Vous êtes sur la page 1sur 21

MAKALAH PEDODONSIA

MANIFESTASI ORAL PADA ANAK


PENDERITA ATRITIS IDIOPATIK JUVENIL

Disusun Oleh :
Inneke Rachmawaty Syam, S.KG

2014-16-167

Pembimbing :
drg. Ika Anisyah, Sp. KGA

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIV. PROF. DR. MOESTOPO (BERAGAMA)
JAKARTA
2015

BAB I
PENDAHULUAN

Artritis Idiopatik Juvenil (AIJ) adalah merupakan penyakit kronis yang merusak
dan menghancurkan sendi-sendi tubuh. Kerusakan disebabkan oleh peradangan yang
merupakan respon normal dari sistem kekebalan tubuh. Peradangan pada sendi
menyebabkan nyeri, kekakuan, dan bengkak serta gejala lainnya. Selain itu, peradangan
sering mempengaruhi organ lain dari sistem tubuh. Jika peradangan tidak dihambat atau
dihentikan, akhirnya akan menghancurkan sendi yang terkena dan jaringan lainnya. 1
Namun, efek AIJ pada gigi dan mulut tidak banyak diketahui. Efek AIJ terhadap gigi dan
mulut

antara

lain

adalah

karies,

penyakit

periodontal,

abnormalitas

saliva,

ketidaknyamanan pada temporomandibular (TMJ) dan efek pada pertumbuhan fasial.


Selain itu, efek sistemik dari penyakit kronis dapat mempengaruhi kesehatan gigi. 2
Insiden JRA diperkirakan 2 - 20 kasus per 100.000 anak dengan prevalensi 16150 kasus per 100.000 anak diseluruh dunia. Artritis Idiopatik Juvenil (AIJ) biasanya
muncul sebelum usia 16 tahun. Namun onset penyakit juga dapat terjadi lebih awal,
dengan frekuensi tertinggi antara usia 1-3 tahun. Perempuan lebih sering terkena dari
pada laki-laki.3
Saat ini masih sedikit studi ilmiah yang dilaporkan dalam literatur tentang anakanak yang di diagnosis AIJ yang mempunyai gejala berkaitan dengan daerah orofasial
mereka. AIJ adalah penyakit radang yang paling umum pada anak-anak yang ditandai
dengan nyeri dan disfungsi pada sendi, biasanya melibatkan sendi TMJ Retardasi
pertumbuhan rahang mempengaruhi penampilan wajah, menimbulkan rasa nyeri dan
disfungsi yang lebih parah di kemudian hari. 4

BAB II
PEMBAHASAN

I.

Atritis Idiopatik Juvenil


A. Definisi & Klasifikasi Atritis Idiopatik Juvenil
Atritis Idiopatik Juvenil (AIJ) adalah salah satu penyakit yang paling
sering ditemui pada anak dan merupakan kelainan yang paling sering
menyebabkan kecacatan. Ditandai dengan kelainan karakteristik yaitu
sinovitis idiopatik dari sendi kecil, disertai dengan pembengkakan dan
efusi sendi.4,5
AIJ di definisikan sebagai adanya tanda objektif arthritis pada
sedikitnta satu sendi yang berlangsung lebih dari 6 minggu pada anak usia
kurang dari 16 tahun.4,5
Arthritis itu sendiri merupakan pembengkakan pada sendi atau
ditemukannya dua atau lebih tanda berikut : keterbatasan gerak, adanya
nyeri tekan, nyeri saat bergerak, atau sendi terasa hangat.4,5
Pada tahun 1970, dua kriteria digunakan untuk mengklasifikasikan
JRA pada anak yaitu klasifikasi oleh American Collage of Rheumatology
(ACR), dan European League Against Rheumatism (EULAR). Pada
tahun1993, klasifikasi ketiga muncul dari International League of
Association for Rheumatology (ILAR). Karakteristik klinis JRA yang
sering digunakan adalah oligoartritis, poliartritis dan onset sistemik.6

