Vous êtes sur la page 1sur 25

PROLAPSUS UTERI

I. PENDAHULUAN
Prolapsus uteri adalah turunnya uterus dari posisinya di dalam tulang panggul ke
dalam vagina. Normalnya uterus tertahan pada tempatnya oleh ikatan sendi dan otot yang
membentuk dasar panggul. Prolapsus uteri terjadi ketika ikatan sendi atau otot-otot dasar
panggul meregang atau melemah, membuat sokongan pada uterus tidak adekuat. Faktor
penyabab lain yang sering adalah melahirkan dan menopause. Persalinan lama dan sulit,
meneran sebelum pembukaan lengkap, laserasi dinding vagina bawah pada kala II,
penatalaksanaan pengeluaran plasenta , reparasi otot-otot dasar panggul menjadi atrofi dan
melemah. Oleh karena itu prolapsus uteri tersebut akan terjadi bertingkat-tingkat. Pada
prolapsus uteri gejala sangat berbeda-beda dan bersifat individual. Kadang kala penderita
dengan prolaps yang sangat berat tidak mempunyai keluhan apapun, sebaliknya penderita
lain dengan prolaps ringan mempunyai banyak keluhan. ( 1,2 )
Kehamilan dapat terjadi pada prolapsus uteri tingkat I dan II. Pada bulan-bulan
pertama kehamilan, serviks dan kadang-kadang sebagian korpus uteri dapat menonjol dari
vulva dengan derajat bervariasi. Namun seiring dengan kemajuan kehamilan, korpus uteri
biasanya bergerak ke atas panggul, dan hal ini dapat menarik serviks ke atas bersamanya.
Apabila uterus tetap berada dalam posisi prolaps, dapat timbul gejala-gejala inkarserasi
pada bulan ketiga atau keempat. ( 3 )
Apabila uterus yang makin lama makin membesar tetap di dalam panggul maka
pada suatu waktu timbul gejala-gejala inkarserasi dalam kehamilan 16 minggu, dan
kehamilan akan berakhir dengan keguguran. Pada umumnya wanita dengan prolaps tidak
mengalami banyak kesulitan dalam kehamilan dan persalinan. Reposisi tanpa atau dengan
pessarium atau tampon vaginal dan istirahat mengurangi penderitaan wanita dan
kemungkinan uterus bertumbuh secara wajar sampai kehamilan mencapai cukup bulan.
Pimpinan persalinan dilaksanakan secara konservatif, pada umumnya persalinan
kala I dan kala II tidak mengalami kesulitan, yang disusul dengan lahirnya bayi spontan.
Koreksi prolaps dengan cara pembedahan dilakukan secepat-cepatnya 3 bulan setelah bayi
lahir. ( 2,4 )
1

II. ANATOMI DAN FISIOLOGI UTERUS

Gambar Dikutip dari kepustakaan 12

Uterus merupakan suatu organ muskular berbentuk seperti buah pir, dilapisi
peritoneum (serosa). Selama kehamilan berfungsi sebagai tempat implatansi, retensi dan
nutrisi konseptus. Pada saat persalinan dengan adanya kontraksi dinding uterus dan

pembukaan serviks uterus, isi konsepsi dikeluarkan. Terdiri dari corpus, fundus, cornu,
isthmus dan serviks uteri. ( 5 )
Serviks uteri
Bagian terbawah uterus, terdiri dari pars vaginalis (berbatasan / menembus dinding
dalam vagina) dan pars supravaginalis. Terdiri dari 3 komponen utama: otot polos, jalinan
jaringan ikat (kolagen dan glikosamin) dan elastin. Bagian luar di dalam rongga vagina
yaitu portio cervicis uteri (dinding) dengan lubang ostium uteri externum (luar, arah
vagina) dilapisi epitel skuamokolumnar mukosa serviks, dan ostium uteri internum (dalam,
arah cavum). Sebelum melahirkan (nullipara/primigravida) lubang ostium externum bulat
kecil, setelah pernah/riwayat melahirkan (primipara/ multigravida) berbentuk garis
melintang. Posisi serviks mengarah ke kaudal-posterior, setinggi spina ischiadica. Kelenjar
mukosa serviks menghasilkan lendir getah serviks yang mengandung glikoprotein kaya
karbohidrat (musin) dan larutan berbagai garam, peptida dan air. Ketebalan mukosa dan
viskositas lendir serviks dipengaruhi siklus haid. ( 5 )
Corpus uteri
Terdiri dari : paling luar lapisan serosa/peritoneum yang melekat pada ligamentum
latum uteri di intraabdomen, tengah lapisan muskular/miometrium berupa otot polos tiga
lapis (dari luar ke dalam arah serabut otot longitudinal, anyaman dan sirkular), serta dalam
lapisan endometrium yang melapisi dinding cavum uteri, menebal dan runtuh sesuai siklus
haid akibat pengaruh hormon-hormon ovarium. Posisi corpus intraabdomen mendatar
dengan fleksi ke anterior, fundus uteri berada di atas vesika urinaria. Proporsi ukuran
korpus terhadap isthmus dan serviks uterus bervariasi selama pertumbuhan dan
perkembangan wanita ( 5 )
Vaskularisasi uterus
Terutama dari arteri uterina cabang arteri hypogastrica/illiaca interna, serta arteri
ovarica cabang aorta abdominalis. Uterus diberi darah oleh arteri uterina sinistra et dekstra
yang terdiri dari ramus asendens dan ramus desendens. Pembuluh darah ini berasal dari

