Vous êtes sur la page 1sur 33

ANGGARAN DASAR

DAN
ANGGARAN RUMAH TANGGA

HAKLI
OLEH:
(Dosen Jurusan Kesehatan
Lingkungan/Poltekkes Kemenkes
Tanjungpinang)

1. ANGGARAN DASAR HAKLI


a. Latar belakang :
Berdasarkan UUD 1945 dan Pancasila
diperlukan peran serta dan pengabdian
segenap
warga
negara
Indonesia

Masyarakat adil & makmur.


Untuk mencapai tujuan tsb Pembangunan di
berbagai bidang, al.: mencapai lingkungan
kehidupan yang sehat dan harmonis derajat
kesehatan masyarakat yang lebih baik.
HAKLI perubahan dan pengembangan
dari Ikatan Kontrolir Kesehatan Indonesia (IKKI)
di dirikan pada 5 September 1955.

b. Anggaran Dasar (AD) Keputusan Musyawarah


Nasional kelima (Munas V) Tahun 2005 (Nomor:
05/MUNAS-V/HAKLI/2005
tentang
Anggaran
Dasar
Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI).
BAB I
NAMA, WAKTU DAN TEMPAT KEDUDUKAN
Pasal 1
1. Organisasi ini bernama Himpunan Ahli Kesehatan
Lingkungan Indonesia disingkat HAKLI atau The
Indonesian Association Enviromental Healh disingkat
IAEH.
2. Organisasi ini didirikan di Bandung (Jabar) tanggal 12
April 1980 untuk jangka waktu yang tidak ditentukan.
3. Pengurus Pusat HAKLI berkedudukan di ibu kota negara
Republik Indonesia

BAB II
AZAZ, TUJUAN DAN SIFAT
1. Organisasi ini berazaskan Pancasila
2. Organisasi bertujuan menghimpun,
membina, mengembangkan dan
mengamalkan IPTEK di bidang
Kesehatan
Lingkungan
dalam
mencapai lingkungan yang sehat.
3. Organisasi merupakan profesi di
bidang kesehatan lingkungan yang
bersifat terbuka.

BAB III
USAHA UTAMA
Pasal 3
1. Menggalang persatuan dan kesatuan semua
kemampuan dan potensi anggota
2. Meningkatkan peranan dan pengabdian
anggota kepada masyarakat dalam upaya di
bidang kesehatan lingkungan.
3. Meningkatkan
pemberdayaan
dan
kesejahteraan anggota.
4. Menyelenggarakan
penelitian
dan
pengembangan
serta
meningkatkan
kemampuan profesionalisme anggota di
bidang kesehatan lingkungan

BAB IV
KEANGGOTAAN
Pasal 4
1. Anggota terdiri dari para ahli kesehatan
lingkungan maupun sanitarian.
2. Keanggotaan organisasi terdiri dari tiga
macam,
yaitu
:
anggota
biasa,
anggota luar biasa, dan anggota
kehormatan.
3. Ketentuan-ketentuan
tentang
keanggotaan Himpunan Ahli Kesehatan
Lingkungan Indonesia ini diatur dalam
Anggaran Rumah Tangga.

BAB V
SUSUNAN DAN TATA KERJA ORGANISASI,
KEKUASAAN ORGANISASI TUGAS DAN
WEWENANG PENGURUS ORGANISASI
Pasal 5
SUSUNAN DAN TATA KERJA ORGANISASI
1. Di tingkat Nasional dibentuk Pengurus Pusat HAKLI
2. Di tingkat Provinsi dibentuk Pengurus Daerah HAKLI
3. Di tingkat Kab/Kota dibentuk Pengurus Cabang
HAKLI
4. Susunan organisasi dan tata kerja serta susunan
Pengurus Pengurus Pusat, Pengurus Daerah dan
Pengurus Cabang diatur dalam Anggaran Rumah
Tangga

Pasal 6
KEKUASAAN ORGANISASI
1. Kekuasaan
tertinggi
di
tingkat
Nasional
adalah
Musyawarah Nasional (MUNAS) yang diadakan sekali
empat tahun.
2. Kekuasaan MUNAS sebagaimana dimaksud pada ayat 1
meliputi :
a. Merubah, menyusun dan menetapkan Anggaran
Dasar, Anggaran Rumah Tangga dan Etika Profesi.
b. Membahas, menerima dan mengesahkan atau
menolak pertanggung jawaban pelaksanaan program
kerja pengurus lama.
c. Menyusun Pokok-pokok Program Kerja Nasional
d. Memilih dan menetapkan Pengurus Pusat
e. Menetapkan rencana penyelenggaraan Musyawarah
Kerja Nasional (MUKERNAS) yang dilaksanakan dua kali
selama masa bakti kepengurusan.