Tabel 1.Karakteristik JRA tipe onset penyakit 6


Karakteristik
Presentase kasus

Poliartritis

Oligoartritis

30 %

60%

Sistemik
10%

Sendi terlibat

Bervariasi

Usia onset

Seluruh masa anak,


puncak usia 1-3
tahun

Awal masa anak,


puncak usia 1-2
tahun

Seluruh masa anak,


tidak ada puncak

Rasio jenis
kelamin ( lakilaki: perempuan )

1:3

1:5

1:1

Keterlibatan
sistemik

Penyakit sistemik
sedang

Tidak ada penyakit


sistemik, penyebab
utama morbiditas
adalah uveitis

Penyakit sistemik
sering sembuh
sendiri, sebagian
mengalami
destruksi artritis
kronik

Adanya uveitis
kronik

5%

5-15%

Jarang

Frekuensi
seropositif faktor
rheumatoid

10% ( meningkat
dengan usia )

Jarang

Jarang

Antibodi
antinuclear

40-50%

75-85%

10%

Prognosis

Sedang

Baik, kecuali untuk


penglihatan

Buruk

B. Penyebab Atritis Idiopatik Juvenil


Atritis idiopatik juvenil terjadi ketika sistem kekebalan tubuh
menyerang sel dan jaringannya sendiri. Tidak diketahui mengapa hal ini
bisa terjadi, namun faktor keturunan dan lingkungan tampaknya memiliki
peranan tersendiri. Mutasi gen tertentu dapat membuat seseorang lebih
rentan terhadap faktor lingkungan - seperti virus - yang dapat memicu
penyakit.4,5

C. Gejala
Artritis

Adalah gejala klinis utama yang terlihat secara obyektif. Ditandai


dengan salah satu dari gejala pembengkakan atau efusi sendi, atau paling
sedikit 2 dari 3 gejala peradangan yaitu gerakan yang terbatas, nyeri jika
digerakkan dan panas. Nyeri atau sakit biasanya tidak begitu menonjol.
Pada anak kecil, yang lebih jelas adalah kekakuan sendi pada pergerakan,
terutama pada pagi (morning stiffness).5
Tipe onset poliartritis
Terdapat pada penderita yang menunjukkan gejala arthritis pada lebih
dari 4 sendi, sedangkan tipe onset oligoartritis 4 sendi atau kurang pada 6
bulan pertama. Pada tipe oligoartritis sendi besar lebih sering terkena dan
biasanya pada sendi tungkai. Pada tipe poliartritis lebih sering terdapat
pada sendi-sendi jari dan biasanya simetris, bisa juga pada sendi lutut,
pergelangan kaki, dan siku.5

Tipe onset sistemik


Ditandai dengan demam intermiten dengan puncak tunggal atau ganda,
lebih dari 39o C selama 2 minggu atau lebih, artritis disertai kelainan
sistemik lain berupa ruam rematoid serta kelainan viseral misalnya
hepatosplenomegali, serositis atau limfadenopati.5

D. Diagnosa
Seperti telah dijelaskan maka diagnosis Artritis Idiopatik Juvenil (AIJ).
dibuat semata-mata secara klinis. Walaupun beberapa pemeriksaan

imunologik tertentu dapat menyokong harus tetap diingat bahwa tidak ada
pemeriksaan laboratorium yang spesifik untuk diagnosis AIJ.
Pemeriksaan Klinis
Terdapat beberapa pengelompokan dalam mendiagnosis JRA, di
antaranya:
Kriteria diagnosis Juvenile Rheumatoid Arthritis menurut American
College of Rheumatology (ACR) :2
1. Usia penderita < 16 tahun
2. Artritis (bengkak atau efusi, adanya dua atau lebih tanda :
keterbatasan gerak, nyeri saat gerak dan panas pada sendi) pada satu
3.
4.
a.
b.
c.

sendi atau lebih


Lama sakit > 6 minggu
Tipe onset penyakit (dalam 6 bulan pertama) :
Poliartritis : 5 sendi
Pausiartikular : < 5 sendi
Sistemik : artritis dengan demam minimal 2 minggu, mungkin
terdapat ruam atau keterlibatan ekstraartikular, seperti limfadenopati,

hepatosplenomegali atau perikarditis


5. Kemungkinan penyakit artritis lain dapat disingkirkan

Kriteria diagnosis Juvenile Chronic Arthritis menurut European


League Against Rheumatism (EULAR) :2
1.
2.
3.
4.
a.
b.
c.
d.

