Vous êtes sur la page 1sur 19

ANTI JAMUR

Jamur adalah organisme mikroskopis tanaman yang terdiri dari sel, seperti cendawan,
dan ragi. Beberapa jenis jamur dapat berkembang pada permukaan tubuh yang bisa
menyebabkan infeksi kulit, kuku, mulut atau vagina. Jamur yang paling umum menyebabkan
infeksi kulit adalah tinea. For example, tinea pedis ('athletes foot) . Infeksi umum yang ada pada
mulut dan vagina disebut seriawan. Hal ini disebabkan oleh Candida. Candida merupakan ragi
yang merupakan salah satu jenis jamur. Sejumlah Candida umumnya tinggal di kulit.
Ada beberapa jenis obat-obatan antijamur
a. Antijamur cream
Digunakan untuk mengobati infeksi jamur pada kulit dan vagina. Antara lain :
ketoconazole, fenticonazole, miconazole, sulconazole, dan tioconazole.
b. Antijamur peroral
Amphotericin dan nystatin dalam bentuk cairan dan lozenges. Obat-obatan ini tidak terserap
melalui usus ke dalam tubuh. Obat tersebut digunakan untuk mengobati infeksi Candida (guam)
pada mulut dan tenggorokan.
itraconazole, fluconazole, ketoconazole, dan griseofulvin dalam bentuk tablet yang diserap ke
dalam tubuh. Digunakan untuk mengobati berbagai infeksi jamur. Penggunaannya tergantung
pada jenis infeksi yang ada. example:
Terbinafine umumnya digunakan untuk mengobati infeksi kuku yang biasanya disebabkan oleh
jenis jamur tinea.
Fluconazole umumnya digunakan untuk mengobati jamur Vaginal. Juga dapat digunakan untuk
mengobati berbagai macam infeksi jamur pada tubuh
c. Antijamur injeksi
Amphotericin, flucytosine, itraconazole, voriconazole dan caspofungin adalah obat-obatan anti
jamur yang sering digunakan dalam injeksi.
Infeksi jamur dapat dibagi menjadi dua yaitu :
Infeksi jamur sistemik
- Amfoterisin B
- Flusitosin
- Ketokonazol
- Itakonazol
- Fluconazol
- Kalium Iodida
Infeksi jamur topikal (dermatofit dan mukokutan)

AMFOTERISIN B

Amfoterisin A dan B merupakan hasil fermentasi streptomyces nodosus.


Mekanisme kerja
Amfoterisin B berikatan kuat dengan sterol yang terdapat pada membran sel jamur
sehingga membran sel bocor dan kehilangan beberapa bahan intrasel dan menyebabkan
kerusakan yang tetap pada sel.
Salah satu penyebab efek toksik yang ditimbulkan disebabkan oleh pengikatan kolesterol pada
membran sel hewan dan manusia.

Resistensi terhadap amfoterisin B mungkin disebabkan oleh terjadinya perubahan reseptor sterol
pada membran sel.

Farmakokinetik
Absorbsi : sedikit sekali diserap melalui saluran cerna.
Waktu paruh kira-kira 24-48 jam pada dosis awal yang diikuti oleh eliminasi fase kedua dengan
waktu paruh kira-kira 15 hari, sehingga kadar mantapnya akan tercapai setelah beberapa bulan
setelah pemberian.
Ekskresi : obat ini melalui ginjal berlangsung lambat sekali, hanya 3 % dari jumlah
yang diberikan.
Efek samping
Infus : kulit panas, keringatan, sakit kepala, demam, menggigil, lesu, anoreksia, nyeri
otot, flebitis, kejang dan penurunan faal ginjal.
50% penderita yang mendapat dosis awal secara IV akan mengalami demam dan
menggigil.
Flebitis (-) menambahkan heparin 1000 unit ke dalam infus.
Asidosis tubuler ringan dan hipokalemia sering dijumpai pemberian kalium.
Efek toksik terhadap ginjal dapat ditekan bila amfoterisin B diberikan bersama flusitosin.
Indikasi
Untuk pengobatan infeksi jamur seperti koksidioidomikosis, aspergilosis,
kromoblastomikosis dan kandidosis.
Amfoterisin B merupakan obat terpilih untuk blastomikosis.
Amfoterisin B secara topikal efektif terhadap keratitis mikotik.
Sediaan
Amfoterisin B injeksi tersedia dalam vial yang mengandung 50 mg bubuk

Dosis

Pada umumnya dimulai dengan dosis yang kecil (kurang dari 0,25 mg/kgBB) yang
dilarutkan dalam dekstrose 5 % dan ditingkatkan bertahap sampai 0,4-0,6 mg/kgBB sebagai
dosis pemeliharaan.
Secara umum dosis 0,3-0,5 mg/kgBB cukup efektif untuk berbagai infeksi jamur,
pemberian dilakukan selama 6 minggu dan bila perlu dapat dilanjutkan sampai 3-4 bulan

Flusitosin

Flucytosine (5-fluorocytosine) adalah primidin sintetis yang telah mengalami fluorinasi

Mekanisme kerja
Flusitosin masuk ke dalam sel jamur dengan bantuan sitosin deaminase dan dalam
sitoplasma akan bergabung dengan RNA setelah mengalami deaminasi menjadi 5-Fluorourasil.
Sintesis protein sel jamur terganggu akibat penghambatan langsung sintesis DNA oleh metabolit
fluorourasil

Farmakokinetik

Absorbsi : diserap dengan cepat dan baik melalui saluran cerna.Pemberian bersama
makanan memperlambat penyerapan tapi jumlah yang diserap tidak berkurang.
Penyerapan juga diperlambat pada pemberian bersama suspensi alumunium
hidroksida/magnesium hidroksida dan dengan neomisin.
Distribusi :didistribusikan dengan baik ke seluruh jaringan dengan volume distribusi
mendekati total cairan tubuh.
Ekskresi : 90% flusitosin akan dikeluarkan bersama melalui filtrasi glomerulu dalam
bentuk utuh, kadar dalam urin berkisar antara 200-500g/ml.
Kadar puncak dalam darah setelah pemberian per-oral dicapai 1-2 jam. Kadar ini lebih
tinggi pada penderita infusiensi ginjal.
Masa paruh obat ini dalam serum pada orang normal antara 2,4-4.8 jam dan sedikit
memanjang pada bayi prematur tetapi dapat sangat memanjang pada penderita insufisiensi
ginjal.
Efek samping

Dapat menimbulkan anemia, leukopenia, dan trombositopenia, terutama pada penderita


dengan kelainan hematologik, yang sedang mendapat pengobatan radiasi atau obat yang
menekan fungsi tulang, dan penderita dengan riwayat pemakaian obat tersebut.
Mual,muntah, diare dan enterokolitis yang hebat.
Kira-kira 5% penderita mengalami peninggian enzim SGPT dan SGOT, hepatomegali.
Terjadi sakit kepala, kebingungan, pusing, mengantuk dan halusinasi.

Indikasi

infeksi sistemik, karena selain kurang toksik obat ini dapat diberikan per oral.
Penggunaannya sebagai obat tunggal hanya diindikasikan pada kromoblastomikosis
Sediaan dan dosis

Flusitosin tersedia dalam bentuk kapsul 250 dan 500 mg


Dosis yang biasanya digunakan ialah 50-150 mg/kgBB sehari yang dibagi dalam 4 dosis.

