Vous êtes sur la page 1sur 14

Nama Peserta

dr. Elvira Natalya br Perangin-angin


Nama Wahana
RSUD Rantau Prapat
Topik
Asma Bronkial
Tanggal Kasus
02 Desember 2014
Tanggal Presentasi : 16 Januari 2015
Nama Pendamping : dr. H. Nauli Asdam Simbolon
Tempat Presentasi : RSUD Rantau Prapat
Objektif Presentasi :
Keilmuan
Keterampilan Penyegaran Tinjauan pustaka
Diagnostik Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus
Bayi
Anak
Remaja
Dewasa
Lansia
Bumil
Deskripsi
Perempuan, 35 Tahun, sesak napas
Tujuan
Menegakkan Diagnosa Asma Bronkial serta memberikan terapi yang tepat
Bahan Bahasan Tinjauan Pustaka
Riset
Kasus
Audit
Cara Membahas Diskusi
Presentasi dan
Email
Pos
Diskusi
Data Pasien
Nama : Darmawaty br Sinaga
No RM : 13-30-60
Umur : 35 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Kampung Pajak
Suku : Batak Toba
Agama : Islam
Nama RS :
No Telp :
Terdaftar Sejak :
RSUD Rantau
Prapat
Data Utama untuk Bahan Diskusi :
1. Diagnosis/Gambaran Klinis : sesak napas
2. Riwayat Pengobatan : salbutamol 2x1, ventolin inhaler
3. Riwayat Kesehatan/Penyakit : Os memiliki riwayat penyakit Asma bronkial
4. Riwayat Keluarga : 5. Riwayat Pekerjaan : 6. Kondisi Lingkungan Sosial dan Fisik (Rumah, Lingkungan, Pekerjaan)
7. Riwayat Imunisasi : Imunisasi Lengkap
8. Lain-lain : (Pemeriksaan Fisik, Laboratorium, Pemeriksaan tambahan yang ada)
Daftar pustaka

1. Kusnan B.U. : Patogenesis dan Patofisiologi Asma Bronkial, Buku Makalah Simposium
Terapi Mutakhir Asma Bronkial, PDPI Cab.Jateng, 1991 : 9-16.
2. Mangunnegoro H. : Gambaran Klinik dan Terapi Rasional pada Asma Bronkial, Majalah
Dokter Keluarga, Vol 4/10, Sept 1985 : 495-200.
3. Purnawan J., Atiek S.S., Husna A. : Kapita Selekta Kedokteran, Media Aesculapius,
Jakarta 1982, 208-211.
4. Soeria S. : Pengelolaan Asma Bronkial Dalam Praktek, Majalah Dokter Keluarga, V0l 4/8,
Juli 1985 : 386-390.
Hasil Pembelajaran :
1. Diagnosis Hipoglikemia
2. Etiologi Hipoglikemia
3. Penatalaksanaan Hipoglikemia

PORTOFOLIO
1. Subjektif :
Os datang ke IGD RSUD Rantau Prapat diantar oleh suaminya, dengan keluhan sesak napas. Hal ini telah
dialami os 1 hari ini, awalnya os mengeluhkan batuk berdahak selama 3 hari. Selama 2 hari ini sesak
sering kambuh dan sembuh dengan pemakain ventolin inhaler di rumah, namun sejak 1 hari ini sesak
napas tidak berkurang, kemudian os dibawa ke RSUD Rantau Prapat untuk mendapatkan penanganan.
2. Objektif :
Dari hasil anamnesa dan pemeriksaan dapat disimpulkan diagnosa Asma Bronkial
Gambaran Klinis
Sesak napas
Pemeriksaan Fisik
Status Present
Sensorium : compos mentis
TD : 120/80 mmHg
HR : 72 x/i
RR : 32x/i
T : 37 oC
Status Lokalisata
Kepala : Rambut hitam tidak mudah dicabut
- Mata : Pupil Isokor, Anemis (-), Ikterik (-)
- THT : Dalam batas normal
Thorax : Simetris, Sp : Vesikuler, St : wheezing (+)
Abdomen : Soepel, Peristaltik (+/Normal)
Ekstremitas Superior/Inferior : Akral pucat dan dingin
Pemeriksaan Penunjang
Darah Rutin : Hb 11,7gr/dl, Leukosit 7.400/ul, Trombosit 252.000/ul
EKG : Dalam batas normal
3. Assesment :
Hipoglikemia adalah kadar glukosa darah seseorang di bawah nilai normal (< 70 mg/dl). Dalam keadaan
normal, tubuh mempertahankan kadar gula darah antara 70-110 mg/dL. Namun, hipoglikemia baru

