Vous êtes sur la page 1sur 20

BAGIAN OFTALMOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HALU OLEO

REFERAT
OKTOBER 2015

AMBLIOPIA

OLEH
SUL FADHILAH HAMZAH
K1A1 10 017
PEMBIMBING
dr. STELLA LENGKONG, Sp. M

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN OFTALMOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2015
AMBLIOPIA
Sul Fadhilah Hamzah, Stella Lengkong

I.

PENDAHULUAN
Ambliopia berasal dari bahasa Yunani, yang berarti penglihatan yang tumpul
atau pudar (amblus = pudar, ops = mata). Ambilopia adalah berkurangnya visus
atau tajam penglihatan unilateral atau bilateral walaupun sudah dengan koreksi
terbaik tanpa ditemukannya kelainan struktur pada mata atau lintasan visual
bagian belakang1. Pengalaman visual abnormal berkepanjangan yang dialami oleh
seorang anak berusia kurang dari 7 tahun dapat menyebabkan ambliopia 2.
Klasifikasi ambliopia dibagi ke dalam beberapa kategori dengan nama yang sesuai
dengan penyebabnya yaitu ambliopia strabismik, fiksasi eksentrik, ambliopia
anisometropik, ambliopia isometropia dan ambliopia deprivasi3
Ambliopia, dikenal juga dengan istilah mata malas (lazy eye), merupakan
suatu permasalahan dalam penglihatan yang memang hanya mengenai 2-3%
populasi, tapi bila dibiarkan akan sangat merugikan nantinya bagi kehidupan
penderita. Ambliopia tidak dapat sembuh dengan sendirinya. Ambliopia yang
tidak diterapi dapat menyebabkan gangguan penglihatan permanen oleh karena itu
ambliopia harus ditatalaksana secepat mungkin4
Hampir seluruh kasus ambliopia itu dapat dicegah dan bersifat reversibel
dengan deteksi dini dan intervensi yang tepat4,5. Umumnya penatalaksanaan
ambliopia dilakukan dengan menghilangkan penyulit, mengoreksi kelainan
refraksi dan memaksakan penggunaan mata yang lebih lemah dengan membatasi
penggunaan mata yang lebih baik. Anak dengan ambliopia atau yang beresiko
ambliopia hendaknya dapat diidentifikasi pada umur dini, dimana prognosis
keberhasilan terapi akan lebih baik. Prognosis juga ditentukan oleh jenis

II.

ambliopia dan saat dimulainya terapi3.


TAHAP PERKEMBANGAN PENGLIHATAN 1
A. Perkembangan Penglihatan Monokular

Pada saat lahir, tajam penglihatan berkisar antara gerakan tangan


sampai hitung jari. Hal ini karena pusat penglihatan di otak yang meliputi
nukleus genikulatum lateral dan korteks striata belum matang. Setelah umur
4-6 minggu, fiksasi bintik kuning atau fovea sentral timbul dengan pursuit
halus yang akurat. Pada umur 6 bulan respon terhadap stimulus optokinetik
timbul. Perkembangan penglihatan yang cepat terjadi pada 2-3 bulan pertama
yang dikenal sebagai periode kritis perkembangan penglihatan.
B. Perkembangan Penglihatan Binokular
Perkembangan penglihatan binokular terjadi bersamaan dengan
meningkatnya penglihatan monocular. Kedua saraf dari mata kanan dan kiri
akan bergabung memberikan penglihatan binokular (penglihatan tunggal dua
mata). Di korteks striata jalur aferen kanan dan kiri berhubungan dengan selsel korteks monocular yang berekasi terhadap rangasangan hanya satu mata.
Kira-kira 70% sel-sel di korteks striata adalah sel-sel binokular. Sel-sel
tersebut berhubungan dengan saraf di otak yang menghasilkan penglihatan
tunggal binokular dan stereopsis (penglihatan tiga dimensi). Fusi penglihatan
binokular berkembang pada usia 1,5 hingga 2 bulan, sementara stereopsis
berkembang kemudia pada usia 3 hingga 6 bulan.
C. Penglihatan Binokular Tunggal dan Stereopsis
Penglihatan binokular normal adalah proses penyatuan bayangan do
retina dari dua mata ke dalam persepsi penglihatan tunggal tiga dimensi.
Syarat penglihatan binokular tunggal adalah memiliki sumbu mata jatuh pada
titik di retina yang sefaal, yang akan diteruskan ke sel-sel binokular korteks
yang sama.2
Obyek di depan atau belakang horopter akan merangsang titik retina
nonkorespondensi. Titik di belakang horopter empiris merangsang retina

