Vous êtes sur la page 1sur 6

1

KONFLIK LAUT CINA SELATAN DALAM


KACAMATA INDONESIA
Oleh: Atika Mega Chairina

Seperti yang kita ketahui, laut menjadi sarana utama berbagai


kepentingan strategis bertemu, karena laut memiliki peran yang
sangat penting tidak hanya dari segi politik dan keamanan,
namun juga dari segi ekonomi. Dalam perspektif politik dan
keamanan, laut menjadi wilayah yang tak terpisah dari batasbatas kedaulatan negara. Selain itu, klaim wilayah karena
kaitannya dengan posisi dan keberadaan sumber daya alam
seringkali memicu konflik antar negara. Selanjutnya, dari bidang
ekonomi, laut merupakan sarana transportasi untuk perdagangan
internasional dan suplai energi yang menyokong sebuah negara
juga menggunakan laut sebagai jalur transportasi energi.
Sebagai satu-satunya kawasan dengan tingkat heterogenitas
yang tinggi kawasan Asia Pasifik seringkali dipandang sebagai
kawasan yang sangat rentan terhadap konflik dengan dasar
keseimbangan kawasan yang tergolong rapuh. Salah satu konflik
teritorial yang mengemuka di kawasan Asia Pasifik adalah konflik
maritim di Laut Cina Selatan, yang melibatkan beberapa negara
di kawasan ini termasuk diantaranya Cina, Taiwan, Filipina,
Vietnam, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
Sejumlah negara saling mengklaim wilayah di Laut Cina
Selatan

beberapa

dekade

terakhir

ini.

Namun,

ketegangan baru-baru ini dikhawatirkan menjadi bom


waktu terjadinya perang berdampak global.
Laut Cina Selatan merupakan bagian dari Samudera Pasifik yang
meliputi sebagian wilayah dari Singapura dan Selat Malaka

hingga ke Selat Taiwan dengan luas sekitar 3.5 juta km. Secara
geografis Laut China Selatan terbentang dari arah Barat Daya ke
Timur Laut, yang batas Selatannya 3LS, antara Sumatera
Selatan dan Kalimantan [Selat Karimata] dan batas utaranya
ialah Selat Taiwan dari ujung utara Taiwan ke pesisir di Fujian di
Cina daratan. Laut Cina Selatan merupakan wilayah perairan
terluas kedua setelah kelima samudera di dunia.
Bila dilihat dalam tata Laut Internasional, kawasan Laut Cina
Selatan merupakan kawasan yang memiliki nilai strategis,
ekonomis, dan politis. Sehingga kawasan laut ini memiliki potensi
konflik dan kerja sama yang tinggi. Selain karena kawasan Laut
Cina Laut Selatan merupakan jalur perdagangan dan pelayaran
internasional serta jalur distribusi minyak, kawasan ini juga
memiliki kandungan kekayaan alam yang sangat besar. Sehingga
menjadikan kawasan ini sebagai objek sengketa klaim wilayah
siapa pemilik kawasan ini sesungguhnya.
Dengan melihat adanya konflik di kawasan Laut China Selatan
yang sudah terjadi lebih dari 20 tahun yang lalu dan belum
terselesaikan hingga saat ini. Sejatinya, keterlibatan beberapa
anggota ASEAN dalam persengketaan kepemilikan Pulau Spratly
dan Pulau Paracel di kawasan Laut Cina Selatan telah mendorong
Indonesia

untuk

berpikir

dan

mencari

cara

bagaimana

penyelesaian terbaik dalam mengatasi persengkataan itu,


Namun sangat disayangkan, penyelesaian tidak menemukan titik
temu dan perundingan-perundingan damai yang dilakukan belum
mencapai

kesepahaman

atas

kepemilikan

kedua

pulau

di

kawasan ini. Hal ini, berkaitan dengan adanya kepentingan dari


negara penguasa dunia, Amerika Serikat pasca berakhirnya
perang dingan dengan Uni Soviet. Sementara, di kawasan Asia-

Pasifik munculnya kekuatan baru, China yang mulai menunjukkan


taringnya sebagai negara hegemoni baru di era abad-21.
Cina yang pertama kali mengklaim bahwa kedua pulau tersebut
yang terletak kurang lebih 1.100 KM dari pelabuhan Yu Lin [Pulau
Hainan, Cina] merupakan kedaulatan negara Cina berdasarkan
dokumen-dokumen kuno. Namun, hal tersebut dibantah oleh
Vietnam. Vietnam menyatakan bahwa wilayah kedua pulau
tersebut merupakan bagian wilayah negaranya sejak abad ke-17.
Terjadilah perang dingin antara Cina dan Vietnam dengan
memutuskan