menunjukkan gejala jika glukosa darah di bawah 55 mg/dL. Pada penderita hipoglikemia, kadar
gula darahnya berada pada tingkat terlalu rendah. Kadar gula darah yang rendah menyebabkan berbagai
sistem organ tubuh mengalami kelainan fungsi. Jika kadar gula turun, maka akan terjadi gangguan fungsi
otak. Gejala umum hipoglikemia adalah lapar, gemetar, mengeluarkan keringat, berdebar-debar, pusing,
pandangan menjadi gelap, gelisah serta bisa koma. Keadaan hipoglikemia yang berat dan

berlangsung lama mengakibatkan keadaan yang fatal. Ditandai dengan keadaan pusing,
penurunan kesadaran, hingga kejang.
4. Plan :
1. Follow Up : 02 Desember 2014
Therapy :
- O2 4-5 L/i
- IVFD NaCl 0,9% 20 gtt/i

Inj metilprednisolon 1 amp/12j


Inj Ranitidin 1 amp/12j
Salbutamol 2x1
Ambroxol syr 3xC1
Nebule ventolin 1 flc/8j

2. Follow Up : 03 Desember 2014


KU
: sesak napas, batuk (+)
Dx
: Asma Bronkial
Therapy :
- O2 3-4 L/i
- IVFD NaCl 20 gtt/i
- Inj Ranitidin 1 amp/12j
- Salbutamol 2x1
- Ambroxol syr 3xC1
- Nebule ventolin 1 flc/8j (k/p)

3. Follow Up : 4 Desember 2014


KU
: batuk (+)
Dx
: Asma Bronkial
Therapy :
- Os dapat pulang berobat jalan, dengan terapi salbutamol 2x1, ambroxol syr 3xC1, metil
prednisolon 1x1 kemudian Kontrol ulang ke Poli klinik Rawat Jalan.
Anjuran :
-

Konsumsi makanan yang bergizi


Hindari faktor pencetus sesak napas seperti dingin, batuk, dan debu
Kontrol ulang

ASMA BRONKIAL
1.1 Definisi
Asma merupakan penyakit inflamasi kronis saluran napas yang ditandai dengan mengi episodik,
batuk, dan sesak di dada akibat penyumbatan saluran napas. Asma dipengaruhi oleh dua faktor yaitu
genetik dan lingkungan, mengingat patogenesisnya tidak jelas, asma didefinisikan secara deskripsi yaitu
penyakit inflamasi kronik saluran napas yang menyebabkan hipereaktivitas bronkus terhadap berbagai
rangsangan, dengan gejala episodik berulang berupa batuk, sesak napas, mengi dan rasa berat di dada
terutama pada malam dan atau dini hari, yang umumnya bersifat reversibel baik dengan atau tanpa
pengobatan.