Ketokonazol.
Mekanisme kerja

Seperti azole jenis yang lain, ketoconazole berinterferensi dengan biosintesis ergosterol,
sehingga menyebabkan perubahan sejumlah fungsi sel yang berhubungan dengan membran.
Farmakokinetik

Absorbsi
: diserap baik melalui saluran cerna dan menghasilkan kadar plasma
yang cukup untuk menekan aktivitas berbagai jenis jamur. Penyerapan melalui saluran cerna

akan berkurang pada penderita dengan pH lambung yang tinggi,pada pemberian bersama
antasid.
Distribusi
: ketokonazol setelah diserap belum banyak diketahui.
Ekskresi
: Diduga ketokonazol diekskresikan bersama cairan empedu ke lumen
usus dan hanya sebagian kecil saja yang dikeluarkan bersama urin, semuanya dalam bentuk
metabolit yang tidak aktif.
Efek samping
Efek toksik lebih ringan daripada Amfoterisin B.
Mual dan muntah merupakan ESO paling sering dijumpai
ESO jarang : sakit kepala, vertigo, nyeri epigastrik, fotofobia, parestesia, gusi berdarah,
erupsi kulit, dan trombositopenia.
Indikasi
Ketokonazol terutama efektif untuk histoplasmosis paru, tulang, sendi dan jaringan

lemak.

Kehamilan dan laktasi


Obat ini sebaiknya tidak diberikan pada wanita hamil karena pada tikus, dosis 80 mg/kgBB/hari
menimbulkan cacat pada jari hewan coba tersebut.

Itrakonazol
Mekanisme kerja

Seperti halnya azole yang lain, itraconazole berinterferensi dengan enzim yang
dipengaruhi oleh cytochrome P-450, 14(-demethylase. Interferensi ini menyebabkan akumulasi
14-methylsterol dan menguraikan ergosterol di dalam sel-sel jamur dan kemudian mengganti
sejumlah fungsi sel yang berhubungan dengan membran
Farmakokinetik

Itrakonazol akan diserap lebih sempurna melalui saluran cerna, bila diberikan bersama
dengan makanan. Dosis 100 mg/hari selama 15 hari akan menghasilkan kadar puncak sebesar
0,5 g/ml.
Waktu paruh eliminasi obat ini 36 jam (setelah 15 hari pemakaian).
Sediaan dan dosis

Itrakonazol tersedia dalam kapsul 100 mg.


Untuk dermatofitosis diberikan dosis 1 x 100mg/hari selama 2-8 minggu
Kandidiasis vaginal diobati dengan dosis 1 x 200 mg/hari selama 3 hari.
Pitiriasis versikolor memerlukan dosis 1 x 200 mg/hari selama 5 hari.
Infeksi berat mungkin memerlukan dosis hingga 400 mg sehari.
Efek samping
Kemerahan,
pruritus,
lesu,

pusing,
edema,
parestesia
10-15% penderita mengeluh mual atau muntah tapi pengobatan tidak perlu dihentikan
Indikasi

Itrakonazol memberikan hasil memuaskan untuk indikasi yang sama dengan ketokonazol
antara lain terhadap blastomikosis, histoplasmosis, koksidiodimikosis, parakoksidioidomikosis,
kandidiasis mulut dan tenggorokan serta tinea versikolor.

Flukonazol

Farmakokinetik
Obat ini diserap sempurna melalui saluran cerna tanpa dipengaruhi adanya makanan
ataupun keasaman lambung.
Kadar puncak 4-8 g dicapai setelah beberapa kali pemberian 100 mg.
Waktu paruh eliminasi 25 jam sedangkan ekskresi melalui ginjal melebihi 90% bersihan
ginjal.
Sediaan dan dosis
Flukonazol tersedia untuk pemakaian per oral dalam kapsul yang mengandung 50 dan
150mg.
Dosis yang disarankan 100-400 mg per hari.
Kandisiasis vaginal dapat diobati dengan dosis tunggal 150 mg.
Efek samping
Gangguan saluran cerna merupakan ESO paling banyak
Reaksi alergi pada kulit, eosinofilia, sindrom stevensJohnson.
Indikasi
Flukonazol dapat mencegah relaps meningitis oleh kriptokokus pada penderita AIDS
setelah pengobatan dengan Amfoterisin B. Obat ini juga efektif untuk pengobatan kandidiasis
mulut dan tenggorokan pada penderita AIDS.

Kalium Iodida

Kalium Iodida adalah obat terpilih untuk Cutaneous lymphatic sporotrichosis


Efek samping

rinitis
salivasi
lakrimasi
rasa terbakar pada mulut dan tenggorok
iritasi pada mata
sialodenitis dan akne pustularis pada bagian atas bahu
DOSIS
Kalium iodida diberikan dengan dosis 3 kali sehari 1 ml larutan penuh (1g/ml).
Dosis ditingkatkan 1 ml sehari sampai maksimal 12-15 ml.

Penyembuhan terjadi dalam 6-8 minggu, namun terapi masih dilanjutkan sampai
sedikitnya 4 minggu setelah lesi menghilang atau tidak aktif lagi

Anti jamur untuk infeksi topikal


Griseofulvin
Imidazol dan Triazol
Tolnaftat
Nistatin

Griseofulvin

Griseofulvin adalah antibiotik anti jamur yang dihasilkan oleh sejumlah spesies
Penicillium dan pertama kali diperkenalkan adalah berbentuk obat oral yang diperuntukkan bagi
pengobatan penyakit dermatophytosis
Mekanisme Kerja
Griseofulvin kelompok obat fungistatis yang mengikat protein-potein mikrotubular dan
berperan untuk menghambat mitosis sel jamur.
Selain itu, griseofulvin juga inhibitor (penghambat) bagi sintensis asam nukleat.
Farmakokinetik
Griseofulvin kurang baik penyerapannya pada saluran cerna bagian atas karena obat ini
tidak larut dalam air.Penyerapan lebih mudah bila griseofulvin diberikan bersama makanan
berlemak
Dosis oral 0.5 hanya akan menghasilkan kadar puncak dalam plasma kira-kira 1 g/ml
setelah 4 jam.
Obat ini mengalami metabolisme di hati dan metabolit utamanya adalah 6metilgriseofulvin.
Waktu paruh obat ini kira-kira 24 jam, 50% dari dosis oral yang diberikan dikeluarkan
bersama urin dalam bentuk metabolit selama 5 hari.
Efek samping
Leukopenia dan granulositopenia menghilang bila terapi dilanjutkan.
Sakit kepala keluhan utama pada kira-kira 15% penderita yang biasanya hilang sendiri
sekalipun pemakaian obat dilanjutkan.
artralgia, neuritis perifer, demam, pandangan mengabur, insomnia, berkurangnya
kecakapan, pusing dan sinkop, pada saluran cerna dapat terjadi rasa kering mulut, mual,
muntah, diare dan flatulensi.
Pada kulit dapat terjadi urtikaria, reaksi fotosensitivitas, eritema multiform, vesikula dan
erupsi menyerupai morbili.
Indikasi
Efektif untuk infeksi jamur di kulit, rambut, dan kuku yang disebabkan oleh jamur
Microsporum, Tricophyton, dan Epidermophyton.
Sediaan dan dosis
Griseofulvin tersedia dalam bentuk tablet berisi 125 dan 500 mg dan suspesi
mengandung 125 mg/ml.

Pada anak griseofulvin diberikan 10 mg/kgBB/hari


Untuk dewasa 500-1000 mg/hari dalam dosis tunggal.
Hasil memuaskan akan tercapai bila dosis yang diberikan dibagi empat dan diberikan
setiap 6 jam
Kontaindikasi

Griseofulvin bersifat kontraindikasi pada pasien penderita penyakit liver karena obat ini
menyebabkan kerusakan fungsi hati

IMIDAZOL DAN TRIAZOL

Anti jamur golongan imidazol mempunyai spektrum yang luas. Yang termasuk kelompok
ini ialah mikonazol, klotrimazol, ekonazol, isokonazol, tiokonazol, dan bifonazol.

