Vous êtes sur la page 1sur 38

BAB 5

KONSEP
DASAR

NAMA KELOMPOK:
Arief Dio Ramadhan

(1313010050)

Indah Kurniawati M (1313010081)


Vito Hamado

(1313010223)

S. Nadya Inniar Rosa

(1313010290)

KONSEP DASAR
Konsep dasar pada umumnya, merupakan abstraksi atau
konseptualisasi karakterisitik lingkungan tempat atau wilayah
diterapkannya pelaporan keuangan.

IKATAN AKUNTAN INDONESIA


(IAI)
Ada dua konsep dasar yang disebut secara spesifik dalam
rerangka konseptual IASC, antara lain :
1. Basis Akrual (Accrual Basis)
2. Usaha Berlanjut (Going Concern)

PAUL GRADY

Grady mendeskripsi konsep dasar sebagai konsep yang mendasari kualitas


kebermanfaatan dan keterandalan informasi akuntansi atau sebagai keterbatasan
yang melekat pada statemen keuangan. Kesepuluh konsep tersebut antara lain :

1. Struktur masyarakat dan pemerintah yang mengakui hak milik pribadi


2. Entitas bisnis spesifik
3. Usaha berlanjut
4. Penyimbolan secara moneter dalam seperangkat akun
5. Konsistensi antara periode untuk entitas yang sama
6. Keanekaragaman perlakuan akuntansi di antara entitas independent
7. Konservatisma
8. Keterandalan data melalui pengendalian internal
9. Materialitas
10.Ketepatwaktuan dalam pelaporan keuangan memerlukan taksiran

ACCOUNTING PRINCIPLES
BOARD (APB)

APB menyebut konsep dasar sebagai ciri ciri dasar dan memuatnya dalam APB
statement.APB mengidentifikasi tiga belas konsep dasar yang merupakan karakteristik
lingkungan diterapkannya akuntansi.
1. Entitas
akuntansi

Accounting
Principlesmengidentif
Board
kasi

2. Usaha
berlanjut
3. Pengukuran
sumber
ekonomik dan
kewajiban
4. Periode
periode waktu

8. Angka
pendekatan
9. Pertimbangan

5. Pengukuran
dalam unit uang
6. Akrual

7. Harga
pertukaran

13. Materialitas

10. Informasi
keuangan umum
11. statemen
keuangan
berkaitan secara
mendasar
12. Substansi
daripada bentuk

WOLK, TEARNEY, DAN DODD


Wolk, Tearney mendaftar empat konsep yang dianggap
sebagai postulat dan beberapa konsep lainsebagai prinsip
berorientasi-masukan (input-oriented principles) yaitu
recognition, matching, conservatism, disclosure, materiality,
dan objectivity dan prinsip berorientasi-keluaran (outputoriented principles) yaitu comparability, consistency, dan
uniformity. Keempat konsep yang dikategori sebagai postulat
adalah :
1. Usaha berlanjut (Going concern)
2. Periode waktu (Time period)
3. Entitas akuntansi (Accounting entity)
4. Unit moneter (Monetery unit)

ANTHONY, HAWKINS, DAN


Konsep dasar 1 sampai 5 dikategori sebagai pelandas statement posisi
MERCHANT
keuangan (neraca) sedangkan konsep dasar 6 sampai 11 dikategori sebagai
pelandas statement laba-rugi.
1. Pengukurang dengan unit uang (Money measurement)
2. Entitas (Entity)
3. Usaha berlanjut (Going concern)
4. Kos (Cost)
5. Aspek ganda (Dual aspect)
6. Periode akuntansi (Accounting period)
7. Konservatisma (Conservatism)
8. Realisasi (Realization)
9. Penandingan (Matching)
10.Konsistensi (Consistency)
11.Materialitas (Materiality)