Usia penderita < 16 tahun


Artritis pada satu sendi atau lebih
Lama sakit > 3 minggu
Tipe onset penyakit :
Poliartritis : > 4 sendi, faktor reumatoid negatif
Pausiartikular: < 5 sendi
Sistemik : artritis dengan demam
Artritis reumatoid juvenil : > 4 sendi, faktor reumatoid positif

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium dipakai sebagai penunjang diagosis. Bila

diketemukan Anti Nuclear Antibody (ANA), Faktor Reumatoid (RF) dan


peningkatan C3 dan C4 maka diagnosis AIJ menjadi lebih sempurna.1
Selama penyakit aktif, LED dan CRP biasanya meningkat. Anemia
pada umumnya dijumpai, biasanya dengan angka retikulosit rendah dan
uji Coomb negatif. Selain itu ditemukan peningkatan sel darah putih.
Trombositosis dapat terjadi terutama pada penyakit. Analisis urin normal,
selama terapi non-steroid mungkin ditemukan sedikit eritrosit dan sel
tubuler ginjal. Terdapat kenaikan fraksi 2-dan gamma globulin dalam
serum dan penurunan albumin. Salah satu atau semua kadar
imunoglobulin serum dapat naik.7
ANA ditemukan pada beberapa anak dengan penyakit faktor
reumatoid-negatif

(25%),

faktor

reumatoid

positif

(75%),

atau

pausiartikular tipe I (90%) tetapi jarang, pada mereka yang dengan


penyakit sistemik atau pausiartikuler tipe II. Penemuan ANA tidak
berkolerasi dengan keparahan penyakit.7
Faktor reumatoid ditemukan pada sekitar 5% anak JRA dan berkolerasi
dengan JRA yang mulai pada umur yang lebih tua. Hasil uji positif paling
sering dihubungkan dengan penyakit poliartikular, yang mulai pada akhir
masa kanak-kanak, artritis destruksi berat, dan nodulus reumatoid.7
Cairan sinovial pada JRA tampak seperti berawan dan biasanya berisi
jumlah protein yang naik. Jumlah sel dapat bervariasi dari 5000-80.000
sel/mm3; sel-sel tersebut terutama netrofil. Kadar glukosa pada cairan
sendi mungkin rendah; kadar komplemen mungkin normal atau menurun.7
Faktor reumatoid adalah kompleks IgM-anti IgG pada dewasa dan
mudah dideteksi, sedangkan pada JRA lebih sering IgG-anti IgG yang

lebih sukar dideteksi laboratorium. Anti-Nuclear Antibody (ANA) lebih


sering dijumpai pada JRA. Kekerapannya lebih tinggi pada penderita
wanita muda dengan oligoartritis dengan komplikasi uveitis. Pemeriksaan
imunogenetik menunjukkan bahwa HLA B27 lebih sering pada tipe
oligoartritis yang kemudian menjadi spondilitis ankilosa. HLA B5 B8 dan
BW35 lebih sering ditemukan di Australia.1

Radiologi
Pemeriksaan radiologi JRA dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh
kerusakan yang terjadi pada keadaan klinis tertentu. Kelainan radiologik
yang terlihat pada sendi biasanya adalah pembengkakan jaringan lunak
sekitar sendi, pelebaran ruang sendi, osteoporosis, dan kelainan yang agak
jarang seperti formasi tulang baru periostal. Pada tingkat lebih lanjut
(biasanya lebih dari 2 tahun) dapat terlihat erosi tulang persendian dan
penyempitan daerah tulang rawan. Ankilosis dapat ditemukan terutama di
daerah sendi karpal dan tarsal. Gambaran nekrosis aseptik jarang dijumpai
pada JRA walaupun dengan pengobatan steroid dosis tinggi jangka
panjang.1
Tidak semua sendi kelompok JRA menunjukkan gambaran erosi,
biasanya hanya didapatkan pembengkakan pada jaringan lunak,
sedangkan erosi sendi hanya didapatkan pada kelompok poliartikular.1
Gambaran agak khas pada tipe oligoartritis dapat terlihat berupa erosi
tulang pada fase lanjut, pengecilan diameter tulang panjang, serta atrofi
jaringan lunak regional sekunder. Kauffman dan Lovell mengajukan
beberapa gambaran radiologik yang menurut mereka khas untuk JRA

