Vous êtes sur la page 1sur 3

(Argumen Teleologis)

I. Pendahuluan
Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan bentuk yang sangat sempurna. Oleh karena itu manusia
berkewajiban mencari Tuhan dengan perantaraan guru yang sedang mengenal dia agar kita tidak
berbuat salah. Dunia ini dibuat oleh Tuhan hanya untuk manusia semuanya seperti tumbuhtumbuhan, hewan dan benda-benda disekitar kita. Oleh sebab itu manusia wajib bersyukur
kepada Tuhan, karena Tuhan merupakan zat yang menguasai segala yang ada di dunia dan zat
Yang segala sifatnya dan dia mutlak ide tentang ketuhanan Yang Maha Esa bukan monopoli
agama-agama yang diperantarai melalui wahyu Tuhan atau al-kitab. Kepercayaan akan Tuhan
merupakan suatu faktor penting dalam hidup orang. Hal ini jelas dari peranan yang dimainkan
agama dalam hidup. Agama itu tidak lain dari pada cara yang tertentu untuk menghayati akan
kepercayaan Tuhan. Agama menentukan sebagian besar dari hidup baik individu maupun
bermasyarakat. Disisi lain orang dengan akalnya insyaf tentang hal ini dari pengalaman hidup
mereka sendiri yaitu dengan cara merasionalkan agama dengan bukti-bukti yang nyata.
II. Pembahasan
Telos berarti tujuan, teleologis berarti serba tujuan. Alam yang teleleogis yaitu alam yang
diatur menurut suatu tujuan tertentu. Dengan kata lain alam ini dengan keseluruhannya
berevolusi dan beredar kepada tujuan tertentu. Bagian-bagian dari alam ini mempunyai
hubungan yang erat satu dengan yang lain dan bekerja sama dalam menuju tercapainya suatu
tujuan tertentu. Sedangkan teleology secara maknawi adalah diartikan sebagai tujuan, sedang
kaitannya dengan filsafat ketuhanan artinya menjadi alam ini diatur menurut suatu tujuan
tertentu, menurut Theo Huybers bahwa alam ini suatu keseluruhan yang diatur dan berjalan
sesuai dengan aturannya. Dalam teleologi segala sesuatu dipandang sebagai organisme yang
tersusun dari bagian-bagian yang mempunyai hubungan erat dan bekerjasama untuk tujuan
tertentu. Jadi bagian-bagian dunia ini mulai dari manusia sampai mahluk tertinggi sampai ke
bintang-bintang, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda lain yang tak bernyawa, semuanya
mempunyai tugas dan bekerjasama untuk tujuan tertentu.
Pengertian lain dari argumen teleologis atau argumen rekayasa adalah yang menyatakan adaptasi
organisme mahluk hidup terhadap tujuannya dan tujuan spesiesnya. Argumen ini tentu sangat
hebat, ada ribuan sel otak di otak kita yang jalin-menjalin dalam suatu sistem yang bekerja
bahkan dua puluh bahkan tiga puluh urat yang berbeda terlibat dalam gerak yang sederhana
seperti bensin, ketika muncul luka atau kuman yang masuk ke dalam tubuh secara otomatis
tubuh menyiapkan segala macam mekanisme proteksi. Berbagai sel yang berbeda tersusun
sangat bagus sehingga memotong ekor salah satu hewan tingkat rendah ekor baru akan tumbuh
dan sel-sel yang sama bisa berkembang untuk membentuk ekor atau kaki.
Argumen ini adalah argumen yang berasal dari analogi yang kira-kira berbunyi demikian tubuh
binatang sama seperti mesin, mesin mempunyai perancang oleh karenanya tubuh binatang juga
mempunyai perekayasa tapi kekuatan argumen yang berasal dari analogi itu tergantung dari
kemiripan antara dua benda yang dibandingkan. Tubuh binatang berbeda sekali dengan mesin,
dan Tuhan tentu tidak sama dengan manusia, sehingga argumen dari analogi yang didasarkan
pada pengalaman manusia yang merekayasa mesin tidak cukup kuat untuk memberikan