1.2 Patofisiologi

Pencetus serangan asma dapat disebabkan oleh sejumlah faktor, antara lain alergen, virus, dan
iritan yang dapat menginduksi respons inflamasi akut. Asma dapat terjadi melalui 2 jalur, yaitu jalur
imunologis dan saraf otonom. Jalur imunologis didominasi oleh antibodi IgE, merupakan reaksi
hipersensitivitas tipe I (tipe alergi), terdiri dari fase cepat dan fase lambat. Reaksi alergi timbul pada
orang dengan kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibodi IgE abnormal dalam jumlah besar,
golongan ini disebut atopi. Pada asma alergi, antibodi IgE terutama melekat pada permukaan sel mast
pada interstisial paru, yang berhubungan erat dengan bronkiolus dan bronkus kecil. Bila seseorang
menghirup alergen, terjadi fase sensitisasi, antibodi IgE orang tersebut meningkat. Alergen kemudian
berikatan dengan antibodi IgE yang melekat pada sel mast dan menyebabkan sel ini berdegranulasi
mengeluarkan berbagai macam mediator.
Beberapa mediator yang dikeluarkan adalah histamin, leukotrien, faktor kemotaktik eosinofil
dan bradikinin. Hal itu akan menimbulkan efek edema lokal pada dinding bronkioluskecil, sekresi
mukus yang kental dalam lumen bronkiolus, dan spasme otot polos bronkiolus, sehingga menyebabkan
inflamasi saluran napas. Pada reaksi alergi fase cepat, obstruksi saluran napas terjadi segera yaitu 10-15
menit setelah pajanan alergen. Spasme bronkus yang terjadi merupakan respons terhadap mediator sel
mast terutama histamin yang bekerja langsung pada otot polos bronkus. Pada fase lambat, reaksi terjadi
setelah 6-8 jam pajanan alergen dan bertahan selama 16--24 jam, bahkan kadang-kadang sampai
beberapa minggu.
1.3 Faktor resiko
Secara umum faktor risiko asma dipengaruhi atas faktor genetik dan faktor lingkungan.
1. Faktor Genetik
a. Atopi/alergi
Hal yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui bagaimana cara
penurunannya. Penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga dekat yang juga alergi.
Dengan adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asma bronkial jika terpajan
dengan faktor pencetus.
b. Hipereaktivitas bronkus
Saluran napas sensitif terhadap berbagai rangsangan alergen maupun iritan.
c. Jenis kelamin
Pria merupakan risiko untuk asma pada anak. Sebelum usia 14 tahun, prevalensi asma pada anak
laki-laki adalah 1,5-2 kali dibanding anak perempuan. Tetapi menjelang dewasa perbandingan
tersebut lebih kurang sama dan pada masa menopause perempuan lebih banyak.
d. Ras/etnik
e. Obesitas
Obesitas atau peningkatan Body Mass Index (BMI), merupakan faktor risiko asma. Mediator tertentu
seperti leptin dapat mempengaruhi fungsi saluran napas dan meningkatkan kemungkinan terjadinya

asma. Meskipun mekanismenya belum jelas, penurunan berat badan penderita obesitas dengan asma,
dapat memperbaiki gejala fungsi paru, morbiditas dan status kesehatan.
2. Faktor lingkungan
a. Alergen dalam rumah
tungau debu rumah, spora jamur, kecoa, serpihan kulit binatang seperti anjing, kucing, dan lain-lain
b. Alergen luar rumah (serbuk sari, dan spora jamur).
3. Faktor lain
a. Alergen makanan
Contoh: susu, telur, udang, kepiting, ikan laut, kacang tanah, coklat, kiwi, jeruk, bahan penyedap
pengawet, dan pewarna makanan.
b. Alergen obat-obatan tertentu
Contoh: penisilin, sefalosporin, golongan beta laktam lainnya, eritrosin, tetrasiklin, analgesik,
antipiretik, dan lain lain.
c. Bahan yang mengiritasi
Contoh: parfum, household spray, dan lain-lain.
d. Ekspresi emosi berlebih.
Stres/gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu juga dapat memperberat
serangan asma yang sudah ada.
e. Asap rokok bagi perokok aktif maupun pasif
Asap rokok berhubungan dengan penurunan fungsi paru. Pajanan asap rokok, sebelum dan sesudah
kelahiran berhubungan dengan efek berbahaya yang dapat diukur seperti meningkatkan risiko
terjadinya gejala serupa asma pada usia dini.
f. Polusi udara dari luar dan dalam ruangan
g. Exercise-induced asthma
Pada penderita yang kambuh asmanya ketika melakukan aktivitas/olahraga tertentu. Sebagian besar
penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktivitas jasmani atau olahraga yang berat.
Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena aktivitas biasanya
terjadi segera setelah selesai aktivitas tersebut.
h. Perubahan cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma. Atmosfer yang
mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma. Serangan kadang-kadang
berhubungan dengan musim, seperti: musim hujan, musim kemarau, musim bunga (serbuk sari
beterbangan).
i. Status ekonomi