MIKONAZOL

Mikonazol merupakan turunan imidazol sintetik yang relatif stabil, mempunyai spektrum
ani jamur yang lebar baik terhadap jamur sistemik maupun jamur dermatofit.
Mekanisme Kerja

Mikonazol menghambat sintesis ergosterol yang menyebabkan permeabilitas membran


sel jamur meningkat
Farmakokinetik
Daya absorbsi Miconazole melalui pengobatan oral kurang baik..
Miconazole sangat terikat oleh protein di dalam serum. Konsentrasi di dalam CSF tidak
begitu banyak, tetapi mampu melakukan penetrasi yang baik ke dalam peritoneal dan cairan
persendian.
Kurang dari 1% dosis parenteral diekskresi di dalam urin dengan komposisi yang tidak
berubah, namun 40% dari total dosis oral dieliminasi melalui kotoran dengan komposisi yang
tidak berubah pula.
Miconazole dimetabolisme oleh liver dan metabolitnya diekskresi di dalam usus dan urin.
Tidak satupun dari metabolit yang dihasilkan bersifat aktif
Indikasi

Diindikasikan untuk dermatofitosis, tinea versikolor, dan kandidiasis mukokutan.


Efek samping

Berupa iritasi dan rasa terbakar dan maserasi memerlukan penghentian terapi.
Sediaan dan dosis

Obat ini tersedia dalam bentuk krem 2% dan bedak tabur yang digunakan 2 kali sehari
selama 2-4 minggu.
Indikasi
Krem 2 % untuk penggunaan intravaginal diberikan sekali sehari pada malam hari untuk
mendapatkan retensi selama 7 hari.

Gel 2% tersedia pula untuk kandidiasis oral.

1. 1. Pendahuluan: Infeksi karena jamur disebut sebagai MIKOSIS.yang umumnya bersifat


kronis ,dapat ringan pada permukaan kulit(mikosis kutan)dan dapat pula menembus
kulit,menimbulkan mikosis sub kutan
2. 2. Mikosis yang paling sulit diobati ialah mikosis sistemik yang sering menimbulkan
kematian. Insiden infeksi jamur meningkat pada sejumlah penderita dengan
penekanan sistim imun seperti : - penderita kanker - transplantasi - penderita AIDS
Penderita ini sering menderita jamur oportunistik seperti meningitis kriptokokus, atau
aspergilus
3. 3. Mikosis sistemik seperti : - blastomikosis - koksidiodomikosis - histoplasmos
merupakan masalah besar dibeberapa daerah. Penggunaan anti neoplastik dan
imunosupresan memberikan kesempatan pada jamur sistemik untuk berkembang
dengan cepat.
4. 4. Perbedaan antara jamur dan bakteri terletak pada dinding sel jamur mengandung: kitin - polisakarida - ergosterol pada membran sel. Karena ini terjadi perbedaan obat
yang digunakan antara antibiotik dan anti jamur.
5. 5. Secara klinis infeksi jamur dapat digolongkan menurut lokasi infeksinya yaitu : 1.
Mikosis sistemik (infeksi jamur sistemik) terdiri dari DEEP MYCOSIS seperti :
aspergilosis blastomikosis koksidiodomikosis kriptokokosis histoplamosis mukormikosis
parakoksidio idomikosis kandidiasis Dan sub cutan mycosis mis:
(kromomikosis,misetoma,sporotikosis)
6. 6. 2.Dermatofit yaitu infeksi jamur yang menyerang : - kulit - rambut - kuku biasanya
disebabkan oleh ; epidermafiton dan mikrosporum 3.Mikosis muko kutan : yaitu infeksi
jamur pada mukosa dan lipatan kulit yang lembab biasanya disebabkan kandida.
7. 7. Menurut indikasi obat obat anti jamur dibagi 1.Anti jamur infeksi sistemik antara lain:
-Amfoterisin B -Flusitosin -Imidazol (ketokonazol,flukonazol,mikonazol ) dan
hidroksistilbamidin. 2. Anti jamur untuk infeksi derm atofit dan mukokutan antara lain: griseofulvin. -gol imidazol ( mikonazol,klotrimazol,ekonazol,isokonazol,tiokonazol,bifon
azol),nistatin,tolnafat dan anti jamur topikal lainya (kandisidin, asam undesilinat,dan
natamisin.
8. 8. Golongan IMIDAZOL Yang termasuk dalam golongan ini : -mikonazol
-klotrimazol -kotekonazol -flukonazol -itrakonazol -triazol -ekonazol
-isokonazol -tiokonazol -bifonazol Sifat dan penggunaan golongan ini praktis tidak
berobah.
9. 9. Beluma semuanya diketahui,obat bekerja dengan memblok biosintesa lipid yang
dibutuhkan jamur.khususnya ergosterol,dalam membran sel jamur,dan mungkin juga
dengan mekanisme tambahan yang lain.(mengganggu sintesa as.nukleat atau
penimbunan peroksida dalam sel jamur yang menimbulkan kerusakan).
10. 10. Ketokonazol: Termasuk golongan imidazol, suatu anti jamur sintetik. Aktivitas anti
jamur, sama dengan mikonazol,efektif terhadap: Candida, Coccsidioides immitis
Cryptococcus neoformans H.capsulatum B.dermatidis Aspergilus Sporotrix spp
11. 11. Mekanisme kerja: ketokonazol masuk kedalam sel jamur dan menimbulkan
kerusakan pada dinding sel,mungkin juga terjadi gangguan sintesis as.nukleat atau
penimbunanperoksida dalam sel yang merusak sel jamur. FAMAKOKINETIK: Anti
jamur pertama yang dapat diberikan secara oral,absrobsi baik secara oral, yang
menghasilkan kadar yang cukup untuk menekanpertumbuhan berbagai jamur.