sistemik, yaitu a)tulang panjang yang memendek, melengkung, dan


melebar, b)metafisis mengembang, dan c)fragmentasi iregular epifisis
pada masa awal sakit yang kemudian secara bertahap bergabung ke dalam
metafisis. 1
Pemeriksaan foto rontgen tidak sensitif untuk mendeteksi penyakit
tulang atau manifestasi jaringan lunak pada fase awal. Selain dengan foto
rontgen biasa kelainan tulang dan sendi JRA dapat pula dideteksi lebih
dini

melalui

skintigrafi

dengan

technetium

99m.

Pemeriksaan

radionuklida ini sensitif namun kurang spesifik. Skintigrafi menunjukkan


keadaan hemodinamik dan aktivitas metabolik di tulang dan sendi saat
pemeriksaan dilakukan, sehingga dapat menunjukkan inflamasi sendi
secara dini. Ultrasonografi merupakan sarana paling baik untuk
mengetahui keadaan cairan intra-artrikular, terutama pada sendi-sendi
yang susah dilakukan pemeriksaan cairan secara klinis, seperti pinggul
dan bahu.1
Ultrasonografi juga dapat menilai efusi atau sinovitis dengan menilai
penebalan membran sinovial dari sendi yang meradang, bursa dan
pembungkus tendon. Pemeriksaan MRI yang dipadu dengan gadolinium
juga dapat membedakan inflamasi sinovial dengan cairan sinovial. Sarana
MRI dapat digunakan untuk menilai aspek inflamasi dan destruktif dari
penyakit artritis. Berlawanan dengan foto rontgen, pemeriksaan MRI
dapat digunakan untuk mendeteksi inflamasi jaringan lunak dan
perubahan tulang pada fase awal, selain itu dapat menilai progresifitas
penyakit.1

II.

Manifestasi Oral pada Atritis Idiopatik Juvenil


JIA adalah penyakit persendian, dimana sebagian kasus mengenai TMJ
dan mempengaruhi pertumbuhan kranofasial, fungsi rahang, dan sistem
mukoskeletal yang menyebabkan ketidak nyamanan dan rasa saki. Kelejar
saliva, jaringan gingiva dan periodontal dapat terpengaruh. Hal ini
disebabkan oleh aktivitas synovitis yang tinggi yang menyebabkan
bertambahnya mediator inflamasi bersirkulasi dan menyebar ke jaringan
lain. Pengobatan pada JIA dapat memberikan efek yang buruk terhadap
gigi, mukosa oral, dan saliva. Resiko peningkatan infeksi oral juga dapat
terjadi.4
Saliva dan mikroflora oral
Lebih dari 800 spesies bakteri yang berbeda dapat di
identifikasi pada oral kavitas dan sebagian besar terdapat pada dental
plak. Kelenjar saliva mensekresikan protein dan peptide dalam jumlah
banyak dan diintegrasikan dalam sistem neuroendrokrin. Saliva pada
anak-anak yang menderita JIA ditemukan memilik volume yang lebih
sedikit dan komposisi yang berbeda, sebagai indikasi adanya aktivitas

penyakit.2,4
Penyakit rematik dan periodontitis
Rheumatoid arthritis (RA) dan JIA diidentifikasi dengan adanya
proses inflamasi destruktif pada perbatasan tulang dan jaringan ikat
sendi yang mirip dengan proses inflamasi pada jaringan pendukung
disekitar gigi. Penyebabnya diperkirakan adalah deregulasi respon
imun terhadap inflamasi dan hubungan infeksius pada bakteri dan agen
virus. Porphyromonas gingivalis agen bakteri yang umum ditemukan
pada periodontitis juga ditemukan pada cairan synovial dan dapat
memicu respon autoimun. Peningkatan attachement loss pada pasien