a.iliaka interna (=a.hipogastrika) yang melalui dasar ligamentum latum, masuk ke dalam
uterus di daerah serviks kira-kira 1,5 cm dari forniks vagina.
Pembuluh darah lain yang memberi pula darah ke uterus adalah arteri ovarika
sinistra et dekstra. Ini berjalan dari lateral dinding pelvis, melalui ligamentum infendibulopelvikum mengikuti tuba fallopi, beranastomosis dengan ramus asendens arteri uterina di
sebelah lateral, kanan dan kiri uterus. Bersama-sama dengan arteri-arteri tersebut di atas
terdapat vena-vena yang kembali melalui pleksus vena ke vena hipogastrika.( 4 )
Fisiologi Uterus
Uterus dengan lapisan lendirnya (endometrium) merupakakan organ akhir proses
siklus

mentruasi,

pertumbuhananya.

dimana
Selama

hormon

estrogen

pertumbuhan

dan

dan

progesteron

perkembangan,

mempengaruhi

folikel

primodia

mengeluarkan hormon estrogen yang mempengruhi endometrium ke dalam proses


proliferasi sejak akhir mentruasi sampai terjadi ovulasi.
Korpus rubrum yang segera menjadi korpus luteum mengeluarkan hormon estrogen
dan progesteron yang makin lama makin tinggi kadarnya. Hormon estrogen dan
progesteron menyebabkan endometrimum pada fase sekresi. Korpus luteum selanjutnya
akan mengalami regresi hingga pengeluaran hormon estrogen dan progesteron makin
berkurang. Akibat pengeluaran estrogen dan progesteron turun, terjadi vasokonstriksi
pembuluh darah darah dan segera diikuti vasodilasi. Situasi demikian menyebabkan
pelepasan lapisan endometrium dalam bentuk serpihan dan perdarahan yang disebut
menstruasi. (6)
III. EPIDEMIOLOGI
Prolapsus uteri merupakan salah satu bagian dari prolapsus genitalis, dimana
frekuensi prolapsus genitalis di beberapa negara berlainan, seperti di laporkan diklinik
dGynecologie et Obstetrique Geneva insidennya 5,7 %, dan pada priode yang sama di
Hamburg 5,4 %. Dilaporkan di mesir, india dan jepang kejadiannya tinggi, sedangkan pada
orang negro amerika, indonesia kurang. Pada suku bantu di afrika selatan jarang sekali
terjadi. Di indonesia prolapsus uteri lebih sering dijumpai pada wanita yang telah
4

melahirkan, wanita tua, dan wanita dengan pekerjaan berat. Djafar siddik pada
penyelidikan selama 2 tahun (1969-1970) memperoleh 63 kasus prolapsus genitalis dari
5.372 kasus ginekologi di rumah sakit Dr.Pirngadi di Medan, terbanyak pada grande
multipara dalam masa menopause, dan 31,74 % pada wanita petani, dari 63 kasus tersebut
69 % berumur 40 tahun. Jarang sekali prolapsus uteri dapat ditemukan pada wanita
nullipara.(4)
IV. ETIOLOGI
Partus yang berulang kali dan terjadi terlampau sering, partus dengan penyulit,
merupakan penyebab prolapsus uteri dan memperburuk prolaps yang sudah ada. Faktorfaktor lain adalah tarikan pada janin pada pembukaan belum lengkap, prasat Crede yang
berlebihan untuk mengeluarkan plasenta dan sebagainya. Jadi tidaklah mengherankan jika
prolapsus uteri terjadi segera setelah partus atau dalam masa nifas. Ascites dan tumortumor didaerah pelvis mempermudah terjadinya hal tersebut. Bila prolapsus uteri dijumpai
pada nullipara, faktor penyebabnya adalah kelainan bawaan berupa kelemahan jaringan
penunjang uterus.(4)
Adapun faktor-faktor lain yang dapat mendasari terjadinya prolapsus uteri adalah :

Kelemahan jaringan ikat pada daerah rongga panggul, terutama jaringan


ikat tranversal.

Pertolongan persalinan yang tak terampil sehingga meneran terjadi pada


saat pembukaan belum lengkap.

Terjadi perlukaan jalan lahir yang dapat menyebabkan lemahnya jaringan


ikat penyangga vagina.

Serta ibu yang banyak anak sehingga jaringan ikat di bawah panggul
kendor.

