Vous êtes sur la page 1sur 5

1.

SIKAP: Merupakan suatu hal yang mempelajari mengenai seluruh tendensi tindakan, baik
yang menguntungkan maupun yang kurang menguntungkan, tujuan manusia, objek, gagasan,
atau situasi. Istilah objek dalam sikap digunakan untuk memasukkan semua objek yang
mengarah pada reaksi seseorang. Dalam organisasi, sikap adalah penting karena memengaruhi
perilaku kerja. Sikap disusun oleh komponen teori, emosional, dan perilaku. Sikap memiliki
empat fungsi utama: pemahaman, kebutuhan akan kepuasan, ego yang defensif, dan ungkapan
nilai.
Sikap dan Konsistensi: Orang-orang mengusahakan konsistensi antara sikap-sikapnya serta
antara sikap dan perilakunya. Ini berarti bahwa individu-individu berusaha untuk
menghubungkan sikap-sikap mereka yang terpisah dan menyelaraskan sikap dengan perilaku
mereka sehingga mereka kelihatan rasional dan konsisten.
Formasi Sikap dan Perubahan: Formasi sikap mengacu pada pengembangan suatu sikap
yang mengarah pada suatu objek yang tidak ada sebelumnya. Perubahan sikap mengacu pada
substitusi sikap baru untuk seseorang yang telah ditangani sebelumnya.
2. BEBERAPA TEORI TERKAIT DENGAN SIKAP
a) Teori Perubahan Sikap : Teori perubahan sikap dapat membantu untuk memprediksikan
pendekatan yang paling efektif. Sikap, mungkin dapat berubah sebagai hasil pendekatan
dan keadaan.
b) Teori Penguatan dan Tanggapan Stimulus : Teori penguatan dan tanggapan stimulus dari
perubahan sikap terfokus pada bagaimana orang menanggapi rangsangan tertentu. Teoriteori ini diurutkan berdasarkan komponen stimulus dibandingkan tanggapan.
c) Teori Pertimbangan Sosial : Teori pertimbangan sosial ini merupakan suatu hasil
perubahan mengenai bagaimana orang-orang merasa menjadi suatu objek dan bukannya
hasil perubahan dalam memercayai suatu objek.
d) Konsistensi dan Teori Perselisihan : Teori konsistensi menjaga hubungan antara sikap dan
perilaku dalam ketidakstabilan, walaupun tidak ada tekanan teori dalam sistem. Teori
perselisihan adalah suatu variasi dari teori konsistensi.
e) Teori Disonansi Kognitif : Leon Festinger pada tahun 1950-an mengemukakan teori
Disonansi Kognitif. Teori ini menjelaskan hubungan antara sikap dan perilaku. Disonansi
dalam hal ini berarti adanya suatu inkonsistensi. Festinger mengatakan setiap
inkonsistensi akan menghasilkan rasa tidak nyaman, dan sebagai akibatnya seseorang
akan mencoba untuk menguranginya.

f) Teori Persepsi Diri : Teori persepsi diri menganggap bahwa orang-orang mengembangkan
sikap berdasarkan bagaimana mereka mengamati dan menginterpretasikan perilaku
mereka sendiri. Menurut teori ini, sikap hanya akan berubah setelah perilaku berubah.
3. MOTIVASI: Motivasi adalah proses yang dimulai dengan definisi fisiologis atau
psikologis yang menggerakkan perilaku atau dorongan yang ditunjukan untuk tujuan insentif.
a) Teori Motivasi Awal : Tiga teori spesifik dirumuskan selama kurun waktu tahun 1950-an,
diantaranya teori hierarki kebutuhan, teori X dan Y, dan teori motivasi hygiene. Teoriteori ini dianggap bersifat awal karena teori ini mewakili suatu dasar darimana teori
kontemporer berkembang dan para manajer mempraktikkan penggunaan teori dan istilah
ini untuk menjelaskan motivasi karyawan secara teratur
b) Teori Kebutuhan dan Kepuasan : Maslow mengembangkan suatu bentuk teori kelas yang
menjelaskan bahwa setiap individu mempunyai beraneka ragam kebutuhan yang dapat
mempengaruhi perilaku mereka. Kebutuhan ini dibagi kedalam beberapa kelompok yang
pengaruhnya berbeda-beda, yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan keamanan,
kebutuhan sosial, kebutuhan akan penghargaan dan kebutuhan akan aktualisasi diri.
c) Teori X dan Teori Y : Teori ini menyimpulkan bahwa manusia memiliki dasar negatif
yang diberi tanda sebagai teori X, dan dasar positif yang ditandai dengan teori Y.
d) Teori Kebutuhan McClelland : Teori ini memiliki suatu faktor hierarki yang memotivasi
perilaku. Dalam hal ini terdapat tiga faktor yaitu prestasi, kekuatan dan afiliasi
e) Teori Dua Faktor : Asumsi terpenting dari bentuk teori Hezberg ini adalah faktor yang
mempunyai pengaruh positif dalam motivasi dan menjadi bahan perbandingan yang
menyenangkan terhadap seluruh pengaruh negatif, meliputi kebijakan perusahaan,
kondisi pekerjaan, hubungan perseorangan, keamanan kerja dan gaji.
4. TEORI KONTEMPORER MOTIVASI
a) Teori Keadilan : Teori ini dipublikasikan pertama oleh Adam tahun 1963. Dalam teori ini
kunci ketidakpastian terhadap pekerjaan adalah jika orang tersebut membandingkannya
dengan lingkungan lainnya
b) Teori ERG : Teori dari Alderfer ini menganggap kebutuhan manusia tersusun dalam suatu
hierarki. Alderfer menegaskan suatu kebutuhan tidak harus terpuaskan terlebih dahulu
sebelum kebutuhan pada tingkat diatasnya muncul. Teori ERG menganggap kebutuhan
manusia memiliki tiga hirarki yaitu kebutuhan akan eksistensi, kebutuhan akan
keterikatan dan kebutuhan akan pertumbuhan