1.4 Klasifikasi
Sebenarnya derajat berat asma adalah suatu kontinum, yang berarti bahwa derajat berat asma
persisten dapat berkurang atau bertambah. Derajat gejala eksaserbasi atau serangan asma dapat
bervariasi yang tidak tergantung dari derajat sebelumnya.
Klasifikasi Menurut Etiologi
Banyak usaha telah dilakukan untuk membagi asma menurut etiologi, terutama dengan bahan
lingkungan yang mensensititasi. Namun hal itu sulit dilakukan antara lain oleh karena bahan tersebut
sering tidak diketahui.
Klasifikasi Menurut Derajat Berat Asma
Klasifikasi asma menurut derajat berat berguna untuk menentukan obat yang diperlukan pada awal
penanganan asma. Menurut derajat besar asma diklasifikasikan sebagai intermiten, persisten ringan,
persisten sedang dan persisten berat.
Klasifikasi Menurut Kontrol Asma
Kontrol asma dapat didefinisikan menurut berbagai cara. Pada umumnya, istilah kontrol
menunjukkan penyakit yang tercegah atau bahkan sembuh. Namun pada asma, hal itu tidak
realistis; maksud kontrol adalah kontrol manifestasi penyakit. Kontrol yang lengkap
biasanya

diperoleh

dengan

pengobatan.

Tujuan

pengobatan adalah memperoleh dan

mempertahankan kontrol untuk waktu lama dengan pemberian obat yang aman, dan tanpa efek samping.
Klasifikasi Asma Berdasarkan Gejala
Asma dapat diklasifikasikan pada saat tanpa serangan dan pada saat serangan. Tidak ada satu
pemeriksaan tunggal yang dapat menentukan berat-ringannya suatu penyakit, pemeriksaan gejala-gejala
dan uji faal paru berguna untuk mengklasifikasi penyakit menurut berat ringannya. Klasifikasi itu sangat
penting untuk penatalaksanaan asma. Berat ringan asma ditentukan oleh berbagai faktor seperti
gambaran klinis sebelum pengobatan (gejala, eksaserbasi, gejala malam hari, pemberian obat inhalasi b2 agonis, dan uji faal paru) serta obat-obat yang digunakan untuk mengontrol asma (jenis obat,
kombinasi obat dan frekuensi pemakaian obat).
Asma dapat diklasifikasikan menjadi intermiten, persisten ringan, persisten sedang, dan persisten
berat. Selain klasifikasi derajat asma berdasarkan frekuensi serangan dan obat yang digunakan seharihari, asma juga dapat dinilai berdasarkan berat ringannya serangan. Global Initiative for Asthma
(GINA) melakukan pembagian derajat serangan asma berdasarkan gejala dan tanda klinis, uji fungsi
paru, dan pemeriksaan laboratorium. Derajat serangan menentukan terapi yang akan diterapkan.
Klasifikasi tersebut adalah asma serangan ringan, asma serangan sedang, dan asma serangan berat.
Dalam hal ini perlu adanya pembedaan antara asma kronik dengan serangan asma akut. Dalam
melakukan penilaian berat ringannya serangan asma, tidak harus lengkap untuk setiap pasien.