probalitas yang tinggi pada kongklusinya. Kritik ini akan valid jika argumen rekayasa pada
intinya benar-benar merupakan argumen.
Bukti teleology ini merupakan bukti populer, dimulai dari kenyataan adanya keseragaman dalam
alam dan diakhiri dengan perlu adanya sumber dari pada keseragaman itu dapat kita katakan
bahwa bukti teleological adalah suatu pemakaian yang khusus tentang bukti kosmologikal.
Keseragaman alam merupakan suatu bukti tentang rencana dari sumber-sumber rencana itu
adalah Tuhan. Memang nyata bahwa argumen ini tidak berdiri sendiri walaupun argumen itu
telah menunjukkan suatu hal yang nyata akan tetapi tak dapat yang menyampaikan kita kepada
kepercayaan adanya khaliq Yang Maha Kuasa. Menurut argumen teleologis, alam ini mempunyai
tujuan dan evolusinya, alam sendiri tidak menentukan tujuan itu haruslah suatu zat yang lebih
tinggi dari alam itu sendiri yaitu Tuhan. Seperti halnya ontologis argumen teleology ini juga
mendapat kritikan meskipun tidak semua keluar dari orang-orang materialis atau orang-orang
yang dipastikan keatheisanya. Sebagai filosofis ketuhanan banyak menyangkal kemungkinan
akal manusia bisa mengetahui hikmah rahasia Tuhan dan bahwa Tuhan mempunyai tujuan-tujuan
yang digantungkan kepada makhluk-makhluk hidup dan makhluk lain. Mereka mengartikan
tujuan sebagai suatu macam kebutuhan dimana Tuhan yang satu dan esa serta tidak
membutuhkan yang lain itu suci dari padanya.
Imanuel Kant sebagaimana argumen ontologis juga mengkritik argumen teleology namun dia
mengakui argumen ini lebih jelas dan terbaik serta cocok dengan fikiran ketimbang dua argumen
yang terdahulu. Walaupun demikian Kant, tidak menerima argumen ini untuk menyatukan wujud
Tuhan sebab dalil rasional tidak membawa satu hal yang baru bagi wujud Tuhan. Dari
rasionalnya hanya berdasarkan tumpuk fakta tidak berarti. Kritik lain dilontarkan Darwin yang
mempunyai teori yang dinamakan natural selection (pilihan yang wajar) dahulu orang mengira
bahwa teori Darwin telah melemahkan teori teleology, sebab teori Darwin menunjukkan bahwa
perubahan-perubahan dalam alam bukan terjadi sebab adanya rencana akan tetapi karena
pilihan yang wajar saja, pilihan wajar pada waktu ini dapat dimengerti untuk menerangkan apaapa yang tetap ada (survive) akan tetapi tidak dapat dipakai untuk menerangkan apa yang terjadi
(arrive). Fikiran manusia yang menyatakan bahwa ide tentang maksud dan tujuan dalam alam ini
tidak diterima lagi adalah merupakan suatu kesalahan yang dapat diatasi dan diatasi oleh fikiran
yang paling dalam. Argumen klasik tersebut telah diketahui kekuatan dan kelemahannya
nampaknya tidak perlu diperlukan lagi pada zaman sekarang.
Beberapa ahli fakir pada zaman sekarang telah memperbincangkan soal-soal ini, mereka telah
mempersembahkan buah fikiran mereka yang baru hingga untuk sementara perlu kita lebih
mengesampingkan lebih dahulu bukti-bukti tradisional dan mempelajari bukti-bukti yang baru.
Dan oleh karena bukti-bukti klasik itu biasanya dimulai dari alam yaitu apa yang diluar diri kita
maka cara yang baru ini juga dimulai dengan alam.
III. Kesimpulan
Dalam pada itu alam sedikit banyaknya memiliki sumbangan dalam menyampaikan kebaikan
dalam universal di dunia ini yaitu kebaikan universal dipimpin manusia yang bermoral tinggi

maka mestilah ada sesuatu zat yang menentukan tujuan ini beredar dan berevolusi ke arah tujuan
itu. Zat inilah yang disebut Tuhan. Ringkasnya menurut argumen teleologis, alam ini mempunyai
tujuan dalam evolusinya. Alam ini sendiri tak bisa menentukan tujuan itu. Yang menentukannya
haruslah dzat yang lebih tinggi dari alam sendiri, yaitu Tuhan.
IV. Penutup
Demikian makalah ini yang saya sampaikan, namun saya sadar, kalah ini jauh dari
kesempurnaan, oleh karena itu kritik yang konstruktif dan saran yang inovatif sangat saya
harapkan demi kesempurnaan makalah ini bermanfaat bagi kita dan menambah khazanah
keilmuan kita semua hanya kepada Tuhan kita mohon ampun. Amin Ya Rabbal Alamin.
Daftar Pustaka
Harun Nasution, Filsafat Agama, Bulan Bintang, Jakarta, 1991.
Theo Huybers, Mencari Allah Swt, Kanisius, Yogyakarta, 1992.
Ewing. A.C., Terjamah, Uzair Fauzun dkk, Persoalan-Persoalan Mendasar Filsafat, Pustaka
Pelajar, Yogyakarata, 2003.
Rasyidi Prof. Dr. H. M., Filsafat Agama, Bulan Bintang, Jakarta, 1990.
Bakhtiar, Amsal Drs.Filsafat Agama I, PT. Logos, Wacana Ilmu, 1997.
Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to Facebook
Categories: Makalah, Makalah Filsafat Agama, Makalah Ushuluddin
Newer Post Home
0 comments:
Post a Comment