Menopause juga dapat menyebabkan turunnya rahim karena produksi


hormon estrogen berkurang sehingga elastisitas dari jaringan ikat berkurang
dan otot-otot panggul mengecil yang menyebabkan melemahnya sokongan
pada rahim. ( 7 ,11 )

V. KLASIFIKASI
Turunnya uterus dari tempat yang biasa disebut desensus uteri dan ini dibagi dalam
3 tingkat yaitu :
1. Tingkat I apabila serviks belum keluar dari vulva atau bagian prolapsus masih di
atas introitus vagina.
2. Tingkat II apabila serviks sudah keluar dari vulva, akan tetapi korpus uteri belum
3. Tingkat III apabila korpus uteri atau bagian prolapsus sudah berada diluar vulva
atau introitus vagina. ( 11 )

Gambar dikutip dari kepustakaan 7

Gambar dikutip dari kepustakaan 7

Perkembangan Sistem Klasifikasi Prolaps genitalia

Gambar dikutip dari kepustakaan 11

Klasifikasi berdasarkan The International Continence Society (ICS) / Standarisasi


terminologi dan pembagian prolaps organ panggul meliputi yaitu :

Stage 0

: prolaps tidak ditemukan

Stage I

: bagian distal struktur mengalami prolaps lebih 1 cm atas hymen

Stage II

: bagian distal struktur prolaps berada 1cm atau kurang dari

hymen
Stage III

: bagian distal struktur prolaps berada 1 cm bawah hymen tapi

tidak mengalami protusi > 2 cm dari total panjang vagina

Stage IV

: eversi komplit (seluruh traktus genitalia bawah). ( 11 )

Ilustrasi Posisi Anatomi Titik-Titik Pada Sistem POP-Q

Pada klasifikasi ini berpatokan pada himen, diukur 6 titik, 2 ukuran eksterna dan
panjang total vagina. Struktur diatas himen = (-) cm dan struktur di bawah himen =
(+) cm. ( 11 )
Cara Mudah berpatokan pada Himen

Di atas - 1cm

1 cm sampai +1cm:

Grade II

Di bawah + 1cm :

Grade III

Eversi komplit

Grade I

: Grade IV

Format numerik Pencatatan dari Sistem POP-Q

Diagram Posisi Normal genitalia dan Eversi komplit dari vagina

Diagram defek dinding anterior vagina dan posterior vagina

Mengenai istilah dan klasifikasi prolapsus uteri terdapat perbedaan pendapat antara
ahli ginekologi. Friedman dan Little (1961) mengemukakan beberapa macam klasifikasi
yang dikenal yaitu :
a.Prolapsus uteri tingkat I dimana servik uteri turun sampai introitus vaginae;
Prolapsus uteri tingkat II, dimana servik menonjol keluar dari introitus vaginae ;
Prolapsus uteri tingkat III, seluruh uterus keluar dari vagina; prolapsus ini juga
dinamakan Prosidensia uteri.
b.Prolapsus uteri tingkat I, servik masih berada di dalam vagina ; Prolapsus uteri
tingkat III, servik keluar dari introitus, sedang pada Prosidensia uteri, uterus
seluruhnya keluar dari vagina.

c.Prolapsus uteri tingkat I, servik mencapai introitus vaginae ; Prolapsus uteri tingkat
II , uterus keluar dari introitus kurang dari bagian ; Prolapsus uteri tingkat III,
uterus keluar dari introitus lebih besar dari bagian.
d.Prolapsus uteri tingkat I, servik mendekati prosessus spinosus; Prolapsus uteri
tingkat II, servik terdapat antara Proc. Spinosus dan introitus vaginae ; Prolapsus
uteri tingkat III , servik keluar dari introitus.
e.Klasifikasi ini sama dengan klasifikasi d, ditambah dengan Prolapsus uteri tingkat
IV (Prosidensia Uteri atau Prolaps berat, dimana vagina dan uterus keluar
seluruhnya). ( 6 )

Prosidensia uteri
Gambar dikutip dari kepustakaan 5

VI. PATOLOGI
Sebagaimana telah dijelaskan diatas bahwa Prolapsus uteri terdapat dalam berbagai
tingkat, dari yang paling ringan sampai Prolapsus uteri totalis. Terutama akibat persalinan,
khususnya persalinan pervaginam yang susah dan terdapatnya kelemahan-kelemahan
ligamen yang tergolong dalam fasia endopelvik dan otot-otot serta fasia-fasia dasar
panggul. Juga dalam keadaan tekanan intraabdominal yang meningkat dan kronik akan
memudahkan penurunan uterus, terutama apabila tonus otot-otot mengurang seperti pada
penderita dalam menopouse.