hubungan

diplomatik,

tetapi

beberapa

tahun

kemudian hubungan diplomatik tersebut kembali terjalin. Yang


selanjutnya diikuti klaim dari Filipina, Malaysia, Taiwan, dan
Brunnei Darussalam.
Menurut saya, persoalan ini menjadi semakin kursial karena
klaim-klaim tersebut saling tumpang tindih yang disebabkan
karena kedua pulau tersebut memiliki cadangan minyak mentah
yang berlimpah. Sehingga masing-masing negara mengklaim
kepemilikannya baik secara historis maupun secara legal formal
(tertulis), demi kepentingan masing-masing negara.
Berdasarkan peta U [nine dash line] yang dikeluarkan
oleh Pemerintah Cina tahun 1993, permasalahan bukan
hanya terfokus kepada Pulau Spratly dan Pulau Paracel
saja, namun berimbas langsung pada Zona Ekonomi
Eksklusif (ZEE) Indonesia yang mengganggu stabilitas
nasional khususnya pada aspek politik, ekonomi, dan
pertahanan Indonesia. Faktor inilah yang mendorong
Indonesia berperan aktif dalam menyelesaikan solusi
sengketa di wilayah Laut ina Selatan.
Penguasaan kawasan Laut Cina Selatan memberi keuntungan
besar bagi penguasaan ekonomi melalui jalur perdagangan laut

dan berpengaruh langsung kepada negara-negara kawasan Asia


Tenggara termasuk Indonesia. Ketergantungan ekonomi antar
negara

kawasan

ASEAN

akan

terganggu

dengan

adanya,

sengketa di Laut Cina Selatan. Konflik yang terjadi, dapat


menyebabkan

terganggunya

stabilitas

perekonomian

yang

disebabkan naiknya harga dari hasil eksplorasi pertambangan


minyak mentah dan gas bumi dunia yang berpengaruh terhadap
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara [disingkat APBN]
Indonesia akibat terganggunya wilayah utara Kepulauan Natuna.
Dan secara otomatis dengan adanya perubahan APBN juga
mempengaruhi penurunan atau peningkatan anggaran pada
masing-masing Kementrian.
Jika di lihat dari kacamata politik terhadap konflik tersebut,
Indonesia memiliki orientasi kebijakan luar negeri yang bersifat
netral. Peran aktif Indonesia dengan tidak memihak maupun
yang turut serta dalam konflik Laut Cina Selatan merupakan
salah satu cerminan politik luar negeri Indonesia, yaitu bebas
aktif. Dalam konteks konflik Laut Cina Selatan ini, artian bebas
yakni dengan tidak memihak, sedangkan aktif yakni Indonesia
turut

serta

internasional

dan

bergabung

seperti,

ASEAN

dalam
dan

organisasi-organisasi
tetap

mengupayakan

perdamaian kawasan.
JALESVEVA JAYAMAHE, masih ingatkah kalian dengan
adigium ini? Ya, merupakan adigium TNI Angkatan Laut
Indonesia, yang berarti Di Laut Kita Berjaya.
Tidak dipungkiri Indonesia memiliki pengaruh besar di ASEAN
yang mengantarkan Indonesia menjadi primadona dalam konflik
Laut Cina Selatan. Walaupun konflik ini merupakan ancaman
kestabilian keamanan nasional, Indonesia menyikapi konflik ini
dengan bijak dengan tetap berpedoman pada politik luar negeri

yang bebas aktif, namun tetap memelihara kerjasama bilateral


maupun multilateral dan menciptakan perdamaian dalam konflik
Laut Cina Selatan ini.
Terkait konflik kawasan Laut Cina Selatan, perlu adanya upaya
pembangunan sistem pertahanan nasional Indonesia sesuai
dengan kebutuhan. Upaya ini dilakukan untuk keutuhan wilayah
Indonesia yang berbatasan langsung dengan Laut Cina Selatan,
yaitu kawasan Kepulauan Natuna yang merupakan penghubung
antara kawasan Samudera India dan Laut Cina Selatan menjadi
pilihan lintasan terpendek bagi kapal-kapal perang yang ingin
menuju wilayah konflik di Laut Cina Selatan dan kondisi demikian
dapat menimbulkan komplikasi tersendiri terhadap Indonesia.
Sikap netral Indonesia dalam menyikapi konflik Laut Cina Selatan
memberikan keuntungan bagi Indonesia dalam hal modernisasi
alat utama persenjataan [Alusista] pertahanan nasional dengan
menjaga hubungan bilateral diantara negara-negara kawasan
ASEAN.
Namun, perlu untuk direnungkan dan diperhatikan keberadaan
pulau-pulau terluar yang menjadi batas territorial Indonesia
dengan

negara

tetangga

lainnya.

Ini

bukan

hanya

tugas

Pemerintah, tetapi juga merupakan tugas Bangsa Indonesia


untuk mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Tugas ini tidak muncul ketika konflik itu
sudah terjadi, melainkan harus dimulai sejak dini. Sehingga tidak
terulang kembali kejadian Pulau Sipadan-Ligitan dalam konflik ini.
Jika kita telah mempunyai rasa memiliki maka sudah tercipta
fondasi awal kekuatan pertahanan Indonesia. Untuk tahan
selanjutnya, adalah kerjasama antara pemangku kekuasaan
dengan masyarakat Indonesia guna mencegah perembesan atau
perluasan [spill over] konflik Laut China Selatan yang secara tiba-

tiba mengarah ke pulau-pulau terluar Indonesia, khususnya


terkait dengan konflik ini, yaitu wilayah utara Kepulauan Natuna,
sekaligus juga mengamankan eksplorasi pertambangan minyak
yang berada sekitar ZEE Indonesia.