binasal, dan titik di depan horopter merangsang retina bitemporal. Ada daerah
yang terbatas di depan dan di belakang garis horopter tempat obyek
merangsang titik-titik retina non korespondensi sehingga masih dapat terjadi
fusi menjadi bayangan binokular tunggal. Area ini disebut area panum. Obyek
dalam area ini akan menghasilkan penglihatan binokular tunggal dengan
penglihatan stereopsis atau tiga dimensi. Fovea atau bintik kuning
mempunyai resolusi atau daya pisah ruang yang tinggi, sehingga perpindahan
kecil pada garis horopter pada lapang pandang sentral dapat terdeteksi,
menghasilkan stereopsis derajat tinggi.
D. Adaptasi Sensoris pada Gangguan Rangsangan Penglihatan
Hal ini terjadi karena keduamata kita terpisah dan masing-masing mata
mempunyai perbedaan penglihatan menyesuaikan dengan kekacauan
bayangan retina yang tidak sama dengan menghambat aktivitas korteks dari
satu mata. Hambatan korteks ini biasanya melibatkan bagian sentral lapag
pandang dan disebut supresi kortikal. Bayangan yang jatuh dalam lapang
supresi kortikal tidak akan dirasakan di area ini disebut skotoma supresi.
Supresi tergantung pada adanya penglihatan binokular, dengan satu mata
berfiksasi, sedang mata satunya supresi. Ketika mata fiksasi ditutup, skotoma
supresi hilang. Supresi korteks mengganggu perkembangan sel-sel kortikal
bilateral dan akan menghasilkan penglihatan binokular abnormal tapa
stereopsis atau stereopsis yang buruk. Jika supresi bergantian antara kedua
mata, tajam penglihatan akan berkembang sama meskipun terpisah tanpa
fungsi binokular normal sehingga terjadi penglihatan bergantian atau
alternating. Supresi terus menerus terhadap aktivitas korteks pada satu mata

akan mengakibatkan gangguan perkembangan penglihatan binokularitas dan


III.

tajam penglihatan buruk.


DEFINISI
Ambliopia adalah penurunan ketajaman penglihatan pada satu mata (yang
tidak dapat dikoreksi dengan lensa) tanpa adanya penyakit organic. Penyakit mata
organic mungkin ada, tetapi tidak cukup untuk menjelaskan tingkat penglihatan 2.
Ambliopia adalah penurunan ketajaman penglihatan, walaupun sudah diberi
koreksi yang terbaik, dapat unilateral atau bilateral (jarang) yang tidak dapat
dihubungkan langsung dengan kelainan strukturl mata maupun jaras penglihatan
posterior3.

IV.

EPIDEMIOLOGI
Prevalensi ambliopia di Amerika Serikat sulit untuk ditaksir dan berbeda
pada tiap literature, berkisar 1-3,5% pada anak yang sehat sampai 4-5,3% pada
anak dengan problema mata. Hampir seluruh data mengatakan sekitar 2% dari
keseluruhan populasi menderita ambliopia.4
Jenis kelamin dan ras tampaknya tidak ada perbedaan. Usia terjadinya
ambliopia yaitu pada periode kritis dan perkembangn mata. Resiko meningkat
pada anak yang perkembangannya terlambat, premature dan/atau dijumpai adanya

V.

riwayat keluarga ambliopia5.


PATOFISIOLOGI
Dalam studi eksperimental pada binatang serta studi klinis pada bayi dan
balita, mendukung konsep adanya suatu periode kritis penglihatan yang peka
dalam berkembangnya keadaan ambliopia. Periode kritis ini sesuai dengan
perkembangan sistem penglihatan anak yang peka terhadap masukan abnormal

yang diakibatkan ransangan deprivasi, strabismus atau kelainan refraksi yang


signifikan3. Periode kritis tersebut adalah5
1. Perkembangan tajam penglihatan dari 20/200 (6/60) hingga 20/20 (6/6), yaitu
pada saat lahir sampai usia 3-5 tahun
2. Periode yang berisiko (sangat) tinggi untuk terjadinya ambliopia deprivasi,
yaitu di usia beberapa bulan hingga usia 7-8 tahun
3. Periode dimana kesembuhan ambliopia masih dapat dicapai, yaitu sejak
terjadinya deprivasi samapai usia remaja atau bahkan terkadang usia dewasa

VI.