10

Servik uteri teletak diluar vagina, akan tergeser oleh pakaian wanita tersebut. Dan
lambat laun menimbulkan ulkus yang dinamakan ulkus dekubitus. Jika fasia dibagian
depan dinding vagina kendor biasanya trauma obstetric, ia akan terdorong oleh kandung
kencing sehingga menyebabkan penonjolan dinding depan vagina kebelakang yang
dinamakan sistokel. Sistokel yang pada mulanya hanya ringan saja, dapat menjadi besar
karena persalinan berikutnya, yang kurang lancar, atau yang diselesaikan dalam penurunan
dan menyebabkan urethrokel. Urethrokel harus dibedakan dari divertikulum urethra. Pada
divertikulum keadaan urethra dan kandung kencing normal hanya dibelakang urethra ada
lubang, yang membuat kantong antara urethra dan vagina.
Kekendoran fasia dibagian belakang dinding vagina oleh trauma obstetrik atau
sebab-sebab lain dapat menyebabkan turunnya rektum kedepan dan menyebabkan dinding
belakang vagina menonjol kelumen vagina yang dinamakan retrokel. Enterokel adalah
hernia dari kavum Douglasi. Dinding vagina tas bagian belakang turun dan menonjol
kedepan. Kantong hernia ini dapat berisi usus atau omentum.( 6,7,8 )
Prolapsus organ genitalis juga dapat disebabkan oleh kelemahan otot-otot penyangga
organ genital yaitu :
Fascia endopelvik
Otot-otot dasar pangul (diafragma pelvis)
Otot-otot diafragma urogenitalia
Perineal body dan sfingter ani
Diaphragma pelvis
Diaphragma pelvis dibentuk oleh m.levator ani dan m.coccygeus serta fascia pelvis
lamina parietalis, yang membungkus kedua otot-tersebut. Muskulus levator ani merupakan
otot yang kuat dan tebal, terletak hampir horizontal. Di antara otot yang kiri dan kanan
terdapat vagina pada wanita, uretra serta rectum pada pria dan wanita. Ketiga organ
tersebut mendapat dukungan dari serabut-serabut m.levator ani, sementara m.levator ani di
bagi menjadi tiga bagian, yakni m.pubococcigeus, m.puborectalis dan m.ileococcygeus.

11

Diaphragma pelvis berfungsi membantu fiksasi viscera pelvis dan menahan tekanan
intra abdominal yang semakin meningkat. Bersama-sama dengan kontraksi otot-otot
dinding ventral abdomen meningkatkan tekanan intra abdominal, misalnya pada defekasi.

13 )

Diaphragma urogenital
Diaphragma urogenital dibentuk oleh m.transversus perinei profundus dan m.sphincter
urethrae. Diaphragma urogenital terdapat di dalam spatium perinei profundum. Letaknya
hampir horizontal pada posisi orang berdiri tegak. Dilalui oleh urethra kira-kira 2,5 cm di
sebelah dorsal symphysis osseum pubis. Fascia yang menutupi diaphragma urogenital
merupakan lanjutan dari pars anterior fascia diaphragmatis pelkvis inferior. ( 13 )

Gambar Dikutip dari kepustakaan 9

Perineum
Perineum merupakan suatu daerah yang sesuai dengan apertura pelvis inferior,
berbentuk belah ketupat, dibatasi oleh arcus pubicum, tuber ischiadicum dan ujung os
coccygeus, berada di sebelah kaudalis dari diaphragma pelvis.( 13 )
Ligamentum penyangga uterus
1. Ligamentum Kardinale Sinistrum et dekstrum (Mackenrodt) yakni ligamentum
yang terpenting, mencegah supaya uterus tidak turun, terdiri atas jaringan ikat tebal,
12

dan berjalan dari serviks dan puncak vagina ke arah lateral dinding pelvis. Di
dalamnya ditemukan banyak pembuluh darah antara lain arteri dan vena uterina.
2. Ligamentum Sacro-uterinum sinistrum et dekstrum, yakni ligamentum yang
menahan uterus supaya tidak banyak bergerak, berjalan dari serviks bagian
belakang, kiri dan kanan, ke arah os sakrum kiri dan kanan.
3. Ligamentum Rotundum sinistrum et dekstrum, yakni ligamentum yang menahan
uterus dalam antefleksi dan berjalan dari sudut fundus uteri kiri dan kanan, ke
daerah inguinal kiri dan kanan. Pada kehamilan kadang-kadang terasa sakit
didaerah inguinal waktu berdiri cepat karena uterus berkontraksi kuat, dan
ligamentum rotundum menjadi kencang serta mengadakan tarikan pada daerah
inguinal. Pada persalinan ia pun teraba kencang dan teraa sakit bila dipegang.
4. Ligamentum latum sinistrum et dekstrum, yakni ligamentum yang meliputi tuba,
berjalan dari uterus ke arah sisi, tidak banyak mengandung jaringan ikat.
Sebenarnya ligamentum ini adalah bagian dari peritoneum viseral yang meliputi
uterus dan kedua tuba dan berbentuk seperti lipatan. Di bagian dorsal ligamentum
ini ditemukan indung telur (ovarium sinistrum et dekstrum). Untuk menfiksasi
uterus, ligamentum latum ini tidak banyak artinya.
5. Ligamentum Infundibulo-pelvikum, yakni ligamentum yang menahan tuba fallopi
berjalan dari arah infundibulum ke dinding pelvis. Di dalamnya ditemukan urat-urat
saraf, saluran-saluran limfe, arteri dan vena ovarika.
Disamping ligamenta tersebut diatas ditemukan pada sudut kiri dan kanan belakang
fundus uteri ligamentum ovarii proprium kiri dan kanan yang menahan ovarium.
Ligamenta ovarii ini embriologis berasal dari gubernakulum.; jadi sebenarnya asalnya
seperti ligamentum rotundum yang juga embriologis berasal dari gubernakulum. ( 4 )