c) Teori Harapan : Teori ini dikembangkan tahun 1930-an oleh Kurt Levin dan Edward
Tolman. Ide dasar teori ini adalah motivasi ditentukan oleh hasil yang diharapkan akan
diperoleh seseorang sebagai akibat dari tindakannya
d) Teori Penguatan : Teori ini mengemukakan perilaku merupakan fungsi dari akibat yang
berkaitan dengan perilaku tersebut
e) Teori Penetapan Tujuan : Teori ini dikembangkan oleh Edwin Locke (1986) yang
menguraikan hubungan antara tujuan yang ditetapkan dengan prestasi kerja
f) Teori Atribusi : Teori ini mempelajari proses bagaimana seseorang menginterpretasikan
suatu peristiwa, alasan, atau sebab perilakunya. Teori ini dikembangkan oleh Fritz Heider
yang barargumentasi bahwa perilaku seseorang ditentukan oleh kombinasi antara
kekuatan internal dan eksternal. Unsur utama dalam teori ini yaitu perbedaan, konsensus
dan konsistensi
g) Teori Agensi : Teori ini didasarkan pada teori ekonomi. Agen dan principal diasumsikan
termotivasi oleh kepentingannya sendiri, dan sering kali kepentingan antara keduanya
berbenturan
h) Pendekatan Dyadic : Menyatakan ada dua pihak yaitu atasan dan bawahan yang berperan
dalam proses evaluasi kerja. Pendekatan tersebut juga mengakui bahwa atasan
kemungkinan tidak memperlakukan seluruh bawahannya secara sama.
5. PERSEPSI: Persepsi adalah bagaimana orang-orang melihat atau menginterpretasikan
peristiwa, objek, serta manusia. Persepsi ditentukan oleh faktor personal dan situasional.
Rangsangan Fisik versus Kecenderungan Individu: Orang-orang merasakan dunia ini
dengan cara berbeda karena persepsi bergantung pada rangsangan fisik dan kecenderungan
individu tersebut. Rangsangan fisik adalah input yang berhubungan dengan perasaan, seperti
penglihatan dan sentuhan. Kecenderungan individu meliputi alasan, kebutuhan, sikap,
pelajaran dari masa lalu dan harapan.
Pilihan, Organisasi, dan Penafsiran Rangsangan: Manusia hanya mampu merasakan
sesuatu yang kecil dan membagi semua rangsangan tersebut ke arah yang diarahkan olehnya.
Dengan demikian, manusia bisa merasa bimbang atau tidak bimbang dalam memilih
persepsinya. Oleh karena itu manusia terkonsentrasi pada sesuatu yang dipilih dan menolak
yang lain. Manusia biasanya memilih berbagai hal menarik dan penting dari temuannya.
Manusia sering melihat apa yang diharapkan, sehingga memotivasi mereka untuk merasakan
apa yang diperlukan atau diinginkan.
Keterkaitan Persepsi bagi Para Akuntan: Para akuntan perilaku dapat menerapkan
pengetahuan persepsi terhadap banyak aktivitas organisasi. Misalnya dalam evaluasi kinerja,
3

cara

penilaian

atas

seseorang

mungkin

dipengaruhi

oleh

ketelitian

persepsi

si

penyelia.kesalahan atau bias penilaian mungkin diakibatkan oleh sandiwara yang mencoba
menakut-nakuti sehingga karyawan tidak puas dan pada akhirnya meninggalkan perusahaan.
Oleh karena itu para penyelia perlu mengenali perasaan mereka terhadap para bawahannya.
Persepsi Orang : Membuat Penilaian mengenai Orang lain: Persepsi orang dalam
membuat penilaian terhadap orang lain, hal ini dapat dikaitan dengan teori distribusi. Teori ini
menyarankan bahwa jika seseorang mengamati perilaku seorang individu, orang tersebut
berusaha menentukan apakah perilaku itu disebabkan oleh faktor internal atau eksternal.
Namun penentuan tersebut sebagian besar bergantung pada tiga faktor yaitu : (1) kekhususan,
(2) konsensus, (3) konsistensi.