10

JIA dan kerusakan periodontal pada orang dewasa penderita RA dapat


membaik dengan mengkonsumsi obat-obatan dan kontrol plak.2,4

Dental Plak dan Gingivitis

Menyikat gigi dengan berbagai alat dan berkumur dengan obat


kumur penting untuk mempertahankan lingkungan yang anaerobic dan
ber gram positif. Kegiatan pendukung oral hygine yang regular dan
kontrol bakteri membantu untuk mempertahankan komposisi bakteri
sehat yang konstan. Secara klinis kontrol bakteri berhubungan dengan
tidak adanya inflamasi yang terlihat dan kedalaman poket kurang dari
3mm. Biofilm adalah komunitas bakteri yang terdiri dari beberapa
organisme secara kolektif. Biofilm oral pada dental plak memiliki
karakterisrik yaitu jumlah anaerob yang besar, spiroseta dan spesies
bakteri yang bergerak. Jika kolonisasi pada biofilm melebihi batas
normal pertahan imunologis akan bereaksi dengan menciptakan
beberapa reaksi yang terjadi pada jaringan ikat. Secara klinis hal ini
berhubungan dengan bertambahnya tanda klinis dari inflamasi (BOP /
Perdarahan yang lebih parah) dan pendalaman poket. Pada level seluler
hal ini diidentifikasi dengan adanya peningkatan parameter inflamasi,
penguraian produk seluler dan peningkatan crevicular fluid flow.
Inflamasi

gingiva

meningkatan

signifikan.2,4

Gingivitis pada JIA

11

pravalesi

bakterimia

secara

Sebagiaan besar studi telah menemukan frekuensi plak dan


gingivitis pada pasien penderita JIA dibandingkan dengan orang yang
sehat. BOP dapat berkurang dengan pengobatan dengan NSAID.2,4

Karies Gigi
Karies dental adalah penyakit yang infeksius, dimana bakteri
berpenetrasi kedalam bagian yang memiliki vaskularisasi yang tinggi
yaitu pulpa dan dapat menyebar, dan menyebabkan infeksi dan rasa
sakit. Karies dental sering ditemukan pada anak kecil yang menderita
JIA.2,4

Frekuensi dan faktor resiko TMJ pada AIJ


Studi yang dilakukan dengan menggunakan berbagai teknik
imaging menemukan pravelensi TMJ atritis pada anak-anak dengan
JIA sebanyak 38% - 93%. Anak-anak dengan atritis polyartikular lebih
banyak terkena masalah TMJ. TMJ atritis dapat muncul tanpa adanya
penyakit lain saat dilakukan terapi imun sitemik.2,4

III.

Perawatan
Dasar pengobatan AIJ adalah suportif, bukan kuratif. Tujuan
pengobatan adalah mengontrol nyeri, menjaga kekuatan dan fungsi otot
serta rentang gerakan (range of motion), mengatasi komplikasi sistemik,
memfasilitasi perkembangan dan pertumbuhan yang normal. Karena itu
pengobatan dilakukan secara terpadu untuk mengontrol manifestasi klinis
dan mencegah deformitas dengan melibatkan dokter anak, ahli fisioterapi,
latihan kerja, pekerja sosial, bila perlu konsultasi pada ahli bedah dan
psikiatri.6
Tujuan penatalaksanaan AIJ ini tidak hanya sekedar mengatasi nyeri.
Banyak hal yang harus diperhatikan selain mengatasi nyeri, yaitu
mencegah erosi lebih lanjut, mengurangi kerusakan sendi yang permanen,

12

dan mencegah kecacatan sendi permanen. Modalitas terapi yang


digunakan adalah farmakologi maupun non farmakologi. Selain obatobatan, nutrisi juga tak kalah penting. Pada pasien JRA pertumbuhannya
sangat terganggu baik karena konsumsi zat gizi yang kurang atau
menurunnya nafsu makan akibat sakit atau efek samping obat.6

Obat Anti Inflamasi Nonsteroid (OAINS)