3. Kekuasaan tertinggi di tingkat daerah adalah


Musyawarah Daerah (MUSDA) yang diadakan
empat tahun sekali.
4. Kekuasaan MUSDA sebagaimana dimaksud
pada ayat 3 meliputi :
a. Merumuskan
Program Kerja Daerah yang
berpedoman pada pokok-pokok
program
Nasional yang disesuaikan dengan kondisi
setempat.
b. Membahas, menerima dan mengesahkan atau
menolak pertanggung jawaban pelaksanaan
program kerja pengurus lama.
c. Memilih dan menetapkan Pengurus Daerah
serta menyampaikan hasil MUSDA ke Pengurus
Pusat.
d Pelantikan Pengurus Daerah dilakukan oleh
Pengurus Daerah

5. Kekuasaan tertinggi di tingkat cabang adalah


Musyawarah Cabang (MUSCAB) yang
diadakan
sekali empat tahun.
6. Kekuasaan MUSCAB
sebagaimana yang
dimaksud pada ayat 5 meliputi :
a. Menyusun
langkah-langkah
kegiatan
berdasarkan Program Kerja Daerah.
b. Memilih Pengurus Cabang
dan
menghasilkan
hasil MUSCAB ke Pengurus
Daerah untuk disahkan.
c. Pelantikan
Pengurus
Cabang
dilakukan oleh Pengurus Cabang.

7. Pemilihan Pengurus
a. Pengurus
Pusat
dipilih
oleh
Musyawarah Nasional (MUNAS)
b. Tata tertib pemilihan dan pelantikan
pengurus pusat diatur dalam ART.
8. Kriteria Pengurus Pusat, Daerah,
dan Cabang diatur dalam ART.
9. Tata tertib MUNAS,MUSDA, dan
MUSCAB diatur dalam ART.

Pasal 7
TUGAS DAN WEWENANG PENGURUS ORGANISASI
1. Pengurus Pusat menentukan arah, kebijakan dan strategi
organisasi serta Pokok-pokok Program secara nasional
2. Pengurus Pusat membentuk Lembaga-lembaga atau Unit-unit
strategis sesuai dengan tantangan, peluang dan kebutuhan
organisasi
3. Lembaga atau unit strategis dapat dibentuk sekalian dengan
kebutuhan untuk :
a. Pengkajian
dan
pengembangan
IPTEK dan
Keprofesian Kesehatan Lingkungan.
b. Pengembangan SDM dibidang Kesling
c. Pengembangan
Kewirausahaan dan Penggalangan
Kemitraan.
4.
Pengurus Daerah ndan Cabang menyusun dan
melaksanakan Program kerja dan kegiatan berdasarkan arah,
kebijakan dan strategi serta Program Nasional yg disesuaikan
dengan karakteristik dan masalah spesifik setempat.

Pasal 8
PENGAMBILAN KEPUTUSAN
1. Keputusan diambil dengan cara musyawarah
dan mufakat
2. Apabila tidak dapat dicapai secara mufakat,
keputusan diambil berdasarkan suara terbanyak.

BAB VI
SUMBER KEKAYAAN ORGANISASI
3. Kekayaan Organisasi diperoleh dari :
a. Iuran anggota
b. Sumbangan Donatur
c. Sumber lain yang tidak mengikat

BAB VII
ALAT KELENGKAPAN ORGANISASI
Pasal 10
Organisasi HAKLI mempunyai atribut berupa :
Motto, Lambang/logo, Hymne, Stempel, Pataka dan
bendera yang ditetapkan oleh MUNAS.
BAB VIII
PERUBAHAN ANGGARAN DASAR
Pasal 11
Anggaran Dasar dapat diubah dan harus disahkan
dalam MUNAS dengan jumlah anggota sekurangkurangnya dua per tiga dari yang hadir secara sah.