KLASIFIKASI
Ambliopia

dibagi

kedalam

beberapa

bagian

sesuai

dengan

gangguan/kelainan yang menjadi penyebabnya5,6


A. Ambliopia strabismik
Ambliopia yang paling sering ditemui ini terjadi pada mata yang
berdeviasi konstan. Tropia yang tidak bergantian (nonalternating, khususnya
esodeviasi) sering menyebabkan ambliopia yang signifikan3

Gambar 1. Deviasi strabismus


Ambliopia strabismik diduga disebabkan karena kompetisi atau
terhambatnya interaksi antara neuron yang membawa input yang tidak
menyatu (fusi) dari kedua mata, yang akhirnya akan terjadi dominasi pusat

penglihatan kortikal oleh mata yang berfiksasi dan lama kelamaan terjadi
penurunan respon terhadap input dari mata yang tidak berfiksasi3

Gambar 2. Perbedaan penglihatan mata normal dan ambliopia


B. Ambliopia refraktif
Ambliopia refraktif terjadi akibat gangguan refraksi yang tidak
terkoreksi, baik tinggi tapi setara (isoametropik) maupun tidak setara secara
signifikan (anisometrik)6,.
1. Ambliopia anisometropik
Ambliopia anisometopia terjadi akibat terdapatnya kelainan
refraksi kedua mata yang berbeda jauh7. Terbanyak kedua setelah
ambliopia strabismik adalah ambliopia anisometrik. Terjadi ketika
adanya perbedaan refraksi antara kedua mata yang menyebabkan lama
kelamaan bayangan pada satu retina tidak fokus3
Kondisi ini diperkirakan sebagian akibat efek langsung dari
bayangan kabur pada perkembangan tajam penglihatan pada mata yang
terlibat, dan sebagian lagi akibat kompetisi interokular atau inhibisi yang
serupa (tapi tidak harus identik dengan yang terjadi pada ambliopia
strabismik)3
2. Ambliopia isoametropia
Ambliopia isoametropia adalah bentuk jarang dari ambliopia
disebabkan oleh gangguan refraksi bilateral yang tinggi tapi sama yang
tidak terkoreksi yang menciptakan citra yang kabur pada setiap retina.

Seiring waktu, kekurangan bentuk visual menghambat pengembangan


normal neurofisiologis jalur visual dan korteks visual. Hiperopia lebih
besar dari 5,00 dioptri (D), miopia lebih besar dari 8,00 D, dan
astigmatisme lebih besar dari 2,50 D adalah penyebab umum dari
ambliopia isoametropia6.
Tabel 1. Kelaianan refraktif berpotensi ambliopiogenik
Isometropia
Astigmatism
Hyperopia
Myopia

Diopters
>2,50 D
>5,00 D
>8,00 D

Anisometropia
Astigmatism
Hyperopia
Myopia

>1,50 D
>1,00 D
>3,00 D

C. Ambliopia deprivasi
Bentuk ambliopia ini sedikit kita jumpai namun merupakan yang
paling parah dan sulit diperbaiki3. Katarak congenital yang tersering
menjadi penyebab dari ambliopia deprivasi. Kondisi lain yang dapat
berkembang menjadi katarak deprivasi antara lain katarak traumatic,
corneal opacities, ptosis congenital, hyfema, penggunaan jangka panjang
patch yang tidak terkontrol (terapi oklusi), blefarospasme unilateral yang
berkepanjangan6.
Anak kurang dari 6 tahun, dengan katarak congenital padat/total
yang menempati daerah sentral dengan ukuran 3 mm atau lebih, harus
dianggap dapat menyebabkan ambliopia berat. Kekeruhan lensa yang
sama yang terjadi pada usia >6 tahun lebih tidak berbahaya. Ambliopia
oklusi adalah bentuk ambliopia deprivasi disebabkan karena penggunaan
patch (penutup mata) yang berlebihan3.

VII.