PATON DAN LITTLETON


Konsep-konsep dasar yang dikemukakan oleh Paton dan
Littleton yaitu :
1. Entitas bisnis atau kesatuan usaha (The business entity)
2. Kontinuitas kegiatan atau usaha (Continuity of activity)
3. Penghargaan sepakatan (Measured consideration)
4. Kos melekat (Costs attach)
5. Upaya dan capaian/hasil (Effort and accomplishment)
6. Bukti terverifkasi dan objektif (Verifable, objective
evidence)

KESATUAN USAHA
Konsep ini menyatakan bahwa perusahaan dianggap
sebagai suatu kesatuan atau badan usaha ekonomik yang berdiri
sendiri, bertindak atas namanya sendiri, dan kedudukannya
terpisah dari pemilik atau pihak lain yang menanamkan dana
dalam perusahaan dan kesatuan ekonomik tersebut menjadi pusat
perhatian atau sudut pandang akuntansi.

BATAS KESATUAN
Walaupun secara yuridis kesatuan usaha didukung
keberadaannya, batas kesatuan usha dari segi akuntansi bukanlah
kesatuan
yuridis
atau
hukum
melainkan
kesatuan
ekonomik.Dimana akuntansi memperlakukan badan usaha sebagai
suatu kesatuan ekonomik daripada kesatuan yuridis.

PENGERTIAN EKUITAS
Ekuitas adalah hak residual pemilik terhadap asset bersih
sebagaimana didefinisi dalam rerangka konseptual FASB. Sudut
pandang FASB adalah pemilik. Hubungan konsep kesatuan usaha
dan definisi ekuitas dinyatakan secara simbolik seperti gambar 5.2
berikut.

PENGERTIAN PENDAPATAN
Konsep kesatuan usaha dapat menjelaskan mengapa
pendapatan (dan utang) didefinisi sebagai kenaikan atau
aliran masuk assets. Dengan konsep kesatuan usaha, semua
sumber ekonomik yang dimiliki atau dikuasai oleh perusahaan
merupakan asset perusahaan bukan asset pemilik. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa pendapatan menambah
ekuitas (utang kesatuan usaha kepada pemilik).

PENGERTIAN
BIAYA
Definisi biaya sebagai penurunan asset atau timbulnya
kewajiban dapat dijelaskan dengan konsep kesatuan usaha.
Penyerahan produk dalam rangka menciptakan pendapatan,
menyebabkan asset (persediaan barang) berkurang. Berkurangnya
asset (sebesar kas barang terjual) inilah yang disebut biaya. Jadi,
dapat dikatakan bahwa biaya emngurangi ekuitas. Definisi biaya
oleh FASB konsistensi dengan konsep kesatuan usaha. Implikasi
pendefinisian pendapatan dan biaya dilukiskan dalam gambar 5.3
berikut ini.

SISTEM BERPASANGAN
Sistem berpasangan atau aspek ganda yang dikemukakan Anthony,
Hawkins, dan Merchant sebenarnya merupakan konsekuensi logis atau
turunan dari konsep kesatuan usaha. Hubungan bisnis antara
manajemen dan pemilik mengakibatkan manajemen harus selalu
mempertanggungjawabkan asset yang dikelolanya dan sumber asset
tersebut.ini berarti bahwa pengaruh transaksi terhadap hubungan
bisnis dan posisi keuangan (termasuk utang-piutang dengan pemilik
serta pihak lainnya) harus selalu ditunjukkan. Untuk melaksanakan hal
ini dengan mudah dan nyaman, digunakan system berpasangan.