13

Gambar dikutip dari kepustakaan 12

VII. GEJALA KLINIK


Sangat individual dan berbeda-beda, kadang-kadang prolapsus uterinya cukup berat
tapi keluhannya (-) dan sebaliknya. Prolapsus uteri dapat mendadak seperti nyeri, muntah,
kolaps dll (jarang). Keluhan-keluhannnya adalah :
Terasa ada yang mengganjal/menonjol digenitalia eksterna (vagina atau perasaan berat
pada perut bagian bawah).
Riwayat nyeri dipinggang dan panggul yang berkurang atau hilang dengan berbaring.
Timbulnya gejala-gejala dari : Sitokel : Pipis sedikit-sedikit dan sering, tak puas dan
stress inkontinensia (tak dapat menahan BAK) karena dinding belakang uretra tertarik,
sehingga fungsi sfincter terganggu. Rektokel : terjadi gangguan defikasi seperti obstipasi,
karena faeces berkumpul di rongga rektokel. Koitus terganggu, juga berjalan dan bekerja.
Leukorea, karena bendungan/kongesti daerah serviks. Luka lecet pada portio karena
geseran celana dalam. Enterokel, menyebabkan rasa berat dan penuh pada daerah panggul.
Servisitis dapat menyebabkan infertility. Menoragia karena bendungan. ( 2, 7 )
VIII. FAKTOR RESIKO
Faktor tertentu dapat meningkatkan resiko terjadinya prolapsus uteri yaitu :
Satu atau lebih kehamilan dan kelahiran pervaginam.
Melahirkan bayi yang besar
Usia yang semakin bertambah
Sering mengankat sesuatu yang berat
Dan beberapa kondisi-kondisi lainnya seperti Obesitas, konstipasi kronik, dan
penyakit-penyakit paru obstruktif kronik serta tumor panggul meskipun ini jarang
terjadi. ( 1 )

14

IX. DIAGNOSIS
Mendiagnosis prolaps uteri dapat dilakukan melalui pemeriksaan fisis dan riwayat
medis yang menyeluruh. Pemeriksa akan mengambil ukuran posisi uterus saat pemeriksaan
fisis untuk menentukan derajat keparahan prolapsus yang berlaku. ( 7 )
Penderita pada posisi jongkok disuruh mengejan dan ditemukan dengan
pemeriksaan jari, apakah portio pada posisi normal atau portio sampai introitus vagina atau
apakah servik uteri sudah keluar dari vagina. Selanjutnya dengan penderita berbaring pada
posisi litotomi, ditentukan pula panjangnya servik uteri. Servik uteri yang lebih panjang
dari biasanyadinamakan Elongasio koli. ( 4 )
Prolaps uteri biasanya dibagi menjadi skala 0 hingga 4 dimana 0 itu menunjukkan
tidak berlaku prolaps dan derajat 4 adalah prolapsus yang paling parah (hingga uterus
menonjol keluar dari vagina) derajat 4 biasanya disebut juga prosidensia uteri. Prolapsus
uteri stadium II atau lebih biasanya disertai dengan gejala yang dapat menganggu kualitas
hidup.
Pemeriksaan diagnostik dapat mencakup pemeriksaan panggul, Pap smear,
urinalisis, USG atau CT panggul, biopsi endometrial, dan IVP. Kebanyakan pemeriksaan
ini dapat menyingkirkan kemungkinan adanya kelainan-kelainan lain. ( 7 )

X. PENCEGAHAN
Pemendekan waktu persalinan terutama bila kala pengeluaran dan kalau perlu
dilakukan elektif (umpamanya foceps dengan kepala sudah didasar panggul), membuat
episiotomi, memperbaiki dan mereparasi luka atau kerusakan jalan lahir dengan baik,
memimpin persalinan dengan baik agar dihindarkan penderita meneran sebelum
pembukaan lengkap betul, menghindari paksaan dalam mengeluarkan plasenta (perasat
Crede), mengawasi involusi uterus pasca persalinan tetap baik dan cepat. Menghindari
benda-benda yang berat. Dan juga menganjurkan agar penderita jangan terlalu banyak
punya anak atau sering melahirkan.(4)

15

Disini terdapat beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mengurangi resiko
terjadinya prolapsus uteri atau membantu untuk mencegah prolapsus uteri yang ringan
menjadi lebih parah :
Mempertahankan berat badan yang ideal, jika anda mempunyai berat badan
berlebih yang cukup signifikan, cobalah untuk menurunkannya. Hal ini akan
menghilangkan tekanan dari daerah pelvik anda.

