Vous êtes sur la page 1sur 38

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Asma merupakan masalah kesehatan di seluruh dunia, baik di
Negara maju maupun di negara-negara sedang berkembang (Antony C,
2000).
Asma adalah penyakit inflamasi kronik saluran napas yang
melibatkan berbagai sel imun terutama sel mast, eosinofil, limposit T,
makrofag, neutrofil dan sel epitel, serta meningkatnya respon saluran
napas (hipereaktivitas bronkus) terhadap berbagai stimulant. Inflamasi
kronik ini akan menyebabkan penyempitan (obstruksi) saluran napas
yang reversible, membaik secara spontan dengan atau tanpa
pengobatan. Gejala yang timbul dapat berupa batuk, sesak nafas dan
mengi (Antony C, 2000).
Asma dapat bersifat ringan dan tidak mengganggu aktivitas, akan
tetapi dapat bersifat menetap dan menggaggu aktivitas bahkan kegiatan
harian sehigga menurunkan kualitas hidup, salah satu faktor pencetus
serangan asma adalah kondisi psikologis klien yang tidak stabil
termasuk di dalamnya cemas (Antony C, 2000).
Hal

ini sering diabaikan

oleh klien sehingga

frekwensi

kekambuhan menjadi lebih sering dan klien jatuh pada keadaan yang
lebih buruk, kondisi ini merupakan suatu rantai yang sulit ditentukan
mana yang menjadi penyebab dan mana yang merupakan akibat
(Barbara C. Long, 2001).
Keadaan cemas menyebabkan atau memperburuk serangan,
serangan asthma dapat menyebabkan kecemasan besar pada klien asma

padahal kecemasan justru memperburuk keadaan. (Cris 2000).


Kondisi sesak dapat menimbulkan kecemasan karena klien merasa
adanya ancaman kematian (Barbara C. Long, 2001). Menurunkan
tingkat kecemasan pada klien asma baik pada saat serangan ataupun
saat tidak terjadi serangan sangat penting. Sebab seperti yang telah
dijelaskan di atas maka lingkaran mengenai penyebab dan akibat
cemas harus diputus. Dengan demikian berarti memutus salah satu
faktor pencetus asma dan memutus keadaan cemas yang disebabkan
oleh asma. Sehingga dapat memperpendek masa serangan dan
memperkecil frekwensi kekambuhan (Antony C, 2000)..
Sedangkan menurut GINA (Global Initiative For Asthma) 2006,
Asma didefinisikan sebagai gangguan inflamasi kronik saluran nafas
dengan banyak sel yang berperan, inflamasi kronik ini menyebabkan
episode mengi berulang, sesak nafas, rasa dada tertekan dan batuk,
terutama pada malam atau dini hari. Gejala ini biasanya berhubungan
dengan penyempitan jalan nafas yang luas namun bervariasi, biasanya
bersifat reversibel baik secara spontan maupu dengan pengobatan
(Antony C, 2000)..
Di dunia meliputi di Inggris sekitar 2,5 juta penderita as ma
bronkiale yang perlu pengobatan dan pengawasan rutin, 10% anakanak dan 7% dewasa (Crockett A, 1997). Di Amerika serikat
diperkirakan 9,5 juta penduduk menderita asma, di Jerman 9 juta
penduduk, cemas yang berhubungan dengan sulit bernafas dilaporkan
sebagai diagnosa yang sering di tangani (50%-74%) (Carpenito,
2000 ).
Ini merupakan angka yang cukup besar yang perlu mendapat
perhatian dari perawat di dalam merawat klien asma secara
komprehensif bio psiko sosial dan spiritual. Di Jawa Timur menurut
penelitian Amin Muhammad (2000) dilaporkan terdapat 13,5% dari
6144 responden menunjukkan gejala asma.

Badan kesehatan sedunia (WHO) memperkirakan 100-150 juta


penduduk dunia menderita asma. Bahkan, jumlah ini diperkirakan akan
terus bertambah hingga mencapai 180.000 orang setiap tahun. Kondisi
ini tidak hanya terjadi di negara berkembang, tapi juga di negara maju
sekalipun.
Penduduk Indonesia menderita asma. Berdasarkan laporan Heru
Sundaru(Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM), prevalensi
asma diBandung (5,2%), Semarang (5,5%), Denpasar (4,3%) dan
Jakarta (7,5%). Secara nasional, 10 kabupaten/kota dengan prevalensi
penyakit Asma tertinggi di Indonesia adalah Aceh Barat (13,6%), Buol
(13,5%), Pohuwato (13,0%), Sumba Barat (11,5%), Boalemo (11,0%),
Sorong Selatan (10,6%), Kaimana (10,5%), Tana Toraja (9,5%), Banjar
(9,2%), dan Manggarai (9,2%). Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan
prevalensi Penyakit Asma terendah adalah Yakuhimo (0,2%), Langkat
(0,5%), Lampung Tengah (),5%), Tapanuli Selatan (0,6%), Lampung
Utara (0,6%), Kediri (0,6%), Soppeng (0,6%), Karo (0,7%), Serdang
Bedagai (0,7%), dan Kota Binjai (0,7%) (Carpenito, 2000 ).
Pada tahun 2009 jumlah jumlah penderita asma pada lansia di
Puskesmas Kedung mundu Semarang dengan jumlah 46 orang
penderita, diatas penyakit ISPA, gastritis, hipertensi. Sedangkan pada
tahun 2010 di bulan Januari sampai sekarang terdapat 7 orang
penderita

Untuk

itu

perawatan

asma

untuk

lansia

haruslah

komprehensif mengingat komplikasi seperti gagal nafas, hipoksemia,


yang dapat menyebabkan kematian, serta harus melibatkan beberapa
elemen seperti individu, keluarga dan perawat.
Maka sebagian perawat harus mampu memberikan asuhan
keperawatan secara langsung kepada individu dan keluarga tentang
asma agar mampu meningkatkan pengetahuan, kemampuan serta
kemauan dalam melaksanakan 5 tugas kesehatan keluarga. Lima tugas
tersebut yaitu, mengenal masalah asma, memutuskan pengobatan yang
baik, merawat penderita asma, memodifikasi lingkungan, serta

memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas, rumah


sakit, dan dokter klinik (Carpenito, 2006 ).
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui konsep dasar penyakit asma bronkial

dan

asuhan keperawatan pada klien dengan asma bronkial.


2. Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari penyusunan makalah keperawatan
medikal bedah dengan judul Asma bronkial ini adalah sebagai
berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Memahami pengertian dari asma bronkial.