TANDA DAN GEJALA


Terdapat beberapa tanda pada mata dengan ambliopia, seperti7
- Berkurangnya penglihatan satu mata
- Menurunnya tajam penglihatan terutma pada fenomena crowding
- Hilangnya sensivitas kontras
- Mata mudah mengalami fiksasi eksentrik
- Adanya anisokoria
- Tidak mempengaruhi penglihatan warna
- Biasanya daya akomodasi menurun
- ERG dan EEG penderita ambliopia selalu normal yang berarti tidak terdapat
kelainan organic pada retina maupun korteks serebri

Gambar 3. Penglihatan kabur (blur) pada mata ambliopia


VIII.

DIAGNOSA
Ambliopia didiagnosis bila terdapat penurunan tajam penglihatan yang tidak
dapat dijelaskan, dimana hal tersebut ada kaitan dengan riwayat atau kondisi yang
dapat menyebabkan ambliopia3
A. Anamnesis
Biasanya ada beberapa gejala yang berhubungan dengan ambliopia.
Pasien atau orang tua pasien dapat melaporkan penglihatan yang menurun
pada satu atau mungkin kedua mata dan kesulitan melakukan tugas-tugas

yang membutuhkan persepsi binocular yang dalam. Jika ambliopia dikaitkan


dengan strabismus, pasien atau orang tua dapat melaporkan terlihat mata
bergulir turun atau melaporkan diplopia. Pasien dengan ambliopia
isoametropic dapat datang dengan tanda dan gejala yang menunjukkan terkait
penurunan visual6
Sebagai tambahan, penting juga ditanyakan riwayat keluarga yang
menderita strabismus atau kelainan mata lainnya, karena hal tersebut
merupakan predisposisi seorang anak menderita ambliopia5
B. Pemeriksaan
1. Uji Crowding Phenomena
Penderita diminta membaca huruf kartu Snellen sampai huruf
terkecil yang dibuka satu persatu atau yang diisolasi, kemudian isolasi
huruf dibuka dan pasien disuruh melihat sebaris huruf yang sama. Bila
terjadi penurunan tajam penglihatan dari huruf isolasi ke huruf dalam
baris maka ini disebut adanya fenomena crowding pada mata tersebut7

Gambar 4. Uji crowding phenomena

2. Uji density filter netral7


Dasar uji adalah diketahui pada mata yang ambliopia secara
fisiologik berada dalam keadaan beradaptasi gelap, sehingga bila pada
mata ambliopia dilakukan uji penglihatan dengan intensitas sinar yang
direndahkan (memakai filter density) tidak akan terjadi penurunan tajam
penglihatan.
Dilakukan dengan mmemakai filter yang perlahan-lahan di gelakan
sehingga penglihatan pada mata normal turun 50% pada mata ambliopia
fungsional tidak akan atau hanya sedikit menurunkan tajam penglihatan
pada pemeriksaan sebelumnya.
Dibuat terlebih dahulu gabungan filter sehingga tajam penglihatan
pada mata yang normal turun dari 20/20 menjadi 20/40 atau turun 2 baris
pada kartu pemeriksaan gabungan filter tersebut di taruh pada mata di
duga ambliopia.
Bila ambliopia adalah fungsional maka paling banyak tajam
penglihatan berkurang satu baris atau tidak terganggu sama seali. Bila
mata tersebut ambliopia organic maka tajam penglihatan akan sangat
menurun dengan peakaian filter tersebut.
3. Uji Worths Four Dot
Uji

untuk

melihat

penglihatan

binokular,

adanya

fusi,

korespondensi retina abnormal, supresi pada satu mata dan juling. 7


Penderita memakai kaca mata dengan filter merah pada mata kanan dan
filter biru mata kiri dan melihat pada objek 4 titik dimana 1 berwarna
merah, 2 hijau 1 putih. Lampu atau pada titik putih akan terlihat merah

10

oleh mata kanan dan hijau oleh mata kiri. Lampu merah hanya dapat
dilihat oleh ata kanan dan lampu hijau hanya dapat dilihat oleh mata kiri.
Bila fusi baik maka akan terlihat 4 titik dan sedang lampu putih terlihat
sebagai warna capuran hijau dan merah. 4 titik juga akan dilihat oleh
mata juling akan tetapi telah terjadi korespondensi retina yang tidak
normal. Bila dominan atau 3 hijau bila mata kiri yang dominan. Bila
terlihat 5 titik 3 merah dan 2 hijau yang bersilangan berarti maka
IX.