Salah satu dari cara yang paling efektif yang dapat anda lakukan untuk
menurunkan resiko terjadinya prolapsus yaitu melatih otot-otot dasar panggul
anda. Lakukan latihan otot dasar panggul yang rutin (biasa disebut latihan
Kegel). Karena kehamilan dan persalinan dapat melemahkan otot dasar panggul
dan jaringan ikat. Untuk melakukan latihan ini, kontraksikan otot pelvis seolaholah sedang menahan kencing. Lakukan latihan ini beberapa kali dalam sehari.

Kontrol batuk anda. obati batuk kronik atau bronkitis anda, dan jangan
merokok.

Terapi estrogen atau Hormon Replacement Therapy (HRT). Jika anda adalah
wanita menopause atau post menopause, beberapa pelayanan kesehatan dapat
menyarankan anda melakukan terapi hormon pengganti untuk menjaga
terjadinya prolapsus ulang atau mencegah agar prolapsusnya tidak bertambah
parah. Tetapi itu hanya sebagian kecil fakta-fakta untuk mendukung pernyataan
bahwa HRT dapat mencegah prolapsus.( 1,7 )

XI. PENATALAKSANAAN
A. Konservatif
Pengobatan cara ini tidak seberapa memuaskan tetapi cukup membantu. Cara ini
dilakukan pada prolapsus ringan tanpa keluhan, atau penderita masih ingin mendapat
anak lagi, atau penderita menolak untuk operasi atau kondisinya tidak memungkinkan
untuk dioperasi. ( 6 )
1) Latihan-latihan otot dasar panggul

16

Latihan ini sangat berguna pada prolapsus enteng, terutama yang terjadi
pada pasca persalinan yang belum lewat 6 bulan. Tujuannya untuk menguatkan
otot-otot dasar panggul dan otot-otot yang mempengaruhi miksi. Latihan ini
dilakukan selama beberapa bulan. Caranya ialah penderita disuruh menguncupkan
anus dan jaringan dan jaringan dasar panggul seperti biasanya setelah selesai
berhajat, atau penderita disuruh membayangkan seolah-olah sedang mengeluarkan
air kencing dan tiba-tiba menghentikannya. Latihan ini bisa menjadi lebih efektif
dengan menggunakan perineometer menurut Kegel. Alat ini terdiri atas obturator
yang dimasukkan ke dalam vagina, dan yang dengan suatu pipa dihubungkan
dengan suatu manometer. Dengan demikian, kontraksi otot-otot dasar panggul
dapat diukur.
2) Stimulasi otot-otot dengan alat listrik
Kontraksi otot-otot dasar panggul dapat pula ditimbulkan dengan alat listrik,
elektrodenya dapat dipasang dalam pessarium yang dimasukkan dalam vagina.
3) Pengobatan dengan pessarium
Pengobatan dengan pessarium sebetulnya hanya bersifat paliatif, yakni
menahan uterus di tempatnya selama dipakai. Oleh karena jika pessarium diangkat,
timbul prolapsus lagi. Prinsip pemakaian pessarium adalah bahwa alat tersebut
mengadakan tekanan pada dinding vagina bagian atas, sehingga bagian dari vagina
tersebut beserta uterus tidak dapat turun dan melewati vagina bagian bawah. ( 6 )
Sebuah pesarium selalu berbentuk cincin kecil, alat tersebut dimasukkan ke
dalam vagina untuk membantu mempertahankan uterus dalam suatu posisi yang
normal. Bagaimanapun pendekatan ini dapat memberi hasil yang tidak
diinginkan.Hal ini dapat mengganggu dalam berhubungan sex dan juga dapat
menyebabkan iritasi serta cairan yang berbau kurang enak dan bahkan dapat
menyebabkan peradangan atau infeksi. (4)
Tipe Pesarium

17

Gambar dikutip dari kepustakaan 7

Keterangan gambar
A. Smith (silicone, folding)
B. Hodge without support (silicone. folding)
C. Hodge with support (silicone, folding)
D. Gehrung with support (silicone, folding)
E. Risser (silicone, folding)
F. Ring with support (slllcone, folding)
G. Ring without support (slllcone, folding)
H. Cube (silicone, flexible)
I. Tandem-Cube (silicone, flexible)
J. Rigid Gellhom (acrylic, multiple drain)
K. 95% Rigid Gellhom (silicone, multiple drain)
L. Flexible Gellhom (silicone, multiple drain)
M. Ring incontinence (silicone)
N. Shaatz (silicone. folding)
O. Incontinence dish (silicone, folding)
P. Inflate Ball (latex)
Q. Donut (silicone)