Memahami penyebab dari asma bronkial
Memahami tanda dan gejala asma bronkial
Memahami patofisiologi dari asma bronkial
Memahami penatalaksanaan pada klien dengan asma bronkial
Memahami komplikasi asma bronkial
Memahami pengkajian, diagnosa keperawatan, dan
intervensi. keperawatan pada klien dengan asma bronkial

C. Manfaat Penulisan
1. Bagi instansi pendidikan keperawatan medical bedah.
2. Untuk pengembangan ilmu keperawatan medical bedah.
3. Kepada mahasiswa keperawatan
D. Sistematika Penulisan
BAB I : PENDAHULUAN
Latar Belakang, tujuan, Manfaat penulisan, dan sistematika
penulisan.
BAB II : TINJAUAN TEORITIS
Definisi, Anatomi Fisiologi,
Manifestasi

Klinis,

Faktor

Etiologi,

Resiko,

Patofisiologi,

Komplikasi,

Dan

Penatalaksanaan.
BAB III : ASUHAN KEPERAWATAN
Anamnesa, Diagnose Keperawatan, Intervensi Keperawatan,
Implementasi Keperawatan, Dan Evaluasi.

BAB IV : TINJAUAN KASUS


Anamnesa, Diagnose Keperawatan, Intervensi Keperawatan,
Implementasi Keperawatan, Dan Evaluasi.
BAB V : PENUTUP
Kesimpulan, dan Saran

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Definisi
Asma bronchiale adalah penyakit dari system pernafasan yang
meliputi dari jalan nafas dan gejala-gejala bronkospasme yang bersifat
reversible (Antony C, 2001).

Asma bronkhiale adalah mengi berulang-ulang/ batuk bersistem dalam


keadaan di mana asma yang paling mungkin. (Arief Mansjoer dkk, 2000).
Asma bronkhiale adalah suatu sindrom obstruksi jalan nafas yang
berulang yang ditandai kontraksi otot polos, hypereksi mucus dan inflamasi.
(Guyton, 2008).
Asma adalah penyakit pernapasan obstruktif yang ditandai oleh
spasme otot polos bronkiolus. (Corwin E.J., 2001)
Asma adalah obstruksi akut pada bronkus yang disebabkan oleh
penyempitan yang intermiten pada saluran napas di banyak tingkat
mengakibatkan terhalangnya aliran udara. (Stein J.H., 2001)
Asma merupakan gangguan inflamasi kronik jalan napas yang
mengakibatkan berbagai sel inflamasi. Dasar penyakit ini adalah
hiperaktivitas bronkus dalam berbagai tingkat, obstruksi jalan nafas dan
gejala pernafasan (mengi atau sesak). (Mansjoer A., 2000)
B. Anatomi Fisiologi
Saluran penghantar udara hingga mencapai paru-paru adalah hidung,
faring, laring, trakea, bronkus, dan bronkiolus (Gambar 1.1). Saluran
pernapasan dari hidung sampai bronkiolus dilapisi oleh membran mukosa
yang bersilia. Ketika udara masuk kedalam rongga hidung, udara tersebut di
saring, di hangatkan, dan dilembabkan. Ketiga proses ini merupakan fungsi
utama dari mukosa respirasi yang terdiri dari epitel toraks bertingkat, berselia
dan bersel goblet. Permukaan epitel diliputi oleh lapisan mukus yang
disekresi oleh se goblet dan kelenjar serosa. Partikel-partikel debu yang kasar
dapat disaring oleh rambut-rambut yang terdapat dalam lubang hidung (Arief
Mansjoer dkk, 2000)

Gambar 1.1. Sistem pernapasan


C. Etiologi
Secara etiologis asma dibagi dalam 3 tipe (Stein J.H., 2001).
1.

Asma tipe non atopik (intrinsik)


Pada golongan ini, keluhan tidak adanya hubungan dengan paparan
(exposure) terhadap alergen dan sifat-sifatnya adalah :
a. Serangan timbul setelah dewasa.
b. Pada keluarga tidak ada yang menderita asma.
c. Penyakit infeksi sering menimbulkan serangan.
d. Ada hubungan dengan pekerjaan dan beban fisik.
e. Rangsangan / stimuli psikis mempunyai peran untuk menimbulkan
serangan reaksi asma.
f. Perubahan-perubahan cuaca atau lingkungan yang non spesifik
merupakan keadaan yang peka bagi penderita.

2.

Asma tipe atopik (ekstrinsik)


Pada golongan ini, keluhan ada hubungannya dengan paparan
(exposure) terhadap alergen yang spesifik. Kepekaan ini biasaanya

ditimbulkan dengan uji kulit atau provokasi bronkial. Pada tipe ini
mempunyai sifat-sifat :
a. Timbul sejak kanak-kanak
b. Pada famili ada yang mengidap asma
c. Ada eksim waktu bayi
d. Sering menderita rinitis
e. Di Inggris penyebabnya house dust mite, di USA tepung sari bunga
rumput
3.

Asma Campuran (mixed)


Pada golongan ini, keluhan diperberat oleh faktor-faktor intrinsik
maupun ekstrinsik.
D. Patofisiologi
Asma adalah obstruksi jalan napas difus reversibel. Obstruksi
disebabkan oleh satu atau lebih dari yang berikut ini (Corwin E.J., 2001):
1. Kontraksi otot yang mengelilingi bronki, yang menyempitkan jalan
napas.
2. Pembengkakan membran yang melapisi bronki.
3. Pengisian bronki dengan mukus yang kental.
Selain itu otot otot bronkial dan kelenjar mukosa membesar; sputum
yang kental, banyak dihasilkan dan alveoli menjadi hiperinflasi, dengan udara
terperangkap di dalam jaringan paru. Mekanisme yang pasti dari perubahan
ini tidak diketahui, tetapi apa yang paling diketahui adalah keterlibatan sistem
imunologis dan sistem saraf otonom.
Beberapa individu dengan asma mengalami respon imun yang buruk
terhadap lingkungan mereka. Antibodi yang dihasilkan (IgE) kemudian
menyerang sel-sel mast dalam paru. Pemajanan ulang terhadap antigen
mengakibatkan ikatan antigen dengan antibodi, menyebabkan pelepasan selsel mast (disebut mediator) seperti histamin, bradikinin, dan prostaglandin
serta anafilaksis dari substansi yang bereaksi lambat (SRS A). Pelepasan
mediator ini dalam jaringan paru mempengaruhi otot polos dan kelenjar jalan

napas, menyebabkan bronkospasme, pembengkakan membran mukosa, dan


pembentukan mukus yang sangat banyak.
Sistem saraf otonom mempersarafi paru. Tonus otot bronkial diatur
oleh impuls saraf vagal melalui sistem parasimpatis. Pada asma idiopatik
atau nonalergi, ketika ujung saraf pada jalan napas dirangsang oleh faktor
sepertimasuk
infeksi,
latihan,tubuh
dingin,
merokok,
emosi dan
polutan,
jumlahkulit
Zat allergen
ke dalam
melalui
pernapasan,
mulut
dan kontak
asetilkolin yang dilepaskan meningkat. Pelepasan asetilkolin ini secara
langsung menyebabkan
bronkokonstriksi juga merangsang pembentukan
Reaksi tubuh terhadap allergen
mediator kimiawi yang dibahas di atas. Individu dengan asma dapat
Tubuhrendah
tidakterhadap
tahan terhadap
allergen
mempunyai toleransi
respon parasimpatis.