PERSAMAAN AKUNTANSI

Konsep kesatuan usaha memisahkan managemen dengan penyedia dan dana


dan manajemen bertanggung jawab kepada mereka. Pertanggungjelasan
menuntut agar asset yang dipercayakan kepada manajemen selalu ditunjukkan
sumber atau asalnya. Pelaporan keuangan harus menunjukkan hubungan ini.
Hubungan fungsional inilah yang disebut Persamaan Akuntansi.
Agar penyusunan statemen keuangan dapat dilakukan dengan cepat, system
akuntansi buku besar harus di organisasi atas dasar persamaan akuntansi. Oleh
karena itu, persamaan akuntansi dapat dikatakan sebagai hubungan fungsional
buku besar yang mempresentasikan elemen statemen keuangan. Hubungan
fungsional antar buku besar ini dapat dinyatakan sebagai berikut :
Aktiva = Kewajiban + Ekuitas + Pendapatan Biaya

ARTIKULASI
Sebagai konsep dasar yang dikemukakan APB yaitu bahwa statemen
keuangan berkaitan secara mendasar (fundamentally Related Financial
Statement). Artikulasi sebenarnya turunan atau konsekuensi dari
konsep kesatuan usaha. Dengan artikulasi, akan selalu dapat
ditunjukkan bahwa laba dalam statemen laba rugi akan sama dengan
laba dalam statemen perubahan ekuitas dan jumlah rupiah ekuitas
dalam neraca.

KONTINUITAS USAHA
Konsep kontinuitas usaha atau usaha berlanjut
menyatakan bahwa kalau tidak ada tanda-tanda, gejalagejala, atau rencana pasti dimasa datang bahwa kesatuan
usaha akan dibubarkan atau dilikuidasi maka akuntansi
menganggap bahwa kesatuan usaha tersebut akan
berlangsung terus sampai waktu yang tidak terbatas.
Konsep ini akan menjadi pertimbangan pada saat
penyusunan statemen keuangan atau pada saat akuntansi
menghadapi berbagai pilihan dalam proses perekayasaan
atau penyusunan standar karena kenyataan bahwa
kelangsungan hidup perusahaan di masa datang tidak pasti.

ARTI PENTING LAPORAN


PERIODIK
Dengan konsep kontinuitas usaha, perusahaan berusaha
untuk terus maju dan berkembang. Untuk mengetahui seberapa
maju dan berkembangnya perusahaan yang dijalankan, maka
perusahaan
tersebut
harus
membuat
laporan
mengenai
perusahaan secara periodik. Jika perusahaan tidak membuat
laporan secara periodik, maka sulit untuk menentukan keputusan
lebih lanjut.

KEDUDUKAN STATEMEN
LABA-RUGI
Untuk mengukur daya melaba jangka panjang, aliran kontinus
sumber ekonomik masuk dan keluar kesatuan usaha (pendapatan dan
biaya) harus dipenggal-penggal dengan periode waktu sebagai wadah
atau penakar. Jadi, konsep perioda waktu yang dikemukakan oleh
Hawkins, Anthony, dan Merchant atau perioda akuntansi oleh APB
sebenarnya merupakan turunan dari konsep dasar kontinuitas usaha.
Penggalan pendapatan dan biaya untuk suatu perioda dituangkan
dalam statemen laba rugi periodic sehingga statemen laba rugi
dipandang sebagai statemen yang paling penting dalam pelaporan
keuangan karena tingkat laba dalam rangka menilai daya melaba.

FUNGSI NERACA DAN


PENILAIAN ELEMENNYA
Konsep kontinuitas usaha sangat besar peranannya dalam mendasari
penilaian elemen atau pos neraca dan interpretasi jumlah rupiah yang
dimuat di dalamnya. Dengan konsep kontinuitas usaha, tujuan pelaporan
pos neraca adala untuk menunjukkan sisa potensi-potensi jasa atau
sumber-sumber ekonomik yang belum dikonsumsi dalam tahun yang
berakhir pada tahun neraca. Dengan kata lain, neraca berfungsi untuk
menunjukkan potensi jasa yang masih dimiliki / dikuasai kesatuan usaha
untuk menghasilkan pendapatan dalam periode-periode berikutnya.

