panca indera)


1. Halusinasi

o Auditorik
o Visual

: Tidak ada
: Ada, berupa :
Kakek pasien yang sudah meninggal,
genderuwo, kuntilanak dan pocong yang
sering lewat di sekeliling pasien saat di

o Taktil
o Olfaktorik
o Gustatorik
2. Ilusi
3. Depersonalisasi
4. Derealisasi

rumah.
: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada.
: Tidak ada.
: Tidak ada.
: Tidak ada.

D. Gangguan Pikir
1. Proses pikir
a. Produktivitas : Cukup ide
b. Kontinuitas
Blocking
Asosiasi Longgar
Inkoherensi
Flight of idea

: Tidak Ada
: Tidak Ada
: Tidak Ada
: Ada (saat ditanya mejawab dengan

baik tetapi tiba-tiba berbicara hal di luar yang ditanya tetapi


pembicaraan masih dapat dimengerti)
Word Salad
: Tidak Ada
Neologisme
: Tidak Ada
Sirkumstansialitas
: Tidak Ada
Tangensialitas
: Tidak Ada
2. Isi pikir
Preokupasi
: Tidak ada
Waham
Waham Bizzare
: Tidak Ada
Waham Sistematik
: Tidak Ada
Waham Kebesaran: Ada (Pasien membanggakan dirinya.
Pasien mengatakan dirinya lebih pintar dari Albert Einstein
karena IQ nya 123. Pasien juga mengatakan dia bisa melakukan
segala hal).
Waham Kejar
Waham Rujukan
Thought Echo
Thought Broadcasting
Thought Withdrawal
Thought Insertion

: Tidak Ada
: Tidak Ada
: Tidak Ada
: Tidak Ada
: Tidak Ada
: Tidak Ada
10

Thought Control
Waham cemburu
Gagasan Bunuh Diri
Obsesi
Kompulsif
Fobia

: Tidak Ada
: Tidak Ada
: Tidak Ada
: Tidak ada
: Tidak Ada
: Tidak Ada

E. Fungsi Kognitif dan Kesadaran


1. Kesadaran : Compos mentis (E4M6V5)
2. Orientasi : Baik
a. Waktu baik (pasien benar menyebutkan hari, bulan, tahun saat
di wawancara).
b. Tempat baik (pasien dapat menyebutkan bahwa saat ini sedang
berada di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender Jakarta,).
c. Orang baik (pasien tahu bahwa ia sedang diwawancarai oleh
dokter muda).
3. Daya ingat : Baik
a. Daya ingat.
Daya ingat panjang

: baik (pasien dapat menyebutkan

usia pasien serta dapat mengingat pengalaman masa lalu saat

masa sekolah nya)


Daya ingat sedang

tanggal masuk ke RSJI-Klender)


Daya ingat pendek
: baik (pasien mampu menyebutkan

: baik (pasien mampu mengingat

tiga buah benda setelah dokter muda mengalihkan

konsentrasinya)
Daya ingat segera : baik (pasien masih mampu mengulangi

tiga benda dari dokter muda)


4. Konsentrasi dan perhatian
Baik (Pasien dapat menghitung 100-7, 93-7, 86-7, 79-7, 72-7)
5. Kemampuan visuospasial
Baik (Pasien dapat menggambar bangunan segi lima

yang

bersinggungan yang dicontohkan pemeriksa)


6. Kemampuan membaca-menulis
Baik (pasien dapat membaca-menulis dunia dan bisa mengeja dari
belakang)
11

7. Pikiran abstrak
Baik (pasien tahu arti buah tangan dan panjang tangan)
8. Kemampuan informasi dan intelegensi
Baik (pasien mengetahui nama presiden RI saat ini)
F. Daya Nilai
1. Daya nilai sosial: Baik.
Baik, pasien dapat bersosialisasi dengan pasien lainnya dan tahu nama
pasien lainnya.
2. Uji daya nilai : Baik.
Baik, pasien tahu hal yang benar dan salah. (Misalnya, jika pasien
menemukan dompet yang akan dilakukan oleh pasien yaitu
mengembalikan kepada pemiliknya)
G. Reality Test Ability (RTA)
Terganggu
H. Tilikan : Derajat
Tilikan 2 (pasien tahu penyakitnya tapi menolak untuk dirawat sehingga
diantar om dan tantenya)
I. Taraf dapat Dipercaya.
Tidak dapat dipercaya.
IV. Pemeriksaan Fisik
1.