BAB IX
PEMBUBARAN ORGANISASI
Pasal 12
Organisasi ini hanya dapat dibubarkan
bila ada mufakat bulat dan MUNAS yang
diselenggarakan khusus untuk maksud
itu.
BAB X
KETENTUAN PERALIHAN
BAB XI
KETENTUAN PENUTUP

2. ANGGARAN RUMAH TANGGA HAKLI


BAB I
KEANGGOTAAN
Pasal 1
Keanggotaan terdiri dari :
1. Anggota biasa, adalah para ahli dibidang
kesehatan lingkungan atau sanitarian, warga
negara Indonesia yang berpendidikan tinggi dan
atau bekerja/menekuni dibidang kesling atau
sanitasi
2. Anggota luar biasa, adalah mereka yang bekerja
dibidang kesling atau sanitasi yang ditetapkan
oleh pengurus.
3. Anggota kehormatan, adalah mereka yang
diangkat oleh pengurus

Pasal 2
1.
2.

3.

Keanggotaan biasa bersifat aktif dan sesuai dengan standar


kualifikasi Profesi.
Penetapan anggota biasa yang dimaksud dalam ayat 1 diatas,
dilakukan melalui proses pendaftaran pengurus Pusat atau
Pengurus Daerah untuk Kab/Kota yang belum memiliki Pengurus
Cabang.
Persyaratan dan standar kualifikasi profesi yang ditetapkan oleh
Pengurus Pusat.
Pasal 3

1. Anggota biasa memilki Hak :


a. Mempunyai hak satu suara
b. Mempunyai hak memilih dan dipilih
c. Mempunyai hak membela diri
2. Anggota biasa mempunyai kewajiban :
a. Wajib membayar iuran
b. Wajib membina hubungan baik dan jiwa korps diantara para
anggota
c. Wajib mentaati keputusan organisasi dan melaksanakan

Pasal 4
1. Anggota luar biasa dan anggota kehormatan memiliki hak dan
kewajiban :
a. Anggota biasa, luar biasa dan kehormatan memiliki hak bicara.
b. Anggota luar biasa dan kehormatan wajib mendukung usahausaha untuk mencapai tujuan organisasi.
Pasal 5
DISIPLIN ORGANISASI
2. Anggota biasa, luar biasa,
dan kehormatan wajib mentaati,
menjunjung tinggi dan melaksanakan AD,ART, dan Kode Etik
HAKLI.
3. Bagi anggota biasa,luarbiasa dan kehormatan yang tidak
mematuhi ayat (1) akan dikenakan sanksi.
4. Bentuk dan cara pemberian sanksi tentang pelanggaran AD,ART
ditetapkan oleh Pengurus Pusat.
5. Bentuk dan cara pemberian sanksi terhadap pelanggaran kode etik
ditetapkan oleh Dewan Pertimbangan Organisasi

BAB II
KEPENGURUSAN
Pasal 6
SUSUNAN PENGURUS
1. Pengurus Pusat terdiri atas
a.Seorang Ketua Umum (Ketum)
b.Sebanyak-banyaknya 4 (empat) orang Ketua
c.Seorang Sekretaris Jenderal (Sekjen)
d.Sebanyak-banyaknya 2(dua) orang sekretaris
e.Sebanyak-banyaknya 2(dua) orang bendahara
2. Pengurus Daerah terdiri atas
a. Seorang Ketua
b. Sebanyak-banyaknya 2 (dua) orang Ketua
c. Sebanyak-banyaknya 2 (dua) orang
Bendahara
d. Ketua ketua bidang dan anggota sesuai dengan
kebutuhan program.

3. Pengurus Cabang terdiri atas


a. Seorang Ketua
b. Seorang Wakil Ketua
c. Sebanyak-banyaknya 2 (dua)
orang Sekretaris.
d. Sebanyak-banyaknya 2(dua) Bendahara
e. Ketua-ketua Seksi anggota sesuai dengan kebutuhan program.
Pasal 7
MASA KERJA PENGURUS
1. Masa kerja Pengurus Pusat ditentukan 4 (empat) tahun, dalam hal MUNAS
tidak dapat diadakan dalam waktu yg telah ditetapkan, maka penggantian
Pengurus Pusat dapat dilakukan melalui Sidang Istimewa.
2. Masa kerja Pengurus Daerah ditentukan 4 (empat) tahun, dalam hal MUSDA
tidak dapat diadakan dalam waktu yang telah ditetapkan, maka pergantian
Pengurus Daerah dapat dilaksanakan melalui Sidang Luar Biasa.
3. Masa kerja Pengurus Cabang ditentukan 4 (empat) tahun, dalam hal MUSCAB
tidak dapat diadakan dalam waktu yang telah ditetapkan, maka penggantian
Pengurus Cabang dapat dilakukan melalui Musyawarah Luar Biasa.
4. Dalam hal seorang Pengurus tidak dapat melaksanakan tugas, dalam masa
jabatannya dapat ditunjuk pejabat sementara sampai Pemilihan pengurus
berikutnya.