berkedudukan esotropia. 7
PENATALAKSANAAN
Secara teoritis, strategi dasar untuk mengobati ambliopia adalah untuk
memberikan citra retina yang jelas, dan kemudian untuk memperbaiki defisit mata
dominan, sedini mungkin, selama periode plastisitas visual cortex. Metode yang
paling sering digunakan saat ini dalam pengobatan ambliopia, terdiri dari koreksi
refraksi yang diterapkan sendiri atau dalam kombinasi dengan oklusi atau atropin,
yang dikenal sebagai "metode pasif". Terapi oklusi dengan patch dari mata
dominan telah banyak digunakan sebagai pengobatan utama untuk ambliopia8.
Penatalaksanaan ambliopia meliputi langkah langkah berikut :3
1.

Menghilangkan (bila mungkin) semua penghalang penglihatan seperti


katarak.

2.

Koreksi kelainan refraksi.

3.

Paksakan penggunaan mata yang lebih lemah dengan membatasi


penggunaan mata yang lebih baik.

A. Pengangkatan Katarak

11

Katarak yang dapat menyebabkan ambliopia harus segera dioperasi,


tidak perlu ditunda tunda. Pengangkatan katarak kongenital pada usia 2-3
bulan pertama kehidupan, sangat penting dilakukan agar penglihatan kembali
pulih dengan optimal. Pada kasus katarak bilateral, interval operasi pada mata
yang pertama dan kedua sebaiknya tidak lebih dari 1- 2 minggu.
Terbentuknya katarak traumatika berat dan akut pada anak dibawah umur 6
tahun harus diangkat dalam beberapa minggu setelah kejadian trauma, bila
memungkinkan.3 Yang mana katarak traumatika itu sangat bersifat
amblyopiogenik.
Kegagalan dalam menjernihkan media, memperbaiki optikal, dan
penggunaan regular mata yang terluka, akan mengakibatkan ambliopia berat
dalam beberapa bulan, selambat lambatnya pada usia 6 hingga 8 tahun.9
B. Koreksi Refraksi
Bila ambliopia disebabkan kelainan refraksi atau anisometropia, maka
dapat diterapi dengan kacamata atau lensa kontak.4 Ukuran kaca mata untuk
mata ambliopia diberi dengan koreksi penuh dengan penggunaan sikloplegia. 3
Bila dijumpai myopia tinggi unilateral, lensa kontak merupakan pilihan,
karena bila memakai kacamata akan terasa berat dan penampilannya
(estetika) buruk.9 Karena kemampuan mata ambliopia untuk mengatur
akomodasi cenderung menurun, maka ia tidak dapat mengkompensasi
hyperopia yang tidak dikoreksi seperti pada mata anak normal. Koreksi
aphakia pada anak dilakukan segera mungkin untuk menghindarkan
terjadinya deprivasi penglihatan akibat keruhnya lensa menjadi defisit optikal
berat. Ambliopia anisometropik dan ambliopia isometropik akan sangat
membaik walau hanya dengan koreksi kacamata selama beberapa bulan.3

12

C. Oklusi dan Degradasi Optikal


1.
Oklusi Full Time
Pengertian oklusi full-time pada mata yang lebih baik adalah oklusi
untuk semua atau setiap saat kecuali 1 jam waktu terjaga (Occlusion for
all or all but one waking hour). Arti ini sangat penting dalam
penatalaksanaan ambliopia dengan cara penggunaan mata yang rusak.
Biasanya penutup mata yang digunakan adalah penutup adesif (adhesive
patches) yang tersedia secara komersial.3
Penutup (patch) dapat dibiarkan terpasang pada malam hari atau
dibuka sewaktu tidur. Kacamata okluder (spectacle mounted ocluder)
atau lensa kontak opak,atau Annisas Fun Patches dapat juga menjadi
alternatif full-time patching bila terjadi iritasi kulit atau perekat patch-nya
kurang lengket. Full-time patching baru dilaksanakan hanya bila
strabismus konstan menghambat penglihatan binokular, karena full-time
patching mempunyai sedikit resiko, yaitu bingung dalam hal penglihatan
binokular.3
Terdapat suatu aturan bahwa full-time patching diberi selama 1
minggu untuk setiap tahun usia. Misalnya penderita ambliopia pada mata
kanan berusia 3 tahun harus memakai full-time patch selama 3 minggu,
lalu dievaluasi kembali. Hal ini untuk menghindarkan terjadinya
ambliopia pada mata yang baik.6

13

2.