Pengelolaan nyeri kronik pada anak tidak mudah. Masalahnya sangat
kompleks, karena pada umumnya anak-anak belum dapat mengungkapkan
nyeri. Obat anti inflamasi non-steroid (OAINS) merupakan anti nyeri pada
umumnya yang dapat ditoleransi dengan baik oleh anak-anak. Selain untuk
mengurangi nyeri, OAINS juga dapat digunakan mengontrol kaku sendi.
Efek analgesiknya juga sangat cepat. OAINS yang sering digunakan adalah
ibuprofen dan naproxen.2,
Obat anti inflamasi nonsteroid (OAINS) digunakan pada sebagian
besar anak dalam terapi inisial. Obat golongan ini mempunyai efek
antipiretik, analgetik, dan antiinflamasi serta aman untuk penggunaan
jangka panjang pada anak. Selain itu obat ini juga menghambat sintesis
prostaglandin. Sebagian besar anak dengan tipe oligoartritis dan sedikit
poliartritis mempunyai respon baik terhadap pengobatan OAINS tanpa
memerlukan tambahan obat lini kedua.2,6
Anak-anak biasanya mengunyah atau menghisap saat mengkonsumsi
obat tablet, hal ini mengakibatkan ulserasi pada rongga mulut dan juga
membuat erosi pada permukaan gigi. Belum ada studi yang menjelaskan
bahwa pada obat-obatan yang di konsumsi oleh penderita AIJ itu tidak

13

mengandung gula, maka dari itu pemakaian jangka panjang dapat


meningkatkan karies gigi. Obat sirup digunakan sebagai alternatif
dibandingkan obat tablet karena lebih mudah dikonsumsi. Pemberian obat
ini lebih baik diberikan pada saat malam hari sebelum tidur, karena
produksi saliva pada saat tidur rendah.2
Analgetik
Walaupun bukan obat antiinflamasi, asetaminofen dalam 2-3 kali
pemberian dapat bermanfaat untuk mengontrol nyeri atau demam terutama
pada penyakit sistemik. Obat ini tidak boleh diberikan untuk waktu lama
karena dapat menimbulkan kelainan ginjal.6
Imunosupresan
Imunosupresan hanya diberikan dalam protokol eksperimental untuk
keadaan berat yang mengancam kehidupan, walaupun beberapa pusat
reumatologi sudah mulai memakainya dalam protokol baku. Obat yang
biasa dipergunakan adalah azatioprin, siklofosfamid, klorambusil, dan
metotreksat. 6
Kortikosteroid
Diberikan bila terdapat gejala penyakit sistemik, uveitis kronik, atau
untuk suntikan intraartikular. Penggunaan kortikosteroid tunggal tidak
dianjurkan untuk menekan inflamasi sendi, namun dosis rendah dapat
digunakan pada anak dengan poliartritis berat yang tidak berespon dengan
terapi lain. Dosis rendah prednison (0,1-0,2 mg/kgBB) dapat digunakan
sebagai agen jembatan dalam terapi inisial anak yang sakit sedang atau
berat yang sebelumnya menggunakan obat antiinflamasi kerja lambat.

14

Untuk gejala penyakit sistemik berat yang tak terkontrol diberikan


prednison 0,25-1 mg/kgBB/hari dosis tunggal (maksimal 40 mg) atau dosis
terbagi pada keadaan yang lebih berat. Bila terjadi perbaikan klinis maka
dosis diturunkan perlahan dan prednison dihentikan. Efek samping yang
dapat terjadi pada pemakaian jangka panjang antara lain sindrom cushing,
penekanan pertumbuhan, fraktur, katarak, gejala gastrointestinal dan
defisiensi glukokortikoid. 6
Pada pasien yang menggunakan obat kortekosteroid dalam jangka
waktu panjang menyebabkan proses penyembuhan apabila terjadi luka
menjadi lebih lama. Hal ini harus diwaspadai oleh dokter / dokter gigi
apabila ingin melakukan pembedahan atau pengobatan yang menyebabkan
trauma.2
Fisioterapi dan Latihan Fisik
Banyak manfaat terapi dengan fisioterapi. Kegunaannya antara lain
untuk mengontrol nyeri, dengan cara pemasangan bidai, terapi panas
dingin, dan hidroterapi. Hidroterapi pemanasan dengan air pada suhu 96 oF
sangat membantu mengurangi nyeri. Selain itu, fisioterapi berguna bagi
anak-anak untuk melakukan peregangan otot yang dapat berguna
memperbaiki fungsi sendi. Peregangan pasif sangat diperlukan, tetapi harus
dikerjakan dengan pengawasan. Latihan aktif dengan atau tanpa beban
sangat membantu menambah massa otot. Fisioterapi juga berguna untuk
mempertahankan fungsi gerak sendi serta mempertahankan pertumbuhan
normal.6,8