12. 12. Dengan dosis oral 200 mg kadar puncak 2-3 mcg/ml yang bertahan selama 6 jam
atau lebh . Absrobsi menurun pada pH cairan lambung tinggi dan bila diberikan
bersama antacid atau antihistamin H2.ditemukan pada urin,kelenjer lemak, air ludah,kulit
yang mengalami infeksi,tendon dan cairan sinovial.Metabolisme lintas
pertama,diperkirakan diekskresikan dalam empedu,usus,dan sebagian kecil diurin.
13. 13. Penggunaan klinis dan kontra indikasi: -terutama untuk histoplasmosis
paru,tulang,sendi,dan jaringan lemak. Tidak dianjurkan untuk manigitis kriptokokus
karena penetrasi kurang baik. Obat ini efektif untuk
kriptokokusnonmenengial,parakoksidioi domikosis,dermatomikosis,kandidosis
(mukokutan,vaginal, dan rongga mulut).Obat ini tidak bermanfaat untuk kebanyakan
8infeksi jamur sistemik yang berat. Dikontra indikasikan pada penderita
hipersensitif,ibihamil,dan menysui,serta hepar akut.
14. 14. Efek samping dan toksisitas: Umumnya ditoleransi dengan baik Sering
ditemukan, mual,ginekomasita,rush pruritus, hepatitis kolestatik,blokade sintesa
kortisol,dan testoteron. Efek samping lebih ringan bila diberikan bersama
makanan.kadang kadang timbul muntah,sakit kepala,vertigo,nyeri
epigastrik,fotopobia,parestesia,gusi berdarah,erupsi kulit,trombositopenia.
15. 15. Ketokonazol dapat meningkatkan aktivitas enzim hati,untuk sementara dan dapat
meninbulkan kerusakan. Dengan frekuensi 1 : 10.000- 15.000.Hepatotoksis berat sering
dijumpai pada wanita 40 th,keatas,pada onikomikosis atau pada pamakian lama,nekrosis
hati yang masif telah menimbulkan kematian pada beberapa pasien.Obat ini dapat
mengahambat sintesa steroid suprarenalis dan dapat nmenimbulkan ginekomastia.
Dapat terjadi pada 10% penderita pria,dan mekanismenya belum diketahui.Sebaiknya
tidak digunakan pada wanita hamil efek teratogeni. Sediaan dan Dosis: tablet 200
mg oral untuk vagina adala 2 tablet (=400 mg) sekali sehari selama 5 hari. Untuk
indikasi lain cukup 1 tablet sekali sehari dan lama pemberian bergantung pada jenis
infeksi jamur. Dsis anak 5 mg/kg bb/hari.tablet diberikan bersama makanan.
16. 16. AKTIFITAS ANTI JAMUR: Flukonazol derivat tiazol anti jamur yang
poten,spesifik menghambat pembentukan sterol pada memran sel jamur.dan spesifik
yang tinggi pada enzim enzim Cytochrome P 450 dependent Secara farmakologi aktif
terhadap mikosis yang umum disebabkan oleh Cryptococcus neoformis,infeksi jamur
intrakranial ,mikrosporum,trikhofiton
17. 17. Farmakokinetik: Dapat diserap pada saluran cerna,dan kadar dalam plasma
setelah pemberian IV diperoleh lebih dari 90% kadar plasma. Absrobsi oral tidak
dipengaruhi oleh makanan Kadar puncak 0,5 -1,5 jam setelah pemberian dengan
waktu paruh 30 jam
18. 18. INDIKASI KLINIS: Untuk 1. Meningitis kriptokokus 2. Kandidiasis sistemik
(termasuk kandidemia,dan kandidiasis diseminata) dan bentuk lainkandidiasi termasuk
infeksi jamur diperitonium,endokardium,saluran nafas,saluran cerna. 3.Kandidiasis
orofaringeal, 4.Kandidiasis vaginal
19. 19. Kontra indikasi: Akan terjadi kontra indikasi bila diberikan pada penderita yang
sensitif terhadap derivat tiazol. Wanita hamil ,dan menyusui,serta anak dibawah 16 th
tidak dianjurkan karena belum ada kepastian data aman untuk mereka.
20. 20. Dosis dan cara pemberian : Dosis harus sesuai dengan organisme penyebab dan
respons penderita.yaitu 1.Meningitis kriptokokus hari pertama 400 mg dilanjutkan 1 x 200
-400 mg per hari.,dengan lama pengobatan 6 -8 minggu. 2. Kandidemia atau Kandidiasis

21.

22.

23.

24.

25.

26.

27.

lain: 400 mg/hari bergantung pada respons,lama pengobatan juga bergantung pasda
respons,kandidiasis orofaringeal 1x 50 mg selama 7 hari.
21. Formulasi Obat: Amfoterisin B tidak larut dalam air tetapi diformulasi sebagai infus
intra vena dengan cara membentuk komplek dengan garam empedu deoksikolat.
Senyawa komplek ini dipasarkan dengan nama (FUNGIZONE) mengandung 50 mg
amfoterisinB 41 mgdeoksikolat dan dapar fosfat. Komplek ini disebut dengan DOC
membentuk koloid dalam air.
22. Fomulasi lain dari amfoterisin B dengan koleteril sulfat
seperti(ABCD,AMPHOTEC,AMPHOCIL) Ada formulasi Amfoterisin B dengan vesikel
unulamelar (AMBISOME) AKTIVITAS ANTI FUNGI: Amfoterisin B mempunyai
aktivitas klinis yang bermanfaat terhadap Candida spp,cryptococcus
neoformans,Blastomyces dermatitis,histoplasma capsulatum,Sporohrix
schenckii,Coccidiodes immitis,Paracoccidiodesbrazilensis,Aspergillus
spp,peniciliummmarnefefei,juga mempunyai aktivitas terbatas terhadap protozoa
Leismania brazielensis dan Naelgeria fowleri.
23. Mekanisme Kerja: Aktivitas anti fungi amfoterisin B tergantung pada satu gugus
sterol terdapat pada membran fungi yang peka.ini akan membentuk pori atau saluran ini
akan meningkatkan pemeabilitas membran yang akan menyebabkan keluarnya berbagai
molekul kecil. Mekanisme kerja lain dapat berupa kerusakan oksidatif sel selfungi paling
tidak secara invitro.
24. Resistensi fungi mutan mutan yang seleksi secara invitri resiten terhadap nistatin
atau amfoterisin B dengan menggantikan ergosterol dengan sterol prekusor tertentu
Absrobsi,Distribusi dan Ekskresi Semua amfoterisin dalam saluran cerna dapat diabaikan
infus intra vena dengan dosis berulang 0,5 mg/kg DOC dewasa Konsentrasi
Amfoterisn B (DOC) dalam cairan dari pleura yang meradang peritonial,sinovial,dan
aqueous humor kira kira 2/3 dari seluruh konsentrasi dalam plasma.Sedikit AmfoterisinB
penetrasi ke cainCSS,Viteus humor,atau cairan amnion normal.
25. Efek merugikan Reaksi akut adalah Demam,dan menggigil,kadangn kadang
muncul hiperpnea,dan mengi pernafasan atau hipotensi ringan.,bronkospsme dan
anafilaktik jarang terjadi.Pada penderita penyakit jantung atau paru, sangat buruk
penerimaannya dapat terjadi hipoksia atau hipotensi. Reaksi merugikan lainnya, pada
pemberian IV,demam,menggigil,muntah,dan sakit kepala dapt efek inui dikurangi dengan
menurunkan dosis dan pemberian aspirin,fenotiazin,antihistamin kortikosteroid, atau
menghentikan suntikan beberapa hari
26. Sifat farmakologi: Merupakan anti jamur sistemik yang dapat diberikan secara
oral. Dapat menghambat pertumbuhan galur seprti: kandida Kriptokokus
torulopsis Dan beberap galur aspergilus serta jamur lainnya.
27. Mekanisme kerja : Sel sel jamur yang sensitif akan mengubah flusitosin menjadi
flurourasil sehingga trjadipenghambatan timidilat sintase dan sintesa DNA. Mutan mutan
yang akan berkembang scara teratur dengan cepat dan obat anti jamur akan menyeleksi
strain strain yang resisten ini.Hal inilah yang membatasi manfaat penggunaan obat
ini,oleh sebab itu bila flusitosin dikombinasikan dengan Amfoterisin B dapat
menghasilkan efek terapi yang lebih baik efek sinergis ini baik untuk
kandida,kriptokokus,serta mungkin juga aspergilus. Dosis 50 mcg/ml 20% flusitosin ini
terikat dengan protein. Ekskresi merlalui Ginjal, kadar dakam urin mencapai 10x kadar
dalam serum Berbahaya bagi penderita ginjal terjadi akumulasi tapi kelemahan hati

28.

29.

30.

31.

32.

33.
34.

35.

36.