Penggolongannya harus diartikan sebagai prediksi dalam menangani pasien asma yang datang ke
fasilitas kesehatan dengan keterbatasan yang ada.
1.5 Diagnosis
Diagnosis asma yang tepat sangatlah penting, sehingga penyakit ini dapat ditangani dengan baik,
mengi (wheezing) berulang dan/atau batuk kronik berulang merupakan titik awal untuk menegakkan
diagnosis. Asma pada anak-anak umumnya hanya menunjukkan batuk dan saat diperiksa tidak
ditemukan mengi maupun sesak. Diagnosis asma didasarkan anamnesis, pemeriksaan fisis, dan
pemeriksaan penunjang.
Diagnosis klinis asma sering ditegakkan oleh gejala berupa sesak episodik, mengi, batuk dan dada
sakit/sempit. Pengukuran fungsi paru digunakan untuk menilai berat keterbatasan arus udara dan
reversibilitas yang dapat membantu diagnosis. Mengukur status alergi dapat membantu identifikasi
faktor risiko. Pada penderita dengan gejala konsisten tetapi fungsi paru normal, pengukuran respons
dapat membantu diagnosis. Asma diklasifikasikan menurut derajat berat, namun hal itu dapat berubah
dengan waktu. Untuk membantu penanganan klinis, dianjurkan klasifikasi asma menurut ambang
kontrol. Untuk dapat mendiagnosis asma, diperlukan pengkajian kondisi klinis serta pemeriksaan
penunjang.
Anamnesis
Ada beberapa hal yang harus diketahui dari pasien asma antara lain: riwayat hidung ingusan atau
mampat (rhinitis alergi), mata gatal, merah, dan berair (konjungtivitis alergi), dan eksem atopi, batuk
yang sering kambuh (kronik) disertai mengi, flu berulang, sakit akibat perubahan musim atau pergantian
cuaca, adanya hambatan beraktivitas karena masalah pernapasan (saat berolahraga), sering terbangun
pada malam hari, riwayat keluarga (riwayat asma, rinitis atau alergi lainnya dalam keluarga), memelihara
binatang di dalam rumah, banyak kecoa, terdapat bagian yang lembab di dalam rumah. Untuk
mengetahui adanya tungau debu rumah, tanyakan apakah menggunakan karpet berbulu, sofa kain bludru,
kasur kapuk, banyak barang di kamar tidur. Apakah sesak dengan bau-bauan seperti parfum, spray
pembunuh serangga, apakah pasien merokok, orang lain yang merokok di rumah atau lingkungan kerja,
obat yang digunakan pasien, apakah ada beta blocker, aspirin atau steroid.
Pemeriksaan Klinis
Untuk menegakkan diagnosis asma, harus dilakukan anamnesis secara rinci, menentukan adanya
episode gejala dan obstruksi saluran napas. Pada pemeriksaan fisis pasien asma, sering ditemukan
perubahan cara bernapas, dan terjadi perubahan bentuk anatomi toraks. Pada inspeksi dapat ditemukan;
napas cepat, kesulitan bernapas, menggunakan otot napas tambahan di leher, perut dan dada. Pada
auskultasi dapat ditemukan; mengi, ekspirasi memanjang.
Pemeriksaan Penunjang
Spirometer.
Alat pengukur faal paru, selain penting untuk menegakkan diagnosis juga untuk menilai beratnya
obstruksi dan efek pengobatan.

Peak Flow Meter/PFM.


Peak flow meter merupakan alat pengukur faal paru sederhana, alat tersebut digunakan untuk
mengukur jumlah udara yang berasal dari paru. Oleh karena pemeriksaan jasmani dapat normal,
dalam menegakkan diagnosis asma diperlukan pemeriksaan obyektif (spirometer/FEV1 atau PFM).
Spirometer lebih diutamakan dibanding PFM oleh karena; PFM tidak begitu sensitif dibanding FEV.
untuk diagnosis obstruksi saluran napas, PFM mengukur terutama saluran napas besar, PFM dibuat
untuk pemantauan dan bukan alat diagnostik, APE dapat digunakan dalam diagnosis untuk penderita
yang tidak dapat melakukan pemeriksaan FEV1.
X-ray dada/thorax.
Dilakukan untuk menyingkirkan penyakit yang tidak disebabkan asma
Pemeriksaan IgE.
Uji tusuk kulit (skin prick test) untuk menunjukkan adanya antibodi IgE spesifik pada kulit. Uji
tersebut untuk menyokong anamnesis dan mencari faktor pencetus. Uji alergen yang positif tidak
selalu merupakan penyebab asma. Pemeriksaan darah IgE Atopi dilakukan dengan cara
radioallergosorbent test (RAST) bila hasil uji tusuk kulit tidak dapat dilakukan (pada
dermographism).
Petanda inflamasi.
Derajat berat asma dan pengobatannya dalam klinik sebenarnya tidak berdasarkan atas penilaian
obyektif inflamasi saluran napas. Gejala klinis dan spirometri bukan merupakan petanda ideal
inflamasi. Penilaian semi-kuantitatif inflamasi saluran napas dapat dilakukan melalui biopsi paru,
pemeriksaan sel eosinofil dalam sputum, dan kadar oksida nitrit udara yang dikeluarkan dengan
napas. Analisis sputum yang diinduksi menunjukkan hubungan antara jumlah eosinofil dan
Eosinophyl Cationic Protein (ECP) dengan inflamasi dan derajat berat asma. Biopsi endobronkial
dan transbronkial dapat menunjukkan gambaran inflamasi, tetapi jarang atau sulit dilakukan di luar
riset.
Uji Hipereaktivitas Bronkus/HRB.
Pada penderita yang menunjukkan FEV1 >90%, HRB dapat dibuktikan dengan berbagai tes
provokasi. Provokasi bronkial dengan menggunakan nebulasi droplet ekstrak alergen spesifik dapat
menimbulkan obstruksi saluran napas pada penderita yang sensitif. Respons sejenis dengan dosis
yang lebih besar, terjadi pada subyek alergi tanpa asma. Di samping itu, ukuran alergen dalam alam
yang terpajan pada subyek alergi biasanya berupa partikel dengan berbagai ukuran dari 2 um sampai
20 um, tidak dalam bentuk nebulasi. Tes provokasi sebenarnya kurang memberikan informasi klinis
dibanding dengan tes kulit. Tes provokasi nonspesifik untuk mengetahui HRB dapat dilakukan
dengan latihan jasmani, inhalasi udara dingin atau kering, histamin, dan metakolin.
1.6 Penatalaksanaan
Pengobatan yang efektif hanya mungkin berhasil dengan penatalaksanaan yang komprehensif,
dimana melibatkan kemampuan diagnostik dan terapi dari seorang dokter Puskesmas di satu pihak dan