18

Gambar di kutip dari kepustakaan 7

memasukkan, mengeluarkan, dan membersihkan pessarium mengenai kapan


seharusnya pesarium dilepaskan bisa antara sekali seminggu hingga sekali setiap 3
bulan atau lebih. Di USA, wanita dianjurkan untuk mengeluarkan, membersihkan dan
memasang kembali pesarium mereka sendiri dengan reguler. Di UK, pelayanan standar
menyarankan pula agar pesarium dipasangkan dan dilepaskan oleh tenaga kesehatan
setiap 3-6 bulan.
Setelah anda menemukan ukuran yang cocok , anda akan disuruh mencobanya
dahulu selama sebulan atau dua bulan sebelum kembali untuk kontrol follow-up. Jika
anda mempunyai kerisauan atau kesulitan selama jangka waktu ini, hubungi petugas
kesehatan anda untuk menetapkan tanggal kontrol follow-up yang lebih awal. Jika
pesarium anda tidak berfungsi atau menimbulkan masalah, anda dapat mencoba
pesarium lain ataupun mencoba metode lain yang berbeda.
Jika pesarium yang digunakan menghilangkan gejala anda dan anda tidak
merasakan adanya kesulitan dengan pemakaianya, anda akan diberikan jadwal untuk
kontrol setiap 3-6 bulan. Pada setiap follow up anda petugas kesehatan akan melepaskan
pesarium anda, memeriksa apakah terdapat masalah di dalam, serta keadaan prolapsus
anda, dan akan memasangkan pesarium baru. Kontrol follow up juga penting untuk
anda membicarakan dengan tenaga kesehatan anda menenai masalah-masalah yang
dialami serta perubahan-perubahan yang dirasakan.( 7 )
B. Fisioterapi
19

Jika prolapsus anda bersifat ringan sampai sedang, anda dapat dirujuk kepada pakar
fisioterapi unutuk penanganannya. Fisioterapist itu dapat membantu anda merencanakan
jadwal individual yang melibatkan senam otot dasar panggul. Senam ini, yang di sebut
senam Kegel, dapat mencegah prolapsus bertambah parah dan dapat mengurangi rasa
nyeri punggung, nyeri panggul dan inkontinensia urin. Namun ia memerlukannya
sebelum perubahanya dirasakan.
C. Hormone replacement therapy (HRT)
Wanita menopaus yang mengalami prolapsus uteri dapat mendapat manfaat dari
Terapi Penggantian Hormon (TPH). TPH dapat membantu menguatkan dinding vagian
dan otot dasar panggul dengan meningkatkan konsentrasi estorgen dan kolagen dalam
darah; tetapi tidak banyak bukti yang menyatakan apakah ia efektif atau tidak dalam
menangani prolapsus uteri. ( 7 )
D. Operatif
Penanganan bedah mungkin diperlukan apabila prolapsus itu menyebabkan
gejala yang bermakna. Beberapa metode tersedia dan pilihan yang mana akan
bergantung kepada beberapa variabel dan kehadiran keadaan lain yang bisa
mengancam. Kebanyakan tujuan dari penanganan bedah pada prolaps adalah untuk
mengangkat keatas organ prolaps itu kembali ke posisi asalnya. Prosedur ini dijalankan
bagi wanoita yang masih ingin hamil. Histerektomi adalah satu-datunya tindakan yang
sama sekali membuang organ yang prolaps itu. Bagi wanita yang telah mempunyai
anak, atau yang tidak mau hamil lagi, maka histrerektomi pervaginum adalah pilihan
yang sesuai untuk penanganan. Pilihan operasi tergantung kepada jenis prolaps yang
dialami pasien, umur, keinginan mempunyai anak lagi atau tidak, keaktifan seksual,
ketrampilan operator dan juga pendapat pasien.
Terdapat dua cara penanganan operatif dalam memnangani prolaps uteri:
pembuangan uterus (histerektomi) ataupun pengangkatan uterus sebelum diikat supaya
tidak jatuh (suspensi). ( 7 )

20

1.

Histerektomi : ini merupakan tindakan yang paling efektif dalam penanganan


prolaps uteri.namun begitu, ia masih bisa tidak menghilangkan kesemua gejala
yang dialami serta dapat menyebabkan timbulnya masalah kesehatan yang lain.
Histerektomi bagi prolapsus uteri biasanya dilakukan menelusuri vagina, tetapi jika
uterus itu terlalu besar, ia mungkin harus dilakukan lewat abdomen. Prosedur itu
dilakukan dengan anestesi umum dan melibatkan pemotongan ligamentum yang
memegang uterus pada tempatnya, membuang uterus, memotong puncak vagina,
dan kemudianya memendekkan dan menyambung ligamen-ligamen yang akan
menyokong vagina. Histerektomi adalah operasi yang besar dan setelah
melaksanakan operasi ini, wanita mempunyai resiko untuk mempunyai prolaps
jenis lain seperti prolaps kavum vaginalis. Beberapa perempuan akan merasakan
sensasi yang kurang saat orgasmus ataupun merasa sulit mencapai orgasmus sama
sekali. Ini mungkin disebabkan oleh kerusakan saraf akibat operasi itu. Wanita yang
masih belum menopaus akan mengalami tidak haid lagi dan akan tidak berupaya
untuk hamil. Jika ovari wanita itu juga dikeluarkan saat operasi, maka perempuan
itu akan mendapat menopaus. Ada perrempuan yang akan merasakan perasaan
kehilangan setelah dikeluarkan uterus.