Selain itu reseptor dan -adrenergik dari sistem saraf simpatis terletak
dalam

bronki.

Kontraksi otot polos pernapasan

Ketika

reseptor

-adrenergik

dirangsang,

terjadi

bronkokonstriksi, bronkodilatasi terjadi ketika reseptor -adrenergik yang


Bronkospasme

dirangsang. Keseimbangan antara reseptor dan -adrenergik dikendalikan


Penyempitan saluran pernapasan

Produksi sputum berlebih


terutama oleh siklik adenosin monofosfat (cAMP).
Stimulasi reseptor-alfa

mengakibatkan penurunan cAMP, yang mengarah pada peningkatan mediator

Hambatan aliran pernapasan


Gangguan ventilasi (hipoventilasi)
Resiko tinggi infeksi

kimiawi yang dilepaskan oleh sel-sel mast bronkokonstriksi. Stimulasi


reseptor-beta mengakibatkan peningkatan tingkat cAMP, yang menghambat

Distraksi ventilasi yang tidak rata dan sirkulasi


paru tidak efektif
Jalan napas
pelepasan mediator kimiawi
dan menyebabkan bronkodilatasi. Teori yang

diajukan ialah bahwa penyekatan -adrenergik terjadi pada individu dengan


Akibatnya,
asmatik rentan
terhadap
peningkatan
mediator
Penurunanasma.
sirkulasi
darah, dispnea,
wheezing,
anoreksia
kelemahan
Batuk dan pelepasan
Gangguan difusi gas di tingkat alveoli
kimiawi dan konstriksi otot polos.

Gangguan pemenuhan istirahat tidur


sianosis
hipoksia
Intoleransi
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuhaktivitas

Pathway
ansietas
Imunitas menurun
Ketidaktahuan tentang penyakit
Resiko tinggi infeksi

10

E. Manifestasi Klinis (Stein J.H., 2001).


Gejala yang timbul biasanya berhubungan dengan beratnya derajat
hiperaktivitas bronkus. Obstruksi jalan nafas dapat reversibel secara spontan,
maupun dengan pengobatan. Gejala-gejala asma antara lain :
1. Bising mengi (Wheezing) yang terdengar dengan atau tanpa stetoskop.

11

2. Batuk produktif, sering pada malam hari.


3. Napas atau dada seperti tertekan
F. Pemeriksaan Laboratorium (Stein J.H., 2001).
Unsur-unsur yang harus dinilai adalah obstruksi aliran udara dan
pertukaran gas :
1. Spirometri di tempat tidur atau pengukuran laju ekspirasi puncak (PEFR)
Spirometri akan memberikan volume ekspirasi paksa dalam 1 detik
(FEV 1.0) tetapi pasien yang menderita bronkospasme akut mungkin tidak
dapat melakukan manuver ekspirasi paksa secara lengkap. Karena usaha
ini akan memperberat gejala.
2. Analisa gas darah arteri
Bila PaCO2 normal (30-40 mmHg) atau meningkat dapat segera
mengalami kegagalan. Pernapasan akut dan harus dirawat di rumah sakit
tanpa ditunda lagi.
3. Pulasan sputum dengan gram atau wright dapat mematikan adanya infeksi
saluran napas bagian bawah kalau terdapat banyak leukosit dan patogen
yang terutama terdiri atas bakteri.
G. Komplikasi (Stein J.H., 2001).
Pneumotoraks,

pneumomediastinum

dan

emfisema

subkutis,

atelektasis, aspergilosis bronkopulmonar alergik, gagal nafas, bronkitis dan


fraktur iga

H. Penatalaksanaan
Pengobatan medikamentosa :
1. Waktu serangan
a. Bronkodilator
1) Golongan adrenergik
2) Golongan methylxanthine

12

3) Golongan antikolinergik
b. Antihistamin
c. Kortikosteroid
d. Antibiotika
e. Ekspektoransia
2. Di Luar serangan
a. Disodium chromoglycate (DSCG)
b. Ketotiten
Pengobatan nonmedikamentosa :
1. Waktu serangan
a. Pemberian oksigen (O2)
b. Pemberian cairan
c. Drainase postural
d. Menghindari alergen
2. Di Luar serangan
e. Pendidikan
f. Imunoterapi / desensifikasi
g. Pelayanan / kontrol emosi. (Alsagaff H.,1993:5)
Menurut Mansjoer A. dkk (1999 : 477-479) tujuan dari terapi asma
adalah:
1. Menyembuhkan dan mengobati gejala asma.
2. Mencegah kekambuhan.
3. Mengupayakan fungsi paru senormal mungkin serta mempertahankannya.
4. Mengupayakan aktifitas harian pada tingkat normal termasuk melakukan
exercise.
5. Menghindari efek samping obat asma.
6. Mencegah obstruksi jalan nafas yang irreversibel.
Terapi awal yaitu :
1. Oksigenasi 4-6 liter/menit

13

2. Agonis -2 (salbutamol 5 mg atau feneterol 2.5 mg atau terbutalin 10 mg)


inhalasi nebulasi dan pemberian dapat diulang setiap 20 menit sampai 1
jam. Pemberian agonis -2 dapat secara subcutan atau IV dengan dosis
salbutamol 0,25 mg atau terbutalin 0,25 mg dalam larutan dekstrosa 5 %
dan diberikan berlahan.
3. Aminofilin bolus IV 5-6 mg/kg BB, jika sudah menggunakan obat ini
dalam 12 jam sebelumnya maka cukup diberikan setengahnya saja.
4. Kortikosteroid hidrokortison 100-200 mg IV jika tidak ada respon segera
atau pasien sedang menggunakan steroid oral atau dalam serangan sangat
berat.

BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. Penkajian
1. Aktivitas / Istirahat

14

Pada pasien asma akan ditemukan gejala letih, lelah, malaise,


ketidak mampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari karena sulit
bernapas, ketidak mampuan tidur, perlu tidur dalam posisi duduk
tinggi, dispnea pada saat istirahat, atau respons terhadap aktivitas atau
latihan.
2. Sirkulasi
Pembengkakan pada ekstremitas bawah, peningkatan TD,
tachycardia berat, warna kulit / membran mukosa : normal/ cyanosis.
3. Integritas Ego
Pasien ini akan terdapat gejala peningkatan faktor risiko,
perubahan pola hidup, ansietas, ketakutan dan peka rangsang.
4. Makanan / Cairan
Mual / muntah, ketidak mampuan untuk makan karena distress
pernapasan, turgor kulit buruk, berkeringat, oedema dependent.
5. Pernapasan
Napas pendek khususnya pada kerja, cuaca atau episode
berulangnya sulit napas, rasa tertekan di dada, ketidak mampuan untuk
bernapas, ronkhi, mengi sepanjang area paru atau pada ekspirasi dan
kemungkinan. Selama inspirasi berlanjut sampai penurunan atau tak
adanya bunyi napas, bunyi pekak pada area paru dan kesulitan bicara
kalimat atau lebih dari 4 atau 5 kata sekaligus.
6. Hygiene
Penurunan kemampuan / peningkatan kebutuhan bantuan
melakukan aktivitas sehari-hari, kebersihan buruk, bau badan.
7. Keamanan
Riwayat alergi terhadap zat / faktor lingkungan, adanya /
berulangnya infeksi, kemerahan / berkeringat.
8. Seksualitas
Penurunan libido.
9. Interaksi sosial

15

Hubungan ketergantungan, kurang sistem pendukung, penyakit


lama atau ketidak mampuan membaik, ketidak mampuan untuk
membuat / mempertahankan suara karena distress pernapasan,
keterbatasan mobilitas fisik.
10. Penyuluhan / Pembelajaran
Penggunaan / penyalah gunaan obat pernapasan, kesulitan
menghentikan merokok, kegagalan untuk membaik
B. Diagnosa Keperawatan
1. Inefektif kebersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan
produksi mukus, kekentalan sekresi, dan bronkospasme.
2. Kerusakan pertukaran gas berhubungkan dengan gangguan suplai
oksigen (obstruksi jalan napas oleh sekresi, spasme broncus), kerusakan
alveoli.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
dispnea, kelemahan, efek samping obat, produksi sputum, anoreksia /
mual-muntah.
4. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya
pertahanan utama (penurunan kerja silia, menetapnya sekret), tidak
adekuatnya imunitas (kerusakan jaringan, peningkatan pemajanan pada
lingkungan, proses penyakit kronis, malnutrisi).

16

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
N
O
1

DIAGNOSA
KEPERAWATAN
Inefektif kebersihan
jalan nafas
berhubungan dengan
peningkatan produksi
mukus, kekentalan
sekresi, dan
bronkospasme.

TUJUAN
Setelah dilakukan tindakan

INTERVENSI

RASIONAL

a) Instruksikan klien pada metode

a) Batuk yang tidak terkontrol

selama x 24 jam di

yang tepat dalam mengontrol

melelahkan dan inefektif,

harapkan rasa nyaman

batuk;

menimbulkan frustasi.

terpenuhi

(1)

Kriteria hasil :
a) Mendemonstrasik
an batuk efektif.

(2)

b) Mencari posisi
yang nyaman

Napas dalam
dan perlahan sambil duduk

organ abdominal menjauhi

setegak mungkin.

paru memungkinkan

Gunakan
napas diafragmatik.

(3)

(1) Duduk tegak menggeser

Tahan napas

ekspansi lebih besar


(2) Pernapasan diafragmatik
menurunkan frekuensi

untuk

selama 3-5 detik dan

pernapasan dan

memudahkan

kemudian hembusan

meningkatkan ventilasi

peningkatan

sebanyak mungkin melalui

alveolar.

pertukaran udara.

mulut (sangkar iga bawah dan

c) Menyatakan
strategi untuk
menurunkan

abdomen harus turun).


(4)

Ambil napas
kedua, tahan dan batuk dari

(3) & (4) Peningkatan volume


udara dalam paru
meningkatkan pengeluaran
sekret.

17

kekentalan

dada (bukan dari belakang

sekresi.

mulut / tenggorokan) dan

memanjangkan ekshalasi

menggunakan napas pendek,

untuk menurunkan udara

batuk kuat.

yang terperangkap

(5)

Demonstrasik
an pernapasan pursed-lip.

b) Pertahankan hidrasi adekuat :

(5) Pernapasan pursed-lip

b) Sekresi kental sulit untuk


dikeluarkan dan dapat
menyebabkan sumbatan

meningkatkan masukan cairan

mukus yang dapat

2 sampai 4 liter per hari bila

menimbulkan atelektasis.

tidak dikontra indikasi

c) Pengkajian ini membantu

penurunan curah

mengevaluasi keberhasilan

jantung/gagal ginjal.

tindakan

c) Auskultasi paru-paru sebelum


dan sesudah tindakan.
d) Dorong / berikan perawatan
mulut.

d) Hygiene mulut yang baik


meningkatkan rasa sehat dan
mencegah bau mulut.
(Carpenito, L.J., 2006 : 131,
Doenges, 2000 :166)

Kerusakan pertukaran Setelah dilakukan tindakan

a) Kaji

frekwensi

kedalaman

a) Manifestasi distres

18

gas berhubungkan
dengan gangguan
suplai oksigen
(obstruksi jalan napas
oleh sekresi, spasme
broncus), kerusakan
alveoli.

selama x 24 jam di
harapkan rasa nyaman
terpenuhi
Hasil yang diharapkan :
a.Menunjukkan
perbaikan ventilasi dan
oksigen jaringan
adekuat dengan AGD
(Analisa Gas Darah)
dalam rentang normal
dan bebas gejala distres
pernafasan.
b.Berpartisipasi dalam
program pengobatan
dalam tingkat
kemampuan atau situasi

pernafasan

pernapasan tergantung

b) Tinggikan kepala tempat tidur,

pada/indikasi derajat

bantu pasien untuk memilih

keterlibatan paru dan status

posisi

kesehatan umum.

yang mudah

untuk

bernafas.
c) Batasi aktivitas pasien atau
dorong untuk istirahat tidur
d) Awasi tanda-tanda vital.

b) Tindakan ini meningkatkan


inspirasi maksimal,
meningkatkan pengeluaran
sekret untuk memperbaiki
ventilasi (rujuk pada DK :
bersihan jalan nafas tak
efektif).
c) Mencegah terlalu lelah dan
menurunkan
kebutuhan/konsumsi
oksigen untuk memudahkan
perbaikan infeksi.
d) Demam tinggi sangat
meningkatkan kebutuhan
metabolik dan kebutuhan

19

oksigen dan mengganggu


oksigenasi seluler. (Doenges
E., 2000 : 168)
3

Perubahan nutrisi
kurang dari
kebutuhan tubuh
berhubungan dengan
dispnea, kelemahan,