37.

tidak memeberikan efek.Dapat dikeluarkan dengan hemodialisis.Relatif toksik bagi


mamalia
28. Hidroksistilbamidin isetionat Adalah suatu diamidin aromatik yang secar in vitro
dan invivo aktif terhadap B dermatitis, Bersifat sangat toksik terhadap hepar dan
ginjal.sekarang tidak digunakan lagi
29. 1.Griseofulvin Disolasi dari P.griseofulvin Sangat sukar dalm air dan stabil
pada temperatur yang tiggi termasuk pada pemanasan dengan autoklaf Aktivitas Anti
Jamur: Akan menghambat pertumbuhan jamur dermatofit termasuk
epiderofiton,mikrosporum,dan trikofiton dalam kadar 0,5-3 g/ml.Obat ini tidak berefek
pada bakteri,mikosis porfunda, atau jamur yang menybabkan lesi pada permukaan tubuh
manusiaq.Terhadap sel muda dan berkembang dapat bersifat fungisid dan
fungistatik.Efek penghambatan pertumbuhan jamur ini dapat dihalangi oleh
purin.Mekanisme jkerja sepenuhnya belum diketahui,
30. Farmakokinetik: Absrobsinya sangat tergantung pada keadaan fisik obat ini dan
absrobsinya dibantu oleh makanan yang banyak mengandung lemak Metabolisme
terjadi dihati, waktu paruh 24 jam diekskresim di urin kulit yang sakit mempunyai afinitas
lebih besar terhadap obat ini ditimbun diselpembentuk keratin,dan muncul bersama sel
baru ini akan resiten terhadap serangan jamur,sel keratin yang mengandung jamur akan
terkelupas dandigantuikan olehsel baru normal,obat ini ditemukan pada sel tanduk 4 -8
jam setelah pemberian.
31. Penggunaan Klinis: untuk dermatosis berat pada kulit,kukui,dan rambut yang
disebabkan oleh Trichophyton rubrum yang memberikan respon lemah terhadap anti
jamur lain obat ini dapat diberikan bersama anti jamur topikal lain.Pemberian topikal tidak
banyak memverikan efek, Dosis oral;0,5-1 g per haridalam dosisterbagibagi 15
mg/kgbb
32. Efek samping: Efek samping rendah yaitu : 1 Reaksi alergi dapat berupa ruam
kulit,leukopenia,dan reaksi tipe serum sicknes. 2.Toksisitas lansung dapat terjadi sakit
kepala,mual,muntah,diare,hepatotoksis,fotosen sitifitas,gangguan mental.Pada binatang
percobaan dapat bersifat teratogenik dan karsinogenik.
33. Interaksi obat: Dapat menurunkan aktivitas anti koagulan warfarin . Barbiturat
menurunkan aktivitas griseofulvin karena barbiturat menginduksi sistem enzim mikrosom.
34. Imidazol efektif sebagai anti jamur topikal.tetapi bersifat toksikdigunakan secara
sistemik.Mekamnisme krjanya sama seperti pada ketekonazol digunakan untuk
kandidiasis oral,vaginal,atau kutaneus dalam bentuk krim atau tablet isap.
35. Nistatin(mikostatin) Merupaka antibiotik polien dihasilkan S nursei sedikit larut
dalam air,tetapi cepat terurai dalam air atau plasma nistatin juga stabil dalam bentujk
kering. Aktivitas: Tidak memberikan efek terhadap Protozoa,atau bakteri tetapi secara
in vitro menghambat banyak jamur kandida,dermatofit,danorganisme yang dihasilkan
oleh mikosis dalam badan manusia kerjanya terbatas pada permukaan dengan obatb
yang terbatas tidak diserap dan dapat kobntak lansung dengan ragi atau jamur.
36. Mekanisme kerja berikatan dengan sterol membran sel jamur terutam ergosterol
Farmakokinetik: Tidak diabsrobsi melalui kulit,membran mukosa atau saluran
cerna,akan dikelurkan kembali melalui tinja dan tidak ditemukan dalam darah atau
jaringan.
37. Indikasi KLINIK: Untuk kandidiasis kulit,selaput lendir dansaluran cerna.
Paronikia,vaginitis,sariawan cukup dengan nistatin topikal. Bila gagal dapat diberikan

38.

39.

40.

41.

42.

43.

ketokonazol ,digunakan secara topikal pada kulit, atau membran mukosa (mulut dan
vaginal) dalam bentuk krim,salep,supositoria,suspensi atau bubuk untuk infeksi kandida
lokal.Dapat diberikan pada bayi,orang dengan daya tahan rendah
(diabetes,leukimia,yang mendapat steroid tinggi.) Dosis dalam unit gr/200 unit dalam
pemakaian oral 250- 500 mg atau 250.000-500.000 unit,tab vaginal 100.000 unit 12x/hari selama 14 hari untuk kandidiasis mulut dan esofagus 3-4 x 500.000-1000000 unit
dengan cara ditahan dulu dalam mulut.
38. Efek samping Jarang terjadi,pada pemberian oralatau topikal. Oral bisa terjadi
mual, muntah diare pada dosis tinggi tak terjadi supra infeksi karena tidak mempengaruhi
bakteri,protozoa,atau virus
39. Tolnafat dan Tolsiklat Aefektif terhadap: Trikofiton,mikrosporum,epidermofiton,
malassezia furfue tak efektif terhdap kandida, dan aspergilus serta keada
hiperkeratosis,sebaik nya diberikan bergantian dena salap asam salisilat 10 % Lesi
kulit kepala oleh.T tonsurans dan M audoini kurang berhasi dengan klotrimazol
40. Asam lemak undesilinat sebagai obat anti jamur topikal yang efektif terhadap:
epedermofiton,trikofiton.dan muikroporum Bersifat fungisid Ada asam undesilinat 5%
DAN Zn undesilinat 20% untuk menekan luas peradangan pada mukosa dapat terjadi
iritasi bila kadar lebih dari 1%
41. Kandisidin: antibiotik polien dari golongan aktinomisetes hanya topikal pada
kandidiasi vaginalis ada dalam bventuk tablet Vagina 3 mg dan salep vagina 0,06% serta
aplikatornya. Dosis 2x sehari dioleskan lansung pada vagina dan jarang timbul efek
sampuing yang serius.
42. Salep Whifield: adalah campuran asam salisilat dan asam benzoat dengan
perbandingan 1:2 biasanya 6% dan 12 % Asam salisilat keratolitik,benzoat fungistatik.
Untuk tinea pedis dan kadang kadang tinea kapitis efek samping iritasi ringan lokal pada
permukaan kulit
43. Natamisin Merupkan anti jamur anti biotik polien yang aktif terhadap banyak jamur.
Pada mata jarang menimbulkan iritasi untuk keratitis jamur Obat ini terpilih untu infeksi
Fusarium solani Tetapi penetrasi kekornea kurang memadai juga efektif pada
kandidiasis vagina dan oral sediaan dalam bentuk sduspensi 5% dan salep 1% pada
pemakain mata.