6. NILAI DAN DILEMA ETIKA: Permasalahan profesi akuntan dapat disebabkan oleh
masalah yang berhubungan dengan kemerosotan standar etika. Dengan diketahuinya fakta ini,
nilai-nilai dari profesi akuntan hendakmya mempunyai ikatan yang berarti pada seluruh iklim
etika di dalam suatu organisasi. Kesempatan dapat dilihat sebagai suatu standar etika yang
diharapkan, dimana dapat dilihat setiap peruubahan perilaku dalam organisasi profesi itu
sendiri serta setiap perubahan perilaku yang diharapkan dari yang lainnya.
7. PEMBELAJARAN: merupakan proses dimana prilaku baru diperlukan. Pembelajaran
terjadi sebagai hasil dari motivasi, pengalaman, dan pengulangan dalam merespons situasi,
yang terjadi dalam 3 bentuk: (1) Pengondisian Keadaan Klasik: merupakan proses
pembelajaran suatu respons dan suatu rangsangan yang tidak terkondisi, (2) Pengondisian
Operant: menyatakan prilaku merupakan suatu fungsi dari konsekuensi, (3) Pembelajaran
Sosial: Individu-individu juga dapat belajar dengan mengamati kejadian pada orang lain
dengan diberi tahu maupun dengan mengalami secara langsung.
8. KEPRIBADIAN: Kepribadian mengacu pada bagian karakteristik psikologi dalam diri
seseorang yang menentukan dan mencerminkan bagaimana orang tersebut merespons
lingkungannya.
Penentu Kepribadian: Suatu argument dini dalam riset kepribadian adalah apakah
kepribadian seseorang merupakan hasil keturunan atau lingkungan. Selain itu, dewasa ini
dikenal faktor ketiga, yaitu faktor situasi. Jadi, sekarang, kepribadian seorang dewasa

umumnya dianggap terbentuk dari faktor keturunan dan lingkungan yang diperlunak oleh
kondisi situasi.
Keturunan: Sebagian besar peneliti mengemukakan bahwa keturunan merupakan penentuan
pada saat pembuahan.
Lingkungan: Di antara faktor-faktor yang menekankan pada pembentukan kepribadian
adalah budaya dimana seseorang dibersarkan, pengondisian dini, norma-norma diantara
keluarga, teman-teman, dan kelompok-kelompok sosial, serta pengaruh lain yang dialami.
Situasi: Faktor ini mempengaruhi dampak keturunan dan lingkungan terhadap kepribadian.
Kepribadian dan Budaya Nasional: Terdapat kepastian bahwa tidak ada jenis kepribadian
umum untuk 1 negara tertentu. Namun budaya Negara harus mempengaruhi karakteristik
kepribadian yang dominan dari populasinya.
9. EMOSI: Setiap orang memiliki karakteristik kepribadian, tetapi karakteristik kepribadian
itu sering kita campur adukkan dengan sikap emosi kita. Emosi jarang dipandang bersifat
membangun atau mampu merangsang perilaku kinerja pada karyawan. Emosi adalah perasaan
intens yang diarakan pada seseorang atau sesuatu. Penelitian telah mengidentifikasi 6
komponen emosi secara universal, yaitu kemarahan, ketakutan, kesedihan, kebahagiaan, rasa
jijik, dan kaget.
Memilih Emosi: (a) Emosi Para Pekerja: Seseorang terkadang harus mengatur emosinya.
Tampilan emosi sedikit banyaknya diatur oleh norma-norma tempat kerja dan tuntutan dari
keadaan tertentu. (b) Emosi Tenaga Kerja: Emosi tenaga kerja mengacu pada kebutuhan
bahwa karyawan mengungkapkan emosi tertentu di tempat kerja guna memaksimalkan
produktivitas organisasi.
Kenapa Seharusnya Kita Peduli dengan Emosi di Tempat Kerja?: Orang-orang yang
mengetahui emosi mereka sendiri dan ahli membaca emosi orang lain mungkin lebih efektif
dalam pekerjaan mereka.
Intelegensi Emosional: mengacu pada berbagai keterampilan non-kognitif, kemampuan,
serta kompetensi yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil dalam tuntutan
lingkungan dan tekanan.
Emosi Negatif di Tempat Kerja: dapat mengarah pada sejumlah penyimpangan prilaku di
tempat kerja.