Status generalis
Keadaan umum
: Tampak sehat
Kesadaran
: Compos mentis (E4M6V5)
Tanda vital
- Tekanan darah
: 140/90 mmhg
- Suhu
: afebris
- Nadi
: 80 x/menit
- Pernafasan
: 20 x/menit
Kepala
: Normocephal
Thorax
:
-

Paru : Vesikuler +/+ , Rh-/-, Wh -/-

Jantung : S1-S2 reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen
Ekstermitas
2. Status Neurologis

: Tidak ada kelainan


: Tidak ada kelainan

12

V.

Tanda rangsang meningeal


Mata :
gerakan baik
nistagmus(-)
Persepsi
Bentuk Pupil
Rangsang Cahaya
Motorik
Tonus
Turgor
Kekuatan
Koordinator
Refleksi

: Tidak ada
:

Kelumpuhan

tidak

ada,

: Baik
: Bentuk bulat (+/+), isokor
: Reaksi cahaya (+/+)
: Baik
: Baik
: Baik
: Baik
: Baik

IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


Keluhan utama:
Autoanamnesis :
Pasien mengamuk karena kesal dengan keluarganya.
Alloanamnesis :
Pasien mengamuk karena dinasehati.
Riwayat Penyakit Sekarang:
Halusinasi visual (+), waham kebesaran (+), emosi berlebih, tidak
bisa diam, suka jalan-jalan dan menghamburkan uang. Pasien
tampak gelisah dan sulit tidur.
Riwayat penyakit dahulu:
Tahun 2010-2014: berobat ke RS Persahabatan karena Gangguan
Bipolar I. Dan sudah 8 x bolak-balik masuk perawatan di RS Jiwa
Islam Klender.
Status Mental:
1. Mood

: Hipertim

2. Afek

: Luas

3. Gangguan proses pikir

: Flight of idea

4. Gangguan isi pikir

: Waham Kebesaran

5. Gangguan persepsi

: Halusinasi visual (+)

6. RTA (Reality Testing Ability) : Terganggu


7. Tilikan

: Derajat 2

8. Faktor Stresor

: Ada, yaitu:
Pekerjaan dan keluarga.

13

VI.

DAFTAR MASALAH
1. Organobiologik : Hipertensi Derajat I dan Psoriasis
2. Psikologik :
Gangguan proses pikir berupa flight of idea.
Gangguan isi pikir berupa waham kebesaran.
Gangguan persepsi berupa halusinasi visual.
Ciri kepribadian cemas (menghindar).
Pasien menampakkan perilaku bersemangat dan banyak bicara
3. Lingkungan dan Faktor Sosial
Pasien merasa keluarga tidak mengerti dengan keadaan pasien.

VII.

FORMULASI DIAGNOSIS
Ditemukannya gejala klinis berupa:
a. Pasien mengamuk
b. Pasien suka berjalan-jalan dan berbelanja berlebihan
c. Sebelum episode ini terdapat episode depresif dan ada remisi
sempurna setelah perawatan terakhir.
d. Terdapat halusinasi visual, yaitu merasa kakeknya yang sudah
meninggal, genderuwo, kuntilanak dan pocong sering lewat di
sekeliingnya saat di rumah.
e. Terdapat waham kebesaran, yaitu pasien membanggakan dirinya.
Pasien mengatakan dirinya lebih pintar dari Albert Einstein karena
IQ nya 123. Pasien juga mengatakan dia bisa melakukan segala hal
f. Terdapat flight of idea
g. Pasien sulit tidur dan gelisah
h. Pasien sering memberikan makanan-makanan yang ia punya
kepada pemeriksa.
i. Pasien sering membanggakan dirinya, menunjukkan uang di buku
tabungannya, dan membagikan kartu nama.
j. Gejala terjadi sekitar 2 minggu
AKSIS I

: Gangguan Afektif Bipolar Kini Manik dengan Gejala

Psikotik (F.31.2)
Berdasarkan ikhtisar penemuan bermakna tersebut maka menurut
PPDGJ 3, Gangguan Mental dan Perilaku ini termasuk Gangguan Afektif
Bipolar Kini Manik dengan Gejala Psikotik (F.31.2) dengan diagnosis
sebagai berikut:

14

Kriteria Diagnosis Gangguan Bipolar (F.31)


Tanda episode berulang sekurangnya dua episode, episode yang
satu menunjukkan peningkatan mood, energi, dan aktivitas yang jelas
terganggu (mania dan hipomania), dan pada waktu lain berupa penurunan
mood,energi dan aktivitas depresi dengan masa remisi sempurna
diantaranya.
Gangguan

Afektif

Bipolar Kini Manik dengan Gejala Psikotik

(F.31.2)
Pedoman diagnosis
A. Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk mania
dengan gejala psikotik (F30.2); dan
B. Harus

ada

sekurang-kurangnya

satu

episode

afektif

lain

(hipomanik, manik, depresif, atau campuran) di masa lampau.