1. 1. FARMAKOLOGI Obat Anti Jamur Anggota : 1. Vera Nadia 2. Ika Novitasari K 3. Jati
Setyarini
2. 2. A. Pengertian Obat Anti Jamur Obat-obat anti jamur juga disebut dengan obat- obat
antimikotik, dipakai untuk mengobati dua jenis infeksi jamur : infeksi jamur superfisial
pada kulit atau selaput lendir dan infeksi jamur sistemik pada paru-paru atau system
saraf pusat.
3. 3. B. Obat Anti Jamur Menurut Indikasi Klinis Obat Obat Anti Jamur menurut Indikasi
Klinis Obat Menurut indikasi klinis obat-obat anti jamur dapat dibagi atas dua golongan,
yaitu : Antijamur untuk infeksi sistemik Termasuk : amfoterisin B, flusitosin, imidazole
(ketonazol, flikonazol, mikonazol) dan hidroksistilbamidin. Anti jamur untuk infeksi
dermatofit dan mukokutan Termasuk: griseofulvin, golongan imidazole, nistatin, tolnaftat,
dan anti jamur topical lainnya.
4. 4. C. Anti Jamur Untuk Infeksi Sistemik 1.Amfoterisin B Amfoterisin A dan B merupakan
hasil fermentasi Streptomyces nodosus . Sembilan puluh delapan persen campuran ini
terdiri dari amfoterisin B yang mempunyai aktivitas antijamur. Cara Kerja : Obat ini
bekerja dengan berikatan dengan membrane sel jamur atau ragi yang sensitive. Integrasi
dengan sterol-sterol membrane sel jamur atau ragi yang sensitive. Integrasi dengan
sterol-sterol membrane sel membentuk pori-pori sehingga membrane sel jamur lebih
permiabel terhadap molekul-molekul yang kecil. Indikasi Infeksi jamur berat yang
mengancam nyawa termasuk : histoplasmosis, coccidiodomycosis, paracoccidiomycosis,
blastomycosis, aspergilosis, cryp tococcosis, mucormycosis, spotricchosis dan
candidosis
5. 5. Kontraindikasi Gangguan fungsi ginjal, kehamilan dan meyusui. Dosis Infeksi jamur
sistemik melalui injeksi intravena. Dosis awal 1 mg selama 20-30 menit dilanjutkan
dengan 250 mikrogram/kg perhari, dinaikkan perlahan sampai 1 mg/kg perhari, pada
infeksi berat dapat dinaikkan sampai 1,5 mg/kg perhari. Efek samping Demam, sakit
kepala, muaal, turun berat badan, muntah, lemas, diare, nyeri otot dan sendi, kembung,
nyeri ulu hati, gangguan ginjal, kelainan darah, gangguan irama jantung, gangguan saraf
tepi, gangguan fungsi hati, nyeri dan memar pada tempat suntikan.
6. 6. 2. Flusitosin Flusitosin (5-fluorositosin; 5FC) merupakan antijamur sintetik yang berasal
dari fluorinasi pirimidin, dan mempunyai persamaan struktur dengan fluorourasil dan
floksuridin. Obat ini berbentuk kristal putih tidak berbau, sedikit larut dalam air tapi
mudah larut dalam alkohol. Cara Kerja : Flusitosin masuk ke dalam sel jamur dengan
bantuan sitosin deaminase dan dalam sitoplasma akan bergabung dengan RNA setelah
mengalami deaminasi menjadi 5-fluorourasil dan fosforilasi. Sintesis protein sel jamur
terganggu akibat penghambatan Iangsung sintesis DNA oleh metabolit fluorourasil.
Keadaan ini tidak terjadi pada sel mamalia karena dalam tubuh mamalia flusitosin tidak
diubah menjadi fluorourasil.
7. 7. Indikasi : Obat ini efektif untuk pengobatan kriptokokosis, kandidiasis, kromomikosis,
torulopsis dan aspergilosis.Cryptococcus dan Candida dapat menjadi resisten selama
pengobatan dengan flusitosin. Dosis : Pemberian flusitonin dengan dosis 150% mg/kg
BB/ hari per oral diabsorbsi dengan baik dan didistribusikan ke seluruh jaringan tubuh
termasuk cairan serebrospinal- dengan kadar obat yang dapat mencapai 60-80% kadar
serum, yang dapat mendekati kadar 50 mcg/ml. sekitar 20% flusitosin terikat dengan
protein. Penggunaan kombinasi flusitosin dengan amfotiresin B, khususnya pada

8.

9.

10.

11.

12.

13.

meningitis kriptokokal dan kandidiasis sistemik, dan dapat menurunkan dosis amfotiresin
B yang diperlukan.
8. Efek samping dan cara mengatasi: Bila terdapat kelemahan ginjal, flusitosin dapat
diakumulasi dalam serum sampai mencapai kadar toksik, tetapi bila terdapat kelemahan
hati tidak memberikan efek tersebut. Flusitosin dapat dikeluarkan dengan hemodialysis.
Flusitosin ternyata relative tidak toksik untuk sel-sel mamalia (mungkin karena mereka
tidak mempunyai suatu permease spesifik). Walaupun demikian, kadar serum yang tinggi
dalam jangka lama dapat menimbulkan depresi sumsum tulang, rambut rontok, dan
gangguan fungsi hepar. Pemberian urasil dapat mengurangi toksisitas pada jaringan
hemopoetik yang bermanifestasi dengan depresi sumsum tulang, tetapi tampaknya tidak
memberikan efek pada aktivitas anti jamur flusitosin
9. 3. Imidazol Yang termasuk dalam golongan imidazole adalah mikonazol, klotrimazol,
ketokonazol, flukonazol, itrakonazol, triazol, ekonazol, isokonazol, tiokonazol, dan
bifonazol. Sifat dan penggunaan golongan imidazole ini praktis tidak berbeda.
Mekanisme kerja : Mekanisme kerja obat ini belum semuanya diketahui. Obat bekerja
dengan jalan memblok biosintesis lipid yang dibutuhkan jamur, khususnya ergosterol
dalam membrane sel jamur, dan mungkin juga dengan mekanisme tambahan lain
(mengganggu sintesis asam nukleat atau penimbunan peroksida dalam seel jamur yang
menimbulkan kerusakan).
10. a. Ketonazol Ketonazol termasuk golongan imidazole, yaitu suatu antijamur sintetik
dengan rumus bangun mirip dengan mikonazol dan klotrimazol. Cara kerja Ketokanazol
masuk ke dalam sel jamur dan menimbulkan kerusakan pada dinding sel. Mungkin juga
terjadi gangguan sintetis asam nukleat atau penimbunan peroksida dalam sel yang
merusak sel jamur. Dosis Ketokonazol merupakan antijamur pertama yang dapat
diberikan per oral. Ketokonazol diabsorbsi dengan baik melalui oral yang menghasilkan
kadar yang cukup untuk menekan pertumbuhan berbagai jamur. Dengan dosis oral 200
mg, diperoleh kadar puncak 2-3 mcg/ml yang bertahan selama 6 jam atau lebih.
11. Penggunaan Klinis dan Kontraindikasi : Ketokonazol terutama efektif terhadap
histoplasmosis paru, tulang, sendi, dan jaringan lemak.Tidak dianjurkan untuk meningitis
kriptokokus karena penetrasinya kurang baik. Obat ini efektif untuk kriptokokus
nonmeningeal, dermatomikosis, dan kandidosis (mukotan, vaginal, dan rongga mulut)
Ketokonazol dikontraindikasikan pada penderita yang hipersensitif, ibu hamil dan
menyusui serta penyakit hepar akut.
12. Efek samping : Umumnya ditoleransi dengan baik. Efek samping yang paling sering
ditemukan ialah mual, ginekomastia, rush, pruritus, hepatitis kolestatik, blockade
sintesis kortisol dan tetosteron (reversible) Efek samping ini lebih ringan bila diberikan
bersama makanan. Kadang- kadang dapat timbul muntah, sakit kepala, vertigo, nyeri
epigastrik, fotopobia, parastesia, gusi berdarah, erupsi kulit, dan trombositopenia.
Ketokamazol dapat meningkatkan aktivitas enzim hati untuk sementara, dan dapat pula
menimbulkan kerusakan hati, menghambat sintesis steroid suprarenalis dan dapat
menimbulkan ginekomastia. Sebaiknya tidak digunakan pada wanita hamil karena
terbukti pada tikus dapat menimbulkan cacat pada jari-jari tikus.
13. b. Flukonazol Flukonazol merupakan derivate triazol, antijamur yang poten, yang
bekerja spesifik menghambat pembentukan sterol pada membrane sel jamur. Flukonazol
bekerja dengan spesifitas yang tinggi pada enzim-enzim cytochrome P-450 dependent
Indikasi klinis Flukonazol diindikasikan untuk: Meningitis kriptokokus Kandidiasis sistemik

14.

15.

16.

17.

18.