adanya pengertian serta kerjasama penderita dan keluarganya di pihak lain. Pendidikan kepada penderita
dan keluarganya adalah menjadi tanggung jawab dokter Puskesmas, sehingga dicapai hasil pengobatan
yang memuaskan bagi semua pihak.
Beberapa hal yang perlu diketahui dan dikerjakan oleh penderita dan keluarganya adalah :
1. Memahami sifat-sifat dari penyakit asma :
- Bahwa penyakit asma tidak bisa sembuh secara sempurna.
- Bahwa penyakit asma bisa disembuhkan tetapi pada suatu saat oleh karena faktor tertentu bisa
-

kambuh lagi.
Bahwa kekambuhan penyakit asma minimal bisa dijarangkan dengan pengobatan jangka panjang

secara teratur.
2. Memahami faktor yang menyebabkan serangan atau memperberat serangan, seperti :
- Inhalan : debu rumah, bulu atau serpihan kulit binatang anjing, kucing, kuda dan spora jamur.
- Ingestan : susu, telor, ikan, kacang-kacangan, dan obat-obatan tertentu.
- Kontaktan : zalf kulit, logam perhiasan.
- Keadaan udara : polusi, perubahan hawa mendadak, dan hawa yang lembab.
- Infeksi saluran pernafasan.
- Pemakaian narkoba atau napza serta merokok.
- Stres psikis termasuk emosi yang berlebihan.
- Stres fisik atau kelelahan.
3. Memahami faktor-faktor yang dapat mempercepat kesembuhan, membantu perbaikan dan
-

mengurangi serangan :
Menghindari makanan yang diketahui menjadi penyebab serangan (bersifat individual).
Menghindari minum es atau makanan yang dicampur dengan es.
Berhenti merokok dan penggunakan narkoba atau napza.
Menghindari kontak dengan hewan diketahui menjadi penyebab serangan.
Berusaha menghindari polusi udara (memakai masker), udara dingin dan lembab.
Berusaha menghindari kelelahan fisik dan psikis.
Segera berobat bila sakit panas (infeksi), apalagi bila disertai dengan batuk dan pilek.
Minum obat secara teratur sesuai dengan anjuran dokter, baik obat simptomatis maupun obat

profilaksis.
Pada waktu serangan berusaha untuk makan cukup kalori dan banyak minum air hangat guna

membantu pengenceran dahak.