F.30.2 Mania dengan Gejala Psikotik
Pedoman Diagnostik
A. Gambaran klinik merupakan bentuk mania yang lebih berat dari
F30.1 (mania tanpa gejala pskotik).
B. Harga diri membumbung dan gagasan kebesaran dapat berkembang
menjadi waham kebesaran (delusion of grandeur), iritabilitas dan
kecurigaan menjadi waham kejar (delusion of persecutor). Waham
dan halusnasi sesuai dengar afek tersebut (mood-congruent).
F30.1 Mania tanpa Gejala Psikotik
Pedoman Diagnostik
A. Episode harus sekurang-kurangnya 1 minggu, dan cukup berat
sampai mengacaukan seluruh atau hampir seluruh pekerjaan dan
aktivitas sosial yang biasa dilakukan.
B. Perubahan afek harus disertai dengan energi yang bertambah
sehingga terjadi aktivitas berlebihan, percepatan dan kebanyakan

15

berbicara, kebutuhan tidur yang berkurang, ide-ide perihal


kebesaran dan terlalu optimistik.

AKSIS II : Tidak ada diagnosis


AKSIS III : Hipertensi derajat I, Psoriaris Vulgaris
AKSIS IV : Banyak pekerjaan dan merasa keluarga tidak megerti
keadaannya
AKSIS V

GAF saat masuk RS 55 (gejala sedang (moderate), disabilitas sedang)


GAF saat diperiksa 60 (gejala sedang (moderate), disabilitas sedang)
Fungsi Merawat Diri: Pasien mampu mengurus dan menjaga kebersihan
diri.
Fungsi Pekerjaan
: Pasien terkadang malas bekerja karena
pekerjaannya banyak.
Fungsi Relasi dan Lingkungan : Pasien malas bersosialisasi dengan
keluarganya.
VIII. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL
Aksis I
DD
Aksis II

: F.31.2 Gangguan Afektif Bipolar Kini Manik dengan Gejala


Psikotik.
: Skizoafektif Tipe Manik.
: Tidak ada diagnosis

Aksis III
: Hipertensi derajat I dan Psoriasis Vulgaris
Aksis IV
: Masalah pekerjaan dan Keluarga
Aksis V
:
GAF saat masuk RS 55 (gejala sedang (moderate), disabilitas sedang.)
GAF saat diperiksa 60 (gejala sedang (moderate), disabilitas sedang.)
GAF terbaik satu tahun terakhir 75 (gejala sementara dan dapat diatasi,
disabilitas ringan dalam sosial, pekerjaan, sekolah, dll.)

IX.

DIAGNOSIS KERJA
Gangguan Afektif Bipolar Kini Manik dengan Gejala Psikotik

X.

XI.

DIAGNOSIS BANDING
Skizoafektif Tipe Manik
RENCANA TERAPI
1. Rencana Psikoterapi :
a. Psikoterapi Suportif

16

Menanamkan kepercayaan pada pasien bahwa gejalanya akan hilang


dengan menganjurkan pasien untuk selalu minum obat secara teratur
agar gejala penyakitnya berkurang dan menjelaskan kepada pasien
tentang akibat yang terjadi bila pasien tidak teratur minum obat.
b.
Psikoterapi Ventilasi
Memberi kesempatan seluas-luasnya kepada pasien untuk
menceritakan isi hatinya agar pasien merasa lega serta keluhannya
berkurang.
c.
Terapi berorientasi keluarga
Menjelaskan kepada keluarga pasien mengenai kondisi pasien agar
keluarga dapat menerima dan tidak dijauhi, dan agar dapat mendukung
kesembuhan pasien.
d.
Sosial budaya
Terapi kerja : memanfaatkan waktu luang dengan melakukan hobi
atau pekerjaan yang bermanfaat.
Terapi rekreasi : olahraga ringan, berlibur.
e.

Religius

Memotivasi pasien agar rajin dan selalu beribadah, membaca quran


dan berdzikir mengingat Allah SWT.
2. Rencana Farmakoterapi :
a. Mood Stabilizer
b. Antipsikotik
XII.

: Natrium Valproat 3 x 250 mg


: Risperidon 2 x 2 mg

PROGNOSIS
Quo ad vitam
: Dubia ad bonam
Quo ad functionam : Dubia ad malam
Quo ad sanationam : Dubia ad malam
Faktor yang memperberat :
o Faktor pencetus belum jelas
o Onset kronik
o Belum menikah
o Ada riwayat keluarga
o Ada kekambuhan

Faktor yang memperingan :


o

Unur 15-25 tahun


17

Keluarga sudah mendukung pengobatan

Riwayat premorbid baik

Pencetus jelas

18