Pasal 8
TATA TERTIB PEMILIHAN PENGURUS PUSAT
1. Pengurus Pusat harus terbentuk selama
MUNAS
2. Pemilihan Pengurus Pusat ditentukan oleh
Formatur yang berjumlah ganjil, paling sedikit 5
(lima) orang dengan unsur-unsur sbb.:
a. Seorang Pimpinan MUNAS
b. Seorang Pengurus Pusat yang lama
c. Tiga orang
lebih peserta daerah yang
dipilih dalam sidang pleno
3. Keweangan formatur dalam Pemilihan Pengurus
Pusat
meliputi Ketua Umum, Ketua-ketua,
Sekretaris
Jenderal,
Wakil-wakilnya
serta
Bendahara dan wakilnya.

4. Pengurus
Pusat yang baru dipilih dalam
waktu selambat-lambatnya 1(satu) bulan
setelah MUNAS sudah harus melengkapi
susunan
Pengurus
Departemen
mengangkat Penasehat
dan Dewan
Pertimbangan Organisasi serta menyususn
Program Kerja Nasional .
5. Pengurus Pusat yang baru terpilih dalam
waktu selambat-lambatnya 3(tiga) bulan
sejak Pengurus Inti ditetapkan telah
membentuk Lembaga-lembaga atau Unitunit Strategis sebagai perangkat kerja
organisasi
sesuai
kebutuhan
dan
perkembangan organisasi.

Pasal 9
TATA TERTIB PEMILIHAN
PENGURUS DAERAH DAN
PENGURUS CABANG
1. Penetapan dan Pelantikan Pengurus
Pusat oleh Pimpinan MUNAS
2. Penetapan dan Pelantikan Pengurus
Daerah dilakukan oleh Pimpinan
MUSDA
3. Penetapan dan Pelantikan Pengurus
Cabang dilakukan oleh Pimpinan
MUSCAB

Pasal 10
KRITERIA PENGURUS
Para Fungsionair Pengurus Pusat, Daerah dan
Cabang harus minimal memenuhi kriteria
sbb.:
a. Bertaqwa kepada Tuhan YME
b. Jujur dan mempunyai integritas tinggi
c. Sehat jasmani dan rohani
d. Sekurang-kurangnya telah 3 (tiga) tahun
menjadi anggota HAKLI
e. Belum pernah tercela selama bekerja, baik
politis maupun administratif.
f. Anggota biasa HAKLI

Pasal 11
PEMBINAAN
1. Pembinaan Pengurus Daerah dilakukan oleh Pengurus Pusat
2. Pembinaan Pengurus Cabang dilakukan oleh Pengurus Daerah
BAB III
KETENTUAN UMUM MUSYAWARAH NASIONAL, SIDANG
ISTIMEWA, SIDANG LUAR BIASA, DAN MUSYAWARAH LUAR
BIASA
Pasal 12
KETENTUAN MUSYAWARAH NASIONAL
3. Peserta Musyawarah Nasional adalah :
a. Seluruh Pengurus Pusat
b. Seluruh Dewan Pertimbangan Organisasi
c. Seluruh Pengurus Daerah dengan sebanyak-banyaknya
4 (empat) Pengurus Daerah
d. Seluruh Pengurus Cabang dengan sebanyak-banyaknya 2(dua)
orang Pengurus Cabang
e. Peninjau

2. MUNAS dianggap
sah apabila dihadiri
sekurang-kurangnya setengah ditambah
satu dari jumlah peserta MUNAS. Apabila
jumlah tersebut tidak tercapai, maka
MUNAS
ditunda selama 1 (satu) jam,
apabila setelah waktu penundaan tersebut
jumlah peserta masih belum tercapai, maka
dengan persetujuan forum yang ada MUNAS
dapat dianggap sah untuk dilaksanakan.
3. MUNAS
menetapkan
tata
tertib
Musyawarah Nasional
4. Hak suara dalam MUNAS diatur dalam tata
tertib MUNAS.