PENGHARGAAN SEPAKATAN
Konsep ini menyatakan bahwa jumlah rupiah / agregat harga atau
penghargaan sepakatan yang terlibat dalam tiap tranksaksi atau
kegiatan pertukaran merupakan bahan olah dasar akuntansi yang
paling objektif terutama dalam mengukur sumber ekonomi yang masuk
dan sumber ekonomi yang keluar. Sebagai konsekuensi, elemen-elemen
atau pos-pos pelaporan keuangan diukur atas dasar penghargaan
sepakatan tersebut.

ISTILAH YANG TEPAT


Menurut pendapat penulis, istilah cost sebenarnya cukup
tepat untuk menyatakan price-agregate atau measured
consideration karena alasan-alasan berikut:
1. Dari segi penjual, walaupun istilah cost tidak cukup luas,
aliran masuk penghargaan sepakatan penjualan /
pendapatan yang dicatat akhirnya akan menjadi cost juga
kalau sudah digunakan untuk memperoleh barang dan
jasa.
2. Dari segi pembeli, kalau istilah cost mempunyai
keterbatasan karena tidak dapat menyatakan hal yang
sama dari kedua belah pihak dalam suatu pertukaran,

JASA DI BALIK KOS


Akuntansi menggunakan satuan mata uang karena satuan
tersebut paling mudah untuk mengkualifikasi objek atau jasa ke
dalam satuan yang homogenus dan juga karena harga dalam satuan
uang adalah cara yang sudah umum untuk menyatakan kesepakatan
dalam pertukaran. Dari segi akuntansi, sebenarnya bukan uang atau
harga itu sendiri yang mempunyai arti penting melainkan justru
potensi jasa yang ada dibalik angka koslah yang mempunyai arti
penting. Perlu diingat bahwa kos merupakan salah satu atribute
untuk merepresentasi secara tepat realitas kegiatan perusahaaan.

KETERBATASAN INFORMASI
AKUNTANSI
Dengan memahami kos sebagai bahan olah akuntansi
seberapa dapat dikenali keterbatasan akuntansi dalam memberikan
informasi untuk kepentingan pengambilan keputusan oleh pihak
eksternal dan manajemen. Informasi akuntansi hanya merupakan
sebagian hak eksternal dan manajemen. Lebih dari itu, walaupun
segala pertimbangan dan kebijakan didasarkan pada data akuntansi
secara cukup mendalam. Pada akhirnya keputusan yang dihasilkan
akan mencerminkan juga pengaruh data non akuntansi dan akan
diwawancarai dengan hal hal yang sangat kualitatif dan subjektif.

KOS MELEKAT
Konsep menyatakan bahwa kos melekat pada objek yang
dipresentasinya sehingga kas bersifat mudah bergerak dan dapat
dipecah-pecah dan digabung-gabungkan kembali mengikuti objek
yang didekatinya. Berbagai kos mempunyai daya saling mengikat
antara yang satu dengan yang lainnya mengikuti ikatan-ikatan
objek yang disimbolkannya.

SAAT PENGAKUAN NILAI


TAMBAH
Secara ekonomik, kegiatan perusahaan terdiri atas penggabungan
berbagai factor produksi untuk menghasilkan produk baru yang
manfaatnya lebih tinggi. Kalau kegiatan produksi menggunakan bahan
baku dan berbagai macam factor produksi, kegiatan akuntansi
menggunakan kos untuk menyatakan pemrosesan factor produksi
tersebut. Tujuan kegiatan akuntansi adalah mengikuti secara tepat
perubahan tersebut dengan menggolongkan, memecah, dan
mengikhtisarkan kos bahan baku, kos tenaga kerja, kos bahan mesin, dan
kos factor produksi lainnya sehingga seluruh kos tersebut secara bersamasama akan membentuk kos produksi. Jadi, dasar konsep kos melekat
diperlukan karena dalam mengikuti aliran fisis tersebut harus ada
anggapan bahwa tiap kos mempunyai daya saling mengikat bila
digabungkan dengan kos lain secara tepat.
Konsep dasar ini mempunyai implikasi penting terhadap saat
pengakuan tambahan manfaat produk fisis yang dihasilkan. Kalau kos

WADAH PENGGABUNGAN
Dalam mengikuti aliran fisis produksi, kas dipecah,
dikelompokkan, dan kemudian digabungkan kembali
mengikuti unit fisis produk. Ini berarti bahwa kos digabungkan
dengan produk sebagai wardah atau penakar penggabungan.