Gambar 5. Patching pada mata yang normal


Oklusi Part-time
Oklusi part-time adalah oklusi selama 1-6 jam per hari yang akan
memberi hasil sama dengan oklusi full-time. Durasi interval buka dan
tutup patch-nya tergantung dari derajat ambliopia.3 Ambliopia Treatment
Studies (ATS) telah membantu dalam penjelasan peranan full-time
patching dibanding part-time. Studi tersebut menunjukkan, pasien usia 37 tahun dengan ambliopia berat (tajam penglihatan antara 20/100 = 6/30
dan 20/400 = 6/120 ), full-time patching memberi efek sama dengan
penutupan selama 6 jam per hari. Dalam studi lain, patching 2 jam/hari
menunjukkan kemajuan tajam penglihatan hampir sama dengan patching
6jam/hari pada ambliopia sedang / moderate (tajam penglihatan lebih
baik dari 20/100) pasien usia 3 7 tahun. Dalam studi ini, patching
dikombinasi dengan aktivitas melihat dekat selama 1 jam/ hari.6
Idealnya, terapi ambliopia diteruskan hingga terjadi fiksasi alternat
atau tajam penglihatan dengan Snellen linear 20/20 (6/6) pada masing
masing mata. Hasil ini tidak selalu dapat dicapai. Sepanjang terapi terus

menunjukkan kemajuan, maka penatalaksanaan harus tetap diteruskan.9


3.
Degradasi Optikal

14

Metode lain untuk penatalaksanaan ambliopia adalah dengan


menurunkan kualitas bayangan (degradasi optikal) pada mata yang lebih
baik hingga menjadi lebih buruk dari mata yang ambliopia, sering juga
disebut penalisasi (penalization). Sikloplegik (biasanya atropine tetes 1%
atau homatropine tetes 5%) diberi satu kali dalam sehari pada mata yang
lebih baik sehingga tidak dapat berakomodasi dan kabur bila melihat
dekat.3
ATS menunjukkan metode ini memberi hasil yang sama efektifnya
dengan patching untuk ambliopia sedang (tajam penglihatan lebih baik
daripada 20/100). ATS tersebut dilakukan pada anak usia 3 7 tahun.
ATS juga memperlihatkan bahwa pemberian atropine pada akhir minggu
(weekend) memberi perbaikan tajam penglihatan sama dengan pemberian
atropine harian yang dilakukan pada kelompok anak usia 3 7 tahun
dengan ambliopia sedang.6 Ada juga studi terbaru yang membandingkan
atropine

dengan

patching

pada

419

orang

anak

usia

3-7

tahun,menunjukkan atropine merupakan pilihan efektif. Sehingga, ahli


mata yang tadinya masih ragu ragu,memilih atropine sebagai pilihan
pertama daripada patching4
Pendekatan ini mempunyai beberapa keuntungan dibanding dengan
oklusi, yaitu tidak mengiritasi kulit dan lebih apik dilihat dari segi
kosmetis. Dengan atropinisasi, anak sulit untuk menggagalkan metode
ini. Evaluasinya juga tidak perlu sesering oklusi.9
Metode pilihan lain yang prinsipnya sama adalah dengan
memberikan lensa positif dengan ukuran tinggi (fogging) atau filter.
Metode ini mencegah terjadinya efek samping farmakologik atropine. 3

15

Keuntungan lain dari metode atropinisasi dan metode non-oklusi pada


pasien dengan mata yang lurus (tidak strabismus) adalah kedua mata
X.

dapat bekerjasama, jadi memungkinkan penglihatan binokular.9


KOMPLIKASI
Semua bentuk penatalaksanaan ambliopia memungkinkan untuk terjadinya
ambliopia pada mata yang baik. Oklusi full-time adalah yang paling beresiko
tinggi dan harus dipantau dengan ketat, terutama pada anak balita. Follow-up
pertama setelah pemberian oklusi dilakukan setelah 1 minggu pada bayi dan 1
minggu per tahun usia pada anak (misalnya : 4 minggu untuk anak usia 4 tahun).
Oklusi part-time dan degradasi optikal, observasinya tidak perlu sesering oklusi
full-time, tapi follow-up reguler tetap penting. Hasil akhir terapi ambliopia
unilateral adalah terbentuknya kembali fiksasi alternat, tajam penglihatan dengan
Snellen linear tidak berbeda lebih dari satu baris antara kedua mata.