15

Latihan fisik bertujuan untuk meminimalisir nyeri, menjaga dan


mengembalikan fungsi dan mencegah deformitas dan disabilitas. Pada anak
dengan artritis aktif dianjurkan untuk beristirahat dan meningkatkan waktu
tidur saat malam hari. Pasien dengan JRA harus sedapat mungkin aktif,
namun kegiatan yang menyebabkan kelelahan berlebih dan nyeri pada sendi
perlu dihindari. 6,8
Psikoterapi
Dukungan psikologis bagi anak dan keluarganya sangat penting untuk
memperbaiki prognosis jangka panjang. Anak dengan RJA berat sering
mengalami retardasi pertumbuhan dan sering terlalu dilindungi oleh
keluarga, guru dan teman sekelasnya. Anak tersebut sering memanfaatkan
hal ini untuk tidak pergi ke sekolah, tidak melakukan pekerjaan di rumah
ataupun tidak melakukan tugas yang tidak menyenangkan. Terapis harus
dapat meyakinkan semua orang yang berinteraksi dengan anak pengidap
RJA untuk menghadapi anak tersebut secara normal sesuai anak seusianya
dan menekankan indepedensi serta pendewasaan sebanyak mungkin. Bila
hal itu tidak dilakukan, anak mungkin akan makin mengalami regresi atau
imatur seiring dengan waktu.9
Selain itu, memiliki anak berpenyakit kronik akan menimbulkan stress
besar pada interaksi anak tersebut dengan saudara-saudaranya dan pada
perkawina orang tua. Perlunya terapi fisik akan menjadi beban bagi oang
tua, sehingga membutuhkan banyak dukungan dan dorongan. Beban biaya
untuk semua penyakit kronik mungkin sangat besar. Terapis harus bekerja
sama dengan guru dan departemen pendidikan, untuk memastikan bahwa

16

anak diijinkan dan didorong untuk menjadi senormal mungkinselagi di


sekolah.9

Nutrisi
Nutrisi dan vitamin suplemen (vitamin B dan asam folat) menjadi
aspek penting dalam penatalaksanaan jangka panjang, karena adanya proses
retardasi pertumbuhan dan kerusakan mineralisasi tulang akibat penyakit
dan pemberian kortikosteroid.6
Seringkali didapatkan gangguan pertumbuhan, baik lokal karena
kerusakan pusat pertumbuhan tulang maupun umum karena asupan nutrisi
yang kurang dan menurunnya produksi insulin like growth factor. Anakanak dengan inflamasi kronis mempunyai risiko untuk terjadi malnutrisi
oleh karena menahan sakit yang menyebabkan nafsu makan menurun.
Dengan demikian jumlah kalori yang didapat berkurang. Selain faktor
tersebut, efek samping obat-obatan juga mempengaruhi penurunan nafsu
makan. Obat-obatan yang dapat menurunkan nafsu makan antara lain
OAINS dan klorokuin.8
Obesitas mungkin dijumpai pada beberapa kasus, hal ini disebabkan
karena kurangnya aktivitas, intake makanan yang berlebihan atau akibat
efek samping kortikosteroid. Penanganan diet pada anak sangatlah
kompleks. Vitamin, zat besi, dan kalsium sangat dibutuhkan untuk
pertumbuhan anak, dan sebaiknya ditambahkan pada diet. Oleh karena
pemakaian steroid jangka panjang, maka diperlukan vitamin D. Dosis untuk

17

anak umur 1-10 tahun adalah vitamin D 400 IU dan kalsium 400 mg,
sedangkan kalsium 800 mg digunakan pada anak lebih dari 10 tahun.8