(termasuk kandidemia dan kandidiasis diseminata), dan bentuk-bentuk lain kandidiasis,


termasuk infeksi jamur dipertonium, endocardium, dan infeksi jamur di saluran napas dan
saluran cerna, Kandidiasis orofaringeal Kandidiasis esophageal Kandidiasis vaginal
14. Kontraindikasi Akan terjadi kontraindikasi bila diberikan pada penderita yang sensitive
terhadap derivate triazol. Penggunaan pada wanita hamil serta menyusui, dan anak
dibawah 16 tahun tidak dianjurkan karena belum ada kepastian data bahwa obat ini
aman untuk mereka Dosis dan cara pemberian Dosis harian harus disesuaikan dengan
organisme penyebab dan respons penderita , yaitu Meningitis kriptokokus hari pertama
400 mg, dilanjutkan dengan 1x200-400 mg per hari. lama pengobatan biasanya sampai
6-8 minggu Kandidemia atau kandidiasis lain : 400 mg hari pertama dilanjutkan 200mg
tiap hari. dosis dapat ditingkatkan menjadi 400 mg per hari bergantung pada respons.
Lama pengobatan juga bergantung pada respons. Kandidiasis orofaringela 1x50 mg
selama 7-14 hari.
15. 4. Hidroksistilbamidin Hidroksistilbamidin isetionat adalah suatu diamin aromatik yang
secara in vitro dan in vivo aktif tehadap Blastomyces dermatidis. Obat ini mungkin
bersifat sangat toksik terhadap hepar dan ginjal. Obat ini tidak digunakan lagi dan telah
digantikan oleh amfiterisin B.
16. D. Antijamur untuk Infeksi Dermatofit dan Mukokutan Sumber dan kimia Griseofulvin
diisolasi dari Penicillium griseofulvum pada tahun 1939, dan diperkenalkan penggunaan
kliniknya pada tahun 1957. Griseofulvin sangat sukar larut dalam air dan stabil pada
temperatur yang tinggi termasuk pemanasan dengan autoklaf. Aktivitas antijamur
Griseofulvin akan menghambat pertumbuhan jamur dermatofit, termasuk epidermofiton,
mikrosporum, dan trikofiton dalam kadar 0,5-3 g/ml.Terhadap sel muda yang sedang
berkembang, griseofulvin bersdifat fungisid dan fungistatik. Diantara dermatofit-dermatofit
yang sensitif dapat terjadi resitensi. Efek penghambatan pertumbuhan jamur ini dapat
dihalangi oleh purin. Mekanisme kerjanya belum sepenuhnya diketahui, dan efek
fungistatiknya mungkin disebabkan oleh griseofulvin yang mengganggu fungsi
mikrotubulus atau sintesis asam nukleat dan polimerasi.
17. Farmakokinetik Absorbsi griseofulvin sangat bergantung pada keadaan fisik obat ini
dan absorbsinya dibantu oleh makanan yang banyak mengandung lemak. Senyawa
dalam bentuk partikel yang lebih kecil (microsized) diabsorbsi 2 kali lebih baik daripada
partikel yang lebih besar. Griseofulvin berukuran mikro dengan dosis 1 gram/hari akan
menghasilkan kadar dalam darah 0,5-1,5 mcg/ml. griseofulvin berukuran ultramikro
diabsorbsi 2 kali lebih baik dari senyawa berukuran mikro. Metabolisme terjadi di hati.
Metabolit utamanya adalah 6- metilgriseofulvin.Waktu paruhnya kira-kira 24 jam. Jumlah
yang diekskresikan melalui urin adalah 50% dari dosis oral yang diberikan dalam bentuk
metabolit dan berlangsung selama 5 hari. Kulit yang sakit mempunyai afinitas lebih besar
terhadap obat ini., ditimbun dalam sel pembentuk keratin, terikat kuat dengan keratin dan
akan muncul bersama sel yang baru berdiferensiasi sehingga sel baru ini akan resisten
terhadap serangan jamur. Keratin yang mengandung jamur akan terkelupas dan
digantikan oleh sel baru yang normal. Griseofulvin ini dapat ditemukan dalam sel tanduk
4-8 jam setelah pemberian per oral.
18. Penggunaan klinis Griseofulvin diindikasikan untuk dermatofitosis berat pada kulit,
kuku, dan rambut, khususnya yang disebabkan oleh Trichophyton rubrum, yang
memberikan respons lemah terhadap antijamur lain. Obat ini dapat diberikan bersama
antijamur topikal lain. Pemberian secara topikal tidak banyak memberikan efek. Senyawa

19.

20.

21.

22.

23.

griseofulvin dalam bentuk ukuran mikro diberikan per oral 0,5-1 gram per hari, dalam
dosis terbagi(dosis anak 15 mg/kg BB). Efek samping Reaksi alergi: dapat berupa
demam, ruam kulit, leukopenia, dan reaksi tipe serum sickness. Toksisitas langsung:
dapat terjadi sakit kepala, mual, muntah, diare,hepatotoksisitas, fotosensitivitas, dan
gangguan mental. Pada binatang percobaan, griseofulvin bersifat teratogenik dan
karsinogenik. Interaksi obat Griseofulvin dapat menurunkan aktivitas antikoagulan
warfarin. Barbiturat menurunkan aktivitas griseofulvin karena barbiturat menginduksi
sistem enzim mikrosom.
19. 2. Golongan Imidazol Antijamur golongan imidazol memiliki spektrum yang luas.
Karena sifat dan penggunaannya praktis tidak berbeda, maka hanya mikonazol dan
klotrimazol yang akan dibahas. Mikonazol Sumber dan kimia Mikonazol merupakan
turunan imidazol sintetik yang relatif stabil. Mempunyai spektrum antijamur yang lebar
terhadap jamur dermatofit. Obat ini berbentuk kristal putih, tidak berwarna dan tidak
berbau, sebagian kecil larut dalam air tapi lebih larut dalam pelarut organik.
20. Aktivitas atijamur Mikonazol menghambat aktivitas jamur trichophyton,
epidermophyton, micosporim, candida, dan malassezia furfur. Mikonazol in vitro efektif
terhadap beberapa kuman gram positif. Mekanisme kerja Mekanisme kerja obat ini
belum diketahui sepenuhnya. Mikonazol masuk ke dalam sel jamur dan menyebabkan
kerusakan dinding sel sehingga permeabilitas terhadap berbagai zat intrasel meningkat.
Mungkin pula terjadi gangguan sintesis sel jamur yang akan menyebabkan kerusakan.
Obat yang sudah menembus ke dalam lapisan tanduk kulit akan menetap disana sampai
4 hari.
21. Penggunaan klinis Mikonazol topical diindikasikan untuk dermatofitosis, tinea
versikolor, dan kandidiasis mukokutan. Untuk dermatofitosis sedang atau berat yang
mengenai kulit kepala, telapak, dan kuku sebaiknya menggunakan griseofulvin.Obat ini
tersedia dalam bentuk cream 2% dan bedak tabur yang dipakai 2x sehari selama 2-4
minggu. Cream 2% untuk penggunaan intravaginal diberikan 1x sehari pada malam hari
selama 7 hari. Gel 2% tersedia untuk kandidiasis oral. Mikonazol tidak boleh dibubuhkan
pada mata. Efek samping Efek samping berupa iritasi, rasa terbakar, dan masersi
memerlukan penghentian terapi. Sejumlah kecil mikonazol diserap melalui mukosa
vagina tapi belum ada laporan tentang efek samping pada bayi yang ibunya mendapat
mikonazol intravaginal pada waktu hamil, tetapi penggunaannya pada trimester pertama
sebaiknya dihindari.
22. Klotrimazol Sumber dan kimia Klotrimazol berbentuk bubuk tidak berwarna yang
praktis tidak larut dalam air,alkohol, dan kloroform, sedikit larut dalam eter. Mekanisme
kerja Klotrimazol mempunyai efek antijamur dan antibaktreri dengan mekanisme kerja
mirip mikonazol dan secara topical digunakan untuk pengobatan tinea pedis, kruris, dan
korporis yang disebabkan olehT. rubrum dan juga untuk infeksi kulit dan vulvovaginitis
yang disebabkan oleh C. albicans. Penggunaan klinis Obat ini tersedia dalam bentuk
cream dan larutan dengan kadar 1% untuk dioleskan 2x sehari. Cream vaginal 1% atau
tablet vaginal 100 mg digunakan sekali sehari pada malam hari selama 7 hari. Atau tablet
vaginal 500 mg. Efek samping Dosis tunggal pada pemakaian topical dapat terjadi rasa
terbakar, eritema, edema, gatal, dan urtikaria.
23. 3. Nistatin Nystatin merupakan obat yang termasuk kelompok obat yang disebut
antijamur (antifungal). Bubuk kering, tablet hisap, dan bentuk cair dari obat ini digunakan
untuk mengobati infeksi jamur pada mulut. Nystatin hanya dapat tersedia dengan resep

24.