Setelah dilakukan tindakan


selama x 24 jam di
harapkan rasa nyaman
terpenuhi
Kriteria hasil :
a) Menunjukkan

efek samping obat,

peningkatan berat

produksi sputum,

badan menuju tujuan

anoreksia / mual-

yang tepat.

muntah.

a) Kaji kebiasaan diet, masukan


makanan saat ini
b) Berikan perawatan oral
sering, buang sekret, berikan
tempat khusus untuk sekali
pakai dan tisu
c) Berikan makanan porsi kecil
tapi sering

b) Menunjukkan perilaku

d) Hindari makanan penghasil

/ perubahan pola hidup

gas dan minuman karbonat

untuk meningkatkan
dan/atau

a. Sering anoreksia karena


dispnea, produksi sputum
dan obat.
b. Rasa tidak enak, bau dan
penampilan adalah
pencegahan utama terhadap
nafsu makan dan dapat
membuat mual dan muntah
dengan peningkatan
kesulitan napas.
c. Membantu untuk
meningkatkan kalori total
d. Dapat menghasilkan

mempertahankan berat

distensi abdomen yang

badan yang tepat.

mengganggu nafas abdomen


dan gerak diafragma, dan

20

dapat meningkatkan
dispnea. (Doenges M.E.,
2000 : 159)
4

Resiko tinggi terhadap


infeksi berhubungan
dengan tidak
adekuatnya pertahanan
utama (penurunan
kerja silia, menetapnya
sekret), tidak
adekuatnya imunitas

Setelah dilakukan tindakan


selama x 24 jam di harapkan
rasa nyaman terpenuhi
Kriteria hasil :
Mengidentifikasi intervensi
untuk mencegah / menurunkan
resiko infeksi.

a) Awasi suhu

a. Demam dapat terjadi karena

b) Tunjukkan dan bantu pasien

infeksi / dehidrasi
b. Mencegah penyebaran patogen

tentang pembuangan tisu dan


sputum.
c) Diskusikan kebutuhan masukan
nutrisi adekuat.
d) Kolaborasi : Berikan
antimikrobial sesuai indikasi

melalui cairan
c. Malnutrisi dapat mempengaruhi
kesehatan umum dan menurunkan
tahanan terhadap infeksi.
d. Dapat diberikan untuk organisme
khusus yang teridentifikasi

(kerusakan jaringan,

dengan kultur dan sensitivitas atau

peningkatan pemajanan

diberikan secara profilaktik karena

pada lingkungan,

resiko tinggi. (Doenges M.E.,

proses penyakit kronis,

2000 : 162)

malnutrisi).

21

D. Implementasi
Pelaksanaan implementasi keperawatan merupakan kegiatan yang
dilakukan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Selama pelaksanaan
kegiatan dapat bersifat mandiri dan kolaboratif. Selama melaksanakan
kegiatan perlu diawasi dan dimonitor kemajuan kesehatan klien.
E. Evaluasi
Tahap evaluasi dalam proses keperawatan menyangkut pengumpulan
data subyektif dan obyektif yang akan menunjukkan apakah tujuan
pelayanan keperawatan sudah dicapai atau belum. Bila perlu langkah
evaluasi ini merupakan langkah awal dari identifikasi dan analisa masalah
selanjutnya.

22

BAB IV
TINJAUAN KASUS
Unit / Ruangan

: Bougenville

Tanggal Pengkajian

: 09 Desember 2013

Kamar/ No. TT

: Zaal Wanita / II

Waktu Pengkajian

: 10.00 WIB

Tgl Masuk RS

: 04 Desember 2013

Auto Anamnesa
Allo Anamnesa
I.

: (Suami)

IDENTIFIKASI
A. KLIEN
Nama (Initial)
Tempat / Tgl. Lahir (Umur)
Jenis Kelamin
Status Perkawinan
Jumlah Anak
Agama / Suku
Warga Negara
Bahasa yang digunakan
Pendidian
Pekerjaan
Alamat Rumah
B. PENANGGUNG JAWAB
Nama
Alamat
Hubungan dengan Klien
C. DATA MEDIK
1. Dikirim Oleh
2. Diagnosa Medik :
Saat Masuk
Saat Pengkajian
D. KEADAAN UMUM
1. Keadaan Sakit

: Ny S
: 63 tahun
: Perempuan
: Kawin
:1
: Islam/Melayu
: Indonesia
: Indonesia
: SMP
: Swasta
: Jl. Yudowinangun
: Tn R
: Jl. Yudowinangun
: Suami

: UGD
: Asma Bronkial
: Asma Bronkial
: Klien tampak sakit sedang

23

Alasan

: Posisi tubuh berbaring lemah, sesak

nafas
2. Kesadaran :
Kualitatif : Compos mentis
Kuantitatif :
Coma Glasgow Scale : Respon Motorik
Respon Bicara

:6
:5

Respon Membuka Mata: 4


Total

: 15

Kesimpulan : Compos mentis


Flaping Tremor / Asterxis
3. Tanda-tanda Vital
a. Tekanan Darah
MAP
Kesimpulan
b. Denyut Nadi
c. Pernafasan
d. Suhu

E. PENGUKURAN
Tinggi Badan
IMT
Catatan

: Tidak ada
: 130/70 mmHg
: 90
mmHg
: Perfusi ginjal memadai
: 88x/mnt
: Frekuensi : 30x/mnt
Irama
: Teratur
: 36,6

: 150 Cm
: 22,2 Kg
: Ideal

Berat Badan : 50 Kg

F. GENOGRAM

63

Catatan : Pasien anak ke 2 dari 4 saudara dan hanya tinggal hidup


berdua bersama

adiknya menikah dengan bapak anak pertama

dari 4 saudara tinggal hidup sendirian dan punya satu anak laki laki
telah meninggal.

24

G. PENGKAJIAN POLA KESEHATAN (11 Pola Gordon)


A. Pola Persepsi Kesehatan-Pemeliharaan Kesehatan
Riwayat penyakit yang pernah dialami :
(Sakit berat, dirawat, kecelakaan, operasi, gangguan
kehamilan/persalinan, abortus, transfuse, reaksi alergi)
Asma Bronkial + Hipertensi
Kapan
Catatan

: 9 bulan yang lalu


: Klien mengatakan masuk rumah sakit dengan
keluhan sesak napas, pusing, dan rasa berat di
tengkuk, sampai saat ini klien mengatakan tidak
pernah oahraga dan tidak patuh pada diet yang
ditentukan.