Manipulasi lingkungan : memakai kasur dan bantal dari busa, bertempat di lingkungan dengan

temperatur hangat.
4. Memahami kegunaan dan cara kerja dan cara pemakaian obat obatan yang diberikan oleh dokter :
- Bronkodilator : untuk mengatasi spasme bronkus.
- Steroid : untuk menghilangkan atau mengurangi peradangan.
- Ekspektoran : untuk mengencerkan dan mengeluarkan dahak.
- Antibiotika : untuk mengatasi infeksi, bila serangan asma dipicu adanya infeksi saluran nafas.
5. Mampu menilai kemajuan dan kemunduran dari penyakit dan hasil pengobatan.
6. Mengetahui kapan self treatment atau pengobatan mandiri harus diakhiri dan segera mencari
pertolongan dokter.
Penderita dan keluarganya juga harus mengetahui beberapa pandangan yang salah tentang asma, seperti :
1. Bahwa asma semata-mata timbul karena alergi, kecemasan atau stres, padahal keadaan bronkus yang
hiperaktif merupakan faktor utama.
2. Tidak ada sesak bukan berarti tidak ada serangan.

3. Baru berobat atau minum obat bila sesak nafas saja dan segera berhenti minum obat bila sesak nafas
berkurang atau hilang.
Pengobatan Simptomatik
Tujuan :
-

Mengatasi serangan asma dengan segera.


Mempertahankan dilatasi bronkus seoptimal mungkin.
Mencegah serangan berikutnya.

a. Bronkodilator golongan simpatomimetik (beta adrenergik / agonis beta)


- Adrenalin (Epinefrin) injeksi.
Obat ini tersedia di Puskesmas dalam kemasan ampul 2 cc
Dosis dewasa : 0,2-0,5 cc dalam larutan 1 : 1.000 injeksi subcutan.
Dosis bayi dan anak : 0,01 cc/kg BB, dosis maksimal 0,25 cc.
Bila belum ada perbaikan, bisa diulangi sampai 3 X tiap15-30 menit.
Efedrin
- Salbutamol
Salbutamol merupakan bronkodilator yang sangat poten bekerja cepat dengan efek samping
minimal.
Dosis : 3-4 X 0,05-0,1 mg/kg BB
b.

Bronkodilator golongan teofilin


- Teofilin
Dosis : 16-20 mg/kg BB/hari oral atau IV.
- Aminofilin
Dosis : 3-4 X 3-5 mg/kg BB

c. Kortikosteroid
sebaiknya hanya dipakai dalam keadaan :
-

Pengobatan dengan bronkodilator baik pada asma akut maupun kronis tidak memberikan hasil

yang memuaskan.
Keadaan asma yang membahayakan jiwa penderita (contoh : status asmatikus)
Dalam pemakaian jangka pendek (2-5 hari) kortikosteroid dapat diberikan dalam dosis besar
baik oral maupun parenteral, tanpa perlu tapering off.

Obat pilihan :
-

Hidrocortison
Dosis : 4 X 4-5 mg/kg BB
Dexamethason

d. Ekspektoran
Adanya mukus kental dan berlebihan (hipersekresi) di dalam saluran pernafasan menjadi salah satu
pemberat serangan asma, oleh karenanya harus diencerkan dan dikeluarkan. Sebaiknya jangan
memberikan ekspektoran yang mengandung antihistamin.
e.

Antibiotik

Hanya diberikan jika serangan asma dicetuskan atau disertai oleh rangsangan infeksi saluran
pernafasan, yang ditandai dengan suhu yang meninggi.

Pengobatan Profilaksis
Pengobatan profilaksis dianggap merupakan cara pengobatan yang paling rasional, karena sasaran
obat-obat tersebut langsung pada faktor-faktor yang menyebabkan bronkospasme.
Pada umumnya pengobatan profilaksis berlangsung dalam jangka panjang, dengan cara kerja obat
sebagai berikut :
-

Menghambat pelepasan mediator.


Menekan hiperaktivitas bronkus.

Hasil yang diharapkan dari pengobatan profilaksis adalah :


-

Bila mungkin bisa menghentikan obat simptomatik.


Menghentikan atau mengurangi pemakaian steroid.
Mengurangi banyaknya jenis obat dan dosis yang dipakai.
Mengurangi tingkat keparahan penyakit, mengurangi frekwensi serangan dan meringankan
beratnya serangan.

Obat profilaksis yang biasanya digunakan adalah :


-

Steroid dalam bentuk aerosol.