2. Suspensi uterus : penanganan yang menggantung (suspend) uterus dan tidak


membuangnya direkomendaiskan bagi mereka yang masih mahu mempunyai anak
dan menyimopan uterus mereka. Prosedur operasi ini dapat dilakukan lewat vagina
ataupun lewat abdomen. Terdapat beberapa bukti yang menyatakan bahwa prosedur
perabdominak mempunyai hasil yang lebih baik. ( 7 )

21

Gambar dikutip dari kepustakaan 7

3. Sacrohysteropexy : Prosedur ini menggunakan selembar mesh sintetik untuk


memegang uterus pada tempatnya. Prosedur ini dilakukan perabdominal, lewat
insisi 15 cm diatas arkus pubis ataupun secara laparoskopis. Satu ujung dari mesh
itu disambungkan ke bagian atas dari vagina, dan ujung yang satu lagi pula
dicantumkan kepada tulang sakral. Setelah selesai, mesh itu tadi akan menyangga
uterus pada tempatnya. Terdapat beberapa komplikasi yang bersangkutan dengan
penggunaan mesh tersebut; mesh tersebut dapat meluluhkan jaringan sekitarnya
ataupun menyebabkan inflamasi. Pada kasus yang berat, mesh tersebut bisa terpaksa
dibuang. Jika pasien masih menginginkan anak setelah ini, kehamilan dapat merusak
penyambungan mesh tadi dan menyebabkan prolaps kembali berulang. Untuk
menghindari ini sebaiknya pasien dinasihati untuk melahirkan anak per abdominal
daripada per vaginam.
4. Fiksasi sakrospinus : Operasi ini menahan uterus pada tempatnya dengan menjahit
uterus dengan ligamentum sakrospinus. Prosedur ini dilakukan secara vaginum dan
kurang invasif dibandingkan dengan sakrohisteropleksi, tetapi juga mempunyai
angka keberhasilan yang lebih rendah. Komplikasi prosedur ini tidak banyak, namun
begitu tersapat resiko kerusakan terhadap nervus pudendalis dan sciatik yang dapat
menyebabkan nyeri pada kaki, pantat, kelamin dan daerah panggul.
5. Operasi Manchester : Biasa juga disebut operasi Fothergill, namun jarang
dgunakan, tetapi digunakan hanya untuk terapi alternatif pada histerektomi untuk
penatalaksanaan prolapsus uteri. Operasi ini mempunyai tingkat kegagalan tang
tinggi dan banyak wanita membutuhkan operasi tambahan, biasanya pada
histerektomi. ( 7 )
XII. KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat menyertai prolapsus uteri adalah :

22

Keratinisasi mukosa vagina dan portio uteri. Prosidensia uteri disertai dengan
keluarnya dinding vagina (inversio); karena itu mukosa vagina dan serviks uteri
menjadi tebal serta berkerut.

Dekubitus. Jika serviks uteri terus keluar dari vagina, ujungnya bergeser dengan
paha dan pakaian dalam ; hal itu dapat menyebabkan luka dan radang, dan
lambat laun timbul ulkus dekubitus. Dalam keadaan demikian, perlu dipikirkan
kemungkinan karsinoma, lebih-lebih pada penderita berusia lanjut.

Hipertrofi serviks uteri dan elongasio kolli. Jika serviks uteri turun ke dalam
vagina sedangkan jaringan penahan dan penyokong uterus masih kuat, maka
karena tarikan ke bawah di bagian uterus yang turun serta pembendungan
pembuluh darah, serviks uteri mengalami hipertrofi dan menjadi panjang pula.
Hal yang terakhir ini disebut elongasio kolli. Hipertrofi ditentukan dengan
periksa lihat dan periksa raba. Pada elongasio kolli serviks uteri pada periksa
raba lebih panjang dari biasa.

Gangguan miksi dan stress inkontinensia. Pada sistokel berat, miksi kadangkadang terhalang, sehingga kandung kencing tidak dapat dikosongkan
sepenuhnya. Turunnya uterus bisa juga menyempitkan ureter, sehingga bisa
menyebabkan hidroureter dan hidronefrosis.

Infeksi jalan kencing. Adanya retensi air kencing mudah menimbulkan infeksi.
Sistitis yang terjadi dapat meluas ke atas dan dapat menyebabkan pielitis dan
pielonefritis. Akhirnya itu dapat menyebabkan gagal ginjal.

Kemandulan. Karena serviks uteri turun sampai dekat introitus vagina atau sama
sekali keluar dari vagina, tidak mudah terjadi kehamilan.

Kesulitan pada waktu partus. Jika wanita dengan prolapsus uteri hamil, maka
pada waktu persalinan dapat timbul kesulitan di kala pembukaan, sehingga
kemajuan persalinan terhalang. ( 6 )

XII. PROGNOSIS

23

Sebagian besar wanita dengan prolapsus uteri ringan tidak mengalami


gejala dan dan tidak butuh pengobatan. Pessarium vagina dapat sangat efektif untuk
banyak wanita dengan prolapsus uteri.tindakan operasi selalu memberikan hasil yang
memuaskan, meskipun beberapa wanita mungkin membutuhkan pengobatan lagi di
masa akan datang untuk prolapsus dinding vagina yang berulang. ( 1 )

24

25