a. Data Subyektif
1. Keadaan sebelum sakit :
Klien mengatakan sesekali mengalami sakit ringan seperti
batuk/flu namun klien hanya minum obat diwarung dan
terkadang minum jamu. bila sakit yang dirasakannya berat
klien langsung dating kerumah sakit terdekat.
2. Keadaan sejak sakit :
Klien mengatakan badannya terasa lemas, sesak nafas
hilang timbul dan pusing bila melakukan aktifitas. klien
sudah mengoleskan minyak angin ke dadanya bila batuk
timbul dan nyeri didada. Saat batuk sulit untuk dikeluarkan
sputumnya.
b. Data Obyektif
Keadaan sejak sakit :
Klien tampak lemas dan pucat, berbaring lemah di tempat
tidur. sesekali memegang kepala saat klien merasa pusing.
batuk hilang timbul.
B. Pola Nutrisi-Metabolik
a. Data Subyektif
1) Keadaan sebelum sakit :

25

Klien mengatakan sebelum sakit makan teratur 3x


sehari, nasi beserta lauk pauk. minum lebih kurang 8
gelas sehari air putih dan pada pagi hari minum air teh
hangat lebih kurang 1 gelas sehari.
2) Keadaan sejak sakit :
Klien mengatakan sejak sait nafsu makan berkurang
karena perut terasa mual dan hanya menghabiskan 1/3
porsi makanan yang disediakan rumah sakit. minum air
putih lebih kurang 5 gelas sehari dan dibantu minum air
teh hangat lebih kurang elas sehari.
b. Data Obyektif
Klien tampak tidak memiliki nafsu makan dan klien tampak
hanya menghabiskan 1/3 porsi makanan yang disediakan
rumah sakit, minum air putih 5 gelas. Klien tampak tidak
patuh pada diit yang diberikan oleh rumah sakit
C. Pola Eliminasi
a. Data Subyektif
1) Keadaan sebelum sakit :
Klien mengatakan sebelum sakit BAB klien rutin 1x sehari
setiap pagi hari berbentuk padat sedangkan BAK 7x sehari
berwarna kuning jernih dan berbau khas.
2) Keadaan sejak sakit
Klien mengatakan sejak sakit BAB tidak teratur 1x dalam
waktu 2/3 hari sekali berbentuk padat sedangkan BAK 5x
sehari berwarna kuning jernih dan berbau khas.
b. Data Obyektif
Tidak di kaji
D. Pola aktivitas

26

a. Data subyektif
1) Keadaan sebelum sakit
Klien mengatakan sebelum sakit klien berkerja sehari-hari
sebagai buruh di pabrik kepeting, dan tidak pernah
melakukan olahraga pada waktu senggang.
2) Keadaan sejak sakit
Klien mengatakan sejaki sakit aktivitas terganggu karena
sesak

nafas

hilang

timbul

saat

beraktivitas,

klien

mengatakan semua aktivitas dibantu suaminya dan sesak


nafas timbul saat cuaca panas atau sangat dingin.
b. Data Obyektif
Klien tampak lemah, aktivitas klien tampak dibantu suaminya,
aktivitas ringan dapat dilakukan sendiri seperti duduk sendiri.
E. Pola tidur dan istirahat
a. Data Subyektif
1) Keadaan sebelum sakit
Klien mengatkan sebelum sakit, tidur klien rutin dan
nyenyak 8jam sehari dari pukul 22.00 s/d 05.00 dan
sesekali tidur siang 1 jam saat waktu luang. Klien tidak
pernah mengkonsumsi obat tidur.
2) Keadaan sejak sakit
Klien mengatakan tidak ada maslaah dengan tidur, klien
tidur 8 jam sehari dari pukul 22.00 s/d 05.00 sesekali
klien terbangun karena suara berisik dari pasien sebelah
namun klien dapat tidur kembali dan klien sesekali tidur
siang.
b. Data Obyektif
1) Observasi

27

a) Ekspresi wajah : mengantuk

negatif

positif
:

negatif

c) Palpebrae Inferior : berwarna gelap :

negatif

b) Banyak menguap
positif

positif
F. Pola persepsi Kognitif
a. Data Subyektif
1) Keadaan sebelum sakit
Klien mengatakan tidak menggunakan alat bantu penglihatan
maupun alat bantu pendengaran, Klien mengatakan tidak ada
gangguan pada pendengaran maupun penglihatan.
2) Keadaan sejak sakit
Klien menagatakan sejak sakit tidak ada masalah/ gangguan
sensorik dan tidak menggunakan alat bantu pendengaran
maupun penghilatan. Klien merasa nyeri klien di perut atas
karena maagnya kambuh.
Pengkajian Nyeri (PQRST):
1. Provocative/ Palliative
a. Apa penyebabnya :
Karena sakit maag.
b. Hal-hal yang memperbaiki keadaan:
Minum air hangat.
2. Quality
a. Bagaimana dirasakan :
Sakit melilit
b. Bagaimana terlihat
Terlihat meringis
3. Rigion
a. Dimana lokasinya :
Abdomen lokasi perigastrium
b. Bagaimana pebyebaranya
Hanya diprut
4. Severity (mengganggu aktivitas) :

28

Skala nyeri 3
5. Time (kapan mulai timbul dan bagaimana terjadinya) :
Sesekali bila terlambat makan.
b. Data Obyektif
Klien tampak tidak menggunakan alat bantu penglihatan
maupun pendengaran.
G. Pola Persepsi dan Konsep Diri
a. Data Subyektif
1) Keadaan sebelum sakit :
Klien mengatakan selalu bersyukur atas segala sesuatu yang
tuhan berikan kepadanya. Klien tidak pernah merasa putus
harapan/frustasi walaupun cobaan datang dalam hidupnya.
Klien selalu sabar menghadapinya.
2) Keadaan sejak sakit :
Klien mengatakan tidak terlalu memikirkan penyakit yang
dideritanya. Tidak merasa cemas, klien selalu berharap untuk
dapat cepat sembuh.
b. Data Obyektif
1) Observasi :
a) Kontak mata : ada kontak mata saat diajak bicara
b) Rentang perhatian : perhatian klien tidak mudah dialihkan
saat diajak bicara
c) Suara dan cara bicara : jelas
d) Postur tubuh : berbaring lemah
2) Pemeriksaan fisik
Kelainan bawaan yang nyata : tidak ada
H. Pola Peran dan Hubungan dengan Sesama
a. Data Subyektif
1) Keadaan sebelum sakit :
Klien mengatakan hanya hidup berdua dengan suaminya
dirumah kontrakan mereka. Klien berhubungan baik dengan
saudara dan tetangganya.

29

2) Keadaan sejak sakit :


Suami klien mengatakan sedih melihat istrinya dan selalu
berdoa agar istrinya cepat sembuh dan kembali kerumah.
b. Data Obyektif
Tidak tampak gangguan verbal dan sesekali klien dikunjungi
keluarganya
I.