Disodium Cromolyn.
Ketotifen.
Tranilast.

1.7 Komplikasi Asma Bronkial


Komplikasi terjadi akibat :
-

Keterlambatan penanganan.
Penanganan yang tidak adekuat.

Komplikasi yang mungkin terjadi adalah :


Akut :
-

Dehidrasi
Gagal nafas
Infeksi saluran nafas

Kronis :
-

Kor-pulmonale
PPO kronis
Pneumotorak.

LAPORAN KASUS

1. Identitas
Nama : Darmawaty br Sinaga
Umur
: 35 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Kampung Pajak
Suku
: Batak Toba
Agama : Islam
2. Anamnesa
Keluhan Utama
Os datang ke IGD RSUD Rantau Prapat diantar oleh suaminya, dengan keluhan sesak napas.
Riwayat Penyakit Sekarang
Hal ini telah dialami os 1 hari ini, awalnya os mengeluhkan batuk berdahak selama 3 hari. Selama 2
hari ini sesak sering kambuh dan sembuh dengan pemakain ventolin inhaler di rumah, namun sejak 1 hari
ini sesak napas tidak berkurang,
Riwayat Penyakit Terdahulu
Asma Bronkial lebih kurang 15 tahun
Riwayat Pengobatan
Os menggonsumsi obat salbutamol 2x1, ventolin inhaler
3. Pemeriksaaan Fisik
Status Present
Sensorium : compos mentis
TD : 120/80 mmHg
HR : 72 x/i
RR : 32x/i
T : 37 oC
Status Lokalisata
Kepala : Rambut hitam tidak mudah dicabut
- Mata : Pupil Isokor, Anemis (-), Ikterik (-)
- THT : Dalam batas normal
Thorax : Simetris, Sp : Vesikuler, St : whezing (+)
Abdomen : Soepel, Peristaltik (+/Normal)
Ekstremitas Superior/Inferior : Akral pucat dan dingin
4. Pemeriksaan Penunjang
Darah Rutin : Hb 11,7gr/dl, Leukosit 7.400/ul, Trombosit 252.000/ul
EKG : Dalam batas normal
5. Penatalaksanaan
1. Follow Up : 02 Desember 2014

Therapy :
O2 4-5 L/i
IVFD NaCl 0,9% 20 gtt/i
Inj metilprednisolon 1 amp/12j
Inj Ranitidin 1 amp/12j
Salbutamol 2x1
Ambroxol syr 3xC1
Nebule ventolin 1 flc/8j

2. Follow Up : 03 Desember 2014


KU
: sesak napas, batuk (+)
Dx
: Asma Bronkial
Therapy :
- O2 3-4 L/i
- IVFD NaCl 20 gtt/i
- Inj Ranitidin 1 amp/12j
- Salbutamol 2x1
- Ambroxol syr 3xC1
- Nebule ventolin 1 flc/8j (k/p)
3. Follow Up : 4 Desember 2014
KU
: batuk (+)
Dx
: Asma Bronkial
Therapy :
- Os dapat pulang berobat jalan, dengan terapi salbutamol 2x1, ambroxol syr 3xC1, metil
prednisolon 1x1 kemudian Kontrol ulang ke Poli klinik Rawat Jalan.

Anjuran :
-

Konsumsi makanan yang bergizi


Hindari faktor pencetus sesak napas seperti dingin, batuk, dan debu
Kontrol ulang

DAFTAR PUSTAKA

1. Kusnan B.U. : Patogenesis dan Patofisiologi Asma Bronkial, Buku Makalah Simposium
Terapi Mutakhir Asma Bronkial, PDPI Cab.Jateng, 1991 : 9-16.
2. Mangunnegoro H. : Gambaran Klinik dan Terapi Rasional pada Asma Bronkial, Majalah
Dokter Keluarga, Vol 4/10, Sept 1985 : 495-200.
3. Purnawan J., Atiek S.S., Husna A. : Kapita Selekta Kedokteran, Media Aesculapius, Jakarta
1982, 208-211.
4. Soeria S. : Pengelolaan Asma Bronkial Dalam Praktek, Majalah Dokter Keluarga, V0l 4/8,
Juli 1985 : 386-390.