Pasal 13
KETENTUAN SIDANG ISTIMEWA, SIDANG LUAR
BIASA, DAN MUSYAWARAH LUAR BIASA
Sidang
Istimewa,
Sidang
Luar
Biasa
dan
Musyawarah Luar Biasa baru dapat diselenggarakan
apabila terjadi hal-hal yang mendesak untuk
diadakannya, dengan ketentuan sbb.:
1. Sidang Istimewa apabila disetujui oleh sekurangkurangnya dua pertiga dari jumlah Pengurus
Daerah
2. Sidang Luar Biasa apabila disetujui oleh sekurangkurangnya dua pertiga dari Pengurus Cabang
3. Musyawarah Luar Biasaapabila disetujui oleh
sekurang-kurangnya dua pertiga dari anggota
biasa.

BAB IV
PEMBENTUKKAN DAN
PENGANGKATAN PENASEHAT DAN
DEWAN PERTIMBANGAN ORGANISASI
Pasal 14
PEMBENTUKKAN PENASEHAT
DAN
DEWAN PERTIMBANGAN ORGANISASI
1. Penasehat dapat dibentuk di tingkat
Pusat, Daerah dan Cabang
2. Dewan
Pertimbangan
Organisasi
hanya dibentuk oleh Pengurus Pusat.

1.

2.
3.

4.

Pasal 15
PENGANGKATAN PENASEHAT DAN DEWAN
PERTIMBANGAN ORGANISASI
Pengangkatan
Penasehat dan Dewan
Pertimbangan
Organisasi
di
tingkat
Pusat
dilakukan oleh Pengurus Pusat
selambatlambatnya
3(tiga)bulan setelah Musyawarah
Nasional.
Susunan Penasehat dan Dewan Pertimbangan
Organisasi disesuaikan dengan kebutuhan
Pengangkatan Penasehat dan Dewan Pembina di
tingkat Daerah dan Cabang selambat-lambatnya
2(dua)bulan setelah MUSDA atau MUSCAB
Pengangkatan
Penasehat
dan
Dewan
Pertimbangan Organisasi ditetapkan dengan Surat
Keputusan Pengurus Pusat.

5. Kriteria
Penasehat dan Dewan
Pembina dipertimbangkan berdasarkan
posisi strategis politis dan mempunyai
komitmen
serta
peminatan
maupun
kepedulian terhadap bidang Kesehatan
Lingkungan.
6. Kriteria
Dewan Pertimbangan
Organisasi dipertimbangkan berdasarkan
keahlian penguasaan ilmu pengetahuan
dan
teknologi
serta
kemampuan
komunikasi.
7. Uraian
lebih
lanjut
tentang Dewan
Pertimbangan Organisasi ditetapkan oleh
pengurus Pusat.

BAB V
PENGELOLAAN IURAN ANGGOTA
Pasal 16
1. Untuk
kelancaran
program organisasi
besarnya iuran ditetapkan sebagai berikut :
a. Uang
pangkal
sebesar
Rp.10.000,(sepuluh ribu rupiah) untuk setiap anggota, 25%
untuk Pengurus Pusat, dan 75% untuk Pengurus
Daerah.
b. Uang
iuran
ditentukan oleh masingmasing Pengurus Daerah dan Cabang, 25%
untuk Pengurus Daerah dan 75% untuk Pengurus
Cabang.
2. Pengiriman uang iuran ditujukan kepada
Bendahara Pengurus yang lebih tinggi selambatlambatnya tanggal 10 setiap bulannya.

BAB VI
KETENTUAN PERALIHAN
Segala sesuatu yang belum ditetapkan dalam
Anggaran Rumah Tangga dan hal-hal yang
dapat menimbulkan penafsiran yang berlainan
akan ditetapkan oleh Pengurus Pusat.
BAB VII
KETENTUAN PENUTUP
Anggaran Rumah Tangga ini disahkan dalam
Musyawarah Nasional V tahun 2005 dan
berlaku sejak ditetapkan.

TERIMA KASIH....,
DAN
ASSALLAMU ALAIKUM
W..WB.......!