Pola Reproduksi-Seksualitas
a. Data Subyektif
1) Keadaan Sebelum Sakit:
Klien mengatakan klien sudah tidak menstruasi lagi,klien
mengatakan terakhir menstruasi kira-kira usia 40 tahun,klien
tidak ada menggunakan alat kontrasepsi.
2) Keadaan Sejak Sakit
Klien mengatakan tidak ada masalah pada alat reproduksi
b. Data Obyektif
Klien tampak menggunakan pakaian sesuai dengan jenis
kelaminnya,tampak tidak ada kelainan atau gangguan
seksual.
J. Pola Mekanisme Koping dan Toleransi Terhadap Stress
a. Data Subyektif
1) Keadaan Sebelum Sakit
Klien mengatakan hal yaqng paling membuatnya cemas
adalah masalah ekonomi.Apabila cemas klien biasanya
menceritakan pada suaminya dan tidak lupa untuk selalu
berdoa.
2) Keadaan Sejak Sakit
Klien mengatakan tidak ada masalah dalam menyesuaikan
diri di lingkungan rumah sakit.
b. Data Obyektif
1) Data Obyektif :
Klien tidak tampak cemas

30

2) Pemeriksaan Fisik :
a) Tekanan darah: Berbaring : 130/70
Kesimpulan : Hipotensi Ortostatik :
b) Heart Rate : 88 x/menit
c) Kulit : Keringat Dingin : Tidak Ada
Basah
: Tidak Ada

mmHg
Negatif

K. Pola Sistem Nilai Kepercayaan


a. Data Subyektif
1) Keadaan Sebelum Sakit
Klien mengatakan selalu shalat 5 waktu dan rutin mengikuti
pengajian ibu-ibu di mesjid tempat tinggalnya.
2) Keadaan Sejak Sakit
Klien mengatakan sejak sakit tidak dapat melakukan ibadah
karena badan terasa lemah dan pusing. Hanya berada di
tempat tidur untuk kesembuhannya.
b. Data Obyektif
Tampak tasbih dan al-Quran di sisi tempat tidur
PEMERIKSAAN FISIK
1. SISTEM PENGLIHATAN
a. Posisi Mata
b. Kelopak Mata
c. Pergerakan Bola Mata
d. Konjunctiva
e. Kornea
f. Sclera
g. Pupil
h. Otot-otot Mata
i. Fungsi penglihatan
j. Tanda-tanda Radang
k. Pemakaian Kacamata
l. Pemakaian Lensa Kontak
m. Reaksi Terhadap Cahaya
2. SISTEM PENDENGARAN
a. Daun Telinga
b. Karakteristik Cerumen
Warna
Konsistensi
Bau
c. Kondisi Liang Telinga

: Simetris
: Normal
: Normal
: Anemis
: Berkabut
: Anikterik
: Isokor
: Tidak ada kelainan
: Dapat Melihat Jelas Jarak 30 cm
: Tidak ada
: Tidak
: Tidak
: (Normal) +/+
: Simetris
: Kuning
: Lembab
: Berbau Khas
: Tidak ada

31

d. Perasaan Penuh Ditelinga


: Tidak Ada
e. Tinitus
: tidak Ada
f. Fungsi Pendengaran
Tes Dengan Garpu Tala
: +/+
Tuli
: Tidak
g. Pemakaian alat bantu/Protesa : Tidak
3. SISTEM WICARA
a. Kesulitan /Gangguan Wicara : Tidak
b. Pemakaia Alat Medik
: Tidak
4. SISTEM PERNAFASAN
a. Frekuensi Pernafasan
b. Irama
c. Kedalaman
d. Jalan Nafas
e. Usaha Nafas
f. Batuk
g. Warna Sputum
h. Konsistensi Sputum
i. Hoemaptoe
j. Suara Nafas Tambahan

: 30 x/menit
: Teratur
: Dalam
: Ada Sputum
: Ya dan ada Retraksi Costal
: Tidak Produktif
: Tidak Ada
: Tidak Ada
: Tidak
: Ya Dengan Wheezing

5. SISTEM KARDIOVASKULER
a. Sirkulasi Perifer
1) Nadi
: 88 x /menit
Irama
: Teratur
Denyut
: Kuat
2) Tekanan Darah (Tensi) : 130/70 mmHg
3) Distensi Vena Jugularis
Kanan
: Tidak
Kiri
: Tidak
4) Temperatur kulit
: Hangat
5) Warna kulit
: Pucat
6) Pengisian kalpiler
: 3 /detik
7) Oedema
: Tidak
b. Sirkulasi jantung
1) Heart Rate (HR)
: 88 x /menit
2) Irama
: Teratur
3) Bunyi jantung tambahan : Tidak
4) Sakit dada (chest pain)
: Hilang Timbul
5) Timbulnya sakit dada
: Aktifitas
6) Karakteristik sakit dada : Seperti tertimpa beban berat
6. SISTEM HEMATOLOGI

32

a. Mengeluh kesakitan

: Tidak

b. Kelainan hematologi

: Tidak ada

7. SISTEM SYARAF PUSAT


a. Tingkat kesadaran

: Compos Mentis

b. Glasgow Coma Scale (GCS)


1) Respon membuka mata (Eye=E) : 4
2) Respon Motoric (Motoric=M) : 6
3) Respon Verbal (Verbal=V)
:5
TOTAL

: 15

Kesimpulan

: Corposmentis

c. Peningkatan Tekanan Intra Cranial


d. Kelainan persarafan

: Tidak

: Tidak ada

e. Refleks Babinski (kanan/kiri) : Positif


f. Refleks Patela (kanan/kiri)

: Positif

g. Uji Saraf Cranial


1) Nervus I
2) Nervus II
3) Nervus III-IV-VI
4) Nervus V Sensorik
5) Nervus V Motorik
6) Nervus VII Sensorik
7) Nervus VII Motorik
8) Nervus VIII
9) Nervus IX dan X
10) Nervus XI
11) Nervus XII

: Tidak Dikaji
: Tidak Dikaji
: Tidak Dikaji
: Tidak Dikaji
: Tidak Dikaji
: Tidak Dikaji
: Tidak Dikaji
: Tidak Dikaji
: Tidak Dikaji
: Tidak Dikaji
: Tidak Dikaji

8. SISTEM PENCERNAAN
a. Keadaan mulut
1)
2)
3)
4)
5)

Gigi
Gigi palsu/protose
Stomatitis
Lidah kotor
Hipersalivasi

: Karies
: Tidak
: Tidak
: Tidak
: Tidak

33

b. Muntah
Isi
Warna

: Tidak
::-

c. Mual

: Ya

d. Nafsu makan

: Menurun

e. Nyeri daerah perut

: Ya

Rasa penuh di perut


Karakteristik nyeri
f. Kebiasaan BAB
1)
2)
3)
4)
5)

Diare
Konsistensi faeces
Warna faeces
Konstipasi
Bising usus

: Tidak
: Melilit
: 1 x /hari
: 2 x /hari
: Berbahan
: Kuning
: Tidak
: Tidak

g. Hepar

: Teraba

h. Keadaan abdomen

: Supel

9. SISTEM ENDOKRIN
a. Gula darah

: 107 gr%

b. Nafas berbau keton

: Tidak

c. Kelainan endokrin

: Tidak

d. Data yang menunjang

:-

10. SISTEM UROGENITAL


a. Perubahan pola kemih

: Tidak ada

b. Kebiasaan BAK
Pola rutin

: 5 x /hari
: Terkontrol

Jumlah jam
c. Warna

:: Kuning jernih

d. Distensi/ketegangan kandung kemih : Tidak


e. Keluhan sakit pinggang

: Tidak

34

f.