Waktu yang diperlukan untuk lamanya terapi tergantung pada hal berikut :3

Derajat ambliopia

Pilihan terapeutik yang digunakan

Kepatuhan pasien terhadap terapi yang dipilih

Usia pasien
Semakin berat ambliopia, dan usia lebih tua membutuhkan penatalaksanaan

yang lebih lama. Oklusi full-time pada bayi dan balita dapat memberi perbaikan

16

ambliopia strabismik berat dalam 1 minggu atau kurang. Sebaliknya, anak yang
lebih berumur yang memakai penutup hanya seusai sekolah dan pada akhir
minggu saja, membutuhkan waktu 1 tahun atau lebih untuk dapat berhasil.3
XI.

PROGNOSIS
Setelah 1 tahun, sekitar 73% pasien menunjukkan keberhasilan setelah
terapi oklusi pertama. Faktor resiko gagalnya penatalaksanaan ambliopia adalah
sebagai berikut:3
1. Jenis ambliopia: pasien dengan anisometropia tinggi dan pasien dengan
kelainan organic, prognosisnya paling buruk. Pasien dengan ambliopia
stabismik prognosisnya paling baik
2. Usia dimana penetalaksanaan dimulai : semakin muda pasien maka prognosis
semakin baik
3. Dalamnya ambliopia pada saat terapi dimulai : semakin bagus tajam
penglihatan awal pada mata ambliopia, maka prognosisnya juga semakin baik

XII.

PENCEGAHAN
Cara terbaik untuk mencegah ambliopia adalah dengan menguji ketajaman
penglihatan semua anak prasekolah. Saat anak memasuki sekolah, biasanya sudah
terlambat untuk melakukan terapi oklusi. Orangtua dapat melakukan pemeriksaan
ini di rumah dengan kartu E buta huruf. Dokter anak dan pihak-pihak lain yang
bertanggung jawab menangani anak harus memeriksa ketajaman penglihatan
sebelum usia 4 tahun.
Fotorefraksi dikatakan berguna untuk menskrining adanya anisometropia,
ametropia, astigmatisme dan strabismus pada anak prasekolah. Setiap anak yang
terlihat mengalami strabismus setelah usia 3 bulan harus diperiksa oleh dokter
mata.2
17

18

DAFTAR PUSTAKA
1.

Wasisdi Gunawan. Gangguan


Penglihatan Pada Anak karena Ambliopia dan Penanganannya. Pidato
Pengukuhan Jabatan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Gajah
Mada. Yogyakarta: Fakultas Kedokteran Universtas Gajah Mada. 2007.

2.

Vaughan D. G, Asbury T,
Riordan-Eva. Oftalmologi umum edisi 17. Jakarta: EGC. 2009 hal. 233-234,
238, 404

3.

American
Academy
of
Ophthalmology. Pediatric Ophthalmology Chapter 5 : Ambliopia. Section 6;
Basic and Clinical Science Course; 2012

4.

Gary Heiting. Ambliopia


(Lazy Eye). 2015. [cited 2015, October 3]. Available at:
http://www.allaboutvision.com/conditions/ambliopia.htm

5.

Yen K. G. Ambliopia.
Medscape reference drugs, diseases & procedures. 2014. [cited 2015,
September 29]. Available at http://emedicine.medscape.com/article/1214603

6.

Michael W. R. Optometric
clinical practice guideline care of the patient with ambliopia. American
Optometric Association. 2004

7.

Sidarta Ilyas. Ilmu penyakit


mata edisi keempat. Jakarta: Badan penerbit FK UI. 2012.

8.

Bonaccorsi J. Treatment of
ambliopia in the adult: insights from a new rodent model of visual perceptual
learning. Frontiers in Neural Circuits [July 2014| Volume B| Article B2]. 2014
[cited 2015, October 6]. Available at http://www.frontiersin.org

9.

Greenwald M. J. Parks M.M.


In Duanes Clinical Ophthalmology Volume 1 Revised Edition. Lippincott
Williams & Wilkins. 2004

19