Bedah
Terapi bedah dilakukan hanya pada sebagian kecil JRA yakni pada
kasus dimana terdapat deformitas sendi, ketidakmampuan bergerak atau
nyeri yang parah. Pembedahan adalah pilihan pengobatan yang harus
dipertimbangkan bila tidak ada perbaikan dengan obat maupun terapi fisik
serta tidak dapat berjalan dan mengerjakan pekerjaan sehari-hari. 1

18

BAB III
RINGKASAN

Artritis Idiopatik Juvenil (AIJ) adalah peradangan kronis pada sendi yang
onsetnya terjadi sebelum usia 16 tahun dan menetap lebih dari 6 minggu. Artritis
Idiopatik Juvenil (AIJ)

merupakan penyakit kronis yang merusak dan

menghancurkan sendi-sendi tubuh. Kerusakan disebabkan oleh peradangan yang


menyebabkan nyeri, kekakuan, dan bengkak pada sendi. Peradangan sering
mempengaruhi organ lain dari sistem tubuh. Jika peradangan tidak dihambat atau
dihentikan, akhirnya akan menghancurkan sendi yang terkena dan jaringan lainnya.
Angka kematian tertinggi pada anak-anak dengan AIJ terjadi pada pasien AIJ
sistemik yang menunjukkan gejala-gejala sistemik. Dasar pengobatan AIJ adalah
suportif, bukan kuratif. Modalitas terapi yang digunakan adalah farmakologi maupun
non farmakologi. Modalitas farmakologi diantaranya obat anti inflamasi nonsteroid
(OAINS),

analgetik,

imunosupresan,

obat

antireumatik

kerja

lambat,

dan

kortikosteroid. Sedangkan modalitas non farmakologi yaitu fisioterapi, latihan fisik,


dan nutrisi.
Pada kebanyakan kasus, AIJ berespon secara lambat dan berangsur-angsur
terhadap terapi yang cocok. AIJ biasanya sembuh sebelum dewasa. Pasien yang

19

menderita artritis hanya pada beberapa sendi memiliki prognosis lebih baik daripada
mereka yang telah menderita penyakit artritis sistemik, yang sulit untuk disembuhkan.

DAFTAR PUSTAKA

1. David DS. Juvenile Idiopathic Arthritis. Diunduh dari:


http://emedicine.medscape.com/article/1007276-overview#a0156, 2011.
2. Walton A. G, Welbury R.R, Thomason J. M, Foster H. E. Oral health and juvenile
idiopathic arthritis: a review. Rheumatology 39:550-555, 2000
3. Khan P. Juvenile Idiopathic Arthritis, An Update on Pharmacotherapy. Bulletin of
the NYU Hospital for Joint Diseases 2011; 69(3): 264-76.
4. Leksell E. Oral health in children with juvenile idiopathic arthritis. Stockholm:
Karolinska Instituted: 2012; 6,
5. Hwan Kim, Soo Kim. Juvenile idopathic arthritis: Diognosis and differential
diagnosis. Korean J Pediatr 2010;53(11):931-935
6. Akib AAP. Artritis Reumatoid Juvenil. Dalam: Akib AAP, Munasir Z, Kurniati N,
penyunting. Buku Ajar Alergi Imunologi Anak. Jakarta: IDAI. 2008; hal 322-44.
7. Kliegman R, Stanton BF, Geme JW, Schor NF, Behrman RE, Arvin A. Artritis
Reumatoid Juvenil. Juvenile Idiopathic Arthritis. Dalam: Kliegman Robert M ... [et
al.]. Nelson Textbook of Pediatrics. 19th edition. Philadelphia: Elsevier. 2011;
2671-2689.
8. Yuliasih. Artritis Reumatoid Juvenil. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I,
Simadibrata M, Setiati S, penyunting. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta:
Interna Publishing. 2010; 2520-5.
9. Rudolph MA. Artritis Reumatoid Juvenilis. Dalam: Buku Ajar Pediatrik Rudolph.

20

Vol. 1. Ed : 20. Deborah Welt Kredich. Jakarta: EGC. 2006; 537-8.

21