Kelainan/penyakit kelamin

: Tidak

11. SISTEM INTEGUMEN


a. Turgor kulit

: Elastis

b. Warna kulit

: Pucat

c. Keadaan kulit

: Bersih

d. Keadaan rambut
Tekstur
Kebersihan

: Kering
: Ya

12. SISTEM MUSKULOKELETAL


Uji kekuatan otot
Ekstremitas Atas

: Kiri

:5

Kanan
Ekstremitas Bawah

: Kiri

:5
:5

Kanan

:5

a. Kesulitan dalam pergerakan : Tidak


b. Sakit pada tulang, sendi, kulit : Tidak
c. Fraktur

: Tidak

d. Kelainan bentuk tulang sendi : Tidak


e. Keadaan tonus otot

13. SISTEM IMUNITAS/KEKEBALAN TUBUH


a. Suhu

: 36,6 0C

b. Berat badan sebelum sakit

: 50 Kg

c. Berat badan setelah sakit

: 50 Kg

d. Pembesaran kelenjar getah bening

: Tidak

I. PEMERIKSAAN PENUNJANG + HASIL PEMERIKSAAN PENUNJANG


(Laboratorium)

35

NO
1
2
3
4
5

PEMERIKSAAN
Hb
Gula darah puasa
Trigliserida
Kolesterol HDL
Kolesterol LDL

HASIL

NILAI

11,3 gr%
201 mg/dl
122 mg/dl
81 mg/dl
102 u/L

NORMAL
12-15 gr%
< 200 mg/dl
< 150 mg/dl
< 40 mg/dl
< 31 u/L

II. PENATALAKSANAAN MEDIK


NO

TERAPI/OBAT

DOSIS

CARA

INDIKASI

PEMBERIAN

Flumucyl 200mg

2x1

Oral

Paracetamol 500 mg

k/p

Oral

Cefoferazone 1 gr

2x1

IV

Infeksi
saluran
napas
dengan
sekresi
mucus
berlebih
Menurunkan
panas
Infeksi
saluran
napas (atas
atau bawah)

ANALIS DATA

Nama Klien

: Nyonya S

Ruangan / No. Bed : Bogenville

Umur

: 63 Tahun

Diagnosa Medis

: Asma Bronkial

36

NO

SYMPTOM
(DATA
SUBYEKTIF
OBYEKTIF)

ETIOLOGY
&

(PENYEBAB)

PROBLEM
(MASALAH)

1.

Data subyek :
-Pasien mengatakan sesak nafas
hilang timbul.
-Pasien
mengatakan
sesak
nafastimbul saat
Beraktivitas.
-Pasien mengatakan ada riwayat
Asma.
Data Objek :
-Pasien tampak lemas.
-Pasien sesak nafas hilang timbul.
-Tanda-tanda Vital :
TD : 130/40 mm/Hg
HR : 88 Kali/Menit
RR : 30 Kali/Menit
T : 36.6C

Bronkospasme

2.

Data Subyek :
-Pasien mengatakan batuk hilang
timbul.
-Pasien mengatakan sulit untuk
mengeluarkan
Sputum.
Data Objek :
-Pasien tampak sesak.
-Pasien tampak batuk produktif.
-Tanda-tanda vital :
TD : 130/40 mm/Hg
HR : 88 Kali/Menit
RR : 30 Kali/Menit
T : 36.6C
Data Subyek :
-Pasien mengatakan nafsu makan
berkurang.
-Pasien mengatakan mual.
Data Obyek :
-Px tampak menghabiskan 1/3 porsi

Peningkatan
Gangguan
produksi sekret / Ketidakefektifan
sputum
jalan nafas

3.

Ketidakefektifan
pola nafas

Anoreksia : mual Gangguan


nutrisi
dan muntah
kurang
dari
kebutuhan tubuh

37

makanan
Yang disediakan rumah sakit.
-Px tampak tidak nafsu makan.
-Px tampak tidak patuh pada dnt
yang
Dnt yang disediakan rumah sakit.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Nama Klien

: Nyonya S

Ruangan / No. Bed : Bogenville

Umur

: 63 Tahun

Diagnosa Medis

N
O
1.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Ketidakefektifan pola
dengan Bronkospasme.

nafa

berhubungan

2.
Ketidakefektifan jalan nafas berhubungan
dengan peningkatan produksi sputum / secret.
3.
Gangguan nutrisi kurang dan kebutuhan tubuh
berhubungan dengan Anoreksia : mual dan
muntah.

NAMA
(JELAS)
Kelompok III

: Asma Bronkial

38

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Asma bronkial adalah gangguan pernapasan pada bronkus yang
menyebabkan penyempitan intermiten pada saluran pernafasan.
Secara etiologi asma dapat dibagi menjadi 3 macam yaitu : Asma tipe
non atopik (intrinsik), Asma tipe atopik (ekstrinsik), Asma Campuran (mixed).
Gejala

asma yang timbul biasanya berhubungan dengan beratnya derajat

hiperaktivitas bronkus. Obstruksi jalan nafas dapat reversibel secara spontan,


maupun dengan pengobatan. Gejala-gejala asma antara lain :
1. Bising mengi (Wheezing) yang terdengar dengan atau tanpa stetoskop.
2. Batuk produktif, sering pada malam hari.
3. Napas atau dada seperti tertekan.
B. Saran
Setelah membaca dan memahami konsep dasar medik dari asma di
harapkan setiap mahasiswa/mahasiswi nantinya dapat dengan teliti dan cermat
dalam memahami klien dengan asma yaitu dapat memahami penyebab, gejala
serta komplikasi yang mungkin terjadi pada klien dengan perikarditis, dan
setelah membaca dan memahami konsep dasar keperawatan pada klien dengan
asma diharapkan mahasiswa/mahasiswi nantinya pada saat bekerja dapat
memberikan asuhan keperawatan yang benar dan tepat kepada klien sehingga
masalah klien dengan asma dapat diatasi dengan baik.