UPAYA DAN HASIL


Konsep ini menyatakan bahwa biaya merupakan upaya
dalam rangka memperoleh hasil berupa pendapat. Dengan
kata lain, tidak ada hasil tanpa upaya. Secara konseptual,
pendapat timbul karena biaya bukan sebaliknya pendapat
menanggung biaya. Artinya, begitu kesatuan usaha
melakukan kegiatan produktif maka pendapat dapat dikatakan
telah terbentuk pula walaupun belum terealisasi.

ASAS AKRUAL ATAU HIMPUN


Asas akrual adalah asas dalam pengakuan
pendapatan dan biaya yang menyatakan bahwa
pendapatan diakui pada saat hak kesatuan timbul
lantaran penyerahan barang atau jasa ke pihak luar
dan biaya diakui pada saat kewajiban timbul
dikarenakan penggunan sumber ekonomik yang
melekat pada barang dan jasa yang diserahkan
tersebut.

OBJEKTIVITAS BUKTI
Mautz dan Sharaf menjelaskan pengertian dan lingkup bukti
audit sebagai berikut:
Audit evidence includes all influences on the mind of auditor
which affect his judgment about the truthfulness of the financial
statement proposition, submitted to him for review.

OBJEKTIVITAS RELATIF
Akuntansi bukan ilmu pasti sehingga objektivitas bukti dalam
akuntansi bersifat relatif. Kegiatan usaha tidak memungkinkan untuk
dijadikan bahan analisis laboratorium dan tidak pula mengikuti
rumus-rumus matematika. Dengan demikian fakta akuntansi tidaka
akan selalu bersifat objektif penuh dan dapat diverifikasi secara
tuntas. Oleh karena itu, konsep objektivitas dalam penciptaan data
akuntansi adalah objektivitas yang disesuaikan dengan keadaan yang
ada pada saat penentuan fakta bukan objektivitas mutlak.

OBJEKTIVITAS DAN
KETERVERIFIKASIAN JANGKA
PANJANG

Bukti yang paling kuat dan paling diinginkan adalah bukti yang sepenuhnya objektif.
Akan tetapi, bila persyaratan objektivitas semacam ini harus diikuti secara mutlak dalam
segala hal maka akuntansi akan menjadi berpandangan jangka pendek dan bertentangan
dengan konsep kontinuitas usaha. Bukti akuntansi juga tidak harus mendasar pada bukti
yuridis. Itulah sebabnya. Untuk dapat dinyatakan sebagai asset yang harus dilaporkan oleh
kesatuan usaha, suatu asset tidak harus memiliki kesatuan usaha tetapi cukup dikuasai.
Dalam jangka panjang, ada resiko dari konsep objektivitas relative yaitu bahwa
perlakuan akuntansi atas dasar bukti yang tersedia sekarang menjadi tidak sesuai dengan
keadaan dan fakta pada periode masa datang.akan tetapi, kalau fakta yang digunakan
adalah yang terbaik diperoleh maka tidak ada lagi yang dapat diperbuat pada waktu itu.
Akuntansi hendaknya berusaha untuk mendapatkan bukti yang terbaik tanpa
mengorbankan reliabilitas. Namun, memperoleh bukti yang secara meyakinkan objektif juga
memerlukan kos yang tinggi.
Dengan konsep dasar ini, akuntansi dapat menggunakan taksiran-taksiran dan
aproksimasi sebagaimana konsep yang diajukan dalam APB No. 4.