25.

26.

27.

28.

dokter. Obat ini tersedia dalam bentuk sediaan berikut: Kapsul Tablet Suspensi Cara
Kerja Mekanisme kerjanya ialah dengan kalan berikatan dengan sterol membrane sel
jamur, terutama ergosterol. Oleh karena itu, terjadi gangguan pada permeabilitas
membrane sel jamur dan mekanisme transpornya. Akibatnya, sel jamur kehilangan
banyak sel kation dan makromolekul. Resistensi dapat timbul karena menurunnya jumlah
sterol pada membrane sel jamur atau terjadi perubahan sifat struktur atau sifat ikatannya.
24. Indikasi Nistatin terutama digunakan untuk kandidiasis kulit, selaput lendir, dan
saluran cerna. Paronikia, vaginitis, dan sariawan (stomatitis) cukup diobati dengan
nistatin secara topical, dan bila gagal atau pada penderita sakit berat, dapat diberikan
ketokonazol. Nistatin digunakan secara topical pada kulit atatu membrane mukosa (mulut
dan vagina) dalam bentuk krim, salep, supositoria, suspense, atau bubuk untuk infeksi
kandida total. Kontraindikasi Pasien yang hipersensitif terhadap Nystatin
25. Dosis 1. Untuk bentuk teblet a. Dewasa dan anak > 5 tahun 1 atau 2 tablet hisap atau
1 tablet 3-5 kali sehari sampai 14 hari b. Anak-anak 0-5 tahun Anak-anak dalam usia ini
mungkin tidak dapat menggunakan tablet hisap atau tablet dengan aman. Anak pada
usia ini lebih baik mengonsumsi Nystatin dalam bentuk suspensi. 2. Untuk bentuk
sediaan suspensi a. Dewasa dan anak > 5 tahun 4-6 ml (sekitar 1 sendok teh) 4 kali
sehari b. Balita 2 ml 4 kali sehari c. Untuk bayi prematur dan bayi dengan berat badan
lahir rendah 1 ml 4 kali sehari
26. Efek Samping Seiring dengan efek yang diperlukan, obat dapat menyebabkan
beberapa efek yang tidak diinginkan. Meskipun tidak semua efek samping dapat terjadi,
namun jika terjadi, mungkin memerlukan perhatian medis. Beberapa efek samping yang
mungkin terjadi biasanya tidak perlu perhatian medis. Efek samping ini dapat hilang
selama pengobatan karena tubuh akan dapat menyesuaikan diri dengan obat. Dokter
mungkin juga dapat memberitahu tentang cara untuk mencegah atau mengurangi
beberapa efek samping. Segera hubungi dokter jika terjadi efek samping, antara lain: 1.
Diare 2. Mual atau muntah 3. Nyeri Perut
27. 4.Tolnaftat danToksiklat Tolnaftat merupakan antijamur yang efektif terhadap
infeksiTrikofiton, mikrosporum, epidermofiton, malassezia furfur, tetapi tidak efektif
terhadap kandida, dan aspergilus, serta pada keadaan yang disertai hyperkeratosis,
tolnaftat sebaiknya diberikan bergantian dengan salep asam salisilat 10%. Lesi kulit
kepala yang disebabkan T. tonsurans dan M. auduoini tampaknya kurang berhasil
dengan kotrimazol, dan onikomikosis tidak dipengaruhi oleh klotrimazol. Bila terapi
dihentikan, infeksi dapat kambuh lagi, tetapi tidak terjadi resistensi sehingga pengobatan
ulang masih akan memberikan hasil yang memuaskan. Penggunaan tolnaftat secara
topical jarang sekali menimbulkan iritasi atau reaksi hipersensitif. Toksiklat suatu
antijamur derivate tiokarbamat efektif terhadap Epidermophyton floccosum, dan
Malassezia surfur. Dalam kadar 0,01-0,1 mcg/ml secara in vitro aktivitas toksiklat
sebanding dengan tolnaftal.
28. 5. AntijamurTopikal Lainnya a. Kandisidin Kandisidin merupakan suatu antibiotic
polien yang diperoleh dari golingan aktinomisetes. Kandisidin hanya digunakan untuk
pemakaian topical pada kandidiasis vaginalis dan tersedia dalam bentuk tablet vaginal @
3 mg dan salep vaginal 0,06% yang dilengkapi dengan aplikatornya. Dosisnya adalah 2x
sehari 1 tablet atau 2x sehari dioleskan di vagina. Efek sampingnya dapat berupa iritasi
vukva atau vagina, dan jarang timbul efek samping yang serius.

29. 29. SalepWhitfield SalepWhitfield adalah campuran asam salisilat dengan asam
benzoate. Asam salisilat besifat keratolitik dan asam benzoate bersifat fungistatik.
Karena asam benzoate hanya berifat fungistatik, penyembuhan dapat tercapai setelah
lapisan kulit terkelupas seluruhnya sehingga penggunaan obat ini memerlukan waktu
beberapa minggu sampai bulanan. Salep ini banyak digunakan untukTinea pedis dan
kadang- kadang juga untukTinea kapitis. Efek Samping Biasanya reaksi lokal dengan
peradangan ringan. Sangat jarang terjadi perlukaan di kulit, lecet, atau terjadi keracunan
salisilat karena diserap oleh kulit. Meskipun jarang namun pernah terjadi keracunan
salisilat topical terutama pada bayi dan anak yang dioleskan berlebihan atau kulit yang
dioleskan ditutup rapat. Gejala keracunan salisilat meliputi pusing, gelisah, sakit kepala,
nafas cepat, telinga berdengung, bahkan kematian. Asam salisilat dan asam benzoate
adalah iritan lemah, dapat menimbulkan iritasi dan dermatitis.
30. 30. Perhatian : Hindari kontak dengan mata dan selaput lendir lainnya, wajah, kelamin.
Hindari penggunaan dalam jangka waktu lama untuk daerah yang luas. Cara Pemberian
Untuk anak-anak oleskan dua kali sehari sampai lesi kulit membaik, biasanya selama 4
minggu. Gangguan hati dan ginjal : tidak perlu menurunkan dosis InteraksiObat
Warfarin : salisilat yang diserap dalam jumlah banyak dapat mengganggu kemampuan
pembekuan darah sehingga meningkatkan risiko perdarahan. Hindari penggunaan
bersamaan dengan warfarin.
31. 31. Natamisin Natamisin merupakan antijamur antibiotic polien yang aktif terhadap
banyak jamur. Pemakaian pada mata jarang menimbulkan iritasi maka digunakan untuk
keratitis jamur. Natamisin merupakan obat terpilih untuk infeksi Fusarium solani, tetapi
daya penetrasinya ke kornea kurang memadai. Natamisin juga efektif untuk kandidiasis
oral dan vaginal. Sediaan tertsedia dalam bentuk suspense 5% dan salep 1% untuk
pemakaian pada mata.