ASUMSI

Beberapa contoh asumsi yang menjadi landasan penalaran dalam memiliki konsep yang relevan.
Kontinuitas Usaha, Konsep kontinuitas usaha hanya dapat dibenarkan atas dasar pengalaman
perusahaan pada umumnya.
Periode Satu Tahun, Pelaporan periodik dengan waktu sebagai wadah pengukuran adalah salah satu
kebiasaan penting dalam akuntansi untuk tujuan penakaran terhadap pendapatan dan biaya yang
menghasilkan pendapatan tersebut, interval waktu yang biasanyayang digunakan adalah satu tahun, baik
tahun kalender ataupun tahun buku / fiskal.
Kos Sebagai Bahan Olah, Penghargaan sepakatan yang menjadi bahan oleh akuntansi didasarkan atas
asumsi bahwa kos faktor produksi yang diperoleh perusahaan menunjukkan nilai pada saat terjadinya.
Asumsi dibalik penalaran tersebut adalah bahwa para pelaku ekonomi bertindak rasional, suatu asumsi
yang tidak terlalu benar dalam tiap keadaan.
Daya Beli Uang Stabil, Konsep bahwa jumlah rupiah yang tercatat akan tetap menunjukkan nilai
dilandasi asumsi bahwa daya beli uang adalah stabil sepanjang masa. Dalam periode-periode yang
mengalami inflasi cukup tinggi asumsi tersebut jelas tidak berlaku lagi untuk tujuan-tujuan tertentu.
Tujuan Mencari Laba, Konsep pendapatan dan biaya sebagai aliran jumlah rupiah yang ditandingkan
sebenarnya mengandung asumsi bahwa pendapatan adalah objek yang dituju oleh upaya yang diukur
dengan kos. Dengan kata lain, perusahaan dipandang sebagai, suatu organisasi yang dibentuk untuk
menghasilkan laba. Asumsi ini tidak diragukan kelayakannya. Keinginan untuk menghasilkan laba adalah
karakteristik nyata yang melekat pada perusahaan-perusahaan komersial pada umunya.

PENGAKUAN HAK MILIK


PRIBADI
Konsep ini menyatakan bahwa pengakuan hak
milik pribadi harus dilindungi atau diakui secara
yuridis.Tanpa konsep ini, kesatuan usaha tidak dapat
memiliki sumber ekonomik atau asset. Karena
pemilikan merupakan salah satu cara untuk
memperoleh penguasaan.
Salah satu bentuk perlindungan adalah adanya
kewajiban untuk mempertanggungjawabkan kekayaan
yang dipercayakan pengelolaannya kepada pihak lain.

KONSERVATISMA
Konservatisma adalah sikap atau aliran dalam
menghadapi ketidakpastian untuk mengambil tindakan atau
keputusan atas dasar munculan yang terjelek dari
ketidakpastian tersebut.
Sikap konservatif juga mengandung makna sikap
berhati hati dalam menghadapi risiko dengan cara bersedia
mengorbankan
sesuatu
untuk
mengurangi
atau
menghilangkan risiko.
Jika akuntansi menganut konsep dasar konservtisma,
dalam menyikapi ketidakpastian, akuntansi ( penyusun
standar ) akan menentukan pilihan perlakuan atau prinsip

MANFAAT KONSEP DASAR


Konsep Dasar
manfaat

1. Sebagai
landasan
penalaran pada
tingkat
perekayasaan

2. Untuk
menentukan
konsep, prinsip,
metoda, atau
teknik yang akan
dijadikan standar
bagi penyusun
standar.

PERTANYAAN

Laras 138

Mengapa akuntansi menganut pendekatan artikulasi ?


Ayu 265
Jelaskan yg dimaksud dengan basic akrual dan usaha berlanjut ?
Yoga 136
Mengapa berbagai sumber menyajikan konsep dasar yang berbeda-beda ?
Ega 243
Batas kesatuan usaha adalah ekonomik bukan yuridis, apa perbedaan nya
ekonomik dan yuridis?
Yuli 194
Mengapa besarnya laba perusahaan tidak boleh mempengaruhi besarnya
depresiasi ?
Pramita 185